Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya
Neji tersenyum ketika melihat Hinata berlari unuk sampai di gerbang.
"Sebenarnya kau tidak perlu berlari" ucap Neji ketika Hinata sampai di depannya.
"Aku hanya ingin cepat pulang" balas Hinata.
"Baiklah masuk" Neji membukakan pintu mobilnya untuk Hinata. kemudian Neji pun masuk dan duduk di kursi kemudi.
Dari kejauhan, seseorang melihat adegan mereka kakak beradik itu sambil menyeringai
"Setelah 3 tahun, akhirnya kau kembali, kurasa ini akan semakin seru"
Look At Me
Sudah seminggu, semenjak Hinata dan Sasuke bersikap seolah tak saling mengenal. Selama Sasuke dan Hinata semakin menjauh, Hinata dan Gaara justru semakin dekat. Selama seminggu ini banyak hal yang berubah dalam kebiasaan Hinata. Seperti, Hinata yang biasanya setiap istirahat akan pergi ke perpustakaan sekarang malah pergi ke atap. Bukan karena ia merasa harus berubah, hanya saja perpustakaan mengingatkannya pada Sasuke, dulu meskipun Hinata bersikap dingin atau bersikap seolah tak butuh Sasuke, Sasuke tetap akan menemani Hinata di perpustakaan. Karena itu, sekarang Hinata lebih memilih pergi ke atap sekolah, lagipula di atap sekolah Hinata memiliki teman bicara,Gaara.
Selama seminggu ini, setiap istirahat Hinata dan Gaara akan pergi ke atap. Dan disana, Hinata sering bercerita tentang si peneror, Hinata menceritakan tentang bagaimana awal mulanya peneror itu muncul, bahkan Hinata bercerita tentang tragedi penculikannya saat kecil. Dan selama Hinata bercerita, mengerti atau tidak, Gaara akan mendengarkan tanpa bertanya apapun, Gaara juga jarang sekali memberi komentar tentang peneror itu atau tentang cara Hinata menyikapi peneror itu. Meskipun bercerita pada Gaara tak membuat Hinata mendapat solusi, Hinata tetap bersyukur karena setidaknya, Hinata tak harus berpura-pura jadi orang yang dingin saat di depan Gaara.
Awalnya Hinata merasa takut menceritakan semua ini pada Gaara, Hinata takut Gaara akan mengalami hal yang sama seperti Neji. Tapi anehnya selama seminggu ini, peneror itu sama sekali tak menyentuh Gaara. Bahkan akhir-akhir ini Hinata juga merasa dirinya tak di ganggu oleh peneror itu, tak ada SMS ancaman dan tak ada kejadian bahaya lagi yang menimpanya di sekolah. 'Apa mungkin peneror itu kembali menghilang seperti tahun lalu?' Atau 'Apa mungkin peneror itu sedang menyiapkan sesuatu lagi untuk Hinata?' itulah yang dipikirkan Hinata, Tapi apapun itu, Hinata merasa dirinya tetap harus waspada.
"Apa mungkin orang yang menerormu adalah orang yang menyulikmu" Ini pertama kalinya Gaara memberi kesimpulan pada cerita Hinata. Hinata menggeleng.
"Kurasa bukan" Hinata menjawab singkat.
"Kau yakin?" Gaara bertanya lagi. Kali ini Hinata mengangguk.
"Aku sangat yakin, karena penculik itu meninggal dunia di hari aku di selamatkan" Hinata menjawab tanpa melihat Gaara.
"Meninggal?" Gaara memastikan pendengarannya, ia melihat Hinata yang sedang sibuk memandangi siswa yang sedang bermain bola di bawah.
"Ya…" Hinata menolehkan wajahnya untuk menatap lawan bicaranya.
5 tahun yang lalu..
Hinata menangis sendirian di sebuah ruangan yang luas, sebenarnya tempat ini cukup bagus kalau saja tempat ini bukan milik dari orang yang menculik Hinata. Sudah seminggu Hinata di sekap disini, Hinata bahkan tidak tahu ini berada di mana. Hinata hanya ingat tempat terakhir sebelum dia sampai di tempat aneh ini.
