Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya…
"Kemarin.." jawab Gaara singkat. "Itu tidak penting, lebih baik sekarang kau simpan nomorku yang sekarang saja" lanjut Gaara sambil mengutak-atik HP Naruto, dia segera menghapus nomor itu dan juga panggilan masuk atau panggilan keluar yang berhubungan dengan nomor itu. Gaara harus memastikan nomor itu tak meninggalkan jejak di HP Naruto. Setelah itu Gaara memasukkan nomor yang digunakannya untuk umum.
"Ini.." Gaara mengembalikan HP Naruto.
Look At Me
Gaara berdiri di tembok pembatas yang berada di atap sekolah, matanya sibuk memperhatikan siswa-siswa yang sedang bermain bola dibawah, sesekali ia menghirup udara yang berhembus kencang di atap ini. Gaara memejamkan mata, mencoba menikmati suasana nyaman disekitarnya. Saat matanya terpejam, entah kenapa ingatan mengenai kejadian kemarin muncul dibenaknya.
Seperti biasa setiap jam istirahat Gaara akan pergi ke atap, dulu Gaara dan Hinata sering datang kesini bersama, tapi beberapa hari belakangan ini Hinata tak pernah kesini lagi, sebenarnya Gaara juga tak terlalu peduli , toh dia memang lebih menikmati saat dirinya tak bersama Hinata dan yang lainnya. Tapi hari ini kenikmatan itu harus diganggu dengan kedatangan Hinata, Gaara hanya menatap Hinata datar saat gadis itu berjalan mendekatinya bahkan saat Hinata sudah berdiri disampingnya. Gaara masih memandang Hinata, menunggu gadis itu berbicara sesuatu, namun nihil, Hinata hanya diam sambil terus memandangi beberapa siswa yang sedang bermain dibawah.
"Biar kutebak…" ucap Gaara membuka pembicaraan. "Kau pasti punya masalah" lanjut Gaara, kali ini Gaara ikut memperhatikan beberapa siswa yang berkeliaran di bawah.
Hinata menoleh saat mendengar pernyataan Gaara, kemudian ia merenggut kesal. "Biasanya kau selalu benar, tapi kali ini salah!" ucap Hinata kesal. Mendengar nada bicara Hinata yang kekanakkan, Gaara tersenyum geli kemudian ia menoleh untuk melihat ekspresi Hinata yang pasti lebih lucu.
"Benarkah?" tanya Gaara masih dengan senyum geli yang tersungging di wajahnya. Pertanyaan Gaara barusan hanya untuk menggoda Hinata, tapi dilihat dari reaksi Hinata yang langsung terdiam, Gaara mengira Hinata tidak menganggap itu godaan atau sejenisnya.
"Aku hanya bercanda" ucap Gaara berusaha mengembalikan keadaan seperti semula.
"Tidak, kau benar, sebenarnya aku tidak tahu ini masalah atau bukan.." ucap Hinata sambil menunduk. "Tapi kuharap bukan" lanjut Hinata.
"Ada apa?" tanya Gaara yang tak mengerti arah pembicaraan Hinata.
Hinata terdiam sesaat, "Aku ingin mencari tahu identitas peneror itu, menurutmu apa hal itu akan menjadi masalah?" Hinata bertanya hati-hati, berharap jawaban yang diberikan Gaara nantinya bisa sedikit menenangkan perasaannya.
Gaara menoleh saat mendengar ucapan Hinata, kemudian ia tersenyum. "Kurasa tidak.." jawab Gaara.
'…tidak akan jadi baik-baik saja' lanjut Gaara dalam hati.
"Benarkah?" tanya Hinata sambil menunduk.
"Yahh, menurutku ada baiknya kalau kau mencari tahu identitas peneror itu" ucap Gaara.
"Benarkah?" tanya Hinata lagi, ia masih kurang yakin dengan keputusannya.
