Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya
Hinata berlari kekelasnya untuk mengambil tas, ia takut ketinggalan bus karena kalau dia ketinggalan bus yang akan datang 15 menit dari sekarang berarti dia harus menunggu 1 jam lagi. Hinata masuk kekelas, namun langkahnya terhenti ketika melihat Sasuke masih duduk dibangkunya, Hinata Dan Sasuke saling menatap satu sama lain. Hinata menatap Sasuke dengan tatapan terkejut, sedangkan Sasuke menatap Hinata dengan tatapan penuh tanya. Tak lama, Gaara datang dari belakang Hinata.
"Heii seharusnya kan kau mengucapkan terimaka.." Ucapan Gaara terhenti ketika melihat Hinata diam di tempat sambil melihat sesuatu, Gaara pun menolehkan kepalanya untu melihat apa yang dilihat Hinata, ternyata ada Sasuke di bangkunya yang sekarang sedang melihat Gaara bingung.
Look At Me
"Heii.. Kau? Kau Uchiha Sasuke kan? kenapa masih dikelas?" Gaara memulai pembicaraan. Sasuke menatap Gaara dan Hinata bergantian.
"Kalian berdua.. Kenapa masih disini?" Sasuke balik bertanya sambil menatap Gaara dan Hinata tajam.
"Hyuuga Hinata, tadi saat jam pelajaran kau membolos tapi saat waktunya pulang kau malah di kelas" Sasuke menatap Hinata dengan tatapan meremehkan. Mendengar kalimat sindiran Sasuke, Hinata menjadi sedikit kesal, tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak mempedulikan itu. Hinata pun berjalan ke bangkunya dan membereskan barang-barangnya yang masih ada di meja dan memasukkannya ke dalam tas.
"Aku tidak tahu kalau kau sebegitu penyendirinya, sampai-sampai kau tak suka belajar bersama teman-teman sekelasmu" lanjut Sasuke yang merasa tak direspon oleh Hinata.
"Heii Uchiha kau salah pa.."
"Sudah lupakan, aku kembali ke kelas karena ingin mengambil bukuku yang tertinggal" ucap Sasuke memotong perkataan Gaara. Kemudian Sasuke melangkah pergi dari kelas meninggalkan Hinata dan Gaara berdua.
"Dia itu kenapa?" Gaara masih bingung dengan sikap Sasuke barusan, ia pun memandang Hinata seolah meminta penjelasan, tapi Hinata masih terlihat tak peduli ia malah sudah bersiap untuk melangkah pergi dari kelas juga. Saat langkah Hinata melewati Gaara, tangannya ditahan oleh Gaara.
"Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Gaara sambil membalikkan tubuhnya menghadap Hinata. mendengar itu, Hinata pun membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan.
"Bisakah kau tidak bertanya apapun?" Tanya Hinata sambil menepis tangan Gaara dari tangannya. Gaara memasukkan tangan yang barusan ditepis oleh Hinata ke saku celananya, kemudian ia menatap Hinata penasaran.
"Kenapa kau bisa terkunci disana?" Tanya Gaara.
"Aku tidak tahu"
"Biar kutebak, orang yang tadi mengirim pesan padamu yang melakukannya, benarkan?" Gaara melihat Hinata yang memandangnya kesal.
Tak tahu kenapa Hinata tiba-tiba merasa benci dengan orang didepannya, karena dalam waktu setengah hari, orang didepannya ini bisa tahu rahasia yang sudah dia sembunyikan lebih dari empat tahun. Bahkan dalam kurun waktu empat tahun, orang-orang terdekatnya pun tidak mengetahui apapun mengenai teror ini.
'Kenapa tebakannya selalu benar sih' ucap Hinata dalam hati.
"Kau salah, lagipula itu bukan urusanmu" Hinata menatap Gaara sengit.
"Hmm kurasa aku benar" Gaara masih merasa yakin. Hinata yang sudah kesal pun memutuskan untuk pergi dari kelas, Gaara mengikutinya dari belakang sambil tersenyum.