Seminggu yang lalu saat dirinya ditinggal sendirian di rumah, tak tahu kenapa ia merasa sangat takut. Saat didalam rumah, Hinata merasa gerak-geriknya selalu di perhatikan oleh seseorang, karena itu Hinata memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Tiba-tiba supir pribadinya datang dan menawari Hinata untuk berjalan-jalan di luar rumah, Hinata yang sedang bosan pun merasa senang atas tawaran itu dan akhirnya ia setuju untuk ikut.
"Pak, kita mau kemana?" Hinata masih ingat pertanyaan yang di ajukannya seminggu lalu itu.
"Bagaimana kalau kita mencari es krim" Tawar supir pribadinya saat itu, dan tawaran itu membuat Hiinata sangat senang.
Dan Toko es krim adalah tempat terakhir yang Hinata ingat, karena setelah makan es krim disana Hinata langsung tak sadarkan diri, saat tersadar Hinata sudah berada di sini.
Kriieeekkkk
Mendengar suara pintu terbuka, tangisan Hinata langsung berhenti. Kini Hinata memasang ekspresi siaga, Hinata jelas tahu siapa orang yang masuk kedalam ruangan ini. yaa, orang itu adalah orang yang menculik Hinata, selama seminggu ini orang itu selalu datang pada jam-jam seperti sekarang untuk membawakan Hinata makanan.
"Waktunya makan, Hinata" ucap orang itu dengan ekspresi senangnya. Hinata tentu menatapnya dengan pandangan benci. Orang itu meletakkan piring di atas meja yang berada tepat di depan Hinata.
"Kenapa? kau tidak mau makan lagi? Baiklah kali ini aku tidak akan memaksamu" ucap orang itu.
Pranggkkk
Hinata terkejut, ketika melihat piring dihadapannya kini hancur berkeping-keping dan makanannya pun berhamburan kemana-mana. Mata Hinata beralih untuk melihat orang yang baru saja melempar piring itu ketembok.
"Kau tahu kenapa kali ini aku tidak akan memaksamu?" tanya orang itu lagi sambil mengambil sesuatu di saku celananya. Hinata hanya diam, ia sudah sangat ketakutan.
"Karena hari ini kau akan mati" Ucap orang itu lagi sambil memainkan benda tajam yang barusan ia ambil dari saku celananya. Hinata sudah mulai terisak.
"Kau tahu kenapa selama ini aku membiarkanmu hidup?" tanya orang itu lagi, Hinata memundurkan duduknya saat orang itu mendekatkan pisau tajamnya ke wajah Hinata.
"Itu karena aku ingin melihat semua keluarga kalian menderita, keluargamu akan menderita karena anaknya hilang, dan kau akan menderita karena melihat keluargamu menderita dan itu semua karena mereka kehilanganmu" ucap orang itu lagi.
Benar, Hinata memang sangat sedih saat melihat keluarganya selama seminggu ini. Melihat yang dimaksud disini bukanlah makna kiasan, karena Hinata benar-benar melihat bagaimana ibunya menangis di ruang tamu selama berhari-hari, melihat Neji yang keadaannya hampir sama seperti sang ibu, bahkan ia melihat ayahnya sempat hampir memukul polisi yang bertugas mencari Hinata. Hinata melihat semua itu dari beberapa TV yang terpasang di tembok-tembok ruangan ini. Dan semua TV itu menanyangkan semua kejadian yang terjadi dirumahnya selama seminggu ini. Hinata jadi teringat, orang itu pernah bilang, kalau selama ini ia selalu memperhatikan keluarga mereka dari TV ini, pantas saja dulu Hinata selalu merasa di perhatikan. Tapi semenjak kapan semua CCTV itu terpasang di rumah Hinata?
"Tapi sayang sekali ya, kau tidak bisa melihat keluargamu disaat terakhirmu, lagipula kemana semua keluargamu? Kenapa rumahnya kosong?" orang itu bertanya seolah Hinata tahu jawabannya. Kemudian sedetik kemudian orang itu tertawa kencang.
"Ja-jangan bu-bunuh ak-aku" Hinata tergagap, Hinata terus memundurkan posisi duduknya.
"Jangan bunuh aku" Orang itu mengulang perkataan Hinata dengan nada dibuat-buat.
"Ke-kenapa kau la-lakukan ini padaku?" Hinata bertanya takut-takut.
