Saya kembali lagi! Mungkin di Chapter ini kebanyakan Humor dan ada beberapa Pair seperti Papa Zola dan Mama Zila.
Arina Nee-chan: Wah, terima kasih banyak. ^_^ Keep it on :)
NauraCute15: Saya sudah coba buat yang agak panjangan untuk Chapter ini. Terima kasih ya. :)
sabtiasalsabila: Coba lihat Chapter 2 dan 3, ada lanjutannya kok ;)
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
(Sebuah kisah fiksi)
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 2: Sepotong masa
Hari Ahad adalah hari terbaik bagi kebanyakan orang. Namun hal ini tidak berlaku bagi Tok Aba, Kakek dari BoBoiBoy. Bagi seorang pengusaha seperti beliau, tiada libur untuk menghidupkan Kedai Kokotiam milik beliau. Dan inilah salah satu hal yang membuat BoBoiBoy merasa sangat malas untuk membantu Kakeknya di hari Ahad. Pagi itu Tok Aba masuk secara mendadak ke kamar BoBoiBoy yang saat itu penghuninya tengah tertidur pulas setelah melaksanakan Sholat Subuh satu jam yang lalu. Ochobot yang baru saja bangun langsung terlonjak kaget.
"Oh, hehehe. Hai, Tok Aba," ujar si robot kuning. "Atok nak bangunkan BoBoiBoy ke?"
"Ei, itu tugas kau lah. Korang ni kan satu bilik," gerutu lawan bicaranya. "Kau pun ikut-ikut tidur pulak tu."
Kedua mata biru laut milik Ochobot menyipit, seakan ia sedang menyeringai. "Hehe... Maaf, Tok. Saya akan bangunkan BoBoiBoy sekejap lagi."
Tok Abah mendesah. "Ye lah tu," gumamnya. "Nah, Kalau dia sudah bangun, suruh pergi ke Kedai Atok. Tahu kan kalau hari Ahad itu macam mana?"
"Baik, Tok," jawab Ochobot. Tok Aba tersenyum dan segera menghilang dari depan pintu sementara Ochobot melesat ke arah BoBoiBoy yang masih terkapar di atas sajadahnya.
"BoBoiBoy, bangun. Dah hari Ahad ni. Masanya kita bantu Atok kat Kedai," katanya seraya mengguncang-guncang tubuh anak lelaki pahlawan pulau Rintis itu. BoBoiBoy membuka matanya lalu menguap sebentar.
"Hoaaahhh... mengantuknya... " gumamnya lalu duduk. "Atok dah pergi kat Kedai ke?"
"Mestilah! Jom kau siap-siap. Lepas tu kita pergi ke Kedai Atok."
"Okey."
Tak lama kemudian, keduanya telah sampai di taman kota Pulau Rintis dimana Kedai Kokotiam berada. Seperti biasa tampak Gopal, si pelanggan setia berada di kedai tersebut. Pemuda keturunan India itu tengah asyik menyantap Special Hot Chocolate yang kemungkinan besar adalah hasil dari negosiasinya terhadap Tok Aba dengan janji 'bayar di kemudian hari' alias berhutang.
"Hai, Gopal!" sapa BoBoiBoy ramah. "Kau dah ada kat sini je."
Gopal mendengus. "Ish kau ni. Wajarlah kalau aku disini. Kan pelanggan setia. Ya kan, Tok Aba?"
"Ye lah tu. Pelanggan yang setia berhutang," jawab Tok Abah cuek. Gopal segera pasang seringai malu-malu.
"Tak lah, Tok. Nanti saya bayar, okey?"
"Bila?"
"Suatu masa kalau saya dah punya duit, Tok."
"Janganlah sering berhutang, Gopal. Tak baik buat kau nanti," gumam Ochobot seraya mendesah panjang.
"Hehehe, Terbaik..." kata BoBoiBoy senyam-senyum sembari mengacungkan jempolnya. "Jom lah Ochobot. Kita bantu Tok Aba."
