Meet again, Readers! ^_^ Semoga kalian ga bosan lihat saya dan cerita saya ini hehehe ...

Note: Rated T+. Dan mungkin ini rada pendek, hehehe ... takutnya terlalu lama scroll kebawah gitu :v

Apa yang akan dilakukan Blaze dan Fang setelah menemukan kota tersembunyi di Pulau Apung yang merupakan wilayah markas Organisasi a.k.a ONION? Dan apa yang akan dilakukan Kaizo di Markas mereka? Check this out, ok? ;)

Hehehe maaf kalau ni tambah panjang aja. Tapi mungkin di bagian ini saya pendekin aja dulu, hehehe. Hemat kertas (?) Terima kasih atas dukungan terhadap fic ini ya. Stay tune! ;)


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'The Chaotic of Elemental Split'

(Sebuah kisah fiksi)

Season 2

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

.

Bagian 15: Sektor 456 dan Gedung Markas Pusat

Di jalan utama Sektor 456, Blaze dan Fang masih saja berjalan menelusuri trotoar. Blaze masih bersiul riang sementara Fang memikirkan Pesawat Angkasa yang baru saja melintas di langit menuju Markas ONION beberapa menit yang lalu.

'Kapten Kaizo? Apasal dia pergi kat gedung ONION tu?' batinnya bingung. 'Ada yang tak selesa disini. Aku dan BoBoiBoy kena bergegas. Tapi macam mana caranya?'

Satu jam berlalu. Kedua anak itu merasa kaki mereka mulai pegal karena berjalan terlalu lama. Anehnya, Markas ONION seakan masih terlihat sejauh mata memandang. Blaze melirik Jam kekuatannya yang menunjukkan pukul Sepuluh malam. Segera saja ia terkejut melihatnya.

"Alamak! Dah pukul Sepuluh!" tukasnya cemas. "Kita kena tiba kat Markas ONION tu sepantas mungkin! Tapi Markas tu nampak masih jauh sangat. Andai aku ni Halilintar, mesti aku dah tiba kat sana sedari tadi."

Fang memutar bola matanya seraya menghela nafas. "Haahh- kau masih je fikirkan pasal tu," Tukasnya. "Tapi betul juga. Kita akan lama tiba kat sana kalau kita cuma jalan kaki. Kita mesti guna kendaraan atau sejenisnya buat tiba kat sana segera."

"Kendaraan?" tanya Blaze bingung. "Mana ada Kenderaan Malam-Malam ni? Orang-orang kat sini mesti dah masuk rumah lah. Kalau tak-"

"Nampaknya korang butuh kendaraan."

"He-ehh?"

Sebuah suara wanita menyapa mereka. Blaze dan Fang menoleh. Tak jauh di belakang mereka berdiri sebuah sosok. Lantas mereka mendekatinya dan terkejut melihat wujud sosok itu: Seorang wanita tinggi dan tampak sebaya dengan Rosaline. Wajahnya terlindung di bawah bayang-bayang sebuah gedung parkir di belakangnya sehingga Blaze dan Fang tidak bisa mengenalinya.

"Siapa Makcik ni?" Fang bertanya dengan curiga.

Wanita itu tertawa. "Tak payah korang tahu siapa diri aku. Aku cuma nak bantu korang je," desahnya. "Korang perlukan kendaraan ke?"

"Betul, Makcik!" balas Blaze senang. "Kami benar-benar butuh kendaraan sekarang. Sebab kami nak pergi ke Markas ONIO- MMPPHH!"

Fang segera membekap mulut Blaze Sebelum anak itu membeberkan rencana mereka.

"Shh! Kau ni banyak cakap betul, BoBoiBoy," bisiknya berang. "Kita tak boleh bagi tahu rancangan sebenar kita dekat dia."

Blaze terkejut. Ditepisnya tangan Fang dari mulutnya dan balik bertanya. "Eh? Tapi dia nampak macam baik je dekat kita. Buktinya dia nak bantu kita untuk cari Kendaraan."

"Huh- Bagaimanapun juga, kita tak boleh percaya kat dia sambil lalu!" kata pemuda cilik berkacamata di depannya dengan kesal. "Cakap je kita perlu guna Kendaraan, tapi tak perlu beberkan semua rancangan kita pulak! Kalau dia ahli pasukan daripada ONION, habislah kita!"

"Eh? Iya ke? Hehehe- sori, Fang. Aku terlampau frontal pun." Blaze cengar-cengir seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menoleh ke wanita itu. "Ehh- kami nak cari alamat. Tapi kami tak punya Kendaraan."

"Oh ya Tuhan, kesiannya korang," ujar wanita itu empati. "Kalau macam tu, Makcik kena bagi sesuatu dekat korang. Jom ikut Makcik. Makcik akan bawa korang ke suatu tempat."

"Baik, Makcik!"

Mereka pun mengikuti wanita itu ke bawah sebuah gedung parkir. Sepuluh menit pun berlalu. Wanita itu berhenti dan menekan sebuah saklar lampu di dekatnya. Serta-merta sebuah lampu di atas mereka menyala, menampakkan sebuah Mobil mentereng di bawahnya. Blaze dan Fang menganga melihat penampakan kendaraan itu.

"Wuuaaaahhh! Bergayanya!" pekik Blaze riang. "Siapa punya Kereta ni?"

Wanita itu mendesah. "Ini Kereta bekas je. Makcik ambil dari pabrik Kitar semula," jatanya. "Korang boleh gunakan Kereta ni."

"Hah!? Betul ke tu, Makcik?" ujar Fang kaget. "Tapi kami tak de duit buat bayar Kereta ni."

"Bayar? Siapa cakap korang kena bayar buat gunakan Kereta ni?" tanya si wanita heran. "Tenang sahaja, nak. Makcik bagi Kereta ni dekat korang percuma. Amacam?"

Mendengar itu, kedua anak lelaki di depannya langsung terbelalak.

"Hah? Makcik bagi Kereta bagus ni dekat kitorang!?"

