Warning: Shonen-ai. Possible OOC to the max, Typo(s), OC, dan semua kawannya.

Disclaimer: CLAMP. Jika aku yang punya, Fai gabakal aku buat semenderita itu *susutumbel*.

Happy reading, Hope you like it reader ;D


Runaway with Me

By Annpui


.

.

Mengejar kereta kuda yang sedang melaju kencang sedari awal bukanlah ide bagus. Pertama, percuma mengejar karena pada akhirnya tidak akan terkejar. Kedua, kecepatan lari kuda tidak bisa dibandingkan dengan kecepatan lari manusia, tentu saja. Ketiga, lelah yang didapat tanpa hasil.

Anggaplah Kurogane gila, dimalam menjelang subuh ini dimana semua orang sedang beristirahat ia malah berkeliaran diperkarangan rumah orang. Terserah, Karena Kurogane sudah memutuskan ia harus menemui Fai sekarang juga. Isyrat tak tersirat yang Fai kirimkan beberapa jam lalu cukup bagi Kurogane untuk mengetahui kebenaran yang selama ini ditunggunya.

Mungkin yang sering orang bilang bahwa gerak tubuh lebih jujur dari ucapan itu ada benarnya juga. Fai masih mempunyai perasaan padanya, sama besar perasaannya kepada Fai. Masa bodoh dengan pertunangannya, ia harus bertindak sebelum semuanya terlambat.

Satu kerikil kecil Kurogane lemparkan kekaca jendela balkoni kamar Fai.

Pletak—tidak ada sahutan.

Kurogane menghela nafas, keadaannya saat ini sudah seperti ninja jadi-jadian. Bergelantungan diatas pohon, memakai topeng hitam—oh atau mungkin lebih cocok disebut pencuri? —juga membawa sekantung penuh kirikil disaku celanannya.

Ingatkan dia bagaimana caranya ia menyelinap masuk kedalam mansion Fai yang penjagaannya diperketat—khusus untuknya—semenjak insiden Kurogane memergoki Fai hendak melahap yang berbuntut pertengkaran dasyat.

Memanjat pagar yang begitu tinggi hanya bermodalkan seulas tali tambang dan pijakan pada kuda tersayangnya Roland, mengendap-endap diantara para Footman yang sedang berjaga disekitar mansion, ditambah anjing penjaga tipe Bull Dog—yang melihatnya saja sudah membuat bergidik ngeri, dan nyaris ketahuan ketika kakinya tidak sengaja menginjak tali perangkap berbunyi nyaring—namun terimakasih kepada seekor kucing yang tiba-tiba lewat menyelamatkan nyawanya.

Oke, sebut ia perampok malam ini. kelakuannya sungguh nekat. Tapi ayolah cuma ini cara terakhir yang bisa ia lakukan agar dapat bertemu dengan pirang idiot yang bersikukuh bahwa ia tidak mencintai Kurogane. Namun faktanya baru beberapa jam kebelakang si pirang idiot menunjukan secara tersirat bahwa perasaannya sangat mendalam.

Dua kerikil kembali kurogane lemparkan—sedikit lebih kencang—berusaha membuat pemilik mansion beriris aquamarine yang ia tunggu terbangun.

Pletak—lagi, tidak ada sahutan.

Kurogane menggaruk kepalanya kesal, bagaimana bisa ia lupa jika sekalinya Fai terlelap maka ia tidak akan terbangun lagi sampai matahari menyingsing dari ufuk timur. Sleeping beauty. Fai mengatakan dirinya sendiri demikian.

Kurogane mencoba sekali lagi, kerikil yang sedikit lebih besar ia lemparkan sekuat tenaga.

Bletak.

Hening. Hanya terdengar sayup-sayup hembusan angin malam yang membuat Kurogane menggigil—ia masih mengenakan kemeja tipis, minus jas Texudo-nya.

"Sepertinya tidak ada cara lain selain mendorbrak masuk"

Baiklah Kurogane kini sudah seperti maling sungguhan. Ia mengedarkan pandangannya, memastikan tidak ada seorangpun berada dalam radius dekat. Ia merenggangkan badannya sejenak, menghitung jarak lompat yang harus ia lewati dengan sukses jika ia tidak ingin jatuh bebas ketanah dari ketinggian empat meter, kemudian mengambil ancang-ancang dalam dan lompat dengan sekali sentakan pada batang pohon.

Dentuman sepatu terdengar ketika kakinya mendarat mulus dilantai marmer. Kurogane mengeluarkan kawat dari dalam sakunya, memasukannya kedalam lubang kunci, menarik gagang pintu dengan perlahan yang ternyata tidak terkunci sama sekali—Fai sungguh cereboh—menghasilkan bunyi berderit.

