Cast

Kim Jongin [19]

Do Kyungsoo [18]

Oh Sehun [19]

Byun Baekhyun [18]

Park Chanyeol [18]

Kim Jongwoon [31]

Kwon Yuri [26]

Xi Luhan [18]

Other Cast

All member BTS [18]

All member The Ark [18]

All member Ikon [18]

Park Jungsoo [42]

Jung Sooyeon [44]

Cameo

Jung Soojung [18]

Genre

School life

Romance

Drama

Family

Friendship


Review Chapter 8

Kyungsoo menutup kotak bekalnya dan memasukkannya ke dalam tas, "Aniya.. pergilah jangan ganggu aku."

"Kalau ada masalah kau bisa cerita Soo," Ujar Jongin.

"Aniya Jongin-ah.. jebal.."

Jongin mengangguk mengerti ia menaruh minuman dingin itu dimeja Kyungsoo dan duduk di kursinya sendiri, menatap Kyungsoo yang kini menenggelamkan kepalanya diantara kedua lengannya.


"Eh? Jadi Kyungsoo bekerja di kedai ramen?" Tanya Luhan tak percaya.

Baekhyun mengangguk, "Iya, aku salut padanya.. padahal dia putri keluarga Do tapi tetap saja dia mau bekerja paruh waktu dan hanya mengambil seperempat dari gaji karyawan seharusnya."

"Kyungsoo orang yang baik." Balas Luhan, entah bagaimana caranya gadis itu kini sudah dekat dengan Baekhyun walaupun ia masih canggung dengan Chanyeol.

"Chanyeol-ah, wae..? Kau tak memakan makan siangmu." Tegur Baekhyun menyadarkan Chanyeol yang sepertinya sedari tadi melamun.

"Aniya.. aku hanya kenyang saja,"

"Nanti kau bisa sakit Yeol.."

"Gwenchana Baek.. aku akan baik-baik saja, Baek, Lu aku duluan ya." Chanyeol berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang makan dengan kepala tertunduk.

Luhan menghela napas, "Aku tahu dia pasti tak nyaman.."

"Benar.." Ujar Baekhyun menyetujui, "Murid-murid bermulut bebek itu terus saja membicarakannya seakan tak melihat Chanyeol ada disini, cih.. membuatku ingin memuntahkan semua makananku lagi saja,"

"Eo.. kau menyukainya?" Luhan bertanya sambil terkekeh.

"Menyukai? Maksudmu?"

"Chanyeol.. kau menyukainya?"

Gadis bermata sipit itu mengangkat bahunya, "Entahlah.. aku tak mau memikirkan itu,"

"Kau tak mengatakan padanya?"

"Untuk apa? Dia menyukai Kyungsoo.."

Uhukk

Luhan tersedak bubble tea nya sendiri lalu memukul-mukul dadanya dibantu air putih yang diberikan Baekhyun, kemudian menatap Baekhyun tak percaya.

"Kau yakin? Maksudku.. aku tahu mereka cukup dekat karena sama-sama mempunyai otak emas tapi kalau masalah itu aku tak yakin.."

Baekhyun menumpukan tangannya ke meja lalu menaruh kepalanya disana sambil menghela napas putus asa, "Aku juga tak mau mempercayainya.. tapi bagaimana..?"

"Bersabarlah, aku yakin Chanyeol tak menyukai Kyungsoo." Luhan memberikan senyum menenangkannya pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum, "Gomawo."

"Bukan masalah."

"Kau tahu..? Dulu aku sempat membencimu, tapi setelah mengenalmu sekarang kau ternyata sangat baik.. kenapa kau tak bergaul dengan yang lain dan malah menyendiri? Kau orang yang menyenangkan," Aku Baekhyun.

"Arra.." Luhan menggeleng, "Tapi aku trauma mempunyai sahabat."

"Wae?"

"Hanya kenangan buruk dimasa lalu." Jawab Luhan singkat.

Baekhyun hanya ikut tersenyum, jawaban Luhan mengatakan padanya secara tidak langsung kalau gadis itu tidak atau lebih tepatnya belum mau menceritakan permasalahannya pada dirinya tapi ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan mencoba menghilangkan trauma Luhan.


Kyungsoo mengangkat kepalanya lesu, ia mengerjapkan mata nya beberapa kali sebelum kembali menegakkan tubuhnya, entah sadar atau tidak tadi dia ternyata tertidur.

"Kyung.."

Kyungsoo menoleh kebelakang saat mendengar suara Baekhyun, ia berbalik dan menemukan wajah Baekhyun yang terlihat khawatir, "Gwenchanayo?"

Kyungsoo tersenyum menenangkan, "Hanya sedikit lelah."

