Love At First Sight
.
.
.
Edelweise
.
.
.
VIXX
.
.
.
Romance.
Rate T
AU. OOC, Typo(s). Plotless
.
.
Leo-N/Taekwoon-Hakyeon and Ravi-Ken
Enjoy Reading
.
DLDR
.
Pada akhirnya Leo dan Hakyeon benar-benar menuruti perkataan pasangan gila Ravi dan Ken. Mereka pulang bersama.
Hakyeon merasa waktu berjalan sangat lambat. Bahkan ia merasa letak rumahnya sangat jauh. Padahal jika ia pulang bersama Ken hanya dibutuhkan waktu duapuluh lima menit agar mereka sampai tempat tujuan. Tapi hari ini, Hakyeon merasa ia telah berjalan lebih dari duapuluh lima menit. Salahkan keheningan yang melanda mereka berdua. Sudah sepuluh menit mereka berjalan beriringan tapi tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir keduanya.
Setelah berpikir berulang kali, akhirnya Hakyeon memilih mengajak Leo bicara lebih dulu.
"Kau kuliah di tempat yang sama dengan Ravi?" tanya Hakyeon membuka percakapan.
"Ya. Entah kenapa aku selalu satu sekolah dengannya," jawab Leo sambil memasukkan kedua tengannya ke dalam saku jaket. Malam ini dingin sekali.
Hakyeon mengangguk paham. Ia dan Ken juga begitu. Seperti takdir sudah mengikat mereka berdua untuk tetap menjadi sahabat.
"Aku dan Ken juga begitu. Rasanya aku bosan sekali melihat wajah Ken setiap hari. Apalagi kami satu apartemen," ucap Hakyeon sambil tertawa.
"Apa kau membenci Ken?"
"Ha?" tanya Hakyeon bingung.
"Kau bilang bosan bertemu Ken. Apa kau membencinya?"
Hakyeon berhenti berjalan dan menatap Leo bingung, "Bukan itu maksudku. Ck, bagaimana menjelaskannya ya? Begini, coba kau bayangkan. Kau dan Ravi tinggal di satu apartemen selama lima tahun. Saat kau bangun tidur yang pertama kau lihat pasti Ravi. Begitu juga saat kau ingin tidur, makan, mandi. Bahkan yang menyambutmu pulang Ravi. Apa kau tidak bosan?"
Leo membayangkan apa yang Hakyeon katakan dan berakhir dengan gelengan disertai ringisan dari bibirnya.
Hakyeon tertawa. Suara tawanya terdengar renyah dan bahagia. Leo menyukainya.
"Seperti itulah yang aku rasakan, Leo. Tapi ada baiknya juga sih."
"Apa?" tanya Leo sambil melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti beberapa saat.
"Saat aku butuh seseorang untuk menemaniku, Ken akan selalu ada di sampingku," ucap Hakyeon sambil melihat langit dan tersenyum.
Leo terpana. Cha Hakyeon yang sedang memandangi langit sambil tersenyum sangat indah. Oh! Dan manis.
"Oh! Aku hampir melupakannya," ucap Hakyeon sambil menurunkan tas yang sejak tadi dibawanya.
Leo melirik Hakyeon heran. Apa lagi sekarang?
"Ini, jaketmu. Aku sudah mencucinya," Hakyeon menyerahkan jaket Leo.
Leo mengambilnya, "Kau tidak perlu secepat itu mengembalikannya,"
"Aku tidak suka menyimpan barang-barang milik orang lain terlalu lama," lagi-lagi Hakyeon tersenyum. Dan debaran jantung Leo semakin menggila. Ini konyol.
"Terimakasih."
"Ya."
...
Setelah perjalanan yang mengahabiskan waktu cukup banyak—menurut Hakyeon. Akhirnya mereka sampai di apartemen.
"Terimakasih. Maaf merepotkanmu," ucap Hakyeon.
"Ya."
"Kau ingin mampir?" tanya Hakyeon sambil melirik pintu apartemennya.
"Tidak. Ini sudah malam. Aku harus pulang," jawab Leo cepat.
Demi tuhan. Leo benar-benar ingin pulang sekarang juga. Ritme debaran jantungnya semakin menggila. Ia tidak sanggup jika harus berada satu ruangan dengan Hakyeo. Tidak saat ini.
Hakyeon mengangguk mengerti, "Soal kencan ganda yang direncanakan Ken, jika kau tidak ingin ikut katakan saja. Ken dan Ravi memang suka membuat acara tidak penting,"
Leo menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Aku pulang," ucap Leo sambil berbalik meninggalkan apartemen Hakyeon.
Hakyeon masuk ke dalam apartemen setelah ia melihat Leo benar-benar meninggalkan apartemennya. Jujur saja, jantungnya berdebar sangat kencang. Ia menghela napas panjang.
Hakyeon meletakkan tasnya di gantungan yang tersedia di pojok ruangan. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya.
Ia kembali memikirkan tentang Leo, perasaannya, dan jantungnya yang terus berdebar kencang saat bersama Leo. Hakyeon memikirkan semuanya.
Hakyeon sangat mengenali semua yang ia rasakan. Mungkinkah ia kembali merasakannya setelah empat tahun terlewati?
Hakyeon mengangkat tangan kanannya. Ia memperhatikan cincin di jari kelingkingnya dengan serius. Kemudian, ia tertawa.
