Sebelumnya

Dooorrr

Satu tembakan yang di arahkan tepat dikepala ayahnya, cukup untuk membuat anak laki-laki itu ketakutan setengah mati, sekuat tenaga ia menahan agar dirinya tak berteriak, ia bahkan sudah menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya sambil menahan tangis yang mungkin pecah.

Kemudian ia berlari dari tempat itu, berlari sejauh yang ia bisa.

Look At Me

"Arrgghhh" Gaara terbangun dari tidurnya. Selalu seperti ini, hampir setiap malam Gaara selalu mengalami ini, memimpikan sesuatu yang selalu berhasil membuat dadanya sesak sampai rasanya ia ingin mati. Ketakutan akan kejadian hari itu masih terekam jelas diingatannya, saat ia melihat langsung bagaimana kepala ayahnya hancur. Nafas Gaara tersenggal-senggal, ia menjambak rambutnya untuk mengalihkan rasa sakit yang ada di hatinya.

Perlahan, Gaara mulai merasa tenang, nafasnya sudah mulai teratur, tubuh yang sedari tadi bergetar hebat pun sudah mulai bisa dikendalikannya.

Gaara diam sebentar, kemudian ia menyeringai. Gaara sedang membayangkan, apa yang akan dia lakukan terhadap orang 'itu' sekarang. Yaa, setiap Gaara mengalami hal seperti ini, Gaara akan melampiaskannya pada seseorang. Seseorang yang dianggapnya paling pantas mengalami hal yang sama seperti yang dialaminya. Gaara tak akan membiarkan dirinya berada didalam ketakutan sendirian, setidaknya orang yang membuatnya mengalami hal ini, harus mengalami hal serupa juga. Mengalami bagaimana rasanya diliputi perasaan takut setiap hari, mengalami bagaimana rasanya sendirian, dan terakhir, Gaara ingin orang itu mengalami bagaimana rasanya melihat orang yang di sayang mati tepat didepan matanya. Mungkin hanya hal yang terakhir ini yang belum di wujudkan, tapi Gaara janji pada dirinya sendiri dan ayahnya, kalau dia pasti akan mewujudkan itu.

Gaara sangat ingat, hari dimana ia pertama kali bertatapan langsung dengan orang 'itu'. Orang yang selama ini selalu mengalami hal yang sama dengannya. Bedanya hanya orang 'itu' merasakan di teror secara nyata, sedangkan Gaara, dia harus mengalami teror secara fiktif. Teror yang muncul hanya dari kenangan yang akhirnya menimbulkan halusinasi tapi, memiliki dampak yang sama besarnya bahkan lebih.

Lagi-lagi Gaara menyeringai, ketika ia mengingat sorot ketakutan dari orang yang memiliki mata Lavender itu.

"Ah maaf kan aku, kau tak apa?"

Gaara masih ingat jelas apa yang di katakannya saat itu, saat ia menabrak atau lebih tepatnya ia menabrakkan diri pada gadis bermata lavender itu.

Gaara mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata-gadis yang memiliki mata berwarna lavender- tapi Hinata malah menatapnya bingung. Gaara tahu kalau itu wajar, mengingat dirinya yang tak memakai seragam ditambah lagi wajahnya yang pasti terlihat asing bagi Hinata. Gaara masih mengulurkan tangannya tapi kini ia tersenyum untuk memberi kesan baik pada perjumpaan pertama mereka. Tapi Hinata malah bangun tanpa menerima uluran tangannya. Gaara menyeringai ketika melihat Hinata membersihkan roknya 'Gadis yang sangat dingin' batin Gaara.

"Maaf kan aku, aku ti.." ucap Gaara setelah melihat Hinata selesai membersihkan rok tapi ia mengehntikan ucapannya ketika ia melihat Hinata sedang menatapnya bingung.

