AAAAAA~ Mianhae~
Ini ff telat banget apdetnya :'(
Btw, chap ini khusus~ All Jaejoong POV ya~
.
.
Disclaimer: God's, theirself. Isyarat Meiko karya Junko Karube
Rated: T
Genre: Romance/Drama
Pairing: Yunjae
Warning: BL, OOC, AU, typo(s), alur kecepetan
.
.
ISYARAT
By: Misa Yagami Hitsugaya
.
.
Aku mengusap wajahku pelan.
"Maukah menikah denganku?"
Kutatap wajahku di depan cermin. Kata-kata Yunho terus terngiang dalam ingatanku, hingga aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Bukannya aku tidak menyukai Yunho. Sungguh, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Hanya saja, ini terlalu cepat. Kami bahkan baru saja memulai. Aku belum memikirkan akan menikah.
Yunho pemuda yang baik. ia tampan, pekerja keras, dan sangat pengertian. Ia adalah tipe lelaki yang pasti banyak dicari oleh para wanita, maupun lelaki seperti aku. Ditengah kesempurnaan Yunho itulah yang justru membuatku ragu.
Apa aku pantas mendampinginya?
Kadang kala, aku berpikir mungkin ini hanya sementara. Aku berpikir mungkin suatu saat Yunho akan lelah terhadapku. Seperti Yihan. Dia pantas mendapatkan seseorang yang setara dengannya. Yang setidaknya, normal. Tapi segala keraguanku menghilang ketika aku mengingat wajahnya. Mengingat segala hal yang pernah dia berikan padaku. Segala hal yang pernah aku rasakan darinya.
Apa aku harus menerimanya?
Aku berjalan menuju ruang makan. Aku sudah berpakaian rapi, siap pergi ke kantor.
Kulihat anggota keluargaku tengah menyantap sarapan mereka. Aku duduk di kursiku, kemudian mengambil sepotong roti. Mengunyahnya untuk mengisi perutku.
Kami makan dalam diam, sesekali ayah dan ibuku berbincang. Meski aku tak bisa mendengar mereka. Kulirikan mataku ke arah Junsu. Ia dengan tenang memakan rotinya. Beberapa saat aku memandangnya, Junsu mulai menyadari tatapanku.
"Hyung, aku mau minta maaf soal kemarin."
Junsu mengisyaratkan padaku. Aku melihat wajahnya, ia sungguh menyesal.
"Tidak apa-apa, aku sudah tidak memikirkannya."
"Sampaikan juga permohonan maafku untuk Yunho-hyung."
"Ne, akan kusampaikan."
Kami tersenyum, kemudian melanjutkan makan.
.
+misamisa+
.
Aku menghela nafas sesaat setelah menyelesaikan tugasku. Tubuhku terasa kaku. Mungkin karena terlalu lama duduk.
PUK
Aku menoleh ketika seseorang menepuk bahuku. Ia tersenyum. Yunho.
"Mau makan bersama?"
Aku mengangguk. Kami berjalan bersama keluar kantor. Ini terlalu hening. Aku merasa gugup.
Kami sampai di salah satu restoran dekat kantor. Setelah selesai memesan, kami kembali terdiam. Oh, ayolah Yunho. Jangan diam saja. Katakan sesuatu!
"Jadi, bagaimana? Apa kau sudah memikirkan tentang kata-kataku kemarin?"
Bukan ini yang aku harapkan.
"Aku belum tahu. Aku masih butuh waktu."
"Begitu? Bailkah, aku masih akan menunggu. Jangan terburu-buru, pikirkanlah baik-baik."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum menjawabnya.
"Ah, bagaimana dengan Junsu? Kau tidak marahan dengannya kan?"
"Tidak. Dia minta maaf padaku tadi pagi. Ia juga bilang, ia minta maaf padamu."
"Dia adik yang manis ya?"
"Ya, Junsu adalah adik manis yang begitu aku sayangi."
Kulihat Yunho tersenyum saat aku 'mengatakan' itu.
"Senang ya, punya saudara yang bisa diajak berbagi. Karena aku anak tunggal, jadi aku terbiasa sendirian di rumah. Pada akhirnya aku mencari kegiatan di luar."
"Apa orang tuamu jarang di rumah?"
Yunho baru saja akan menjawab, ketika pelayan mengantarkan pesanan kami. Beberapa saat kami kembali hening, hingga Yunho melanjutkan.
"Orang tuaku sibuk bekerja. Untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia, mereka bekerja keras agar mendapat banyak uang. Tapi nyatanya, mereka tak menunjukan kemajuan. Meski bekerja keras, tapi mereka tetap merasa tak cukup. Hingga aku bekerja saat ini."
Aku hanya diam melihat isyarat yang diberikan Yunho. Aku ingin memahami Yunho. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Yunho. Masa lalunya, apa yang dirasakannya.
Agar aku bisa meyakinkan diri...
.
+misamisa+
.
Hari minggu yang tenang. Tak pergi ke kantor, pekerjaanku sudah selesai. Dan tidak bertemu Yunho.
