Hai readers sekalian. Jumpa lagi dengan saya, Author greget di FF Boboiboy perdana saya ini, hehehe ... untuk kali ini, masalah akan semakin ruwet, jadi readers perlu sedikit fokus, ok? Dan Note: Kegajean akut, rated T+, dll.
Bagaimana persiapan para pecahan Boboiboy dan kawan-kawan untuk pergi ke Pulau Apung? Temukan jawabannya di bagian ini.
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'The Chaotic of Elemental Split'
(Sebuah kisah fiksi)
Season 2
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 13: Nama Samaran
"Probe, bagi Skru."
"Okey."
"Mur."
"Okey."
"Pisang."
"Okey. Eh, kejap. Kenapa Pisang pun jadi, Encik Bos?"
"Nak makan lah. Lapar betul sedari tadi."
"Haeh– Encik Bos ni. Keje dah selesai ke?"
BLETAK!
Dan sang robot 'tudung saji' bewarna ungu alias Probe itu kini berada dalam posisi terbalik akibat terkena lemparan gelas kesayangan dari atasannya itu.
"Aduuuhhh... Encik Bos, apa salah aku? Huhuhuuu–"
Adu Du mendengus. "Kau ni merepek terus!" tukasnya kesal. "Aku nak buat senjata bernas buat kalahkan Organisasi tu lah! Tapi nampaknya kita masih butuh masa lama untuk rampungkan benda ni."
"Lha– daripada mengeluh macam tu, kenapa Encik Bos tak order senjata kat Bago Go je?" usul Probe.
"Oi, kau ni! Harta benda aku akan dia kuras habis tau! Sampai berjuta-juta pun harga dia bagi dekat kita. Penipu betul!"
"Lahh– setidaknya kita cuba dahulu hubungi Bago Go."
"Haehh– Ye lah, Ye lah. Komputer, hubungkan aku dengan Bago Go sekarang."
"Baik, Bos."
Tak lama kemudian, wajah Bago Go muncul di layar komputer. Ia memekik senang.
"Halo, Abang! Dah lama kita tak jumpa, hehehe. Abang sehat? Nak belanja apa, bang? Tengah basuh store ni, Bang," katanya gembira. Adu Du mendengus kesal melihat tingkah bodoh milyader yang merangkap sebagai penipu ulung itu.
"Ei, sudah! Basuh gudang ke basuh kereta ke, aku tak de urusan! Aku nak beli senjata buat kalahkan Organisasi."
Bago Go tersentak. "APA!?ORGANISASI?! Aduhh, bang. Diorang tu susah sangat dikalahkan lah, bang. Tapi tenang, bang. Saya ada beberapa benda yang mungkin pas buat Abang."
"Benda apa, Encik? Benda Apa?" tanya Probe tiba-tiba.
"Ohoho, Tentu senjata yang boleh pas buat serang Organisasi tu, Abang Robe," kata Bago Go senang. "Ini dia RUDAL NUKLIR PLASMA ANGKASA! Hehe– Dan harganya tak mahal, bang. Cuma SEMBILAN PULUH JUTA SEMBILAN PULUH SEN je, bang!"
"APA!? Mahalnya!" desis Adu Du kaget. "Kau gurau ke?"
"Aduhh, Bang. Saya belum selesai cakap lah. Mumpung Abang order semasa saya tengah basuh gudang. Maka dari tu Abang dapat diskaun sehinggaaa- DUA PERSEN! Haaa, beli, Bang. Beli-"
"Hiihh! Duit aku tak cukup lah! Mubazir betul! Dah lah. Baik aku buat sendiri senjata tu."
Bago Go terperangah. "Eh, Kejap, bang. Kita belum selesai negosias–"
PIP!
Layar itu segera dimatikan oleh Adu Du yang masih saja mendengus marah.
"Ei? Kenapa Encik Bos putuskan nego dengan Encik Bago Go?" tanya Probe heran.
"Hish, kau tak tengok dia nak peras dompet aku tadi? Lagi baik kalau aku buat sendiri senjata tu," jawab Adu Du kesal seraya kembali mengerjakan rakitan senjatanya.
"Eh, tapi Bos, Kemungkinan besar BoBoiBoy dan kawan-kawan dia akan pergi esok," kata Komputer tiba-tiba, membuat Adu Du kaget.
"Apa!? Esok cuti ke?"
"Nampaknya dekat kalendar tertulis esok ialah hari cuti nasional."
Adu Du mengelus dagunya sendiri. "Macam tu ke?" desisnya. "Komputer, hubungkan sinyal aku dan sinyal BoBoiBoy kat Hospital. Aku akan nego kat dia dahulu pasal senjata aku dan bila aku akan bantu diorang buat kalahkan Organisasi."
Suasana malam di Kota London tampak begitu indah. Jam besar Big Ben terdengar berdentang, menunjukkan pukul dua belas malam. Suasana di gedung Kedutaan Inggris tampak ramai. Rupanya para Duta yang diundang dalam sebuah seminar Internasional disana baru saja menyelesaikan acara mereka. Sang Duta dan Istrinya yang baru saja keluar dari gedung itu terlihat bercakap-cakap sebentar dengan beberapa kenalan mereka sebelum akhirnya mereka berjalan kaki pulang ke Hotel tempat mereka menginap. Hotel itu terletak tak jauh dari Big Ben. Di jalan, Sang istri mendesah panjang. Ia menatap Suaminya lamat.
"Abang, aku masih tak percaya dengan BoBoiBoy yang boleh pecah lima tu," desahnya. "Menurut Abang macam mana?"
Suaminya merenung. "Abang pun awalnya tak percaya," katanya. "Tapi selepas dengar suara BoBoiBoy ada kat dua tempat tu, rasanya memang benar adanya. Boleh jadi kita yang terlupa juga, sebab boleh sahaja BoBoiBoy dah pernah bagi tahu kita pasal kuasa elemental dia, tapi kita lupa balik. Mungkin Bapak boleh terangkan pasal ni kalau kita jumpa beliau masa dah balik nanti."
"Haahh... dah lah, Abang. Jangan diambil pusing sangat. Dan– Eh?"
Ia tersentak begitu si lelaki tidak melanjutkan langkahnya.
"Eh? Abang? Kenapa berhenti?" tanyanya heran.
Suaminya tidak menjawab. Sekitar lima menit ia mematung disitu. Tahu-tahu ia mendelik ke atas sebuah gedung dan mendesis.
"Korang berdua... Aku tahu korang berdua ada kat atas tu."
Dia benar. Ada dua sosok pemuda di atas gedung itu yang ternyata sudah memata-matainya sedari tadi. Salah satu dari mereka berbadan sedikit kekar dengan sebuah Sniper di tangannya. Ia mendecih kesal pada rekannya.
"Ciz, dia dah tahu tempat sembunyi kita ni," tukasnya. "Padahal aku dah nak tembak dia tadi."
Rekannya menghela nafas. "Huh, tu lah! Bertindak lama betul," desisnya. "Tengok, Kita dah ketahuan wo!"
"Habis tu, apa kita kena buat?"
"Haiya, kita tak de pilihan lain hoo. Kita serang mereka sekarang juga!"
"Okey."
Keduanya melompat dari gedung itu dan mendarat tak jauh di hadapan Sang Duta dan Istrinya. Sinar dari lampu jalan menerangi tempat kejadian. Sang Duta segera berdiri di depan istrinya untuk melindunginya. Ia menatap nanar ke arah dua sosok pemuda yang baru saja mendarat dari atas gedung itu.
"Hmm– boleh juga, anak muda," desisnya kecut. "Korang berdua ni memang hebat. Masih kecik pun dah boleh jadi Pembunuh massal macam ni."
Istrinya memegang pundaknya dengan wajah tegang. "Abang... mereka tu–"
"Ya, dik. Kau betul," jawab Suaminya seraya menatap dua pemuda itu. "Mereka ialah bawahan kepada Organisasi: Lampion dan Pandai Besi. Padahal mereka ni masih budak Sekolah Menengah. Tapi mereka ni bukanlah budak-budak biasa. Kita kena waspada."
Si pemuda kekar menaruh Sniper-nya di atas pundak. "Dey Pakcik, kitorang ni memang bukan budak biasa," katanya sombong. "Kitorang ni Budak luar biasa, Hehehe... betul tak?" gumamnya seraya menoleh ke rekannya yang berwajah Oriental di sebelahnya. Rekannya menghela nafas panjang lalu menatap dua target di depannya.
"Kami datang kesini sebab kami mahu minta sesuatu," katanya dengan senyum manis yang lebih mendekati kesan memuakkan.
Istri sang Duta tampak mengidik. "Apa korang nak?" tanyanya tegang. "Kalau korang nak duit, jangan harap! Kami tak bawa duit satu pun saat ini."
"Alahh, Makcik. Kitorang belum selesai berbincang lah," keluh si pemuda kekar. "Kitorang ni tak nak duit. Kitorang sebenarnya mahukan–"
"–Makcik dan Pakcik terhapuskan, fufufu..." lanjut si wajah Oriental. Ia menyeringai seraya mengeluarkan sebilah Pedang Samurai dari balik jasnya dan memasang kuda-kuda. Diliriknya rekan bertubuh kekar di sebelahnya. "Lu sedia?"
Rekannya yang bertubuh kekar mengganti Sniper-nya dengan sebuah Senapan Mesin. "Sedia," ucapnya sinis lalu mengarahkannya pada Sang Duta dan Istrinya. "Kita hapuskan nama-nama kat Death List macam ni. Suka betul lah, Hahahaha– AMBIK NI!"
TRAAA TATATAAA- TRAAAA- TAATAATAAAAA!
Ditariknya tuas Senapan mesin itu dan memuntahkan puluham peluru darinya, menerjang ke arah Sang Duta dan Istrinya. Istrinya memekik. Sang Duta segera memeluknya dan melompat ke sebuah gang di sebelahnya.
"ELAK!" teriaknya seraya menolak tumpuan kakinya dan membawa Istrinya ke gang itu. Keduanya berlari, namun si wajah Oriental yang bersenjatakan pedang samurai dengan nama kode Lampion tahu-tahu sudah menghadang mereka sebelum mereka berhasil mencapai ujung gang itu.
"Anda berdua ingat boleh lari dari kami?" tanyanya polos seraya menghunus pedang samurai-nya. "Jangan lah lari dari kenyataan, Pakcik. Kami cuma mahukan Pakcik dan Makcik terhapuskan je. Tak bagus menyakiti hati budak-budak kecik macam kami ni."
Si Lelaki memandangnya dengan tegang. Tiba-tiba Istrinya mencengkeram bahunya dengan cemas. Si pemuda kekar yang menggunakan Senapan mesin dengan nama kode Pandai Besi telah berdiri di belakang mereka, membuat mereka terkepung oleh dua pemuda berusia sekolah menengah namun memiliki watak mengerikan itu.
"Abang, kita dah terkepung," katanya takut-takut. "Macam mana ni? Kalau kita mati kat sini, habislah. Kita belum cakap perpisahan dekat Bapak dan BoBoiBoy pula."
"Tenang, dik. Abang akan usahakan agar kita takkan mati disini, Insha Allah," ujar Suaminya seraya merogoh saku setelan jasnya. Detik berikutnya sebuah Pistol berada di genggamannya. Diacungkannya Pistol itu pada si 'Lampion'.
"Oh, Bila masa Pakcik punya Pistol tu?" tanyanya. "Hebatnya Duta masa kini. Dah punya senjata pribadi."
Si Duta mendengus. "Tak kan kubiarkan korang hapuskan kami," tukasnya dingin seraya memeluk Istrinya erat. "Korang ni seharus pun belajar kat Sekolah, bukannya keje jadi Pembunuh! Umur korang terlampau kecik buat benda teruk macam tu. Rasakan ini!"
DORR!- DORR- ! DORR!
