Warning: Shonen-ai. Possible OOC, Typo(s), OC, dan semua kawan-kawannya.

Disclaimer: CLAMP. Dan aku berharap CLAMP membuat cerita tersendiri untuk KuroFai. Ooh~ please~

A/N: Yak, ini dia Chapter 2 dari Patrician. Chapter kali ini penuh sekali dengan cinta bertebaran dimana-mana kiawww~ #PLAK..

Oke langsung saja, hope you like it reader ;D


Chapter 2: A Party, A Memorable

By Annpui


.

.

.

Bagi Kurogane kecil—bahkan mungkin hingga sekarang—pesta hanyalah sebuah acara membosankan dimana ia harus bertutur kata dengan bahasa formal dan berlaku seperti seorang bangsawan muda diusianya yang masih begitu belia. Dimana ia akan dibawa berkeliling oleh ayahnya, dikenalkan kepada orang-orang yang bahkan tak permah ditemuinya. Membosankan dan juga menjenuhkan.

Kurogane tidak pernah menyukai situasi bila ia harus terjebak didalam ruang tamu raksasa dengan langit-langit tinggi serta lampu-lampu kristal menjuntai yang penuh dengan keriuhan pesta.

Namun, pesta dansa malam itu berbeda. Kurogane berkenalan dengan seorang bangsawan—ia ketahui karena ayahnya menyebut orang tersebut dengan sebutan Lord(1)—yang juga merupakan rekan kerja jauh ayahnya. Seorang pria dewasa dengan pandangan mata jenaka, tersenyum ramah kepadanya. Kurogane mengira perkenalan itu akan sama seperti biasanya dimana ia hanya harus berkenalan dengan orang tua yang tidak ia kenal, sekedar untuk menjaga tali nasib keluarganya agar tidak kalah pamor. Namun, sekali lagi malam itu sepertinya berbeda.

Seorang anak seusianya,dengan rambut pirang, mata berwarna Aquamarine, kulit putih bening, pipi dengan semburat merah samar, memperkenalkan dirinya kepada Kurogane. Kurogane terpana menatap lawan bicaranya, ia belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu menarik perhatianya hanya pada pandangan pertama seperti ini.

"Hai, aku Fai D. Flourite"

Sebuah senyum lebar terkembang diwajahnya dengan indah menampilkan deretan rapi gigi susunya yang putih. Kurogane lagi-lagi terpana memandangi anak—yang ia tau kini bernama Fai—dengan mata tak lepas sedikitpun memperhatikan gerak-geriknya.

"Kuro—Kurogane Suwa"

"Oh... salam kenal Kuro-rin"

Senyum lebar kembali terkembang diwajah Fai. Kurogane terbelalak tidak percaya dengan pendengarannya, mereka baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu dan Fai baru saja memanggilnya apa? Kuro-rin?

"Namaku Kurogane bukan Kuro-rin" sergah Kurogane tidak terima namanya diubah seperti itu.

"Baiklah apapun katamu Tuan Kuro-pemarah"

Fai beserta kedua ayah mereka yang sedari tadi memperhatikan terkekeh geli melihat alis Kurogane yang berkedut sebal.


Kurogane remaja tidak suka berdansa, bukan karena ia tidak bisa namun karena ia tidak mau. Padahal disetiap pesta ia akan selalu dikelilingi oleh wanita dari berbagai keluarga terhormat dengan kedudukan tinggi yang memohon agar dapat berdansa setidaknya satu lagu bersama Kurogane. sayang Kurogane akan menolaknya mentah-mentah dengan alasan klasik.

"Maaf aku tidak bisa berdansa, jika kau memaksa aku tidak tanggung jawab jika kakimu terinjak"

Berbanding terbalik dengan Fai yang akan senang hati menerima semua ajakan untuknya. Malah terkadang Kurogane melihat keributan kecil antara para Lady(2) yang memperebutkannya.

Jika disuruh memilih antara berdansa dan berdiam diri. Kurogane akan lebih memilih berdiam diri bersandar pada dinding dengan segelas cocktail non-alkohol—mengingat ia belum cukup umur untuk meminum alkohol—miliknya, sambil menikmati suasana meriah yang sedang berlangsung.

Moment yang paling Kurogane sukai disebuah pesta dansa semenjak ia mengenal Fai adalah memperhatikan Pria itu berdansa dengan lihainya. Gerakan dansanya seolah meresap dengan lagu, gestur tubuhnya yang terlihat alami menyatu dengan musik, membuat pasangan dansanya terlihat sama menarik dengannya.

