Hallo yeorobuun~
Mianhae, Misa baru bisa apdet sekarang ya.
Misa disibukkan sama ujian praktek :'(
Yosh, langsung aja
Enjoy~
.
.
Disclaimer: Their self. Isyarat Meiko karya Junko Karube
Rated: T
Genre: Romace/Drama
Pairing: Yunjae
Warning: BL, OOC, AU, typo(s), alur kecepetan
.
.
ISYARAT
By: Misa Yagami Hitsugaya
.
.
Jaejoong pulang dari kantornya. Rasanya sangat senang. Setelah tadi pagi mengeluarkan semua perasaannya, serta keraguannya pada Yunho, hatinya terasa ringan. Meski mereka terlambat masuk kantor karena insiden 'hampir tertabrak'nya Jaejoong, dan meskipun mereka terdiam canggung setelahnya, Jaejoong merasa mereka semakin dekat. Seperti ada suatu tali yang mengikat erat hati mereka.
"Ku..pu-lang.."
Jaejoong memasuki rumahnya. Dilangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
Ia melihat adiknya, Junsu, sedang asyik menonton tv seraya memakan keripik. Sesekali Junsu tertawa melihat film komedi di televisi itu.
Tak lama, Junsu menyadari kehadiran Jaejoong.
"Hyung, kau sudah pulang?"
"Ne, aku sudah pulang. kemana Umma dan Appa?"
"Mereka pergi sebentar ke pesta pernikahan teman Appa."
"Semalam ini?"
"Ya, acaranya memang dimulai malam hari."
"Baiklah. Apa kau sudah makan malam?"
"Sudah, aku sudah makan ramen tadi. kau tahu kan aku tak bisa memasak." Junsu menjawab sambil tersenyum.
Jaejoong tertawa kecil mendengar jawaban adiknya. Junsu memang tak bisa masak. Beda dengan Jaejoong, ia cukup handal memasak. Sesekali ia akan meluangkan waktu untuk hobinya tersebut. sebelumnya, sang umma melarangnya memasak. Karena berpikir itu bisa saja membahayakan Jaejoong. Tapi pada akhirnya ia mengijinkan putra istimewanya itu untuk menyalurkan hobinya.
Junsu melirik ke arah punggung kakaknya yang mulai menjauh. Ia mematikan tv dan menyimpan kembali keripik ke dalam lemari makanan.
Kalau boleh jujur, ia sedikit cemas pada kakaknya itu. kau tahu, bukannya Junsu tak percaya atau bagaimana. Hanya saja, ia selalu merasa bahwa kakaknya butuh penjagaan khusus. Apalagi setelah mendengar perbincangan orang tuanya tadi pagi, mengenai Jaejoong yang katanya sudah punya pacar itu.
Aish, ia benar-benar cemas. Bagaimana kalau Jaejoong disakiti? Bagaimana kalau kakaknya itu akan dicampakan?
'Mungkin aku harus mencari tahu tentang pacar Jaejoong-hyung.'
.
+misamisa+
.
"Eh? Adikmu mengajak makan malam?"
Jaejoong mengangguk menanggapi pertanyaan Yunho.
"Dia bilang, dia penasaran padamu. Ia ingin bicara denganmu."
Yunho tersenyum kecil. Benar juga, selama pacaran dengan Jaejoong, ia memang sering menjemput Jaejoong ke rumahnya. Tapi belum pernah bertemu sama sekali dengan keluarganya. Aih, betapa tak sopannya ia.
"Ok, aku mau."
Keduanya larut dalam pembicaraan mereka. Tak menyadari sepasang mata yang sudah menatap mereka sedari itu memunculkan kilat kebencian sekaligus kesedihan.
'Yunho-ya, mengapa kau malah memilih namja itu dibandingkan dengan aku? Apakah benar aku sudah tak punya harapan.'
Sang yeoja yang bernama Go Ahra itu hanya bisa menatap dua sejoli yang tengah bercengkrama itu dalam diam.
.
.
.
Jaejoong baru saja selesai mencuci tangannya. Ia menatap ke arah cermin di depannya. Wajahnya cantik, meski ia tak mau mengakuinya.
Kapan ya, ia dan Yunho menikah?
Terkaget dengan pemikirannya sendiri, Jaejoong tertawa kecil. Bagaimana bisa ia berpikir akan menikah dengan Yunho?
Tapi, ia benar-benar berharap bisa menikah...
.
+misamisa+
.
Yunho menatap Jaejoong yang berjalan di sebelahnya. Jaejoong sedari tadi hanya diam saja.
Namun tiba-tiba Jaejoong berhenti berjalan. Ia menatap dalam ke arah sebuah toko gaun yang menampilkan sepasang gaun pernikahan di etalasenya. Ia ingin sekali memakai pakaian pernikahan tersebut.
Bukannya Yunho tak melihat tatapan Yunho ke arah toko itu. hanya saja waktunya belum tepat. Sudah dalam beberapa hari ini sebenarnya Yunho memikirkan tentang pernikahan dengan Jaejoong. Ia tengah mempersiapkan semuanya. Sebelum mengungkapkannnya pada Jaejoong. Lagipula mereka baru sebulan pacaran. Tapi entah mengapa Yunho merasa perasaanya pada Jaejoong semakin dalam setiap harinya.
