Sebelumnya

To : Hinata

From : 08xxxxxxxx

Kau ingin menyelamatkan DIA

Larilah…

Kalau kau tak bisa sampai di sekolah dalam waktu lima menit, DIA akan mati.

#Semangat :)

Look At Me

Hinata melebarkan matanya ketika membaca SMS itu, Hinata tidak tahu siapa 'Dia' yang dimaksud oleh si peneror. Tapi ada satu hal yang Hinata yakin 'DIA' itu adalah orang yang mengetahui masalah teror ini dan itu berarti hanya ada dua orang yang mungkin menjadi target si peneror, Gaara atau Sasuke. Tanpa pikir panjang, Hinata langsung berlari secepatnya untuk sampai sekolah, Hinata tak peduli siapa 'DIA' itu yang Hinata peduli hanya satu, ia tak ingin siapapun terluka karenanya, baik Gaara maupun Sasuke.

Di menit keempat, Hinata sampai di depan gerbang sekolah, matanya menyipit untuk melihat kesekeliling sekolah, beberapa siswa sudah berada di sekolah. Tidak ada yang mencurigakan disini, lalu dimana sipeneror akan melukai 'DIA'.

Waktu terus berjalan, Hinata masih menatap kesekeliling sekolah dengan tatapan panik, ia hanya disuruh pergi kesekolah, lalu sekarang apa yang harus dilakukan? Mencarinya kah? Atau tetap disini?.

Drrrrtt Drrrttt

Tepat di menit kelima, Hinata merasa HPnya bergetar, dengan perasaan takut Hinata membuka isi pesan yang masuk, ia yakin peneror itu pasti mengirim kabar mengenai kondisi 'DIA'

To : Hinata

From : 08xxxxxxx

Kurang dari 5 menit! Hebat!

Setelah ini carilah keberadaan DIA dalam waktu lima menit

Aku akan menunggumu disini bersama DIA

#Semangat :)

Hinata merasa sedikit kesal sekaligus lega setelah membaca SMS itu. kesal karena si peneror mempermainkannya dan lega karena setidaknya belum ada orang yang terluka.

Hinata kembali berlari menuju kelas untuk memastikan siapa di antara Sasuke dan Gaara yang sudah sampai disekolah. Hinata sampai dikelas dalam waktu 1 menit, beberapa siswa yang sudah berada di kelas memandang Hinata bingung karena Hinata datang dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Rambutnya yang sudah berantakan, keringat yang membanjiri wajahnya, ditambah ekspresinya yang terlihat lelah, keadaan itu cukup untuk membuat semua siswa yang sudah datang memandang dengan tatapan penuh tanya.

Hinata tak mempedulikan tatapan-tatapan itu, matanya langsung terfokus pada bangku Sasuke dan Gaara. Hinata menghela nafas lelah ketika melihat tas Gaara dan tas Sasuke sudah berada di bangku mereka masing-masing, itu berarti Hinata harus mencari keberadaan mereka berdua.

"Hinata, ada apa?" tanya Sakura yang dari tadi melihat gerak-gerik Hinata.

"Kau lihat Sasuke atau Gaara?" tanya Hinata cepat. Sakura sedikit kaget ketika mendengar nama Sasuke, ini pertama kalinya Hinata menyebut nama Sasuke didalam kelas, yah walaupun hanya ada beberapa orang saja.

"Kau melihatnya?" Hinata bertanya lagi. Sakura tersentak.

"Ahh iya" Sakura cepat-cepat mengangguk ketika melihat ekspresi khawatir Hinata, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadinya, pikirnya.

"Mereka tadi di suruh Orochimaru-sensei untuk mengambil alat peraga di lab biologi" lanjut Sakura.

"Berdua?" Hinata mengernyitkan dahi. Sakura mengangguk ragu untuk menjawab pertanyaan Hinata.

"I-iya mereka berdua. Memang ada apa Hina.." belum sempat Sakura bertanya, Hinata sudah menghilang dari pandangannya.

