Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by me

Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain

Sebelumnya

Sasuke menghela nafas " Baiklah ini memang salahku, jadi jangan menangis lagi, mengerti" ucap Sasuke dengan nada memerintahnya. Hinata mengangguk sambil tersenyum.

Melihat Hinata yang tersenyum padanya, Sasuke jadi merasa Hinata sudah tidak berusaha menjauhinya lagi, dan perasaan itu membuat Sasuke senang.

"Jadi.. apa yang ingin kau bicarakan padaku tadi?" Sasuke mengembalikan topic awal mereka.

"Eumm i..itu."

Look At Me

10 menit sebelumnya..

Didalam kelas Naruto terus melihat gerak-gerik Sakura, saat sedang tertawa, sedang berbicara dengan Ino bahkan saat Sakura menggebrak meja gara-gara Kiba tak sengaja menumpahkan air di mejanya, Naruto terus melihat itu dengan tatapan curiga.

Merasa di perhatikan, Sakura menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari orang yang memperhatikannya, pandangan Sakura terhenti saat melihat Naruto yang menatapnya tanpa berkedip. Sakura menggerakan mulutnya, membuat kata 'Kenapa kau melihatku?' tanpa suara.

Naruto yang baru sadar kalau dirinya sudah kepergok oleh orang yang sedang ditatap, langsung memalingkan wajahnya kemudian ia mengambil buku di atas mejanya dan membuka buku itu asal, sekarang Naruto terlihat seolah sedang fokus membaca buku padahal jangankan membaca, buku apa yang sedang dipeganya saja dia tidak tahu.

Sakura mendekati meja Naruto, kemudian ia duduk di atas meja Sasuke yang berada di sebelah meja Naruto. "Ada apa?" Sakura bertanya dengan sikap seolah-olah ia seorang senior yang sedang memalak juniornya.

Naruto sedikit bergidik melihat Sakura duduk di meja Sasuke. "Memangnya ada apa?" Naruto pura-pura menatap Sakura bingung.

"Kenapa kau melihatku terus?" Sakura kini to the point.

"Aku tidak melihatmu, kau tidak lihat? Aku sedang membaca buku" Naruto masih tak mau mengaku.

Sakura tersenyum manis, tapi Naruto jelas tahu senyuman itu adalah senyuman yang dibuat-buat oleh Sakura. Sakura mengambilbuku yang di pegang Naruto kemudian memutarnya 180 derajat. "Sejak kapan kau bisa membaca terbalik seperti tadi?" ucap Sakura masih dengan senyum manis di wajahnya. Naruto menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian ia menggarukkan kepalanya yang tak gatal pertanda ia sedang mencoba mencari-cari alasan.

"Eummm.." Naruto masih berpikir.

Masih dengan senyumnya, Sakura mengepalkan tangan kanannya kemudian meniup-niup kepalan tangan itu "Sebaiknya kau katakan, alasan kenapa kau terus melihatku, sebelum aku kehilangan kesabaran" ucap Sakura dengan manisnya. Naruto bergidik ngeri mendengar itu, nada manis Sakura menandakan dia benar-benar akan berubah menjadi iblis jika apa yang diinginkannya tidak terwujud, dan itu cukup membuat Naruto menyerah.

Naruto menghela nafas, "Aku mencurigaimu" ucap Naruto singkat.

Pletaakk

Sakura memukul kepala Naruto, dan itu membuat Naruto berteriak kesakitan."Bicara yang jelas BAKA!" Sakura sudah kehilangan kesabarannya.

Untung saja sekarang sedang jam istirahat, jadi tidak banyak orang yang melihat kejadian ini di kelas. Kalau tidak, mungkin saja semua orang sekarang sedang terdiam sambil memandang Sakura dengan pandangan ngeri, atau mungkin bisa saja Sakura akan dilaporkan sudah melakukan kekerasan didalam kelas.

Sakura bersyukur karena di kelas hanya ada Ino yang justru malah senang ketika melihat Naruto disiksa, ada Shikamaru yang bahkan tidak bergerak dari posisi tidurnya, ada Shion dan Chouji yang menatap dia dan Naruo sebentar kemudian kembali mengobrol, dan terakhir ada Kiba, satu-satunya orang yang menatap Sakura ngeri.