"INI SEMUA KARENA KAU ANAK HIASHI DAN HIKARI!" Orang itu berteriak dihadapan Hinata, reflek Hinata menutup telinganya.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa keluargamu melakukan ini padaku?! HAH!" Orang itu memegang dagu Hinata dan mengangkat kepala Hinata yang sedang menunduk. Hinata hanya menangis saat melihat pisau itu mendekati wajahnya.
Bruaakkk
Suara pintu didobrak terdengar dari arah belakang mereka berdua, reflek penculik itu dan Hinata menoleh kesumber suara. Hinata terlihat senang ketika melihat ayah dan ibunya lah yang berada di balik pintu itu. Reflek Hinata berlari ke arah ayah dan ibunya, namun tangannya di tahan oleh si penculik.
"Hai Hiashi, apa kabar?" ucap penculik itu sambil memegang tangan Hinata kuat, Hinata mencoba memberontak.
"KAU!" ayah Hinata sedikit berteriak ketika melihat wajah penculik.
"Jangan sakiti Hinata-chan" ucap ibu Hinata ketika melihat Hinata kesakitan.
"Lepaskan anakku!" Hiashi mendekati penculik itu.
"Berhenti disitu, atau anakmu akan ma..Aww!" Hinata menggigit tangan penculik itu, setelah penculik itu melepaskan tangan Hinata, Hinata berlari kepelukan ibunya.
"Beraninya kau menculik putriku!" Hiashi memukul wajah penculik itu, hingga penculik itu jatuh tersungkur. Penculik itu bangun kemudian balas memukul wajah Hiashi.
Hinata sedikit ketakutan saat melihat petengkaran ayahnya dan penculik itu, Hikari yang menyadari ketakutan anaknya langsung memeluk tubuh Hinata. Hinata menenggelamkan wajahnya di leher sang ibu. Kini Hinata hanya mendengar suara yang di timbulkan dari pertengkaran ayahnya tanpa melihat kejadian langsung.
Penculik itu kembali terjatuh, saat Hiashi menendang perutnya. Kini keadaan si penculik sudah berantakan, darah yang mengalir dari pelipisnya pun terus mengalir. Hiashi mendekati penculik yang sudah terjatuh itu, kemudian ia mulai memukul wajah si penculik hingga babak belur. Melihat wajah penculik yang sudah tidak karuan, Hiashi menghentikan aksinya.
"Kau! Aku akan memastikan kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal!" ucap Hiashi geram, mendengar ucapan Hiashi, si penculik malah tertawa. Hiashi mencengkram kerah baju si penculik, ia bersiap untuk menghajarnya lagi, tapi tindakannya terhenti ketika mendengar suara sirine polisi di luar.
"Kau akan di urus oleh polisi!" ucap Hiashi lagi kemudian ia berdiri dan meninggalkan penculik itu. Hiashi berjalan mendekati Hikari dan Hinata, kemudian mengajak mereka berdua untuk pergi. Baru saja mereka ingin melewati pintu, sebuah suara menghentikan mereka. Hiashi melihat dua buah peluru tertancap di daun pintu, tentu saja itu membuatnya terkejut, tapi ia juga sedikit bersyukur karena peluru itu tak mengenai meraka bertiga.
Hiashi membalikkan tubuhnya untuk melihat sumber dari peluru-peluru Hiashi melihat si penculik yang sudah berubah posisi, kini ia duduk di depan sebuah lemari yang berisi banyak pistol dan peluru, tangan kirinya memegang pistol yang diarahkan ke Hiashi
Dooorr
Satu tembakan lagi di arahkan untuk Hiashi, namun gagal, lagi-lagi peluru itu mengenai pintu. Saat itu Hiashi sadar kalau si penculik sudah tidak bisa melihat dengan jelas, karena itu Hiashi memutuskan untuk mendekati si penculik.
Doorrr Dooorr Dooorr
Kali ini penculik itu menembak asal, namun tak satupun yang megenai Hiashi. Saat Hiash sampai di depan si penculik, ia mendengar suara teriakan dari Hinata.
"IBUUU!" Hinata berteriak ketika melihat ibunya yang terjatuh di lantai, banyak darah yang keluar dari perut dan dadanya. Hinata menangis didepan ibunya. Hiashi yang mendengar suara Hinata reflek membalikkan tubuuhnya, dan ia sangat terkejut ketika melihat keadaan istrinya. Tiba-tiba si penculik tertawa dengan keras, Hiashi yang sedang di selimuti amarah langsung mengambil alih pistol dari tangan si penculik, lalu mengarahkannya tepat di depan kepala si penculik. Bukannya takut penculik itu malah memasang ekspresi menantang, Hiashi tambah geram kemudian..
