Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya
Sakura-orang yang sedari tadi mengikuti Sasuke dan Hinata- hanya bisa menutup mulutnya. Sakura masih bersembunyi di salah satu gedung, ia melihat Hinata yang menangis tersedu di tengah taman. Sakura memang tidak bisa mendengar semua percakapan, tapi dari tempat persembunyiannya, ia bisa dengan jelas melihat gerak-gerik Hinata dan Sasuke, Sakura sangat yakin mereka bertengkar, apalagi ia bisa mendengar kalimat terakhir Hinata dengan jelas. 'AKU MEMBENCI MU, JADI JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU'. Sakura sedikit terkejut ketika mendengar Hinata berteriak seperti itu pada Sasuke.
'Kenapa Hinata bisa semarah itu pada Sasuke?' Sakura bertanya dalam hati.
Look At Me
Hinata masuk ke kelas saat bel sudah semua murid sudah duduk rapi di bangkunya masing-masing, Hinata yang muncul tiba-tiba dari pintu langsung menjadi pusat perhatian mereka. Hinata tidak mempedulikan tatapan-tatapan dari teman-teman sekelasnya itu. Hinata langsung duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku fisikanya.
Sakura yang dari tadi melihat gerak-gerik Hinata, kini membalikkan tubuhnya kebelakang untuk melihat Hinata.
"Hinata.." Sakura memanggil Hinata pelan. Hinata mengangkat kepalanya untuk melihat Sakura yang duduk didepannya.
"Ada apa?" tanya Hinata.
"Eumm i..itu..emm tidak apa-apa, lupakan saja" Sakura langsung membalikkan lagi tubuhnya untuk mengahadap papan tulis, Hinata melihat itu sedikit bingung tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak peduli. Hinata pun kembali fokus pada bukunya. Tak lama setelah itu, Guru fisika mereka datang.
Saat bel istirahat berbunyi, Hinata segera mengikuti Gaara yang langsung keluar dari kelas. Hinata merasa harus berbicara dengan Gaara soal kejadian kemarin, sebelum Gaara memberitahu orang lain tentang hal itu. Menurut Hinata, cukup Sasuke saja yang mengetahuinya.
"Gaara!" Hinata sedikit berteriak untuk memanggil Gaara yang berada beberapa meter di depannya. Gaara yang merasa di panggil segera menolehkan kepalanya ke sumber suara.
"Hinata?" Gaara sedikit bingung melihat orang yang memanggilnya adalah Hinata.
"Ada apa?" tanya Gaara saat Hinata sampai di hadapannya.
"Aku mau bicara berdua denganmu"ucap Hinata
"Kau tinggal bicara saja" Gaara melihat kesekeliling, banyak sekali siswa yang berkeliaran di sekitar mereka berdua.
"BERDUA" ucap Hinata yang sengaja ia tekankan. Awalnya Gaara tak mengerti maksud Hinata, tapi saat melihat dua orang siswi melewati mereka sambil mengobrol, Gaara baru paham.
"Bagaimana kalau di atap?" Tawar Gaara. Hinata mengangguk.
Di kelas XI IPA 2, siswa yang belum keluar kelas bersorak kencang saat tiba-tiba Sakura menarik Naruto keluar dari kelas.
"HEEEII kalian pacaran ya!" teriak salah satu murid di kelas XI IPA 2 yang masih bisa didengar oleh Sakura, meskipun Sakura sudah berada beberapa meter dari kelas.
"Sakura.. ada apa?" Tanya Naruto yang masih di seret oleh Sakura. Sakura tak menjawab pertanyaan Naruto, sampai akhirnya mereka tiba di ruang basket.
"Ada yang ingin kutanyakan"Ucap Sakura
"Kau kan bisa menanyakannya di kelas" Naruto sedikit meringis ketika melihat pergelangan tangannya memerah, ternyata Sakura kuat juga.
"Aku hanya ingin berbicara BERDUA denganmu" Sakura sengaja menekankan kata 'berdua' agar Naruto paham maksudnya. Naruto menghela nafas.