Ia tak ragu, hanya menunggu sampai waktunya tiba.
Tak terasa mereka telah sampai di tempat janjian makan malam dengan Junsu. Junsu memang kuliah di Seoul. Jadi lebih mudah bagi mereka untuk bertemu.
Jaejoong menolehkan kepalanya ke krir dan ke kanan mencari keberadaan adiknya itu.
Ia tersenyum saat menemukan sosok Junsu yang tengah duduk sendirian seraya menikmati segelas kopi. Segera saja ia menarik tangan Yunho ke arah meja Junsu.
"Oh, hyung sudah datang?" Junsu tersenyum melihat kakaknya. Sekilas ia melihat pemuda tampan di belakang kakaknya.
Jaejoong dan Yunho duduk di hadapan Junsu.
"Ne, Junsu-ya. maaf sudah membuatmu menunggu lama. Oh ya, ini Yunho, kekasihku." Jaejoong memperkenalkan Yunho ke Junsu.
"Halo, salam kenal." Yunho berucap pada Junsu. Ia sudah bertanya pada Jaejoong, apakah Junsu juga memiliki kekurangan seperti Jaejoong. Dan Jaejoong menjawab bahwa Junsu itu normal. Jadi Yunho menyapa Yunho dengan bahasa biasa, yang dapat didengar.
Junsu melihat uluran tangan Yunho, kemudian menyambut jabatan tangannya.
Junsu menatap dalam pada kekasih kakaknya ini. Yunho dan Jaejoong tengah memesan makanan.
"Kau mau makan apa, Su?" Yunho bertanya pada Junsu.
"Sama dengan kalian saja."
Junsu kembali memerhatikan tingkah Yunho.
"Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Junsu.
"Eh?" Yunho bingung. Junsu bertanya tak menggunakan isyarat?
"Sudah satu bulan lebih."
"Hmm, begitu. Siapa duluan yang menembak? Apa saja yang sudah kalian lakukan?"
"A-ah, itu-"
Jaejoong hanya bengong. Yak! Ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku tak bisa mendengar kalian." Jaejoong memberi isyarat pada Yunho dan Junsu.
"Kami hanya mengobrol biasa, hyung. Aku hanya ingin tahu tentang hubungan kalian. Jahat sekali selama ini hyung tak memberitahuku tentang pacarmu ini."
Yunho hanya bisa menatap Junsu. Entah kenapa tapi ia merasa jika Junsu tak suka padanya.
Tak lama, makanan pesanan merekapun datang.
Jaejoong mulai menyantap makanannya. Sampai-sampai saus bersisa di sudut bibirnya. Yunho tertawa kecil kemudian membersihkan saus itu. mereka saling pandang, dan tersenyum kecil.
Junsu yang melihat itu merasa senang sekaligus cemas.
"Hyung, aku ingin bertanya."
"Ne, ada apa, Su?" Jaejoong menghentikan makannya, kemudian menjawab Junsu. Sementara Yunho tetap makan, sambil sesekali melihat ke arah perbincangan Yunho dan Jaejoong.
"Mengapa hyung mau pacaran dengannya?"
"Eh? Mengapa bertanya seperti itu?"
"Sudahlah, jawab saja."
Jaejoong tersenyum pada Junsu, dan memandang Yunho. "Dia ini baik, dia begitu mengerti tentangku. Aku sangat menyukainya."
"Tapi dia normal hyung."
Jaejoong menatap tak suka ke arah Junsu.
"Memang kenapa kalau Yunho normal?"
*Yunho POV*
"Memangnya kenapa kalau Yunho normal?"
Aku hanya bisa makan dalam diam, sementara mataku sesekali melirik ke arah dua bersaudara itu.
"Bisa saja ia hanya mempermainkanmu, atau ia akan meninggalkanmu."
Yak! Aku takkan mungkin melakukan itu. kulihat Jaejoong juga berpendapat sama dneganku.
"Mengapa kau bicara begitu? Yunho baik. dia bisa tersinggung dengan yang kau katakan."
"Dulu juga hyung bilang begitu waktu pacaran dengan Yihan-hyung. Tapi mana buktinya? Yihan-hyung sudah meninggalkan hyung kan?"
Yihan? Siapa itu?
"Jangan bicarakan tentang Yihan lagi!"
Jaejoong tampak sangat marah. Aku lihat ada setitik air mata di sudut matanya.
"Tapi benar kan hyung? Bagaimana kalau ia meninggalkan Hyung seperti Yihan-hyung?"
Lama-lama aku mulai tak tahan. Ia terus menuduh yang tidak tidak-padaku.
"Hei! Kau pikir kau akan melakukan hal itu? mengapa kau malah menyakiti perasaan Hyungmu sendiri? Aku tak tahu siapa itu Yihan, tapi aku takkan melakukan hal yang sama dengannya." ucapku pada Junsu.
Junsu menoleh ke arahku. "Aku hanya tidak ingin apa yang sudah terjadi, terjadi lagi. aku hanya merasa cemas pada kakakku. Apa itu tidak boleh?"
