Sebelumnya..

Deg

Itachi berhenti berlari saat ia sampai di ujung lorong menuju taman belakang. Ia menoleh melihat tembok disampinganya, ditembok itu terdapat tulisan.

'0882xxxxxx'

'HS'

"HS? Hinata Sasuke!"

Look At Me

"Hai Sasuke, selamat datang"

Sasuke mendengus ketika melihat orang yang menyapanya.

"Bagaimana rumahku? Waktu itu, aku belum sempat menunjukan bagian dalam rumahku pada kalian semua" lanjut orang itu.

Sasuke ingat, kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya dan Hinata masih seperti musuh dan harus mengerjakan tugas kelompok bersama dirumah ini.

Sasuke menyandarkan tubuhnya pada pintu putih yang sudah tertutup dibelakangnya kemudian ia melipat kedua tangannya didepan dada.

"Jadi ini bagian dalamnya?" Tanya Sasuke tenang. "Tidak buruk" lanjut Sasuke.

"Kenapa kau tenang sekali? Kukira kau akan terkejut"

"Tidak, kau salah, awalnya aku juga berfikir aku akan sangat terkejut tapi ternyata…Tidak" jawab Sasuke masih dengan sikap tenangnya.

"Oh ya? Kenapa?"

"Hmmm.."Sasuke tampak berfikir. "Mungkin karena kau juga termasuk dari salah satu orang yang aku dan Naruto curigai, dan sebenarnya juga, dari awal aku lebih mencurigaimu dibanding tersangka lain"

"Wahh..Benarkah? Bagaimana bisa?"

"Yahh… kau tahu? Aku hanya sedikit berfikir saja.. Hinata mulai diteror lagi semenjak kedatanganmu" jawab Sasuke.

"Hanya karena itu?"

"Tentu saja tidak…" Sasuke diam sebentar sebelum melanjutkan. "..jadi, selama ini kau mengawasi kami dari sana, Gaara?" Sasuke menunjuk monitor-monitor yang berada dibelakang Gaara dengan dagunya. Di salah satu monitor, terlihat Hinata yang sedang menikmati,tidak, lebih tepatnya terpaksa makan es krim vanilla dengan seorang pria yang Sasuke yakin adalah kaki tangan Gaara, samar-samar Sasuke merasa pernah melihat toko es krim itu. Dimonitor lainnya terlihat Neji sedang mengelilingi sekolah lalu ada Orochimaru-sensei yang berada di ruang kepala sekolah, dan masih banyak monitor lainnya yang menunjukkan setiap sudut sekolah, toko es krim bahkan rumah ini.

Gaara mengangkat kedua alisnya ketika mendengar pertanyaan Sasuke, tapi sedetik kemudian ia tertawa karena menyadari Sasuke sedang mengubah topik pembicaraan. "Sebenarnya aku sangat penasaran dengan alasan aku bisa sampai dicurigai, tapi..kurasa itu bukan hal yang penting sekarang"

Sasuke mengangguk setuju. "Kau benar" ucap Sasuke tak acuh. "Ahh.. bolehkah aku meminta sesuatu?"tanya Sasuke seolah baru sadar akan sesuatu.

Gaara kembali tertawa melihat tingkah Sasuke yang seolah sedang mengejeknya. "Tentu saja, tapi aku tak yakin akan memberikannya" balas Gaara sambil mendekati Sasuke.

Duagh

Satu pukulan mendarat di wajah Gaara, hingga membuat pria itu jatuh kelantai. Sebelum Gaara sempat berdiri, Sasuke sudah lebih dulu memegang kerah bajunya.

"Beri aku satu alasan agar aku tak membunuhmu sekarang?!"pinta Sasuke penuh penekanan. Kesabaran yang ditahannya semenjak melihat wajah Gaara diruangan ini sudah habis.

"Wahh.. seorang Uchiha Sasuke bisa jadi sangat emosional hanya karena seorang 'HINATA'" ucap Gaara.

Sasuke kembali meninju wajah Gaara dan membuat Gaara harus menabrak sebuah kursi. "Hinata itu bukan 'Hanya', mengerti?!" ucap Sasuke marah.

Gaara tertawa mendengar ucapan Sasuke "Sasuke, apa yang membuatmu berfikir kau bisa membunuhku?" tanya Gaara tenang sambil membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya.

Duagh

Kali ini Sasuke yang mendapat sebuah pukulan yang membuatnya terjatuh.

"Kau itu hanya anak rumahan yang selalu mendapat perhatian dari keluargamu, tak mungkin kau bisa mengalahkanku yang selama masa kecil kuhabiskan untuk berkelahi" ucap Gaara sambil mendekati Sasuke yang terjatuh dilantai. Baru saja Gaara ingin memukul Sasuke lagi, Sasuke sudah lebih dulu menendang perutnya sehingga Gaara terdorong beberapa meter dari tempat jatuhnya Sasuke, setelah itu Sasuke langsung bangkit dan mendekati Gaara yang masih terhuyung.

"Kau pikir aku tak bisa membunuhmu?"tanya Sasuke menantang.

"Ah.. ada satu lagi alasan kenapa kau tidak bisa membunuhku sekarang" ucap Gaara tiba-tiba, menghentikan pergerakan tangan Sasuke yang siap untuk meninjunya.

