Rated: T to M just to be safe.

Genre: Romance? Hurt/Comfort? Suspense? Angst? saya bingung~

Warning: Shonen-ai. Possible OOC to the max, Typo(s), OC, Violent, pengulangan kata, dan semua temannya.

Disclaimer: CLAMP. Jika saya yang punya, bakal saya buat cinta segitiga antara KuroxFaixYuui.

Halo~ pertama saya ucapkan maaf untuk update yang lebih lama dari biasanya #ditendang, saya cukup kesulitan untuk membuat chapter ini uuh, my bad. Lalu sepertinya penulisan saya makin lama makin ancur #nangis. Dichapter ini rated sepertinya mulai berubah. Dan oh jangan bunuh author setelah membaca chapter ini ;D.

Happy reading, Hope you like it reader~


Blinded

By Annpui


.

.

Pagi yang masih terlampau subuh. Dimana matahari masih bersembunyi diperaduannya, semua mahluk hidup masih terlelap tenggelam dalam dunia mimpi. Tapi tidak untuk Kurogane dan Fai. Pagi sekali Kurogane sudah mempersiapkan mentalnya untuk perjalan panjang mereka. Setelah sehari sebelumnya ia mengurus keuangan dan segala macam administrasi untuk para pelayannya. Sedangkan Fai mempersiapkan surat-surat berharga yang akan mereka bawa, ia harus bolak-balik dari kediaman Flourite ke kediaman Suwa.

Sebastian membantu mempersiapkan—Butlernya itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui rencana mereka—ia sama sibuknya dengan Kurogane dan Fai. Kurogane meminta Sebastian untuk tutup mulut atas segala yang ia ketahui, Sebastian hanya tersenyum mantap mengiyakan. Kurogane berterimakasih untuk kesetiannya.

Sedari awal mereka telah memutuskan, mereka tidak akan menginjakkan kakinya kembali dikota ini. Terlalu beresiko. Kurogane tahu meskipun seandainya mereka berhasil lepas dari Tomoyo, wanita itu akan terus mengejarnya. Meski sampai ke ujung dunia rasanyapun tidak mustahil.

Kurogane berdiri disebelah Kuda kesayangannya Roland, mengelus puncak kepala kuda putih itu. Rolandlah yang akan mengantar mereka berdua dalam menempuh perjalanan panjang yang sedang menanti mereka. Lupakan kereta kuda—alat transportasi itu terlalu lambat—ia ingin secepatnya meninggalkan Sullivan Town(1), pergi menjauh bersama Fai menuju Paradise mereka berdua.

Ia menghela nafas, jemarinya meronggoh sesuatu diantara pinggangnya. Revolver. Siapa sangka sebenarnya Kurogane pun memiliki—warisan mendiang ayahnya—senjata api model colt peacekeeper(2) berkaliber 44 berisi lima sampai dengan tujuh peluru. Kurogane tidak pernah menyangka akan menggunakannya—tentu saja, walaupun rupa Kurogane sangar tetapi ia adalah seorang pecinta kedamaian—namun saat ini, senjata inilah satu-satunya penjamin nyawanya dengan Fai.

Selama tiga hari ini mereka sama sekali tidak membicarakan tentang Tomoyo—berusaha mengidahkan rasa cemas—yang mereka bicarakan adalah tentang kebahagiaan yang akan mereka dapatkan ditempat baru. Ia berjanji kepada Fai akan membangun sebuah rumah sederhana mungil nan hangat juga terdapat cerobong asap ditengah-tengah ruangannya, dengan sofa merah untuk dua orang.

Kurogane melirik arloji peraknya yang bertengger manis dipergelangan tangan. Ia mendecak tidak sabar. Fai lama sekali mempersiapkan perbekalan mereka bersama Sebastian. Ia ingin secepatnya pergi, semakin lama perasaannya semakin tidak enak. Kurogane bertekad begitu Fai selesai mereka akan langsung pergi tanpa sekalipun melihat kebelakang, tidak ingin melihat terakhir kalinya tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

"Ck, dimana pirang idiot itu? Mengapa lama sekali." Gerutu pria beriris merah itu kesal. Merasa keheranan apa yang menyita pria berkulit pucat yang notabene kekasihnya begitu lama hanya untuk mempersiapkan beberapa lembar pakaian.

