Enjoy

.

.

Disclaimer: Them self. Isyarat Meiko karya Junko Karube

Pairing: Yunjae

Genre: Romance/Drama

Rated: T

Warning: BL, OOC, AU, alur kecepetan, typo(s)

Don't like don't read, and no bash

.

.

ISYARAT

By: Misa Yagami Hitsugaya

.

.

Hari itu begitu dingin, salju mulai berjatuhan. Ya, ini sudah memasuki bulan Desember.

Jaejoong berangkat kerja dengan sedikit enggan. Tentu saja, di hari bersalju begini paling enak kalau diam di rumah dan minum secangkir coklat hangat. Hah, namanya juga pegawai. Tak bisa seenaknya bolos kerja, yang ada malah dapat peringatan.

Mata hitamnya melirik ke arah tumpukan salju. Jadi teringat saat dia kecil. Bermain bersama salju dengan teman-temannya. Yah, meski mereka tak pernah menganggap Jaejoong sebagai temannya.

.

Flashback

"Ayo kita mulai perang bola saljunya!"

"Ayo ayo!"

Sekumpulan anak kecil itu mulai membuat benteng mereka sendiri, dan mempersiapkan bola salju untuk saling dilempar.

Si kecil Jaejoong menatap teman-temannya polos. Ia ingin ikut bermain. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya, dan lagi-

Tak ada yang mau mengajaknya bermain.

"Hei, bagaimana dengan Jaejoong? Apa dia ikut bermain juga?"

"Jangan deh, habis dia ga bisa apa-apa."

"Iya, ngerepotin."

"Lagian dia cacat, jadi males main sama dia."

Jaejoong tak bisa mendengar apa yang teman-temannya katakan. Jadi ia hanya tersenyum saat teman-temannya menatap ke arahnya.

Ia tak tahu harus bersikap bagaimana saat mereka mulai bermain lempar salju. Ia bahkan hanya diam saat sesekali ia terkena lemparan. Ia tak marah, ia hanya bingung harus berbuat apa.

Flashback END

.

Jaejoong menghela nafasnya pelan. Mengapa ia harus mengingat kenangan menyakitkan itu?

Perlahan ia mulai memasuki gedung kantor tempatnya bekerja. Rasanya musim dingin kali ini akan membosankan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Didudukinya kursi kerjanya. Ia menyalakan komputer dan mengerjakan pekerjaannya.

Beberapa saat ia mulai mengetik, seseorang menepuk bahunya pelan.

'Bisakah kau antarkan berkas ini ke Choi Corp?'

Jaejoong menatap kertas yang diberikan Pak Yoo padanya. Choi corp? Bukankah itu ada di daerah Myeondong? Hmm, tak jauh dari sini, tapi harus naik kereta.

.

*JJ POV*

Apa aku bisa mengantarkan ini? Tapi Pak Yoo sudah memercayaiku untuk mengantarkannya.

Yosh! Aku pasti bisa, bukankah selama ini juga aku selalu naik kereta? Ini masalah mudah. Jadi segera saja aku mengangguk, dan mulai bersiap-siap.

Aku melihat Yunho memberi isyarat padaku. "Semangat!" Ia tersenyum.

"Ok."

.

Aku berdiri diam dalam kereta. Yah, enaknya naik kereta jam segini, tak perlu berdesak-desakan. Tapi tetap saja tak dapat tempat duduk.

Aku melihat jam tanganku. Sudah jam 11, aku tak boleh terlambat.

Jesss... Jesss. Jessss... krieet...

Aku tersentak ketika kereta tiba-tiba berhenti. Kulihat orang-orang juga terkejut.

Ada apa ya? apa ada kejadian aneh?

Kulirikkan mataku ke arah pria paruh baya di sebelahku. Mungkin aku tanya dia saja.

"A-anu.. -"

"Stt! Pengumumannya jadi tidak kedengaran!"

Hah? Apa yang paman itu katakan?

Aku kembali diam, dan tak lama, kereta mulai berjalan lagi. yah, aku bisa bernafas lega.

