Jumpa lagi readers ^_^ setelah hiatus 2 minggu rindu banget deh hehehe.
Note: Beberapa adegan kekerasan, gajeee ness dan imajinasi akut
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'The Chaotic of Elemental Split'
(Sebuah kisah fiksi)
Season 2
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 14: Badai dan Dimensi Lain
Hari masih gelap. Jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun Pelabuhan Pulau Rintis sudah mulai ramai oleh hiruk pikuk. Gempa dan Blaze yang ditemani oleh Ochobot baru saja tiba disana. Mereka melayangkan pandangan ke sekitar Pelabuhan. Tampak teman-teman kelas 7 cerdas menunggu di ujung salah satu dermaga. Kedua pecahan BoBoiBoy dan robot bola itu langsung mendekati mereka.
"Hai, kawan-kawan!" sapa Blaze riang seraya menenteng koper mungilnya. "Apa yang korang tunggu ni?"
Ying mendesah. "Haiya, Kitorang nak tunggu Kapal pesiar Cikgu Papa Zola wo," katanya. "Cikgu kata kita nak berangkat pukul tiga dini hari. Tapi entah kenapa dia belum datang juga."
"Mungkin dia baru bangun kot," kata Kevin lalu memandang Blaze dan Gempa. "Eh, kejap! Apasal pecahan elemental kau hanya sisa dua je, BoBoiBoy? Bukannya korang ni ada bertiga ke?"
"Eh, betul juga tu," tambah Yaya. "Bukannya BoBoiBoy Taufan ada sama korang? Mana dia?"
"Hmm- kau ni jiran BoBoiBoy, tapi tak tahu keadaan dia pulak," dengus Gopal lalu menguap untuk kesekian kalinya karena menahan kantuk.
"Hei, aku ni tidur lagi awal tau!" Kata temannya yang berjilbab pink itu. "Aku tak nak lamban bangun, jadi wajar je aku tak tengok apa yang dia buat dekat rumah dia."
"Eh?" Ochobot tersentak. "Kau tak dengar teriakan Makcik Tima semalam ke?"
Yaya melongo. "Makcik Tima?" tanyanya." Nampaknya aku tak dengar pon. Mungkin sebab aku letih sangat, jadi tidur nyenyak sampai tak dengar suara apapun."
"Haehh- pada pun teriakan tu terdengar keras sangat hingga ujung Pulau Rintis," kata Gempa lalu menatap teman-temannya yang lain. "Korang tak dengar ke?"
Fang menggeleng. "Tak. Selepas aku beli Donut Lobak merah, aku langsung tetido," katanya cuek. "Kurang kerjaan sangat nak dengar suara tu."
"Hadoiii yaaayy- Makcik Tima tu dicegat Rosaline semalam," kata Ochobot lesu, membuat anak-anak selain Gempa, Blaze dan Mila terkejut.
"APA!? DIA DATANG DEKAT PULAU RINTIS SEMALAM!?" pekik mereka berjama'ah. Iwan yang mendengar berita itu langsung jatuh pingsan.
Blaze mengangguk dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya terisak. "Hiks- dan dia … dia dah culik Taufan pun ... Hiks … jahat betul!"
"Ha!?" Gopal memekik. Rasa kantuknya lenyap seketika. "Dia culik BoBoiBoy Taufan semalam?! Huhuhu … Kenapa korang tak hentikan dia?"
Mila mendengus. "Bunda dah berjaya ambil kuasa BoBoiBoy Ice dan BoBoiBoy Halilintar," katanya lesu. "Jadi kitorang macam susah buat lawan dia. Aku takut kalau selepas ni Bunda akan ambil kuasa Taufan."
"Macam mana Rosaline tu ambil kuasa diorang?" Amar Deep tiba-tiba bertanya.
Ying mendesis. "Haiya- Rosaline tu pedofil ma," tukasnya. "Korang tahu kan Alien Succubus tu ambil tenaga dari mangsa dia?"
"Hah!?" Anak-anak Kelas 7 Cerdas selain BoBoiBoy and the Gank terperangah. "Ngerinya ..." ujar mereka ketakutan. Gempa jadi merasa bersalah juga saat ia melihat teman-temannya jadi ketakutan dengan deskripsi tentang Rosaline.
"Tak pe. Ini bukan kamu punya mahu, BoBoiBoy," hibur Ochobot. "Mungkin Rosaline boleh belasah harga diri kau. Tapi dia tak kan boleh belasah nurani kau yang penuh kebenaran."
Blaze menyeringai riang mendengar itu. "Wuahhh- Ochobot, terbaik lah kau ni!" Katanya terharu. "Memang lah Rosaline yang ambik kuasa kami guna paksaan."
"Kau benar, Ochobot. Ini bukan mahu aku," jata Gempa senang. "Aku tak ikhlas pun buat bagi diri aku dekat Rosaline. Dia tu ada kelainan jiwa, makanya perilaku dia jadi pelik. Tapi aku tak kan menyerah. Kita kena hentikan dia atau setidaknya selamatkan Ice, Halilintar dan Taufan, apapun yang terjadi! Dan-"
Ia tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba terdengar bunyi kapal besar. Spontan ia dan teman-temannya melihat ke depan dermaga.
(Laalalalaalalalaalalalaaa ... Laaalalalaaalalalaaa …)*
Sebuah Kapal pesiar berukuran sedang tampak menepi ke arah mereka. Warnanya putih keabu-abuan, lampu-lampu kapal itu bersinar terang. Sebuah simbol bulat berisi huruf P berukuran besar terpampang di anjungan bagian atas kapal. Anak-anak kelas 7 Cerdas menganga hebat melihat 'Penampakan penuh Kebenaran' itu.
Blaze mengucek matanya beberapa kali. "Itu Kapal Pesiar? Hebatnya!"
(Laalalalaalalalaalalalaaa … Lalalala … Lalalalaalaaaa …)*
Kapal itu akhirnya menepi ke dermaga dan menurunkan jangkar sementara mereka masih melongo dengan mulut terbuka lebar melihat kapal itu.
"I- Ini ... Ini …" gumam Gopal terbata-bata saking senangnya. "KAPAL PESIAR PAPA ZOLA!?"
(LAALALALAALALALAALALALA … LALALALA ...)*
Tiba-tiba seseorang tampak melompat dari dalam ruang kemudi Kapal dan mendarat di ujung anjungan kapal seraya berkacak pinggang dengan 'gaya penuh Kebenaran' miliknya.
"Siapa yang bersedia untuk berlayar bersama Kebenaran!?" tanyanya lantang, membuat mereka terperangah melihatnya.
(LALALALAAAAAAA!)*
"CIKGU PAPA ZOLA!" pekik mereka serempak. Spontan Papa Zola menatap mereka dari atas anjungan dengan raut wajah tersinggung.
"APA!? Berani kalian panggil kebenaran dengan nama Cikgu!" tukasnya kesal.
"He? Bukannya Anda ni memang Cikgu Papa ke?" tanya Gempa heran.
Papa Zola tertawa. "Hahahahaa- itu kalau kalian berada dekat Sekolah," katanya. "Tapi sebab kalian berada dekat Kapal ni, maka panggilah kebenaran dengan panggilaaaannn: 'KAPTEN PAPA! Hahahahaha!"
"WUAAAHHH- Terbaiklah, Kapten Papa!"
"Sudah! Sampai bila kalian nak berdiri kat bawah tu, Hah!?" Papa Zola tiba-tiba menginterupsi mereka. "Cepat naik! Kebenaran tak suka menunggu."
"Aiyayay, Kapten!" Kata mereka seraya naik ke tangga Kapal pesiar.
Ketika sudah tiba diatas, Papa Zola segera mengabsen mereka.
"Baiklah, anak Kapal Kebenaran," Katanya. "Kapten Papa akan absen nama kalian satu-satu."
Daftar siswa perempuan adalah: Yaya, Ying, Amy, Melody, Melissa dan Mila. Sementara Daftar Siswa Laki-laki adalah: Gopal, Fang, Kevin, Iwan, Stanley, Amar Deep dan dua sisa pecahan BoBoiBoy: Gempa dan Blaze.
"Kejaaaap!" ujar Papa Zola tiba-tiba. "Bukannya kalian masih sisa tiga, wahai BoBoiBoy anak Kebenaran?"
Blaze nyengir hambar. "Ehehe- sebenarnya satu pecahan kami baru sahaja kena culik semalam. Kan Gempa?"
"Betul tu, Kapten Papa," sambung Gempa. "Rosaline culik Taufan semalam. Kami tak mampu selamatkan dia. Maafkan kami."
"HA!? IYA KE, KEBENARAN!?" tanya Papa Zola kaget. "Tak pe, wahai anak muda. Sekejap lagi kita akan selamatkan diorang. Dan selepas tu, kita hajar Rosaline dan rakan-rakan dia sampai K.O.! Hahahahahaa!"
Yaya mendesah lesu. "Tapi Kapten Papa, musuh kita belum nampak semua," katanya cemas. "Cuma Rosaline dan Tengkotak je yang nampak oleh kami. Kita tak tahu berapa jumlah sebenar mereka tu. Dan siapa Ketua mereka pun kami tak tahu."
"Haahh- tinggal cari tahu, apa susah?" tanya Fang kesal. "Korang ni mempersulit betul."
"Fang betul. Kita akan cari tahu pasal tu masa kita dah sampai kat Pulau Apung nanti," kata Ochobot. "Hanya sahaja masalah kita saat ini cuma siasat keberadaan Pulau tu je."
"Jangan risau, Ochobot. Siapa tahu kita jumpa Pulau tu secara kebetulan wo," kata Ying. "Macam kita dahulu masa nak selamatkan kau dari Tengkotak tu, Hihi."
Papa Zola tertawa dan segera bergumam dengan nada tinggi. "Baiklah kalau macam tu. Kita kan berlayar sekarang!"
"Aiyayayay, Kapten Kebenaran!"
Tak lama kemudian, Kapal Pesiar Papa Zola akhirnya meninggalkan Pelabuhan Pulau Rintis dan berlayar ke laut lepas. Seorang Awak kabin kapal telah membagi-bagi Kamar untuk anak-anak kelas 7 Cerdas. Yaya dengan Ying, Stanley dengan Amar Deep, Melody dengan saudari kembarnya Melissa, Blaze dengan Gempa plus Ochobot, Amy dengan Mila, Iwan dengan Kevin, dan yang terakhir Fang dengan Gopal.
Hari telah beranjak siang. Gopal langsung tertidur setelah makan siang di dek Kapal. Fang masih terjaga. Ia sedang asyik bermesraan dengan sebuah Laptop pemberian Kakaknya sebagai hadiah kelulusan SD-nya dulu. Tampak sebuah beranda chat di layar Laptopnya. Dengan lincah Fang mengetik tuts keyboard laptop itu. Berikut isi chat-nya:
Kaizo The Legendary Captain: Hai, Prebet Pang. Lama tak jumpa. Macam mana keadaan kau?
Fang The Shadow Master: Haah- macam tu lah, Kapten. Aku banyak masalah sekarang ni.
Kaizo The Legendary Captain: Hahaha, dasar budak ni. Dah masuk Sekolah menengah kat Bumi pun masih sahaja buat benda kekanakan. Ah, ya. Masalah apa yang kau maksudkan ni?
Fang The Shadow Master: Yah, Kapten tahu sendiri. ONION dah mulai bergerak rupanya.
Kaizo The Legendary Captain: Eh? ONION? Apasal pula diorang dah mulai gerak?
