Hai minnaa~

Misa apdet cepet nih. Soalnya ide suka ilang tiba-tiba kalau kelamaan ga apdet -_- *lirik ffku yg terbengkalai*

Yap. Silakan mambaca~

.

.

Disclaimer: Them self. Isyarat Meiko karya Junko Karube

Pair: Yunjae

Genre: Romance/Drama

Rated: T

Warning: BL, OOC, AU, alur kecepetan, typo(s). No bash ya. Penggunaan chara semata-mata karena tuntutan cerita.

Ket: "blabla" - percakapan biasa

"blabla" - bahasa isyarat

'blabla' - tulisan

.

.

ISYARAT

By: Misa Yagami Hitsugaya

.

.

"Ku..pe..gi." ucap sang pemuda cantik riang.

Pagi itu ia kembali ke aktivitas rutinnya, bekerja. Namun, akhir-akhir ini ada yang berbeda. Wajah cantiknya terlihat ceria dan bersemangat.

"Chullie, ada apa dengan Jae? Dia jadi semangat sekali." Tanya Hangeng, ayah Jaejoong pada istrinya.

"Yah, bukankah itu bagus? Kudengar ada teman kantornya yang ingin belajar bahasa isyarat. Ia jadi senang, ada yang mau memahami dia." Jawab Heechul, ibu Jaejoong.

"Itu bagus sekali, aku senang ada yang mau berteman dengannya. Ia terlihat kesepian." Lanjut Hangeng, kemudian menyeruput kopinya.

"Dan lagi, sepertinya Joongie menyukai temannya itu." Heechul hampir tertawa lepas saat melihat suaminya tersedak air kopi, karena mendengar ucapannya.

"M-mwo? Joongie? Jatuh cinta?"

"Eum, kurasa."

"Hmm, uri Joongie sudah dewasa, ne." Kembali pasangan suami-istri itu terdiam.

Hingga Heechul membuka suaranya. "Tapi aku sedikit cemas."

"Wae?"

"Aku takut, kekurangan Joongie akan menghambat mereka. Aku takut Joongie akan dicampakan."

Hangeng tersenyum lembut melihat raut khawatir istri tercintanya.

"Gwenchana, yakinlah Joongie akan menemukan orang yang tepat."

"Ne."

.

+misamisa+

.

"Selamat pagi." Hari inipun Yunho menyapa Jaejoong dengan bahasa isyarat.

"Selamat pagi." Balas Jaejoong.

"Apa kau mimpi indah"' kali ini Yunho mencoba menyampaikan isyarat yang lebih panjang.

Jaejoong tersenyum, "Ne, aku mimpi indah. Dan itu semua karena kamu."

Yunho terdiam, "e-eh? Ka..mu..bi..lang..apa?" ia bicara pelan agar Jaejoong bisa membaca gerak bibirnya. Ia kaget mendengar Jaejoong mimpi indah, dan semua itu berkatdirinya.

Jaejoong kembali tersenyum dan menggeleng, kemudian melangkah pergi menuju meja kerjanya.

"Ya! Kim Jae- aish, dia takkan bisa mendengarnya." Ucap Yunho kesal. Tapi kemudian ia tersenyum.

"Yosh~ ini langkah awalmu Jung!" ia kembali berucap semangat, kemudian pergi ke meja kerjanya.

.

"Hei, ada apa dengan mereka berdua? Mengapa jadi sedekat itu?"

"Entahlah, biasanya Yunho tak tertarik pada apapun."

"Apa mungkin mereka pacaran?"

"Wah, wah, sepertinya kau mendapat saingan baru, Ahra."

Gadis yang dipanggil Ahra itu mendelik. Huh, ia tak mungkin kalah dari seorang namja, ditambah lagi pemuda itu tuna rungu.

Ahra memang telah menyukai Yunho sejak awal Yunho masuk ke perusahaan ini. bisa dibilang, cinta pada pandangan pertama. Sebisa mungkin ia mencari perhatian Yunho, meski Yunho menanggapinya hanya sebagai rekan kerja saja.

Ia mendengus kesal, bagaimanapun, si tuna rungu itu akan menghambat jalannya. Yah, kita lihat saja ke depannya. Apa yang akan terjadi.

.

.

.

"Sudah selesai?" tanya Yunho pada Jaejoong.

"Ne, aku ingin cepat menyelesaikannya."

"Wah, kau memang hebat!" Yunho mengangkat jempolnya untuk Jaejoong.

Jaejoong tersenyum, "Yun, aku ingin ikut dalam rapat laporan. Bisakah?"

Yunho terkejut dengan permintaan Jaejoong. Meski ia bisa ikutpun-

"Apa aku akan merepotkan?" tanya Jaejoong cemas.

"Ah, tidak. Baiklah, kau bisa ikut dalam rapat."

Jaejoong tersenyum senang. Bagaimanapun, ia adalah bagian dari tim. Ia ingin terlibat dalam segala hal. Ia tak ingin kekurangannya menutupi haknya.