Gaara tersenyum kemudian ia mengusap rambut Hinata pelan "Kau tenang saja, lagipula akan ada orang yang membantumu kan?" tanya Gaara masih dengan senyumnya.
Hinata mengangkat kepalanya untuk melihat Gaara "Yaa, Sasuke akan membantuku" ucap Hinata sambil mengangguk.
"Sasuke?" tanya Gaara memastikan pendengarannya.
"Yaa, Sasuke, memang kenapa?"
"Tidak, kukira kau akan meminta bantuan kakakmu"
"Kakakku pernah celaka karena peneror itu, aku tidak mau mengambil resiko dengan meminta bantuannya" jelas Hinata.
"Lalu Sasuke? Kau tidak takut dia akan dicelakai sipeneror?" tanya Gaara.
"Bukan begitu, hanya saja.." Hinata diam sebentar. "..sebenarnya..Saseke pernah mendapat SMS dari sipeneror jadi kupikir peneror itu akan terus mengganggu Sasuke, dan Sasuke juga tak akan bilang padaku jika aku tak melibatkannya dalam hal ini,karena itu aku meminta bantuannya, dengan begitu setidaknya aku bisa memantau Sasuke, tapi.. aku tak berniat melibatkan Sasuke lebih jauh lagi, aku tak ingin Sasuke dicelakai juga" Hinata menceritakan semua alasannya pada Gaara. Entah kenapa, untuk masalah teror ini, Hinata lebih nyaman berbicara dengan Gaara, bahkan saat Hinata membongkar semua yang di alaminya akibat ulah sipeneror pun Hinata tak merasa takut. Biasanya, jangankan untuk bercerita, untuk memulai sebuah hubungan dengan orang lain saja Hinata takut, ia tak mau nantinya orang-orang itu akan ikut di teror.
"Kau.. menyukai Sasuke?" tanya Gaara.
Hinata terkejut saat mendengar pertanyaan Gaara " .. ..ten..tentu saja tidak" Hinata jadi gelagapan, bahkan pipinya sudah terasa memanas.
"Seberapa penting Sasuke bagimu?" tanya Gaara lagi.
Mendengar pertanyaan Gaara yang kedua, Hinata langsung menunduk. "Sangat penting, bagiku Sasuke sama pentingnya dengan Neji-nii" ucap Hinata pelan.
Gaara menghela nafas pelan 'Sasuke yaa..'
"Aku juga akan membantumu" ucap Gaara sambil tersenyum.
"Uchiha Sasuke, sepertinya kau bukan orang yang beruntung" ucap Gaara. "Padahal, aku berharap orang yang paling berharga untuk Hinata adalah saudaranya tapi ternyata dia memilihmu, sayang sekali.." Gaara melanjutkan. "Kalau orang itu kakaknya, pasti akan lebih menyenangkan, iyakan Shion?" tanya Gaara.
Shion yang baru muncul langsung membelalak, seingatnya dia bahkan belum mengeluarkan sepatah kata pun, tapi bagaimana Gaara tahu kalau dirinya ada disini. Gaara membalikkan tubuhnya, sekarang dia berdiri berhadapan dengan Shion.
"Kak, apa tidak apa-apa kau sendirian disini?" tanya Shion ragu, Gaara mengangkat alisnya, ia bingung dengan maksud pertanyaan Shion barusan. "A..aku bisa membantumu" tawar Shion. Mendengar penawaran Shion, Gaara baru mengerti arah pembicaraan mereka.
"Ini bukan urusanmu, kau tidak perlu terlibat lebih dari ini" ucap Gaara. "Lagipula, kau bukan anak kandung ayah, jadi kau tidak perlu ikut campur" lanjut Gaara lagi, kali ini nada bicaranya terdengar sangat tajam.
Shion menunduk ketika mendengar kalimat Gaara yang terakhir, Shion tahu, Gaara mengatakan hal itu bukan karena dia tak menganggap Shion sebagai adik atau sejenisnya, kakaknya itu hanya ingin ia tak memaksa untuk membantu, Gaara hanya ingin shion hidup tenang tanpa memikirkan dendam.
