Akhirnya Season 2 telah diliris! Judulnya sedikit berbeda yaitu dengan tambahan kalimat 'The Chaotic of Elemental Split' atau bisa diterjemahkan sebagai 'Kekalutan para pecahan elemen.' Yah, mungkin di sesi ini sudah mulai ada penambahan tempat seperti Pulau Apung di Film Boboiboy The Movie: Sfera Kuasa. Tapi karena author belum nonton, jadi mungkin akan diperjelas lagi setelah filmnya ditonton, hehehe...
Untuk Note ada beberapa tambahan: Lebih aneh, Lebih memusingkan kepala (?), lebih sedikit OOC, Lebih seram dan lain-lain. So keep caution, guys!
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'The Chaotic of Elemental Split'
(Sebuah kisah fiksi)
Season 2
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 11: TOLONG AKU!
Waktu Maghrib telah usai. Keadaan Kota tampak ramai karena Pegawai-Pegawai Kantor yang pulang dari rutinitas karir masing-masing. Begitu pula dengan sepasang Suami Istri itu. Mereka baru saja pulang dari Kantor Kedutaan dan menerima tugas untuk seminar Internasional di London, Inggris esok harinya. Si Lelaki menaruh Tas kerjanya di atas tempat tidur sementara si Perempuan baru saja masuk ke dapur untuk menyiapkan Makan malam. Tiba-tiba telepon rumah di samping tempat tidur berdering. Spontan si Lelaki yang baru saja melepas dasi kerjanya segera mengangkat telepon itu dan menempelkannya di telinga seraya berucap:
"Ya, dengan salah satu Ahli Kedutaan. Ada yang boleh saya bantu?"
"Ahh- Senang dengar suara Awak pula. Lama sangat tak jumpa, kawan lamaku."
"KAU!?"
Si Lelaki menegang. Dia tersentak kaget begitu mendengar suara yang beberapa tahun ini pemiliknya telah menghilang.
"Aih, Awak pun masih kaget pula. Ini aku, kawan lama Awak. Awak tak ingat ke?"
"Mestilah aku masih ingat! Kau ingat aku ni pelupa ke?" Tanya si Lelaki berang. "Apasal kau telefon aku selepas kau hilang kontak selama beberapa tahun terakhir ini, Hah!?"
Suara berat di seberang telepon mendesah. "Uhh- garangnye," ujarnya geli. "Hahaha, tak. Saya cuma mahu bagi tahu awak perihal satu pasal: Awak akan hancur tak lama lagi."
"Eh? Apa maksud kau ni? Jangan cakap kalau kau dan rakan-rakan kau nak balik berulah pula!"
"Fufufufu- Ini dia akibatnya Encik Duta yang selalunya cuba masuk campur urusan saya," balas suara di seberang telepon. "Kalau sahaja Awak tak gatal buat buka-buka dokumen Top Secret dekat bilik Kantor saya hari tu, Awak pun tak akan masuk Death list saya. Tapi sayang sekali Awak tak boleh mengelak. Oh, ya. Sebelum Saya musnahkan Awak, Saya punya sesuatu yang penting buat Awak."
"Grr- aku tak boleh biarkan jenayah terjadi, walaupun kau ialah kawan aku dahulu," tukas si lelaki marah. "Apa yang kau maksud dengan sesuatu yang penting, Heh? Cakap!"
Suara di seberang telepon tertawa kecil. "Ahaha, kejap. Saya akan sambungkan Awak dengan seseorang yang penting buat Awak," ucapnya. Sesaat terdengar suara gemerisik. Detik berikutnya sebuah suara lain terdengar di seberang telepon.
"Assalamualaikum, Ayah. Khabar Ayah baik tak?"
Mendengar suara itu, Si Lelaki langsung menganga horor.
"Bo- BOBOIBOY?!"
"Ish, Ayah ni. Langsung sebut nama BoBoiBoy pula. Jawab salam tu hukumnya wajib, fardhu kifayah."
"Iye, iye, Waalaikumsalam," gumam si lelaki setengah menggerutu. Namun kekagetannya belum juga sirna. "Nak, Apasal kau ada kat situ!?"
"Hmm- Diorang yang culik BoBoiBoy, Ayah. Maafkan BoBoiBoy."
Si Lelaki mengerutkan kening. Tidak biasanya suara putranya tenang seperti ini. Ya, BoBoiBoy memang anak yang rileks. Tapi suaranya di telepon itu lebih tenang atau bisa dikatakan mendekati suara kantuk.
"Ei, kau ni mengantuk ke apa?" tanyanya heran. "Tak biasa pun suara kau terlampau rilek macam ni."
"Lha- BoBoiBoy memang nak berehat, Ayah. Dia dah buat BoBoiBoy mengantuk sangat dengan bahan perbincangan dia yang berat. BoBoiBoy kan baru darjah tujuh. Mana faham semua perkara yang dia cakapkan tu? Lagipun-"
Suara itu terputus dan digantikan dengan suara yang lebih berat dengan tawanya yang luar biasa sinis.
"Hahahaha! Dah dengar cakap anak kau? Yahh- rakan-rakan aku yang bawa dia kat sini. Tapi tenang. Aku tak nak minta Awak tebusan guna dia. Cara macam tu dah basi sangat."
Si Lelaki menggeretuk. "Habis tu kalau kau bukan guna dia buat tebusan, lalu apa!?"
"HUAHAHAHAHAAAA! Aku nak gunakan dia buat kuasai-"
Tutt! Tutt! Tutt!
Suara telepon itu terputus. Namun si lelaki masih belum beranjak dari tempatnya. Si perempuan tampak melongokkan kepala di pintu. "Abang, makan malam dah siap- eh? Kenapa muka Abang pucat sangat macam ni?" tanyanya heran begitu melihat Suaminya bermuram durja di sebelah telepon.
Si Lelaki menatapnya dengan tatapan tegang. "Nampaknya Ray dah gagal, dik," ucapnya. "Dia dah biarkan BoBoiBoy ditangkap sama Organisasi!"
"Abang, tenangkan diri dahulu," ujar si perempuan seraya menepuk pundak si lelaki. "Nanti kita hubungi Ray selepas makan malam dan Sholat Isya. Jangan dibawa stress sangat, Okey?"
Si Lelaki mengangguk lesu seraya berjalan ke ruang makan dituntun oleh sang Istri. Namun pikirannya masih belum terlepas dari percakapannya barusan di telepon.
'Dia... Apa maksud dia nak gunakan BoBoiBoy?'batinnya getir.
Tutt! Tutt! Tutt!
Sosok yang berdiri di kursi itu melongo begitu mendengar bunyi putus-putus di telepon genggam miliknya. Ice yang masih terborgol di hadapannya hanya menatap dengan datar.
"Tengok. Telefon kau dah tak nak sambung," ucapnya datar. "Baik kau menyerah kalah je lah."
Sosok di depannya mendengus. "Cih! Padapun aku nak bagi tahu Ayah kau pasal rancangan jahat sebenar aku. Biar lah. Aku akan cuba hubungi dia balik!" Ujarnya kesal seraya menekan tombol-tombol angka di telepon genggamnya dan kembali menempelkannya di telinga.
Tutt! Tiitt!
(Satu menit kemudian )
Tutt~ Tiitt~ Tutt!