Fang The Shadow Master: Entah. Memangnya Kapten nak begabung dengan diorang ke?
Kaizo The Legendary Captain: Aku?Begabung kat ONION? Tak minat sangat buat pasal tu. Sayangnya diorang dah mulai incar Kapten pula.
Fang tersentak melihat kalimat itu. ONION mulai mengincar atasannya? Untuk apa? Ia harus tahu segera.
Fang The Shadow Master: Apa maksud Kapten ni? Aku tak paham lah.
Kaizo The Legendary Captain: Sori, Pang. Nampaknya Ketua ONION memang nak jadikan aku bahagian daripada Supreme Diamond. Pelik betul. Sampai bila-bila aku tak kan sudi begabung dengan badan pelik macam diorang. Tapi cepat atau lambat, diorang akan hadapi aku.
Entah mengapa Fang merasa ling-lung melihat isi Chat-nya dengan sang Kapten. Sang pemuda berambut ungu menjadi semakin penasaran dengan semua ini. Namun suhu dingin AC di kamar dek tempatnya berada membuatnya mengantuk. Ia segera mengetik lagi.
Fang The Shadow Master: Maaf, Kapten. Saya dah mengantuk ni. Lain masa aku akan bincang dekat Abang lagi.
Kaizo The Legendary Captain: Oh, macam tu. Baiklah. Selamat tidur, Adik sayang.
Fang The Shadow Master: Hish, Kapten ni! Geli lah! Goda aku je masa nak tidur pun. -_- Dah lah. Terima kasih, Kapten Kaizo.
Kaizo The Legendary Captain: Sweet Dream, Little Bro ^_^
Fang menguap perlahan seraya memindahkan Laptopnya dari pangkuannya ke atas sebuah meja kecil di dekat tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Detik berikutnya, anak itu telah terbang ke alam mimpi.
Ah Ming dan Ah Meng tampak berduel di dalam sebuah ruangan besar berbentuk bulat. Ah Ming melompat ke udara dan menerjangkan kakinya ke arah adiknya.
"TENDANGAN NAGA PUTIH!"
"Hmp, Bagus Kak. BUSHIDO SLASH!"
TRANG!
Ah Meng menangkis serangan Ah Ming dengan Pedang Samurai-nya, namun tidak sampai mengiris kaki gadis itu. Ah Ming berdiri di atas pedang itu sebelum akhirnya melompat ke udara dan mendarat ke belakang. Ia menghela nafas seraya merapikan pakaiannya yang agak kusut.
"Hari ni kita cukupkan latihan sampai sini sahaja," katanya. "Dah jam tujuh. Kita kena pergi Sekolah."
"Eh? Bukannya hari ni hari cuti nasional wo?"
"Memang lah cuti. Tapi Sekolah kita tak cuti pun. Nama pun Sekolah unggulan. Dah lah. Jom kita pergi, Meng."
"Haahh- baiklah. Tapi Akak duluan je. Saya masih nak periksakan Pedang saya wo."
"Terserah kau pulak. Aku tunggu kau dekat luar Markas, Ah Meng," kata Ah Ming seraya tersenyum pada adiknya.
Ah Ming pergi keluar dari ruangan itu dan hendak melangkah menuju lift. Tiba-tiba ia berpapasan dengan Rosaline di lorong itu. Keduanya saling memunggungi. Sejenak mereka membisu. Tak lama kemudian, Rosaline angkat bicara.
"Ah Ming, kau masih bersikeras pasal tu ke?" tanyanya tanpa menoleh. Mendengar itu, wajah Ah Ming segera diliputi mendung. Kedua tangannya terkepal kuat.
"Rosaline, dah berapa kali aku bagi tahu kau, aku tak kan bagi Adik aku buat jadi bawahan kau, tahu tak? Kalau kau berani dekati dia, tahu sendiri aku akan lepas diri dari Organisasi. Tuan Ketua pun dah bagi kau peringatan: Sesama ahli Supreme Diamond tak boleh saling kacau."
"Cih, padapun dah lama aku nak kan Adik kau sebagai member askar aku," dengus Rosaline jengkel. "Tapi ancaman kau tu memang tak boleh diremehkan. Aku pun berhutang dekat Organisasi ni. Dan Ketua pun dah larang aku tuk paksa Ah Meng join askar aku, macam korang ni anak emas dia je. Maka dari tu, aku cakap sekali lagi: Bagi Adik kau dekat aku secara baik-baik, dan kita semua impas."
"Tak. Selama aku masih ada dekat sini, jangan berani kau sentuh dia," desis Ah Ming kesal. "Maka dari tu, aku bagi kau budak BoBoiBoy tu je. Dia tu kawan yang pembelot sangat. Aku tak butuh lagi kawan macam dia. Kau boleh ambil BoBoiBoy sebagai member askar kau. Tapi sebagai gantinya, jangan ganggu Ah Meng sampai bila-bila."
"Hah, terserah. Kau ni memang licik, Ah Ming. Bagi aku bahagian yang susah. Tapi aku bosan je. Kali-kali aku nak dapatkan member turunan Alien macam Ah Meng pun."
"Alien, Heh? Asal kau tahu, bukan cuma aku dan Ah Meng je yang punya darah Alien. Di dunia ni masih banyak budak macam tu. Budak Alien macam kami berdua ni pun masih banyak. Tapi jangan Ah Meng pula yang kau nak, Dasar wanita pelik!"
"Habis tu, aku mesti buat apa?"
"Cari sendiri lah!"
"Hish, kau ni memang merimaskan!" tukas Rosaline dengan wajah kusut." Macam mana aku cari budak Alien lelaki langka selain Ah Meng? Kalau sahaja-"
Sebuah figur yang muncul di benaknya membuatnya terdiam.
"Kenapa lagi? Bingung ke?" ledek Ah Ming. Rosaline membisu. Detik berikutnya mulutnya menyeringai serigala selebar mungkin.
"Aku tahu," katanya sinis. "Aku tahu budak tu. Dia mirip dengan kau, Ah Ming. Hanya sahaja dia punya kuasa dari Ochoboy."
"Eh?" Ah Ming mengernyit." Siapa yang kau maksudkan ni?"
Rosaline tertawa nista. "Hahahahahaa! Siapa lagi kalau bukan 'Sang Pengendali Bayang'? Dia cukup menarik, Fufufu, Watak dia yang merimaskan tu memang pas buat jadi member askar aku, Ehehehe."
Gempa terhenyak. Ia berada di sebuah ruangan besar layaknya aula kastil yang biasanya dipakai bangsawan di negeri dongeng untuk berdansa. Tirai-tirai besar bewarna merah menutupi jendela-jendela. Sebuah lampu Kristal raksasa tergantung di tengah-tengah ruangan itu. Ia berdiri mematung di salah satu sudut.
Untuk saat seperti ini, Gempa hanya melakukan satu hal: Mengangakan mulutnya selebar mungkin. Kedua mata kuning emasnya yang secerah lampu jalan itu seakan ikut menganga.
Ini bukan kamarnya, dia tahu itu. Kamarnya tidak semewah ini. Ini pasti kamar Konglomerat!
Oh, Ayolah Gempa. Mengapa pikiranmu jadi ngelantur seperti itu sih?
Sang pengendali tanah melayangkan pandangan ke sekeliling sebuah Piano besar berada di tengah ruangan. Gempa melihat seseorang yang tengah memainkan Piano itu. Melihat keadaan di sekitarnya, sang pengendali tanah pun memutuskan untuk bertanya ke pemain Piano itu. Namun langkahnya terhenti begitu mendengar dentingan tuts Piano yang ternyata tengah dimainkan ditambah suara pemain yang tengah bersenandung.
'Welcome to my world that's painted with sadness'**
'There's no light of sun there you can't hear any sound at all'**
'Here I'm waiting silently for BoBoiBoy'**
'Why you were so cruel, why you left poor me alone'**
(La~ La~ La ~La ~La~ La~ La~ La~)
Mendengar lagu itu, Gempa terpaku di tempat. Pemain Piano itu menyebut namanya?
"Ha- Hai, maaf ganggu," katanya gugup. "Boleh tanya satu soalan tak? Tempat apa ni?"
Namun sepertinya sang pemain Piano tidak mendengar pertanyaan Gempa karena suaranya yang begitu keras dan lantunan Pianonya yang semakin terdengar cepat.
Ya Allah, Gadis ini tuli atau kenapa? Gempa benar-benar ling-lung dibuatnya. Ia masih mematung di tempatnya berdiri.
'Please take me away, I desperately promise to be a good girl, to be worthy as your best friend'**
'I don't need the paints books, the dolls and the dresses'**
'Just tell me, why you've left your old friends and gone?'**
(La~ La~ La~ La~ La~ La~ La~ La~)
Gempa benar-benar syok mendengar lagu itu, seakan sang pemain Piano adalah seorang yang merasa sakit hati karena ditinggalkan oleh seorang teman dekatnya secara tiba-tiba. Ia mengurungkan niat untuk menyapanya dan menunggunya menyelesaikan lagunya. Yah, kalau lagunya selesai hingga seratus tahun pun Gempa akan berusaha untuk bersabar.
Tiba-tiba sang pemain Piano menatapnya, membuat Gempa tersentak kaget. Ia bisa melihat sosok sang pemain Piano dengan jelas. Pemain Piano itu adalah seorang gadis berpakaian gaya Lolita dan kasual. Rambut coklat gelapnya yang pendek sebahu tampak ikal. Sebuah pita tersemat di rambutnya. Ia melototi Gempa seraya terus memainkan tuts Pianonya yang volume suaranya terdengar nyaris melengking.
'Hello you boy with a black and yellow clothes'**
'I liked you from the first sight, I wanna be your friend, Let's play'**
'I've never asked for those kids that you called 'new friends'**
'But I hope you will be staying with me until the end'**
(La~ La~ La~ La~ La~ La~ La~ La~)
Tiba-tiba gadis itu menghentikan lagunya. Ia menarik kedua tangannya dari piano dan memutar tubuhnya ke arah Gempa sepenuhnya.
Sekarang apa?
"BoBoiBoy, akhirnya kau dah balik pun," katanya seraya tersenyum. Gempa memandangnya lamat. Gadis di depannya berdiri dari dudukan di depan Piano dan berjalan hingga ia berhenti di depan pemuda itu. Tangannya terjulur, hendak menjamah Gempa, namun Gempa segera mundur selangkah guna menghindari tangan gadis itu.
"Kau jangan cuba nak pegang-pegang aku," katanya serius." Kita bukan mahram lah. Yaya dan Ying pon tak boleh, apalagi budak asing macam kau. Maaf, tapi ini dah berlaku buat budak awal baligh macam aku, kecuali kalau keadaan mendesak, baru boleh pegang."
Gadis itu tersentak. "Apa!? Hish, pelit betul lah kau ni, BoBoiBoy!" dengusnya. "Dan kau cakap aku ni budak asing!? Sampai hati kau sebut aku macam tu! Nama Yaya dan Ying kau sebut pula! Nama-nama di orang tu dah buat aku sakit hati, Tahu tak!?"
"Lha, aku memang tak kenal kau."
"Hah!? Kau ... kau ni memang benar nak kena!"
"He? Memangnya kau ni siapanya aku?"
"Grr- aku ni kawan lama kau lah! Otak kau tu memang dah dibasuh dekat Pulau Rintis sehingga kau dah lupakan aku dan kawan-kawan lama kau!"