"Baiklah-baiklah" ucap Naruto sambil mengusap kepalanya. "Aku curiga dengan sikapmu kemarin, kenapa tiba-tiba kau terlihat seperti membuat Hinata dan Sasuke jadi dekat?" Naruto bertanya dengan suara yang pelan, mengingat di kelas ini belum ada yang tahu kalau Sasuke dan Hinata pernah dekat, kecuali mereka berdua tentunya.

Sakura menghela nafas, "Aku hanya penasaran" jawab Sakura.

"Penasaran?" Naruto menatap Sakura bingung.

"Ya, aku sangat penasaran dengan mereka berdua" ucap Sakura. "Kupikir kalau mereka didekatkan lagi, mungkin saja mereka akan seperti dulu" Sakura melanjutkan.

Naruto tertawa mendengar ucapan Sakura kemudian ia kembali terdiam saat mendapat tatapan membunuh dari Sakura.

"Sejak kapan kau peduli dengan Hinata?" Naruto menatap Sakura curiga.

"Semenjak aku melihat dia dan Sasuke bertengkar, puas?!" Sakura sangat kesal saat melihat tatapan curiga yang diberikan Naruto padanya.

"Kapan mereka bertengkar?" sekarang Naruto juga ikut penasaran.

"Kapannya itu tidak penting, kau kan sudah mengenal mereka berdua sejak SD, memangnya kau tidak penasaran, kenapa mereka bisa seperti sekarang?" tanya Sakura.

"Tentu saja aku penasaran, aku sudah sering bertanya pada Sasuke tapi dia tidak pernah menjawab" Naruto mulai mengingat-ingat sudah berapa kali ia bertanya pada Sasuke.

"Karena itu, aku ingin mencari tahu sendiri, kupikir kalau mereka kembali dekat, mungkin saja penyebab mereka bertengkar akan terungkap" Sakura berkata seolah-olah dia seorang detektif, sedangkan Naruto memutar kedua bola matanya ketika melihat reaksi Sakura yang berlebihan.

"Apa untungnya untukmu kalau kau tahu penyebabnya?" Naruto masih tak yakin dengan tujuan Sakura.

"Setidaknya rasa penasaranku akan hilang" Jawab Sakura kemudian ia kembali ke bangkunya.

"Apa yang kau bicarakan dengan Naruto?" tanya Ino saat Sakura sudah duduk dibangkunya.

"Bukan masalah penting" Jawab Sakura singkat.


"Jadi.. apa yang ingin kau bicarakan padaku tadi?" Sasuke mengembalikan topic awal mereka.

"Eumm i..itu." Hinata kembali berfikir, apa dia harus menceritakannya pada Sasuke.

"Ada apa Hinata?" Sasuke semakin penasaran.

Kringgg… Kringg..

Suara bel masuk sudah berbunyi, Hinata sedikit tersentak ketika mendengar itu, sedangkan Sasuke langsung menatap keluar ruang basket, ia bisa melihat dari jendela ada beberapa anak yang berlarian, sepertinya mereka ingin cepat-cepat masuk kekeas.

"Aku akan mengatakannya saat pulang sekolah, sebaiknya sekarang kita masuk" Hinata berdiri kemudian menarik tangan Sasuke dan mereka berdua berjalan keluar ruang basket. Saat mereka baru keluar, beberapa siswi yang tidak sengaja melewati ruang basket melihat mereka dengan tatapan curiga, apalagi saat melihat Hinata memegang tangan Sasuke, jelas saja itu membuat mereka semakin curiga sekaligus iri dengan Hinata.

Menyadari tatapan iri dari beberapa siswi, Hinata langsung menepis tangan Sasuke kemudian dia berjalan duluan didepan Sasuke.

Sasuke tersenyum tipis, "Setidaknya kau sudah mau bicara padaku lagi" ucap Sasuke pelan kemudian ia mengikuti Hinata dari belakang.