.

"Mari kita mulai rapat kali ini, dimulai dari laporan bagian keuangan, silakan."

Yunho berdiri sebagai wakil bagian keuangan. Ia mulai menjelaskan perkembangan keuangan perusahaan dan grafik keuangan.

Jaejoong yang tak bisa mendengar hanya bisa diam. Ketika ia memandang sebelahnya, ia tersenyum dan melihat catatan yang ditulis wanita di sebelahnya.

*Go Ahra POV*

Aku mendelik kesal ketika si tuna rungu itu melihat dalam catatan yang aku tulis. Aku hanya diam ketika ia melihat. Ia menulis sesuatu.

'Bisakah kau jelaskan apa yang Yunho katakan?'

Ia melihat ke arahku. Aku mengambil kertas itu, dan membalas.

'Jika kau memang tak bisa mengikuti rapat, jangan ikut! Kau sadar kalau itu menyusahkan? Dasar cacat.'

Yah, memang kata-kataku agak kasar, tapi itu memang kenyataannya kan? Dasar merepotkan. Kulihat ia membaca tulisanku dengan raut terkejut. Ia tak balik menatapku, justru hanya menunduk.

Baguslah, kalau ia memang sudah mengerti.

*End Go Ahra POV*

.

Setelah rapat selesai, Jaejoong segera pergi ke toilet. Ia menuju westafel, membasuh wajah putihnya dengan air segar.

Sesaat kata-kata Ahra terngiang di kepalanya. Benarkah ia merepotkan?

Digenggam erat sisi westafel hingga buku jarinya memutih. Tidak, ia tak boleh berkecil hati. Tidak semua orang berpikiran sama dengan Ahra. Yunho contohnya, ia mau terbuka dengan kekurangan yang Jaejoong miliki.

Jangan patah semangat, jangan putus asa. Pikirnya.

Sekali lagi ia menatap ke arah cermin dan tersenyum seperti biasa.

.

+misamisa+

.

*JJ POV*

Sudah waktunya makan siang. Aku mencari keberadaan Yunho. Aku tak makan dengan yang lain, karena tak ada seorangpun yang ingin dekat denganku selain Yunho. Mereka mungkin berpikiran sama dengan Ahra.

Aku bangkit dari kursiku, meregangkan sedikit tubuhku. Duduk berjam-jam di depan komputer itu melelahkan.

Ketika aku hendak berjalan, aku melihat telpon Pak Jang yang mejanya bersebelahan denganku berdering (aku melihat warna merah berkedip di telponnya).

Aku ingin mengangkatnya, tapi aku tak bisa. Kulirikkan mataku ke arah pegawai lain. tapi mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan sebagian besar dari mereka sudah pergi untuk makan siang.

Perlahan aku menggenggam gagang telpon itu, dan mendekatkannya ke telingaku.

"Ha..lo?"

Aku tak mendengar apapun, apa sudah ditutup ya? atau, aku hanya tak bisa mendengar apa-apa?

Segera kututup telponnya, percuma kuangkat jika aku tak bisa mendengar.

Ah, benar juga, mengapa tak terpikir olehku. Jika nanti ada telpon masuk ke mejaku, apa yang akan kulakukan? Aku tak bisa minta bantuan yang lain, atau aku hanya akan dianggap merepotkan lagi.

Mesin fax!

.

.

.

"Hei, kudengar Jaejoong meminta mesin fax baru untuk dirinya sendiri pada Pak Yoo."

"Iya, katanya ia tidak bisa menjawab telpon, makanya ia minta mesin fax."

"Enak sekali, baru masuk sudah bisa minta macam-macam."

Kadang kala aku bersyukur tak bisa mendengar. Aku bersyukur karena tak bisa mendengar cibiran-cibiran orang lain tentangku. Dengan begitu aku tak perlu merasa sakit hati. Tak perlu terbebani.

Meski begitu-

Aku mendongakan kepalaku. Kulihat Yunho tengah bicara dengan orang-orang yang bicara tadi. aku tersenyum sekilas, hanya Yunho yang aku butuhkan.

*end JJ POV*

.

.

.

"Mau pulang bersama?" Jaejoong yang tengah merapikan tasnya menatap Yunho lembut.

"Tentu, aku beres-beres dulu."

Yunho hanya mengangguk dan menunggu Jaejoong. Tak lama ia melihat Jaejoong sudah selesai.

"Ayo kita pergi."

.

"Kurasa kau sudah cukup mahir menggunakan bahasa isyarat, Yun."

"Ya, aku belajar setiap hari. Aku tertarik pada bahasa isyarat. Aku bahkan ikut kursus bahasa isyarat."

"Benarkah?"

"Ya, setelah melihatmu, aku jadi tertarik. Aku ingin bisa berkomunikasi denganmu. Aku ingin memahamimu."