Sepertinya dia memang terlalu sentimental. Gadis yang malang.
Gempa melongo. "Teman lama?" tanyanya heran. "Macam tak ingat pon. Pelik, kau ingat aku tapi aku tak ingat kau."
"Ergh, kalau macam tu, aku tak de pilihan lain!" Tukas si gadis berang. "Aku tak boleh maafkan kau! Ambik ni!"
WRRRRRRRRRRR!
Sekonyong-konyong gadis itu mengeluarkan sebuah Gergaji listrik berukuran besar dan mengacungkannya pada Gempa seraya menyeringai.
"Masanya kau jadi bahagian dari koleksi Istana patung aku, BoBoiBoy. Itu balasan yang setimpal buat kawan tak kenang budi macam kau!" katanya dengan wajah senang, nyaris seperti orang gila. Gempa melotot dan hendak menghindar, namun ajaibnya tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia memekik kaget.
"A- Apa kau nak buat ni!?"
Bagus. Sekarang dia benar-benar ketakutan. Dan gadis di depannya itu sepertinya butuh pengobatan jiwa. Gadis manis cilik dengan Gergaji? Dia pasti bercanda, Gempa.
"Aku? Nak buat apa? Hahahaha! Aku nak kau jadi koleksi patung manekin aku," kata gadis itu seraya mengangkat gergaji itu tinggi-tinggi di atas kepala Gempa. "Jadilah Karya-ku yang terbaik, Gyahahahaa! RASAKAAANNN!"
"Hah!?"
Gempa menatap horror begitu Gergaji itu diayunkan ke atas kepalanya.
"JA- JANGAAAAANNN! ALLAHUMMAKAMIL! TIDAAAAAAAKKKKK!"
Ia berteriak keras-keras dan hampir melompat dari tempat tidurnya, membuat Gopal dan Blaze yang saat itu tengah bermain game di kamar dek Kapal 'Kebenaran' itu terkejut dan menoleh ke arahnya.
"BoBoiBoy, kenapa kau?" tanya Gopal seraya mem-pause game-nya. Dilihatnya Gempa yang masih syok akibat mimpi buruk yang dialaminya tadi dan masih mematung di atas tempat tidurnya dengan wajah tegang.
"Kau tak pe, Gempa?" Blaze mendekati pecahannya itu. "Kau macam Taufan dan Halilintar je masa dibangunkan beberapa hari lepas. Diorang jerit-jerit macam ni pula."
Gempa merinding. "Aku ... Aku mimpi benda pelik tadi," katanya muram.
"Ha!? Jangan cakap kau mimpi kuasa kau disedut Rosaline, BoBoiBoy!" pekik Gopal khawatir.
"Hish, kau ni Gopal! Mana ada aku mimpi macam tu?!" tukas Gempa kesal. "Dibayangkan pun dah mengerikan sangat, apalagi kalau seandainya memang berlaku! Hiiii- tak nak lah!"
"Dah lah, Gopal. Gempa masih ketakutan. Kan? Kan?" Kata Blaze lalu menatap BoBoiBoy pengendali tanah di depannya. "Memangnya kau mimpi apa?"
Gempa menelan ludah. "Aku … Aku mimpi berada dekat sebuah ruangan besar, macam ruang pesta dansa," jelasnya setelah merasa dirinya mulai tenang. "Dan aku jumpa seorang gadis dekat sana. Dia main Piano dan bernyanyi. Lagu dia pelik pun, macam budak kesepian yang ditinggal pergi kawan baik dia. Lepas tu dia cakap dekat aku kalau dia jeles dekat kawan-kawan aku kat Pulau Rintis. Lepas tu dia marah dan ambil Gergaji. Dan gilanya, dia ayunkan Gergaji tu kat kepala aku! Hiihhh- nasib baik aku langsung bangun."
"AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!" Kini giliran Gopal dan Blaze yang berteriak dan saling berpelukan karena ngeri. "PSIKOPAT SANGAT! Siapa dia!?"
"Entah. Peliknya, dia tahu nama aku ni BoBoiBoy, tapi aku macam tak kenal dia," kata Gempa lesu. "Nasib baik itu cuma mimpi. Dan satu lagi. Dia kata kalau dia nak jadikan aku koleksi dekat Istana Patung dia."
"Apa!? Patung!?" tukas Gopal ketakutan. "Dia tu macam watak game yang aku dan BoBoiBoy Blaze mainkan tadi. Tapi tak jadi sebab game tu mengerikan sangat!"
"Eh? Iya ke? Mana game tu?"
"Kejap." Blaze mengambil sesuatu di dalam tas Gopal dan menunjukkannya pada Gempa. Sebuah disket mini bertuliskan dua kata: 'M*d Father'.
"M*d Father?" Gempa mendesis heran. "Game macam apa tu?"
"Hah!?" Gopal tersentak dan segera menutup jendela kamar dan menggeser tirai serta mengunci pintu kamar sehingga kamar itu gelap, membuat kedua pecahan BoBoiBoy itu terheran-heran.
"Eh? Apasal kau-" Blaze hendak memprotes namun Gopal segera membekap mulutnya dan menatap dengan wajah tegang.
(Musik seram pun diputarkan)
"Duluuu ... Sebuah rumah dekat Jerman dihuni oleh satu keluarga," ucap si gembul berdarah India itu dengan gaya bicara yang menurutnya menyeramkan. "Tiga tahun pertama, mereka bahagia. Namun selepas empat tahun-"
.
.
.
(Satu Jam kemudian …)
.
.
.
"Haaaa… sebab tu lah kenapa dia nak tukar orang ramai jadi Patung," kata Gopal bangga seraya menyelesaikan ceritanya. "Minda dia dah terkontaminasi dengan paham 'pengawetan keindahan' tu. Faham tak?"
"Haeh- macam mana kau dapatkan maklumat game tu?" tanya Gempa dengan wajah bingung. "Kau kata kau tak nak main game tu sebab menyeramkan."
Gopal menyeringai malu. "Ehehe- Appa aku yang cakap. Dia kan dah pernah tengok game ni sebelum bagi tahu kat aku."
"Oh, kalau macam tu, kita tengok sahaja game ni!" pekik Blaze riang seraya menaruh disket itu di perangkat game. Tiba-tiba Gopal mencegatnya.
"Jangan, BoBoiBoy!" katanya memohon. "Game ni seram sangat! Jangan mainkan, Huhuhuuu-"
"Lha, kalau tak tengok, macam mana kita nak tahu apa isinya?" tanya Blaze heran. "Kau dah cegat aku tadi, tapi nyatanya aku tambah penasaran. Dah lah. Jom kita tengok apa isi game ni!"
Blaze memasukkan piringan game itu ke perangkat dan menyalakannya. Gopal segera bersembunyi di belakang Gempa dengan jantung berdebar-debar. Tak lama kemudian, mereka melihat apa isi game itu dan memainkannya. Namun di tengah permainan, mereka segera berhenti memainkan game itu dengan wajah pucat yang menunjukkan kengerian nyaris mendekati seratus persen.
"Hiiiiiiii- tak kuat aku! Banyak darah disana-sini. Keluar sahaja dari game ni lah!" Tukas Blaze ngeri.
"Iye. Tak elok ditiru ni," ujar Gempa seraya mengelus-elus dadanya karena tegang. "Gopal, kau setuju ke? Eh?"
Ia dan Blaze memandang Gopal. Anak india itu melototi game di depannya dengan wajah horror. Detik berikutnya ia berteriak keras-keras.
"HUWAAAAAAAAAA! BUANG JAUH-JAUH GAME NIIIII! MENGERIKAN SANGAAAAAATTT! Huhuhuu …"
Gempa menepuk kepalanya. "Siapa suruh bawa-bawa game pelik macam ni pulak?"
Taufan membuka matanya. Ia mengangkat kepalanya dan celingak-celinguk ke seluruh bagian ruangan tempatnya ditahan. Ia menoleh ke samping. Dilihatnya Halilintar yang memandangnya dengan wajah lega.
"Taufan! Syukurlah kau dah sedar," katanya. Taufan terkejut dan hendak beranjak. Namun ia sadar kedua tangannya dan kakinya terborgol ke tengah salah satu dinding ruangan dimana ia berada.
"Hehehe, aku tak pe, Halilintar," katanya senang. "Hanya sahaja leher aku terasa sakit."
Halilintar mendengus. "Leher kau tu dah digigit Rosaline, tahu tak?" tukasnya jengkel. "Nasib baik Ice selamatkan kau tadi."
"Eh? Betul ke tu?" Taufan tercengang. Tiba-tiba bayangan saat Rosaline mengigit lehernya kembali menghantuinya, membuat bulu kuduk sang pengendali angin berdiri. Wajah cerianya berganti dengan wajah mengidik, membuat Halilintar heran.
"Kenapa kau, Taufan?" tanyanya. Taufan menggelengkan kepalanya keras-keras guna menghilangkan tindakan mengerikan yang dilakukan Rosaline dari benaknya. Namun hasilnya nihil.
Gigi taring Rosaline itu lebih mengerikan dari yang dibayangkan, saudara-saudara. Taufan merasa hendak mencair saat itu juga saking merindingnya.
"Taring dia tu dah macam taring Vampir dah," kata Taufan muram. "Taring Vampir yang diasah batu obsidian selama bertahun-tahun! Sakit betul gigitan dia tu! Lagi seram dari Biskut Yaya tau! Hiiiiihhh!"
Halilintar melongo mendengar penuturan Taufan itu. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya pecahannya itu membandingkan gigi taring Rosaline dengan Biskuit Yaya. Dipandangnya Ice yang berada di sisi lain ruangannya. Pengendali es itu tampak tertidur. Mungkin karena dia terlalu banyak mengeluarkan energi untuk menyelamatkan Halilintar dan Taufan dengan serangan Keris es miliknya, ditambah dialah yang paling pertama diambil kekuatannya oleh Rosaline sehingga membuat tubuhnya lemas sekali. Halilintar memaklumi pecahannya yang santai itu memang butuh istirahat sekarang. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Dipandangnya lagi Taufan yang sudah menenangkan dirinya kembali.
"Eh, Taufan. Kawan-kawan kita … apa yang akan diorang perbuat?" tanyanya segera. Taufan menyeringai lebar mendengar itu.
"Oh, jangan risau, Halilintar. Diorang kini sedang dalam pengembaraan kemari. In Shaa Allah diorang akan bantu kita untuk lawan ONION!"
"Hmm- Ye lah tu," desah Halilintar. "Diorang pergi dengan Papa Zola ke?"
Taufan mengangguk. "Yup! Cikgu Papa kata dia akan pesiar dekat sini dengan semua murid kelas 7 cerdas! Dan bernasnya lagi, Cikgu Papa punya Kapal pesiar plus armada buat berwisata!"
"Ha? Biar betul!?" tukas Halilintar kaget. "Bila masa Cikgu Papa Zola punya Kapal Pesiar!? Dia tak pernah cakap pon kalau dia punya Kapal Pesiar. Kau tak berdusta, kan?"
"Aku serius! Sebab kebenaran tak pernah berdusta," kata Taufan sembari meniru gaya bicara Papa Zola. "Cikgu Papa yang cakap pasal tu semalam. Semoga sahaja mereka segera jumpa tempat ni dan bantu kita keluar dari sini segera!"
"Dan kalahkan Organisasi ONION ni. Jangan lupa pasal tu, Taufan."
