Sama seperti sebelumnya, chapter ini rada pendek. Tapi tak apa. Just Enjoy it. ^_^


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

(Sebuah kisah fiksi)

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

.

Bagian 6: Kemarau, Tidur dan Awal sebuah Bencana

Matahari bersinar terik. Maklumlah terjadi pada Musim Kemarau. Namun karena terjadinya Pemanasan Global, suhu udara meningkat drastis. Kantor-Kantor mulai menyalakan pendingin ruangan masing-masing. Bagi yang memiliki Kipas angin, maka benda itu dinyalakan hingga titik maksimum. Begitu pula dengan Akademi Pulau Rintis. Karena peraturan sekolah yang mencintai slogan 'Go Green' maka hanya Kipas Angin yang dinyalakan di setiap kelas. Selebihnya jika ingin tambah sejuk, maka dibawalah Kipas oleh beberapa siswa.

"Aih- panasnya," gumam BoBoiBoy lesu ketika dia dan teman-temannya berjalan pulang dari sekolah. "Padahal aku tak guna kuasa api pun. Kenapa masih terasa panas ni?"

"Inilah dampak daripada pemanasan Global," kata Yaya tiba-tiba. "Banyak polusi, sampah dan lain sebagainya yang menahan sinar matahari buat pantul balik kat angkasa lepas. Maka dari tu, kita perlu andil dalam perkara ni. Macam buang sampah pada tempatnya, meminimalkan polusi dan lain-lain."

Ying mengangguk. "Betul wo. Kita perlu guna metode 3R (Reduce, Recycle, Reuse). Kalau tak, Bumi ni akan mengkerut!"

"Hiyy- Jangan cakap macam tu lah, Ying!" Gopal mengidik. "Tak sampai hati aku tengok Bumi mengkerut. Menakutkan!"

"Ye lah tu. Nanti badan kita kering kerontang, keriput sebab dehidrasi dan nampak tua," tambah Fang. "Dan kalau itu terjadi, wajah aku yang hensem ni akan hilang peminat!"

Teman-temannya langsung melongo setelah mendengar kalimat itu.

"Hmm- kau tu fikir kepopuleran kau terus. Tak fikir keselamatan Bumi ni," dengus BoBoiBoy, membuat Fang terkejut dan mulai marah.

"APA KAU CAKAP?! Hei, itu cuma salah satu alasan lah! Kau pulak yang terlampau dibawa emosi, BoBoiBoy!"

"Huh! Cakap je kalau kau nak lagi populer dibandingkan aku."

"Kalau faktanya memang macam tu, lalu kenapa?"

"Sudah! Sudah! Korang ni tak selesai pun debat sedari pagi," ujar Yaya melerai BoBoiBoy dan Fang. Kedua anak lelaki itu segera membuang muka.

"Uhh... ternyata Bumi macam sekarang tu mulai parah, ye," gumam Mila yang sedari tadi diam. "Manusia ke yang sebabkan semua ni?"

Ying menggeleng. "Tak juga ma," balasnya. "Memang betul sebahagian besar daripada manusia yang sebabkan semua ini. Tapi ada beberapa manusia yang mulai sedar dengan kelangsungan hidup mereka kat bumi. Maka dari tu, mereka pun mulai memperbaiki Bumi macam tanam pohon, metode 3R dan lain sebagainya. Dan hasilnya, Bumi masih boleh bertahan."

"Wahh- hebat lah!" puji Mila senang. "Aku jarang tengok planet yang banyak tumbuhan hijau macam Bumi ni. Kat planet tempat tinggal aku dahulu, suasananya bercampur antara kering dan basah, macam hutan hujan je. Tapi hampir semua tanaman disana kering sebab takde yang uruskan mereka."

"Ish, ish, ish- Kasihan sangat kalau macam tu," kata Gopal simpatik. "Nasib baik kau datang ke Bumi. Masih ada yang peduli dengan kondisi planet ni."

Sekonyong-konyong BoBoiBoy menoleh ke arah Mila. "Kejap! Tadi kau kata kau berasal dari planet lain," katanya penasaran. "Planet apa tu? Dan kenapa kau boleh datang kesini?"

"Oh, aku berasal dari Planet Tim tam Dua," kata Mila, membuat teman-temannya tersentak kaget.

"Aik? Macam nama Biskut wo," gumam Ying. "Planet Biskut ka?"

"Hmm- Biskuit Tim tam Cokelat yang sedap tu, kan?" tanya Gopal senang. "Mesti disana penuh dengan Biskut!"

