Warning: Shonen-ai. Possible OOC, Typo(s), OC, dan semua kawan-kawannya.

Disclaimer: CLAMP. Jika aku yang punya, akan kudominasi Fai seutuhnya ohohoho. Sungguh.

A/N: UN akhirnya beres. Sekali lagi...UN akhirnya beres! Uuuryaa~ *tebar bunga* karena UN sudah beres maka saatnya kembali melanjutkan fic ohohoho, dan semoga aku lulus dan diterima di universitas yang aku inginkan.

Oke langsung saja chapter3, hope you like it reader ;D


Chapter 3: When Everything Changed

By Annpui


.

Kurogane tidak akan melupakan hari ini. Hari dimana pertama kalinya ia menyadari bahwa Fai telah berubah menjadi seorang pemain cinta.

Semula ia sudah cukup geram ketika tidak diperkenankan masuk kedalam kediaman Fai oleh maid utama keluarga Flourite, berkata bahwa tuan mudanya sedang tidak berada dirumah. Yang benar saja, Kurogane tahu betul rutinitas Fai yang tidak akan pergi kemanapun pada jumat sore seperti ini. Biasanya sehabis Fai pulang dari balai kota, ia akan menikmati waktu bersantainya disofa dengan ditemani scone(1) dan teh Pettiagalla sebagai kudapan favoritnya pelepas lelah.

Namun kini geraman Kurogane berubah menjadi murka ketika ia mendapati Fai sedang bermesraan disofa dengan wanitayang dapat Kurogane kenali seorang Lady karena parasnya yang familiar dikalangan kelompok elitwanita itu menggelayut manja dileher Fai.

Rahang Kurogane mengeras, ia menggertakan giginya rapat-rapat berusaha meredam sejuta amukan yang ia rasa sebentar lagi akan meledak. Melihat Fai yang merangkul mesra seolah menjawab gelayutan manja dilehernya, membuat Kurogane semakin panas.

Terlihat olehnya Fai sedang membisikan sebuah kalimat, yang ditanggapi dengan kikikan genit. Fai membalikan badan wanita itu, menyuruhnya menghadap kedepan. Jemari Fai menyapu perlahan kepalanya hingga jari telenjuk menyentuh ujung sanggulan berbentuk bunga dan menarik lepas, membuat helaian pink ikalnya tergerai dengan bebas. Fai tersenyum manatanya menatap tajam. Wanita itu menutup mukanya memberikan isyarat seolah berkata 'aku malu'.

Kurogane masih diam ditempatnya memperhatikan dengan awas apa yang akan Fai lakukan selanjutnya. Fai memajukan wajahnya yang masih tersenyum, semakin tersenyum ketika bibir Fai menyentuh leher wanita tersebut, membuka mulutnya perlahan-lahan seolah hendak menyantap hidangan.

Oh sial.

Kurogane bergegas menghampiri Fai, kakinya sengaja dihentakan membuat Fai dan wanitayang hampir saja disantapnyaseketika menghentikan aktivitas mereka dan menoleh kearahnya. Fai hanya terpaku menunggu lengannya ditarik paksa oleh Kurogane, meninggalkan wanita malang yang kebingungan seorang diri disofa.

"Aww..Kuro-rin sakit, pelan-pelan"

Kurogane menulikan telinganya, dan terus membawa Fai menyusuri koridor yang entah dimana ujungnya. Kurogane tidak habis pikir apa yang sebenarnya Fai pikirkan. Baru saja tiga hari yang lalu maidnya memberitahukan bahwa ia mendapati Fai yang sedang berpelukan digang rumah penduduk. Lalu kemarin, tukang kebunnya memberitahukan bahwa ia melihat Fai sedang berpegangan tangan dikota, ciri-ciri dari setiap wanita yang ia dengarpun berbeda-beda. Dan kini tanpa perantara ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Fai yang berubah menjadi pemain cinta.

"Hentikan Kuroganecchi aku cape..." keluh Fai yang tengah diseret Kurogane, cengkraman ditangannya yang begitu kuat membuat Fai sedikit meringis.