"Hahaha! Iye," gumam wanita itu seraya tertawa dan melempar kunci mobil kepada Blaze. "Korang mesti lagi cepat tiba kat alamat yang korang cari kalau guna kereta ketimbang jalan kaki. Pergilah dengan Kereta baru korang ni."

"Baik! Terima kasih banyak, Makcik."

Blaze dan Fang segera masuk ke Mobil. Begitu masuk, Fang segera memandang Blaze lamat.

"Jadi- siapa yang nak kawal Kereta ni?" tanyanya." Kita ni masih budak kecik lah. Tak de lesen kawal Kereta pon. Mana boleh guna Kereta ni sorang-sorang?"

"Tak pe. Biar aku yang kawal Kereta ni," kata Blaze seraya memasukkan perseneling dan menyalakan mesin. Mesin Mobil itu masih dingin, namun mulai panas ketika di-starter. Sambil menunggu mesinnya panas, kedua penumpangnya menoleh ke arah wanita yang tadi memberikan Mobilnya pada mereka. Tahu-tahu wanita itu sudah tidak ada di tempatnya berdiri.

"Eih? Mana Makcik tu pergi?" tanya Blaze heran. "Pada pun kita nak cakap terima kasih dekat dia pula."

Fang mendengus. "Yang jelas kita dah lebih mujur dan selangkah lebih maju dari yang lain," ujarnya. "Tak payah kau urus pasal Makcik itu, BoBoiBoy. Kita kena pergi ke Markas ONION dan selamatkan pecahan-pecahan kau sebelum subuh!"

"Okey! Kalau macam tu, jom kita pergi!"

Blaze mengatakan itu sembari mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi dan menginjak pedal gas kuat-kuat sehingga mobil itu langsung melesat tiba-tiba dengan kecepatan turbo. Fang langsung panik seraya berpegangan pada sabuk pengamannya, menjerit.

"GAAAAAAAAAAHHHHH! YA TUHAAAANNN! BOBOIBOY, BERHENTIIIII! LAJU SANGAT LAH! AAAAAAHHHHH!"

"WUAAAAAAAHHHHHH! Seronoknye! Laju lagi! LAGI LAJUUUUUUU!"

"WOI! Berhenti aku kata! Bukan tambah kecepatan! Lepas Pedal gas tu segera!"

"Hish, tak nak lah! Jarang betul kita naik Kereta elok macam ni tanpa lesen mengemudi, Hehehe- Laju lagi! LAJUUUUUUU! WOHHHOOOOOOOOOOOO!"

"BERHENTIIIIIII! AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!"

Mobil itu meluncur kencang di jalan utama. Blaze masih menyetir ngebut dengan gilanya sementara Fang berpegangan pada sisi dalam mobil dengan kepanikan yang luar biasa. Mulutnya berkomat-kamit cepat, berdoa banyak-banyak agar mereka tidak sampai celaka.

'APASAL AKU BERJUMPA DENGAN KAWAN GILA MACAM BUDAK NI!?' batinnya tegang

Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah gerbang di depan tiga gedung yang diyakini adalah Markas ONION. Blaze langsung menginjak rem mendadak dan banting setir ke samping sehingga Mobil mereka menyerempet beberapa Mobil yang tampak diparkir disana. Untung saja Mobil-Mobil itu sudah penyok-penyok, sehingga pemiliknya tidak akan sadar kalau catnya tergores sedikit. Fang menghembuskan nafas lega dan langsung mengatupkan kedua tangannya ke depan, bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup.

"Yeah! Kita dah tiba!" pekik Blaze riang gembira seraya mengangkat kedua tangannya ke udara setinggi mungkin. Untungnya dia sudah memakai Deodorant men dengan merek terkemuka sehingga Fang masih bisa bertahan untuk duduk di samping anak hiperaktif yang bajunya tanpa lengan seperti dirinya itu.

"Hish! Kau ni main kebut betul! Macam pembalap liar tau," tukasnya kesal. "Nasib baik jalan utama tu kosong. Kalau tak, kita bisa celaka tau!"

"Hehe, jarang lah aku kawal Kereta macam ni," balas sang pengendali api cengar-cengir." Seronok lah, Ah Meng. Kita kena coba lain masa lagi!"

"Huh, Ah Meng lagi," desis Fang gusar. "Kau dah makin pelupa."

"Hahaha, sori, Pang. Gurau je."

Sekonyong-konyong Fang segera mengguncang-guncang bahu Blaze begitu mendengar kata itu.

"Kau! Jangan berani kau sebut nama tu, BoBoiBoy!" katanya marah. "Tak tahu ke aku lepas kena bully dekat media social sebab punya nama pelik macam tu!?"

"Lha, nama Pang je. Apasal mesti kena bully?" tanya Blaze polos.

Fang mendengus. "Cih, kau ni memang nak kena!" katanya berang. "Nama PANG tu macam banyak kepanjangan! PANGgung lah, PANGsit lah. Aku tak nak popular macam tu!"

"Tapi nama kau bagus tau. Banyak alternatif," goda Blaze seraya turun dari mobil dan melangkah menuju halaman gedung Markas ONION. "Jom kita masuk ke- Eh?"

Ajakannya terputus begitu melihat Fang yang belum turun dari Mobil dan masih memandang ke gerbang, seakan mencari seseorang disana.

"Ei, Fang. Apa yang kau buat kat situ? Kita kena bergegas lah."

Fang tidak menjawab. Dia masih memandang ke arah gerbang dengan wajah cemas. Satu menit kemudian, dia pun membalikkan kepalanya ke arah depan dan turun dari Mobil.

"Maaf, BoBoiBoy. Aku rasa macam ada yang intai kita dekat gerbang tu sedari tadi," katanya kemudian, membuat Blaze tersentak.

"Hah!? Siapa orang tu?"

"Itu firasat aku je. Tapi aku yakin kalau ada yang intai kita."