Aktivitas di Kedai berjalan seperti biasa. Ying pun datang, begitu pula dengan Fang dan Yaya. Ada pula Papa Zola dan istrinya, Mama Zila. BoBoiBoy dan teman-temannya segera merapikan barang-barang Kedai begitu melihat pasangan Suami-istri itu tiba. Yah, tahu sendiri kan bagaimana reaksi Mama Zila kalau melihat barang-barang berserakan ataupun kurang rapi? Dia akan menjelma menjadi Makhluk yang mirip Godzilla! Dan tentu saja BoBoiBoy tidak mau hal mengerikan itu kembali terjadi.
"Nah, Encik Aba. Kebenaran dan Kekasihnya hendak order- ehhh, Dinda Mama nak order apa ni?" tanya Papa Zola.
Mama Zila meraih daftar menu dan membacanya. "Hmm... Saya nak order... ah, ya. Bagaimana kalau ni? Kek Cokelat Stroberi nampaknya sedap!"
"Baiklah. Encik Aba, Kebenaran pesan Kek Cokelat Stroberi satu," kata Papa Zola segera.
"Ei? Kanda Papa tak order ke?" Mama Zila heran melihat Suaminya hanya pesan satu menu saja.
Papa Zola tersenyum dan menepuk bahu Mama Zila. "Kebenaran tak perlu banyak makan. Cukup melihat Dinda makan sudah buat Kanda rasa kenyang."
"Aihh... Kanda bisa je..."
"Oh, Dinda... tak perlu tersipu... "
"Oh, Kanda..."
"Oh, Dinda..."
Kedua sejoli yang keluar dari Game itu saling membalas kata hingga mereka tidak sadar kalau orang-orang di sekitar mereka nyaris muntah-muntah melihat tingkah mereka yang kelewat romantis. Ya, terkadang ada juga pasangan yang seperti ini: Tidak peduli dimanapun mereka berada tetap saja bertingkah berlebihan, terlebih lagi di hadapan BoBoiBoy dan kawan-kawannya yang memang belum cukup umur untuk melihat hal seperti itu.
"Ei Cikgu Papa, sudah la tu!" protes Fang. Dia sudah membuang muka sejak Papa Zola dan Mama Zila saling membalas dengan panggilan sayang mereka.
"Betul tu," kata Yaya. "Kami kan budak kecik lagi. Tak baik buat benda ni depan kitorang."
"Ya loh. Nanti kalau kami tiru, macam mana wo?" tambah Ying.
"Ish ish ish... Tak patutlah, Cikgu," gumam BoBoiBoy seraya geleng-geleng kepala.
"KALIAN BERANI MENGGANGGU KISAH CINTA KEBENARAN?!" tukas Papa Zola dengan nada tinggi. "KALIAN AKAN DIBERI PEPERIKSAAN MATEMATIK SEMASA MASUK SEKOLAH NANTI!"
"Ei?! Apasal Cikgu Papa mengajar kitorang dekat Sekolah menengah nanti?" tanya Gopal heran. "Kitorang kan dah lulus dari Sekolah Rendah."
Papa Zola menyeringai. "Kebenaran tak kan pernah melepas pengawasan dari anak didiknya," ujarnya dengan nada heroik. "Maka dari itu, Cikgu pun mendapat amanah dari Akademik Pulau Rintis untuk MENJADI CIKGU PELAJARAN MATEMATIK, FISIKA DAN KIMIA KALIAN! HOREEEE! HOREEEEE!"
"YEEEEEYYYYY!" Yaya dan Ying bersuka ria mendengar itu. Mereka pun tahu kalau Fisika dan Kimia banyak hitung-hitungnya. Apa sih yang tidak disenangi oleh kedua saingan juara kelas dari SD itu selain pelajaran-pelajaran seperti itu?
Lain perempuan, lain laki-laki. Sementara kedua teman perempuan mereka berjingkrak riang, ketiga anak laki-laki itu- BoBoiBoy, Gopal dan Fang- Mau tidak mau menganga hebat setelah mendengar Info dari guru Matematika mereka sejak SD itu.
"TIDAAAAAAAAKKKKKKKKK!"
