Sebelumnya

Disaat pandangan Hinata mulai memburam, Hinata merasa Gaara melepaskan cekikannya, sebelum Hinata kehilangan kesadarannya, ia mendengar suara yang amat keras, sepertinya ada seseorang yang menyelamatkannya, dengan matanya yang memburam Hinata hanya bisa melihat seseorang sedang menghajar Gaara.

'Sasuke' batin Hinata.

Gelap.

Look At Me

Tiga jam yang lalu…

"Aku yakin bangunan itu" Neji menunjuk salah satu bangunan tua yang berjarak kurang dari 100 meter dari tempatnya .

Sekarang ini, Neji dan Itachi sedang mengamati sebuah bangunan tua dari dalam mobil, sebuah bangunan yang menjadi hasil dari pelacakan Orochimaru.

"Baiklah, siapa yang akan jadi umpan?" tanya Itachi santai. "Bagaimana kalau kita tentukan dengan lempar koin?" tawar Itachi.

Neji mendengus ketika mendengarnya. "Kau masih sempat main-main? Aku tidak bisa jadi umpan karena aku harus menyelamatkn adikku" ucap Neji kesal.

"Heii! adikku juga ada disana!" balas Itachi tak terima.

"Ya, tapi adikmu-lah yang merencanakan ini, jadi sebagai kakak kau harus bertanggung jawab" ucapNeji lagi.

Mendengar ucapan terakhir Neji, Itachi hanya bisa mendengus kesal. "Baiklah, baiklah, aku yang akan jadi umpan, dan kau selamatkan adikmu" ucap Itachi sambil turun dari mobil, setelah Itachi turun, Neji langsung menancapkan gas mobilnya dan pergi ketempat Hinata dan Sasuke berada.

"Halo, Orochimaru?" Neji mencoba menghubungi Orochimaru.

"Ya?" jawab Orochimaru disebrang telpon.

"Aku sedang menuju tempat Hinata, jadi kirimkan polisi ke tempat Itachi dan Hinata" pinta Neji.

"Baiklah"

"Apa kau sudah bisa meretas CCTV disana?" tanya Neji lagi.

"Sedang kulakukan"

"Cepatlah"

Tutttt..

Sambungan terputus.

Disebuah ruangan, Sasuke sedang sibuk mengamati jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam, itu berarti Sasuke sudah berada dirumah ini lebih dari tiga jam.

"Apa Hinata sudah sampai?" tanya Sasuke entah pada siapa.

"Tentu saja, dia sedang tertidur sekarang"

Gaara, Sasuke yakin orang yang menjawab itu adalah Gaara. Entah dimana keberadaan orang itu sekarang yang jelas Sasuke yakin Gaara sedang mengamatinya dan Hinata melalui monitor-monitor sialan itu.

"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya Sasuke lagi.

"Tenang saja, aku belum melakukan apapun" suara Gaara kembali terdengar diruangan serba putih ini.

"Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Hinata" ucap Sasuke sambil merebahkan dirinya di sofa putih yang berada diruangan ini.

Suara tawa terdengar. "Memang apa yang bisa kau lakukan untuk membunuhku?"

"Kita lihat saja nanti" jawab Sasuke lagi.

Look At Me

Buaghh

Gaara terdorong beberapa meter kebelakang saat menerima pukulan dari Sasuke.

"Sudah kukatakan, aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu dengan Hinata" ucap Sasuke sambil menatap Hinata yang sudah pingsan didekat sofa.

"B-bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Gaara tak percaya. Jelas-jelas saat ini monitor masih menunjukkan Sasuke yang sedang terduduk dikursi putih, tapi kenapa sekarang dia berada disini?

"Aku hanya perlu mendobrak pintumu saja hingga terbuka" jawab Sasuke santai.

"Tapi di CCTV.."

"Ahh CCTV itu, sepertinya Itachi atau Neji sudah meretasnya..dan satu lagi, sepertinya Naruto juga sudah selamat" jawab Sasuke santai.

"A-Apa maksudmu, mereka sudah masuk kedalam jebakanku?" tanya Gaara lagi.

"Jangan terlalu meremehkan Itachi, dia memang menyebalkan dan mungkin terlihat sedikit bodoh tapi kemampuannya itu cukup menganggumkan, dan Neji juga, kalau soal adiknya kurasa dia bisa lakukan apapun" ucap Sasuke yakin. "Lagipula, masuk kedalam jebakanmu adalah salah satu rencana kami"

"Kalian merencanakan ini? sejak kapan?"

"Eumm mungkin beberapa hari yang lalu.."

"Oh iya, Sasuke ,sejak kapan Gaara mengetahui soal terror itu?" tanya Naruto.

"Apa?" Sasuke balas bertanya karena tak mengerti maksud pertanyaan Naruto.

"Itu, kemarin saat aku ingin menceritakan pada Hinata soal kecurigaanku pada Orochimaru-sensei, Gaara ada disana, dan Hinata bilang Gaara juga sudah mengetahui masalah ini" jelas Naruto.

"Ohh itu, Kurasa Gaara tahu lebih dulu dibanding aku"

"Yang jelas sejak aku beberapa kali memergokimu sedang membuntuti Naruto, awalnya aku tak sadar tapi kemudian aku tahu kau mulai membuntuti Naruto sejak kau tahu Naruto mengetahui soal terror ini, benarkan?"

"Jadi itu alasan kau lebih mencurigaiku dibanding Orochimaru?" Gaara balik bertanya.

"Tentu saja tidak, aku lebih mencurigaimu karena kau menyebalkan"

Gaara tertawa.

Sasuke mendengus melihat reaksi Gaara "Menurutku, kau sedang dalam posisi kalah, tapi kau masih bisa tertawa?" tanya Sasuke tak percaya.

Gaara mengangguk "Ini sangat lucu.."

"Lucu?" Sasuke memotong ucapan Gaara.

"..Sebenarnya aku tak pernah memperhitungkan kedatangan Orochimaru sebelumnya, aku tak menyangka kedatanganku kesekolah bisa bersamaan dengan kedatangan guru baru" lanjut Gaara.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.

"Intinya, dari awal aku memang ingin kalian menemukanku, tapi karena kedatangan Orochimaru keinginan itu sedikit terhambat.

"Jadi maksudmu, dari awal kau memang ingin ditangkap?" tanya Sasuke ragu.

Lagi-lagi Gaara tertawa. "Aku bilang, aku ingin kalian menemukanku, menemukanku bukan berarti kalian bisa menangkapku" ucap Gaara sambil menyeringai.

