Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by me

Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain

Sebelumnya..

'08xxxxxxx' Naruto menyebutkan nomor itu dalam hati, kemudian ia mengeryit.

"Hinata, sepertinya nomor ini tak asing"

Look At Me

Hening, suasana hening dan tegang menyelimuti Hinata dan Naruto, keduanya masih saling diam namun sama-sama sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Naruto sibuk mengingat nomor-nomor yang mungkin mirip atau malah memang sama dengan yang barusan dilihatnya dari HP Hinata, sedangkan Hinata sibuk memikirkan kemungkinan peneror itu adalah seseorang yang mengenal Naruto, jika itu benar, mungkinkah sebenarnya Hinata juga mengenal orang itu?

"Kau pernah melihatnya?" Tanya Hinata. Naruto mengangguk ragu.

"Sepertinya… tapi.." ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya. "Sebentar.." ucap Naruto lagi, kali ini ia mengambil HP dari saku celananya.

Naruto mengecek kontak di HPnya, entah kenapa Naruto merasa punya nomor itu dikontaknya, ia memeriksa satu persatu nomor-nomor yang tersimpan di HPnya ini, menyamakan dengan nomor yang barusan dilihatnya dari HP Hinata.

Lima menit sudah berlalu, Naruto bahkan sudah memeriksanya sampai tiga kali, tapi ia tetap tak bisa menemukannya.

"Tak ada" tebak Hinata saat melihat gerak-gerik Naruto. Naruto mengangguk.

"Tapi sungguh aku pernah melihatnya" Naruto masih yakin.

"Mungkin hanya mirip" ucap Hinata. Sebenarnya Hinata sedikit merasa lega karena nomor itu tak ada di salah satu kontak yang disimpan Naruto. Padahal jika Naruto benar-benar tahu nomor itu milik siapa, bukankah Hinata jadi tahu siapa pelakunya? Tapi entah kenapa, Hinata justru tak mau jika Naruto punya nomor itu, karena kalau iya, itu berarti kemungkinan besar Hinata juga mengenal orang itu, Hinata hanya tak ingin jika orang yang menerornya selama ini adalah orang yang dikenalnya, karena pasti rasanya lebih sakit saat dirinya harus melapor pada polisi.

Bel masuk berbunyi..

"Sebaiknya kita ke kelas" ucap Hinata kemudian ia pergi meninggalkan Naruto yang masih penasaran dengan nomor itu, tapi saat Naruto ingat sekarang pelajaran Orochimaru, Naruto langsung melesat pergi, ia tak mau lagi berurusan dengan guru bermata ular itu, apalagi setelah kejadian tadi pagi.

Look At Me

"Sasuke, biarkan aku membantumu dan Hinata"

"Kenapa?"

"Perasaanku selalu tak tenang jika aku pura-pura tak tahu, aku hanya takut kalau suatu saat terjadi apa-apa dengan kalian berdua, aku akan menyesal seumur hidup"

"Terserah kau saja, tapi jangan salahkan Hinata kalau terjadi apa-apa padamu"

"Tentu saja"

Naruto memandang HPnya yakin,baru saja ia menghubungi Sasuke untuk meminta izin agar dirinya bisa membantu, Naruto tak bisa terus-terusan diam dan melihat kedua temannya itu tersiksa karena ulah sipeneror.

Naruto sekarang sedang berdiri di kantor polisi, tempat ayahnya bekerja. Teror itu sudah termasuk tindak kejahatan, jadi sudah sewajarnya jika hal itu diurus oleh orang yang lebih pantas bukannya diurus oleh anak remaja seperti Hinata.

Ditempat lain..

Sasuke yang baru saja memutus pembicaraan dirinya dan Naruto melalui telpon kembali memandang kakaknya.

"Jadi…?" Tanya Itachi-kakak Sasuke- dengan kedua alis terangkat.

Sasuke sudah memikirkan berbagai macam cara untuk menangkap peneror itu tanpa melukai Hinata. Tapi nyatanya setip cara yang Sasuke pikirkan pasti akan menyakiti Hinata, karena itu kali ini Sasuke memilih cara yang paling cepat untuk menangkap peneror itu, Sasuke akan membuat peneror itu tak mempunyai kesempatan untuk menyakiti Hinata.

