Hai Readers. Chapter baru telah diliris! Maaf kalau lama. Soalnya lagi banyak urusan di Kampus, hehehe ... mohon dimaklumi ya.

Oh iya. Di Chapter ini bakal ada sedikit Misteri dan pertarungan. Lebih panjang dari Chapter sebelumnya. Ada juga Adu du dan koncro-koncronya. Apa yang akan mereka lakukan ya? Silahkan baca Chapter ini untuk tahu kelanjutannya :)

Bakal banyak Typo, hehehe ... maaf kalau garing ya.

NauraCute15: Aduhh ... Pusing sangat ... jangan guncang-guncang aku lha. Baca cerita ni je, hehehe ... terima kasih ^_^


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

(Sebuah kisah fiksi)

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

.

Bagian 3: Milyra

Malam itu sangat tenang, terutama di Markas Kotak milik Adu Du yang berada di tempat pembuangan sampah dimana keempat penghuninya: Adu Du, Probe, Komputer dan Mesin pintar pemotong rumput S8000 alias 'Kambing' sedang tertidur pulas. Sebuah cahaya lewat di atas markas mereka dan mendarat di dekat tempat itu.

DUUUAAAAARRRRR!

"ALAMAK! ENCIK BOS, BANGUN! ENCIK BOOOOSSSSS!" Probe terbangun dengan panik seraya mendekati ranjang Adu Du dan mengguncang-guncang tubuh kecil Atasannya. Adu Du yang biasanya susah dibangunkan kali ini sukses bangun dengan mata mengantuk.

"Apasal kau bangunkan aku tengah malam ni? Aku nak tido lah!" gumamnya kesal.

"Ish Encik Bos ni! Aku bangunkan Encik Bos sebab ada sesuatu yang meletup kat luar!" kata lawan bicaranya panik.

"Meletup? Gunung Api meletup pun," ujar Adu Du malas.

"Duhh- Encik Bos! Baik kita cari tahu lah!" balas Probe seraya menarik tangan Adu Du yang masih dalam keadaan setengah sadar. Keduanya tiba di tempat pendaratan cahaya itu. Melihat itu, Rasa kantuk Adu Du hilang seketika.

"Benda apa ni?" tanyanya heran. Tahu-tahu Probe melesat ke belakang punggungnya.

"E- Encik Bos, jangan-jangan benda tu... HANTUUUU!"

"Oi! Kau ni penakut betul! Hantu itu tak de!"

"Ba- Baik, Encik Bos..."

Mereka mendekati cahaya itu yang akhirnya meredup, menampakkan sesosok Makhluk disana.

"Aduhh... Kaki aku... Sakit lah..." isak sosok itu. Adu Du dan Probe mendekat. Sosok itu adalah seorang gadis muda berambut putih perak. Dia memakai pakaian yang bisa dibilang cukup Sopan bewarna Pink dan Abu-abu. Dia memiliki Ekor kecil. Tampak dua buah sayap kelelawar bewarna keabu-abuan yang berukuran sedang menempel di punggungnya. Ia terkejut dengan kedatangan Adu Du dan Probe.

"Siapa kau ni?" Tanya Adu Du." Penampilan kau macam Manusia, tapi nampak bukan Manusia sangat lah."

Gadis itu tersenyum kecil. "Ah, sori. Aku mendarat darurat dekat sini tadi," katanya sendu. "Kaki aku luka selepas tu. Maaf ye kalau aku ganggu masa rehat kau, Adu Du."

Adu du tersentak. Gadis itu tahu namanya?

"Ei, kenapa awak boleh tahu nama Encik Bos?" Probe terheran-heran lalu menatap Adu Du. "Encik Bos kenal pompuan ini ke?"

"Ehhh- nampaknya aku tak ingat pun," kata Adu Du. "Tak pe. Baik kita bawa dia ke Markas Kotak dan sembuhkan kaki dia."

"Ah, terima kasih," ucap si gadis senang.

Di Markas Kotak, Adu Du, Probe dan Komputer berusaha menyembuhkan Kaki si Gadis itu. "Hmm- nampaknya tulang kering dia ada yang bersilang, Encik Bos," lapor Komputer setelah men-scan kaki sang gadis dengan sinar X.

"Tulang kaki kanan kau tergeser sikit," kata Komputer. "Tunggu sekejap ye. Encik Kambing!"

Si Mesin pemotong rumput S8000 alias Kambing datang lalu menatap ke arah komputer.

"Mbee... Mbeee... Mbee?" (Kenapa kau panggil aku?) Tanya Kambing.

"Bantu aku geser tulang kaki dia guna operasi." jawab komputer lalu menoleh ke arah Adu du dan Probe. "Encik Bos dan Probe, tolong keluar buat sekejap."

"Ei? Tak boleh tengok ke?" tanya Probe kaget.

"Tak. Korang kan lelaki. Tak boleh tengok operasi lawan jenis lah," gerutu Komputer.

"Ya dah. Jom kita keluar, Probe. Pasal pompuan lah ni." kata Adu Du.