Ditariknya pelatuk di Pistolnya, menembakkan beberapa Peluru non-lethal ke arah sang Lampion. Anak muda itu menghindar dengan gesit. Sebuah Peluru hendak menyerempet rambutnya. Namun ia segera menangkis benda kecil itu dengan Pedangnya. Terdengar suara dentingan begitu Peluru itu menabrak bilah Pedang samurai miliknya itu. Ia mengangkat kepalanya. Si Duta dan Istrinya sudah tidak ada disitu.
"Ish!" Desisnya kesal lalu memandang si Pandai Besi dengan tatapan marah. "Kenapa lu tak bantu saya cegat mereka tadi wo Mereka dah kabur!"
Pemuda berkode Pandai Besi di depannya itu menjawab. "Aku malas je. Pakcik tu ternyata punya senjata pulak. Itu diluar dugaan, jadi mesti tak senang buat hapuskan dia dan bini dia."
"Huh! Ini kali pertama kita gagal menghapuskan target wo," dengus si Lampion kesal. "Ternyata mereka memang dah waspada dahulu, bukan macam pegawai pemerintahan yang dah kita hapuskan sebelum ini. Lagipun mereka tu ialah Ayah dan Mak kepada BoBoiBoy, jadi rasanya canggung pula. Dah lah. Ini dah larut malam. Kak Ming dan Tuan Ketua mesti dah cemaskan kita. Jom kita pergi meh."
Lawan bicaranya mengeluh. "Halahh... aku masih nak nikmati bandar London ni. Jarang betul kita ada kat sini. Boleh la-"
"Ei, lu tak tengok ijin cuti kat Sekolah kita dah nak habis? Esok kita dah masuk Sekolah, tahu tak?"
"Haeehh... ye lah, ye lah. Kau ni keras kepala sangat lah, Ah Meng. Nasib baik kau bawa pedang je. Aku ni banyak bawaan macam Sniper dan Senapan Mesin. Tak adil lah!"
"Oi, apa lu punya merepek ni? Helikopter kita dah sampai ma," tukas pemuda yang bernama Ah Meng itu. "Lu nak saya tinggal ke ho?"
"Ehehe, tak nak lah."
"Sudah! Banyak alasan lu ni. Jom kita pergi ke Markas segera."
Keduanya menaiki Helikopter yang entah sejak kapan berada disitu dan terbang melintasi Kota London. Sang Duta yang baru saja masuk ke kamar tidurnya di Hotel mematung begitu melihat Helikopter itu dari jendela kamar.
"Budak-budak pelik," desisnya getir.
Karena mereka kini hanya bertiga, Gempa akhirnya menyuruh Taufan untuk menggantikan Halilintar–yang menurut mereka nasibnya belum diketahui–untuk belajar di sekolah. Dan sebagai gantinya, Blaze yang menjaga Ochobot di kedai sekaligus sang robot bola yang menjadi pengawasnya dengan bersenjatakan beberapa ember air. Berjaga-jaga katanya. Siapa tahu sang pengendali api akan membakar sesuatu di taman seperti hal-nya kemarin. Setidaknya dengan cara seperti itu mereka akan saling menjaga kalau nanti terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Hai kawan-kawan!" Sapa Taufan riang saat ia tiba di ruang kelas 7 cerdas. Tampak Yaya, Ying dan Gopal disana.
"Hai, BoBoiBoy!" balas Gopal senang." Kau–"
Ia tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat Taufan yang berdiri –atau lebih tepatnya terbang–di ambang pintu kelas di atas Hoverboard-nya. Yaya lalu mendekatinya dengan kaget.
"Eh? Kenapa kau guna Hoverboard kau kat kelas, BoBoiBoy?" tanyanya heran.
Taufan menyeringai. "Hehe, aku guna Hoverboard ni buat pergi kat sekolah la," katanya riang. "Aku bukan Halilintar yang boleh gunakan kaki dia buat lari secepat kilat pergi Sekolah. Aku pon tak nak lamban-lamban pula buat lewati lorong Pak Senin Koboi."
Ying mengerutkan kening. "Aik? Lorong Pak Senin Koboi?" tanyanya." Bukannye Kucing sewel kat sana tu dah jinak wo? Kenapa kau pakai Hoverboard kau pula? Jalan kaki pun boleh ma."
"Tak nak lah! Biar pun tu Kucing sewel dah jinak, tapi tetap pun berbahaya lewati lorong tu lamban-lamban," balas Taufan cengengesan.
"Ha? Memangnya kenapa?"
"Ehehe– Pak Senin Koboi dah pelihara Anjing Doberman kat sana. Dia kejar aku tadi. Tahu kan kalau aku tu takut sangat pada haiwan ganas tu?"
Teman-temannya terperangah begitu mendengar kalimatnya.
"APA!? ANJING DOBERMAN KAU KATA!?"
"Hayoyo– dahulu Kucing sewel. Sekarang Anjing Doberman pulak," keluh Gopal. "Jalan tu macam nampak makin seram je, Huhuhuu..."
Yaya menghela nafas panjang. "Yang penting dia dah boleh pergi kat Sekolah macam ni. Kan, BoBoiBoy?" tanyanya pada BoBoiBoy maniputor angin di ambang pintu. Taufan tersenyum dan turun dari Hoverboard-nya, mengapitnya di ketiak seraya berjalan masuk ke kelas.
"Aku masih bingung dengan apa yang berlaku dekat Halilintar," katanya seraya menaruh Tas dan bokongnya di atas kursinya. "Aku, Blaze, dan Gempa rasakan firasat pelik semalam tu, macam Halilintar kena sesuatu yang buruk."
"Ayak! Jangan-jangan BoBoiBoy Halilintar dah kena tangkap Rosaline wo!?" pekik Ying kaget.
"Hah!? Iya ke?" tanya Yaya cemas. "Tapi gerakan dia kan laju sangat. Paling-paling dia yang setrum perempuan itu guna listrik tegangan sekian ribu volt."
"Dey, kau tak tengok kuasa utama Alien makhluk kelelawar tu? Sedut energi orang lah," kata Gopal lesu. "BoBoiBoy Halilintar tu macam generator kat pembangkit tenaga listrik. Jadi buat Rosaline dia mestinya berguna sangat."
"Humm–" desah Yaya khawatir. "Semoga sahaja dia tak kena–"
Tiba-tiba jam kekuatannya berbunyi dan muncul hologram Blaze darinya.
"Eh? Ada apa, BoBoiBoy?" tanya gadis berhijab itu. Blaze menyeringai kekanakan seraya bertepuk tangan.
"Hei, Kawan-kawan! Korang tahu tak? Esok tu ternyata hari cuti nasional!" pekiknya riang. "Tanggal merah! Maknanya–"
"–KITA BOLEH PERGI KE PULAU APUNG ESOK!" seru Ochobot yang berada di sampingnya dengan riang gembira. "Mujur sangat lah kita ni."
"Ha? Esok cuti!?" tanya Taufan, Yaya, Gopal dan Ying bersamaan.
"Iye. Tiga hari pun cukup. Kan? Kan?" ucap Blaze gembira. "Akhirnya kita akan wisata dekat pulau tu! HOREEEE!"
"Haiya, lu tak ingat kah rancangan kita buat esok tu bukan cuma buat wisata?" tanya Ying kesal. "Kita nak sekalian selamatkan BoBoiBoy Ice dan BoBoiBoy Halilintar ma. Tambah kita kena bantu Adu Du buat hentikan musuh baru kita: Organisasi."
"Kau dah bagi tahu pasal ni dekat Abang Ray dan BoBoiBoy Gempa ke?" tanya Gopal.
Blaze mengangguk. "Yup! Lepas ni kita pergi kat Hospital. Gempa cakap Tok Aba dah baikan pula. Kita kena siap-siap buat hari esok. Seronoknya!"
"Alhamdulillah. Rezeki baik tak kan pergi kemana," tukas Yaya lega. "Okey, BoBoiBoy. Terima kasih sebab dah bagi tahu kitorang pasal ni. Jumpa lagi."
"Baik! Jumpa lagi, Yaya."
Yaya mendesah pelan seraya mematikan Hologram Blaze. Tiba-tiba ia menoleh ke arah pintu, atau lebih tepatnya ke arah Fang yang ternyata baru datang ke kelas.
"Eh, kawan-kawan. Ada sesuatu hal yang penting!" Katanya seraya menaruh tas-nya di bawah kursi dan mengeluarkan sebuah Koran darinya. "Semalam aku jumpa koran ni dekat pintu gerbang rumah aku. Cuba korang tengok khabar Headline dia."
Fang menunjuk berita utama di Koran itu sementara teman-temannya memandang berita utama itu lamat. Disana tertulis sebuah judul dengan huruf kapital. Tulisan itu adalah:
BEBERAPA ANGGOTA DARI BADAN PEMERINTAHAN DI BEBERAPA NEGARA MENINGGAL SECARA TIBA-TIBA. KEMUNGKINAN BESAR KERANA DIHAPUSKAN PIHAK-PIHAK SEBALIK LAYAR.
"Ai'? Penghapusan beberapa anggota Pemerintahan?" tanya Gopal heran. "Dekat beberapa Negara pulak. Ini mesti kerjaan dari sebuah badan kejahatan Internasional!"
"He? Apasal kau boleh tahu pasal tu?" Fang balas bertanya.
Gopal cengar-cengir. "Hehehe... aku tebak je lah. Kat novel Detektif dan Konspirasi kan banyak kisah macam tu."
GUBRAK!
"Hish, kau ni," dengus Yaya seraya bangun dari lantai akibat pasrah dengan teman gembulnya yang penggila cerita Detektif dan Suspense itu. "Tebak pun bukannya pasti. Kita kena selidik secara cermat dan tepat kalau nak siasat benda pelik macam ni."
"Bukan cuma Pejabat-pejabat dekat Planet Bumi sahaja yang tertimpa musibah ni, tapi beberapa pejabat-pejabat Planet kat Galaxy lain pun ada yang terhapuskan secara tiba-tiba," tambah Fang sambil mengeluarkan sebuah koran lain yang bertuliskan bahasa 'Alien' dari dalam tasnya. Diterjemahkannya tulisan di koran Alien itu, membuat teman-temannya merinding.
"Uhh, seramnya... sampai penghuni Planet lain pun kena target," gumam Mila cemas. Fang menatapnya dan teman-temannya dengan pandangan simpatik sebelum akhirnya ia beralih kembali pada koran bumi yang dibawa tadi.
"Ada satu lagi yang pelik daripada berita ni," katanya lagi. "Tengok tulisan kat bahagian bawah. Korang tak rasa pelik ke?"
Jari telunjuknya menuding ke arah sebuah tulisan yang posisinya terletak paling bawah dari berita utama di koran luar angkasa. Fang menerjemahkannya, yaitu:
'Persatuan Galaxy membuat sebuah hipotesis bahwa tersangka dari beberapa Kes penghapusan itu adalah para kaki tangan kepada ONION.'
Mereka melihat ke Koran Bumi. Disana pun terdapat kalimat yang sama.
"Aik? ONION?" Ying tercengang. "Bukannya itu bahasa inggeris daripada bawang merah wo?"
"Iye. Tak logic sangat. Ada ke Bawang merah yang boleh hapuskan orang?" tanya Yaya. "Paling-paling buat menangis je. Kalau tak, mungkin bawang tu boleh jadi bahan Biskut aku."
Teman-temannya segera menjatuhkan diri begitu mendengar kalimat bodoh dari gadis berkerudung pink itu.
"Jangan-jangan itu raksasa bawang yang dahulu serang sekolah rendah kita!" pekik Gopal histeris.
"Ha? Mungkin juga," desis Fang. "Tapi mengikut maklumat berita ni, kebanyakan korban tu meninggal sebab kena belasah dengan benda tajam dan peluru. Boleh ke raksasa bawang buat benda macam tu?"
"Jadi ada kemungkinan nama ONION ni ialah nama samaran dari sebuah badan Penjenayah antar Galaxy kah?" tebak Taufan seraya mengelus dagunya. "Jadi ingat pasal Gempa yang bagi tahu kitorang tentang rancangan Death List milik Organisasi dari Ayah dan Mak aku semalam. Eh? Kejap! Apakah–"
Ia menyadari apa yang diucapkannya tadi dan memandang teman-temannya yang dengan segera mengerti maksud dari kalimat Taufan itu.
