Disclaimer: Isyarat Meiko karya junko Karube.
Rated: T
Genre: Romace/Drama
Pairing: YunJae.
Warning: BL, OOC,typo(s), alur kecepetan, dll.
.
.
ISYARAT
By: Misa Chiiyuki
.
.
Aku menghembuskan nafasku pelan. Ya, aku sudah punya jawabannya.
"Aku mau menikah denganmu, Yun."
.
.
Jaejoong menjalani harinya dengan lebih baik setelah lamaran Yunho ia terima. Entah kenapa hatinya tenang. Rasanya terlalu bahagia sampai tidak bisa memikirkan apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi bila ia menerimanya. Sampai hari ini pekerjaannya pun baik-baik saja. Ia mulai terbiasa dengan lingkungan kantornya. Begitu pula dengan rekan kerjanya yang mulai memahami dan terbiasa dengan keterbatasan Jaejoong.
Sudah jam pulang, Jaejoong membereskan barang-barangnya. Ia kemudian melirik ke arah meja Yunho. Ah, dia sedang mengobrol dengan salah satu rekan kerja mereka, Ahra. Entahlah, Jaejoong merasa Ahra tidak menyukainya. Sering kali ia merasa Ahra menatap sinis ke arahnya. Apa dia memang sebenci itu pada kekurangan Jaejoong? Atau... dia menyukai Yunho?
Puk
Ia tersentak saat seseorang menepuk pundaknya. Itu Yunho. Sejak kapan dia muncul?
"Ayo makan dulu sebelum pulang!"ajaknya.
Jaejoong hanya mengangguk menanggapi. Yunho meraih tangan Jaejoong dan memegangnya erat, kemudian mereka pergi ke salah satu restaurant langganan mereka. Memang sudah jadi rahasia umum kalau Yunho dan Jaejoong berpacaran. Satu kantor sudah tahu meski mereka tidak mengumumkannya secara resmi. Dan itulah salah satu faktor Ahra semakin meradang.
*Jaejoong POV*
Jantungku berdegup kencang ketika Yunho memegang tanganku di depan umum seperti ini. Tidak ada larangan untuk memiliki kekasih dalam bidang yang sama sih, asalkan tidak mengganggu pekerjaan masing-masing. Sepertinya yang lain juga setuju dengan hubungan kami. Hmm, yah, tidak semua. Mungkin ada beberapa yang jijik dengan hubungan sesama jenis,salah satunya gadis itu. Ahra.
"Kau mau makan apa?"
"Kimchi jjigae saja."
Kulihat Yunho mengangguk. Kemudian ia bicara dengan pelayan, memesankan pesananku. Aku duduk diam dihadapannya.
"Jae, kau ada waktu hari minggu ini?"
"Ada, memangnya kenapa?"
Yunho terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab lagi. "Aku ingin mempertemukan kedua orang tua kita. Aku ingin membicarakan tentang pernikahan kita pada mereka."
Aku tentu saja terkejut. Walaupun aku juga mau menikah dengan Yunho secepatnya, t-tapi ini terlalu mendadak. Aku takut akan ditolak oleh orang tua Yunho.
"Apakah tidak terlalu terburu-buru? Aku takut orang tuamu tidak setuju."
"Tenang, aku yang akan menjelaskan semuanya pada orang tuaku, dan juga orang tuamu."
Yunho tersenyum setelah mengatakan hal itu, kemudian ia menggenggam tanganku lagi. Aku merasa nyaman saat Yunho bersikap lembut seperti ini. Mungkin ia benar, aku harus memercayainya. Aku yakin kami akan baik-baik saja.
Setelah selesai makan, kami berjalan pulang. Udaranya sangat dingin. Ya karena sebentar lagi musim salju akan tiba. Berarti sebentar lagi natal ya? Aku harus membeli kado natal untuk Yunho.
Yunho menepuk pundakku. "Jae, kenapa kau tidak memakai alat itu?"
Aku melihat ke gambar yang ditunjuk Yunho. Ah, aku baru sadar kalau kami berada di depan sebuah klinik. Yunho menunjuk sebuah gambar alat bantu pendengaran. Sebenarnya aku sudah tahu, alat ini bisa membantu memaksimalkan pendengaran bagi orang-orang dengan gangguan pendengaran. Tapi aku sendiri tidak yakin jika orang tuli total sepertiku bisa terbantu dengan alat ini. Aku juga tidak pernah bertanya pada dokter.