" Lha, Komputer tu pompuan ke?"

"Aku yang program gender dia tu. Dia pompuan la."

"Tapi... Encik Kambing tu betina juga ke?"

"Dia Jantan, tapi dia kan haiwan je. Mana boleh sukakan Makhluk lain? Jenis dia pun. Dah lah, Probe. Kita keluar."

Si gadis pun menjalani operasi tulang kakinya yang sedikit tergeser. Satu jam kemudian, operasinya akhirnya selesai dengan sempurna.

"Wah... kaki aku dah boleh jalan lagi!" ucap gadis itu gembira. "Terima kasih banyak, Komputer! Terima kasih, Encik Kambing!"

Komputer pun tersenyum. "Sama-sama," katanya pelan.

"Mbeee, Mbeee!"(Sama-sama juga) balas Kambing gembira.

Adu Du dan Probe pun masuk ke ruangan itu.

"Nah, amacam dengan kaki kau? Dah baik ke?" tanya Adu Du kemudian.

"Lagi baik. Terima kasih ye," kata si gadis. "Kau memang hebat punya Komputer dan Kambing macam ni, Adu Du. Boleh ubati aku!"

"Humm, Ye lah, ye lah," gumam si Alien pendek berkepala kotak hijau. "Nah, Aku punya satu soalan buat kau. Macam mana kau boleh tahukan nama aku?"

Gadis di depannya terkejut. "Kau tak kenal aku?" tanyanya heran. "Aku ni salah sorang kawan masa kecil kau lah, Adu Du! Macam mana kau boleh tak ingat?"

"Ehh... Entah?"

"Ish kau ni, Adu Du. Mama kau kan berkawan baik dengan Bunda aku."

"EH?! MAMA AKU BERKAWAN DENGAN BUNDA KAU?!"

Probe mendecih. "Ish, ish, ish... nampaknya Encik Bos ketularan penyakit pelupa milik BoBoiBoy ni," gumamnya sedih. "Kawan sendiri pun tak ingat."

BLETAK!- Gelas besi milik Adu du tahu-tahu sudah mengenai kepala piring Probe, membuatnya langsung dalam posisi terbalik.

"Aduduhh... sakit, Encik Bos, huhuhu..." rengek Probe.

"Tak guna!" Pekik Adu Du kesal lalu menatap si Gadis. "Apa maksud kau dengan perihal Mama aku berkawan dengan Mak kau?"

Si gadis mendesah. "Ye lah tu. Makcik Bu tu teman Bunda aku: Rosaline. Payah la kau ni, Adu Du."

"Ah, sudah! sudah!" Adu Du benar-benar kebingungan. "Kalau macam tu, cepat bagi tahu nama kau! Mungkin sahaja aku boleh ingat kalau kau bagi tahu nama kau."

"Okey. Nama aku Milyra."

"Milyra?"

Adu Du berusaha mengingat-ngingat. Namun hasilnya nihil. "Tak, aku tak ingat," ujarnya menyerah.

"Hmm, amacam kalau ni: Nama penuh aku ialah Milyra Sparklouise. Ada hint, tak?"

Adu Duit kembali menggeleng. "Tak. Aku tak ingat kalau kita berkawan baik."

"Kau ni-" ujar Milyra dengan tatapan Sweatdrop.

"Oh, iye. Kenapa kau boleh mendarat kat halaman tadi?" Tanya Adu Du kemudian." Kau kabur dari rumah ke?"

Milyra tersenyum kaku." Betul. Aku kabur dari rumah. Sebabnya pun kerana-"

"Sebab apa? Sebab apa?" Desak Probe.

"Ehh... akupun tak ingat, Hehehe."

BRUKK!- Adu du dan koncro-koncronya menjatuhkan diri mereka ke lantai setelah mendengar jawaban Milyra.

"Kau ni macam sama pun, tak ingat pulak," desis Adu Du sebal. "Kau tadi kata aku ni pelupa. Dan faktanya pun kau pulak yang pelupa. Macam tak betul je."

"Hehehe... sori," gumam Milyra sambil cengengesan ."Oh, ya. Sebab korang semua sudah berbaik hati buat aku, maka aku pun akan tolong korang! Aku akan jadi member daripada Genk korang!"

Adu Du tersentak kaget." Eh?! Kau nak jadi member Genk aku?!"

"Yup!" angguk Milyra yakin. "Sebagai bukti balas budi kerana korang telah berjaya sembuhkan kaki aku, aku akan jadi member daripada Genk kau. Senang tak?"

"Hmm- kau punya kemampuan apa?"

"Ha, rilek je," kata Milyra dengan sikap percaya diri. "Jom tengok ni. KUASA MANIPULASI GELOMBANG SUARA! HIIIIAAAAAAAHHHHHH!"

Milyra berteriak keras-keras ke arah dinding batu di hadapannya. Serta merta dinding itu berlubang dan tercipta sebuah lorong di sana.