"Baiklah ada apa?" tanya Naruto bingung.
"Apa yang ingin kau bicarakan Hinata?" tanya Gaara setelah sampai di atas atap.
"Aku mau minta tolong padamu" ucap Hinata.
"Tolong? Kau meminta tolong padaku?" Gaara sedikit heran. Hinata hanya memandang Gaara malas. Melihat itu Gaara langsung tahu kalau Hinata tipe orang yang lebih suka To The Point.
"Kau mau meminta tolong apa?" tanya Gaara langsung.
"Soal kemarin, soal aku terkunci dan soal teror itu. Bisakah kau tak memberitahu siapapun?" Hinata menatap Gaara yang sedang menyenderkan tubuhnya di tembok pembatas.
"Jadi soal teror itu benar? Kau benar-benar sedang di teror?" Gaara menatap Hinata tak percaya.
"Kau bisa melakukannya atau tidak?" Hinata benar-benar tidak suka bertele-tele.
"Kenapa… Kenapa aku tak boleh menceritakan soat teror itu?" Tanya Gaara penasaran.
"Bukankan kalau banyak yang tahu berarti banyak juga yang akan melindungimu dari peneror itu" lanjut Gaara.
"Itu bukan urusanmu" Hinata memalingkan wajahnya. Gaara menatap Hinata lama, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Baiklah.." ucap Gaara setelah sekian lama diam.
"Tapi… soal kau terkunci di atap, aku sudah memberitahu pada dua orang" Gaara melanjutkan. Hinata kini memalingkan wajahnya untuk melihat Gaara, Hinata jelas tahu siapa salah satu orang yang mengetahuinya, Sasuke. Tapi, satu orang lagi siapa?
"Siapa saja?" Hinata bertanya.
"Uchiha Sasuke…" Gaara sengaja menggantungkan perkataannya untuk melihat reaksi Hinata, dan orang yang dilihat malah menatapnya seolah menunggu apa yang akan diucapkan Gaara selanjutnya.
"…Dan Orochimaru-sensei" Gaara melanjutkannya.
"Kapan kau memberitahu Orochimaru-sensei?" tanya Hinata.
"Tadi, saat istirahat pertama"
Setelah bel istirahat berbunyi, Gaara keluar dari kelas dan pergi ke kantin, untuk pergi ke kantin Gaara harus melewati kantor guru. Tak sengaja dirinya menabrak Orochimaru yang baru saja keluar dari kantor.
"Maaf pak, saya tidak sengaja" Ucap Gaara.
"Ahh tidak apa-apa" Orochimaru melihat muridnya yang sekarang sedang menunduk.
"Bukankah kau murid pindahan di kelasku?" tanya Orochimaru ketika ia merasa kenal dengan sosok dihadapannya sekarang.
"Iya pak, saya Gaara murid pindahan dari Suna" Ucap Gaara lagi.
"Eumm, oh iya.. apa kau kenal dengan Hyuuga Hinata? dia sekelas denganmu" Orochimaru bertanya.
"Ya aku kenal" Kini Gaara menatap Gurunya bingung.
"Kalau kau dekat dengannya, bisakah kau tanyakan, kenapa kemarin dia membolos? Setahuku dia murid yang rajin dan pintar"
"Eumm sebenarnya aku tidak dekat dengannya, tap sepertinya aku tahu kemarin dia kemana" jawab Gaara.
"Oh ya? Kemana dia?"
"Kemarin dia terjebak di atap, ada orang yang menguncinya disana sehingga dia tidak bisa kembali kekelas setelah istirahat" Gaara menjelaskan.
"Darimana kau tahu?" Orochimaru sedikit penasaran
"Kemarin saat pulang sekolah aku pergi keatap dan bertemu dengannya disana"
Gaara menceritakan kejadian saat istirahat pertama tadi pada Hinata, Hinata hanya mengangguk setelah mendengar cerita Gaara.
