Maaf karena baru update lagi, hehe. Baiklah. Mungkin cerita ini masuk sebagai ' Boboiboy The Movie: Sfera Kuasa Another Fanstory'. Makanya aku menceritakan Gopal dan teman-temannya sudah tahu tentang fase kedua Boboiboy Api dan Air: Blaze dan Ice (Padahal belum nonton filmnya, dasar Author aneh! _ ) Di bagian ini ada beberapa anggota dari Boboiboy the Movie ... yah, nikmati ceritanya ya. Disini juga kebanyakan Action dan lain sebagainya.
NauraCute1: Hehe ... terima kasih karena setia dengan cerita saya ini. ^_^
Syak30Dec: Yahh ... aku sudah tulis di sambutan author bahwa genre cerita ini bisa ganti-ganti, termasuk Hurt/Comfort. Jadi pastinya ada sedihnya gitu, hehe ... tapi terima kasih. Tetap setia pada cerita ini, Ok?;)
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
(Sebuah kisah fiksi)
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 9: Ketibaan Kedua
Ruangan berbentuk segiempat itu luas. Tampak sebuah jendela besar yang menghadap ke langit sore. Sebuah meja panjang terletak di depan jendela itu. Di belakang meja ada sebuah kursi dengan sandaran punggung menghadap keluar jendela. Sosok yang tengah duduk di kursi itu tampak diam. Dia memainkan jari-jemarinya dengan bosan. Sesekali sinar matahari sore mengenai cincin bertatahkan batu giok bewarna merah yang menghiasi jari tengahnya, memantulkan sinar. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ruangan itu. Pemilik langkah kaki itu berhenti seraya berucap:
"Aku dah bebas dari penjara tu, Ketua."
Sosok di balik kursi itu mendesah berat. Ia belum memutar kursinya dan masih saja memandang jendela.
"Rosaline, kau buat aku benar-benar terkesan," gumamnya. "Aku hanya ingin beri kau satu soalan. Macam mana kau boleh keluar dari sana?"
Rosaline tertawa kecil. "Ahaha- yah, kau tahu lah, aku guna suatu teknik bernas hasil eksperimen dekat diri aku buat rancangan aku ni, dan aku pon dah tengok Sfera Kuasa generasi kesembilan tu. Yah, dia kawan lama anak aku," ujarnya. "Selain itu, aku pun boleh keluar sebab aku dah terobsesi dengan satu manusia."
"Manusia?" tanya sosok di balik kursi dengan heran. "Tumben kau balik minat dengan manusia setelah sekian lama. Siapa manusia yang kau maksudkan tu?"
"Seorang budak kecik bernama BoBoiBoy."
"BoBoiBoy? Macam pernah dengar je. Dia salah satu pihak yang memiliki kuasa dari Sfera Kuasa itu ke?"
"Ya. Tapi bukan hanya dia sorang. Beberapa kawan sekolah dia pun punya kuasa, termasuk anak perempuan aku pun sekali."
"Hmm... apa sahaja kuasa diorang?"
"Selama pengamatan aku, BoBoiBoy nampaknya memiliki kuasa manipulasi elemen. Dia punya lima yang masing-masing dah mencapai tahap kedua."
"Yang lain?"
"Seorang budak bernama Fang. Dia boleh memanipulasi bayangan. Kemudian Gopal yang boleh memanipulasi molekul. Lalu Yaya yang memanipulasi graviti. Dan Ying. Dia boleh memanipulasi masa. Yang terakhir anak perempuan aku: Milyra. Dia boleh memanipulasi gelombang."
Sosok di balik kursi itu tertawa. "Hahaha- macam sama pun dengan yang dicakapkan oleh Bora Ra," tukasnya sinis, membuat Rosaline terkejut.
"Bora Ra? Bukan ke dia ketua daripada pasukan perompak sfera kuasa daripada Planet Ata ta Tiga: Tengkotak?" tanyanya heran. "Ingatkan dia dah tiada."
"Yah- begitulah," balas sosok dibalik kursi. "Tapi dia diambil dari suatu dimensi lain oleh Supervisor Supreme Diamond kita. Bukan cuma Bora Ra, tapi dia berjaya bebaskan ahli pasukan Tengkotak yang lain buat kontrak dengan Organisasi ni. Selepas dia dikalahkan oleh budak yang kau cakap sebagai BoBoiBoy tu beserta kawan-kawan dia, Tengkotak nak membalaskan dendam. Diorang memang alat yang bagus. Dan-"
Kalimatnya terputus begitu sesosok Alien besar berkepala kotak merah masuk ke ruangan itu. Rosaline menatapnya lamat.
"Hmm- kau datang juga akhirnya, Bora Ra," tanya wanita itu. Bora Ra mendesis kecil dan memandang ke arah sosok dibalik kursi dan segera menudingnya.
"Kau buat aku bosan menunggu!" tukasnya berang. "Aku dah tak sabar buat ambik balik Sfera Kuasa tu! Dia milik aku!"
"Cih, dia milik aku lah!" Desis Rosaline cemberut. Bora Ra terkejut mendengarnya.
"Apa?! Aku yang dapatkan duluan Sfera Kuasa tu!" ujarnya marah. "Apahal kau berhubungan dengan dia?"
"Dia kawan lama anak aku lah. Maka dari tu, dia sepenuhnya milik aku!"
"Huh! Cakap je kau nak ambik kuasa dia. Tapi dia masih tetap dalam wujud Sfera Kuasa tu! Jadi aku yang punya dia!"
"Terlalu! Aku yang berhak atas dia!"
"Aku yang berhak!"
"Aku!"
"Aku!"
"Boleh ke korang berdua berhenti ribut-ribut?" Sosok di balik kursi itu mendengus kesal begitu mendengar debat Rosaline dan Bora Ra mengenai kepemilikan Bola Kekuatan: Ochobot. "Kalau korang nak, korang boleh kerjasama untuk dapatkan Sfera kuasa yang hebat tu buat Organisasi ni. Nanti kuasa dia kita gunakan untuk kemaslahatan bersama. Sepakat tak?"
