Love At First Sight
.
.
.
Edelweise
.
.
.
VIXX
.
.
.
Romance.
Rate T
AU. OOC, Typo(s). Plotless
.
.
Leo-N/Taekwoon-Hakyeon and Ravi-Ken
Enjoy Reading
.
DLDR
.
Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi Ken. Ia dan Hakyeon akan double date. Sedangkan bagi Hakyeon, pagi ini adalah pagi yang sibuk. Biasanya pada hari minggu ia akan berkencan dengan kasur empuknya hingga pukul sebelas siang.
"Ken, kita benar-benar akan pergi ke perkebunan apel?" tanya Hakyeon memastikan. Ia dan Ken sibuk mempersiapkan bekal yang akan di bawa ke perkebunan apel. Bahkan Ken sudah membangunkannya sejak pukul enam pagi.
"Tentu saja!" Ken memasukkan kotak makanan ke dalam tas kecil sambil bersenandung.
"Apa tidak ada tempat lain? Bioskop mungkin?" Hakyeon memasukkan beberapa buah-buahan ke dalam tas.
"Ck! Kencan di bioskop itu terlalu biasa. Lagi pula tidak ada film yang menarik,"
"Lebih gila lagi berkencan di perkebunan apel, Ken. Bahkan apel belum berbuah di musim ini," Hakyeon memutar bola matanya bosan.
"Memang belum berbuah, tapi pohon-pohon apel sudah berbunga," ucap Ken ceria.
"Lalu, kau mau memetik bunganya dan memakannya?" Hakyeon berucap sebal.
Ken menghentikan seluruh kegiatannya dan menatap Hakyeon gemas, "Ya! Kau benar! Aku akan memakan bunganya. Pohon apelnya juga sekalian akan aku makan!"
Ken meninggalkan Hakyeon bersamaan dengan suara ketukan pintu apartemen.
Hakyeon menatap bingung kepergian Ken, "Dia bilang akan memakan bunga dan pohon apelnya? Dia sudah gila," Hakyeon menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Ken membuka pintu apartemen tergesa-gesa.
"Kalian datang lebih awal," ucap Ken kepada kedua tamunya.
"Setengah jam lebih awal. Apa kalian belum selesai berkemas?" tanya Ravi sambil masuk ke dalam apartemen kekasihnya diikuti Leo di belakangnya.
"Sebentar lagi kami selesai. Leo, kau bebas duduk di mana saja," ucap Ken saat melihat Leo yang kebingungan.
Leo mengangguk. Ravi menariknya untuk duduk di sofa.
"Ken, apa yang sebaikanya aku bawa?" Hakyeon berteriak sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Mungkin kau harus bawa sarung tangan?" ucap Ken sambil melemparkan pandangan bertanya kepada Ravi.
Hakyeon terkejut saat melihat Ravi dan Leo yang sedang memperhatikannya. Uh, kau bodoh Hakyeon! Kenapa kau berteriak. Hakyeon bermonolog dengan hatinya.
Hakyeon segera berbalik. Hendak menuju kamarnya lagi. Bagus. Sekarang wajahnya memerah.
Ken dan Ravi menertawakan kelakuan Hakyeon. Sedangkan Leo, wajahnya tetap datar. Namun, hatinya berteriak saat melihat wajah Hakyeon yang memerah.
"Aku akan mengganti pakaian. Tunggu sebentar," Ken beranjak dari tempat duduknya.
"Apa pakaian seperti ini tidak apa-apa?" Hakyeon bertanya kepada Ken saat ia melihat Ken masuk ke dalam kamar.
"Apapun boleh selama itu tidak mudah kotor. Kau akan sulit mencucinya jika pakaianmu kotor. Lagi pula aku tidak mau mendengar ocehan panjangmu jika pakaianmu kotor,"
...
Hakyeon melancarkan jurus diam seribu bahasanya. Ia menatap Ken sebal. Ken bisa melihat tatapan mematikan Hakyeon dari kaca depan mobil.
Saat ini mereka berempat sedang dalam perjalanan menuju perkebunan apel. Mereka baru saja berangkat sepuluh menit yang lalu setelah duapuluh menit yang menegangkan.
Semuanya berawal dari ide gila yang juga berasal dari pasangan setengah gila Ravi dan Ken. Ravi meminta Hakyeon untuk duduk terpisah dengan Ken. Alasannya? tentu saja karena Ravi ingin kekasih imutnya duduk di sampingnya.
Ha! Tentu saja Hakyeon tau itu hanya akal-akalan Ravi agar ia dan Leo bisa duduk bersebelahan. Ravi memang menyebalkan. Rasa-rasanya Hakyeon ingin membunuhnya.
