Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya
Drrrtt Drrrtt
HP baru Sasuke bergetar, mendengar itu diam-diam Sasuke tersenyum tipis. Kemudian ia menjauhkan wajahnya dari telinga Hinata. Ia membuka HP itu dan membaca isi pesan yang didapat.
To : Sasuke
From : 0855xxxxxx
Temanmu tak akan suka dengan sikapmu
Sasuke menyeringai tpis ketika membaca pesan itu, ternyata sipeneror tak sepintar yang ia kira.
Look At Me
"Ada apa Sasuke-kun?" Tanya Hinata saat ia melihat Sasuke membaca pesan yang baru didapat. Entah kenapa Hinata merasa untuk sesaat tadi Sasuke menyeringai.
"Tidak ada" jawab Sasuke.
"Apa kata sipeneror?" Tanya Hinata lagi, pasalnya Sasuke belum memberitahunya.
"Dia tak mengizinkan kita membuat rencana" jawab Sasuke. Kemudian Sasuke melihat kesekeliling ruangan kelas mereka, ia mencari sesuatu yang terlihat mencurigakan. Dari reaksi sipeneror tadi, Sasuke yakin di HP barunya ini tak ada alat penyadap suara, karena kalau di HP baru ini ada alat penyadapnya, seharusnya sipeneror tahu kalau tadi Sasuke tak membisikkan apapun pada Hinata mengingat tadi Sasuke sengaja mendekatkan HP baru itu diantara dirinya dan Hinata. Tapi reaksi itu menunjukkan kalau sipeneror memang sedang mengawasi mereka, karena peneror itu bisa tahu pergerakkan mereka tapi hanya sebatas itu, Sasuke yakin sipeneror tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Itu dia…CCTV
Benar,sesuatu yang bisa memperlihatkan segala aktivitas tapi tak bisa mendengar pembicaraan hanyalah CCTV dan disekolah ini, memang semua ruangan dilengkapi CCTV termasuk dikelas ini, selain itu di setiap koridor pun dilengkapi CCTV, fasilitas itu diberikan untuk menjaga keamanan sekolah, hanya beberapa tempat yang dianggap kurang perlu pengawasan saja yang tidak dilengkapi CCTV seperti taman belakang sekolah, kamar mandi dan koridor sekitar kamar mandi, perpustakaan lalu atap sekolah, dan disetiap gudang sekolah….
Sasuke baru sadar setelah menyebutkan semua tempat itu, bukankah selama ini peneror itu selalu mengganggu Hinata ditempat yang tak terdapat CCTV, sepertinya peneror itu tahu banyak mengenai tata letak CCTV disekolah ini, tapi apa mungkin peneror itu juga sedang mengawasi dirinya dan Hinata melalui CCTV? Bukankah monitor dari semua CCTV yang berada disekolah, diletakkan di ruang kepala sekolah? Tidak,tidak mungkin peneror itu ada disana mengingat Orochimaru tadi sudah mencari disemua tempat disekolah. Kalau memang peneror itu mengawasi mereka dari CCTV, hanya ada satu cara yang mungkin yaitu seluruh CCTV sekolah sudah hack jadi sipeneror bisa memonitori mereka dimana saja yang dia mau.
Sasuke menghela nafas, untuk sementara hanya kemungkinan itu yang bisa terjadi. Sekarang Sasuke harus mencari cara agar ia bisa meninggalkan jejak agar orang-orang tahu kalau dirinya dan Hinata butuh pertolongan dan Sasuke hanya bisa meninggalkan jejak ditempat-tempat yang tidak terdapat CCTV.
Belum sempat Sasuke berpikir lebih jauh, HPnya dan HP Hinata bergetar. Kali ini Sasuke tak mau repot membuka pesan itu, ia menunggu Hinata yang memberitahukan isi pesan yang diterimanya karena Sasuke yakin pesan yang mereka dapat sama.
"Sasuke.." panggil Hinata sambil menunjukkan layar HPnya yang masih memperlihatkan isi pesan yang didapat.
To : Hinata
From : 0882xxxxxx
Datanglah sendiri ke taman belakang sekolah
Aku akan menjemputmu
Sasuke langsung membuka pesan yang didapatnya setelah ia membaca isi pesan yang didapat Hinata, entah kenapa perasaannya tak enak setelah membaca itu.