"Korang sedar ke? " tanyanya muram, membuat teman-temannya menelan ludah dengan wajah ketakutan. "Jangan-jangan ONION tu–"
"Apa!?" Desis Fang kaget. "Jadi maksud engkau ONION–"
Taufan mengangguk. "Iye. Macam kecurigaan Gempa semalam. Dia kata Organisasi tu pakai nama samaran buat kelabui dunia publik. Dan kemungkinan besar itulah nama samaran mereka–"
Kringggg!
Bunyi bel masuk memotong ucapan Taufan. Ia menoleh ke arah teman-temannya.
"Nanti selepas sekolah kita sambung pembahasan ni," ucapnya segera.
Gelap. Semuanya gelap. Ice masih tidak bisa membuka matanya. Entah karena efek obat bius yang disuntikkan seorang gadis yang mengaku sebagai kawan lamanya atau karena hobinya yang memang suka sekali tidur di waktu luang.
"Khh– Berani kau cuba pegang-pegang aku!? Aku tak kan– AAAAAAAAAAAHHHHHH!"
Eh?
Suara teriakan itu mirip dengan suaranya. Ice menyimpulkan bahwa Rosaline telah menangkap salah satu pecahannya. Namun Ice tidak tahu siapa pecahannya itu. Tiba-tiba ia mendengar suara Rosaline dengan dialek aneh nan sadis.
"Nikmati mimpi kau, Halilintar. Kau hanya akan seksa diri kau tuk bangun darinya..."
Apa? Halilintar? Oh, ini tidak mungkin! Halilintar sudah tertangkap?
Ice menjerit dalam hati. Ia bertekad untuk bangun, selemah apapun dirinya saat itu. Perlahan kedua mata Aqua-nya membuka dan langsung melotot begitu melihat apa yang terjadi.
Sang pengendali es menelan ludah. Dari ruangan sebelah yang dibatasi oleh sebuah jendela kaca, tampak Rosaline yang tengah mencengkeram kedua bahu Halilintar erat. Halilintar terlihat sudah tidak sadarkan diri. Beberapa utas rantai menahan dirinya di sebuah kursi yang mirip dengan kursi penyiksaan. Kepalanya terkulai dengan wajah memprihatinkan. Ice langsung merasakan sebuah firasat buruk saat melihat Halilintar sudah dikuasai wanita gila itu.
"Ha– Halilintar..."desisnya lemah. Dia ingin sekali menolong sang pengendali petir agar lepas dari cengkeraman Rosaline. Tapi dengan kesadarannya yang masih belum mencapai titik ideal serta anggota badan yang masih terbelenggu, Ice tidak bisa memakai Meriam Es-nya untuk menyerang perempuan itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak bisa tinggal diam. Kalau posisi mereka masih saja seperti itu, Halilintar bisa tamat karena energinya yang terus diambil oleh Rosaline lewat cengkeramannya.
Eh, tunggu dulu! Bukankah borgol yang membelenggunya kini hanyalah borgol biasa? Borgol yang tidak akan menyetrumnya kalau dia menggunakan kekuatannya? Ice tersenyum kecil. Tampaknya kemujuran mulai memihak dirinya.
Kesadarannya belum pulih, Tubuhnya masih lemas. Namun Ice berusaha tenang dan berpikir dengan kepala dingin, setenang air yang mengalir dan sedingin es yang membeku. Ia memejamkan mata dan menenangkan dirinya hingga tubuhnya benar-benar rileks. Mulutnya tampak berkomat-kamit.
"Ketenangan Maksima, bentukan keris ais..."
Serta merta beberapa keping es terbentuk di sekelilingnya, makin lama makin besar. Keping-keping es itu membentuk beberapa belati kecil yang terbuat dari es. Ice masih memejamkan matanya. Ia pun menggumam.
"Serang... Tusukan Keris Ais!"
Langsung saja belati-belati es tajam itu memecahkan jendela yang memisahkan kedua ruangan itu dan menerjang ke arah Rosaline. Rosaline terkejut dan melepas kedua tangannya yang mencengkeram bahu Halilintar. Diangkatnya tangan itu ke depan dan menggumam. Sebuah perisai transparan melingkupi dirinya. Belati-belati es milik Ice berusaha menembus perisai itu. Rosaline yang sadar bahwa Ice sudah terbangun langsung menatap sang pengendali es yang sudah membuka matanya kembali.
"Ohh- kau nak ganggu aku, ye?" tanyanya kesal. "Bagus, Bagus ... dah lemas pun masih boleh serang aku macam ni. Kuhuhuhu... hebat sangat."
Ice memandangnya kesal. Ia mendengus. "Kau... Jangan berani kau sentuh Halilintar..." desisnya berang. "Tusukan Keris ais bertubi-tubi!"
Sabetan Keris-keris es itu semakin cepat. Rosaline mendecih. Perisainya tidak kuat untuk menahan serangan itu. Tiba-tiba ia tertawa nista begitu sebuah strategi melesat di pikirannya.
"Hahahahaaa... kau mungkin kuat, Ice. Tapi kau tahu aku pun boleh pakai kuasa yang sudah kuambil," Katanya sinis. "Ambik ni: RAMBATAN PETIR!"
"Hah? Apakah!?"
Perisai transparan itu tahu-tahu mengeluarkan percikan listrik dan mengaliri belati-belati es milik Ice. Sebagai akibatnya, senjata-senjata kecil itu terlempar dan mengarah ke si empunya.
"Alamak! Serangan aku dia tangkis balik?" pekik Ice panik. Ia berusaha mengelak dari terjangan senjatanya yang sudah dialiri listrik itu. Namun sial bagi Ice. Tubuhnya masih terborgol ke meja eksperimen itu sehingga senjatanya langsung menancap di beberapa bagian tubuhnya dan menyetrumnya.
"UWAAAAAAAAAAAAAA!"
Serangan itu membuat seluruh tubuhnya terasa lumpuh seketika. Listrik itu– Ice tahu. Kekuatan Halilintar sudah diambil sebagian oleh Rosaline. Dan tidaklah mustahil kalau wanita itu sudah mengambil sebagian kekuatan es miliknya. Ice mendecih. Ditatapnya Rosaline yang sudah meninggalkan ruangan dimana Halilintar ditawan dan berjalan ke arahnya. Sekonyong-konyong wanita itu menamparnya. Digenggamnya dagu anak itu seraya menaikkannya sehingga mata mereka saling beradu.
"Kau... Kau ni tak de moral ke?" desis Rosaline tajam. "Tak sopan betul kacau urusan aku! Kau ingat aku ni siapa, Hah!?"
Ice menatapnya dingin. "Kau tu wanita pelik," jawabnya santai. "Dan kau pula yang tak bermoral! Kau tak fikir ke trauma budak-budak macam aku dan Halilintar sebab kelakuan kejam kau ni? Hmph! Empati pun tak de."
"Haahhh– kau ni protes je sedari tadi. Kau tak de hak buat benda tu. Aku akan jadikan diri kau dan pecahan-pecahan kau tu bawahan aku, fufufu... berdoalah."
Ia melepas tangannya dari rahang bawah Ice dan berjalan keluar ruangan. Melihat itu, Ice segera mencegatnya.
"Kejap. Jangan kata kau nak ambil pecahan aku yang lain pula," desisnya curiga.
Rosaline terkekeh. "Aku hanya nak cari sesuatu yang hangat je. Bosan sangat rasa korang yang dingin-dingin ni. Sampai jumpa, Ice. Atau mungkin boleh disebut... Pelayan setia aku, ehehe..."
Ice mengidik. Rosaline ingin dia menjadi Pelayannya? Sepertinya wanita itu hendak menggunakannya sebagai pembantu untuk Organisasi secara tidak langsung. Ice mendesah seraya menoleh ke arah Halilintar yang masih saja pingsan tak jauh darinya.
"Halilintar... semoga sahaja kawan-kawan kita tahu kita berada disini," desahnya pasrah.
Setelah pulang sekolah, Taufan dan teman-temannya menemui Gempa, Tok Aba dan Ray di rumah sakit. Blaze dan Ochobot sudah ada disana terlebih dahulu. Dua pecahan BoBoiBoy yang sama-sama memiliki sifat periang itu berseru gembira begitu melihat Tok Aba yang tampak sudah lebih baik kondisinya dan segera memeluknya.
"ATOOOKKK! BoBoiBoy kangen..." kata mereka bersamaan dengan wajah bahagia. Tok Aba terkekeh sebentar sebelum akhirnya ia berseru.
"I– Iya... Ugh... BoBoiBoy... Khh... Ei, sudah! korang berdua ni punya badan besar sangat!" katanya sesak nafas seraya mendorong kedua pecahan dari cucunya itu. "Sesak dada Atok."
"Hehehe... maaf, Tok Aba."
Gempa tersenyum. "Nah, macam yang dah dibincang Blaze dan Ochobot, kita akan pergi kat Pulau Apung esok," katanya. "Ingat. Bawa barang-barang yang diperlukan sahaja. Cikgu Papa kata kita akan wisata berkemah kat sana. Tapi bagaimanapun juga, tujuan utama kita ialah selamatkan Ice dan Halilintar, sebab kemungkinan besar Halilintar dah kena tangkap pula. Lepas tu kita uruskan Organisasi tu sepantas mungkin. Habis perkara!"
"Betul," kata Ochobot. "Sekalian pula kita hentikan Rosaline!" katanya senang. Namun begitu ia melirik Mila, ia segera tertegun.
"Eh, maaf Mila. Aku tak bermaksud buat singgung Bunda kau, Hehehe..." katanya was-was, takut teman lamanya itu marah. Diluar dugaan, Mila menggeleng seraya tersenyum.
"Tak pe, Ochoboy. Aku faham kot," balasnya lembut. "Dia memang Bunda aku. Tapi selama dia masih jahat, aku tak boleh biarkan dia kacau orang ramai."
"Hehehe... terbaik," kata Taufan seraya mengacungkan jempol. "Oh iya. Aku hampir lupa satu benda penting," katanya lagi lalu menoleh ke arah pemuda Alien di sebelahnya. "Fang, kau bawa ke kertas-kertas koran berisi khabar pembunuhan tu?"
Fang mengangguk. "Iye," katanya seraya mengeluarkan Koran-koran dari saku jaketnya dan memperlihatkan berita utama di dalamnya. "Kita dah bahas pasal berita ni dekat kelas tadi. Dan ada satu benda penting yang kitorang jumpa dari berita ni: Nama samaran Organisasi buat kelabui kita."
"Apa nama samaran tu?" tanya Blaze seraya melihat berita di koran. "Jangan cakap nama diorang pelik pula."
Taufan mendesah. "Namanya pelik pun. Korang tahu tak? Kemungkinan besar nama samaran diorang tu ialah... ONION."
"HA? ONION!?" tanya Gempa, Blaze, Ochobot, Ray dan Tok Aba bersamaan.
"Ehehe... itu hipotesis aku je," balas Taufan cengar-cengir. "Tapi cuba korang fikirkan benda ni elok-elok. Pembunuh tu guna nama ONION tuk hapuskan beberapa orang di beberapa Planet dalam waktu singkat. Dan mustahil ada pihak yang boleh buat benda tu melainkan sebuah badan jenayah antar Galaxy. Kan? Kan? Kan?"
Beberapa menit ruangan itu hening. Tak lama kemudian, Blaze dan Ray tiba-tiba sudah tertawa terpingkal-pingkal.
"HAHAHAHAHAAAAA! ONION!? LAWAKNYA! HAHAHAHAAAAA!" tawa Blaze hingga tubuhnya nyaris terguling di lantai karena geli. "Itu nama badan jenayah ke nama sayuran? Hahaha! Lawak betul lah nama tu!"