"Tak apa lagipula sudah terlanjur, tapi kumohon jangan ceritakan pada siapapun lagi" Hinata sedikit memohon.
"Tentu saja" Gaara mengangguk yakin.
"Naruto.. Kau, Sasuke dan Hinata satu SD kan?" Tanya Sakura. Naruto hanya mengangguk, ia kurang mengerti arah pembicaraan ini.
"Kau tahu, disekolah ada rumor, disekolah ini Sasuke punya teman perempuan yang dekat dengannya sejak kecil" Sakura mulai menjelaskan. Naruto mulai mengerti arah pembicaraan Sakura.
"Perempuan itu Hinata kan?" Tanya Sakura, ia memandang Naruto penasaran. Naruto yang sudah bisa menebak pertanyaan Sakura hanya mengehela nafasnya.
"Memangnya kalau orang itu Hinata, kenapa?" tanya Naruto.,Sakura terdiam mendengar itu.
"A..ak..aku hanya.."
"Kenapa? Apa kau akan marah pada Hinata, karena ia dekat dengan Sasuke? Atau malah kau akan memusuhinya?" Tanya Naruto bertubi-tubi. Mendengar pertanyaan sinis Naruto, Sakura sedikit kesal.
"Heeiii, bukan seperti itu BAKA!?" Sakura menjitak kepala Naruto.
"Awww" Naruto meringis kesakitan.
"Aku hanya penasaran" ucap Sakura.
"Penasaran?" Naruto mengernyitkan dahinya.
"I..iya, maksudku kalau mereka memang dekat, kenapa di sekolah mereka terlihat tak dekat?" Sakura bertanya pada Naruto.
"Kau benar" Naruto menjawab sambil mengelus kepalanya yang masih terasa sakit.
"Apa maksudmu dengan perkataan 'Kau benar', jangan-jangan kau juga tidak tahu kenapa mereka bisa seperti itu?" Sakura menatap Naruto curiga. Dan Naruto hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Saat SD mereka sangat dekat.." Naruto mengingat saat mereka SD dulu.
"Dan kau tahu kan, saat SMP aku tak satu sekolah dengan mereka berdua, lalu tiba-tiba di SMA mereka sudah bersikap seperti itu" Naruto melanjutkan.
"Menurutmu, mereka kenapa?" Sakura semain penasaran.
"Aku tida.." Naruto mengentikan perkataannya, saat ia merasa ada yang aneh.
"Tunggu..tunggu.. ada yang aneh" Ucap Naruto tiba-tiba.
"Apa yang aneh?" Sakura menunggu jawaban Naruto.
"Kenapa tiba-tiba kau penasaran dengan mereka, lagipula seharusnya kan kau senang karena mereka sudah tidak dekat lagi, jadi sainganmu berkurang" ucap Naruto sedikit bingung.
"Sebenarnya aku tahu, sampai kapanpun Sasuke tak akan melihatku, jadi untuk apa aku terlalu terobsesi padanya" Sakura menjelaskan.
'AKU MEMBENCI MU, JADI JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU'
Suara Hinata yang berteriak di depan Sasuke terngiang di telinga Sakura.
"Lagipula sekarang aku benar-benar penasaran dengan hubungan mereka" Sakura melanjutkan. Naruto menatap Sakura curiga.
"Benarkah?" Naruto masih memandang Sakura curiga.
"Tentu saja benar, BAKA!" Sakura menjitak kepala Naruto lagi.
Bel pulang sudah berbunyi. Sasuke yang biasanya menunggu Hinata kini keluar duluan dari kelas. Hinata hanya menunduk ketika Sasuke melewati bangkunya, Hinata merasa bersalah tapi Hinata juga tahu kalau dia tidak boleh meminta maaf pada Sasuke.