To: Sasuke
From : 0855xxxxxxx
Pergilah sendiri ke gerbang sekolah
Aku akan menjemputmu
"Sial!" Sasuke mendesis tajam. Firasatnya benar, ia dan Hinata akan dipisahkan. Sasuke menjambak rambutnya frustasi. Apa yang akan dilakukan peneror itu pada Hinata?
"Sasuke, aku akan pergi sekarang" ucap Hinata tiba-tiba, tanpa menunggu jawaban Sasuke, Hinata langsung bangkit berdiri, tapi sebelum sempat Hinata melangkahkan kakinya, Sasuke sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu, memintanya agar tetap disini bersamanya.
"Sasuke, Naruto dalam bahaya" Hinata mengingatkan.
Sasuke menghela nafas, tanpa perlu diingatkan pun Sasuke tahu itu, hanya saja ia tak bisa membiarkan Hinata pergi sendiri tapi ia juga tak punya pilihan selain membiarkan sipeneror mempermainkan mereka berdua.
Sasuke menghela nafas lagi, kalau sudah seperti ini berarti hanya Hinata yang bisa meninggalkan jejak karena Hinatalah yang pergi ketempat yang tak memiliki CCTV sedangkan Sasuke harus pergi kegerbang sekolah yang mempunyai dua CCTV, yang satu diletakkan digerbang yang mengarah kelapangan sedangkan yang satu lagi diletakkan didekat lapangan yang mengarah langsung ke gerbang, fungsi CCTV ini untuk mengawasi anak-anak yang sering terlambat. Biasanya Sasuke tak peduli dengan CCTV yang berada di gerbang itu, karena meskipun ia selalu datang disaat-saat terakhir namun tak pernah sekalipun ia terlambat, dan sekarang, untuk pertama kalinya Sasuke benci keberadaan CCTV itu dan Sasuke benci dengan orang yang punya ide meletakkan CCTV disana. Untuk menuju gerbang pun Sasuke harus melewati koridor yang memiliki CCTV, jadi kemungkinan Sasuke bisa meninggalkan jejak hanya 0.001% atau lebih tepatnya hampir tidak mungkin.
Kali ini hanya Hinata yang bisa melakukannya, tapi bagaimana cara Sasuke memberitahu Hinata tanpa dicurigai sipeneror. Meskipun tak bisa mendengar pembicaraan, Sasuke yakin peneror itu tetap bisa melihat gerak-gerik mereka, dan itu berarti Sasuke tak bisa membahas rencananya pada Hinata karena hal itu membutuhkan waktu lama, sipeneror pasti akan curiga jika melihat Sasuke berbicara dengan Hinata terlalu lama. Sasuke memejamkan matanya, ia memutar otaknya untuk mencari cara agar Hinata tahu rencananya tanpa dicurigai.
Sebenarnya, Sasuke cukup menyebut kata 'CCTV' maka Hinata pasti akan mengerti maksud dan apa yang sedang direncanakannya, tapi hal itu juga tak bisa dilakukan, sipeneror pasti bisa membaca gerak-gerik bibirnya, kalau sampai peneror itu tahu Sasuke sudah sadar mengenai CCTV maka satu-satunya kesempatan yang ia punya akan hilang juga.
"Aku tahu.." ucap Hinata tiba-tiba.
Sasuke membuka matanya, lalu menatap Hinata bingung.
Hinata tak melihat ekspresi Sasuke yang terlihat bingung, ia malah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke, setelah terlepas, perlahan Hinata mrelangkah mundur.
"Sasuke, aku tahu" ucap Hinata lagi masih sambil melangkah mundur.
Sasuke terdiam ditempatnya, ia sedang berusaha mengerti keadaan ini.
"Cepat atau lambat kita akan bertemu peneror itu" Hinata melanjutkan.
Sasuke mengangkat kedua alisnya ketika mendengar Hinata mengucapkan itu seolah meminta Hinata menjelaskan maksud perkataannya yang terdengar sedikit aneh. Sasuke tahu mereka berdua memang akan menemui sipeneror tanpa perlu diberitahu Hinata.
"Maksudmu?" Tanya Sasuke.