Dooorr
"Argghhhh!"
"Ahhh .. jadi.. ayahmu yang membunuh penculik itu" ucap Gaara ketika Hinata selesai menceritakan kejadian lima tahun lalu. Hinata menoleh ke arah Gaara, namun karena Gaara sedang melihat siswa yang sedang bermain bola di bawah, Hinata jadi tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Gaara sekarang. Tapi, dari kesimpulan yang didapat Gaara, Hinata merasa teman sekelasnya ini sedikit salah paham.
"Aku menceritakan ini padamu, bukan untuk mengatakan kalau ayahku yang membunuh penculik itu.." Hinata masih menatap Gaara.
"Tapi, aku ingin memperjelas kalau penculik itu bukan orang yang menerorku" lanjut Hinata lagi. Hinata mendengar Gaara menghela nafas. Gaara kini menoleh untuk melihat Hinata, kini mereka berdua saling berhadapan.
"Benar, lalu menurutmu siapa peneror itu?" tanya Gaara. Hinata menggeleng lemah.
"Menurutku, mungkin orang itu masih ada hubungannya dengan kasus penculikanmu" Gaara melanjutkan, kali ini Hinata mengangguk ragu.
"Mungkin saja" ucap Hinata mulai lelah.
"Tapi apapun itu, aku ingin dia cepat menghentikan ini, aku sudah lelah" ucap Hinata lagi.
"Aku yakin, dia akan berhenti kalau tujuanya tercapai" ucap Gaara, kemudian ia kembali melihat siswa yang bermain sepak bola.
"Menurutmu apa tujuannya?" Tanya Hinata kemudian ikut melihat ke bawah.
"Membunuhmu" ucap Gaara singkat. Mendengar itu, Hinata sedikit bergidik ngeri apalagi Gaara mengucapkannya dengan nada yang dingin. Hinata melirik Gaara yang masih asik menonton per tanding bola di bawah.
"Kau membuatku merinding Gaara" ucap Hinata kemudian ia kembali melihat ke bawah.
Saat istirahat kedua, Hinata pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang ia pinjam selama ini. Ketika Hinata sampai di kamar mandi, Hinata menabrak seseorang hingga dirinya terjatuh, buku-buku yang dibawanya pun jatuh berserakan di lantai. Hinata mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah orang yang di tabraknya. Hinata sedikit terkejut ketika melihat Sasuke lah orang yang ia tabrak. Sasuke melihat Hinata sebentar kemudian ia pergi begitu saja tanpa membantu atau meminta maaf pada Hinata. Melihat sikap Sasuke padanya, Hinata hanya bisa menghela nafas.
"Hinata, kau kenapa?" Tanya seseorang. Hinata melihat orang itu.
"Aku tidak apa-apa Gaara" jawab Hinata. Kemudian Hinata membereskan bukunya, Gaara pun ikut membantu Hinata.
"Jangan bilang kau menabrak orang lagi disini" ucap Gaara, sekarang mereka berdua berjalan berdampingan.
"Lagi?" Tanya Hinata bingung. Gaara mengangguk.
"Iya lagi, memangnya kau tidak ingat?" Gaara bertanya.
"Ingat apa?" Hinata masih belum paham maksud Gaara.
"Dulu, kau pernah menabrakku juga disini" Gaara menjawab kebingungan Hinata.
"Benarkah?" Hinata terlihat sedikit terkejut. Gaara mengangguk.
"Iya, waktu itu aku belum masuk sekolah, aku disini untuk melihat-lihat kemudian kau menabrakku" Gaara menceritakan garis besarnya.
"Ah maaf kan aku, kau tak apa?". Hinata melihat pria berambut merah sedang berdiri didepannya sambil mengulurkan tangan untuk membantu dirinya
Hinata mengingat kejadian sekitar dua minggu yang lalu itu, hari itu dirinya terjebak di gudang perpustakaan. Tentu saja Hinata ingat.
"Jadi orang berambut merah itu kau?" Hinata sedikit terkejut ketika menyadari orang yang di tabrak waktu itu adalah Gaara.