(Dua menit kemudian)
Tutt~ Tiit~ Tuut~ Tiitt!
(Tiga menit kemudian )
Tutt~ Tiittt~ Tuutt~ Tiittt~ Tuutt!
(Berjam-jam kemudian )
Tutt~ Tiiittt~ Tuutt~ Tiiittt~ Tuuuttt~ Tiiiiittttt!
(Saking lamanya, Narrator yang lama terpaksa berhenti dan butuh waktu yang lama lagi untuk mencari Narrator yang baru)*
"APASAL TELEFON NI TAK NAK SAMBUNG BALIK, HAH?!"
Sosok di kursi itu menggeram marah dan hendak melempar telepon genggamnya ke lantai. Namun sebelum ia melakukannya, tiba-tiba teleponnya berdering tanda kontak masuk.
"Ha! Ini dia kemujuran aku!' ucapnya penuh kemenangan seraya kembali menempelkan benda itu ke telinganya. Namun senyum nista yang tersungging di bibirnya itu berubah menjadi kemuraman akut begitu ada yang berbicara di teleponnya:
"PELANGGAN YANG TERHORMAT, SISA PULSA YANG AWAK PUNYA TAK CUKUP BUAT MELAKUKAN PANGGILAN INI. SILA AWAK ISI ULANG PULSA SEGERA."
Si pemilik telepon tertegun begitu mendengar suara 'digital' yang mengerikan itu. Ice yang menjadi salah satu penonton mau tidak mau akhirnya tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang cetar membahana hingga menggema di ruangan besar itu, sesuatu yang jarang atau memang belum pernah dilakukan oleh pecahan BoBoiBoy yang terkesan tenang dan pemalas seperti dirinya.
"HAHAHAHAHAHAHAAAAAAA! Tengok tu! Kau ni penjahat, tapi pasal isi pulsa telefon pun kau tak tahu!" Tukas Ice geli. "Macam mana kau nak jadi penjahat berkaliber? Ish, ish, ish- lawak betul!"
Sosok di depannya hanya mendengus. "Kau mimpi je. Aku tahu lah cara isi pulsa!" Tukasnya berang lalu bertepuk. Tahu-tahu seorang pria berjas masuk ke ruangan itu dan mendekati sosok itu yang segera menyerahkan teleponnya.
"Nah, aku nak kau isi telefon ni dengan pulsa telefon. Jangan lama!"
"Baik, Tuan Ketua."
Pria itu pun membawa telepon genggam itu dan segera keluar ruangan. Sosok di balik meja itu mendesah panjang dan menoleh ke arah Ice yang sudah puas dengan tawanya yang jarang-jarang keluar itu. "Nah, aku dah selesai dengan kau," ucapnya dingin. "Mungkin aku boleh jumpa kau satu masa nanti."
Ice memiringkan kepala tanda bingung. "Aku masih tak faham lah pasal kau suruh Rosaline bawa aku kat sini."
"Ohh- kalau pasal tu, aku nak kau jadi bahagian dari kitorang."
"Hmph! Jangan harap kau boleh rekrut aku," dengus Ice yang sudah kembali ke sikapnya semula.
Sosok itu tertawa. "Hahahaa! Bukan. Bukan aku yang akan rekrut kau," katanya. "Aku tak boleh rekrut kau langsung karena kau ialah bawahan sekutu aku."
Ice segera memandang ngeri begitu mendengar kalimat itu. Diliriknya Rosaline yang sudah masuk kembali ke dalam aula utama dan mulai tersenyum sadis ke arahnya.
"Nah, Ice. Kau akan join aku sekarang, fufufu..."
"Cih- Jangan harap aku nak join kau! SERPIHAN SALJU TAJA-"
BZZZZZZZTTTTTT!
"AAAAAAAAHHHHHH!"
Oh, dia benar-benar lupa borgol itu akan menyetrum tubuhnya kalau dia mengeluarkan kekuatannya. Ice meringis. Tulang-tulang di tubuhnya terasa ngilu. Kedua mata Aqua-nya melototi Rosaline yang hendak membawanya kembali ke ruang dimana dia ditahan tadi, membuatnya semakin memberontak dan menyebabkan borgol itu menyetrum tubuhnya berkali-kali. Namun Ice tahu ini kesempatannya untuk lari dari kejadian traumatik yang akan segera menghajar mentalnya. Sayang sekali tubuhnya sudah lemas, membuatnya tidak mampu melakukan apapun hingga kegelapan mulai menyelimuti pandangannya.
Melihat Ice pingsan untuk kedua kalinya, Rosaline tersenyum kecil. Dibawanya anak itu kembali ke ruangan dimana dia berada sebelumnya. Setelah sampai, ia memandang wajah Ice yang sudah tidak sadarkan diri. Wanita itu terkekeh puas.
"Tidurlah, Ice. Tak lama lagi kau akan kerja buat aku, fufufu..."
Di rumah sakit, tampak Gempa yang duduk di sofa di ujung kamar rawat Tok Aba setelah selesai Sholat Isya sementara Ray baru saja menghilang ke kamar kecil di ruangan itu. Teman-temannya sudah pulang, begitu pula dengan Halilintar, Taufan dan Blaze yang pulang bersama Ochoboy ke rumah Tok Aba. Tiba-tiba telepon genggam Ray yang ditinggalkan di sebelah Gempa berdering. Gempa segera mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum. Ray, Auntie mahu bincang sama kamu," kata suara di seberang telepon. Gempa terperangah mendengar suara itu dan segera membalas.
"Wa'alaikumsalam. Mak, ini BoBoiBoy. Abang Ray pergi kat bilik air, jadi BoBoiBoy yang angkat telefon dia," ucapnya gembira. Lawan bicaranya tampak kaget setelah mendengar suara itu.
"Eh? BoBoiBoy?! Bukannya kamu dah kena culik sama Organisasi?!"
Gempa mengernyit. Diculik? Sepertinya yang dimaksud oleh Ibunya itu adalah BoBoiBoy Ice. Tapi Organisasi? Gempa merasa asing dengan nama itu, walaupun dia tahu makna dari Organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan tertentu dan hendak mencapai tujuan itu bersama-sama dalam sebuah struktur koordinasi. Tapi entah mengapa ia merasa aneh dengan yang satu ini.
"Mak, Apa Mak cakap apa ni? BoBoiBoy bingung," katanya heran. "Apa maksud-"
Kalimatnya terputus begitu Ray yang tahu-tahu sudah muncul di sebelahnya merampas telepon genggam itu darinya. Ditempelkannya telepon itu ke telinganya dengan ekspresi panik.
"Auntie, maafkan saya. Saya tak boleh jaga anak Auntie dan Tok Aba. Maafkan saya," ujarnya sedih.
Ibu BoBoiBoy mendesis heran. "Lha? Ayah BoBoiBoy kata BoBoiBoy dah kena culik sama Organisasi, tapi nyatanya BoBoiBoy ada sama kau. Pelik betul."
"Ehh- Auntie, BoBoiBoy memang ada bersama saya kat sini," kata Ray gugup. "Kitorang ada kat Hospital selepas Tok Aba kecelakaan senja tadi."
"APA?! TOK ABA KECELAKAAN?!"
"Ma- Maaf, Auntie. Tapi kejadiannya laju sangat. Saya tak de daya buat hentikan Kereta tu."