Tapi ada yang aneh dengan orang-orang. Mereka sepertinya mencemaskan sesuatu. Tapi, ada apa ya?

'Permisi, saya tidak bisa mendengar. Tolong beritahu apa yang terjadi.' Jaejoong menulis di catatan kecilnya, dan ia memberikannya pada seorang wanita disebelahnya.

Wanita itu kemudian menulis. 'Ada kecelakaan, jadi tak bisa melanjutkan perjalanan. Kita akan diturunkan di stasiun berikutnya.'

Kecelakaan? Bagaimana ya? kalau begini aku bisa terlambat.

Pokoknya aku harus telpon dulu.

Aku berlari kecil ke arah telpon umum, dan ternyata disana penuh oleh orang-orang yang ingin menelpon. Aku mencari orang yang sepertinya bisa kumintai tolong, tapi mereka terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan kulihat seorang pria baru saja menelpon lewat ponselnya. Segera saja aku menghampirinya.

'Permisi, saya tak bisa mendengar. Bisa telponkan ke nomor ini?'

Pria itu menggaruk belakang kepalanya. Ia menunjuk ke arah sebuah ruang yang tengah dikerumuni orang.

"Pergilah ke ruang pengurus stasiun, tanyakan saja pada mereka ya."

"T-tapi-"

Tapi pria tersebut sudah berjalan pergi menjauhiku. Ya Tuhan, susah sekali mencari orang baik.

Aku pergi ke ruang pengurus stasiun. Mereka terlihat sangat sibuk mengurus dan menjawab pertanyaan dari penumpang stasiun. Seorang dari petugas itu melihatku, dan aku memberikan kertas tadi padanya.

"Tunggu sebentar ya, akan aku telponkan."

Aku tersenyum, aku yakin ia akan membantuku.

Tapi ia tampak sibuk, setiap ia akan mengangkat gagang telpon pasti ada saja temannya yang minta bantuan.

Apa aku merepotkannya?

"Sebentar ya, pasti kutelpon."

Aku tak bisa mendengar apa yang diucapkannya. Aku hanya tersenyum dan menggeleng, kemudian pergi dari sana.

"Hei, tunggu, hei!" aku bahkan tak bisa menjawab telpon.

Mengapa aku tak bisa hidup tanpa merepotkan orang lain?

Ayah, Ibu, mengapa aku dilahirkan? Mengapa?

Mengapa melahirkan anak tak berguna sepertiku?

*END JJ POV*

.

+misamisa+

.

"Untung saja pihak stasiun menelpon. Choi corp-pun memaklumi kejadian ini." Pak Yoo

Jaejoong hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian ini.

Perlahan ia kembali ke mejanya, tak punya sama sekali semangat.

'Kau boleh pulang duluan hari ini.' Pak Yoo menuliskan sebuah catatan untuk Jaejoong. Yah, mungkin memang ia harus pulang. harus menenangkan pikirannya. Segera saja ia beres-beres dan pulang.

.

"Baguslah, dengan begini Jaejoong tidak akan ikut campur."

"Benar, dia itu sangat merepotkan."

Yunho hanya diam mendengar obrolan rekan kerjanya. Tidak, baginya Jaejoong tidak seperti itu. Jaejoong adalah orang yang hebat, hanya saja keterbatasannya menghalangi jalannya.

"Jangan terlalu dipikirkan." Yoochun menepuk bahu sahabatnya. Ia memang sudah tahu, jika Yunho menyukai Jaejoong. Ia tak keberatan, dan terbuka dalam masalah percintaan Yunho.

"Entahlah, Chun. Dia menolakku."

"Hei, jangan patah semangat. Mungkin saja ia merasa tak enak."

"Mengapa harus merasa tak enak? Aku tulus mencintainya."

"Tapi kau juga harus memandang dari posisi Jaejoong. Ia tak sepenuhnya bisa percaya. Apalagi ia punya kekurangan."