Saat jam istirahat kedua, hampir semua murid di KHS pergi kelapangan bola, karena hari ini ada pertandingan antara siswa kelas XII dengan siswa kelas X, kabarnya ada salah satu siswa kelas X yang menantang siswa kelas XII untuk tanding bola, dan siswa kelas XII pun menerima tantangan itu. Berita itu menyebar sangat cepat, sehingga membuat hampir semua siswa berbondong-bondong pergi ke lapangan untuk menyaksikan pertandingan itu.

Di dalam kelas XI IPA 2, hanya Hinata dan Sasuke yang masih berada di kelas. Kalau Hinata memang tidak terlalu suka keramaian makanya dia tidak mau melihat hal-hal seperti itu sedangkan Sasuke lebih tertarik menemani Hinata di kelas. Sasuke melihat Hinata sedang sibuk dengan buku-bukunya sampai tiba-tiba Hinata bangkit dan berjalan keluar kelas.

"Kau mau menonton pertandingan?" tanya Sasuke, membuat Hinata menghentikan langkahnya. Hinata menoleh untuk melihat Sasuke yang masih duduk di bangkunya.

"Kau masih ada dikelas?" Hinata sedikit terkejut. "Kukira semua orang sudah keluar" lanjut Hinata. Sasuke menghela nafas ketika mendengar reaksi Hinata, jadi dari tadi Hinata tak menyadari keberadaannya?"

"Jawab saja pertanyaanku tadi" ucap Sasuke sedikit kesal.

"Eumm.. aku ingin menemui Gaara" jawab Hinata.

"Gaara?" Sasuke menaikan alisnya ketika mendengar nama Gaara disebut. Hinata mengangguk.

"Sepertinya kau sangat dekat dengan Gaara" Nada bicara Sasuke sekarang sedikit tak enak didengar, dan Hinata menyadari itu.

"Bu-bukan seperti itu.. nanti akan kujelaskan. Aku pergi dulu" Hinata berlari meninggalkan kelas.

Hinata berhenti saat dirinya sampai didepan pintu menuju atap, Hinata tersenyum kemudian membuka pintu itu. Hinata merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, kemudian Hinata mengitari pandangannya untuk mecari seseorang. Ketemu, Hinata melihat orang itu sedang duduk menyender di tembok pembatas sambil memejamkan mata, di telinganya terpasang earphone warna merah hitam, orang yang sedang dicari Hinata itu terlihat sangat tenang. Hinata mendekatinya kemudian berjongkok didepannya. Hinata mengamati wajah teman sekelasnya, angin sesekali menerpa wajahnya hingga membuat beberapa helai rambut merahnya bergerak kesamping. Hinata tersenyum ketika melihat itu.

"Ada apa Hinata?"

Deg..

Hinata terkejut saat mendengar orang didepannya ini berbicara, Hinata pikir orang didepannya ini bahkan tak sadar kalau Hinata ada disini. Gaara membuka matanya, mata jadenya bertemu dengan mata lavender Hinata. Mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu beberpa detik sampai akhirnya Gaara memulai pembicaraan lagi.

"Ada apa dengan wajah senangmu itu?" tanya Gaara saat melihat wajah Hinata yang tidak kaku seperti biasanya. Hinata tersenyum saat mendengar pertanyaan Gaara.

"Coba tebak" ucap Hinata dengan nada menantang. Gaara mengehela nafas sebentar.

"Hmm.. bagaimana aku bisa tahu? Beri aku petunjuk" ucap Gaara.

"Ahh.. kukira kau bisa membaca pikiran orang ternyata selama ini kau benar-benar hanya menebak" Hinata menunduk, ia terlihat sedikit kecewa. "Berarti benar, aku ini memang orang yang mudah di tebak" Hinata melanjutkan lagi, wajahnya sekarang terlihat sedih. Gaara yang pertama kali melihat ekspresi Hinata yang seperti ini hanya menatapnya aneh.

"Kau terlihat aneh Hinata" ucap Gaara jujur. Hinata tertawa mendengar komentar Gaara.

"Benarkah? Aku hanya sedang senang saja" Hinata mengingat saat dirinya berbaikan dengan Sasuke tadi. Gaara menangguk mengerti.

"Ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita semalam…" ucapan Hinata terhenti sebentar. "Itu petunjuknya, sekarang tebak apa yang membuatku senang?" lanjut Hinata.

Gaara tampak berpikir, tak sengaja ia melihat seseorang di balik pintu masuk menuju atap yang berada beberapa meter di belakang Hinata, dari rambutnya yang terlihat, Gaara tahu siapa orang itu, Uchiha Sasuke. Gaara tersenyum kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. "Kau baikan dengan si Uchiha itu" Gaara mengucapkannya sangat pelan, tapi cukup untuk sampai di telinga Hinata.

"Waaahhh.. kau memang hebat" Hinata menepuk tangannya untuk memberi apresiasi atas bakat alami Gaara. Sedangkan Gaara, dirinya hanya tersenyum melihat tingkah berlebihan Hinata, kemudian ia kembali melihat kearah pintu masuk, Gaara melihat Sasuke pergi dari sana.

"Jadi, kau mau pamer karena kau sudah berbaikan dengan dia?" kini Gaara sudah kembali ke posisi semula.

"Bukan begitu, aku hanya ingin bilang terima kasih padamu" ucap Hinata.

"Baiklah, katakan" Gaara mempersilahkan. Hinata mengernyit ketika mendengar perkataan Gaara.

"Kau tidak tanya 'untuk apa?' padaku" Hinata memandang Gaara tak percaya.

"Tidak" Gaara menjawab singkat. Hinata menatap Gaara kesal kemudian ia berdiri.

"Terima kasih" ucap Hinata tak kalah singkat kemudian ia pergi meninggalkan Gaara. Gaara menyeringai saat melihat kepergian Hinata.

"Kau bahkan terlihat cantik saat marah"


Bel pulang sudah berbunyi, Hinata sengaja menunggu semua siswa kelasnya keluar kemudian ia dan Sasuke akan bicara berdua di kelas, itulah rencana Hinata. Namun tak semua rencana akan berjalan lancar kan?. Saat sedang asik menunggu semua siswa keluar, tiba-tiba ia melihat Sasuke berjalan melewati mejanya begitu saja. Hinata melihat Sasuke bingung, 'apa Sasuke lupa kalau mereka ada janji sepulang sekolah? seharusnya ia menungguku kan?' Hinata bertanya dalam hati.

Ketika Sasuke sudah menjauh dari kelas, Hinata baru sadar kalau Sasuke benar-benar meninggalkannya. Hinata bangkit dari kursinya kemudian ia berlari keluar kelas, beberapa anak yang masih didalam kelas pun mengernyit melihat tingkah Hinata, tak biasanya gadis dengan julukan 'putri es' itu terlihat begitu terburu-buru. Hinata kehilangan Sasuke, tempat terakhir kali Hinata melihat Sasuke adalah belokan menuju kantin, Hinata sudah berbelok ke arah yang sama, tapi Sasuke sudah menghilang begitu saja.

"Apa dia benar-benar lupa?" Hinata bertanya entah pada siapa. "Ah.. aku akan menunggu di mobilnya saja" ucap Hinata kemudian ia berbalik dan berjalan menuju parkiran sekolah.

Lima menit kemudian Hinata sampai di parkiran, Hinata berdiri di samping mobil Sasuke. Sesekali Hinata mengelilingi mobil Sasuke untuk menghilangkan rasa bosannya.

10 menit

30 menit

1 jam…

"Sasuke kau kemana?" Hinata sudah merasa lelah menunggu Sasuke disini, bahkan ia sempat berpikir untuk pulang saja. "Kutunggu 10 menit lagi, kalau tidak datang, aku akan pulang" Hinata berjanji pada dirinya sendiri.

Sebelum sepuluh menit itu habis, Sasuke muncul dari gedung ekskul dan ia berjalan menuju parkiran. Hinata mendesah lega ketika melihat Sasuke tapi melihat arah Sasuke muncul sepertinya ia baru saja keluar dari gedung ekskul. "Kenapa aku tak berpikir Sasuke ada di sana ya.." Hinata merasa bodoh.

