Rated: Back to T.
Genre: Just one Word. Romance~
Warning: Shonen-ai. Possible OOC to the max, a little bit Shoujo-ai, Typo(s), OC, dan semua temannya.
Disclaimer: CLAMP. Jika saya yang punya, bakal saya buat menjadi kisah Mystery-Comedy. Berkisah tentang Kurogane yang menjadi hantu gara-gara mati keselek biji salak sehari sebelum kencan pertamanya dengan Fai/slap.
*uhuk* Halo readercchy~ *uhuk* hehehe /nyengir, ehe /ditabok. Maafkan kejailan saya dichapter 7 ehe /ditendang, sebenernya chapter 7 memang belum tamat tapi adegannya tetap termasuk kedalam plot cerita saya ehe /dilempar. Hanya ditengah pengetikan tiba-tiba saya kepikiran, gimana kalau saya tulis END(?) kira-kira reaksi reader gimana ya? ehe /disamberginryuu, ehehehe gomene readercchy ehe /dogeza.
Oke langsung saja sebelum saya dibuang kepulau tidak berpenghuni oleh readercchy, ini dia chapter 8. The last chapter.
Happy reading, Hope you like it reader~
The End
By Annpui
Cinta seorang Tomoyo Daidouji.
Mungkin banyak yang mengira cinta seorang Daidouji adalah cinta dengan pemaksaaan dan keharusan namun nyatanya cinta seorang Tomoyo Daidouji berbanding terbalik dengan kenyataanya. Meskipun ia adalah seorang Duchess yang disegani dan ditakuti oleh masyrakatnya pada dasarnya ia hanyalah seorang wanita biasa dengan hati yang lembut dan halus, penuh cinta untuk semua orang.
Hanya saja beberapa tahun yang lalu, perasaan cinta yang halus dan lembutnya itu kandas tak berbekas. Mengingat ia harus berpisah dengan orang yang dikasihinya, sekaligus teman masa kecilnya yang teramat berharga. Ketika cintanya itu ditentang habis-habisan dari berbagai kalangan keluarga. Mengatakan citra seorang Duchess adalah mutlak, meski harus membunuh perasaan sendiri.
Sakura Kinomoto—pemegang separuh jiwanya. Entah dimana ia sekarang, mungkin ia telah bahagia memiliki anak yang lucu-lucu—seperti apa yang ia idam-idamkan dulu—tinggal disebuah rumah mungil sederhana. Setelah ia mendapat kabar bahwa Sakura akan dibunuh bila ia tetap mempertahan hubungan mereka, dengan sangat berat hati demi keselamatan Sakura, Tomoyo harus melepaskannya.
Semenjak saat itu bagi Tomoyo cinta untuknya adalah hal yang mustahil. Ia tidak boleh memiliki perasaan cinta. Bagi orang berkedudukan sepertinya cinta hanyalah permainan menuju kejayaan. Dimana ia akan bertransaksi untuk menjulang kekuasaan tertinggi, dan pernikahan hanyalah formalitas belaka yang mana maksud dari pernikahan itu sendiri adalah kepastian dari kemakmuran.
Namun definisi cinta berubah saat ini mendengar wasiat mendiang ayahnya dari kuasa hukumnya, mengatakan bahwa ia akan bertunangan dengan seorang Marquess, demi memenuhi janji yang telah terikat.
Semula ia kira pertemuannya dengan pria berahang tegas itu dipemakaman disaat awan ikut berduka atas pergi seseorang yang begitu berjasa bagi rakyatnya akan sama seperti biasanya—hanya mengincar tahtanya—tapi pada akhirnya ia salah. Boleh dikatakan Tomoyo Daidouji telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kurogane Suwa, ia merasa kagum dengan ketabahan dan ketegasan hati Kurogane. Sudah sangat jarang pria yang memiliki hati seperti itu pada jaman seperti ini, rata-rata mereka yang mendekatinya hanya bermodalkan kepercayaan diri juga uang.