Look At Me

Sasuke menunggu Hinata di halte sambil sesekali melirik jam tangannya. Tak lama, Hinata datang dengan headset di telinga dan buku di genggamannya, Hinata berjalan menuju halte dengan wajah datar. Sasuke tersenyum tipis saat melihat kedatangan Hinata.

Hinata berhenti tepat didepan halte, kemudian ia melirik Sasuke sebentar sebelum duduk di bangku halte dan membaca buku yang dibawanya. Tiba-tiba Hinata merasa musik yang sedari tadi menemaninya dalam perjalanan menuju halte menghilang, sekarang hanya suara kendaraan berlalu lalang yang terdengar ditelinganya. Hinata mencari penyebabnya, dan yang ditemukannya adalah HPnya sekarang berada di tangan Sasuke, Hinata langsung mengerti kenapa musik di telinganya menghilang.

"Apa yang kau lakukan?" Hinata bertanya seolah ia sedang memergoki seorang pencuri.

"Mulai sekarang, jangan berada terlalu jauh dariku tapi, jika kau tidak mau dekat-dekat denganku setidaknya aku harus tahu kau ada dimana" ucap Sasuke sambil menunjukkan layar HPnya dan layar HP Hinata.

Hinata mengernyit, ia masih tak mengerti maksud perkataan Sasuke. Tapi setelah melihat sebuah peta dan titik merah bertuliskan 'Hinata' pada layar Hp Sasuke, Hinata baru mengerti.

"Kau memasang aplikasi pelacak di HP ku? Sekarang kau mau jadi seorang penguntit?" Tanya Hinata seolah tak percaya dengan sikap Sasuke.

Sasuke tertawa pelan "Ya, mulai sekarang aku harus tahu dimanapun kau berada" ucap Sasuke sambil menyerahkan HP Hinata.

"Kenapa?" Tanya Hinata sambil menerima HP yang diberikan oleh Sasuke kepadanya.

"Untuk jaga-jaga" jawab Sasuke sambil menarik tangan Hinata dan membawa gadis itu masuk kedalam bus yang baru saja datang. Hinata duduk di salah satu bangku dan seperti biasa Sasuke duduk di belakangnya.

Sasuke dan Hinata sampai di kelas, mereka berdua langsung duduk di bangku masing-masing. Entah kenapa hari ini Hinata merasa semua orang dikelas sedang menyebut-nyebut namanya dengan nada suara yang amat rendah tapi cukup untuk sampai ditelinga Hinata.

"Kalian berdua datang bersama?" Tanya Kiba terang-terangan pada Sasuke. Pertanyaan itu membuat Hinata langsung mengerti kenapa namanya sedari tadi disebut-sebut. Ini semua pasti karena Sasuke dan Hinata masuk kekelas di bersama, mungkin kalau dulu hal itu tidak akan jadi terlalu spesial, tapi akhir-akhir ini banyak gosip tentang mereka berdua jadi, datang kekelas bersama pasti akan menimbulkan kehebohan tersendiri.

Hinata memasang headset ditelinganya dan mengambil buku untuk dibaca, ia mencoba untuk tidak peduli dengan hal itu. Sedangkan Sasuke hanya membalas pertanyaan Kiba dengan mengedikkan bahu kemudian ia menenggelamkan wajahnya di atas kedua tangan yang ia lipat di meja.

"Kalau dipikir-pikir kalian berdua sangat mirip" sindir Kiba sebelum keluar dari kelas.

Look At Me

Bel istirahat berbunyi, hampir semua siswa keluar kelas untuk mengisi perut mereka dengan berbagai makanan yang berada di kantin. Dikelas XI IPA 2, hanya tinggal Hinata yang sedang membereskan bukunya dan Sasuke yang sedang mengamati gadis berambut indigo itu dari belakang.

Saat melihat Hinata selesai membereskan bukunya, Sasuke mendekati Hinata.

"Kau mau perpustakaan?" Tanya Sasuke.

Hinata menatap Sasuke seolah pertanyaan Sasuke adalah pertanyaan yang paling tidak penting. "Iya" akhirnya Hinata menjawab dengan satu kata yang seharusnya sudah bisa ditebak oleh Sasuke.

"Kau tidak takut?" Tanya Sasuke lagi.

"Apa yang harus kutakutkan?" Hinata membalas pertanyaan Sasuke dengan pertanyaan lagi. Bukan karena dia tak ingin menjawab, tapi karena ia tidak mengerti maksud pertanyaan Sasuke.