Sasuke menatap Gaara penuh tanya. Gaara terkekeh melihat ekspresi Sasuke.

"Kalau aku mati sekarang, menurutmu, apa yang akan terjadi dengan Hinata dan Naruto?" tanya Gaara sambil menyeringai.

"Kau!?" Sasuke menarik kerah baju Gaara. "Dengarkan baik-baik! Kalau sampai kau menyentuh Hinata sedikit saja, aku akan membuatmu merasakan hal yang lebih menyakitkan dari kematian!" ancam Sasuke.

Gaara menyeringai sambil menyingkirkan tangan Sasuke dari kerah bajunya. "Kalau begitu, bisakah kita tidak bertengkar? Aku tidak mau bertemu Hinata dengan keadaan kacau"

Look At Me

Hinata mengambil es krim vanilla didepannya ragu, sambil menahan tangis ia memasukkan satu sendok es krim ke mulutnya. Rasanya agak pahit, jelas sekali kalau obat ini sudah dicampur dengan obat tidur. Hinata berusaha menelan es krim itu tanpa meninggalkan jejak rasa pahit dimulutnya.

Setelah beberapa sendok dihabiskan Hinata, matanya mulai mengantuk, pandangannya semakin lama semakin buram hingga akhirnya semuanya menghitam.

Look At Me

'Kalian berdua memang hebat' batin Itachi saat melihat nomor yang ditinggalkan Hinata dan Sasuke.

Segera Itachi menghubungi Orochimaru, meminta seniornya itu untuk melacak nomor yang ditinggalkan Hinata dan Sasuke.

Tak lama, hanya butuh beberapa menit, Orochimaru sudah dapat menemukan letak pemilik nomor. Itachi dan Neji pun segera pergi ketempat yang sudah ditemukan Orochimaru.

Dirumahnya, Gaara sedang tertawa melihat semua yang terjadi disekolah.

"Sasuke, bagaimana?" tanya Gaara pada Sasuke yang berdiri dibelakangnya.

Sasuke menatap pada salah satu layar monitor yang tadi tertutupi oleh tubuh Gaara sehingga Sasuke tak menyadari keberadaannya, monitor itu menunjukkan sebuah tembok bertuliskan nomor HP Hinata yang diberikan Gaara serta inisial namanya dan Hinata.

"Kau..?!" Sasuke menatap layar monitor itu tak percaya.

Gaara menyeringai ketika melihat reaksi Sasuke. "Kenapa? Kau terkejut karena ada CCTV dilorong menuju taman belakang?"

"B-Bagaimana Bisa?" tanya Sasuke masih tak percaya, pasalnya ia sangat yakin jika dilorong itu tak ada CCTV.

"Sasuke, sebulan sebelum masuk kesekolah itu, aku sudah mencaritahu seluk beluk sekolah, guru-guru yang akan mengajarku, tempat-tempat yang cocok untuk menyiksa Hinata dan yahh termasuk letak-letak CCTV…" Gaara diam sebentar untuk melihat reaksi Sasuke. "…Hari ini adalah hari yang special untukku, aku tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun, karena itu, aku meletakkan kamera tersembunyi disemua tempat yang tak memiliki CCTV, aku tak ingin ada orang lain yang mengganggu hari spesialku" ucap Gaara sambil menyeringai.

Sasuke mendengus ketika mendengar penjelasan Gaara."Lalu, Itachi dan Neji akan pergi kemana? Aku yakin mereka berdua bukan pergi ke tempat Hinata berada sekarang, benarkan?" tanya Sasuke.

"Tentu saja, mereka berdua sudah masuk perangkapku, mulai sekarang mereka tidak akan mengganggu kita lagi" Gaara menjawab dengan nada santai. "Oh.. benar juga! Karena Hinata sudah mau sampai, bisakah kau ikut denganku?" tanya Gaara.

Sasuke menatap Gaara sinis "Apa yang sedang kau rencanakan sekarang?HAH?!"Bentak Sasuke kesal. "Jangan berani menyentuh Hinata!" ancam Sasuke.

"Sasuke, sekarang kau bukan di posisi dimana kau bisa mengancamku, mengerti!" balas Gaara santai. "Lagpula, Hinata akan jadi orang terakhir yang akan kubunuh, jadi.. kau tenang saja, kalau belum terjadi apa-apa padamu berarti belum terjadi apa-apa pada Hinata" lanjut Gaara.

Didalam mobil, Neji dan Itachi masih mengikuti petunjuk yang diberikan Orochimaru pada mereka.

"Kau yakin kita bisa menangkap pelakunya dan menyelamatkan Hinata?" tanya Neji ragu.

"Aku tidak tahu, tapi, kau harus tahu satu hal," jawab Itachi menggantung.

"Apa?" Tanya Neji agar Itachi melajutkan ucapannya.

"Sasuke itu cukup pintar, dia tak akan membiarkan orang yang menyakiti Hinata bebas begitu saja" lanjut Itachi

"Yahh, kalau rencana ini gagal, aku akan membunuh adikmu!" ancam Neji.