"Hah?! Semua kuasa dia aku punya lah! Mana boleh dibagi-bagi?" tanya Bora Ra kaget bercampur kesal. "Aku tak nak berbagi kuasa, apalagi dengan makhluk pelik macam dia!" tudingnya pada Rosaline. Rosaline hanya memutar bola matanya seraya mendesah panjang.
"Itu konsenkuensi kau buat kontrak dengan kami," ujar sosok dibalik kursi. "Dah lah. Aku nak korang ambik Sfera kuasa tu malam ini."
"Terserah!" Tukas Bora Ra jengkel lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Rosaline mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba sosok dibalik kursi itu bergumam, mencegatnya.
"Rosaline, aku punya satu permintaan."
Rosaline menoleh ke arahnya. "Apa yang kau nak, Ketua?" tanyanya agak ketus.
Sosok dibalik kursi terkekeh pelan. "Kalau boleh, aku nak tengok budak-budak yang kau cakap tadi dengan kedua mata aku sendiri. Terutama si penguasa elemen tu: BoBoiBoy. Budak tu macam menarik."
Mendengar itu, Rosaline mendengus. "Jangan cakap kalau kau nak gunakan dia buat kepentingan proyek-proyek kau," katanya dingin.
"Hei, tenanglah dahulu. Aku hanya nak berbincang dengan dia beberapa soalan," kata sosok dibalik kursi itu.
"Hmm- baiklah kalau macam tu," tukas Rosaline pasrah. "Aku akan bawa Sfera kuasa tu kesini bersama dengan BoBoiBoy. Tapi camkan kata-kata aku: Dia kena join aku. Takde sorang pun ahli pasukan kat Organisasi yang berhak atas dia kecuali aku. Titik, tak de koma."
Mendengar kalimat itu, Sang Ketua menggeram dengan ekspresi jijik. Tapi dia tahu berdebat dengan Rosaline tidak akan ada gunanya, jadi sang Ketua hanya diam, tidak balas mendebat. Dibaliknya kembali kursinya menghadap jendela besar di belakangnya seraya bergumam.
"Baiklah kalau begitu, Puan Mawar Liar. Kau boleh pergi."
Rosaline mendesah panjang seraya meninggalkan lawan bicaranya itu sendirian di ruangan itu dan menyusul Bora Ra yang sudah bersiap-siap pergi menjalankan misi. Begitu ia masuk ke pesawat angkasa Tengkotak, sebuah suara menyapanya.
"Ah, Rosaline. Tumben je kau nak kerjasama dengan kitorang."
Rosaline menoleh ke sosok itu. "Aku nak ambik Sfera kuasa tu lah, nak tengok budak-budak yang pernah korang lawan beberapa masa silam pun sekali," ujarnya." Kenapa kau tanya soalan macam ni kat aku? Cakap je kau penasaran pula, Kiki Ta."
Sosok yang bernama Kiki Ta itu mendengus. "Patut pun kau langgar seorang Pakcik tua tadi siang dekat Supermarket tu," katanya geli. 'Kalau tak salah, dia seorang kerabat dari budak bernama BoBoiBoy."
"Ya. Sebenar pun aku tak sengaja," jawab Rosaline "Tapi setelah difikir-fikir, itu kemujuran bagi aku. Dengan cederanya kerabat BoBoiBoy tu, maka berkurang pula pengawasan terhadap diri dia. Benar-benar kemujuran yang elok sangat, fufufufufuuuu…"
"Dah lah. Kau ni memang melampau sangat, Rosaline," gerutu Kiki ta sembari mulai berjalan ke ruang kendali. "Budak kecik pon kau cuba ganggu."
Rosaline mendesah. "Terserah kau nak cakap apa tentang diri aku," balasnya datar. "Jom lah. Nanti Komander kau marah pula kalau kita bincang lama sangat. Mari kita pergi."
Kedua perempuan itu melangkah menuju ruang kendali pesawat dimana anggota Tengkotak tengah menunggu.
"Tunggu lah kau, BoBoiBoy... kami akan ambik balik Sfera kuasa tu dari tangan kau!" ujar Bora Ra berang. "Melaju ke dimensi bumi dengan kecepatan penuh!"
BLAAAAASSSSTTTT!
Pesawat Angkasa itu melesat dengan kecepatan cahaya. Rosaline memandang ke depan dengan seringai andalannya.
'Mari kita mulakan pesta kita, Ehehehehe…'
BoBoiBoy dan teman-temannya masih menganga di tempat.
"Kau gurau ke, Ochobot?" tanya BoBoiBoy. "Rosaline… Rosaline yang tabrak Atok aku?!"
"Ye lah tu. Aku tengok muka dia sebelum dia lari," kata Ochobot sedih. "Maaf, BoBoiBoy. Tapi ni semua dah nasib."
BoBoiBoy membisu. Ditatapnya tubuh Tok Aba yang terbaring di atas ranjang. Tahu-tahu ia berjalan keluar kamar rawat itu, membuat semua yang ada disitu terkejut.
"BoBoiBoy! Mana kau nak pegi?" tanya Yaya khawatir.
"Tolong biarkan aku sendiri." Kata BoBoiBoy lesu. "Aku nak balik rumah, nak tenangkan diri."
Ray memandang BoBoiBoy dengan kasihan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan hendak menyusul adiknya itu. Namun Ochobot segera mencegatnya.
"Tak pe lah, Ray. Kau dan yang lainnya jaga Tok Aba kat sini dahulu," katanya. "Biar aku yang pujuk BoBoiBoy agar hati dia tenang balik."
Dia lalu terbang keluar dari kamar rawat itu dan menemukan BoBoiBoy yang sudah beranjak keluar dari pintu rumah sakit. Lantas didekatinya anak itu.
"BoBoiBoy-"
"Apa, Ochobot? Jangan ganggu aku."
"Tapi aku tak suka lah tengok kau bersedih macam ni," kata Ochobot empati. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin melihat teman baiknya itu terpuruk.
"Aku hanya nak balik ke rumah je," Kata BoBoiBoy suram. "Nak tenangkan diri."
