Haiiii ... jumpa untuk sekian kalinya, Readers. Di Chapter baru ini akan ada beberapa kejadian. Sebagian kejadian biasa dan sebagian kejadian diluar kebisaan (Nah lho? Aneh banget sih ni author -_- ) Typo pula.

Note: Ada kejadian mengerikan. Waspadalah!


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

(Sebuah kisah fiksi)

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

.

Bagian 7: Hanya 'dia' seorang

Saat itu semua Siswa kelas 7 tengah mengerjakan ulangan Matematika dadakan dari seorang Guru dadakan bernama Bu Rosa. Mungkin terdengar pelik, tapi mereka harus mengerjakan soal-soal Matematika yang berjumlah lima puluh nomor itu dengan tipe Full Soal Cerita. Bukan hanya itu saja. Mereka hanya diberi waktu 'lima menit' untuk mengerjakan semua itu. Sebuah kegilaan yang luar biasa!

"Satu minit lagi," kata Rosa tiba-tiba, membuat anak-anak murid di depannya memandang dengan mengidik. Bahkan Yaya dan Ying yang notabene termasuk siswa pintar di kelas itu menelan ludah berkali-kali dengan perasaan cemas dan tegang yang berkecambuk dahsyat.

"Haiya, Cikgu jangan macam ni ma," protes Ying. "Ini semua soal cerita, lima puluh nomor pulak! Tak cukup lima minit buat selesai ho."

"Betul, Cikgu. Saya pun baru selesai satu soal, huhuhuuu," geleng Gopal sedih.

"Bagi lah masa tambahan buat kami, Cikgu," tambah Fang. "Kalau tak, macam mana kami nak konsentrasi kalau dikejar waktu macam ni? Soalan pun banyak sa-"

PLAKKK!

Tanpa diduga tangan Rosa mendarat di pipi Fang, menamparnya. Serempak semua siswa menganga hebat bercampur ngeri melihat kejadian diluar dugaan itu. Terutama BoBoiBoy. Dia tidak menyangka guru baru itu akan melakukan hal-hal yang keterlaluan seperti ini terhadap mereka.

"Ughhh- Kenapa Cikgu tampar saya?" tanya Fang seraya meraba bekas tamparan bewarna merah di pipinya dengan ekspresi kesakitan. "Terlalu lah, Cikgu! Hanya protes sikit dah dapat tamparan macam ni."

Rosa hanya menatap Fang dengan nanar. "Tu lah kau! Sikit sikit Protes. Jangan banyak cakap dan kerjakan peperiksaan tu!"

'Cih!' Fang membatin dengan marah. 'Errggg! Kalau sahaja Cikgu Rosa bukan pihak Authority disini, maka aku dah belasah dia guna Harimau Bayang sedari tadi! Bertingkah seenak diri sangat! JAGA KAU, CIKGU!'

Beberapa aura bayangan hitam berkelebat di sekitar Fang, hendak mengeluarkan Harimau bayang. Namun melihat teman-teman kelasnya yang memberi tatapan 'jangan lakukan itu terhadap guru' membuatnya mengurungkan niatnya. Fang mendesah dan kembali fokus mengerjakan soal-soal ulangannya dengan wajah bersungut-sungut.

"Cikgu, maaf. Mungkin Cikgu marah, tapi tak perlu garang macam ni pula," ucap Yaya hati-hati. "Cikgu Papa pun tegas pada kami, tapi dia tak pernah melampau macam Cikgu Rosa. Paling-paling hanya rotan keinsyafan yang kami terima. Itu pun kalau kami terlampau nakal."

"Kami mahu peperiksaan dengan tenteram, bukan tegang pula," timpal BoBoiBoy kaku. "Fang betul. Kami perlukan tambahan masa. Sekejap pun tak pe."

"Hmm- tambahan masa ke?" gumam Rosa. Tiba-tiba ia mengeluarkan setengah rim kertas soal dan menghempaskannya ke atas meja BoBoiBoy. Anak itu terkejut sekali dan seketika wajahnya memucat seperti orang sakit.

"Kau! Kerana minta tambahan masa, maka aku bagi tambahan soal," kata Rosa cuek. "Tapi hanya tambahan soal. Tak de tambahan masa!"

"A- AAA... APAAAA?!" BoBoiBoy melototi lembaran-lembaran soal tambahan di atas mejanya. "Ci- Cikgu, Apesal pulak bagi aku sorang soal-soal tambahan ni? Jangan lah, Cikgu-"

"Tak de soalan! Kerjakan saja!"

"Tapi-"

RIIIIINNNNGGGG!

Itu suara bel, tapi bukan bel sekolah melainkan bel milik Rosa yang menurut BoBoiBoy jauh lebih mengerikan daripada Ulangan Matematika itu sendiri. Sang Guru dadakan menatap anak-anak penghuni kelas 7 Cerdas dengan pandangan sinis.

"Masa sudah tamat. Kumpulkan kertas jawaban kalian!" Katanya segera. Mau tidak mau BoBoiBoy menjatuhkan diri dari kursi saking linglung-nya.

"Aduhhh- Ini peperiksaan Matematik ke apa?" desahnya dengan wajah ling-lung.

Anak-anak kelas 7 Cerdas kemudian mengumpulkan kertas-kertas jawaban ulangan Matematika mereka. Ketika giliran BoBoiBoy, Rosa segera menggumam.

"Lepas ni, kamu kena datang ke ruangan saya. Saya nak bahas soalan peperiksaan kamu," katanya dingin. "Kamu sorang. Jangan ditemankan kawan!"

"Ehh- baik Cikgu," gumam BoBoiBoy pasrah. Rosa mendengus dan membawa kertas-keras jawaban anak-anak lalu melangkah menuju pintu kelas. Tepat sebelum keluar kelas, dia terkekeh pelan. Fang yang sempat melihat itu segera curiga dibuatnya.

'Pelik. Sedari awal Peperiksaan, aku tengok Cikgu Rosa pandang-pandang BoBoiBoy dengan pandangan yang pelik sangat. Gelak-gelak kecil pun. Mencurigakan. Aku kena bagi tahu benda ni kat BoBoiBoy,' batinnya segera.

Ketika BoBoiBoy hendak pergi keluar kelas menuju ruangan Rosa, Fang buru-buru menepuk pundak rival-nya itu.

"Ada apa, Fang?" tanya BoBoiBoy. "Aku nak pergi kat ruangan Cikgu Rosa. Tak de masa buat ladeni ambisi kepopuleran kau."