"Macam mana keadaan Tok Aba sekarang?"
"Tok Aba masih belum siuman, Auntie. Tapi nampaknya beliau dah lagi baik dari sebelumnya."
Tiba-tiba terdengar suara berisik tanda telepon di seberang berpindah tangan. Detik berikutnya terdengar suara berat seorang pria di seberang telepon.
"Ray! Apahal kau ni? Tak buat benda signifikan buat lindungi Tok Aba dan BoBoiBoy!"
"Ehh- maaf, Uncle. Saya minta maaf. Tapi BoBoiBoy sekarang ada bersama saya."
"He!? Apa maksud kau ni? BoBoiBoy dah kena culik sama Organisasi! Jangan dusta kau cakap ada BoBoiBoy kat situ!"
Gempa segera menyambar telepon genggam Ray. "Ayah, ini memang BoBoiBoy."
"Apa!? Kau ke ni, BoBoiBoy!? Bukannya kau-"
"Dia ada banyak, Uncle," desah Ray hingga terdengar oleh orangtua BoBoiBoy.
Ayah BoBoiBoy terhenyak. "Ap- Apakah!? Mana ada BoBoiBoy berada di dua tempat yang berlainan? Jangan lawak ye!"
"Uncle, BoBoiBoy dah berpecah jadi lima. Salah satu pecahan dia kena culik sama Organisasi."
"Ei, kau ingat Uncle akan percaya dengan cakap kau tu? BoBoiBoy, itu tak benar, kan?"
"Ayah, Apa yang Abang Ray cakapkan tu memang betul. BoBoiBoy boleh berpecah lima," ujar Gempa gugup. Spontan kedua Orangtuanya tersentak kaget.
"BoBoiBoy, kau jangan lah gurau-gurau! Ayah dan Mak tambah bingung ni."
Gempa mendengus. "Ayah, Mak, BoBoiBoy serius! Ayah dan Mak dah tahu kan BoBoiBoy boleh punya kuasa superhero buat memanipulasi Elemen? Selain itu, BoBoiBoy boleh berpecah menjadi lima yang masing-masing boleh kendalikan dua tahapan elemental," katanya. "Maafkan BoBoiBoy. BoBoiBoy kena bagi tahu ulang kat Ayah dan Mak perihal ni. Kalau Ayah dan Mak belum ingat juga, Ayah dan Mak boleh tanyakan benda ni kat Tok Aba kalau beliau dah siuman nanti."
"Nah, Uncle dan Auntie dah dengar cakap BoBoiBoy, kan?" ujar Ray meyakinkan. "Tenanglah, Uncle. Saya akan usaha buat ambik balik pecahan BoBoiBoy yang kena culik sama Organisasi, Insha Allah."
Suara sang Duta dari seberang telepon terdengar mendesah. "Baiklah. Tapi korang kena cepat sikit. Kalau tak, mereka mesti akan segera mulakan penghapusan orang-orang kat Death List Organisasi. Uncle dan Auntie juga dah termasuk ke dalam daftar tu. Mana pula kami nak pergi ke London esok. Kami mohon, bantu kami hentikan Organisasi. Kalau boleh, kau terangkan maklumat Mawar liar dan hubungan dia dengan Organisasi dekat BoBoiBoy."
"Tak de hal. Saya akan terangkan maklumat tu kat BoBoiBoy."
"Bagus, Semoga korang Berjaya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ray menutup Teleponnya dan memandang Gempa lamat.
"Sebenarnya ada satu perihal yang Ibubapa kau hadapi di balik layar selama ini, BoBoiBoy," katanya mulai menjelaskan. "Ibubapa kau berurusan dengan satu badan yang disebut dengan 'Organisasi'."
"Organisasi?" Gempa mengerutkan kening. "Nama yang general. Macam tak de nama lain je. Mereka tu badan apa?"
Ray menurunkan volume suaranya. "Sepanjang yang Ibubapa kamu bagi tahu kat Abang, Organisasi ialah suatu badan dimana semua anggotanya punya empat ciri khas: Jahat, mandiri, dan ambisius. Mereka dah ada sejak ratusan tahun silam. Pemimpin mereka boleh ganti setelah jabatan seumur hidup. Sistem mereka Monarki dan Demokrasi. Teknologi mereka jauh lagi hebat sebab mereka dah pernah mengelilingi setengah alam semesta buat rekrut ahli pasukan baru dan mempelajari berbagai perihal di Planet-planet yang dah mereka serang."
"Ohh- macam tu," tukas Gempa seraya mengangguk-angguk. "Eh, Tunggu kejap. Mereka tu makhluk jenis apa?"
"Mereka gabungan dari beberapa jenis Makhluk hidup," jawab Ray. "Namun secara general mereka terdiri dari 2 kelompok besar: Makhluk Sains Fiksi macam Cyborg atau Alien, dan Manusia."
Gempa tersentak. "Manusia?!" gumamnya kaget. "Apasal manusia juga boleh masuk?"
"Entah." Ray mengangkat bahu. "Ayah kamu tak bagi tahu kenapa manusia termasuk dalam 2 kelompok besar dalam Organisasi. Tujuan dan keberadaan mereka pun masih misterius. Sayangnya Ibubapa kamu belum bagi tahu maklumat nama sebenar Organisasi tu. Dan satu lagi. Sejak awal Organisasi memiliki sebuah kelompok kecil bernama 'Supreme Diamond' (Berlian Luar Biasa). Supreme Diamond ialah sekumpulan ahli pasukan elite di bawah ketua Organisasi. Biasa pun anggota Supreme Diamond menggunakan nama kode kerana kehebatan dan kekejaman mereka hingga nama mereka sebaiknya disamarkan oleh suatu nama kode."
"Ayah dan Mak bagi tahu tak nama-nama kode tu kat Abang?" tanya BoBoiBoy pengendali Tanah itu. Ray mengangguk dan mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya dan menyodorkannya pada Gempa.
"Ya, tapi tak semua. Cuba kamu tengok ini."
Gempa membuka kertas itu. Disana tertulis beberapa nama, yaitu:
1. Anak Bawang
2. Ikan Hias
3. ...
4. Anggrek Putih
5. ...
6. ...
7. Lampion
8. Pandai Besi
9. ...
10. Mawar Liar
"Eh?" Gempa kebingungan dengan isi kertas itu. "Nama-nama yang pelik. Dan apahal titik-titik ni?" tanyanya.
"Itu maknanya Ibubapa kamu belum dapatkan maklumat lengkap perihal mereka," jelas Ray. "Tapi dari semua tu, yang paling diandalkan oleh Organisasi saat ni ialah satu: Mawar Liar."
"Mawar Liar? Siapa dia? Dan apa keistimewaan dia?"
"Hmm- maklumat terbaharu kata dia ialah ahli pasukan terkuat kat Supreme Diamond, walaupun mungkin saja ada member yang lagi kuat atau sama kuat dengan dia. Dia ada kelainan genetik yang mana dia boleh ambik daya dari lawan dan memainkan tubuh mereka layaknya boneka tali. Semacam manipulator motorik. Siapa pun yang dia kawal tak boleh ataupun sangat sukar buat melawan. Itu lah sebab kenapa dia yang sangat diandalkan oleh mereka sekarang."