"Jangan belajar terlalu keras Kyung.." Baekhyun menepuk bahunya, "Nikmati saja.."

"Terima kasih.. ngomong-ngomong mana Chanyeol dan Luhan?"

"Oh, Luhan tadi baru saja pulang ke rumahnya, ia ditelepon ibunya karena ayahnya sedang sakit." Jelas Baekhyun.

"Lalu Chanyeol?" Tanya Kyungsoo karena tak melihat kehadiran pria tinggi itu.

Baekhyun menghela napas, "Entahlah, dia pergi begitu saja dari kantin.. Kyung, apa masalahnya terlalu berat ya?"

Kyungsoo mengangkat bahunya, "Molla.. setiap orang menghadapi masalahnya dengan sikap yang berbeda-beda Baek." Kyungsoo kembali tersenyum pada Baekhyun, "Chanyeol bisa menyelesaikan masalahnya, kau.. jangan khawatir Baek," Kyungsoo mengulum senyumnya membuat Baekhyun juga ikut balas tersenyum.

SREKK

Pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah Jongwoon ke dalam kelas yang seketika sepi itu, ia menaruh bukunya dan menatap keseluruh murid di kelas dengan matanya.

"Ini pertama kali aku masuk dikelas ini." Ujar Jongwoon membuka suaranya, "Dan aku tak suka dengan murid yang tertidur dikelasku." Jongwoon melirik Jongin, Sehun, dan Hoseok bergantian.

"Aku juga tak suka.. ada yang mengerjakan PR di sekolah." Kali ini ia melirik Taehyung, Hanbin, Junhoe, Yoojin, juga Minju.

"Jadi.. siswa-siswa yang merasa seperti itu, boleh keluar dari kelasku dan tidak usah kembali kedalam kelasku sampai kau merubah perilakumu itu," Jongwoon memukul meja satu kali, "Keluar sekarang!"

Jongin, Sehun, juga Taehyung berjalan keluar kelas dengan santai lalu diikuti Yoojin, Jimin dan Hanbin.

"Ya, kenapa Jimin keluar?" Bisik Seokjin pada Namjoon.

"Aku juga tak suka ada yang berbisik-bisik dikelasku." Mata Jongwoon langsung menatap kearah Seokjin yang membuat murid itu menelan ludahnya takut.

"Sudah? Hanya enam orang? Baiklah.." Jongwoon menatap muridnya yang tersisa lalu mengangguk, "Buka halaman dua puluh delapan.. Lee Suji kau yang baca."

Diluar kelas ternyata Yuri diam-diam memperhatikan murid-muridnya yang memperhatikan semua yang dikatakan Jongwoon, Yuri tersenyum miris.. sepertinya memang lebih baik ia menyerahkan murid-muridnya pada Jongwoon.


"Apa ini?" Tanya Sooyeon pada Yuri.

"Surat pengunduran diri." Jawab Yuri.

Sooyeon mengambil surat itu, "Oh.. jadi kau yang kalah?" Sooyeon terkekeh, "Kupikir ini akan seru.. ternyata kau lah yang menyerah,"

"Maksud kepala sekolah?"

Sooyeon menyimpan surat itu di laci mejanya lalu mengangguk, "Iya, ini permainan yang menarik.. kupikir kau akan berjuang sampai akhir tapi ternyata kau adalah pemain yang kalah pertama."

"Kepala sekolah mengira ini permainan?" Yuri berucap tak percaya.

Sooyeon mengangkat sebelah sudut bibirnya, "Iya.. ini permainan yang menarik,"

Yuri menggelengkan kepalanya, "Aku akan berhenti hari senin depan, tepat dihari ketujuh.. aku harap kepala sekolah bisa memberiku ijin."

"Aku selalu memberi ijin pada guru-guru yang ingin keluar." Sooyeon mengangkat bahu, "Membujuknya untuk tinggal hanya buang-buang waktu."

Yuri menggeram dalam hati, betapa sombongnya kepala sekolah Jung ini, "Baiklah, aku permisi." Yuri menundukkan kepalanya lalu keluar berpapasan dengan Soojung yang baru akan masuk, ia menundukkan kepalanya sebentar pada Yuri lalu duduk di hadapan Sooyeon.

"Eomma.."

Sooyeon melihat jam dinding di ruangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga sore, "Kau masih disekolah? Bukankah kau pulang jam dua?"

Soojung mengangguk, "Memang.. aku baru selesai piket." Soojung menatap ibunya serius, "Eomma, kudengar kau ingin menggantikan Kwon ssaem kan, tapi siswa kelas empat tidak mau eomma.. bis-"

"Aniya Soojung-ah.." Sela Sooyeon, "Aku tak bisa, kau tahu kan Nyonya Park..?"

