Akhirnya bisa publish chapter penghabisan sesi 1 ini (Eh? Penghabisan? Udah mau tamat ya?) Dan masuk ke sesi 2. Di bagian ini mungkin banyak aksi dan beberapa humor juga. Just read this okay? ;)

Apa yang akan terjadi setelah kemarahan Rosaline yang memuncak? Apakah Boboiboy dan teman-temannya bisa menyelamatkan Ochobot kembali? Dan apa yang akan dilakukan Ochobot? Keep Read!


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

(Sebuah kisah fiksi)

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

.

Bagian 10: Jati diri Sang Sfera Kuasa

"KUASA PEMBERAT GRAVITI!"

Yaya mengeluarkan sebuah lingkaran raksasa dari tubuhnya dan melingkupi daerah terbang Pesawat luar angkasa Tengkotak. Serta merta kapal itu jatuh, membuat semua penghuninya menempel di tanah.

"Ughhh- badan aku tak boleh gerak," desis Gaga Naz. "Aku lupa lah kalau dia boleh gunakan kuasa macam ni!"

Kiki Ta menghela nafas. "Ye lah tu. Sekarang macam mana kita nak lawan mereka?"

"Aku tahu." Kata Yoyo Oo tiba-tiba, membuat semua rekannya menoleh ke arahnya.

"Apa rancangan kau?" tanya Kiki Ta bingung.

Yoyo Oo tersenyum licik. "Kita siasatkan dengan cakap bahwa kita akan bagi Sfera kuasa ni ke mereka. Dengan begitu, mereka kan lengah dan kita serang balik!"

"Wahh- Siasat yang bagus! Ternyata Alien macam kau cerdik lagi pandai!" ujar Taufan di sebelahnya. Spontan semua anggota Tengkotak itu menoleh dengan terkejut ke arah bocah bertopi miring itu.

"Woi! Bila masa kau ada kat sini?!" ujar Gaga Naz kaget sekaligus berang.

Taufan terkekeh. "Sejak tadi lah," ujarnya jahil. "Aku dah dengar rancangan korang tu. Korang fikir korang boleh kelabui aku? Hehehe- tak boleh pun. HEMBUSAN TERBANGAN MAKSIMUM!"

"AAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!"

Serta merta pesawat angkasa itu terlempar tinggi ke langit oleh serangan Taufan itu. Ia segera mendelik ke arah Yaya yang berdiri tak jauh di sebelahnya.

"Sekarang, Yaya!"

"Baiklah! Jatuhkan balik!"

Yaya mengaktifkan pemberat gravitasinya lagi, membuat kapal angkasa itu kembali jatuh. Di saat yang sama, Taufan melempar mereka lagi ke udara.

"Jatuhkan!"

"Terbangkan!"

"Jatuhkan!"

"Terbangkan!"

"Jatuh– Eh, BoBoiBoy, tunggu kejap!" Yaya tiba-tiba berseru. "Jangan lah macam ni. Kesian mereka. Mesti pening," ujarnya iba.

"Uhhh- betul tu..." kata Gaga Naz ling-lung. "Kau seksa kitorang kalau macam ni!"

"Ehh- tapi Yaya, mereka yang tangkap Ochobot," ujar Taufan membela diri. "Kau tak tengok kesilapan mereka ke?"

"Tahu lah! Tapi tetap pun tak boleh. Ini macam balas dendam je. Dosa tau," kata Yaya sedih.

Taufan menghela nafas panjang. 'Dia terlampau empati,' desisnya kesal. Tiba-tiba dia mendapat sebuah ide. "Aha! Aku tahu. Yaya, kau bawa biskut kau tak?"

"Eh, bawa. Memangnya kenapa?" tanya Yaya bingung sembari mengeluarkan sebungkus biskuit buatannya dari saku bajunya. "Kau nak cicip ke?"

"Bukan aku. Mereka," kata Taufan dengan seringai jahil seraya mengambil beberapa keping biskuit Yaya dan memberikannya pada para anggota Tengkotak. "Nah, korang mesti penat. Nak cuba rasa biskut ni tak?"

Kiki Ta mengamati biskuit Yaya di tangannya. "Sedap tak biskut ni?" tanyanya.

"Cuba je lah makan, mesti kau nak," bujuk Taufan. Kiki Ta mengamati biskuit itu depan belakang. Gaga naz melakukan hal yang sama. Mereka curiga dengan kebaikan Taufan yang tiba-tiba ini.

"Pelik. Apasal dia tiba-tiba bagi kita biskut ni?" tanya Gaga Naz. "Macam tak betul je."

Kiki Ta mengangguk. "Betul tu. Jangan-jangan diorang nak bagi kita racu-"

KRESS!

"Eh?"

Mereka menoleh ke arah Yoyo Oo yang ternyata sudah menggigit biskuit Yaya itu. Yoyo Oo mengunyah dan menelannya. Semuanya memandang ke Alien cerdik itu.

"Nah, amacam? Sedap tak?" tanya Yaya senang.

Yoyo Oo mengecap-ngecap lidahnya. "Rasanya-" gumamnya dengan alis terangkat. "Rasanya macam kertas pasir yang diberi bawang kadaluarsa dan beberapa bahan hodoh lainnya."

"APA?! KAU CARUT BISKUT AKU?!" Tukas Yaya berang. "Tak de ampun! TUMBUKAN SUPERSONIIIKKK!"

BUAAAAAKK!

"GYAAAAAAAAAAAAAA!"

"Tambah ni! JATUHAN GRAVITI!"

"AAAAAAAAAHHHHHHHHH!"

Taufan cekikikan melihat itu. Siasat menggunakan amarah Yaya akhirnya berhasil. "Haha- rasakan amukan tu!" Ujarnya lalu mengeluarkan kekuatannya lagi. "HEMBUSAN TERBANGAN MAKSIMUM!"

"JANGAAAAAANNNNN!"

WUUUUUSSSSS!

"Jatuhkan!"

"Terbangkan!"

"Jatuhkan!"

"Terbangkan!"

"HOREEEEE! SERONOK SANGAT! WOHHOOOOOO! LAGI! LAGIIIIIIIII!"

"Eh?!" Yaya segera menjatuhkan para anggota Tengkotak yang sudah berpusing ria setelah mendengar teriakan kebalikan dari seseorang di sebelah pesawat angkasa itu: BoBoiBoy Blaze.

"Ha? Apasal kau ada kat sini?" tanyanya bingung melihat kemunculan BoBoiBoy hiperaktif itu. Blaze segera nyengir gila seraya mengusap belakang kepalanya.

"Iye. Bukannye kau sama si Gempa buat lawan Bora Ra?" timpal Taufan.

Blaze tertawa. "Hahaha, aku dah titip kuasa aku kat atas diorang lah," ujarnya seraya menuding kea rah Gempa dan Bora Ra yang saat itu tengah dihujani Meteor-meteor api, membuat Bora Ra pingsan dalam sekejap.

"Oi, Blaze! Apasal pulak kau tinggal aku sorang-sorang lawan Bora Ra ni?!" tanya Gempa kesal seraya berlindung dari hujan meteor api milik Blaze di belakang Giga Golem Kristal miliknya.