Ray tertawa hingga air matanya nyaris keluar. "Hahahaha! Hebat sangat lah diorang, sampai boleh guna nama lawak macam tu! Hahahaha! Aduh... sakitnya perut aku... Hahahaha! Apasal diorang guna nama bawang segala? Hahahaha!"
"Hei, sudah lah korang gelak-gelak tu!" Desis Tok Aba seraya menepuk keningnya melihat Blaze dan Ray yang bertingkah gila di lantai kamar rawat itu. "Mesti ada sebab kenapa diorang boleh guna nama ONION."
Gopal mengangguk. "Betul, Tok Aba," katanya dengan wajah serius. "Dan aku akan cari tahu apa penyebab diorang gunakan nama itu. Dengan berbagai petunjuk yang akan kami dapatkan nanti, kes ini kan tamat dengan pantas dan tepat, Hahahaha!" ujarnya dengan gaya seorang detektif, membuat teman-temannya melongo dengan dua iringan suara gaib seekor jangkrik.
"Hehehehee– aku betul kan?" tanyanya malu. "Kita akan cari tahu pasal ni selepas jumpa dengan Organisasi a.k.a. ONION!"
"Ye lah. Kau boleh buat apa sahaja, Encik Detektif," gumam Mila gemas lalu menatap semuanya. "Kawan-kawan, terima kasih sebab dah nak bantu aku untuk hentikan kejahatan Bunda aku dan koncro-koncro dia. Tanpa korang, aku tak kan boleh buat semua ni."
Yaya tertawa kecil. "Sama-sama," katanya. "Wajarlah kitorang bantu kau. Kau kan dah jadi kawan kitorang. Selama membantu dalam menjunjung kebenaran, takde yang boleh ditunda!"
"Terima kasih," balas lawan bicaranya seraya tersenyum simpul. Ia menoleh ke arah Gempa. "BoBoiBoy, apa lagi rancangan kita selanjutnya?"
Gempa mendesah santai. "Mula-mula kita akan pergi bersama kawan-kawan kelas 7 Cerdas dan Cikgu Papa Zola berwisata kat Pulau Apung," jelasnya. "Selepas tiba dekat pulau tu, kita bangun kemah dan berehat. Esok harinya kita izin kat Cikgu Papa dan cari keberadaan Markas ONION. Kalau dah terjumpa, kita segera susup Markas tu, cari Halilintar dan Ice lalu selamatkan diorang. Oh, ya. Baru sahaja Adu Du hubungi aku. Dia kata dia dan Probe nak pergi kat Pulau tu kat hari ketiga sebab diorang sedang buat senjata buat bantu kita uruskan ONION. Nanti diorang akan susul kita. Nah, Masa diorang dalam perjalanan ke Pulau, kita kena tahan ONION hingga Adu Du tiba dan gunakan senjata dia buat kalahkan ONION. Faham semua?"
"Umm!" Teman-temannya mengangguk tanda mengerti. "Mari kita laksanakan rancangan ni buat hari esok!"
Tiba-tiba Ray menggumam. "BoBoiBoy, Abang boleh ke temankan korang kat Pulau tu?" tanyanya khawatir. "Abang takut kau terkena masalah kat sana pula."
Blaze menggeleng. "Jangan, Abang Ray. Nanti repotkan Abang je."
"Betul tu," sambung Gempa "Lagipun tak de yang temankan Tok Aba kat sini. Abang Ray boleh jaga Tok Aba semasa kami pergi."
"Jangan cemas, Abang Ray. BoBoiBoy kan ada kawan-kawan," ucap Taufan. "Kitorang akan saling melindungi. Kan? Kan? Kan?"
Ying mengangguk. "Betul ma. Itu lah gunanya kawan," katanya gembira. "Tapi sekarang kita jangan berlama-lama disini wo. Kita belum berkemas buat esok pula."
"Okey!" Kata tiga pecahan Boboiboy di depannya dan menoleh ke arah Tok Aba dan Ray. "Tok Aba, Abang Ray, BoBoiBoy pergi dulu," ucap mereka seraya menyalami kedua kerabat mereka. Tok Aba merangkul mereka satu persatu.
"Ingat, BoBoiBoy. Kau kena lindungi diri kau dan kawan-kawan kau," nasihatnya pada Gempa.
"Baik, Tok. BoBoiBoy akan selalu cuba lindungi kawan-kawan BoBoiBoy, apapun yang terjadi," jawab Gempa seraya tersenyum.
Begitu giliran Taufan, Tok Aba berkata. "BoBoiBoy, kau kena berfikir jernih dan letak keadaan hati dalam masa yang tepat," katanya. Taufan tersenyum lebar mendengarnya.
"Baik, Tok. BoBoiBoy janji akan taruh diri Boboiboy dalam masa yang tepat," jawab Taufan.
Terakhir adalah Blaze. Tok Aba menatap pecahan kuasa elemental cucunya yang terkenal hiperaktif ini. "BoBoiBoy, cuba latih diri kau buat kawal kuasa kau. Kalau kau dah berjaya kawal kuasa kau, kau boleh lindungi kawan-kawan kau sekaligus hentikan musuh-musuh korang," katanya. Blaze yang sudah tidak tahan untuk menahan air matanya langsung menangis di pelukan kakeknya.
"Iya, Tok Aba... hiks, BoBoiBoy kan cuba kawal kuasa BoBoiBoy untuk lindungi kawan-kawan BoBoiBoy." ujar Blaze sendu. "BoBoiBoy akan cuba, Insha Allah. Hiks..."
"Sudah, sudah. Kau ni cengeng betul, padahal dah besar," kata Tok Aba segera, membuat Blaze melepas pelukannya dan menyeringai seraya menghapus air matanya.
Mereka lalu mendekati Ray untuk melakukan hal yang sama dengan Tok Aba. Namun sebelum mereka memberikan pelukan, Ray sudah lebih dulu merangkul ketiganya sekaligus dengan pelukan yang seerat mungkin, seakan merasa begitu berat untuk melepas pecahan-pecahan BoBoiBoy itu.
"Terima kasih sebab dah percayakan Abang buat jaga Tok Aba kat sini. Kau memang terbaik."
"Terima kasih, Abang Ray," jawab ketiga pecahan BoBoiBoy dalam pelukannya. Ray melepas mereka dan menatap mereka dengan pandangan cemas namun bibirnya dipaksakan untuk tersenyum.
"Sampaikan salam Abang kat Cikgu dan pecahan kau yang lain," katanya kemudian. "Ingat, jangan nakal kat sana ye. Dan yang lagi penting balik dengan keadaan selamat. Ayah dan Mak kau mesti akan sedih kalau kau gagal, BoBoiBoy."
"Baik, Abang," kata Gempa seraya tersenyum sebelum ia dan teman-temannya keluar dari kamar rawat itu," BoBoiBoy pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati kat jalan, BoBoiBoy."
Sepeninggal mereka, Tok Aba menatap Ray lamat.
"Berapa hari diorang akan pergi?" tanyanya.
Ray mendesah. "Tiga hari, Tok," Jawabnya. "Harapan kita ada kat mereka sekarang. Semoga Allah mudahkan perjalanan mereka."
Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Ray segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum. Eh, Uncle? Ada apa? Tumben Uncle telefon aku sore-sore ni," katanya.
Lawan bicaranya mendesah di seberang telepon. "Wa'alaikumsalam. Ray, Kau dan BoBoiBoy masih ada kat sana ke?"
"Iya. Tapi BoBoiBoy baru je pergi," kata Ray gugup.
"Ai'? Pergi kat mana?"
"Dia dan kawan-kawan dia nak pergi wisata kat Pulau Apung esok."
"Ohh... macam tu," kata sang Duta. "Eh, kejap! Tadi kau kata Pulau Apung!?"
"I– Iye?"
Sang Duta menjerit tertahan. "Ray! Kau gurau ke? Apasal BoBoiBoy nak wisata kat sana? Susah sangat buat temukan Pulau tu!"
"Tapi diorang punya rancangan buat cari Markas Organisasi kat Pulau tu," balas Ray. "Mereka dah buat rancangan tuk uruskan ONION, jadi tak payah buat khawatir."
"Dah tu, kau tak ikut diorang wisata ke?"
"Tak boleh. Saya kena jaga Tok Aba kat sini. BoBoiBoy cakap dia dan kawan-kawan dia akan saling melindungi. Tenang sahaja, Uncle. Semuanya dah tersedia."
Sang Duta mendesah panjang. "Ye lah. Uncle percaya," katanya. "Tapi Uncle dan Auntie cemas sangat ni. Organisasi dah mulai melancarkan operasi Death List tu. Beberapa hari lepas ada beberapa kes pasal pejabat pemerintah dari beberapa negara yang dah mereka hapuskan. Bukan itu sahaja. Mereka pun dah berjaya hapuskan beberapa pejabat kat Planet-Planet lain dekat seantero galaxy. Nasib baik kami boleh lolos. Dua ahli dari Organisasi sekaligus ahli daripada Supreme Diamond nyaris hapuskan kami semalam. Walaupun mereka masih budak kecik, tapi tetap pun mereka berbahaya. BoBoiBoy dan kawan-kawan dia kena jaga-jaga. Kalau semua ahli Supreme Diamond bergerak, BoBoiBoy mesti akan kesulitan buat lawan mereka!"
Ray mendesah. "Untuk saat ni BoBoiBoy dan kawan-kawan dia hanya targetkan satu ahli Supreme Diamond. Uncle tak payah risau."
"Eh? Siapa anggota Supreme Diamond yang diorang targetkan tu?"
"Umm... diorang nak lawan Rosaline."
"HAH!? MAWAR LIAR?! KAU GURAU KE!?" pekik sang Duta panik. "Dia tu ahli terkuat dekat Supreme Diamond! Nekat betul!"
"Masalahnya diorang punya pasal pribadi dengan Mawar Liar, Uncle," Jelas Ray. "Dan kalaupun–"
Ia terdiam begitu melihat Tok Aba yang memandangnya dengan heran.
"Ayah BoBoiBoy ke tu yang telefon kau?" tanyanya.
"Iye, Tok."
"Boleh Atok bincang sekejap dengan dia?"
"Oh, okey. Kejap, Tok."
Ia memberikan ponselnya pada Tok Aba. Tok Aba segera berbicara.
"Nak, kau ke ni?"
Sang Duta terhenyak. "Eh? Aba? Aba dah sedar ke?"
Tok Aba tersenyum dan berbicara dengan nada tenang. "Iye. Aba baik-baik sahaja kat sini. Dua hari lagi Insha Allah Aba dah boleh balik dari hospital," katanya. "Macam mana khabar kamu dan bini kamu?"
"Ehh... Cuma ada beberapa pasal, Aba. Insha Allah saya boleh atasi."
"Oh, iye iye. Jaga baik-baik diri kau ye. Masa ni banyak jenayah merajalela. Kamu kena waspada."
Si lelaki menggumam. "Eh, Kejap Aba," katanya. "Saya nak tanyakan satu soalan. Pasal BoBoiBoy yang boleh pecah lima tu... betul ke?"
"Eh?" Tok Aba tampak kaget. "Kuasa super anak sendiri pon tak ingat? Ish, ish, ish..."
"Ma– Maaf, Aba," gumam suara di seberang telepon. "Boleh bantu ingat balik tak?"
Tok Aba mendesah panjang. "Okey, dengarkan Aba betul-betul. BoBoiBoy, Anak kamu, Cucu Aba– dia dah punya kuasa tu semenjak dia cuti kat Pulau Rintis masa dia darjah empat dahulu," katanya sambil tersenyum.
"Ehehe, okey, Aba," kata sang Duta cengengesan. "Pelupa betul lah aku ni. Saya juga minta maaf kalau saya selalunya susahkan Aba."
Tok Aba terkekeh. "Tak pe nak... Semoga Allah mudahkan urusan kamu dan bini kamu ye," katanya senang.