"Heii, kau baik-baik saja?" Gaara bertanya sambil melambaikan tangannya di depan Hinata, sebenarnya Gaara tak peduli dengan keadaan Hinata, ia hanya tak suka cara Hinata memandangnya. Mungkin pertanyaannya berhasil membuat kesadaran Hinata kembali, terbukti dari Hinata yang tiba-tiba berlari meninggalkannya. Gaara tahu kemana tujuan gadis itu, karena dirinyalah yang memerintahkan Hinata pergi ketempat itu, tempat di mana Gaara akan memulai berbagi penderitaan lagi bersama Hinata setelah membiarkan gadis itu beristirahat selama setahun.

Gaara mengikuti Hinata dari belakang,sampai akhirnya Hinata sampai didepan gudang sekolah. Gaara menyeringai 'Kenapa dia bodoh? Mudah sekali untuk menjebaknya' batin Gaara.

Hinata masuk ke gudang tanpa pikir panjang, melihat itu ingin sekali Gaara tak habis pikir, kenapa Hinata bisa seceroboh itu? seharusnya sejak menerima pesannya kemarin, Hinata sudah bersiap, seharusnya dia tidak semudah itu menuruti perintah Gaara, atau setidaknya Hinata lebih berhati-hati. Gaara tak tahu ini disebut bodoh, naïf atau terlalu percaya diri yang jelas ia tahu Hinata sudah masuk kedalam jebakannya sekarang.

Gaara mendekati gudang dengan langkah pelan, sebisa mungkin ia tak boleh menimbulkan suara. Saat hampir sampai didepan pintu, Gaara mengambil sebuah benda didalam saku celananya,kemudian ia membuka penutup benda yang berbentuk seperti kaleng pilok itu. setelah penutupnya terbuka, Gaara menekan sebuah tombol yang mengakibatkan asap keluar dari dalam kaleng itu. Gaara menggelindingkan kaleng itu kedalam gudang kemudian ia menutup pintu gudang dan menguncinya.

Setelah melakukan itu Gaara pergi ke atap sekolah, kemudian ia mengambil HP nya dan mengetik sebuah pesan untuk Hinata sambil tersenyum senang. Beberapa menit setelah pesan itu terkirim Gaara melihat seseorang melewati lapangan yang ada di bawahnya sekarang sambil menggendong Hinata yang sudah terlihat lemah. Gaara mengernyit tak suka 'Secepat itu kah dia lolos? Ahh itu tidak seru' Gaara bergumam sendiri.

Setelah merasa tenang, Gaara bersiap untuk berangkat kesekolah. Gaara sudah menyiapkan sesuatu untuk Hinata dan Sasuke. Seperti biasa sebelum dia melaksanakan rencananya, dia akan memberi peringatan kepada Hinata. Gaara mengambil HP nya dan mengetik sebuah pesan kemudian mengirimnya kepada Hinata. Gaara mengirim Hinata peringatan sebelum mencelakai Hinata, bukan karena ia ingin Hinata berhati-hati tapi Gaara ingin Hinata merasakan takut. Bukankah orang akan lebih merasa takut jika orang itu tahu kalau dirinya akan segera terkena bahaya? Gaara tersenyum memikirkan reaksi Hinata nanti.


Drrttt Drrttt

Hinata sedikit tersentak saat HP nya bergetar, dia membuka HP nya dan membuka pesan yang masuk.

To : Hinata

From : 08xxxxxx

Kemarin aku hanya bercanda :D

Tapi tidak untuk lain kali..

Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian

Hinata menatap isi pesan itu jengkel, ingin sekali rasanya ia menemukan si peneror dan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Tapi apa maksudnya 'kalian' di SMS itu? apakah maksudnya dia, Sasuke dan Gaara? Hinata semakin kesal ketika memikirkan kemungkinan itu, kenapa peneror itu selalu melibatkan orang lain?

Hinata terus mengumpat selama perjalanannya menuju halte, sampai dirinya tak menyadari kalau seseorang sudah menunggu di kursi panjang yang di sediakan di halte ini. Hinata duduk di kursi, tanpa mempedulikan seseorang yang sedari tadi menatapnya bingung.

"Hinata kau kenapa?" tanya orang itu. Hinata tersentak ketika mendengar suara seseorang yang tak asing baginya, Hinata menoleh ke samping untuk memastikan orang yag memanggilnya adalah orang yang dia kenal.