"Dah lah, Fang. Jangan bahas benda tu dahulu. Dah pukul Sebelas malam. Kita kena selamatkan pecahan-pecahan aku dan balik kat Kemah secepatnya!"

Fang mendesah lalu mengangguk. Ia dan Blaze segera berlari ke halaman Markas ONION. Sesosok bayangan melihat mereka dari kejauhan. Rupanya dialah yang membuat Fang was-was sejak tadi. Mulutnya tampak murung.

"Ternyata budak-budak tu bohong," katanya pelan. "Cakap nak cari alamat. Tapi kenyataannya mereka pergi kat sini pula. Eh, kejap. Sebenarnya benda tu macam logic je. Secara teknikal mereka memang tak bohong sebab mereka memang tengah cari alamat, dan Gedung ni termasuk alamat jugak. Apa jangan-jangan alamat yang mereka maksud ialah alamat Gedung Markas ONION sejak awal lagi? Ah, tak kira. Mereka tetap tak boleh dibiarkan. Aku kena hubungi Rosaline segera."

Tangannya langsung merogoh ke saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah Ponsel. Ditekannya beberapa tombol angka di ponsel itu dan menempelkannya ke telinga, menunggu nada sambung. Ia mendesah panjang seraya menatap Blaze dan Fang dari kejauhan dan bergumam sedih.

"Maafkan Makcik."


Di ruang besar di lantai Sembilan puluh, Kaizo masih menatap sosok di kursi tak jauh di depannya dengan sorot mata dingin dan menusuk. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.

"Aku masih tak faham sebab kau buat rancangan Pembersihan tu," ujarnya marah. "Aku tak kan join dekat ONION ni, Vader. Tapi apasal kau masih je paksa aku? Aku tak tertarik buat musnahkan Penduduk Semesta. Camkan tu!"

"Uhh, garangnye," tukas Arumugam geli. "Jangan cakap macam tu dekat Tuan Ketua, Kapten. Dia boleh sahaja belasah diri kau dalam sekejap, Hoaaahhhmm."

"Aru, kau dah nampak penat. Rehat sana," kata si Ketua begitu melihat anak berdarah India itu menguap untuk kesekian kalinya.

"Hoahm, terima kasih, Tuan Ketua," kata Arumugam sembari melangkah menuju pintu. "Saya pergi dulu. Nak tido ni."

Sang Ketua ONION tersenyum dan menoleh ke arah Ah Ming. "Nah, kau pula kena pergi rehat," ujarnya. "Pergilah ke bilik rehat kalian."

"Baik, Tuan Ketua," angguk Ah Ming lalu menyusul Arumugam keluar. Rosaline geleng-geleng kepala melihat itu.

"Haahh, memang budak-budak," gumamnya lalu menatap Kaizo. "Ah, ya. Ketua betul. Kau kena join dekat kami, Kaizo. Kemampuan bertarung kau hebat. Kalau tak-"

"Kalau tak, apa?" tanya Kaizo dingin. "Jangan coba-coba kau takuti aku, Puan Rosa. Itu takde gunanya."

"Ahh, kau ni dingin betul lah," balas wanita itu dengan senyum simpul. "Boleh tahan. Kau benar-benar buat aku terkesan. Dan-"

Sekonyong-konyong Ponsel-nya berdering. Rosaline segera menjawab panggilan itu. Semakin lama senyum di bibirnya semakin lebar, nyaris menyeringai. Kaizo dan sang Ketua melihatnya dengan bengong. Dua menit kemudian, Rosaline menutup ponselnya dan menatap sosok di kursi dengan wajah puas.

"Apasal kau senyum-senyum je semasa menelfon tadi?" tanya Ketua ONION heran.

Rosaline terkekeh. "Oh, takda pe. Hanya sahaja kita dah kedatangan dua orang tamu."

"Tamu?" tanya Kaizo bingung. "Tumben ada yang bertamu malam-malam ni. Siapa diorang tu?"

"Rahsia," kata Rosaline sok misterius sambil berjalan menuju pintu. "Aku akan sambut mereka dekat pintu depan."

Ia melewati Kaizo dan berhenti di samping pria itu. Ditatapnya pria yang tingginya nyaris sepantaran dengannya itu sembari bergumam pelan,

"Lepas kau Nego dekat Ketua, aku punya pasal buat kau, Kaizo. Jangan harap kau akan lepas dariku dengan mudah, Fufufu ..."

Sepeninggal wanita itu, Entah mengapa benak Kaizo langsung dihinggapi sebuah firasat buruk.

'Apa maksud Puan Rosa cakap macam tu?,' batinnya was-was. Wajahnya mengidik. Ketua ONION berdiri dari kursinya dan mendekati pria muda itu. Tangannya menepuk pundak Kaizo namun segera ditepis. Sang Ketua ONION hanya tertawa melihatnya.

"Ahahaha, Kaizo. Kau masih keras kepala macam dahulu," tukasnya geli. Kaizo mendelik padanya.

"Tak payah kau buat muka ramah kat hadapan aku, Vader," ujarnya kesal. "Cuma sebab kau ialah Ayah angkat aku dahulu, bukan berarti kau ialah sekutu aku."

"Hah- kau ni," desah si Ketua malas. "Baiklah. Aku akan bagi kau masa buat fikirkan pasal tu. Tapi dengan syarat: Kau kena menginap disini malam ni. Aku tak pasti kau akan datang lagi esok hari kalau aku biarkan kau balik sekarang."

"Baiklah, Baiklah. Aku akan menginap," balas Kaizo seraya menekan sebuah hologram di depannya yang langsung memunculkan wajah sesosok Alien bewarna ungu. Lantas ia berbicara dengan Alien itu.

"Leftenan Lahap, tolong jaga Kapal angkasa kita kat Gedung Parkir," katanya. "Malam ni aku akan menginap kat Markas ONION."

Lahap tampak terkejut. "Eh? Apasal Kapten nak menginap dekat sana?" tanyanya heran dengan suara berat yang khas.