Mila telah sampai di rumahnya. Segera saja ia mengemas barang-barang yang akan digunakannya untuk berwisata esok harinya. Mulai dari baju hingga alat-alat tidur. Soal makanan, dia tidak perlu khawatir. Sebelum ia tiba di rumah, terlebih dahulu ia membeli beberapa buah Cheese cake di sebuah toko kue dekat rumahnya. Dan sebagai alternatif, dia menitipkan sejumlah uang pada Fang untuk membelikannya setengah lusin Donat Lobak Merah. Tentu saja pemuda berwajah Oriental itu panik dibuatnya.
"Hei, kau ni dah mulai jadi saingan aku pula!" desisnya kesal." Sampai donut kesukaan aku pon kau tiru. Jangan tiru aku!"
"Ei, dengar. Itu cuma buat makanan tambahan. Kau pun boleh minta."
Fang mendengus. "Ciz. Nasib baik aku makan punya aku sorang." Katanya gengsi. Mila terkekeh setelah dia dan Fang berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Hah, budak tu memang pelik," katanya geli. Sekonyong-konyong matanya menangkap seberkas kilatan dengan posisi horizontal di langit. Mila tersentak. Sekilas ia melihat apa yang menyebabkan jejak di langit yang menghilang begitu cepat itu. Untung saja ingatannya masih jernih. Dalam waktu yang begitu singkat, Mila melihat sepasang sayap kelelawar di punggung sosok yang menghilang begitu cepat itu. Ia tersentak.
'Bunda? Apasal gerakan dia cepat sangat?' batinnya heran. 'Dan arah dia tadi– Eh?'
Wajahnya langsung mengidik ketakutan. Ia segera meninggalkan barang-barangnya dan keluar rumah, mengeluarkan sepasang sayap dari punggungnya dan segera melesat ke langit. Ia mendesis panik.
"Ochoboy... BoBoiBoy... korang dalam bahaya!"
Di rumah BoBoiBoy dan Tok Aba, Ochobot mengawasi ketiga pecahan BoBoiBoy yang masih ada untuk menyiapkan segala perlengkapan perjalanan besok. Namun karena mereka ada tiga, beberapa barang menjadi tidak cukup. Gempa mendesis khawatir.
"Makanan kita tak cukup banyak," katanya lesu. "Macam mana ni?"
"Hehe, korang andalkan kuasa si Gopal je lah," usul Ochobot. "Dia kan boleh tukar apapun jadi makanan."
Gempa mendengus. "Hei, kau tak tahu ke kalau dia tukar sebarang benda jadi makanan?" Tukasnya kesal. "Macam kejadian masa Gopal bagi Papa Zola Nasi goreng kampung dahulu. Ternyata Gopal buat nasi goreng tu dari selipar! Seram betul! Bisa-bisa dia bagi kita makanan daripada batu gunung nanti!"
"Habis tu, macam mana korang nak cari makan?" tanya Ochobot lagi.
Blaze tiba-tiba menjetikkan jarinya. "Ha! Aku tahu!" pekiknya senang. "Lepas kita tiba dekat Pulau Apung nanti, kita kena berburu. Nanti haiwan hasil buruan tu kita panggang kat api unggun. Macam barbekyu, Seronok sangat! Kan? Kan?"
"Eh, tapi jarang lah ada haiwan buruan kat pulau tu," timpal Taufan. "Kalau pun ada, belum pasti halal, macam Babi hutan."
"Umm... tak de ke penjual Kuih yang berjualan kat sini?" tanya Ochobot. "Kalau sahaja–"
Tiba-tiba sebuah suara yang terdengar dari luar rumah memotong kalimatnya.
"Kuih! Ada yang nak beli Kuih?"
"Ei? Bukannya itu suara Makcik Tima penjual kuih ke?" tanya Gempa tiba-tiba. "Boleh juga. Jom kita jumpa beliau."
Mereka pergi keluar rumah. Benar saja. Tampak Bu Tima si penjual kue lewat di tak jauh dari rumah mereka. Segera saja Taufan mendekati wanita tua berbadan cilik itu.
"Makcik, saya nak beli kuih Makcik," katanya gembira. Bu Tima segera tersenyum simpul seraya menunjuk keranjangnya yang masih berisi beberapa kue basah dan kering.
"Adik nak beli berapa bijik?"
"Sepuluh. Lima kuih basah, lima kuih kering."
"Baik, nak."
Dalam sekejap uang sekian ringgit dan sepuluh potong kue itu telah saling bertukar pemilik. Taufan menenteng hasil jajanannya itu masuk ke dalam rumah seraya cengar-cengir.
"Nah, kita dah punya makanan kecil buat esok," katanya riang. "Dan pasal makan siang dan makan malam juga dah okey."
"Ei? Okey?" tanya Ochobot heran. "Apa maksud kau ni?"
Taufan tertawa. "Hehehe... pasal makanan dan transport pesiar kita esok dah diurus Cikgu Papa, jadi tenang sahaja."
"Aku tak faham lah apa yang kau cakap ni, Taufan," kata Gempa bingung.
"Oh, aku belum bagi tahu korang satu pasal," balas sang manipulator angin. "Sebenarnya kat sekolah tadi tu–"
'Tadi tu–'
"Wahai anak didik kebenaran, Sebab esok ialah hari cuti, maka Cikgu akan tepati janji Cikgu untuk ajak kalian semua berwisata kat Pulau Apung!" kata Papa Zola riang di depan kelas. "Sediakan barang-barang kalian buat hari esok. Kita akan berlayar dan berkemah sehingga tiga hari!"
"Yeeeeeyyyyy!" semua murid kelas 7 cerdas memekik riang. Mereka akan berwisata di Pulau yang dahulu sempat menggemparkan dunia dengan keberadaannya dan tempat dimana Sfera Kuasa generasi pertama: Klamkabot ditemukan, terutama untuk Taufan dan teman-teman Superhero-nya. Mereka punya Misi tersendiri: Menyelamatkan Halilintar dan Ice sekaligus menghentikan Rosaline dan koncro-koncronya.
"Cikgu, berapa biaya yang kena dibayar buat esok?" tanya Melody.
Papa Zola tersenyum simpul. "Oh, jangan risau pasal duit, wahai anak muda. Sebab Cikgu tak nak pungut bayaran, Hahaha."
"Eh? Betul ke tu Cikgu?" tanya Gopal dengan mata berbinar-binar. "Free ke? tak de bayaran satu singgit pun?"
"Betul, wahai Gopal anak didikku! Dan bukan cuma itu. Makanan dan Transport tak payah kalian risaukan. Semua dah FREE! Haa– senang? Senang?"
"WUAHHHH! Cikgu Papa memang terbaik!"
"Kejap, Cikgu," kata Yaya tiba-tiba. "Apasal kitorang tak kena bayaran ni? Tak sedap hati lah Cikgu."
"Betul. Cikgu Papa gurau je," tambah Fang seraya mendesah panjang dengan gaya bertopang dagunya.
"Apakah kalian semua meragukan Kebenaran!?" tanya Papa Zola frustasi begitu melihat reaksi beberapa muridnya yang seakan mengira dia sedang membual. "Kebenaran tak pernah berdusta. Kalian tengok esok hari kat Pelabuhan kalau korang tak percaya!"
Ying menaikkan alis. "Aik? Pelabuhan?" tanyanya bingung. "Kitorang nak guna sampan macam mencandak sotong dahulu kah?"
"Kurang tepat, wahai anak muda," kata Papa Zola dengan senyum misterius. "Ha, coba tebak. Tebak. Kenapa Cikgu nak ajak kalian kat Pelabuhan?"
"Yang jelas kitorang nak guna kendaraan laut, Cikgu," kata Gopal pasrah.
"Hmm, nampaknya kalian semua sudah menyerah pasal tu," kata Papa Zola kemudian. "Cikgu dah pesan satu Kapal Pesiar buat pergi kat Pulau Apung, lengkap dengan juru mudi dan anak buah kapal! Hahahahahaa!"
"Ha!? Kapal Pesiar!?" pekik anak-anak muridnya. "Macam mana Cikgu boleh punya benda mahal tu?"
"Nah, itu lah korang tak tahu. Cikgu kumpul duit sejak kecik lagi buat membeli satu kapal pesiar," jawab Papa Zola bangga. "Dan setelah hasil jerih payah Cikgu tuk kumpulkan duit, maka Cikgu dah boleh beli satu kapal pesiar!"
"Waaaahhhh!" Yaya mendecak kagum. "Memang betul. Rajin menabung pangkal kaya. Cikgu Papa hebat sangat!"
"Betul tu. Dah sewa juru mudi pula," timpal Amar Deep gembira.
Papa Zola terkekeh. "Hehehe, tapi jangan bagi tahu kat orang-orang ye. Ini terkhususkan buat kalian sahaja, wahai anak didik kebenaran."
"Kejap, Cikgu," kata Fang tiba-tiba. "Kalau ada juru mudi, lalu siapa Kaptennya?"
"Oh, Kapten ye? Hah... Kaptennya ialah..." kata Papa Zola dengan nada semangat. "...CIKGU PAPA SEORANG! HOREE! HOREEEEEE!"
"Eh?" Mila melongo. "Apasal Cikgu Papa nak jadi Kapten Kapal pesiar? Macam pelaut je."
"Iye," ujar Taufan. "Kenapa Cikgu yang jadi Kapten Kapal tu?"
Sekonyong-konyong Papa Zola berdiri dengan mimik muka serius dan berwibawa. Ia pun menggumam.
"Sebenarnya... menjadi pelaut ialah cita-cita Papa sejak dahulu lagi."
(Latar adalah sebuah Kelas bernuansa klasik dengan papan kapur yang tertulis 'Cita-Cita Saya')
Guru:" Baiklah, Murid-murid. Sila bagi tahu Cikgu, Apakah cita-cita kamu."
Siswa 1:" Saya nak jadi Peguwam."
Siswa 2:" Saya nak jadi Dokter, Cikgu."
Zola Kecil:" Saya nak jadiii... PELAUT BERKALIBEEERRR! Saya kan menjelajah kat tujuh lautan... dan menjaganya dari Perompak laut kejahataaaannnn!"
"Dan selepas itu Papa akan naik pangkat menjadi–"
"Dey, sudah lah tu Cikgu," kata Gopal bosan akibat mendengar Cita-cita Papa Zola yang entah mengapa dahulu begitu Plin-Plan. Papa Zola langsung menyeringai malu.
"Hehehe– Maaf, maaf," katanya. "Nah- apakah semuanya sudah jelas, anak muda?"
"Jelas, Cikgu!" Kata siswa kelas 7 cerdas serempak. "Terima kasih kerana dah bagi kami hadiah macam ni. Cikgu Papa memang terbaik!"
"Baiklah. Kalau macam tu, esok datanglah kat Pelabuhan Pulau Rintis pukul tiga pagi tuk naik kat kapal pesiar! Dan selepas tu kita akan langsung berlayar!"
"Haa– macam tu lah benda yang Cikgu Papa cakap kat kelas tadi," jelas Taufan gembira. "Kita akan naik kapal pesiar buat pergi kat pulau apung. Seronok tak?"
"Wuaahhh–" Gempa, Blaze dan Ochobot langsung memasang wajah bling-bling begitu mendengar kabar baik itu. "Hebat lah!"
Taufan cengengesan. "Hahaha, jarang betul Cikgu Papa ajak kita berlayar guna kapal pesiar. Tak dapat kubayangkan kalau seandainya kita guna sampan buat cari pulau apung esok."
"Yeah! Memang terbaik!" kata Blaze sembari melompat-lompat saking senangnya. "Tak sabarnya tunggu hari esok!"
Mendengar itu, Ochobot terkekeh. "Aku pun senang dengar khabar Papa Zola bagi kita hadiah melancong guna Kapal pesiar," katanya geli. "Dan–"
"GYAAAAAAAAAAAA! TOLOOOOOONNGGGGG!"
"Eh? Bukannya itu suara Makcik Tima ke?" tanya Gempa kaget begitu mendengar sebuah jeritan diluar rumah. "Jom kita tengok beliau sekejap."