"Sasuke?" Hinata membelalak ketika melihat Sasuke duduk disampingnya. "Sejak kapan kau disitu?" tanya Hinata yang masih diliputi perasaan kaget.

"Aku sudah dari tadi disini" Sasuke menjawab sekenanya kemudian ia kembali bermain dengan game di HP nya, Hinata melihat gerak-gerik Sasuke dengan tatapan curiga.

"Kenapa kau disini?" Tanya HInata saat dirinya merasa di abaikan oleh Sasuke. Sasuke mengalihkan pandangannya dari HP untuk melihat Hinata yang duduk disampingnya.

"Wah..wah.. sejak kapan nona Hinata peduli dengan orang sepertiku?" Sasuke bertanya dengan nada menyindir.

Hinata tahu Sasuke sedang menyindirnya tapi Hinata tak tahu itu karena apa, baiklah Hinata mengakui memang dulu dirinya selalu pura-pura tak peduli dengan Sasuke, tapi bukankah Sasuke sudah mengetahui alasannya? Lalu kenapa tiba-tiba Sasuke seperti ini? Hinata menatap Sasuke seolah mencari jawabannya disana.

Hinata menghela nafas "Ada apa Sasuke?" kali ini Hinata menyerah, dia sedang tidak mau berdebat dengan Sasuke.

"Beritahu aku, sebenarnya kemarin kau kenapa?" tanya Sasuke. Lagi-lagi Hinata menghela nafas.

"Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya" jawab Hinata.

" 'hanya karena ingin' kau pikir aku percaya dengan jawaban seperti itu" ucap Sasuke.

"Baiklah, memang bukan itu alasannya tapi aku tak mau memberitahukannya padamu"

"Kenapa kau tak ma.." pertanyaan Sasuke terhenti ketika mendengar suara bus yang berhenti, Sasuke menoleh kearah bus sedangkan Hinata berdiri dan masuk kedalam bus, melihat itu Sasuke ikut masuk.

Sasuke duduk di samping Hinata, dan itu membuat Hinata kaget.

"Kenapa kau duduk disini?" Hinata sedikit menggeserkan tubuhnya ke arah jendela bus untuk menjaga jarak dengan Sasuke.

"Aku tak akan pindah sebelum mengetahui alasanmu kemarin" Sasuke menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi kemudian ia memejamkan matanya.

"Uchiha Sasuke?! Sejak kapan kau jadi kekanakkan seperti ini?" Hinata tak habis pikir dengan Sasuke, sudah lama Hinata tak bermain bersama Sasuke, jadi dia baru tahu kalau ternyata otak Sasuke sekarang sedikit bergeser. Hinata bergidik ngeri ketika memikirkan kemungkinan otak Sasuke bergeser.

"Makanya Hinata, kau harus sering-sering memperhatikanku" Sasuke menjatuhkan kepalanya di bahu Hinata.

"Kau bahkan tak tahu kan, kalau kemarin peneror itu mengirim pesan padaku" masih dengan mata terpejam Sasuke berucap, nadanya terdengar sangat santai seolah itu bukan masalah yang besar. Sasuke tahu, Hinata pasti sedang menatapnya khawatir, dan sebentar lagi pasti Hinata akan bertanya tentang isi pesan itu.

"Apa yang dia katakan?"

Sasuke tersenyum ketika mendengar pertanyaan Hinata, kemudian ia mengangkat kepalanya dari bahu Hinata dan menatap Hinata tajam.

"Aku akan memberitahumu kalau kau juga memberitahuku alasanmu" Sasuke membuat sebuah kesepakatan.

"Sasuke aku serius, cepat beri tahu aku!" Hinata sedikit kesal dengan Sasuke.

"Aku juga serius Hinata, aku hanya akan memberitahumu kalau kau juga memberitahuku" ucap Sasuke tak mau kalah. Hinata mengangguk.

"Baiklah, tapi kau dulu yang memberitahuku" pinta Hinata.