Hinata berlari menuju lab biologi, sesekali ia melirik jam tangannya untuk melihat sisa waktunya, terakhir kali dia melihat, waktunya tinggal 2 menit 15 detik.

Hinata sampai di lab biologi, tapi tak ada siapapun disana. Lab itu kosong, Hinata jadi panik apalagi setelah ia melihat waktunya hanya tinggal 1 menit 30 detik. Hinata menjambak rambutnya sendiri, ia benar-benar frustasi sekarang.

"Mereka kemana?" Hinata jatuh terduduk di depan lab, matanya sembab karena menahan tangis.

"Apa yang akan terjadi pada Sasuke dan Gaara?" Hinata bertanya lirih.

Setelah dipikir-pikir, kalau memang si peneror berniat mencelakai Sasuke dan Gaara sekaligus seharusnya bukan 'DIA' yang di tulis si peneror tapi 'Mereka'. Bukankah 'DIA' hanya merujuk ke satu orang? Hinata mengerang frustasi, kenapa dia jadi berpikir sesuatu yang tak penting, seharusnya dia berpikir bagaimana cara menyelamatkan Sasuke dan Gaara? Hinata melihat jam tangannya lagi, sisa waktunya hanya 30 detik.

"Jangan-jangan di ruang basket atau di atap?" Hinata jadi teringat tempat kemana dua orang itu sering pergi setiap pagi, kalau Sasuke biasa akan pergi ke ruang basket sedangkan Gaara akan pergi ke atap. Bisa saja kan, setelah mereka memberikan alat peraga ke Orochimaru-sensei, mereka langsung pergi ketempat kesukaan mereka masing-masing.

Akhirnya Hinata memutuskan untuk pergi ke ruang basket, tapi kali ini dia tidak pergi melewati koridor. Hinata memilih untuk melewati lapangan bola, selain karena lebih cepat, Hinata juga bisa sekalian melihat ke arah atap sekolah, siapa tahu ia melihat keberadaan Gaara di sana.

Waktunya sudah habis, tapi Hinata tak peduli. Ia tetap berlari menuju ruang basket. Seperti rencana, ketika sampai di lapangan, Hinata berhenti sebentar untuk melihat ke arah atap. Nihil, Hinata tak menemukan siapapun, sebelum Hinata meninggalkan tempat itu, matanya menangkap sosok orang yang dia kenal menabrak tembok pembatas atap, matanya memcing untuk memastikan orang itu benar-benar orang yang di kenalnya.

'Sasuke?'

Yaaa, Hinata yakin orang yang berada di atap itu Sasuke, lalu siapa orang yang mendorong Sasuke sehingga Sasuke menabrak tembok pembatas? Dari tempat ini, yang bisa dilihat Hinata hanya kepala Hinata melihat Sasuke berjalan maju, dan kemudian menghilang. Hinata sudah tak bisa melihat lagi keberadaan Sasuke.

Hinata berlari menuju atap, napasnya memburu, entah sudah berapa menit ia berlari dengan kecepatan maksimalnya yang jelas ia sudah lelah, tapi Hinata tetap tak bisa membiarkan Sasuke begitu saja.

Hinata sampai di depan pintu menuju atap, kemudian ia membukanya sedikit. Disana ia melihat Sasuke sedang mencengkram kerah baju seseorang. Jantung Hinata berdegup kencang 'sipeneror kah?' Hinata bertanya dalam hati. Hinata membuka pintu itu lebih lebar lagi, untuk melihat seseorang yang sedang bersama Sasuke.

Deg

Matanya membelalak ketika melihat siapa orangnya.

"Gaara?"

Sasuke dan Gaara menoleh bersamaan ketika mendengar suara orang lain selain mereka berdua. Sasuke dan Gaara sama-sama menatap orang yang bersuara tadi dengan tatapan khawatir. Yahh, sekarang Hinata sedang berdiri didepan pintu menuju atap sambil memandang Sasuke dan Gaara dengan tatapan lelah.

