Hollow, like you don't remember me, so I linger in the doorway of alarm clock screaming monsters calling my name. Lock the last open door, the ghosts are gaining on me.

Let me go of my dark angel... worstest monster

...Keunree merasa review dan viewnya tambah dikit *nangis horor*...

Yeoxo Keunree mempersembahkan

EX GHOST Chapter 4

.

.

Malamnya mereka tidur seperti biasa. Kali itu tak ada suara suara aneh yang terdengar. Jadi mereka dapat segera terlelap dengan tenang. Paginyapun mereka bangun seperti biasa. Lay bangun paling pagi diikuti Kyungsoo, Xiumin, dan Baekhyun. Mereka memasak sarapan untuk mereka semua.

Tao menyusul mereka bertiga ke dapur.

Oh, iya. Sejak kemarin, Tao a.k.a polisi yang bertugas menjadi guardian para detektif dan saksi itu menginap di rumah ini. Bayangkan saja ada sepuluh namja tidur bersama di sebuah rumah di desa kecil di Korea ini. Untunglah rumah orang tua Baekhyun cukup luas sehingga muat ditinggali banyak orang.

"Yian, kemarilah!" Panggil Tao pada anjing berjenis siberian husky yang ia bawa kemarin. Anjing itu sudah dilatih menjadi anjing pelacak dan sebagai pengganti seseorang untuknya. Memang dulu Tao tidak kepikiran anjing itu akan dilatih dikepolisian, namun akhirnya anjing itu bisa dan pernah berhasil membantu memecahkan kasus kasus kepolisian.

Anjing itu menggonggong riang, kemudian menghampiri tuannya.

"Anjing pintar. Siapa tadi namanya, Tao?" Tanya Lay sembari meletakkan cokelat panas di meja.

"Ah, Lay ge. Namanya, Yian. Sebenarnya mendiang kakakku yang menamainya seperti itu. Namun dengan nama itu aku bisa tetap mengingatnya." Jelas Tao sambil mengusap kepala anjingnya dengan sayang.

"Oh... memangnya siapa nama mendiang kakakmu?" Ucap Lay sambil mensejajarkan dirinya dengan Tao dan ikut membelai kepala anjing itu.

"Huang Yi Fan."

.

.

.

.

Ex Ghost

.

.

.

.

"Selamat makan~!" Seru Luhan penuh semangat, seakan tak terjadi apa apa di desanya. Kai dan Chanyeol langsung mencomot sosis ayam, Chen dan Xiumin mengambil telur dadar, Kyungsoo, Tao dan Baekhyun sedang mengambil nasi, sedangkan Luhan dengan gaya keibuannya mengambilkan nasi dan lauk pauk yang ada untuk Sehun.

"Makan yang banyak, Hunnie! Jangan kebanyakan berpikir!" Kata Luhan sambil mengambilkan sosis untuk Sehun. Yang dinasehati hanya tersenyum.

"Baiklah, Xiao Lu." Jawabnya diikuti senyum simpul yang terlihat menawan bagi Luhan, namja tadi berblushing ria. Kata-kata Sehun tentang 'Xiao Lu' masih terngiang di pikirannya.

Kai memakan sarapannya dengan sangat lahap. 'Sepertinya anak ini tak pernah makan banyak sebelumnya.' Pikir Kyungsoo saat tengah memperhatikan Kim Jongin itu.

Tak kurang dari setengah jam sarapan mereka sudah habis. Chen, Chanyeol, Kai, dan Sehun mendapat jatah mencuci piring. Dan Luhan? Tadi ia bangun agak terlambat tapi masih sempat memasak, kok. Ia membawakan makanan untuk Yian. Jadi kerjaan mereka sama rata.

Setelah itu, mereka berkumpul di ruang depan. Ruang keluarga yang tersambung dengan ruang makan dan ruang tamu. Mereka ingin mendiskusikan sesuatu. Tentang ditetapkannya tersangka pembunuhan Victoria, Himchan, Daehyun dan Youngjae. Sehun memulai pembicaraan.

"Jadi begini. Kemarin berdasarkan keterangan namja bernama Bang Yongguk. Tak ada apa-apa di rumah Victoria. Namun polisi malah menemukan tiga mayat di halaman belakangnya. Jadi mau tak mau kami harus menetapkan Yongguk sebagai terduga tersangka." Tukasnya.

"Dan, motif pembunuhan inipun belum diketahui. Namun sepertinya, si pembunuh ingin menghilangkan bukti dan menghapus jejaknya dengan membunuh semua saksi." Lanjut Chanyeol.

"Setelah direkontruksi kasusnya. Daehyun dan Youngjae kemungkinan dibunuh karena melihat wajah si pembunuh dan mereka berdua juga menemukan mayat hyungnya yang dicari-cari." Sambung Kai kemudian.

"Lalu tentang namja yang bernama Yongguk itu?" Tanya Kyungsoo.

"Kita akan menyelidikinya siang nanti. Xiumin hyung, sebaiknya kau saja yang memberitahukan kami dimana rumah lamanya. Menurut kami ia masih tinggal di sana." Jawab Chen. Kemudian ia berkata lagi, "Luhan, benarkah rumah lamanya sampai sekarang tak dihuni?"

Luhan mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Chen.

"Kalau begitu kami berempat akan melakukan penyelidikan bersama Xiumin hyung dan Baekhyun." Kata Sehun sembari berjalan menuju kamarnya mempersiapkan barang yang kemungkinan bisa ia bawa.

"Eh? Apakah aku boleh ikut?" Tanya Luhan pada tiga detektif yang masih ada di sana.

"Tidak, hyung. Karena kami menduga akan ada orang yang datang kemari dan jika itu penduduk desa kau akan mengenalinya sedangkan kalau dia orang mencurigakan kau pati juga akan tahu." Jawab Chanyeol sejelas jelasnya.

Tao menambahkan, "Aku akan tinggal dirumah menjaga kalian bertiga. Dan menurut cerita Sehun, Xiumin dan dongsaengmu, Baekhyun juga bisa bela diri. Jadi ia bisa menjaga mereka kalau-kalau ada orang mencurigakan datang."