"WOW! HEBAT!" Probe memekik senang melihat kekuatan Milyra itu.

Adu Du mendesis remeh. "Tu je? Tak cukup kesan."

"A- APA?" Mata pink Milyra tampak berkaca-kaca. Tampaknya ia hendak menangis. "JAHAT! ADU DU JAHAT! HUWAAAAAA! HUWAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Seluruh ruangan itu bergetar hebat, seperti gempa bumi. Rupanya akibat tangisan Milyra. Adu Du jadi panik dibuatnya.

"Eh, sudah! Sudah, Milyra. Hehehe... Aku hanya gurau tadi," katanya seraya menepuk-nepuk punggung Milyra, menenangkan gadis itu. Tangis Milyra mereda seketika. Ditepisnya tangan Adu Du dari punggungnya.

"Huh! Jangan kau cuba remehkan aku!" Ucapnya kesal. "Kau nak aku sepahkan telinga kau guna kuasa suara aku, Heh?" ancamnya.

"T- Tak! Tak nak lah." ujar Adu du cepat-cepat.

"Bagus," kata Milyra senang. Ia lalu merentangkan kedua sayap kelelawarnya dan terbang ke atas.

"Bukan cuma itu. Aku pun boleh terbang! Nah, hebat tak?" tanyanya gembira. Adu Du and the Gank yang melihatnya hanya bisa melongo dengan iringan suara jangkrik yang entah darimana datangnya.

"Ye lah tu. Dia punya sayap, mestilah boleh terbang." desis Probe. "Tak patut, tak patut..."

"APA KAU CAKAP?!"

"Ehh! tak de, tak de..."

"Huh! kau ni macam ada hal je, Robe." dengus Milyra.

"Hei, Nama dia Probe lah!" tukas Adu Du. "Kau ni macam Bago Go je, panggil-panggil nama Probe guna panggilan Robe."

"Dah lah. Yang jelas aku dah jadi member daripada Genk kau, Kan? Kan?" ujar Milyra gembira seraya menguncang-guncang bahu Adu Du. Tiba-tiba saja Adu du merasa tubuhnya melemah seakan energinya terserap keluar.

"Ei, lepaskan!" pekiknya segera sembari mendorong Milyra dari tubuhnya. "Apasal badan aku macam lemah sikit masa kau sentuh aku tadi?"

Milyra menggaruk belakang kepalanya seraya cengar-cengir. "Oh, iya. Hampir lupa! Aku kan salah satu Alien ras makhluk kelelawar yang ada gen pelik, jadi boleh sedut tenaga kau kalau kita bersentuhan lah, hehehe..."

"Alien makhluk kelelawar? Apa tu?" Probe menggaruk kepala pipihnya tanda bingung.

"Komputer, dapatkan maklumat Alien makhluk kelelawar sekarang!" perintah Adu du.

"Baik, Encik Bos."

Tak lama kemudian, muncul sebuah gambar wanita makhluk kelelawar di layar Komputer, membuat Adu du dan Probe terlonjak. Pasalnya gambar itu terlihat sangat mengerikan.

"Oi, Komputer! Hapus cepat gambar ni! Pelik sangat!" jerit Adu Du.

"Ehh... tapi Encik Bos, ini memang la lukisan ilustrasi alien makhluk kelelawar."

"Tapi lukisan ni seram! Cepat hapus!"

"Uhh... Baik, Encik Bos."

Gambar itu pun lenyap, digantikan wajah Komputer yang memandang bingung.

"Kenapa makhluk kelelawar di gambar tu seram sangat?" tukas Adu du berang bercampur kaget.

"Tapi ada sebahagian Alien makhluk kelelawar macam tu, Encik Bos," balas Komputer gugup.

Adu Du mendengus." Dah tu, apasal dia tak? Dia macam tak seram," semburnya seraya menunjuk Milyra.

"Kan aku kata sebahagian je, bukan semua." kata Komputer kesal. "Oh, ya. Selain penampilan yang pelik, mereka juga boleh terbang dan sedut energi orang guna sentuhan fisik. Semakin sering kena sentuh, maka energi mangsanya akan habis. Beberapa dari mereka jahat. Awalnya mereka ialah makhluk kelelawar biasa, tapi disebabkan suatu hal, sebahagian besar dari mereka jadi macam makhluk abominasi yang boleh sedut tenaga makhluk lain. Asumsi saya ialah ada suatu penelitian yang buat mereka jadi macam tu. Dan boleh jadi beberapa dari mereka punya kuasa pelik sebab efek samping dari penelitian itu."

"WOOOWWW! HEBAT!" Pekik Probe. "Macam kuasa Gelombang tadi ke?"

Milyra menggeleng. "Itu sebab aku dibagi kuasa je," katanya sedih. "Dari lahir aku tak punya kuasa apa pun. Selepas dibagikan kuasa, baru aku punya kuasa sebenar."

"Eh? Siapa yang beri kau kuasa?"

"Hmm... aku pun tak ingat. Sori."