"Eomma bisa bernegosiasi dan mendiskusikan bagaimana kalau kelas empat punya dua wali kelas bukan?"

"Terlambat Soojung-ah.." Sooyeon mengeluarkan surat pengunduran diri Yuri dari dalam laci, "Kwon songsaenim sudah memberikan ini padaku."

Soojung menghela napasnya, "Kau bisa menganggapnya tak pernah memberikannya!"

"Dan memohon padanya untuk tinggal?" Sooyeon berdencih, "Heol.. buang-buang waktu!"

"Tidak perlu memohon karena aku yakin Kwon ssaem sebenarnya masih mau menjadi wali kelas empat." Ujar Soojung meyakinkan.

"Kau mau sekolah ini ditutup karena kehilangan donatur paling besar kita?" Tanya Sooyeon sarkatis.

"Kalau begitu kita ambil jalan tengah saja eomma! Dua wali kelas.. itu bukan ide buruk!"

"Oh Tuhan.. kau membuatku pusing!" Pekik Sooyeon sambil memijit dahinya.

"Bukan aku tapi Nyonya Park!" Sahut Soojung.

"Siapapun itu aku tak perduli.." Balas Sooyeon, Soojung mengerucutkan bibirnya tak suka.


Kyungsoo tengah duduk di halte bus sendirian dengan earphone yang terpasang dikedua telinganya, ia memejamkan matanya menikmati lagu yang ia dengarkan sampai tak menyadari sudah ada orang lain yang duduk disampingnya, orang itu hanya diam memandangi wajah Kyungsoo yang sangat cantik apalagi saat ada angin yang menerbangkan beberapa helaian rambutnya, itu sungguh membuatnya terlihat seperti malaikat.

Orang itu sudah melihat bus yang akan mendekat namun tetap diam saja tak memberi tahu Kyungsoo yang masih asik dengan lagunya sampai akhirnya bus itu berhenti barulah Kyungsoo membuka matanya dan terkejut setengah mati melihat Jongin sudah duduk disampingnya dengan senyum manis.

"Kutemani kau pulang.."

Kyungsoo menggeleng, "Aku ada part time di kedai ramen."

"Jangan bohong.." Jongin menarik tangan Kyungsoo, membawanya masuk ke dalam bus tanpa memperdulikan protesan yang keluar dari bibir berbentuk hati Kyungsoo lalu mendudukkan nya dikursi paling belakang, "Kau pikir aku tidak tahu kapan jadwalmu part time?"

"Pergilah Jongin.." Ujar Kyungsoo memohon.

Jongin menarik halus dagu Kyungsoo agar bisa menatap mata bulatnya, "Katakan.."

"Apa?" Tanya Kyungsoo.

"Katakan apa yang mengganggumu Soo?"

Kyungsoo menghela napas lalu menjauhkan tangan Jongin dari dagunya, "Tidak ada.."

"Kenapa kau tak mau cerita padaku?" Tanya Jongin frustasi.

"Kau siapa ku sampai aku harus bercerita padamu?" Kyungsoo sedikit meninggikan suaranya karena kesal.

"Aku Jongin, orang yang mencintaimu!" Balas Jongin.

"Lihat.. disaat seperti ini bahkan kau masih menggodaku." Dengus Kyungsoo.

"Siapa yang menggoda? Aku serius Do Kyungsoo, aku selalu mengatakan kalau aku menyukaimu, menyayangimu, bahkan mencintaimu tapi kau selalu menghindariku setiap aku akan menyatakan perasaan ku dan memintamu menjadi kekasihku, aku muak dengan keadaan kita sekarang! Aku ingin menjadi lebih dari sekedar teman untukmu Do Kyungsoo! Kenapa kau tidak bisa mengerti itu?" Jelas Jongin menggebu-gebu, Jongin benar-benar muak sekarang ia sudah sering mengatakan berbagai hal untuk meyakinkan Kyungsoo akan perasaannya tapi perempuan itu justru menolak dan sekarang perempuan itu menolak bercerita hanya karena status?

Kyungsoo membuang napasnya menghadap ke jendela, "Lupakan saja."

"Aku marah padamu Soo." Gumam Jongin, terselip rasa khawatir di dalam diri Kyungsoo takut kalau ternyata Jongin memang akan marah padanya.

"Aku akan bertanya satu kali lagi, kalau kau tak menjawab aku akan turun di halte depan." Jongin menghembuskan napasnya perlahan, "Baiklah.. apa yang mengganggumu? Kau tahu kan kau selalu bisa bercerita padaku?"

"Perusahaan appa dalam krisis.." Sahut Kyungsoo, "Puas?"

Jongin terdiam beberapa detik, cukup shock mendengar perkataan Kyungsoo barusan, krisis? Bagaimana bisa..?

"Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka, aku merasa menjadi anak yang buruk.. aku gagal dalam ujian bahasa tadi dan aku merasa semakin buruk! A-aku merasa tak bergu-"

Jongin membawa Kyungsoo ke dalam pelukkannya, mengelus rambut hitam Kyungsoo lembut, "Stt.." Jongin mengelus rambut Kyungsoo mencoba menenangkannya, "Kau tidak buruk.. kau pintar dan aku yakin kau tidak gagal tadi, pasti hanya ada beberapa kesalahan.. kau percaya padaku kan?" Bisik Jongin diangguki oleh Kyungsoo yang sudah sejak kapan menangis terisak didadanya.

"Aku takut.." Lirih Kyungsoo.

"Aniya.. tidak akan ada apa-apa.. semua akan baik-baik saja.." Jongin merasakan dadanya nyeri mendengar isakkan Kyungsoo yang keluar dari bibir berbentuk hatinya, sungguh.. melihat Kyungsoo menangis sangat menyakitkan untuknya..

Jongin melonggarkan pelukkannya lalu merangkum wajah bulat Kyungsoo yang basah, "Apa kau mau menemaniku latihan basket lagi? Sudah lama kan kau tidak pernah menemaniku."

Kyungsoo mengangguk, "Eo.."

"Uljima.." Jongin menghapus air mata yang membasahi pipi Kyungsoo dengan ibu jarinya, "Uljima Soo.. aku tak tahan melihatmu menangis.."

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya mencoba menahan isakkan yang siap keluar kapan saja jika ia tidak menggigit bibir bawahnya, Jongin mengelus bibir bawah Kyungsoo menyuruhnya untuk tidak menggigit bibir bawahnya..

"Jangan sakiti bibirmu Soo.. nanti luka.."

"Ta-tapi.. hiks.."

Jongin kembali memeluk tubuh mungil Kyungsoo, "Hah.. aku tak bisa melihatmu begini Kyungsoo.."

"Mianhae.."

Jongin menggeleng, "Gwenchana.." Ia melihat halte sudah dekat, Jongin mengelus rambut Kyungsoo sebelum melepaskan pelukkannya dan menggandeng tangannya untuk membawanya ke depan dan turun dihalte.

"Mau kugendong tidak?" Tawar Jongin setengah bercanda karena ia berbicara sambil tertawa pelan.

Kyungsoo ikut tertawa pelan, "Aku tidak lumpuh Jongin.."

"Tapi kau sedang bersedih.. aku takut kau jatuh karena matamu terhalang air mata.."

Kyungsoo memukul lengan Jongin, "Kau tahu aku tidak.."

"Arra.." Jongin merangkul Kyungsoo kemudian mengacak rambut Kyungsoo gemas, "Aku tidak mau lagi kau menangis."

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Aku sudah menahannya.. tapi kau malah memaksaku untuk bercerita." Gadis itu memukul dada Jongin kesal, "Kau jahat!"

"Aku tahu, aku memang jahat.."

Kyungsoo menyadari perubahan wajah Jongin membuat Kyungsoo sedikit menyesali perkataannya dan memeluk Jongin tiba-tiba sehingga mereka berhenti berjalan..

"Kau memang jahat.." Kyungsoo tersenyum, "Tapi, aku menyukainya."

"Ne?" Jongin menundukkan kepalanya tak percaya.

Kyungsoo tertawa kecil, mengangkat kepalanya menatap mata Jongin lurus, "Aku menyukainya."

"Kau menyukai.. ku?" Tanya Jongin.

"Kenapa? Kalau aku tidak menyukaimu kan aku tidak mau menjadi temanmu."

"Eh?"

Kyungsoo mengerjap lucu, "Memangnya kau mengartikannya bagaimana?"

Jongin mengacak rambutnya frustasi, "Entahlah.." Pria itu mencubit hidung Kyungsoo, "Kau menyebalkan."

Kyungsoo hanya menjulurkan lidahnya dalam hati ia berkata..

"Bukan hanya sebagai teman Jongin.. tapi.. sebagai seorang pria.. aku menyukaimu sebagai pria.."


TBC

Haiiiii~~

Akhirnyaaaa apdet ff ini setelah udh sekian lama menjamur di laptop, gatau sih ada yg masih inget apa engga sm ff inii Cuma pengen lanjutin ff ini aja

Btw" pd msh bingung kah sm jalan ceritanya? Klo msh bingung yok blh PM aku nanti dijelasin sejelas"ny ampe ngerti hahaha

Makasih buat review fav dan follow sm chapter kmrn dann semoga di chapter ini reviewny bisa tembus 30 review ya hehe..

Oke bye" semuaaa

Annyeonggg!~