"Baiklah.." ucap Shion pelan. "Besok aku akan berangkat ke London.. kuharap kakak akan menyusulku suatu saat" lanjut Shion.
Gaara memandang Shion dengan tatapan nanar, sebenarnya ia ingin sekali hidup bahagia bersama adiknya ini, tapi ia tak bisa begitu saja melupakan kejadian lima tahun yang lalu, perasaan takut, marah dan sedih yang di tinggalkan lima tahun lalu belum bisa dihilangkannya, perasaan itu masih terus menghantui Gaara setiap malamnya. Satu-satunya cara menghilangkan perasaan itu, hanya dengan membuat Hinata merasakan hal yang sama.
"Aku tidak bisa berjanji" ucap Gaara.
"Aku akan menunggu kakak, berhati-hatilah" ucap Shion, kemudian ia pergi meninggalkan Gaara sendirian di atap.
Look At Me
To : Sasuke
From : 08xxxxxxx
Aku adalah orang yang selama ini meneror Hinata
Kau ingin tahu siapa aku?
Datanglah kesekolah sekarang, aku akan menunggumu di Perpustakaan.
Sudah sejak sepuluh menit yang lalu, Sasuke memandangi layar HPnya. Berkali-kali ia membaca isi pesan yang didapatnya beberapa hari yang lalu, dari isi pesannya, Sasuke yakin orang yang mengirim ini adalah orang yang bisa berada di sekolah dengan leluasa, apalagi semenjak ia tahu kejadian-kejadian aneh yang dialami Hinata di sekolah adalah ulah orang yang mengirimi Sasuke pesan ini.
Sejak Hinata menceritakan semua masalah teror itu, Sasuke berjanji akan mencari pelakunya. Sasuke tak akan membiarkan orang itu mengganggu Hinata, apalagi sampai menyakiti gadis itu. Sebenarnya sangat mudah untuk Sasuke mencari tahu siapa pelakunya, mengingat sang kakak adalah anggota kepolisian. Tapi setelah tahu kalau peneror itu bisa dengan mudah mengetahui gerak-gerik mereka, Sasuke jadi khawatir, ia takut sebelum kakaknya berhasil mendapatkan identitas pelaku, Hinata justru sudah menjadi korban.
Sasuke menghela nafas, entah sudah berapa kali Sasuke melakukan hal yang sama yang jelas hal itu tetap tak membuatnya mendapat ide untuk membongkar identitas pelaku.
"Sasuke kau itu sangat mengganggu" ucap Naruto tiba-tiba.
Sekarang mereka berdua sedang makan dikantin sekolah, Naruto yang sedari tadi melihat gerak-gerik Sasuke, jadi sedikit merasa terganggu, bukan karena khawatir dengan keadaan Sasuke tapi justru karena akibat ulah aneh Sasuke, sekarang banyak sekali siswi yang berkumpul untuk menonton acara makan siang Naruto yang seharusnya tenang. Semua siswi ini sibuk menganggumi wajah Sasuke yang sedang terlihat frustasi ini, bagi Naruto semua siswi-siswi itu memang sudah terkena penyakit mental, bagaimana bisa orang yang bahkan sedang frustasi dibilang tampan? Apa mereka tidak lihat, wajah Sasuke sekarang sudah seperti orang yang ingin melempar HP yang digenggamnya?
Drrrtttt Drrrrtt
HP Sasuke bergetar menandakan ada pesan masuk, melihat nomor yang tertera di layar, Sasuke langsung membuka isi pesan itu.
To : Sasuke
From : 08xxxxxxx
Kalian berdua tidak perlu mencari tahu identitasku, lagipula sebentar lagi kita akan bertemu.
Aku akan mencari waktu yang tepat dan tempat yang nyaman untuk kita bertiga.