Selain itu ia merasa ia dan Kurogane memiliki banyak kesamaan dimulai dengan rambut hitam, lalu watak mereka—meski sebenarnya ada juga yang bertolak belakang—kemudian perasaan kesepian, dan terakhir tanggung jawab. Mereka sama-sama bertanggung jawab atas rakyatnya dibawah kepemimpinan Ratu Victoria
Tomoyo selalu mengharapkan jika suatu hari nanti akan ada seseorang yang mau menemaninya, menjadi teman hidupnya, menghabiskan detik demi detik berdua dengannya, juga meredamkan gemuruh badai dihatinya.
Ketika pertemuan keduanya dengan Kurogane diOpera Theater bersama seorang teman yang dibawanya—yang tidak kalah memukau dibandingkan Kurogane sendiri—ia mulai yakin bahwa Kurogane adalah takdir yang diperuntukan untuknya, orang yang akan menambal lubang besar dihatinya.
Hari demi hari Tomoyo berusaha mendekatinya, mengunjungi mansion tempat Kurogane tinggal secara rutin—ditengah-tengah kesibukannya yang terasa mencekik—mencoba menjadi seorang calon tunangan yang baik.
Tomoyo kembali mendapatkan impiannya yang telah lama hancur dalam keputusasaan. Impian dari segala impian seorang wanita, ia ingin hidupnya dipenuhi oleh cinta dari pasangannya. Lagi, Tomoyo menginginkan ia dapat menghabiskan hari tuanya bersama Kurogane dirumah peristirahat, duduk disofa menghadap arah laut, memperhatikan anak-anak mereka bermain gembira. Menyiapkan makanan untuk acara piknik mereka, meninabobokan anak-anaknya kelak, dan melihat cucu dari anak mereka, lalu mati dalam kebahagian.
Setelah semua usaha yang ia coba untuk menarik perhatian Kurogane, ia kira perasaan Kurogane akan sama besar dengan perasaannya, lagi pula apa lagi alasan Kurogane tidak memiliki perasaan spesial untuknya? Bagaimanapun ia memiliki semua hal yang tidak bisa dimiliki oleh wanita lain, dan itu membuat Tomoyo berasumsi Kuroganepun menyukainya.
Tapi, lama kelamaan ia sadar semua itu tidak benar terlebih lagi ketika dengan jelas ia bisa membedakan cara memandang Kurogane padanya dan kepada sahabatnya, yang sungguh membuatnya iri setengah mati. Bagaimana cara Kurogane tersenyum, berbicara, juga dengusan kekesalannya akibat tingkah konyol sahabatnya, berbeda sekali jika bersamanya, seperti ada kilatan cinta didalamnya. Sebenarnya jika mau ia sudah menyadari perasaan sesungguhnya Kurogane sedari dulu dengan kecermatannya membaca pikiran seseorang, hanya saja ia bersikap tak acuh, takut menghadapi kenyataan dan mengalami kejadian yang membuatnya trauma ditahun-tahun sebelum ia bertemu Kurogane.
Pada awalnya Tomoyo tidak ambil pusing, toh sebesar apapun perasaan Kurogane kepada sahabatnya itu pada akhirnya ia harus menyerah sama halnya sepertinya. Kenyataannya Kurogane sama sekali tidak mau menyerah dengan perasaannya. Ia rela kehilangan semuanya demi Fai, demi 'sahabat terkasihnya' sepertinya apapun—bakan nyawa sekalipun—akan Kurogane berikan demi Fai. Sedikit banyak keteguhan hati Kurogane membuat Tomoyo salut. Andaikan ia mempunya hati yang kuat untuk bilang tidak.
Mengapa hidup begitu kejam kepadanya, mengapa ia tidak pernah bisa bersama orang yang dikasihinya, mengapa ia tidak pernah bisa menentukan hidupnya, ia sama seperti mahluk hidup lainnya, ia mempunya hati, ia bisa merasakan sedih, marah, kecewa, dan takut.