Hari telah beranjak sore. BoBoiBoy dan kawan-kawannya membantu Tok Aba membereskan Kedai. Ying dan Yaya membersihkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar Kedai dengan semangat. BoBoiBoy, Gopal dan Fang- Akibat pemberitahuan 'mengerikan' dari Papa Zola tadi- bermuram durja sembari membereskan barang-barang Kedai.
"Seram betul Cikgu Papa kalau nanti jadi ajar kitorang," kata Fang lesu. "Mana ada tambahan pula macam Fisika dan Kimia pun."
"Haiya, jangan sedih wo. Nanti saya dan Yaya akan ajar korang!" tukas Ying senang.
Yaya mengangguk. "Kita kan kawan. Kena saling bantu lah," katanya ramah. "Nanti kita belajar sama-sama di rumah aku. Mesti seronok! Korang juga boleh cicip Biskut aku. Aku punya banyak di rumah! Korang mesti suka!"
Teman-temannya langsung memasang tampang ngeri begitu mendengar kalimat Yaya tadi. Apa lagi kalau bukan Biskuit Yaya yang oleh pembuatnya pasti terasa enak sekali namun bagi orang lain terasa bagaikan jelmaan Monster?
"Ehh... Tak pe lah, Yaya. Kau tak perlu susah-susah macam tu," ujar BoBoiBoy sungkan. "Betul kan, Gopal?"
"Nah, betul tu," balas Gopal sambil cengengesan. "Hehehe..."
"Alahhh..." ujar Yaya sedih. Tiba-tiba ia menoleh ke arah Ochobot yang tahu-tahu menepuk bahu BoBoiBoy.
"BoBoiBoy, kau lupa ke kalau kita nak bincang ke Atok pasal Mimpi aku semalam?" tanyanya.
BoBoiBoy menepuk kepalanya. "Alamak! Aku terlupa lah! Hehehe... Sori, Ochobot. Selepas beres Kedai ni, kita bincang ke Atok."
"Aihh... macam sama pun. Pelupa kau tak hilang-hilang juga," gerutu Ochobot begitu melihat 'Sindrom Amnesia' milik BoBoiBoy kambuh lagi.
Mereka semua pun selesai membereskan Kedai Kokotiam dan pulang ke rumah BoBoiBoy, membuat Tok Aba terheran-heran.
"Wah! Tumben korang datang kat sini. Ada perkara elok ke?" tanyanya ramah saat melihat Ying, Yaya, Gopal dan Fang di ruang tamu bersama Boboiboy dan Ochobot.
"Ochobot nak bincang ke Tok Aba pasal mimpi dia," kata Fang. "Kami jadi penasaran, jadi kami juga nak dengar."
"Mimpi apa kau, Ochobot? Pasal Adu Du ke?" Tanya Tok Aba.
"Tak. Bukan itu, Tok," balas Ochobot. "Mimpi saya pelik sangat. Saya nampak tiga perempuan dalam mimpi saya. Ada Ibu Bu, Rosaline dan Ashrlati."
Tok Aba dan yang lainnya melongo mendengar itu. Kalau Ibu Bu, mereka sudah tahu tentang Ibu dari Adu Du itu. Tapi hubungannya dengan dua perempuan lainnya yang disebut oleh Ochobot cukup membuat mereka bingung.
"Apa kau cakap ni, Ochobot? Siapa pula Rosaline dan Ashrlati tu?" tanya Gopal.
"Kalau tak silap, Rosaline tu ialah salah satu daripada Ras Alien makhluk kelelawar," jelas Ochobot. "Sebahagian dari mereka ialah jahat dan penampilan sebahagian daripada mereka, macam nama ras mereka, nampak macam makhluk setengah kelelawar."
"AAHHH!" Jerit Gopal yang memang takut pada hantu." Macam hantu pontianak ke?"
"Tak. Tak la hodoh macam pontianak pon," lanjut si robot bola. "Mereka dilukiskan punya sayap kelelawar. Dan peliknya lagi, beberapa dari mereka ada kelainan genetik dan boleh sedut energi makhluk lain, termasuk manusia!"