Sampai ketemu nanti :)
Sasuke mendengus ketika membaca pesan itu, kesal, marah, dan muak bercampur menjadi satu dan membentuk perasaan benci, ingin rasanya Sasuke membunuh orang itu dengan tangannya sendiri. Tanpa sadar Sasuke membalas pesan itu.
To : 08xxxxxxx
From : Sasuke
Aku yakin sekarang kau sedang di sekolah?
Mau bertemu?
Sasuke tak yakin pesan itu akan sampai kepeneror, mengingat Hinata pernah bilang nomor itu tak pernah aktif jika Hinata balik menghubungi, dan tidak pernah terkirim jika Hinata membalas pesan dari sipeneror. Baru saja Sasuke meletakkan HPnya di meja kantin, benda kecil itu bergetar. Sasuke sedikit terkejut, dengan ragu dia mengambil HPnya.
To : Sasuke
From : 08xxxxxxx
Kau benar, aku sedang bersama Hinata di perpustakaan.
Aku sudah bilang sebentar lagi kita akan bertemu jadi tidak perlu terburu-buru.
Sasuke membelalak ketika membaca pesan itu, reflek ia berdiri dan pergi dari kantin, ia tak mungkin membiarkan peneror itu bersama Hinata.
"Sasuke! Kau mau kemana?!" Naruto yang sedari tadi melihat gerak-gerik Sasuke yang mencurigakan iku berdiri dan mengikuti Sasuke.
Semakin lama langkah Sasuke semakin cepat, Naruto yang sudah ketinggalan jauh terpaksa sedikit berlari agar tak kehilangan jejak Sasuke.
Sasuke sampai di perpustakaan, kemudian ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Hinata, ketemu, gadis itu duduk di pojok ruangan dengan buku setebal lima centi meter di genggamannya. Dengan langkah terburu-buru Sasuke mendekati Hinata.
"Hinata!" panggil Sasuke sambil menarik tangan Hinata hingga gadis itu berdiri dari kursinya.
Hinata terkejut saat melihat Sasuke yang tiba-tiba muncul dan langsung menariknya seperti ini.
"Ada apa?" Tanya Hinata yang masih dilanda keingungan.
"Apa tadi ada orang yang mencurigakan disini? Apa terjadi sesuatu? Kau tak apa?" Tanya Sasuke bertubi-tubi sambil melihat keadaan Hinata, Sasuke takut Hinata terluka.
Hinata menggeleng, meskipun sebenarnya Hinata tak tahu apa maksud Sasuke, tapi melihat Sasuke yang panik Hinata piker setidaknya ia harus menenangkan Sasuke dulu baru bertanya.
"Aku tidak apa-apa Sasuke-kun" ucap Hinata lembut.
"Sungguh?" Tanya Sasuke yang masih ragu. Kali ini Hinata mengangguk samil tersenyum.
"Ada apa Sasuke-kun?" Hinata bertanya lagi setelah melihat Sasuke lebih tenang.
"Peneror itu bilang dia disini bersamamu" jawab Sasuke. Kali ini Hinata yang jadi panik.
"Benarkah? Dimana?" Hinata mengedarkan pandangannya untuk mencari peneror.
"Ehh? Naruto?" Hinata terkejut saat melihat Naruto berdiri beberapa meter di belakang Sasuke. Reflek Sasuke membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang disebut Hinata tadi.
Naruto langsung merutuki kebodohannya, seharusnya tadi dia langsung pergi saat melihat Sasuke menemui Hinata, bukannya malah berdiri disini dan mendengar pembicaraan mereka.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Sasuke pada Naruto.
"Tadi saat dikantin kau bertingkah aneh, jadi aku ingin memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi" Naruto menjawab sambil menggaruk kepalanya, pertanda dirinya canggung dan gugup. "Eumm.. sepertinya kau tidak apa-apa, jadi aku pergi dulu" Naruto langsung membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi, ia takut Sasuke dan Hinata sadar kalau dirinya mendengar pembicaraan mereka tentang peneror., dari pada mecari masalah lebih baik Naruto mengambil langkah seribu.