"Sasuke kau kemana saja?" Hinata bertanya ketika Sasuke sudah sampai didepannya.

"Apa kau lupa? Aku kan sudah bilang aku ingin bicara padamu sepulang sekolah" ucap Hinata lagi saat melihat Sasuke tak merespon pertanyaannya.

"Kenapa kau tidak bicara dengan Gaara saja?" Sasuke malah balik bertanya. Mendengar pertanyaan Sasuke yang aneh, Hinata langsung terdiam sambil memandang Sasuke, ia mulai menebak-nebak maksud pertanyaan Sasuke barusan.

"Maksudmu?" Akhirnya Hinata memutuskan untuk bertanya setelah ia tak berhasil menebak maksud Sasuke.

"Kau menyukainya?" lagi-lagi Sasuke membalas pertanyaan dengan pertanyaan dan itu membuat Hinata semakin bingung. 'Menyukainya? Memangnya aku menyukai apa?' Hinata bertanya dalam hati.

"Aku tidak mengerti maksudmu" ucap Hinata.

"Kau menyukai Gaara?" kini Sasuke sedikit memperjelas pertanyaannya. Hinata diam sebentar untuk memproses pertanyaan Sasuke kemudian ia mengangguk sebagai jawaban. Tentu saja Hinata menyukai Gaara kalau tidak mana mungkin Hinata mau berteman dengannya. Tidak mungkin kan Hinata berteman dengan orang yang dia benci, bukan hanya dia, semua orang juga tak akan berteman dengan orang yang mereka benci, mereka pasti berteman dengan orang yang mereka suka kan?

Melihat anggukan kepala Hinata, Sasuke jadi tambah kesal. "Kalau kau menyukainya, kau bicara saja dengan dia, jangan bicara denganku!" Setelah mengatakan itu Sasuke memalingkan wajahnya.

Melihat ekspresi Sasuke, Hinata jadi mengerti kenapa Sasuke tiba-tiba marah, kemudian ia tersenyum.

"Sasuke, aku menyukai Gaara sama seperti aku menyukai teman-teman yang lain, jadi kau tak perlu cemburu" Hinata tersenyum jahil ketika mengatakan itu apalagi setelah ia melihat ekspresi lega Sasuke. Tapi Cuma sebentar saja Sasuke menunjukkan ekspresi itu, karena setelahnya Sasuke langsung memalingkan wajahnya lagi.

"Aku tidak cemburu" ucap Sasuke. Hinata tertawa ketika mendengar itu.

"Benarkah Sasuke-kun tidak cemburu?" Hinata mendekti Sasuke dan bergelayut di lengan Sasuke untuk menggodanya.

Sasuke berusaha meredakan debaran jantungnya yang menggila. Setelah berhasil mengendalikannya, Sasuke menoleh untuk melihat Hinata yang masih bergelayut manja di lengannya kemudian ia mengangkat dagu Hinata agar Hinata juga bisa mentapnya.

Hinata menghentikan aksinya saat ia merasa tangan Sasuke menyentuh dagunya, kini ia menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya.

"Hinata, aku bukan tipe orang yang tahan dengan godaan, jadi… kalau kau masih melakukan ini, aku akan memakanmu" Sasuke mengedipkan matanya sebelah dan itu membuat Hinata merasa pipinya memanas. Reflek Hinata menempelkan kedua telapak tangannya di wajah untuk menutupi wajahnya yang mungkin sekarang sudah memerah.

"Aku tidak akan melakukannya lagi" ucap Hinata dengan nada ketakutan. Melihat reaksi Hinata, ingin sekali Sasuke tertawa tapi ia mencoba menahannya.


Sasuke menyenderkan tubuhnya di kursi taman belakang sekolah ini, kemudian ia memijit pelipisnya yang terasa sakit. Setelah mendengar cerita Hinata selama lima tahun ini, Sasuke malah semakin merasa bersalah terhadap Hinata, bagaimana mungkin dia tidak tahu apapun soal apa yang dialami Hinata. Diteror? Sasuke menghela nafasnya ketika Hinata mengatakan sudah hampir lima tahun ia diteror.

"Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?" Ini pertama kalinya Sasuke mengeluarkan suara.

"Aku kan sudah bilang, peneror itu akan melukaimu kalau kau mengetahui hal ini" Hinata memberi alasan.

"Karena kau takut orang itu akan melukaiku, makanya kau tak memberitahuku? Kau itu bodoh ya" Sasuke tak habis pikir. Mendengar ucapan Sasuke barusan Hinata jadi sedikit kesal.

"aku hanya ingin kau baik-baik saja" Hinata berkata dengan nada ketus.

"Kenapa kau memikirkanku? Seharusnya kau pikirkan dirimu sendiri, kalau kau memberitahuku setidak.."

"Karena kau juga selalu memikirkanku.." Hinata memotong perkataan Sasuke. "Aku pikir lebih baik aku sendiri yang terluka, aku tidak mau orang-orang yang kusayangi ikut terluka" Hinata melanjutkan.

Sasuke menghela nafas, seharusnya dia tahu kalau Hinata memang orang yang seperti ini. Hinata selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu sebelum memikirkan dirinya sendiri. Sasuke suka dengan sifat Hinata itu, tapi tekadang Sasuke juga kesal dan kali ini adalah salah satu saat dimana Sasuke kesal dengan sifat Hinata yang terlalu baik itu.

"Lalu, apa yang membuatmu memutuskan untuk menceritakan padaku sekarang?" tanya Sasuke.

"Karena aku tak mau kau membenciku, aku juga tak mau kau mengira kalau aku benci padamu" jawab Hinata. "Karena itu..aku memberitahumu" Hinata menunduk ketika mengatakannya.

"Baiklah, sekarang kita hadapi ini bersama" ucap Sasuke sambil mengusap rambut Hinata.\

"Sasuke, aku mengatakan ini bukan untuk membiarkanmu terluka bersamaku, aku hanya ingin kau tak membenciku.." Hinata masih menunduk. "Jadi setelah ini aku ingin kau tetap menjauhiku, bersikaplah seperti biasanya" Hinata melanjutkan. Sasuke meraih tangan Hinata, dan mengenggamnya erat.

"Hinata, aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi ini sendirian"


30 menit sebelumnya..

Naruto keluar dari ruang basket sepuluh menit setelah Sasuke keluar, mereka berdua memang habis latihan bersama. Naruto berjalan melewati koridor utama untuk menuju gerbang sekolah, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Hinata dan Sasuke yang berada di parkiran. Naruto mengernyit saat melihat Hinata yang bergelayut manja di lengan Sasuke. Beberapa saat kemudian Naruto melihat Hinata dan Sasuke pergi dan kembali masuk kedalam kelas, awalnya Naruto tak peduli. Tapi karena rasa penasaran, akhirnya Naruto memutuskan untuk mengikuti mereka berdua.

Naruto berhenti saat melihat Sasuke dan Hinata berhenti di taman belakan sekolah, kemudian mereka berdua duduk di salah satu bangku taman. Sedangkan Naruto bersembunyi di balik salah satu pohon. Mungkin karena sudah tidak ada siswa lain di sekolah, Naruto jadi bisa mendengar pembicaraan Sasuke dan Hinata dengan jelas. Naruto sedikit membelalak ketika mendengar Hinata selama ini diteror dan itu yang menyebabkan sikap Hinata berubah kepada semua orang terutama kepada Sasuke. Ketika Sasuke dan Hinata ingin pergi, Naruto pun langsung beranjak dan pergi dari tempat persembunyiannya.


"Hinata kau tidak pulang denganku?" tanya Sasuke saat melihat Hinata tak mengikutinya ke parkiran. Hinata menggeleng.

"Neji-nii akan menjemputku" ucap Hinata.

"Neji sudah pulang dari New York? Kapan?" Sasuke sedikit terkejut ketika mendengar Hinata dijemput oleh kakaknya.

"Sudah lumayan lama" Hinata menjawab.