BANG!- Adu Du segera Jawsdrop.

"Kau ni macam ada hal je," ucapnya kesal. "Dah, dah. Kerana kau sudah jadi member Genk aku, Aku ingin kau perbuat sesuatu!"

"Apa tu?"

Adu Du tersenyum. "Aku ingin kau ambik Bola Kuasa dari tangan seorang budak bernama BoBoiBoy!"

"Bola Kuasa? BoBoiBoy? Apa pulak tu?" Tanya Milyra bingung, membuat Adu du menjatuhkan dirinya lagi.

"Kau ni... macam tak kena je." desahnya pasrah.


Hari demi hari berjalan seperti biasa. Tak terasa dua hari lagi BoBoiBoy dan kawan-kawannya akan segera masuk belajar di Akademi Pulau Rintis. Tampak mereka telah keluar dari Toko Buku sembari menenteng belanjaan mereka yang berupa beberapa buah buku tulis, beberapa alat tulis dan sebuah tas sekolah. Lain halnya dengan Gopal yang punya tambahan ekstra dalam belanjaannya: Sekantung besar Bola-bola Cokelat.

"Ish kau ni Gopal. Makanan pulak yang kau beli," kata BoBoiBoy pada sahabatnya itu.

"Betul tu," kata Ochobot. "Baik kau guna duit beli Bola-bola Cokelat tu buat bayar hutang kau kat Tok Aba!"

"Hehehe." Gopal balas senyum memalukan. "Nanti lah. Aku lapar ni."

"Hmph! Tu lah kau. Makan terus yang difikir," dengus Fang cuek. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah Kedai di pinggir Jalan. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah palang Kedai itu yang bertuliskan kalimat 'Kedai Donut Lobak Merah'. Tanpa dikomando, Fang sudah melesat ke arah Kedai yang menjual makanan favoritnya itu.

"DONUT LOBAK MERAAAAHHHH! AKU DATAAAANNNNGGGGGG!" pekiknya gembira sementara teman-temannya memandang dengan tatapan sweatdrop.

"Cih, Cakap tak serupa bikin," tukas Gopal menyindir Fang.

"Hei, tak baik bicarakan orang di belakang dia." kata Yaya. "Kan Muka dua. Tak elok lah."

"Wah, terbaik lah Yaya." Puji BoBoiBoy. Dia selalu mengagumi kata-kata Yaya yang bijak.

"BoBoiBoy memang sahabat terbaik! Nanti aku buat Biskut spesial untuk kau! Kau mesti Suka!" ujar Yaya senang.

Mendengar itu, BoBoiBoy segera nyengir hambar. "Ehh... tak payah la susah-susah, Yaya. Hehehe..."

"Ei, Tengok tu! Langit dah berwarna jingga ma," kata Ying tiba-tiba. "Jangan lama-lama. Nanti kita kemalaman wo."

"Betul. Selepas Fang beli Donut, kita balik," tukas Ochobot. "Banyak bahaya di malam hari. Jadi lagi baik kalau kita balik sebelum malam tiba."

Setelah Fang membeli Donut, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Yaya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Tok Aba dan Boboiboy melambaikan tangannya ke arah BoBoiBoy dan Ochobot.

"Selamat malam, BoBoiBoy dan Ochobot," katanya sebelum masuk ke dalam rumahnya. "Salam dekat Atok kau ye. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab BoBoiBoy sembari melambaikan tangannya pula. Setelah itu, dia membuka pintu rumah yang secara kebetulan tidak terkunci.

"Assalamualaikum. Atok, BoBoiBoy dan Ochobot dah pulang ni."

Krikk... Krikk... Krikk...

Rumah itu tampak begitu sepi. BoBoiBoy memeluk Ochobot erat. Entah mengapa sebuah firasat buruk melintas di benaknya. Mungkin saja Tok Aba sedang tidur. Sayangnya tidur dengan pintu yang tidak terkunci bukanlah sesuatu yang lucu. Lagipula Tok Aba selalu memastikan semua Pintu terkunci kalau beliau hendak beristirahat.

"Nampaknya Atok tengah berehat." kata Ochobot. "Baik kita jangan ganggu."

"Hmmm... tapi tak de salahnya kalau kita tengok Atok dekat bilik," ujar BoBoiBoy seraya menaruh barang-barang belanjaannya di atas kasurnya. "Jom lah Ochobot. Kita tengok bilik rehat Atok."

Mereka tiba di depan pintu kamar Tok Aba. Dengan hati-hati BoBoiBoy mengetuk pintu itu.

"Atok, Atok kat dalam ke? BoBoiBoy dan Ochobot dah balik ni."

Tidak ada jawaban. BoBoiBoy semakin merasa khawatir. Biasanya kalau Tok Aba tengah tertidur pasti terdengar suara dengkuran beliau. Tapi kali ini kamar di belakang pintu tampak sunyi senyap.