"Wahh- bolehlah aku jual biskut aku kat sana!" timpal Yaya sementara teman-temannya memandang dengan tatapan Horor. "Mesti laku! Hihihi."

Mila tertawa. "Hahaha, tak. Bukan macam tu, Yaya," katanya geli. "Itu cuma sebatas nama je. Korang belum pernah kesana, kan? Bila-bila masa nanti aku boleh ajak korang."

"Heleehh- kau sorang pun terdampar kat ini. Macam mana kau nak balik kesana?" tanya Fang, membuat Mila nyengir malu.

"Hehehe- aku gurau je."

BoBoiBoy mendesah. "Ye lah tu," gumamnya sembari facepalm. "Ei, Mila. Kau belum cakap perihal sebab kau boleh datang kesini."

"Ah, ya. Sebab aku datang kesini tu-" kata Mila segera. BoBoiBoy dan kawan-kawannya menunggu potongan jawaban dari gadis itu.

"Ehh- sebenarnya aku pun macam tak ingat, hehehe... sori."

GUBRAK!

"Haduuhhhh-" BoBoiBoy dan teman-temannya telah menjatuhkan diri mereka ketika mendengar jawaban ngawur itu.

"Ei, BoBoiBoy. Penyakit hilang ingatan kau tu menular ke? Si Mila pun sampai kena," tanya Gopal tiba-tiba, membuat BoBoiBoy terkejut.

"Apa?! Bila masa aku boleh buat benda pelik tu?" Dengusnya. "Pelupa tu bukanlah penyakit menular. Itu kelemahan aku je. Nasib baik sekarang Ochobot dah sering bagi aku makan ikan. Kata dia, Ikan bantu daya ingat kita lagi kuat."

"Wuaahh! Kalau macam tu, aku nak makan Ikan banyak-banyak! Biar aku boleh hadapi tiap-tiap peperiksaan!" tukas Gopal senang.

"Elehh- Ikan tu cuma alat bantu. Kau kena belajar kalau kau nak lulus tiap peperiksaan," cibir Fang. "Bukan jaminan kalau kau makan ikan banyak-banyak buat peperiksaan tapi tak disokong dengan belajar.

"Alahh-" tukas Gopal sedih. Tiba-tiba Mila yang berjalan di depannya berhenti. Gopal nyaris saja menabrak gadis itu.

"Ei? Apasal kau berhenti jalan ni?" tanya BoBoiBoy heran.

Mila tersenyum lebar dan menunjuk sebuah rumah kecil bewarna merah jambu dan hitam di hadapannya. "Kita dah sampai kat rumah aku! Nah, amacam? Bagus tak?"

"WUAAHHHH!"

BoBoiBoy dan kawan-kawannya terkesima melihat rumah Mila yang kecil namun rapi. Di halamannya tumbuh beberapa bunga mawar merah. Namun sayangnya karena panas yang begitu terik mawar-mawar itu nyaris layu. Mila terkejut melihat itu dan segera menarik selang di halaman, hendak menyiram mawar-mawarnya. Namun sial, karena musim kemarau yang mungkin rada ganas membuat suplai air yang dimiliki rumah Mila habis sama sekali.

"Oh, tidak! Airnya habis!" Pekik gadis itu panik. "Sekejap lagi mawar-mawar ni mesti layu! Macam mana ni? Macam mana ni? Macam mana-"

"BOLA AIR!"

"HEEE?!"

Mila menoleh. Tampak BoBoiBoy Air berdiri di dekat mawar-mawarnya, menciptakan beberapa bola air dengan tangannya dan menyiram bunga-bunga itu dengannya. Teman-temannya bersorak riang melihat itu.

"Wahh! Keren wo!" pekik Ying. "Kenapa tak cakap awal-awal ma? Diam-diam bertukar jadi BoBoiBoy Air, hihi."

Air tersenyum. "Biarlah Mawar-Mawar ni hidup," katanya tenang. "Macam kita je, Mereka pun butuh air buat hidup pula. Nah, sudah tersiram semua. Kau pun tak payah risau, Mila."

Mila yang masih melongo di tempat segera tersadar. Tahu-tahu dicengkeramnya pundak Air dan mengguncang-guncang tubuh pemuda cilik itu.