"Bukan macam tu, BoBoiBoy," ujar Fang serius. "Aku nak temankan kau pergi kat ruangan Cikgu Rosa. Aku rasa ada yang pelik dari tingkah dia selama Peperiksaan tadi."

"Aik? Tingkah pelik? Ternyata kau pun rasa benda tu pulak," balas BoBoiBoy seraya menatap Fang lamat. "Tapi hanya aku sorang je yang disuruh datang ke ruangan dia. Cikgu kata aku tak boleh ditemankan kawan."

Mendengar kalimat BoBoiBoy itu membuat Fang semakin curiga. 'Ada yang tak selesa dengan Cikgu baru tu,' gumamnya dalam hati. "Tak pe. Aku akan cuba temankan kau, BoBoiBoy," katanya kemudian. "Kau masuk ke ruangan dia, aku tunggu kau kat luar. Nah, amacam?"

BoBoiBoy menggaruk dagunya. "Boleh juga," jawabnya. "Jom lah Fang. Nanti Cikgu Rosa marah pula kalau aku lama sangat."

Kedua anak lelaki itu pun pergi ke ruangan Rosa. Fang menyandarkan punggungnya ke dinding luar agar tidak terlihat oleh Rosa kalau BoBoiBoy masuk ke dalam ruangan nanti. BoBoiBoy mengetuk pintu.

"Cikgu Rosa, ini BoBoiBoy," katanya.

"Masuk," ujar suara Rosa dari dalam. BoBoiBoy pun masuk ke dalam ruangan itu sementara Fang semakin menepi ke dinding luar agar tidak ketahuan oleh Rosa. Rosa baru saja memeriksa sebagian kertas jawaban ulangan Matematika para Siswa kelas 7 Cerdas. Wanita itu mengangkat wajahnya ke arah BoBoiBoy dan berkata:

"Tolong tutup pintunya, BoBoiBoy."

BoBoiBoy agak kaget. Diliriknya Fang yang masih berada di Dinding luar. Fang menggelengkan kepala tanda tidak setuju kalau pintu itu ditutup, membuat BoBoiBoy ragu.

"Jangan, BoBoiBoy," bisik anak berambut landak itu. "Nanti aku tak boleh tengok apa yang akan berlaku!"

BoBoiBoy menelan ludah. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Antara mengiyakan saran temannya ataukah menuruti perintah gurunya. Untuk beberapa saat ia melamun di dekat pintu itu.

"Kamu ni tak de kuping ke? Tutup pintu tu!" Rosa kembali menyuruh dengan nada suara yang lebih tegas. BoBoiBoy tersentak dan tanpa pikir panjang menutup pintu itu dengan keras, membuat Fang yang berada di dinding luar terlonjak kaget.

"Hish! kau ni BoBoiBoy, nak jantung aku keluar ke?" desisnya kesal. "Tapi macam mana ni? Aku tak boleh tengok apa yang Cikgu Rosa nak buat. Biarlah. Aku akan cuba curi dengar perbincangan mereka."

Fang menaruh telinganya di sebelah pintu. Gopal dan Iwan yang kebetulan melintas disitu terheran-heran melihat kelakuan anak itu.

"Ei, Fang. Apasal kau tempel kuping kau kat pintu tu?" tanya Gopal dengan nada suara yang terkesan tinggi. Fang segera menaruh jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh diam.

"Kau ni Gopal. Suara kau tu keras sangat," bisiknya kesal. "BoBoiBoy dipanggil Cikgu Rosa ke ruangan dia ni. Aku rasa ada yang tak selesa."

Gopal mendesah. "Mungkin benda yang tak selesa tu markah result Peperiksaan BoBoiBoy," katanya. Iwan segera menyeringai mendengar kalimat Gopal itu.

"Eh, Mungkin juga," kata Fang. "Kalau markah dia tinggi, aku makin jeles ke dia! Tapi kalau markah dia rendah, berarti aku boleh berjaya jadi yang terpopuler, Hahaha!"

"Shhh!" Iwan menyuruhnya diam dan menuding ke arah pintu ruangan Rosa. Fang teringat kembali dengan niat awalnya dan melanjutkan acara mengupingnya. Hanya saja kali ini ia ditemani oleh Gopal dan Iwan.

Sementara dibalik pintu, BoBoiBoy memandang Rosa dengan tampang harap-harap cemas.

"Ehh- Ada sebab apa sehingga Cikgu panggil saya kemari?" tanyanya gugup. "Pasal jawaban Peperiksaan Matematik saya ke?

Rosa mendesah panjang. "Betul," katanya datar. "Aku dah tengok kertas jawaban kamu, BoBoiBoy. Dan markah result kamu pun dah keluar."

"Eh, betul ke Cikgu? Ma- Markah hasil Peperiksaan aku berapa, Cikgu?"

"Hmm... Markah hasil Peperiksaan kau? Tengok ni!"

Rosa mengacungkan kertas jawaban ulangan Matematika milik BoBoiBoy. BoBoiBoy terkejut. Angka yang terpampang di kertas itu adalah:

Nol. NOL BESAR. Sebesar telur mata sapi. Tidak ada persen, tidak ada plus. Tidak ada angka lain selain angka maut itu. BoBoiBoy merasa jantungnya berhenti berdetak selama satu detik. Detik berikutnya ia menjerit kuat-kuat.

"TIDAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK!"

Ketiga temannya yang menguping dibalik pintu terkejut mendengar jeritan malang itu.

"Eh? Apahal dengan BoBoiBoy ni?" tanya Gopal heran.

Fang tersenyum sinis. "Nampaknya aku menang kali ni, Hehehe," desisnya penuh kemenangan. "Markah dia mestilah lagi buruk. Eh?"

Ia tercekat begitu melihat tatapan kesal dari Iwan dan Gopal.

"Hei kau ni. Tak kesian ke? BoBoiBoy tu dah tiap malam begadang buat belajar ekstra!" Desis Gopal. "Mestilah dia terkejut masa tengok markah dia buruk. Ingatkan markah dia buruk, tapi tak kan la sampai nol pulak. Kau ni memang tak de perasaan! Aku boleh rasa sebab markah aku memang selalu rendah."

"Eh iya ke?" tukas Fang. "Biasa pun usaha tak dustakan hasil. Tapi kenapa ini boleh berlaku? Biarpun aku selalunya jeles kat BoBoiBoy, tapi aku masih sahaja rasa pelik perihal benda ni."