"Hehehe, aku nak main terbang jatuh dengan diorang la," kata Blaze seraya menunjuk para anggota Tengkotak yang sudah pingsan dan pesawat mereka yang setengah hancur akibat serangan Yaya dan Taufan. "Seronok betul! Lagi pun si Bora Ra tu tak nak main dengan aku, jadi aku bagi dia hujan meteor."

"Cakap senang macam tu, aku dan Giga kena meteor kau jugak!" ujar Gempa kesal. "Senjata makan tuan sangat lah bantuan kau ni."

"Hehe- sori," ujar Blaze cengengesan lalu menoleh ke arah Taufan dan Yaya. "Nah, aku nak main jatuh terbang lagi macam tadi. Boleh, kan?"

"Boleh!" Ujar Taufan senang. Tiba-tiba Yaya menatapnya dengan marah, membuat nyali Taufan ciut seketika.

"Kau nak aku seksa orang lagi, heh?! TAK PUNYA EMPATI!"

"Ehhehe- tak pe, Yaya. Tak jadi, tak jadi," ujar Taufan cepat-cepat.

"Alaahhh- aku nak main je," kata Blaze lalu merengek pada Yaya. "Boleh la, Boleh la-"

"Tak boleh!" Ujar Yaya tegas. "Korang ni memang tak de perasaan!"

"Sudah! Sudah! Yang penting kita dah selamatkan Ochobot," kata Gempa seraya mengambil Ochobot dari tangan Yoyo Oo yang masih pingsan dan melepas borgol listrik dari tubuh Ochobot. "Nah, sekarang-"

BLAAAAAAAAARRRRR!

"Ei? Suara apa tu?" tanya Taufan kaget. "Letupan dari- Eh, kejap! Bukannya Halilintar dan Ice tengah lawan Rosaline dan selamatkan si Fang?"

"Ha'ah lah. Korang lupakan diorang ke?" tanya Yaya kesal, membuat tiga pecahan BoBoiBoy di depannya nyengir hambar.

"Kalau macam tu, Jom kita bantu mereka!"

Mereka berempat segera berlari menuju tempat Halilintar, Ice dan Fang yang saat itu tengah menghadapi Rosaline. Sesampai disana, mereka tersentak. Penampilan Rosaline berubah menjadi semakin mengerikan dari sebelumnya. Sayap kelelawar raksasanya semakin bertambah besar dan bewarna hitam legam. Tubuhnya bertambah besar dan tinggi. Rambut peraknya berubah menjadi hitam. Aura merah kehitaman berkelebat di sekelilingnya. Matanya bersinar merah menyalang. Di tangannya tampak sebuah sabit berukuran raksasa dengan rantai yang melilit di sepanjang gagangnya. Giginya berubah menjadi taring menggeretuk.

"Korang... KORANG AKAN AKU BELASAH SAMPAI MUSNAH!" Teriaknya berang.

"Belasah, belasah... kitorang yang akan belasah kau!" Teriak Fang seraya mengeluarkan Harimau bayangnya. Gempa yang melihat itu segera menyikut Halilintar.

"Ei, kenapa si Rosaline tu nampak lagi seram dari sebelumnya?" Tanyanya heran.

Halilintar mendengus. "Kau tanya je lah tuan duta kat sebelah aku ni," tudingnya pada Ice. "Dia buat si Rosaline tu marah dengan rancangan diplomasi dia."

Mendengar itu, Ice segera menyeringai kecil. "Hehehe, Aku suruh dia tanda tangan kat surat tanda mengaku kalah je," katanya polos. "Biar tak susah-susah lawan dia. Lepas tu, kita boleh pulang aman sentosa, Kan? Kan?"

"Wahh- Betul tu. Tak payah guna banyak kekerasan," puji Yaya kagum terhadap tindakan Ice. "Kau memang hebat, BoBoiBoy! Pandai Diplomasi macam Ayah kau yang kerja sebagai duta tau!"

"Ye lah, Ye lah. Memang lah bagus. Tapi tengok, dia dah bertukar jadi makin ganas pulak!" Tukas Gempa kesal seraya menuding Rosaline yang tengah terbang tak jauh dari mereka. "Macam mana kita kalahkan dia?"

"Haahh- tinggal serang, apa susah?" tanya Fang berang. "Serang dia sebelum dia serang kita!"

"JOM!"

Tanpa menunggu lama, Mereka semua menerjang ke arah Rosaline dengan kekuatan masing-masing.

"TEBASAN PEDANG HALILINTAR!"

"TENDANGAN SUPERSONIK!"

"GERUDI MEGA TAUFAN!"

"TUMBUKAN GOLEM KRISTAL!"

"SEPAKAN METEOR BERAPI!"

"CAKARAN BAYANG!"

"HIKMAT SURAT PENGAKUAN KEKALAHAN!"

Krikk... Krikk... Krikk... Krikk...

"Ape? Salah ke kalau aku buat benda macam tu?" Tanya Ice seraya memandang teman-temannya yang sudah melongo ria tak jauh darinya.

"Ei, kau nak buat dia lagi marah dengan kelakuan kau?" tanya Halilintar kesal. "Kalau itu betul-betul berlaku macam mana?!"

"Hehe- tapi aku nak guna cara paling halus la," kata Ice malu-malu. "Dan kalaupun-"

"Nanti je lah korang sambung bincang tu!" Pekik Fang memotong kalimat Ice seraya menuding Rosaline yang tubuhnya mulai bergetar hebat. "Dia nak mengamuk!"

"ELAK SEMUA!" Tukas Yaya segera begitu melihat Rosaline mulai mengayunkan Sabit raksasanya membabi buta. Mereka semua berusaha menghindari serangan maut wanita alien makhluk kelelawar yang sedang marah besar itu. Tak lama kemudian, Rosaline tampak terengah-engah. Rupanya tenaganya terbuang banyak akibat amarahnya yang tidak bisa dikontrol.

"Yeah! Nampaknya dia dah penat!" pekik Blaze riang begitu melihat kondisi Rosaline yang berubah seratus delapan puluh derajat.

Gempa mengangguk. "Betul juga tu," katanya senang. "Mungkin kita dah berada di ambang kemenangan sekarang!"

"Hmm- Nampaknya siasat Surat Pengakuan Kalah milik aku manjur juga, boleh kuras tenaga dia macam tu," gumam Ice, membuat semuanya sweatdrop berjama'ah.

Rosaline mengatur nafasnya. Dia kembali mengangkat wajahnya. "Hahh- korang jangan senang dulu," ujarnya menyeringai sinis. "Biarpun badan aku boleh penat, tapi aku boleh dapat tenaga balik, Hahahahaaaa..."

"Eleh- Cakap je kau dah menyerah," tukas Taufan. "Memangnya kau nak dapat tenaga balik tu darimana?"

"Darimana? Kau tanya aku dapat tenaga darimana?" Ejek Rosaline sembari tersenyum simpul. "Aku dapatkan tenaga balik tu dari semua Penduduk Pulau ni lah! Korang termasuk pula, Hahahahaaa! Ambik ni: LETUPAN GERGASI SEDUTAN TENAGA!"

"APA?!"

DUUUUUAAAAAAAAARRRRRRRRRR!

