Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya
"Seperti dugaanmu, ini memang bukan pembullyan atau sejenisnya, mungkin kecurigaanmu benar, Hinata masih diteror" jawab pria bermata ular itu.
"Kalau itu benar, berarti Hinata sudah diteror selama lima tahun.." pria berambut panjang itu sedikit menggeram. "Semenjak aku kecelakaan lima tahun yang lalu, Hinata tak pernah membahas soal teror itu lagi, jadi kupikir memang orang yang meneror Hinata cuma main-main saja saat itu" pria berambut panjang itu tampak berpikir. "Berani sekali dia membuat adikku yang imut menjadi dingin seperti sekarang!" ucap Pria itu lagi dengan nada kesal. "Cepat cari tahu siapa peneror itu!" perintah pria berambut panjang itu kepada lawan bicaranya.
Pria bermata ular itu langsung mengangguk kemudian pergi dari ruangan itu.
Look At Me
Hinata mengaduk-ngaduk makanan yang tersedia di hadapannya, matanya jelas sedang memandang makanan di depannya tapi tidak dengan pikiran Hinata. Sejak tadi Hinata memikirkan soal Sasuke dan Gaara yang sekarang sudah ikut terlibat. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan itu masih terasa menjanggal dipikiran Hinata. Sebenarnya SMS apa yang di terima Sasuke dari peneror? Waktu itu kenapa Sasuke dan Gaara bisa di atap bersama? Apa yang sedang mereka bicarakan? Lalu kenapa peneror itu bisa tahu Sasuke dan Gaara sedang bersama? Kenapa disaat peneror itu mengancam Hinata, kebetulan Sasuke dan Gaara sedang bersama?
Deg
Hinata membelalakan matanya ketika dia menemukan kemungkinan dari semua pertanyaannya.
'Apa mungkin selama ini peneror itu ada di sekolah?' batin Hinata. Hinata benar-benar merasa bodoh, kenapa dia bisa tak menyadari kemungkinan itu selama ini? padahal jelas-jelas, selama ini peneror itu selalu mengerjai Hinata di sekolah, itu berarti peneror itu adalah orang-orang yang bisa dengan mudah berkeliaran di sekolah.
Hinata menghela nafas, berarti kemungkinan besar peneror itu adalah orang yang tahu kalau Sasuke dan Gaara sedang bersama. Mungkin saja saat melihat Sasuke dan Gaara sedang bersama, peneror itu baru mengirim SMS ancaman pada Hinata. Atau malah mungkin, Sasuke dan Gaara berada disana karena ulah si peneror, mengingat Sasuke sebelumnya mendapatkan sebuah pesan dari peneror itu, dan kalau kemungkinan ini benar berarti peneror itu adalah orang yang membuat Sasuke dan Gaara bisa bersama. Itulah yang dipikirkan Hinata sekarang.
Hinata meremas sendok yang dia pegang, walaupun Hinata sudah berusaha mengumpulkan semua puzzle dan sudah menyusunnya dengan sangat rapi, tetap saja Hinata merasa belum bisa menemukan jawaban yang tepat.
Entah kenapa perkataan Gaara saat mereka kerja kelompok beberapa minggu lalu muncul di pikiran Hinata.
"Aku tak akan membiarkan orang itu menyakitiku atau menyakiti orang yang ku sayang"
Sebenarnya perkataan Gaara saat itu menyadarkan Hinata akan satu hal, selama ini Hinata hanya terfokus untuk melindungi orang-orang yang disayangnya, tanpa peduli dengan identitas peneror itu, dan apa alasan peneror itu meneror dirinya. Hari itu Hinata sadar, seharusnya dia mencari tahu identitas peneror itu, dengan begitu setidaknya Hinata tidak perlu merasakan hal seperti ini dan Hinata tak perlu menjauhi orang-orang yang di sayangnya. Seharusnya Hinata menceritakan masalah ini dengan orang-orang terdekatnya dengan begitu Hinata bisa menyuruh mereka menjauhinya tanpa perlu melukai perasaan mereka, dan hal inilah yang akhirnya membuat Hinata mau menceritakannya pada Sasuke. Itulah yang dipikirkan Hinata.
Hinata tersenyum tulus, sepertinya ia harus berterima kasih pada Gaara. Karena perkataanya, Hinata merasa lebih baik.
'Pertama-tama aku harus tahu, SMS yang diterima Sasuke dari si peneror' batin Hinata lagi sambil memukul-mukul sendoknya dengan piring.
"Hinata, tak bisakah kau makan dengan normal ?!" Neji memandang Hinata kesal karena dari tadi Hinata terus melakukan sesuatu yang mengganggu acara makan malamnya.
Hinata terkejut mendengar suara itu, dia baru ingat kalau dirinya tidak sedang sendirian di meja makan ini.