Iwan mengangguk. Tiba-tiba didengarnya suara Rosa dari balik pintu. Iwan dan kedua kawannya kembali menguping.

"Kau memang payah, BoBoiBoy!" Sembur wanita itu. "Kau tengok markah kau! Kertas jawaban kau tu lagi cocok ditaruh di tempat sampah daripada dimasukkan ke dalam rekapan markah! Tak boleh diharap. Kau benar-benar memalukan!"

BoBoiBoy berkeringat dingin. Dia tidak percaya dengan hasil ulangannya yang mendapat nilai paling 'durjana' di dunia pendidikan itu. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terduduk dan memandang lantai dengan wajah stress.

"Tak... Tak mungkin," desisnya. "Aku dah belajar tiap malam buat Peperiksaan ni... Tapi- Tapi Markah aku... Markah aku boleh Nol macam ni? TIDAK! AAAAAAAAAAHHHHH!"

BLARRRR!

"Ei? Dentuman apa tu?" tanya Gopal kaget. "Macam... Macam suara letupan!"

Fang masih menempelkan telinganya ke pintu. Tiba-tiba dia merasa pintu itu agak panas. Spontan dia menjauh dari pintu itu dengan ekspresi kaget.

"Pintunya panas," katanya pelan. "Apakah BoBoiBoy-"

Ia dan Gopal saling memandang satu sama lain.

"DIA DAH BERTUKAR JADI BOBOIBOY API!" Gopal memekik panik. Fang segera membekap mulut anak itu.

"Ish, jangan cakap keras-keras Gopal!" tukasnya berang. "Nanti Cikgu Rosa dengar suara kau!"

"So- Sori," ucap Gopal setelah dirinya mulai tenang.

Dibalik pintu itu, Rosa terbelalak. Sosok BoBoiBoy di hadapannya menatap tajam. Beberapa kobaran api berada di sekelilingnya. Namun penampilan sosok itu rada melenceng dari perkiraan Gopal. Yah, ada api di sekitarnya. Tapi dengan tudung jaket bewarna merah kecoklatan dan beberapa atribut berbentuk logo api yang menyala membuat sosok itu terasa sedikit berbeda. Sosok itu... tahap kedua dari BoBoiBoy Api: BoBoiBoy Blaze.

"Aku BOBOIBOY BLAZE!" tegasnya. Gopal, Fang dan Iwan melongo mendengar itu.

"Bo- BoBoiBoy Blaze?!" tanya Gopal. "Bukan ke itu tahap kedua daripada BoBoiBoy Api?"

"Betul tu. Nampaknya tekanan yang dia terima dah melampui batas," gumam Fang. "Melampau betul Cikgu Rosa tu. Dia nak BoBoiBoy bakar ruangan dia ni."

Iwan mendesis ngeri setelah mendengar itu dan menyentuh pintu. Namun ia segera menarik tangannya dan menjerit-jerit karena pintu itu masih terasa panas. Rosa mematung melihat Blaze yang berdiri tak jauh di hadapannya. Blaze sendiri menggeretak marah. Beberapa tiang api muncul di sekelilingnya dan mendekati Rosa.

"TERLALU! KAU BUAT AKU TERTEKAN SANGAT DENGAN MARKAH BURUK TU!" pekik Blaze murka. "Aku dah belajar hingga bermalam-malam pun tapi Cikgu bagi aku markah nol?! TAK BOLEH DIMAAFKAN!"

Dia menerjangkan tiang-tiang api ke arah Rosa. Tiang-tiang api itu sangat kuat dan Rosa terhempas ke dinding. Ia mengerang kecil dan menatap Blaze dengan seringai kecut.

"Boleh tahan juga kau ni," tukasnya seraya berusaha berdiri. Bagian jas di bahunya robek akibat hangus terkena serangan Blaze. "Ternyata kau macam budak kecik je... mudah stress. Daripada kau bakar seisi sekolah, bagaimana kalau kau tenangkan diri kau dahulu?"

"Tenang? Kau kata aku nak tenangkan diri?!" tukas Blaze marah. "Macam mana aku boleh tenang sementara markah aku buruk macam tu?! Kau... KAU NI MEMANG NAK KENA!"

Spontan luapan api raksasa keluar dari tubuhnya, mengenai beberapa bagian ruangan itu. Melihat ruangannya mulai terbakar, Rosa segera menekan tombol pancuran kebakaran di dekatnya. Segera saja siraman air dari atas mengenai api-api yang hendak membakar ruangan itu, memadamkannya ditambah sapuan kipas angin darurat yang mengeringkan ruangan itu dalam sekejap. Rosa mendesah panjang seraya menatap Blaze yang masih saja memasang wajah kesal.

"Kan cikgu dah cakap, tenangkan diri kau dahulu," ucap Rosa datar. "Cikgu punya teh dingin kat dalam Peti sejuk. Kalau kau nak, ambil je."

Mendengar itu, wajah sangar Blaze langsung berubah senang. "Eh, Iya ke? Aku nak minum Teh, apalagi Teh dingin!" Ucapnya riang. "Terima kasih, Cikgu!"

Rosa tersenyum kecil lalu membuka Kulkas mungil di sudut ruangan. Diambilnya segelas teh dari sana dan memberikannya pada Blaze yang sudah duduk manis di atas Sofa di tengah ruangan. Dengan wajah sumringah Blaze menerima minuman itu dan mulai meneguknya. Gopal yang mendengar suara tegukan itu segera menelan ludah.

"Aihh- aku pun nak minum teh pulak," tukasnya murung. "Baik sangat nasib si BoBoiBoy tu. Walaupun dapat markah jelek, tapi masih boleh dapat bonus teh dingin. Sementara aku dapat markah jelek, bonusnya kepisan daripada rotan Appa aku. Tak adil lah kalau macam ni."

Fang mendesah. "Itu nasib kau je Gopal," tukasnya datar. "Tapi benar juga, kenapa dia boleh dapat bonus teh sementara markah dia teruk? Hihh! Aku makin jeles kat dia pulak! Awas sahaja kalau-"

PLUK!

"?!" Iwan terkejut mendengar suara sesuatu yang jatuh dari balik pintu. Dia menguping ke pintu yang sudah tidak panas lagi. Tahu-tahu ia terkejut mendengar kalimat yang terdengar setelah itu.