"Tunggu.." ucap Sasuke menghentikan langkah Naruto.
Naruto mengumpat dalam hati, pasti Sasuke sudah sadar kalau dirinya kemungkinan besar sudah mendengar percakapan mereka. Naruto membalikkan tubuhnya lagi, kali ini ia berhadapan dengan Hinata dan Sasuke.
"Ada apa?" Tanya Naruto takut-takut.
"Sejak kapan kau tahu masalah ini?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi.
Naruto bingung, pertanyaan Sasuke tak sesuai dengan dugaannya, ia mengira Sasuke akan bertanya 'Apakah kau mendengar pembicaraanku dengan Hinata?' atau 'Kau tidak mendengar paapun kan?' jika pertanyaannnya seperti itu, Naruto pasti dengan tegas menjawab 'Tidak' tapi pertanyaan Sasuke sekarang tidak bisa dijawab dengan satu kata itu, untuk memberi jawaban lain pun Naruto kurag yakin, karena dirinya bahkan tidak mengerti maksud pertanyaan Sasuke sekarang.
"Maksudmu?" akhirnya Naruto malah balik bertanya.
"Kalau kau baru pertama kali mendengar 'masalah' ini seharusnya kau memasang ekspresi terkejut, tapi ekspresimu sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda itu, malah kau trlihat seperti orang yang sudah tahu sejak lama" Sasuke menjelaskan dengan menekankan kata 'masalah'.
Naruto mengumpat dalam hati, sepertinya ia harus mengutuk kepintaran dan ketelitian Sasuke suatu saat.
"Eumm..apa maksudmu?" Tanya Naruto lagi sambil tersenyum kikuk, ia masih berharap Sasuke akan percaya kalau dirinya tak mengetahui apapun.
"Kau ini bicara apa Sasuke, aku tidak mengerti" kali ini Hinata ikut bersuara setelah mengamati pembicaraan Sasuke dan Naruto.
"Naruto, sebenarnya aku tidak mau melibatkanmu jadi, bisakan kau tetap pura-pura tidak tahu" ucap Sasuke pada Naruto.
Naruto mengangguk "A..aku memang tidak ta..tahu a..apapun" jawa Naruto setelah itu ia berlari keluar dari perpustakaan.
Hening, setelah Naruto pergi dengan cara seperti itu, tiba-tiba suasana di perpustakaan menjadi sepi. Sasuke dan Hinata pun saling diam, masih sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Aku tidak mengerti Sasuke" Hinata membuka pemicaraan.
"Intinya, selama ini Naruto sudah mengetahui soal peneror itu" jawab Sasuke kemudian ia duduk di salah satu kursi.
Hinata membelalak. "Darimana ia tahu? Sejak kapan?"
Sasuke menggeleng. "Aku tidak tahu, yang jelas kita tidak boleh melibatkan Naruto" ucap Sasuke.
Hinata mengangguk mantap, ia tak mau ada orang lain lagi yang terlibat dalam masalah ini, cukup dirinya, Sasuke dan..Gaara. menyebut nama Gaara, Hinata jadi teringat percakapan antara dirinya dan Gaara kemarin di atap, saat Gaara tiba-tiba menawarkan bantuan dan dengan senang hati ia menerima. Hinata bingung, kenapa ia tak merasa takut Gaara dicelakai sipeneror.
Look At Me
Keesokannya, Naruto berangkat lebih pagi, hari ini ia harus bertemu dengan guru Guy, guru Guy adalah Pembina ekskul basket. Kemarin, guru yang terkenal paling bersemangat ini menyuruh dirinya dan Sasuke datang kesekolah lebih pagi untuk mempersiapkan kebutuhan perlombaan yang diadakan lusa di sekolah mereka, perlombaan antar sekolah ini memang selalu diadakan setiap tahun, dan tempat pelaksanaannya selalu bergilir, tahun ini sekolah mereka yang jadi tuan rumah. Karena itu, semua anggota tim basket harus ikut mepersiapkan kebutuhan perlombaan, sebenarnya semuanya sudah beres sejak seminggu yang lalu, tapi mengingat tak lama lagi perlombaan itu dimulai, guru Guy ingin memastikan semuanya sudah lengkap jadi ia menyuruh Sasuke dan Naruto selaku kapten dan wakil kapten untuk memeriksa lagi kelengkapannya, takut-takut ada yang kurang atau ketinggalan.