"Tidak, kau dulu, kalau akau dulu nanti kau akan mengingkari janjimu" Sasuke menolak permintaan Hinata.

"Sasuke!" Hinata mendesis tajam sebenarnya dia ingin membentak Sasuke, tapi mengingat dirinya sekarang berada di tempat umum, dia jadi menahan keinginannya itu.

"Ya sudah kalau kau tak mau, aku tidak akan memaksa" ucap Sasuke tak peduli, kemudian ia kembali menyenderkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya. Hinata hanya mentap Sasuke kesal.


Seperti biasa saat jam istirahat Gaara akan pergi ke atap, ia berdiri di atap sambil melihat beberapa siswa yang berkeliaran di lapangan.

"Kak, apa benar kau akan melakukan ini kepada Hinata?"

Gaara tersentak ketika mendengar suara itu, ia membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.

"Memangnya kenapa?" Gaara menatap orang itu sinis.

"I.. ma..maksudku..i..ini sedikit keterlaluan" jawab orang itu dengan tatapan takut.

"Ini tidak keterlaluan, kau menganggap ini keterlaluan karena kau tidak melihat langsung bagaimana ayah di bunuh.." rahang Gaara mengeras ketika mengucapkannya. "Atau jangan-jangan kau merasa ini keterlaluan karena ayah bukanlah ayah kandungmu"

"Bu..bukan seperti i..itu kak.. Aku sangat menyayangi ayah, tapi.." orang itu menundukkan kepalanya.

"Shion, setelah ini aku yang akan mengurus semuanya, kau boleh pergi kemanapun kau suka aku sudah menyiapkan identitas baru untukmu" ucap Gaara meyakinkan.

Shion mengangguk paham, kemudian ia pergi dari atap.

Hinata berlari menuju atap sekolah, hampir saja dirinya menabrak Shion saat didepan pintu menuju atap, untung saja Hinata masih sempat mengerem, kalau tidak mungkin dia dan Shion akan berakhir di UKS.

"Hi..Hinata" ucap Shion terbata, Shion sangat kaget saat melihat Hinata ada disini, ia takut Hinata mendengar semua pembicaraannya dengan Gaara barusan.

"Shion, apa di atap ada Gaara?" tanya Hinata tanpa mempedulikan ekspresi gugup Shion, Hinata tak peduli bukan karena dia dingin atau cuek, tapi karena Hinata tahu, Shion selalu bersikap seperti ini. Hinata sudah mengenal Shion sejak SMP, dan setiap kali Hinata berhadapan dengan Shion, pasti Shion akan memasang ekspresi gugup. Sifat Shion yang selalu terlihat canggung, mengingatkannya pada dirinya yang dulu, sebelum kejadian penculikkan itu. Kalau waktu itu Hinata tak diculik dan di teror, mungkin saja sifatnya sama seperti Shion sekarang.

"I..iya, dia di atap" Shion sedikit merasa lega saat mendengar pertanyaan Hinata, karena itu berarti Hinata tak mendengar apapun. Hinata langsung pergi kea tap saat mendengar jawaban Shion.

Shion menatap punggung Hinata dari belakang, tatapan matanya terlihat sendu. Shion ingat hari pertama ia bertemu Hinata, saat itu dia masih duduk di tahun pertama SMP.

Bruuukk

Shion terjatuh saat diriya menabrak seseorang, buku yang dibawanya berserakan di lantai.

"Ahh maaf.." ucap Shion sambil membereskan bukunya.

"Heh, kalau jalan lihat-lihat"bentak orang yang di tabrak Shion. Shion mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang di tabrak. Shion langsung memasang wajah takut saat dia tahu siapa orang yang baru saja di tabrak, Tayuya. Tayuya adalah senior yang terkenal paling galak di sekolah, kabarnya orang-orang yang pernah mencari masalah dengannya, akan di bully sampai orang-orang itu lebih memilih untuk pindah sekolah. Shion meneguk ludahnya dengan susah payah.

"Hei, kau tak apa?"