"Huhh- Kenapa aku mengantuk sangat selepas minum teh ni?" Blaze menguap perlahan. Iwan segera menarik Gopal dan Fang untuk kembali menguping. Ketiga anak itu heran dengan kalimat Blaze itu. Memang aneh karena BoBoiBoy Api atau Blaze bukanlah tipe yang suka tidur. Itu karakteristik dari BoBoiBoy Air. Fang, Gopal dan Iwan merasa janggal dengan ini.

"Ei? Tumben BoBoiBoy Blaze nak berehat," kata Gopal. "Biasa pun BoBoiBoy Air yang buat benda tu. Atau mungkin dia dah bertukar jadi BoBoiBoy Air?"

Fang mengerutkan alis. "Aku rasa dia tak bertukar pun," gumamnya. Tiba-tiba dia melihat lubang kunci di bawah gagang pintu. Segera saja ia menepuk keningnya dengan kesal.

"Cih! Kenapa aku tak tengok lubang kunci ni sedari tadi?" katanya lalu mengintip dari lubang kunci itu. Dugaannya benar. Blaze masih dalam penampilannya semula. Namun alangkah terkejutnya pemuda bersurai ungu itu begitu melihat apa yang tengah terjadi di ruangan di balik pintu itu.

Blaze tampak tertidur di atas sofa. Gelas teh-nya yang sudah kosong tergeletak di lantai. Rupanya itulah benda yang didengar Iwan terjatuh tadi. Entah mengapa perasaan Fang mulai tidak enak. Ia menarik tubuhnya dari lubang kunci dan menatap Gopal dan Iwan yang menunggunya dengan tidak sabar.

"Ei, Gopal. Kau kan suka tengok film detektif," katanya. "Kira-kira kalau ada seseorang yang hiperaktif tiba-tiba tertidur setelah meminum sesuatu tu sebabnya apa?"

Gopal cengar-cengir. Masalah Detektif dialah jagonya. "Oh! Kalau macam tu, biasanya dia dibagi obat bius di dalam minuman tu. Selepas tu, ia pun tertidur. Maka dengan mudah ia menjadi mangsa dalam kes Jenayah," jelasnya bangga.

Sadar dengan ucapan Gopal, Iwan terperangah. Ia lalu mengintip ke lubang kunci dan terbelalak. Dilihatnya Blaze masih dalam posisi 'Tidur imut'-nya sementara Rosa mencengkeram pergelangan tangan kiri Blaze dan membolak-balikkan tangan anak itu sembari tersenyum sinis. Iwan menjerit dan menatap kedua temannya dengan panik.

"Eh? Kenapa Iwan?" tanya Gopal bingung. Iwan menuding ke arah lubang kunci sebelum akhirnya pingsan di tempat. Gopal dan Fang terkejut melihat itu.

"Ehh? Apahal Iwan jadi pengsan ni?" desis Fang heran. "Nampaknya ada sesuatu yang pelik terjadi dibalik pintu tu sampai boleh buat Iwan pengsan macam ni."

"Biar aku tengok," tawar Gopal seraya mengintip ke dalam lubang kunci. Kali ini dia melihat Rosa tertawa sinis. Terlintas sesuatu yang mengerikan di benak Gopal dan membuat anak India itu berteriak ketakutan seraya menjauh dari pintu. Fang menatap temannya itu dengan heran.

"Apa yang kau tengok Gopal?"

"I- Itu... Cikgu Rosa macam nak buat benda teruk dekat BoBoiBoy!" jerit Gopal ngeri.

"Eh? Benda teruk macam apa?" tanya Fang tidak mengerti.

"Tengok saja sendiri!"

Fang menuruti kata-kata Gopal itu. Diintipnya lubang kunci itu. Rosa menggumam dengan nada suara sinis.

"Tak de salahnya kalau aku belasah sikit kuasa budak ni, hehehe-"

"HAH?!"

Dia melihat Rosa yang duduk tak jauh dari BoBoiBoy Api yang tidak sadarkan diri sambil terkekeh-kekeh mengerikan dan mengeluarkan cakar panjang dari tangannya. Dia lalu mengangkat cakarnya di atas kepala sang manipultor api, seakan hendak menyakiti anak itu menggunakan cakarnya. Fang yang merasa ngeri segera menarik wajahnya dari lubang pintu dan mencoba membukanya. Namun pintu itu tidak bergerak. Munculah perempatan siku-siku di kepala Fang.

"Terkunci!" ujarnya kesal. "Seharusnya aku dah buka pintu ni sedari tadi dan tarik BoBoiBoy keluar. Kenapa aku pendek akal macam ni? Baiklah. Tak de cara lain. Aku kena dobrak pintu ni. HARIMAU BAYANG!"

BLASSS!

"GRAAAA!" Munculah sosok Harimau Bayang di sebelah Fang dan menerjang pintu ruangan Rosa. Namun ternyata pintu itu kuat sekali sehingga Harimau Bayang hanya sanggup mencakar-cakar pintu tersebut. Fang tidak kehilangan akal. Ia menoleh ke arah Gopal.

"Gopal, kau tukarkan pintu ni jadi sesuatu yang rapuh!" perintahnya. "Biar kita mudah dobrak pintu ni dan selamatkan BoBoiBoy segera!"

"Ba- Baiklah," tukas Gopal terbata-bata. "TUKARAN BISKUIT YAYA!"

SRINGG!

"EHHH?!"

Fang mendelik ke arah Gopal yang dengan segera memandangnya dengan tatapan Horor.

"KENAPA KAU TUKAR PINTU NI JADI BISKUT YAYA, HAH?!"

"Ehehehe... Sori, Fang. Aku panik tau."

"Hisshh! Kau dah tahu kalau Biskut Yaya tu keras macam batu! Cepat tukar balik pintu ni!"

"O- Okey... TUKARAN SEMULA!"

SRINGG!

"TUKARAN KERIPIK!"

SRINGG!

"Huh, kau tu buat lama sangat! Nanti BoBoiBoy dah mulai dibelasah baru tahu rasa!" dengus Fang lalu menoleh ke arah pintu yang sudah menjadi Keripik. "HARIMAU BAYANG, SERAAAAANNNGGGG!"

"GROOOOAAAAA!"

BRAAKKK!