Ia dan kedua pecahannya serta Ochobot lalu keluar rumah dan pergi ke tempat dimana suara Bu Tima terdengar. Begitu sampai, mereka terkejut. Bu Tima tampak sedang dihadang oleh sesosok makhluk yang melayang di udara: Rosaline.
"ROSALINE!?" pekik keempatnya bersamaan. Rosaline menoleh ke arah mereka dan tahu-tahu tertawa sinis.
"Hahahahahaaa! Jumpa lagi dengan aku, budak-budak," katanya geli. 'Tapi kejap, aku nak belasah Makcik penjual Kuih ni. Penganggu rancangan betul!"
Bu Tima terlihat ketakutan. "Si– Siapa kau?" tanyanya ngeri. "Biarkan saya tumpang lalu. Saya cuma penjual Kuih je."
"Hmph! Suara jeritan kau tadi boleh terdengar hingga ujung Pulau Rintis," dengus Rosaline. "Dan boleh sahaja kedatangan aku diketahui. Buktinya budak-budak tu datang kesini. Sekarang musnahlah dari hadapanku! CAMBUK HALILINTAR!"
"Jangan!" pekik Gempa seraya memukul tanah di bawahnya. "TANAH PELINDUNG!"
Sebuah dinding tanah segera tercipta di depan Bu Tima dan menangkis cambuk petir milik Rosaline. Taufan segera melesat ke arah Bu Tima dan membawanya ke tempat aman.
"Te– Terima kasih, nak," katanya. "Hampir sahaja dia belasah Makcik tadi."
Taufan mengangguk. "Sama-sama, Makcik," katanya tulus. "Sekarang Makcik pergi dari sini. Biar kami yang hentikan makhluk itu."
Sepeninggal Bu Tima, Taufan segera bergabung dengan dua pecahannya serta Ochobot. Namun begitu ia tiba, dia heran begitu melihat Blaze yang tampak begitu tegang.
"Kenapa, Blaze?" tanyanya. "Muka kau nampak pucat sangat."
Blaze merinding. "Korang tak tengok ke? Serangan Rosaline tadi... Dia... Dia gunakan kuasa Halilintar lah."
"Eh?" Gempa menatap bingung. "Apasal dia boleh gunakan kuasa Halilintar?"
Blaze membisikkan sesuatu pada Gempa. Serta-merta kedua mata kuningnya melotot. Ia segera menantap Rosaline nanar seraya memekik.
"APA?! KAU AMBIK KUASA ICE DAN HALILINTAR GUNA KUASA SEDUTAN TENAGA PELIK TU?!"
Rosaline tertawa renyah. "Hahahahahaaa... ye lah tu. Diorang tu memang la elok," katanya dengan nada sadis. "Sebelum kemari, aku dah cakar sikit bahu Halilintar. Uhuhu... bernasnya. Muka dia yang nampak macam terseksa tu macam hebat sangat, Hahahahaa!"
Gempa mengidik lalu menoleh pada Rosaline. "Apa kau nak, Hah? Ganggu kitorang malam-malam ni pulak."
Sang wanita alien makhluk kelelawar terkekeh. "Oh, tak de. Aku cuma nak berjumpa dengam kawan lama anak aku," katanya seraya memandang Ochobot. "Kau mesti tak tega kalau aku sakiti kawan-kawan kau lagi, Ochoboy."
Ochobot mendesis. "Kau... kau dah ganggu kawan-kawan aku! Terutama BoBoiBoy!" ucapnya getir. "Dia ni tak de hubungan dengan pasal kau. Tapi kau tetap sahaja turuti kemahuan jenayah kau buat belasah harga diri dia!"
"HAHAHAHAAAA! Habis tu, kenapa kau tak serahkan diri kau je? Daripada susah-susah macam ni, baik kau mudahkan aku. Kau mestilah tak tega kawan-kawan kau susah sebab diri kau."
Ochobot tersentak mendengar kalimat provokasi itu. Ia membisu. Tak lama kemudian, ia mengatakan sesuatu yang membuat tiga pecahan BoBoiBoy di sebelahnya kaget setengah mati.
"Baiklah. Aku akan serahkan diri aku," katanya mantap.
"Apa!? Jangan buat benda tu, Ochobot!" desis Blaze panik. "Kau ni kawan baik aku. Jangan serahkan diri kau!"
"Iye. Nanti Rosaline dan kawan-kawan dia akan gunakan kau buat benda jahat!" ujar Taufan sedih. "Dan aku mesti takkan sanggup tengok benda macam tu! Kau tak boleh serahkan diri kau ke Organisasi!"
Gempa memandang empati. "Fikirkan apa yang terbaik untuk diri kau, Ochobot," katanya memohon. "Aku tak nak kau digunakan pihak jahat. Kau Ochobot. Kau kawan baik aku, Ying, Yaya, Gopal, Fang dan semua penghuni Pulau Rintis. Kau tega buat abaikan diorang ke?"
Ochobot mendesah. Ia memandang mereka lamat. "Maaf, BoBoiBoy, tapi Ini je satu-satunya cara," katanya lesu. Tubuh bolanya bersinar dan detik berikutnya ia telah berubah ke mode alternatif Ultra Humanoid-nya.
"Aku akan ikut kau," katanya pada Rosaline. "Tapi dengan dua syarat. Pertama, jangan ganggu BoBoiBoy lagi dan bagi balik pecahan-pecahan kuasa elemental dia yang dah kau tangkap. Kedua, biarkan Milyra join dengan aku."
Rosaline tersenyum. "Ah, akhirnya kau menurut juga," katanya senang. "Tapi dua syarat tadi macam payah sangat, buat aku tak tertarik. Aku tak nak Milyra ikut dengan kau. Dia cuma pengacau. Dan aku tak kan bagi balik dua pecahan elemental BoBoiBoy. Budak tu akan jadi bahagian daripada Organisasi dan tentu sahaja pelayan aku seorang, HAHAHAHAHAHAAAAA!"
Ochoboy tertegun mendengar itu. "Rosaline..." desisnya. "Kau gila!"
"Hiihhh– dia memang dah tak waras!" desis Blaze ngeri. "Ochobot, batalkan sahaja rancangan kau ni. Tengok, dia pun tak nak bagi Ice dan Halilintar balik!"
"Bagi diorang balik, He?" tanya Rosaline dengan seringai. "Sampai bila-bila pun aku tak kan bagi mereka balik! Korang yang akan join dengan mereka, Hahahahaaa! CENGKAMAN MOTORIK MAYA MAKSIMUM!"
"Huh! Tak kan kubiarkan! PERISAI PHOTOCYBER!"
Ochoboy segera mengeluarkan sebuah dinding photocyber di depannya, menangkis telepati Rosaline sebelum mengenai mereka. Ia segera memandang ketiga pecahan BoBoiBoy di belakangnya.
"BoBoiBoy, kau serang dia semasa aku alihkan perhatian dia," katanya. "Kelemahan Rosaline ialah fokus kepada satu hal. Kalau kau serang dia dari banyak arah, dia tak kan mampu mengelak."
"Okey!" Kata Gempa. "Blaze, Taufan, korang serang Rosaline dari atas. Aku akan serang dia dari belakang."
"Umm!" Angguk Taufan dan Blaze dan berpencar. Ochoboy terbang ke udara agar mudah untuk menyerang Rosaline yang sedang melayang sementara Gempa segera ambil ancang-ancang di bawah.
"Oh, jadi kau nak senang-senang rupanya," kata Rosaline sinis seraya berubah ke mode 'Gothic'-nya dan menerjang ke arah Ochoboy. Ochoboy masih mengaktifkan perisai Photocyber miliknya sehingga beradu dengan sabit raksasa wanita itu.
"Tch, aku akan kalahkan kau, Rosaline," desis Ochoboy berang. "Kau dah ganggu hidup aku. Dan kau pun dah ganggu kawan-kawan aku! Tak boleh dimaafkan!"
Rosaline menyeringai. "Kuhuhuhu, garang betul lah kau ni," katanya geli. "Tapi kau macam lagi comel je kalau garang macam tu. Ah ya. Selepas kau menghilang, Planet tempat kau berdiam dahulu bersama para A.I. Ultra Humanoid dan Sfera Kuasa lainnya dah aku serang. Sebahagian penduduk planet tu dah menjadi bahagian daripada sekutu Organisasi, jadi kau pun tak boleh berharap banyak, Hahaha ..."
"Ha?! Planet tu dah jatuh ke tangan Organisasi!?" tanya Ochoboy kaget bercampur marah. "Keterlaluan! Apa yang kau buat kat kawan-kawan dan Mak aku, Hah?!"
"Yahh– sebagian besar dari mereka dah jadi bawahan Organisasi. Hebat tak? Dan pasal figur Mak kau: Ashrlati... dia hilang."
Mendengar itu, kedua mata biru laut Ochoboy terbelalak lebar. Dia terduduk di tanah dengan wajah kalut, tidak percaya akan kalimat Rosaline. Detik berikutnya Ochoboy terisak.
"Mak... aku tak pernah berjumpa lagi dengan Mak... Hiks..." isaknya. Beberapa bulir air mata keluar dari kedua matanya yang sedih itu. Ochoboy menangis seraya memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat karena menanggung beban emosi yang terlalu besar. Rosaline merasa inilah kesempatan emas baginya.
"Siasatku berhasil, hehehe... Kena kau, Ochoboy!" tukasnya sinis seraya menerjang ke arah sang Sfera kuasa kesembilan yang sedang dirundung kesedihan akut. Kedua tangannya terjulur hendak menangkap Ochoboy. Tepat saat itulah Gempa berteriak dari belakang.
"TANAH PENCENGKAM!"
GRAP!
Sebuah gundukan Tanah dan batu tahu-tahu sudah memerangkap tubuh Rosaline hingga leher. Wanita itu kaget sekali. Ia berusaha membebaskan diri seraya mendelik ke arah sang manipulator tanah dengan tatapan garang.
"Tch–! Jaga kau, BoBoiBoy Gempa–" desisnya berang. Namun Gempa hanya tersenyum lalu memandang ke langit.
"Blaze, Taufan, Sekarang!"
"Okey! Rasakan ni!" teriak Blaze dan Taufan yang menukik dari atas. "Serangan Combo: GERUDI ANGIN SELATAN! HIAAAAAAAHHHHH!"
Sebuah angin mengandung api yang panas membakar dan berbentuk bor raksasa menukik tajam ke arah Rosaline. Rosaline terkejut. Ia berusaha membebaskan diri dari genggaman tanah Gempa. Namun Gempa semakin menguatkan cengkeramannya sehingga membuat Rosaline tidak bisa berkutik. Detik berikutnya serangan maut Taufan dan Blaze mengenai wanita itu.
GLADUAAAAAAAAAAARRRRR!
Tercipta sebuah ledakan dashyat. Gempa terbatuk-batuk akibat asap dari ledakan tadi. Tampak Taufan dan Blaze yang terengah-engah di sampingnya. Mereka bertiga segera mendekati Ochoboy yang masih saja menangis.
"Ochobot, kenapa kau ni?" tanya Taufan khawatir. "Rosaline buat kau menangis ke?"
Ochoboy menggeleng seraya mengusap air matanya. "Mak aku dah hilang," katanya muram.
"Sudah, Ochobot. Terpuruk dalam kesedihan tak kan selesaikan masalah," kata Gempa simpatik.
"Ehh... kawan-kawan, nampaknya serangan kita tak lah mempan sangat," kata Blaze tiba-tiba seraya menuding ke tempat Rosaline berada tadi. Terlihat Rosaline yang dilingkupi sebuah perisai bewarna merah yang dikelilingi oleh percikan listrik.
"Korang ingat korang dah belasah aku?" tanyanya mengejek. "Hahahaha! Jangan lupa, Aku dah ambik sebahagian kuasa daripada dua pecahan elemental korang. Korang tak kan boleh hapuskan aku!"