"Kalau kami menemukanmu, sudah pasti kau akan tertangkap" ucap Sasuke tegas.

"Kalau kau memang ingin sekali menangkapku, kenapa tidak kau lakukan saat kau tahu akulah penerornya?" tanya Gaara serius.

"Aku memang yakin kau adalah penerornya, tapi aku juga harus memastikan Orochimaru sebenarnya ada dipihak siapa, saat itu aku belum tahu kalau Orochimaru ada di pihak kami.." Sasuke diam sebentar sebelum melanjutkan "..Kalau ternyata dia ada dipihakmu, percuma saja aku menangkapmu, karena Orochimaru bisa saja langsung membunuh Hinata" jawab Sasuke.

"Yahh terserah, tapi kau harus tahu, aku lebih baik mati dari pada ditangkap dan jika aku mati nanti, aku pastikan kalian berdua sudah mati lebih dulu" ucap Gaara dengan senyum meremehkan.

"Benarkah? Kalau begitu kau harus melakukannya dengan cepat, karena kau tak punya waktu lagi" ucap Sasuke sambil menunjuk monitor-monitor yang sekarang berada di belakang Gaara menggunakan dagunya.

Gaara membalikkan tubuhnya untuk melihat monitor-monitor yang sekarang sudah menunjukkan keadaan didepan gerbang rumahnya, didepan sana sudah banyak sekali polisi yang mengepung. Melihat keadaan itu, Gaara hanya tersenyum.

"Sebelum mereka sampai kesini, bagaimana jika kita menyelesaikan permasalahan kita dulu?" tawar Sasuke sambil memasukkan tangannya ke saku celana.

Gaara mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar tawaran Sasuke, entah kenapa ia yakin tawaran itu hanyalah jebakan.

"Kau tidak perlu curiga seperti itu, aku mengatakan ini karena aku sangat ingin membunuhmu tapi, jika mereka sampai kesini lebih dulu maka aku tak akan bisa mendapat kesempatan seperti ini lagi" jelas Sasuke tiba-tiba seakan ia tahu apa yang sedang dipikirkan Gaara.

"Baiklah, kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu"

Look At Me

Setelah melihat Gaara yang semakin sering membuntuti Naruto, Sasuke langsung menemui kakaknya untuk mencaritahu soal Gaara, entah kenapa ia merasa semakin hari Gaara semakin mencurigakan.

"Itachi, bisakah kau mencaritahu latar belakang orang yang bernama Sabaku Gaara?" pinta Sasuke pada Itachi.

"Siapa dia?" Itachi balas bertanya.

"Dia teman sekelasku, tapi.." Sasuke menghentikan ucapannya, tiba-tiba ia merasa ragu dengan apa yang dipikirkannya.

"Tapi?" pancing Itachi yang sudah terlanjur penasaran.

Sasuke mengehembuskan nafasnya. "Tapi entah kenapa aku mencurigainya sebagai orang yang meneror Hinata, apakah itu mungkin?" tanya Sasuke pada Itachi.

"Mungkin saja, kita tidak punya sedikitpun petunjuk tentang sipeneror, jadi siapapun bisa jadi tersangka" jawab Itachi santai.

"Tapi, orang itu adalah teman Hinata, dia adalah orang pertama yang tahu mengenai terror ini" Sasuke menyangkal jawaban Itachi.

"Teman Hinata?" Itachi mengulang perkataan Sasuke dengan nada terkejut. Itachi memang tak tahu banyak tentang Hinata tapi ada satu hal yang Itachi yakini, Sasuke adalah teman Hinata yang sangat berharga begitupun sebaliknya. Semenjak kejadian penculikan itu, Itachi memang tak pernah melihat Sasuke bersama Hinata lagi, tapi Itachi juga tahu Hinata bukan hanya menjauhi Sasuke namun semua orang yang ada didekatnya, jadi tidak mungkin Hinata tiba-tiba berteman dengan seseorang hingga mempercayakan rahasianya pada orang itu, kalaupun iya, Itachi yakin orang itu seharusnya Sasuke.

"Hmm.." Sasuke berdehem, sebenarnya ia malas mengakui keberadaan Gaara yang dekat dengan Hinata. "Apa aku mencurigainya karena cemburu?" tanya Sasuke. Pertanyaannya terdengar main-main tapi Sasuke sangat-sangat serius ketika menanyakan itu pada Itachi.

Entah kenapa Itachi mulai mengerti perasaan adiknya ini. "Apa yang membuatmu mencurigainya?" tanya Itachi akhirnya.

"Kau tahu kan soal peneror yang mengetahui semua yang diketahui Hinata?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan oleh Itachi. "Sebenarnya Naruto sudah tahu tentang terror ini sejak lama, tapi peneror itu tak pernah mengincarnya dan aku yakin itu karena Hinata tak tahu tentang Naruto" Sasuke melanjutkan.

"Lalu?" tanya Itachi tak mengerti.

"Beberapa hari lalu, Naruto berbicara dengan Hinata soal terror ini, dan saat itu ada orang lain selain Hinata.."

"Dan orang itu Gaara?" Itachi memotong perkataan Sasuke.

Sasuke mengangguk. "Semenjak itu beberapa kali aku memergoki Gaara sedang membuntuti Naruto atau mengamatinya dari jauh"

Itachi mengangguk paham.

"Tapi ada satu hal lagi yang aneh, Gaara juga sudah lama mengetahui masalah terror ini dan jelas-jelas Hinata sendirilah yang menceritakannya tapi, sipeneror tak pernah mengincar Gaara padahal dulu Neji langsung celaka saat tahu masalah terror ini dan akupun langsung mendapat terror saat Hinata menceritakannya padaku"

"Kurasa dia memang sedikit mencurigakan, baiklah aku akan mencaritahu tentangnya" ucap Itachi.

Keesokannya Sasuke pergi lagi kekantor Itachi, ia harus melihat apa yang sudah didapat Itachi.

"Bagaimana?" tanya Sasuke tanpa basa-basi.

"Lihat ini" Itachi menunjukan layar laptopnya yang menampakkan foto seseorang yang tak asing.

"Orang yang menculik Hinata" ucap Sasuke spontan.

"Dia adalah ayah Sabaku Gaara"

"Apa?!" Sasuke tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Satu tahun yang lalu Gaara dibawa oleh pamannya ke London untuk menerima pengobatan karena kejiwaannya sedikit terganggu" jelas Itachi.

"Tahun lalu?" tanya Sasuke lagi untuk memastikan pendenarannya.