Harimau Bayang milik Fang mendobrak pintu keripik itu hingga hancur berkeping-keping. Rosa yang hendak melanjutkan perbuatannya menyakiti Blaze menggunakan cakarnya terkejut begitu melihat Gopal dan Fang masuk ke ruangannya. Iwan yang baru saja terbangun dari pingsannya pun ikut serta bersama kedua temannya untuk menghadapi guru aneh itu.

"Ah, nampaknya ada pengganggu," ujar Rosa dingin. "Korang ni tak de moral ke? Masuk masuk ke dalam ruangan Cikgu seenak hati. Guna acara hancurkan pintu pulak! Nanti korang kena bayar tagihan sebab dah rosakkan fasilitas sekolah!"

Fang mendengus. "Rosakkan fasilitas sekolah?" tanyanya jengkel. "Nasib baik kalau macam tu. Dan itu lagi baik daripada BoBoiBoy yang Cikgu sakiti! Kami dah tengok apa yang Cikgu perbuat! Cikgu nak sakiti BoBoiBoy guna cakar Cikgu! Kenapa Cikgu buat benda tu kat BoBoiBoy? Siapa Cikgu ni sebenarnya?"

"Iya Cikgu. Seram betul!" tambah Gopal geram. "Tadi Cikgu kata kami ni tak bermoral sebab masuk ke ruangan Cikgu tiba-tiba. Tapi nampaknya Cikgu yang lagi tak bermoral! Tengok apa yang Cikgu nak perbuat dekat BoBoiBoy! Ingatkan kami tak tahu?!"

Rosa mendesah seraya menoleh ke arah Blaze yang sudah berubah ke wujud BoBoiBoy semula namun masih tidak sadarkan diri. "Kuasa elemental dia ni elok sangat," ucapnya. "Korang tak payah ikut campur dalam pasal ni. CEKAMAN PIKIRAN!"

"APA?!" Gopal, Fang dan Iwan tersentak. Tiba-tiba mereka merasa sesuatu yang tidak terlihat menyergap tubuh mereka dan menarik tubuh mereka ke udara. Rosa tersenyum sinis melihat itu. Rupanya ia menggunakan sejenis kemampuan telepati.

"Erggghh- Apa yang Cikgu buat pada kami ni?" Gopal merengek." Turunkan kami lah. Aku takut ketinggian, Huhuhuuu-"

"?!" Iwan terkejut dan Syok. Anak itu kembali pingsan untuk kesekian kalinya.

"Lepaskan kami!" ujar Fang marah. "Cikgu ni benar-benar keterlalu- AAAARRRGGGHHHH!"

Sergapan yang dirasakan tubuh Fang semakin erat. Fang menjerit karena merasa tulang-tulang di tubuhnya seakan dijepit. Rosa tertawa nista melihat anak berwajah oriental yang tersiksa itu sembari berjalan mendekatinya. Diraihnya dagu Fang dan memaksa anak itu memandang ke arahnya.

"Inilah akibatnya kalau korang masuk campur urusan aku, "bisik Rosa sinis. Fang berusaha membebaskan dagunya dari cengkeraman Rosa. Namun tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, membuat anak berkacamata itu semakin panik.

'Kenapa tiba-tiba badan aku lemas macam ni?' batinnya tegang. 'Mungkinkah-'

'Mungkinkah-'

"Kalau tak silap, Rosaline tu ialah salah satu daripada Ras Alien makhluk kelelawar," jelas Ochobot. "Sebahagian dari mereka ialah jahat dan penampilan sebahagian daripada mereka, macam nama ras mereka, nampak macam makhluk setengah kelelawar."

"AAHHH!" Jerit Gopal yang memang takut pada hantu." Macam hantu pontianak ke?"

"Tak. Tak la hodoh macam pontianak pon," lanjut si robot bola. "Mereka dilukiskan punya sayap kelelawar. Dan peliknya lagi, beberapa dari mereka ada kelainan genetik dan boleh sedut energi makhluk lain, termasuk manusia!"

Fang terperangah. Dengan setengah tenaganya yang masih tersisa, dipandangnya Rosa dari ujung kepala sampai kaki sembari melakukan sebuah analisa:

- Serap Energi Orang: Cek.

Fang saat ini tengah merasakannya. Tubuhnya berangsur-angsur lemah semenjak Rosa mencengkeram dagunya.

- Sayap kelelawar: Silang.

Rosa tampak tidak memiliki itu. Tapi Fang yakin bahwa wanita di hadapannya ini bisa menyembunyikan atribut itu karena Fang tahu Mila yang notabene adalah Alien makhluk kelelawar juga bisa melakukannya.

Kesimpulannya adalah:

"Ka- Kau... Alien makhluk kelelawar ke?" desis anak muda berkacamata itu, membuat Rosa terkejut.

"Ahh... rupanya kau telah berjaya tebak diri sebenar aku," tukasnya dengan nada mengejek. "Kau memang pandai, Fang. Ah ya. Kalau kau nak join aku, kau boleh bantu aku dengan otak kau yang pandai tu. Kuasa bayang kau pun lumayan-"

Rosa mulai terkekeh pelan dan merendahkan suaranya.

"Kuasa bayang kau pun lumayan elok."

"Eh? Apa maksud Cikgu ni?" tanya Fang kaget. "Aku tak faham- Uhhh..."

Kalimatnya terputus. Fang pingsan akibat energinya yang terus-menerus diambil. Gopal yang melihat itu segera panik sendiri.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAA! Kau buat Fang pengsan dengan sedutan tenaga kau?!" pekiknya. "JANGAN BUAT BENDA TU DEKAT AKUUU!"

BUAKK!

Rosa telah meninju pipi Gopal. Gopal segera memandang Horor dan akhirnya pingsan saking takutnya.

"Cih! Ternyata dia dah pengsan duluan," dengus Rosa. "Kalau sahaja-"

'Tap- Tap- Tap,'

Tiba-tiba Ia mendengar sebuah suara langkah kaki menuju ruangannya. Rosa terkejut dan melihat keempat anak lelaki yang sudah terkapar di atas lantai ruangannya. Ia buru-buru mengambil sebuah kotak di atas meja dan membukanya. Diambilnya empat buah serum kecil dari dalam kotak itu.

"Nasib baik Organisasi bagi serum-serum ni semalam," desisnya lega. "Budak-budak ni tak boleh ingat apapun pasa kejadian barusan. Kalau tak, rancangan aku akan gagal. Baik aku bergegas."

Diluar ruangan, tampak Bu Anisa dan Yaya berjalan sembari berbincang-bincang.