Mendengar itu, Gempa terkejut. Kedua matanya yang bewarna kuning emas itu melotot. Ditatapnya Ray dengan pandangan tegang.
"Abang Ray," gumamnya dengan wajah muram. "Apakah dia... Rosaline?"
Ray memandangnya datar dan menghela nafas panjang.
"Saya takut bagi tahu kamu perihal perkara ni, BoBoiBoy," balasnya. "Tapi kau betul. Dialah 'Mawar Liar'."
Jam menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Suasana masih gelap. Sayup-sayup terdengar suara Azan subuh. Setelah selesai azan digantikan oleh sebuah suara menggelegar. Bukan. Bukan suara guntur akibat hujan Halilintar, tapi-
TRANG! TRANG! TRANG!
"BANGUUUNNNNN! Assholatu Khairun Minannaum! Sholat lagi elok daripada tidur!"
"ALLAHURABBI! Ochobot! Apasal kau guna acara pukul panci buat bangunkan aku?!"
"Hehehe- sori, BoBoiBoy. Kau marah ye?"
"Tak. Aku tak marah pon. Aku senang lah! Seronok betul bunyikan panci subuh-subuh ni, Hahaha! Sini, bagi aku panci tu!"
"Eh? Buat apa?"
"Buat bangunkan Taufan dan Halilintar lah. Tumben diorang belum bangun. Biasa pon diorang bangun lagi cepat."
"Elehh- macam mana kau tahu benda tu? Korang ni faktanya hanya sorang je."
"Dah lah, Ochobot. Sini bagi aku panci tu. Kita bangunkan mereka!"
Kedua sosok itu melangkah menuju Taufan yang sedang tertidur di atas Hoverboard-nya di sebelah ranjang. Yah, tempat tidur BoBoiBoy kan hanya satu. Mana cukup untuk tiga orang yang seharusnya hanya satu itu? Takutnya mereka akan saling menendang dan saling menjatuhkan untuk mendapat posisi tidur yang nyaman. Ada fantasi mengerikan yang dipikirkan oleh banyak orang sakit akal, yang mana kalau ada tiga orang sesama jenis yang tidur bareng di ranjang sempit dan berhimpit-himpitan, para orang sakit akal itu akan berfantasi tentang ketiganya yang mana fantasi itu mengarah ke paham mengerikan 'LGBT' yang saat ini merebak. Sebagai orang beriman, BoBoiBoy tahu tidak boleh melakukan hal seperti itu. Tok Aba selalu menasihati BoBoiBoy untuk menjadi pemuda yang normal. Dan sebagai cucu yang berbakti, BoBoiBoy selalu berusaha menaati nasihat sang Kakek. Umurnya memang masih terlalu muda untuk berpikir kritis. Namun untuk membedakan yang baik dan buruk, BoBoiBoy sudah cukup paham tentang hal itu.
Karena Blaze yang paling 'muda' diantara mereka, maka dia yang diprioritaskan untuk tidur di ranjang empuk nan lembut itu, membuat kedua pecahan sebelum dirinya terpaksa mengalah. Halilintar dengan segala gengsinya yang tinggi, memilih secara Gentleman untuk tidur diluar kamar sementara Taufan yang memang pembawaannya periang dan memiliki prinsip hidup-Apapun tempatnya, yang penting Hepi!- memilih tidur di atas Hoverboard kesayangannya ditemani sebuah bantal dan sebuah selimut, walaupun tempat yang dipilihnya masih di dalam kamar tidur BoBoiBoy.
TRANG! TRANG! TRANG!
Kedua pasangan sejoli sehidup semati berbentuk bundar dan sama-sama terbuat dari aluminium alias sepasang panci itu saling beradu, menciptakan suara yang memekakkan telinga di sebelah BoBoiBoy pengendali angin. Namun anehnya dia belum bangun juga.
"Ai'? Dia belum bangun pula," kata Blaze bingung.
Ochobot menghembuskan nafas panjang. Tiba-tiba sebuah bohlam imajiner muncul di atas kepalanya. "Aha! Aku tahu macam mana cara buat bangunkan dia!" ucapnya girang.
(Di sebuah lorong yang sempit dan gelap)
"HUWAAAAAAAAAAAAAAA!"
Seorang bocah lelaki dengan pakaian bernuansa biru tua dan biru muda melesat panik. Ya, dia adalah BoBoiBoy Taufan. Dengan menggunakan Hoverboard-nya, dia 'terbang terbirit-birit' di sepanjang lorong itu. Tatapannya menjadi semakin horor begitu melihat sebuah tembok menjulang tinggi di depannya. Dia pun terbang ke atas, hendak melewati tembok itu. Namun anehnya, tembok itu tingginya bukan main-main. Tahu-tahu Hoverboard-nya habis daya, membuatnya terjatuh dengan tidak mulus di atas tanah beraspal.
"Aduuhhh- sakitnye..." desisnya kesakitan. Ia pun berusaha berdiri. Namun kedua mata birunya memandang ngeri ke depannya. Satu sosok yang penampilannya tidak jelas berdiri di hadapannya seraya menenteng sebungkus biskuit.
"BoBoiBoy, nampaknya kau kena rasa biskut a la pengkhianat ini," ujarnya dengan seringai lebar sembari berjalan ke arah Taufan. Mendengar suara sosok itu, Taufan segera tahu bahwa sosok di depannya adalah perempuan. Namun tetap saja nyalinya ciut menghadapi sosok itu.
"Ka- Kau Yaya ke?" tanyanya. "Kalau kau nak aku makan biskut kau, mungkin lain kali sahaja, Hehehehe."
Sosok di depannya mendengus. "Cih! Kau masih saja sebut nama kawan kau dari Pulau Rintis tu. Sementara aku... kau dah lupakan nama aku! Dan sebagai hukuman, aku akan bagi kau biskut ni!"
"Ei? Memangnya kau ni siapa?"
"Apa?! Kau ni memang pelupa, BoBoiBoy! Aku kawan lama kau lah!"
"Ya Allah, Aku tak ingat lah siapa diri kau!"
"Erghh- ini sebab kau dah lupakan kawan-kawan lama kau dan lagi suka dengan kawan-kawan baru kau kat Pulau Rintis tu! Tak de ampun! MAKAN BISKUT NI!"
"JA- JANGAAAAAANNNNNN! ASTAGFIRULLAH! Uhuk! Uhuk!"
Taufan menjerit dan terbangun. Dilihatnya Blaze memasukkan beberapa keping Biskuit Yaya ke dalam mulutnya. Ia terbatuk-batuk dan memandang Blaze kaget.
"Bla- Blaze! Apasal kau sumbat mulut aku guna Biskut Yaya!?" jeritnya seraya berusaha mengeluarkan serpihan-serpihan biskuit maut dari mulutnya itu. Blaze menyeringai lebar.
"Ehh- aku nak bangunkan kau. Aku dan Ochobot dah guna Panci buat bangunkan kau, tapi kau tak bangun-bangun. Dan akhirnya Ochobot bagi saran buat masukkan Biskut Yaya ke dalam mulut kau," ujarnya malu lalu memandang Ochobot di sebelahnya. "Ochobot, tadi aku dah sampai hitungan keberapa?"
"Oh, baru dua belas biskut."
