Love At First Sight

.

.

.

Edelweise

.

.

.

VIXX

.

.

.

Romance.

Rate T

AU. OOC, Typo(s). Plotless

.

.

Leo-N/Taekwoon-Hakyeon and Ravi-Ken

Enjoy Reading

.

DLDR

.


"Ravi, dari mana kami harus memulai?" tanya Leo sambil meletakkan tangga di samping salah satu pohon apel.

"Kalian mulailah dari sana," Ravi menunjuk salah satu pohon apel di tengah kebun.

"Oke," ucap Hakyeon sambil mengikuti Leo.

Leo kembali meletakkan tangga di samping pohon apel. Hakyeon memperhatikan pohon apel di depannya.

"Apa yang akan kita lakukan dengan pohon apel ini?"

Leo meraih satu tangkai pohon apel yang ada di dekatnya, "Kau lihat 'kan ada beberapa kelopak bunga di sini," ucap Leo sambil menunjuk bunga yang ada di tangkai.

Hakyeon mengangguk sambil menatap tangkai pohon apel dengan serius.

"Semuanya akan menjadi buah nantinya. Tapi, jika kita membiarkan semuanya, tidak akan menjadi apel yang bagus," Leo menjelaskan sambil sesekali melirik Hakyeon.

"Hm. Jika dibiarkan pasti buah apelnya akan berkumpul di satu tempat,"

"Ya, dan menghambat perrtumbuhan buah apel karena mereka harus saling berebut nutrisi," lagi-lagi Leo menatap Hakyeon.

"Aku mengerti," ucap Hakyeon sambil menatap Leo memberi keyakinan.

"Jadi, kita harus menyeleksi bunganya sebagian agar nutrisinya tercukupi. Seperti ini," Leo memetik beberapa bunga yang terlihat menumpuk.

"Biarkan saja yang letaknya paling dekat dengan pusat dahan atau yang bunganya paling besar. Sisanya kita pangkas. Jadinya seperti ini," Leo menunjukkan bunga apel yang lolos seleksi.

"Apa kau mengerti?"

"Aku mengerti," ucap Hakyeon sambil tersenyum manis.

"Lakukan perlahan. Tidak usah terburu-buru. Jika ada yang tidak kau mengerti, kau bisa menanyakannya padaku," ucap Leo pelan.

"Suaramu lembut sekali, Leo," Hakyeon mengucapkannya tanpa sadar.

"Ha?" wajah Leo memerah sempurna.

"A—maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengejekmu. Itu pujian," ucap Hakyeon gelagapan.

Wajah Leo semakin merah. Lihat, wajahnya sekarang seperti tomat yang siap dipanen.

"Terimakasih," ucap Leo gugup. Dalam hati ia menyumpahi dirinya sendiri yang mudah sekali gugup.

...

Sekarang Hakyeon dan Leo disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing. Suasana di sekitar mereka sangat damai. Angin berhembus perlahan, kicauan burung yang menenangkan, dan aroma rumput yang menyegarkan. Hal itu membuat Hakyeon sedikit mengantuk.

Iseng, Hakyeon bertanya kepada Leo, "Apa bunga yang sudah dipetik ini akan dibuang?"

Leo menghentikan pekerjaannya dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Hakyeon berjongkok memperhatikan bunga apel yang tidak dibutuhkan, "Jadi, kalian tidak bisa menjadi apel ya? Kasihan sekali," ucapnya sambil memasang wajah sedih.

"Jangan mengatakan hal seperti itu. Aku merasa kejam," ucap Leo lirih.

"Aku hanya kasihan dengan mereka," Hakyeon menatap Leo sedih.

"Mereka tetap berguna karena mereka akan menjadi nutrisi bagi tanah."

"Benarkah?" suara Hakyeon terdengar ceria.

"Cha Hakyeon, jangan duduk santai seperti itu. Cepat lakukan tugasmu!"

Lagi-lagi Ken berteriak memperingati Hakyeon. Hakyeon memutar bola matanya bosan.

"Harusnya kau sadar diri, Ken. Kau dan kekasihmu itu pasti tidak melakukan apa-apa sejak tadi," Hakyeon balas berteriak.

"Kau mengajakku bertengkar ya? Aku dan Ravi sudah menyelesaikan satu pohon!"

"Ya, kau telah selesai bercumbu di satu pohon!"

"Yak! Apa masalahmu ha? Kenapa kau tidak melakukannya juga dengan Leo?" Ken menantang Hakyeon.

Hakyeon dibuat menganga atas tantangan Ken.

"Jangan dengarkan dia. Dia sudah gila," Hakyeon memberi peringatan kepada Leo.

"Aku tau. Apa bagian bawah sudah selesai?" mereka berdua kembali mengabaikan Ken.

"Ya. Aku sudah menyelesaikannya. Apa aku boleh mengurus bagian atas?"