Itachi tertawa mendengar ancaman itu. "Baiklah, untuk sekarang kita serahkan Hinata pada Sasuke dan kita fokus pada petunjuk Orochimaru"

Look At Me

Hinata membuka matanya perlahan,berusaha menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk kematanya. Ruangan serba putih jadi hal pertama yang Hinata lihat, perlahan Hinata mulai mengingat apa yang sudah terjadi padanya, saat dirinya ingat, ia langsung bangkit dari tidurnya. Hinata menatap sekeliling ruangan, ia mencoba mencari petunjuk tentan keberadaannya.

"Kau sudah bangun?"

Hinata langsung menoleh kebelakang saat mendengar suara seseorang. Dibelakang, Hinata menemukan Gaara yang sedang berdiri menatapnya.

"Ga..Gaara?A..aku dimana? Sedang apa kau disini?"Bukankah tadi aku..i..itu.. Hinata mengehentikan ucapannya saat menyadari sesuatu. "Naruto dan Sasuke?" tanya Hinata panik, seingatnya tadi ia sedang bersama kaki tangan peneror, seharusnya sekarang ia sedang berada ditempat peneror kan? Seharusnya ia pergi ketempat Sasuke dan Naruto berada kan? tapi kenapa Gaara ada disini? Banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan Hinata kepada Gaara, tapi apapun itu, yang terpenting sekarang adalah mencaritahu keadaan Naruto dan Sasuke.

Gaara mendekati Hinata saat ia melihat Hinata panik.

"Hinata.." panggil Gaara sambil memegang kedua bahu Hinata agar gadis itu memfokuskan dirinya pada Gaara. "Lihat aku, apa kau tak ingat aku?" tanya Gaara sambil menatap kedua bola mata Hinata.

Hinata mengernyit mendengar pertanyaan Gaara. "Apa maksudmu?" tanya Hinaa tak mengerti.

Gaara tertawa pelan mendengar reaksi Hinata. "Tentu saja kau tak ingat" ucap Gaara lebih kepada dirinya sendiri. "Baiklah, bagaimana kalau begini.." ucap Gaara sambil tiba-tiba memeluk Hinata. "Hinata-chan, mau tidak jadi temanku?" tanya Gaara pelan.

Deg..

"Aku boleh memanggilmu 'Hinata-chan'?"

'Hinata-chan, mau tidak jadi temanku?'

Sebuah suara terngiang ditelinga Hinata, suara yang sangat familiar tapi terkesan jauh, sebuah suara yang sangat dirindukannya sekaligus sangat ingin dilupakan. Sekarang, ketika suara itu kembali memenuhi ingatannya, Hinata melemah, tubuhnya bergetar bahkan kakinya sudah tak mampu menopang tubuhnya sendiri hingga Hinata jatuh terduduk didepan Gaara. Jantung Hinata berdebar sangat kencang seolah ia sudah melupakan sesuatu yang sangat berharga namun menyakitkan juga jika masih terus diingat.

Hinata kecil meringkuk diujung ruangan, ruangan serba putih yang sangat menakutkan. Disana Hinata menangis tersedu-sedu, ia tak tahu apa yang terjadi padanya, hal terakhir yang Hinata ingat hanyalah es krim vanilla yang sedang dinikmatinya bersama supir pribadi keluarganya. Sekarang ia sudah berada diruangan yang bahkan tak pernah dilihat sebelumnya, entah sudah berapa lama, yang jelas sekarang ia ingin bertemu Ibunya atau Ayahnya atau Neji atau Sasuke atau siapapun orang yang dikenalnya.

Tap..tap..tap..

Hinata mendengar suara langkah kaki seseorang dari sebuah lorong yang berada didepan ruangan tempatnya berada. Hinata segera mendekati pintu ruangan yang terkunci, kemudian ia mengetuk-ngetuk pintu itu, berharap semoga orang yang sedang berjalan diluar mendengarnya.

"Tolong aku!" teriak Hinata dari dalam ruangan.

Cklek

Hinata tersentak ketika pintu yang diketuknya terbuka, diluar ia melihat seorang anak laki-laki seumurnya. Anak itu mengerjap ketika melihat Hinata.

"Kau siapa?" Tanya Hinata dan anak laki-laki itu bersamaan.

"Aku anak dari pemilik rumah ini" jawab anak laki-laki itu duluan.

"Ohh.. ini rumahmu? Aku tidak tahu kenapa aku bisa disini, tapi.. apa kau bisa membantuku?" tanya Hinata ragu.

Belum sempat Hinata mendapat jawaban dari anak laki-laki itu, seorang pria dewasa datang. Pria itu terlihat sangat menyeramkan dimata Hinata, rambut berwarna merah sama seperti anak laki-laki didepannya, badan tegap, dan mata yang menatap Hinata tajam membuat Hinata harus menundukkan kepalanya karena ketakutan.

Blamm

Hinata tersentak ketika pintu didepannya kembali tertutup, Hinata berteriak, meminta orang yang diluar membukakan pintu untuknya. Hening, tak ada sahutan sama sekali dari luar, Hinata yakin didepan sana sudah tak ada siapapun lagi.

Dua hari kemudian..

Hinata sudah menyadari kalau dirinya sedang diculik, orang yang menculiknya adalah pria menyeramkan yang dilihatnya dua hari yang lalu. Hinata tak diijinkan keluar dari ruangan putih ini, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya menonton semua kejadian yang terjadi dirumahnya melalui monitor-monitor yang berada diruangan. Hinata dipaksa untuk melihat kehancuran yang dialami keluarganya, Hinata tak tahu apa tujuan penculik itu yang jelas Hinata membencinya.