Sama takutnya ketika matanya dibutakan oleh kecemburuan membuatnya secara sadar dan tidak sadar menyuruh pelayannya menghabisi nyawa orang terkasih Kurogane—lalu apa bedanya ia dengan orang-orang yang memisahkan ia dengan Sakura—sama takutnya ketika Kurogane mengarahkan moncong revolver kepadanya, sama takutnya ketika peluru itu masuk kekepalanya.
Ia takut.
Takut dalam kesendirian dan tidak ada orang yang mau menolongnya.
.
.
Kesendiran itu merngerikan.
.
Tomoyo terlonjak ketakutan, ia memandang sekelilingnya. Nafasnya terburu saking tegangnya. Lampu dari meja tidurnya menyadarkannya dari mimpi buruk—mimpi yang terlampau buruk malah—pakaiannya terasa lengket pada tubuhnya yang berkeringat, tangan dan kakinya terasa lemas sekali. Mengerikan, sungguh mengerikan mimpinya barusan itu.
Teramat mengerikan hingga ia tidak ingin mengingatnya. Tomoyo membuka lacinya tergesa, menampilkan revolver emas miliknya dengan peluru yang utuh. Ia menghela nafas, menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya.
Apakah mimpi tadi adalah masa depannya? Masa depan yang akan ia lakukan kepada Kurogane dan Fai? Apakah tuhan berusaha memperingatinya lewat mimpi? Jika demikian, Tomoyo sangat berterimakasih karenanya. Ia tidak ingin menjadi pembunuh dan dibunuh, setidaknya ia tidak ingin melukai Kurogane.
Tomoyo menyambar segelah air putih didekatnya, meneguknya hingga tidak tersisa setetespun. Kemudian ia membunyikan belnya, memanggil Fuuma dan Seishirou masuk kekamarnya, menyampaikan pembatalan rencana mereka untuk pergi ke kediaman Suwa.
"mungkin ini yang terbaik"
Tomoyo menutup kelopak matanya untuk kembali tidur, energi masih belum pulih kembali setelah beraktivitas ,seharian ditambah dengan mimpi yang menguras energinya habis. Biarkan malam ini ia tidur lelap sejenak agar besok ia siap menghadapi kenyataan yang akan menamparnya keras-keras.
Kurogane dan Fai telah pergi dari Suvillan Town keesokan harinya, menggunakan kuda kesayangan Kurogane, Roland. Ia mendengar kabar tersebut dari Fuuma, pelayan merangkap pengawalnya itu berkata kediaman Suwa dan Flourite telah kosong, namun perabotan didalamnya tetap utuh. Kabar tentang kaburnya Kurogane tersebut menjadi buah bibir dimana-mana. Namun Tomoyo tidak menanggapinya, meski pers terus mendesaknya sehingga Fuuma dan Seishirou harus mengawalnya kemana-mana.
"Aku tidak tau mengapa Mr Suwa pergi, dan akupun tidak mau tau"
Hanya itu satu-satunya kata yang Tomoyo berikan kepada pers. Artikel tentangnya itu laris manis bak kacang goreng, bahkan loper koran dapat menjualnya berkali-kali lipat dari biasanya. Manusia memang suka bergosip.
Sedangkan Kurogane dan Fai hidup bahagia ditempat barunya, mereka hidup sederhana namun berkecukupan. Mereka berdua membuka sebuah kedai, mengingat Fai yang pintar memasak dan punya selera tinggi dalam menata ruangan tidak heran bila kedai mereka selalu ramai dikunjungi. Sebagian pengunjung datang sekedar untuk melihat ketampanan Fai, yang langsung diberi geraman dari jauh oleh Kurogane.
Kurogane menepati janjinya kepada Fai, ia membangun sebuah rumah kecil bercat merah dengan taman bunga yang tidak luas namun indah juga cerobong asap dan sofa untuk mereka bersantai melepas lelah setelah berkerja seharian dikedai. Kadang mereka berbagi cerita sambil membagi kehangatan.