"Ehehe … sori, Halilintar. Aku lupa-"
Kalimatnya terputus begitu ia dan Halilintar melihat seorang gadis di ambang pintu ruangan dimana Taufan berada. Kedua pecahan BoBoiBoy yang masih siuman itu terkejut. Taufan ingat, gadis itu yang muncul di dalam mimpinya seraya menyumpal biskuit Yaya ke dalam mulutnya. Begitu pula Halilintar yang teringat dengan perihal mimpinya dimana gadis itu memecahkan balon di dalamnya yang membuat sang pengendali petir menjerit-jerit seperti orang fobia. Namun tampaknya si gadis hanya fokus ke Taufan. Keuntungan bagi Halilintar, karena setelah diserang oleh Rosaline membuat pembawaannya menjadi semakin sensitif.
Untuk beberapa saat sang gadis mematung. Sekonyong-konyong ia berlari ke arah Taufan dan menepuk pipi Taufan, membuat pecahan elemen angin itu kekeran.
"BoBoiBoy! Aku rindu sangat dekat kau, tahu tak?" kata si gadis. "Biar kau dah pecah lima pun aku tak peduli. Kau tetap kawan baik aku, Kan? Kan?"
"Ehhh- Ehhehhh…" Taufan terangap-angap. Diliriknya Halilintar yang masih melongo hebat seakan berkata "Apa-apaan ini?"
Taufan mendesis. "Uhh- maaf, tapi kita bukan mahram. Jangan tepuk pipi aku," katanya malu. "Dah cukup Rosaline yang belasah harga diri aku. Kau nak belasah harga diri aku jugak ke?"
Gadis itu terkejut. Ia menatap Taufan tanpa melepas rangkulannya.
"Belasah harga diri kau?" tanyanya heran. "Kau ni kawan aku lah. Mana boleh aku belasah harga diri kau?"
Halilintar mendengus. "Padahal kau seorang pula yang tepuk pipi dia," tukasnya sebal. Spontan si gadis menoleh ke arahnya.
"Ohh- kau nak aku tepuk juga, haa?"
"Ekh!? Tak! Tak nak!"
"Hah, tahu takut? Kau ni memang pelik, BoBoiBoy. Dah berpecah pun masih boleh protes," dengus gadis itu seraya menjauh dari Taufan. "Aku masih tak faham kenapa kau boleh berpecah lima, walaupun aku belum tengok dua sisanya."
Halilintar menatapnya lamat. "Tak payah kau tahu benda tu," katanya dingin. "Aku hanya nak tahu siapa diri kau ni. Macam mana kau tahu nama aku?"
"Iye. Kenapa kau tak tolong lepaskan kitorang je?" Taufan ikut-ikut bertanya. "Kalau kau memang kawan aku, mestilah kau dah bantu kitorang keluar dari sini."
Si gadis tertawa kecil. "Haeh, korang ni. Aku memang tak nak buat benda jahat kat korang," katanya seraya mendekati pintu. "Tapi bukan berarti aku nak tolong korang pula. Kau boleh pecah lima … bahan penelitian yang bagus. Aku perlu revisi beberapa pasal buat sesuatu yang hebat. Sebab aku-"
Serta merta ia memandang Halilintar dan Taufan dengan pandangan menyeramkan.
"Sebab aku nak jadikan kau karya aku, BoBoiBoy. Hihihi- Sampai jumpa."
Ia berkata begitu dengan nada suara ceria sembari keluar dari ruangan itu, sukses membuat kedua pecahan BoBoiBoy itu merasakan sebuah firasat buruk.
"Halilintar," kata Taufan seraya menelan ludah. "Aku tak faham lah apa yang dia cakapkan barusan. Tapi nampaknya ada yang dia cakap tu terdengar cukup menyeramkan."
"Cih, dia nak jadikan BoBoiBoy karya dia?" Halilintar mendesis. "Dia ingat kita ni barang ke? Karya konon, macam kita ni arnab percobaan dia je."
"Habis tu, dia nak buat apa dekat kita ni?"
"Hih, Apasal pula kau tanya soalan tu dekat aku? Aku tak tahu apapun lah!"
"Hehe, sori. Tak payah kau sensitif macam ni pula."
"Yang jelas gadis tu bukan budak baik-baik," kata sebuah suara tiba-tiba. Halilintar dan Taufan menoleh. Ternyata Ice yang mengatakannya.
"Eh, Ice! Kau dah bangun?" tanya Taufan riang. "Kau tengok gadis tu ke?"
Ice mendesah datar. "Aku jumpa dia dua hari lepas," katanya. "Dia bukan berada kat pihak kita. Korang kena waspada. Aku rasa dia punya hubungan khusus dengan ONION ni. Walaupun penampilan dia macam polos dan cakap kalau dia tu kawan lama BoBoiBoy, tetap sahaja aku curiga dekat dia. Dan-"
Sosok Rosaline yang tahu-tahu muncul di ambang pintu memotong kata-katanya. Spontan ia dan kedua pecahannya memandang dengan tatapan sebal ke arah wanita itu.
"Korang tengah berbincang ke?" tanyanya sinis. "Hah, memang budak-budak macam korang ni kritis sangat. Maaf kalau mengganggu. Tapi boleh ke aku lanjutkan pasal rekrutmen dekat korang? Ehehehe."
Ketiga pecahan BoBoiBoy di depannya langsung diliputi awan mendung setelah ia mengucapkan itu.
"Tak nak! Kau tu macam Vampir lah!" Protes Taufan tanpa menyadari dampak kata-katanya itu. Langsung saja Rosaline menerjang ke arahnya dan menyentak kepala Taufan. BoBoiBoy pengendali angin itu langsung meringis hebat. Dia nyaris mengira bahwa kepalanya akan retak karenanya.
"TAUFAN!" Halilintar dan Ice memekik melihat kejadian itu. Yah, Taufan memang bermulut pedas. Sudah beberapa orang yang menjadi korbannya, termasuk Halilintar saat Taufan memperoleh fase keduanya setelah memakan Biskuit Yaya yang terkontaminasi ramuan X dari Adu Du hingga membuatnya ceria bak orang gila. Sayangnya kini korban mulut pedasnya tidak seimbang dibandingkan dirinya.
"Jaga mulut kau!" Tukas Rosaline berang." Bila masa aku ni macam Vampir, Hah!? Budak kurang asam!"
"Ergh ... tapi itu memang lah fakta ..." ringis Taufan. "Dah tu, yang kau gigit leher aku tadi tu apahal kalau bukan tebiat Vampir? Lepaskan kepala aku ... kau nak aku gegar Otak ke?"
Rosaline mendengus. Dilepasnya cengkeramannya dari kepala Taufan dengan kasar. Ia tersenyum gila melihat Taufan kesakitan, seakan menikmati keadaan sang manipulator amgin yang tersiksa. Tiba-tiba sebuah sosok berseru di depan pintu.
"Rosaline, aku punya tugas buat kau sekarang."
"Eh?"
Rosaline menoleh ke arah pintu diikuti ketiga pecahan BoBoiBoy itu. Terlihat sesosok pria di depan pintu. Rambut hitamnya dihiasi beberapa helai rambut putih keabuan layaknya Sigung. Ia mengenakan setelan jas berwarna coklat tua dengan dasi berwarna strip merah dan kuning. Penampilannya tampak seperti orang Kantoran pada umumnya. Sebuah Cincin berbatu giok kemerahan dengan model unik menghiasi tangan kanannya. Wajah kebapakannya dihiasi kacamata berlensa kotak. Halilintar dan Taufan terkejut melihat sosok itu. Ice terperangah seraya bergumam.
"Kau!?"
Sosok itu tertawa. "Hahaha, jumpa lagi dengan aku, BoBoiBoy," katanya. "Maaf sebab dah ganggu pasal kau, Rosaline. Tapi aku punya tugas penting buat kau sekarang."
"Tugas apa?" Tanya Rosaline dingin.
"Pihak radar menangkap posisi sebuah kapal tak jauh dari Pulau Apung," kata lawan bicaranya. "Sebuah Kapal Pesiar, tapi mencurigakan. Aku nak kau halau Kapal tu agar tak dekati Pulau Apung. Keberadaan Sektor 456 ni boleh terbongkar kalau diorang datang ke Pulau tu."
Rosaline mendengus. "Haahh- ye lah. Kau ni banyak mahu betul, Ketua," tukasnya berang seraya berjalan keluar ruangan itu. Sosok lelaki itu terkekeh dan mengikutinya dari belakang. Namun sebelum keluar, ia mendelik ke arah ketiga pecahan BoBoiBoy di ruangan itu dengan senyum mengembang.
"Jangan risau. Sekejap lagi kau akan berguna buat Organisasi ini, BoBoiBoy."
Ia meninggalkan ruangan itu sembari tertawa lepas. Halilintar melongo. Taufan menaikkan alis bingung. Ice memandang datar namun seluruh tubuhnya menegang.
"Siapa Pakcik tu?" tanya Taufan tiba-tiba. "Manusia ke? Macam Bapak-Bapak pun."
"Entah. Tapi nampaknya dia pun bahagian daripada ONION," timpal Halilintar. "Buktinya dia boleh berbincang dekat Rosaline sambil lalu."
"Kau benar, Halilintar. Dia ialah Ketua kesembilan puluh Sembilan daripada Organisasi," kata Ice tiba-tiba, membuat Taufan dan Halilintar tersentak.
"Hah?! Dia Ketua ONION!?" tukas Halilintar berang. "Kenapa kau tak cakap awal-awal? Aku nak belasah dia sampai impas, tahu tak!?"
"Hehe, maaf," kata Ice malu-malu. "Tapi kita tak boleh buat apa pun untuk masa ni. Aku dah pernah berbincang dengan dia satu kali masa aku awal kena tangkap dahulu. Dan gilanya, dia tu ialah salah sorang kawan lama Ayah!"
"Apa!? Dia kawan lama Ayah!?" ujar Taufan kaget. "Siapa nama dia?"
Ice mendesah panjang." Nama dia tu-"
Di ruang kendali Kapal pesiar Kebenaran, seorang Juru mudi dan Papa Zola tengah mengendalikan laju Kapal. Tiba-tiba Yaya dan Mila masuk ke ruangan itu.
"Kapten Papa, sebenarnya posisi kita dah berada kat mana?" tanya Yaya bingung. "Dah satu hari penuh kita berlayar."
Mila mengangguk. "Betul tu," katanya. "Pulau Apung pon belum kita jumpa."
"Tak pe, wahai anak muda. Radar Kebenaran dah menangkap posisi Pulau tu," kata Papa Zola senang." Sekarang kita tengah melintas kat Samudra Pasifik! Hahahaha!"
"HAH!? SAMUDRA PASIFIK!? Memangnya posisi Pulau tu dah ada dekat mana?"
Sang Juru mudi ikut menoleh dengan tersenyum. "Jangan risau, dik. Pulau tu dah dekat pon. Sekarang posisi dia dah berada kat tengah-tengah Samudra Pasifik. Kiranya dua jam lagi kita akan sampai."
"Benar sekali, Wahai Juru mudi Kebenaran," ujar Papa Zola dengan gaya heroiknya. "TERUSKAN PELAYARAN! JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN PENUH KEBENARAN!"
Sementara itu diluar ruang kendali, Ying dan Amy tengah melepas lelah di buritan Kapal Pesiar Papa Zola. Tiba-tiba mereka menemukan Fang yang tampak sedang berkutat dengan Laptopnya.
"Aik? Apa yang kamu buat tu, Fang?" tanya Ying penasaran. Fang menoleh ke arah dua gadis itu dengan tatapan cuek.