Disaat Hinata mulai merasa frustasi, anak itu muncul dihadapan Hinata, anak laki-laki berambu merah yang dua hari lalu ditemuinya. Anak itu tiba-tiba saja membuka pintu ruangan, membuat Hinata tersentak. Hinata sudah cukup trauma mendengar suara pintu itu terbuka, karena setiap kali pintu itu terbuka, Hinata selalu mendapat siksaan baik secara fisik maupun psikisnya. Karena itu, saat pintu itu terbuka, Hinata cepat-cepat mundur kepojok ruangan, tapi saat sudut matanya mendapati sosok anak laki-laki yang dikenalnya, Hinata mengernyit.

"Hai" sapa anak laki-laki itu lembut.

Mendengar sapaan yang lembut seperti itu, Hinata jadi menangis. Selama dua hari ini Hinata selalu mendengar kata-kata kasar yang membuat telinganya serasa ingin pecah.

"Jangan menangis" ucap anak itu lagi, kali ini nada bicaranya terdengar khawatir. Sambil mendekati Hinata, anak laki-laki itu mengamati seluruh ruangan seolah baru pertama kali melihat ruangan ini. Pandangan anak itu berhenti saat melihat monitor-monitor yang digantung di tembok ruangan, monitor-monitor itu menunjukkan sebuah tempat yang ia tak tahu dimana.

"A..aku i..ingin pu..pulang..hiks.." ditengah-tengah tangisnya Hinata berusaha berbicara.

"Namamu siapa?" tanya anak laki-laki itu.

"Hiks.. .aku..Hinata" Hinata berusaha menjawab.

"Hinata, maaf, kurasa aku tak bisa membawamu pulang, aku tak bisa melawan ayahku"ucap anak laki-laki itu sambil menghapus air mata Hinata.

"A..ayah?" tanya Hinata bingung.

"Ya, orang yang membawamu kesini adalah ayahku"

Mendengar itu Hinata kembali menangis, padahal ia sangat berharap anak laki-laki didepannya ini akan membantu tapi nyatanya anak didepannya adalah anak dari orang yang menculiknya.

"Maafkan ayahku ya Hinata, Ayahku memang jadi sedikit aneh semenjak Ibuku meninggal dunia.." ucapan anak itu menggantung, Hinata melihat anak itu sedang menatap langit-langit ruangan, kalau Hinata boleh menebak sepertinya anak ini sedang memikirkan sesuatu yang menyakitkan, mungkin tentang ibunya yang meninggal. "Tapi.. ayahku sebenarnya baik, aku yakin nanti dia akan membawamu pulang" anak laki-laki itu melanjutkan, kali ini ia sudah kembali menatap Hinata sambil tersenyum. Hinata bisa melihat senyuman itu begitu rapuh, senyum layaknya orang yang sudah lelah dengan kehidupan. Melihat pemandangan ini, Hinata reflek memeluk anak didepannya ini, mencoba memberi kekuatan padanya. Konyol bukan, padahal saat ini Hinata juga sedang merasa ketakutan, tapi melihat anak didepannya yang begitu rapuh Hinata jadi tak tega, Hinata merasa apa yang dialaminya sekarang tak seburuk dengan apa yang sudah dialami anak ini dimasa lalu.

Anak laki-laki itu balas memeluk Hinata. "Aku boleh memanggilmu 'Hinata-chan'?" tanya anak laki-laki itu masih sambil memeluk Hinata. Sedangkan Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Hinata-chan, mau tidak jadi temanku?" tanya anak itu lagi.

"Hmm, tentu saja" ucap Hinata yakin.

Keesokannya, anak laki-laki itu datang lagi ke ruangan Hinata. Saat itu Hinata sedang menangis ketakutan.

"Hinata-chan jangan menangis" ucap anak itu sambil mengusap air mata Hinata.

Anak itu selalu datang setiap kali Hinata menangis, ia datang sekedar untuk mengatakan 'Jangan menangis' tapi itu cukup untuk membuat Hinata merasa baikan. Bagi Hinata, Ayah anak ini seperti iblis sedangkan anaknya ini seperti malaikat. Hinata yakin, sifat baiknya ini diturunkan oleh ibunya yang sudah meninggal dunia, mungkin karena sifat mereka yang mirip, anak ini jadi merasa sangat kehilangan saat ibunya meninggal.

"Aku boleh bertanya?" tanya Hinata pada anak laki-laki itu suatu hari.

"Tentu saja" jawab anak itu sambil tersenyum.

"Ibumu..bagaimana ibumu bisa meninggal?" tanya Hinata ragu, tapi saat melihat reaksi anak laki-laki itu, Hinata merasa menyesal karena sudah menanyakannya. Ekspresi anak itu berubah kaku, seperti sedang menahan amarah, kesedihan, kebencian, sekaligus ketakutan.

"Maaf, tak seharusnya aku menanyakan hal itu" ucap Hinata cepat-cepat sebelum anak itu tenggelam kedalam masa lalunya yang pahit.