Sebuah ledakan raksasa bewarna hitam menutupi Pulau Rintis. Spontan semua energi penduduk pulau yang berada diluar rumah mereka terseret masuk ke tubuh Rosaline, membuat Pandemi yang lebih parah dari sebelumnya. Semua pecahan BoBoiBoy, Fang dan Yaya yang terkena ledakan itu langsung ambruk di tempat berdiri masing-masing. Rosaline yang tubuhnya kembali sehat bugar tersenyum melihat itu.

"Eh, apahal ni? Aku tak kuat buat angkat badan aku," ujar Blaze lemah.

"Ughhh- dia dah serap energi kita dan penduduk Pulau yang berada kat luar rumah," kata Fang seraya berusaha berdiri. Namun tubuhnya kembali ambruk.

"Macam mana ni?" tukas Taufan panik. "Kita semua dah lemas dah. Habislah-"

"Memang dah habis. Tunggu tamat je lah," ucap Ice pasrah sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah batang pohon.

"Ish korang ni! Pesimis sangat. Dia cuma sorang je. Kita bertujuh pula yang lawan dia," desis Halilintar seraya berusaha berdiri. Hanya berdiri. Begitu ia melangkah, kakinya langsung bergetar karena lemas.

"Ughh- Halilintar betul. Kita belum... selesai... ughh..." Gempa berusaha berdiri namun kembali terduduk lemas di tanah.

"Dia kuat..." tukas Yaya seraya melirik lemah. "Tenaga kita dah dia serap semua... "

Rosaline tertawa melihat itu. "HAHAHAHAAAA! Tengok, aku dah sedut semua tenaga!" Ujarnya sinis. "Dan sekarang aku akan belasah korang semua hingga lumat, Hahahahahaaaa!"

Dia melangkah menuju mereka dengan seringai nista. Yaya menelan ludah. Dia dan teman-temannya hanya bisa pasrah menunggu Rosaline untuk menghabisi mereka semua.


DUAAAAAAAAAAAARRRRRRR!

Suara ledakan itu ... dia bisa mendengarnya. Hanya saja dia tidak bisa melihat. Keadaan di sekelilingnya tampak gelap gulita.

"Eh, apahal ni? Aku tak kuat buat angkat badan aku."

Itu suara Blaze. Suara pecahan BoBoiBoy yang kekanakan itu mendengung di telinganya. Ia menelan ludah.

Kenapa dia belum bangun juga?

"Ughhh- dia dah sedut tenaga kita dan penduduk Pulau yang berada kat luar rumah."

Pernyataan Fang telah menjelaskan kondisi teman-temannya sekarang ini. Rosaline telah mengambil energi mereka? Oh, jangan. Itu tidak mungkin!

"Macam mana ni? Kita semua dah lemas dah. Habislah-"

"Memang dah habis. Tunggu tamat je lah."

Kata-kata pesimis Taufan dan Ice pun menerpanya. Oh, tidak! Apakah mereka semua sudah kalah?

"Ish korang ni! Pesimis sangat. Dia cuma sorang je. Kita bertujuh pula yang lawan dia."

Kalimat Halilintar yang merupakan gabungan antara semangat dan amarah itu sempat membuat hatinya lega. Yah, setidaknya mereka belum menyerah total.

"Ughh... Halilintar betul. Kita belum... selesai... ughh..."

Gempa pun punya pikiran yang sama dengan Halilintar. Yah, dia memang benci melihat teman-temannya disakiti. Tapi apakah dia bisa melindungi mereka untuk saat ini?

"Dia kuat... Tenaga kita dah dia sedut semua..."

Oh, Yaya juga sudah pesimis, sesuatu yang sangat jarang dari dirinya yang baik dan penuh semangat itu, apalagi soal penawaran Biskuitnya. Namun sepertinya sekarang semua itu sudah tidak ada gunanya.

"HAHAHAHAAAA! Tengok, aku dah sedut semua tenaga! Dan sekarang, aku akan belasah korang semua hingga lumat, Hahahahahaaaa!"

Tawa Rosaline menggema. Dia benci suara tawa jahat itu. Pemilik suara itu telah mencederakan teman-temannya dan juga seantero Pulau Rintis. Apakah dia hanya menunggu mereka semua untuk binasa di tangan wanita jahat itu?

Oh, itu tidak boleh terjadi! Tapi apa yang harus dilakukannya sekarang? Tubuhnya belum juga sadar dari pingsannya.

Namun dia tahu, hanya dia yang bisa menolong teman-temannya yang saat ini sudah dalam kondisi di ujung tanduk.

'Sepertinya sekarang lah masanya kamu buat bertindak, Ochoboy.'

Apa? Itu... Itu suara Ashrlati! Apakah dia sedang bermimpi?

'Mak tahu kamu boleh.'

Benarkah? Sepertinya suara Ashrlati sudah mendesaknya kali ini.

'Ini untuk kawan-kawan kamu. Mereka yang telah gantikan Mak buat temankan kamu. Jangan sia-siakan mereka.'

Oh, figur Ibunya itu benar. BoBoiBoy dan yang lainnya, merekalah teman terbaiknya saat ini, yang selalu melindunginya, yang selalu bersamanya dalam bercanda gurau ataupun berkeluh kesah. Namun tampaknya kali ini dialah yang harus melindungi mereka.

(Jangan mudah menyerah, Bangkit Semula)*

Tidak ada pilihan lain.

(Terbang menuju awan, Kau dan aku)*

Dia harus melakukannya sekarang.

SRIIIIIIIIIIIIIIINNGGGGG!

Sebuah cahaya raksasa menyelimuti pulau Rintis. Rosaline memicingkan matanya karena silau, begitu juga dengan para BoBoiBoy, Fang dan Yaya. Begitu cahaya itu lenyap, mereka menganga begitu melihat sosok dimana Ochobot yang tadi pingsan tergeletak.

(Pecut Pantas Jangan Lemas)*

(Pecut Pantas Jangan Lemas)*

Sesosok anak laki-laki yang tampaknya sebaya dengan BoBoiBoy melayang di udara. Rambut pirangnya mendesir terkena angin. Pakaiannya bernuansa Sains fiksi alias Cyborg bewarna kuning dan hitam, terutama kedua telinganya yang merupakan gabungan antara headphone dan antena kecil. Perlahan kedua matanya yang terpejam mulai membuka, menampakkan sepasang iris bewarna biru laut, senada dengan Google glass yang bertengger di atas kepalanya. Wajah itu memandang dengan datar ke arah Rosaline.

(Bersama kita Berjuang, Melangkah ke depan)*

(Bersama Kita Tentukan, Masa hadapan)*

"Kau... Aku takkan biarkan kau hapuskan kawan-kawan aku!" Serunya dengan nada marah. Rosaline tersadar dan tertawa keras-keras melihat pemuda yang terbang tak jauh di depannya itu.

"Ahhh- Akhirnya kau pun bertukar ke wujud alternatif kau, Ochoboy," ujarnya pedas. Para pecahan BoBoiBoy, Fang dan Yaya tersentak kaget begitu mendengar kalimat Rosaline itu.

"Ochoboy? Itu ke wujud alternatif Ochobot?!" tanya Yaya kaget. "Dia... Dia dah bertukar lah!"