Luhan mengangguk pasrah. Sebenarnya ia khawatir sekali pada Baekhyun dan... Sehunnya. 'Tidak-tidak, aku tak boleh egois. Mereka semua sudah seperti keluarga bagiku. Aku hanya bisa berharap mereka baik-baik saja.' Batinnya.

Tak lama kemudian Sehun dan tiga detektif lainnya selesai mengepak barang–barang untuk penyelidikan. Baekhyun dan Xiumin mengganti bajunya dengan kaos oblong dan celana yang memudahkan mereka untuk bergerak.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Sehun pada Kai.

"Setengah dua belas. Apa kita akan berangkat sekarang, Hun?" Jawab Kai sambil membenarkan letak jamnya.

"Ya. Ayo Chen hyung, Chanyeol hyung, Xiumin hyung, Baekhyun."

Mereka meninggalkan Luhan, Lay, Kyungsoo, dan Tao di rumah Baekhyun. Tujuan mereka kali ini adalah menyelidiki namja bernama Bang Yong Guk yang mereka duga sebagai tersangka. Hanya dugaan namun siapa tahu..?

Dan benar saja, sekarang Victoria sedang memperhatikan ke–enam namja yang sedang berjalan keluar rumah dengan tatapan yang sulit di mengerti. Mata kuningnya perlahan memerah seiring meredupnya terik matahari siang hari itu.

.

.

Di suatu tempat jauh dari desa tempat Luhan dan Baekhyun tinggal, terdapatlah markas dari 'si pembunuh' itu. Ia sedang berkumpul dengan komplotannya. Entah siapa mereka, ruangan itu sangatlah gelap hanya seberkas cahaya kecil yang masuk dari atap yang berlubang.

"Apa yang kau lakukan kemarin itu terlalu nekat, hyung."

"Memangnya kau tidak begitu? Huh, melihat wajah ketakutan mereka itu adalah suatu pemandangan indah sebelum pulang."

"Kau gila."

"Dan kau juga, hyung."

"Benar, kalian berdua gila, babo."

"Akhir-akhir ini aku merasakan ada yang aneh dengan apartemenku."

"Apa kau lupa kau pernah membunuh orang di belakang apartemenmu, hyung?"

"Benar juga, hehehe."

"Aku akan pergi menemui 'ketua' dulu, jaga markas ini baik-baik."

"Baik Hyung." "Nde."

Salah seorang namja pergi entah kemana. Dari pembicaraan mereka, namja itu berencana menemui bosnya. Siapakah sebenarnya mereka? Dan apa motif pembunuhannya?

Melalui celah jendela, seseorang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan penuh dendam. Perlahan namun pasti, tumpukan tong yang berada di sudut ruangan itu jatuh menggelinding dan membuat namja yang masih berada di sana terlonjak kaget.

"...kau?"

.

.

.

TOK TOK TOK!

"Permisi, ada orang di dalam? Kami mencari orang yang bernama Yongguk." Kata Chen setengah berteriak. Ke-tiga detektif lainnya menunggu dengan sabar. Belum ada satu jam Baekhyun sudah mengkhawatirkan hyungnya. Ia terlihat gelisah.

"Waeyo, Baekkie?" Tanya Chanyeol sembari menghampiri namja yang lebih mungil darinya itu.

"Aku mengkhawatirkan orang-orang yang ada di rumah. Terutama Luhan hyung." Ujar Baekhyun, ia menunduk dan tangannya sedikit gemetaran. Namun hal itu terlihat sangat jelas di mata Chanyeol.

"Mereka pasti akan baik-baik saja. Ada Tao bersama mereka." Tenang Chanyeol sebisanya. Ia menggenggam tangan Baekhyun lembut. "Gwenchana."

Baekhyun mengangguk dan bersamaan dengan itu ada orang membukakan pintu.

"Ah! Kalian siapa?" Tanya seorang namja yang membukakan pintu itu.

"Kami berempat adalah detektif sedangkan dua orang lainnya kau pasti sudah kenal, mungkin." Jelas Sehun sembari menyalami namja itu. "Kau siapa?"

"Uh? Namaku Jongup, Moon Jong Up. Sepupu dari Yongguk hyung. Silahkan masuk." Izin Jongup, dilihat dari wajahnya namja ini masih sangat muda, mungkin baru 18 tahunan.

Setelah dipersilahkan masuk oleh Jongup yang notabene adalah sepupu Yongguk, ke-empat detektif, Xiumin dan Baekhyun masuk ke ruang tamu. Di sana duduk seorang namja yang tak lain adalah Yongguk dan seorang namja berambut pirang kebiruan -dengan di cat tentunya. Sehun mendudukkan dirinya di sofa yang tepat berada di depan Yongguk.

"Annyeong, namaku Oh Sehun. Aku adalah detektif dari Myseoul Korea. Perkenalkan." Kemudian Sehun menyalami Yongguk yang hanya di balas dengan uluran tangan yang kentara sekali bergetar. Ada apa dengan namja itu?

"Pasti maksud kalian kemari adalah menyelidiki hyungku? Tapi dia sungguh tak bersalah." Kata namja berambut pirang kebiruan tadi.

"Jeongmalyeo? Nuguya?" Tanya Chanyeol.

"Joneun Moon Junhong imnida, kau bisa memanggilku Zelo. Aku adik Jongup hyung sekaligus sepupu Yongguk hyung. Aku kemari karena mendengar kabar bahwa namjachingu Yongguk hyung tewas dibunuh." Jawabnya.

"Eh? namjachingu-nya? Nugu?" Sekarang Sehunlah yang bertanya. Baekhyun dan Xiumin mendengarkan mereka bercakap-cakap dengan serius. Yongguk mendongak. Terlihatlah kantung matanya yang kehitaman, sepertinya ia sangat tertekan hingga tak bisa tidur saat malam.