Tapi semenjak kejadian kemarin, Naruto jadi sedikit canggung berbicara dengan Sasuke makanya sekarang ia berada di ruangan basket ini sendirian, meskipun ini seharusnya ini adalah tugasnya dan Sasuke.
"Beres" Naruto menghembuskan nafas lega, semuanya sudah selesai di periksa, dan dia masih punya dua puluh menit sebelum bel masuk, jadi Naruto memutuskan untuk istirahat dulu disini. Naruto merebahkan tubuhnya dilantai ruang basket yang dingin, kemudian ia menutup mata mencoba menikmati suasana nyaman.
"Ya, aku akan mengawasi Hinata"
Naruto tersentak ketika mendengar suara seseorang dari luar ruangan basket ini, bukan karena suara itu tiba-tiba muncul tapi karena nama Hinata disebut-sebut, akhir-akhir ini Naruto memang sedikit sensitive jika ada yang menyebut-nyebut nama gadis itu, apalagi kalau kalimatnya mencurigakan seperti sekarang.
Naruto menajamkan pendengarannya, suara orang itu terdengar tak asing di telinga Naruto. Suaranya seperti….
"Tenang saja, aku akan membunuhnya"
'Orochimaru-sensei!' Naruto memekik didalam hati. 'Siapa yang akkan dibunuh? Jangan-jangan…Hi..ah tidak mungkin' Naruto meyakinkan dirinya.
"Baiklah, aku mengerti" ucap Orochimaru lagi.
Setelah mendengar itu, tiba-tiba suasana menjadi hening, sepertinya Orochimaru sudah pergi. Naruto langsung berdiri kemudian ia mengintip keluar melalui lubang kunci pintu. Tidak ada siapapun, yah Naruto yakin Orochimaru benar-benar sudah pergi.
"Dengan siapa Orochimaru-sensei bicara tadi?" Tanya Naruto entah pada siapa.
Look At Me
Jam istirahat, tak seperti biasa, Naruto masih duduk di bangkunya meskipun semua murid dikelasnya sudah tidak ada di kelas. Naruto masih belum bisa melupakan perkataan Orochimaru tadi pagi, kata-kata Orochimaru itu terus mengganggu pikirannya.
"Ahhh!" Naruto menggeram kesal, seandainya hari itu dia tidak mendengar cerita Hinata pasti perasaan mengganggu ini tidak akan dirasakannya sekarang.
Entah kenapa Naruto merasa bersalah pada Hinata jika tidak memberitahu apa yang didengarnya tadi pagi, kalau sampai terjadi sesuatu pada Hinata dan itu benar-benar karena ulah Orochimaru, Naruto yakin dirinya akan menyesal seumur hidup, tapi Naruto juga sudah berjanji kalau dirinya tak akan terlibat masalah ini.
"Ahh, bagaimana ini?" Naruto menjambak rambutnya sendiri.
"Beritahu..tidak…beritahu…tidak..beritahu..." ucap Naruto sambil menunjuk kancing bajunya satu-persatu.
"Baiklah, Aku akan memberitahu!" ucap Naruto lagi sambil menggebrak meja.
"Apanya yang akan kau beritahu?" Tanya seseorang yang muncul entah darimana, dari suaranya Naruto sudah bisa menebak siapa orang yang tiba-tiba muncul ini.
"Sakura, kenapa kau ada disini?" Tanya Naruto.
