Enjoy
.
.
Disclaimer: Them self. Isyarat Meiko karya Junko Karube
Pairing: Yunjae
Genre: Romance/Drama
Rated: T
Warning: BL, OOC, AU, alur kecepetan, typo(s)
Don't like don't read, and no bash
.
.
ISYARAT
By: Misa Yagami Hitsugaya
.
.
Yunho meminum kopi hangatnya pelan. Saat ini ia sedang menunggu Jaejoong di stasiun. Ya, setelah mereka memutuskan untuk pacaran kemarin. Yunho berkata akan menjemput Jaejoong setiap hari di stasiun.
Tadinya Jaejoong menolak, karena akan merepotkan. Tapi karena Yunho bersungguh-sungguh, akhirnya ia menyerah.
Yunho berdiri ketika kereta sampai di stasiun. Ia mencari-cari keberadaan Jaejoong. Hingga pemuda itu turun dari kereta, segera saja Yunho datang menghampirinya.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
"Apa kau sudah sarapan? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak? Mimpi indah?"
Jaejoong tersenyum menanggapi pertanyaan-pertanyaan Yunho. Setelah merelka bicara kemarin. Ia pulang ke rumah dengan hati yang begitu gembira. Saking senangnya ia bahkan tak bisa tidur. Yunho memenuhi pikirannya. Bahkan mereka terlihat seperti dua orang remaja yang tengah menjalin cinta monyet.
"Ah, aku punya kupon makan di restaurant dekat kantor, kau mau makan setelah pulang kerja nanti?"
Jaejoong mengangguk. "Ok, aku mau."
Mereka saling melempar senyum kemudian memanggil taksi untuk pergi ke kantor.
.
.
.
Berita Yunho dan Jaejoong berkencan mulai menyebar di kalangan karyawan lain. Yah, karena Yunho merupakan salah satu pria populer dikalangan karyawan wanita, berita itu menjadi berita yang menghebohkan sekaligus mengecewakan.
"Sial! Aku dikalahkan si cacat itu!" Ahra terlihat begitu kesal pagi ini. Ia baru datang ke kantor dan berita itu langsung sampai di telinganya.
"Ya! kenapa pagi-pagi aku sudah marah-marah?" Yoona bertanya pada rekannya itu.
"Aku kesal! Si cacat itu sudah mengambil apa yang aku inginkan!" jawab Ahra kesal.
"Hei, yang kau sebut si cacat itu juga punya nama. Namanya Kim Jaejoong." Balas Yoona.
"Cih, aku tidak peduli! Pokoknya aku harus merebutnya!"
"Ckckck, kau terlalu kekanakan. Hei, usiamu bahkan sudah diatas 20 tahun. Tapi kau masih bersikap seperti anak SMA belasan tahun. Kalau Yunho memang menyukai Jaejoong lalu apa salahnya? Meskipun kau berusaha merebut Yunho, itu takkan berarti apa-apa. Sia-sia. Dewasalah, kawan." Setelah mengucapkan itu, Yoona pergi menjauhi Ahra yang terlihat semakin kesal.
.
Sementara itu, Yunho maupun Jaejoong seolah tak peduli dengan yang lain. Yang penting mereka bahagia. Terserah dengan pandangan orang.
Jaejoong duduk di kursinya. Ia menyalakan komputer. Ah, ia baru ingat. Ia masih harus membuat laporan untuk bulan ini. ia tak boleh membuang waktu, maka segera saja ia membuatnya.
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir waktunya pulang kerja. Jaejoong meregangkan sedikit otot-ototnya yang kaku. Ia merasa begitu lelah.
Seseorang menepuk pundaknya. Dan menyerahkan kertas kecil.
'Yunho sedang ke toilet, tadi aku menerima telpon dari temannya, namanya Choi Seunghyun. Ia mengajak Yunho ke konser T.M Revollution. Tolong beritahu Yunho untuk menelponnya nanti.'
Jaejoong mengangguk setelah membaca catatan itu.
T.M Revollution? Apa Yunho suka band?
.
.
.
"Wah, makanan disini benar-benar lezat. Bagaimana menurutmu Jae?"
"Ya, makanannya sangat lezat. Aku sampai makan 2 porsi."
Jaejoong dan Yunho kembali menikmati santapan mereka. Sampai Jaejoong teringat sesuatu.
"Yun, temanmu tadi menelpon. katanya besok ia mengajakmu ke konser. Dia tanya apa kau mau ikut?"
Yunho terlihat berpikir sebentar, kemudian menggeleng.
"Aku tidak begitu suka musik." Dan ia pun kembali makan. Jaejoong menatapnya dalam. Yah, mungkin memang benar Yunho tidak suka musik. Kalaupun itu bohong, kenapa Yunho harus melakukannya?
.
+misamisa+
.
*Jaejoong POV*
Cuaca hari ini benar-benar dingin~ aku baru saja pulang kantor. Tadinya aku mau pulang bersama Yunho. Tapi dia bilang mau lembur hari ini.
Ngomong-ngomong, sebentar lagi hari natal ya? ah, aku harus menyiapkan hadiah untuk Yunho. Tapi kalau dipikir, aku tidak tahu apa yang dia suka, apa yang dia tidak suka. Apa aku tanya saja ya?
Aku menggeleng perlahan. Kalau aku tanya, itu takkan jadi kejutan lagi.
Sebaiknya aku melihat-lihat, siapa tahu ada benda bagus untuk Yunho.
.
Hiks, pada akhirnya aku tak beli apa-apa. Aku benar-benar bingung harus memberi apa pada Yunho.
Aku berjalan pelan melewati sebuah stadion. Ramai sekali, sepertinya barusan ada acara disini. Aku lihat sebuah poster besar bertuliskan T.M Revollution dengan foto anggota personilnya.