DOR—sebuah letusan yang Kurogane yakini sebagai letusan senjata api, menjawab pertanyaannya.

Seperkian detik setelah diisi dengan perasaan mengambang yang ganjil. Seluruh saraf Kurogane menegang, ada sesuatu yang tidak beres didalam dan entah mengapa Kurogane mendengar suara Fai memanggil namanya. Tanpa buang waktu lagi Kurogane berlari secepat mungkin memaksa paru-parunya berkerja berlipat ganda. Ia melewati lorong demi lorong yang entah mengapa menguarkan aura mencekam. Andrenalinnya terpacu tidak menyenangkan, ia merasakan rasa dingin menjalari tubuhnya.

"Kumohon... jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya"

Kurogane memaksa kakinya terus berlari. Cepat—terdengar lagi letusan—lebih cepat—kini teriakan—kian cepat—dan suara tawa mengerikan—semakin cepat—oh mengapa jarak serasa memusuhinya—hingga,

BRAK—dengan sekuat tenaga Kurogane mendobrak pintu, memaparkan pemandangan yang Kurogane harapkan adalah sebuah ilusi.

Matanya membulat tidak percaya, katakan padanya bahwa ini sebatas fatamorgana belaka. Pemandangan didepannya terlalu semu untuk dipercaya dengan pengelihatannya. Rasa-rasanya kakinya lemas tidak bertulang. Apa yang terjadi disini?

Katakan bahwa ini hanya lelucon april mop yang telat—meski kini awal november—Terlihat Sebastian meringkuk menahan sakit dilengannya—terlihat bercak merah menetes pada kemeja putihnya. Terlihat lagi salah seorang maidnya mengerang sambil memegangi perutnya—bercak merah juga terlihat menodai apron putih bersihnya—maidnya yang lain berdiri dipojok ruangan menangis, badannya bergetar ketakutan setengah mati, didepannya berdiri seorang wanita yang Kurogane tau betul siapa gerangan sedang menodongkan revolver emasnya. Kurogane mengedarkan matanya panik mencari sosok seseorang yang ia harapkan tidak berada dalam ruangan mengerikan ini. Namun, nyatanya ia salah. Pria berambut pirang yang ia cari, kini kedua tangannya tengah dipegangi oleh dua orang pria—yang mana salah satu dari mereka pupil sebelah kanannya putih—dan seorangnya lagi menodongkan revolver kearah leher Fai.

Kurogane menerjang. Siap-siap mengeluarkan revolvernya.

"Ara~ Hai Kurogane" Suara manis wanita berambut hitam panjang itu menghentikan langkah Kurogane—mengerti nyawa Fai tidak akan selamat bila ia bergerak lebih dari ini. "Mereka jahat Kurogane. Aku ingin bertemu denganmu, tapi meraka tidak mau memberitahukanku jadi kuberi sedikit pelajaran" Tomoyo menepuk-nepuk pipinya menggunakan revolver.

Kurogane mendecis geram, apa yang dilakukan Tomoyo kali ini sungguh gila, abnormal. "Kau—"

"Padahal kau tunanganku, mengapa mereka menyembunyikanmu ya? Ckck aneh kalian. Aneh"

Kurogane bergeming ditempatnya, tidak berani mengambil langkah. Fai sedang disandera dan mereka bisa melakukan apapun dijarak sedekat itu. "Tolong lepaskan mereka, Miss Daidouji"

Tomoyo terkikik keras, membuat maid yang berada didekatnya semakin merapat pada dinding. "Lepaskan? Tidak! Semua orang disini harus tau kalau kau adalah milikku Kurogane!" ia mendelik tajam kearah Fai yang kini dalam batas kesadaran, Kurogane hampir memekik ketika menyadari darah mengucur dari mata kirinya. "Termasuk dia"

"Apa yang kau lakukan padanya!" Emosi Kurogane meledak, ia menggeram marah melihat perbuatan kejam Tomoyo, tangannya telah mengambil ancang-ancang siap menembakan pelurunya. Matanya yang semula berwarna merah kian memerah. Siapapun yang berani melukai orang yang dikasihinya tidak pernah akan ia ampuni, meski seorang Duchess sekalipun.