"Ya. Hati-hati,"

Hakyeon memindahkan tangga agar lebih dekat dengan pohon. Ia menggoyangkan tangga mencoba meyakinkan tangganya tidak akan jatuh. Kemudian, ia menaiki tangga dengan semangat.

"Aw!" Lagi-lagi Hakyeon meringis kesakitan.

"Apa kau terbentur lagi?" Leo menghampiri Hakyeon.

"Tidak apa-apa. Aku memang ceroboh."

"Kau harus berhati-hati. Jangan membuatku khawatir," ucap Leo sambil menatap Hakyeon kesal.

Hakyeon menatap Leo bingung. Leo bilang ia khawatir? Ia juga mengucapkannya dengan ekspresi yang seperti itu. Boleh tidak Hakyeon berspekulasi Leo menyukainya?

...

"Leo, apa itu?" tanya Hakyeon saat melihat sebuak kotak persegi empat.

"Itu sarang lebah," ucap Leo sambil memperhatikan benda yang ditunjuk Hakyeon.

"Lebah?"

"Iya."

"Apa lebahnya besar?"

"Tidak. Seperti ini," Leo mengambil lebah kecil yang ada di bunga apel dan menunjukkannya kepada Hakyeon.

"Wa. Ternyata lebahnya kecil seperti lalat. Apa lebahnya tidak menyengat?"

"Tidak. Mereka tidak menyengat. Mereka menyerbuki bunganya saat mengumpulkan makanan. Jadi, Ravi sengaja membuat sarangnya di sini."

"Apa aku boleh menyentuhnya?" ucap Hakyeon sambil melepas sarung tangan yang sejak tadi dipakainya.

Leo menyerahkan lebah kecil itu kepada Hakyeon. Hakyeon memandangi lebah yang ada di tangannya sambil tersenyum.

"Kecil dan lucu ya,"

"Dia akan terbang sebelum mencapai jarimu," ucap Leo memberitau.

Lebah kecil itu berjalan perlahan menuju jari kelingking Hakyeon.

Lebah itu berhenti tepat di ujung jari Hakyeon dan menggigit ujung jarinya.

"Aw! Dia menggigit," ucap Hakyeon sambil meringis. Matanya berkaca-kaca.

"Mungkin moodnya sedang buruk," ucap Leo sambil mengambil lebah yang ada di tangan Hakyeon dan menerbangkannya.

"Bagaimana mungkin moodnya jelek," Hakyeon berucap sebal.

"Aku baru pertama kali melihatnya menggigit."

"Dia memang tidak menyengat. Tapi dia menggigit,"

"Aku akan mengobatinya. Sekarang waktunya istirahat," ucap Leo sambil menarik tangan Hakyeon menuju tempat Ken dan Ravi.

...

Leo dan Hakyeon kembali ke rumah peristirahatan yang ada di ujung kebun. Di sana, Ravi dan Ken sudah menunggu mereka.

"Kalian lama sekali," ucap Ravi saat melihat Hakyeon dan Leo yang berjalan berdampingan. Matanya melirik tangan Leo dan Hakyeon yang saling bertautan.

"Hakyeon digigit lebah," ucap Leo.

"Lebah mana?" tanya Ravi bingung.

"Tentu saja lebah peliharaanmu!" Hakyeon berucap sebal.

"Leo, ini benar-benar sakit. Sepertinya jariku bengkak," Hakyeon Merengek.

Leo mengambil tasnya. Tangannya merogoh kantung kecil yang ada di dalam tas. Kemudian, ia mengeluarkan botol gel penghilang rasa sakit dan sebuah plester luka.

"Sambil menunggu Leo mengobatimu lebih baik kau makan," Ken menyodorkan sebuah kotak makanan dan sumpit. Hakyeon mengambilnya sambil meringis.

"Coba kulihat tanganmu," Ken menarik tangan Hakyeon.

"Aw! Sakit Ken! Tidak bisakah kau lebih pelan?" Hakyeon memicingkan matanya.

"Ck. Cerewet sekali. Bahkan bengkaknya tidak terlihat, Hakyeon."

"Matamu sudah rusak, Ken!" Hakyeon menarik tangannya dan meniupnya.

Leo menghampiri Hakyeon yang sedang menyantap makan siangnya sambil beberapa kali meringis.

"Kemarikan tanganmu," ucap Leo sambil duduk di samping Hakyeon.

Hakyeon menyodorkan tangannya kepada Leo. Leo mengoleskan gel penghilang rasa nyeri di jari kelingking Hakyeon.

"Apa masih sakit?"

"Sedikit. Apa kau tidak makan?"

"Aku akan makan setelah ini selesai," ucap Leo sambil memasang plester di jari Hakyeon.

Hakyeon menyodorkan sepotong sushi di depan mulut Leo. Leo menatap Hakyeon datar.