"Nah- tu lah, Cikgu. Aura hitam tu yang buat orang-orang kena penyakit lemas," kata Yaya. "Sungguh misterius. Macam mana buat hilangkan wabah ni?"

Bu Anisa mendesah. "Ini buruk. Kita kena buat semua murid dan tenaga ajar siaga. Semoga mereka dapatkan tenaga mereka balik dalam sekejap," gumamnya khawatir. "Dan tentu pun- Eh?"

Ia menatap ke dalam ruangan Rosa. Tampak Rosa terduduk di lantai dengan tersedu-sedan. Di depannya tampak empat anak lelaki yang terkapar tidak sadarkan diri: BoBoiBoy, Gopal, Fang dan Iwan. Bu Anisa dan Yaya terkejut dan segera mendekati wanita itu.

"Ei? Apahal ni? Diorang pengsan ke?" tanya Yaya sembari melihat ke arah empat temannya yang pingsan itu.

Bu Anisa menatap Rosa dingin. "Puan Rosa, apa yang sebenarnya berlaku disini?"

"Huhuhuu- mereka terkena aura hitam yang buat lemas tu," tukas Rosa sedih. Serentak Yaya terlonjak kaget.

"HAH?! Tak boleh jadi ni," desis gadis berhijab pink itu. "Apa kita kena buat?"

"Yaya, kau panggil Petugas bahagian Kesihatan," kata Bu Anisa tiba-tiba. "Mereka kena dibawa segera ke bilik kesehatan sekolah."

"Baik, Cikgu."

Tak lama kemudian, beberapa Petugas Kesehatan siswa Akademi Pulau Rintis menggotong BoBoiBoy, Fang, Gopal dan Iwan yang masih saja pingsan ke ruang kesehatan. Yaya memandang teman-temannya itu dengan sedih.

"Apasal diorang jadi macam ni?" gumamnya. Bu Anisa menepuk pundak gadis itu sembari tersenyum.

"Doakan biar mereka sehat balik," katanya lembut. Yaya segera sumringah dan menatap guru bahasa Melayunya itu.

"Terima kasih sebab dah tenangkan aku, Cikgu," balasnya senang.

Bu Anisa tertawa kecil. "Sama-sama, Yaya," tukasnya. "Nah, kalau mereka dah siuman balik, ajak kawan-kawan darjah kamu buat jenguk mereka."

"Baik. Terima kasih, Cikgu."

Rosa melihat semua itu dengan tatapan kosong. Dia mendecih pelan sembari masuk kembali ke ruangannya.

'Esok hari aku tak boleh gagal lagi,' batinnya dingin.

Tanpa ia sadari, Bu Anisa memperhatikannya sedari tadi dengan pandangan curiga.


Ochobot dan Tok Aba berkunjung ke rumah Mila. Ochobot mengetuk pintu rumah itu.

"Mila? Kau di dalam?"

"Siapa diluar?"

"Ochobot dan Tok Aba."

"Ohh, iya iya. Sila masuk."

Tok Aba membuka pintu. Beliau dan Ochobot menemukan Mila yang tengah duduk diam di atas Sofa.

"Oh, Hai Tok Aba. Hai, Ochoboy," gumamnya lemah. "Ada keperluan kat sini ke?"

Ochobot mendesah. "BoBoiBoy kata dah dua hari kau sakit," katanya cemas. "Dan hari ni kau tak pergi sekolah pula. Kau sakit apa?"

"Umm... badan aku rasanya lemas," tukas Mila murung. "Tapi sekarang dah lagi baik. Besok mungkin aku dah masuk Sekolah lagi."

"Badan lemas?" tanya Tok Aba heran. "Kau terkena aura hitam yang sebabkan pandemi lemas dekat Pulau Rintis ni ke?"

Mila tersentak kaget mendengar ucapan Tok Aba.

"HAH?! AURA HITAM?!" pekiknya kaget. "Jangan-"

"Apasal kau jadi terkejut macam ni?" gumam Ochobot bingung. "Kau tahu ke siapa pelaku yang sebarkan Aura tu?"

Mila mendesah panjang. "Bunda aku... dia keluar dari badan aku selepas dia kumpul tenaga kat dalam badan aku guna kemampuan deasimilasi dari sel asimigen," tukasnya muram. "Nampaknya dia yang buat orang-orang menderita kelemasan di Pulau ni. Sel-sel tubuh Bunda ada kemampuan pelik buat pindahkan tenaga dari satu tubuh ke tubuh lain, macam pengisap kat mulut lintah, dan kemampuan itu pon diwarisi kat aku lewat genetik Bunda. Dia akan sedut tenaga orang-orang guna kemampuan dia tu. Lagi banyak yang dia sedut, lagi kuat dia. Tapi nampaknya aku dah terlambat."

"Ei, sudah. Tak payah kau sedih macam tu," hibur Tok Aba. "Nanti kita akan bantu kamu buat selesaikan ni."

"Dia mahukan Ochoboy sebagai Sfera kuasa," kata Mila frustasi. "Tapi semakin kesini dia nakkan sesuatu yang lebih pula. Dia mahukan kuasa elemental cucu Anda, Tok Aba."

"APA?!" Tok Aba tersentak kaget. "Apasal dia mahukan kuasa elemental cucu aku? Kau ni bergurau ke?"

"Aku serius, Tok Aba," desis Mila miris. "Bunda... Ketika dia masih berada kat dalam badan aku selepas guna kemampuan pelik dari asimigen yang sudah menginfeksi badan dia, dia selalunya bertingkah pelik kalau dia tengok BoBoiBoy, terutama kalau BoBoiBoy bagi tengok kuasa elemental dia. Nampaknya dia mahukan BoBoiBoy join kat dia buat bantu dia kuasai galaksi. Aku jadi risau."

"Kalau macam tu, Aku dan Tok Aba kena bagi tahu benda ni kat BoBoiBoy!" tukas Ochobot mantap. "Kalau tak, dia dalam bahaya!"

Mila terkekeh. "Terima kasih," ucapnya pelan. "Ah iya. Satu lagi. Kalau BoBoiBoy dan kawan-kawannya nak jenguk aku, cakap je aku tak nak dijenguk dahulu."

"Ei? Memangnya kenapa?"

"Ada sesuatu yang-"

BUMMM!

"Eh? Suara apa tu?" tanya Tok Aba heran seraya berjalan menuju halaman. Ochobot dan Mila mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba mereka terkejut melihat apa yang menyebabkan suara ledakan itu.