Hinata keluar dari kelas setelah selesai membereskan bukunya, ia berjalan melewati koridor kelas XI kemudian berbelok di ujung koridor, ketika sampai di lapangan langkah Hinata terhenti, dari jarak kurang lebih 5 meter dari gerbang, Hinata melihat Sasuke masuk ke dalam mobil sedan yang terparkir tepat di depan gerbang. Hinata melihat kepergian Sasuke dengan tatapan sendu, mulai sekarang tidak ada Sasuke yang menemaninya dimanapun dan kapanpun. Hinata menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
"Memang ini yang aku inginkan" ucap Hinata meyakinkan dirinya sendiri.
Sesampainya dirumah, Hinata langsung pergi kekamarnya.
"Haii, sudah lama tidak bertemu" ucap seseorang dari sebelah kanan Hinata.
Hinata yang baru saja ingin memutar gagang pintu kamarnya, reflek melepaskan tangannya dari gagang pintu dan ia pun memutar tubuhnya untuk melihat orang yang memiliki suara tak asing itu.
Neji bersender di tembok sambil mengunyah permen karet, matanya menatap Hinata yang berada di hadapannya, dan wajah Neji terlihat sangat bahagia sekaligus tersirat perasaan rindu didalamnya. Sedangkan Hinata hanya melihat Neji datar, sebenarnya ia sedikit terkejut melihat kedatangan kakaknya yang selama ini berada di New york, namun Hinata menutupinya dengan wajah tak acuh.
"Kita sudah tidak bertemu hampir 3 tahun, tapi begini caramu menyambutku?" Neji terlihat sedikit kesal saat melihat Hinata diam saja.
"Aku lelah kak, aku ingin istirahat" Hinata kembali memutar gagang pintunya, namun tanganya ditahan oleh Neji.
"Sikapmu sangat-sangat berubah semenjak 4 tahun yang lalu, sebenarnya kau kenapa?" tanya Neji.
"Aku tidak apa-apa" jawab Hinata singkat.
"Kau tahu kan, kau itu tidak pandai berbohong.." ucapan Neji terhenti sebentar.
"Ayah bilang, selama 3 tahun ini kau semakin jauh darinya bahkan saat dirumah kau hampir tidak pernah bicara" lanjut Neji.
"Kak, hari ini aku ada test fisik dan itu membuat aku lelah, bisakah sekarang aku istirahat" ucap Hinata sedikit memohon. Neji sangat tahu kalau Hinata sedang berbohong, tapi melihat Hinata yang sedang tidak mood, Neji langsung menyerah.
"Baiklah, kita akan bicara saat makan malam"ucap Neji kemudian dia meninggalkan Hinata sendirian.
Saat makan malam, Neji menghapiri Hinata dikamarnya untuk mengajaknya makan, tapi Hinata sedang tidur.
"Hinata, ayo makan" Neji menggoyangkan tubuh Hinata pelan. Hinata sedikit menggeliat.
"Aku mengantuk" ucap Hinata yang lebih terdengar seperti mengigau kemudian ia kembali tetidur nyenyak. Neji yang jadi tak tega untuk membangunkan Hinata lagi, ia pun memutuskan untuk makan malam sendiri.
Keesokan paginya, Neji bangun dan bersiap untuk sarapan.
"Bi, panggil Hinata untuk sarapan" pinta Neji pada salah satu pelayannya.
"Nona Hinata sudah berangkat dari 10 menit yang lalu" ucap pelayan itu. Neji langsung melirik jam tangannya, setahunya ini masih terlalu pagi untuk berangkat kesekolah.
"Sepertinya kau mencoba menghindar dariku,Hinata" ucap Neji pada dirinya sendiri. Melihat Hinata yang mencoba menghidar darinya, Neji jadi semakin yakin kalau Hinata memang bermasalah. Dari dulu Hinata paling tidak bisa berbohong padanya, karena itu Neji selalu tahu masalah apa saja yang sedang di hadapi Hinata. Dan jika ada masalah yang tidak ingin Hinata ceritakan pada Neji, pasti Hinata akan mencoba menghindari Neji sebisa mungkin dan kalau itu terjadi, biasanya Neji akan berusaha mencari tahu sendiri.