Yunho terdiam mendengar perkataan Yoochun. Benar, mungkin Jaejoong belum bisa sepenuhnya percaya padanya.

.

.

.

Jaejoong berguling-guling kecil di kamarnya. Hah, ia merasa tak enak hati. Ia ingin berusaha, tapi kekurangannya selalu menjadi penghalang. Apa ia memang tak bisa melakukan apa-apa?

"Hyung, aku masuk."

Junsu, adik Jaejoong masuk dalam kamarnya. Ia melihat Jaejoong yang tengah dalam posisi tengkurap.

Ia datang ingin menghibur kakaknya itu. Junsu berbeda dengan Jaejoong, ia beruntung karena dilahirkan normal. Ia begitu menyayangi Jaejoong, hingga belajar bahasa isyarat untuk bisa berkomunikasi dengan Jaejoong.

"Su, kau disini?"

"Ne, aku datang ingin menghiburmu, Hyung."

Jaejoong tertawa kecil, kemudian mendudukkan dirinya.

"Kau baik-baik saja, hyung?"

"Ne, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah."

Junsu tersenyum, ia bangkit dan menuju jendela kamar Jaejoong. Rupanya hyungnya itu lupa menutup jendela.

Namun ketika hendak menutup jendela, Junsu melihat seseorang di bawah rumahnya.

"Hyung, ada seseorang di bawah. Apa kau mengenalnya?"

Jaejoong segera menghampiri Junsu dan melihat orang tersebut.

Itu Yunho.

Ia berlari menuju ke arah Yunho.

"Kau disini? Ada perlu apa?"

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Ada waktu?"

Jaejoong terlihat berpikir sebentar, kemudian mengangguk.

"Aku akan bilang pada ibuku dulu."

Jaejoong masuk kembali ke dalam rumah, tak lama ia keluar dengan mengenakan sweater.

"Ayo kita pergi."

Yunho membawa Jaejoong ke tepian sungai Han. Mereka berjalan beriringan. Jaejoong yang tampak gugup hanya menundukkan wajahnya. Sementara Yunho bingung mau berkata apa.

Yunho berhenti berjalan dan menatap Jaejoong dalam.

Jaejoong yang ditatap seperti itu hanya menelan ludahnya gugup.

"Jae, maafkan aku, karena waktu itu aku terburu-buru menyatakan perasaanku. Tapi aku ingin kau tahu. Aku benar-benar menyukaimu. Aku tidak peduli dengan kekuranganmu. Biar aku yang melengkapinya. Kumohon, berilah aku kesempatan."

Jaejoong terkesiap. Yunho, sebesar inikah Yunho menyukainya? Apakah akan baik-baik saja jika ia menerima perasaan Yunho?

"Jae, percayalah padaku."

Jaejoong melihat kesungguhan di mata Yunho, dan itu membuatnya ingin menangis.

"Apa tidak apa-apa, kau kencan denganku? Apa kau tidak akan kesulitan?"

"Tidak, kalu tidak pernah merepotkanku. Aku benar-benar mencintaimu. Dengan segala kekuranganmu Jae."

Jaejoong menangis. Ia begitu bahagia. Akhirnya ia menemukan orang yang benar-benar mencintainya.

Akhirnya ia menyerah, ia mengangguk. Ia setuju pacaran dengan Yunho.

Yunho yang melihat itupun segara memeluk tubuh Jaejoong erat. Ia bahagia. Akhirnya Jaejoong mau membuka hati utnuknya.

Terima kasih, Jae. Aku akan melindungimu.

.

TBC

.

Maaf ya kalau chap ini kurang memuaskan. Soalnya tiba-tiba hilang ide di chap ini. tapi diusahakan chap depan segera apdet.

Buat masalah konflik, bakalan ringan-ringan aja sih. Misa ga begitu suka kalau konfliknya terlalu berat.

Buat Ahra juga, kayaknya dia ga akan begitu jadi ancaman.

Makasih buat readers yang udah mau baca dan ripiu. Misa seneng ada yang mau menghargai hasil karya Misa.

Arigatou~