"Hmm- patut la Mila panggil dia dengan sebutan 'Ochoboy'," tukas Taufan yang berada di sampingnya. "Tapi aku masih tak faham kenapa dia boleh bertukar ke wujud macam tu."

"I- Itu OCHOBOT?!" Fang memekik histeris. "Bila masa dia boleh lagi hensem ni?! Ya Tuhan... dahulu BoBoiBoy, sekarang Ochobot pula yang nak jadi saingan aku!"

"Heleehh- Cakap je kau jeles pulak," sindir Ice, membuat Fang menimbulkan perempatan siku-siku di kepalanya.

"APA?! KAU NAK AKU BELASAH KAU GUNA HARIMAU BAYANG, HEH?!"

"Ehh, Jangan lah gaduh-gaduh. Kau kena lah tanda tangan kat Surat tanda pengakuan kepopuleran aku ni," kata Ice sembari mengacungkan selembar kertas di depan wajah Fang, membuat mata kanan anak Alien mirip Manusia itu berdenyut-denyut.

"Woi! Bila masa aku nak tanda tangan kat surat tu?! Kau ni nak cari pasal kat aku, Hah?!"

"Ehehe, aku gurau je."

"Sudah! Sudah! Korang ni memang suka begaduh. Nasib baik Ochobot nak tolong kita," lerai Yaya sebal. "Di masa genting macam ni, dia lah kemujuran bagi kita semua."

(Dari mimpi, hingga realiti)*

Ochoboy mendengus. Ditatapnya Rosaline nanar. "Aku nak kau dan rakan-rakan Tengkotak kau tu pergi dari sini," tukasnya dingin. "Kalau tak-"

CLANGG!

Tiba-tiba sebuah borgol listrik mengunci tubuhnya dari belakang. Ochoboy mendelik. Tampak Bora Ra dan Koncro-koncronya telah terbang di pesawat angkasa mereka yang tampak setengah hancur itu.

"Hahahaha- nampaknya kau dah bertukar balik ke wujud alternatif kau," desis Bora Ra sinis. "Tapi tetap pun kau ialah Sfera Kuasa yang hebat! Aku akan bawa kau balik!"

"OCHOBOT!" Pekik Gempa panik. Dia tidak ingin temannya itu dibawa lari oleh Tengkotak untuk kedua kalinya. Ochoboy meringis, atau mungkin lebih tepatnya menyeringai kecil. Serta-merta sebuah sinar muncul dari tubuhnya.

"LETUPAN PHOTOCYBER!"

BUUUMMMMM!

Ledakan besar terjadi. Borgol listrik yang menahan tubuh pemuda cilik Ultra Humanoid itu hancur berkeping-keping. Begitu asap akibat ledakan itu menghilang, tahu-tahu Ochoboy sudah berada di depan Pesawat angkasa tengkotak dan mengambil ancang-ancang.

"Aku takkan biarkan korang bawa lari aku buat kali kedua!" Tukasnya marah seraya mengarahkan telapak tangannya ke samping wajahnya. "Rasakan ni: TAMPARAN PHOTOCYBER MAKSIMUM!"

"JANGAAAAAAAANNNNNNN!"

GLADUUUUAAAAAAARRRRRRRRRR!

(Dari mimpi, hingga realiti)*

(Masih disini!)*

"Kawan-kawan, kita kena bantu Ochobot sekarang!" Komando Gempa. Teman-temannya mengangguk dan menerjang ke arah Rosaline dan Tengkotak.

"Hah! Macam mana korang nak lawan aku?" tanya Rosaline mengejek. "Tenaga korang dah aku sedut semua! Atau korang memang nak habis rupanya."

"Hmph! Berlagaklah sangat," tukas Halilintar dingin, "Biarpun tenaga kami sudah kau sedut, tapi kau tak kan bisa sedut tekad kami!"

"A- Apa?!" Rosaline memandang Horor. "Macam mana-"

"PUSARAN HALILINTAR!"

"BEBOLA TAUFAN!"

"TUMBUKAN MAKSIMUM!"

"HANTAMAN GOLEM KRISTAL!"

"GEGELUNG API!"

"TUSUKAN PARUH ELANG BAYANG!"

"Hahh- biarlah. Kali ni aku akan guna Kuasa. TEMBAKAN MERIAM AIS!"

KABOOOOOOMMMMMMMM!

Serangan gabungan itu mengenai Rosaline dan Kapal pesawat Tengkotak, menyebabkan ledakan dashyat di atas Pulau Rintis.

"Wow! Nampaknya BoBoiBoy dan kawan-kawan dia dah berjaya kalahkan Tengkotak dan penyebab Pandemi lemas di Pulau Rintis! BERIKAN SAMBUTAN YANG MERIAH!" Ravi J. Jambul sang reporter dari saluran Tv33 melaporkan berita terbaru dan siaran langsung di layar kaca. Mila, Gopal dan Ying yang saat itu tengah menjaga Tok Aba di kamar rawatnya di rumah sakit pulau rintis memandang ke layar tv dengan wajah bahagia.

"Yey! Kita dah Berjaya!" Pekik Gopal gembira. "Aku dah tahu kalau kita akan menang lawan Tengkotak dan-"

Dia terdiam begitu melihat Ying dan Mila menaruh jari telunjuk di depan bibir, menyuruhnya diam.

"Shh- Gopal, kau cakap keras ma. Nanti Tok Aba terganggu wo," timpal Ying kesal.

"Betul. Kalau kau ganggu beliau, nanti beliau makin sakit, kedai kokotiam nanti tutup. Hah, kau nak macam tu?" ujar Mila dengan nada mengancam. Gopal segera terdiam seribu Bahasa, apalagi begitu Mila menyinggung keberlangsungan kedai kokotiam. Gopal pasti akan menangis tujuh hari tujuh malam kalau kedai favoritnya itu tutup akibat kondisi Tok Aba yang tidak juga membaik.

Tiga jam kemudian, pintu kamar rawat Tok Aba diketuk. Ying membukanya. Tampak Ray, Yaya, Fang dan para pecahan BoBoiBoy di ambang pintu. Ying terkejut dan memekik riang.

"Wahhh- korang dah berjaya kalahkan Tengkotak dan Rosaline ho."

Taufan tersenyum. "Alhamdulillah, kami memang dah berjaya kalahkan mereka. Tapi-"

"Tapi apa?"

"Ada satu perkara serius." Sosok di belakang mereka menggumam. Semuanya menoleh ke arahnya dan tercengang. Terutama Mila. Dia menganga melihat sosok itu.

"Ocho- Ochoboy?!" tanyanya terbata-bata. "Kau dah bertukar ke wujud alternatif kau?!"

Ochoboy tersenyum. "Iye. Aku jadi macam ni lepas diorang kena serang oleh Rosaline," katanya lembut seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dan ada pun- Eh?!"

Mila berdiri di hadapan Ochoboy dengam sikap tubuh kaku. Ditatapnya sang sfera kuasa generasi kesembilan itu lama sebelum akhirnya ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, terisak.

"Dah... Dah lama aku tak tengok wujud alternatif kau ni, Ochoboy... Hiks..." ujar Mila sesunggukan. "Bahkan sampai betahun-tahun pula..."