"Kim Himchan." Jawab Yongguk dengan sangat singkat, matanya menatap kosong ke luar jendela. Kali ini empat detektif bersama Xiumin dan Baekhyun sangat kaget, mereka tidak menyangka bahkan memprediksi adanya hal ini. Mereka terlalu cepat menuding.

"Jeongmal mianhae... kami tahu kau pasti sangat sedih. Namun dengan begini kaupun terbebas dari tuduhan tersangka. Kami izin undur diri saja." Kata Sehun lagi. Mereka ber-enam turut berduka atas nasib yang menimpanya. Tepat saat Xiumin berdiri sebagai yang terakhir, Yongguk memanggil mereka.

"TUNGGU!"

Mereka ber-enam menengok serempak. Yongguk sepertinya mempunyai suatu hal penting yang harus ia katakan. Zelo dan Jongup mencoba menenangkan Yongguk supaya ia bisa bercerita dengan lancar. Setelah tenang, namja itu membuka mulutnya.

"Aku tahu siapa yang membunuh Himchan, Daehyun dan Youngjae..." Kata Yongguk dengan wajah serius. Sorot mata tajamnya menyiratkan kesungguhan.

"Sungguh? Maukah kau memberitahu kami?" Sehun, Chen, Kai dan Chanyeol menghampiri Yongguk.

"Dia adalah Park Yoochun. Aku mengenalnya, dulu ia adalah teman semasa SMA-ku. Orangnya dulu banyak bicara namun penuh rahasia. Ia adalah orang yang menyuruhku menyampaikan pesan kemarin." Lanjutnya.

"Yoo... Yoochun? Mantan anggota trainee kepolisian itu?" Tanya Kai serius.

Yongguk, Jongup dan Junhong mengangguk.

"Apakah ada lagi yang bisa kau ceritakan? Kami akan setia mendengarkan." Tanya Kai kemudian.

"Aku rasa hanya itu, terima kasih telah mempercayaiku." Jawab Yongguk sembari menyalami tangan enam namja yang ada di sana.

"Harusnya kami yang berterima kasih, dan sama-sama." Tiga namja yang tinggal tersenyum seiring kepergian enam namja lainnya.

'Yongguk... jeongmal joahaeyo.'

"Himchan?"

.

.

.

.

Ex Ghost

.

.

.

.

"KAMI PULANG~!"

Teriak Baekhyun dengan riang gembira. Luhan menyambutnya dan langsung memeluk Baekhyun kemudian Sehun -karena Sehun mempoutkan bibirnya cemburu, tak jauh beda dengan Chanyeol walau mereka berdua tahu BaekLu hanya saudara.

"Bagaimana hasilnya? Tahukah kalian tadi kami kedatangan tamu tak diundang." Kata Tao mengumumkan kepada enam namja yang baru saja sampai di rumah.

"Jinja?" Tanya ChanBaek, Kai, Chen, Sehun dan Xiumin.

"Eum... dia adalah seorang namja. Ia menyelinap tiba-tiba ke dalam garasi. Untung saja aku melihatnya. Saat tertangkap aku merasa pernah melihatnya, dia pernah ditrainee di kepolisian bersamaku dulu. Namun ia berhasil kabur dengan menyikut perutku dengan sangat keras." Terang Tao. Enam namja lainnya kaget.

"Itu pasti Yoochun." Kata Sehun. Tao mengerjapkan matanya tak percaya.

"Yah! Bagaimana kau bisa tahu tentangnya? Aku saja belum menyebutkan namanya." Sungut Tao antara kaget dan tak percaya.

"He? Tentu saja Yongguk hyung yang menceritakannya, Panda." Jawab Sehun sembari menjulurkan lidahnya. "YAK! Jangan memehrongiku mie bihun!"

Tao mengejar Sehun ke seluruh pejuru rumah, salahkan Sehun yang memulai pertengkaran kecil itu, ya? Namun suasana ceria itu berubah seketika saat Kyungsoo berteriak.

"AAAAAKH!"

"Kyungie hyung!" "Kyungsoo." "Hyung!"

Sepertinya ada yang merasuki namja dengan doe eyesnya itu. Siapakah? Tangan Kyungsoo mulai menjambaki rambutnya sendiri, ia berteriak frustasi.

"That 'guy', he's here now! Save me...!" Pinta Kyungsoo yang sudah dipastikan tengah kerasukan hantu dari Victoria itu. Sembilan namja lainnya saling berpandangan kaget. Yoochun ada di sini? Di desa ini?

"DON'T YOU HEAR ME? SAVE ME AND SAVE YOURSELF! HE'S GONNA KILL YOU ALL." Kyungsoo yang kerasukan masih terus berteriak pilu. Tangannya masih tak melepaskan kepalanya yang kini terasa sangat nyeri dan berat.

Brak!

Tao segera berlari keluar rumah di ikuti Xiumin, Chanyeol dan Sehun. Mereka bertiga mendapati seorang, ah bukan tiga orang namja menaiki motor. Tadinya mereka berhenti tepat di depan rumah namun dua dari mereka kembali pulang. Sepertinya tak ingin ketahuan wajahnya.

"You bastard! Untuk apa kau membunuh orang tak bersalah?" Umpat Tao tak disangka-sangka. Namja itu turun dari motornya. Ia membawa sesuatu yang sepertinya adalah tongkat baseball.

"Lama tidak bertemu Huang Zi Tao, si cengeng Tao. Ah, tidak-tidak. Kita bertemu tadi pagi." Kata namja itu yang tak lain adalah...

"Yoochun. Tak kusangka kau masuk kepolisian hanya untuk hal ini." Desis Tao penuh amarah. Matanya menatap tajam namja yang kini adalah musuhnya itu.

"Salahkan kebodohanmu yang tak tahu menahu tentangku, Zi Tao. Bahkan kau tak tahu menahu tentang kematian dari gegemu sendiri." Sindir Yoochun. Tao mengepalkan tangannya marah.

"Jangan bicarakan gegeku seakan kau tahu menahu tentangnya..." Desis Tao.