Ochobot mendesis. "Ye lah. Kalau macam tu, aku akan hantar balik kau ke rumah," tawarnya. "Nak ke tak?"
"Haaahhh- terserah dah."
Tenaga: 100%
"Bagaimana keadaan kau sekarang, Probe?"
"Ehehe- dah baik!"
Komputer baru saja melihat Probe yang sudah sadar dari pingsannya selama beberapa hari ini.
"Encik Bos, tenaga aku dah balik semula!" tukas Probe senang seraya mencari-cari Adu Du di Markas Kotak itu. "Encik Bos? Eh, mana Encik Bos ni?"
"Bos tengah belajar dekat Akademi Pulau Rintis," ujar Komputer. "Tapi peliknya, dia belum balik tau."
Probe melongo. "Ei? Apa benda yang Encik Bos perbuat kat sana?" tanyanya bingung.
"Hmm- dia nak ungkap pelaku Pandemi pelemas di Pulau Rintis ni."
"Eh, Iya ke? E- Encik Bos... dia memang terbaik!"
BRUK!
Tangan lancip Probe tahu-tahu sudah menyenggol sebuah kotak di sebelahnya. Serentak isi kotak itu berhamburan keluar, membuat Probe dan Komputer kaget melihat itu.
"I- Ini…"
Isi Kotak itu ternyata adalah sekumpulan foto dengan gambar sesosok Alien tinggi dan Cantik yang pernah mereka temui di Geng Tengkotak dulu: Kiki Ta.
"Ha? Siapa yang taruh foto Kiki ta kat sini?" tanya Komputer heran.
"Helehh- siapa lagi kalau bukan Encik Bos? Dia kan cinta sama Kiki Ta ni, hehehe… walaupun cuma bertepuk satu tangan," ujar Probe dengan nada menyeringai. "Dah lama kita tak berjumpa dengan Tengkotak tu. Dan pula-"
WUUUSSSSSS!
"Ei? Suara apa tu?" ujar Probe heran lalu pergi keluar Markas Kotak. Dilihatnya sebuah pesawat angkasa raksasa milik Tengkotak lewat di atas tempat itu.
"Ai'? Bukannya itu Kapal angkasa Tengkotak ke?" tanya Probe heran. "Kena bagi tahu Encik Bos ni."
"Tahan, Probe!" Cegat Komputer. "Kau tahu ke dimana Encik Bos sekarang?"
"Ehh- tak tahu tu."
"Kalau macam tu tunggu kejap," kata Komputer. "Aku analisa dahulu dimana koordinat dia sekarang."
Beberapa detik kemudian, sebuah gambar muncul di layarnya.
"Encik Bos sekarang tengah berada kat Hospital Pulau Rintis."
Probe terperangah. "Okey! Aku akan jemput Encik Bos dan bagi tahu dia pseihal kedatangan Tengkotak!" katanya bersemangat. "Mesti Best!"
Sepeninggal Probe, Komputer menatap Pesawat Angkasa milik Tengkotak yang masih saja melesat.
"Eh, Kejap," gumamnya tiba-tiba. "Arah mereka tu-"
BoBoiBoy dan Ochobot telah tiba di dalam rumah. Ochobot mendekati pemuda bertopi Dinosaurus bewarna jingga itu.
"Jangan la sedih, BoBoiBoy," hiburnya. "Tok Aba mesti akan baik-baik sahaja. Tak payah kau cemaskan sangat."
BoBoiBoy mendengus pelan. "Dah lah, Ochobot. Aku nak sendiri je dekat bilik aku," gumamnya dengan wajah lesu sembari menaiki tangga menuju kamar tidurnya di lantai dua. Ochobot yang merasa kasihan lalu mengikutinya dari belakang. Dilihatnya BoBoiBoy masuk ke dalam kamar tidur dengan cemas. Dia lalu menengok anak itu dari ambang pintu.
"BoBoiBoy, jangan lah macam ni. Kau kena terima nasib."
BoBoiBoy tidak menjawab. Dia hanya berdiri diam di tengah kamarnya yang berlangit-langit miring itu. Aura di sekitar tubuhnya terasa suram sekali. Ochobot lalu terbang mendekati anak itu.
"BoBoi-"
CLANGG!
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Entah mengapa Ochobot merasa tubuh bolanya tiba-tiba terborgol sesuatu dan terseret mundur. BoBoiBoy tersentak mendengar jeritan Ochobot dan segera membalik badan ke arah ambang pintu. Ochobot sudah lenyap dari sana.
"Ochobot?" tanyanya was-was. Ia berjalan menuju pintu kamarnya. Tiba-tiba,
BRAAKK!
"Hah?!"
Untuk pertama kalinya BoBoiBoy melihat pintu kamarnya tertutup sendiri tepat di depan hidungnya. Segera saja ia meraih gagang pintu itu dan mencoba membukanya. Namun anehnya, pintu itu tidak bergeming, membuat BoBoiBoy mengidik.
'I- Ini bukan hantu kan?' batinnya takut-takut. Namun semua prasangka itu sirna begitu ia mendengar sebuah suara yang datang dari kamarnya sendiri.
"Akhirnya kita berjumpa lagi, BoBoiBoy."
Refleks BoBoiBoy menoleh. Ia tertegun begitu melihat 'sosok' tak jauh di hadapannya itu.
"Ro- Rosaline?!" pekiknya kaget. Rosaline berdiri di dekat jendela kamarnya seraya berkacak pinggang dengan satu tangan. Penampilan wanita itu tidak jauh berbeda dari saat terakhir kali BoBoiBoy dan kawan-kawannya menghadapinya. Hanya saja sayap kelelawar dan ekornya tidak tampak.
"Kau! Apasal kau ada kat bilik rehat aku?" tanya BoBoiBoy kesal. "Kau... Kau rupanya yang tabrak Atok aku!"
"Huh! Aku tak de tanggung jawab dalam perkara itu," Kata wanita di depannya, membuat BoBoiBoy panas hati.
"Tak sedar diri! Kau dah ciderakan Atok aku! Kau pula yang tangkap Ochobot! Mana dia?"