Kurogane menangkap siluet Fai sedang tertidur lelap, ia tersenyum manis bagaikan gula. Kurogane menghela nafas lega, merasa dirinya telah ditenangkan hanya dengan melihat sosok terlelap Fai. Tangannya menyingkap tirai kelambu pada ranjang Fai, mengikatkannya ke tiang, lalu mendudukan dirinya disamping pria ramping yang tengah terbuai oleh mimpi. Jemarinya membelai rambut Fai lembut.

"Kau harus tau betapa susahnya aku menyelinap kesini, setelah sebelumnya aku harus meninggalkan Miss Tomoyo selepas pesta secara paksa"

Ingatkan bagaimana Tomoyo berteriak padanya untuk tidak pergi. Kurogane selalu merasa heran mengapa wanita harus selalu berteriak jika marah?

Jemari Kurogane beralih pada kelopak mata Fai, lalu turun menuju hidung dan pipi, akhirnya berhenti pada bibir ranum Fai. Kurogane mendesis, ketika teringat bagaimana bibir Fai mengecup orang lain selain dirinya. Jemarinya kembali bergerak kesamping wajah Fai, menyingkan helaian rambung pirang kebelakang telinga.

Tanpa diduga Fai memiringkan kepalanya sedikit, memperlihatkan kulit lehernya yang putih—atau mungkin pucat—membuat Kurogane menyeringai kecil. Bibirnya maju perlahan mendekati leher Fai, mengalih tugaskan jemarinya untuk membelai leher putih pucat milik pria bernama belakang Flourite.

Tidur Fai sedikit terusik ketika Kurogane tidak hanya membelai, namun mulai mengigit kecil.

"Akh.."

Oh sial sepertinya gigitannya terlalu keras, karena kemudian kelopak mata Fai terbuka pelan dan matanya langsung membulat ketika mendapati seorang pria dengan topeng hitam ala Zoro duduk disampingnya.

"TIDAKKKK, PENYUSUP!"

Fai melemparkan bantal terdekat kearah penyusup—Kurogane lebih tepatnya—terus melemparkannya kembali bertubi-tubi. Kurogane berusaha menjelaskan, namun sebuah bantal mengenai wajahnya telak membuatnya sedikit miringis.

"Hei ini aku" Kurogane berjalan menghampiri, kembali sebuah bantal menghantam wajahnya.

"Menjauh pevert! Apa yang kau lakukan padaku!"

Alis Kurogane berkedut. Pevert? Demi Kurogane memakai rok. Ia bukan seorang pevert! Kurogane menarik topengnya secara kasar, menampilkan wajah rupawannya secara utuh. Fai melongo, ia menggosok matanya berkali-kali tidak mempercayainya.

"Ini aku, bukan pevert! Aku Kuro—"

"Kuro-rin?"

"Iya itu— Hey bukan!" sergah Kurogane yang tanpa sadar mengiyakan panggilan aneh Fai "Aku Kurogane bukan Kuro-rin atau apapun itu yang lainnya"

Fai mengangguk. "Jadi apa yang kau lakukan disini Kuro-penyusup?"

Belum sempat Kurogane mengeluarkan sebuah kalimat, suara derap langkah seseorang yang mendekat membuat Fai menariknya keranjang. Menutupi dirinya dan Kurogane dengan selimut, tidak selang lama pintunya yang tidak terkunci terbuka keras, menampilkan seorang Butler dengan rambut klimis berkaca mata dan mimik khawatir masuk.

"Tuan! Ada apa?" Tanyanya panik, pandangannya menilik keseluruh penjuru ruangan.

Fai pura-pura berguman karena mendengar suara keras. Tangannya menggosok kelopak matanya untuk menambahkan efek menyakinkan.

"Hmm, apa?"

Ekspresi khawatir Butler berambut klimis itu berubah menjadi lega ketika tidak mendapati hal yang aneh diruangan majikannya. "Sepertinya anda hanya mengigau tuan, maaf saya telah mengganggu tidur anda, saya permisi dulu" ucapnya sambil tersenyum hangat.

"Aaah ya maaf mengganggu waktumu juga"

Dengan itu pintu tertutup. Kurogane menyembulkan kepalanya dari balik selimut, mimik wajahnya yang terlihat lucu membuat Fai terkekeh.

"Jadi apa maksud kedatanganmu kesini Kuro-romeo?"