Aku tengah membaca buku ketika eomma masuk ke kamarku. Ia membawa beberapa potong pakaian yang telah rapi.
"Sedang membaca buku Jae?"
Eomma bertanya padaku. Aku mengangguk.
"Ini buku yang menarik. Sangat inspiratif."
Wanita yang telah melahirkanku itu berjalan pelan ke arahku, ia menggenggam tanganku.
"Apa ada hal yang tengah mengganggumu? Kau terlihat lelah."
Aku berpikir sejenak, apa aku harus mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menikahiku?
"Sebenarnya, eomma, aku... ada sesuatu yang ingin aku beritahu pada eomma."
"Katakanlah, eomma menunggu."
Aku menyiapkan hatiku. "Aku, tengah menjalin hubungan dengan seseorang."
Eomma terlihat tidak begitu terkejut. "Ya, eomma sudah tahu."
"Eh? Darimana?"
Eomma tersenyum. "Naluri seorang ibu."
"Tapi, aku menjalin hubungan tak wajar."
"Tak wajar bagaimana?"
"Kekasihku, adalah seorang lelaki. Sama sepertiku."
Sesaat kami hening, sampai eomma berkata. "Aku tak keberatan kau berhubungan dengan sesama lelaki. Toh itu adalah pilihanmu. Tergantung bagaimana kau menjalaninya. Jadi, siapa pemuda itu?"
"Namanya Jung Yunho, dia teman sekantorku. Dia normal, tapi bisa bahasa isyarat."
"Benarkah? Itu bagus! Kapan-kapan, bawalah ia kemari."
Eomma mengusap rambutku. Rasanya hangat, mengungkapkan segala kegelisahanku pada eomma.
"Sebenarnya, Yunho melamarku beberapa hari lalu."
Usapan tangannya terhenti ketika aku mengatakan itu. Eomma terlihat terkejut, namun kembali tersenyum.
"Lalu, apa jawabanmu?"
"Aku belum menjawabnya. Aku masih ragu."
"Kenapa?"
"Aku merasa tak pantas bersamanya. Aku, aku takut ia merasa repot karenaku."
Eomma menjitak kepalaku pelan. Aku menatapnya heran bercampur sebal.
"Kau ini. Ini bukan tentang pantas atau tidak pantas, Jae. Dalam menjalin hubungan, yang penting adalah mengenal subyeknya. Mungkin yang jadi masalahnya bukanlah pantas tidaknya kau sebagai pasangannya. Tapi, 'apakah kau benar-benar mengenalnya?'."
Aku terdiam. Aku tidak pernah berpikir tentang itu. Ini seperti, eomma melihat tepat ke dasar hatiku.
Eomma mengusap pelan rambutku, kemudian keluar dari kamarku. Aku menutup buku yang tengah kubaca. Kubanting tubuhku ke atas tempat tidur. Mungkin yang eomma katakan ada benarnya. Mungkin aku harus melihat dari sisi yang lain.
Baru saja aku menutup mataku, handphoneku bergetar. Kulihat tanda pesan di layarnya.
'Aku ada di taman dekat rumahmu. Ayo bertemu! –Yunho."
Aku tersenyum. Kukenakan jaket dan sepatuku. Setelah berpamitan pada eomma dan appa, aku berlari kecil menuju taman.
.
+misamisa+
.
Aku duduk di sebuah ayunan. Tidak sadar seseorang tengah mengendap-endap di belakangku. Dan-
"WAAA!"
Kurasakan seseorang menepuk keras pundakku dan mengagetkanku. Apa dia berniat membuat jantungku copot?
Aku menoleh cepat ke arahnya. Ia hanya tertawa kecil.
"Kau membuatku kaget!"
Aku sedikit kesal. Kutinju pelan bahunya.
"Maaf, aku berlebihan." Ia meminta maaf, tetapi masih tertawa pelan.
Aku membuang muka, berpura-pura marah.
"Jae, mianhae, aku keterlaluan. Baiklah! Sebagai permintaan maaf, aku akan belikan kau es krim! Tunggu ya!"
Ia pergi meninggalkanku. Apa katanya? Es krim? Dia pikir aku anak kecil yang bisa dihibur dengan es krim?
Aku menghela nafas pelan. Ah~ bosannya~ hari ini terlalu datar. Taman juga sepi, padahal ini hari minggu. Aku mengambil ponselku, dan memainkannya. Sambil menunggu Yunho.
.
Lamanya~ Dimana ia beli es krim? Kenapa belum kembali?
Aku menggerakan ayunan yang tengah kududuki. Perlahan benda itu mengayun dengan tubuhku diatasnya. Ini menyenangkan. Tak lama, kulihat Yunho kembali dengan membawa dua cone es krim. Ia tersenyum ke arahku. Tapi tiba-tiba, wajahnya panik dan berlari cepat. Bukan ke arahku. Ia berlari melewatiku. Ketika aku menoleh ke belakang, betapa terkejutnya aku.