"APA?! DUA BELAS BISKUT?!" Jerit Taufan lalu segera melesat menuju kamar mandi dan berkumur-kumur dengan List*rin sebanyak dua botol untuk menghilangkan rasa ampelas Biskuit Yaya dari dalam mulutnya. Akhirnya ia menghembuskan nafas lega di depan cermin.
"Mungkin aku kena jauhkan diri aku sejenak dari biskut Yaya. Seram betul," tukasnya merinding. Namun dia teringat dengan sosok yang memasukkan Biskuit Yaya ke dalam mulutnya secara paksa di dalam mimpinya tadi.
Itu bukan Yaya, Taufan tahu itu. Karena Yaya pasti akan menawari biskuitnya dengan paksaan yang lebih sopan. Tidak seperti sosok itu yang dengan kasar memasukkan benda yang rasanya sama sekali tidak lezat itu ke dalam mulutnya seraya mengaku-ngaku bahwa dia adalah teman lamanya.
Teman lama? Taufan menaikkan alis tanda bingung. Dia benar-benar lupa dengan semua itu karena dia sudah lama sekali tinggal di Pulau Rintis, bahkan melanjutkan Sekolah menengah disana disana.
"Semoga sahaja aku ingat siapa sosok itu nanti," gumamnya pelan.
Setelah membangunkan Taufan dengan 'sumbatan biskuit Yaya', Ochobot dan Blaze turun ke ruang tamu. Disana mereka mendapati Halilintar yang tidur di atas sofa dengan selonjoran seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tertidur dengan kepala tertunduk, membuat ujung topinya yang menghadap ke depan menutupi separuh wajahnya.
"Hmm- jangan-jangan dia macam Taufan nanti, tak boleh dibangunkan guna suara pukulan Panci," kata Blaze. "Kalau aku teriak macam mana?"
"Cuba je," balas Ochobot.
"Baiklah," ujar Blaze riang seraya mendekati Halilintar dan membusungkan dada, menarik nafas dalam-dalam. Detik berikutnya, ia berteriak kencang di samping pecahan BoBoiBoy yang pertama itu.
"HALILINTAR, BANGUUUNNNN! DAH SUBUH NI! KALAU KAU BANGUN, AKU AKAN BAGI KAU SESUATU YANG SPESIAL! MAIN SUKAN API!"
Krikk... Krikk... Krikk... Krikk...
"Haehh- dia tak bangun lah," keluh Ochobot. "Apasal kau nak ajak dia main sukan? Guna Api pulak tu. Paling-paling dia yang setrum kau. Dia ni serius sangat, bukan budak yang suka bermain macam kau."
"Habis tu, macam mana cara buat bangunkan dia?"
"Aha! Aku tahu macam mana cara bangunkan dia!"
"He?"
Ochobot dan Blaze menoleh. Tampak Taufan yang berdiri seraya berkacak pinggang di belakang mereka.
"Macam mana caranya?" Tanya Ochobot heran.
Taufan tersenyum. "Cara bangunkan dia tu-"
Ruangan itu gelap sekali. Halilintar tidak tahu dimana dia berada sekarang. Saking gelapnya ruangan itu, dia tidak bisa melihat kedua tangannya.
"Ha- Halo? Ada ke orang kat sini?" tanyanya gugup. Ia meraba-raba di dalam kegelapan. Ingin sekali ia berlari keluar dari tempat itu dengan gerakan kilat miliknya. Namun ia takut ruangan itu dikelilingi tembok dan dia bisa saja menabrak mereka.
'BoBoiBoy, cuba kau jalan terus ke depan.'
"Eh?"
Sebuah suara memanggilnya. Halilintar mendesah. Sepertinya tidak ada jalan lain selain mengikuti perintah suara itu. Ya, dia memang rada takut dalam gelap. Akhirnya ia berjalan ke depan, sesuai instruksi suara itu.
'Berhenti. Raba sesuatu kat hadapan kau.'
Halilintar menurut. Dia berhenti melangkah dan meraba-raba ke depan. Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu seperti gagang pintu. Halilintar tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa keluar dari ruangan yang gelap itu.
'Sekarang buka pintu tu, dan kau akan jumpa aku.'
Awalnya Halilintar curiga. Jangan-jangan pemilik suara itu bukan orang baik-baik. Namun rasa takutnya pada gelap memaksanya untuk membuka pintu itu. Ditelan ludahnya dan menarik gagang pintu di depannya.
Kriiiieeeeettt-
Halilintar masuk ke ruangan di balik pintu dan tertegun. Dilihatnya sebuah ruangan terang-benderang yang mirip dengan ruang aula tahun tujuh puluhan. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah sosok yang memunggungi Halilintar. Halilintar merasa heran. Dia memilih untuk tidak mendekati sosok itu terlebih dahulu dan diam di tempat. Ia pun membuka mulut.
"Siapa kau?"
"Kau tanya siapa aku? Ish, kau ni sama je lah, BoBoiBoy! Masih pelupa!"
Sosok itu memutar tubuh. Halilintar melotot. Sosok itu benar-benar tidak jelas. Entah mengapa penampilan sosok itu seperti dikaburkan oleh kabut. Oh, tampaknya Halilintar sedang sial sekarang. Hal yang pertama terlintas di benaknya setelah melihat sosok itu adalah–
"AAAAAAAHHHHHH! HANTUUUUUUUUU!"
Refleks Halilintar mengeluarkan pedang Halilintar-nya dan melemparkannya ke arah sosok itu. Sosok itu menghindar dengan kaget. Ia menatap Halilintar dengan kesal.
"Hish, aku bukan hantu lah!" Dengusnya. "Aku ni kawan lama kau, BoBoiBoy! Masa tak tahu?"
"Dengar. Aku tak mungkin berkawan dengan sosok pelik berkabut mengerikan macam kau!" tukas Halilintar marah bercampur ngeri. "Sekarang pergi dari situ! Kau benar-benar menakutkan!"
Sosok itu terperangah. "Aku? Menakutkan? Sampai hati la kau ni, BoBoiBoy! Aku tak menakutkan lah! Justru kau yang buat aku takut dengan pakaian kau yang hitam-hitam campur merah tu! Dan sebab kau dah berani mencarut aku, aku akan ajar kau!"
"Cih, kau nak ajar aku guna apa?" tanya Halilintar remeh. Sosok di depannya tersenyum sinis seraya mengeluarkan sesuatu dari punggungnya. Serta merta Halilintar terbelalak kaget melihat apa yang dikeluarkan oleh sosok itu.
Sebuah Balon besar dan sebuah jarum, yang tentunya membuat Halilintar merasakan sebuah firasat buruk.
"Ka- Kau... apa kau nak perbuat!?" tanyanya dengan wajah tegang. Sosok di depannya menyeringai seraya mengacungkan jarum di dekat Balon itu.
"Aku akan ajar kau dengan ini," ujarnya geli. Sebuah alarm fobia di dalam tubuh Halilintar berbunyi, menyuruhnya untuk segera lari. Mau tidak mau Halilintar segera menarik pintu di belakangnya untuk menghindari sesuatu yang buruk nanti. Namun wajahnya menjadi suram begitu ia menyadari bahwa pintu itu-
"Alamak! Terkunci!" desisnya panik. Diliriknya sosok di belakangnya yang menyeringai serigala seraya mengambil ancang-ancang untuk menghujamkan jarum itu ke Balon di tangannya. Halilintar mengidik. Dan semuanya menjadi semakin buruk begitu sosok itu telah mengayunkan jarumnya ke Balon itu.