Rosaline mendesah panjang. "Bukan aku yang tangkap dia," gumamnya. "Tapi 'mereka'."
Wanita itu menuding keluar jendela. Tampak Pesawat luar Angkasa Tengkotak disana. Di pintu pesawat terlihat Bora Ra, Kiki Ta dan beberapa anggota Tengkotak sembari tersenyum sinis. Bora Ra meringkus Ochobot dengan sebuah borgol listrik yang melilit tubuhnya. Ochobot sendiri tampak panik dan berusaha melepaskan diri. Namun setiap kali ia bergerak, maka borgol listrik itu akan menyetrumnya.
"Bo... BoBoi… Boy…" desis Ochobot ketakutan. "Tolong aku- Aaaahhhhh!"
Borgol itu kembali menyetrumnya, mengingatkan Ochobot akan traumanya beberapa waktu silam saat dirinya diculik oleh Tengkotak yang memakai energinya terus-menerus hingga nyaris membunuhnya.
"Tengkotak?!" ucap BoBoiBoy kaget. "Apasal korang ada kat sini, Hah?! Bagi balik Ochobot!"
Bora Ra terkekeh keras. "Kami? Bagi balik dia? Kami yang punya Sfera kuasa ni!" katanya sinis. "Kami cuma nak ambik balik dia je. Kau tak de daya buat hentikan kami, HAHAHAHAHAAA!"
BoBoiBoy menggeram marah. "Tidak akan kubiarkan korang ambil kawan aku buat kali kedua! KERIS PETIR!"
Dilemparnya beberapa keris petir ke arah Bora Ra dan Koncro-koncronya. Tiba-tiba sebuah perisai transparan muncul melapisi pesawat angkasa Tengkotak dan menangkis serangan BoBoiBoy itu. Rupanya Rosaline yang melakukannya.
"Aku tak tanggung jawab kalau Kapal angkasa korang rusak," desis wanita itu.
Bora Ra tersenyum. "Nah, tengok. Kau tak kan boleh hentikan kami lagi, BoBoiBoy," katanya mengejek. "Ucapkan selamat tinggal pada kawan kecil kamu ni, Mwahahahahahaaaa!"
"BOBOIBOY!" Ochobot menjerit sekali lagi. Namun borgol listrik itu menyetrumnya dengan kekuatan yang dashyat sehingga membuatnya pingsan dalam sekejap.
"TIDAAAAAAAKKKKKK! OCHOBOOOOOTTTTTT!"
BoBoiBoy berlari menuju jendela rumahnya dan hendak melompat ke pesawat luar angkasa Tengkotak. Namun sebelum kakinya meninggalkan ambang jendela, Cengkeraman semu milik Rosaline menyeret tubuhnya masuk ke dalam kamar dan menghempaskannya ke dinding.
"Tak akan kubiarkan kau ambik balik kawan masa kecil anak aku," ucap Rosaline kesal, membuat BoBoiBoy terbengong-bengong.
"Hah?! Ochobot? Kawan masa kecil anak kau?" tanyanya bingung. "Berarti Ochobot dan Mila tu…"
"Mereka tu dah saling kenal sejak kecik," Jawab Rosaline kesal. "Si Sfera kuasa tu tak pernah bagi tahu pasal jati diri sebenar dia ke?"
"Eh? Jati diri sebenar Ochobot?" tanya BoBoiboy heran. "Apa maksud kau ni?"
"Oi, Rosaline! Kenapa kau masih ada kat bawah situ?! Masuk balik ke kapal ni! Kita dah nak berangkat! Misi kita dah selesai. Sfera kuasa pun kita dah dapatkan pula," kata Bora Ra. "Kau nak kami tinggal ke, Hah?"
Rosaline mendesah panjang. "Ye lah tu. Korang memang dah siap balik," katanya. "Tapi aku masih ada pasal sekejap. Aku nak bersenang-senang dahulu sebelum balik."
"Eh? Apa maksud dia cakap nak senang-senang dahulu?" tanya Gaga Naz heran.
"Haeehh- dah mule dah dia," ucap Bora Ra lalu menatap Rosaline. "Okey. Kau boleh senang-senang dahulu. Tapi jangan lama sangat! Kau nak kita ditengok seisi Pulau ni sebagai perompak Sfera kuasa, Heh?!"
"Ye lah, ye lah. Sabar dulu. Bagi aku beberapa masa tuk senang-senang," balas Rosaline seraya menoleh ke BoBoiBoy dengan seringai gila. BoBoiBoy yang melihat itu segera pasang kuda-kuda.
"Senang-senang? Apa maksud kau dengan senang-senang?" tanyanya was-was. Spontan anak itu mengidik hebat. Dilihatnya Rosaline mulai melangkah ke arahnya.
"Ap- Apa yang kau nak dari aku?!" tanya BoBoiBoy curiga bercampur ngeri. "Jangan berani kau apa-apakan aku! Kalau kau buat tu, aku akan belasah kau segera! BOBOIBOY KUASA-"
"CENGKAMAN FISIK!"
"HAH?!"
Cengkeraman Telepati Rosaline tahu-tahu sudah menyergap tubuh BoBoiBoy. Dihempaskannya anak itu ke lantai kamar. BoBoiBoy berusaha membebaskan diri. Namun sergapan yang dirasakan tubuhnya semakin menjadi-jadi.
"Apa yang kau nak buat ni?!" tanyanya dengan jantung berdegup kencang. Kedua mata coklat Hazelnya segera memandang Horor begitu melihat Rosaline mulai berjalan ke arahnya. Dia semakin panik begitu wanita alien makhluk kelelawar itu melemparnya ke lantai kamar dan mencengkeram paksa salah satu pergelangan tangannya.
"Join aku, BoBoiBoy, dan kita akan menaklukan galaxy, fufufu..."
"HUWAAAAAAAAAAAAAAA!"
"BoBoiBoy! TENDANGAN SUPERSONIK!"
BUAAAKKKK!