"Hih, korang ni. Nak tahu je apa yang aku buat," dengusnya kesal. "Macam tak de kerjaan."
"Aiya, kita dah seharian berada kat atas lautan. Bosan ma," tukas Ying. "Bagi kitorang tengok Laptop kau tu, boleh tak?"
"Tak boleh! Korang ni sok sibuk je dekat diri aku." Fang semakin melindungi laptop itu di dadanya. "Biarkan aku sendiri."
"Hiih, sombongnya!" Kata Amy kesal. "Lama-lama peminat kau bakal menjauh kalau sifat kau terus macam ni."
Fang mendengus. "Aku tak de urusan dengan korang."
"Ei, kenapa korang ni?" Ochobot tiba-tiba muncul di sebelah Fang. "Pagi-pagi dah bising."
"Si Fang ni, Ochobot. Pelit sangat!" cibir Ying. "Dia tengok sorang je kat isi Laptop tu. Saya dan Amy kan cuma nak tengok pula wo."
"Hiissh- tengok privasi orang tu tak sopan tau!" tukas Fang berang. "Korang nak aku belasah, heh? Jaga koran-"
Dia menyadari bahwa Laptopnya sudah tidak ada di dekapannya. Rupanya Ochobot menyambarnya dan terbang ke langit, mengacung-acungkannya disana.
"Heheheheheee- kena kau, Fang!" tukas robot kuning itu jahil. Si pemuda cina alien langsung menatap horor melihat itu.
"Oi, Ochobot! Bagi balik Laptop aku!" tukasnya marah. "ELANG BAYANG!"
WOOOOSSSHHH!
"Bagi balik Laptop aku, Ochobot!"
"Haha tak kena! Tangkap aku kalau bisa, Fang!"
Elang bayang milik Fang memburu si robot bola dengan ganasnya. Ochobot terbang seraya membawa Laptop Fang ke atas tiang bendera Kapal. Ia bersembunyi ke belakang buritan dan melihat isi Laptop Fang. Spontan kedua mata biru lautnya melotot.
Di layar monitor Laptop Fang tampak background sebuah gambar dengan sebuah tulisan di bawahnya: Fang's Wedding.
Oh, sepertinya Fang sudah membayangkan bagaimana acara pernikahannya kelak. Bagus, nak. Masa depan yang hebat! Namun tidak sehebat dengan apa yang melintas di pikiran Ochobot saat itu. Sang Sfera kuasa melotot hebat begitu melihat calon Pengantin wanita yang sudah dibayangkan Fang di gambar tersebut.
Sang calon Pengantin memakai bando dengan bunga-bunga bewarna putih dan kuning di atas kepalanya yang begitu manis, semanis gula aren. Sebuah kain Pengantin menjulur dari bando itu. Wanita itu cantik sekali, atau bisa dikatakan gambar Fang yang tengah ber-selfie dengan calon istri idamannya itu. Ia memegang sang Pengantin wanita di tangannya. Kenapa dipegang di tangan? Yah, ukuran tubuh sang calon istri ternyata begitu mungil sehingga muat di genggaman tangan si pemuda berambut ungu landak. Fang tersenyum mengembang dengan baju setelan jas a la Pengantin barat. Dia terlihat begitu bahagia bersama calon istri imajinernya. Ohoho, begitu mengharukan.
Satu hal yang patut dipertanyakan dari gambar itu. Apakah Fang masih waras dengan calon istrinya yang seperti itu?
Ya, siapa lagi kalau bukan Donat Lobak Merah?
"GYAAAAAAAAAAAAAA!"
Ochobot menjerit melihatnya, pembaca yang budiman. Sayangnya waktunya tidak tepat. Saking kagetnya, tanpa sengaja ia melempar Laptop itu ke laut.
"TIDAAAAAKKK! LAPTOPKUUUU!" jerit Fang histeris. Tangannya berusaha menggapai Laptop malangnya itu dengan gaya slow motion. Namun apa mau dikata, sang Laptop sudah tercebur dengan naas-nya ke laut biru yang membentang luas. Fang masih berlutut di Buritan Kapal dengan wajah tidak percaya.
"Ehehehe- sori, Fang. Aku tekejut masa tengok gambar kau dekat layar Laptop tu," kata Ochobot dengan mata menyipit tanda menyeringai. Sekonyong-konyong Fang mendelik ke arahnya dengan wajah sangar.
"Kau- MARI SINI KAU, OCHOBOT! HARIMAU BAYANG!"
"GROAAAAAAAAAAAARRRR!"
"AAAAAAHHHH! AMPUN, FANG! AMPUUUUUUNNN!"
"KENAPA KAU BALING LAPTOP AKU KAT LAUTAN, HAH!?"
"Aku tak sengaja, huhuhuuu … jangan belasah aku, huhuuhuu … dan apasal kau nak kahwin dengan Donut Lobak Merah? Kau dah gila ke? Kau- AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!"
Ying dan Amy hanya menatap Sweatdrop melihat Ochobot dan Fang yang saling kejar-mengejar di buritan kapal.
"Haiya, apasal pulak Fang nak kahwin dengan Donut Lobak Merah ke?" tanya Ying bingung. "Macam tak de perempuan yang dia sukakan wo."
"Nasib baik dia macam tu la," ujar Amy. "Kalau dia suka sesama jenis, bisa gawat!"
"Aih, dia pun macam pondan masa kena tembakan pistol emosi Y kat sekolah rendah dahulu ma," balas Ying pasrah. "Tapi tetap pon dia kurang waras kalau macam tu. Kahwin dengan perempuan tu lagi baik daripada kahwin dengan makanan."
"Memang patut buat- Eh kejap, Ying. Kau tengok tu!" Amy tiba-tiba menunjuk ke garis khayal lautan di depan Kapal. Ying menoleh dan menjerit. Sebuah angin tornado tampak muncul dari sebuah Pulau dari kumpulan Pulau Apung tak jauh di cakrawala.
"Ayak! Ada badai wo!" pekik Ying. Ochobot dan Fang segera menghentikan kejar-kejaran mereka dan ikut tertegun. Spontan Ochobot terbang ke atas ruang kendali dan berteriak.
"Kapten Papa! Ada badai kat depan Pulau Apung!"
"Haaaaahhh!? Iya ke, Kebenaran!?" pekik Papa Zola panik lalu menoleh ke sang Juru mudi Kapal pesiar. "Wahai Juru mudi Kebenaran, elakkan Kapal Pesiar ni sekaraaaannnggg!"
"Aiyayay, Kapten!" tukas sang Juru mudi seraya banting setir. Segera saja Kapal pesiar itu menikung ke samping, berusaha menghindari badai itu. Di ujung Pulau Apung tampak Rosaline yang berdiri di atas tebing. Ia tersenyum dan menggumam.
"Korang ingat korang boleh lari? Kuhuhuu- tak guna betul. Ambik ni: HEMBUSAN ANGIN UTARA HALILINTAR!"
WUUUUUUUUUSSSSSSSSSS!
Badai itu semakin menggila ditambah angin kencang, salju dingin dan petir yang menyambar-nyambar seraya menghempas ke arah Kapal Papa Zola. Juru mudi kapal pesiar Papa Zola tampak kewalahan. Serta merta roda kendali Kapal yang dipegangnya patah, membuat Papa Zola memekik horor.
"TIDAAAAAAAAAAKKK! Macam mana Kebenaran nak berlayar!? Ibuuuuu! Ibuuuuu!"
Papa Zola menjerit-jerit. Sang Juru mudi hanya bisa memandang ngeri begitu melihat badai yang semakin menggila di depan mereka. Yaya dan Mila berpegangan pada dinding ruang kendali. Ombak-ombak raksasa terombang-ambing dengan dahsyatnya. Langsung saja Gopal yang sedang main game di dalam kamar dek-nya merasa mual. Perutnya terasa bergejolak. Ia segera mengambil kantong muntah dan kabur ke kamar mandi. Gempa merapat ke tempat tidurnya. Blaze terhuyung-huyung di lorong kapal, berusaha menggapai pintu keluar. Fang memeluk Ochobot seraya meringkuk di sudut dan Amy serta anak-anak lainnya berpegangan pada apapun yang ada di dekat mereka guna menghindari tubuh mereka terlempar dari atas Kapal. Para armada Kapal berusaha menenangkan mereka. Tiba-tiba salah satu dari mereka memekik.
"ADA OMBAK RAKSASA KAT HADAPAN KITA!"
"HAH!?"
Serentak semuanya memandang ke arah depan kapal. Sebuah ombak besar nan tinggi yang besarnya hampir sebesar Tsunami menyapa mereka. Papa Zola langsung pingsan sementara Sang Juru mudi melompat ke anjungan Kapal untuk menyelamatkan beberapa anak yang ada disana. Blaze yang baru saja tiba disana menganga melihat ombak itu. Sang Juru mudi hendak menariknya ke tempat yang aman, namun Blaze sudah terlanjur berlari ke arah ujung anjungan yang runcing sembari melompat dan mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Sebuah kobaran api raksasa muncul di tangannya. Ia berteriak sambil mengarahkan tinjunya ke ombak itu dengan sekuat tenaga.
"BLAZE MEGA PUNCH!"
SPLAAAAAAAAAASSSSHHHHHHH!
Ombak itu pecah di depannya, menciptakan hujan di depan anjungan. Kapal pesiar Papa Zola berhasil melewatinya. Blaze segera menggigil hebat karena bajunya yang sudah basah kuyup akibat terkena siraman ombak. Gopal dan Gempa yang baru saja keluar dari dalam kapal segera menghampirinya.
"Blaze, kau tak pe?" tanya Gempa khawatir. "Masuk sahaja ke dalam bilik Kapal. Baju kau basah. Kau bisa sakit!"
Blaze menggeleng. "A … Aku … Ba … ik … sa ... haja …" katanya putus-putus karena menggigil. Giginya bergemeretuk. Ia berusaha menghangatkan dirinya dengan membuat uap-uap kecil di sekitar tubuhnya. Gopal memberinya handuk besar dan mengalungkannya di sekeliling tubuh sang manipulator api. Tiba-tiba ia merasa Kapal itu terangkat ke langit.
"Eh? Siapa yang buat Kapal ni terbang?" tanyanya heran. Dilihatnya Yaya yang menempelkan tangannya ke lantai ruang kendali. Gadis itu berteriak.
"KUASA PERINGAN GRAVITI!"
Serta-merta Kapal itu terbang ke udara. Yaya menoleh ke arah mereka dengan tatapan penuh ide.
"BoBoiBoy! Berlayar dekat lautan lagi berbahaya masa ada badai macam ni! Kita kena lewat udara buat hindari ombak besar!" katanya segera. Gempa yang melihat itu segera menitipkan Blaze pada Gopal dan pergi ke Buritan dimana Fang dan Ying berada.
"Nampaknya aku faham dengan idea Yaya sekarang," katanya. "Fang, kau buat Sayap Kapal terbang dan tuas kendalinya dari bayang tuk keseimbangan kalau ni Kapal dah terbang nanti. Ying, kau lajukan kecepatan kapal ni masa kita dah terbangkan Kapal ni lewati badai. Aku, Mila, Blaze dan Gopal akan jaga-jaga dekat anjungan."
"Umm!" Angguk dua anak bermata sipit itu. Fang segera melompat ke dalam ruang kendali dimana Yaya berada. Direntangkannya kedua tangannya ke samping sembari berteriak.