"Orang berambut merah?" Gaara sedikit bergidik ketika mendengar Hinata mengingatnya sebagai 'orang berambut merah', sebenarnya Hinata memang tidak salah, toh memang rambutnya berwarna merah, hanya saja segitu lemahkah ingatan Hinata sampai-sampai yang dia ingat hanya warna rambutnya.
"Maafkan aku, aku hanya mengingat warna rambutmu, karena warnanya mirip sekali dengan pe.."
"Hinata!" panggil seseorang dari belakang mereka, reflek mereka berdua menoleh kebelakang. Sakura sedikit berlari untuk sampai ketempat Gaara dan Hinata.
"Ada apa?" tanya Hinata ketika Sakura sampai di depannya.
"Kebetulan sekali kau juga ada disini Gaara" Sakura tak menghiraukan pertanyaan Hinata
"Memang ada apa?" Gaara mengulangi pertanyaan Hinata tadi yang belum sempat mendapat jawaban.
"Hinata, bagaimana kalau hari ini kita mengerjakan tugas kelompok biologi kita?" tanya Sakura. Hinata menghela nafas, ia baru teringat tugas itu, tugas yang seharusnya sudah selesai sejak beberapa hari yang lalu, tapi karena ada beberapa kelompok yang belum menyelesaikan tugasnya, akhirnya Orochimaru-sensei memberi tambahan waktu kepada kami tapi ia juga memberikan tugas tambahan untuk di kerjakan. Hinata mengangguk singkat.
"Oke, nah Gaara, bagaimana kalau kelompokmu juga ikut? Kita kerja kelompok bersama" Tawar Sakura.
"Aku sih terserah kelompokku yang lain" ucap Gaara.
"Kau tenang saja, aku sudah mengajak Ino, dan aku juga sudah menyuruh Naruto untuk mengajak Sasuke, jadi bagaimana?" Tanya Sakura lagi. Mendengar ucapan Sakura, Hinata jadi teringat kalau kelompok Gaara ikut berarti ia harus bertemu dengan Sasuke.
"Eummm.." Gaara tampak berpikir. Sebelum Gaara sempat menjawab, Hinata memberi kode pada Gaara untuk mengatakan tidak mau, namun sepertinya Gaara sekarang sedang tidak berada dipihaknya.
"Baiklah aku mau" ucap Gaara.
"Yeeeyyy" Sakura berteriak senang. Hinata menatap Gaara tajam, tapi orang yang dilihat malah terlihat tak acuh.
"Baiklah, nanti pulang sekolah kita akan membahas tempatnya" ucap Sakura senang.
"Eumm Sakura, kenapa kita harus kerja kelompok bersama?" Hinata masih berusaha untuk membatalkannya.
"Menurutku kalau terlalu ramai nanti kita tidak bisa konsentrasi, lagipula memangnya Ino benar-benar mau?" Tanya Hinata lagi, sebenarnya dari awal Hinata sedikit penasaran kenapa Ino setuju. Bukankah kalau Ino dan Sakura bekerja bersama berarti saingan Ino untuk menarik perhatian Sasuke jadi bertambah. 'Sebenarnya apa yang dilakukan Sakura sehingga Ino setuju?' pikir Hinata.
"Kau tenang saja Hinata, ini tidak akan mengganggu konsentrasi kok, dan soal Ino tentu saja dia mau bahkan dia sangat senang" jawab Sakura.
"Tidak mungkin" ucap Hinata lirih sehingga tak ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri.
Tepat sesuai rencana Sakura, Kelompoknya dan kelompok Sasuke berkumpul saat pulang sekolah. Kini mereka semua duduk di kantin. Shion duduk berhadapan dengan Ino, kemudian disebelah kirinya Sasuke duduk berhadapan dengan Gaara, Chouji dengan Hinata, dan terakhir Naruto dengan Sakura.
"Enaknya kita kerja kelompok dimana?" Tanya Naruto memulai pembicaraan.
"Bagaimana kalau dirumah Sasuke-kun?" usul Sakura.
"Jangan!" Hinata menolak mentah-mentah, tentu saja ia tak mau ke rumah Sasuke apalagi kalau bersama teman-teman yang lain, bagaimana kalau mereka tahu ia dan Sasuke sudah kenal sejak kecil, pasti keesokannya satu sekolah akan gempar.
Mendengar penolakan Hinata yang terkesan berlebihan, semua orang-kecuali Sasuke- kini menatap Hinata aneh.