"Cukup kau tahu saja, aku sebenarnya sedikit takut" jawab Hinata yang justru membuat Sasuke semakin bingung. "Tapi, kita tetap harus menyelamatkan Naruto…" Hinata diam sebentar untuk menarik nafasnya. "Violet, kau tahu warna itu kan? Warna itu melambangkan keyakinan yang kuat dan aku sangat yakin kita bisa menyelamatkan Naruto" lanjut Hinata yakin.
Saat mendengar kalimat terakhir Hinata, Sasuke tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan Hinata melalu ucapannya yang berbelit. Tapi apa?
Sasuke memandang Hinata yang sekarang sudah berdiri di ambang pintu, menatap matanya yang seolah meminta untuk dimengerti.
"Aku pergi sekarang" ucap Hinata sebelum meninggalkan Sasuke dikelas.
Sasuke tak menahan Hinata atau mencoba untuk mengejarnya, karena ia tahu itu tak akan ada gunanya, yang bisa ia lakukan hanya berdoa agar peneror itu tak langsung membunuh Hinata saat bertemu nanti.
Sasuke memejamkan matanya, lebih baik ia memikirkan maksud perkataan Hinata, mungkin saja Hinata ingin menyampaikan seuatu yang penting.
"Cepat atau lambat kita akan bertemu peneror itu"
Sasuke mengingat ucapan Hinata tadi, perkataan Hinata mulai terdengar aneh semenjak mengucapkan hal itu.
"Cukup kau tahu saja, aku sebenarnya sedikit takut"
"Tapi, kita tetap harus menyelamatkan Naruto"
"Violet, kau tahu warna itu kan? Warna itu melambangkan keyakinan yang kuat dan aku yakin kita bisa menyelamatkan Naruto"
Setiap kata yang diucapkan Hinata terus berputar di pikiran Sasuke, ia yakin Hinata pasti menyelipkan sesuatu yang penting dari salah satu perkataannya yang aneh.
"Cepat atau lambat kita akan bertemu peneror itu"
"Cukup kau tahu saja, aku sebenarnya sedikit takut"
"Tapi, kita tetap harus menyelamatkan Naruto"
"Violet, kau tahu warna itu kan? Warna itu melambangkan keyakinan yang kuat dan aku yakin kita bisa menyelamatkan Naruto"
Sasuke menjambak rambutnya frustasi.
"Cepat atau lambat kita akan bertemu peneror itu"
"Cukup kau tahu saja, aku sebenarnya sedikit takut"
"Tapi, kita tetap harus menyelamatkan Naruto"
"Violet, kau tahu warna itu kan? Warna itu melambangkan keyakinan yang kuat dan aku yakin kita bisa menyelamatkan Naruto"
Deg….
Sasuke membelalak, ia telah menemukannya.
"Cepat atau lambat kita akan bertemu peneror itu"
"Cukup kau tahu saja, aku sebenarnya sedikit takut"
"Tapi, kita tetap harus menyelamatkan Naruto"
"Violet, kau tahu warna itu kan? Warna itu melambangkan keyakinan yang kuat dan aku yakin kita bisa menyelamatkan Naruto"
'Jadi Hinata juga menyadari itu' batin Sasuke, dalam hati ia tersenyum. Sasuke tahu Hinata pintar, tapi ia tak tahu kalau Hinata juga cerdik, kenapa ia bisa membuat kata-kata yang tak akan dicurigai peneror secepat itu?
Sasuke yakin meskipun peneror itu mengikuti gerak-gerik mulut Hinata, dia tak akan tahu maksud Hinata sebenarnya. Sekarang ia hanya bisa percayakan semua pada Hinata, semoga Hinata bisa meninggalkan jejak disana.
Look At Me
Hinata berjalan di koridor kelas XI,langkahnya sangat cepat bahkan hampir terlihat seperti berlari. Tangannya sibuk meremas rok pendek yang dikenakannya, pertanda Hinata sedang gelisah.
'Semoga Sasuke mengerti maksudku' ucap Hinata dalam hati.
Hinata memang sudah menyadari soal CCTV itu semenjak Sasuke mendapat pesan dari si peneror, Hinata yakin Sasuke tak membisikkan apapun pada Hinata, jadi untuk apa peneror itu memperingati Sasuke? dan saat itu juga, bukannya kesal atau panik, Sasuke malah bersikap tenang, sangat tenang sampai Hinata yakin Sasuke memang dari awal tak berniat memberitahu apapun pada Hinata. Karena itu Hinata berpikir, mungkin Sasuke memang ingin menguji sesuatu. Hinata terus berpikir sampai akhirnya ia menyadari soal CCTV.