"Menurutku, peneror itu sering mengamatimu saat diperpustakaan, seperti kemarin" jawab Sasuke.

"Ohh.." Hinata mengangguk seakan baru paham arah pembicaraan Sasuke.

"Oh?" Sasuke sedikit tak percaya dengan reaksi Hinata.

Hinata menghela nafas, "Kau tenang saja, sudah lima tahun aku mengalami hal itu, jadi aku sudah terbiasa" ucap Hinata sambil tersenyum, kemudian ia berdiri dan beranjak pergi keluar kelas.

Didalam kelas Sasuke menatap kepergian Hinata dengan tatapan bersalah, ia benar-benar merasa bodoh, selama ini ia selalu berpikir Hinata menjauhinya karena gadis itu membencinya, tapi ternyata Hinata menjauhinya karena ingin melindunginya. Sasuke merasa menyesal karena baru tahu hal itu sekarang, seandainya dia tahu masalah ini sejak dulu, mungkin Hinata tidak akan merasa sendirian seperti sekarang.

Tak lama setelah Hinata pergi, Naruto masuk kekelas.

"Ada yang ingin kukatakan denganmu" ucap Naruto pada Sasuke.

"Katakan saja" balas Sasuke, sambil mendudukan dirinya dibangku Hinata. Melihat itu Naruto pun ikut duduk di bangku Sakura yang berada tepat didepan bangku Hinata.

"Kemarin aku kekantor ayahku.."Naruto diam sebentar untuk melihat reaksi Sasuke.

Sasuke yang tahu apa pekerjaan ayah Naruto, mulai menanggapi Naruto dengan serius. Mengingat apa yang ingin dibicarakan Naruto berhubungan dengan ayahnya kemungkinan besar ini masalah Hinata.

"Aku meminta bantuan ayah untuk mencari tahu tentang suatu hal" Naruto melanjutkan.

"Ini soal Hinata kan?" Tanya Sasuke.

"Ya.. kemarin aku sudah meminta ijin darimu, untuk membantu kalian berdua? Kupikir masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh anak-anak seperti kita, masalah terror ini sudah bisa dimasukkan dalam kategori kejahatan, lebih baik kalau masalah ini ditangani oleh orang yang lebih dewasa kan?" Tanya Naruto, sebenarnya Naruto sedikit merasa bersalah karena tidak memberitahu Sasuke atau Hinata dulu, kalau dirinya meminta bantuan dari sang ayah. Ini semua ia lakukan karena rasa penasarannya, apalagi setelah mendengar pembicaraan Orochimaru ditelpon kemarin.

"Yah menurutku juga begitu, lagipula aku juga sudah meminta bantuan Itachi-nii" jawab Sasuke.

"Benarkah? Lalu?"Tanya Naruto. Mendengar Sasuke yang juga meminta bantuan dari sang kakak yang seorang detektif terkenal, Naruto jadi penasaran hal apa yang sudah didapat Sasuke.

"Aku meminta Itachi untuk melacak nomor peneror itu, tapi dia bilang kita hanya bisa melacak sipeneror jika peneror itu sedang menghubungi kita, jadi aku hanya bisa menunggu hingga sipeneror mulai menghubungiku atau Hinata" jawab Sasuke.

"Lalu apa kau hanya akan menunggu? Bagaimana jika dia menghubungi Hinata? Kau kan tidak akan tahu kapan peneror itu akan menghubungi Hinata?" Tanya Naruto bertubi-tubi.

"Aku sudah memasang aplikasi detektif di HP Hinata yang kuhubungkan dengan HPku dan Itachi-nii, jadi siapapun yang menghubungi Hinata, aku dan Itachi-nii akan tahu juga" Sasuke menjelaskan.

"Wahh, memang ada hal seperti itu?" Naruto bertanya seolah tak percaya, baru kali ini ia mendengar aplikasi seperti itu.

"Yah.. aku juga baru tahu saat Itachi-nii menjelaskannya padaku" jawab Sasuke.

"Lalu apa lagi yang kau dapat?" Tanya Naruto lagi.

"Itachi-nii bilang nomor itu mulai digunakan sejak lima tahun lalu, tapi satu tahu yang lalu nomor itu sempat tidak aktif dan mulai digunakan lagi saat kita kelas sebelas ini.." Sasuke diam sebentar sambil mengingat apa saja yang Itachi katakan kemarin malam.