"Kau ni sebenarnya punya berapa kuasa, Heh?!" tanyanya bingung. "Aku dah tengok tiga kuasa kau semasa kita duel kat dekat hutan cemara belakang sekolah beberapa hari silam! Dan beberapa hari yang lalu pulak kau bertukar jadi elemen Api yang manja dan cinta kebebasan tu! Dan sekarang kau bertukar jadi elemen air pulak?! Apa lagi?"

"Ehh- untuk saat ni, aku cuma punya lima je," gumam Air gugup. "Dan lepaskan aku la. Aku nak berehat ni."

"Ei? Aku dah pakai sarung tangan aku buat cegah sedutan energi tu. Kenapa kau masih sahaja penat?" tanya Mila semakin bingung. "Aku tak rasa energi apa pun dari badan kau pulak tu."

"Mila, BoBoiBoy Air memang macam ni. Sikit-sikit rehat, sikit-sikit rehat," dengus Yaya. "Padahal dia ni kuat sangat. Pelik, kan?"

Tiba-tiba Air menepis tangan Mila dari pundaknya. "Maaf, Mila. Tapi mungkin lagi baik kau tak pegang-pegang aku," ucapnya pelan. "Kalau dalam agama aku, jangan pegang lawan jantina yang bukan mahram. Itu kata Atok aku. Kecuali kalau keadaan kecemasan, baru boleh pegang. Dah lah. Aku nak rehat dahulu," katanya seraya masuk ke dalam rumah Mila dan mencari kamar tidur. Spontan teman-temannya kaget.

"WOI! INI BUKAN RUMAH KAU LAH, BOBOIBOY! TAK BOLEH MASUK RUMAH ORANG SEMBARANGAN!" pekik Fang.

"Betul tu," kata Gopal setuju. "Ini bukan rumah kau, tapi rumah dia!" tudingnya pada Mila.

Tapi apa dikata, Air sudah masuk ke kamar tidur Mila dan langsung tertidur pulas diatas Kasur, membuat teman-temannya jawsdrop berjama'ah.

"Dia ni memang merimaskan!" tukas Yaya berang. "Tak sopan la masuk rumah orang tiba-tiba macam ni. Ditambah langsung tidur di kamar pemilik rumah pula!"

Mila mendesah. "Apakah dia seringkali macam ni kalau dalam wujud elemen air tu?" tanyanya.

"Haiya, dia ni memang tukang tidur," ucap Ying lalu berjalan mendekati Air. "Ei, BoBoiBoy. Bangun! Kamu dah tidur di rumah orang wo!"

Tahu-tahu tangan Mila menariknya. "Sudahlah, Ying. Tak payah kau bangunkan dia," katanya santai. "Lagipun korang nampak penat. Korang boleh berehat disini sejenak. Ini kali pertama korang datang kesini, kan?"

"Ehh- tak payah kau repot-repot macam ni, Mila," kata Fang gugup. "Kalau Ibubapa kau datang macam mana? Nasib baik kalau mereka ramah. Kalau tak, kita mesti akan diusir."

"Aku tinggal sendiri kat rumah ni." kata Mila jujur.

"Apa?! Sendiri?" tanya Gopal kaget. "Seram sangat! Kau tak takut ke? Nanti ada hantu!"

Mila menggeleng. "Tenang, Gopal. Aku dah biasa macam ni," katanya ramah. "Dah lah. Korang boleh tengok-tengok rumah ni. Duduk-duduk di sofa pun tak pe. Kejap, aku akan buatkan korang minuman."

"Wah! terima kasih banyak, Mila!"

Mereka pun beristirahat di rumah Mila. Gopal melihat-lihat isi kulkas. Ying melihat beberapa benda antik di ruang tamu seperti Guci, Vas dan benda lainnya. Fang membaca buku-buku masakan milik Mila, berharap menemukan resep donat lobak merah di dalamnya. Yaya mencoba-coba membuat biskuit di dapur, membuat teman-temannya berharap biskuit buatan gadis berjilbab Pink itu rasanya lebih baik daripada sebelumnya.


Hari pun beranjak senja sebelum waktu asar. Mila baru saja mengurus mawar-mawarnya di halaman rumah dan masuk ke dalam rumah, disambut dengan Fang yang masih berada di posisi membaca buku masakan di atas sofa.

"Ehh- kawan-kawan. Hari dah petang. Korang tak balik?" tanyanya. "Nanti korang dicari keluarga korang, tau. Esok korang boleh main lagi kesini."

"Eh, betul juga " kata Fang lalu menoleh ke arah Ying yang sedang sibuk melihat sebuah lukisan bergaya Tiongkok di dinding. "Ying, panggil Gopal, Yaya dan BoBoiBoy. Kita kena balik rumah ni."