"AAAAAAAAAHHHHHH!" Gopal sudah lari tunggang-langgang keluar dari rumah BoBoiBoy dan melesat menuju rumahnya sendiri sementara teman-temannya memandang dengan ekspresi Sweatdrop.
"Uhh... Okey, sambung maklumat kau, Ochobot," kata Yaya.
"Kejap," potong BoBoiBoy. "Tadi Ochobot kata Makhluk Kelelawar tu boleh sedut energi orang. Macam mana cara dia buat benda tu?"
Ochobot terkejut. "Ehhh... Ummm... saya ragu boleh ke cakap benda ni dekat korang." katanya gugup.
"Ayolah, Ochobot. Penasaran sangat kitorang ni," bujuk Fang.
"Bukan tu. Tapi cara diorang menyedut energi tu tak lazim. Macam-"
"Macam? Macam apa wo?" tanya Ying mendesak.
"Mereka boleh sedut tenaga guna sentuhan," ucapan Ochobot gugup, membuat Tok Aba menghela nafas panjang.
"Kau ni, tak payah buat saspen sangat," ujar beliau agak jengkel.
"Hehehe... maaf, Tok. Tapi maklumat Makhluk Kelelawar yang ada kelainan genetik memang macam tu," jelas Ochobot lalu menoleh ke BoBoiBoy dan teman-temannya. "Yang jelas mereka yang ada kelainan genetik boleh dapat energi dari mangsa mereka lewat sentuhan, tu je."
"Hmm... Okey," desah BoBoiBoy. "Kalau Ashrlati tu Makhluk macam apa?"
"Kalau tak silap, dia ialah salah satu Motherboard jaringan Sfera kuasa yang ada wujud alternatif Ultra Humanoid." Ochobot melanjutkan penjelasannya. "Wujud alternatif Ultra Humanoid ialah hasil rekaan upgrade A.I. yang mutakhir dari Sfera Kuasa. Walaupun begitu, tak semua Sfera Kuasa ada program wujud alternatif ni. Mereka ada sistem peniru emosi dan mereka kadang punya kuasa super."
"WOW! Macam kuasa kitorang ke?" ujar Yaya kagum.
"Kalau aku boleh jumpa mereka, mereka boleh bagi dan ajar aku kuasa mereka," balas Fang bangga. "Dengan begitu, aku boleh jadi Superhero yang kuat dan aku kan semakin Populer, HAHAHAHA!"
Krikk... Krikk... Krikk...
"Hehehehehe... "
Krikk... Krikk... Krikk...
"Apa pandang-pandang?" tanya Fang sebal. "Macam tak de kerjaan pun."
"Ish kau ni. Kita kan bincang pasal mimpi Ochobot, bukan pasal kepopuleran kau!" sembur BoBoiBoy.
"Oi! Aku ni memang lagi Populer daripada kau!" balas Fang kesal. "Kau tak de apa-apanya, DASAR PELUPA!"
"Kau pun sama je, ANGGUR KACAMATA!"
"Hei, sudah! Tak baik kita saling mencarut macam tu." Yaya melerai mereka dibantu oleh Ying, sementara Tok Aba dan Ochobot terpaksa Sweatdrop melihat mereka.
"Tak de habis pun diorang be-rival tu," gumam Ochobot bosan. Sekonyong-konyong ia melihat sebuah cahaya melintas di langit, membuatnya seperti mengingat sesuatu.
"Eh, tunggu... itu..."
'Itu-'
Di sebuah taman kecil, tampak dua anak muda tengah berjalan-jalan di sana. Satu anak adalah pemuda berambut pirang, bermata biru laut dan memakai baju serba kuning dan hitam. Tubuhnya tidak tinggi dan tidak pula pendek. Penampilan luarnya mengatakan dia seperti sebuah android. Sementara anak di sebelahnya adalah seorang gadis dengan pakaian serba pink dan abu-abu. Rambutnya bewarna putih pendek hingga sebahu. Wajahnya manis. Tinggi badannya sebahu pemuda di sampingnya. Sepasang sayap kelelawar kecil menempel di punggungnya.