DORR!
"GYAAAAAAAAAA! ALLAHUKARIM! MELETUPMELETUP! MELETUUUPPPPP!"
Halilintar terbangun dan syok. Setengah pamornya yang kalem musnah seketika akibat jeritan phobia yang memalukan itu. Dia terengah-engah dan berkeringat dingin. Tampak Ochobot, Blaze dan Taufan menatapnya dengan bengong.
"Nah, kan aku dah kata, Dia mesti bangun kalau kita letupkan Belon depan muka dia," kata Taufan membuka percakapan.
"Wuahhh- Taufan, keren lah!" pekik Blaze riang.
"Tapi lain kali jangan guna cara macam ni lah. Kesian dia. Mesti dia rasa jantung dia macam terbang tadi," ujar OchoBot iba lalu menoleh ke Halilintar. "Nah, BoBoiBoy Halilintar. Jom kau Sholat Subuh dahulu."
Halilintar terdiam. Untuk beberapa saat ia membisu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Beberapa percikan listrik merah muncul di sekujur tubuhnya. Tahu-tahu ia mengangkat wajahnya yang sudah berubah menjadi garang dan berteriak histeris.
"KURANG AJAR! SIAPA YANG LETUPKAN BELON TU DEPAN MUKA AKU, HAH?!
"AKU!" balas Blaze riang seraya mengacungkan jarum di tangannya. Spontan Taufan dan Ochobot mendelik ngeri melihat itu. "Aku nak kau bangun karena selepas sholat subuh aku nak ajak kau main sukan api sebelum berangkat kat sekolah nanti. Seronok tak?"
"Seronok, Heh?" tanya Halilintar berang. "Kau nak seronok? AKAN AKU AJAR KAU!"
"AAAAAAHHHHH! Halilintar, sori! Aku tak bermaksud- Maafkan aku, HUWEEEEEEEE!" Blaze menangis kencang dan berlari ke halaman rumah begitu melihat Halilintar sudah menerjang ke arahnya dengan amarah yang memuncak. Keduanya langsung bergumul di halaman rumah. Taufan menghembuskan nafas lega.
"Nasib baik aku tak kena amukan dia tu," ujarnya. Ochobot menoleh ke arahnya.
"Ya. Tapi kau yang buat rancangan untuk letupkan Belon tu depan muka BoBoiBoy Halilintar. Gilanya, kau suruh BoBoiBoy Blaze buat benda tu," jawabnya sarkastik. Mendengar kalimat Ochobot itu, Halilintar berhenti menyerang Blaze yang sudah merengek-rengek di depannya dan menatap Taufan berang. Yang ditatap segera menyeringai bodoh.
"Hehehe, aku hanya perancang, Halilintar. Tak payah kau marah macam ni."
"KETERLALUAN! Kau akan dapat hukuman lagi berat sebab dah siasatkan aku cam ni! BOLA KILAT!"
"AAAAAAAAAAHHHHHHH!"
TRANG! TRANG!
Dengan sigap, Ochobot menyiapkan sepasang panci dan menyajikan pukulan sepasang Panci itu ke kepala kedua pecahan BoBoiBoy itu sebelum mereka saling melukai. Keduanya langsung ambruk di tanah dengan wajah ling-lung.
"Aduuuhhh–"
"Korang ni, baru subuh dah buat gaduh!" tukas Ochobot kesal lalu mendekati Blaze yang masih saja menangis. "Dah lah. Jangan menangis. Baik korang sholat subuh dahulu dan bersedia buat ektiviti hari ini."
"Hiks- baik, Ochobot," balas Blaze seraya menghapus air matanya. Ia dan kedua pecahan BoBoiBoy lainnya kembali masuk ke rumah. Tiba-tiba Halilintar menoleh ke arah Ochobot.
"Ehh- kejap. Bukannya kau dah bertukar ke wujud alternatif kau selepas pertarungan semalam tu?" tanyanya.
Ochobot tersentak. "Ei? Memangnya ada apa dengan wujud alternatif aku ni?"
"Kau dah balik ke wujud robot Sfera kuasa kau lah."
"Hah!?"
Ochobot pergi ke depan cermin. Benar saja. Tampak sesosok robot kuning berbentuk bola dengan dua tangan robot disana. Ia tersentak. Sejak kapan ia berubah ke wujud Sfera Kuasanya?
"Nampaknya aku hanya boleh bertukar ke wujud alternatif tu masa aku punya andrenalin mesin yang kuat," katanya. "Tapi tak pe. Aku lagi nyaman macam ni. Tapi kalau musuh menyerang lagi, mungkin aku boleh balik ke wujud alternatif aku. Dengan begitu aku masih boleh bantu korang. Dah lah. Sekarang korang Sholat Subuh dahulu. Dah nak telat ni."
"Okey."
Ketiga pecahan BoBoiBoy itu pun mengantri wudhu. Ketika giliran Taufan memutar keran buat berwudhu, Halilintar mendelik ke arah OchoBot dengan tatapan tegas.
"OchoBot, baik kau tak selalu guna strategi pukul panci kat kepala orang. Bisa-bisa mangsa pukulan panci kau kena gegar otak tau."
OchoBot mengeluarkan suara seringai gugup. "Hehehe, oke lah. Akan aku cuba kurangi strategi pukulan panci tu," ujarnya malu. "Terima kasih sebab dah ingatkan saya ye, BoBoiBoy."
Halilintar tersenyum kecil. "Sama-sama."
Pagi pun menyingsing. Sesuai rencana sebelumnya, mereka berbagi tugas. Halilintar pergi ke sekolah sementara Ochobot, Blaze dan Taufan pergi ke Kedai Kokotiam. Dengan segera Halilintar sampai di kelas dengan kemampuan Gerakan Kilat miliknya. Gopal yang sudah berada duluan di kelas terkejut melihat kedatangannya.
"Oh! Hai, BoBoiBoy."
"Hmm- Hai juga, Gopal."
Sapaan yang singkat dan datar. Gopal sebenarnya merasa canggung sekali dengan pecahan BoBoiBoy yang satu ini. Hal ini dibuktikan dengan tidak ada percakapan diantara mereka. Tiba-tiba sebuah hologram muncul di jam tangan kekuatan milik Halilintar. Ternyata BoBoiBoy Gempa.
"Assalamualaikum, Gempa. Atok dah siuman ke?" tanya Halilintar. Gopal ikut-ikut mendekat di sebelahnya.
Gempa menggeleng. "Wa'alaikumsalam, Halilintar. Belum. Atok belum siuman," katanya lesu. "Tapi aku punya khabar penting. Semalam Ayah dan Mak telefon aku dan Abang Ray."
"Huh? Apa yang Ayah dan Mak bincangkan dekat kau?"
"Err- Ayah ditelefon seseorang yang ternyata berhubungan dengan pasal diculiknya Ice. Ayah bingung sebab aku pon ada kat hospital sementara Ice ada bersama musuh, pada pun Mak dan Ayah dah tahu kalau BoBoiBoy memang punya Kuasa Elemental. Mungkin Ayah dan Mak lupa dengan benda tu, jadi aku bagi tahu ulang kat Ayah dan Mak kalau aku memang boleh pecah lima dan punya kuasa superhero. Lepas tu, Abang Ray bagi tahu aku pasal maklumat dari sebuah badan yang punya relasi dengan Rosaline. Nampaknya badan itu pula yang tahan Ice dekat Markas diorang."