Ochoboy tersenyum. Ditatapnya Mila dengan pandangan simpati seraya menggumam. "Tenang je. Yang penting kita semua dah ada disini," ujarnya.

"Ei, Ochobot. Kau dan Mila ni macam dah saling kenal lama dah," tanya Gopal heran. "Umur kau tu sebenarnya berapa?"

"Eh, Umur?" tanya Ochoboy." Tahun ni... aku Sembilan belas tahun dalam umur Galaxy."

"Hah?! Sembilan belas tahun?!" pekik Ray. "Tapi penampilan dan tinggi badan kau tak beda jauh dari BoBoiBoy ni."

Ying mengangguk. "Ya loh. Ini kelainan genetik ma."

"Hehe... umur segitu badan aku memang masih pendek macam ni," kata Ochoboy menyeringai. "Nanti kalau aku dah berumur tiga puluh, baru tinggi macam Abang Ray. Aku ni Cyborg, bukan makhluk hidup seutuhnya. Dan Mila ni berumur delapan belas tahun galaxy. Tapi badan dia tak la tinggi-tinggi sangat, Hehehe. Lagi pun aku guna masa patokan galaxy, jadi mungkin macam distorsi sikit kat masa Bumi."

"Ehh- kalau kau nak balik ke wujud Robot kau macam mana?" tanya Blaze. "Kau kan comel sangat kalau dalam wujud Sfera kuasa. Macam bola sepak."

Krikk... Krikk... Krikk... Krikk...

"Hadehhh- Ray kata aku mirip bola kasti. Sekarang kau pula yang kata aku mirip bola sepak," tukas Ochoboy kesal.

"Tak juga. Kau lagi mirip bola keranjang tau," kata Fang jahil.

"Bola dah aku ni." Ochoboy segera cemberut dengan awan mendung plus hujan semu di atas kepalanya.

"Hehehe- terbaik," ujar Gempa seraya mengacungkan jempolnya. Tiba-tiba Gopal mendekatinya dengan wajah bingung.

"Eh, BoBoiBoy. Apasal kau masih berpecah ni?" tanyanya heran. "Nanti kalau kau lagi pelupa macam mana?"

"Tenang. Aku kan dah sering makan Ikan," kata Halilintar santai. "Jadi tak kan senang lupa, Insha Allah."

"Habis tu kenapa kau tak cantum semula wo?" Ying ikut-ikutan bertanya.

"Eh?" Gempa tiba-tiba memain-mainkan telunjuknya dengan murung. "Sebenarnya-"

'Sebenarnya-'


Ledakan akibat serangan telak para superhero Pulau Rintis baru saja usai. Ray membuka matanya dengan pusing. Tampak di depannya para Pecahan BoBoiBoy, Ochobot yang sudah berubah ke mode Ultra Humanoid serta Yaya dan Fang. Spontan lelaki itu berteriak kaget.

"MASYA ALLAH! Korang ni bikin aku tekejut," tukasnya seraya mengelus dada. Ditatapnya para pecahan BoBoiBoy dengan mata melotot.

"Bo- BoBoiBoy?"

"Ya, Abang Ray?" Mereka menjawab serempak, membuat Ray nyaris pingsan untuk kedua kalinya.

"Apasal kau ada kuasa elemental ni?" tanyanya ling lung. "Kalau kau tak kawal baik dan sakiti Tok Aba nanti macam mana?"

"Tenang, Abang Ray. Kitorang memang dah lama punya kuasa macam ni," tukas Halilintar. "Yaya dan Fang pun sama."

"Hah?! Kawan-kawan kau pun punya kuasa?!"

"Iya. Aku boleh memanipulasi graviti!" tukas Yaya senang.

"Kalau aku boleh memanipulasi bayang," jawab Fang datar. "Ying memanipulasi masa, Gopal memanipulasi molekul dan Mila memanipulasi Gelombang."

"Dan yang lagi penting- aku yang transfer mereka kuasa!" Tukas Ochoboy seraya mengacungkan tangan ke udara. Ray menoleh ke arahnya dengan mulut menganga lebar.

"Siapa kau ni?"

"Eh? Aku? Aku Ochobot lah."

"Lha? Bukannya kau tu robot bola kasti Tok Aba ke?"

"BOLA KASTI?!" Ochoboy memekik. "Huhuhuuu- apasal aku disamakan dengan bola kasti?"

"Ehh- Ochobot. Kenapa kau boleh punya wujud macam ni?" tanya Fang tiba-tiba. Dia heran melihat penampilan Ochoboy yang berubah drastis, menjadi semacam makhluk humanoid cyborg.

Ochoboy menatap mereka semua dengan wajah malu-malu. "Sebenarnya inilah jati diri sebenar aku," tukasnya. "Aku ni ras makhluk hidup Ultra Humanoid merangkap Sfera Kuasa. Korang mesti ingat dengan mimpi aku. Yahh- Ashrlati tu... dia figur Mak aku... atau mungkin Mak sebenar aku, tapi aku dibius dan tertidur lama. Sebelum itu, Mak cakap orang yang pertama kali yang aku tengok pas bangun nanti ialah Tuan aku. Ras kami ni memang bertujuan untuk membantu penduduk alam semesta. Sebagian dari kami ditunjuk menjadi subjek penelitian daripada proyek Sfera Kuasa. Maka dari tu, masa aku tengok BoBoiBoy di Kapal angkasa Adu Du selepas bangun, aku pun jadi pelayan dan kawan baik dia."

"Ohh- Macam tu," tukas Blaze. "Hebat lah! Kau boleh transfer kuasa Superhero. Tapi kenapa wujud robot kau tak boleh pakai kuasa Ultra Humanoid kau?"

Ochoboy mengangkat bahu. "Entah," katanya. "Aku hanya boleh gunakan kuasa Photocyber aku di wujud Ultra Humanoid ni. Dan satu pasal lagi, aku dan Mila sebenarnya ialah kawan sejak kecik lagi."

"Hah?! Pantas pun Rosaline cakap kau ialah kawan masa kecik Mila," ujar Gempa kaget. "Tapi kenapa korang baru saling jumpa lagi sekarang?"

"Masa tu Mila cakap pasal minat pelik Mak dia kat aku buat jadikan aku sebagai stok kuasa," kata Ochoboy lirih. "Mila pun cegat aku buat sambung berkawan dengan dia. Rosaline bekoncro dengan salah satu musuh alam semesta. Diorang nak culik aku. Maka dari tu, Mak tukar aku jadi wujud Shell luar aku. Selepas tu aku tak ingat apapun lagi. Aku ada beberapa memori lepas tu, barulah aku terbangun di Kapal Angkasa Adu Du dan ikut dengan BoBoiBoy."

"Hmm- ada logic juga," kata Ray lalu menatap para pecahan BoBoiBoy yang mengelilinginya. "Nah, korang boleh jadi sorang lagi tak? Pening aku tengok korang banyak watak macam ni."

"Betul. Nanti korang berempat jadi makin pelupa," timpal Fang segera, membuat mereka melongo.

"Berempat? Kitorang ni kuasa lima lah," kata Halilintar kesal.

