Love At First Sight

.

.

.

Edelweise

.

.

.

VIXX

.

.

.

Romance.

Rate T

AU. OOC, Typo(s). Plotless

.

.

Leo-N/Taekwoon-Hakyeon and Ravi-Ken

Enjoy Reading

.

DLDR

.


Hakyeon merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia memeluk bantal dan guling seolah ia sudah lama tidak bertemu dengan kedua benda tersebut.

"Apa kau kelelahan?" tanya Ken sambil melepas kaus kakinya.

"Aku sangat lelah, Ken. Kekasihmu itu benar-benar memanfaatkan tenagaku," ucap Hakyeon sambil menenggelamkan kepalanya ke bantal.

Ken tertawa, ia sudah menduga Hakyeon akan perotes, "Tapi hari ini menyenangkan, bukan?"

"Apanya yang menyenangkan," suara Hakyeon teredam bantal.

"Tidak perlu pura-pura bertanya, Hakyeon. Aku melihatmu. Kau dan Leo terlihat bahagia. Sepertinya rencanaku dan Ravi tidak akan sia-sia," Ken mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur.

Hakyeon berbalik dan memandang Ken sebal.

"Apa?" tanya Ken menantang.

Hakyeon menghembukan napas kasar.

"Kau tau, Ken, aku tidak tau bagaimana tepatnya perasaanku saat ini. Tapi, sepertinya aku mulai sedikit tertarik kepada Leo. Ingat. Sedikit," ucap Hakyeon sambil memberi penekanan pada kata 'sedikit'.

"Benarkah? Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Ken antusias.

"Aku tidak tau," ucap Hakyeon. Kedua bola matanya menghindari tatapan penasaran Ken.

"Ck! Kau tidak perlu malu-malu menjijikan seperti itu, Hakyeon," Ken memutar bola matanya bosan.

"Yak! Siapa yang kau sebut malu-malu menjijikan!" Hakyeon melempar bantal ke arah Ken.

"Tentu saja kau. Cepat jawab pertanyaanku!"

Hakyeon terdiam beberapa saat, "Bagaimana cara menjelaskannya, aku bingung."

"Sebut saja apa yang kau rasakan sekarang," Ken mencoba bersabar.

"Aku masih tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Tapi, jika aku berdiri di sampingnya, aku merasakan gugup, tiba-tiba hilang kemampuan bicara, dan frekuensi detak jantungku bertambah. Ya. Perpaduan ketiga hal itu."

Ken mengangguk mengerti, "Aku rasa, kau ada dalam tahap jatuh cinta,"

...

"Leo, bagaimana perasaanmu kepada Hakyeon?" Ravi memasang wajah serius.

Leo menatap Ravi datar. Kemudian ia memukul kepala Ravi menggunakan sendok yang sedang dipegangnya.

"Sakit, bodoh!" Ravi mengusap kepalanya yang terasa nyeri.

"Kau mengatakan hal bodoh," ucap Leo santai.

"Ck, aku serius, Leo. Bagaimana perasaanmu? Katakan saja dengan jujur. Kalau kau menyukai Hakyeon katakan. Kalau kau tidak menyukainya, katakan juga. Jawabanmu menentukan apa yang harus aku lakukan selanjutnya,"

Leo memandang Ravi tidak mengerti. Ini masalahnya dan Hakyeon. Kenapa harus Ravi yang menentukan langkah selanjutnya?

"Kenapa kau harus repot-repot menentukan langkah selanjutnya?"

"Jika aku menyerahkan sepenuhnya kepadamu, apa kau akan terus menemui Hakyeon?"

"Aku menemui Hakyeon atau tidak itu masalahku. Aku rasa pertolonganmu dan Ken cukup sampai di sini, Ravi."

Ravi terdiam. Apa ia dan Ken salah karena memaksa Leo berkencan dengan Hakyeon? Apa Leo memutuskan untuk tetap sendiri dan berhenti melanjutkan pendekatan dengan Hakyeon?