"Kau kenapa Hinata?" tanya Gaara setelah melihat keadaan Hinata yang mengkhawatirkan. Berbeda dengan Gaara yang hanya bertanya dengan tatapan khawatir, Sasuke malah langsung berjalan mendekati Hinata kemudian ia mengusap keringat yang mengalir di pelipis Hinata.

"Kau tak apa?" Sasuke bertanya. Hinata mengangguk singkat, kemudian ia menatap mata Sasuke.

"Kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Hinata dengan wajah lelah.

"Ah..i..i..tu.." Sasuke gelagapan ketika mendengar pertanyaan Hinata.

Brukk

Hinata jatuh pingsan di depan Sasuke. Melihat itu Sasuke dan Gaara langsung panik, Sasuke mengangkat tubuh Hinata dan membawanya menuju UKS sedangkan Gaara mengikuti mereka dari belakang.


Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk.

'UKS' batin Hinata ketika ia melihat semua yang ada di ruangan ini, dominan berwarna putih kecuali dirinya dan seseorang lagi yang sedang duduk di salah satu meja yang berada disini. Hinata melihat jam dinding yang berada di depannya. 'jam 08:30', sudah lebih dari satu jam sejak dirinya kehilangan kesadaran.

Hinata berusaha bangkit, kemudian ia duduk di pinggir tempat tidur. Ujung matanya dapat melihat, seseorang yang tadi duduk di salah satu meja mendekatinya.

"Hinata, kau sudah baikan?" tanya orang itu. Hinata mengangguk.

"Kau kenapa?" Orang itu bertanya lagi. Hinata menggeleng lemah.

"Sasuke, kenapa kau bisa berada di atap bersama Gaara?" kini Hinata yang bertanya.

"Ahhh.." Sasuke kembali mengingat kejadian tadi pagi.

Seperti biasa, Sasuke bangun setiap jam 5 pagi. Setelah bangun ia langsung mandi dan bersiap berangkat sekolah, hari ini Sasuke berniat untu pergi kesekolah menggunakan bus seperti dulu, tapi niat itu diurungkan ketika ia mendapat sebuah pesan.

To : Sasuke

From : 08xxxxxxx

Aku adalah orang yang selama ini meneror Hinata

Kau ingin tahu siapa aku?

Datanglah kesekolah sekarang, aku akan menunggumu di Perpustakaan.

Sasuke mengernyit ketika mendapat SMS itu, benarkah orang ini adalah orang yang meneror Hinata? lalu kenapa tiba-tiba orang ini ingin menunjukkan dirinya? tapi Sasuke tidak peduli dengan alasannya yang ia pedulikan sekarang ia harus segera mengetahui siapa orang ini. Akhirnya Sasuke membatalkan niatnya unuk pergi menggunakan bus, ia memutuskan pergi menggunakan mobil.

Sasuke sampai di sekolah dalam waktu 10 menit, ia memarkirkan mobilnya kemudian pergi menuju kelas. Tak ada siapapun di kelas kecuali dirinya, Sasuke melirik jam tangannya 'pukul 06:00'. Tentu saja belum ada orang disini, karena jam 6 masih terlalu pagi untuk sampai disekolah, bahkan untuk anak terajin sekalipun. Sebenarnya Sasuke juga sedikit kesal karena harus datang sepagi ini, tapi ia harus tahu siapa orang yang meneror Hinata. Sasuke meletakkan tasnya di bangku, kemudian ia keluar dari kelas dan pergi ke perpustakaan sesuai isi pesan yang diterimanya tadi pagi.

Sudah sepuluh menit, Sasuke duduk sendirian didalam perpustakaan, tapi tak ada siapapun yang datang, Sasuke mulai merasa kalau si peneror itu hanya mengerjainya saja. Dari awal Sasuke datang kesini, memang tak ada siapapun, Sasuke bahkan sudah mengelilingi perpustakaan yang merupakan ruangan paling luas disekolah selain kantor guru.