"Okey," angguk Ying lalu melesat menuju dapur dimana Gopal masih memilah-milah makanan di dalam Kulkas dan Yaya yang masih sibuk membuat Biskuit.

"Yaya, Gopal, dah petang wo. Kita kena balik rumah."

"Ei? Aku masih nak tengok makanan dalam peti sejuk ni," jawab Gopal memelas.

"Haiya, sebenarnya tak sopan intip-intip peti sejuk kat rumah orang ho," dengus Ying, sebal dengan sikap blak-blakan sahabat Indianya.

"Umm- biskut aku belum juga siap," protes Yaya. "Boleh tak kita balik selepas biskuit aku siap santap?"

"Ish, Yaya! Besok pun masih boleh sambung buat ma. Yang penting sekarang kita kena balik, wo."

"Alaahhh-"

Sementara Ying membujuk Gopal dan Yaya untuk pulang, Mila dan Fang masuk ke kamar tidur. BoBoiBoy Air masih saja tertidur lelap di atas kasur.

"Cih- macam sama pun. Posisi dia tak berubah juga," tukas Fang kesal lalu menggoyangkan bahu Air perlahan. "Hei, BoBoiBoy. Dah petang ni. Nanti kau dicari Tok Aba kalau kau terlampau malam balik."

"Zzzzzzzzzz-" Air masih saja mendengkur, membuat Fang geregetan juga.

"Hihh! Susah betul nak bangunkan budak ni," gumam pemuda berambut ungu tua itu kesal.

Mila berdiri di sebelah Fang. Dipandangnya wajah air yang tengah tertidur. "Dia tenang sangat. Macam genangan air je," gumamnya pelan. Dia masih saja memandang wajah Air yang nyaris terhalang oleh topinya itu sementara Fang masih berusaha membangunkan jelmaan BoBoiBoy dengan nomor urut lima tersebut.

'Tengok, Milyra. Betapa tenangnya dia. Fufufu... Budak Air ni nampaknya simpan kuasa yang hebat dan elok-'

"Akh!"

Mila tiba-tiba ambruk. Fang yang sedang membangunkan Air tersentak kaget. Air sendiri terbangun begitu mendengar jeritan Mila.

"Mila!" Fang segera menoleh ke gadis itu. "Kau tak pe?"

Air yang melihat kejadian itu segera mendekat. "Dia macam sama pun masa berhadapan dengan elemen lain. Mesti tiba-tiba ambruk macam ni," katanya datar.

"Oi! Kau tak tengok ke? Mila butuh bantuan! Tapi muka kau datar, macam tak de hal yang berlaku!" Sembur Fang kesal. Ying, Yaya dan Gopal segera masuk ke kamar dan tertegun melihat Mila yang terkulai dalam keadaan setengah sadar.

"Ughhh... Bun- Bunda... Jangan..." desis gadis itu. Tubuhnya berkeringat dingin.

'Hahaha! Ambisi aku makin kuat selepas tengok Budak BoBoiBoy Air tu. Dia terlampau tenang. Mestinya elok buat simpan kuasa besar. Aku tak sabar buat gunakan kuasa dia, Ehahahaha...'

"AAAAAAAHHHHH!"

Mila menjerit keras lalu pingsan di tempat, membuat Air dan teman-temannya semakin panik.

"Tak boleh jadi ni," desis Air khawatir. "Jom kita naikkan dia kat atas katil. Selepas tu kita urus dia sejenak. Kalau keluarga kita tanya kenapa kita lama sangat, cakap je kita selepas urus kawan yang sakit."

"Okey!" Angguk Yaya, Ying, Gopal dan Fang serempak.


Mila mengerang seraya membuka matanya. Dia terbaring di atas tempat tidurnya. Tampak BoBoiBoy yang sudah berubah ke wujud semula dan teman-temannya mengelilingi tempat tidurnya.

"Ap- Apahal ni?" tanyanya lemah seraya hendak bangun, namun Yaya segera mencegatnya.

"Baik kau berehat dahulu," saran gadis berhijab pink itu. "Kau pengsan lagi. Macam mana keadaan kau?"

Mila merenung. Tiba-tiba ia membuka mulut. "Baik korang tinggalkan aku buat sejenak," ucapnya pelan. "Aku nak sendiri. Lagipun korang kena balik sekarang. Jangan cemaskan aku."

"Eh? Kau yakin, ke?" tanya Gopal cemas. Mila mengangguk.