Rosaline terlempar hingga keluar jendela. Rupanya Yaya yang menendangnya tadi. Waktu yang tepat. Kalau tidak, maka BoBoiBoy akan pingsan saat itu juga. Ditatapnya Yaya dengan pandangan lega walaupun tubuhnya masih berkeringat dingin karena ketakutan.
"Te- Terima kasih, Yaya," ucapnya pelan. "Nasib baik kau datang. Kalau tak, dia mesti dah belasah aku sedari tadi."
Yaya membalikkan badan ke arah BoBoiBoy dengan khawatir. "Kau tak pe?" tanyanya cemas. "Aku dan Fang datang kesini. Probe datang ke Hospital dan bagi tahu pasal Tengkotak tu. Abang Ray ikut pula. Dia cemaskan kau. Maka dari tu, Ying, Mila dan Gopal yang jaga Tok Aba kat Hospital sekarang."
"Mana Abang Ray dan Fang?"
"Mereka ada kat luar rumah. Jom kita keluar dan hentikan Tengkotak dan Rosaline tu."
Mereka berdua pun berlari keluar rumah. Tampak Fang berusaha melawan Bora Ra di bawah pesawat Angkasa Tengkotak itu. Anak berwajah oriental itu menerjang marah.
"Bagi balik Ochobot!" Pekiknya berang seraya mengeluarkan jari-jari bayang dan melesatkannya menuju Bora Ra yang masih memegang Ochobot yang sudah tidak sadarkan diri. "Kau tak de hak buat ambil dia balik!"
"Hahahahaaa! Payah kau!" ujar Bora Ra sinis. "Kau ingat kau boleh kalahkan aku lagi? Rasakan ni!"
Diangkatnya tangannya ke udara. Tampak sebuah bola energi bewarna hitam tercipta di tangannya. BoBoiBoy dan Yaya terkejut melihat itu dan segera berteriak.
"Fang, Jaga-jaga! Dia nak keluarkan kuasa Lohong Hitam!"
"APA?!"
"HAHAHAHAAA! Sudah terlambat! Kau kan terhapus kali ni! KUASA LOHONG HI-"
BAKK! BUUKK! DUAAAKK!
"AAAARRRRGGGGHHHHHH!"
BRUK!
Bora Ra tersungkur. Serangan Lubang Hitam miliknya tercegah. Tampak Ray yang berdiri di depannya seraya memasang kuda-kuda a la Petinju. Rupanya dia yang menghajar Bora Ra sebelum Alien kekar itu menyerang Fang dengan kekuatan Lubang Hitamnya.
"A- Abang Ray?" tanya Fang lega. "Abang yang hajar dia tadi ke?"
Ray menoleh ke arahnya. "Kurus-kurus macam ni aku ikut kursus tinju kat Universiti," katanya serius. "Awalnya aku tak nak. Tapi Ayah kau masih sahaja memaksa. Tapi dengan beberapa teknik tinju, aku boleh lindungi orang macam ni."
"Haehh- ye lah tu," desah Fang. "Nasib baik si BoBoiBoy tak ikut kursus macam tu kat sekolah."
"APA KAU CAKAP, FANG?!" BoBoiBoy langsung kesal begitu mendengar sindiran dari rivalnya itu. Tapi dilihatnya Yaya yang menggeleng di sampingnya.
"Sudahlah tu, BoBoiBoy. Ini bukan masanya kau dan Fang berdebat pula," lerainya. "Sekarang lawan kita tu ialah Tengkota-"
"AAAAAAARRRGGGGHHHHH!"
Yaya dan BoBoiBoy menoleh dan terkejut. Tampak Ray yang lengah tahu-tahu sudah dicekik di udara oleh tangan kekar Bora Ra. Fang yang berada tak jauh darinya terperangah dan menerjang ke arah Bora Ra.
"Tak de ampun! Rasakan ni: ELANG BAYA-"
GRAAKK!
"UWAAAAAAAAAAAAA!"
Sekonyong-konyong Fang merasa tubuhnya dicengkeram kuat-kuat. Rosaline menggunakan kemampuan Telekinesisnya untuk menahan tubuh anak itu di tempat. BoBoiBoy dan Yaya memandang dengan terkejut.
"ABANG RAY! FANG!" pekik mereka panik.
"Ahahaha- jangan lupa, lawan korang aku pula," kata Rosaline sarkastik. Yaya langsung melesat ke arahnya seraya mengarahkan tinjunya.
"Takkan kubiarkan korang ciderakan mereka!" pekiknya. "TUMBUKAN BERTUBI-TUBI!"
"Heh! Jangan mimpi kau! PERISAI PENYERAP ENERGI!"
Sebuah bola gelap melingkupi tubuh Rosaline. Yaya meninju bola itu bertubi-tubi. Namun semakin ia meninju, semakin lemah tubuhnya. Yaya terpaksa menghentikan serangannya dan melompat mundur. Detik berikutnya ia terduduk di tanah.
"Aku… Aku tak boleh lawan dia…" desisnya lemah. "Aku lupa... kalau dia tu... alien makhluk kelelawar… boleh sedut tenaga… kita…"
"YAYA!" BoBoiBoy berteriak khawatir dan berlari ke arah gadis itu. Namun Yaya segera mengangkat tangannya tanda mencegat.
"Tak payah kau… tolong aku, BoBoiBoy… selamatkan Fang dan Abang Ray… dahulu…" gumamnya terengah-engah.
"Eh? Tapi badan kau lemah la."
"Tak perlu! Selamatkan mereka sekarang!"
"Tapi-"
"AAAAAAAAHHHHHHH!"
Bora Ra dan Rosaline semakin menguatkan cengkeraman mereka pada Ray dan Fang. BoBoiBoy menatap mereka nanar.
"Korang… Korang benar-benar melampau!" teriaknya murka. "Korang dah pengsankan Ochobot dan ciderakan kawan-kawan aku! Lepaskan Ochobot, Fang dan Abang Ray!"
"Huh! Kau harap banyak sangat," desis Bora Ra remeh. Dia semakin menguatkan cengkeramannya pada leher Ray, membuat lelaki itu tersiksa.