"Memangnya kenapa? Ini kan kelasku juga" Sakura langsung mengernyit tak suka pada Naruto.
Naruto menghela nafas, "Benar juga" ucap Naruto sambil mengangguk.
Sakura Naruto bingung, tak biasanya pria berambut kuning mengiyakan perkataannnya semudah itu, biasanya dia pasti akan beradu argument dulu.
"Ada apa Naruto?" Tanya Sakura.
"Ti.."
"Jangan katakan 'tidak ada apa-apa' aku tahu kau pasti sedang punya masalah" Sakura langsung menebak apa yang ingin diucapkan Naruto, dan tak mungkin Sakura percaya itu.
Lagi-lagi Naruto menghela nafas, seperti biasa, Naruto tidak bisa menyembunyikan apapun dari Sakura. Akhirnya Naruto memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Sakura, dari masalah di perpustakaan sampai masalah tadi pagi bahkan perasaan dilemanya pun ia beritahukan pada Sakura.
"Yasudah, beritahu saja" ucap Sakura enteng.
"Mudah sekali kau mengatakannya" balas Naruto.
"Memang itu mudah kan? Lagipula apa alasannya kau tidak mau memberitahunya? Kau takut dengan si peneror?" Tanya Sakura bertubi-tubi.
"Tidak, aku tidak takut" dari semua pertanyaan hanya pertanyaan terakhir yang dijawab Naruto.
"Lalu?"
"Yahh, Sasuke bilang aku tak boleh terlibat, jadi yaa.."
"Sasuke mengatakan itu, karena dia tak ingin kau terluka, lalu kau sendiri? Apa kau akan membiarkan Sasuke dan Hinata terluka karena kau tak mau meberitahukannya?" Tanya Sakura lagi.
Naruto menghela nafas, "Baiklah," Naruto langsung berdiri, "Aku akan mencari Sasuke dan Hinata dulu"
"Tadi aku melihat Hinata pergi ke atap tapi aku tidak tahu ia bersama Sasuke atau tidak" ucap Sakura sebelum Naruto benar-benar pergi.
Look At Me
Naruto sampai di depan pintu atap, dengan ragu ia membuka pintu itu, semilir angin langsung menerpa wajahnya ketika pintu itu terbuka. Naruto langsung mengedarkan pandangannya, mencari Hinata. Pandangan Naruto berhenti ketika ia menemukan objek yang sedang dicarinya, Hinata berdiri membelakangi dirinya bersama dengan seseorang berambut merah..
"Gaara?" ucap Naruto bingung, kenapa Gaara bisa bersama Hinata.
Naruto mendekati mereka berdua dengan langkah pelan. Tapi sepertinya, Gaara dan Hinata tetap bisa merasakan kehadirannya, terbukti dari mereka yang langsung membalikkan tubuh mereka padahal Naruto masih berada kurang lebih tiga meter dari mereka berdua.
"Naruto?" ucap Hinata.
"Hinata, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Naruto saat sudah sampai didepan Hinata.
"Bicara? Soal?" Hinata masih merasa bingung, setahunya ia tak pernah punya urusan dengan Naruto kecuali saat..
"Soal yang diperpustakaan" jawab Naruto.
"Ada masalah apa? Bicara saja disini, Gaara juga tahu kok masalah terror itu" ucap Hinata.
Naruto membelalak ketika tahu kalau Gaara juga mengetahui masalah ini. Sedangkan Gaara mengernyit memandang Naruto seolah tak percaya, Naruto juga mengetahuinya.
"B..benarkah?" Tanya Naruto.
Hinata mengangguk.
"Eum, tapi bisakan kita bicara berdua saja?" pinta Naruto lagi. Entah kenapa Naruto merasa kurang yakin untuk membicarakan masalah ini dengan Gaara.
"Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Gaara kemudian melangkah pergi dari atap.
"Ada apa?" Tanya Hinata pada Naruto, saat melihat Gaara sudah menutup pintu masuk atap.