"Maaf.." ucapan Hinata terhenti ketika ia melihat makanannya sudah berserakan dan tak berbentuk lagi, padahal ia belum mencicipinya sama sekali.
"Apa yang sedang kau pikirkan, kenapa dari tadi kau hanya memainkan makanannya?" Neji kembali membuka suara ketika ia melihat Hinata sedang menatap piring di hadapannya sendiri dengan tatapan ngeri. Dari tatapan Hinata, Neji tahu kalau Hinata melakukan itu secara tak sadar, dan itu berarti memang ada hal yang sedang dipikirkan oleh adiknya ini.
"Hinata, tidak semua masalah bisa di selesaikan sendiri.. kalau kau menceritakannya, pasti aku akan membantumu, tidak, aku yakin semua temanmu pasti akan membantumu juga"
Look At Me
Perkataan Neji semalam selalu terngiang di telinga Hinata, benar, Hinata tahu tak semua masalah bisa diselesaikan sendiri contohnya adalah masalahnya yang sekarang, tapi untuk meminta bantuan kepada yang lain Hinata tak bisa, terlalu beresiko.
"Hinata, kau tidak masuk"
Suara Sasuke menyadarkan lamunan Hinata, gadis itu kini melihat bus yang berhenti di depannya.
"Hinata" Sasuke melambaikan telapak tangannya di depan wajah Hinata saat dia melihat Hinata kembali melamun.
Lagi-lagi Hinata tersadar kemudian ia menatap Sasuke.
'Bolehkah untuk kali ini aku bersikap egois' sebuah suara muncul di pikiran Hinata.
"Sasuke, mau temani aku bolos" ucap Hinata, dari nada suaranya Sasuke tahu Hinata sedang putus asa, lagipula tiba-tiba Hinata mengajaknya bolos, itu cukup membuktikan Hinata sedang dalam masalah.
Sasuke menggenggam tangan Hinata kemudian membawanya pergi dari halte itu, mereka berjalan ke arah yang berlawanan dari sekolah mereka. Di dalam perjalanan Hinata terus menunduk, dia membiarkan Sasuke menuntunnya.
"Hei, yang mengajakku membolos itu kau, tapi kenapa sekarang kau diam saja?" tanya Sasuke. Hinata menatap Sasuke, lagi-lagi tatapan Hinata menunjukkan kalau dirinya sedang dalam masalah. Sasuke yang tak kuat melihat itu, mengalihkan pandangannya dari Hinata.
"Sebutkan satu tempat yang ingin kau datangi" perintah Sasuke. Hinata diam sebentar sebelum menjawab.
"Aku ingin pergi ke taman dekat SD kita dulu" ucap Hinata pelan. Sasuke menatap Hinata yang sudah kembali menunduk, kemudian ia melepaskan genggamannya dari tangan Hinata.
Hinata sedikit terkejut saat Sasuke melepaskan genggamannya, ia pikir Sasuke tak mau pergi ketempat itu. Tanpa diketahui Hinata, Sasuke tersenyum kemudian menautkan jarinya ke jari-jari mungil Hinata.
"Ayo" Sasuke kembali menarik Hinata. Hinata merasa jantungnya berpacu dengan kecepatan maksimal, dan itu membuat pipinya terasa memanas. Dengan telapak tangan yang tak di genggam Sasuke, Hinata menutupi wajahnya yang mungkin sudah memerah.
Look At Me
Disekolah, semua murid sudah duduk dibangkunya masing-masing karena bel memang sudah bunyi sejak 5 menit yang lalu.
Naruto melihat ke bangku sebelahnya yang kosong, tatapan Naruto jelas menyiratkan kekhawatiran bukan karena teman sebangkunya ini tidak masuk tapi justru karena Hinata juga tak masuk dan kemungkinan besar mereka bolos bersama, dan Naruto tahu, saat istirahat nanti semua siswi pasti akan bertanya padanya, mengingat dulu saat kelas sepuluh, Naruto pernah di jadikan pusat informasi oleh hampir semua siswi karena Sasuke tak masuk sekolah tanpa kabar seperti sekarang. Bedanya, kalau dulu hanya Sasuke yang tak masuk tanpa kabar sedangkan sekarang ada Hinata yang juga tak masuk sekolah tanpa kabar, padahal beberapa hari ini Hinata dan Sasuke sedang dijadikan bahan gosip dikarenakan ada seorang siswi yang tak sengaja melihat mereka berdua keluar bersama dari gedung basket beberapa minggu yang lalu. Naruto yakin beberapa siswi akan menghubung-hubungkan bolosnya Sasuke dengan Hinata, atau setidaknya ada satu gadis yang pasti menyadarinya, Haruno Sakura.
Look At Me
Sasuke dan Hinata sampai di taman dekat SD mereka dulu.