"Kau yang berhenti idiot!"

Kurogane mendorong fai keras, membuat punggung Fai membentur dinding yang dingin.

"Demi tuhan sebenarnya apa yang terjadi padamu Fai? kenapa kau seperti ini? Fai yang kukenal tidak pernah memainkan perasaan wanita yang mendekatinya"

Fai mengerjapkan mata melihat ekspresi Kurogane yang diluar dugaan dikeluarkannya. Fai perlahan terkekeh pelan yang semakin lama semakin keras, membuatnya harus membungkam mulutnya sendiri agar tawanya tidak semakin kencang. Kurogane menatap Fai dengan geram, apa yang lucu sampai membuat Fai harus tertawa seperti itu.

"Nee, Kuro-puu Kau tau?" Fai menyeka bulir air mata yang menggenang disudut mata karena menahan tawanya sekuat tenaga "Bangsawan manapun yang kugoda, Wanita manapun kupacari, pelacur manapun yang kutiduri itu semua bukan urusanmu. Sungguh" Fai tertawa, sebuah tawa sinis.

Kurogane tidak berkutik, tidak mempercayai pendengaran dengan kalimat yang baru saja Fai lontarkan, sungguh ia sama sekali tidak mengenal Fai yang ini.

"Hentikan..." desis Kurogane lirih.

Fai tersenyum getir, "Berhenti? Kau yang berhenti Kuro-tan. Berhenti mencampuri urusanku dan uruslah Miss Tomoyo, aku tidak mau menjadi gosip sebagai pihak ketiga diantara kalian"

Tangan Kurogane yang sedang menggenggam erat pergelangan lengan Fai terasa lemas, entah menguap kemana energi yang dia pakai untuk menyeret Fai tadi. Kata-kata Fai bagaikan tamparan telak untuknya. Dengan mudah Fai menghempaskan tangan Kurogane.

"Kau bukanlah siapa-siapa bagiku. Akupun bukan siapa-siapa untukmu. Jangan kau anggap hubungan kita terlalu dalam Kuro-aneh" Fai menepuk pipi Kurogane pelan seraya berjalan kembali ketempat wanita bangsawan yang ditinggalkannya "Permisi Kuro-sama aku harus kembali ketempat Karen, ia pasti sangat terkejut dengan sikapmu tadi"

Dengan itu Fai pergi meninggalkan Kurogane yang tengah mematung.

.

Apakah kita tidak bisa kembali kemasa yang menyenangkan itu Fai?

.


Kurogane menatap kosong ke arah langit biru, ingatannya tentang kejadian beberapa hari lalu sungguh membuatnya menjadi merana. Semenjak hari itu Fai sama sekali tidak bisa dihubungi ataupun ditemui. Setiap kali ia datang ke kediaman keluarga Flourite ia selalu dihadang oleh para Footman yang entah kenapa semakin bertambah dari pada yang diingatnya.

Pertunangan. Fai yang berubah. Hatinya. Semua ini membuat Kurogane merasa gila. Kesabarannya sepertinya sudah mencapai batas limit.

Tapi setidaknya dengan merebahkan diri diatas rumput dengan dinaungi pohon seperti ini cukup membuatnya sedikit lebih rileks, tidak peduli dengan bajunya yang akan kotor dan diomeli nanti oleh maidnya yang sangat cerewet.

Kurogane menghela nafas pelan, "Apa yang harus kulakukan?"

"Apa yang harus kau lakukan apa?"

Sebuah suara mengintrupsi perkataan Kurogane. Kurogane setengah terkejut memandang wajah seseorang yang familiar tiba-tiba terlihat dihadapannya.

"Bukan apa-apa Miss Tomoyo, sedang apakau disini?"

"Tentu saja untuk menemuimu"

Kurogane baru ingat hari ini adalah hari kunjungan rutin Tomoyo, "Bagaimana pekerjaanmu?"