Gerakan dansa Fai seolah menghipnotis Kurogane untuk terus menatapnya. Dan Kurogane tau bahwa bukan hanya dirinya yang merasa terhipnotis, hampir semua orang didalam aula pesta—pria maupun wanita—akan menatap kagum pada sosok Fai.

Kurogane yakin semua Lady dalam aula ini pasti menginginkan Fai, begitu pula dengan dirinya.

Ia mengingkan Fai.


Kurogane tidak akan pernah melupakan kejadian indah di pesta ulang tahunnya yang ke-16. Hari dimana ia telah menginjak usia dewasa, dan bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri beserta nama baik keluarganya.

Sweet Sixteen.

Ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan keindahan yang ia dapat pada umurnya yang ke-16.

Saat itu Kurogane termenung dibalkon memandangi bintang malam, menjauhi keramaian pesta. Mungkin ia sedikit mabuk setelah menenggak minuman beralkoholnya yang pertama, atau mungkin ia mabuk karena terus memperhatikan Fai? entahlah, yang pasti kini ia hanya ingin menghirup udara segar.

"Kuro-sama kenapa kau ada disini? Apakau sakit?"

Suara rendah itu memecahkan kesunyian yang sedang dicari Kurogane.

"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mabuk—" Kurogane membalikan badannya, bersandar pada pagar pembatas, ia menenggak perlahan Classic Martini(3) yang berada digengamannya, "—lalu apa yang kau lakukan disini?"

"Mencarimu tentu saja, ada banyak sekali wanita didalam sana yang memohon padaku agar bisa memintamu berdansa dengan mereka."

"Lupakan saja" Desah Kurogane malas.

"Ayolah Kuro-tan aku tau kau mahir berdansa"

Kurogane menghela nafas pelan, satu kelemahannya sedari dulu ia tidak pernah bisa menolak permintaan Fai, "Baiklah..."

Fai sudah siap menerjang memeluk Kurogane saking senangnya.

"Tapi aku punya sebuah permintaan sebelumnya" sambung Kurogane menghentikan langkah Fai.

Fai menatap Kurogane dengan pandangan menanyakan. Ide gila itu tiba-tiba saja meluncur diotak Kurogane, padahal sebelumnya terpikirkan saja tidak. Namun ide ini bukanlah ide buruk yang tidak patut untuk dicobanya.

"Aku ingin berdansa denganmu"

Fai melongo mendengar perkataan Kurogane, "Tapi Kuro-rin untuk ap—"

"Jangan salah paham, aku sudah lama tidak berdansa dan kurasa kau tau hal itu bukan? Aku merasa kelenturanku sudah hilang. Hitung-hitung pemasanasan, aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri didepan para Lady yang mengharapkan kesempurnaanku" Potong Kurogane cepat tidak ingin maksud tersembunyi ketahuan.

"Wow, baiklah Kuro-wan whatever you want"

Fai berjalan menghampiri kurogane, mereka berdua saling berhadapan menatap bola mata lawannya yang sama-sama memikat. Aquamarine bertemu dengan Ruby.

"Warna mata yang indah Kuro-puu"

"Sama halnya dengamu"

Kurogane membungkuk sembari menjulurkan tangannya meminta Fai untuk menjadi pasangan dansanya, Fai menerima uluran tangan Kurogane, perlahan-lahan mereka berdua mendekatkan diri. Kurogane meraih pinggang Fai dengan tangan kiri yang masih mengamit gelas yang berisi Classic Martini. Kurogane menautkan jemarinya dengan jemari Fai, ini pertama kalinya bagi mereka berdua saling bersentuhan seperti ini.

Fai meletakan telepak tangannya didada Kurogane, menikmati wangi maskulin yang hinggap dihidungnya. Gerakan mereka mengayun mengikuti alunan musik yang samar-samar terdengar dari dalam ruangan.

"Hei apakah kau sudah pernah mencoba minuman ber-alkohol?"

Fai mendongak menatap wajah Kurogane sambil terkekeh pelan, "Tentu belum pernah Kuro-dewasa mengingat umurku yang jauh lebih muda setahun dibawahmu"

Kurogane mengangkat alisnya, bibirnya beguman—Oh—singkat. Kurogane mengeratkan tautan jemari mereka. Fai yang seolah menikmati dansa bersamanya menyandarkan kepalanya dipundak tegap Kurogane, membuat Kurogane sedikit kegelian merasakan helaian rambut pirang Fai menyentuh lehernya. Fai yang berada dipelukannya membuat Kurogane menyadari betapa rampingnya tubuh Fai.

"Apa kau mau mencobanya?"

"Mencoba apa hmm...Kuro-rin? Alkohol?"

Kurogane mengangguk walaupun ia tahu Fai tidak akan melihat anggukannya dengan mata tertutup seperti itu.