Adu Du di dalam Robot Mukalakus-nya.

"ADU DU?!" Tok Aba, Ochobot dan Mila memekik bersamaan.

Adu Du meringis kesal. "Kau! Kau yang sebabkan Probe pengsan!" Tudingnya pada Mila. Gadis itu kaget sekali mendengar tuduhan Adu Du tersebut.

"Apa? Aku pengsankan si Robe?" tanyanya tidak mengerti.

"Hiihh! Kau ni memang nak kena!" amuk Adu du. "RASAKAN NI! LASER PEMUSNAH!"

DUAAAAARRRRRRR!

"AAAAAAHHHHHHHH!"

Asap tebal menyelimuti halaman rumah Mila. Tok Aba terbatuk-batuk. Beliau menoleh ke kanan-kiri.

"Ochobot... Mila... Mana korang?" tanyanya cemas.

"Tok Aba!" tampak tubuh bola Ochobot di antara asap itu. Tok Aba segera mendekatinya seraya terengah-engah.

"Kau tak pe, Ochobot?"

"Iya, Tok."

"Tunggu kejap " kata Tok Aba. "Mana Mila?"

"AAAAAAAAAAAAHHHHHH!"

Tok Aba dan Ochobot terkejut mendengar suara pekikan itu. Keduanya memandang ke langit dan melotot.

"Huahahahahaha! Kalian takkan dapat hentikan aku!"

"Ti- Tidak... MILAAAAAAAAA!"


BoBoiBoy dan teman-teman sekelasnya berkunjung ke rumah Papa Zola dan Mama Zila. Kondisi BoBoiBoy, Fang, Gopal dan Iwan telah membaik. Anehnya, mereka seperti tidak mengingat apapun tentang kejadian di ruangan Rosa setelah ulangan Matematika tadi. Namun tampaknya mereka tidak terlalu memusingkan hal itu. Mereka telah sampai di depan pintu rumah Papa Zola.

"Assalamu'alaikum," sapa BoBoiBoy. "Cikgu Papa Zola, Makcik Mama Zila, ini kami, Murid-murid Kelas 7 Cerdas nak jenguk Cikgu Papa."

Mama Zila tergopoh menuju pintu dan membukanya. "Wa'alaikumsalam. Ehh? Apahal kalian semua datang ni?" tanyanya ramah.

"Kami nak jenguk Cikgu Papa, Makcik," kata seorang Siswa bernama Amar Deep. "Boleh ke?"

"Oh, baguslah. Mari masuk. Jarang-jarang kalian datang kemari," tukas Mama Zila geli seraya mengiring anak-anak masuk ke dalam rumah.

"Ehh- mana Cikgu Papa?" tanya Yaya.

Mama Zila tersenyum. "Ada kat bilik rehat dia. Kejap. Kalian boleh duduk di ruang tengah. Biar Makcik yang bagi tahu Kanda Papa perihal kedatangan kalian."

Mereka pun menunggu di ruang tengah seraya berbincang-bincang.

(Lalalalalalalalalalaaaa... laaalalalalalalaaaaaa...)*

"Wahh- kemasnya rumah Cikgu Papa!" kata BoBoiBoy dengan mata berbinar begitu melihat keadaan rumah yang begitu bersih dan rapi.

"Ye la tu. Ini berkat Mama Zila," balas Fang. "Dia kan pengidap OCD. Wajar la kalau rumah mereka kemas macam ni."

(Lalalalalalalalalalaaaa... lalalala... lalalalalaaaaaa...)*

"Oh iya. Nanti kalau rumah ni bersepah, Mama Zila boleh menjelma jadi Raksasa! Seram betul!" ucap Gopal ngeri.

(LALALALALALALALALALAAAAAA... LALALALA...)*

"Siapa yang cakap rumah kebenaran ni kemas, Ha?"

BoBoiBoy dan teman-temannya menoleh. Mereka terkejut melihat sumber suara itu.

(LALALALAAAAAAAAA!)*

"CIKGU PAPA ZOLA!" Mereka semua menjerit begitu melihat Guru nyentrik mereka berdiri di hadapan mereka. Serentak mereka menghambur ke arah Papa Zola bagaikan beras yang tumpah dari karungnya.

"Cikgu Papa! Kami rindu sangat!"

"Satu hari je Cikgu Papa tak de, serasa langit runtuh!"

"Huhuhuuu... Cikgu Papa..."

"Heiii! Apakah semua iniii?!" Papa Zola merasa sesak nafas karena pelukan murid-muridnya yang laki-laki dan segera mendorong mereka keras. "Kalian mahu tubuh Kebenaran tambah sakit, Haaaaahhhhhh?!"

"Hehe... maaf, Cikgu," kata Gopal tersipu. "Kami hanya rindu sangat ke Cikgu. Satu hari Cikgu tak de kami dah rasa sengsara!"

"Sengsara? Sengsara apakah yang kamu maksud, wahai anak muda?" tanya Papa Zola.

"Ehh- macam ni, Cikgu. Kami dapat Cikgu pengganti buat pelajaran Matematik tadi," kata BoBoiBoy gugup.

Papa Zola tersentak kaget. "APAAA?! SIAPA YANG BERANI MENDUDUKI POSISI KEBENARAN SEBAGAI CIKGU?!" tanyanya sekali lagi. "Dan macam mana rupa dia?"

"Dia perempuan, Cikgu. Nama dia Cikgu Rosa wo," jawab Ying. "Tapi selepas masuk, dia langsung bagi kami pemeriksaan Matematik!"

"Wahh! berarti dia tegas macam Kanda Papa," Mama Zila ikut menimpali. "Baguslah kalau macam tu."

"Tidak, Makcik Mama Zila. Tak bagus sangat," ujar Yaya muram. "Dia... Dia bagi kami lima puluh soal cerita. Lalu masa yang dibagi hanya lima minit sahaja!"

"HAHHHHH?! LIMA MINIT?!" Papa Zola memekik. "Cikgu teruk macam apakah ini?! Tak bagi kasih sayang terhadap anak didiknya! Kalau Cikgu jumpa dia, maka Cikgu akan belasah dia kerana telah menyusahkan anak didik Cikgu!"

"Betul tu, Cikgu!" gumam Fang. "Cikgu Rosa tu memang perlu dibelasah! Bahkan dia telah menampar saya," ujarnya seraya meraba bekas tamparan Rosa di pipinya yang masih saja membekas. Spontan Papa Zola murka dibuatnya.