Hinata sampai di halte, karena ia berangkat dari rumah terlalu cepat, dirinya harus menunggu bus di halte sedikit lebih lama.
Beberapa menit sudah terlewat, Hinata masih duduk sendirian di halte. Tiba-tiba Hinata merasa ada yang kurang.
"Kenapa Sasuke belum datang?" tanya Hinata pada dirinya sendiri, Hinata jadi teringat kejadian kemarin saat Sasuke pulang dengan supirnya.
"Sepertinya dia tidak akan naik bus lagi" Hinata melanjutkan.
Hinata sampai di kelas 5 menit sebelum masuk, di dalam kelas semua siswa sedang membicarakan sesuatu yang Hinata tidak tahu. Seperti biasa Hinata tak peduli dan tidak berusaha untuk mencari tahu, dia duduk di bangkunya kemudian ia mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai membacanya. Samar-samar Hinata mendengar percakapan teman-temannya yang topiknya mengarah ke satu orang, Uchiha Sasuke.
"Kau tahu, tadi aku melihat langsung Sasuke turun dari mobilnya. Sungguh dia sangat tampan" ucap salah satu siswi di kelas ini.
"Aku bahkan melihat saat ia memarkirkan mobilnya" balas seseorang, kali ini Hinata tahu kalau itu suara milik Ino.
'Jadi sekarang dia berangkat menggunakan mobil' ucap Hinata dalam hati. Hinata tak tahu, kenapa perasaannya sedikit sakit saat mendengar itu, bukankah ini yang dia mau? Tapi kenapa rasanya sakit. Hinata menggelengkan kepalanya, untuk mengenyahkan perasaan sakitnya.
'Ini akan baik-baik saja Hinata' Hinata mencoba meyakinkan hatinya sendiri.
"Kau kenapa?" tanya seseorang, Hinata sedikit terkejut saat mendengar itu, ia pun mendongakkan kepalannya untuk melihat orang yang barusan bertanya. Hinata melihat Gaara yang berdiri disamping mejanya, dari tatapan Gaara Hinata tahu pria berambut merah itu sedang menunggu jawaban Hinata.
"A..aku hanya tidak bisa menjawab soal ini" Hinata menjawab asal sambil menunjuk salah satu soal yang ada di buku kimianya.
"Ohh,tidak usah terlalu dipikirkan, nanti juga kita akan di ajari" ucap Gaara kemudian ia berjalan melewati bangku Hinata.
Jam pulang sekolah, seharusnya Hinata sudah pulang sejak lima menit yang lalu. Namun diurungkannya setelah ia membaca pesan masuk dari Neji, Hinata masih ingat jelas isi pesan itu..
To : Hinata
From : Neji
Hinata, hari ini aku akan menjemputmu
aku akan sampai dalam setengah jam
dan jangan coba-coba kabur, mengerti!
aku tahu kau sedang mencoba menghindar dariku
Isi pesan itu sangat-sangat menjelaskan, bahwa Neji sudah mengetahui kalau selama ini Hinata berusaha menghidarinya. Tidak, seharusnya Hinata tahu, kakaknya itu memang bukan orang yang bisa di bodohi, Neji pasti dengan mudah menyadari keanehan Hinata.
To : Neji
From : Hinata
Baiklah, aku akan menunggu di kelas. Kalau sudah sampai SMS aku..
Hinata membalas pesan itu dengan berat hati.
Setelah sepuluh menit menunggu, Hinata merasa bosan. Hinata mulai mengetuk-ngetuk HP nya ke meja.
'Supirku bilang mobilnya mogok di tengah jalan, jadi aku disuruh menunggu selama 30 menit, karena itu aku memutuskan berjalan-jalan sebentar, lagipla kemarin aku belum sempat berkeliling kesemua tempat yang ada di sekolah ini'
Tiba-tiba Hinata teringat perkataan Gaara, saat pria berambut merah itu menemukannya di atap.
"Kenapa aku tidak keliling sekolah saja?" tanya Hinata pada dirinya sendiri. Hinata berjalan keluar kelas, kemudian ia berjalan di koridor.