Bukannya Hakyeon tidak ingin duduk di samping Leo. Tapi, jantungnya benar-benar tidak bisa diajak berdamai. Sejak sepuluh menit yang lalu, jantungnya terus berdebar kencang. Saat ini Hakyeon tidak bisa bergerak sedikitpun. Katakan ia berlebihan. Tapi reaksi tubuhnya memang seperti ini. Bahkan untuk bernapas saja rasanya sulit. Dengan jarak yang seperti ini ia bisa menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh Leo. Aroma kayu manis yang dipadukan dengan vanilla. Manis.
"Yah Cha Hakyeon! Apa kau dan Leo bertengkar? Kenapa kalian kaku sekali?" Ken berusaha mencairkan suasana sunyi di dalam mobil. Ravi yang sejak tadi mengemudikan mobilnya hanya bisa melirik mereka melalui kaca.
"Kami tidak bertengkar, Ken. Hanya saja tidak ada hal yang bisa kami bicarakan,"
"Heol, ke mana perginya Cha Hakyeon yang pandai bicara," itu sindiran sarkastik yang keluar dari mulut Ken.
"Ia sedang berlibur," jawab Hakyeon asal.
Leo melirik Hakyeon. Hanya sedikit. Tidak membuat Hakyeon menyadarinya.
"Ken bilang kita akan memanen bunga pohon apel. Apa itu benar?" Hakyeon bertanya kepada Ravi sambil mencoba mengalihkan perhatian.
"Ya! Kapan aku mengatakannya?"
Hakyeon mengabaikan Ken.
Ravi tertawa sebelum menjawab, "Kita akan melakukan perawatan pohon apel,"
Hakyeon mengangguk mengerti, "Oh, kekasihmu bilang ia akan memakan bunga dan pohon apelnya,"
"Ya Cha Hakyeon! Kau benar-benar menyebalkan!" Ken berteriak sambil berusaha menarik tubuh Hakyeon.
Hakyeon menjulurkan lidahnya—mengejek—dan bergeser mendekati Leo. Leo sedikit terkejut saat Hakyeon menarik ujung sweaternya. Ia juga terkejut karena Hakyeon bergeser lebih dekat ke arahnya.
"Bagus Hakyeon, di saat genting kau malah berlindung di dekat Leo!"
"Apa masalahmu? Bahkan Leo tidak mempermasalahkannya. Leo, kau tidak marah 'kan?"
Lagi-lagi Leo terkejut. Dan pada akhirnya, ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan dari pertanyaan Hakyeon.
"Lihat! Leo bilang tidak apa-apa,"
"Hentikan pertengkaran konyol kalian, kita sudah sampai," ucap Ravi menengahi Ken dan Hakyeon.
...
"Huaa udaranya segar sekali!" Ken dan Hakyeon berteriak girang.
Ravi mengacak gemas rambut kekasihnya.
"Hari ini kita akan mengurus sekitar perkebunan ini," Ravi mulai menjelaskan apa yang akan mereka lakukan hari ini.
"Yak! Ini yang kalian sebut kencan? Ini sih namanya memanfaatkan tenaga orang lain," ucap Hakyeon sambil melirik Leo meminta dukungan.
"Kau memanfaatkan kami," ucap Leo singkat.
"Hahaha. Kencan yang bermanfaat itu seperti ini, Leo."
Perkebunan apel ini milik keluarga Ravi. Wajar saja jika Hakyeon dan Leo mengeluh.
Leo meninggalkan Ravi yang masih memberi pidato singkatnya kepada Hakyeon dan Ken. Leo mengambil tangga kayu yang ada di samping rumah peristirahatan.
Hakyeon menghampirinya, "Ravi bilang aku akan melakukan perawatan pohon apel bersamamu," ucap Hakyeon sambil menatap Leo yang mengangkat tangga kayu.
"Ya. Tangga ini kita gunakan berdua," Leo berjalan menuju perkebunan apel.
"Wow. Kebun apelnya sangat cantik. Apalagi bunganya sedang mekar," ucap Hakyeon sambil memandangi pohon apel di sekitarnya.
Lagi-lagi Leo melirik Hakyeon. Leo memperhatikan wajah Hakyeon. Kedua mata Hakyeon yang bulat terlihat bersinar. Hakyeon, matahari pagi, dan kebun apel adalah kombinasi yang sempurna.
"Pohon apel ini ternyata pendek. Bagaimana bisa?" Hakyeon menyentuh pohon apel yang ada di sampingnya.
"Karena para petani hanya menumbuhkan cabang yang tumbuh ke samping,"
"Oh begitu. Kalau begitu akan lebih mudah mengambil apelnya saat berbuah," Hakyeon tersenyum senang.