"Jadi kau meminta aku dan Ken untuk berhenti ikut campur dalam hubungan asmaramu?"

Leo menarik napas dalam-dalam. Bukan maksudnya menolak bantuan Ken dan Ravi. Bukan juga ia tidak tau berterimakasih kepada pasangan kekasih itu untuk bantuan mereka selama ini. Justru Leo sangat ingin mengucapkan kata terimakasih banyak-banyak.

Leo mengangguk sambil menatap mata Ravi, "Terimakasih kau dan Ken repot-repot membantuku mendekati Hakyeon. Aku rasa bantuan kalian cukup sampai di sini. Sisanya serahkan kepadaku. Karena ini perihal hati dan perasaanku," ucap Leo mantap.

Pada akhirnya Ravi mengangguk mengerti. Ia mengerti apa yang Leo bicarakan.

"Aku harap kau membuat keputusan yang tepat, Leo. Aku hanya bisa memberikanmu satu petunjuk. Hakyeon menyukaimu," ucap Ravi sambil berjalan meninggalkan Leo sendirian.

...

Leo benar-benar tidak tau kapan rasa yang ada di dalam hatinya muncul. Kali pertama ia bertemu Hakyeon, ia yakin perasaan itu belum muncul. Lalu kapan ia menyukai Hakyeon? Pertemuan kedua mereka kah? Pertemuan ketiga? Atau justru memang pertemuan pertama yang membuatnya jatuh cinta dengan Hakyeon? Semua itu masih menjadi misteri baginya.

Ia sempat kesulitan menerjemahkan perasaannya. Namun, saat ini ia yakin benar bahwa perasaan yang ia rasakan adalah jatuh cinta.

Jika malam sebelumnya alasan ia sulit tidur karena kesulitan menerjemahkan perasaannya, hari ini ia sibuk memikirkan perasaan Cha Hakyeon.

Leo menghembuskan napas berat. Tangannya sejak tadi sibuk mengacak rambutnya—gusar.

Ia sudah memantapkan niatnya untuk mengutarakan perasaannya kepada Hakyeon. Tapi, ia dibuat bimbang setengah mati ketika mengingat cincin yang dipakai Hakyeon.

Setiap benda yang dipakai manusia selalu memiliki arti tersembunyi. Begitu juga dengan cincin yang dipakai Hakyeon. Leo yakin ia tidak salah mengartikan maksud cincin yang dipakai Hakyeon.

Jika seseorang memakai cincin di jari terakhirnya—kelingking, artinya orang itu sedang tidak ingin menjalin hubungan untuk waktu yang lama.

Bukan berarti Leo akan mundur. Leo hanya sedang memikirkan sekenario terburuk jika perasaannya ditolak Hakyeon. Kemungkinan terbesarnya Hakyeon akan menghindarinya. Ia yakin itu.

Masalahnya, ia tidak ingin dihindari oleh seseorang. Terlebih lagi orang yang disukainya.

...

Ken menyantap makan siangnya dengan enggan. Bahkan ia baru saja makan tiga sendok nasi. Sisanya, ia hanya mengaduk-aduk nasi tanpa minat.

"Jadi mulai hari ini kita tidak akan ikut campur dalam perjalanan hubungan Leo dan Hakyeon?" ini sudah kelima kalinya Ken bertanya kepada Ravi. Masih dengan kalimat yang sama dan nada yang sama juga.

"Ken, kau sudah menanyakannya lebih dari tiga kali. Dan kau sudah tau pasti apa jawabannya. Berhentilah mengulang pertanyaan," Ravi mulai kehilangan selera makannya.

"Ck! Aku tidak bisa menerimanya, Ravi. Kau tau sendiri seperti apa Hakyeon jika aku tidak ikut camput dalam masalah ini," Ken meletakkan sendoknya sebal.

Ravi menghembuskan napas gusar. Ini yang paling membuat dirinya repot. Ken selalu bersikap defensif jika itu tentang sahabatnya.