Hinata sangat merindukan tempat ini, dulu saat SD dia dan Sasuke selalu ketempat ini setelah pulang sekolah. Bunga-bunga, bangku-bangku yang di buat mirip seperti batang pohon yang ditebang dan pohon-pohon rindangnya membuat Hinata merasa nyaman.
Walau sesaat, Sasuke bisa melihat Hinata tersenyum. Sasuke tahu tempat ini adalah tempat kesukaan Hinata. Dulu saat SD, Hinata pasti menariknya kesini setelah pulang sekolah. Biasanya Hinata akan bercerita banyak kepadanya sambil memainkan bunga-bunga disini, sedangkan Sasuke akan mendengarkan sambil membaca buku. Sasuke mendesah ketika mengingat Hinata yang selalu menangis setiap kali Sasuke mendengar ceritanya sambil membaca buku. Dulu setiap Sasuke melakukan itu, sambil menangis Hinata selalu bilang 'Kau tidak mau mendengarkanku lagi' atau 'Kau tidak peduli padaku lagi'
Hinata memetik sebuah bunga kemudian ia duduk di salah satu bangku . Sasuke pun ikut di hadapan samping Hinata.
"Umurmu sudah 17 tahun, tapi kau masih suka tempat seperti ini?" Sasuke jelas menyindir sifat kekanakan Hinata yang ternyata belum berubah. Mendengar perkataan Sasuke, Hinata sedikit jengkel tapi ditahannya mengingat mulai hari ini dia akan menyusahkan Sasuke.
"Biasanya aku akan marah, tapi kali ini aku akan pura-pura tak mendengarnya" ucap Hinata sambil mengelus dadanya. Sasuke tersenyum geli melihat itu, sejak penculikan, temperamen Hinata memang sangat buruk.
"Aku tahu kau mengajakku kesini bukan untuk bernostalgia, jadi sekarang katakan padaku, ada apa?" tanya Sasuke, Hinata tak menjawab. "Ahh, jangan-jangan kau memang ingin mengenang masa lalu bersamaku?" lanjut Sasuke dengan nada menggoda.
Kalau ini komik, mungkin sekarang di dahi Hinata terdapat empat siku-siku ditambah asap keluar dari kepalanya pertanda ia sedang menahan kekesalannya. Hinata yakin, jika semua siswa di sekolahnya mendengar Sasuke berbicara seperti sekarang ini, pasti image Sasuke yang dingin, irit bicara, dan keren akan musnah. Seharusnya tadi Hinata merekam kalimat Sasuke setelah itu menyebarkannya ke satu sekolah, kalau itu benar-benar terjadi pasti akan ada dua reaksi yang mungkin terjadi, pertama semua fans-fans Sasuke akan menghilang satu per satu, kedua fans-fansnya justru semakin banyak karena ternyata Sasuke tak sedingin yang mereka kira. Hinata meringis ketika memikirkan kemungkinan fans Sasuke justru semakin banyak, tapi kemudian ia tersadar tujuannya kesini.
"Sasuke, beritahu aku SMS yang kau dapat dari peneror itu" Pinta Hinata.
"Aku kan sudah bilang, aku akan memberitahumu kalau kau juga memberitahuku" balas Sasuke.
"Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi kau dulu" ucap Hinata lagi.
"Kau du.."
"Sasuke aku serius, aku akan menceritakan semunya padamu, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku harus tahu dulu tentang isi pesan yang kau terima" Hinata memotong perkataan Sasuke.
Sasuke menghela nafas "Peneror itu hanya mengajakku bertemu di perpustakaan sekolah" ucap Sasuke.
'Lagi-lagi di sekolah' batin Hinata. sekarang dia semakin yakin kalau peneror itu memang ada di sekolah.
"Lalu, bagaimana bisa kau dan Gaara bersama?" tanya Hinata.
"Oh, itu.. Orochimaru-sensei menyuruhku dan Gaara mengambil alat peraga untuk praktek" jawab Sasuke.
"Kenapa kalian bisa di atap?" tanya Hinata lagi. Hinata sadar ini jadi terdengar seperti introgasi, tapi ia tak peduli, dia butuh kesimpulan yang pasti sekarang.
"Eumm, setelah aku dan Gaara membawa alat peraga itu ke ruang Orochimaru-sensei, aku mengajak Gaara berbicara berdua di atap" Sasuke mencoba mengingat kejadian waktu itu.
Entah kenapa, Hinata merasa kejadian dua hari yang lalu itu seperti bukan rencana dari si peneror. Seolah-olah peneror itu hanya menyuruh Sasuke ke sekolah, dan setelahnya hanya berjalan tanpa rencana kemudian secara kebetulan Sasuke dan Gaara bisa bersama.
"Tunggu, setelah dari perpustakaan, kau kemana?" tanya Hinata.