Ah, ini kan band yang ingin teman Yunho lihat. Sayang sekali Yunho tidak mau ikut. Kelihatannya band ini cukup bagus, melihat dari para penonton yang antusias.
Aku kembali melanjutkan jalanku, namun langkahku terhenti ketika mataku menangkap sosok Yunho diantara para penonton yang baru keluar dari stadion. Kudekati sosok itu, dan ternyata benar. Itu Yunho. Ia mengobrol bersama temannya, dan tertawa. Bahkan ia menirukan gaya sang gitaris. Tapi, bukankah Yunho sedang di kantor? Lembur?
Mengapa? Mengapa Yunho berbohong kalau ia tak suka musik?
Mengapa harus berbohong?
*end JJ POV*
.
.
.
Jaejoong melangkahkan kakinya perlahan. Rasanya malas sekali pergi bekerja. Jika saja ia bisa mengambil cuti. Ia ingin istirahat di rumah. tubuhnya benar-benar lelah.
Hatinya juga.
Ia tersentak saat seseorang menepuk pundaknya pelan.
"Selamat pagi." Ternyata Yunho.
Jaejoong berjalan cepat melewati Yunho. Sementara Yunho yang bingung mengejar Jaejoong.
"Tunggu! Jae! Tunggu!" Yunho meraih Jaejoong dan membalikkan tubuhnya, hingga Jaejoong berhadapan dengan Yunho.
"Ada apa? Apa aku berbuat salah?"
Jaejoong hanya menggeleng menanggapinya, kemudian pergi lagi. namun kali ini Yunho menahannya.
"Hei, ada apa? Mengapa kau bersikap aneh?"
"Aku baik-baik saja."
"Lalu kenapa kau jahat? Bersikap dingin seperti ini?"
Entah kenapa Jaejoong merasa hatinya panas. Ia marah Yunho mengatakan bahwa ia jahat.
"Jahat? Jahat? Siapa yang jahat? Mengapa kau berbohong? Mengapa tak bilang suka musik dan ingin nonton konser? Mengapa malah bilang mau lembur?"
Yunho kaget, bagaimana Jaejoong bisa tahu kalau semalam ia ke konser?
"Aku.. aku hanya merasa tidak enak-"
"Mengapa merasa tidak enak? Apa kau kasihan padaku? Kalau kau bilang suka musik, kau kasihan padaku yang tak bisa mendengar?"
"Tidak! Bukan begitu! Aku-"
"Mengapa kau kasihan? Apa pacaran denganku pun, kau merasa kasihan? Karena aku cacat, tidak ada yang mau denganku, begitu?"
"Tidak-"
"Aku suka kamu. Aku cinta kamu. Hanya kamu satu-satunya orang yang tidak kuinginkan untuk merasa kasihan padaku!"
"Tapi-"
Belum selesai Yunho melanjutkan isyaratnya, Jaejoong berlari kencang. Rasanya ia ingin menangis. Tapi bagaimanapun ia laki-laki. Ia tidak bisa menangis.
Jaejoong terus berlari, tanpa melihat ke arah lampu lalu lintas yang sudah hijau.
TIIIIIN
Jaejoong membelalak ketika melihat lampu mobil itu mengarah padanya. Apakah ia akan mati?
BRUK
Jaejoong merasa tubuhnya begitu ngilu. Tapi bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Ia melihat Yunho yang memeluk tubuhnya erat.
Ia selamat? Tidak tertabrak mobil?
PLAK
Dan kali ini ia merasakan pipinya panas.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" Yunho berseru keras. Meskipun Jaejoong tidak bisa mendengarnya, tapi tetap saja ia merasa butuh berteriak. Ya! apa Jaejoong tidak tahu betapa jantungnya seperti berhenti saat mobil itu hampir menabrak tubuh Jaejoong?
Perlahan ia mengatur nafasnya. Dilihatnya Jaejoong masih diam. Sepertinya dia masih syok.
Direngkuhnya tubuh Jaejoong erat, kemudian dihirupnya wangi tubuh Jaejoong.
Ia menghadapkan Jaejoong padanya, kemudian mata mereka bertemu.
"Jae, dengarkan aku. Aku minta maaf karena tak jujur. Aku minta maaf, karena benar, aku merasa tak enak padamu bila aku berkata yang sesungguhnya. Aku memang suka musik. Tapi kau salah bila berkata aku tidak mencintaimu, dan hanya merasa kasihan. Kau salah! Aku benar-benar cinta kamu. Aku benar-benar sayang kamu."
Jaejoong terdiam melihat mata Yunho yang menunjukkan kesungguhan. Yunho benar-benar serius dengan perkataannya. Jaejoong tak bisa lagi menahan air matanya, ia memeluk Yunho erat. Melampiaskan semua yang ia rasakan.
Yunho membalas peluka Jaejoong. Tidak memerdulikan tatapan orang-orang pada mereka. Tak peduli dengan si pemilik mobil yang menghampiri mereka dan marah-marah. Tidak peduli dengan semuanya. Hanya mereka berdua.
.
TBC
.
Pendek ya?
Memang sengaja sih Misa bikin setiap chap itu pendek-pendek. Soalnya Misa ga mau jadi terlalu monoton.
Agak sulit buat apdet chap-chap selanjutnya, karena Misa mulai pulang malem. Persiapan ujian sama les. Tapi Misa bakal usaha buat luangin waktu buat ngetik lanjutannya. Soalnya Misa ga mau ff ini jadi terbengkalai kayak ff Misa yg lainnya :')
Makasih buat readers yang udah sempet baca dan mau ripiu ^^
Akhir kata, ripiu please~