Ray terkejut. "Korang berlima?" tanyanya heran. "Aku tengok cuma empat je."

"Aik? Peliknya," kata Gempa bingung. "Kalau kitorang hanya berempat, lalu yang satunya kemana?"

"Di atas sini."

"Eh?"

Terdengar jawaban dari atas mereka. Mereka menoleh. Tampak Ice di pintu lesawat angkasa tengkotak seraya bersandar santai. Serentak teman-temannya menjerit kaget.

"Oi, Ice! Apasal kau berada kat atas tu?" tanya Taufan bingung. "Turun lah. Kita nak cantum semula ni."

"Cih, dia ni memang ada hal!" Dengus Fang. "Dah lah dia guna surat diplomasi tak jelas, sekarang guna acara bersandar kat Pintu Kapal Angkasa musuh pulak. Tak betul sangat!"

Ice mendesah panjang. "Aku tak boleh turun," katanya datar.

"Kau ni takut ketinggian ke apa?" tanya Ochoboy. "Turun guna tangga ais kau je lah. Jangan dipersulit."

"Tak boleh," ujar Ice sekali lagi. Kali ini nada suaranya terdengar lebih tegas.

"Kau nak aku denda kau, BoBoiBoy?" ancam Yaya seraya mengeluarkan 'catatan mautnya': Buku denda. "Aku akan tulis nama kau sekarang kalau kau tak nak turun. Isnin nanti kau bayar denda kau!"

Ice yang mendengar itu langsung mengidik. "Jangan, Yaya! Nanti duit jajan aku kurang lah. Jangan denda aku!" tukasnya memohon.

"Nah, tahu takut? Turun dari situ!"

"Jangan suruh aku turun, Yaya. Tapi jangan denda aku pula." Kali ini Ice merengek, membuat teman-temannya kesal.

"Turun je lah, BoBoiBoy. Abang tak kuat tengok kau banyak watak macam ni," bujuk Ray.

"Hish! Kalau macam tu, biar aku yang bawa dia turun!" Ujar Halilintar yang sudah hilang kesabaran. "Kau ni memang merimaskan, Ice. Tunggu disitu. Aku akan jemput kau. GERAKAN KILAT!"

"Jangan, Halilintar!" Cegat Ice segera. Halilintar segera mengerem kakinya dan mendarat di Sayap dekat pintu. Ditatapnya BoBoiBoy pengendali Es itu dengan tatapan kesal tingkat tinggi.

"Kau ni mahu apa sebenarnya, Hah?!" ucapnya geregetan. "Cepat turun! Kita nak cantum semula! Kau nak kita kian hari kian pelupa?"

"Buat je lah apapun yang kau nak, tapi jangan suruh aku turun dari sini," kata Ice bersikeras, membuat Halilintar panas hati juga.

"Kau ni! Aku akan bawa kau turun sekarang juga!" katanya marah lalu berjalan mendekati Ice. Sekonyong-konyong sebuah tangan menarik tubuh Ice mundur. Halilintar terkejut. Tampak Rosaline merangkul Ice erat seraya menempelkan ujung Sabitnya ke leher anak itu, membuat Halilintar mematung dengan mata melotot.

"Kau mendekat, aku belasah pecahan kau," ujarnya sinis. "Aku dah cakap hari-hari lepas kalau aku memang mahukan diri kau sebagai ahli pasukan aku, BoBoiBoy. Yahh- lima orang pun boleh dah, fufufu..."

Ice memandang Halilintar datar." Kan aku dah cakap, jangan suruh aku turun," desisnya seraya menghela nafas panjang. Rosaline tertawa kecil seraya menatap BoBoiBoy pengendali petir tak jauh darinya.

"Kau! Apa yang kau buat ni, Hah?!" pekik Halilintar berang. "Lepaskan Ice!"

"Kau yang kena lepas dari Kapal Angkasa ni, Hahaha!" Bora Ra tahu-tahu muncul di sebelah Rosaline seraya membidikkan meriam plasma ke arah Halilintar. "Aku akan tembak kau!"

DUAAARRR!

"GERAKAN KILAT!"

Halilintar segera menghindari tembakan itu dan mendarat turun ke sebelah teman-temannya yang segera menatapnya bingung.

"Eh? Kenapa kau turun lagi? Mana BoBoiBoy Ice?" tanya Fang heran.

Halilintar mendelik. "Dia ada kat kapal angkasa tu, disandera Rosaline," katanya, membuat semuanya kaget setengah mati.

"Apa?! Ish! Ini mesti Rosaline yang mahukan kau buat join pasukan dia, BoBoiBoy," tukas Yaya lalu terbang melesat ke arah Rosaline. Ice hendak mengeluarkan kekuatannya untuk membantu gadis itu, namun Yoyo Oo tahu-tahu sudah memborgol tubuhnya dengan borgol listrik, menyetrumnya di tempat.

"AAAAAAAAAAAAHHHHHHH!"

"TIDAAAKKK!" Pekik Yaya panik lalu mengayunkan tinjunya. "Lepaskan kawan aku! TUMBUKAN SUPERSONIK!"

"Hah, tak de guna! CENGKAMAN FIKIRAN FISIK MAKSIMUM!" teriak Rosaline. Serta merta Yaya dan teman-temannya merasa tubuh mereka dikendalikan. Rosaline tertawa nista sembari menerbangkan dan melempar tubuh mereka sesuka hati. Setelah puas menyiksa Yaya dan teman-temannya, ia berbisik di telinga Ice sembari tertawa pelan.

"Lepas ni kita akan senang-senang sikit, BoBoiBoy Ice," gumamnya dengan nada senang namun mengerikan. Ice meringis dan hendak memberontak lagi. Namun akibat sentruman borgol listrik dan cengkeraman penyerap energi Rosaline yang semakin memperparah kondisi kesadarannya, ia nyaris tidak bisa berkutik. Detik berikutnya ia pingsan di tempat. Rosaline tersenyum melihat itu dan menoleh ke arah Bora Ra seraya berucap:

"Masanya kita pergi dari sini."

"Apa?! Hei, aku nak ambik Sfera Kuasa Ochobot tu lah!" protes ketua Geng Tengkotak itu.

"Cih! Kau tak tengok dia dah bertukar jadi wujud alternatif dia yang kuat sangat tu? Paling-paling dia yang akan belasah kita. Nanti kita cari tahu cara dapatkan dia balik," balas Rosaline. "Lagipun kapal angkasa korang dah nak rosak. Korang kena balik buat perbaiki ni. Selepas tu, kita fikirkan cara buat ambil balik Sfera kuasa Ochobot tu."

Bora Ra mendengus. "Ye lah, ye lah. Kita balik ke Markas sekarang," ujarnya kesal. Tiba-tiba Taufan dan Blaze muncul tak jauh di depannya dengan pandangan marah.

"Korang tak boleh lari!" ujar Taufan berang. "GERUDI TAUFAN!"

"Betul. Bagi Ice balik!" Tambah Blaze seraya mengeluarkan meteor-meteornya. "HUJAN METEOR BERTALU-TALU!"

Serangan mengerikan itu menerjang ke arah Pesawat Tengkotak. Bora Ra segera berteriak pada Yoyo Oo di ruang kendali.