Hinata berjalan di koridor sekolah yang sudah sepi, tiba-tiba perasaan takut menghampirinya. Perasaan takut ini sudah sangat familiar untuknya. Hinata sangat tahu, perasaan takut seperti ini hanya dirasakannya saat dia sedang berurusan dengan peneror itu. Tapi disaat seperti ini, kenapa dia merasakan hal yang sama? Hinata bahkan tak mendapatkan SMS ancaman, tapi kenapa dirinya merasa seperti sedang diteror?
Hinata semakin mempercepat langkahnya, saat sampai dilapangan Hinata bahkan berlari untuk mencapai gerbang sekolah.
Hinata berhenti ketika merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya, ia membalikkan tubuhnya untuk melihat si pemilik tangan. Gaara berdiri dihadapan Hinata sammbil mencoba mengatur nafasnya.
"Kenapa kau berlari?" tanya Gaara yang terlihat sedikit kelelahan. Saat melihat Gaara, Hinata merasa sedikit tenang.
"Eumm..i..itu..aku hanya takut ketinggalan bus, aku pergi dulu" Hinata membalikkan tubuhnya lagi untuk pergi, kali ini dia tidak berlari tapi tetap saja langkahnya sedikit ia percepat.
Hinata berjalan menuju halte, karena merasa bosan Hinata memutuskan untuk mendengarkan lagu dari HPnya. Hinata berhenti, untuk mengambil tasnya yang berada dipunggung, ia merogoh isi tasnya untuk mencari HP dan headset. Saat sedang sibuk mencari, sekilas Hinata melihat sebuah mobil melaju sangat kencang dari arah kanannya. Hinata pun menoleh untuk melihat, mata Hinata sedikit terbelalak saat mobil itu hampir sampai untuk mengenainya, reflek ia pun mendur beberapa langkah untuk menghindari mobil ugal-ugalan itu.
Drrrttt Drrrttt
Dari dalam tas Hinata, terasa sebuah getaran yang Hinata yakin berasal dari HP miliknya, ia pun melanjutkan mencari HPnya itu. Saat menemukannya, Hinata langsung membuka SMS yang masuk tanpa melihat pengirimnya.
To : Hinata
From : 08xxxxxxx
Kau sangat beruntung karena tidak tertabrak
Selamat !
Hinata menghela nafas saat membaca pesan itu. "Hampir saja aku mati" Hinata berkata sangat pelan kepada dirinya sendiri. Hinata mencoba untuk tenang, kemudian ia melanjutkan lagi perjalanannya menuju halte.
Sesampainya di halte, Hinata melihat Sasuke sedang duduk sendirian di bangku panjang yang ada di halte itu. Hinata tidak duduk, ia lebih memilh berdiri di trotoar untuk menunggu bus. Tak lama Hinata harus menunggu, karena lima menit setelah ia sampai di halte, bus itu datang. Hinata pun masuk kedalam, dan duduk di bangku yang kosong, ia pun memasang headset ditelinganya. Hinata sedikit kaget saat menoleh ke jendela bus, karena ia melihat Sasuke masih duduk di bangku halte itu. Hinata sedang melihat Sasuke sibuk memainkan HP. 'Apa dia tidak sadar busnya sudah datang?'pikir Hinata.
Drrrtt Drrrtt
HP Hinata bergetar, ia pun membuka layarnya dan melihat sebuah pesan masuk dari Sasuke, Hinata sedikit bingung, kemudian ia melihat Sasuke yang sudah mulai menjauh dari pandangannya karena memang busnya sudah jalan. Hinata pun membuka isi pesan itu.
To : Hinata
From : Sasuke
Maafkan aku soal tadi, hari ini aku harus ke perusahaan ayah. Hati-hati di jalan..