"Hal itu cocok dengan cerita Hinata, yang mengatakan sipeneror tidak menghubunginya saat dikelas sepuluh..tapi, tahun lalu nomor itu pernah diaktifkan sekali, dan Itachi bilang nomor itu berada di London"

"Apa itu berarti tahun lalu sipeneror ada di London?" Tanya Naruto.

"Kemungkinan besar seperti itu" jawab Sasuke.

"Untuk apa dia pergi menghilang setahun? Lalu kenapa peneror itu tiba-tiba muncul lagi? Kenapa dia bersikap seolah meneror Hinata hanyalah permainan?" Naruto penasaran dengan semua cerita ini, semakin ia mencaritahu masalah ini justru makin aneh menurutnya.

Sasuke menghela nafas mendengar pertanyaan Naruto yang tidak ada habisnya "Aku tidak tahu.." Sasuke menjawab semua pertanyaan Naruto dengan satu jawaban. "Kau sendiri, apa yang kau cari dengan ayahmu?" kali ini Sasuke yang bertanya.

"Ohh.. aku mencaritahu tentang Orochimaru" jawab Naruto sedikit kikuk.

"Orochimaru? Kenapa?" Tanya Sasuke.

"Ohh ituu.." Naruto menceritakan soal kejadian kemarin pada Sasuke, soal pembicaraan Orochimaru ditelpon yang tak sengaja ia dengar. Sasuke sedikit terkejut mendengar cerita Naruto.

"Hinata sudah tahu masalah ini?" Tanya Sasuke lagi.

"Iya.. aku sudah memberitahu ini pada Hinata dan Saku.." Naruto membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, ia mrutuki kebodohannya yang tidak pernah bisa menjaga ucapannya yang selalu sembrono.

"Saku? Sakura? Jadi Sakura juga tahu masalah ini?" Tanya Sasuke yang langsung bisa menebak nama yang batal disebutkan Naruto tadi.

"Itu…" Naruto menggaruk kepalanya panic. "Kau tenang saja, Sakura tak akan memberitahu siapapun tentang masalah ini"

"Sejak kapan?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi.

"Hah?"

"Sejak kapan Sakura tahu?" Sasuke memperjelas pertanyaannya.

"Sejak aku tahu, Sakura juga tahu"

Sasuke menghela nafas lelah, ia penasaran sejak kapan dia berteman dengan orang yang sangat ceroboh seperti Naruto.

"Baiklah, jangan sampai Sakura terlibat"

"tenang saja, Sakura sudah berjanji"

"Kalau begitu kita kembali ke masalah tadi, kau yakin dengan apa yang kau dengar?"

"Justru itu, aku tidak yakin karena itu aku minta ayahku mencaritahu tentang Orochimaru-sensei"

"Lalu?" Sasuke mulai penasaran.

"Ada yang aneh mengenai Orochimaru-sensei"

"Apa itu?"

"Bukankah dulu, Asuma-sensei bilang dia akan pindah ke Suna High School dan salah satu guru di Suna High School akan pindah kesekolah kita?" Tanya Naruto.

Sasuke mengangguk sambil mengingat perkataan mantan wali kelasnya itu sebelum pindah dari Konoha High School, Asuma-sensei memang pernah mengatakan hal itu dihari terakhirnya berada di KHS.

"Itu berarti, Orochimaru berasal dari Suna High School kan?"

Sasuke mengangguk lagi, setuju dengan perkataan Naruto.

"Tapi ternyata, Suna High School tak pernah punya guru bernama Orochimaru, dan lagi ternyata Asuma-sensei tak berada disekolah itu sekarang" Naruto memberitahu apa yang dikatakan ayahnya kemarin.

"Lalu, siapa Orochimaru sebenarnya? Dan Asuma-sensei sekarang dimana?" Tanya Sasuke.

"Hal itu yang sedang dicari tahu ayahku sekarang"

"Kita harus cepat bergerak, kalau tidak peneror itu malah akan tahu lebih dulu mengenai rencana kita bahkan sebelum kita mulai bertindak" ucap Sasuke.

Naruto mengangguk setuju, "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Naruto.

"Pertama-tama kita harus memastikan apakah Orochimaru memang si peneror, kalau ternyata bukan berarti kita akan melakukan dengan rencanaku yang pertama yaitu melacak nomor telpon sipelaku kemudian menangkapnya" Sasuke menjelaskan.