"Keadaan kita sekarang tak memungkinkan buat lawan mereka! Kita kena pergi dari sini! Melaju dengan kecepatan maksimum!"

"Baik!"

WUUUUUSSSSSSSSS!

Pesawat angkasa itu menghilang dengan cepat, membuat Taufan dan Blaze terkejut. Mereka hanya melongo begitu melihat satu pecahan diri mereka telah dibawa pergi. Teman-teman mereka segera mendekat dengan wajah kosong.

"Diorang dah bawa Ice pergi," ucap Taufan suram. "Habislah kita. Baik kita menyerah kalah je lah."

"Hish, kau ni! Tak baik pesimis macam tu," kata Gempa. "Baik kita balik ke hospital dan bagi tahu kawan-kawan yang lain perihal benda ni."


"APA?!" Gopal, Ying dan Mila memekik. "Mereka dah bawa pergi BoBoiBoy Ice?!"

"Haish- macam mana la kitorang nak cantum semula?" tanya Gempa lesu. "Kitorang tak nak jadi pelupa lagi."

Ochoboy menyeringai. "Tak pe," katanya. "Aku akan buatkan korang sajian ikan. Setidaknya itu boleh jaga ingatan korang buat sementara."

"Ikan lagi-" Halilintar bersandar di dinding dengan muram. "Bosan lah. Kau ingat kitorang ni Kucing ke? Makan Ikan terus."

"Maksud aku korang kena banyak makan Ikan, bukan pulak setiap masa makan!" Ochoboy mendesis kesal. "Dah lah. Sekarang kita kena fikirkan cara buat selamatkan BoBoiBoy Ice."

Yaya memandang khawatir. "Humm- kita tak tahu lah kemana dia dibawa pergi," katanya. "Kira-kira tempat apa yang sering mereka datangi?"

"Hmm- Angkasa lepas mungkin?" tanya Gopal. "Biasa pun Alien sering ada kat situ."

"Atau mungkin Pulau Apung tempat kita berlawan dengan Tengkotak dahulu?" tebak Ying. "Mungkin diorang buat markas kat Pulau tu ma."

Blaze mengangguk. "Betul juga. Rosaline tu makhluk pelik, jadi mestilah dia berasal dari tempat pelik pula, macam Pulau Apung. Jom kita pergi kesana esok!"

"Hanya ada satu masalah," kata Mila. "Esok kita dah masuk sekolah lagi. Mesti tak sempat buat pergi ke Pulau. Lagipun Pulau tu letaknya berpindah-pindah."

"Dey, tinggal izin kat Kepala Sekolah je. Cakap kalau kita ada perkara penting!" saran Gopal. Tiba-tiba nyalinya runtuh begitu melihat Yaya memandangnya dengan marah.

"Hei, sekolah tu penting tau!" Kata gadis berhijab itu. "Kau ni asyik cari alasan je buat ponteng sekolah, Gopal. Kau nak aku denda kau?"

Gopal segera menggeleng keras. "Tak! Tak nak!" Desisnya ketakutan.

"Mungkin kita boleh pergi ke Pulau tu masa hari sabtu dan ahad," usul Fang. "Macam mana? Kita masih boleh sekolah dan masih boleh selamatkan BoBoiBoy Ice kalau macam tu."

Mila tersenyum senang. "Usul yang bagus, Fang!" Katanya gembira, membuat Fang cengar-cengir seraya bergumam dalam hati bahwa dirinya sekali lagi lebih hebat dari BoBoiBoy.

"Ehh, korang tak tengok kah kenapa diorang ambik BoBoiBoy Ice dahulu wo?" tanya Ying tiba-tiba. "Nampaknya Rosaline tu nak tangkap pecahan BoBoiBoy secara berurutan. Mungkin pula selanjutnya target dia ialah BoBoiBoy Blaze."

"APA?!" Blaze memekik. "Ei, Ying. Jangan kau buat aku takut macam tu lah! Aku tak nak trauma sebab dibelasah wanita hodoh tu."

"Eh, betul juga," kata Fang. "Tapi kau kan dah sampai tahap kedua. Mestinya kau dah sanggup lawan dia. Kau tu dah besar, BoBoiBoy. Bukan lagi budak kecik."

"Sudah. Kita fikirkan pasal tu nanti sahaja," ujar Ochoboy. "Maknanya kita akan pergi ke pulau tu selama dua hari, lepas tu kita cari BoBoiBoy Ice tanpa ketahuan dan segera balik tanpa ketahuan."

"Hmm- Tapi sekarang tu hari Selasa. Masih sisa tiga hari," kata Halilintar. "Dan kita tak boleh pergi ke Sekolah semua. Ada yang kena jaga kedai Atok dan jaga Atok kat Hospital ni."

Gempa mengepalkan tangannya satu sama lain. "Okey! Kalau macam tu, kita bagi tugas!" katanya senang. "Halilintar, kau pergi sekolah, aku dan Abang Ray yang akan jaga Tok Aba kat hospital, Ochobot jaga Kedai bersama Taufan dan Blaze. Nah, Amacam?"

"GYAAAA! Kenapa pulak BoBoiBoy Halilintar yang kena belajar kat Sekolah?!" pekik Gopal ngeri. "Kau nak dia setrum satu kelas sampai hangus?!"

"APA KAU CAKAP, GOPAL?!" Halilintar langsung masuk ke mode pemarahnya. "Kalau kau masih je cakap macam tu, aku akan belasah kau hingga impas!"

"Sudah! Jangan berburuk sangka, Gopal," kata Yaya. "Lagipun BoBoiBoy tetaplah BoBoiBoy. Dia kan kawan kitorang, jadi cuba lah santai sikit."

Halilintar mendengus lalu menatap Gempa. "Apasal kau nak aku yang pergi ke Sekolah?" tanyanya dingin.

"Kalau kau yang jaga Tok Aba, bisa-bisa kau hanguskan satu gedung hospital ni. Kau kan tak sabaran," jelas Gempa. "Jadi aku yang bagi kau peran BoBoiBoy buat pergi Sekolah. Dan Taufan: Aku bagi dia kat kedai sebab dia ramah sangat kalau jumpa dengan pelanggan. Pasal aku bagi Blaze dengan Taufan tu biar ada yang temankan dia main di taman belakang kedai tu. Lagipun boleh sahaja rancangan Rosaline selanjutnya ialah nak culik Blaze pula, jadi Taufan pun boleh bantu dia kalau-kalau ada perkara teruk berlaku."

"Wow, bijak!" Kata Ray menimpali. "Kalau macam tu, esok kita jalankan siasat ni. Dan tiga hari kemudian kita selamatkan BoBoiBoy Ice."

Mila menatap Ochoboy. "Nampaknya kau kena balik ke wujud sfera kuasa kau," katanya. "Orang ramai mesti kaget kalau tengok wujud alternatif kau ni."

"Aku pun tak tahu macam mana caranya," jawab Ochoboy bingung. "Tapi semoga esok aku dah bertukar balik ke wujud Sfera Kuasa aku."

Mila tersenyum simpul. "Semoga."