"KETERLALUANNN! BERANINYA DIA MENAMPARMU, WAHAI FANG ANAK DIDIKKU!" Pekiknya marah. "Tenang sahaja. Esok Cikgu dah boleh masuk ajar kalian semua, jadi tak payah pula buat risau-risau. Tak kan Cikgu biarkan dia sakiti kalian lagi!"

"Wuaaahhhh! Terima kasih banyak, Cikgu!"

"Cikgu Papa memang terbaik!" tukas BoBoiBoy seraya mengacungkan jempol. "Dan tentu pun-"

BLAMM!

Kalimat BoBoiBoy terpotong akibat suara pintu yang tiba-tiba dibanting kedalam. Semuanya memandang ke arah pintu. Tampak Tok Aba dan Ochobot di ambang pintu seraya terengah-engah.

"Tok Aba?! Ochobot?!" tukas BoBoiBoy dan kawan-kawannya heran." Kenapa nampak penat ni?"

"HEI! KALIAN BERDUA NI TAK PUNYA ETIKA KAH?! Masuk masuk sambil banting Pintu kebenaran!" ujar Papa Zola kesal.

Tok Aba menghembuskan nafas panjang." BoBoiBoy, maafkan Atok. Tapi kami baru balik dari rumah Mila."

"Eh? Mila?" tanya Gopal kaget. "Tok Aba dan Ochobot lepas jenguk dia ke?"

"Iye. Tapi masalahnya-" gumam Ochobot ketakutan. "Mila... MILA KENA CULIK ADU DU!"

"APA?!"


Suasana Kota tampak seperti biasanya. Di dalam sebuah gedung pencakar langit tampak dua manusia tengah berbincang-bincang.

"Abang, nampaknya muka Abang dah penat sangat," kata salah seorang dari mereka. Nada suaranya lembut, ringan dan feminim. Dia adalah perempuan.

Sosok di sebelah perempuan itu mendesah panjang. "Entahlah, dik," gumamnya lesu. "Aku memang tengah banyak urusan. Tapi-"

'Tok, Tok, Tok-' Pintu ruangan tempat kedua sosok itu diketuk dari luar. Spontan kedua sosok itu menoleh ke arah pintu.

"Siapa diluar?"

"Ini saya, Uncle."

"Masuklah."

Pintu pun terbuka, menampakkan sebuah sosok pemuda berumur sekitar dua puluh tahun ke atas. Rambut landaknya yang berwarna coklat mendesir pelan, membuatnya sangat mirip dengan Aktor yang memerankan Azroy di dalam sebuah film Telenovela berjudul 'Seguni Mawar Merah', atau mungkin saja dialah Aktor itu. Dia memakai baju berwarna ungu dan coklat. Dia berjalan mendekati kedua sosok itu.

"Saya dah beli tiket Kereta Api buat ke Pulau Rintis," kata lelaki berambut landak itu. "Esok dah siap berangkat."

"Hmm- kamu dah telefon Tok Aba?"

"Ehehehe, belum."

"Kalau macam tu segera telefon beliau," kata si perempuan. "Jangan buat beliau dan BoBoiBoy terkejut masa tiba disana. Setidaknya kalau kamu telepon beliau, Tok Aba dah tahu kamu mesti datang kesana buat cuti kuliah kau. Sekalian pulak kamu berjumpa dengan BoBoiBoy."

"Baik. Akan saya hubungi Tok Aba selepas ni."

"Bagus. Hati-hati di jalan. Salam kat Tok Aba dan BoBoiBoy."

"Terima kasih, Uncle. Terima kasih, Auntie. Saya pergi dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Ketika sang lelaki muda itu telah keluar, dua sosok di ruangan itu kembali melanjutkan perbincangan mereka.

"Kau yakin ke dengan kau suruh dia cuti di Pulau Rintis semuanya akan baik-baik sahaja?" tanya si perempuan.

Si Laki-laki mengangguk. "Dia boleh jaga mereka disana. Lagipun aku nak sesekali meringankan Ayah aku dalam mengurus BoBoiBoy," gumamnya seraya menyodorkan sebuah Koran. "Dan juga salah satu sebabnya ialah berita utama di surat kabar pagi ni."

Jari telunjuknya menuding ke arah berita utama yang tertulis: 'SERANGAN PANDEMI LEMAS DISEBABKAN OLEH SEBUAH AURA HITAM DI PULAU RINTIS'

Si Perempuan terkejut melihat berita itu.

"Pandemi lemas sebab Aura Hitam?" tanyanya heran. "Itu kah sebab Abang suruh dia cuti buat jaga BoBoiBoy dan Bapak disana ke?"

"Setidaknya aku dah waspada sejenak," jawab si Lelaki. "Lagipun aku tahu kalau ini mesti kerjaan daripada Organisasi."

"ORGANISASI?! Mereka masih beroperasi? Disini?" si Perempuan tampak kaget.

Si lelaki menggeleng. "Kalau pasal tu aku pun kurang tahu," katanya lesu. "Mereka tak pernah nampak selama beberapa tahun belakangan ni. Tapi aku yakin mereka masih beroperasi."

"Apa buktinya?"

Si lelaki menatap si perempuan dengan tatapan serius. "Kau tengok ini dik? Wabah ni buktinya," ucapnya seraya mendelik ke arah Koran itu. "Tiada seorangpun yang boleh sebabkan pandemi ni kecuali 'dia' sorang: Salah sorang member lama Organisasi."

"HAH?!" Si perempuan menutup mulutnya karena panik. "Jangan cakap kalau makhluk pelik tu-"

"Ya, dik. Hanya dia sorang yang boleh buat benda pelik macam ni," desis si lelaki geram seraya meremas koran di tangannya, mendengus marah.

"Dia, Sang Mawar Liar."


Bersambung ...

*Lagu Tema dari Papa Zola _

Aihhh ... akhirnya bagian ini selesai juga, wahaha ... ah ya. Abang yang mirip Azroy itu ... lihat di Boboiboy Characters List: Adult Passenger di Stasiun Pulau Rintis. Dia muncul di Season 1 episode 1 saat Boboiboy hendak keluar dari Kereta dengan baju ungu dan berambut mirip Azroy. Mungkin aku bakal beri dia nama baru, so mind to Review? :)

Tetap setia menanti kelanjutannya ya ... Love you all, Dear Readers ^/^