Hinata tidak tahu kenapa tiba-tiba ia merasa rindu pada Sasuke, Hinata merindukan saat-saat ia bisa menangis dihadapan Sasuke karena hal-hal sepele, Hinata merindukan Sasuke yang dengan paniknya akan mencari seribu cara agar Hinata mau berhenti menangis, Hinata sangat-sangat merindukan Sasuke yang akan memegang tangannya saat dirinya ketakutan setengah mati setelah menonton film horror. Sebenarnya Hinata sangat ingin memberitahu Sasuke tentang hal ini, Hinata ingin bisa menghadapi semua masalah ini bersama Sasuke, ia ingin Sasuke bisa memegang tangannya saat ia ketakutan. Tapi masalahnya, apa yang membuat Hinata takut sekarang, bukanlah ketakutan seperti pada film horror yang dulu sering ia tonton bersama Sasuke. Masalah ini adalah masalah dimana Sasuke akan lebih dahulu terluka bahkan sebelum sempat memegang tangan Hinata, Hinata jelas tak ingin Sasuke terluka hanya karena mencoba memegang tangannya, daripada itu terjadi, Hinata lebih memilih untuk mendorong Sasuke sejauh mungkin, dari masalahnya sekarang agar Sasuke tetap baik-baik saja.
Tanpa sadar air mata Hinata menetes, ia mengangkat tangannya untuk menutupi matanya yang sudah mulai berlinang air mata.
Keesokan harinya, saat jam istirahat. Seperti biasa hampir semua murid di kelas XI IPA 2 pergi kekantin, dan seperti biasa juga, Hinata lebih memilih pergi ke perpustakaan. Sasuke pun bangkit dari kursinya dan beranjak keluar kelas, saat baru sampai didepan pintu, Sasuke berhenti untuk mencari Hinata tapi pandangannya berhenti ketika melihat Gaara pergi ke arah kantin. Sasuke terlihat berpikir sebentar, kemudian ia memutuskan untuk pergi ke kantin.
Didalam kantin, Sasuke mengantri untuk mengambil makanan, sesekali ia mendengar suara bisikan-bisikan tentang dirinya dari beberapa gadis. Sasuke mencoba untuk tidak peduli, toh..ia sudah terlalu biasa menghadapi hal seperti ini. Saat Sasuke berhasil mendapatkan makanannya, ia mengedarkan pandangan untuk mencari teman sekelasnya yang berambut merah itu. Ketemu, Gaara sedang duduk di salah satu bangku dekat jendela yang mengarah langsung ke lapangan mendekati Gaara, dan duduk di hadapannya. Gaara menatap Sasuke sekilas, lalu ia melanjutkan makannya.
"Kenapa kemarin kau bisa bersama Hinata, kalian berdua tidak melakukan hal-hal aneh disekolah kan?" Tanya Sasuke memulai pembicaraan. Gaara yang tak siap mendapat pertanyaan aneh itu langsung terbatuk.
"Kau gila?!" Ucap Gaara di tengah-tengah batuknya kemudian ia mengambil minum di meja dan meneguknya.
"Benarkah?" Sasuke bertanya seolah tak percaya, padahal Sasuke sangat tahu hal seperti itu tak mungkin terjadi apalagi pelakunya Hinata, itu tak mungkin.
"Tentu saja, kemarin aku tak sengaja bertemu Hinata di atap" Gaara sedikit menjelaskan.
"Di atap? Sedang apa dia di atap?" tanya Sasuke lagi.
"Aku tidak tahu, dia bilang di terkunci disana" jawab Gaara sambil melanjutkan makannya.
"Terkunci?" Sasuke masih terlihat bingung.
"Ya begitulah" Gaara menjawab singkat. Tiba-tiba Sasuke teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Hinata pingsan di gudang, bukankan waktu itu Hinata juga terkunci disana? Hinata memang mengatakan kalau dia hanya tak sengaja menabrak pintu gudang, kemudian pintu itu tetutup lalu tak bisa di buka lagi. Kalau hanya terjadi sekali mungkin Sasuke percaya, tapi kalau sudah dua kali seperti ini, Sasuke merasa memang ada yang salah dengan Hinata. Mungkinkah ada orang di sekolah ini, yang diam-diam membenci Hinata? itulah yang dipikirkan Sasuke sekarang.
"Heii Uchiha.." Gaara melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke, itu membuat Sasuke tersadar.