"Haeehh... kan aku dah cakap, Tok Aba tengah berehat," gumam Ochobot malas. "Jom kita siap-siapkan barang kau buat ke sekolah eso-"

Kalimatnya terpotong begitu BoBoiBoy membuka pintu kamar Tok Aba. Alangkah terkejutnya mereka begitu melihat keadaan kamar beliau yang begitu berantakan sementara tubuh Tok Aba terkapar dengan posisi yang tidak bisa dibilang 'elit' di atas lantai kayu.

"ATOK!" Pekik BoBoiBoy panik. "Ochobot, kenapa Atok jadi macam ni?"

Ochobot segera men-scan tubuh Tok Aba. "Nampaknya Atok tengah pingsan. Tenaga dia berkurang sangat. Tapi yang pelik, tak de satupun bekas pertarungan dekat badan dia," katanya heran. "Jom kita naikkan badan Atok ke atas kasur, BoBoiBoy."

Setelah menaikkan tubuh Tok Aba ke atas pembaringannya, BoBoiBoy dan Ochobot segera membereskan kamar Kakeknya yang kini mirip dengan Kapal pecah. Setelah semuanya beres, mereka lalu berdiskusi di ruang tamu.

"Ini salah kau kerana lagi pilih ikut jalan-jalan dengan aku dan kawan-kawan kita ketimbang jaga Atok di rumah!" tuding Boboiboy pada Ochobot. "Kalau sahaja kau duduk dengan Atok kat rumah, mestilah tak de kejadian macam ni."

"Hei, aku pun juga nak jalan-jalan ke Toko Buku lah. Bosan duduk dekat rumah terus tau!" kata Ochobot membela dirinya. "Lagipun kita tak tahu kalau ada kejadian macam ni!"

"Ye lah, ye lah. Dah nasib pun," kata BoBoiBoy mengalah. "Tapi, kenapa Atok boleh pengsan macam tu? Tadi kau kata tak de bekas luka apapun di tubuh dia Kan?"

"Betul. Pelik sangat." balas Ochobot bingung." Apa mungkin-"

Ding-Dong!- Seseorang menekan bel pintu rumah Tok Aba dan Boboiboy.

"Biar aku yang buka," tawar Ochobot sembari terbang ke arah pintu dan membukanya. Sekonyong-konyong sepasang tangan terjulur hendak menangkap Ochobot. BoBoiBoy yang melihat itu tersentak dan segera melompat, sukses menarik Ochobot dari ambang pintu agar tidak diambil oleh pemilik kedua tangan yang berada di depan pintu itu.

"Siapa tu?" tanya BoBoiBoy heran. Dia mengangkat wajahnya ke arah pintu. Dilihatnya sebuah sosok terbang menjauh dari pintu dan tampaknya hendak kabur.

"HEI KAU! BALIK SINI!" pekik Boboiboy seraya menuding sosok itu. "BOBOIBOY HALILINTAR!"

Ia berubah ke mode Halilintar dan menoleh ke arah Ochobot. "Kau tunggu sini. Biar aku yang kejar dia."

"Tak! Tak nak! Aku nak ikut," kata Ochobot bersikeras.

"Kalau kau tertangkap, macam mana?" tanya BoBoiBoy khawatir.

"Hei, aku juga nak tahu sosok itu lah," gerutu Ochobot. "Mungkin aku boleh dapatkan maklumat diri dia."

"Ye lah, ye lah."

Didekapnya Ochobot dengan satu tangan. "Pegang Kuat-kuat," tukasnya pada Ochobot lalu menoleh ke depan.

"GERAKAN KILAT!"

Mereka pun melesat menuju ke sosok yang hendak menangkap Ochobot itu dan berhasil menghalanginya.

"Alamak! Macam mana ni?" tukas sosok itu panik. Ia mundur selangkah. BoBoiBoy berubah ke mode semula dan menatapnya marah.

"Kau! Mesti kau yang buat pengsan Atok aku," geramnya. "Dan kau nak tangkap Ochobot pula. Siapa diri sebenar kau?"

Sinar bulan menerpa sosok di depan BoBoiBoy dan Ochobot itu. Seorang gadis yang kelihatan sebaya dengan BoBoiBoy. Rambut panjangnya bewarna putih perak. Dia memakai pakaian dengan nuansa Pink dan Abu-abu. Sepasang sayap kelelawar menempel di punggungnya. Ochobot melihat sosok itu sepenuhnya dan tersentak kaget.

"Ehh?! Kejap! Kau... Kau..." tukasnya kaget. "Milyra!?"

BoBoiBoy menoleh ke Ochobot. "Kau kenal dia ke?" tanyanya heran.

Milyra mematung di tempat. Ditatapnya Ochobot yang tengah melayang di samping Boboiboy. "Ocho- Ochoboy?" tanyanya kaku. "Kau... Ternyata kaulah Bola Kuasa yang dia maksud," ujarnya lirih. "Tak... Tak mungkin! Kau-"

Dalam situasi genting seperti itu, hanya BoBoiBoy yang merasa kebingungan dengan Ochobot dan Milyra yang tampak saling memandang itu.