"SAYAP KAPAL BAYANG!"
Sepasang sayap Pesawat yang terbuat dari bayangan muncul di sisi kiri dan sisi kanan Kapal pesiar yang terbang di udara itu. Sebuah tuas Pesawat yang terbuat dari bayangan muncul di depan Fang. Mila terhenyak dan segera menyikut Gopal.
"Gopal, kau tukarkan semua bahagian Kapal pesiar ni dengan Aluminium!" katanya. "Aluminium boleh tahan sambaran petir. Kapal terbang pon boleh tahan dengan benda tu."
"Okey!" Angguk Gopal lalu mengeluarkan kekuatannya. "TUKARAN ALUMINIUM!"
Bahan Kapal pesiar itu segera berubah menjadi Aluminium. Fang melihat ke arah Gempa di anjungan. Gempa mengangguk. Segera saja Fang mendorong tuas pesawat bayangan itu.
"KUASA SAYAP BAYANG!"
Langsung saja Kapal pesiar itu terbang melesat ke depan. Ying menepuk tangannya ke lantai buritan.
"TERBANGAN LAJUUUU!"
WUUUUUUUUUUSSSSSSSS!
Kapal pesiar itu terbang dengan kecepatan penuh melewati badai menuju Pulau Apung. Rosaline mendecih. Disapukannya kedua tangannya ke udara.
"PUSARAN TAUFAN!"
Puluhan pusaran topan muncul di sekitarnya dan melesat dengan ganasnya menuju Kapal Pesiar Papa Zola. Fang segera berteriak.
"Pegangan Kuat-kuat! Kita akan lewati angin tu guna gerakan Zig-Zag!" katanya seraya menyentak tuas Pesawat bayangnya. "KELAJUAN PENUH!"
Serta-merta Kapal pesiar itu terbang ulang-alik melewati pusaran-pusaran topan di depannya. Namun begitu jarak antara mereka dan Pulau Apung tinggal beberapa kilometer, sebuah pusaran tornado raksasa muncul di depan mereka. Fang buru-buru mengerem Kapal pesiar sementara Gopal dengan ketakutan yang luar biasa menembakkan peluru molekul ke pusaran tornado itu.
"TUKARAN WAFER TWISTER!"
SRIINNGGG!
Langsung saja pusaran tornado itu berubah menjadi ribuan wafer roll Twister rasa Cokelat dan Vanilla yang menghujani mereka. Blaze melihat itu dengan mata berbinar-binar. Ia segera memekik senang dan berjingkrak seraya membiarkan dirinya ditimpa wafer-wafer roll mini itu.
"Wuaaahhhh! Banyaknya wafer Twister, Hahahahaaa!" katanya riang seraya menjatuhkan dirinya ke lantai anjungan dengan ribuan wafer twister di sekelilingnya. "Terbaik lah kau ni Gopal!"
"Hehehe, terima kasih, BoBoiBoy," kata Gopal bangga. Rosaline yang melihat serangan badainya gagal hanya bisa menhentakkan kaki ke tanah dengan gemas.
"Tch, korang ni benar-benar-" tukasnya murka. Gempa yang melihatnya di tebing Pulau Apung itu tersentak kaget dan segera pasang tampang marah.
"Rosaline?" tukasnya berang. Diarahkan tinjunya ke depan. "Patut lah badai ni besar sangat. Rupa-rupanya dia yang ciptakan badai tu guna kuasa Halilintar dan Taufan. Rasakan ni: TUMBUKAN TANAH!"
Sebuah bogem mentah terbuat dari tanah tiba-tiba muncul tak jauh di depan Rosaline. Wanita itu tersentak kaget dan segera kabur menggunakan gerakan kilat dari kekuatan Halilintar. Gempa mendecih kesal.
"Hish, dia dah lari?" tukasnya berang. "PENAKUT KAU, ROMEEEOOOO!"
"Dey, Nama dia Rosaline lah," kata Gopal facepalm.
Gempa tersentak. "Eh iya ke?" tanyanya lalu kembali berteriak. "PENAKUT KAU, ROSALINEEEE!"
"Haduhh- dah mulai dah," tukas Fang seraya menepuk jidatnya. "Si BoBoiBoy ni dah mulai pelupa."
"Ei, tak baik cakap macam tu, Ah Meng," kata Blaze tiba-tiba, membuat Fang terhenyak.
"Ah Meng!? Aku ni Fang lah!"
"Eh, salah ye? Hehehe- sori, Aku tak sengaj- UMMPHHH!"
Kata-katanya digantikan suara redaman begitu Ochobot tahu-tahu menjejali mulutnya dengan beberapa ekor ikan kalengan.
"Oh, tidak! Kau dah mulai pelupa sebab dah berpecah lama sangat! Makan Ikan ni, BoBoiBoy! Makan buat kuatkan daya ingat kau!" tukas robot itu panik hingga Blaze kelabakan dan terjatuh ke lantai. "MAKAN IKAN NI SEBANYAK MUNGKIIINNN!"
"Uhh! Oc ... hobot … SUDAH! Uhuk! Huk!" Blaze memuntahkan Ikan-Ikan mentah kalengan itu dari mulutnya. "Apasal kau sumbat Ikan dekat mulut aku!?"
"Kau dah mulai pelupa lagi," kata Ochobot sedih. "Kita kena temukan pecahan-pecahan kau segera. Kalau tak, kau akan lupa semuanya!"
Kapal Pesiar Papa Zola itu tiba di salah satu Pulau Apung. Yaya menurunkan kapal itu perlahan-lahan ke atas tanah. Papa Zola yang baru bangun dari pingsannya terkejut melihat keadaan disekitarnya.
"Apa!? Siapa yang bawa Kapal Kebenaran ni dekat Pulau Apung, Haaahhh!?" tanyanya kaget. Segera saja Gempa dan teman-temannya mengangkat tangan dengan malu-malu.
"Kami, Kapten Papa."
Papa Zola tersentak dan tiba-tiba bertepuk tangan. "Bagus! Bagus! Tahniah anak didikku! Kalian dah berjaya selamatkan kita semua dari badai tadi. Tahniaaaaahhh!"
"Ehehe- Sama-sama, Kapten Papa," kata Yaya senang lalu menatap teman-teman sekelasnya. "Okey, Kawan-kawan. Jom kita pergi sekarang!"
"JOM!" balas semua anak kelas 7 cerdas seraya membawa barang bawaan masing-masing turun dari kapal. Sekonyong-konyong Papa Zola mencegat mereka.
"Kejaaaappp! Siapa yang bagi kalian izin buat siar-siar Pulau ni sorang-sorang, Haaaahhh?!"
"Lha, kitorang ni nak berkemah la, Cikgu," dengus Stanley seraya membawa tas ransel yang tingginya melewati kepalanya.
Papa Zola mendecak. "Ckckckck, tapi Cikgu tak kan izinkan kalian pergi tanpa seorang Pemandu wisata! Nanti kalau kalian hilang macam mana, Hahhh? HAAHHH!?"
"Tapi Cikgu, kitorang tak de Pemandu Wisata," kata Gopal bingung.
"Oho, tak de ye? Kejap. Cikgu akan panggilkan Pemandu Wisata buat kalian," kata Papa Zola seraya masuk ke dalam Kapal. Tak lama kemudian ia keluar dengan pakaian seorang guider Turis di tubuhnya.
"Haaaaa- sekarang Kebenaran akan temankan kalian semua buat jelajahi Pulau ni, Hahahahahaaaa!" tawanya keras-keras, membuat anak-anak muridnya melongo.
"Aik? Apasal Cikgu Papa dah jadi Pemandu Wisata kitorang wo?" tanya Ying heran. Serta-merta Papa Zola berdiri tegak dengan wajah serius.
"Sebenarnya… menjadi Pemandu Wisata ialah Cita-Cita Papa sejak kecik lagi."
Guru: "Baiklah, Murid-murid. Sila bagi tahu Cikgu, Apa Cita-cita kamu."
Siswa 1: "Saya nak jadi Peguwam!"
Siswa 2: "Saya nak jadi Dokter, Cikgu!"
Zola kecil: "Saya nak jadi…. PEMANDU WISATAWAAAANNNN! Saya akan tunjukkan jalan penuh Kebenaraaan!"
"Dan selepas tu, Papa akan menolak jalan penuh Kesesataaaannnn!" ujar Papa Zola penuh semangat dengan gaya heroiknya sementara murid-muridnya memandangnya dengan ekspresi facepalm.
"Haahh, dah ganti lagi," tukas Amar Deep seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Papa zola menyeringai. "Hehehe … maaf," katanya malu. "Baiklah! Ayo anak didikkuuu! Kita cari tempat berkemah untuk kebenaraannnn!"
"Baik, Cikgu!"
Ah Ming baru saja tiba di atas sebuah Pulau kecil dari pulau-pulau Apung. Bajunya basah. Rupanya ia baru saja terjun ke laut di bawah pulau guna mengambil sesuatu yang tampak terombang-ambing di atas ombak: Sebuah Laptop.
"Siapa punya Laptop ni?" gumamnya seraya membuka Laptop itu. Untung saja Laptopnya tahan air sehingga tidak rusak. Ah Ming menyalakannya. Serta merta ia disuguhi dengan background aneh disana.
Foto Wedding imajiner seorang anak lelaki berkacamata, berkulit putih dan berambut landak ungu dengan sebuah 'Donat Lobak merah' berkerudung pengantin di tangannya. Matanya sipit dengan wajah oriental. Ah Ming terpana melihat gambar itu.
"Comel juga budak ni," katanya. "Nampaknya Laptop ni milik dia. Nama dia Fang? Macam kenal je. Atau sebab dia sama spesies macam aku dan Ah Meng?"
Sekonyong-konyong ia melihat sebuah bayangan di belakangnya. Ah Ming menoleh. Tampak Rosaline di belakangnya dengan tangan berkacak pinggang tak jauh darinya.
"Apa yang kau buat kat situ?" tanya wanita itu. Ah Ming mendesah seraya mendekap Laptop itu di dadanya.
"Bukan urusan kau," kata Ah Ming dingin. Namun Rosaline segera merampas Laptop di dalam dekapannya dan melihat wajah Fang disana. Detik berikutnya ia tersenyum licik, membuat perasaan Ah Ming tidak enak.
"Ahh, kau ni memang budak baik. Akhirnya aku boleh dapat maklumat budak ni," kata Rosaline sarkastik.
Ah Ming mendengus. "Jangan cakap kalau dia budak Alien yang kau maksudkan tu," gumamnya kesal. Rosaline tertawa seraya mematikan Laptop itu lalu memeluknya di sisi tubuhnya.
"Baik kau balik ke Markas je," ujarnya. "Ketua cakap dia nak rekrut ahli pasukan baru buat Supreme Diamond nanti."
"Hah? Ahli pasukan baru?" Ah Ming terkejut. "Apasal Tuan Ketua nak rekrut ahli pasukan lagi? Supreme Diamond masih lemah kah?"
Rosaline menggeleng. "Bukan lemah, tapi kurang lengkap," balasnya. "Ketua kata ahli pasukan baru yang dia nak kan tu ialah Alien berwujud manusia. Jarang sangat spesies macam tu yang dijadikan ahli Supreme Diamond, apalagi orang dewasa. Selama ni ahli pasukan kat Supreme Diamond tu cuma budak-budak kecik macam korang je. Itu pun Alien berwujud manusia cuma kau, adik kau dan Supervisor kita. Ada baiknya dia yang dewasa melengkapi kita. Dah lah. Ketua akan terangkan maklumat dia lagi lengkap dekat Markas nanti."