Jam setengah tujuh tepat Sasuke memutuskan untuk kembali kekelas ia melewati koridor yang sudah mulai ramai, tak seperti setengah jam yang lalu. Saat sampai di koridor menuju kelasnya, dari kejauhan Sasuke melihat Gaara dan Orochimaru-sensei sedang berbincang didepan kelas XI IPA 2, awalnya Sasuke tak peduli tapi setelah melihat Gaara yang menunjuk dirinya sambil berbincang dengan Orochimaru-sensei barulah Sasuke penasaran.

"Sasuke, bisa kau bantu Gaara?" Tanya Orochimaru saat Sasuke sampai di depannya.

"Bantu apa sensei?" tanya Sasuke sopan.

"Tolong ambilkan alat peraga organ tubuh manusia di lab biologi" jawab Orochimaru. Sasuke mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia dan Gaara pergi ke lab, selama perjalanan menuju lab, Sasuke terus memandang Gaara, dan itu membuatnya mengingat kejadian kemarin saat Hinata dan Gaara berdua di atap sekolah. 'Apa yang merekabicarakan kemarin?' batin Sasuke.

Sasuke dan Gaara pergi mengambil alat peraga itu kemudian mengantarkannya ke kantor guru seperti permintaan Orochimaru-sensei. Setelah mereka meletakkan semua alat di depan meja Orochimaru mereka berdua pergi dari kantor guru.

"Bisa aku bicara denganmu?"

Gaara membalikkan tubuhnya untuk melihat Sasuke yang berdiri di belakangnya. Gaara menaikkan kedua alisnya seolah bertanya pada Sasuke 'Apa barusan kau berbicara padaku'.

"Ikut aku" Sasuke tak peduli dengan reaksi Gaara tadi, dia membalikkan tubuhnya dan pergi ke suatu tempat, Gaara tak peduli dengan apa yang mau dibicarakan Sasuke, bahkan ia mengikuti Sasuke sambil memainkan HP, sesekali Gaara tersenyum sendiri ketika melihat HPnya, sepertinya Gaara memang sedang melakukan hal yang menyenangkan.

Mereka sampai di atap sekolah, Sasuke membalikkan tubuhnya untuk melihat Gaara, kini mereka saling berhadapan. Tiba-tiba suasana menjadi hening, bahkan suara angin yang berhembus pun dapat didengar dengan jelas, Sasuke dan Gaara masih saling diam. Sasuke belum mau bicara, sedangkan Gaara, ia masih terlihat tak peduli. Bukankah yang mau bicara Sasuke, jadi untuk apa dia yang memulai? Itulah yang dipikirkan Gaara sekarang.

Sasuke teringat kejadian kemarin saat ia melihat Gaara dan Hinata di atap berdua, bahkan mereka berdua terlihat sangat dekat. Saat itu, entah kenapa Sasuke merasa takut kehilangan Hinata, tapi bukankah dia juga harus bahagia jika Hinata bahagia?

"Kau menyukai Hinata?" Tanya Sasuke.

"Bukan urusanmu" Gaara menjawab singkat.

"Jangan sampai kau menyakitinya" Sasuke memperingatkan. Gaara tertawa ketika mendengar itu.

"Kenapa kau peduli sekali dengan Hinata? apa karena kau temannya sejak kecil?" Gaara memandang Sasuke dengan pandangan meremehkan. Mata Sasuke membelalak ketika mendengar pertanyaan Gaara.

"Darimana kau tahu kalau aku teman Hinata sejak kecil?" ini pertama kalinya Sasuke bertanya dengan tampang bodoh. Kali ini Gaara tertawa meremehkan.

"Hinata sendiri yang menceritakannya padaku, aku tahu semuanya tentang Hinata termasuk soal teror itu" ucap Gaara.

Terlihat jelas guratan kecewa di wajah Sasuke, segitu mudahkah Hinata menceritakan hal yang selama ini selalu dirahasiakan Hinata pada orang lain? Sebegitu percayakah Hinata pada Gaara, sehingga dia bisa dengan mudah bicara pada Gaara? Bahkan butuh waktu lima tahun untuk Hinata supaya mau menceritakan masalah ini padanya, tapi dengan Gaara, Hinata hanya butuh beberapa minggu.