"Apa yang kau pikirkan? Jangan bilang kau masih mencurigai aku dan Hinata melakukan hal-hal aneh" Gaara sedikit parno.
"Tidak, aku tidak berpikir seperti itu" Ucap Sasuke kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan Gaara. Gaara memadang kepergian Sasuke sedikit bingung, kemudian ia beralih ke piring Sasuke yang masih berada di hadapannya.
"Bahkan dia tak menyentuh makanannya" ucap Gaara bingung.
Saat jam pelajaran, Sasuke terus menatap Hinata.
"Sampai kapan kau mau menatapnya Teme?" Tiba-tiba suara Naruto terdengar di telinga Sasuke.
"Hn" Sasuke hanya bergumam tak jelas.
"Haruskah aku memanggilnya untukmu?" Tanya Naruto lagi.
"Berisik, Dobe!" ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari Hinata. Naruto yang mendengar respon Sasuke hanya bisa mengidikkan bahunya.
Bel istirahat kedua telah berbunyi, kali ini mereka tidak pergi kekantin. Beberapa orang akan pergi ke lapangan, yang pria biasa akan tanding bola dan yang perempuan akan ikut meramaikan suasana. Ada juga yang lebih memilih di kelas untuk mengobrol bersama temannya, dan sisanya akan berpencar sesuai urusan masing-masing. Hinata yang tidak terlau suka keramaian memilih pergi ke perpustakaan seperti biasa, dan Sasuke pun pergi mengikutinya. Tanpa di sadari, seseorang mengikuti mereka dari kejauhan.
Sasuke sedikit memperlebar langkahnya untuk bisa mengejar Hinata didepan, mereka berdua berjalan melewati beberapa kelas, kemudian melewati sebuah lorong. Di lorong itu Sasuke berhasil mengejar Hinata, Sasuke langsung memegang tangan Hinata dan menariknya kesuatu tempat. Hinata terkejut saat melihat Sasuke manarik tangannya, awalnya ia membiarkan begitu saja, tapi saat kesadarannya kembali Hinata mulai memberontak.
"Lepaskan aku!" Ucap Hinata sambil berusaha menyingkirkan tangan Sasuke yang memegangnya, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh untuk Sasuke.
Sasuke berhenti di taman belakang sekolah, kemudian ia melonggarkan pegangannya dari Hinata. Menyadari pegangan Sasuke melonggar, Hinata segera menyingirkan tangan Sasuke.
"Ada apa?" Tanya Hinata to the point.
"Kemarin, kau terjebak di atap?" Sasuke balik bertanya. Hinata sedikit mengernyit saat mendengar pertanyaan Sasuke kemudian ia memalingkan wajahnya seolah tak peduli dengan pertanyaan Sasuke. Melihat itu Sasuke sedikit kesal.
"Jawab aku?!" kali ini Sasuke sedikit membentak.
"Iya?!" Hinata pun membalas dengan nada membentak, kini Hinata memandang Sasuke kesal.
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" Sasuke sedikit melembut.
"Kenapa aku harus mengatakannya padamu?" Hinata malah balik bertanya. Mendengar pertanyaan Hinata, Sasuke merasa dadanya sesak.
"Kau tahu betapa khawatirnya aku kemarin?" Sasuke berkata lirih.
"Aku tidak memintamu untuk megkhawatirkan aku"
"Hinata, sebenarnya kau ini kenapa? Kau masih membenciku karena hal itu? Aku sudah minta maaf kan, lagipula aku sudah berjanji untuk tidak membiarkanmu sendiri seperti waktu itu" Ucap Sasuke, ia sedikit menunduk ketika mengatakannya.
Sedangkan Hinata memilih untuk tak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya untuk melihat hal lain, pohon,bunga, daun, atau apapun asalkan bukan melihat Sasuke yang seperti sekarang. Hinata takut pertahanannya selama 4 tahun runtuh hanya karena melihat Sasuke seperti sekarang.