"Badan apa tu, BoBoiBoy?" tanya Gopal heran, atau lebih tepatnya tidak mengerti.
"Nama badan tu Organisasi," balas Gempa. "Abang Ray dah terangkan semua yang Ayah dan Mak bagi tahu ke dia pasal Organisasi tu. Dan-"
Kalimatnya terpotong begitu beberapa murid kelas 7 Cerdas masuk ke kelas.
"Cikgu mari!" seru salah satu siswa bernama Amar Deep. Halilintar tersentak dan menoleh ke arah Gempa di hologram-nya.
"Nanti selepas pulang sekolah aku akan datang ke hospital," Katanya. "Disana kau boleh terangkan semua maklumat pasal Organisasi tu. Cikgu dah datang. Aku kena belajar sekarang."
"Oh, okey. Selamat belajar, Halilintar. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Pelajaran kali ini adalah Kimia. Dan tentu saja sang guru multi-bidang: Papa Zola yang mengajar mereka. Tiba-tiba ia menghantam meja di depannya.
"Sebelum pelajaran dimulai, Cikgu nak bagi tahu pasal hasil peperiksaan Matematik dua hari lepas dari seseorang diantara kalian," katanya sembari senyam-senyum misterius.
"Haiya, Cikgu Papa. Sekarang pelajaran Kimia wo," kata Ying. "Apasal Cikgu mahu bagi hasil Peperiksaan Matematik?"
Papa Zola tertawa. "Hahaha! Tiga pelajaran maka Cikgu yang ajar semua," katanya. "Dan markah yang tertinggi di peperiksaan Matematik semalam ialah-"
(Suara Drum ditabuh pun diputar)
"BOBOIBOY! DAPAT MARKAH SEMBILAN PULUH!"
"HAH!?"
Halilintar mematung di tempat. Dia ingat dengan hasil ulangan Matematikanya yang dulu diberikan oleh Rosaline yang saat itu masih menyamar menjadi guru. Sangat buruk. Namun kali ini Papa Zola mengatakan sebaliknya.
"Eh? Bukannya markah aku nol besar semasa peperiksaan tu, Cikgu?" tanyanya bingung. Sekonyong-konyong Papa Zola berdiri di depan mejanya seraya menatap Halilintar lamat lalu menunjuk wajahnya sendiri.
"Awak nampak muka saya ni?"
"Ehh– Ha'ah?"
"Ada ke muka saya ni kat depan Awak ke macam mana?"
"I– Iya, Cikgu."
"Maka dari tu- AWAK DAH SEMESTINYA PERCAYA PADA KEBENARAN!" pekik Papa Zola dengan nada tinggi seraya mengacungkan kertas hasil ulangan Matematika itu di depan wajah Halilintar. "Cikgu jumpa kertas-kertas peperiksaan Matematik ni dekat ruangan bekas Cikgu Rosa yang merimaskan tu. Semua markah korang bagus! Cikgu dah periksa semuanya! Terutama kamu, BoBoiBoy! Kamu Anak murid Cikgu yang terbaik! Selamat, wahai anak muda!"
"Waaaahhhh! Kalau markah aku berapa, Cikgu?" tanya Gopal berbinar-binar.
"Hmm– markah kau? Gopal, kau dapat TUJUH PULUH SEMBILAN!"
"YEAAAAHHHHH!" Gopal menjerit bahagia. Walaupun mendapatkan nilai ujian yang lebih rendah dari nilai BoBoiBoy, tapi setidaknya nilai itu lebih baik dari ujian sebelumnya. Dia hanya menjawab segelintir soal, tapi dia mampu mengumpulkan nilai sebanyak itu. Akhirnya ia bisa lolos dari sambetan rotan Ayahnya untuk kali ini. Fang tersentak mendengar itu.
"Ah, ya. Cikgu Papa, markah Peperiksaan aku berapa?" tanyanya seraya mengangkat tangan.
"Markah Fang, he? Hahaha- markah kau bagus pula. Tapi tak sebagus BoBoiBoy. Kau dapat markah DELAPAN PULUH SEMBILAN!"
"Ciz, nyaris kau, BoBoiBoy!" dengusnya seraya menatap Halilintar yang segera membalas dengan seringai kecil. Tiba-tiba ia teringat dengan sebab apa Rosaline memberi nilai buruk pada BoBoiBoy, membuatnya menyimpulkan bahwa wanita itu hanya ingin melihat reaksi BoBoiBoy yang berubah menjadi BoBoiBoy Blaze. Namun setelah itu, dia tidak ingat apapun lagi.
"Hmph! Predator jahat bersiri." Fang mendesis kesal begitu mengingat Rosaline selama ini. Tiba-tiba dilihatnya Yaya dan Ying mengacungkan tangan mereka.
"Kalau markah saya macam mana, Cikgu?" tanya mereka bersamaan.
Papa Zola terkekeh. "Oh, Markah korang ye?" tanyanya. "Yaya dan Ying- markah kalian sama dengan markah BoBoiBoy: SEMBILAN PULUH!"
"Hiiisshhh! Jaga kau, BoBoiBoy!" desis kedua gadis itu pada Halilintar. Halilintar sendiri cengar-cengir melihat itu. Tiba-tiba ia terkejut begitu Papa Zola melabrak mejanya.
"Kejaaappp! Kenapa kamu guna mode Halilintar dekat sekolah, wahai BoBoiBoy anak didikku?" tanyanya heran begitu menyadari sosok Halilintar.
"Dia dah berpecah lima, Cikgu," kata Gopal, membuat Papa Zola tercengang.
"Apaaa!? Lalu kenapa kamu tak cantum semula?"
"Satu pecahan dia kena culik musuh, Cikgu," timpal Yaya. "Kami punya rancangan buat cari pecahan dia yang dah kena culik tu dekat Pulau Apung hari Sabtu dan Ahad ni. Lepas tu, kami akan cuba selamatkan dia."
"Ohh- kenapa tak cakap awal-awal, wahai anak muda?" Papa Zola mengelus dagunya sendiri. Tiba-tiba ia berteriak keras-keras. "KALAU MACAM TU, SEBAGAI HADIAH KERANA MARKAH KALIAN YANG BAGUS-BAGUS, KALIAN AKAN CIKGU AJAK BERWISATA KE PULAU APUNG HARI SABTU DAN AHAD NANTI!"
"HOREEEEEEEEEE! Terima kasih, Cikgu!"
"Eh, kejap Cikgu!" Kata Mila. "Jangan-jangan Pulau tu dah takde di tempatnya semula. Macam mana kita nak pergi kat sana?"
"Kita cari lah," ujar Fang seraya mendesah panjang. "Wajar dia boleh pindah. Nama pun Pulau Apung."
"Tapi Cikgu, bahaya kalau kita pergi wisata kat pulau tu!" kata Gopal agak takut." Macam mana kalau ada musuh yang nak tangkap kitorang?"