"Milyra, kau tak temankan Mak kau?" Tanya si pemuda.
"Tak, Bunda jarang balik ke rumah lagi," kata gadis yang bernama Milyra itu. "Lagipun dia benci aku. Aku kan tak de kuasa apa pun. Tak lah macam Adik aku yang punya kebolehan meneliti dan faham bahasa haiwan."
"Tu je? Kalau macam tu, saya boleh bagi kau kuasa!" tawar si pemuda cilik.
Milyra terkejut. "Ehhh- Ochoboy, tak payah pula kau bagi aku kuasa. Nanti aku repotkan kau je."
Pemuda cilik yang bernama Ochoboy itu menggeleng. "Tak pe. Saya akan bagi kau kuasa, biar Ibu kau sayang kau balik."
Tubuh Ochoboy bersinar, semakin lama semakin meyilaukan. Milyra memicingkan mata. Ia membuka matanya setelah cahaya itu lenyap.
"Nah, sekarang kau pun dah punya kuasa," kata Ochoboy. Milyra memandang tubuhnya sendiri.
"Apa kuasa aku?"
"Ehh... Tak tahu. "
"Ish, kau kan yang bagi aku kuasa! Masa tak tahu?"
"Cari lah."
Milyra cemberut. "Kau ni macam ada hal je, Ochoboy," desahnya panjang. Tiba-tiba ia melihat seekor Alien Kecoa. Nalurinya sebagai perempuan memaksanya untuk segera menjerit.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Spontan Kecoa itu terlempar jauh dari Milyra akibat gelombang suara Longitudinal dashyat dari gadis ras Alien makhluk kelelawar itu, membuat Ochoboy harus menutup kedua telinganya agar tubuhnya tidak terpental seperti kecoa tadi. Untung saja ia hanya terlempar sedikit dari tempat Milyra berdiri.
"Eh?! Ochoboy, kau tak pe?" Milyra yang panik langsung terbang mendekati pemuda yang terkapar itu.
"Aduh... suara kau tu keras sangat, bahkan sampai buat baling saya!" kata Ochoboy sambil meringis kecil. "Tapi itu ternyata Kuasa kau! Hebat la! "
"Eh, ya ke? Wahahaha! Terima kasih banyak, Ochoboy!" Tanpa dikata, Milyra menjerit senang dan hendak menepuk bahu Ochoboy yang baru saja hendak bangun. Tapi sebelum gadis itu sempat menyentuhnya, Ochoboy langsung berguling ke samping untuk menghindari jamahan Milyra, membuat gadis cilik itu kaget sekaligus heran.
"Ei, tak payah lah kau tepuk-tepuk aku," tukas Ochoboy malu. Milyra mengerutkan kening.
"Ish, kau ni kenapa, Ochoboy? Kan kau kata kita ni kawan."
"Hehehe... Sori, Milyra. Tapi aku malu dipeluk lawan jenis tau. Lagipun kau tu salah satu Alien Makhluk Kelelawar yang ada kelainan genetik. Takutnya tenaga aku kau sedut hingga habis tanpa kau sedari."
"Oh, iya. Hehehe... Maaf, Ochoboy."
"Tak pe, Milyra. Aku pun fahamkan kau. "
Keduanya pun tertawa.
"Tak pe, Milyra. Aku pun fahamkan kau. "
Ochobot tersentak. Cahaya di langit itu pun melesat pergi setelah ia memandang semua itu, Dua anak muda itu...
Dia terus memicingkan kedua mata robot bewarna biru laut miliknya sembari memandang cahaya yang melintas itu hingga lenyap dari pandangannya.
'Milyra... Aku harap kamu baik-baik sahaja.'
Bersambung ...
Akhirnya bisa ngelanjutin juga, hehehe ... maaf kalau agak lama ya. :) Silahkan tambahkan Review untuk chapter ini serta kritik dan sarannya ...
Tetap setia menanti kelanjutannya ya ... Love you all, Dear Readers ^/^