"Ken, seperti yang aku katakan tadi, ini tentang perasaan Hakyeon. Bantuan kita cukup sampai di sini. Jika memang Hakyeon tertarik dengan Leo dan menginginkan hubungannya berlanjut lebih dari teman, aku yakin Hakyeon akan bertindak,"

"Tapi kau tau sendiri Ravi, tidak mudah bagi Hakyeon untuk bertindak. Setidaknya aku harus mengarahkannya," Ken tetap dengan pendiriannya.

Ravi menegak minuman yang ada di mejanya. Menghadapi kekasihnya yang dalam mode menyebalkan seperti ini sangat sulit.

"Baiklah, kau boleh melakukannya. Tapi ingat, kau hanya mengarahkannya dalam mengambil keputusan. Bukan kau yang memberikan keputusan untuknya,"

"Ah akhirnya! Kenapa menunggu kalimat itu keluar dari mulutmu susah sekali sih? Jika kau mengatakannya dari tadi aku tidak perlu menahan lapar seperti ini," ucap Ken sambil menyendok nasi di depannya dan mulai makan dengan penuh semangat.

Ravi dibuat ternganga atas sikap kekasihnya itu.

"Ken, minggu depan kita libur 'kan?"

"Hu'um. Ada apa?"

"Bagaimana jika kita liburan?" ucap Ravi sambil memperhatikan kekasihnya yang masih sibuk dengan makanannya.

"Maksudmu kita berempat?"

"Ken, bisakah kita mulai membicarakan hubungan kita berdua? Tanpa Hakyeon dan Leo? Kencan kita sebelumnya sudah dipenuhi oleh rencana kelanjutan hubungan mereka berdua. Jadi, mulai saat ini bisakah kita hanya membicarakan tentang 'kita'?

"Ayyy, apa kau cemburu?"

Ravi diam. Wajahnya terkesan datar. Itu berarti ia marah.

"Aigo, apa Leo yang mengajarkanmu memasang wajh seperti itu? Kau terlihat sangat jelek, Ravi," ucap Ken sambil tersenyum.

"Terserah," ucap Ravi datar.

"Yak! Jangan pasang wajah seperti itu. Aku akan menuruti keinginanmu. Kau mau apa?"

Ravi masih bungkam. Sebenarnya, ia tidak marah. Hanya saja ia ingin melihat bagaimana perjuangan kekasihnya.

"Kau masih tetap diam? Baiklah. Padahal besok aku ingin menginap di rumahmu selama satu minggu," ucap Ken sedih.

Kedua bola mata Ravi langsung berbinar penuh semangat, "Aku tidak marah! Ayo pulang dan kemasi barangmu. Jangan tunggu besok. Kau akan menginap malam ini,"

Ravi menggenggam tangan Ken erat. Ken tertawa riang melihat tingkah Ravi.

Ah, Ken selalu tau bagaimana cara membuat Ravi kembali bersemangat.

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C


a/n : Hai! saya datang membawa chapter 6. saya benar-benar minta maap untuk keterlambatan chapter enam ini. ini adalah chapter terpendek dan tersulit yang saya buat selama menulis fanfic ini. saya terserang writer block selama dua bulan. saya harus duduk di depan komputer dan nunggu ide dateng. dan saya gak dapet ide sama sekali :") bahkan untuk nulis satu kalimat saya butuh waktu lebih dari sepuluh menit :')

Sebelumnya saya sudah bilang saya bakal hiatus kan? mulai tanggal 19 saya akan hiatus :')

terimakasih banyak buat Phee, NNNN-Chan, dan Kak Riz yang mau repot-repot pm dan ngehebohin(?) aku lewat chat :')

sekali lagi saya minta maap buat segala kekurangan dichapter ini. kritik, dan saran yang membangun dari kalian saya tunggu di kotak ripiu :")

Thanks to :

Guest, naabila, HMYgrey, emma, yeonnn, jaehwxn, Sky Onix,

Phee Anee, NNNN-Chan, chandleN, kyungsoo1314, NEO Lee'90