"Hmm.. itu sesuai dengan cerita Hinata soal dia tak diteror tahun lalu" jawab Itachi.

Sasuke menghela nafas, jadi kecurigaannya benar.

"Jadi bagaimana? Apa kau mau menangkapnya sekarang?" tanya Itachi.

"Tidak, jangan dulu, ada satu orang lagi yang aku curigai, aku takut orang itu adalah kaki tangan Gaara" jawab Sasuke.

"Siapa? Aku akan mencaritahu tentangnya" tawar Itachi tapi Sasuke meenggelengkan kepalanya pertanda ia menolak tawaran itu.

"Tidak perlu, orang itu sudah diurus Naruto dan Ayahnya, sekarang lebih baik kita merencanakan cara untuk menangkap Gaara"

"Maksudmu?"

"Begini, selagi ayah Naruto mencaitahu tentang kaki tangan Gaara itu, aku takut Gaara akan menyingkirkan Naruto, saat itu terjadi aku mau kita sudah merencanakan sesuatu untuk menyelamatkannya" Sasuke menjelaskan.

Itachi mengangguk. "Kurasa dia tak akan menyingkirkan Naruto"

"Maksudmu?" kali ini Sasuke yang tak mengerti. Naruto jelas-jelas sudah tahu masalah ini, Gaara tak mungkin membiarkan Naruto begitu saja.

"Orang yang diincar Gaara adalah Hinata dan kurasa kau juga, jadi ia pasti akan menjadikan Naruto sebagai umpan untuk membawa kalian berdua"

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

"Saat itu terjadi, kau dan Hinata turuti saja apa yang dia mau, jangan melawan kalau ingin Naruto selamat" jawab Itachi.

"Kau gila! Itu sama saja aku menukar Hinata untuk menyelamatkan Naruto, tak bisakah kita selamatkan keduanya?" ucap Sasuke tak terima.

"Aku bilang turuti saja, bukan berarti kita menukar Hinata, tentu saja Hinata akan diselamatkan juga" Itachi mencoba menenangkan.

"Bagaiman caranya?"

"Saat Gaara menawarkan penukaran, aku yakin Gaara tak akan mendatangi kalian langsung.." Itachi diam sebentar. "..mungkin dia akan melakukannya dengan cara yang biasa dilakukannya, dia akan memberi pesan HP kalian" jelas Itachi.

"Bagus! Kalau Gaara mengirim pesan kepadaku atau Hinata berarti kau bisa melacak keberadaannya"

"Tidak! Gaara sudah merencanakan hal ini sejak lama, aku yakin dia tak akan sebodoh itu, dia pasti akan menukar HP kalian" ucap Itachi. "Dari pengalamanku, orang yang penuh dendam seperti Gaara itu akan sangat detail, dia pasti akan membuat kalian tak punya celah untuk meminta bantuan bahkan untuk meninggalkan jejak sekalipun" Itachi menjelaskan lagi.

"Lalu?"

"Lalu, yang perlu kita lakukan hanya mengikuti permainannya, buat seolah kau sudah terjebak dengan ketelitiannya"

"Jadi maksudmu aku harus mencari cara agar bisa meninggalkan jejak disuatu tempat, agar dia percaya kalau aku sudah terjebak dalam rencananya"

Itachi mengangguk "Benar, dengan begitu tingkat kewaspadaannya pada dirimu dan Hinata akan berkurang"

"Tapi untuk melakukan itu aku perlu tahu bagaimana cara dia mengawasiku, agar aku bisa membuat celah untuk meninggalkan jejak"

Itachi mengangguk lagi "Kita tak tahu dimana dia akan menawarkan penukaran ini, jadi soal meningalkan jejak dan mencaritahu soal cara dia mengawasi kalian berdua kuserahkan padamu, karena kau yang akan mengalaminya jadi lebih mudah kalau kau yang mencaritahu.."

"Baiklah" Sasuke mengangguk.

".. dan aku akan mensabotase tempat dimana dia akan membawa kalian nanti" Itachi melanjutkan.

"Memang kau tahu dia akan membawa kami kemana?" tanya Sasuke.

"Secara psikologis, orang yang mempunyai dendam akan membalaskan dendamnya dengan cara yang sama seperti yang dialaminya, dalam kasus ini, Gaara dendam dengan keluarga Hinata yang dianggap sudah membunuh kedua orang tuanya dan semua kejadian itu terjadi dirumahnya, ibunya bunuh diri dirumah dan ayahnya mati tertembak dirumah, itu berarti dia akan membawa kalian berdua kerumahnya untuk melakukan pembalasan dendamnya" Itachi menjelaskan.

"Baguslah, dengan begitu kita bisa menyelamatkan Naruto dan Hi.."

"Ada satu masalah lagi" ucap Itachi memotong perkataan Sasuke. Sasuke hanya mengangkat kedua alisnya sebagai pertanda ia mau tahu apa permasalahan yang sedang dipikirkan Itachi.

"Bagaimana jika Naruto tak dibawa kerumahnya, Gaara hanya menargetkan kau dan Hinata, itu berarti orang yang dibutuhkan Gaara dirumahnya hanya dirimu dan Hinata"

"Jadi, Naruto akan dibawa ketempat lain?"

"Ya, mungkin"

Sasuke dan Itachi sama-sama terdiam, mereka berdua sama-sama memikirkan solusi untuk mengatasi permasalahan yang baru muncul ini.

"Bukankah kalau aku dan Hinata hilang, kau dan Neji akan mencari kami?" tanya Sasuke memecah keheningan. Kali ini Itachi hanya menatap Sasuke bingung. "Kau adalah polisi, pasti mudah bagimu mencari kami kan?" tanya Sasuke lagi. Pertanyaan Sasuke itu membuat Itachi semakin tak mengerti. "Misalkan dengan cara mengikuti jejak yang akan aku tinggalkan nanti"lanjut Sasuke.

Mendegar kalimat Sasuke yang terakhir, Itachi mulai mengerti maksud Sasuke. "Hmmm.. karena Gaara tahu kalau kau dan Hinata akan meninggalkan jejak, aku yakin jejak itu tak akan membawaku ketempat kau dan Hinata berada.." ucap Itachi menggantung.

"Dia pasti akan membawa kau dan Neji ketempat dimana kalian tak bisa mengganggu rencananya" Sasuke melanjutkan ucapan Itachi yang menggantung.

"Tempat dimana dia bisa mengulur waktuku dan Neji hingga dia berhasil membunuh kalian berdua" ucap Itachi lagi.