Seseorang tiba-tiba muncul dari belakang Shion dan langsung membantu Shion membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Shion mengangguk tanpa melihat orang yang membantunya, sedangkan Tayuya mendecih saat tahu siapa orang yang membantu Shion, dia tahu orang yang membantu Shion adalah anak dari rekan bisnis ayahnya dan Tayuya juga cukup tahu diri kalau dirinya lebih baik tak mencari masalah dengan anak dari rekan bisnis ayahnya ini, kemudian ia pergi meninggalkan Shion dan orang itu.

"Terima kas.." ucapan Shion terhenti saat dirinya melihat orang yang membantunya, mata lavender dan rambut indigonya cukup membuat Shion tahu siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.

"Hei, kau baik-baik saja?" orang itu melambaikan tangannya didepan wajah Shion. Shion yang baru tersadar dari lamunannya langsung mengangguk.

"Namaku Hyuuga Hinata" orang itu memperkenalkan diri.

'Aku tahu' batin Shion.

"Eum, a..aku Shion" Shion juga memperkenalkan dirinya.

Tahun ajarang baru sudah dimulai sejak seminggu yang lalu, tapi ini hari pertama Hinata pergi kesekolah. Sebenarnya Shion tahu hari ini adalah hari pertama Hinata kesekolah bahkan dirinya tahu alasan mengapa Hinata baru mau datang kesekolah sekarang , Gaara yang sudah memberitahunya, tapi ia tak menyangka akan bertemu dengan Hinata secepat ini.

Sekolah ini cukup terkenal, karena murid-muridnya yang pintar. Mungkin kalau Gaara, dia akan mudah masuk kesekolah. Tapi Shion berbeda, dia bukanlah anak yang pintar, walaupun dia juga tak bisa dimasukkan ke dalam kategori bodoh, Shion cukup tahu kemampuannya tidak bisa membuatnya masuk kesekolah bertaraf internasional ini. Karena itu, sebelum ujian masuk sekolah, Shion mati-matian belajar agar bisa lulus. Dan usaha kerasnya membuahkan hasil, Shion lulus walaupun dengan nilai pas standar. Semua ini dilakukan hanya untuk mengawasi dan membuat hidup Hyuuga Hinata menderita,orang yang menyebabkan ayah angkatnya meninggal.

Saat ayahnya meninggal, Shion sedang tak ada di rumah, ia sedang pergi bersama sepupunya untuk mengikuti lomba fotografi di luar kota. Sejak kecil Shion sangat menyukai dunia fotografer, dia memang tidak pandai dalam hal pelajaran tapi dia cukup bisa diandalkan saat sedang memotret. Saat mengetahui berita tentang ayahnya, Shion langsung pulang tanpa mempedulikan perlombaan yang sedang di jalani.

'Ini semua gara-gara gadis bermata lavender itu'

Itulah kata-kata yang diucapkan Gaara pertama kali, setelah ayahnya meninggal.

Shion menghela nafas kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


"Gaara!" Hinata sedikit berteriak untuk memanggil Gaara.

Gaara menoleh kebelakang, kemudian ia tersenyum. "Ada apa? Kau merindukanku?" ucap Gaara dengan nada menggoda.

"Jangan bercanda, ada yang ingin kutanyakan"

Gaara menaikkan kedua alisnya kemudian menggerakan kepalanya seolah menyuruh Hinata untuk cepat bertanya.

"Kemarin, apa.. kau mendapat SMS dari peneror?" Hinata bertanya dengan hati-hati, ia takut mendengar jawaban yang tak ingin didengar.

"Memangnya kenapa?" Gaara balik bertanya.

"Sasuke mendapatkannya, apa kau..juga?" Hinata menatap Gaara penuh harap. Sedangkan Gaara balik menatapnya tak percaya kemudian ia memalingkan wajahnya.

"Kenapa aku harus memberitahukannya padamu?" lagi-lagi Gaara membalas dengan pertanyaan. Tiba-tiba wajah Hinata berubah jadi panik.