Taufan terkejut. "Alamak! Tak de kesan!?" jeritnya kaget. Rosaline tertawa melihat ekspresi keempat anak lelaki tak jauh darinya itu dan mengangkat kedua tangannya ke depan.
"Huh! Aku tak nak buang masa hanya buat pasal hambar ni," dengusnya lalu berteriak. "SAMBARAN HALILINTAR!"
Beberapa sambaran petir raksasa menerjang ke arah mereka. Gempa menciptakan tanah pelindung agar sambaran itu tidak mengenai dirinya dan teman-temannya. Namun serangan Rosaline terlalu kuat sehingga menghancurkan pelindung tanah milik Gempa. Akibatnya mereka semua terpental dan mendarat di tanah dengan posisi yang menyakitkan.
"Ughh... sakitnye..." desis Blaze seraya berusaha bangkit. "Korang... Korang tak pe kah?"
"Ugh... iye, aku okey," kata Ochoboy seraya berdiri. "Eh, kejap. Kenapa korang hanya berdua ni?"
"Eh? Dua? Bukannya kitorang pecahan kuasa BoBoiBoy ni masih bertiga ke?"
"Tapi–"
Sebuah tawa jahat yang menggema di tempat itu membuat mereka terdiam.
"EHEHAHAHAHAAA! Korang semua payah! Tak de yang boleh hentikan aku! Hahahahaha!
Ochoboy memandang ke langit dengan tatapan horor. Rosaline terbang di udara sembari meringkus seseorang dengan sebuah tangannya. Sinar bulan menerpa tempat itu. Di bawah Rosaline tergeletak sesuatu berbentuk papan pipih yang tampak retak.
Papan itu... Hoverboard, membuat mereka terkejut begitu tahu siapa yang saat ini berada dalam cengkeraman Rosaline.
"TAUFAN!" pekik mereka bersamaan dengan kekalutan yang luar biasa. Taufan mengerang. Pelipisnya tampak memar. Rupanya ia terbentur cukup keras ke tanah dengan kepala yang mendarat terlebih dahulu setelah terkena sambaran petir milik Rosaline. Ia meronta lemah dalam cengkeraman wanita itu.
"Lepaskan aku!" desisnya. Rosaline hanya tertawa dan menarik rambut Taufan dari belakang dengan kasar, membuat kepala anak itu menengadah seraya memekik kesakitan. Rosaline terkekeh sadis melihat raut wajah Taufan yang kesakitan.
"Fufufu, jangan harap aku kan lepaskan kau," katanya geli. "Sekali aku dapat mangsa, aku tak kan melepaskannya lagi. Dah lah. Jom kita pergi."
"Erghhh... aku tak kan jadi mangsa kau! BOLA TAUFA–"
Rosaline langsung memukul keras tengkuk Taufan, membuat anak itu langsung pingsan dalam sekejap.
Gempa, Blaze dan Ochoboy menatap kaku begitu melihat Taufan sudah terkulai dalam rangkulan Rosaline. Ochoboy berteriak kalut lalu melesat ke arah Rosaline.
"Kau! Lepaskan kawan aku!" pekiknya berang. "TAMPARAN PHOTOCYBER!"
"Tak de guna! BADAI SALJU!"
WROOOOOOOOOOOOOOO!
Serta merta sebuah badai salju menerjang Ochoboy dan dua pecahan BoBoiBoy di depannya. Rosaline memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi, namun wanita itu terhenti begitu Mila tahu-tahu sudah berada di hadapannya dengan wajah terperanjat.
"Bunda!?" pekiknya kaget lalu melihat Taufan yang sudah pingsan dalam rangkulan Rosaline. "Lepaskan dia! Bunda tak boleh buat benda durjana macam ni!"
Rosaline mendengus. "Hah! Sampah! Kau ni memang penghalang semua rancangan aku," katanya kesal. "Biarkan aku pergi!"
"Tidak akan! TEMBAKAN LASER INFRA MERAH!"
BLAAASSSS!
Sebuah laser Infra merah keluar dari tangan Mila dan menerjang Rosaline. Rosaline mendecih dan segera terbang dengan kemampuan kilat yang diambilnya dari Halilintar. Mila yang kecepatan terbangnya hanya di rata-rata tidak sanggup mengejarnya dan tertegun sedih.
"Tidak... maafkan aku, BoBoiBoy..." desisnya lirih. "Aku memang kawan tak guna..."
"Mila?"
"Eh?"
Ia menoleh. Tampak Ochoboy terbang di belakangnya sementara Gempa dan Blaze tampak berdiri di bawah dengan wajah sendu, menyadari mereka gagal menyelamatkan Taufan. Ia dan sang Sfera Kuasa generasi kesembilan itu terbang turun dan menghampiri dua pecahan elemental BoBoiBoy yang tersisa.
"Dia dah culik Taufan," kata Gempa muram.
"Macam mana ni? Sekejap lagi dia mesti akan ambil kuasa Taufan," ujar Blaze sedih. "Dan dia pun akan semakin kuat!"
"Setidaknya kita akan pergi cari Markas ONION tu di hari esok," kata Ochoboy seraya berubah ke mode robot bolanya. "Jadi jangan khawatir sangat. Selama ada harapan dan kemauan, kita mesti akan berjaya!"
"Umm!" Angguk Mila. "Tenang sahaja. Masa kita untuk selamatkan diorang akan datang sekejap lagi. Dan... Aku harap Bunda boleh insaf..."
Gempa mendesah suram. "Okey. Kalau macam tu, aku dan Blaze kena jaga-jaga pula," katanya serius. "Jangan biarkan Rosaline culik diri kita. Ini kesempatan terakhir kita."
Teman-temannya mengangguk dan memandang langit, bertekad untuk menghentikan musuh-musuh mereka nanti hingga impas.
"Halilintar? Kau dah sedar ke?"
"Ughh- kepalaku. Eh?"
Halilintar mengerjap-erjapkan kedua mata delimanya dan memandang ke sekeliling ruangan. Dilihatnya Ice di ruangan sebelah.
"Ice! Kau dah sedar," katanya senang. "Aku cemaskan diri kau, tahu tak? Dan– Ughhh... apasal badan aku macam sakit sangat?"
Ice mendesah panjang. "Aku nampak Rosaline cakar bahu kau tadi," katanya datar. "Nasib baik aku sempat cegah dia guna keris ais aku. Kalau tak, aku tak tahu apa benda yang lagi buruk daripada itu."
"Eh?" Halilintar terkejut mendengar itu. Dilihatnya bagian bahu dari jaketnya yang koyak akibat cakaran Rosaline plus rasa perih akibat luka dari cakaran itu. Halilintar menggeram, tidak terima dirinya dicakar oleh wanita jahat yang menangkapnya saat hendak menyelamatkan Ice tadi. Dipandangnya sang pengendali Es dengan tatapan sebal.
"Macam mana kita keluar dari sini?" dengusnya. "Aku tak minat disentuh dan dicakar untuk kedua kalinya. Seram betul! Kalau kita dah bebas nanti, kita akan belasah Rosaline tu!"
"Oh, jadi kau nak belasah aku? Kau mimpi je lah, Fufufu..."
"Ei? Suara tu–" Ice menoleh ke ruangan Halilintar. Tampak Rosaline berdiri di ambang pintu dengan membawa sesuatu- atau mungkin seseorang– di rangkulannya. Spontan Ice dan Halilintar kaget melihat itu.
"Taufan!?"
Rosaline tertawa. "Hahahahaaa! Kan aku dah kata, aku nak sesuatu yang hangat pulak," katanya geli. "Langka betul barang macam dia ni."
"Apa? Barang!?" desis Halilintar marah. "Kau cakap Taufan tu barang!? Dia bukan barang kau, tahu tak? Lepaskan kitorang sekarang juga!"
"Oh, Oh, Takutnye..." ujar Rosaline mengejek. "Aku tak kan lepaskan korang sampai bila-bila!" katanya seraya masuk ke ruangan di sebelah ruangan Halilintar dan memborgol tangan dan kaki Taufan ke dinding. "Aku nak BoBoiBoy jadi pelayan kedua aku dan juga jadi bahagian daripada Organisas– Eh?"
Ia tertegun begitu melihat Taufan yang mengerang, mulai siuman. Si pengendali angin membuka matanya dan melotot begitu melihat Rosaline di depannya.
"Kau... Kau bawa aku kat mana ni?" tanyanya kalut.
"Oh, tenang je. Aku tak bawa kau jauh-jauh pun. Hanya dekat Markas Organisasi kot."
"Hmm, Organisasi konon. Cakap je nama samaran korang ialah ONION. Kan? Kan? Ke itu nama asli Organisasi korang?"
"Eh? ONION?" tanya Ice heran. "Kenapa Taufan cakap bawang merah tu nama kepada Organisasi?"
"Iye. Kau gurau ke?" tambah Halilintar. Taufan yang mendengar suara mereka tersentak kaget dan menoleh ke arah dua pecahannya yang sudah duluan mendekam disitu.
"Ice! Halilintar! Korang pun ada kat sini?" tanyanya senang. "Wahh– tak sangka! Ternyata Rosaline bawa korang kesini pulak, Hehehehe."
Rosaline menatap reuni dadakan itu dengan wajah sebal.
"Haehh, dasar budak-budak," desisnya kesal. "Eh, Kejap. Macam mana kau tahu nama ONION tu?" tanyanya pada Taufan.
Taufan terkejut. "Eh? Iya ke? Wahahahaha! Tebakan aku ternyata benar! Hahahahahaa!" tawanya bangga, membuat dua pecahan dirinya yang berada di dua ruangan di sebelahnya memandang dengan Sweatdrop. Ice dan Halilintar kebingungan. Mengapa Taufan masih bisa tertawa riang di sela-sela kondisi yang serba terbalik itu?
"Taufan..." gumam Ice pasrah. "Tawa dia tu hancurkan suasana sangat. Macam dia tak terkesan sebagai tawanan kat sini je."
Halilintar menghela nafas panjang. "Dia memang macam tu. Emosi gembira yang terlalu sangat. Macam angin yang berlalu je, tak suka ungkit-ungkit kisah lama."
"Betul. Dia tak terlampau serius macam kau," kata Ice polos, membuat Halilintar mendelik padanya.
"Apa kau cakap!?"
"Ehehe... tak de, Halilintar. Gurau je."
"Hmph! Kalau kau cakap ulang benda tu, aku akan–"
Sekonyong-konyong Ia terdiam dan tertegun, membuat Ice heran.
"Eh? Kenapa, Halilintar?"
Halilintar melotot ke ruangan dimana Taufan berada. Ia mendesis panik. "TIDAK! JANGAN BERANI KAU BUAT BENDA TU DEKAT DIA!"
Ice melihat apa yang dilihat sang pengendali petir dan terkejut. Mereka memandang horor begitu melihat Rosaline tahu-tahu sudah berada di depan Taufan dengan tangan terjulur, Mencengkeram kedua bahu Taufan. Taufan sendiri merasa tubuhnya berkeringat dingin. Ia meronta namun anggota tubuhnya tertahan di dinding oleh Borgol-Borgol yang membelenggunyanya disana. Jantungnya berdengup kencang.
"Ka– Kau... Apa yang nak kau perbuat!?" ujarnya horor. Ia mengidik. Rosaline terkekeh pelan. Taufan yang benar-benar merasa ketakutan saat itu mau tidak mau akhirnya menjerit kencang.
"AAAAAAAAAAAHHHHHH! LEPASKAN! KALAU TAK–"
Jeritannya terputus begitu tangan Rosaline melepas bahunya. Nafas Taufan menderu saking tegangnya. Namun ia tidak sempat mengelak lagi begitu Rosaline mencengkeram lehernya. Dan kejadian yang paling buruk pun terjadi.
Taufan terbelalak. Jantungnya terasa melompat dari dadanya begitu Rosaline tahu-tahu menggigit bahunya bak vampir. Melihat adegan mengerikan itu, Halilintar segera membuang mukanya ke samping sementara Ice menutup matanya rapat-rapat, tidak sanggup melihat pecahan mereka disiksa seperti itu.