Sasuke mengangguk. "Tempat yang terdapat banyak orang suruhannya, tempat dimana kau tak punya pilihan selain melawan orang-orang itu, dan tempat itu adalah… tempat dimana Naruto disembunyikan"

"Kau benar, karena ditempat itu ada Naruto, aku dan Neji tak akan bisa kabur karena kalau kami kabur, Naruto bisa dibunuh, satu-satunya cara menyelamatkan Naruto adalah dengan cara melawan orang-orang suruhan Gaara itu" ucap Itachi setuju dengan perkataan Sasuke. "Baiklah, kalau begitu seperti rencana awal, kita ikuti saja permainannya, aku akan membicarakan ini dengan Neji" lanjut Itachi.

Look At Me

Diluar..

HP Neji berdering, saat melihat nama penelpon ia langsung mengangkatnya.

"Bagaimana dengan Naruto?" tanya Neji tanpa basa-basi.

"Dia sudah selamat, Bagaimana disana?" Itachi balik bertanya.

"Kami sedang mencari keberadaan mereka" jawab Neji.

"Baiklah, aku akan segera kesana setelah membawa Naruto kerumah sakit" ucap Itachi sebelum memutus sambungan telponnya.

Setelah sambungan terputus, Neji mulai mencari keberadaan pintu yang bisa membawanya keruang rahasia dirumah ini, tempat dimana Hinata dan Sasuke dibawa.

Didalam ruangan, Gaara dan Sasuke belum juga berhenti bertarung meskipun keduanya sudah dalam keadaan kacau, sepertinya mereka memang berniat untuk saling membunuh.

"Maaf, karena aku harus melakukannya dengan cepat maka aku harus menggunakan ini" ucap Gaara sambil mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.

Sebelum Sasuke sempat memberi respon, Gaara sudah menyerang duluan hingga membuat wajah Sasuke tersayat pisau, tidak berhenti sampai disitu, kali ini Gaara mencoba menusuk dada Sasuke menggunakan pisau itu, tapi sebelum sempat mengenai tubuh Sasuke, tangan Gaara yang memegang pisau sudah lebih dulu dicengkram oleh Sasuke sehingga Gaara tak bisa menggerakan tangannya. Kali ini Sasuke yang menyerang, ia meninju Gaara dengan sebelah tangannya yang masih bebas hingga membuat Gaara terjatuh begitu pula dengan pisau yang dipegangnya, pisau itu terlepas dari tangan Gaara dan jatuh didekat Hinata yang pingsan.

Sasuke yang melihat itu langsung berusaha mengambil pisau agar tak bisa didapat oleh Gaara lagi, namun karena Gaara terjatuh dekat dengan pisau itu maka Gaara lebih dulu mendapatkannya. Disaat yang sama, Hinata tersadar dari pingsannya, saat itu Hinata hanya bisa membelalak melihat Gaara yang berdiri didepannya sambil memgang pisau ditambah lagi ia harus melihat pipi kiri Sasuke dipenuhi dengan darah.

Gaara menyeringai ketika melihat Hinata yang dalam keadaan bingung. Seketika ia merubah rencananya, sebelum ini ia berpikir untuk membunuh Sasuke dulu baru Hinata, tapi apa salahnya jika rencana itu ditukar.

Seakan bisa membaca pikiran Gaara, Sasuke dengan terburu-buru mendekati Hinata dan berusaha menarik gadis itu hingga mendekatinya.

Saat melihat Hinata yang ditarik menjauhinya, reflek Gaara melempar pisau itu kearah Hinata.

Kejadiannya begitu cepat hingga Sasuke tak sempat menyelamatkan Hinata. Sasuke hanya terdiam untuk beberapa saat, terkejut sekaligus takut memenuhi pikirannya saat melihat pisau lipat itu menancap dipunggung Hinata.

Sasuke baru sadar dari keterkejutannya saat Hinata memeluknya.

"Hi-Hinata" panggil Sasuke lirih.

Hinata tak menjawab, perlahan pelukan Hinata pada Sasuke mengendur dan semakin lama Hinata semakin melemah. Sebelum Hinata jatuh kelantai, Sasuke sudah lebih dulu menangkapnya dan menyenderkan kepala Hinata di pangkuannya.

"Hi-Hinata, lihat aku, bertahanlah" pinta Sasuke ditengah kepanikannya.

"Sasu-Sasuke, ke-kenapa.." dengan susah payah Hinata mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.

"Jangan banyak bicara dulu, sebentar lagi Neji-nii kesini"potong Sasuke cepat.

Hinata menggeleng lemah. "Ka-kau kenapa bi-bisa sa-sampai seperti ini.."ucap Hinata lagi dengan susah payah kali ini Hinata mengangkat tangannya dan mengusap darah yang terus mengalir dari pipi Sasuke.

"Hinata diamlah"ucap Sasuke sambil memegang tangan Hinata yang terus mengusap darah diwajahnya, berusaha menghentikan Hinata agar tak terlalu banyak bergerak karena darah yang keluar dari tubuhnya akan semakin banyak jika dia terus bergerak.

Nafas Hinata mulai memburu, pandangannya mulai memburam,perlahan tangan yang tadi ditahan Sasuke jatuh karena Hinata sudah tak punya tenaga lagi untuk mengangkatnya. Tak lama kesadaran Hinata menghilang.

"Hinata! Hinata! bangunlah!" teriak Sasuke panik. "Hinata kumohon!" Sasuke menepuk-nepuk wajah Hinata pelan. "HINATA...!"

Look At Me

Satu tahun kemudian….

"Sasuke, sarapan dulu sebelum berangkat kesekolah" ucap Mikoto dari meja makan.

Sasuke tak mengindahkan ucapan ibunya itu, ia bahkan melewati meja makan tanpa menoleh sedikitpun.

"Bersikap seperti ini tak akan membawa Hinata kembali" ucap Itachi yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Sasuke langsung menatap Itachi tajam. "Diamlah!" desis Sasuke.

Masih seperti dulu, meskipun tanpa Hinata, Sasuke masih berangkat kesekolah dengan menggunakan bus. Tapi tak seperti dulu, meskipun Hinata tak pernah mempedulikannya setidaknya Sasuke tak pernah merasa sekosong ini saat diperjalanan, seandainya waktu bisa diulang kembali, Sasuke ingin bisa kembali kewaktu sebelum Hinata diculik. Sasuke ingin sekali memperbaiki kejadian waktu itu, seandainya dia bersama Hinata hari itu, mungkin saja kejadian seperti hari ini tak pernah ada, mungkin saja hari ini ia sedang berangkat kesekolah bersama Hinata menggunakan mobil yang baru dibelikan ayahnya dua bulan lalu saat ulang tahunnya.