"Aku.." Naruto mulai menceritakan masalah tadi pagi pada Hinata, kemudian ia mengatakan soal kecurigaannya pada Orochimaru dan terakhir ia meminta Hinata untuk berhati-hati.
"Benarkah? Orochimaru?" Tanya Hinata.
"Aku tidak yakin Hinata, aku juga takut salah dengar, tapi lebih baik kau tetap berhati-hati" jawab Naruto.
Hinata diam sebentar, sekarang mereka memang belum mengetahui apapun soal si peneror itu, yang mereka semua yakini hanya si peneror berada di sekolah jadi siapapun bisa jadi tersangka. Dari apa yang dikatakan Naruto, mungkin saja orang itu Orochimaru, tapi hal itu juga tak bisa dipastikan karena mereka tak punya bukti apalagi yang Naruto dengar belum pasti. Tiba-tiba Hinata teringat sesuatu, jika Naruto mengetahui ini, apakah mungkin sipeneror nantinya akan tahu juga kalau Naruto tahu, sebenarnya Hinata tak ingin Naruto terlibat, tapi kenapa justru malah Naruto yang mendengar itu.
"Naruto, jika kau mendapat pesan dari nomor ini, bisakah kau memberitahuku" ucap Hinata sambil menunjukan sebuah nomor. Hinata takut Naruto juga akan di terror jadi untuk berjaga-jaga Hinata meminta Naruto untuk segera memberitahunya jika mendapatkan pesan apapun dari sipeneror.
'08xxxxxxx' Naruto menyebutkan nomor itu dalam hati, kemudian ia mengeryit.
"Hinata, sepertinya nomor ini tak asing"
Dikoridor kelas sebelas, Gaara berjalan melewati setiap kelas dengan ekspresi datar, setelah sampai di depan kelasnya, Gaara menyeringai.
'Sepertinya aku harus menyingkirkan kau dulu, supaya tidak mengganggu'
TBC
Pojok review
Akko : okeee Akko, makasih ya masih mau baca :D padahal Ita sering ngaret.
Cha : okeee makasih cha, udah mau mampir disini
Nurul851 : iya tuh, Hina mula minta bantuan. Semoga aja inget, kalau Naru gak inget ya dia pasti bakal berusaha untuk inget deh. Enggak kok… tanang aja, Gaara gak akan jatuh cinta sama Hinata.
HyugaRara : semoga aja Naru inget.
NurmalaPrieska : hahaha iya nih bentar lagi tamat, jadi tunggu aja ya..
CallistaLia : iya gaara penerornya, oke ini udah update tapi lama yaa, maap yaaa
oormiwa : wahh makin tegang yaa, Ita kira ini makin Gaje :D oke ditunggu lagi ya UPnya yang ngaret mulu..
Cahya Uchiha : hahaha iya tuh...
Sabrina : iyaaa Orochi tuh mata-matanya Neji.. naruto bakal ngebantu kok tenang aja..
Hana Yuki no Hime : okee makasi Hana..
dyahtrimeylani : waahh maap ya mey, hahaha Ita nyiapin adegan romantisnya di chap terakhir aja yaa.. eumm tenang aja, adegan-adegan berantem ada kok nanti, tapi tetep aja bukan Sasu yang tahu duluan..
huga hime chan RJN : iyaaa gitu deh Gaara emang jahat disini :D
kaiLa wu: okee makasih kaila karena udah mampir disini :)
cintya : okeee ditunggu terus ya..
clarin : okeee pasti..
fitoriajung :okeee makasih loh udah mampir disini
hinahime : iya ini udah update tapi lama hehehe maap ya..
ChintyaRosita : okee ini udah lanjut
Fiuhhh fiuhhh akhirnya Ita bisa selesaiin chap ini..
Kayak biasa Ita mau minta maap karena ngaret *Puppy eyes*
Dan makasih buat semua yang udah baca dan review
Samapai ketemu di chap selanjutnya *lambai-lambai tangan*