Sasuke hanya tidak tahu, justru karena Hinata sangat menyukai Sasuke makanya Hinata tak mau meceritakannya. Hinata tidak mau Sasuke terluka, tidak, tidak akan pernah. Bahkan dalam mimpi sekalipun, Sasuke adalah orang terakhir selain ayah dan kakaknya yang Hinata ingin lihat terluka.

Sasuke mengepal tangannya kuat untuk menahan amarah yang mungkin akan keluar. Kecewa, kesal, cemburu bercampur menjadi satu dan menciptakan amarah yang seharusnya tak terjadi, karena itu sekuat tenaga Sasuke menahannya.

"Kalau kau tahu mengenai itu, aku harap kau bisa melindunginya dari peneror itu" Sasuke mencoba untuk berucap normal, namun gagal, jelas sekali nada cemburu keluar saat ia mengatakannya. Gaara mmenyeringai ketika dengan jelas telinganya menangkap nada bicara Sasuke.

"Kalau aku tidak mau?" Gaara bertanya dengan nada main-main dan itu sukses membuat amarah Sasuke keluar.

Buukk..

Satu pukulan tepat mengenai wajah Gaara, karena tak siap dengan pukulan itu, Gaara terjatuh.

"Kau! Jangan main-main dengan Hinata" Sasuke masih terlihat marah. Mendengar itu Gaara terkekeh, kemudian ia mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan satu jari kemudian ia melihat darah itu sambil tertawa.

"Seharusnya kau jangan terlalu menunjukannya padaku" ucap Gaara tiba-tiba.

"Apa maksudmu?" Sasuke tak mengerti. Gaara diam sebentar sebelum menjawab.

"Kalau kau sangat menyukainya, seharusnya kau jangan terlalu memperlihatkannya padaku, itu…." Gaara diam sebentar. "membuatku cemburu" tiba-tiba ekspresi Gaara berubah menjadi lebih serius. Gaara bangkit kemudian balas memukul Sasuke, Sasuke menabrak tembok pembatas.

"Jadi kau juga menyukai Hinata?" Sasuke berjalan maju mendekati Gaara. Gaara menyeringai.

"Kenapa? Apa kau pikir hanya dirimu yang boleh menyukainya?" tanya Gaara. Sasuke tak menjawab, ia terus mendekati Gaara.

"Kalau ku masih main-main dengan Hinata, Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya!" ucap Sasuke sambil mencengkram kerah baju Gaara.

"hei hei.. Kau seharusnya berterima kasih padaku, bukannya malah bersikap seperti ini" ucap Gaara tak terima. Sasuke menatapnya penuh tanya.

"Kau bisa berbaikan dengan Hinata itu karena aku, apa Hinata tak memberitahukannya padamu?" Gaara yang mengerti arti tatapan Sasuke langsung menjelaskan.

Mendengar itu, Sasuke mengendurkan cengkramannya.

'Benarkah? Hinata mau berbaikan dengannya karena Gaara?'

"Gaara?"

Suara seseorang membuat Gaara dan Sasuke sama-sama menoleh ke sumber suara. Sasuke jelas tahu suara ini milik siapa, tapi kenapa harus nama Gaara yang disebut? Kenapa bukan namanya? Sasuke kembali merasa sesak, tapi setelah melihat keadaan Hinata perasaan sesak itu langsung berganti menjadi perasaan Khawatir.

Sasuke mengehela nafas sebelum menjawab pertanyaan Hinata, ia tak mungkin memberi tahu alasan sebenarnya kepada Hinata kan?. "Hanya urusan pribadi, lalu apa yang terjadi padamu tadi pagi?" Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ada apa dengan wajahmu, kau dan Gaara bertengkar?" Hinatamalah balik bertanya sambil menyentuh wajah Sasuke yang lebam, Sasuke sedikit meringis ketika tangan Hinata menyentuh tepat di luka lebamnya.