Tiinnn tinnn

Suara klakson mobil membuat Sasuke dan hinata terkejut, kemudian mereka berdua menoleh ke sumber suara. Mereka berdua melihat sebuah mobil berhenti didepan gerbang, tak lama turun seseorang yang tak asing lagi bagi Hinata dan Sasuke. Hinata berlari mendekati Neji, sedangkan Sasuke hanya berjalan.

"Kalian berdua masih pacaran?" Neji bertanya dengan nada menggoda saat Sasuke dan Hinata sampai didepannya. Hinata hanya diam kemudian masuk ke mobil.

"Jangan bertanya sesuatu yang aneh, kau jadi mirip Itachi" ucap Sasuke dengan nada ketus kemudian ia berbalik dan berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Melihat itu Neji tersenyum.

Didalam mobil, Hinata dan Neji saling diam. Tak ada satupun yang membuka suara, sebenarnya Hinata sedikit merasa aneh. Selama ini, Neji tak pernah bertanya apapun lagi soal sikapnya yang tiba-tiba berubah. Terakhir kali Neji bertanya, saat dirinya baru pulang dari New York kemudian besoknya Hinata mencoba mati-matian untuk menghindari Neji. Tapi gagal, Neji menyadari kalau dirinya mencoba menghindar. Hinata pikir saat itu dia harus mencari-cari alasan lagi untuk menghindari Neji, tapi nyatanya Neji tak pernah menanyakan apapun lagi sampai sekarang.

Neji yang diam membuat Hinata malah semakin curiga, Hinata tahu, biasanya kalau ada masalah yang tak ingin di ceritakan Hinata pada Neji, Neji pasti akan berusaha mencari tahu sendiri. Dan hal itu membuat Hinata khawatir, Hinata takut Neji sudah mulai mencari tahu masalahnya.

Keesokannya, Hinata berangkat seperti biasa, ia menaiki bus dan turun di halte yang paling dekat dengan Sekolah. Baru saja turun, Hinata mendapat sebuah SMS, ia pun membukanya.

To : Hinata

From : 08xxxxxxxx

Kau ingin menyelamatkan DIA

Larilah…

Kalau kau tak bisa sampai di sekolah dalam waktu lima menit, DIA akan mati.

#Semangat :)

TBC

Pojok review

TanTan Hime-chan : bisa aja sih hehehe, oke ditunggu ya..

rosixian : makasih lohhh :) nanti dipanjangon lagi deh. Gak papa kok, makasih loh udah baca. Okeeee..

cintya : makasihhhh lohh, baca terus ya hehehe

Nurul851 : enggak kok, gaara gak bisa baca pikiran. Eumm..emang Hinanya aja tuh yang gampang ditebak. Mungkin Sakura nanti bakal bantuin Hina deh. Ditunggu ya next chap nya

HyugaRara : oke ditunggu yaa

pinky lav145 : makasih loh karena suka, oke ditunggu ya chap nextnya

levi's gf : hmmm mungkin aja. Author juga berharap Sasu gak celaka :D

keitha uchiha : makasih loh udah baca, ditunggu ya next chapnya

permatadian : soalnya si Sakura penasaran sama hubungan SasuHina makanya dia pengen negbantuin. Okee ditunggu ya..

Alicia Uchiha : eumm soal peneror mungkin chap depan bakal terungkap.

Aihi : mungkin aja, oke ditunggu yaa

Herocyn Akko : Looppyuuu juga hehehe. Maap yaa ini rada telat. Tunggu terus ya chap nextnya

hyuga putri hime : makasih lohh, eumm nati juga baal banyak hehehe. Kalau itu mungkin aja sih. Ini udah up tapi kalo next chapnya Ita gak tau deh *dijitak

Hana Yuki no Hime : mungkin aja Hana :) makasih loh udah baca, oke ditunggu ya next chapnya

Aheleza kawai : hahaha kalau beneran Gaara gimana nih..

NJ21 : hmmm mungkin kamu bener.. oke ditunggu ya next chapnya.

aindri961 : hehehe bingung yaaa… Ita juga bingung sih *dijitak*

oormiwa : Ini dia mulai neror lagi. Oke tunggu terus ya..

makasih banyak semuanya yang udah baca dan review… tunggu ya next chapnya …..