"Vader tak percaya aku akan jumpa dia esok kalau aku balik malam ni," desah Kaizo pasrah. "Sebab tu dia suruh aku bermalam dekat sini. Oh, ya. Jaga Kapal angkasa kita betul-betul. Kalau perlu kunci semua Pintu. Kemungkinan kita akan balik esok sore."

"Hrrmm- baik, Kapten."

Hologram itu menghilang. Sang Ketua tersenyum dan menoleh ke arah Kaizo yang masih pasang wajah dingin.

"Ikut aku. Akan aku tunjukkan bilik rehat kau buat Malam ini."

Tak lama kemudian, kedua lelaki itu melintasi lorong. Sekonyong-konyong Kaizo menabrak seorang gadis kecil berpakaian Lolita. Gadis itu langsung menjerit begitu tubuhnya menghempas lantai.

"Aduhh, sakitnye ..." desisnya kesakitan. Kaizo tersentak dan mendekatinya.

"Kau tak pe?"

Si gadis mengangkat wajahnya, membuat Kaizo terkejut setengah mati dan bergumam. "Eh, kejap ... Kau!? Aku ingat kau-"

"Hish, Abang Kaizo ni! Apasal main tabrak-tabrak?" dengus si gadis memotong kalimat Kaizo dan kembali berdiri. "Ini aku. Abang tak ingat ke?"

"Huh, ingatan aku masih kuat lah," tukas pria muda di depannya. "Kalau bukan sebab Vader jadi wali aku semasa penelitian kat Bumi dahulu, kau tak kan pernah jumpa aku."

Gadis itu menyeringai. "Hehehe, maaf Abang," katanya malu-malu lalu menatap sang Ketua. "Vader nak bawa Abang Kaizo kemana?"

"Ke bilik rehat lah," dengus Ayahnya. "Dia akan bermalam disini sampai esok sore. Ada beberapa pasal yang Vader masih nak bincangkan dekat dia."

"Haeh, bincang orang dewasa pun," desah sang gadis berpita lalu memandang Kaizo dari kepala sampai kaki selama beberapa menit. Kaizo segera heran dibuatnya.

"Apasal kau pandang-pandang dekat aku ni?"

"Hmm-" gadis itu menggaruk dagunya sendiri. "Abang Kaizo masih muda. Sayang betul kalau Abang tak 'awetkan' masa muda Abang."

"Eh?" Kaizo tersentak. Kalimat gadis berpita itu membuatnya ling-lung. Apa maksud dari kata 'awetkan' yang diucapkannya tadi? Entah mengapa Kaizo merasa aura di sekitarnya menjadi suram, membuatnya berkeringat dingin seketika.

"Hahahaha, Abang takut ke? gurau je," tawa si gadis geli. "Ah, ada beberapa pasal yang aku kena buat dahulu. Bye, Abang Kaizo. Bye, Vader! Jumpa lagi esok pagi."

Dia berkata begitu seraya melambaikan tangan pada kedua lelaki itu sebelum akhirnya menghilang di persimpangan lorong yang gelap.

"Aku tak faham apa benda yang dia cakapkan tadi," desah Kaizo. "Dia cakap masa muda aku kena 'diawetkan'."

Sang ketua tertawa. "Ahahahaa, Kaizo, Adik angkat kau tu dah berubah sangat dah," katanya. "Dia suka koleksi patung. Dia mandiri betul, buat Patung-patung lawa dengan tangan dia sorang kat Laboratorium dia. Aku bantu dia sikit perihal proyek patung dia tu. Kau tau lah, benda animakronik."

"Laboratorium? Apa pula hubungan dengan pembuatan patung animakronik? Patung dibuat kat Pabrik, bukan dibuat dekat Lab."

"Ahh, dia tu ilmuwan cilik, sikit macam Moeder dia. Dia kata dia nak jadi Dokter dekat masa hadapan dia. Atau lagi tepatnya- Dokter amputasi dan taksidermi."

Kaizo terhenyak. Tubuhnya langsung bergetar. Ditatapnya Ketua ONION dengan wajah kaget bukan kepalang.

"Maksud kau ... dia buat patung-patung tu dari Potongan tubuh asli!?"

"Boleh dibilang macam tu," kekeh sang Ketua. "Dia jadi macam tu selepas ditinggal kawan baik dia. Dia sayang kawan dia. Kesian. Sebab rindu sangat dekat kawan tu, dia pon terobsesi buat 'awetkan' orang ramai agar boleh tinggal bersama dia selamanya. Mungkin macam pandangan Vader dahulu dekat kawan-kawan lama Vader, tapi lagi ekstrim. Dan target terbaik dia adalah Kawan baik dia yang aku cakap tadi."

Kaizo mengidik. "Bila masa dia jadi psikopat ni?" tanyanya sedikit ngeri. "Dan siapa kawan baik yang dia rindukan sangat tu? Sampai buat dia gila macam tu pulak."

"Oh, kawan dia tu? BoBoiBoy lah. Anak aku macam kehilangan sangat selepas BoBoiBoy pindah sekolah ke Pulau Rintis. Biasa budak-budak. Masih labil."

Kedua mata Kaizo terbelalak. "Apa!? BoBoiBoy?! Budak Bumi tu kawan baik dia dahulu?!" tanyanya kaget. "Kenapa Vader tak cakap awal-awal? BoBoiBoy tu mantan musuh aku dan saingan Adik kandung aku lah."

"Saingan ke, musuh ke, terserah kau nak cakap apa," dengus Sang Ketua. "Dah lah. Aku kena bawa kau ke bilik rehat sekarang. Bisa-bisa kau bangun kesiangan esok."

Kaizo mendesah panjang dan kembali mengikuti Sang Ketua berjalan di lorong itu. Tak lama kemudian, keduanya masuk ke sebuah kamar tidur berukuran sedang bernuansa minimalis.

"Ini bilik kau," jelas sang Ketua ONION. "Selamat tidur."