Mereka mempunyai tetangga yang sangat ramah dan juga baik hati, meski menurut Fai tetangganya itu sedikit cerobah dan lemot. Tapi tunggu, semakin lemot seseorang menurutnya seseorang itu akan semakin lucu.
"Guten Morgen Herr Suwa" sapa seorang wanita manis dengan rambut coklat pendek dengan mata berwarna Zamrud kepada Fai.
"Ah Guten Morgen Miss Sakura" balas Fai. "Anda terlihat cantik sekali pagi ini, secantik bunga mawar yang masih berembum disana" ia menunjuk kearah mawar merah diperkarangannya.
Sakura terkekeh dan berterimakasih, kemudian ia menyodorkan seloyang pai apel hangat kepada Fai. "Anu ini Tuan Suwa, saya kelebihan membuat pai apelnya. Saya takut jika kalau Syaoran kegemukan karena terlalu banyak memakannya, jadi maukah Tuan Suwa menerimanya? Walau mungkin tidak seenak buatanmu"
Fai menepuk tanganya girang, "Tentu saja Miss Sakura! Tentu saja Aku mau!" Fai berseru kearah Kurogane yang baru saja mengunci rumah mereka. "Kuro-cute! Lihat apa yang aku dapatkan pagi ini? Seloyang pai apel hangat kesukaanmu!"
"Diam bodoh, kau membuat tetangga yang lain merasa terganggu dengan suara cempreng milikmu itu!" dengus Kurogane.
Fai dan Sakura hanya terkikik geli melihat betapa tsunderenya Kurogane. "Kalau begitu terimakasih Miss Sakura" ucap Fai sambil membungkukan badannya. "Saya permisi dulu, sudah waktunya untuk membuka kedai"
Sakura melambaikan tangannya kepada Kurogane dan Fai yang kini telah berjalan beriringan menjauh dari hadapannya.
Fai menelengkan kepalanya menatap Kurogane dengan pandangan berbinar, Kurogane mengangkat alisnya, mengerti maksud Fai. Ia mengulurkan Tangannya yang langsung disambut riang oleh tangan Fai.
"Kuro-rin..."
"Hm?"
"Terimakasih telah membawakan kebahagian kedalam kehidupanku"
Kurogane terdiam, ia menghentikan langkahnya membuat Fai menatapnya heran, kemudian membungkukan badannya sedikit demi menggapai bibir Fai dengan bibirnya.
Cup.
"My pleasure Fai" senyumnya menggoda.
Fai dapat merasakan pipinya menghangat. "Lihat siapa yang sudah berani nakal sekarang!" Kurogane tertawa. Fai merengut sebal.
Kembali mereka mengeratkan pegangan tangan mereka, kembali melanjutkan perjalanan. Bagi Fai bisa hidup bersama Kurogane adalah kebahagian tertinggi untuknya, sama halnya dengan Kurogane, menurutnya tidak ada yang lebih penting dari seorang manusia pirang idiot bernama Fai. Mereka berdua bersyukur takdir mempertemukan mereka, meski banyak sekali suka dan duka yang harus mereka lewari bersama, namun duka itulah yang memperat perasaan mereka.
Satu lagi permohonan.
Semoga mereka berdua bisa hidup bahagia selamanya.
Bersama, tidak terpisahkan.
The End(?)
.
.
Alis Kurogane berkedut. Fai tersenyum sumringah. Tomoyo tertawa pelan puas akan apa yang telah ia buat. Sakura menatap Tomoyo polos. Syaoran hanya menghela nafas.
"Putri Tomoyo..." Kurogane tanpa sengaja meremas beberapa carik kertas yang berada ditangannya.
"Ya Kurogane?" Tomoyo masih tertawa.
"Ini apa?"