"Yahh, karena peneror itu tak muncul, aku langsung kembali kekelas, saat itu aku melihat Orochimaru dan Gaara berdiri di depan kelas lalu Orochimaru menyuruhku dan Gaara mengambil alat peraga" Sasuke menceritakan kejadian yang diingatnya saja.
"Kau yakin saat pergi dari perpustakaan, kau tak diikuti?" Tanya Hinata lagi. Pertanyaan itu hanya dibalas anggukan oleh Sasuke.
Mungkin ini memang terjadi secara kebetulan, tapi kalau ini ternyata sudah di rencanakan berarti orang yang membuat Sasuke dan Gaara bisa bersama adalah si peneror dan orang itu adalah, Orochimaru-sensei. Hinata menggelengkan kepalanya, mana mungkin Orochimaru yang melakukannya. Jadi kemungkinan besar, ini memang kebetulan. Ada satu hal yang bisa Hinata pastikan, kebetulan atau bukan, yang jelas orang yang meneror itu adalah orang yang tahu Sasuke dan Gaara sedang bersama, mungkin saja orang itu mengikuti Sasuke dan Gaara sampai mereka di atap.
Look At Me
"Naruto, kemana Sasuke dan Hinata?"
Naruto tersedak saat mendengar suara dari belakangnya, buru-buru ia mengambil minuman dan meneguknya hingga habis.
"Sakura, kau mau membunuhku?!" Naruto membentak Sakura yang sudah duduk di hadapannya.
"Jadi, Sasuke dan Hinata sudah baikan ya?" Tanya Sakura dengan antusias. Sebenarnya Naruto sudah memprediksi pertanyaan ini, tapi tetap saja Naruto belum mendapatkan jawaban yang bisa membuat Sakura percaya dengan mudah. Naruto diam sebentar sambil memikirkan sebuah jawaban.
"Mana aku tahu" akhirnya Naruto memilih untuk tak memberitahu apapun pada Sakura.
"Mana mungkin kau tidak tahu" Sakura tak terima dengan jawaban Naruto barusan.
"Kau kan tahu, Sasuke tak pernah memberitahu apapun mengenai dirinya dan Hinata" ucap Naruto berusaha memberi alasan paling logis.
Sakura menghela nafas setelah membenarkan ucapan Naruto barusan dalam hati. "Tapi, menurutku mereka sudah baikan, tapi kenapa mereka bolos bersama ya?" Sakura tampak berpikr.
"Kenapa kau kira mereka bolos bersama?" tanya Naruto.
"Lalu, apalagi alasan mereka bisa kebetulan absen disaat yang sama tanpa kabar? Mereka pasti pergi bersama, pasti mereka ingin membicarakan masalah mereka berdua" Sakura yakin akan kesimpulannya.
"Yaaah kau benar, kurasa masih banyak yang ingin Hinata ceritakan pada Sasuke tentang tero.." Naruto membekap mulutnya sendiri saat ia sadar apa yang barusan ingin di katakannya, ia berharap Sakura tak mendengar ucapannya tadi. Dan tentu saja, itu hanyalah sebuah Harapan yang tak mungkin terwujud, mengingat Naruto sedang duduk tepat di hadapan Sakura ditambah lagi Sakura memang sedang memusatkan fokusnya pada Naruto.
"Apa maksudmu? Jadi kau sudah tahu alasan mereka bertengkar? Kenapa tak memberitahuku?" tanya Sakura bertubi-tubi.
Naruto menghela nafas, sepertinya Naruto memang harus memberitahukannya pada Sakura. Lagipula, Naruto tahu Sakura bisa di percaya. Naruto mengenal Sakura sejak kecil, jadi Naruto sangat tahu bagaimana sifat Sakura, meskipun dia orang yang cerewet , kasar, dan terkadang menyebalkan, Naruto yakin Sakura dapat dipercaya.
Look At Me
"Kau sudah puas, Sekarang giliranku?" Sasuke menatap Hinata. Hinata mengangguk, untuk memberi tahu bahwa dia sudah siap untuk memberikan semua jawaban yang jujur.
"Waktu itu, kenapa kau berlari kesekolah?" tanya Sasuke.
"Peneror itu mengirim pesan kepadaku, dia menyuruhku untuk sampai di sekolah dalam waktu lima menit, kalau tidak peneror itu akan mencelakai kalian" jawab Hinata.
" Kalian?"Tanya Sasuke yang tak mengerti.
"Yah, kau dan Gaara" jawab Hinata.
Sasuke terdiam, dari ekspresinya Hinata bisa menebak kalau Sasuke juga sudah mencurigai sesuatu.
"Apa mungkin peneror itu ada di sekolah?" tanya Sasuke kemudian.
Hinata menghela nafas, karena pertanyaan yang diajukan Sasuke adalah pertanyaan yang dirinya sendiri juga belum bisa menjawab. Walaupun kemungkinan peneror itu ada di sekolah sangat besar, tapi Hinata tetap belum bisa memastikan.