"Bagaimana caranya memastikan Orochimaru sipeneror atau bukan?" Tanya Naruto lagi.

Sasuke diam sebentar memikirkan cara yang paling mudah dan cepat, ia tidak mau menghabiskan banyak waktu, mengingat selama ini sipeneror sangat cepat mengetahui informasi apapun mengenai Hinata, karena itu untuk mengantisipasinya, kali ini Sasuke tak akan memberitahu rencananya pada Hinata, entah kenapa Sasuke merasa peneror itu hanya mengetahui informasi yang Hinata juga mengetahuinya, contohnya saja saat Hinata memberitahunya mengenai terror itu, keesokannya peneror itu juga tahu bahwa Sasuke mengetahui masalah terror itu, tapi anehnya Sakura dan Naruto yang sudah mengetahui masalah ini diwaktu yang hampir sama dengan Sasuke, malah tidak ikut diteror, untuk sekarang Sasuke menyimpulkan sipeneror hanya mengetahui informasi yang hanya diketahui oleh Hinata. Dan karena itu, meskipun Naruto tidak atau belum mendapatkan terror dari sipereor, Sasuke yakin peneror itu pasti sudah tahu mengenai Naruto, karena Hinata sudah mengetahui bahwa Naruto juga tahu mengenai masalah terror ini.

Look At Me

Drrrtt Drrtt

Orochimaru sedikit tersentak, saat HPnya bergetar. Dengan hati-hati ia mengintip layar HPnya yang menunjukkan nomor pengirim pesan.

"Hei, kita sedang membahas Hinata, kau malah bermain dengan HPmu?" Tanya Neji yang sedikit kesal.

Orochimaru berdehem, kemudian ia kembali fokus pada ceramah Neji mengenai cara mendekati Hinata.

"Kan aku sudah mengatakan, Aku tidak bisa mendekati Hinata begitu saja hanya karena aku wali kelasnya, aku butuh pendekatan yang alami, kalau tidak nanti Hinata akan curiga, lagipula ini juga salahmu, seharusnya kau meminta bantuan detektif perempuan, bukankah perempuan dengan perempuan akan lebih mudah dekat?" kali ini Orochimaru yang mengomeli Neji.

Neji adalah junior Orochimaru saat di Akademik Kepolisian, sebenarnya Neji dan Itachi satu angkatan, bahkan mereka berdua daftar bersama, hanya saja Neji terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena harus segera menggantikan ayahnya di perusahaan, semenjak berhenti dari Akademik Kepolisian Neji masuk jurusan Manajemen Bisnis disalah satu Universitas ternama di Konoha. Sebenarnya Neji sedikit iri dengan Itachi yang memiliki adik laki-laki, sehingga laki-laki keriput itu bisa dengan mudah membujuk ayahnya agar tetap melanjutkan sekolahnya di Akademik Kepolisian dengan syarat Itachi bisa membuat adiknya menyukai bisnis tidak seperti kakaknya.

Meskipun berhenti ditengah jalan, Neji tetap dekat dengan seniornya ini. Mereka sering berkomunikasi lewat telpon atau langsung. Karena itu, saat Neji mencurigai Hinata masih diteror, Neji langsung meminta bantuan seniornya ini untuk menyelidiki kasus Hinata.

"Kau kan tahu, satu-satunya detetif perempuan yang aku kenal hanya Tenten" jawab Neji tak terima di salahkan.

"Kalau begitu mintalah bantuannya" ucap Orochimaru.

"Tidak!" balas Neji cepat. Bukannya Neji tak mau meminta bantuan dengan teman yang juga seangkatan dengannya itu, hanya saja gadis bercekpol dua itu benar-benar gadis yang ganas. Dulu sebelum berhenti dari Kepolisian, Neji pernah membuat gadis itu marah besar, karena itu Neji tidak mau meminta bantuannya, kalaupun Neji meminta pasti Tenten tidak akan mau melakukannya.

"Kenapa?" Tanya Orochimaru sambil menyeringai.

"Sudahlah lupakan.." ucap Neji yang sudah mulai bergidik ngeri saat mengingat saat-saat kemarahan Tenten.

Mendengar reaksi Neji yang berlebihan, reflek Orochimaru tertawa.