"Ya. Tak payah korang repot-repot urus diri aku," sambungnya datar. "Sekarang korang boleh pergi. Besok korang boleh datang lagi."

"Umm- Baiklah kalau macam tu. Kami balik dulu," kata BoBoiBoy ramah. "Semoga badan kau baikan segera, Mila."

"Um! Terima kasih banyak, kawan-kawan. Selamat malam."


Malam itu sangat tenang. Bulan purnama muncul diatas langit. Mila tampak tertidur pulas di kamarnya. Sekonyong-konyong beberapa aura hitam berkelebat di sekelilingnya. Mila merasa tubuhnya sakit sekali. Dia terduduk di atas tempat tidur seraya memeluk dirinya sendiri, mengerang.

"Bu- Bunda... kenapa?" desisnya dengan nada tersiksa.

'Diam!' bentak suara di dalam tubuh Mila. 'Aku dah cukup masa buat pulih balik selama duduk kat dalam badan kau ni. Tak sangka metode sel asimigen tu mujarab sangat. Kau tak kan bisa hentikan aku, Huahahahaha!"

"AAAAARRRGGGGHHHH!"

SPLAAAASHHH!

Aura hitam tumpah ruah dari tubuh Mila dan melayang-layang di udara. Mila membungkuk kesakitan sambil memegang kasurnya kuat-kuat. Detik berikutnya sebuah tangan keluar dari punggungnya bagaikan makhluk mutan diikuti wujud sesosok wanita tinggi bersayap kelelawar raksasa. Proses itu sangat lambat dan menyiksa Mila yang berusaha menahan rasa sakit akibat proses deasimilasi mengerikan itu. Dua menit kemudian makhluk itu sudah keluar dari tubuh Mila yang berperan sebagai inangnya. Mata merah sosok itu menyala nanar. Ditatapnya Mila dengan mulut membentuk seringai serigala.

'Sekarang aku dah cukup pulih! Kau tak kan mampu cegat aku, budak payah! Efek samping asimigen tu boleh buat inang dia macam sakit parah selepas terpisah dari si parasit. Sampai jumpa. Tapi aku masih perlukan tenaga lebih dari penduduk Pulau ni. Aku akan tengok keadaan dahulu sebelum bencana yang indah terjadi, MWAHAHAHAHAHAHAHAHAAAA!'

Sosok itu pun terbang keluar jendela kamar Mila menggunakan sayap kelelawarnya diiringi kumpulan Aura hitam yang dengan segera terbang keluar rumah. Mila terkejut dan hendak mengejar sosok itu. Namun tubuhnya terasa lemas sekali. Ia hanya sanggup merangkak sebelum akhirnya tubuhnya kembali terkulai di atas tempat tidur.

"Ti- Tidak..." gumamnya penuh sesal. "Tidak... Kenapa... Kenapa Bunda..."

Detik berikutnya, pandangan Mila telah dikelilingi kegelapan.


Aura hitam yang keluar dari tubuh sosok makhluk aneh yang telah deasimilasi dari punggung Mila menyebar kemana-mana. Salah satunya melesat menuju Markas Kotak Adu Du. Aura hitam itu menerjang ke arah Adu Du yang saat itu tengah memperbaiki Robot Mukalakus miliknya. Probe yang saat itu tengah melihat atasannya bekerja tersentak kaget melihat aura itu dan segera mendorong Adu du ke samping.

"ENCIK BOS, AWAAAASSSSSS!"

BLAAAARRRR!

Aura hitam itu menabrak Probe, menghempas robot piringan itu ke Mukalakus. Serentak keduanya ambruk, menyebabkan beberapa bagian dari Mukalakus terlepas. Adu Du kesal sekali melihat hasil kerjanya yang nyaris selesai namun diganggu oleh Probe.

"Oi! Kau sepahkan bahagian-bahagian daripada Mukalakus!" desisnya berang. "Ketepi dan biarkan aku sambung kerja aku, Probe!"

"Uhh... maaf, Encik Bos," erang Probe seraya berusaha bangun. Namun tiba-tiba tubuh piringannya kembali ambruk, membuat Adu Du kaget.

"Hei, Probe. Kau tak pe?" tanyanya khawatir seraya mendekati Robot kesayangannya.

"Ma- Maaf, Encik Bos. Tapi tak tahu la... badan aku... macam lemas sangat..."

"HAH?!" Adu Du terkejut lalu berteriak. "Komputer, cepat kesini! Probe tiba-tiba lemas ni!"