"Katakanlah aku jatuh cinta pada Leo. Tapi, ini terlalu cepat. Cinta pada pandangan pertama? Ck, konyol sekali Cha Hakyeon. Baiklah, anggap saja ini cinta pada pandangan pertama. Apa Leo juga menyukaimu? Astaga, tidak mungkin sekali," Hakyeon bicara dengan dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan bodoh Hakyeon. Kau pasti salah mengartikan perasaanmu. Ya. Aku pasti salah mengartikannya," ucap Hakyeon mengangguk mantap.
"Tapi, aku benar-benar senang bisa berjalan di sampingnya seperti tadi. Haaaaa aku bingung," Hakyeon berguling ke samping dan memeluk boneka beruang besar.
Dan pada akhirnya, Cha Hakyeon tertidur.
...
"Menurutmu, Hakyeon dan Leo saling jatuh cinta?" Ken bertanya kepada Ravi yang sedang mengganti pakaiannya dengan piama.
"Aku rasa Leo jatuh cinta. Tapi aku tidak tau dengan Hakyeon," ucap Ravi sambil berjalan menuju tempat tidur.
"Aku tidak tau bagaimana perasaan Hakyeon. Kau tau sendiri bagaimana dia," ucap Ken sambil cemberut.
"Akan lebih baik jika mereka berdua bisa berkencan. Leo pasti bisa menjaganya dengan baik,"
"Aku pikir juga begitu. Aku ingin yang terbaik untuk sahabatku,"
"Kita harus membuat mereka berkencan bagaimanapun caranya," ucap Ravi penuh semangat.
"Ya! Kau tau, sekarang kita terdengar seperti orang tua yang ingin menjodohkan anaknya," ucap Ken tersenyum senang.
"Menurutmu begitu?" tanya Ravi sambil memandang Ken—menggoda.
"Tentu saja," ucap Ken sambil tersenyum malu.
"Kau masih ingin membicarakan perjodohan anak kita, atau tidur?" tanya Ravi kembali menggoda Ken.
"Berhenti menggodaku. Dan matikan lampunya!" ucap Ken sambil menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.
Ravi mematikan lampu sambil tertawa. Ah manisnya kekasihnya.
...
Suara ketukan pintu membuat Hakyeon terbangun. Ia melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Orang gila mana yang mengganggu tidurnya. Ia enggan membuka pintu. Tubuhnya tidak ingin meninggalkan tempat tidur. Hakyeon berusaha mengabaikan suara ketukan pintu dan kembali memejamkan matanya.
Belum ada lima menit ia memejamkan matanya, suara ketukan pintu semakin gencar terdengar. Bahkan sekarang diiringi dengan panggilan yang memekakan telinga. Hakyeon menutup telinganya dengan bantal namun usahanya gagal. Akhirnya, Hakyeon beranjak dari tempat tidurnya dengan wajah masam.
"Ken, kau menghancurkan moodku pagi ini," ucap Hakyeon setelah membuka pintu apartemennya.
"Salahmu tidak membuka pintu. Aku sudah menunggumu sejak sepuluh menit yang lalu," Ken masuk ke dalam apartemen dan segera berbaring di tempat tidurnya.
"Kenapa kau pulang hari ini? Seharusnya kau pindah saja ke rumah kekasihmu," Hakyeon kembali ke tempat tidurnya.
"Mana mungkin aku meninggalkan sahabatku seorang diri," Ken mengedipkan matanya.
"Jangan membuat moodku semakin buruk, Ken. Kau mengganggu waktu tidurku," Hakyeon menarik selimutnya untuk melanjutkan tidur.
"Yak! Ini sudah pukul sepuluh bodoh! Apa kau mau tidur lagi?" Ken berteriak kesal.
"Biarkan aku tidur, Ken. Aku butuh tidur," ucap Hakyeon dengan suara yang tidak jelas. Suaranya teredam oleh bantal.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu tidur lagi? Bangun! Hari ini kita akan belanja bulanan. Persediaan makanan kita sudah habis," Ken menarik selimut Hakyeon kasar.
Hakyeon memicingkan matanya, "Ken, kau merusak hari liburku yang berharga!"
"Bangun dan mandi sekarang! Aku memberimu waktu limabelas menit,"
Hakyeon beranjak dengan enggan. Ia mengambil handuk dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Hakyeon, tunggu."
Hakyeon membuka pintu kamar mandi dan melemparkan pandangan bertanya kepada Ken.
"Aku dan Ravi telah memutuskan waktu untuk kencan ganda kita. Minggu depan di perkebunan apel," ucap Ken sambil tersenyum.
Hakyeon melebarkan kedua bola matanya, "Ken, kau dan kekasihmu benar-benar gila!" Hakyeon membanting pintu kamar mandi. Ken tertawa bahagia sambil membereskan tempat tidur.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
a/n : hai! saya kembali dengan segala keabsurdan(?) chapter ini. banyak yang bertanya-tanya masalah cincin ya? hmmm ada yang tau kisah cinta pasangan cosplay baozi dan hana? sebenernya cerita ini terinspirasi dari kisah cinta mereka berdua. kalau kalian tau ceritanya, pasti sudah bisa menebak-nebak apa makna cincin itu XD
btw(?) apa kalian tergabung di sebuah grup starlight? jujur aja saya gak punya temen starlight satu pun. temen shipper leon pun saya gak punya XD terimakasih buat temen mulfan saya yang mau mendengarkan keluh kesah saya tentang shipper kesayangan ini :')
jadi, apakah reader mau jadi teman saya? /gak
akhir kata, kritik dan sarannya silahkan tumpahkan di kotak ripiu^^
Thanks to : yeonnn, Endhaiueo, Kim Eun Seob, Sky Onix, chandleN, Lee'90, Bbangssang, Phee Anee, HMYgrey