"Atau aku ke atap saja" pikir Hinata lagi, kemudian ia mengangguk sendiri, menandakan ia stuju dengan pemikirannya.
"Baiklah ke atap" Hinata memutuskan. Kini Hinata menaiki tangga yang ada di ujung koridor kemudian ia berjalan melewati deretan kelas dua belas, setelah sampai di ujung koridor kelas dua belas, Hinata baru sampai di tangga yang menuju atap sekolah. Hinata membuka pintu menuju ke atap, kemudian ia menutup matanya untuk menikmati hembusan angina yang menerpa kulit wajahnya. Hinata tersenyum sebentar, kemudian ia berjalan menuju tembok pembatas. Dari atas sini, Hinata bisa melihat lapangan bola yang berada tepat dibawahnya kemudian ada gerbang sekolah di arah utara, ada gedung khusus untuk lab di sebelah barat, dan gedung untuk ekskul di sebelah timur.
Hinata menyenderkan kepalanya di tembok pembatas, matanya melihat ke arah gerbang, siapa tahu kakaknya muncul. Membicarakan kakaknya, Hinata jadi ingat kalau dirinya tak boleh terlalu dekat dengan -tiba Hinata menatap gerbangdengan pandangan sendu.
"Kenapa tiba-tiba ekspresi senangmu berubah?"
Hinata terkejut mendengar pertanyaan itu, sebenarnya bukan karena pertanyaan nya, tapi karena suara yang tiba-tiba muncul dari samping kanannya. Hinata menoleh kekanan dengan ekspresi wajah terkejut.
"Apa?" orang itu bertanya lagi saat Hinata menatapnya seakan tak percaya.
"Gaara? Sedang apa kau disini?" tanya Hinata saat ia tersadar dari keterkejutannya.
"Seharusnya aku yang bertanya, lagipula dari sebelum kau datang, aku sudah duduk di situ" ucap Gaara sambil menunjuk kursi panjang yang berada empat meter dari samping kanan Hinata. Hinata membelalakan matanya, 'Gaara dari tadi disana?tapi aku bahkan tak menyadarinya?' Hinata bertanya dalam hati. Melihat Hinata yang masih asik dengan pikirannya, Gaara melambaikan tangannya didepan Hinata.
"Haii Hinata, Sedang apa kau disini?" tanya Gaara yang masih melambaikan tangannya di depan Hinata. Hinata tersadar kemudian ia memalingkan wajahnya untuk melihat gerbang lagi.
"Menunggu di jemput" jawab Hinata singkat, sekarang Hinata sudah memasang wajah dinginnya kembali.
"Aku juga" ucap Gaara sambil mendekat ke tembok pembatas, Gaara menyenderkan kepalanya di tembok, sama seperti yang dilakukan Hinata tadi. Hinata pun kembali menyenderkan kepalanya di tembok pembatas. Mereka saling diam selama beberapa menit.
"Kau pernah bertanya, kenapa aku tidak mau orang lain tahu soal peneror itu" Hinata yang pertama memecah keheningan di antara mereka. Gaara yang belum terlalu mengerti arah pembicaraan Hinata, hanya bisa diam menunggu ucapan Hinata selanjutnya.
"Aku akan memberitahumu jawabannya" Hinata melanjutkan, kemudian ia menoleh untuk melihat wajah Gaara. Gaara juga ikut menolehkan wajahnya, kini mereka berdua saling berhadapan.
Hinata diam sebentar, "Itu karena, peneror itu akan melukai siapapun yang mengetahui tentang hal ini.."Hinata kembali terdiam. "Dan aku tidak mau hal itu terjadi" Hinata melanjutkan.
"Hmm..Jadi itu alasanmu.." Gaara mengangguk paham. "Lalu kenapa tiba-tiba kau memberitahuku soal ini?" tanya Gaara.