"Sasuke, lihat ini, ini formulir pendaftaran klub basket kita yang akan mengikuti perlombaan tingkat kota"

Baru satu langkah Sasuke memasuki kelas, tapi Naruto sudah menyambutnya dengan laporan yang tak terlalu penting.

"Hn" Sasuke hanya bergumam, malas merespon Naruto, karena semakin banyak diberi respon maka Naruto akan semakin bersemangat untuk berbicara.

"Kau akan ikut kan? perlombaan tingkat sekolah kemarin kau sama sekali tak berpartisipasi" ucap Naruto lagi.

"Aku tidak ikut" jawab Sasuke sambil melangkah menuju bangkunya.

"Jangan seperti ini Sasuke, hanya karena Hinata tak ada kau jadi seperti orang yang tak hidup saja, Hinata juga pasti tak ingin kau seperti ini" Naruto mengatakannya dengan nada kesal. "Ini perlombaan tingkat kota, akan sulit jika kau tak ikut, lagipula besok akan ada murid baru, dan dia itu.."

"Hari ini aku malas belajar, aku akan pergi keruang basket, kalau ada guru yang menanyakannya bilang saja aku sedang latihan untuk perlombaan" potong Sasuke cepat kemudian ia pergi dari kelas, malas mendengar pembicaraan Naruto yang semakin lama semakin tak ada hubungan dengannya. Untuk apa juga ia peduli dengan kedatangan murid baru.

"Huhh, padahal kan aku mau bilang kalau murid baru itu Hinata"

Look At Me

Keesokannya..

Hinata makan sarapannya dengan lahap, ini hari pertamanya datang kesekolah setelah satu tahun pergi ke New York karena itu Hinata jadi sangat bersemangat.

Satu tahun lalu….

"Hinata! Hinata! bangunlah!" teriak Sasuke panik. "Hinata kumohon!" Sasuke menepuk-nepuk wajah Hinata pelan. "HINATA...!"

Gaara hanya bisa diam mematung ketika melihat darah Hinata mulai mewarnai lantai putihnya. Sebuah perasaan asing memenuhi dada Gaara, perasaan yang sama seperti yang ia rasakan saat melihat ibunya meninggal, perasaan yang sangat menyakitkan dan menyesakkan. Perasaan yang tidak muncul saat ia melihat ayahnya meninggal.

"Berani sekali kau melukai Hinata!" teriak Sasuke penuh amarah. Dengan perasaan campur aduk,Sasuke mendekati Gaara dan menyerangnya dengan membabi buta.

Gaara tak melawan, bahkan saat kesadarannya hampir menghilang ia tetap tak melawan.

"Aku akan membunuhmu"

"Hinata! Apa yang terjadi padamu?" Neji langsung mendekati Hinata saat ia sampai diruangan putih ini. Panik, Neji bahkan tak sempat memikirkan Sasuke dan Gaara, ia langsung mengangkat tubuh Hinata dan membawanya pergi.

Tak lama, beberapa polisi datang dan menarik Sasuke yang sudah seperti orang kesetanan, padahal Gaara sudah tak sadarkan diri tapi Sasuke masih memukulinya.

Beberapa jam kemudian..

Sasuke, Itachi dan Neji menunggu didepan ruang operasi, sudah dua jam lebih semenjak Hinata masuk keruangan itu, tapi sampai sekarang belum juga keluar.

"Sasuke,lebih baik kau obati lukamu dulu" ucap Itachi yang duduk disamping Sasuke.

"Aku akan mengobatinya saat Hinata sudah selesai dioperasi" ucap Sasuke tegas.

Itachi hanya bisa menghela nafas, ia tahu adiknya ini memang keras kepala. "Baiklah.." Itachi mengehentikan ucapannya saat melihat pintu ruang operasi terbuka.

"Bagaiman keadaannya dok?" tanya Neji dan Sasuke hampir bersamaan pada dokter yang baru saja keluar.

"Operasinya berhasil, tapi butuh beberapa hari hingga pasien sadar" jawab dokter itu kemudian ia pergi.

Saat hari ketiga Hinata belum juga sadar, Neji membuat sebuah keputusan.

"Aku akan kembali ke New York dan aku akan membawa Hinata kesana" ucap Neji tiba-tiba.

Sasuke langsung membelalak ketika mendengar itu.

"Kenapa?" tanya Itachi mewakili pertanyaan Sasuke.

"Kau tahu kan? Ayahku sedang di New York, kantor disana tak bisa ditinggalkan tapi Ayah sangat ingin bertemu Hinata, jadi aku harus membawanya kesana, lagipula setelah kejadian ini Hinata pasti akan mengalami trauma lagi seperti dulu, karena itu, kurasa jika ia melihat suasana baru mungkin dia bisa cepat melupakannya" Neji menjelaskan.

"Kau benar, lebih baik Hinata dijauhkan dulu dari Konoha, iya kan Sasuke?" Itachi meminta pendapat Sasuke.

Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban.

Hinata tersenyum saat membayangkan ia bisa bertemu Sasuke lagi setelah setahun ia tak mendapat kabar atau memberi kabar kepada Sasuke, ini semua karena Neji yang menyuruhnya ikut terapi pada seorang psikolog kenalannya itu, terapi untuk melupakan traumanya, dan salah satu caranya adalah menjauhi semua yang ada hubungan dengan traumanya.

Hinata keluar dari rumahnya, seperti biasa ia menolak diantar kesekolah, ia lebih memilih naik bus, bukan karena ia belum melupakan traumanya, hanya saja hal ini sudah jadi kebiasaan baru Hinata.

Baru saja Hinata keluar, ia melihat Sasuke sedang berjalan beberapa meter didepannya. Sebelum Sasuke semakin menjauh,Hinata buru-buru mengejar.

Hinata menghentikan langkahnya tepat dibelakang Sasuke. "Sasuke" panggil Hinata dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Hinata yakin Sasuke pasti akan terkejut melihatnya.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Senyum diwajah Hinata perlahan menghilang karena tak mendapat respon dari Sasuke, bahkan Sasuke tak mengehentikan langkahnya.

Hinata mengernyit, marahkah Sasuke padanya? atau Sasuke tak mendengar? Hinata kembali tersenyum, mungkin saja Sasuke tak mendengar panggilannya. Kali ini Hinata memanggil Sasuke dengan suara lebih keras "Sasuke-kun!"