Di sebuah ruangan berukuran sedang, tampak BoBoiBoy Ice yang kedua tangannya terborgol di sebuah pelat besi di dinding, melewati kepalanya. Kedua kakinya pun diborgol dengan borgol yang sama. Kedua matanya yang tertutup dan kepalanya yang tertunduk menandakan dia masih belum sadarkan diri. Setengah jam kemudian, kedua iris bewarna aqua itu mulai membuka. Ice mengangkat kepalanya yang terasa berat. Untuk sementara waktu pandangannya merabun. Ia menatap sekeliling ruangan dengan wajah bingung.

"Dimana aku?" tanyanya pelan. Dia pun teringat bahwa ia terakhir kali berada di pesawat angkasa milik Tengkotak dan jatuh pingsan. Ice melirik ke atas dan ke bawah. Kedua tangannya dan kakinya terborgol oleh semacam borgol logam berukuran besar. Melihat itu, ia mendesah panjang.

"Mungkin aku boleh gunakan kuasa aku buat lepaskan borgol ni," gumamnya. "Ketenangan maksimum-"

BRRRZZZZZZZTTTTT!

"AAAAGGGGHHHHH!"

Borgol-borgol itu menyetrum tubuhnya. Seandainya Halilintar yang melakukan ini, maka Ice akan menembaknya dengan meriam pembeku segera. Tapi Ice tahu ini bukan main-main. Borgol itu akan menyetrumnya kalau ia mengeluarkan kekuatannya. Pecahan BoBoiBoy pengendali Es itu hanya menghela nafas panjang. Tempat apa ini? Mengapa Rosaline dan Tengkotak membawanya kesini?

Tiba-tiba ia kembali teringat dengan perkataan Rosaline selama ini terhadap dirinya, membuatnya mengidik. Apakah wanita itu akan melakukan hal-hal buruk terhadapnya? Ice segera berdoa banyak-banyak agar hal itu tidak sampai terjadi. Namun doanya terinterupsi begitu dia melihat makhluk yang tiba-tiba masuk ke ruangannya itu.

"Nampaknya kau dah sedar," katanya seraya terkekeh. Ice menatapnya dengan wajah kaku.

"Rosaline," gumamnya pelan. "Kau dah langgar perjanjian surat pengakuan kalah kau. Itu tak dibenarkan."

Rosaline tersenyum simpul. "Heh! Kau yang siasati aku macam tu. Kau fikir aku nak kalah dari kau? Fufufufu- bermimpilah sesuka hati."

Ice menatapnya dengan sinis." Oh, ya? Tenang sahaja. Aku masih punya banyak surat perjanjian. Kau tak boleh lari dari ancaman diplomasi, kau kena tahu tu."

"Hmm- kertas-kertas pelik kau? Ahh, ya, aku dah ambil semua dari kantung kau tadi. Aku dah bakar semua kertas pelik tu, jadi kau tak boleh siasati aku dengan rancangan licik kau, Ehehe..."

Ice yang mendengar itu segera memandang horor. "Apa?! Kau dah bakar surat-surat Perjanjian aku?!" pekiknya. "Kau... Keterlaluan! Macam mana aku nak lawan secara damai?! Aku ni tak suka sangat melawan dengan kekerasan. Aku-"

PLAKK!

Kalimatnya terputus begitu Rosaline menampar pipinya kuat-kuat. Saking kuatnya tamparan itu membuat setetes darah keluar dari mulutnya. Ice meringis. Jarang sekali dia dibuat marah seperti ini. Namun dia tidak bisa melawan selama tubuhnya terborgol oleh borgol-borgol aneh itu.

"Ughh- Kau... jangan berani kau belasah aku," desisnya berang. "Aku tahu kau nakkan diri aku dan yang lainnya untuk buat benda pelik."

Rosaline tertawa nista. Ia menatap Ice tajam. "Betul lah. Aku memang nak belasah kau," ujarnya sinis. "Tapi sebelum itu, aku nak kau berjumpa dengan seseorang."

"Eh?" Ice mengerutkan kening tanda bingung. "Siapa orang tu?"

"Hmm- Dia yang suruh aku bawa kau kesini," jawab Rosaline. "Dia kata dia nak tanya beberapa soalan terhadap kau. Biar aku yang bawa kau ke dia."

Rosaline membawa Ice ke depan sebuah pintu. Pintu itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan besar berbentuk segiempat. Di ujung ruangan itu terpampang sebuah jendela raksasa yang berhadapan langsung dengan langit. Di depan jendela itu ada sebuah meja kecil dan sebuah kursi dengan sandaran punggung. Sosok yang duduk di kursi itu masih belum membalikkan kursinya dan masih saja menatap langit lewat jendela raksasa di hadapannya. Tangannya yang berhiaskan cincin batu giok bewarna merah tampak menegang.

Bagi Ice, ini mirip dengan suasana di aula kantor kedutaan tempat Ayahnya bekerja. Hanya saja ini lebih kosong melompong, seolah-olah hanya sosok itu makhluk yang sering berada di ruangan itu.

"Ketua, aku dah berjaya bawa BoBoiBoy kemari," kata Rosaline pada sosok yang duduk di kursi. "Sayangnya aku tak boleh ambil Sfera kuasa generasi kesembilan tu. Dia dah bertukar ke wujud alternatif dia."

Sosok di balik kursi itu mendesah. "Tak pe. Kau boleh undur perihal perkara tu, Rosaline," ujarnya. "Yang penting kau dah bawa budak BoBoiBoy tu kesini. Aku ada urusan penting dengan dia. Kau boleh tunggu di luar aula buat sekejap."

Rosaline mengangguk. Dia berjalan dan berhenti diluar ambang pintu aula, bersandar disana. Ice memandang sosok dibalik meja itu sembari menaikkan alis.

"Siapa kau ni?" tanyanya bingung. "Apa yang kau nak dari aku?"

Sosok di atas kursi itu mendesah. Ia memutar kursinya ke arah sang pengendali Es. Ice terperangah melihat penampilan asli sosok itu. Namun sebelum ia berucap satu kata pun, sosok itu lebih cepat.

"Ada beberapa soalan penting yang hendak kutanyakan padamu, BoBoiBoy."


* Lirik awal dan reff dari Salah satu Lagu OST Boboiboy The Movie: Sfera Kuasa ( Masih Disini ) Oleh Bunkface

.

.

.

Mawar Liar Season 1

S.E.L.E.S.A.I.

.

.

.

Ice: He? Apesal dah tamat selepas aku ditangkap ni?

Ye lah. Ini kan baru season 1. Insya Allah ada season 2 lah. Tapi masih di cerita yang sama. Jadi tenang aja kok. Kamu bakal selamat, hehehee ...

Ice: Hahh ... Jangan lama sangat. Nanti aku ketiduran lagi pas syuting (?)

Sudah! Sudah! Author juga capek. Mana jalan ceritanya gak jelas pula. Haduhhh ... memang bikin fic macam gini rada seram juga, hehehe ... tak pa. Oh, ya. Untuk Para Readers, saya tidak tega buat kalian penasaran kok. Masih di cerita yang sama. Nantikan bagian sebelas alias permulaan season 2. Doakan supaya Author punya banyak waktu buat ini ya, hehe ... Setia menanti, Ok? Jangan lupa kalau berminat, silahkan mereview. Love you all, Dear Readers ^/^