Sekarang Hinata berdiri tepat di depan taman belakang sekolah, matanya sibuk mencari tanda-tanda keberadaan peneror, dan ia menemukan sebuah mobil terparkir didepan gerbang kecil yang berada di taman ini.
'Apa itu sipeneror?' ucap Hinata saat melihat bayangan dari balik kaca mobil. Hinata yakin orang yang berada didalam mobil itu belum mengetahui keberadaan Hinata, karena Hinata memang berdiri di balik tembok.
Hinata dengan cepat berpikir, ia harus meninggalkan jejak sebelum pergi ke mobil itu. tapi apa yang harus dilakukannya?
"Ahh!"
Hinata menjentikkan jarinya sebelum ia mengambil sedikit tanah, Hinata mengosokkan tanah itu di jari-jarinya hingga jari Hinata berwarna coklat, setelah itu ia menuliskan sesuatu ditembok tempatnya bersembunyi menggunakan jarinya.
'0882xxxxxx'
'HS'
Hinata tak tahu jejak yang ditinggalkannya ini akan berguna atau tidak, tapi yang jelas ia tak bisa meninggalkan jejak apapun lagi, karena sekarang Hinata melihat orang yang tadi duduk di dalam mobil sudah keluar, sepertinya ia curiga karena Hinata terlalu lama sampai, sebelum orang itu masuk ke taman, Hinata sudah lebih dulu keluar dari tempat persembunyian. Hinata berharap Itachi akan mencari Sasuke kesini dan menemukan nomor ini. Itachi adalah polisi yang hebat jadi Hinata yakin kalau Itachi menemukan nomor dan inisial namanya dan Sasuke, Itachi pasti langsung mengerti.
Hinata melihat orang yang baru turun dari mobil itu lekat, pria yang sepertinya seumuran dengan Asuma-sensei dan Kurenai-sensei, wajahnya tegas dan terlihat menakutkan. Hinata mengernyit ketika melihat itu, ia yakin tak mengenal pria ini tapi kenapa orang ini meneror dirinya?
"K..kau sipeneror?" Tanya Hinata terbata saat ia sampai didepannya.
Orang itu tak menjawab Hinata,ia hanya membukakan pintu belakang mobil dan memberi isyarat pertanda Hinata harus masuk.
Saat itu juga Hinata yakin pria didepannya ini bukanlah sipeneror.
Look At Me
Sasuke sampai dilapangan, ia menatap mobil yang terparkir di depan gerbang dengan tatapan curiga. Seorang pria turun dari mobil itu kemudian membukakan pintu belakang. Melihat itu, Sasuke tahu kalau orang itu bukan sipeneror, tak mungkin sipeneror berbaik hati untuk membukakan pintu untuknya, mungkin pria itu hanya orang yang ditugaskan menjadi supir.
Sasuke masuk kedalam mobil tanpa bertanya apapun, Sasuke tak tahu apa yang direncanakan sipeneror dengan memisahkan dirinya dan Hinata tapi apapun itu Sasuke yakin hasilnya akan menyakiti Hinata.
Didalam mobil, sebelum menyalakan mesin sang supir memberinya sebuah kain hitam dan borgol padanya. Sasuke mengernyit bingung.
"Tuan bilang, anda harus menutup mata anda menggunakan kain hitam ini dan saya harus memborgol tangan anda" ucap supir itu sopan.
Sasuke mendengus ketika mendengar itu, Sasuke bersumpah nanti ia akan membunuh sipeneror itu dan membuatnya menyesal karena pernah berurusan dengannya dan Hinata. Tapi untuk sekarang, ia harus menuruti keinginan bodoh sipeneror. Sasuke mengambil kain hitam didepannya kemudian ia menutupi kedua matanya mengunakan kain itu dan mengikat kedua ujung kain dibelakang kepala. Setelah itu ia merasa kedua tangannya ditarik dan dipasangkan Sesuatu dikedua tangannya yang Sasuke yakin adalah borgol tadi.
Look At Me
Didalam mobil, Hinata mendapat sebuah pesan.