"Bukankah gegemu itu polisi yang mati bunuh diri... atau mungkin dibunuh oleh seseorang bernama... Zhou Mi." Seringai Yoochun mulai terpampang jelas di wajah liciknya. Ia memukul-mukulkan tongkat itu di tangannya.

"Damn that bastard! Kau tak pantas mengekspresikan wajah seakan kau tak bersalah, Park Yoochun!" Tao berteriak dan langsung menerjang Yoochun dengan kepalan tangannya. Ia lupa kalau namja itu membawa senjata.

DUAKH!

Tao tersungkur di halaman tepat di sebelah Xiumin. Ia terlalu gegabah dan terpancing emosinya. Xiumin membantu Tao berdiri.

"Kau tak mungkin menang melawan senjata ini, Park Yoochun."

"Ups... aku tak bawa pistol."

Karena gertakan dari Tao dengan pistolnya, namja itu menaiki motornya dan pergi. Sempat Tao menembakkan pelurunya namun meleset karena dengan cepat Yoochun menjalankan motornya. Tao menstabilkan deru nafasnya, bahkan Sehun dan Chanyeol tak bergerak se-inchi pun karena kagetnya.

"Kalian dengar itu? Yoochun dkk juga memiliki senjata di markasnya." Kata Tao sambil mengusap perutnya yang dihantam beater tadi.

"Ayo kembali ke rumah." Ajak Sehun.

Mereka berempat memasuki rumah Baekhyun kembali. Chanyeol membantu Tao berjalan dikarenakan perutnya yang masih -sangat- sakit. Sehun dan Xiumin masuk terlebih dahulu. Mereka melihat Kyungsoo yang -sepertinya- pingsan sedang ditunggui oleh Kai. Luhan langsung menyerbu dan memeluk Sehun kemudian Xiumin. Layaknya mereka pergi jauh padahal hanya keluar rumah.

"Hey, ada apa sebenarnya?" Kata Chen memotong langkah Xiumin dan Sehun.

"Apa yang terjadi di luar sana?" Tanya Lay pada Xiumin sembari mencari-cari seseorang di sana. "Dimana Tao?"

"Tao..." Perkataan Xiumin terputus oleh seseorang.

"Aku di sini, gege." Ucap Tao yang masih dibantu oleh Chanyeol. Lay menghambur ke arahnya.

"Hey! Apa yang terjadi dengan perutmu? Kau hamil?" Kata Lay yang sontak membuat Tao melotot kaget.

"YAK! Gege! Perutku hanya sakit karena dipukul dengan beater tahu!" Sergah Tao buru-buru. Bagaimana bisa Lay menyatakan teorinya barusan manakala Tao belum mempunyai pasangan? Lay malah tertawa karena berhasil mencairkan suasana yang sempat suram tadi.

"Huwaaa~ Chanyeolie... gwenchannayo?" Tanya Baekhyun sembari memeluk namja tinggi itu. Tao sekarang sedang diobati oleh Lay, bersamaan dengan mereka yang mencoba menyadarkan Kyungsoo.

"Nan gwenchanna, Baekkie. Hei, jangan menangis aku tak apa-apa." Ucap Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun yang sudah meneteskan air matanya itu saking khawatirnya.

"Park Chanyeol, jangan membuatku khawatir lagi, eoh?!" Tutur Baekhyun sambil menyodok perut Chanyeol dengan tangannya sekuat tenaga.

"EOH! Appo, Baekkiee!" Teriak Chanyeol kesakitan, ia menghampiri Lay minta diobati juga namun dijewer oleh Luhan karena menghalangi kegiatan temannya mengobati Tao. Kemudian Chen menghampiri Kyungsoo, ia bertepuk tangan sembari berkata, "Bangun Soo... sudah sore!"

Dan secara ajaib Kyungsoo tersadar dari pingsannya.

"Yah... apa yang terjadi padaku?" Tanyannya bingung. Ia memegangi kepalanya yang sakit ;sebenarnya ia sendiri yang menjambak rambutnya hingga sakit;.

"Kau hanya kerasukan." Jelas Kai singkat berharap Kyungsoo cepat melupakan kejadian tadi. Kyungsoo membulatkan matanya yang memang sudah bulat itu. "MWO?!"

"Jangan melotot sepeti itu, Soo. Kau mau merasakan tinju dua jariku ini?" Goda Luhan sambil menunjukkan tanda peace dengan tangan kanannya.

"HEY! Jangan menakut-nakutiku, Rusa." Balas Kyungsoo sedikit membentak, takut kalau matanya dicolok (?) oleh namja -agak- evil itu.

"Sudah... tenangkan diri kalian dulu. Ada yang ingin ku katakan pada kalian." Kata Sehun melerai dua namja bermata indah tadi. Tiga detektif itu sudah duduk mengelilingi meja ruang tamu, bersama dengan Baekhyun, Lay, Luhan dan Xiumin. Sementara Kai dan Kyungsoo yang sedari tadi sudah duduk disana memperhatikan dengan serius.

"Begini, aku dan Kai akan pergi ke Seoul untuk melapor pada kantor pusat bersama dengan Tao dan Lay. Apa kalian tidak keberatan?" Tanya Sehun yang ditujukan pada Luhan, Kyungsoo, dan namja lainnya yang diharuskan tinggal.

"Berapa lama kalian berada di Seoul?" Tukas Chen dan Chanyeol berbarengan. Ia belum tahu tentang hal ini, tanpa terkecuali Kai juga.

"Kemungkinan tiga hari karena perjalanan yang jauh dan juga kalau tak ada halangan tentunya." Jawab Sehun pada kedua rekan detektifnya.

"Sepertinya tak ada yang keberatan?" Ujar Chen sembari menoleh ke namja-namja lainnya.

"Kalau begitu sudah diputuskan, kami ber-empat akan berangkan malam ini. Jaga diri kalian baik-baik. Terutama karena 'dukun' kita tidak ada di rumah." Kata Sehun, ia mengatakannya sambil melirik Lay.