"Tak apa Hinata-chan, kau boleh menanyakan apapun karena kau itu temanku.." anak itu berhenti sebentar untuk menghembuskan nafas, seolah apa yang akan dikatakannya sebentar lagi adalah hal yang paling sulit untuk dikatakan. "Ibuku, dia bunuh diri" lanjut anak itu.

Mendegar itu, Hinata langsung membekap mulutnya. "Ke..kenapa?" tanya Hinata disela-sela keterkejutannya.

Anak itu menerawang "Dua tahun lalu, bisnis Ayahku hancur, semenjak itu Ayahku jadi orang yang sangat pemarah, Ayahku sering bertengkar dengan Ibu dan sering memukuli Ibu, mungkin Ibu merasa frustasi hingga akhirnya Ibu melakukan hal mengerikan itu" ucap anak laki-laki itu menjelaskan.

Hinata bisa melihat tubuh anak laki-laki itu bergetar hebat saat menceritakan masa lalunya. Hinata memegang tangan anak itu, berusaha memberi kekuatan.

"Kau tahu Hinata? Dihari Ibu memutuskan untuk bunuh diri, aku sedang bermain ditaman bermain bersama adikku, seharusnya.. seharusnya aku tidak bermain hari itu, seharusnya aku ada dirumah dan menemani Ibu, aku tahu Ibu sedang kesulitan tapi aku malah bermain" kali ini anak laki-laki itu menceritakan penyesalannya yang amat dalam, Hinata yang melihat anak itu sudah terlihat sangat hancur memutuskan untuk memeluknya, Hinata berusaha memberi ketenangan pada anak itu.

"Ini bukan salahmu" ucap Hinata yakin.

"Kau benar, ini bukan salahku, yang salah adalah orang yang membuat bisnis Ayahku hancur, orang itu, jika aku bertemu dengan orang itu aku pasti akan membunuhnya" ucap anak laki-laki itu penuh amarah.

Hinata terkejut mendengarnya, tapi Hinata juga tak bisa berkomentar apapun. "Sekarang jangan bersedih lagi" ucap Hinata sambil melepas pelukannya.

"Gaara!"

Hinata dan anak laki-laki itu sama-sama menoleh saat mendengar bentakan seseorang dari arah pintu ruangan. Ternyata ayah anak laki-laki itu sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka. Saat itu, Hal yang terakhir Hinata lihat adalah anak laki-laki itu diseret keluar oleh ayahnya.

Setelah hari itu, anak laki-laki yang selama ini menemani Hinata tak pernah muncul lagi. Hinata jadi harus menghadapi kemarahan Ayahnya sendirian, tak ada orang yang bisa menghiburnya lagi. Hinata merasa akan gila, untungnya dua hari kemudian Hinata diselamatkan meskipun dihari itu Hinata juga harus kehilangan sang Ibu.

"Gaara.." panggil Hinata lirih. Ingatan lima tahun lalu sudah kembali sepenuhnya kedalam ingatan Hinata. Lima tahun lalu, saat dirinya berhasil lolos dari penculikkan, Hinata sangat terguncang, apalagi saat dia harus kehilangan Ibunya. Karena itu, banyak sekali hal yang Hinata lupakan, hal yang bisa diingatnya hanyalah kejadian di hari terakhir Hinata berada di tempat ini, tempat dimana Ibunya meninggal dunia, yaa benar tempat ini, Hinata juga ingat tempat ini sekarang. Tempa Hinata menghabiskan waktu seminggu yang sangat menyiksa.

"Hinata, kau sudah ingat aku?" tanya Gaara sambil berjongkok didepan Hinata. "Hinata-chan, lama tak bertemu" ucap Gaara lagi seolah ia sangat merindukan Hinata.

Hinata mengangkat kepalanya untuk melihat Gaara. "Gaara, maafkan aku" ucap Hinata, saat itu juga air mata Hinata menetes. Pantas saja, saat pertama kali Hinata berkunjung kerumah Gaara, ingatan tentang penculikan dirinya kembali begitu saja, ternyata karena rumah inilah yang menyimpan semua kenangan yang yang ingin dilupakan Hinata.

Setelah ingatannya kembali, Hinata mulai mengerti apa yang terjadi padanya, dimana ia berada sekarang? Kenapa ia berada disini? Kenapa Gaara bisa ada disini? semua pertanyaan yang tadi berkeliaran dikepala Hinata mulai terjawab satu per satu, bahkan Hinata sudah bisa menebak siapa orang yang selama ini meneror dirinya termasuk alasan kenapa ia diteror, semua hal yang ingin ditanyakannya selama ini sudah terjawab, dan jawaban yang didapatkannya sangat menyakitkan.

"Hinata-chan, jangan menangis" ucap Gaara sambil mengusap air mata Hinata, persis seperti dulu, dan itu membuat Hinata semakin merasa bersalah.

"Hinata, kau ingat, dulu aku pernah bilang kalau aku akan membunuh orang yang menghancurkan bisnis Ayahku.." ucap Gaara lagi.

Mendengar itu, Hinata hanya bisa diam, Hinata sudah bisa menebak arah pembicaraan Gaara.

"Tapi Hinata, setelah kejadian lima tahun lalu, aku berubah pikiran, aku tidak akan membunuh orang yang menghancurkan bisnis ayahku, aku hanya akan membunuh orang yang paling berharga untuknya, sama seperti yang orang itu lakukan padaku"Gaara melanjutkan.