"Jadi kau juga dapat? Jangan-jangan selama ini kau sering di teror juga, kenapa kau tak mengatakannya padaku? Tanya Hinata bertubi-tubi, dari ekspresinya jelas sekali Hinata sangat khawatir.

Gaara kembali memandang Hinata, tatapan khawatir Hinata membuatnya kesal, tapi ia menutupinya dengan sebuah senyuman.

"Kau tidak perlu khawatir, kalau ada apa-apa aku akan mengatakannya padamu" ucap Gaara kemudian ia meninggalkan Hinata sendirian di atap.

Hinata mendesah lega ketika mendengar ucapan Gaara barusan. Setidaknya sekarang dia tahu, selama ini Gaara belum di celakai.


jam istirahat kedua sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, hampir semua siswa sekarang sedang berada di kantin. Tapi tidak dengan Naruto, kali ini ia sibuk membongkar tasnya, ia sedang mencari HPnya. Seingat Naruto tadi pagi ia memasukkan HPnya ke tas, tapi kenapa sekarang tidak ada.

"sedang apa kau?"

Deg

Hampir saja Naruto merasa jantungnya ingin melompat keluar, kalau saja ia tak langsung melihat orang yang tiba-tiba berbicara di sampingnya.

"Gaara, kau menganggetkanku!" ucap Naruto kesal.

"Hahaha maaf..maaf.. memang kau sedang apa?" Gaara mengulangi pertanyaannya.

"Aku kehilangan HP ku" Naruto masih sibuk mencari, sedetik kemudian Naruto tersenyum senang, sepertinya ia mendapat ide yang bagus.

"Boleh aku pinjam HP mu?"tanya Naruto.

"Untuk?" Gaara menaikkan alisnya sebelah.

"Aku mau menghubungi nomorku atau supirku siapa tahu HPku ketinggalan di mobil" Naruto menjelaskan.

Gaara mengangguk kemudian memberikan HPnya.

"Aku harus menggunakan Sim yang mana?" tanya Naruto saat dirinya selesai mengetik nomornya.

"Sim 1" jawab Gaara singkat. Naruto mengangguk paham kemudian ia menyentuh tulisan Sim 1 yang ada di layar, namun tak sengaja ia malah menyentuh Sim 2. Awalnya Naruto ingin segera mengakhiri panggilan, tapi setelah ia mendengar suara dari operator yang mengatakan nomornya sedang tidak aktif, Naruto segera mnegurungkan niatnya lagipula itu tidak akan mengahbiskan pulsa, pikir Naruto.

Kemudian Naruto kembali mengetik nomor supirnya, kali ini Naruto menggunakan Sim 1.

"Halo"

Naruto bisa menengar suara sopirnya dari sebrang telpon. "Pak, ini aku Naruto. Apa HP ku ada di mobil?" tanya Naruto.

"Sebentar.."

Naruto menunggu beberapa saat sebelum ia mendengar jawaban yang membuatnya bisa bernafas lega. Supirnya menemukan HP naruto terjatuh di bawah jok mobil.

Naruto langsung berlari keluar kelas saat bel pulang berbunyi, bahkan ia tak mempedulikan guru yang masih berada di kelasnya. Naruto langsung menuju gerbang sekolah, tempat supirnya selalu menjemput, Naruto ingin cepat-cepat melihat HPnya yang sudah hampir seharian tak ada di genggamannya.

"Waahhh HP ku" Naruto langsung mencium HPnya saat ia mendapatkan barang itu dari supirnya. Tentu saja tingkah absurd itu mengundang perhatian dari banyak siswa yang lewat, bahkan supir Naruto sendiri sedikit merasa malu akan tingkah majikannya ini. Naruto memang sangat menyayangi HPnya, bukan karena ia sudah kecanduan barang itu atau sebagainya, tapi karena HP ini adalah pemberian dari mendiang Ibunya, hadiah terakhir yang dia terima sebelum Ibunya meninggal dunia.

Didalam mobil, Naruto mengaktifkan HPnya.

Drrrttt

Tiba-tiba HPnya bergetar, Naruto menatap layar HPnya, ia melihat sebuah pemberitahuan panggilan tak terjawab muncul di layar HP.