"Aku sudah terbiasa menggunakan catatan, bahasa isyarat, dan membaca gerakan bibir orang lain. Jadi aku tidak terlalu membutuhkannya."
"Tapi bukankah akan menyenangkan kalau kau bisa mendengar suara lagi? Mendengar suaraku misalnya."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Aku malas membahas hal ini. Yunho mengejarku yang sudah jalan duluan. Aku tidak marah, hanya saja aku tidak suka jika Yunho membahas tentang telingaku lagi.
*End Jaejoong POV*
.
.
.
Jaejoong duduk dengan tegang di sebelah Yunho. Mereka berada di salah satu restaurant, bersama dengan kedua orang tua mereka. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Yunho mengundang orang tuanya dan orang tua Jaejoong untuk membicarakan masalah pernikahan.
"Ah, kau Yunho kan? Jaejoong banyak bercerita tentangmu." Heechul tersenyum kepada Yunho. Sementara orang tua Yunho yang memang tidak tahu apa-apa merasa agak kaget.
"Kau mengundang kami kesini untuk mengenalkan kekasihmu kan, Yunho? Jadi, kekasihmu..."
Yunho memotong pembicaraan ayahnya. "Dia kekasihku, Kim Jaejoog. Kami mengundang kalian kemari untuk mengumumkan sesuatu." Jeda sebentar. "Kami akan segera menikah."
Tentu saja pernyataan itu menyebabkan keterkejutan orang tua mereka. Jaejoong hanya bisa menunduk, tidak berani melihat orang tuanya dan Yunho.
"Tunggu dulu, bukankah ini agak terlalu mendadak?" tanya ayah Jaejoong. Ia memang menyetujui hubungan Jaejoong dan Yunho. Namun sepertinya ini terlalu cepat.
Yunho sudah mantap dengan keputusannya. Dan ia yakin Jaejoong setuju. Ia merasakan Jaejoong memegang tangannya erat. Ia yakin Jaejoong sedang ketakutan sekarang. Namun ia tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa mundur disini.
"Kami telah membicarakannya, dan memutuskan bahwa kami siap untuk menikah. Jadi aku mohon restu kalian." Ucap Yunho seraya berdiri dan langsung membungkuk. Jaejoong memahami apa yang Yunho katakan, kemudian ikut membungkuk bersama Yunho.
"M.. hon... res.. tu.." ucapnya tidak jelas.
Ibu Yunho bertanya. "Jaejoong, punya masalah pendengaran?" tebaknya tepat sasaran.
Kemudian ibu Jaejoong yang menjawabnya. "Iya, putra kami seorang tuna rungu."
Bertambahlah keterkejutan orang tua Yunho. Ibu Yunho berdehem sekali. "Sebenarnya, kami tidak begitu mempermasalahkan tentang kau yang berpacaran dengan laki-laki, walaupun akan lebih baik kalau kau berpacaran dengan seorang perempuan." Kemudian ia melanjutkan. "Tapi ia seorang tuna rungu, apa itu- tidak akan menjadi beban bagimu?"
Ucapan ibu Yunho membuat orang tua Jaejoong tersinggung. Yunho juga kesal setelah mendengar ucapan ibunya, tapi ia bersikap dewasa. Ia harus tenang.
"Aku tidak peduli dengan kekurangannya. Aku bisa melengkapinya. Aku akan menjaga dan melindunginya. Tentu saja aku tidak merasa Jaejoong sebagai beban hidupku. Karena aku mencintainya." balas Yunho tegas.
"Tapi Yunho, kau lihat sendiri. Ia hanya diam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Kau tidak akan bisa mengurusnya dengan baik."
Kali ini Heechul tidak bisa diam melihat ibu Yunho berkata buruk tentang anaknya. Ia berdiri dan bekata. "Yunho, maaf, tapi kami tidak bisa menerima pernikahan ini. Kami memang sangat setuju. Tapi jika orang tuamu tidak, itu akan melukai Jaejoong. Jadi kami menolak. Maafkan kami."
Ayah Jaejoong mengikuti istrinya. Jaejoong mulai panik melihat orang tuanya hendak meninggalkan tempat ini. Ia memberanikan diri.
"A-ayah... bu...tung..gu."