Komputer segera datang dan memindai tubuh Probe. Tiba-tiba ia terkejut dan memandang Adu Du dengan khawatir.

"Tenaga dia hanya 20% lagi, Encik Bos," gumamnya cemas. "Kenapa ini boleh berlaku?"

"Uhuhuu... Aku terkena suatu aura hitam tadi..." gumam Probe lemas.

"APA?! AURA HITAM?!" Adu Du dan Komputer memekik bersamaan.

"Ughh... tapi selepas tu... badan aku tiba-tiba lemas sangat..." lanjut Probe sebelum akhirnya kedua mata merahnya padam.

"PROBE!" Adu Du panik dan mengguncang-guncang robot itu. "Jangan tinggalkan aku, Probe!"

"Encik Bos, tenanglah dahulu," hibur Komputer. "Probe cuma pengsan. Beberapa hari lagi tenaga dia mesti akan balik."

"Eh, iya ke?"

"Semoga," desah Komputer pasrah. Tiba-tiba dilihatnya Aura hitam yang keluar dari tubuh Probe dan melesat keluar Markas Kotak. Spontan Komputer terkejut setengah mati.

"ENCIK BOS! AURA HITAM TU KELUAR DARIPADA TUBUH PROBE!"

"Eh? Mana dia? Mana dia?!"

"Dah kabur, Encik Bos."

BLETAK!

"Aduuhhh-" Komputer terkena lemparan gelas besi telak dari Adu Du.

"Kenapa kau tak cakap awal-awal?" tanya Adu Du kesal.

Komputer kembali bangun. "Maaf, Encik Bos. Tapi dia cepat sangat keluar tadi," gumamnya malu.

"Hmm, pelik betul. Siapa pemilik sebenar aura tu?" tanya Adu du heran. "Apa mungkin-"

Tiba-tiba matanya melotot.

"AH! Aku tahu siapa dia!"

"Eh? Siapa, Bos?"

Adu Du menggeram. "Aku tahu. Mesti 'dia' yang buat benda ni."


Dua hari pun berlalu. Akademi Pulau Rintis kembali dalam kegiatan belajar-mengajar seperti biasa. Kepala sekolah dari Akademi Pulau Rintis tengah mengurus beberapa berkas di atas mejanya. Dia adalah kenalan dari Tauke, Kepala sekolah dari Sekolah rendah Pulau Rintis. Dia kelihatan lebih berumur, sekitar enam puluh tahun. Tapi semangatnya untuk mengatur sekolah sangat tinggi. Ditambah sejak masuknya BoBoiBoy dan beberapa teman SD-nya ke sekolah menengah itu dia sudah sering mendengar Tauke tentang kelebihan mereka, sehingga dia merasa bangga dengan BoBoiBoy dan kawan-kawannya.

Sebenarnya hari ini dia merasa sangat lemas. Tapi tanggung jawab sebagai kepala sekolah telah menunggu sehingga dia memaksakan diri untuk tetap bekerja walaupun dengan tubuh lemas.

'Kringg! Kringgg!'

Telepon yang suara deringnya mirip dengan jam weker yang berada di atas meja itu tiba-tiba berbunyi. Kepala sekolah mengangkat telepon itu ke telinganya.

"He- Hello?"

"Ehh- Ini Encik Kepala Sekolah daripada Akademi Pulau Rintis ke?" tanya sebuah suara perempuan dari seberang Telepon: Suara Mama Zila.

"Benar, Puan Mama Zila. Ini Kepala sekolah Akademi Pulau Rintis," jawab lawan bicaranya. "Ada apa, Puan?"

Mama Zila mendesah. "Maaf, Encik Kepala sekolah," katanya gugup. "Tapi hari ini Suami saya, Kanda Papa Zola tak boleh masuk ajar dulu."

"Ei? Kenapa bisa?" tanya Kepala sekolah kaget. Apa jangan-jangan Papa Zola mengalami penyakit lemas juga seperti dirinya?

"Badan Suami saya tiba-tiba lemas sejak dua hari lepas. Saya takut dia sakit, Encik," ucap Mama Zila cemas. Sang kepala sekolah langsung membatin dalam hati mendengar itu.

"Huhuhuu- lemas sangat tubuh Kebenaran..." Suara Papa Zola ikut terdengar dari seberang Telepon.