Tak ada jawaban dari Hinata, tapi bagi Sasuke itu cukup menjelaskan semua keadaannya, Hinata tak yakin dengan jawabannya.
"Tidak usah dipikirkan" ucap Sasuke membuyarkan lamunan Hinata. "Karena kita sudah terlanjur bolos, ayo kita jalan-jalan" Sasuke berdiri dari kursi kemudian ia menarik tangan Hinata, namun Hinata menolak. Hinata malah menarik tangan Sasuke agar kembali duduk.
"Sasuke, aku…" Hinata berhenti sebentar untuk menarik nafas.
'Aku pasti akan menyesali ini' batin Hinata.
"Sasuke, maukah kau membantuku?" tanya Hinata. Lagi-lagi Sasuke teridiam, Sasuke tak tahu harus berkata apa, hari ini Hinata bersikap sedikit aneh, bolos sekolah, lalu tiba-tiba mau menjawab pertanyaannya, dan sekarang Hinata meminta tolong. Walaupun sebenarnya Sasuke menyukai hal ini, tapi tetap saja, Sasuke belum bisa menebak apa yang membuat Hinata berubah pikiran.
"Tentu saja Hinata, memangnya ada apa?" tanya Sasuke, ia berusaha melupakan alasan mengapa Hinata tiba-tiba berubah yang terpenting sekarang Hinata sudah mulai terbuka lagi dengannya.
"Aku ingin mencari tahu identitas peneror itu, maukah kau membantuku?" tanya Hinata lagi.
"Untuk apa?" tanya Sasuke. Bukannya Sasuke tak ingin tahu siapa peneror itu, malahan semenjak Hinata menceritakan kalau dirinya sedang diteror, Sasuke langsung berniat mencari tahu identitas si peneror tapi ia tak pernah berharap Hinata mau melakukannya juga, Sasuke tak mau Peneror itu malah semakin ingin melukai Hinata nantinya.
"Aku tahu kalau kau membantuku, kau juga akan diincar oleh sipeneror tapi aku benar-benar ingin tahu identitasnya, dengan begitu mungkin aku bisa tahu apa kesalahanku sehingga dia menerorku dan mungkin aku bisa minta maaf padanya" jelas Hinata.
Sasuke menghela nafas saat mendengar alasan Hinata, Ia tak menyangka ternyata Hinata masih bisa berpikir untuk meminta maaf, padahal jelas-jelas Hinatalah yang dirugikan disini.
Mendengar helaan nafas Sasuke, membuat Hinata berpikir Sasuke tak mau membantunya, sebenarnya dari awal Hinata ragu akan keputusannya ini, lagipula akan jadi aneh bila Sasuke mau membantunya mengingat Sasuke juga akan jadi incaran si peneror. Mungkin kalau Hinata jadi Sasuke, Hinata juga tak akan mau melakukannya.
"Aku tidak akan meminta banyak bantuanmu, aku hanya ingin kau selalu memberitahuku kalau sipeneror itu mengirim SMS padamu lagi, aku akan mencari cara agar peneror itu tidak tahu kalau kau membantuku jadi kau tidak akan diin.."
CUP
Hinata membelalakan matanya ketika ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya, tak lama memang tapi itu cukup membuat Hinata terpaku.
"Diamlah Hinata, sejak kapan kau jadi secerewet ini?"
Mendengar pertanyaan Sasuke, Hinata jadi tersadar apa yang baru saja terjadi dan itu membuat jantungnya berpacu sangat cepat.
"Kau tak perlu meminta padaku, aku pasti akan menolongmu" ucap Sasuke berusaha terdengar senormal mungkin. Tak jauh berbeda dengan Hinata, Sasuke juga merasa jantungnya berpacu sangat cepat, sebenarnya Sasuke tak sengaja mencium Hinata, itu terjadi karena ia tak suka mendengar Hinata yang masih ragu untuk meminta bantuannya, seharusnya Hinata tahu tanpa perlu meminta pun Sasuke pasti akan membantunya bahkan jika itu akan mengorbankan nyawanya sekalipun, ditambah lagi ucapan Hinata yang terakhir, yang terdengar seolah Hinata tak ingin Sasuke ikut terlibat, itu membuatnya kesal.
Look At Me
Dikantornya, Neji masih memikirkan tentang Hinata. Semalam, Hinata bersikap sedikit aneh, Neji takut peneror itu menyakiti Hinata dan Hinata tak bisa melawan. Setelah mendengar dari Orochimaru soal Hinata masih diteror, Neji jadi merasa bersalah.
Hinata menceritakan kepada Neji bahwa dirinya sedang di teror, tapi saat itu Neji kira Hinata hanya sedang dijahili oleh teman-temannya, karena itu Neji tak terlalu mempedulikan masalah itu.