Kurogane mendekatkan dirinya dengan Fai, mencoba membuat dirinya sedekat mungkin. Ia mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan cincin perak tanda pertunangannya dengan Tomoyo. Kening Fai mengernyit menandakan ketidak pahaman.

"Aku akan menanggalkan cincin ini jika kau bersedia pergi bersamaku, hidup berdua jauh dari sini"

"Kuro-puu" Fai mendesah, tangannya digenggam begitu erat oleh Kurogane. "Apa kau masih waras? Bukankah sudah kubilang berkali-kali hentikan omong kosong seperti itu? Kau hanya akan menyakiti Miss Daidouji terus Kuro-tan. Lagipula aku sudah memiliki Kare—"

"Kau sudah berpisah denganya dan aku tahu itu" potong Kurogane cepat. "Dengar aku ingin meluruskan semuanya sekarang, aku ingin mendengar perasaanmu yang sejujurnya. Aku tidak peduli dengan Kekuasaanku, Kekayaanku, ataupun Gelarku asalkan aku bisa bersamamu bagiku semuanya cukup. Jadi Kumohon katakan yang sebenarnya"

"Kuro-puppy..."

Fai tercenung, sesungguhnya didalam hatinya ia sudah lelah untuk menipu dirinya sendiri. Ia masih sangat mencintai Kurogane meskipun setelah ia berusaha berpaling dari orang lain. Semua sikap penolakannya kepada Kurogane yang semata-mata untuk kebaikan pria bermata merah itu malah berubah menjadi cambuk. Ia tidak bisa mengatakan tidak lagi.

"Miss Daidouji tidak akan membiarkanmu pergi" Fai berkata lemah, mengingat betapa possesive-nya Tomoyo kepada Kurogane kini.

Kurogane ngelus pipi Fai halus, berusaha menenangkan kegelisahannya. "Kita akan pergi jauh dari sini, sangat jauh. Kita akan tinggal dinegeri tetangga bila perlu, dimana tidak ada satupun orang yang mengenali kita berdua, tidak ada yang mengetahui status kita. Aku akan mempersiapkan semuanya, tempat tinggal dan pekerjaan. Kita akan hidup sederhana namun bahagia"

Fai menatap Kurogane dengan pandangan berbinar, Harapan yang Kurogane berikan membuat perasaan jauh lebih baik. Suasana antara dirinya dan Kurogane belum pernah seperti ini sejak Kurogane memberitahukannya bahwa ia bertunangan dengan seorang Duchess. Selimut yang masih membalut mereka terasa begitu hangat, dan tatapan mereka seolah bersatu seperti tidak pernah sebelumnya.

Tatapan yang sebelumnya selalu menyiratkan keterlukaan dan kekecewaan kini menyiratkan ketentraman. "Maafkan aku membuat semuanya menjadi pelik Kuro-puu. Andaikan aku bisa menghadapinya dan tidak melarikan diri maka semua tidak akan menjadi seperti ini" lirih Fai menyesal.

"Tidak apa, karena aku tau kau berbuat begitu demi melindungiku bukan?" Senyum tipis Kurogane belum pernah terlihat semenawan itu. "Yaa walaupun kuakui kau memperuyam masalah"

"Hei! Aku kan sudah minta maaf" cemberut Fai."Oke jadi kapan kita berangkan Kuro-wan?"

Tiga jari Kurogane terangkat kehadapan wajah Fai. "Tiga hari, aku akan mempersiapkan semuanya"

Fai tersenyum mengiyakan, rasanya sudah lama ia tidak sebahagia ini. setiap hari ia selalu bergelut dengan hati nuraninya, ia menginginkan Kurogane namun ada hati nuraninya yang tidak mengizinkannya mempunyai perasaan kepada Kurogane. Sungguh Fai merasa tersiksa dengan kebodohan yang ia buat sendiri.

"ngomong-ngomong bolehkan aku menciummu?"

Fai mengembangkan senyum jahilnya yang sudah lama tidak ia tunjukan. "Sejak kapan kau meminta ijin Kuro-tan? Kalau aku tidak salah ingat kau selalu menciumku paksa akhir akhir ini" Fai meletakan jari telunjuknya didagu seolah-olah sedang berfikir.

"Ck, boleh atau tidak?" Tanya Kurogane garang.

Fai menelengkan kepalanya seunyu mungkin. "Tentu saja boleh Kuro—"

Perkataan Fai terhenti kita merasakan bibir Kurogane telah mendarat dimiliknya. "Sterilisasi. Karena telah membiarkan bibirmu menyentuh orang lain selain diriku"

Fai tertawa, membalas kecupan Kurogane "Wow, lihat siapa yang cemburu? Kuro-pencemburu"

Rasanya malam ini mereka berdua bisa melewatkan sisa malam ini dengan bahagia, damai, dan penuh harapan. Semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan lancar.