"HOW CAN I BE YOUR SHAMAN, HUN!?" Murka Lay, sebenarnya tadi yang menyuruh berdamai siapa sih? terjadilah acara kejar-kejaran antara SeLay di seluruh ruangan.

.

.

.

Markas Yoochun dkk . 21.22 KST-jamnya sesuatu-

"Park Yoochun, aku memang benar. Kau sudah gila." Tukas seorang namja berambut merah. Perawakannya tinggi dan sorot matanya tajam.

"Aku kan sudah bilang, dia memang gila hyung. Sama sepertimu." Kata namja yang lainnya. Diantara mereka bertiga ialah yang paling muda.

"Kami berdua memang sudah kehilangan akal sehat, bodoh." Ucap Yoochun akhirnya. "Kami pernah membunuh orang dan hanya kau yang masih bersih dari tuduhan pembunuhan, dasar maknae." Lanjut namja tertua.

"Jangan menatapku seperti itu, nafsu membunuhku hilang karena kalian berdua, pabo."

.

.

.

.

TBC

Tapi Bohong Ciaciacia(?) -diwushumassa-

.

.

.

.

Setelah Sehun, Kai, Lay, dan Tao berangkat ke Seoul. Sementara ini Luhan tidur bersama Kyungsoo. Pembagian kamarnya adalah sebagai berikut : Luhan dan Kyungsoo, ChenMin, dan ChanBaek. Fyi, anjing milik Tao ditinggal untuk jaga-jaga. Yian -namanya- ditinggal di ruang tamu supaya lebih dekat dengan halaman depan.

"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita beristirahat." Kata Chanyeol setelah melirik sebentar arlojinya. Bahkan Chen sudah beberapa kali menguap lebar-lebar saking ngantuknya.

"Baiklah..." Jawab lima namja lainnya. Sepi rasanya ditinggal empat orang itu. Bahkan ChanBaek yang biasanya ribut dengan Chen juga tak melakukan rutinitasnya mencerahkan suasana rumah.

Luhan dan Kyungsoo menuju kamar mereka yang saat ini. Kamar milik Luhan yang sebelumnya ia pakai bersama Sehun. Tak seperti kamar lainnya, ruangan ini tidak penuh oleh tas dan koper karena hanya dihuni dua orang, bahkan sampai sekarang juga. Gangguan listrik malam itu menyebabkan lampunya menyala redup.

"Luhanie aku merasa tanpa empat orang itu rumah ini jadi menyeramkan lagi, ya?" Kyungsoo bergidik ngeri. Ia memandang seluruh sudut ruang tamu dan kemudian masuk ke dalam.

"Entahlah, padahal saat aku tinggal berdua dengan Baekhyun tak ada apa-apa di sini. Kondisi ini terjadi setelah pembunuhan Victoria noona itu." Balas Luhan, ia menutup pintu kamar.

"Ah... sebaiknya aku segera tidur. Tak biasanya aku ketakutan begini. Terutama karena kejadian tadi sore." Luhan menatap Kyungsoo dan mengangguk. Ia tahu betul bagaimana namanya kerasukan.

Kyungsoo menempati kasur milik Sehun dan mengerubungi dirinya dengan selimut. Tak lupa ia memasangkan earphone di telinganya. Kebiasaannya kalau tidak bisa tidur sejak dulu. Mendengarkan lagu yang bisa menenangkan hati. Tanpa ada yang mengetahuinya, Kyungsoo belum tidur. Ia masih bergelut dengan pikirannya, tentang namja bernama...

"Kai..."

Gumam Kyungsoo dalam kesunyian malam itu.

Luhan pun sama, ia tak bisa tidur malam itu. Ia merasa ada yang janggal dengan rumahnya itu. Tapi apapun hal itu Luhan tak ingin tahu. Ia harus beristirahat malam ini juga. Namun matanya menangkap suatu hal yang janggal. Kursi belajar yang ia gunakan dulu bergerak sendiri. Walaupun hanya satu-dua centi itu terlihat dengan jelas.

"Nuga...?"

Luhan mengernyitkan dahinya. Sofa yang ada di kamar itu juga berderit. Seperti ada yang sedang mendudukinya. Namja itu tak mau pikir panjang, ia menyembunyikan dirinya dalam selimut yang tebal dan hangat. Mencoba untuk tidur hingga tanpa terasa ia sudah terlelap.

.

Di kamar Baekhyun, hanya Chanyeol yang masih terjaga. Ia mendapat firasat buruk akan hari esok. Karena kasur milik Lay sudah diwanti-wanti untuk tidak ditiduri -entah kenapa- Chanyeol harus tidur sekasur dengan Baekhyun. Ia memandangi wajah namja yang sedikit lebih tua darinya itu.

"Byun Baekhyun, ya?" gumam Chanyeol sambil terus menatap intens wajah Baekhyun. Entah karena refleks atau ia terlalu menghayati kegiatan mengamatinya, tangannya bergerak memegang pipi Baekhyun. Pertamanya hanya menyentuh namun kelamaan ia mengelusnya sayang. Baekhyun bergerak karena merasa terganggu. Ia terbangun.

"Eoh? Chanyeolie.. aku mengantuk." Kata Baekhyun setengah sadar. Matanya masih terpejam. Namun karena Chanyeol tak mau melepaskan tangannya, Baekhyunpun membuka mata.

"C... ch.. chanyeol." Ucap Baekhyun bergetar. Hal itu dikarenakan Chanyeol yang menatap matanya lekat-lekat. Wajah Baekhyun merona. Chanyeol tersenyum.

"Apa yang salah dengan wajahku, chagi?" Chanyeol bersmirk ria sementara namjachingunya itu melotot. Rona wajahnya tambah kentara. Ia menyembunyikan wajahnya dengan selimut.

"Ti.. tidak ada."