Keesokannya, setelah Hinata menceritakan masalah teror, Neji kecelakaan mobil. Dan saat sadar dari koma, Neji tak pernah mendengar masalah teror itu lagi dari Hinata, jadi Neji berpikir Hinata memang sedang dijahili pada saat itu. Dan setelah kecelakaan itu juga, sikap Hinata berubah, dulu Neji berpikir Hinata berubah karena adiknya itu sudah mulai beranjak remaja tapi sekarang Neji tahu ini semua karena ulah si peneror dan tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Look At Me
Naruto terus menggerutu semenjak 30 menit yang lalu, bagaimana tidak, sekarang ia sedang dihukum oleh Orochimaru sensei, ia disuruh membersihkan lab Biologi yang amat sangat berantakan mengingat sudah ada 3 kelas yang melakukan praktikum hari ini, ditambah lagi partner yang seharusnya membantu dirinya malah menghilang entah kemana.
Kejadian 3 jam yang lalu..
Naruto sebagai ketua kelas XI IPA 2 disuruh mengumpulkan bahan-bahan praktikum dari semua siswa di kelasnya lalu membawanya ke lab, Naruto sadar ia tak mungkin bisa mengumpulkannya sendiri karena tangannya Cuma ada dua, akhirnya ia berinisiatif untuk meminta bantuan Gaara yang duduk di depannya. Gaara mengiyakan ketika Naruto meminta bantuannya.
Dan saat semua bahan sudah terkumpul, entah Gaara yang tak melihat atau karena Gaara terlalu fokus dengan semua bahan praktikum yang ada di tangannya, akhirnya kejadian naas yang mengorbankan seluruh bahan praktikum pun terjadi. Gaara menabrak Naruto yang sedang membawa bahan praktikum, dan itu sukses membuat semua bahan jatuh berserakan dilantai, baik yang dibawa Gaara ataupun yang di bawa Naruto. Naruto dan Gaara hanya bisa terdiam melihat itu, sedangkan semua siswa yang berada di dalam kelas bersorak senang karena itu berarti mereka tak perlu melakukan praktikum, bukannya mereka tak suka melakukan praktek, sungguh mereka lebih suka praktek dibanding teori, hanya saja mereka tak suka dengan apa yang terjadi setelahnya, yaitu membuat laporan penelitian.
Tak lama, Orochimaru datang dari arah lab biologi, awalnya ia berniat untuk menyuruh siswa-siswa lebih cepat datang ke lab karena jam pelajarannya hanya sebentar, tetapi setelah sampai di kelas XI IPA 2 Orochimaru justru hanya bisa terdiam, Orochimaru bisa melihat Naruto dan Gaara berdiri didepan pintu kelas dengan raut wajah terkejut sambil menatap sesuatu yang berserakan di lantai di tambah suara sorakan gembira dari dalam kelas XI IPA 2. Dari pemandangan buruk yang dilihatnya sekarang, Orochimaru sangat yakin ia harus mengundurkan waktu praktikum untuk kelas XII IPA 2, dan ini semua karena kedua murid yang berdiri di depan pintu kelas, Naruto dan Gaara.
"Naruto! Gaara! Sepulang sekolah kalian harus membereskan lab biologi, aku akan menyuruh OB sekolah untuk mengawasi kalian" ucap Orochimaru, dari nada bicaranya, ucapan Orochimaru terdengar seperti meminta tolong apalagi ditambah senyum polos yang tercetak di wajah Orochimaru. Tapi tidak dengan isi ucapannya, dari isinya jelas sekali ia memberi Naruto dan Gaara hukuman.
Naruto mengumpat dalam hati ketika mengingat kejadian 3 jam yang lalu, menurut Naruto masalah tadi siang itu bukan salahnya, itu hanyalah kecelakaan yang tidak disengaja, tapi kenapa Orochimaru-sensei dengan kejamnya menghukum dirinya dan Gaara.
Ngomong-ngomong tentang Gaara, Naruto jadi ingat kenapa ia mengerutu selama 20 menit ini, bukan karena hukuman tapi karena Gaara menghilang, setengah jam yang lalu Gaara pergi untuk membeli minuman, setahunya jarak dari lab ke kantin hanya butuh waktu 3 menit paling lama 5 menit, tapi sudah hampir setengah jam ini Gaara belum kembali, Naruto hanya bisa berharap Gaara tidak kabur dari hukuman ini, karena kalau sampai itu terjadi, Naruto akan memastikan besok Gaara harus menerima hukuman yang lebih berat dari ini.
Naruto mengambil HPnya, ia berusaha menghubungi Gaara, entah sudah berapa kali Naruto mencoba menghubungi Gaara tapi tidak ada hasilnya, dan kali ini Naruto berjanji kalau Gaara masih tidak mengangkat telponnya, ia akan mengadukan masalah ini kepada Orochimaru-sensei.