Ditinggalkannya Kaizo di kamar itu seraya menutup pintu dari luar. Kaizo tertegun. Detik berikutnya ia membalik badan dan menyambar gagang pintu, hendak membukanya.

CLEKK! CLAAAKK!

Terkunci.

"Hish, Vader ni! Pakai acara kunci-kunci pulak!" Dengusnya kesal. Disambarnya Pedang lasernya dan mengayunkannya ke pintu itu. Anehnya pintu itu tidak hancur sama sekali. Detik berikutnya terdengar suara tawa berat dari balik pintu.

"Hahahahaa, Kaizo, jangan harap aku akan biarkan kamu pergi malam ni. Pintu ni dah dilindungi tiga number kode. Kamu tak kan boleh buka Pintu tu tanpa izin dari aku. Berdoalah," ujarnya sarkastik.

Kaizo menggeretuk. "Vader, aku nak negosiasi lah, bukan dikurung macam ni!"

"Hah, terserah!" Dengus sang Ketua. "Yang jelas kau dan aku akan bincangkan pasal tu esok."

Suara itu pun dilanjutkan tawa sinis yang terdengar semakin menjauh. Kaizo meringis kesal dan meninju pintu di depannya. Hasilnya punggung tangannya lebam seketika.

"Terlalu!" gumamnya berang. "Dia dah jebak aku kat sini pulak. Apa aku kena buat ni?"


Di pihak lain, Blaze dan Fang berlari melintasi halaman depan gedung Markas Organisasi ONION. Mereka berhenti sejenak di tengah-tengah halaman raksasa berbentuk bundar itu, menatap tiga gedung yang menjulang tinggi di depan mereka. Terutama gedung tengah yang tingkatnya mencapai lantai Sembilan puluh.

"Tingginya," desis Blaze kagum. "Ini macam gedung Kantor dekat Bandar. Tapi apasal model Markas diorang macam ni pulak?"

Fang mengangkat bahu. "Entah. Suka-suka diorang lah nak buat Markas ni macam apa," tukasnya. "Kira-kira pecahan-pecahan kau tu ditahan dekat lantai berapa?"

"Mungkin dekat lantai tertinggi," balas Blaze menebak. "Biasa pon Penjahat simpan tahanan dia dekat tempat yang sulit dijangkau. Jom kita masuk lewat pintu depan tu!"

"Hei, kau ni gila ke!? Mana ada penyusup masuk lewat pintu depan!" tanya pemuda berkacamata di sebelahnya dengan kesal. "Kita kena masuk lewat pintu belakang lah."

Blaze menggaruk belakang kepalanya tanda bingung. "Tapi kita tak tahu Pintu belakang tu ada dekat mana."

"Heleh- tinggal cari je. Apa susah?" balas Fang seraya berjalan menuju sisi lain gedung tengah, hendak mencari pintu masuk lain. Sekonyong-konyong secarik kertas jatuh di atas kepalanya. Fang mengambilnya dan membuka lipatan kertas itu.

"Eh? Kertas apa tu, Ah Meng?" tanya Blaze sembari ikut nimbrung di sebelah Fang. Fang mendengus kesal dan mendelik ke BoBoiBoy pengendali api itu.

"Hish, aku Fang, bukan Ah Meng!" katanya kesal lalu kembali menoleh ke kertas yang dipegangnya. "Kertas ni jatuh kat atas kepala aku tadi. Pelik betul."

"Jom kita tengok apa isinya," usul Blaze lalu menuding ke kalimat awal di atas kertas itu. "Ditujukan kepada Patik BoBoiBoy Blaze dan ... Patik PANGkas rambut!?"

"APA!?" Fang terbelalak nista. "Bila masa nama aku Pangkas rambut!? Hiihhh- aku akan belasah penulis Surat ni!"

"Haha, nama kau tu memang terbaik lah, Pang!" ucap Blaze geli seraya mengacungkan jempol. Namun ia terdiam begitu Fang memberinya tatapan sangar.

"Apa kau cakap!?"

"Hehehe, sori. Gurau je."

"Sudah! Buang masa betul lah kita ni," ujar Fang lalu melanjutkan membaca isi kertas itu.

Aku ada dekat atas korang. Bersiaplah untuk dikalahkan. Tertanda: Rosaline.

Blaze tersentak kaget. "Hah!? Rosaline!? Jangan-jangan ..."

"BoBoiBoy, tengok tu!" Fang menuding ke atas gedung tengah. Ia dan Blaze melihat sosok Rosaline terjun dari puncak gedung tengah Markas ONION dan mendarat di tengah halaman depan. Wanita itu berdiri angkuh. Kedua saya Kelelawar raksasanya membentang di sisi kanan-kiri tubuhnya. Blaze dan Fang segera pasang kuda-kuda melihatnya.

"Ah, selamat malam, tamu-tamu terhormat," sindirnya sinis, membuat kedua bocah lelaki yang berada tak jauh didepannya mengidik seketika. "Ada yang perlu saya bantu?"

"Cih, tumben je kau berbudi bahasa macam ni," sindir Blaze. "Guna acara tulis surat pulak tu."

"Betul tu. Nama aku pon kau salah tulis!" kata Fang kesal. "Nama aku tu Fang lah, bukan PANGkas rambut!"

Rosaline terkekeh. "Ah, aku memang sengaja salah tulis macam tu," katanya geli. "Aku dah tahu nama sebenar kau, budak. Laptop kau tu berguna sangat. Aku jumpa benda tu dari seseorang yang jumpa dia dekat dari lautan. Terutama maklumat pasal Abang kau: Kapten Kaizo."

Fang terkejut. "Hah!? Kapten Kaizo?" pekiknya kaget. "Patut lah aku tengok Kapal Angkasa dia sebelum pergi ke sini. Apa yang kau dan rakan-rakan kau nak buat dekat dia, Heh?"