"Iya benar, lakukan itu saja, lagipula dari awal ini permasalahan keluargamu dan keluargaku, jadi jangan libatkan Naruto dan Sasuke, kumohon" pinta Hinata.

Gaara mendengus geli ketika mendengar permintaan Hinata. "Hinata-chan, sepertinya kau salah paham.." Gaara sengaja menggantungkan ucapannya untuk melihat reaksi Hinata, dan gadis itu hanya menatapnya bingung. "Mungkin benar, orang yang menghancurkan bisnis Ayahku dan akhirnya membuat Ibuku bunuh diri adalah Ayahmu, tapi bagiku, orang yang sudah membunuh Ayahku adalah dirimu, Hinata"

Hinata membelalak ketika mendengarnya.

"Karena itu, aku akan membunuh orang yang paling berharga bagimu, setelah itu, aku akan membunuhmu dan Neji, karena kalian adalah orang yang paling berharga untuk Ayahmu" ucap Gaara melanjutkan.

"Ga..Gaara-kun, kumohon jangan lakukan itu" pinta Hinata lirih, Hinata tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, mendapati kenyataan Gaara-lah yang melakukan semua ini, Hinata jadi melemah, ia tak bisa marah, tak bisa membenci, bahkan ia tak bisa untuk sekedar kecewa dengan tindakan Gaara. Hinata mengerti perasaan sakit yang dirasakan Gaara karena harus kehilangan orang yang paling dicintainya bahkan saat umurnya masih kecil, yaitu Ibunya, karena Hinata pun merasakan hal yang sama saat Ibunya meninggal dunia, tapi setidaknya Hinata masih punya Ayahnya, Hinata masih punya Neji, masih punya Sasuke, sedangkan Gaara, dia hanya punya Ayahnya yang meskipun sedikit gila, tapi Ayahnyalah satu-satunya sandaran hidup Gaara, disaat Ayahnya meninggalkannya juga, Hinata tak tahu seberapa besar rasa sakit yang didapat Gaara, dan yang paling Hinata benci adalah semua yang dialami Gaara adalah ulahnya dan keluarganya, karena itu bagaimana bisa Hinata membenci Gaara?

Hinata menangis, satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini.

"Hinata, sudah kubilang jangan menangis, aku bahkan belum menunjukan kejutanku padamu" ucap Gaara sambil berdiri. Gaara melangkah mendekati monitor-monitor yang tertempel di tembok. Hinata hanya bisa melihat pergerakan Gaara dari belakang, ia tak mampu untuk berdiri lagi.

Gaara berhenti tepat didepan monitor-monitor itu, kemudian ia mengambil remote dan menekan salah satu tombolnya, seketika muncul pemandanan yang membuat Hinata bisa bernafas lega sekaligus takut. Di salah satu layar monitor, terlihat Sasuke sedang duduk di kursi putih sambil menundukkan kepalanya, Hinata tak tahu Sasuke berada diruangan mana, yang jelas Hinata yakin ruangan itu ada dirumah ini juga karena desainnya ruangan yang Sasuke tempati masih sama dengan ruangan yang ia tempati sekarang. Sedangkan, di monitor lainnya, Hinata melihat Naruto sedang berbaring lemah disebuah ruangan, ruangannya sangat usang, bukan ruangan putih seperti yang ditempatinya dan yang ditempati Sasuke. Dimanakah itu?

"Hinata, sebutkan satu nama diantara mereka berdua yang paling ingin kau selamatkan" pinta Gaara pelan namun efeknya sangat besar bagi Hinata. apa maksud Gaara kali ini?

"A..A..Ku..Ga..Gaara, apa maksudmu?"

"Ah… aku tahu! .." ucap Gaara tiba-tiba seolah baru mengingat sesuatu. "Kau datang kesini karena ingin meyelamatkan Naruto kan? kalau begitu, Sasuke biar aku bunuh saja ya, setelah itu aku akan membebaskan Naruto, bagaimana?" tanya Gaara dengan tampang polosnya.

"Ga..Gaara..ku..kumohon..jangan lakukan itu" Hinata memohon pada Gaara.

"Oh..atau, karena keadaannya sudah begini, aku yakin kau jadi ingin menyelamatkan Sasuke juga.." Gaara berhenti sebentar untuk menghembuskan nafasnya seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang membingungkan. "Tapi Hinata, aku tetap harus membunuh salah satu diantara mereka agar permainan ini tetap menyenangkan, bagaimana kalau begini saja.." ucap Gaara sambil mendekati Hinata. "Kau, sebutkan siapa diantara mereka yang paling ingin kau selamatkan, orang yang kau pilih nantinya akan aku bunuh dan yang tidak kaupilih akan aku bebaskan" tawar Gaara sambil mendudukan dirinya didepan Hinata. "Bukankah ini menyenangkan? Kau akan melihat orang yang paling ingin kau selamatkan mati" Gaara terkekeh saat mengucapkannya seolah ini memang permainan yang menyenangkan.

Hinata tiba-tiba memegang tangan Gaara, sama seperti dulu, setiap kali Gaara merasa ketakutan Hinatalah yang akan membuatnya tenang. Sekarang pun sama, mungkin diluar Gaara terlihat menikmati permainan yang dibuatnya ini, tapi Hinata tahu ini pasti menyakitkan untuk Gaara.