"Encik dah dengar kan? Tubuh Kanda Papa lemas sangat ni. Dia cakap macam terkena asap hitam dua hari lepas," jelas Mama Zila takut. "Lepas tu badan dia tiba-tiba jadi lemas sangat. Saya nak izinkan Suami saya buat tak masuk ajar hari ini."

Asap hitam? Sang kepala sekolah merasa familiar.

"Ehh- okey lah kalau macam tu," kata Kepala sekolah. "Tapi... Macam pelik. Sepanjang pengetahuan saya, Papa Zola jarang buat Izin sakit."

"Tolonglah, Encik. Cari Cikgu pengganti dahulu lah," ujar Mama Zila memohon. "Kalau dipaksa ajar buat hari ni, Suami saya boleh pengsan!"

"Oh, okey... tapi macam mana cari Cikgu pengganti?" gumam Kepala sekolah bingung dan linglung akibat efek lemas." Mesti sulit untuk cari dia."

"Oh, Encik Kepala Sekolah tengah kesulitan buat cari Cikgu pengganti Tuan Papa Zola ke?"

"Eh?"

Kepala sekolah melongo melihat 'Sosok' yang berdiri tak jauh di depannya itu.

"Kejap, Puan Mama Zila," katanya kemudian di Telepon.

"Eh? Ada apa, Encik?" tanya Mama Zila. "Encik dah dapat Cikgu pengganti ke?"

"Nampaknya begitu," balas Kepala sekolah dengan senyum lemah.


Sementara itu di Kelas 7 Cerdas, BoBoiBoy dan teman-teman sekelasnya tampak berbincang-bincang.

"Ei, korang tak dengar berita terbaru? Banyak warga Pulau Rintis yang tiba-tiba lemas dua hari lepas," kata Kevin tiba-tiba.

"?!" Iwan tampak terkejut dan segera pingsan di tempat, sebuah kebiasaan sejak SD.

"Betul tu. Appa aku pun terkena juga," tambah Gopal. "Walaupun dia sering marah dekat aku, tapi aku pon jadi kesian."

"Ya loh. Aneh ya," timpal Ying. "Nenek saya terkena pulak. Apa benda apa yang berlaku ni?"

"Hmm- orang ramai kata ada Aura hitam yang serang mereka," tukas Yaya. "Selepas tu, badan mereka langsung lemas tiba-tiba."

"HAH?! Aura hitam?" Tanya teman-teman sekelasnya serempak.

"Iye," kata Yaya khawatir. "Cikgu Papa juga kena sekali. Kesian."

"Baguslah kalau macam tu," sergah Fang. "Biar kita tak kena Peperiksaan Matematik. Mujurlah sa-"

Anak itu terdiam begitu melihat Aura pembunuh Yaya dan Ying keluar dari tubuh mereka untuk kesekian kalinya.

"Eh, tak de. Aku gurau je tadi, hehehe," tukasnya cepat-cepat sebelum kedua gadis itu mengeluarkan amukan mereka.

"Betul ke tu Yaya?" tanya Boboiboy heran. "Semacam pandemi ke?"

"Huhuhuuu- pandemi?!" Gopal merinding. "Jangan cakap macam tu, BoBoiBoy. Seram sangat, huhuhuu..."

"Ei, korang tak tengok Mila ke? Dia tak masuk hari ni." Melody tiba-tiba menggumam. Serentak semua siswa kelas 7 Cerdas menoleh ke arah bangku Mila yang berada di samping Iwan. Iwan sendiri cengar-cengir.

"Eh? Iya ke?" tanya BoBoiBoy. "Tumben hari ni dia tak masuk. Biasa pun dia rajin sangat masuk sekolah ni."

"Mungkin dia masih sakit macam dua hari lepas ma," tebak Ying. "Nanti lepas pulang sekolah, kita tengok dia."

"Humm- kalau Cikgu Papa tak masuk hari ni, macam mana?" tanya Yaya cemas. "Sekolah kita ni hampir tak de guru pengganti."

"Eh, betul juga," kata Fang." Kalau begitu-"

Krikk... Krikk... Krikk... Krikk...

"KITA BEBAS PEPERIKSAAN MATEMATIK! HOREEEEE!" seluruh siswa kelas 7 Cerdas memekik girang, kecuali Yaya dan Ying. Tiba-tiba kepala sekolah masuk ke dalam kelas, membuat mereka terdiam.

"Hai, Murid-murid," sapa sang kepala sekolah dengan senyum lemah. "Hari ini Papa Zola tak masuk sebab sakit."