"Itu karena kau sudah terlanjur mengetahui soal peneror itu, karena itu aku memberitahumu" ucap Hinata. mendengar jawaban Hinata, Gaara malah semakin tak mengerti. Hinata menghela nafas saat melihat ekspresi tak mengerti Gaara.
"Jadi mulai dari sekarang, sebaiknya kau menjauh dariku dan sebaiknya kau pura-pura tak tahu apapun soal peneror itu, agar kau tidak terluka" Hinata menjelaskan. Gaara jadi sedikit mengerti dengan maksud Hinata.
"Tapi aku tidak takut" Gaara tersenyum, senyum yang menurut Hinata aneh.
"Yang jelas aku sudah memberitahukannya padamu, jadi nanti kalau ada apa-apa denganmu, jangan salahkan aku" ucap Hinata kemudian ia memalingkan wajahnya lagi, kini ia melihat gedung lab.
"Aku tidak akan menyalah.." ucapan Gaara terhenti ketika mendengar suara HP bergetar. Hinata membuka HPnya dan membaca pesan masuk yang muncul dilayar.
To : Hinata
From : Neji
Aku sudah sampai, cepat ke gerbang
Hinata menolehkan wajahnya ke gerbang, dan benar, Hinata melihat Neji sedang berdiri di depan mobilnya sambil memegang HP.
"Aku sudah di jemput, aku pergi dulu" ucap Hinata pada Gaara kemudian ia berlari meninggalkan Gaara di atap sendirian.
Neji tersenyum ketika melihat Hinata berlari unuk sampai di gerbang.
"Sebenarnya kau tidak perlu berlari" ucap Neji ketika Hinata sampai di depannya.
"Aku hanya ingin cepat pulang" balas Hinata.
"Baiklah masuk" Neji membukakan pintu mobilnya untuk Hinata. kemudian Neji pun masuk dan duduk di kursi kemudi.
Dari kejauhan, seseorang melihat adegan mereka kakak beradik itu sambil menyeringai
"Setelah 3 tahun, akhirnya kau kembali, kurasa ini akan semakin seru"
TBC
Pojok review
hikarisyfaa : tenang kok Hinata tetep sama Sasuke hehehe
HyugaRara : eumm gak tau deh siapa yang bakal bantu Hinata *Digetok* oke
NaruDEmi : eumm iya tuh, sasuke nya jadi gak peduli
Guest : Oke tungguin ya.. chap selanjutnya
aindri961 : Sakuranya gak punya waktu buat neror Hinata, mending waktunya buat kepo in Sasuke hehehe *dilempar panci*
JojoAyumi : okeee, tunggu ya chap selanjutnya
Herocyn Akko : okee akko, tunggu ya chap selanjutnya
yui namikaze : eummm *mikir* entar aja deh kasih tau siapa yang nerornya hehehe
Nurul851 : iya nih, semoga sasuhina bisa cepet baikan. Nanti juga bakal banyak SasuHina lagi, tenang aja hehehe
onyx dark blue : okee ini udah lanjut, tunggu next chapnya yaaa
NJ21 : great,,, setuju banget, belum tentu mereka bukan pelakunya. Tapi bisa aja emang bukan mereka hehehehe, kita liat aja ntar. Ita emang bikin Hinata menderita disini. Oke gak pa-pa kok di tunggu ya next chapnya
Riyusa : oke,, tunggu next chapnya yaa
oormiwa : iya nih cowok. Kita liat aja nati, apa Sasu beneran gak peduli lagi sama Hinata. soal pelakunya sih kayaknya ntar pas mau tamat aja.
Maap ya karena Ita up nya kelamaan, biasalah habis sibuk persiapan buat lebaran hehee *Alesan aja*
Ngomongin lebaran, Ita mau ngucapin 'Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin'
Maaf yaa kalo Ita punya salah yang disengaja ataupun gak disengaja, mungkin Ita pernah bales review2 kalian dengan kata-kata yang gak enak dibaca hehehe maafffffffffffff semua..
Dan terakhir, makasih banyak buat yang udah baca dan udah sempetin review, tungguin next chapnya yaaa