"Kurasa tidak, aku tidak ingin merusak tubuhku Kuro-kuro—" Fai kini melingkarkan Tangannya pada Leher Kurogane, matanya masih terpejam menikmati ayunan gerakan mereka. "—tapi mungkin aku ingin mencobanya sedikit"

Mendengar itu Kurogane menghentikan gerakannya. Ia mengangkat gelas berisi Classic Martini yang tinggal tersisa sedikit kemudian mengkosongkan habis isi dari gelas bening tersebut. Fai membuka matanya ketika merasa pergerakan mereka terhenti, didapatinya tatapan lembut dari mata Kurogane.

Kedua tangan Kurogane menyentuh pipi Fai dengan perlahan, mengelusnya pelan. Fai hanya bisa terkesiap memandang Kurogane. Setengah heran, setengah takjub. Tatapan tajam mata Kurogane membius dirinya untuk tetap terdiam tidak bergerak.

Kurogane menarik wajah Fai mendekat kewajahnya, membuat bibir mereka berdua saling bertemu. Fai terbelalak kaget, ia dapat merasakan sebuah cairan mengalir turun ke dalam tengorokannya. Kurogane menekan kepala Fai, memperdalam ciuman mereka, menyuruh Fai menenggak Habis semua Classic Martini yang ada didalam mulutnya.

Fai melenguh pelan ketika merasakan Kurogane memaksanya merasakan rasa manis namun juga terdapat sedikit rasa pahit menjalar dilidahnya.

Kurogane melepaskan ciuman mereka berdua pelahan, membuat cengkaraman Fai pada bajunya sedikit melonggar. Wajah Fai yang bersemu merah ditambah dengan bibir tipisnya yang memerah membuat Kurogane ingin kembali mendaratkan kembali ciumannya.

"Bagaimana rasanya?"

"Tidak enak, tapi menyenangkan Kuro-nakal"

Kurogane tidak bisa menyembunyikan seringainya, Fai hanya bisa terkekeh pelan menikmati ekspresi Kurogane yang jarang sekali muncul.

"Kuro-rin, apakau mau melanjutkan dansanya?"

"Ya"

Kurogane mengecup Fai singkat sebelum memulai kembali dansa mereka, melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.

To Be Continued


A/N: Bagaimana ceritanya apakah seru atau malah kurang menggigitt? tapi author berharap semoga seru XD. Dichapter ini mengisahkan awal mula Kurogane bertemu dengan Fai dipesta dansa, dan terimakasih kepada para reviewer yang telah membaca fanfic ini. wow sungguh aku senang sekali mendapat apresiasi bagus untuk fanfic Patrician ini XD

kirikacchi: aku juga merinding dapet review dari kirikacchi saking senengnya, siap semoga chapter ini makin suka ya ;)

Liliana P: aaaa terimakasih Liliana, ini lanjutannya.

ItoFai: sangat! hubungan KuroFai itu memang asik untuk disimak. wah kita sehati dong~ #plak

Dee Kyou: mari aku bantuu XD, duuh terimakasih banyak untuk pembenarannya huehehe aku belum bisa bedain mana drama mana hurt/comfort maaf~ dan sekali lagi terimakasih XD. iya nih gimana sih tomoyo itu ganggu deh #dilempar kelaut. ini lanjutannya semoga suka ;D.

OchiCassiJump: Horeee ternyata ada teman sependapat yang pingin Kuro-papa lebih ngebet lagi ke Fai-mama horeee, terimakasih untuk reviewnya XD. semoga lanjutannya memuaskan.

Akaneko SeiYu: WOW terimakasih Akaneko-san?chan? XD. Fai juga bangsawan kok :) maaf dichapter sebelumnya status Kurogane sama Fai tidak jelas hiks my bad DX tapi dichapter-chapter selanjutnya mungkin gelar KuroFai akan lebih diperjelas :D perlahan tapi pasti~ #plak. hihihi iya aku sengaja cepetin soalnya disitu ceritanya Tomoyo cuma singgah doang ga ada maksud kunjungan, maaf lagi lagi pendetailannya aku kurang DX. terimakasih untuk reviewnya semoga suka dengan chapter ini ;D.

Akhir kata,

Mind to give me some review maybe? ;D


Footnote:

Lord(1): Panggilan terhadap bangsawan pria selain Duke.

Lady(2): Panggilan terhadap bangsawan wanita selain Duchess.

Classic Martini(3): Classic Martini merupakan salah satu Jenis cocktail. minuman campuran ini biasanya didominasi oleh dry vermouth dan vodka atau gin, tetapi kini minuman campuran jenis ini sudah dibuat sedemikian rupa.