Seorang anak kecil terbaring di bawah permainan tangga kotak yang tinggi(?) sambil menangis. Sepertinya ia terjatuh dari permainan itu. Kulihat dahi dan hidungnya berlumuran darah. Aku tersentak. Aku, aku disini sejak tadi. Kapan anak itu terjatuh? Bagaimana bisa aku tidak menyadari ada seorang anak kecil di belakangku? Mengapa aku tidak bisa mendengar suara tangisannya?
Yunho menghampiri anak kecil itu, kemudian menggendongnya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit!" dengan panik Yunho berucap.
Aku diam. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Tapi melihatnya berlari pergi, aku hanya mengikutinya. Oh Tuhan, kuharap anak itu baik-baik saja.
.
.
.
Kami sampai di rumah sakit terdekat. Anak itu segera mendapat pertolongan medis. Aku dan Yunho duduk di depan ruang UGD. Bersyukur ternyata salah seorang perawat mengenal anak itu. Aku sempat khawatir kami membawa anak itu tanpa mengetahui dimana orang tuanya.
Kulihat baju Yunho ternoda darah di beberapa bagian. Ia terlihat lelah.
Tanganku bergerak ke arah pipinya, hingga ia menahan tanganku.
"Jae, bagaimana bisa kau tidak sadar ada seorang anak kecil tepat di belakangmu?"
Kulihat ia sedikit marah. Mengapa ia marah? Apa ini benar-benar salahku?
"Aku tidak mendengar suaranya. Jadi kupikir tidak ada siapa-siapa."
"Kalau kau memang tidak bisa mendengar, mulailah mencoba untuk melihat! Cobalah untuk merasakan! Ini bukan masalah kekuranganmu. Ini karena kau tidak peka dengan apa yang ada di sekitarmu."
Aku tersentak. Tidak menyangka Yunho akan berkata seperti itu. Tapi, setelah dipikir lagi, ini memang salahku. Aku terlalu sibuk dengan ponselku. Hingga aku lalai dengan sekitar. Aku selalu menyalahkan kekuranganku. Tapi tidak pernah mencoba untuk mengatasinya. Aku memang yang bersalah.
Yunho terdiam sejenak. Ia menatap ke arahku yang memandang ke lantai.
Tiba-tiba ia memeluk tubuhku erat. Beberapa orang menoleh ke arah kami. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan atau pikirkan tentang kami.
Yunho melepaskan pelukannya padaku. "Maaf, Jae. Aku sudah berkata kasar. Aku hanya terlalu kaget. Aku, tidak memikirkan perasaanmu. Maafkan aku."
Yunho tersentak saat setetes air mata meleleh dari mataku. Aku menatap ke arahnya.
"Tidak, kau benar. Aku yang salah. Selama ini aku hanya bisa menyesali, mengapa aku berbeda. Mengapa aku harus mengalami semua ini. Tapi aku tak pernah mencoba melewatinya. Maafkan aku, aku tak bersikap dewasa. Maafkan aku karena tak peka. Maafkan aku atas semua yang terjadi."
"..."
Melihat tak ada respon dari Yunho, aku melanjutkan. "Aku jadi berpikir. Bagaimana jika kita benar-benar menikah? Bagaimana jika kita mengadopsi seorang anak, dan aku tak bisa merawatnya? Bagaimana jika anak 'kita' berada dalam posisi anak itu? Bagaimana kalau aku tidak peka terhadapnya? Bagaimana jika ia terluka? Bagaimana-"
Yunho menghentikan gerakan tanganku, kemudian mencium bibirku. Lembut, begitu lembut.
Yunho tersenyum. "Hentikan berkata 'bagaimana'. Itu semua akan terjawab saat kita telah melewatinya. Kita pasti bisa melewatinya. Karena itu, jangan memikirkan kekuranganmu. Biar aku yang melengkapinya. Aku akan melengkapi kekuranganmu. Aku akan menjadi telingamu. Aku akan melindungimu, beserta anak kita. Aku berjanji."
Air mataku kembali menetes. Yunho memeluk tubuhku erat. Dan aku menghirup wangi tubuhnya.
Haruskah? Haruskah aku memercayainya?
Aku melepaskan pelukan kami. Yunho hanya melihat ke arahku.
Kuhembuskan nafasku pelan. Ya, aku sudah punya jawabannya.
"Aku, mau menikah denganmu, Yun."
.
TBC
.
Huaaaa~ maaf ya readers, Misa lama apdet.
Jujur, sempet kehilangan feel buat ngelanjutin. Ditambah Misa mulai memasuki dunia perkuliahan :/
Sepertinya gak lama lagi ff ini akan tamat. Sebisa mungkin Misa bakal apdet sampai tamat.
Makasih buat readers yang udah bersedia baca+review. Misa udah baca ripiu kalian, maaf ga bisa balas satu-satu. Tapi yang pasti, Misa amat berterima kasih sama kalian.
Maaf kalau chap ini rada aneh hehehe
Ripiu?