Gadis manusia alien di depannya mendesah. "Orang tu memang dah sedia jadi ahli pasukan Supreme Diamond ke? Ke cuma Tuan Ketua je yang nak kan dia?"
"Ketua je yang nak kan dia," balas Rosaline. "Maka dari tu, Ketua akan bagi tahu cara tuk pancing dia buat join dengan kita, fufufufuu."
Malam telah datang. Anak-anak kelas 7 cerdas berkemah di depan sebuah gua berisi Kristal yang dahulu pernah didatangi oleh BoBoiBoy dan kawan-kawannya untuk menyelamatkan Ochobot dari tangan Tengkotak. Mereka baru saja bersenang-senang di sekeliling api unggun dan segera tidur di tenda masing-masing. Semuanya beristirahat kecuali Fang. Dia masih memikirkan Laptopnya yang tercebur ke laut akibat dilempar Ochobot tadi pagi, membuatnya tidak bisa tidur.
"Macam mana ni? Kapten Kaizo mesti marah," tukasnya lesu. "Laptop tu barang mahal lah. Hadiah kelulusan selepas sekolah rendah aku pulak. Mana isinya tugas-tugas Sekolah dan maklumat pasal Kapten Kaizo. Arghhh! Kenapa aku ceroboh sangat? Kenapa-"
Ia terdiam begitu melihat sesosok bayangan melewati tendanya. Fang memutuskan untuk keluar dan melihat siapa itu. Pelan-pelan ia mengendap-endap keluar dari tenda dan membuntuti sosok itu hingga mulut gua Kristal tak jauh perkemahan mereka. Sinar bulan menerpa sosok itu. Fang terperangah melihatnya. Sosok itu ... Blaze.
"BoBoiBoy Blaze? Apasal dia keluar malam-malam ni?" gumam Fang heran seraya mengikuti Blaze dari belakang. Begitu jarak antara mereka hanya sehasta lagi, ia segera menepuk bahu Blaze, sukses membuat anak itu terlonjak kaget.
"Alamak! Ah Meng, kau buat aku tekejut tau!" tukas Blaze seraya mengelus-elus dadanya guna menghilangkan rasa kagetnya. Fang hanya menatapnya dengan tatapan kesal.
"Kau ni, kenapa keluar malam-malam? Dan nama aku Fang, bukan Ah Meng! Kalau kau nanti hilang macam mana?"
"Alahh- aku sukar tido lah. Nak hilangkan tekanan."
Fang mendengus. "Kau ni asyik nak hilangkan tekanan je," katanya kesal. "Aku tak nak tanggung jawab kalau kau dimakan haiwan buas, tahu tak?"
"Tapi aku nak main je. Boleh lah, Fang. Boleh lah-"
"Hiiisshh, kau ni memang merimaskan!" kata Fang sebal melihat tingkah Blaze yang ngeyel dan tidak mau mengalah. Sifat Blaze yang hanya ingin melepas tekanan dengan cara bersenang-senang dan keluyuran malam hari membuat Fang kelabakan juga. "Sekarang ikut aku balik ke tenda kau! Kalau tak-"
'Chuang qian ming yue guang'
'Yi shi di shang shuang'
'Ju tou wang ming yue'
'Di tou si gu xiang'
(Rembulan menyapa sebelum tidur )
(Tampak seperti bekuan di tanah)
(Angkat kepala, menatap rembulan)
(Tundukkan kepala, bayangkan rumah)
Lantunan sajak berbahasa mandarin itu memotong ucapan Fang sekaligus mengagetkan dia dan Blaze. Keduanya saling memandang satu sama lain.
"Kau dengar tu? Macam suara Manusia," kata Blaze heran. "Arahnya dari Gua pulak. Jom kita tengok siapa tu."
Fang terkejut. "Apa!? Kalau itu bukan Manusia, aku tak nak tengok," dengusnya cuek.
"Helehh- Kau pun bukan manusia a.k.a. Alien. Cakap je kau takut. Kan? Kan?"
"Hish, kau ni! Terserah! Aku akan buktikan kalau aku bukan budak penakut!"
Karena kesal dan tidak mau menurunkan harga dirinya, Fang lalu masuk ke dalam Gua diikuti Blaze. Semakin ke dalam suara itu semakin terdengar merdu. Kedua anak lelaki itu mengintip dari balik sebuah tiang Kristal. Tak jauh di depan mereka tampak sesosok gadis yang tengah bersenandung. Posisinya saat ini memunggungi Blaze dan Fang. Rambut ungu kehitamannya yang menjulur nyaris menutupi punggungnya tampak berkilau ditimpa cahaya dari Kristal-kristal hijau di sekelilingnya. Ia memakai qipao bewarna abu-abu campur merah dan celana selutut. Mau tidak mau Fang dan Blaze menganga melihat penampakan itu.
'Comel betul lah gadis tu.' batin Fang dalam hati. 'Hih! Apa yang kau fikirkan ni, Fang? Dia tak lagi comel daripada Donut Lobak merah! Tapi Apahal yang dia buat kat sini? Bahaya kalau perempuan sendirian dekat Gua malam-malam ni.'
"Wuahhh- cantiknya!" tukas Blaze dengan wajah bling-bling. "Tengok! Rambut dia macam kau, Ah Meng! Ungu-"
"Hei, dah berapa kali aku cakap, aku Fang! Bukan Ah Meng!" balas Fang kesal. Tanpa sadar ia meninggikan nada suaranya, membuat gadis yang sedang memunggungi mereka itu menoleh ke arah mereka.
"Ah Meng? Kau ke tu?" tanyanya seraya memutar tubuhnya seluruhnya ke belakang. Fang dan Blaze tersentak begitu tahu gadis itu telah menyadari keberadaan mereka.
"Eh? Maaf ganggu," kata Blaze seraya menyeringai lebar. Fang tidak berkomentar. Ia hanya menganga begitu melihat wajah gadis di depan mereka ini. Gadis itu sangat mirip dengan dirinya! Hanya saja tampaknya si gadis terlihat lebih tua sedikit di atas umurnya. Mungkin setahun.
Gadis itu mendengus. "Cih, ternyata kau hanya salah sorang Pecahan kuasa elemental BoBoiBoy yang belum kena tangkap," katanya pada Blaze.
Blaze terhenyak. "He? Kena tangkap?" ujarnya kaget. "Kau tahu ke dekat mana tempat Pecahan-pecahan aku yang dah kena tangkap Rosaline?"
"Aku tak berhak buat bagi maklumat tu dekat korang," jawab si gadis.
"Eh? Kau koncro Rosaline kah?"
"Aku pun tak berhak buat bagi maklumat tu dekat korang."
Fang menggeram gemas. "Senang berbincang dengan kau," sindirnya kesal. "Siapa kau ni? Eh, tunggu kejap! Aku sudah tahu jawabannya."
"Apa?"
"Kau tak berhak buat bagi maklumat tu dekat kitorang, kan?"
Si gadis tertawa. "Hahaha, memang lah macam tu," katanya geli. "Ah, ya. Kau mesti Fang." Ia berkata seraya menuding kecil ke arah si pemuda cina berambut ungu landak. "Atau mungkin boleh kusebut Pang xi?"
Pemuda berkacamata di depannya terhenyak. "Hah? Macam mana kau tahu nama aku?" tanyanya heran. "Kau ni siapa sebenarnya?"
"Seorang gadis biasa," jawab si gadis. "Ah, korang kena hati-hati. Rosaline dah jadikan diri korang sebagai target dia, termasuk kau, Pangxi. Waspadalah."
Dia berkata begitu seraya melambaikan tangan ke arah kedua anak lelaki itu dan melompat ke udara. Ia berlari di dinding Gua dengan gesit dan segera menghilang dari pandangan Blaze dan Fang.
"Dia kabur!" pekik Blaze panik. "Mungkin dia nak pergi ke markas dia! Jom kita kejar dia, Ah Meng!"
"Hiihhh, aku ni Fang tau!" tukas temannya dengan wajah bersungut-sungut. Blaze segera cengengesan.
"Hehehe, sori. Aku terlupa."
"Huh! Dah lah. Cepat! Kita kena susul dia!"
Kedua anak itu berlari masuk ke dalam Gua Kristal lebih dalam. Setengah jam kemudian, mereka menemui jalan buntu.
"Ai'? Mana dia pergi?" tanya Blaze bingung.
"Entah. Dia macam hantu je," tukas Fang seraya melirik ke kanan kiri. Blaze celingak-celinguk sembari berjalan mendekati dinding batu buntu di depannya. Sekonyong-konyong tanah yang dipijakinya amblas, membuat Blaze langsung jatuh terperosok ke lubang itu.
"HUWAAAAAAAAA!"
"BOBOIBOY!" pekik Fang kaget dan segera terjun ke lubang itu guna menyelamatkan Blaze yang sudah lebih dahulu menghilang di ujung lubang yang menyerupai perosotan. Ia tiba di ujung lubang itu, menubruk Blaze yang baru saja hendak bangun sehingga keduanya jatuh tumpah tindih.
"Aduuuhhh- sakitnye ..." Blaze meringis sembari memegang kepalanya. Ia melihat Fang yang bangun seraya mengibas-ngibaskan jaketnya yang diikatkan ke pinggangnya. Tiba-tiba ia tertegun melihat dimana mereka berada sekarang.
Gorong-gorong air yang biasanya ada di film aksi Hollywood. Dindingnya terbuat dari semacam logam. Air jernih mengalir di gorong itu. Kedua anak itu melihat ada dua arah: Kanan dan Kiri.
"Tempat apa ni?" tanyanya sangsi. "Jangan cakap kalau gadis tadi lewat dekat sini pulak."
"Mungkin dia lewat jalan lain kot," jawab Fang. "Baju dia tu mewah sangat. Tak mungkin dia lewati lubang tadi. Kalau iya, baju dia mesti dah kotor."
"Okey! Kalau macam tu, jom kita ke kanan!"
"Eh? Apasal pulak kau pilih arah kanan?"
"Hehehe, Tok Aba selalu cakap mulakan sesuatu yang baik dengan yang kanan."
"Haehh, ye lah, ye lah."
Mereka pun pergi ke gorong di sebelah kanan mereka. Setengah jam pun berlalu. Blaze merasa kantuk mulai menyerangnya. Tiba-tiba-
BUNGG!
"Adudududuhhh- "
Saking lelahnya ia kehilangan kefokusan dan menabrak sesuatu yang keras di depannya. Blaze meringis dan merasa tulang hidungnya hampir retak. Fang menepuk keningnya melihat itu.
"Kau ni, tengok lah jalan betul-betul!" katanya kesal.
"Memangnya benda apa yang ada kat hadapan aku ni?" tanya Blaze polos.
"Mana aku tahu? Gorong ni gelap sangat!"
"Haaaa- aku tahu!" Blaze menjentikkan jarinya yang kemudian mengeluarkan api sekecil lilin. Diarahkannya api itu ke depannya. Tampak sebuah tangga besi yang mengarah ke atas secara vertikal.
Wow, kali ini mereka benar-benar mujur! Terima kasih, Ya Allah.
"Fang! Tangga ni ... Tangga ni akan bawa kita kat atas tu!" pekik Blaze riang. Fang mau tidak mau tersenyum senang. Untung saja gorong itu gelap sehingga ia tidak perlu gengsi untuk melakukan hal itu.