"Ehh.. ma..maafkan aku" Hinata segera menarik tangannya dari wajah Sasuke, tapi gerakan itu di hentikan oleh Sasuke. Sasuke menangkap tangan Hinata, kemudian menariknya dan meletakan tangan itu di pipinya.

"Kurasa kalau sepeti ini aku akan sembuh" ucap Sasuke sambil terus memegang tangan Hinata yang sekarang berada di pipinya.

Semburat merah muncul di wajah Hinata, sekarang Hinata merasa detak jantungnya berpacu sangat cepat dan entah kenapa itu membuat tubuhnya menjadi lemas apalagi ia merasa wajahnya yang semakin memanas. Hinata jadi ingin pingsan lagi saja.


Jam istirahat pertama sudah berbunyi, seperti biasa semua siswa akan pergi kekantin. Didalam kelas XI IPA 2, Orochimaru masih duduk di meja guru. Memang hampir semua murid sudah keluar dari kelas, tapi entah kenapa Orochimaru masih belum beranjak dari tempatnya. Orochimaru terus memikirkan dengan apa yang terjadi dengan Hinata, muridnya yang sudah beberapa kali terkena masalah yang membuat Hinata beberapa kali tak bisa masuk kekelas. Orochimaru sedikit curiga dengan Hinata, ia takut kalau di sekolah ini terjadi pembullyan atau sejenisnya.

Sekarang semua siswa XI IPA 2 sudah keluar, Orochimaru juga bersiap untuk pergi tapi diurungkannya ketika melihat Kiba masuk kedalam kelas.

"Kiba?" Orochimaru memanggil muridnya yang terkenal sangat menyukai anjing itu.

"Ada apa pak?" Kiba bertanya sopan.

"Apa kau dekat dengan Hinata? Apa Hinata sering di bully atau sejenisnya?" Tanya Orochimaru, siapa tahu ia bisa mendapat jawaban.

"Kalau dekat sih tidak, tapi kalau soal Hinata di bully sepertinya itu tak mungkin" Ucap Kiba, kemudian ia menceritakan kejadian satu tahu yang lalu mengenai Hinata.

Saat itu kami masih kelas sepuluh, dari awal masuk sekolah, Hinata memang sudah menjadi pusat perhatian selain karena cantik sifat dinginnya sangat terkenal. Bahkan ada beberapa orang yang menjulukinya 'Putri es'. Seingatku, waktu itu baru 3 bulan kami sekolah, Hinata ditembak oleh senior kami yang terkenal paling tampan apalagi senior itu menjabat sebagai ketua OSIS. Tentu saja itu membuat hampir semua siswa menonton adegan romantis itu. Tapi saat itu Hinata menolaknya dengan jawaban singkat 'tidak' hanya itu jawaban yang di berikan Hinata, dan itu sukses membuat para fans si senior marah besar pada Hinata.

Besoknya, Hinata didatangi oleh 3 orang dari geng senior cewek di sekolah. 3 orang cewek itu melabrak Hinata di depan kelas, saat itu tak ada orang yang berani membantu Hinata, karena salah satu cewek dari 3 cewek itu merupakan anak dari orang yang memberi sumbangan paling besar di sekolah ini, tentu saja mereka tak mau ambil resiko.

Semua orang mengira, mungkin saja hari itu Hinata tak akan selamat. Tapi dugaan mereka semua salah, nyatanya orang yang berakhir menyedihkan adalah 3 cewek itu. otomatis itu membuat anak dari pemberi sumbangan terbesar itu marah, kemudian ia mengancam Hinata kalau Hinata tak mau meminta maaf maka dia akan menyuruh ayahnya untuk mengeluarkan Hinata dari sekolah.

Benar saja, siangnya Hinata dipanggil kepala sekolah. Kami tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruang kepala sekolah itu. Tapi yang jelas, besoknya sebuah rumor menyebar, katanya orang tua dari Karin-salah satu orang dari geng cewek yang melabrak Hinata- malah mohon-mohon untuk mendapatkan kata maaf dari Hinata. Dan tak lama setelah kejadian itu, banyak murid yang di nasihati orang tua mereka masing-masing agar tak berurusan dengan orang yang bernama Hyuuga Hinata. Satu sekolah kecuali teman sekelas Hinata tercengang saat tahu Hinata berasal dari keluarga Hyuuga. Keluarga yang termasuk paling kaya di Konoha, dan paling di hormati selain Uchiha.