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Masih tak ada respon, senyum Hinata menghilang, kini gadis itu memanyunkan bibirnya pertanda ia sedang sangat kesal.

"Sasuke! kau mar.." Hinata terdiam ketika melihat headset ditelinga Sasuke. Seketika ekspresi Hinata berubah jadi sendu, melihat Sasuke sekarang membuat Hinata teringat dirinya yang dulu. Dirinya yang selalu ingin menjauhi orang-orang, dirinya yang tak ingin dilihat, tak ingin dekat, dan tak ingin tertarik dengan siapapun. Karena itu, dulu Hinata lebih memilih menikmati lagu-lagu yang ada di playlist HPnya atau menghabiskan waktu dengan buku, intinya, ia lebih memilih berada didunianya sendiri, dunia yang hanya ada dirinya saja. Dunia yang hampa.

Hinata mengurungkan niatnya untuk memberi kejutan pada Sasuke. Hinata diam ditempatnya untuk beberapa saat, membiarkan dirinya melihat punggung Sasuke yang menjauh. Ketika Sasuke sudah berada beberapa meter didepannya, barulah Hinata melangkah, kali ini tidak dengan niat mengejar Sasuke, Hinata hanya melangkah seirama dengan langkah Sasuke.

Tak lama mereka sampai di halte, Sasuke duduk menunggu bus, sedangkan Hinata mengamati Sasuke dari kejauhan. Beberapa kali Hinata melihat Sasuke mengehembuskan nafas beratnya, setelah itu Sasuke akan kembali menatap jalanan lurus-lurus, bahkan saat ada anak kecil jatuh didekatnya pun Sasuke tak berkutik, Hinata yakin Sasuke sedang memikirkan sesuatu yang berat. Hinata yakin, karena dirinya yang dulu pun seperti itu, ingin sekali Hinata mendekati Sasuke sekarang dan mengatakan padanya 'semua akan baik-baik saja' untuk apapun yang sedang dipikirkan Sasuke.

Apa perasaan seperti ini yang Sasuke rasakan dulu? Pertanyaan itulah yang muncul dibenak Hinata. Perasaan dimana ia harus menahan semua hal yang ingin dikatakannya, perasaan dimana ia harus melihat orang yang disayanginya sakit tapi ia tak bisa membantu bahkan untuk menghiburpun tak bisa. Hanya melihat dari jauh, dan berharap orang yang disayanginya akan tersenyum meskipun hanya sebentar. Tidak, mungkin yang Sasuke rasakan lebih menyakitkan dari ini.

Bus datang, Sasuke berdiri dan langsung menaikinya sedangkan Hinata mengkuti dari belakang. Hinata duduk tepat dibelakang Sasuke, saat ini Hinata hanya perlu menyentuh Sasuke sedikit saja, maka Sasuke akan tahu keberadaannya. Tapi entah kenapa Hinata masih ingin melakukan ini hingga sampai disekolah, mungkin lebih baik mereka bertemu dikelas saja.

Beberapa menit mereka berada di bus, hingga akhirnya mereka berhenti dihalte terdekat dengan sekolah. Sasuke turun dan Hinata hanya mengikuti dari belakang.

Sasuke dan Hinata berjalan menyusuri trotoar. Hinata tersenyum saat melihat Sasuke menendang batu kecil didepannya tapi senyum itu perlahan menghilang, digantikan dengan tatapan bingung. Sekarang Hinata melihat Sasuke berhenti didepan Gerbang sekolah, reflek Hinata pun berhenti dan melihat apa yang sedang dilakukan Sasuke disana.

Sasuke hanya menatap sekolah kemudian menghembuskan nafasnya. Melihat itu Hinata jadi penasaran dengan apa yang dipikiran Sasuke, kali ini ia sudah tak bisa menahan rasa penasaran itu lagi. Hinata mengejar Sasuke dan berhenti disampingnya kemudian Hinata menautkan jari-jari kecilnya dengan jari-jari besar Sasuke.

Sasuke yang merasakan sebuah sentuhan, langsung melihat keadaan tangannya yang sekarang telah digenggam oleh seseorang. Perlahan Sasuke mengangkat kepalanya untuk melihat sipemilik tangan. Ekspresi terkejut langsung muncul diwajah tenang Sasuke.

Hinata hanya tersenyum saat melihat Sasuke. "Sasuke, selamat pagi" sapa Hinata dengan senyum termanisnya. Tapi sapaan itu menjadi sia-sia karena Sasuke tak merespon, Sasuke hanya terus menatap Hinata seolah Hinata hanyalah sebuah imajinasi.

"Sasuke, ada apa?" tanya Hinata yang mulai merasa canggung karena tatapan Sasuke.

"Hinata?" kata pertama yang diucapkan Sasuke membuat Hinata kembali tersenyum.

Sasuke memeluk Hinata, pelukan yang sangat erat seolah dia tak akan meleaskan Hinata lagi.

"S-Sasuke..a-aku..tak..bi-bisa bernafas…" ucap Hinata dengan susah payah.

"Ahh maafkan aku" seakan baru sadar dengan apa yang dilakukannya, Sasuke buru-buru melongarkan pelukannya itu. Hinata tersenyum melihat kelakuan Sasuke, tak seperti biasanya, Sasuke lebih terlihat kekanakkan sekarang, cukup untuk membuat Hinata menahan tawanya.

"Kenapa tiba-tiba memelukku?" tanya Hinata ditengah-tengah pelukannya.

"Aku merindukanmu"

Hinata terseyum ketika mendengarnya "Aku juga" ucap Hinata sambil membalas pelukan Sasuke.

Beberapa menit mereka diam diposisi itu, hingga tanpa sadar sudah banyak murid-murid yang berkumpul disekitar mereka, seolah mereka tontonan paling menarik. Beberapa murid terlihat penasaran dengan Hinata, seolah Hinata manusia terasing yang pernah mereka lihat, Hinata yakin mereka yang melihatnya seperti itu adalah murid kelas XI karena Hinata memang kurang terkenal dikalangan adik kelas atau anak baru tahun ini yang pastinya baru kali ini melihat Hinata disekolah. Tapi beberapa lagi terlihat terkejut, kalau ini, Hinata yakin murid yang satu angkatan dengannya, mereka yang melihat seperti itu pasti kaget karena Hinata dan Sasuke hampir tak pernah terlihat bersama disekolah tapi tiba-tiba mereka berdua membuat pertunjukan seperti ini.