"Kau harus makan,"

Leo membuka mulutnya, Hakyeon memasukkan sushi itu ke dalam mulut Leo. Hakyeon memperhatikan Leo yang sibuk mengunyah sushi. Pipinya menggembung lucu.

"Kau lucu sekali jika sedang makan," ucap Hakyeon sambil tertawa.

"Apa yang lucu?" tanya Leo tidak mengerti.

"Pipimu. Pipimu terlihat tembam."

"Pipimu lebih lucu lagi," lagi-lagi Leo berucap datar.

"Maksudmu pipiku tembam?"

"Ya. Bahkan saat kau tidak makan pipimu tembam,"

"Aku tidak tembam," ucap Hakyeon sambil menggembungkan pipinya.

Leo bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah peristirahatan. Sebelum Leo masuk, ia menyempatkan diri mengacak rambut Hakyeon.

"Romantisnya~" ucap Ken sambil mencolek dagu Hakyeon.

"Diam, Ken," Hakyeon menatap Ken sebal.

"Sepertinya double date kali ini berhasil,"

"Jangan mulai," ucap Hakyeon yang masih setia memakan bekalnya.

"Aku tunggu kabar baiknya, Hakyeon. Aku sudah tidak sabar mendengar berita kalian berpacaran,"

"Sial. Tutup mulutmu, Ken," wajah Hakyeon memerah.

"Wajahmu memerah, Hakyeon. Manis sekali. Ah, Leo datang! Aku harus pergi. Ingat, kau harus menceritakan padaku nanti," Ken mengedipkan sebelah matanya dan pergi.

...

Ken meneguk minumannya sambil tersenyum.

"Apa ada hal yang membuatmu senang?" tanya Ravi penasaran.

"Tentu saja," ucap Ken tersenyum manis.

"Ingin berbagi denganku?" tanya Ravi sambil menatap kekasihnya geli.

"Ini soal hubungan Hakyeon dan Leo,"

"Ada apa dengan mereka? Apa ada kemajuan?"

"Ini kemajuan yang sangat pesat, luv. Aku yakin Hakyeon jatuh cinta kepada Leo," wajah Ken berser-seri.

"Kau bahagia sekali,"

"Tentu saja! Akhirnya, setelah sekian lama akhirnya Hakyeon mau membuka hatinya lagi,"

Ravi menggenggam tangan Ken mesra.

"Ravi, kau mengetahuinya 'kan? Kau sejak awal tau 'kan kalau Hakyeon menyukai Leo?"

"Ya. Dilihat dari tingkah lakunya saja sudah terlihat. Tapi, saat itu aku belum terlalu yakin,"

"Kenapa kau tidak memberi tau aku," Ken menatap Ravi kesal.

"Karena aku masih belum yakin,"

Ken terdiam. Tangannya sibuk menggerakkan kipas yang ada di tangannya.

"Ravi, ayo lakukan 'itu'," ucap Ken memajukan tubuhnya.

" 'Itu' apa?" tanya ravi tidak mengerti.

Ken menatap Ravi dengan senyuman menggoda.

"Jangan bilang 'itu',"

"Tentu saja yang 'itu'," ucap Ken ceria.

"Aku tidak mau melakukannya di sini. Bagaimana jika Leo atau Hakyeon melihat?"

"Anggap saja dunia milik kita berdua. Jadi tidak usah khawatir,"

"Baiklah,"

Ravi menarik Ken agar duduk di pangkuannya. Ravi menatap Ken lembut. Ia memajukan kepalanya dan memegang kedua sisi wajah Ken. Ken menutup matanya perlahan. Ravi mengecup sudut bibir Ken sekali. Lalu, ia mencium Ken perlahan. Ia melumat bibir Ken dengan lembut. Ken membalas lumatan Ravi dengan semangat.

Ravi menghentikan ciumannya.

"Buka matamu, dan tatap aku,"

Ken membuka matanya perlahan. Kemudian, mereka kembali berciuman. Di sela-sela ciuman lembut itu, Ravi membisikan sesuatu di bibir Ken.

"Aku mencintaimu,"

.

.

.

.

.

.

T.B.C


a/n : Hai saya kembali :) maap lama mengupload chapter ini. bagaimana dengan chapter ini? jujur aja pengerjaan chapter ini butuh waktu seminggu. dan buat kiss scene Raken. butuh waktu satu jam buat saya menulis kiss scene. ini adalah kiss scene pertama saya :') mohon maap jika tidak ada feelnya :') gak kerasa yaa ini sudah chapter lima. di chapter satu saya udah ngomong 'kan epep ini gabakal panjang2. epep ini akan berakhir sebelum saya masuk asrama di bulan agustus. setelah epep ini berakhir, saya akan buat dua cerita LeoN terakhir. setalah itu saya akan hiatus dari dunia ffn :")

cukup sekian a/n saya. akhir kata, kritik dan saran kalian ditunggu di kotak review^^

Thanks to : chandleN, zoldyk, yeonnn, NuyChan, Sky Onix