"Diam. Aku tidak suka kau mempedulikannya"

"Buka matamu! Apa kau sudah gila!" dengan satu gerakan Kurogane menarik revolver dari pinggangnya, kemudian mengangkat miliknya yang mengarah pada Tomoyo. Dari sudut matanya ia dapat melihat satu dari dua pria yang sedang menahan Fai ikut mengangkat revolvernya mengarahkan padanya, berjaga.

Keempat pucuk revolver telah siap. Tinggal menarik pelatuknya maka semuanya akan berakhir.

Tomoyo tertawa keras terpingkal-pingkal, demi langit dan bumi sikap Kurogane begitu lucu dimatanya. "Jahat sekali kau Kurogane menodongkan revolvermu padaku, padahal kau tunganku" Kembali Tomyo menodongkan revolver pada gadis pelayan didepannya. Maid itu terpekik histeris, memohon ampun padanya.

"Lepaskan dia! Atau kau aku ku—" perkataannya terhenti. Kurogane mengeratkan genggamannya berusaha membuat revolvernya tetap tegak.

"Akau kau apa?" Tomoyo menyeringai. "Seperti ini?"

DOR—Kurogane berteriak. Namun suaranya teredam oleh suara mendenging yang begitu keras. Ia terngaga ngilu, peluru dari revolver emas milik Tomoyo sukses menembus kepala gadis pelayan tidak bersalah itu, ia mengerang sekarat. Tomoyo tertawa. Jemari Kurogane menarik pelatuknya, sebuah peluru ditembakkan dan berhasil mengenai lengan sebelah kanan Tomoyo.

Tomoyo berteriak, revolver yang sedang digenggamnya terjatuh, ia terkulai dilantai. Kembali terdengar letusan, Kurogane membalikan badannya melihat sebuah peluru melesat kearahnya dari pria berkaca mata hitam. Kurogane menghindar, membuatnya hanya terbeset peluru dipipi kanannya.

"Kau! Kau! Beraninya kau Kurogane!" Suara Tomoyo terdengar begitu kejam. Jahat. Juga berbahaya. Detik berikutnya terdengar wanita berparas lembut itu berkata. "Habisi, pria pirang itu Seishirou"


.

Fai bersenandung kecil diantara kegiatannya menyiapkan pakaian untuk perjalannya bersama Kurogane. Akhirnya hari yang ditunggunya datang, setelah sebelumnya membicarakan rencana ini matang-matang—yang nyatanya dadakan—setidaknya ia bisa bernafas lega karena sebentar lagi mereka akan bersama.

Bohong jika tidak cemas, Fai teramat sangat cemas memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi. Misalnya, tiba-tiba Tomoyo datang menghadang, atau Kurogane yang tidak tega meninggalkan kampung halamannya, bisa juga rencana mereka tidak berjalan sesuai rencana.

Fai menghela nafas pelan. Begitu banyak sebenarnya kerasahan hati yang ia pendam. Hanya saja ia tidak ingin membuat Kurogane khawatir karenanya. Sebenarnya Fai mengetahui bahwa Kurogane merasakan perasaan yang sama dengannya, rasa cemas akut. Namun mereka berdua telah sepakat pada diri mereka masing-masing, berkata pada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Fai tersenyum, penguatan hati untuk diri sendiri ternyata lumayan ampuh mengusir kegelisahan.

"Tuan Flourite terlihat senang sekali" Sebastian yang sedang membantunya berkata, membuat wajah Fai tambah berseri karenanya.

Fai menjawabnya dengan senyum sumringah. Sebastian membalas dengan sebuah senyuman kalem, bagi pelayan sepertinya kebahagian majikan adalah kebahagian tersendiri dan betapa senenangnya ia ketika beberapa malam yang lalu Kurogane pulang sambil membawa kebahagian tertinggi miliknya itu.