"Aghhh... Tak boleh..." desis Ray lemah. Ia berusaha melepas cengkeraman Bora Ra dari lehernya. Namun tangan Alien itu kuat sekali sehingga Ray merasa asupan udaranya menipis.
"Ughh… kau kena... buat sesuatu… BoBoiBoy!" ujar Fang putus-putus. "Abang Ray... dalam bahaya!"
"Hahahahahaaa! Nak lawan kami?" tanya Rosaline nista. "Kau tak de daya buat selamatkan diorang, Mwahahahahahaaaa!"
"Jangan… Jangan lagi…" BoBoiBoy mendesis marah seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya tertunduk. "Jangan lagi korang apa-apakan mereka!"
Ia mengangkat wajahnya dan berlari. Diangkatnya kedua tangannya dan melompat tinggi ke udara. Sebuah cahaya besar muncul dari tubuhnya.
"BOBOIBOY KUASA LIMA!"
BLAAAAASSSSSS!
Cahaya itu meledak. Begitu ia menghilang, muncul lima sosok Boboiboy yang mendarat di tanah. Gempa mengepalkan tinjunya yang berlapiskan sarung tangan batu hitam dengan magma menyala plus mimik wajah yang serius. Halilintar memegang ujung topinya yang menghadap ke depan dengan pandangan dingin. Taufan tersenyum lebar seraya berkacak pinggang di atas Hoverboard-nya. Blaze memandang sekeliling dengan cengar-cengir kekanakan. Ice menundukkan wajah dan melipat kedua tangannya di depan dada. Semuanya terbelalak melihat kemunculan mereka, terutama Ray. Ini baru pertama kalinya dia melihat BoBoiBoy memiliki kekuatan seperti itu.
"Okey. Aku akan selamatkan Abang Ray," ujar Gempa.
"Aku juga nak main dengan Bora Ra tu, hehehe," tambah Blaze seraya terkekeh.
"Kalau macam tu, aku yang akan selamatkan Ochobot," ujar Taufan. "Aku boleh terbang tinggi ke Kapal Angkasa Tengkotak tu."
Gempa tersenyum lalu menatap Halilintar dan Ice. "Nah, korang berdua lawan Rosaline dan selamatkan Fang," katanya kemudian, membuat kedua pecahan BoBoiBoy yang topinya sama-sama ditundukkan itu terperangah.
"Apa?! Kami? Lawan Rosaline?" tanya Halilintar kaget. "Kau nak dia sedut tenaga kitorang guna serangan pelik dia, Hah?!"
"Baik aku tido je daripada buat perkara macam tu," tukas Ice dengan wajah malas. "Lagipun- Eh?"
Tahu-tahu hanya dia dan Halilintar yang berdiri disitu. Gempa dan Blaze sudah menerjang ke Bora Ra sementara Taufan sudah terbang menuju Pesawat Luar Angkasa Tengkotak, membuat kedua pemuda cilik bernuansa dingin dan tenang itu sweatdropberjama'ah.
"Jahatnya," gumam Ice menyindir. Ia pun menyusul Halilintar yang sudah pergi duluan menyerang Rosaline.
Taufan melesat menuju Pesawat Angkasa Tengkotak, hendak menyelamatkan Ochobot. Sekonyong-konyong sebuah peluru laser ditembakkan ke arahnya. Taufan tersentak dan segera menghindar. Dilihatnya Kiki Ta membidikkan senapan lasernya ke arah pecahan BoBoiBoy pengendali angin itu.
"Kau ingat senang ke ambil Sfera kuasa tu?" tanya Alien wanita itu dengan nada sangar. "Langkahi aku dahulu sebelum kau boleh ambil dia!"
"Baguslah kalau kau lawan aku," kata Taufan dengan wajah sumringah. "Satu lawan satu, hehehe."
"Huh! Siapa cakap kalau kita nak satu lawan satu?" tanya Kiki Ta mengejek lalu menoleh ke dua rekan alien di sebelahnya. "Gaga naz, bantu aku."
"Eh? Kalau aku macam mana?" tanya Yoyo Oo yang saat itu langsung merasa seperti anggota yang paling tidak berguna.
Gaga naz tertekeh. "Kau jaga si Sfera Kuasa tu lah," katanya geli. Yoyo Oo mendesah lalu memegang Ochobot yang sudah pingsan. Taufan segera pasang siaga satu.
"Hahaha- hanya tiga? Kacang je," katanya riang. "Aku akan belasah korang semua, hehe... Rasakan ni: CAKERA MEGA UDARA!"
Beberapa Cakram udara raksasa bewarna biru muda dilemparkan Taufan ke arah Geng Tengkotak itu. Namun sebelum serangan itu mengenai mereka, sebuah roket raksasa menghantam Cakra udara milik Taufan dan meledak. Detik berikutnya terdengar suara tawa yang cetar membahana tak jauh di belakang Taufan.
"MWAHAHAHAHAHAAAA! Bukan TIGA... tapi LIMA LAWAN SATU! HAHAHAHAHAAA! Kau akan habis, BoBoiBoy!"
Taufan menoleh. Tampak Adu du yang terbang bersama Probe yang sudah berubah ke mode Mega Probe, membuat Taufan tercengang-cengang.
"ADU DU?! Bukannya kau kerjasama dengan kami ke?" tanyanya kaget.
Adu Du tersenyum jahat. "Heh! Itu dulu. Jangan lupa kalau kau masih pula musuh ketar aku!" katanya sinis. "Lagipun tak sampai hati aku nak lawan Kiki Ta, hehehe..."
Kiki ta yang mendengar itu langsung memutar bola matanya. "Mulai mengarut lagi dah," katanya malas.
"Ehehe... tak pe, Kiki Ta. Aku tak kan biarkan BoBoiBoy belasah muka awak yang cantik nian tu..."
"Eihh- Encik Bos dah mula dah," kata Probe pasrah. "Tak malu cakap-cakap pasal romantik macam tu di hadapan orang ramai."