Melihat senyum Hakyeon, mau tidak mau Leo ikut tersenyum. Lihat. Bagaimana senyum Hakyeon bisa membuat seorang Jung Leo yang terkenal datar bisa tersenyum.
"Kenapa mereka tidak membiarkan pohonnya bertambah tinggi?" lagi-lagi Hakyeon menarik ujung sweater Leo.
"Karena akan lebih mudah merawatnya dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi," keringat menetes di pelipis Leo. Ini bukan hanya karena matahari pagi. Hakyeon ikut ambil bagian dalam setiap tetes keringatnya. Saat ini Leo gugup karena Hakyeon yang tidak melepaskan tangannya dari sweaternya.
"Pastikan kau melihat sekitar agar kepalamu tidak terbentur po—"
"Aw!" belum selesai Leo memberi peringatan, kepala Hakyeon sudah terlanjur terbentur dahan pohon. Ia memegangi kepalanya yang terbentur pohon.
Leo meletakkan tangga yang sejak tadi dibawanya dan menghampiri Hakyeon.
"Apa kau tidak apa-apa?" Leo bertanya penuh kekhawatiran.
Hakyeon masih meringis sambil memegangi kepalanya.
"Biar kulihat," Leo menarik tangan Hakyeon dengan lembut dan melihat kepala Hakyeon.
"Apa kepalaku berdarah?" tanya Hakyeon gugup.
"Tidak. Hanya sedikit merah," ucap Leo sambil mengusap lembut kepala Hakyeon.
Rambut Hakyeon lembut dan juga wangi. Leo bisa mencium harum rambutnya yang menenangkan. Kalau diperhatikan sedekat ini, rambut Hakyeon ternyata berwarna coklat. Leo menyukainya.
"Apa masih sakit?"
"Um, sedikit."
Leo tetap mengusap kepala Hakyeon. Kali ini dibarengi dengan tiupan-tiupan lembut.
"Yak! kalian berdua! Bahkan belum ada limabelas menit kalian masuk ke dalam kebun ini, tapi kalian sudah bermesraan," Ken berteriak dari ujung kebun.
Hakyeon mengabaikan teriakan Ken. Wajahnya saat ini memerah. Ken benar-benar menyebalkan.
Leo ikut mengabaikan teriakan Ken yang kelewat nyaring.
"Leo, kepalaku sudah tidak sakit lagi."
"Maaf," ucap Leo lirih.
"Tidak apa-apa. Terimakasih," ucap Hakyeon tulus.
Pada akhirnya, Leo dan Hakyeon meninggalkan Ken yang masih memperhatikan mereka di ujung kebun apel.
Ravi menghampiri kekasihnya yang terlihat kesal. Kekasih imutnya sedang menghentakkan kakinya di rerumputan sambil mengomel.
"Apa yang terjadi?" tanya Ravi lembut.
"Sepertinya rencana kita berhasil, luv. Aku melihat Leo mengusap kepala Hakyeon dengan lembut," ucap Ken sambil merotasikan kedua bola matanya.
"Lalu, kenapa kau marah?" Ravi berjongkok di depan Ken. Ia memegang kedua tangan kekasihnya dengan hati-hati.
"Aku tidak marah. Aku hanya sebal karena mereka mengabaikan teriakanku,"
Ravi menghela napas panjang. Terkadang kekasihnya bisa jadi orang yang sangat sensitif.
"Lupakan masalah itu. Kita ke sini untuk bersenang-senang," Ravi berdiri dan mengecup dahi Ken.
"Ya! Bagaimana jika Leo dan Hakyeon melihat," wajah Ken memerah.
"Suruh saja mereka melakukannya juga," ucap Ravi sambil menggandeng tangan kekasihnya menuju perkebunan apel.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
a/n : Hai! saya kembali. akhir-akhir ini ide cerita ini mengalir seperti aliran sungai :') semoga chapter ini tidak aneh karena ada beberapa kalimat yang membuat saya bingung penempatannya. apa chapter ini membosankan? gak ada adegan romantis? saya minta maap :) saya belum bisa menempatkan adegan romantis di chapter ini.
btw, sebelumnya maap kalo scene leon terkesan sedikit. di sini saya cuma mau bersikap adil. karena saya gak cuma mengangkat tema percintaan leo dan n. saya juga menjelaskan kehidupan n bersama ken karena ken punya andil yang besar nantinya.
terimakasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan repot-repot memberi saya masukan dan semangat.
akhir kata, silahkan cuap cuap di kotak ripiu^^
khusus untuk Lee'90, saya pengen pm kamu, tapi kamu ripiunya gak login :') semoga nanti kamu ripiu menggunakan akun yaaa.
Big thanks to : User006, Sky Onix, yeonnn, chandleN, NuyChan, Lee'90, Phee Anee