"Ei, korang berdua ni memang dah saling kenal ke?" tanyanya kebingungan.

Ochobot dan Milyra tidak menggubris pertanyaan BoBoiBoy itu. Keduanya masih saling menatap dengan pandangan nanar.

"Kau..."

'Kau-'


Tok, Tok, Tok!

"Ochoboy. Ini aku: Milyra."

"Okey. Tunggu kejap."

Ochoboy berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tampak Milyra disana. Hanya saja ada yang aneh dari gadis itu. Wajahnya menyiratkan rasa kekhawatiran yang besar.

"Ochoboy, aku nak bincang suatu benda dekat kau..." katanya lesu. "Aku... Aku tak boleh berkawan dengan kau lagi..."

"Ehh?! Apahal kau cakap ni?" tanya Ochoboy heran. "Jangan la. Kita ni dah berkawan sejak lama-"

"Tak Boleh! Bahaya lah!"

"HAH?! BAHAYA?!"

"Iya, Bahaya," gumam Milyra cemas. "Sebab-"


Dua jam yang lalu...

"Bunda! Bunda baru balik je," kata Milyra menyambut Rosaline di depan pintu rumah mereka yang bermodel Kastil kuno. "Bunda dah jarang balik rumah. Mana Sebastian? Dia tak pernah pulang semasa Bunda pergi. Tak pernah balik. Apa benda yang Bunda dan Tian buat diluar selama ni?"

Rosaline mendesah. "Bukan urusan kau," tukasnya dingin. "Dah lah. Aku penat sangat. Nak berehat dulu. Jangan ganggu."

Ia berkata begitu seraya terbang melewati Milyra dan melesat menuju kamar tidurnya. Tanpa ia sadari sebuah buku terjatuh dari tubuhnya. Milyra memungut buku itu dan membukanya. Ternyata isinya adalah agenda bulanan milik Ibunya. Dan sebagian besar agenda itu adalah berburu mangsa. Milyra mengernyit. Ia dan Ibunya memang anggota dari Ras Alien makhluk kelelawar. Namun tidak seperti Ibunya, Milyra tidak pernah melakukan hal-hal mengerikan yang seharusnya dilakukannya sebagai seorang Alien makhluk kelelawar.

Milyra telah membuka halaman terakhir dari buku itu. Namun begitu ia membacanya, matanya terbelalak. Tanpa sadar buku itu terjatuh dari tangannya. Ia tidak percaya dengan kalimat yang ditulis Rosaline di halaman terakhir Buku itu. Rencana utama Rosaline: Membuat Milyra dan Ochoboy berteman agar-

'Agar Ochoboy menjadi Stok Energi terbesar untuk Rosaline'

Milyra terpana melihat tulisan ibunya di buku itu.

"Ta- Tak mungkin," desisnya ketakutan." Aku kena bagi tahu benda ni dekat Ochoboy!"


"Sebab tu lah kenapa aku tak boleh berkawan dengan kau lagi, Ochoboy," ujar Milyra sedu. "Nanti kau diapa-apakan Bunda aku. Baik kau dan Makcik Ashrlati jangan bertemu aku dan Bunda lagi. Dan kalau boleh, korang berdua mengungsilah cepat!"

Ochoboy menggeleng. "Tak nak! Aku dan Mak aku tak kan pergi dari sini," katanya tegas. "Kalau Rosaline mahukan aku, akan aku belasah dia!"

"Tidak, Ochoboy. Aku serius! Maaf, tapi sampai sini je perkawanan kita. Ini peringatan terakhir aku, Ochoboy. Selamat tinggal."

"Tu- Tunggu, Milyra! Jangan pergi!"

Sayang sekali Milyra sudah menghilang dari hadapannya. Ochoboy mematung di tempat. Ia mendesis.

"Milyra... Kenapa kau..."

'Milyra... Kenapa kau-'


"Kenapa kau buat semua ni?" ujar Ochobot lirih. Milyra memandang robot bulat bewarna kuning itu dengan tatapan sedih.

"Ma... Maafkan aku..." katanya sesal. "Aku pun tak tahu kalau Bola Kuasa yang dimaksud Adu Du ialah kau."

Boboiboy terkejut mendengar kalimat Milyra. "APA?! ADU DU?!" tanyanya marah. "Ohh... jadi kau pun berkoncro dengan dia ke? Tak boleh dimaafkan! KERIS PETIR!"

Dilemparnya belati-belati kecil berkekuatan listrik ratusan Volt itu ke arah Milyra. Milyra terbang menghindar. Kedua tangannya membentuk lingkaran di sekitar mulutnya sehingga tampak seperti corong.

"Cih, aku tak nak buat masalah dengan korang," desisnya kesal. "Tapi baiklah kalau korang nak diladeni. Rasakan ini: TERIAKAN GELOMBANG PELEMPAR! HAAAAAAAAHHHHHH!"