Jaejoong tak membalas Yunho. Ia tertegun. Yunho ingin memahaminya?

"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Yunho khawatir.

Jaejoong menggeleng. "Tidak, hanya aku kaget, ada yang memikirkanku sampai seperti itu."

Tak terasa mereka telah sampai di stasiun. Yunho memang tinggal di Seoul. Ia hanya ingin mengantar Jaejoong pulang.

"Sampai disini saja. Terima kasih sudah mau mengantarku."

Jaejoong tersenyum dan melambaikan tangan. Kemudian ia berjalan pergi.

Namun langkahnya terhenti saat Yunho menahan tangannya.

"Ada apa?" tanya Jaejoong.

"Aku menyukaimu." Yunho memberi isyarat pada Jaejoong.

Sedangkan sang namja cantik hanya bisa diam terpaku.

"Aku suka kamu. Maukah pacaran denganku?" Yunho kembali menyatakan perasaannya.

Jaejoong masih speechless. Benarkah ini? benarkah Yunho juga menyukainya? Perasaannya tak bertepuk sebelah tangan kan?

Tapi-

Jaejoong menapik tangan Yunho, kemudian pergi menjauh. Yunho tak menyerah, dan mengejar Jaejoong.

"Tunggu! Jae! Tunggu!" Yunho tahu Jaejoong tak bisa mendengar, tapi ia tetap meneriakkan nama Jaejoong.

Jaejoong, bukan ia tak suka pada Yunho. Sungguh, pemuda itu bisa membuat Jaejoong merasa nyaman. Hanya saja, ia merasa tak pantas untuk orang sebaik Yunho. Ia tuna rungu, ia tak bisa melakukan apa-apa. Sejak kecil selalu dikelilingi orang yang sudah terbiasa dengan orang-orang keterbatasan seperti dirinya.

Tapi Yunho berbeda. Bukan berarti Jaejoong meragukan Yunho. Ia hanya takut kehilangan. Ia takut Yunho akan meninggalkannya, karena tak tahan dengan kekurangan yang dimilikinya.

Setelah kereta datang, segera saja Jaejoong naik ke dalamnya. Berusaha tak menoleh ke belakang.

Tidak, Yunho tak boleh bersamanya.

.

Yunho yang terlambat hanya bisa menatap kereta itu nanar. Mengapa? Bukankah Jaejoong juga menyukainya? Kenapa?

Ia menghembuskan nafas lelah, kemudian melangkah pergi dari sana.

.

+misamisa+

.

"Sudah seminggu ini Jaejoong tak pergi kerja, apa ada masalah di kantornya ya?" Heechul berujar cemas.

"Mungkin ia sedang menenangkan pikiran, kau tahu, kita tak bisa membaca apa yang sedang ia pikirkan."

Heechul memandang suaminya dalam. Benar juga sih, tapi Jaejoong-

Ah, lebih baik bertanya setelah ia agak tenang.

.

Sementara itu Jaejoong memilih untuk tidak pergi ke kantor. Tujuannya adalah untuk menghindari Yunho. Sebenarnya, bukan karena ia benci. Ia hanya terlalu menyukai Yunho.

Ia melirik gordennya yang masih tertutup. Yah, ia butuh cahaya matahari.

Srek

Ia membuka jendela dan merasakan angin menyentuh kulitnya. Tepat ketika ia akan berbalik, ia melihat sosok yang tak asing berdiri dekat rumahnya.

"Yu..no?"

Jaejoong melihat Yunho tersenyum padanya. Yunho mengenakan seragam kantor.

"Maaf, kalau aku membuatmu tak nyaman. Jadi mari lupakan hari itu. ayo, pergi ke kantor."

Yunho memberi isyarat pada Jaejoong. Ia merasa tak enak karena Jaejoong tak masuk kerja selama seminggi. Ia berpikir bahwa salahnya menyatakan perasaan pada Jaejoong tanpa melihat situasi.

Sementara Jaejoong sendiri terkejut. Mengapa? Mengapa Yunho memerhatikannya sampai seperti ini? Mengapa meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya?

Bebarapa saat Jaejoong terdiam, sedetik kemudian ia tersenyum lembut. Dianggukannya kepalanya, tanda ia setuju untuk berangkat kerja bersama Yunho. Segera saja ia bersiap-siap pergi.

Bolehkah aku merasakan hal ini? Apa boleh aku mulai menerimanya dalam hidupku?

.

TBC

.

Yap~ selesai chap 2~

Makasih buat yang udah ripiu yaa, maaf banget ga bisa bales satu-satu

Dan Misa juga mau ngucapin Happy new year buat semuanya~ semoga di tahunini lebih baik dari tahun sebelumnya :)

Semoga yg sekarang lagi kelas XII diterima di universitas yg dia inginkan, juga lulus dng nilai yg memuaskan. Amien (Misa juga kelas XII soalnya) ^^

Akhir kata, ripiu neeeee~