"Oh, jangan pura-pura bodoh Kurogane tentu saja itu cerita yang kubuat tentang kita"
"Tapi kenapa harus aku yang menjadi tokoh utama disini?"
"Permintaan Fai"
Kurogane mendelik tajam kearah Fai yang masih tersenyum sumringah. "Ayolah Kuro-wanwan, aku suka cerita ini. lihat betapa kita mesra sekali disana" Fai meletakan jarinya didepan bibirnya. "Atau kau tidak suka kalau kita terlihat mesra seperti itu? nee... Kuro-sama"
"Bukan begitu" Decis Kurogane. "Hanya saja—"
"Hanya saja Kurogane malu Fai" potong Syaoran sambil terkekeh.
Fai melemparkan dirinya memeluk leher Fai, mengusapkan pipinya pada pipi pria berkulit kontras dengannya. "Wow! sungguh Kuro-puu? Aku sangat menyangimu!" Teriaknya.
"Diam bocah!" Kurogane berusaha melepaskan pelukan Fai. "Aku tidak pernah mengatakan seperti itu idiot!"
"Tsundere" ejek Fai.
"Diam!"
"Tapi Putri Tomoyo kenapa kau jadi tokoh jahat disini?" Tanya Sakura pada Tomoyo yang masih asik memandangi perkelahian Kurogane dan Fai.
"Hm... kenapa ya" Tomoyo berpikir sejenak. "Mungkin karena kupikir mengasyikan sekali-kali jadi orang jahat" Jawabnya singkat.
Sakura tersenyum bingung mendengar perkataan Tomoyo, sedangkan Syaoran menggelengkan kepalanya.
"Hei-hei Kuro-tan, bagaimana kalau kita akhiri kisah kita seperti pada cerita yang dibuat Putri Tomoyo?"
"Maksudmu?"
"Perhatikan aku, seperti ini—"
—Cup.
Kurogane memudurkan badannya cepat. Fai tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Kurogane yang sudah memerah semerah pai apel.
"Apa yang kau lakukan bodoh!"
Ende
(Sungguh kali ini tamat)
A/N: Saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyak kepada para reader yang telah membaca cerita ini dari awal sampai akhir. Cerita saya tidak akan berlanjut tanpa dukungan dari kalian disetiap chapternya /sobs. Mohon maafkan bila ada kata-kata kurang berkenan atau cerita kurang mendetail /lompatmelukalaFai /ditendang. Oh ya reader saya mau minta saran apakah nama Sebastian dific ini sebaiknya diganti dengan nama seorang tokoh di TRC juga atau tidak usah?
For Reviewer~
Aquarian lee: Aaaa terimakasih Aquarian-san karena sudah bersedia ngecek untuk menunggu updatean fic ini, sunggu aku terharu /plak. Fai tidak apa apa kok hihihi. Terimakasih Aquarian-san karena selalu mengikuti fic ini /sobs.
ItoFai: Hihihi ini lanjutannya Ito-san, dan terimakasih telah membaca fic ini sampai akhir :D.
Lilaciel: Apakah lanjutannya memuaskan? /harapharapcemas. Terimakasih sekali karena selalu membaca fic Lila-san XD.
T3nten: Ehe maafkan kalau aku membuat Tomoyonya mengerikan, tapi aku cinta Tomoyo juga kok~ terimakasih telah mengikuti fic ini terus T3nten-san ;D.
Liliana P: Tentu saja saya akan merasa sangat sedih Liliana-san /cry. Bagi saya setiap review dari pembaca adalah kebahagian tertinggi hihihi. Terimakasih banyak atas dukungan dan review yang selalu Liliana-san berikan, sungguh saya senang sekali that's make my day more beautiful XD.
Reader: Terimakasih banyak Reader-san, terimakasih sudah membaca dan meluangkan waktu untuk memberikan review XD. lanjutannya semoga suka ya.
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak^^.
Akhir kata,
Mind to give me some review maybe? ;D
Btw, ada yang mau epilog?