"Hinata, apa ada orang yang membullymu? Tak bisakah kau menceritakannya padaku" Kini Sasuke mengucapkannya dengan nada memohon. Hinata memalingkan wajahnya untuk melihat Sasuke, mata Hinata sekarang sudah ditutupi kabut tipis yang sebentar lagi mungkin akan keluar menjadi air mata.
"Bisakah kau tidak bertanya apapun?! Bisakah kau tidak mengkhawatirkan aku, hah?!.." ucap Hinata sedikit membentak, Sasuke melihat Hinata dengan tatapan tak percaya.
"Banyak hal yang tidak ingin aku ceritakan padamu! Aku benar-benar tidak mau memberitahunya padamu! Jadi jangan tanya apapun lagi dan jangan khawatirkan aku lagi! AKU MEMBENCI MU, JADI JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU!" lanjut Hinata, kali ini Hinata berteriak didepan Sasuke.
Mendengar kalimat panjang Hinata, reflek Sasuke memundurkan langkahnya menjauhi Hinata. ia berhenti beberapa langkah didepan Hinata.
"Segitu bencinya kah kau padaku?" Sasuke memandang Hinata tak percaya, didepan Sasuke Hinata sedang menundukkan wajahnya, Hinata menyembunyikan air mata yang sudah mengalir.
"Apa aku sangat mengganggumu?" Sasuke bertanya lagi, namun Hinata tak merespon, bukan karena Hinata tak mau hanya saja ia sudah tak punya banyak tenaga untuk melakukan itu.
"Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi, aku tidak akan menanyakan apapun lagi, dan aku tidak akan mengkhawatirkanmu. Apa itu membuatmu senang?" Sasuke memandang Hinata yang masih menunduk.
"Tentu saja kau senang" Sasuke tersenyum miris, kemudian ia pergi meninggalkan Hinata di taman. Saat Sasuke pergi, Hinata langsung jatuh terduduk, kemudian ia menangis.
"Ma..Hiks..maafkan aku" Ucap Hinata di sela-sela tangisnya.
"Aku sangat menyukaimu, karena itu jangan dekat-dekat denganku"Ucap Hinata lagi saat dirinya sudah sedikit tenang.
Sakura-orang yang sedari tadi mengikuti Sasuke dan Hinata- hanya bisa menutup mulutnya. Sakura masih bersembunyi di salah satu gedung, ia melihat Hinata yang menangis tersedu di tengah taman. Sakura memang tidak bisa mendengar semua percakapan, tapi dari tempat persembunyiannya, ia bisa dengan jelas melihat gerak-gerik Hinata dan Sasuke, Sakura sangat yakin mereka bertengkar, apalagi ia bisa mendengar kalimat terakhir Hinata dengan jelas. 'AKU MEMBENCI MU, JADI JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU'. Sakura sedikit terkejut ketika mendengar Hinata berteriak seperti itu pada Sasuke.
'Kenapa Hinata bisa semarah itu pada Sasuke?' Sakura bertanya dalam hati.
TBC
Pojok review
TanTan Hime-chan : mungkin aja lebih dari 10 chap.. ditunggu ya..hehehe
Nurul851 : mungkin aja,, maap ya chap SH disini Cuma dikit belum lagi mereka berdua Cuma berantem *dijitak*
Ella9601 : hmmm mungkin aja sih.. oke ini udah next
JojoAyuni : okee, makasih udah baca dan mereview
yui namikaze : mungkin chap depan malah lebih banyak tuh gaahina nya :) . mungkin aja.. oke ini udah next.
: oke oke. Makasih loh udah baca
oormiwa : kayaknya kalau cowok lebih seru deh, hehehe. Oke tungguin ya..
HyugaRara : okee, makasih loh udah baca dan review
Makasih semua yang udah baca dan review *bungkuk 90 derajat* baca terus ya chap-chap selanjutnya.
Ita mau ngasih tahu, karena SasuHina lagi berantem, kemungkinan di chap depan bakal banyak GaaHina. Jadi maap nih yang ngepens sama SH hehehe
Oke sampai ketemu di chap selanjutnyaaaaaaa