Orochimaru keluar dari ruang kerja Neji satu jam kemudian setelah mereka membahas Hinata, dikoridor, HP Orochimaru kembali bergetar. Dengan cepat ia mengambil HPnya dan membuka pesan yang masuk kenomornya. Ada dua pesan dari nomor yang sama, bahkan isinya pun sama.

To : Orochimaru

From: 082xxxxxxx

Aku tahu identitasmu yang sebenarnya

Datanglah kesekolah sekarang, sebelum aku memberitahu Hinata.

Orochimaru mengernyit ketika membaca pesan itu, ia peasaran dengan orang yang mengirimnya pesan ini. Dari pesannya yang mengajak bertemu disekolah kemungkinan besar si pengirim adalah siswa atau guru, tapi kalau dilihat ia menyebut nama Hinata mungkin dia adalah seorang murid, karena kalau dia seorang guru dia tidak akan menyebut nama Hinata seolah mereka teman. Tidak mungkin juga kalau orang ini berpura-pura memberi pesan seolah dia adalah seorang murid padahal bukan, karena kalau dia memang berniat menyembunyikan identitasnya maka tak seharusnya ia mengajak bertemu. Tapi siapa? Siapa orang yang sangat peduli pada Hinata sampai ia ingin bertemu empat mata? Dan bagaimana ia sampai tahu identitasnya, seingatnya ia tak pernah melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Disekolah….

Jam pulang sekolah sudah berakhir sejan dua jam yang lalu, tapi Sasuke dan Naruto masih duduk di dalam kelas, Sasuke sibuk memgang HPnya berharap mendapatkan balasan dari seseoarang yang baru saja ia kirimi pesan.

"Kau yakin dengan cara ini dia akan terpancing?" Tanya Naruto

"Kalau dia memang sipeneror, ya aku yakin"jawab Sasuke.

"Bagaimana kalau dia memang sipeneror tapi dia tidak peduli dengan ancaman kita?" Tanya Narto lagi.

"Dia belum melukai Hinata, aku yakin selama dia belum melakukan sesuatu yangamat sangat ingin dia lakukan pasti dia tidak mau identitasnya terbongkar" Sasuke menjelaskan.

"Baiklah" Naruto mengangguk, ia mencoba untu percaya dengan rencana ini.

"Tapi bagaimana kalau kita ketahuan?" Tanya Naruto lagi setelah beberapa saat terdiam.

"Kita hanya perlu mengamati hingga dia tiba disekolah, setelah itu kita langsung pergi…" Sasuke mencoba menenangkan Naruto yang sudah mengeluarkan keringat dingin. "Karena itu, sekarang kita harus pergi ketempat dimana kita bisa leluasa mengamati gerbang sekolah" Sasuke melanjutkan.

"DImana itu?" Tanya Naruto.

"Atap sekolah" Jawab Sasuke singkat kemudian ia berdiri dari kursinya dan beranjak pergi.

"Sasuke aku akan ke Toilet dulu!" teriak Naruto yang masih berada di dalam kelas, kemudian ia langsung berlari keluar dan pergi kearah yang berlawanan dengan Sasuke.

Sasuke berjalan melewati koridor kelas XII sampai akhirnya ia berhenti di tangga yangberada di ujung koridor kelas XII, Sasuke menaiki tangga itu kemudian ia membuka pintu menuju atap.

Naruto keluar dari toilet denga n wajah leganya, kemudian ia langsung menyusul Sasuke ke atap, Naruto berjalan melewati Lab Biologi,didepan Lab, Naruto berhenti sebentar ketika ia melihat alat-alat kebersihan seperti ember, pel, sapu berserakan didepan pintu Lab. Melihat itu Naruto yakin kalau ini ulah anak-anak yang dihukum Orochimaru. Naruto sangat yakin karena dulu saat dirinya dan Gaara dihukum dia juga sengaja meninggalkan alat-alat kebersihan didepan Lab karena kesal dengan keputusan Orochimaru yang menghukum dirinya juga padahal jelas-jelas itu salah Gaara. Dan yang lebih membuat Naruto kesal adalah, Gaara sama sekali tak membantunya dan malah membeli makanan diluar sekolah. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, tindakannya waktu itu sangat kekanakan.

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya saat menduka ada siswa yang punya pemikiran kekanak-kanakan sepertinya dulu. Karena itu sekarang Naruto memuuskan untuk membereskan alat-alat kebersihan ini dan meletakannya di tempat seharusnya, yaitu digudang Lab.