"Sasuke, bisakah kau lepaskan aku sekarang" pinta Hinata sambil mendorong tubuh Sasuke agar menjauhinya, tapi Sasuke malah menahan tangan Hinata dan tambah mempererat pelukannya. Saat Sasuke melakukan itu, Hinata merasa beberapa siswi menatapnya tajam.

"Sasuke banyak yang melihat kita" ucap Hinata lagi.

"Lalu?" tanya Sasuke.

"Lepaskan aku, bagaimana kalau mereka tahu hubungan kita?" pinta Hinata lagi.

Mendengar ucapan terakhir Hinata, Sasuke langsung melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap Hinata jahil. "Memang kita punya hubungan apa?" tanya Sasuke dengan nada bingung tapi menyiratkan kegelian disana.

Wajah Hinata memerah, dengan wajah cemberut Hinata mendorong Sasuke agar menjauh. "Benar, kita tak punya hubungan apa-apa" ucap Hinata kemudian meninggalkan Sasuke dibelakang.

Sasuke mengikuti Hinata sambil tersenyum senang, ia harap ini bukanlah mimpi, kalaupun ini mimpi ia ingin tinggal lebih lama lagi disini.

"Hinata, kenapa kau buru-buru sekali?"tanya Sasuke saat mereka sedang melewati koridor kelas X. Hinata tak menjawab, ia malah semakin mempercepat jalannya, Sasuke tersenyum ketika melihat itu. "Hinata, berhenti disitu!"perintah Sasuke tegas tapi Hinata tetap tak menurutinya. "Kalau kau tidak berhenti, jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu padamu" ucap Sasuke cukup keras hingga mampu menarik perhatian siswi kelas sepuluh dan itu mengakibatkan hampir semua yang berada dikelas keluar untuk melihat sang pangeran sekolah, sebaliknya Hinata-orang yang dikejarnya-malah tambah menjauh. "Baiklah kalau itu maumu" ucap Sasuke sebelum mengejar Hinata dan menggendongnya ala bridal, reflek Hinata teriak karena kaget, teriakan itu sukses mengundang perhatian semua orang.

"S-Sasuke lepaskan aku" Hinata memberontak.

"Tak akan"

"Kau akan membawaku kemana?" tanya Hinata saat Sasuke berbalik kearah yang berlawanan dengan ruang kelasnya.

"Aku akan menculikmu"

Look At Me

Sasuke mendudukkan Hinata ditembok pembatas atap sekolah, sebelah tangan Sasuke melingkari tubuh Hinata untuk menahannya agar tak jatuh. Sasuke menengadahkan kepala untuk melihat Hinata.

"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku, ini menyeramkan" ucap Hinata saat menoleh kebelakang dan melihat lapangan bola dibawah.

"Ini bukan mimpi kan?" tanya Sasuke masih sambil menatap Hinata.

"Tentu saja bukan" jawab Hinata cepat agar Sasuke cepat menurunkannya juga.

"Kalau ini mimpi, kau tak boleh menghilang tiba-tiba, setidaknya beritahu aku dulu mengerti?!"

Hinata tertawa, rasa takutnya perlahan menghilang. "Ada apa denganmu? ini tidak seperti Sasuke yang biasanya, apa kau benar-benar Sasuke yang kukenal?"

Kali ini Sasuke yang tertawa.

"Jadi.. kau membawaku kesini hanya untuk menanyakan itu?" tanya Hinata.

Sasuke menggeleng. "Aku ingin menanyakan masalah tadi" ucap Sasuke lagi sambil menatap Hinata intens.

"M-masalah tadi?" tanya Hinata yang jadi risih dengan tatapan Sasuke yang mencurigakan.

"Kau bilang kita tak punya hubungan apa-apa" Sasuke mengingatkan.

Mendengar itu, wajah Hinata kembali memerah. "I-itu memang benar kan?" tanya Hinata sambil memalingkan wajahnya dari Sasuke.

"Ohh begitu? Jadi ki.."

"Oh iya, kau itu teman masa kecilku" potong Hinata.

"Teman masa kecil?" pancing Sasuke sambil menahan senyumnya.

"K-Kita j-juga teman se-sekelas" ucap Hinata lagi.

"Ahh… jadi kita hanya teman" Sasuke masih terus menggoda Hinata.

"S-sampai sekarang, k-kita memang t-teman kan?" tanya Hinata.

"Sampai sekarang? Jadi, NANTI kita bisa lebih dari teman?" Sasuke sengaja menekankan kata 'nanti' agar Hinata mengerti maksudnya.

Wajah Hinata sudah benar-benar merah sekarang. "A-apa Ma-maksudmu? ce-cepat tu-turunkan aku!" Hinata mulai mendorong Sasuke agar menjauh dengan begitu Hinata bisa turun dan kabur.

"Aku mencintaimu" ucap Sasuke tiba-tiba membuat Hinata berhenti memberontak.

"U-ulangi" pinta Hinata.

"Aku mencintaimu" ucap Sasuke lagi. Hinata membelalak ketika mendengarnya, detak jantungnya seakan berhenti untuk sesaat.

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau tak mendengarnya? Aku bisa mengulangi kata-kataku tadi sebanyak yang kau ma…hmpp" Sasuke terkejut saat tiba-tiba bibir Hinata mendarat dibibirnya, kali ini Sasuke yang membelalak.

"Aku juga" ucap Hinata setelah melepas ciumannya dari Sasuke. Sasuke masih tak berkata apapun, ia hanya bisa menatap Hinata dengan ekspresi terkejut.

Hinata tersenyum ketika melihat Sasuke. "Bolehkah aku mengambil fotomu sekarang? Ekspresimu saat ini sangat bagus, mungkin suatu saat bisa aku gunakan jika kau meninggalkanku"

"Aku tak akan meninggalkanmu" balas Sasuke kemudian ia mencium Hinata.

Look At Me

Tiga Bulan Kemudian…

"Hari ini aku ingin menemui Gaara dirumah sakit, sudah seminggu aku tak kesana, mau ikut?" ucap Hinata tiba-tiba.

"Tidak, dia itu sainganku" jawab Sasuke tegas namun terselip nada cemburu didalamnya.

Hinata hanya tersenyum mendengar itu, ia jadi ingat kejadian tiga bulan lalu saat Sasuke mengajaknya menemui Gaara di RSJ-yaahh karena Gaara masih remaja dan Gaara juga tak membunuh siapapun ditambah lagi polisi menyatakan kesehatan mental Gaara sedikit terganggu maka Gaara tak dipenjara melainkan dibawa ke RSJ untuk mendapat perawatan- saat itu keadaan Gaara sudah membaik, Hinata sangat senang ketika tahu itu dan Hinata semakin senang ketika Gaara mengajaknya kembali berteman. Semenjak hari itu Hinata rutin mengunjungi Gaara disana, dan biasanya, Hinata dan Gaara akan mengobrol cukup lama hingga terkadang ia melupakan Sasuke yang selalu setia mengantarnya.