To : Hinata
From : 0882xxxxxx
Kau akan pergi ketempat yang penuh dengan kenangan indah
Bersenang-senanglah
Hinata mengernyit, semakin lama ia semakin tak mengerti maksud dari sipeneror. Sebenarnya apa yang peneror itu inginkan darinya?Apa kesalahan dirinya hingga peneror itu melakukan hal seperti ini? Tidak,kalau memang peneror itu membenci Hinata, kenapa ia tak langsung membunuh Hinata saja dari awal? Kenapa ia malah bermain seperti ini? Apa baginya hal seperti ini menyenangkan? Banyak sekali pertanyaan yang ingin Hinata tanyakan kepada peneror itu nantinya.
Look At Me
1 jam kemudian, Sasuke merasa mobil yang ia tumpangin sudah berhenti, Sasuke tak tahu ini dimana yang jelas ia yakin ini adalah tempat dimana ia akan bertemu dengan peneror itu.
Seseorang menuntun Sasuke turun dari mobil, kemudian menariknya agar ikut berjalan. Sasuke hanya menururti keninginan orang itu. tak lama, Sasuke mendengar suara seperti suara pintu terbuka.
'Tidak, ini bukan pintu, ini seperti..suara gerbang yang dibuka' tebak Sasuke dalam hati. 'Apa ini sebuah rumah?'tanya Sasuke masih dalam terus berjalan dengan mata tertutup, beberaa saat kemudian suara pintu terbuka kembali terdengar, sekarang Sasuke yakin ini memang suara pintu.
Sasuke masih dituntun oleh orang yang Sasuke bahkan tak bisa melihatnya, sampai tiba-tiba orang itu berhenti, kemudian Sasuke merasa borgol ditangannya terlepas bersamaan dengan suara pintu terbuka. Dengan mata tertutup, Sasuke didorong memasuki ruangan itu, setelah itu Sasuke mendengar suara pintu itu tertutup.
Hening, Sasuke belum membuka kain yang menutup kedua matanya, ia menunggu seseorang mengijinkannya membuka penutup itu tapi nyatanya Sasuke tak merasakan keberadaan siapapun disini. Karena penasaran, Sasuke membuka kain yang menutup kedua matanya.
Sasuke menyipitkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke bola matanya. setelah matanya bisa menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, Sasuke baru bisa melihat keberadaannya. Sekarang ia berdiri di sebuah lorong kecil, lorong ini sangat terang. Sasuke menatap kesekelilingnya, seingatnya tadi ia masuk melalui pintu, tapi sejauh yang ia lihat, ia tak menemukan satu pun pintu, padahal tadi ia hanya didorong sedikit untuk memasuki tempat ini. Didepan dan dibelakangnya hanya ada sebuah lororng, lalu dari mana ia masuk?
Sasuke meraba tembok disampingnya, tembok itu terlihat sedikit berbeda dari tembok lainnya. "Apa ini ruangan rahasia?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan disini?"
Drrrttt Ddrrrtt
Baru saja Sasuke memutuskan untuk menyusuri lorong ini, sebuah pesan masuk dan menghentikan langkahnya.
To: Sasuke
From : 0855xxxxxxx
Ikuti saja lorongnya dan kau akan menemukan aku
Sasuke mendengus, 'Lihat saja apa yang akan terjadi padamu saat kita bertemu nanti' batin Sasuke sambil meremas HPnya.
Sasuke berjalan menyusuri lorong ini, beberapa meter sudah terlewat sampai akhirnya Sasuke menemukan sebuah pintu berwarna putih ditengah pintu terdapat sebuah jendela kecil yang membuat Sasuke bisa melihat kedalam ruangan. Didalam sana, Sasuke melihat ruangannya berwarna putih persis seperti rumah sakit, sebuah meja besar dan kursi berwarna putih pun bisa dilihat Sasuke dari luar sini. Sasuke bahkan bisa melihat seseorang menduduki kursi putih itu, namun sayangnya Sasuke tak bisa melihat wajah orang itu, tapi Sasuke yakin dia adalah sipeneror. Dengan gerakan cepat Sasuke membuka pintu dihadapannya.
"Hai Sasuke, selamat datang"
Look At me
Hinata menunduk ketakutan, ia ingat kejadian ini, kejadian yang menurut sipeneror adalah kenangan indah Hinata. Tangannya bergetar, disini banyak orang tapi Hinata tak bisa meminta pertolongan karena baru saja ia mendapat pesan dari peneror itu yang intinya dia akan membunuh Naruto jika sampai Hinata melakukan hal yang mencurigakan.