"Ketua ONION nak rekrut dia sebagai member," balas wanita itu. "Kaizo tu hebat sangat, jadi Ketua pon mahukan dia buat join kami. Dah lah. Aku hanya nak tanyakan satu soalan. Apahal korang berdua ada dekat sini? Nak serahkan diri korang secara cuma-cuma ke? Baguslah kalau macam tu."

"Hiiih- siapa pulak yang nak serahkan diri dekat kau?" idik Blaze. "Keterlaluan! Kau dah belasah pecahan-pecahan aku! Tak de ampun buatmu!"

"Uhuhu- galaknya," ejek Rosaline. "Jangan risau. Sekejap lagi kau akan bergabung dengan mereka, Blaze. Kuasa api milik kau mesti hebat, Ehehehahahaa! Ambil ni: BEBOLA AIS-"

"PENGIKAT BAYANG!"

"Hah!?"

Rosaline terkejut. Beberapa tali bayangan melilit tubuhnya sehingga membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Diliriknya Fang yang berada di belakangnya dengan tatapan nanar.

"Sekarang, BoBoiBoy!"

"Okey!" angguk Blaze lalu melompat ke udara dengan energi api raksasa di kedua tangannya. Puluhan batuan panas terbentuk di sekitarnya. Blaze berteriak keras-keras seraya menampikkan tangannya ke bawah.

"METEOR API BERTALU-TALU!"

Serta-merta Meteor-meteor yang panasnya bukan main itu menerjang ke arah Rosaline, mengenai wanita itu. Rosaline menjerit begitu bara-bara api panas itu mengenai kulitnya. Ia berusaha membebaskan diri namun cengkeraman Fang terlalu kuat. Rupanya anak itu sudah makan Donat Lobak merah sebanyak setengah lusin tadi sore sehingga tenaganya menjadi luar biasa kuat. Kekuatannya terbantu dengan cahaya bulan ditambah penerangan dari Meteor-meteor api Blaze. Melihat Rosaline sudah kewalahan dengan serangan mereka, Fang mengarahkan tinjunya ke wanita itu.

"Rasakan ni: TUMBUKAN BAYANG!"

BUUUUMMMM!

Ledakan besar terjadi di halaman depan Gedung Markas ONION. Arumugam yang sedang berusaha untuk tidur langsung menutup kepalanya dengan bantal.

"Dey, bising sangat lah! Nak tido tau!" tukasnya kesal.

Kaizo mendengar suara ledakan itu. Sayang sekali kamar tempat ia berada memakai jendela berkaca buram sehingga ia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Pintunya dikunci dari luar oleh Ketua ONION, seakan Kaizo adalah tahanan rumah disitu. Pria itu mendesah panjang sembari duduk di atas ranjangnya. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat.

"Apasal perasaan aku macam tak enak sangat ni?" desisnya lirih sebelum akhirnya membaringkan kepalanya di bantal dan tertidur lelap.

Kembali ke pertarungan di halaman depan gedung. Asap akibat ledakan masih tersebar dimana-mana. Blaze dan Fang menatap asap itu lamat.

"Yuhhu! Kita dah berjaya!" Ujar Blaze riang. "Rosaline dah kalah! Tahniah buat kita semua! Hebat sangat kolaborasi api dan bayang tadi, Fang!"

"Haahh, Ye lah tu." Fang mendengus seraya menarik tangan Blaze. "Cepat! Kita kena selamatkan pecahan-pecahan kau sebelum-"

"Sebelum apa? Hahahaha! Jangan harap korang boleh lepas dari aku!"

Fang terhenyak. Ia dan Blaze melihat ke depan. Tampak Rosaline yang dilindungi oleh perisai transparan yang dialiri listrik, melindunginya dari serangan dua bocah itu tadi walaupun gaunnya tampak legam disana-sini akibat serangan meteor Blaze. Dia tertawa seraya memegang keningnya bak orang gila.

"Tak ... Tak mungkin! Serangan kita tak berkesan!?" keluh Blaze panik. "Macam mana ni, Fang? Kalau kita serang dia terus. Kita akan habis masa buat selamatkan pecahan-pecahan aku!"

"Tch, susah betul lawan dia ni," dengus Fang. Tenaga mereka terkuras akibat serangan mereka yang memakan banyak energi. Rosaline mengangkat wajahnya ke arah mereka dengan seringai gila dan melanjutkan tawanya.

"Hahaahahahahaaa! Budak payah! Asyik cakap kalau korang dah berjaya belasah aku, Hahahahahaaaa!" tawanya. "Besar kepala sangat lah korang ni, HAHAHAHAHAAAA!"

"Hei, sudah-sudah lah kau gelak tu," kata Blaze sweatdrop. "Macam tak waras je. Dan-"

"BOBOIBOY, AWAAAAASSSS!"

"EHH!?"

Sekonyong-konyong Fang mendorong Blaze ke samping. Blaze tersungkur. Ia memegang bahunya yang menimpa lantai halaman depan itu.

"Ei, Fang. Apasal kau tolak aku ke samping!? Sakit lah!" tukasnya kesal. Namun ia tertegun melihat temannya sudah tidak ada di sampingnya.

"Fang? Mana kau?" tanyanya heran. Sekonyong-konyong kedua mata jingga kemerahannya memandang horor begitu ia melihat ke atas gedung.

Disana ... tampak Rosaline mencengkeram leher Fang dan mengangkat tubuh anak itu tinggi-tinggi ke udara. Rupanya wanita itu hendak menangkap Blaze namun Fang segera mendorong anak itu ke samping sehingga dirinya yang tersambar cengkeraman Rosaline.

"FANG!" jerit Blaze histeris. Fang berusaha melepas tangan Rosaline dari lehernya. Namun nahas, wanita itu mulai menguras energinya sehingga Fang tidak mampu melepas tangan Rosaline. Mulutnya mengap-mengap. Ditatapnya Rosaline nanar.

"Ka- Kau ... jangan berani kau ... ganggu kawan aku ..." tukasnya berang lalu melirik Blaze. "Lari, BoBoiBoy! Selamatkan ... pecahan kau ... ugh ..."