"Saya pasti akan kesepian nanti" Sebastian tersenyum kecut. Tersenyum apapun yang terjadi adalah hukum mutlak seorang Butler, biarpun sebenarnya Sebastian tidak ingin. "Saya akan merindukan anda dan Tuan Kurogane"

Fai menerjang memeluk pelayan yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. "Akupun akan merindukanmu Sebastian!"

Sebastian balas memeluk 'teman kesayangan' tuannya. Fai telah ia anggap sebagai Tuannya sendiri, bagaimana tidak bila setiap hari ia harus mengurus Fai yang sering sekali datang bertamu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "Jaga diri anda dan Tuan Kurogane"

Fai mengangguk sedih. Sayangnya suasana haru itu tidak bertahan lama karena kemudian terdengar seorang maid berteriak. Fai terkaget demikian dengan Sebastian mereka segera berlari menuju ruang tengah yang mereka asumsikan terjadi sesuatu disana.

Fai mematung, Sebastian melotot nanar melihat rekan kerjanya menjerit kesakitan, matanya tertuju pada tangan maid itu yang sedang menekan perutnya agar darah tidak mengalir lebih banyak lagi. Fai mengalihkan pandangannya, mendapati seorang wanita cantik yang dikenalnya bersama dua orang pria yang sangat asing.

"Halo Tuan Flourite senang bisa bertemu anda." Tomoyo berjalan menghampiri Fai yang langsung dihadang oleh Sebastian berkata pada tuannya untuk mundur, namun Fai menggeleng. "Ngomong-ngomong apa yang anda lakukan pagi buta begini disini?"

"Ah, aku sedang bertamu pada Kuro-pyon tentu saja Miss Daidouji"

"Pagi sekali"

"Jika siang panas Miss" Fai berkata waspada. "Lalu apa yang kau lakukan pada maid Kuro-sama?"

Alis Tomoyo terangkat, ia terkekeh sambil membenarkan sarung tangan hitamnya yang melorot. "Tidak tau, begitu aku sampai ia sudah seperti itu" Jawabnya santai.

"Oh wow, lalu itu apa yang ada ditanganmu?"

Tomoyo menilik benda yang berada digenggamnya, ia kembali terkekeh. Fai hanya memandangnya aneh. "Sebuah Revolver Mr" Ia masih tersenyum. "Kira-kira apa yang akan terjadi bila aku menarik pelatuk ini kearahmu ya?"

"Nona!" Sebastian bereaksi merasa ngeri dengan arah pembicaraan mereka berdua.

Fai hanya mengangkat bahu sambil menelengkan kepalanya. "Mana aku tau"

"Let me try"

DOR—sebastian memekik, mendorongnya kesamping, menggantikan Fai menerima peluru panas pada lengannya. Fai terkesiap, meronggoh saku bajunya dengan gerakan cepat mengeluarkan revolver berlarah pendek bersiap menarik pelatuk.

Tapi kemudian terdengar suara 'duk' dari belakangnya, rasa sakit ditengkuknya, lalu pandangannya berputar. Beberapa saat sebelum semuanya gelap terdengar,

"Congkel sebelah matanya Fuuma"

Lalu gelap.


.

"Berhenti sialan! Berani kau melukainya akan ku habisi!"

Tomoyo tidak menggubris perkataan Kurogane, dengan sekali anggukan pada Seishirou pria berpupil tidak lengkap itu menarik pelatuknya yang sedari tadi bertengger dileher Fai. Kurogane hampir merasa ia mungkin hanya bermimpi, tapi suara mendengung ditelinganya. Begitu nyata juga dekat. Bau pekat mesiu dan juga teriakan Sebastian adalah bukti kenyataannya. Darah sekan-akan berhenti mengaliri tubuhnya, membuat ujung jari Kurogane mendingin, jantungnya terasa berhenti berdetak. Pandangannya mengabur, termakan dengan luapan amarah. Ia tidak gentar apapun kini.