"Gaara,hentikanlah, kau bukan orang yang seperti ini, aku percaya padamu" ucap Hinata penuh pengertian. Setelah mengatakan itu, sekilas Hinata melihat ekspresi sedih Gaara, tapi hanya sekilas karena setelah itu, Gaara kembali memasang wajah polosnya, wajah polos yang meyimpan sejuta dendam.

"Hinata, jangan berbicara seolah-olah kau mengerti aku" ucap Gaara sambil menyingkirkan tangan Hinata dari tangannya. Setelah itu Gaara kembali berdiri. "Karena kau tidak mau memilih, aku akan membunuh keduanya saja" ucap Gaara lagi kali ini ia mendekati monitor.

"Gaara, aku tidak mengerti" ucap Hinata tiba-tiba.

Gaara terkekeh mendenar itu "Kau tidak perlu mengerti aku,Hinata.. kau hanya perlu tahu saja" ucap Gaara sambil tersenyum. "Bukankah begitu cara kita berteman, tak perlu saling mengerti, apapun yang kulakukan kau tidak perlu mengerti kau hanya perlu tahu dan ikuti saja"

"Kau tidak perlu mengerti aku, Gaara.. kau hanya cukup tahu saja mengenaiku"

Hinata ingat perkataan itu, perkataan yang diucapkannya saat ia menceritakan tentang Sasuke, dulu, Hinata mengatakan itu pada Gaara karena ia pikir Gaara memang tak perlu terlibat terlalu jauh kedalam permasalahannya dengan Sasuke dan peneror, tapi kali ini berbeda.

"Bukan begitu, aku bukannya tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan, aku mengerti dan aku akan tetap mengikutinya Gaara, yang tidak aku mengerti, kenapa kau bisa menahan kebencianmu padaku selama ini?" tanya Hinata.

Mendengar pertanyaan Hinata, Gaara mengernyit. "Jangan mengucapkan sesuatu yang membuatku ingin membunuhmu Hinata" ucap Gaara kali ini tak ada nada polos dalam bicaranya, Gaara serius.

"Kalau aku adalah dirimu, mungkin aku sudah lama membunuh Hinata, atau mungkin aku akan bunuh diri karena tak sanggup menanggung kebencian itu sendiri, tapi kau bisa menahannya, kenapa?" tanya Hinata lagi. Hinata harus tahu apa yang membuat Gaara mampu bertahan selama ini, mungkin jika ia tahu ia bisa menghentikan Gaara.

"Tidak ada alasan khusus, aku hanya tak mau membunuhmu semudah itu, aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan, kehilangan orang-orang yang kusayang, aku juga ingin membuatmu kehilangan orang yang kau sayang, tapi aku tak tahu siapa orang yang paling kau sayangi Hinata, karena itu aku harus mencaritahu dulu.." Gaara berhenti sebentar untuk menarik nafas. "..dan soal aku tak bunuh diri, kau benar, setelah kejadian itu aku sudah mencoba untuk bunuh diri beberapa kali, bahkan saat aku sudah mulai menerormu aku masih mencoba untuk bunuh diri, kau ingat? hampir satu tahun aku tak menerormu lagi?" tanya Gaara.

Hinata ingat, tahun lalu Gaara memang menghilang, Hinata tak pernah mendapat terror . setelah diingatkan, Hinata baru sadar mengenai hal itu, kemana Gaara? kenapa ia menghilang?

"Dipercobaan bunuh diriku yang terakhir aku benar-benar hampir mati, tapi pamanku menyelamatkanku, dan setelah itu aku dibawa kerumah sakit jiwa, kurasa paman juga sudah frustasi karena harus selalu menyelamatkanku setiap kali aku mencoba untuk bunuh diri, aku berada dirumah sakit jiwa itu selama setahun, dan yaah aku memang baru keluar beberapa bulan lalu"

Hinata membelalak ketika mendengarcerita Gaara, jadi alasan dirinya tak diteror tahun lalu karena Gaara sedang berada dirumah sakit jiwa?

"Kau tahu? Mereka mengijinkan aku keluar karena mereka kira aku sudah tak akan melakukan percobaan bunuh diri lagi, tapi mereka tak pernah menanyakan alasan mengapa aku tak mau melakukannya lagi? Aku akan memberitahumu Hinata.. Itu karena aku tak mau membiarkan diriku mati sementara dirimu masih hidup dengan tenang, sejak memiliki pemikiran seperti itu,aku jadi tak mau bunuh diri lagi" jelas Gaara. "Apa kau sudah puas? Sekarang bisakah kita melanjutkan permainan kita?" tanya Gaara sambil memainkan remote yang dipegangnya, Hinata tak tahu itu remote apa tapi sepertinya remote itu bisa langsung membunuh Sasuke atau Naruto jika Gaara menekan salah satu tombolnya.

"Jadi, alasanmu tidak mau mati karena aku? Kalau begitu jika aku sudah mati nanti, apa yang akan kau lakukan pada dirimu? Apa kau akan hidup bahagia? Atau kau akan mencoba bunuh diri lagi?" tanya Hinata lagi., mencoba untuk mengalihkan perhatian Gaara danri Naruto dan Sasuke.