Tapi Chanyeol tahu betul kalau Baekhyun suka dengan panggilan sayang itu. Ia ingin mengerjainya sedikit lagi. Ia menarik-narik selimut yang digunakan Baekhyun. Namun namjachingunya itu memeganginya dengan sangat erat. Sepertinya ia malu bertatapan dengan Chanyeol yang sanggup membuat perempuan mana saja luluh itu /termasuk saya /digaplok Baekhyun.

Merasa usaha tarik-menariknya tidak membuahkan hasil ia mendapat ide lain.

"Byun Baek chagiya, buka selimutmu atau aku akan menciummu dengan paksa!" Ancam Chanyeol sembari menjauhkan dirinya dari namja itu. Tanpa aba-aba, Baekhyun sontak melepaskan selimutnya karena takut dan malu. Namun Chanyeol memang jahil...

CHU~!

"AAAAHHHH!" Teriak Baekhyun yang sekarang sudah berada di pojok ruangan. Wajahnya semerah kepiting rebus.

'Chanyeol barusan... me.. menciumku? Di bibir? Omo... aku malu.' Batin Baekhyun, detak jantungnya sudah tidak menentu seakan bisa meloncat keluar kapanpun ia mau.

"Baek chagi~! Tak perlu malu begitu, hahaha. Maafkan aku mengagetkanmu. Tapi yang tadi itu tulus dari hatiku, lho." Kata Chanyeol sembari mendekati Baekhyun yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Bagaimanapun juga itu first kissnya.

HUP!

Chanyeol menggendong Baekhyun secara tiba-tiba dan menidurkannya di kasur. Namja yang ia gendong melotot dengan wajah yang masih merona.

"Tidurlah, aku juga mau istirahat dulu. Sepertinya besok akan menjadi hari yang melelahkan." Pinta namja 'happy virus' itu. Baekhyun mengangguk dan segera tidur kembali disusul Chanyeol yang juga ikut terlelap menuju alam mimpi /bukan alam baka /dihajar.

.

Di kamar terakhir, Chen dan Xiumin sudah tidur lelap. Kamar itu terlihat lebih rapih setelah Kyungsoo membereskan barang-barangnya. Sebenarnya beberapa namja akan pindah ke rumah Xiumin berhubung rumah mereka terlalu ramai. Entah kapan rencana itu akan dilaksanakan.

Sepertinya Chen tidak bisa tidur dengan tenang. Berkali-kali ia berguling ke kanan dan kiri. Dan saat ini, Xiumin terbangun karena merasakan suatu benda menekan perutnya.

Deg...

'Chen memelukku sedekat ini...?' Batin Xiumin. Ia sungguh tak bisa menstabilkan detak jantungnya yang kelewat cepat itu. Wajah Chen berada tepat sepuluh centi didepan wajahnya. Bisa kau bayangkan hal itu? Wajah namja chubby itu merona.

"Chen... kakimu berat." Gumam Xiumin pelan sambil menyingkirkan satu kaki namja yang bernama asli Jongdae itu.

"Biarkan seperti ini, hyung."

Walau hanya igauan, itu sudah cukup membuktikan kalau Chen -sepertinya- sengaja melakukannya. Xiuminpun berusaha untuk kembali terlelap. Di dalam dekapan namja bernama Kim Jongdae, Chen.

.

.

Malam itu juga Sehun, Kai, Lay, dan Tao masih berada dalam perjalanan ke Seoul. Mereka mengendarai mobil milik Lay seperti biasanya. Kai dan Tao duduk dibelakang sementara Sehun dan Lay yang menyetir, duduk di depan. Jarak dari desa Geobuga -turtle, pura puranya ada- ke Seoul memakan waktu seharian kalau lancar. Itu sangat melelahkan.

Kadang mereka bercakap-cakap dan bercanda ria untuk menghilangkan kantuk. Beberapa kali mereka berhenti di suatu warung makan yang ada di pinggir jalan untuk sekedar makan atau minum teh. Tao menceritakan banyak hal mulai dari mendiang kakaknya yang dibunuh oleh Zhou Mi sampai Park Yoochun si tersangka kali ini.

Huang Zi Tao, anak kedua dari tiga bersaudara yang sekarang menjadi dua saudara. Umurnya baru 20 tahun, sama dengan Kyungsoo. Adiknya bernama Huang Mi Young, seorang penyanyi yang terkenal di Korea dan Amerika. Mereka semua lahir di China namun tinggal di Korea.

Zhang Yi Xing, namja yang setahun lebih tua dari Kyungsoo. Satu universitas dengannya dan Kai ia masuk jurusan farmasi. Karena sedang libur ia bermain ke rumah Luhan dan Baekhyun. Ia punya keahlian khusus dalam menyembuhkan orang sakit, namun itu bukan magic atau ilmu sihir lainnya. Kakanya bernama Zhang Li Yin, penyanyi yang nge-top di China saat ini.

Kim Jong In, umurnya 20 tahun. Ia terbiasa memanggil laki-laki yang lebih tua tanpa embel-embel hyung. Satu universitas dengan Kyungsoo dan Lay. Salah satu detektif di Myseoul Korea. Ia direkrut karena kemampuan analisis dan intelektualnya. Mempunyai adik kembar namun wajah mereka berbeda jauh bernama Kim Jong Up.

Oh Sehun, umurnya sama seperti Lay, 21 tahun, begitu juga dengan Chen. Ia punya seekor anjing sapsal peninggalan kakeknya, namanya Ramon. Ia direkrut menjadi detektif dua tahun yang lalu, itupun karena logika analisis dan ingatannya yang sangat baik.

"Dan sekarang sedang menjalin hubungan dengan Byun Lu Han." Kata Sehun sambil tersenyum menerawang ke luar jendela mobil. Sahutan pun terdengar dari Tao, Kai dan Lay.

"HUUUU~! Dasar cadel, gitu aja pamer!" Cibir Kai, walau dalam benaknya ia sangat iri pada Sehun. Kenapa? Karena ia belum mengutarakan perasaannya pada Kyungsoo.

"Aku sudah tidak cadel, Kkamjong." Balas Sehun.