Milyra berteriak, membuat benda-benda di sekitarnya terlempar, termasuk BoBoiBoy dan Ochobot. Namun begitu keduanya membuka mata, lawan mereka telah menghilang.

"Dia kabur."dengus BoBoiBoy kesal lalu berteriak. "PENGECUT KAU, MARTHAAAAAAA!"

"Ei, kau ni BoBoiBoy. Nama dia Milyra lah," keluh Ochobot seraya menepuk keningnya setelah melihat Sindrom Amnesia temannya kembali kambuh. "Pelupa kau pun macam sama je."

BoBoiBoy tersentak. "Eh, ye ke?" tanyanya kaget lalu kembali berteriak ke langit.

"PENGECUT KAU, MILYRAAAAAAAAAAAA!"

Sementara itu, Milyra mendarat di atas sebuah apartemen. Didengarnya teriakan BoBoiBoy tentang diri Milyra yang pengecut itu, walaupun harus berteriak dua kali karena BoBoiBoy lupa dengan nama Milyra.

"Ish, kau je yang cari pasal dengan aku, BoBoiBoy," dengusnya kesal. "Suatu masa, kita akan bertemu lagi. Dan aku kan lawan kau lagi. Tunggu je!"

Tiba-tiba ia teringat dengan Adu Du yang menyuruhnya untuk menangkap Ochobot. Menyadari rencananya gagal, cukup membuat Milyra kekeran juga.

"Alamak! Aku gagal ambil Bola kuasa tu," desisnya cemas. "Tapi aku juga baru tahu kalau Bola Kuasa tu ialah Ochoboy. Seharusnya aku-"

'Seharusnya apa, Milyra? Kau nak menyerah ke? Kau memang anak aku yang Tak ada Guna!'

Milyra mendengar suara itu mengiang-ngiang di telinganya. Spontan kepalanya terasa ling-lung.

"Bu- Bunda..." desisnya seraya mencengkeram kepalanya. "Jangan Bunda nak cuba dekati Ochoboy lagi."

'Ahh ... Iya ke? Hahaha ... kau takkan mampu halangi aku. Dasar lemah! Seharusnya aku dah hapuskan kau semasa kau lahir. Kau cuma merepotkan aku...'

Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Milyra tidak tahan lagi. Pandangannya mulai merabun. Tubuhnya ambruk diatas atap apartemen itu.

"Bu- Bunda..." bisiknya lirih sebelum keadaan di sekitarnya menjadi gelap gulita.

Sosok di dalam tubuh Milyra tampak tersenyum kecut. Kedua mata merahnya memicing.

'Kalau waktunya telah cocok, aku akan keluar dari sini,' gumamnya sinis. 'Tunggu sahaja, Makhluk sampah! Aku akan ambil semua energi korang dan kuasai Planet ni, Ehahahaha...'

Tak jauh dari tempat Milyra terkapar, tampak Adu Du dan Probe yang terbang kesana-kemari, mencari keberadaan gadis itu.

"Apasal dia lama sangat? Aku bosan la," dengus Adu Du kesal.

"Ish, Encik Bos ni. Mana tahu dia lagi berlawan dengan BoBoiBoy," kata Probe berusaha meyakinkan. "Jadi mestilah akan lama sa-"

Kalimatnya terpotong begitu melihat tubuh Milyra yang tergeletak di atas atap sebuah apartemen.

"Encik Bos! Itu dia!" Kata Probe segera. Adu Du menoleh ke arah yang ditunjuk Probe dan segera terkejut begitu melihat Milyra. Langsung saja keduanya melesat ke arah tubuh gadis itu.

"Milyra!"


BoBoiBoy dan Ochobot telah pulang ke rumah. Mereka disambut oleh Tok Aba yang menunggu di depan pintu.

"Eh, BoBoiBoy. Jam segini kau baru balik?" Tanya Tok Aba agak kesal. "Korang berdua dari mana saja?"

BoBoiBoy terkejut melihat Tok Aba dan segera memeluknya. "ATOK! Atok dah siuman?" Tanyanya khawatir. "Tadi kami tengok Atok tak sedarkan diri di bilik Atok. Dan ada sesosok gadis bersayap yang menyerang kitorang di rumah ni. Lantas aku dan Ochobot yang kejar dan serang dia. Atok pengsan sebab dia, Kan? Kan?"

Tok Aba mengernyit. "Nampaknya korang betul," katanya bingung. "Atok rasa ada yang sentuh badan Atok beberapa kali. Lepas tu, Atok hilang kesedaran."

"Eh, iya ke?" ucap Ochobot. "Memang betul dugaan aku dan BoBoiBoy."

"Ei? Dugaan Apa?" Tanya Tok Aba bingung.

BoBoiBoy dan Ochobot lalu menceritakan peristiwa yang tadi mereka dialami. Tok Aba yang mendengarkan mereka pun mengangguk-angguk

"Logic juga korang ni," katanya kemudian. "Jom lah korang masuk. Nanti kita bincangkan ini lain masa. Baik korang berehat dulu."