"Setelah membunuhmu dan yang lain, kau pikir aku masih bisa hidup bahagia?" Gaara balas bertanya dengan nada tak percaya seolah pertanyaan Hinata adalah pertanyaa teraneh yang pernah didengarnya.

"Jadi setelah membunuh kami semua kau tak akan bahagia? Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan bunuh diri setelah semua ini?" tanya Hinata bertubi-tubi.

"Bukan urusanmu!" bentak Gaara.

"Tidak, Gaara maafkan aku, kurasa aku tidak mau mati, karena aku tak ingin kau mati, kau bilang kau hidup sampai sekarang karena ingin balas dendam padaku kan? kalau begitu lakukanlah, teruslah balas dendam padaku, tapi, aku tak akan mati" tegas Hinata.

"Kau..!" geram Gaara. "Kau pikir dengan mengatakan kau tidak mau mati maka kau tidak akan mati? Hah? Kau tidak sadar situasi ya? Baiklah, seperti keinginanmu, aku akan membunuhmu dulu" ucap Gaara penuh amarah. Gaara mendekati Hinata dan mencekik gadis itu, Hinata yang tiba-tiba mendapat serangan langsung jatuh tertidur dilantai, tangannya mencoba menggapai lehernya yang dicekik Gaara. wajah Hinata sudah mulai memerah, ia sulit bernafas.

"G..Gh..Ra" Hinata masih berusaha untuk melepaskan tangan Gaara dari lehernya.

"Aku akan menunjukkan padamu kalau kau bisa mati kapanpun aku mau!" desis Gaara tepat ditelinga Hinata. Sementara itu, Hinata masih berusaha memukul tangan Gaara yang mencekiknya, meskipun ia tahu itu tak akan berhasil tapi tak ada yang bisa Hinata lakukan lagi dalam keadaan terdesak seperti ini. Disaat pandangan Hinata mulai memburam, Hinata merasa Gaara melepaskan cekikannya, sebelum Hinata kehilangan kesadarannya, ia mendengar suara yang amat keras, sepertinya ada seseorang yang menyelamatkannya, dengan matanya yang memburam Hinata hanya bisa melihat seseorang sedang menghajar Gaara.

'Sasuke' batin Hinata.

Gelap.

TBC

Pojok review

hinatachannn2505: ohhh maap maap, Ita gak bisa up kilat…

NurmalaPrieska: hehehe tbc itu emang datang diwaktu yang gak tepat :D maap ya Ita gak bisa up kilat

eien desu: seerius nih seru :) Ita jadi terharu :p hehehe maap ya gak bisa up kilat

HipHipHuraHura: hehe sekarang udah ketemu kan?

Rapita Azzalia : oke kalau gitu tunggu next chapnya ya..

Ayra Uzumaki : heyy juga Ayra.. oh ya? Ita emang butuh tokoh yang baik, tapi kelihatan jahat buat dijadiin kambing hitam dan akhirnya terpilihlah Orochimaru :D

Morita Naomi: hehe maap-maap Ita kelamaan yaa? Ini udah Up, terus baca ya jangan gondok nungguin Ita yang lama banget Up nya

Baby niz 137 : Maap ya Ita gak Up kilat lagi :( :(

enydekacha : wow emang Ita ngaretnya sampe berbulan-bulan ya? Maap maap Ita sampe gak sadar hehehe tapi tenang ini fict tetep dilanjutin kok sampe tamat.

hyuga ashikawa : Tenang disini Hina juga udah tau kok :D

cintya cleadizzlibratheea : maap ya gak bisa kilat :D

ujichan: boleh dongg…panggil aja aku Ita.. wihhh makasih lohh atas pujiannya *mulai ke ge-eran*

wahh beneran udah baca 3x? maap ya Ita gak bisa up kilat, kalau soal abisnya sih, chap depan juga udah jadi chap terakhir, jadi baca terus yaa sampe endingnya.. :D

mayyaaaa : hehehe ini udah di up tapi gak klat maap ya..

sonya ade854 II makasih loh karena udah baca :)

Guest ahhh maap Ita gak sengaja ngaretnya *mana ada ngaret yang gak sengaja* tapi ini udah up kan? :D

Fiuhhhh fiuhhh akhirnya Ita bisa nyelesaiin chap ini, maap ya kalau Ita ngaret sampe berbulan-bulan gitu.. :) *jadi gak enak*

Ini aja Ita baru bisa nulis karena Ita baru selesaii TO, UAS, US plus Ujian Praktek jadi baru sempet deh.. maap maap.. mungkin chap depan Ita bakal UP habis UN…

Oh iya, ngomong-ngomong chap depan, chap depan itu bakal jadi chap terakhir di ff Look At Me ini…

Sebelum bener-bener tamat, Ita mau minta kritik dan sarannya dari readers2 yang udah baca sampe sekarang, terutama dari cara penulisan Ita, mungkin ada readers yang kurang paham sama cara Ita deskripsiin sesuatu atau yang lainnya, apapun deh pokoknya kalian boleh kasih kritik dan sarannya kalau ada yang kurang.. tpi, kalau soal typo Ita udah sadar emang Ita banyak typonya hehehe.. maklum nulisnya buru-buru *Watados*

Makasih buat yang udah baca dan review

Sampai ketemu di chap terakhir minna!