Tomoyo mengacuhkan pertanyaan Kurogane, Tomoyo kadang tidak habis pikir kenapa Kurogane selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali mereka bertemu "Jangan mengalihkan pembicaraan Kurogane. mari kutebak... sepertinya kau sedang ada masalah, benar? kalau kau mau kau bisa cerita padaku. Aku tunangamu, ingat. Jadi ceritakanlah"

Kurogane mendesah, ia tidak mungkin menolak permintaan seorang Duchess, "Baiklah apapun maumu, lagipula mana aku bisa bilang tidak pada permintaanmu bukan? Tapi sebelum itu ayo kita pindah tempat bisa-bisa aku habis oleh pengawalmu karena membiarkan seorang Duchess mereka duduk ditanah seperti ini"

Kurogane mengulurkan tangannya hendak membantu Tomoyo untuk bangkit, namun Tomoyo menarik tangannya dan membuat Kurogane kembali terduduk.

"Disini saja selagi cuaca sedang cerah Kurogane"

"Jika kau kepanasan aku tidak tanggung jawab"

Sebuah Parosol(2) berenda putih dengan aksen mawar sebagai motifnya terkembang. Tomoyo tersenyum menang.

"Lihat sekarang aku tidak akan kepanasan. Nah bisakah kau mulai ceritanya?"

Mata Kurogane memutar malas. Percuma berdebat dengan seseorang seperti Fai ataupun Tomoyo. Mereka terlalu keras kepala untuk mendengar kata tidak.

"Aku hanya sedang berpikir apa yang harus kulakukan agar orang-orang berharga untukku tidak pergi meninggalkanku lagi. Yang pertama ibu, saat aku masih belum mengingat apapun, kemudian ayah, lalu sekarang apakah dia juga akan meninggalkanku?"

Tomoyo mengernyit heran, "Dia?"

"Ya dia" Kurogane tidak berminat untuk menjelaskan lebih lanjut siapa itu dia kepada Tomoyo, "Cukup sudah rasanya aku merasakan perasaan pahit seperti itu. Aku tidak ingin merasa kehilangan kembali"

Mereka tercenung beberapa saat. Tomoyo meremas tangan Kurogane sebagai tanda penyemangat, ia tidak pernah tau bahwa orang seperti Kurogane dapat merasakan perasaan takut kehilangan juga.

"Apakah aku bisa menjadi orang berharga bagimu?" Iris Tomoyo menatap intens pada mata Ruby memikat milik Kurogane, "Kalau aku bisa, aku tidak akan pergi meninggalkanmu" ucap Tomoyo yang dibalas dengan tatapan terimakasih dari Kurogane.

"Kau ini aneh, seperti hanya kau satu-satunya seorang Duchess yang berkelakuan seperti ini"

"Hei aku tidak ane"

Ucapan Tomoyo terpotong ketika menyaksikan tangan Kurogane yang mengulur ke atas kepalanya dengan tatapan sendu. Pipinya terasa panas, perutnya pun terasa menegang, Tomoya memejamkan matanya merasakan desiran aneh yang baru pertama kali dirasakannya.

"Ada daun dikepalamu"

Seketika Tomoyo membuka matanya, merasa malu dengan dirinya sendiri karena membayangkan yang tidak-tidak.

"Ada apa Miss Tomoyo? Kenapa wajahmu memerah?"

Tomoyo memandang Kurogane panik, ia cukup kegelagapan dengan pertanyaan Kurogane yang meluncur mulus tanpa dosa.

"Ah... tidak... anu... itu sepertinya aku kepanasan" Tomoyo menyembunyikan wajahnya dibalik bayangan parosolnya merasa tidak betah karena terus diperhatikan oleh Kurogane dengan tatapan setajam itu.

"Apa kubilang tadi. Mari kita pindah kedalam ruangan, jika kau pingsan karena kepanasan aku yang repot" Kurogane menarik tangan Tomoyo dan memapahnya masuk kedalam ruangan.

"Terimakasih Kurogane"

.

Tanpa Kurogane sadari sedari tadi ada seseorang yang sedang bersembunyi dibalik semak mendengarkan pembicaraan mereka.