"Baiklah. Kita kena naik buat tengok apa yang ada dekat atas tu."
Keduanya menaiki tangga besi itu. Beberapa menit kemudian, Blaze merasa sesuatu mengenai kepalanya. Didorongnya benda itu ke atas dan berhasil! Tercipta sebuah lubang di atas mereka. Sang pengendali api langsung mengeluarkan kepalanya dari lubang itu. Detik berikutnya ia tercengang.
Langit malam tampak dihiasi ribuan bintang. Terlihat sebuah penampakan kota kecil. Beberapa sosok berpakaian kantoran dan kasual berlalu lalang di sekitar trotoar. Lampu-lampu jalan menyala redup dengan sinar putihnya. Gedung-gedung berukuran sedang terpampang di sepanjang jalan, baik gedung tua ataupun gedung baru. Beberapa buah Mobil masih berjalan di jalan utama yang beraspal. Blaze segera keluar dari lubang itu dan menarik Fang naik ke permukaan. Mereka tercengang-cengang melihat pemandangan itu. Bisa-bisanya ada Kota yang rada 'Modern' seperti ini berada di atas Pulau Apung. Seingat Blaze, tidak ada Kota semacam ini saat ia pertama kali menjejakkan kaki ke atas Pulau Apung. Yang ada hanya hutan belantara dan area pegunungan batu tempat dimana ia melawan Bora Ra dahulu. Namun anehnya, Kota modern dimana ia dan Fang berada kini baru terlihat oleh mereka, dan Kota itu bahkan tidak terlihat dari luar Pulau. Sebuah keanehan yang luar biasa!
"Tempat apa ni?" tanya Fang bingung. "Macam bandar je. Tapi apasal bandar ni tak pernah kita tengok sebelumnya? Macam letak dia ni tersembunyi."
"Kalau macam tu, jom kita tanyakan soalan ni kat orang-orang yang lewat!" usul Blaze.
"Woi! Kita ni penyusup tau! Mana ada orang yang nak bantu kita?" tukas Fang seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Namun Blaze tidak peduli dan menghampiri seorang pejalan kaki di dekat mereka.
"Hai, Pakcik. Numpang tanya. Apa nama tempat ni?"
"Eih? Korang ni macam orang asing je. Ini sektor 456 lah!"
Blaze terkejut. "Sektor 456? Macam iklan susu bendera tau."
"APA!? KAU CAKAP SEKTOR NI MACAM SUSU BENDERA!?"
Sebelum orang itu marah, Fang buru-buru menarik tangan Blaze yang menyeretnya ke sebuah lorong kecil di sebelahnya.
"Hish kau ni! Kau nak identiti kita ketahuan, Hah!?" tanyanya marah. Blaze segera cengar-cengir dibuatnya.
"Tapi aku kan cuma nak tahu apa nama tempat ni."
"Sudah! Masalahnya, Markas ONION tu ada dekat mana?"
Blaze melongokkan kepala dari dinding lorong. Tiba-tiba tiga buah gedung pencakar langit dengan letak berhimpitan yang berada di ujung kota atau lebih tepatnya di atas sebuah bukit batu menarik perhatiannya. Pasalnya, hanya tiga gedung itu yang tampak lain dari yang lain. Seperti Kantor pusat. Ia segera menyikut Fang sembari menunjuk tiga gedung itu.
"Jom kita pergi sana," katanya. "Kemungkinan besar tiga gedung yang berdekatan tu ialah Markas Bawang."
"Markas Bawang?" Fang mengerutkan kening. "Maksud kau?"
"Ehehe, nama pun ONION. Kan? Kan?"
"Haduhh, apa salah aku berjumpa dengan budak ni?" dengus Fang kesal. "Tapi pelik betul. Nama wilayah ni ialah Sektor 456? Macam pernah denga-"
Ia tidak melanjutkan kalimatnya begitu ia melihat Blaze sudah berjalan duluan beberapa langkah di depannya sembari memekik gembira.
"Jom kita pergi kat gedung tu!"
"Hei! Kau ni tak cakap-cakap lah kalau nak pergi awal-awal. Tunggu aku, BoBoiBoy!"
Fang buru-buru menyusul Blaze. Keduanya berjalan di trotoar itu. Jalanan mulai sepi, hingga akhirnya tinggal mereka berdua saja yang berada di trotoar. Iseng-iseng Blaze bersiul-siul riang sepanjang jalan sementara Fang melamun memandang langit malam. Sekonyong-konyong anak berambut ungu itu melihat sesuatu yang melintas di langit.
Sebuah pesawat luar angkasa model terkini bewarna abu-abu putih. Benda itu melesat menuju Markas ONION, membuat Fang terbelalak.
'Kapal angkasa tu … APA!? Jangan-jangan-'
Di sebuah ruangan besar berbentuk segiempat, tampak Rosaline dan seorang anak berkulit gelap dengan baju mewah dan berambut nyentrik berhadapan dengan sosok di balik kursi di tengah ruangan itu. Sosok itu tampak tengah memeriksa sebuah Laptop yang diketahui adalah Laptop Fang yang diambil Ah Ming pasca tercebur di laut. Sebuah file identitas terpampang disana lengkap dengan pas foto seorang pemuda tinggi berwajah tampan, berkulit putih kuning, mata sipit, rambut biru hitam keunguan dengan baju pilot luar angkasa, membuat sosok yang duduk di kursi itu senyam-senyum sendiri.
"Kaizo, Eh?" gumamnya sinis. "Ah, dia dah menolak masuk Supreme Diamond untuk kesekian kalinya. Menarik juga. Tapi dia tetaplah lelaki hebat. Hanya perlu suatu pancingan yang pas buat dia join Supreme Diamond."
"Hoaahh, mengantuknye ..." desis pemuda berkulit gelap di sebelah Rosaline. "Dey, Tuan Ketua, sampai bila kau nak bahas ni? Aku nak tido lah. Penat sangat lepas balik dari Konser dekat Sekolah tadi."
Rosaline tertawa. "Ahaha, Selebriti macam kau sibuk je lah," katanya. "Kau nak layan Fans kau, tapi kau tak pernah nak layan aku."
"Hiiihh, siapa pulak yang nak layan kau?" cibir lawan bicaranya. "Ah Meng pon tak boleh kau ganggu, apalagi Bintang Sekolah macam aku. Bisa hancur reputasi aku kalau aku layan kau! Dah cukup Pecahan kuasa BoBoiBoy yang kau sedut tenaga, jangan aku pulak!"
"Huh, kau ni pelit betul! Dasar sombong!"
"Dey, kau tak ingat ke kalau sesama ahli Supreme Diamond tak boleh saling kacau?"
Sosok di depan mereka mendesah seraya menutup laptop Fang. "Rosaline, kau kena cuba kawal diri kau," katanya sembari tertawa hambar. "Arumugam betul. Selama kau dan dia satu koncro, kau tak boleh ganggu dia, faham?"
Rosaline mendengus. "Cih, dasar budak ni," gerutunya. "Budak-budak tu memang harta terbaik buat Ibubapa dia, tapi itu tak berlaku buat aku. Dah lah. Aku tak sabar buat berjumpa dengan Kaizo. Dia nampak menarik kot, macam adik dia. Tapi mungkin aku kena tahan diri dahulu sebelum ajak dia join askar aku, Hehehe."
"Haehh, dah mulai dah," tukas Arumugam menghela nafas." Kau ingat Kapten Kaizo tu nak bagi tenaga diri dia yang Cool tu dekat kau? Sekali tebasan pedang lasernya akan buat kau lumpuh total, tahu tak?"
"Hei, tak de salahnya aku beramah-tamah kat dia sebelum dia jadi bahagian daripada Supreme Diamond tau!"
"Ramah sana, ramah sini … kau ni memang dah melampau, Rosaline. Bisa-bisa Kaizo dah hapuskan kau sebelum kau sempat beramah-tamah dengan dia."
"Sudah, Sudah! Jangan begaduh!" tukas Sang Ketua kesal. "Balik ke topik. Kita kena pancing dia buat jadi bahagian daripada kita. Tapi rancangan itu nampak cukup sulit. Baik kita undang dia kesini buat negosiasi."
"Hah? Negosiasi?" ujar Rosaline heran. "Kenapa kita tak paksa dia langsung?"
Si Ketua menggeleng. "Jangan. Kaizo bukan lawan yang remeh " ucapnya serius. "Dia kena dipaksa guna diplomasi, bukan guna kekerasan. Nah, Arumugam, kau kena undang dia esok pagi."
"Hah? Aku yang undang dia!?" tanya Arumugam kaget setelah menggosok-gosok kacamata hitamnya sebelum akhirnya menenggerkannya ke kepalanya. "Boleh jadi dia yang undang aku kat hospital sebelum aku undang dia kesini!"
"Ohh- tak nak, eh? Kalau macam tu, kau kena buat 50 Senapan lagi buat Organisasi ni."
"Hayoyo- Apasal Tuan Ketua ancam aku pulak? Tapi baiklah. Arumugam akan cuba undang dia esok dengan sedikit pesta."
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka. Tampak Ah Ming di sana sembari terengah-engah.
"Tuan Ketua," katanya. "Dia ... Dia dah tiba. Aku jumpa dia dekat lantai dasar tadi. Dia nak berbincang dengan Anda sekarang juga."
"Hee? Dia siapa?"
"Alien berwujud Manusia yang Tuan cakap tu lah," ujar Ah Ming kesal lalu menoleh ke sosok di sebelahnya. "Kapten, silahkan masuk."
"Terima kasih," ujar sosok di sebelahnya seraya masuk ke dalam seorang lelaki muda dengan baju pilot khas luar angkasa. Dibukanya helmnya, menampakkan wajah yang gantengnya bukan main-main, Poni gelapnya menutupi sedikit wajahnya. Mau tidak mau Rosaline tersenyum lebar melihat penampakan pria itu.
'Lumayan juga dia ni. Kenapa pulak Ketua mahu jadikan dia ahli daripada Supreme Diamond?' batinnya. 'Baik aku ajak dia join aku sepantas mungkin. Kalau tak, sia-sia aku jumpa stok tenaga macam dia ni.'
Arumugam menghembuskan nafas lega. "Nasib baik aku tak jadi undang dia buat esok."
Sosok di kursi tersenyum. "Ah, Kaizo. Lama sangat kita tak berjumpa, Anakku," katanya menyambut. "Padapun aku nak panggil kau esok, tapi kau dah datang duluan. Bagaimana? Kau dah sedia buat jadi bahagian daripada Perkumpulan Elite-ku?"
Kaizo mendesah panjang. Sejenak ia membisu. Kedua matanya terpejam. Tak lama kemudian, dibukanya kedua mata merahnya dan menatap Sang Ketua ONION nanar.
"Nampaknya kita kena bincangkan perkara itu sedetail mungkin," gumamnya dengan nada serius." Terutama perkara antara kau dan aku, Vader."
Bersambung ...
* Lagu Tema Papa Zola
** Lagu Puppet dari game IB dengan beberapa perubahan
Ahhhhh panjang banget ya hehehe maklum hasil dua minggu hiatus :v
Kaizo: Hmph, mentang2 dah tengok episode 24 season 3, aku dimunculkan pula -_-
Hehe sori abang ganteng. Diseru-seruin aja ;v
Hehe maaf kalau dibuat tambah bingung. Author ni memang suka menyiksa rasa penasaran *eh?*
So mind to review?
Tetap setia menanti kelanjutannya ya. Love you All Dear Readers ^/^