"YA!" Kai menendang jok mobil yang diduduki namja putih susu berambut pirang kecokelatan itu. Lay dengan segera memberikan glare terbaiknya pada Kai karena menendangi jok mobilnya.

BRUK!

Terdengarlah suara tabrakan antara mobil dengan sesuatu, apakah anjing? Tak ada suara diluar sana. "Lay, kau menubruk sesuatu?" Tanya Sehun.

"Eh? bahkan aku tak melihat bayangan benda yang ada di depan tepat setelah aku mengemudi lagi." Jawab Lay kebingungan. "Biar ku lihat."

Lay keluar dari mobilnya diikuti Sehun dan Kai. Mereka tak mendapati apa-apa di sana. Hanya bekas ban mobil yang mengesek aspal, tak ada yang lain. Namun telinga Lay menangkap sesuatu...

Srek... srek... srek...

"Suara langkah kaki yang di seret?" Gumam Lay masih dalam kebingungannya. Apakah itu orang yang ia tabrak tadi. Ia masih tidak yakin dengan hal itu.

"Hei, kalian berdua dengar itu?" Tanya Kai pada dua namja di sampingnya. Mereka bertiga saling berpandangan dan kini mereka menoleh bersamaan ke arah mobil. Dimana Tao sendirian berada di sana...

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Tanpa diperhitungkan, Tao lari keluar mobil. Ia sudah menangis karena takut. Ada seseorang yang lain di dalam mobil, itu sudah jelas karena Tao sempat mencium bau anyir di sekitarnya. Dan saat ia menoleh kebelakang ada seorang yeoja duduk disana menatapnya dengan nanar. Senyum mengerikan terlukis diwajahnya yang penuh darah.

"Ada apa, Tao?" Tanya Sehun khawatir, kalau saja ada Chen di sini. Mereka pasti sudah menyadari hal ini sejak tadi.

"I... i... itu... ada seseorang di dalam mobil." Ucap Tao terbata, air matanya mengalir dengan deras. Kai memincingkan matanya, menatap sekeliling. Ia kaget.

"Hyungdeul, kau tahu kita berada di mana?" Tanyanya dengan nada serius. Lay menoleh kearahnya dengan cepat. Begitu pula Sehun dan Tao. Mereka ber-empat masih berada di depan mobil. Dan entah kenapa tak ada kendaraan lain yang lewat malam itu.

"Aku ingat... ini adalah tempat dimana aku bertemu dengan yeoja bernama Victoria itu." Ujar Lay, ia memandang tiga namja di samping kanan kirinya dengan keseriusan.

Dan benar saja... mereka seakan mendengar deru motor melewati jalan itu namun tak ada kendaraan yang lewat. Dan sekarang...

'hi hi hi hi hi...'

Suara tawa seorang yeoja merasuki indra pendengaran mereka. Saat Tao membuka matanya, ia mendapati Victoria berdiri di balik pohon besar. Tertawa melihat Tao saat itu. Tangisannya pun tak terhentikan. Mereka berempat segera menaiki mobil dan pergi dari tempat itu. Sehun menghela nafas.

"Huft... harusnya aku sadar apa tempat itu. Tak lihatkah kalian bahwa sebelah kanan dan kiri jalan yang tadi adalah pemakaman?"

"Eh?"

.

.

.

Ex Ghost

.

.

.

Yian menggonggong dengan semangat, membangunkan enam namja yang sedang tidur pagi itu. Kyungsoo bangun pertama kali, ia langsung membersihkan dirinya diikuti ke-lima namja lainnya. Kali itu Xiumin yang mendapat jatah memberi makan Yian.

"Ini makananmu..." Katanya sambil menaruh piring penuh dengan makanan anjing -yang dibawa Tao.

Yian makan dengan lahap, tak terasa namja itu ikut lapar karenanya. Kemudian Baekhyun dan Chanyeol keluar kamar dengan pakaian yang rapih. Sepertinya mereka ingin keluar sebentar.

"Luhan hyuuung~! Aku dan Yeollie akan pergi berbelanja di mart sebentar, jaga rumah baik-baik, ya!" Pamit Baekhyun, kemudian berjalan keluar rumah bersama dengan Chanyeol yang wajahnya berseri-seri mengingat malam kemarin ia mencium Baekkie.

"Baekkie, perhatikan langkahmu. Nanti kau terjatuh." Nasihat Chanyeol dari kejauhan karena Baekhyun yang berlari-lari kecil meninggalkannya.

DUK!

"AKH!"

Baekhyun terantuk batu, ia hampir jatuh. Dan saat Chanyeol menangkapnya...

GREP!

Sepasang tangan lain memegang pinggang Baekhyun erat. Saat Baekhyun menoleh itu bukan Chanyeol, namjachingunya. Namun seseorang dengan wajah licik terpampang di rupanya. Namja itu menyeringai.

"Kau... akan kuculik, honey."

"CHANYEOL!" Teriak Baekhyun yang sekarang digendong paksa menaiki motor oleh namja itu. Sebelum sempat mengejar, motor itu sudah melaju dengan cepat. Namja tadi melambaikan tangannya untuk menandakan bahwa ia mendapatkan apa yang disayanginya.

"Baekhyun-ah, tunggu aku."

Chanyeol mengambil kunci motor milik Tao dan melenggang pergi mengejar Baekhyun yang di culik oleh seseorang, entah siapa gerangan dirinya.

.

Di markas Yoochun dkk, Baekhyun disekap disana. Tangan dan kakinya di borgol pada sebuah meja kayu yang besar dan berat hingga apa daya ia tak bisa membebaskan dirinya. Namja yang menculiknya tadi menyeringai mesum menatapnya.

"Selamat datang, My Baek." Sapa namja itu.

"Siapa yang menyuruhmu menculikku, mantan sunbaeku di sma, Choi Seung Hyun?" tanya Baekhyun sarkatis. Ia muak dengan namja itu, sangat muak dan benci padanya.