Kedua tangannya yang memegang tangan Rosaline langsung terkulai. Blaze membelalak begitu melihat Fang pingsan di tangan wanita itu, Rosaline tertawa dan menatap sang pengendali api dengan tatapan mengejek.

"Ah, tenaga aku dah balik semula," katanya senang. "Kau boleh jumpa budak ni kat dalam gedung nanti, BoBoiBoy Blaze. Tak baik menelantarkan tamu kat pintu masuk. Selamatkan dia dan pecahan-pecahan kau kalau kau mampu, Ehehehahahahaa!"

"TIDAAAKKK! Lepaskan kawan aku!" Blaze benar-benar stress melihat kejadian di depannya itu dan melompat ke udara. "TERJANGAN TIANG API!"

Diarahkannya tiang-tiang api itu ke arah sang wanita Alien mirip Succubus itu. Namun Rosaline sudah terbang ke lantai Sembilan puluh, membawa Fang yang sudah pingsan bersamanya sehingga serangan Blaze meleset dan memecahkan kaca gedung di lantai lima. Anak itu langsung terduduk lemas di halaman depan gedung.

"Tidak ..."

Fang sudah tertangkap. Blaze merasa bodoh sekali karena membawa-bawa temannya itu ke dalam masalah seperti ini. Kalau saja dia tidak keluyuran di depan tenda, kalau saja dia tidak mengajak Fang untuk menemui gadis berwajah oriental di gua Kristal itu, kalau saja dia tidak ceroboh terjatuh ke lubang di gua itu, kalau saja dia tidak-

"AAAAAAAAARRGGGGHHHHHH!"

Blaze memegang kepalanya kuat-kuat. Semakin dia menyalahkan dirinya sendiri, maka semakin berat tekanan batin yang diterimanya. Blaze merasa sebuah cairan hangat mulai membasahi pipinya. Dia menangis sesunggukan, menyesali kecerobohannya. Kenapa harus temannya? Kenapa bukan dirinya saja yang ditangkap Rosaline tadi? Blaze meninju tanah keramik dibawahnya. Sakit memang. Namun ia tidak peduli dan terus meninju hingga kepalanya tangannya mulai memerah. Sekonyong-konyong sebuah suara menyapanya.

"Kau tak kan bisa tolong dia kalau kau depresi macam tu."

"Eh?"

Blaze menoleh. Rupanya wanita yang memberinya Mobil tadi yang menyapanya. Dihapusnya air matanya dan memandang wanita itu dengan ekspresi wajah anak rusa yang sedang terluka.

"Makcik? Makcik tengok pertarungan kami tadi?" tanyanya lugu. "Makcik tahu ke Pintu masuk lain kat gedung ni?"

Wanita itu mendesah. "Mestinya aku tak bagi tahu kau benda tu," tukasnya dengan wajah simpati. "Tapi aku tahu kau nak selamatkan kawan kau. Kau mesti bergegas, sebelum Rosaline sempat belasah dan sedut tenaga dia."

"Eh? Bila masa Makcik tahu pasal Rosaline suka belasah budak kecik? Makcik ni sebenarnya siapa? Ahli pasukan ONION kah?"

"Kau akan tahu siapa diri sebenar aku suatu masa nanti. Dah lah. Kau kena bergegas. Pintu belakang tu ada kat sisi kiri gedung. Lepas tu, kau naik lift hingga tiba kat lantai sembilan puluh. Bilik Rosaline ada kat sana. Tapi jalan tercepat buat tiba kat sana ialah lewat sebuah Aula besar berinisial 'Istana patung' dan keluar kat sebuah lorong. Selepas tu, kau akan jumpa bilik dia dekat pintu kedua sebelah kanan."

Mata Blaze langsung berkaca-kaca. "Te- Terima kasih banyak, Makcik," katanya terharu. "Makcik baik sangat nak bagi tahu aku jalan tu."

Wanita itu tersenyum. "Sama-sama, nak. Sekarang pergilah dan selamatkan kawan kau."

"Eh? Makcik tak nak temankan aku ke?" tanya Blaze heran. Wanita itu hanya menggeleng.

"Maaf, nak. Makcik kena low profile sebab dah bagi maklumat pasal markas ONION dekat kau. Makcik tak boleh temankan kau. Pergilah, cepat!"

Blaze mengangguk dan berlari ke sisi kiri gedung Organisasi dan masuk ke pintu yang dimaksud wanita itu. Sang wanita hanya tersenyum simpul melihatnya.

"Setidaknya aku boleh bantu dia buat selamatkan kawan dia," ujarnya lega. "Tak kesah pun pasal tu tadi. Bisa-bisa Ketua akan hapuskan aku kalau aku temankan budak tu masuk."

Sejenak ia melihat gedung Markas ONION sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan menuju kegelapan di belakangnya.


Fang membuka matanya, remang-remang. Ruangan tempatnya berada sekarang nyaris gelap gulita. Fang memandang sekeliling. Satu-satunya pintu udara di ruangan itu hanya sebuah lubang sebesar tomat di pojok kiri atas. Tubuhnya menggigil. Namun Fang tahu ada yang lebih buruk dari suhu dingin yang mendekati titik beku itu.

Kedua tangannya terborgol sepasang rantai yang masing-masing ujungnya dicor ke dinding di kanan dan kiri, menarik kedua tangannya ke dua sisi dinding itu kuat-kuat sehingga membuat posisi tubuh Fang seperti huruf Y sementara lutut dan betisnya menyentuh lantai, membuatnya menjadi seakan dalam pose setengah duduk-setengah berdiri. Fang menggumam sesal. Dia ingat saat Rosaline hendak menangkap Blaze namun ujung-ujungnya dirinya yang tertangkap tadi.

Memalukan! Kenapa dia begitu mudah tertangkap oleh wanita gila itu?