"Tapi kau menyakitinya! Dan kau juga sudah menuduhku yang tidak-tidak! Aku tidak akan meninggalkan Joongie! Aku sangat mencintainya!"
Junsu tertegun mendengarnya, namun ia tersenyum remeh. "Cinta? Yah, sekarang mungkin kau bisa bilang begitu tapi bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? besoknya? Besoknya lagi? apa kau takkan merasa bosan?"
"Aku tidak akan bosan! Pokoknya-"
"Kau tak tahu apa-apa!" Junsu berujar marah. Ia menatapku sengit, kemudian menghela nafas pelan. Ditatapnya Jaejoong yang memperhatikan kami dengan matanya yang memerah.
"Hyung, maafkan aku. Kau tahu kan mengapa aku melakukan ini? aku hanya ingin melindungimu, Hyung."
Junsu meminum kopinya, kemudian berdiri.
"Aku pergi duluan, Hyung. Aku masih ada urusan dengan temanku. Kau pulang duluan saja nanti."
Setelah itu ia menatapku lagi, dengan sengit. Ia berjalan menjauh dari kami, kemudian keluar dari toko.
Ada apa dengan adik Jaejoong itu? mengapa ia begitu terlihat membenciku?
Aku melihat Jaejoong sedari tadi menunduk, menghindari tatapanku.
Ada apa sebenarnya?
*Yunho POV end*
.
.
.
"Yun, maafkan adikku tadi ya, aku tidak tahu dia akan berbuat begitu. Padahal ia anak yang baik."
Saat ini mereka tengah dalam perjalanan menuju stasiun. Yunho mengantar Jaejoong.
"Tak apa Joongie, aku mengerti. Ia mungkin sangat menyayangimu, ia takut kau pacaran dengan orang yang tak baik."
"Tapi kau orang baik. aku tidak suka Junsu menyamakanmu dengan orang itu."
"Orang itu? apa Yihan?"
Jaejoong mengangguk. Sekelebat bayangannya tentang mantan kekasihnya itu mulai bermunculan di otaknya.
"Mengapa kalian putus?"
"Aku dan Yihan?"
"Ya."
Jaejoong sempat ragu untuk menceritakannya pada Yunho, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk cerita.
"Yihan itu adalah pacar pertamaku. Dia temanku saat SMA. Kami pacaran cukup lama. Ia sepertimu, benar-benar memahamiku, dan ia juga bisa bahasa isyarat. Namun, aku seringkali membuatnya cemas. Sampai di satu kejadian. Saat kami janjian di suatu tempat, aku tengah menuju ke tempat janjian. Namun kereta yang aku tumpangi tiba-tiba mogok."
"..."
"Namun ia terlalu cemas, bahkan ia mengira aku tersesat atau kecelakaan. Saat aku sampai di tempat janjian, dia melihatku dengan tatapan cemas, sekaligus lega."
"..."
"Itu adalah kencan terakhir kami. Meskipun gagal. Karena tak lama, kami putus. Ia bilang, sudah tak tahan denganku. Ia merasa bosan, karena aku tak bisa apa-apa."
Yunho melihat Jaejoong yang bergetar saat menceritakannya. Pasti sangat sedih.
"Tapi, aku yakin Yunho takkan seperti dia. Aku yakin kau akan bersamaku hingga akhir."
Mereka sama-sama memandang satu sama lain. Yunho mulai berpikir. Inikah saatnya?
"Jae, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa itu?"
Jaejoong melihat Yunho yang bergerak aneh.
"Jae, maukan menikah denganku?"
Jaejoong tersentak dengan permintaan Yunho. Hatinya berdebar-debar. Pipinya terasa sangat panas.
"Kau tak perlu menjawab sekarang. Pikirkanlah dulu."
Pasti Jaejoong masih sedikit ragu. Yunho tahu itu. bukan ragu akan perasaan masing-masing. Tapi ragu dengan jalan kedepannya.
Tak lama, keretapun datang.
"Kereta sudah datang. naiklah. Sampai bertemu besok."
Yunho mengantar Jaejoong sampai pintu kereta. Kemudian pergi ke belakang garis kuning. Jaejoong menatap pemuda tampan itu. Sungguh, Jaejoong senang dengan lamaran Yunho. Dan ia ingin menerimanya. Tapi-
GREEEK
Pandangan mereka terhalang oleh pintu kereta. Dari jendela, Jaejoong masih bisa melihat Yunho yang juga melihat ke arahnya. Kemudian, kereta mulai berjalan.
.
TBC
.
Maaf ya gajeee
Misa bener-bener hilang ide soalnya. Tapi Misa harus beresin ff ini gimanapun caranya! *janji sama diri sendiri*
Setiap chap memang muncul konflik baru, tapi itu konflik yang masih ringan-ringan aja. Buat bumbu cerita gitu~
Mungkin ff ini berakhir di 3/4 chap kedepan ^^
Yosh, terima kasih buat readers yang udh sempetin baca dan ripiu :3
Akhir kata, ripiu pleaseeee~