"Tidak ada, tapi aku menginginkanmu. Oh, bagaimana kau bisa mengenalku?" Tanya namja bernama Seunghyun itu. Ia menaikkan sebelah alisnya. Masih dengan smirk diwajahnya.

"Cih... siapa yang tidak kenal dengan Choi Seung Hyun, namja top di sekolah yang mengejar seorang Byun Baek Hyun yang terbully dikelasnya itu, hah?" Bentak Baekhyun, perasaannya sungguh tidak enak pada tempat gelap tersebut.

"Rupanya kau ingat betul dengan hal itu, Baekkie."

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku tak mau mendengarnya dari mulutmu!" Teriak Baekhyun, namun sekarang namja tinggi itu mendekatinya dengan seringaian pervert menghiasi rupanya.

"Biarkan aku merasakan tubuhmu, Byun Baek Hyun." Seunghyun mendekati Baekhyun, ia mencengkeram dagu namja cantik itu. Ia ingin minta cium paksa darinya.

"Tidak! Ch... chanyeol..ie." Baekhyun menangis, ia berharap Chanyeol datang menyelamatkannya. Sebelum Seunghyun mencuri cium darinya.

BRAK! DHUAKH!

"Argh!"

Baekhyun merasakan borgol di tangan dan kakinya terlepas oleh bantuan seorang namja. Baekhyun menengadahkan kepalanya, menatap namja itu. Air matanya meluber kembali, ia merasa takut namun juga senang di saat yang sama.

"Chanyeolie, kau datang... hiks." Baekhyun menghambur kepelukan namja tinggi itu. Ia menatap serius Seunghyun yang memegangi rahangnya. Sepertinya Chanyeol memukul dengan sangat keras.

"Kita tidak punya banyak waktu, ayo pergi!" Chanyeol menarik tangan Baekhyun, seunghyun mengejarnya namun terlambat. Sepeda motor Chanyeol sudah melaju. Ia menghampiri sepeda motornya.

"Fuck!"

Umpatnya, motornya itu sudah tak berbentuk, banyak bagian yang remuk dan terlepas dari tempatnya semula. Bannya kempes, bahkan bensinnyapun meluber keluar. Ulah Chanyeol...

"Hahaha... kau dikerjai, Seunghyun hyung." Tawa seseorang dari balik box mobil.

"Diam kau, Park Yoochun." Geram Seunghyun.

"Kita akan menjalankan rencana ketua segera, kau tak perlu bertindak yang tidak-tidak. Lagi pula namja itu sudah punya pasangan." Cibir Yoochun yang kemudian segera masuk ke dalam ruangan gelap yang menjadi markas mereka.

"Rencana itu? Heh... baiklah, sepertinya itu kesempatanku." Seringai Seunghyun kembali terlukis di wajahnya. Rencana apa yang akan mereka jalankan...?

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

ANYEONG READERDEUL~!

Yeoxo Keunree aka Yoree or Keunree comebaek bareng rilisnya album EXO XOXO Kiss n Hug.

I Love Black Pearl *y.

Akhirnya Keunree lulus SMP /teriakgeje. Semoga dapet SMA yang sesuai harapan, amin. Dan akhirnya Keunree dapet inspirasi dari nae imo lagi, wakaka. Maafin saya Mas Baek, ai no bermaksud nulis gitu /tunjukffdiatas.

Kurang horror, kah? Duo leader belum muncul juga?

Tunggu Chapter depan, otte?

Special thanks to : fieeloving13, baekyeolssi, Riyoung6398, WinterHeaven, Guest, Baekyeol Shipper, jenny, Spring Diamond, Kim Haerin-ah, Hilda amalliyah, ayulopetyas11, rinie hun, baby kyungie, Queen DheVils94, Reina, siscaMinstalove, Riyoung Kim.

Yang nggak bisa Keunree balesin reviewnya karena takut kepanjangen.

chyshinji0204 : Hahahaha itu rahasia author /plak. Ini update chingu, review lagi ya?

EXOB.A.P HunHan DaeLo : Saya yeoja 1/4 namja /ditendang. Maksudnya Baek Percent yeoja :D. Saya suka DaeJae sama Jongup :). Mau bikin ff itu buka akun terus ke publish doc manager new story, dongsaeng~ review lagi ne?

do ahreum : ternyata cuma 36 saya /pundung. Jahat ih, nggak review lagi *lemparbatu*. Chingu! RnR okee?

Wookiecha : semoga mereka selamat, chingu~! Rnr ya :D

putriii : pelakunya itu ya si ituuuu! geje ya? jelas :) review lagi ya, gomawo

Gita Safira : hiks, mian,ini updatenya setelah hiatus 1 bulan buat nunggu UN /ditodongmeriam. Itu udah ketahuan kok, pembunuhnya. Rnr lagi ya~

dian deer : Updated! review lagi, ne? kamsahamnida

ajib4ff : Yongguk? Bukan deh... hehehe.. Iya duo leader belom nongol ini... otokhae? Thankyou, rnr ya :D

jungjaegun : horrornya bakal diperbanyak setelah chapter ini... sekarang aja udah mulai horror lagi kok C: . makasih ya... keep reading~

chyshinji0204 : makasih sarannya, eonnie~! sebenarnya udah diconcept begitu kok :D sekali lagi makasih~ keep reading and review ne...

DianaSangadji : yeah! dibilang lucu *jingkrak jingkrak geje* makasih~! baca lagi ya... gomawo

0312luLuEXOticS : pembunuhnya dah nongol tuh... LuhanSehun tetep horas! *eh?

Gomawo~! Review and keep reading, ne? :D

dewilololala : salam kenal :D, thank you banget lho... saya masih berusaha nggak out of horror ini, hehehe... rnr ya chingu~!

Love Couple : oke~! *bawa surat nikah chen sama saya /dilempar kelaut* hahaha... ChenMin lagi masa pdkt, ciaciacia~! Rnr *bow*

.

REVIEW, FAV, FOLLOW are apreciated :D

Thank You *wolf sign with EXO OT12*