"Umm!" Angguk Boboiboy senang. "Terima kasih, Atok!"

Satu pekan telah berlalu. BoBoiBoy dan kawan-kawannya tengah belajar di Akademi Pulau Rintis. Beberapa teman SD mereka juga belajar di sekolah itu, termasuk Iwan yang jarang bicara karena suaranya yang Anti Mainstream. Jam dinding kelas 7 Cerdas menunjukkan pukul tujuh pagi. Seluruh murid duduk di bangku masing-masing. Bu Anisa, Guru Bahasa Melayu mereka pun masuk ke dalam kelas.

"Bangun-" komando Yaya pada semua teman kelasnya. Yah, dia kembali menjadi ketua kelas karena banyaknya prestasi yang didapatnya sejak SD, membuat BoBoiBoy dan teman-teman SD-nya dulu semakin merasa bosan sekaligus was-was. Pasalnya Yaya tampak semakin menyeramkan kalau menjadi ketua kelas di sekolah menengah ini.

"Apasal Yaya jadi ketua darjah lagi?" gerutu BoBoiBoy. "Bosan lah."

"Hush! Kau ni BoBoiBoy, Jangan cakap macam tu," bisik Gopal. "Mungkin semasa kat sekolah rendah dahulu nama kita je yang ditulis di buku hukuman. Tapi sekarang, Yaya sendiri punya senjata: Rotan Keinsyafan! Nanti kau ditumbuk plus hukuman yang dibagi Yaya kalau kau langgar peraturan Sekolah ni."

BoBoiBoy mendesah panjang. "Ye lah tu," gumamnya pasrah. Bu Anisa telah berdiri di depan kelas.

"Selamat Pagi, Cikgu!" Kata Yaya diikuti seluruh teman-temannya.

"Selamat pagi, Murid-murid," kata Bu Anisa sembari tersenyum ramah. Para murid pun kembali duduk di kursinya.

"Sebelum pelajaran dimulai, Cikgu akan bagi tahu korang semua tentang sesuatu," ujar Bu Anisa.

"Oh, mesti perihal makanan kesukaan Cikgu," kata Gopal tiba-tiba. Spontan teman-temannya memandangnya dengan ekspresi kosong plus bunyi Jangkrik.

"Ish, kau ni Gopal! Tak sopan macam tu ma," kata Ying.

"Hehehe... Maaf, Cikgu," tukas Gopal malu-malu.

Bu Anisa mendesah seraya tersenyum lebar. "Bukan, Gopal. Cikgu mahu bagi tahu korang semua kalau ada murid baru kat darjah ni!"

"Ha? Murid Baru?" ujar Yaya.

"Lelaki ke pompuan, Cikgu?" Tanya seorang siswa bernama Kevin.

"Pompuan," jawab Bu Anisa. Spontan semua murid laki-laki di kelas itu menggumam-gumam. "WOOOOWWW!"

Bu Anisa menoleh ke arah pintu. "Nah, kamu pun sudah tiba," katanya senang. "Jom masuk dan perkenalkan diri kamu di depan kelas."

"Baik, Cikgu," balas sebuah suara di ambang pintu. Semua Siswa Kelas 7 Cerdas menoleh. Tampak Seorang gadis berwajah manis memasuki kelas dan berdiri di depan. Rambut panjangnya bewarna putih sementara baju seragamnya diberi beberapa tambahan aksesoris yang terlihat sedikit nyentrik bewarna Merah jambu dan abu-abu. Ia tersenyum simpul.

"WAHHHHH-" beberapa siswa berdecak kagum melihat penampilan anak baru itu.

"Alamak, Dia cantik nian!"

"Rambut dia pun warna putih perak! Unik sangat ni."

"Wow! Dia comel la, hehehe."

Murid baru itu tersenyum kecil. Gopal menyentuh bahu BoBoiBoy yang saat itu tengah berusaha menahan rasa kantuk akibat begadang belajar Matematika malam sebelumnya.

"Ei, BoBoiBoy. Tengok tu. Ada murid baru! Comel-" kata Gopal pada anak yang memakai Topi Dinosaurus bewarna jingga di sebelahnya.

BoBoiBoy menguap kecil. "Apalah kau ni Gopal. Aku mengantuk la-"

Ia terdiam begitu melihat murid baru yang berdiri di depan kelas itu. Kedua mata coklat hazel miliknya menatap nanar. Si Murid Baru menyadari tatapan BoBoiBoy itu dan melirik ke arah anak itu. BoBoiBoy tersentak. Matanya melototi gadis itu.

"KAU?!"


Bersambung ...

Ahhh ... selesai juga ni Chapter. Ada beberapa adegan yang mirip dengan yang ada di serial, seperti penyebutan nama yang salah ketika dikatakan oleh Boboiboy. Mohon di review sebagai ulasan ataupun kritik serta saran soalnya ni Chapter lumayan banyak kekurangannya, hehehe ...

Tetap setia menanti kelanjutannya ya ... Love you all, Dear Readers ^/^