Naruto menunggu beberapa detik sebelum akhirnya ia mendengar suara operator dari HPnya lagi-lagi Naruto mengumpat.
30 menit yang lalu..
Gaara pergi untuk membeli minuman, ia pergi kekantin namun sayangnya kantin sekolah sudah sepi, tak ada siapapun dan jajanan apapun lagi disana, karena tenggorokannya sudah tak bisa diajak kompromi, akhirnya Gaara memutuskan untuk membeli diluar sekolah, awalnya Gaara ingin memberitahu Naruto kalau ia akan pergi keluar sekolah, tapi mengingat jarak kantin ke parkiran lebih dekat di banding jarak lab ke parkiran, jadi Gaara yang memang sudah berada di kantin memilih untuk langsung keparkiran dan melesat pergi untuk membeli minuman di toko terdekat.
Gaara memutuskan berhenti di supermarket yang berada 1 kilometer dari sekolah, supermarket ini adalah satu-satunya toko yang berada paling dekat dengan sekolah mereka. Beberapa menit kemudian, Gaara pergi ke kasir untuk membayar beberapa minuman dan makanan ringan yang di belinya. Saat sedang mengantri, HP Gaara berbunyi, menandakan ada telpon masuk. Gaara mengambil HPnya dari saku celana, kemudian menatap nomor tak dikenal yang muncul dilayar, Gaara terkejut, bukan karena nomor tak dikenal menghubunginya tapi karena nomor itu menghubungi nomor Gaara yang dikhususkan untuk meneroror Hinata. Gaara menatap layar HPnya lama.
"Tuan, banyak yang masih mengantri"
Suara penjaga kasir menyadarkan Gaara dari lamunannya, kemudian ia menatap kesekeliling, ia baru sadar kalau orang yang tadi berdiri didepannya sudah menghilang entah sejak kapan yang jelas sekarang sudah gilirannya untuk membayar. Gaara menyerahkan seluruh belanjaannya ke kasir. HP Gaara kembali berbunyi, masih dari nomor yang sama, Gaara mengernyit, mungkinkah Hinata yang menghubunginya, ini pertama kalinya Hinata menghubungi nomor untuk menerornya, Gaara sedikit ragu dengan pemikiran itu, pasalnya selama ini Hinata tidak pernah menghubungi nomor ini bahkan saat Gaara mengirim teror pun Hinata tak pernah membalas pesannya tapi kenapa tiba-tiba sekarang Hinata menelponnya.
"Tuan.."
Gaara kembali tersentak, kali ini ia melihat kasir itu sudah menyodorkan plastik belanjaannya, kemudian kasir itu menyeutkan harga yang harus dibayar. Gaara langsung kembali sekolah, sesekali ia melirik jam tangan, ia sadar kalau dirinya sudah meninggalkan Naruto sendirian di lab, sebenarnya tadi ia sudah berniat menghubungi Naruto namun ia ingat kalau dirinya tak punya nomor Naruto. Gaara pergi ke lab, melewati koridor kelas XI, tepat di kelas XI IPA 4, Gaara merasa HPnya kembali berbunyi, lagi-lagi dari nomor yang sama.
'Apa Hinata sudah mulai mencari tahu tentang orang yang menerornya?' tanya Gaara dalam hati.
Naruto hampir saja melompat karena terkejut, bagaimana tidak, Gaara tiba-tiba muncul diambang pintu tanpa permisi atau setidaknya mengucapkan sesuatu agar Naruto mengetahui kehadirannya. Tapi keterkejutan itu hanya berlangsung sebentar, karena tiba-tiba Naruto ingat sesuatu yang lebih penting untuk dibahas sekarang.
"Kemana saja kau? Aku hampir saja mengerjakan ini semua sendiri" Naruto mulai mengeluarkan keluhannya.
"Maaf, tadi kantin tutup jadi aku beli diluar" ucap Gaara sambil menunjukkan kantong plastik yang penuh dengan makanan dan minuman, melihat itu Naruto jadi tergiur, tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya, bukankan ia sudah berniat memarahi Gaara habis-habisan jadi ia tak boleh tergoda dengan makanan itu.
"Kalau begitu seharusnya kau menghubungiku!"Naruto kembali memarahi Gaara.
"Aku tidk punya nomormu" jawab Gaara enteng.
"Setidaknya kau harus mengangat telpon dariku" Naruto maih tak terima. Mendengar ucapan Naruto, Gaara terdiam.
"Kau..menghubungiku?" tanya Gaara ragu. Naruto mengangguk mantap sebagai jawaban.
'Jangan-jangan..'
"Coba kulihat nomorku yang kau hubungi" pinta Gaara.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto heran.
"Ah..itu..aku hanya takut kau salah nomor" jawab Gaara.