"Ini yang terbaik Kuro-rin..."

.

To be Continued


A/N: Chap3 selesai, semoga memuaskan *wink* dan seperti dibeberapa chapter mendatang akan ada perubahan rating mengingat bahasa aku yang makin lama makin *uhuk* tidak terkendali kemudian Berjuta kata terimakasih aku ucapkan kepada reviewer sekalian XD wow senang rasanya dapat review bagus dari kalian rasanya lelah sehabis UN ini hilang #plak.

Akaneko SeiYu: Terimakasih Neko-san sudah mau membaca fic ini *tebar cinta*, yup gelar Fai dibawah Kurogane. Gelar Fai Earl, setingkat dibawah Kurogane. Adegan roman antara mereka? Tenang pasti banyak Neko-san *evils laugh*. Adegan lemon? mungkin nanti ada, habis kan aku amatiran dalam bikin adegan lemon XD #plak. Semoga suka sama chap3 ini ;D

Kirikacchi: Aku juga mimisan ngebayanginnya *elap mimisan*,iya nih nakal Kurogane! *warning: anak manis ga boleh nyontoh Kurogane ya* adegan lemon? semoga aku bisa bikinnya XD #plak. Terimakasih sudah membaca dan semoga suka lanjutannya kirikacchi ;D

Liliana P: Terimakasih sudah mereview Liliana semoga suka yaa XD

LadySaphireBlue: Aku juga seneng dapet review dari Lady XD. Iya nih padahal ga usah malu-malu ya *angguk-angguk*langsung aja sikat. Hehehe iya chapter sebelum emang lebih pendek dikarenakan aku sedang cemas karena UN hiks. Ini dia lanjutannya semoga suka XD

Amusuk: Terimakasiiih banyak Amusuk-chan?san? XD terimakasih semangat nyampe nih ;D

ItoFai: *tebar cinta* hihihihi semoga aja ga pisah yaa, terimakasiih ItoFai sudah membaca XD

Kisafuuma: Kalau aku cemburunya sama Kurogane nih -3-. Ini lanjutannya Kisa?Fuu?chan semoga suka ya sama ceritanya XD

OchiCassiJump: *one heart* betul-betul pesona Fai itu memang Fantastic! Incredible! Impossible! Ulalala~ naik rate? Sedang dipikirkan nih B-) sudut Fai-mama? Mungkin chapter selanjutnya B-) siaaaaap ;D


Footnote:

Scone(1): Roti ala Scotlandia.

Parasol(2): Payung untuk melindungi dari sinar matahari.

Dan untuk kirikacchi, ini dia penjelasan tingkatan bangsawan secara singkat:

1. Duke (Duchess) merupakan gelar tertinggi dari lima tingkat gelar dalam kebangsawanan Inggris. Biasanya yang paling dekat dengan Ratu, bisa dikatakan sebagai tangan kanannya. Duke (Duchess) bisa merupakan anggota angkatan bersenjata, atau duta besar.

2. Marquess (Marchioness) Gelar kedua setelah Duke adalah Marquess. Seorang wanita dengan pangkat dari Marquess disebut Marchioness. Lord atau Lady merupakan panggilan untuk mereka. Marquess (Marchioness) merupakan seorang ksatria.

3. Earl (Countess) menempati peringkat ketiga dalam gelar kebangsawanan. Earl merupakan gubernur kerajaan. Dalam masa perang mereka juga akan memimpin tentara Raja.

4. Viscount (Viscountess) Gelar ini berasal dari masa kekaisaran Romawi, yang merujuk pada kepala polisi daerah. Di Inggris penggunaan gelar Viscount juga sebagai gelar kehormatan bagi ahli waris dari Earl atau Marquess.

5. Baron (Baroness) Gelar Baron diberikan sebagai peringkat di Inggris untuk orang-orang yang telah berjanji kesetiaan mereka kepada Raja dan Ratu.

(Dari berbagai sumber, mohon maaf bila ada yang salah ;D).