Orang tua Jaejoong berbalik, melihat anaknya yang masih berdiri di samping Yunho. Mereka terenyuh melihat anaknya tersenyum, namun matanya terlihat sedih.
*Jaejoong POV*
Orang tua Yunho memperhatikan bahasa isyarat yang kulakukan, tapi mereka terlihat bingung dan tidak mengerti. Aku membuat isyarat agar dimengerti ibuku, memintanya untuk menerjemahkan apa yang kukatakan agar orang tua Yunho mengerti.
"Ibu, ayah, maafkan aku..." ibuku mencoba menerjemahkannya.
"Aku bukanlah anak yang sempurna untuk kalian. Aku tidak bisa memberikan yang terbaik." Aku melihat ibuku mulai mengeluarkan air matanya.
"Aku- juga minta maaf pada Yunho dan orang tuanya. Karena aku tidak cukup baik untuk bisa mendampingi Yunho."
"Jae-" Yunho menahan tanganku,tapi aku melepaskannya. Aku harus mengatakan ini.
"Yunho dan aku, saling mencintai. Kami memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Tapi-" ibuku membaca isyarat yang kubuat, ia tidak menerjemahkannya dan malah berjalan ke arahku. Ia menangis dan memelukku erat. Aku juga menangis karena sedih. Ayahku dan Yunho yang mengerti apa yang kukatakan juga hanya bisa terdiam. Sementara kedua orang tua Yunho yang tidak mengerti berusaha meminta penjelasan dari putranya.
Yunho tersenyum miris, kemudian menerjemahkan. "Tapi aku tidak mau menjadi beban bagi Yunho. Aku akan berpisah dengannya."
.
+misamisa+
.
Aku masuk kantor seperti biasa. Berusaha tidak terlalu memikirkan hatiku yang terasa begitu perih. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus aku tunjukan saat bertemu Yunho nanti. Kemarin setelah mengatakan aku akan berpisah dengannya, Yunho tidak membalas apapun lagi. Aku dan orang tuaku juga langsung pulang.
Jujur aku masih sangat mencintai Yunho. Tapi aku tidak mau membuat Yunho bertengkar dengan orang tuanya hanya gara-gara aku. Dan lagi, setelah melihat ekspresi ibuku, aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku tersentak melihat Yunho ada di depanku. Ia menunggu di depan pintu masuk kantor. Aku harus bagaimana? Aku berusaha bersikap biasa saja dan berjalan masuk ke kantor. Tepat di depan Yunho, aku menatap ke arahnya. Namun Yunho tidak berkata apa-apa, dan hanya tersenyum.
"Selamat pagi." Ia membuat isyarat.
Aku cukup terkejut ia tidak marah karena apa yang kukatakan kemarin.
"Selamat pagi." balasku.
Ia menarik tanganku dan kami berjalan bergandengan tangan. Aku berusaha melepaskan tanganku, namun ia malah mengeratkannya. Saat kami tiba di ruangan divisi kami, ia mendudukanku di kursi kerjaku.
"Kau pikir aku akan menyerah hanya karena kau berkata seperti itu kemarin? Aku tahu kau masih mencintaiku. Jadi aku tidak akan melepaskanmu. Untuk urusan orang tuaku, aku akan membereskannya. Kau hanya perlu mencintaiku, dan itu sudah cukup."
"Bagaimana kalau mereka tetap menolak? Aku takut, Yun. Aku tidak ingin dibenci oleh keluargamu."
"Mereka tidak akan membencimu. Aku akan meyakinkan mereka untuk bisa menerima kekuranganmu. Kumohon, Jae. Percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu."
Aku menangis dan memeluknya. Untung saja saat itu sedang tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Ya, ia benar. Yang perlu kulakukan hanya mencintainya dan ia akan mencintaiku. Kami akan melewati ini bersama. Kami harus saling percaya.
Lagipula orang tua Yunho sepertinya baik. Hanya saja mereka tidak bisa menerima kekuranganku. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku paham, aku juga tidak bisa menerima kekuranganku pada awalnya. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, pasti mereka akan bisa menerima dan memahamiku.
*end JJ POV*
.
.
.
Wanita paruh baya itu berjalan pelan menuju ke rumahnya. Ia baru saja pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangganya. Wanita itu berhenti ketika ia melewati sebuah tempat komunitas bahasa isyarat. Ia teringat kekasih Yunho yang tidak bisa bicara. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Apa kemarin ia terlalu berlebihan?