"Encik pon macam lemas je," komentar Stanley khawatir karena melihat kepala sekolah tampak terhuyung-huyung saking lemasnya.

"Terima kasih, Encik Kepala sekolah. Kami sudah tahu maklumat tu," timpal BoBoiBoy segera. "Atau ada benda lain yang Encik nak bagi tahu dekat kami ke?"

"Betul," angguk Kepala sekolah segera. "Sebab hari ini Cikgu Papa tak masuk, maka akan ada Cikgu pengganti!"

"YEEEEEYYYY!" Yaya dan Ying bersorak riang, sementara teman-teman kelas mereka bermuram ria.

"Huh- padahal dah berharap tak de pelajaran Matematik," gumam Fang kesal.

"Siapa Cikgu pengganti tu?" tanya Yaya sumringah.

Kepala sekolah tersenyum. "Sekejap lagi dia akan datang kesini," katanya sembari berjalan keluar kelas dengan bersandar ke dinding lorong kelas agar tidak jatuh akibat oleng. "Sila nikmati pelajaran kalian, Anak-anak. Hadeh, nak cepat rehat. Lemas betul badan aku ni."

Satu menit kemudian terdengar suara langkah kaki di depan kelas. Semua siswa kelas 7 Cerdas melongo melihat sosok guru Matematika pengganti Papa Zola itu. Seorang wanita bertubuh tinggi, mungkin setinggi Papa Zola. Dia memakai pakaian serba gelap, mendekati hitam. Rambut panjangnya berwarna perak tua. Kedua matanya bewarna merah. Dia menyeringai serigala di hadapan anak-anak itu.

"Ba- Bangun..." Yaya mengomando teman-teman kelasnya dengan suara sedikit bergetar. Penampilan guru baru yang rada seram itu membuatnya mengidik juga.

Semua siswa berdiri, walaupun kaki mereka terasa bergetar hebat. Guru baru itu seperti hendak menelan mereka semua dengan tatapan tajamnya.

"Selamat pagi, Cikgu,"

Tidak ada sapaan balasan. Mereka pun duduk kembali di kursi masing-masing, menunggu dengan tegang. Iwan kembali pingsan, namun sang guru baru tidak mengacuhkannya.

"Mulai hari ni, saya akan ajar korang Pelajaran Matematik," kata si guru baru dengan nada sedingin es. "Saya akan gantikan Cikgu Papa Zola selama dia sakit. Dan sekarang, PEPERIKSAAN MATEMATIK DIMULAI!"

"HAH?!" Seluruh siswa terkejut berjama'ah.

"Apalah Cikgu ni. Baru masuk dah bagi Peperiksaan," tukas Fang kesal. "Belum perkenalkan diri pulak tu."

"Eh, betul tu. Cikgu belum kenalkan diri," kata Gopal segera.

BoBoiBoy memandang guru itu. "Nama Anda siapa, Cikgu?" tanyanya ramah.

Guru baru itu segera mendelik tajam ke arahnya, membuat nyali BoBoiBoy ciut.

"Kamu nak tahu nama aku?" tanya sang Guru sinis.

"Ya loh. Nanti kalau kami nak panggil Cikgu macam mana wo?" sembur Ying.

Guru itu terkekeh sembari mendesah panjang. "Dasar budak-budak ni," gumamnya sebal. "Kalian boleh panggil aku Cikgu Rosa."

"Cikgu Rosa?"

"Nama bagus, Cikgu!" puji Gopal. "Anti mainstream sangat! Macam Akak-nya Upin dan Ipin!"

"Itu Kak Ros," balas BoBoiBoy." Kau ni ada hal je, Gopal."

"Hehehe, sori."

Rosa mendesah. "Sekarang keluarkan satu kertas," katanya dingin. "Kita mulakan Peperiksaan!"

Dia berkata begitu seraya menatap tajam ke arah. BoBoiBoy. Yang ditatap segera menelan ludah.

'Apasal Cikgu pandang-pandang aku sedari tadi ni?' batinnya heran bercampur tegang. 'Macam ada benda yang tak kena.'

Guru yang memakai nama Rosa itu menyeringai kecil seraya berdiri berkacak pinggang di depan kelas.

'Kali ni kau tak kan lepas dari pengawasan aku, BoBoiBoy, Fufufu-'


Bersambung ...

Maaf kalau gaje, hehehe ... Pakai Disclaimer karakter dari Upin-Ipin: Kak Ros. Want to Review? ;)

Tetap setia menanti kelanjutannya ya ... Love you all, Dear Readers ^/^