"Diam! Kau ganggu reuni cinta aku la," desis Adu du kesal lalu kembali menoleh ke arah Kiki Ta. "Ehh... kau nak makan kat mana malam ni? Nanti aku traktir kau pakai-"
"Pakai ni: TUMBUKAN MEGA GRAVITI!"
"Ehhh?!"
DUAAAKK!
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH!"
Tahu-tahu Yaya sudah datang dan meninju Probe dan Adu Du hingga terpental jauh ke atas langit. Taufan yang melihatnya melongo tanda bingung.
"Ei, Yaya. Bukannya badan kau lemas selepas lawan Rosaline tu ke?" tanyanya. Yaya menoleh ke arahnya dengan senyum mengembang.
"Ye lah. Tapi aku kan boleh kumpul tenaga balik," balas gadis berjilbab itu. "Lagipun Rosaline sekarang tengah diurus sama BoBoiBoy Halilintar dan BoBoiBoy Ice. Kalau kau sorang je lawan Tengkotak tu, bisa-bisa kau dah hilang dari muka Bumi ni."
"Hehe, sori," kata Taufan seraya mengusap belakang kepalanya, menyeringai. "Kalau macam tu, bantu aku lawan diorang," katanya dengan wajah sinis ke arah Geng Tengkotak.
"Hmph! Berlagak lah sangat," kata Yoyo Oo jengkel. "Tapi baiklah kalau korang nak lawan kami. Sedia buat hancurkan diri korang sekarang?"
Gempa dan Blaze menerjang ke arah Bora Ra yang masih mencekik Ray. Ray sendiri sudah hampir hilang kesadaran. Samar-sama dilihatnya kedua pecahan BoBoiBoy itu berlari ke arahnya dan Bora Ra. Gempa melompat ke udara dan meninju tanah sembari berteriak:
"GOLEM KRISTAL!"
BUMMMM!
Serta merta sebuah Golem batu bewarna gelap dengan kristal-kristal hijau menyala di sekujur tubuhnya melompat dari dalam tanah dan mendarat, menyebabkan tanah di sekitarnya berguncang hebat. Diarahkannya bogem mentah ke arah Bora Ra, meninju Alien kekar bewarna merah itu hingga terpental beberapa meter. Ray terlepas darinya dan ikut terlempar. Blaze segera menangkap tubuh pemuda itu dan menurunkannya di tanah.
"Abang tak pe?" tanya Blaze. Ray melihatnya dengan tatapan aneh. Apalagi melihat pakaian Blaze yang bewarna merah kecoklatan dan hitam serta tudung jaket yang menutupi Topinya yang menghadap ke depan dengan nuansa api yang menyala-nyala di jaketnya itu.
"Kau... Kau ini sebenarnya siapa?" tanyanya kekeran. Blaze langsung mengerutkan kening tanda bingung.
"Aku? Aku ni BoBoiBoy lah," katanya polos.
"Lalu dia siapa?" tanya Ray lagi seraya menunjuk Gempa yang berdiri tak jauh darinya.
"Dia juga BoBoiBoy, Abang."
"HAH?! Maksud kau... BoBoiBoy ada banyak?!"
"Eh? Abang tak tahu ke kalau BoBoiBoy boleh pecah lima?"
"Hei, aku memang tak tahu lah kalau kau punya kuasa pelik macam ni!"
"Dah lah, Abang. BoBoiBoy nak main sama Gempa dan Bora Ra dahulu." kata Blaze riang seraya berlari menuju Gempa. "Abang tunggu kat sini ya."
"Eh, Kejap! Gempa? Itu ke BoBoiBoy yang pakai serba hitam dan kuning tu?" tanya Ray mencegat. "Lalu kau siapa pula?"
"Aku? Ehehe... Aku BoBoiBoy Blaze," balas Blaze menyeringai dan melambaikan tangan ke arah Ray. "Dah, Abang. BoBoiBoy nak main dulu."
Blaze pun berlari menyusul Gempa sementara Ray memandang dengan mulut menganga hebat. Detik berikutnya ia menjatuhkan diri ke tanah.
"Aduuhh... pening kepala aku..." ujarnya Ling-lung." Kenapa benda pelik macam ni boleh berlaku?"
Halilintar melesat menuju Rosaline. Ice datang menyusulnya dari belakang. Keduanya berhadapan dengan wanita alien yang saat itu tengah menahan Fang dengan cengkeraman telekinesisnya.
"Hei, kau! Lepaskan Fang!" tukas Halilintar berang seraya menuding ke arah Rosaline. Rosaline menoleh ke arah mereka dengan senyum kecut.
"Hmm... ternyata kau dah pecah lima rupanya," tukas Rosaline datar. "Tapi tak pe. Aku lagi suka kalau kau ada banyak macam ni, BoBoiBoy. Aku makin berminat dekat budak-budak hebat macam korang ni, heheheheee. Banyak betul yang nak join aku."
"Hihhh! Kau ingat kitorang tak rasa pelik ke dengar kau cakap benda tu?" tanya Fang merinding.
"Kau ni memang tak bermoral," kata Ice datar. "Dah la minat budak kecik buat join kau pulak. Baik kau balik ke rumah kau dan berehat daripada buat benda tak guna macam ni."
"WOI! Korang masih sahaja berdiri dekat situ!" pekik Fang kesal. "Tak tengok ke aku kena dibelasah? Korang memang nak kena!"
Halilintar menyiapkan Pedang halilintar miliknya. "Aku kena akhiri performa dia tu," gumamnya dingin lalu menerjang ke arah Rosaline. "HALILINTAR SLASH!"
"Heh, jangan harap!" ujar Rosaline sinis. "Kau lagi cocok buat pengisi baterai dengan elemen kau tu. CEKAMAN SEDUTAN ENERGI!"
"APA?!"
"BOBOIBOY, AWAS!" Jerit Fang memperingatkan. Sebuah aura hitam berbentuk rantai keluar dari tangan Rosaline dan menembakkannya ke arah Halilintar. Halilintar segera menggunakan Gerakan kilat untuk menghindar. Ia mendarat di tanah seraya memandang remeh ke arah Rosaline.