Tanpa sadar wanita itu memasuki komunitas sekaligus tempat pelatihan bahasa isyarat itu.
.
.
.
Junsu mendengus ketika bel rumahnya berbunyi. Ia sedang asyik nonton tv ketika ibunya menyuruhnya membuka pintu.
"Iya sebentar." Junsu membuka pintu.
Terlihat seorang wanita paruh baya di depan pintunya.
"Permisi, apa, Kim Jaejoong ada?"
"A-ah, iya. Ada. Sebentar aku panggilkan."
Junsu langsung berlari ke kamar hyungnya. Ia bahkan belum mempersilakan wanita itu masuk.
"Siapa yang datang, Su?" Heechul menyusul ke pintu depan. Ia begitu terkejut melihat ibu Yunho datang ke rumahnya.
"Maaf mengganggu malam-malam." Ucap ibu Yunho sambil sedikit membungkuk.
"T-tidak apa-apa. Silakan masuk."
Jaejoong mendengus kesal ketika adiknya masuk dan mulutnya membuka menutup seperti ikan kehabisan nafas.
"Ada apa, Su?"
"Ada seorang wanita paruh baya yang mencarimu. Cepat ke bawah dan temui dia."
Jaejoong berpikir sebentar, kemudian ia berjalan menuju ruang tamu. Junsu mengekor di belakangnya. Jantung Jaejoong hampir copot ketika melihat ibu Yunho duduk di ruang tamu. Ibunya masuk dan membawakan secangkir teh untuk ibu Yunho.
Ibu Yunho tersenyum melihat Jaejoong, dan meminta Jaejoong duduk di hadapannya.
"Nyonya Kim, bisakah kau menerjemahkan ini untuk Jaejoong?" pinta ibu Yunho. Heechul mengangguk.
"Jaejoong-ah, maafkan atas tindakanku yang tidak sopan kemarin. Aku kaget karena Yunho tidak pernah mengatakan apapun soal kekasihnya, apalagi soal pernikahan. Jadi mungkin itu yang membuatku agak kasar. Aku minta maaf."
Jaejoong membaca isyarat yang dibuat ibunya, setelah menerjemahkannya dari ucapan ibu Yunho.
"Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Karena Yunho memang tidak dekat denganku maupun ayahnya. Karena kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku memang bukan ibu yang baik."
Jaejoong menggelengkan kepalanya sesaat setelah ibunya menerjemahkan kalimat terakhir.
"Anda sangat baik. Aku yakin. Karena anda bisa membesarkan Yunho hingga menjadi Yunho yang seperti sekarang."
Ibu Yunho tersenyum. "Aku sudah memikirkannya. Aku juga sudah membahas ini dengan suamiku, dan kami sepakat." Ibu Jaejoong menunggu kalimat selanjutnya. "Kami merestui pernikahan kalian."
Heechul terdiam. Ia merasa tangannya kaku. Ia begitu bahagia karena orang tua Yunho mau menerima kekurangan anaknya. Ia melihat ke arah Jaejoong yang tidak mengerti. Dengan gemetar, saking bahagianya, ia membuat isyarat untuk Jaejoong.
Jaejoong yang membaca isyarat ibunya membelalak tidak percaya. Ia menatap ibu Yunho yang masih tersenyum. Ia sangat bahagia. Sangat bahagia hingga tidak percaya ini adalah kenyataan.
Baik ibu Jaejoong, Junsu, dan juga Jaejoong semakin kaget ketika ibu Yunho membuat sebuah isyarat.
"Semoga kalian berbahagia."
.
.
.
TBC
.
.
.
Ehem...
Halo readers semua, maaf ya aku apdetnya lama banget *ditimpuk**udah setahun woi*
Aku sibuk sama urusan kuliah, jadi ga bisa apdet dalam waktu yang lama. Aku berada di semester yang membuatku rasanya ingin langsung menikah saja daripada harus mengerjakan tumpukan tugas yang seperti membelah diri itu :'( tapi untungnya, sekarang aku lagi liburan semester selama tiga bulan~ cihuuyy~ jadi aku bisa apdet fic yang pada terbengkalai, juga bikin fic baru.
Semoga masih ada yang menanti apdetnya fic ini :') semoga ga mengecewakan ya.
Sampai jumpa di chap selanjutnya~ (janji ga akan lama-lama apdet)