Pria yang mengantarnya datang dengan membawa seporsi es krim vanilla kesukaannya. Hinata menatap es krim itu ketakutan, ia tahu es krim itu sudah dicampuri obat tidur. Kejadian ini persis seperti dulu,saat dirinya diculik lima tahun lalu. Tak mungkin peneror itu adalah sipenculik, Hinata yakin penculik itu sudah meninggal dunia, siapa sebenarnya sipeneror? Kenapa dia bisa tahu kejadian penculikkan Hinata sedetail ini?
Pria dihadapannya kembali menyodorkan es krim vanilla itu ke hadapannya.
"Nona Hinata, ini es krim pesanan nona"
Hinata menjambak rambutnya kuat, berusaha mengusir ingatan masa kecilnya. Hinata ingin sekali menangis, ia tak mau merasakan perasaan takut seperti ini lagi.
"Dia kenapa?"
Hinata tersentak ketika mendengar suara perempuan yang entah sejak kapan berdiri disampingnya. Hinata diam, tak menjawab pertanyaan dari perempuan ini, bukannya tidak mau kalau saja boleh ingin sekali Hinata meminta bantuan pada perempuan asing ini tapi, sekali lagi ia harus mengingat nasib Naruto jika ia melakukannya.
"Maaf, anak saya memang sedang sakit" jawab pria yang membawanya kesini. Hinata tak peduli dengan obrolan ini, yang ia inginkan adalah ia cepat pergi dari tempat mengerikan ini.
"Kalau sakit, kenapa diajak makan es krim pak?" Tanya perempuan tadi.
"Sebenarnya, ini adalah keinginan terakhirnya" jawab pria itu dengan nada yang sangat menyedihkan. Hinata mendengus, alasan yang membuat Hinata sejenak melupakan keberadaanya.
"Ohh.." perempuan itu tak bisa merespon lagi yang ia lakukan sekarang hanya menatap Hinata dengan tatapan kasihan.
'Mudah sekali orang ini percaya, kalau pun ini adalah hari terakhirnya, ia tak akan minta untuk makan es krim, ia lebih menginginkan keselamatan Sasuke dan Naruto' batin Hinata kesal.
Setelah itu perempuan tadi pergi dengan wajah bersalahnya, seolah ia telah menyinggung Hinata. Hinata kembali menunduk ketika perempuan itu pergi, es krim didepannya masih harus dimakan dan Hinata tak mau melakukan itu. Terakhir kali ia memakan es krim ditempat ini, ia harus tersiksa selama seminggu, ia harus kehilangan ibunya, ia harus merasa ketakutan bahkan setelah dia berhasil lolos dari penculikan, tidak, ia tidak tidak mau lagi, ia tidak tahu siapa dan hal buruk apa yang akan menimpanya lagi setelah memakan es krim ini.
"Aku akan menuruti keinginanmu, tidak bisakah aku tidak memakan eskrim ini?" Tanya Hinata pelan pada pria yang mengantarnya.
Pria itu menggeleng. "Ini perintah" ucapnya tegas.
Perkataan tegas pria itu membuat Hinata sadar, tak ada yang bisa dilakukannya lagi selain menuruti keinginan si peneror.
Look At Me
Neji , Orochimaru dan Itachi sekarang sudah berada disekolah. Setelah mendapat informasi dari Orochimaru dua jam yang lalu, Neji langsung menghubungi Itachi. Awalnya ia berniat untuk menanyakan semua informasi pada Sasuke, tapi nyatanya Sasuke belum kembali dari sekolah parahnya lagi Hinata yang tadinya ada dirumah pun menghilang. Orochimaru yang saat itu berada disamping Neji, hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia sangat ingat bahwa ia menyuruh Sasuke kembali, kembali dalam artian kembali kerumah, bukannya kembali kesekolah.
"Dimana mereka?" Tanya Neji saat tidak menemukan Sasuke dan Hinata dimanapun.
"Sepertinya kita sudah terlambat" ucap Itachi tanpa menjawab pertanyaan Neji.
"Maksudmu?" Tanya Neji lagi.
"Peneror itu sudah lebih dulu membawa mereka" Kali ini Orochimaru yang menjawab.