"Tak mungkin salah, aku dapat nomor ini saat aku meminjam HPmu untuk mencari HPku, kau ingat kan?" Naruto mengingatkan kejadian kemarin.
"Coba kulihat" Gaara tak peduli dengan perkataan Naruto yang dipedulikannya sekarang nomor HPnya yang ada di Naruto.
"Baiklah" ucap Naruto sambil mengambil HP di saku celananya, kemudian mengetik sesuatu disana,tak lama, ia memberikan HPnya pada Gaara.
Gaara mengambil HP yang disodorkan Naruto kemudian melihat nomor yang tertera di layar, Gaara membelalak ketika melihat nomor yang digunakannya untuk meneror Hinatalah yang ada di layar itu.
"Ada apa?" tanya Naruto saat melihat reaksi Gaara yang berlebihan.
" ..tidak, kenapa nomor ini yang ada di HPmu?" tanya Gaara.
"Oh, waktu itu kau bilang gunakan SIM 1, tapi aku tak sengaja menyentuh SIM 2, maaf .." Naruto jadi merasa bersalah. "Lagipula, saat itu nomorku tidak aktif jadi tidak akan mengabiskan pulsamu" tambah Naruto memberi alasan.
"Oh tidak apa-apa, hanya saja nomor ini sudah hilang, pantas saja aku tak menerima telponmu" ucap Gaara.
"Oh ya, kapan?" tanya Naruto, setahunyabaru kemarin dia menggunakan nomor itu untuk menghubungi HPnya.
"Kemarin.." jawab Gaara singkat. "Itu tidak penting, lebih baik sekarang kau simpan nomorku yang sekarang saja" lanjut Gaara sambil mengutak-atik HP Naruto, dia segera menghapus nomor itu dan juga panggilan masuk atau panggilan keluar yang berhubungan dengan nomor itu. Gaara harus memastikan nomor itu tak meninggalkan jejak di HP Naruto. Setelah itu Gaara memasukkan nomor yang digunakannya untuk umum.
"Ini.." Gaara mengembalikan HP Naruto.
TBC
Pojok review
sabrina : eumm bener ya, oke terus baca ya… :)
HyugaRara : iya bentar lagi juga ketahuan kok, paling 3 chap lagi juga udah selesai nih.. baca terus ya.. :)
hyacinth uchiha : iya nih, bentar lagi juga pada tahu kok.. baca terus yaa.. :)
Herocyn Akko : huaaa… Ita di tabok *Hiks* maapin Ita…. Semenjak masuk sekolah emang jadi susah buat fokus kesini, maap ya, sekali lagi maappppp
Nurul851 : yaampunn lama banget ya.. maapin Ita, iya Ita gak bakal discontinue kok tenang aja. Iya emang Gaara pelakunya, yap mungkin emang Naruto yang bakal jadi orang pertama tahu.
Hana Yuki no Hime : tebakannya bener ya hehehe, oke baca terus ya..
hiru nesaan ; iya nih bener, yap kamu bener lagi,, eum kalau masalah itu disini Ita udah nyinggung dikit ya, jadi dulu tuh Neji belum sempet nyelidikin, eh udah dicelakain..
NJ21 :hehehe gak nyangka ya? :D , yup kamu bener banget Orochi ada di sekolah ini buat nyelidikin masalah Hinata.
Al : makasih Al, baca terus ya..
Cintya :eumm mungkin kamu bener, Naruto bakal jadi pahlawannya :D tapi soal nomor Naruto udah kehilangannya tuh hehehe..
Mey : iya disini Ita udah banyakin kan, tapi kurang banyak ya… emm kalo masalah adegan romantis Ita sih udah berusaha nyelipin tapi gak tau deh itu romantic atau enggak :D maap ya.. tapi nanti pas masalahnya udah selesai, Ita janji bakal banyak adegan romantisnya SasuHina
NurmalaPrieska : emang tampang Orochi nyeremin sih jadinya pantes di curigai :D
Kuroyuki-hime : hahaha serius nih, oke baca terus ya…
oormiwa : yup orang yang ngobrol ma Neji emang Orochi, iya bener bangettt gaara bakal neror Hinata sampe Hinata ngerasain hal yang sama. Eumm masalah jatuh cinta sih liat entar deh, niatnya sih enggak tapi Ita kan rada labil :D
yui namikaze : iya . iya . okeee baca terus ya dan semangat juga…
fiuhh akhirnya Ita bisa selesain chap ini, kayak biasa Ita mau minta maap karena ngaret *masang muka watados*
Di chap ini, Neji, Sasuke, sama Hinata udah siap-siap buat nyari tahu si peneror, jadi udah pasti sebentar lagi Gaara bakal ketahuan dan itu berarti ff ini bakal tamat, jadi sebelum ff ini tamat Ita sekali lagi mau minta maaf karena sering nguaret..
Terakhir, see you next chap(?) minna….