"Hahahaha- kalau macam tu, kita akan hadapi mereka!" kata Papa Zola dengan semangat tinggi. Spontan beberapa murid merinding karena mereka tidak terbiasa melawan makhluk asing seperti BoBoiBoy dan kawan-kawannya.
"Ye lah tu," dengus Fang. Tiba-tiba ia melihat Mila merinding di sebelahnya, membuatnya khawatir.
"Ei, Mila. Kenapa kau?" tanyanya heran. Mila menoleh ke arah pemuda berambut ungu landak itu dengan wajah muram.
"S- Sori, Fang. Tapi aku macam rasa Bunda akan datang kat Pulau ni sebentar lagi."
"Hah?! Rosaline nak pegi ke Pulau Rintis sebentar lagi? Lagi tepatnya dimana?"
"Aku tak tahu," ujar Mila lesu. "Tapi aku ada firasat dia akan ambil salah satu pecahan BoBoiBoy lagi."
"Apa!? Huhuhuu- jangan cakap macam tu, Mila," kata Gopal ketakutan. Halilintar segera pasang siaga begitu mendengar kekhawatiran Mila itu.
'Apapun yang terjadi, Kita kena usahakan buat tetap lengkap hingga hari sabtu dan Ahad nanti,' batinnya mantap. Namun optimisme itu terganggu dengan Mila yang tiba-tiba merinding hebat dan tahu-tahu sudah memandang Iwan di sebelahnya. Iwan sendiri merasa kaget dan kebingungan melihat tatapan takut dari Mila itu.
"Ei? Apasal kau ketakutan macam tu?" tanya Gopal heran." Sampai kau tengok Iwan dan buat dia kebingungan pulak."
Mila merinding. Firasat buruk itu kini menghantui pikirannya dan menghancurkan konsentrasinya untuk memahami apa yang Papa Zola sedang ajarkan di depan kelas saat itu. Ia menelan ludah beberapa kali. Diliriknya Halilintar yang sepertinya merasakan hal yang sama.
"Mila," bisik sang pengendali petir. "Kau rasa ada yang tak beres ke? Aku boleh rasakan sesuatu yang teruk menimpa Ice."
Mila mengangguk. "Aku pun rasa sama macam kau," katanya ketakutan." Nampaknya Bunda aku dah mulai buat perkara."
"Perkara apa?" tanya Fang tidak mengerti. Mila menggeser kursinya dan berbisik di sebelah anak itu. Serta merta kedua mata merah dibalik kacamata bocah itu terbelalak Horor.
"Oi, Mila! Ka– Kau... Kau mesti bergurau, Kan!?"
Keadaan di sekelilingnya gelap gulita. Sepertinya ia sudah mendapat setengah kesadarannya. Ice mengerang. Matanya masih terasa berat sekali untuk dibuka. Samar-samar dilihatnya ruangan dimana ia berada. Sepertinya dia dibius total karena sekuat apapun ia berusaha mendapatkan seluruh kesadarannya kembali, tetap saja tubuhnya tidak bisa berkutik. Tangan dan kakinya masih diborgol. Tapi bukan borgol listrik, melainkan borgol logam biasa berukuran besar. Sayangnya kondisi tubuhnya yang sangat lemah akibat bius total membuatnya mustahil untuk melepaskan diri.
Saat itulah Ice baru menyadari kalau Rosaline ternyata sudah duduk di kursi di sampingnya. Ia menyeringai serigala ke arah anak itu.
"Aku dah tak sabar buat ambik kuasa ais kau, ehehe-" desisnya sadis. Walaupun wajah datar Ice tidak berubah sepenuhnya, namun dari kedua matanya yang bewarna Aqua itu terlihat aura ketakutan yang begitu besar.
"Ja... Jangan..." desisnya lemah. "Kuperingatkan kau... Jangan buat perkara-"
Seketika itu juga tangan Rosaline mencengkeram bahu Ice, membuat anak itu semakin panik. Tapi tubuhnya terasa sakit dan semakin lemah. Oh, dia hampir lupa kalau wanita jahat yang menjamah dan mulai mencengkeram bahunya secara paksa itu adalah makhluk alien yang bisa mengambil energi mangsanya.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!"
Ice menjerit kuat-kuat. Seluruh tubuhnya merinding hebat. Namun Rosaline tidak peduli dan semakin mencengkeram bahu Ice kuat-kuat.
"A– Aku... Aku mohon... berhenti..." bisiknya seraya berusaha menghindari tangan Rosaline agar tidak mencengkeram bahunya. Namun wanita itu hanya tertawa.
"Berhenti, Hmm? Kau gurau je. Alasan aku ambil kau duluan dibandingkan yang lain sebab tipe kau yang tenang dan jarang berontak. Tapi tak payah buat risau, Ice. Bukan kau je yang akan dapatkan ni. Kawan-kawan kau pula yang kan rasakan akibatnya. Seronok, bukan?"
"Urrhh- Sudah cukup kau buat benda teruk ni dekat aku..." gumam Ice berang. "Kau tak... tak boleh... apa-apakan kawan-kawan aku!"
Ia berusaha tenang. Senjata utamanya adalah ketenangan. Namun hasilnya hanya kantuk yang menyerang. Oh, jangan. Dia tidak boleh hilang kesadaran. Kalau itu terjadi, maka Rosaline akan semakin senang melihatnya tidak sadarkan diri. Yah, hobi Ice memang beristirahat dan tidur. Namun untuk kali ini, dia benar-benar tidak ingin tertidur.
Satu alasan utama mengapa Ice takut kalau dia tertidur sekarang, kemungkinan besar dia tidak akan pernah bangun lagi.
Oh, Hentikan rasa pesimis itu! Tapi apa yang harus dia lakukan?
Matanya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Ice merasa pandangannya mulai dilingkupi kegelapan. Namun sebelum kedua matanya tertutup, samar-samar dilihatnya sebuah sosok yang berdiri di pintu. Sosok itu tampak kaget.
"BoBoiBoy!?"
'Eh?'
Sosok itu tahu namanya. Tapi bagaimana? Ice sendiri tidak mengenal sosok itu.
Apakah ini keberuntungan atau bencana? Ice benar-benar berharap sosok yang sepertinya mengenal dirinya itu akan segera menyelamatkannya. Tidak peduli siapapun itu. Yang jelas dia benar-benar butuh bantuan darurat sekarang. Dengan sisa kesadarannya yang masih ada, ia mulai membatin dengan panik.
'Siapapun yang ada kat pintu tu, Aku mohon– TOLONG AKU!'
Bersambung...
*Terinspirasi dari Scene Spongebob :v
Silahkan Direview kalau berminat, Okey? ;)
Ice: Author... KAU BUAT AKU DISIKSA SAMA ROSALINE TU?!
Hehehe ...
Iye; "Hmm ... surat aku sudah musnah semua. Terpaksa aku harus serang kau, Author! TEMBAKAN PEMBEKU!
AAAAAAAAHHHHH! Sori, Ice, Sori. Jangan ... Haaaaaaaa!
Gempa: Karena Author sedang dihajar Ice, saya yang akan menutup chapter ini. Nah, korang pasti bingung dengan Organisasi tu, Kan? Kan?:) Aku pun bingung (?) ya dah. Tunggu kami di chapter selanjutnya!^_^
Tetap setia dengan kelanjutannya, ya. Love you All, Dear Readers^/^