Naruto membuka pintu Lab, kemudian ia masuk. Didalam, Naruto memasukkan alat-alat kebersihan kedalam gudang Lab yang berada di pojok ruangan. Sebelum pergi dari Lab, Naruto melihat keadaan Lab yang sangat rapi, ia memuji siswa yang membereskan Lab ini. Tidak sepertinya dulu, karena membersihkannya sendiri Naruto jadi tidak peduli dengan kerapihannya yang penting cepat selesai, ini semua akibat ulah Gaara yang tidak bisa dihubu…

Deg..

'Kenapa nomor ini yang ada di HPmu?' tanya Gaara.

'Oh, waktu itu kau bilang gunakan SIM 1, tapi aku tak sengaja menyentuh SIM 2, maaf ..' Naruto jadi merasa bersalah. 'Lagipula, saat itu nomorku tidak aktif jadi tidak akan mengabiskan pulsamu"'tambah Naruto memberi alasan.

'Oh tidak apa-apa, hanya saja nomor ini sudah hilang, pantas saja aku tak menerima telponmu' ucap Gaara.

Naruto membelalakan matanya..

'Itu tidak penting, lebih baik sekarang kau simpan nomorku yang sekarang saja'

"Ja..Jadi..Ga.." Naruto yang tidak mampu berkata-kata lagi. langsung mengambil HPnya, ia ingin cepat-cepat memberitahu Sasuke kalau bukan Orochimaru pelakunya.

Tanpa Naruto sadari dari arah belakangnya seseorang mendekatinya dengan membawa sebuah kursi.

Di atap Sasuke menunggu kedatangan Orochimaru. Tiba-tiba HPnya bordering menandakan ada seseorang yang menghubnginya. Sasuke mengambil HPnya kemudian ia melihat siapa yang menghubunginya.

'Naruto'

"Untuk apa dia menghubungiku?" Tanya Sasuke sambil mengangkat telpon itu.

'Buuuukkk'

Sasuke mendengar suara yang sangat keras dari sebrang telpon. Setelah itu Sasuke hanya mendengar suara yang menandakan hubungan telpon Sasuke dan Naruto putus.

TBC

Pojok Review

farah : Ita sih pengennya cepet, tapi ya gitu deh, banyak godaannya setiap pengen nulis hehehe maap ya..

lovely sasuhina : wahh gimana ya reaksi Hinata? *Malah balik nanya*

Hyuganata : makasih karena udah mau mampir.. :)

Grexy : Hallo juga.. wahhh Ita jadi gak enak nih gra-gara sering ngaret maap ya…oke makasih karena masih mau nunggu dan baca ini fic :D

NJ21 : Kalau yg mau dibunuh Orochimaru entar deh Ita bahas di chap selanjutnya.. kalau soal Gaara kan waktu Hinata ngomong 'Bicara saja disini, Gaara juga tahu kok masalah terror itu' Gaara kan masih ada disitu jadi ya Gaara tahu kalau Naru mau ngomongin masalah terror… oke makasih udah baca..

Indri Hyuga : iya ini udah lanjut tapi lamanya minta ampun :D

ara : kalo gitu ditunggu ya chap selanjutnya sampe chap akhirnya.

AI : Okee Al, makasih udah baca

byun baekki : iya gak pa-pa makasih udah mau mampir buat bca dan review, oke ditunggu ya kelanjutannya

Hana Yuki no Hime : iya gitu deh , maap ya masih lama UPnya :D

CallistaLia : Mungkin :D udah ketahuan kan disini?

HyugaRara : wahh masa sih, makasih ya.. oke ditunggu ya next chapnya

ChintyaRosita : Iya Ita bakal nyelametin Naru kok :D

hiyumi sasuta : ia semoga Happy ending

kaiLa wu : udah terlanjur nih.. tadinya si Ita bingung siapa yang bakal meranin antagonisnya eh.. tiba-tiba si Gaara muncul dipikiran Ita :D maap ya..

NurmalaPrieska : aduh maap ya ini malah makin lama..

Herocyn Akko :Ita tau kok, huwaaa jangan donggg….

*Berdehem* pertama-tama Ita mau minta maap karena makin lama makin ngaret.

Terus Ita juga mau bilang makasih buat semua yang baca dan review.

Terakhir sampai ketemu di next chap da-da *lambai-lambai tangan*