"Huh! Meleset pun," katanya serius. "Kau bukan tandingan aku lah."
Rosaline tertawa "Hahahaha... kau terlalu cepat senang," katanya geli. "Kau ingat aku ni bodoh ke? Hahahahaaa... kuasa aku tu macam peluru kawalan tau. Biarpun tak kena, tapi masih boleh kejar target dia lah."
"Eh?" Halilintar tersentak. "Macam peluru kendali? Apakah-"
Dia mendelik. Aura hitam itu tahu-tahu berbalik arah ke arahnya. Halilintar tersentak kaget melihat itu.
"Alamak! Dia berbalik arah?!" pekiknya kaget. "GERAKAN KI-"
GRAAAKK!
"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Belum sempat menghindar, rantai aura itu tahu-tahu sudah menabrak Halilintar dan melilit tubuh anak itu. Halilintar tersungkur. Ia berusaha melepas rantai itu dari tubuhnya. Namun entah mengapa tubuhnya terasa semakin lemas.
"Argh! Dia... Dia sedut tenaga aku..." ujarnya berang lalu menatap Rosaline. "Kau... AKAN AKU AJAR KAU!"
BLAAAZZTT!
"GYAAAAAAAAAAAA!"
"Hahahahaa! Semakin kau gerak, semakin banyak pula aku sedut tenaga kau," kata Rosaline sumringah. Halilintar menggeretak marah. Beberapa percikan listrik keluar dari tubuhnya, namun malah membuat tubuhnya terasa semakin lemas.
"Erggghh- tak boleh jadi," desisnya marah. Ia terpaksa menahan diri untuk menyerang Rosaline. Namun tetap saja rantai aura itu mengambil dan memindahkan energinya ke wanita itu.
"Kau dah kalah, BoBoiBoy," kata Rosaline sinis. "Nah, kau pulak! Akan kubuat kau tidur buat selamanya!" Ujarnya seraya menuding ke arah BoBoiBoy Ice yang sedang asyik-asyiknya meminum Special Ice Koko seraya duduk di atas sebuah batu. Ice menoleh ke arahnya dengan tatapan datar.
"Ish, kau ni. Aku tengah asyik rehat-rehat, kau ganggu pulak," desisnya kesal. "Tunggu kejap ye. Aku akan lawan kau kalau aku dah habiskan Special Ice Koko edisi terbatas ni dan selepas tidur siang."
"Ei, macam mana kau nak tidur siang?" gerutu Rosaline. "Ini dah malam lah. Mata kau tu tak beres ke?"
"Hahh... daripada kita lawan-lawan macam ni, apa kata kalau kita bawa berbincang?" tanya Ice tiba-tiba. Halilintar dan Fang segera Sweatdrop dibuatnya.
"Haehh- dia mulai dah," ucap Fang seraya mendesah panjang.
Rosaline mengerutkan kening. "Bawa berbincang?" tanyanya heran. "Apa maksud kau ni?"
Ice berjalan ke arahnya seraya menyodorkan sebuah pena dan sebuah kertas. "Nah, tolong tanda tangan disini, disini, dan disini," tunjuknya pada tiga tempat di kertas itu.
"Uh, okey?" Rosaline menerima pena dan kertas dari Ice dan membubuhkan tanda tangan. Halilintar merasa rantai yang menyerap energinya berhenti. Begitu pula dengan Fang. Ice mendelik seraya mengedipkan mata ke arah mereka, membuat Halilintar dan Fang mengerti maksud Ice itu. Mereka diam-diam melepas kekuatan Rosaline dari tubuh mereka seraya tersenyum.
'Oh, macam tu rupanya,' ujar Fang dalam hati. 'Kalau perhatian Rosaline teralihkan, maka kuasa dia pun melemah.'
Halilintar tersenyum kecil. 'Banyak idea lah kau ni, Ice,' batinnya lega.
Rosaline selesai menandatangani kertas yang diberikan Ice. "Nah, sudah semua," katanya. Tiba-tiba dilihatnya Fang dan Halilintar yang sudah terlepas, membuat wanita itu kaget.
"HAH? Bila masa korang berdua lepas?" tanyanya marah.
"Ye lah tu. Masa kau tanda tangan kat kertas tu lah," kata Fang menyeringai nista.
"Hiiihh, dasar budak-budak mentah! Aku akan belasah korang semua!" pekik Rosaline berang.
Ice tiba-tiba mengangkat tangannya. "Eh, Kejap," katanya. "Kau tak boleh serang kitorang. Kau kan dah tanda tangan di kertas ni."
"Hah?!" Rosaline terkejut. "Memangnya kertas tu isinya apa?"
"Oh, Kertas ni? Surat tanda mengaku kalah la. Apa lagi?"
GUBRAK!
"Haduuuhhhh-" Fang dan Halilintar tahu-tahu sudah terkapar di tanah melihat aksi Ice yang kelewatan itu.
"Ye lah. Itu kan cara Negosiasi yang betul. Daripada susah-susah lawan, baik kita berdamai lewat diplomasi macam ni," jelas Ice, membuat Halilintar dan Fang menatapnya dengan tambahan suara gaib dari seekor jangkrik.
Tapi sayangnya Ice tidak melihat akibat fatal dari siasatnya itu. Rosaline memandang mereka dengan mata merah menyala nanar. Giginya menggeretuk.
"Kau... BERANI KAU PERMAINKAN AKU?!" jeritnya murka. "KORANG TAK BOLEH DIAMPUNI!"
Aura hitam kemerahan meledak keluar dari tubuhnya, merubah penampilannya sehingga semakin terlihat sangar dan mengerikan. Kedua matanya menyalang ke arah tiga anak muda lawannya itu, membuat mereka terperangah.
Oh, bagus sekali, Ice. Kali ini kau membuatnya benar-benar marah.
Bersambung ...
Gaje banget sih chapter ini. Terlalu ... terlalu. Imajinasi aneh itu memang seringkali kumat. Tapi tak pa. Silahkan review chapter gaje ini ya ;)
Tetap setia menanti kelanjutannya ya ... Love you all, Dear Readers ^/^