Setelah hari itu, Hinata jadi salah satu orang yang ditakuti, tak ada orang yang berani menyentuh Hinata atau berbicara sembarangan didepannya.

"Karena itu, kurasa tak mungkin ada orang yang membully Hinata" ucap Kiba mengakhiri cerita.

"Hmm.." Orochimaru tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas.


"Bagaimana keadaan Gaara?" tanya Hinata yang sedang menggunakan sepatunya, bersiap untuk kembali kekelas.

"Kenapa kau menanyakan keadaan Gaara?" Sasuke balik bertanya.

"Lalu aku harus bertanya keadaan siapa? Kau? Bukankah sudah jelas kau baik-baik saja"

Mendengar ucapan Hinata, Sasuke jadi merasa kesal. "Aku tidak baik-baik saja Hinata". Hinata mendongakkan kepalanya untuk melihat Sasuke yang berdiri di depannya.

"Menurutku, kau baik-baik saja" Hinata kembali berkutat pada sepatunya. Sasuke mendecih mendengar itu sedangkan Hinata tersenyum puas karena berhasil membuat Sasuke kesal.

"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kenapa kau bisa sampai disekolah dengan keadaan seperti tadi pagi?" tanya Sasuke.

"Aku berlari kesekolah"

"Kenapa?"

"Hanya ingin saja"

Setelah itu Hinata bangkit dan pergi meninggalkan UKS, dan meninggalkan Sasuke dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. 'Hanya ingin saja' jawaban macam apa itu.

Karena tak terjadi apa-apa dengan Sasuke, Hinata merasa tak perlu menceritakan soal SMS itu. Hinata takut, kalau Sasuke mengetahuinya, Sasuke malah semakin ingin melindunginya dan itu akan membuat si peneror semakin ingin menyakiti Sasuke.


Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun sedang sibuk memainkan game di HPnya, tiba-tiba ia mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Anak laki-laki itu pun langsung menyingkirkan HP nya dan mengintip keluar kamar melalu celah pintu, ia melihat banyak orang masuk kedalam rumahnya menggunakan pakaian polisi.

Anak-laki-laki itu merasa takut, saat beberapa orang yang menggunakan pakaian polisi itu mendekati kamarnya. Ia melangkah mundur, saat dirinya menabrak rak buku barulah dirinya membalikkan tubuh.

Tiba-tiba anak laki-laki itu mengingat perintah ayahnya, yang menyuruhnya untuk membuka pintu rahasia yang ada di balik rak ini jika sesuatu terjadi, waktu itu dia tak mengerti sesuatu seperti apa yang akan membuatnya membuka pintu rahasia itu. Tapi sekarang dia tahu, kalau ini adalah waktu yang tepat untuk membukanya.

Anak itu mengambil salah satu buku, kemudian rak buku itu bergeser ke samping kanan, setelah bergeser sejauh satu meter barulah pintu rahasianya terlihat. Anak itu membuka pintu dan masuk kedalamnya, kemudian dari dalam ia kembali menutup pintu dan memencet tombol untuk mengembalika rak bukunya ke posisi semula.

Sebenarnya, ini pertama kalinya dia masuk kesini, jadi dia sama sekali tak tahu akan sampai dimana dia setelah dirinya masuk. Dan sekarang, ia hanya melihat sebuah lorong yang panjang dan gelap, terpaksa ia berjalan mengikuti lorong di depannya.

Dia terus berjalan hingga dirinya melihat sebuah cahaya di ujungnya, ia semakin cepat melangkahkah kakinya untuk melihat ada apa di ujung lorong itu, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara yang tak asing di telinganya, ayahnya. Anak itu, mendengar suara ayahnya yang merintih kesakitan.