'08xxxxxxxx' batin Naruto, kemudian ia mengernyit.

"Ahh nomor Gaara" ucap Naruto saat ia mengingat kejadian saat istirahat tadi, ia menelpon nomornya menggunakan HP Gaara, jadi ini pasti nomor Gaara kan? Naruto langsung menyimpan nomor itu di kontaknya, siapa tahu suatu saat dia membutuhkannya.


Tap Tap Tap

Seseorang pria melangkah di sebuah lorong, kemudian berhenti tepat didepan pintu berwarna silver. Pria yang memiliki mata seperti ular itu membuka pintu yang ada didepannya kemudian masuk kedalam.

"Kau sudah datang?" tanya seorang pria berambut panjang yang berada didalam ruangan.

"Maaf tuan, saya terlambat" pria bermata ular itu membungkukkan tubuhnya.

"Tak apa, jadi apa kau sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Hinata?"

"Seperti dugaanmu, ini memang bukan pembullyan atau sejenisnya, mungkin kecurigaanmu benar, Hinata masih diteror" jawab pria bermata ular itu.

"Kalau itu benar, berarti Hinata sudah diteror selama lima tahun.." pria berambut panjang itu sedikit menggeram. "Semenjak aku kecelakaan lima tahun yang lalu, Hinata tak pernah membahas soal teror itu lagi, jadi kupikir memang orang yang meneror Hinata cuma main-main saja saat itu" pria berambut panjang itu tampak berpikir. "Berani sekali dia membuat adikku yang imut menjadi dingin seperti sekarang!" ucap Pria itu lagi dengan nada kesal. "Cepat cari tahu siapa peneror itu!" perintah pria berambut panjang itu kepada lawan bicaranya.

Pria bermata ular itu langsung mengangguk kemudian pergi dari ruangan itu.

TBC

Pojok review

Herocyn Akko : mmm, disini udah Ita tegasin siapa yang neror hehehe. Maaf Ita ngaret lagi, Huaaaa Ita gak sengaja ngaretnya *bungkuk 90 derajat* beneran deh *puppy eyes* tunggu lagi ya next chapnya :)

Ella9601 : iya kamu bener banget emang Gaara tuh pelakunya hehehe

Yurika-chan : Iya nih emang Gaara anak laki-laki itu.

NurmalaPrieska : makasih loh,, sesuai dugaan gak nih penerornya hehehe

No name : Iya bener,emang Gaara pelakunya. Sip tebakan kamu bener nih.

NJ21 : eumm tebakan kamu bener, emang Gaara pelakunya.

Nurul851 : iya, Hinata masih takut tuh.

HyugaRara :iyahh kamu bener nih

agathalin : *ngangguk* kamu bener banget.

Hana Yuki no Hime :eumm kamu bener hehehe, hahaha maap ya gakbisa UP GELEDEK :D

Cintya : eumm belum bisa ya, gak pa-pa kok lagian di chap ini Ita udah negasin siapa pelakunya jadiiiii gak perlu tebak-tebakan lagi :D

oormiwa : yoshhh tebakan kamu bener banget

Aheleza kawai : hahaha kamu bener ancil(?) itu emang Gaara :D

yui namikaze : kamu bener kok, emang Gaara pelakunya

R : salken juga, hahaha enggak kok Ita emang udah niat gak bikin sad ending

Maap maap maap maaaapppppp karena Ita ngaret lagi, duh kali ini bukan karena Ita sibuk doang tapi di chap ini, gak tau kenapa Ita emang rada lama nulisnya, mungkin efek banyak tugas jadi Ia gak fokus buat nulis *lagi lagi ngasih alesan* :D

Nahh di chap ini, Ita udah negbongkar semua posisi karakter-karakternya, contohnya Gaara, Shion, dan Orochimaru. Kalian pasti udah tau siapa tokoh-tokoh antagonisnya, dan okoh-tokoh baik yang ada di pihak Hinata.

Okeee sampai ketemu di chap selanjutnyaaaaaaaa..