.

As long as we are together nothing will be impossible.

.


Tomoyo menggertakan giginya kuat-kuat. Sekarang semua sudah jelas baginya, siapa orang yang disukai Kurogane. Cukup melihat tatapan mata penuh derita dari pria berambut pirang ketika ia sedang menyanyi kepada tunangannya telah membuka semua teka-teki yang selama ini berusaha ia pecahkan.

Bagaimana bisa tunangannya, meninggalkannya disaat seharusnya mereka kini sedang beristirahat dengan damai berdua dirusak oleh acara mengejar 'sang sahabat'. Kewarasan Kurogane patut dipertanyakan.

Tomoyo membanting kipasnya kelantai, tidak terima dengan perlakuan Kurogane yang ia rasa melecehkan.

"Seishirou. Fuuma" Seru Tomoyo kepada dua orang Butler yang sedari tadi berdiri diambang pintu memperhatikan Nona mereka. "Besok kita akan akan pergi kekediaman Suwa. Akan kupastikan Kurogane tidak lepas dari genggamanku. Ia akan tahu apa akibatnya kalau menentang seorang Duchess"

Seishirou dan Fuuma membungkukan badannya menandakan mereka siap dengan tugas yang telah diberikan. "Baik Nona"

.

You'll never get away from me. I will always catch you before you can go anywhere. Kurogane.

.

To Be Continued


A/N: Ada apa dengan chapter ini? Niat bikin chapter ini super dark ko malah berasa kaya humor *nangisjeritjerit* efek ngetik sambil dengerin lagunya spice girl – if you wanna be my lover mungkin ya ;_;. Tapi yang terpenting semoga reader terpuaskan ;D. Setiap baca review dari kalian rasanya melting sekali, terimakasih karena setia membaca fic ini selalu aku cinta kaliannnn #ditoyor.

Dee Kyou: Aku juga sama Dee-san masih ga nyangka aku buat Tomoyo jadi yandere to the max seperti itu*cengo* aaaa salam buat ukenya Dee-san ya XD hihihi terimakasih selalu membaca fic ini ;D

Kirikacchi: *melongo* kok aku bisa ya buat tomoyo jadi yandere ko bisa ya...yap! Fai kan selalu melarikan diri dan akhirnya Kuro-puppy yang bakal menariknya kembali huahaha.

OchiCassiJump: ihihihi Fai emang suka tarik ulur sih makannya pake acara gawil gawil Kurogane XD. Uuh aku selalu punya kesulitan nulis dari sudut pandang uke, habis suka ga tega, kan aku FPU a.k.a Front Pembela Uke XD #digampar.

LadySaphireBlue: Kalau yang ini apakah sudah panjang Lady-san? XD *anggukangguk* Fai itu dibalik topeng senyumnya terdapat penderitaan yang mendalam. Dan... Fai berdoalah semoga aku tidak membunuh dirimu XD *ginryuumenghampiri* siapp ;D

Aquarian lee: Iya nih Fainya plinplan kan kasian Kuro-papanya *marahinFai* *disabetginryuu*

lalalala: Aaaaa terimakasih lalalala *o*b apakah updatenya kilat?

Liliana P: Ihihihi aku juga masih heran ko bisa aku aku buat tomoyo jadi nyebelin XD clamp jarang bikin tokoh perempuan antogonis sih DX *maafkanakutomoyo;_;. Iya aku sedikit terburu-buru karena ada sesuatu saat sedang mengitik chapter5 XD terimakasih banyak atas koreksinya Liliana-san XD

xxx199: Terimakasih xxx199-san (o), siap laksanakan ;D

ItoFai: Maaf karena buat adegan nyesek XD, siap terimakasih untuk semangatnya XD

T3nten: Hihihi semoga chapter ini memuaskan ya XD

oshiriko-san: Hai neng pie! Semoga chapter ini kegregetan dan kedoki-dokian yang dipinginin terpuaskan ya XD

Sakura Zuzumiya: Konbanwa Sakura-chan? Boleh aku panggil begitu juga XD Tentu saja boleh ;D. Aaaaa terimakasih telah menyempatkan waktu membaca fic ini XD hihihi semoga akhirnya KuroFai bisa bahagia ya XD

Lilaciel: Yandere is cool *o*b kelakuan Fai memang unyu sekaleh hahaha *o*b

Akhir kata,

Terimakasih sudah membaca. Mind to give me some review maybe? ;D