"Ma-maksudku le-lebih baik kita kerja kelompok diluar saja seperti di.. cafe" ucap Hinata sedikit gugup.
"Memangnya kenapa kalau di rumah Sasuke-kun?" tanya Ino.
"em..nanti kita akan merepotkan tante Mikoto" Hinata memberi alasan. Namun, alasan itu justru membuatnya semakin menjadi pusat perhatian.
"Tante Mikoto itu siapa, Hinata?" tanya Ino lagi.
Hinata yang baru sadar dengan ucapannya barusan langsung menutup mulutnya.
'Shit! Kenapa aku bisa keceplosan?' batin Hinata.
Hinata melirik Sasuke yang sedang sibuk dengan HP miliknya, Sasuke tampak tak peduli dengan perkataan Hinata.
"Itu ibunya Sasuke" Naruto yang menjawab pertanyaan Ino. Ini pertama kalinya Hinata ingin memukul Naruto.
"Kau mengenal ibunya Sasuke?" Kali ini Ino bertanya dengan tatapan tak percaya.
"I..Itu.."
"Dirumahku saja, dirumahku tidak ada siapapun" ucap Gaara tiba-tiba. Ucapan Gaara membuat semua mata yang tadinya melihat Hinata kini beralih ke Gaara. Hinata langsung menghela nafas lega , sepertinya ia harus berterima kasih pada Gaara.
"Baiklah, dirumah Gaara saja" Ino memutuskan.
TBC
Pojok review
NJ21 : tenang di chap depan juga mereka baikan kok
hiru neesan : tujuan si peneror sebenarnya ntar deh di bahasnya hehehe, yahh mungkin SakuNru ntar bakal ngebantuin hinata juga,
lavender : terlalu lambat ya hehehe, mungkin chap ini juga masih lambat tapi di chap depan ntar di cepetin deh.. makasih loh atas kritiknya dan makasih juga udah baca, ditunggu ya chap selanjutnya.
Baby niz 137 : eumm tebak aja dulu hehehe
hyuga putri hima : makasih loh, eumm kalau kapan Sasu tahu sih Ita gak tau ya *Dijitak* hehehe… eumm kalo siapa penerornya tebak aja dulu, ini Ita udah up, di tunggu ya chap selanjutnya..
TanTan Hime-chan : eumm Oro sensei kemunculannya emang mencurigakan sihh, bisa aja sihdia , tapi liat ntar aja deh hehehe, oke ditunggu ya
Herocyn Akko : Oke ini terlalu lamayaa, lain kali Ita bakal lebih cepetin deh up nya, tapi gak janji *dilempar panci*
oormiwa: sebenarnya sih untuk berapa chapnya Ita gak punya rencana, tapi mngkin masih bisa sekitar 5 chap lagi.. kalo Neji Ita gak tau deh, tapi kalo Gaara di Chap ini sih dia gak di teror tuh kayaknya.. oke tunggu ya chap selanjutnya.
aindri961 : hahahaha mungkin aja nih mantannya Neji :D
cintya : Iya nih, di chap ini juga gak ada , tapi di chap depan mungkin bakal banyak banget..
Aihi : Hehehe makasih loh karena udah mau baca ff gaje ini, okee tungguin ya next chapnya
Nurul851 : sebenernya sih peneror itu dendam sama sekua keluarga Hinata, maaf ya di chap ini juga gak ada SasuHinanya tapi di chap depan banyak kok :)
Riyusa : okeee ini udah up, tunggu next chapnya yaa
HyugaRara : Urusannya sih sama semua keluarga Hina
yui namikaze : aku nulisnya yui namikaze aja ya… :)eumm mungkin 2 chap atau 3 chap lagi pelakunya bakal terungkap tapi sebelum bener-bener terungkap setiap Chapnya mulai sekarang bakal Ita kasih petunjuk deh..
Untuk Chap ini mungkin penulisannya bener-bener absurd, Ita sendiri aja bingung bacanya hehehe, maaf yaa habisnya di chap ini Ita rada gak mood gitu *Alesan*
Maap nih untuk SasuHina disini belum ada, tapi di chap depan mungkin bakal banyak deh. Soalnya Ita pengen di Chap depan mereka baikan hehehe..
Oke terakhir makasih buanyakk semuanya yang udah baca dan review..
See you next chap(?) minna! *Apasih* :D