Mendengar itu, Neji jadi kesal. "Bukankah kau bisa melacak keberadaan mereka?" Tanya Neji pada Itachi.
"Bukankah sudah kukatakan? HP mereka mati sejam yang lalu jadi aku sudah tak bisa melacaknya" jawab Itachi kesal. Kepanikan Neji membuatnya ikut panik juga.
Bruukk
"Sial!" Neji memukul meja didepannya. Sekarang mereka bertiga sedang berada di kelas Hinata dan Sasuke.
"Menurutku, Sasuke dan Hinata tak akan sebodoh itu" ucap Itachi tiba-tiba.
Neji mengernyit tak mengerti.
"Mereka pasti akan berusaha meninggalkan jejak" lanjut Itachi. Mendengar itu Neji langsung mengerti.
"Kalau begitu kita berdua berpencar mencari petunjuk yang ditinggalkan mereka, dan Orochimaru bisakah kau mengecek CCTV disekolah ini?" pinta Neji.
"Tentu saja" Orochimaru mengangguk kemudian pergi meninggalkan Neji dan Itachi. Setelah, Orochimaru pergi, Neji dan Itachi pun mulai melakukan tugas mereka.
Beberapa menit telah terlewat, Neji yang mendapat tugas mencari petunjuk didalam sekolah belum menemuka apapun sedankan Itachi yang mendapat tugas mencari diluar sekolah pun belum menemukan sesuatu yang penting.
Itachi diam sebentar, ia mencoba berpikir melalui sudut pandang Sasuke dan Hinata. Jika saat itu mereka tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menuruti permintaan sipeneror, berarti mereka tak akan sempat memikirkar petunjuk apa yang akan mereka tinggalkan, atau malah mereka memang tidak meninggalkan jejak apapun, tapi kalaupun sempat meninggalkannya, mereka pasti akan meninggalkannya di saat-saat terakhir, dan menurut Itachi saat-saat terakhir mereka adalah saat mereka akan keluar dari sekolah. Dan tempat terakhir mereka berarti di gerbang sekolah, tapi Itachi tak menemukan apapun disana tadi. Kecuali kalau… Itachi langsun tersadar, ia pun menghubungi Orochimaru.
"Ada apa?" Tanya Orochimaru dari sebrang telpon.
"Gerbang disekolah ini ada berapa?" Tanya Itachi langsung.
"Selain gerbang utama, ada dua lagi" jawab Orochimaru tak mengerti.
"Dimana itu?" Tanya Itachi lai.
"Yang pertama ada di taman belakang dan satu lagi didekat udang sekolah"
"Baiklah aku akan kesana, bagaiman keadaan CCTV?" Tanya Itachi sambil berlari menuju salah satu gerbang yang disebutkan Orochimaru ntadi.
"CCTVnya eror, mereka tak merekam apapun, bahkan dari sini aku tidak bisa melihat keberadaan kalian berdua"
"Bagaimana bisa?" Tanya Itachi tak mengerti.
"Kurasa peneror itu sudah melakukan sesuatu dengan CCTV sekolah"
"Menyebalkan!"
"Dan Oh!. Aku baru sadar!" ucap Orochimaru tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Karena kau membahas gerbang, aku baru sadar kalau di taman belakang tak ada CCTVnya" ucap Orochimaru. "Karena itu gerbang disana sering menjadi tempat untuk siswa-siswa kabur dari sekolah"
'Itu dia! Pasti di sekitar taman belakang Hinata atau Sasuke meninggalkan jejak"
Deg
Itachi berhenti berlari saat ia sampai di ujung lorong menuju taman belakang. Ia menoleh melihat tembok disampinganya, ditembok itu terdapat tulisan.
'0882xxxxxx'
'HS'
"HS? Hinata Sasuke!"
TBC
Huaaa Ita telatnya parah banget ya… Ita bener-bener gak ada waktu maap ya *bungkuk 90 derajat*
Ini aja Ita nulis sebelum berangkat TO karena itu Ita gak sempet balas review-review kalian *Nangis* maap.. maap.. tulisan juga jadi acak-acakan gini…
Walaupun Ita gak sempet balas review para readers Ita tetep mau bilang maksih karena udah baca dan makasi karena udah review…
Ita pergi TO dulu babay.. *lambai-lambai tangan*