"Woi! Berhenti belasah dia!" Pekik Halilintar murka. "GERTAKAN HALILINTAR-"
BRRRRZZZZZTTTTT!
"AAAARRGGGHHH!"
Kursi penyiksaan itu menyertumnya kembali. Halilintar meringis. Ia tidak berani memandang ke ruangan dimana Rosaline mengigit bahu Taufan. Tapi disisi lain dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Ice! Buatlah sesuatu!" katanya pada pecahannya yang masih menutup matanya agar tidak melihat kejadian mengerikan itu. Ice menggumam dengan mata yang masih tertutup.
"Aku tak nak tengok," katanya malas, atau lebih tepatnya tidak berminat.
"Tapi rantai kat badan aku tak biarkan aku buat gunakan kuasa aku. Kau boleh, Ice! Cepat! Kau nak Taufan dibelasah perempuan durjana tu, Hah!?"
"Hahh... Ye lah, Ye lah. Aku akan cuba," kata sang pengendali Es seraya kembali menenangkan dirinya. "Tapi ini mungkin akan lama. Bagi aku masa sekejap buat kumpul kuasa."
Sementara itu, Taufan mendapati dirinya melayang di sebuah ruangan gelap. Ia mengucek-ucek matanya. Apakah dia pingsan?
"Selamat datang kat Alam bawah sadar kau, Taufan," ujar sebuah suara. Taufan menoleh. Rosaline berdiri tak jauh di depannya.
"Rosaline!?" pekik Taufan kaget. "Apa yang kau buat dekat aku tadi!? Dan tempat apa ni? Kenapa aku ada kat sini?"
Wanita Alien di depannya tertawa pelan. "Ini alam bawah sadar kau lah," katanya tenang. Taufan terperanjat. Alam bawah sadar? Itu berarti dia sudah pingsan akibat energinya yang dikuras dengan serangan dadakan dari perempuan gila di depannya itu.
"Aku pengsan ke?" tanyanya bingung. "Kalau macam tu, kenapa kau boleh berada kat sini pulak?"
"Ohh... pasal tu? Aku boleh masuk kat alam bawah sadar kau lah," jawab Rosaline dengan senyum kecut. "Dan caranya- yah, ada rahasia sikit. Badan aku ni tak macam makhluk lain. Hasil penelitian yang elok. Dan sebab tu aku boleh buat benda tu dekat kau tadi buat masuk kat sini."
Sang pengendali angin tersentak. "Apa!? Jadi sekarang tu kau dan aku masih–"
"Ya. Aku masih tahan badan kau kat alam nyata guna gigitan aku kat bahu kau," kekeh Rosaline. "Itu cara aku masuk kat sini, Fufufu."
Taufan melotot. Wajahnya mengidik. Ia segera menggosok-gosok bahunya, berusaha menghilangkan rasa sakit akibat gigitan Rosaline.
"Kau ni bejat betul!" desisnya berang. "Apasal kau buat benda pelik macam tu kat diri aku? Keluar dari tempat ini! Jangan ganggu aku!"
Rosaline tertawa. "Ahahahahaa! Aku cuma boleh keluar kalau ada yang ganggu aku dari alam nyata je," katanya sinis. "Dan akhirnya–"
TRING!
Dalam sekejap wanita itu menghilang, meninggalkan Taufan yang langsung melongo hebat.
"Ei? Dia hilang?" tanyanya heran. "Atau mungkin–"
"TUSUKAN KERIS AIS!"
Belati-belati es tajam itu menyabet Rosaline yang saat itu sedang menggigit bahu Taufan. Wanita itu melepaskan Taufan yang sudah pingsan dan terhuyung. Ia menatap Halilintar dan Ice dengan kesal.
"Korang ni memang pengganggu!" tukasnya marah. "Seharus pon aku pisahkan korang biar korang tak saling bantu!"
Ice mendesah dingin. "Aku tak kan biarkan kau belasah kitorang," tukasnya berang.
"Kalau kawan-kawan kami dah tiba, kami akan belasah kau hingga impas!" timpal Halilintar marah.
"Tch–" Rosaline mencabut pisau-pisau es dari tubuhnya dan hendak menampar Halilintar. Tiba-tiba sesuatu berbunyi dari bajunya. Ia segera merogoh gaunnya dan mengeluarkan sebuah telepon genggam. Ditempelkannya benda itu pada telinganya seraya berucap.
"Hello? Oh, ya, Ketua. Aku lepas buat satu pasal. Aku akan segera pergi kat sana," katanya pada telepon genggam itu. "Aku akan selesaikan pasal aku dekat diorang selepas rapat nanti."
Ia berjalan keluar, membuat kedua pecahan BoBoiBoy yang dingin dan tenang itu menghembuskan nafas lega.
"Nasib baik dia tak sambung benda teruk dia kat Taufan tadi," desah Ice lega.
Di lain pihak, Rosaline masuk ke ruang rapat. Tampak Ketua ONION di ujung meja panjang di ruangan itu sementara dua anak yang tampaknya memiliki wajah oriental berada di kiri-kanannya.
"Oh, akhirnya kau datang juga, Rosaline," kata gadis berwajah oriental di sebelah kiri ketua Organisasi: Ah Ming. "Kitorang nak bahas rancangan buat tahun hadapan."
"Tahun hadapan?" tanya Rosaline heran seraya duduk di kursi di dekatnya lalu menyilangkan kaki. "Lama betul. Alat tu belum siap ke?"
"Belum," kata pemuda berwajah oriental di sebelah kanan sang Ketua. "Rancangan pun baru selesai 50% meh. Jangan buru-buru sangat. Kita mulai sikit-sikit, lama-lama jadi bukit ma."
Sang Ketua tertawa dan menepuk bahu pemuda itu. "Hahaha, boleh tahan juga cakap kau tu, Ah Meng. Ah, ya. Macam mana denga latihan kau dan rakan India kau tadi?"
"Haish, susah cari masa buat latihan dengan dia. Dia kan selebriti cilik kat bandar. Agenda dia sibuk sangat wo," kata Ah Meng kesal. "Tapi jangan risau. Saya masih boleh latihan dengan Kak Ming nanti."
"Eh? Dengan aku?" Ah Ming terkejut. "Aku ni payah dalam perkara guna senjata. Lagi seronok guna tangan kosong pulak. Kau kan spesialis senjata tajam, Ah Meng. Jangan bawa-bawa Akak kau ni ke dalam perkara senjata macam tu lah."
Ah Meng memandangnya dengan tatapan memohon. "Ayolah, Kak Ming. Sekali sahaja kita latihan sama-sama macam tu. Jarang sangat ho," ujarnya memelas. Melihat adiknya mulai merengek, Ah Ming tidak punya pilihan lain. Dia akhirnya mengiyakan dengan nada pasrah.
"Okey. Kau boleh latihan dengan aku," katanya, membuat wajah sang adik sumringah. Sang ketua dan Rosaline memandang mereka dengan tatapan aneh.
"Biasa lah. Mereka masih budak-budak," kata Sang Ketua. "Ah Ming, kau boleh latihan dengan adik kau sekarang. Aku dan Rosaline mahu bincangkan beberapa perkara lagi."
Ah Ming mendesah panjang. "Ye lah, Tuan Ketua. Pasal orang dewasa konon," ujarnya sebelum ia dan adiknya keluar dari ruangan itu.
Rosaline memandang Ketua ONION lamat. "Ketua, aku ada khabar buruk," katanya muram. "Nampaknya BoBoiBoy dan kawan-kawan superhero dia dah tahu nama sebenar perkumpulan kita."
"Hmm, iye ke?" tanya si Ketua dengan sikap santai yang mencurigakan. "Macam mana mereka boleh dapatkan maklumat tu?"
"Entah. Aku tahu pasal ni sebab pecahan BoBoiBoy yang ketiga kalinya aku bawa kat sini cakap perih maklumat tu," kata Rosaline curiga. "Cukup sahaja diorang yang tahu nama badan jenayah kita. Kalau tak, bisa gawat. Oh, ya. Aku nak tanyakan kau satu soalan. Mana anak kau? Jarang betul aku tengok dia dekat sini."
Ketua mendesah panjang. "Biasa lah, dia ada dekat Istana Patung dia," katanya. "Wajar kot. Dia masih budak kecik."
"Hmm, budak kecik konon, tapi minat bongkar pasang makhluk hidup, jangan ditanya. Psikopat betul," dengus Rosaline. "Sampai jenazah pun dia jadikan koleksi dia."
"Dia memang macam tu. Dia kan budak perempuan, wajar suka buat patung."
"Ye lah. Patung yang terbuat daripada jenazah pun dia buat pulak," tukas Rosaline kesal. "Pelik betul lah dia tu. Macam tak waras je."
"Hah! Kau sorang pun tak waras. Minat kat budak kecik macam predator dan buat Jenayah," dengus sang Ketua ONION. "Hipokrit betul lah kau ni, Rosaline."
Rosaline terkekeh. "Hehehe... betul juga," ujarnya sambil tertawa kecil. "Maafkan aku atas kesilapanku, Ketua."
Seorang gadis yang memakai baju Lolita dan kasual dengan pita mungil di rambutnya sedang membawa beberapa barang seperti sisir dan alat make-up lainnya ke sebuah ruangan gelap bernuansa klasik. Di dalamnya terdapat beberapa boneka dengan posisi yang berbeda-beda. Ia mendesah panjang.
"Bila masa BoBoiBoy boleh berpecah jadi lima?" tanyanya pada diri sendiri. "Dia tak pernah cakap pasal tu kat aku pulak. Hiihh– merimaskan betul! Jaga kau, BoBoiBoy!"
Ia lalu mendekati sebuah boneka dengan kerudung bewarna biru dan berpakaian sopan yang berada di ujung di ruangan itu dalam posisi berdiri. Dipandangnya wajah datar boneka itu dengan senyum mengembang. Sebuah papan nama tersemat di kerudung boneka itu.
Siti Zubaidah
Gadis berpita itu tertawa kecil. "Tenang sahaja, Siti. Kalau masa sudah pun tiba, BoBoiBoy akan temankan kau disini, Hihihi..."
Wajah datar boneka berkerudung biru di depannya memandang sayu, diiringi suara tawa sang gadis berpita yang menggema di ruangan itu.
Bersambung ...
Nahhh bagaimana ceritanya?
Taufan: (Menutup mulut dan pergi ke kamar kecil) Hiiiiiiihhhhh ... nasib baik aku makan Biskuit Yaya daripada bahu aku yang digigit!"
Yaya: Eh? Kau nak biskuit aku? Nih aku punya banyak loo. Sedaaaaappppp."
Taufan:" AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH! (Kabur pakai Hoverboard)
Halilintar: CERITA MACAM APA NI HAH?! TEBASAN PEDANG HALILINTAR!
Jangan Haliiiiii! Huhuhu... naskah cerita aku gosong semua deh :'(
Halilintar: Biarin! Siapa suruh buat cerita seram kayak gini hah?!
Ice: Betul tu.
Hah sudah! Ga habis debat dengan kalian ni. Nah, Gempa, Blaze, menurut kalian gimana cerita ini? Bagus tak?
Gempa: Semoga bukan aku yang jadi korban selanjutnya Amiinnn
Blaze: Eh?! Aku juga dah doa macam tu lah! AKu tak nak jadi korban lah!
Gempa: Tapi aku tidak mau jadi korban pula!
Hei sudah sudah. Mending tidak ada yang jadi korban lagi, Kan Kan?
Gempa dan Blaze: Eh? Iya ke Kak Author? Leganyeeee ...
Ga tahu juga sih. Lihat saja nanti di kelanjutannya oke?
Gempa: Kok perasaan aku jadi tak enak sangat ye?
Hah! Sudah-sudah! kalian banyak bicara saja sedari tadi. Nah, Readers, maaf kalau cerita ini semakin lama semakin gaje, Hehehe Mind to Review? ;)
Tetap setia menanti kelanjutannya ya. Love you All Dear Readers ^/^