Kurogane menarik pelatuknya menembaki Fuuma dan Seishirou, meleset dari organ vital yang dimaksud Kurogane namun cukup membuat mereka tersungkur. Tomoyo terdiam memandangi Kurogane bergerak dengan tajam, pria berkulit tan itu mendelik murka kearahnya, wajahnya dipenuhi keringat, helaian rambutnya menempel pada dahinya. Udara panas didalam cukup untuk mengalah udara dingin diluar.

Mereka terdiam dalam keheningan, yang terdengar hanyalah suara erangan kesakitan.

Kemudian, Kurogane mengambil satu langkah besar mendakati Tomoyo. Ia mengarahkan revolvernya. Jantung Tomoyo berdetak keras, nyalinya tiba-tiba menciut, Kurogane dihadapannya terlihat terlalu menyeramkan.

"Mengapa kau tidak mau mengerti Tomoyo, aku tidak pernah mencintaimu" Kurogane membuka suara, terdengar datar juga berbahaya. Ia kembali mengambil satu langkah. "Kau tidak bisa mengambil hatiku dengan cara seperti ini" satu langkah lagi. "Kau membuatku muak"

"Kuroga—" mendadak ia merasa ketakutan setengah mati, Tomoyo menyeret tubuhnya mundur menjauh dari Kurogane.

"Bukankah sudah ku bilang akan ku habisi kau bila menyakitinya" Kini Kurogane berdiri didepannya, menodongkan revolver peraknya pada kening Tomoyo. "Ada kata-kata terakhir Miss Tomoyo?"

Tomoyo berusaha memfokuskan pandangannya yang tertutup oleh air mata—entah sejak kapan—sialnya usahanya nihil bukannya terfokuskan pandangannya semakin buram. "Kurogane. ak—aku mencintaimu sangat. Semuanya salah Mr Flourite ia yang mengambilmu dariku. Aku mencintaimu Kurogane"

Tomoyo menunggu jawaban dari Kurogane dengan perasaan kalut, bersalah dan ketakutan bercampur aduk. Sensor peraba dikeningnya dapat merasakan betapa dingin dan mematikan dari revolver perak milik Kurogane.

"Ada lagi?" intonasi datar Kurogane semakin mendorong isakan Tomoyo. "Kalau tidak ada, selamat tinggal Miss Tomoyo"

Dan rasa nyeri yang tak terkira, melumpuhkan Tomoyo untuk selamanya.

.

Kurogane memeluk tubuh Fai dengan tangan yang terkena cipratan darah begitu erat.

.

End or TBC(?)


A/N: Saya masih ga percaya saya nulis pembantaian dikediaman Suwa #cengo dan mereka baku tembak didalam mansion # tambahcengo. Tega banget ini author #gelenggeleng. Dan sepertinya saya butuh sekali pemeran jahat dari clamp *evilslaugh*. Kemudian saya ucapkan terimakasih banyak untuk yang selalu setia membaca fic ini oh sungguh saya terharu X'D untuk reader yang memiliki akun saya sudah membalas lewat PM sekali lagi saya ucapkan terimaasih banyak X'D

For reviewer~

Liliana P: Terimakasih selalu mengikuti fic ini Liliana-san XD maafkan sepertinya saya harus kembali membuat Kuro-pyon dan Fai menderita di fic ini DX tapi semoga kebahagian nanti menghampiri mereka dan mereka hidup bahagia berdua happy ever-after X"D sekali lagi terima kasih banyak Liliana-san XD

ItoFai: *evilslaugh* kayanya Kuro-wanwan cocok kerja sampingan jadi penyusp XD terimakasih sudah sudah membaca Ito-san XD

Lilaciel: iya nih Kuro-puu enak banget mengambil kesempatan dalam kesempitan *o*b siap! terimakasih sudah membaca samapai selesai Lila-san XDD

Yoursilentreader: Terimakasih sudah membaca senang sekali rasanya XD

T3nten: Kabur kehatiku #digampar XD terimakasih telah membaca dan mereview T3nten-san XD

Akhir kata,

Mind to give me some review maybe? ;D


Footnote:

Sullivan Town(1): Kota Fiktif dimana Kurogane, Fai, dan Tomoyo tinggal.

Colt peacekeeper(2): Revolver jenis lama (pertama) yang cara pengisiannya peluru dimasukan satu per satu.