"Saingan? Dalam hal apa?" tanya Hinata dengan wajah polos yang dibuat-buat.

"Bisakah kau tak membicarakan pria lain saat bersamaku?" tanya Sasuke kesal.

Hinata tertawa "Apa maksudmu? Gaara itu temanku"

"Tetap saja dia itu pria, kurasa dia akan merebutmu dariku" ucap Sasuke masih dengan nada kesalnya.

"Wahh apa ini? Uchiha Sasuke sedang cemburu?" tanya Hinata dengan nada menggoda.

Cup

"Iya aku cemburu" jawab Sasuke setelah mengecup bibir Hinata.

"B-benarkah? Wahh..s-senangnya..aku bisa membuat seorang uchiha cemburu" ucap Hinata berusaha agar tak terlihat gugup.

Cup

"Coba katakan lagi" pinta Sasuke.

"S-senannya b-bisa mem…"

Cup

"Katakan lagi" ucap Sasuke dengan nada menggoda.

"…"

"Kenapa diam?" tanya Sasuke.

Hinata memanyunkan bibirnya karena kesal. "Hentikan! Bukankah kau mengajakku kesini untuk menemanimu latihan basket, besok perlombaannya kan?" Hinata mengingatkan.

"Justru karena besok perlombaannya, hari ini aku tak perlu latihan, aku justru harus istirahat" jawab Sasuke santai.

"Jadi kau membohongiku?" tanya Hinata dengan nada tak terima.

"Aku hanya menuruti perintah pelatihku untuk istirahat total dan aku hanya bisa istirahat total jika ada kau" ucap Sasuke sambil tidur dengan menjadikan pangkuan Hinata sebagai bantalan.

Hening. Melihat Sasuke yang sudah menutup kedua matanya, Hinata jadi diam, ia ingin membiarkan Sasuke istirahat setelah beberapa hari latihan terus-menerus. Sebenarnya Hinata ingin sekali menghentikan Sasuke yang latihan terlalu keras, tapi karena ini akan menjadi perlombaan terakhirnya di KHS, Hinata jadi tak bisa melarangnya.

"Hinata, aku senang karena akhirnya kau melihatku lagi dan kembali padaku" ucap Sasuke memecah keheningan. Hinata menatap Sasuke yang masih memejamkan matanya dengan tatapan sendu.

"Maafkan aku"

END

Pojok Review

NurmalaPrieska : Udah selesai malah XD makasih lohhh,,, wahh klo itu no coment deh hehehe

kaila wu : oke oke makasih :D

Rapita azzalia : aduhhh maap ya, entah kenapa waktu Ita mikirin tokoh jahatnya, si Gaara muncul gitu aja dikepala Ita tanpa permisi :D jadinya gini deh… Ita juga gak rela kalo Hinata kenapa-napa.. oke ini udah up, selamat menikmati :)

Morita Naomi : hahaha benarkah itu? :D

claeron : Oh iya waktu itu pernah kok, sebenarnya Ita udah niat buat ngegambarin apa yang lai dilakuin sama adiknya Gaara sekarang tapi karena udah kepanjangan jadi di batalin deh.. uwihhh beneran? Hehehe… makasih juga sarannya semoga endnya sesuai sama saran kamu :D

Mellyzainal : chapternya kepanjangan? Apalagi yang ini :D pasti pusing deh bacanya hahaha maap ya..

ade854 II :beneran Sasuke kok :D ini udah lanjut semoga puas sama endingnya

ujichan : wihh makasih dong.. iya nih udah ending.. hahaha temanya angst karena dulu Ita emang niat untuk jadiin fict ini sad ending tapkarena banyak yang pengen happy ending, jadi Ita ubah dikit deh jalan ceritanya hehehe… hahaha tenang aja gak ada yang mati kan ?

keta : makasih banyakkkkkk tapi maap lama up nya :D

rey rahayu : Hahaha maap yaaa abis gimana lagi? Ita emang suka mood2an orangnya hehehe… wahhh beneran keren?.. Ita juga suka sama Sasuke disini yahh meskipun tetep lebih suka sama Itachi *Plaak* makasih ya….

hinatachannn2505 : okeee, boleh dong… beberapa hari yang lalu Ita masih SMA tapi sekarang udah diusir juga dari SMA XD jadi Ita sekarang lagi jadi penangguran :D

Nhiyla324 : waah beneran? … disini udah dijelasin kenapa Sasu bisa nyampe.. hehe maap ya lama *kebiasaan*

enydekacha :okeee… okeee juga… sebenernya Ita juga pengennya gitu tapiii ini aja udah kepanjangan :D jadi gimana klo anggep aja satu sekolah udah tau klo mereka itu temen dari kecil *Plak*

yessimasrita : eummm kenapa ya? Hehe *watados* sekarang udah gakpenasaran kan?

Fitoriajung : oke ini udah chap akhir meskipun lama :D

Ayu493 : salam kenal juga…. Wahh makasih loh udah mampir di sini… okee ini udah lanjut

Keita Muschia : udah, malah pengumuman kelulusannya juga udah :D makasih doanya .. maap Ita masih lama upnya

ENDINGGGGGGG… akhirnya… fiuh fiuhh

Gimana endingnya, memuaskan? Kurang memuaskan? Atau malah ngatung?

Hahahaha.. lama banget ya.. padahal Ita janji habis UN mau UP ehh… sampe udah pengumumannya Ita belum UP juga hehehe..

Gimana?pasti capek bacanya kan? chap ini emang chap terpaaaaaaaanjang yang pernah Ita buat :D hampir dua kali lipat dari biasanya… jadi wajar kalau kalian capek bacanya hehe abisnya Ita udah ngebet banget pengen abisin FF ini… masalahnya Ita punya FF lain yang lagi Ita tinggalin gara-gara dihantui sama ff ini yang gak tamat-tamat :D *Curhat*

Oh iya sebelum berpisah, Ita mau nanya nih… "Chapter mana yang jadi kesukaan para readers?"

Deng deng deng … dan terakhir untuk penutup :D Makasih untuk semua readers yang udah baca dan review disetiap chapnya, tanpa kalian FF ini gak akan berjalan *Sok artis banget dah*

Okeee sampe ketemu di FF lainnya…. *Lambai-lambai tangan*