Untuk memuaskan rasa penasarannya ia mengintip dari balik tembok dan ia mendapati sebuah ruangan yang berdominan warna putih di balik tembok ini. matanya membelalak ketika melihat ayahnya sedang tersungkur di lantai da nada tiga orang lainnya yang berada di sana. Satu orang wanita yang sepertinya sudah tak bernyawa, kemudian ada satu gadis kecil yang sibuk menangis didepan anita tadi dan terakhir ada satupria yang sedang menodongkan pistol tepat di kepala ayahnya.

Dooorrr

Satu tembakan yang di arahkan tepat dikepala ayahnya, cukup untuk membuat anak laki-laki itu ketakutan setengah mati, sekuat tenaga ia menahan agar dirinya tak berteriak, ia bahkan sudah menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya sambil menahan tangis yang mungkin pecah.

Kemudian ia berlari dari tempat itu, berlari sejauh yang ia bisa.

TBC

Pojok review

Herocyn Akko : hmm iya nih Ita jadi suka ngaret, dan maap nih kali ini juga ngaret. Ita rasa mungkin Akko udah bisa nebak nih siapa penerornya hehehe see youuuu Akko *peluuk*

Cintya : ummm, disni Ita udah kasih masa lalu dari si peneror mungkin kamu juga udah bisa nebak orangnya.

Yurika-chan : hmmmm, mungkin di chap ini kamu udah bisa yakin siapa yg neror.

TanTan Hime-chan : yaahhh disini Ita gak masukin romancenya Gaahina, ntar deh kapan-kapan Ita masukin hehehe

: ahhh makasih lohhhhh

hyacinth uchiha : eumm mungkin di chap ini kamu udah bisa nebak siapa orangnya, hmm atau masih terlalu banyak misteri?

Nurul851 : Oke oke ,, hehehe Ita bakal banyak-banyakin scene SasuHina deh…

arisankjm : hehehe okee, tapi Ita gak yakin ini greget, maap yaa..

Sabaku no Aira : okeeeeee, tunggu terus ya.. hehehe

HyugaRara : eumm di chap ini Cuma ada sedikit masa lalu si peneror nih..

Aheleza kawai : Hahahaha, Ita sih gak mau Gaara kepincut cinta, tapi gak tau deh entar *Ita emang labil* hehehe

NurmalaPrieska : eummm iya mungkin aja, oke tunggu terus ya

nadiazain : makasihhhhh lohh udah mau baca dan review map ya kali ini ngaret.

yui namikaze : hmmm gak pa-pa kok, Ita juga lagi sibuk makanya sering ngaret sekarang hehehe. Mungkin disini kamu udah bisa tahu siapa.

Hana Yuki no Hime : Hai Hana… eumm gak pa-pa kok hehehe okeeee

reza Juliana desu : okeeee ini udah lanjut kan..

kawaiihinata : Ita sih niatnya emang happy ending untuk SasuHina, eumm kali ini Ita ngaret maap yaaa

oormiwa : eumm gak tau tuh hehehe

Makasih semuanya yang udah baca dan review

Maaf yaaa, lagi-lagi Ita ngaret.

Abisnya sekarang di sekolah Ita ada peraturan baru, pulang sekolahnya tuh jam set 5 dan Ita sampe rumah jam 5an trus Ita mandi, makan dll sampe magrib, trus malemnya Ita ngerjain PR dan tidur. Jadinya gak punya waktu deh *curhat*

Hehehe oke abaikan aja curhatan Ita, mungkin mulai sekarang Ita Cuma bisa Up setiap hari libur aja…

Maappp yaa semuaa..

Di chap kali ini, banyak adegan Flashbacknya kan hehe mungkin di chap depan juga.

Di chap depan, Ita bakal ngungkapin si peneror dan semua tentang si peneror selama ini, gimana cara dia ngawasin Hinata, kenapa dia ngilang setahun, dan gimana dia bisa ngerjain Hinata di sekolah selama ini.

Jadi ditunggu yang chap depan yang mungkin bakal Up minggu depan.

See you next Chap minna…..