BoBoiBoy memang saingannya. Namun dia adalah teman terbaik Fang bersama Yaya, Ying, dan Gopal, tidak peduli kalau Fang bukan Manusia seperti mereka. Dan setidaknya Fang masih bisa menyelamatkan pecahan BoBoiBoy Blaze itu dari cengkeraman Rosaline.

Hanya ada satu yang diinginkannya saat ini: Membebaskan dirinya yang terbelenggu dan menyelamatkan pecahan-pecahan BoBoiBoy yang ditahan di gedung yang sama.

Fang berusaha melepas sepasang rantai itu dari kedua pergelangan tangannya, namun nihil. Rantai itu kuat sekali. Fang berusaha menggunakan kekuatannya untuk membebaskan diri, namun dia sadar selama ruangan tempatnya berada tidak ada sinar sedikitpun, maka kekuatannya tidak ada gunanya. Menggunakan kekuatan penembus miliknya pun tidak banyak membantu. Dia hanya bisa mengaktifkan itu dengan menekan tombol di kacamatanya, itupun kekuatan penembusnya kurang efektif karena helm penembusnya sempat hancur saat digunakan untuk melawan Abangnya yang sempat menjadi musuh teman-teman Manusianya dua tahun yang lalu. Dan sekali lagi karena kedua tangannya masih terborgol, rencana itu pupus dengan sendirinya.

"Pelik. Kenapa Rosaline tahan aku dekat sini?"gumamnya heran. "Ingatkan cuma BoBoiBoy je yang dia mahukan. Ternyata aku pon dia mahukan pulak."

Lima menit pun berlalu. Sekonyong-konyong pintu tak jauh di depannya terbuka. Tampak Rosaline berdiri disana sembari masuk dan menutup pintu itu, mencegah sinar lampu di lorong masuk ke ruangan dimana Fang berada. Dalam keremangan itu Fang masih bisa melihat seringai lebar nan gila dari mulut Rosaline. Wanita itu berjalan ke arahnya sambil menyeringai.

"Ah, maaf sebab kau bangun kat posisi tersiksa macam tu," tukas Rosaline geli seraya berlutut tak jauh di depan Fang. Anak itu mendengus.

"Cakap je kau nak belasah dan sedut tenaga aku," tukasnya marah. "Aku akan belasah kau!"

"Hahhh, tak baik marah-marah macam ni tau," tukas Rosaline geli. "Oh, ya. Aku memang sengaja tahan kau kat sini. Ada dua sebab kenapa aku buat benda tu."

"Dua sebab apa?" tanya Fang dingin. Wanita kriminal di depannya terkekeh.

"Dua sebab tu? Fufufu, baiklah. Sebab pertama: Aku nak jadikan kau anak buah aku selanjutnya. BoBoiBoy memang hebat. Tak jauh-jauh kawan-kawan lelaki dia pon hebat."

Fang terbelalak. "APA!?" pekiknya kaget." Kau nak jadikan dia anak buah kau? Gila betul!"

"Diam! Aku belum selesai bercakap," dengus Rosaline lalu melanjutkan penjelasannya. "Dan sebab kedua: Aku nak kau jadi sandera buat Kapten Kaizo. Dengan begitu dia tak kan boleh menolak buat join dekat Organisasi ONION ni, Hahahahahaaa!"

"Grrr- kau ingat Kapten Kaizo boleh kau taklukan macam tu?" ujar Fang remeh. "Dia tak kan join organisasi jenayah korang sampai bila-bila! Dia sorang yang cakap macam tu dekat aku."

"Hmm, iya ke?" Rosaline mengernyit. "Nampaknya tawaran aku agak payah."

"Memang lah payah," balas Fang dingin. Kedua tangannya yang dirantai ke samping mengepal kuat-kuat saking marahnya. "Jangan pernah kau paksa Abang aku buat join ONION, dan lepaskan aku juga pecahan-pecahan kuasa elemental BoBoiBoy!"

"Ohh, nak melawan ye? Baiklah. Kau dan Kaizo yang akan aku belasah sekali. Bersedia lah, kuhuhuu ..."

"Erghh- Kau Gila! Lepaskan kami!"

"Tak kan pernah," desis Rosaline nista. "HAHAHAHAHAAAA!"

Dia berkata begitu sembari mencengkeram bahu Fang pelan-pelan, membuat anak itu merinding. Oh, ini tidak bagus. Benar-benar tidak bagus. Fang merasa harga dirinya akan musnah kalau dia membiarkan Rosaline menyiksanya seperti ini. Ia menjerit begitu tangan Rosaline mulai mencakar bahu kanannya kuat-kuat.

"AAAAARRRGGGHHHHH! Kau- Kau dah melampau!" tukas Fang marah lalu memekik. "KAPTEN KAIZ- MMMMPPHHH!"

Pekikannya langsung teredam begitu Rosaline tahu-tahu membungkam mulutnya dengan lakban yang ditempelkan menutupi bibirnya. Fang meringis kalut. Nasibnya benar-benar terbalik. Kedua tangannya yang dirantai, mulutnya yang dibungkam ditambah Rosaline mulai mengambil energinya lewat cakarannya, lengkap sudah kekalutannya malam itu.

"Kuhuhuhuuu- Kapten Kaizo, he? Jangan harap dia kan dengar jeritan kau!" Kata Rosaline sinis. "Sebenar pun aku tak cakap dekat Ketua untuk tangkap kau. Aku sorang je yang nak kau jadi anak buah ketiga aku selain BoBoiBoy tu, HAHAHAHAHAHAAAA!"

Mendengar itu, kedua mata Fang melotot selebar mungkin. Wanita ini memang sudah tidak berperikemakhlukan. Ia berusaha mengelak, namun tubuhnya tidak kuat lagi. Fang merasa badannya mulai kesakitan dan lemas. Oh, jangan. Jangan! Kalau Rosaline masih melanjutkan serapan energinya, bisa gawat! Anak itu menutup matanya kuat-kuat begitu Rosaline semakin kuat mengambil energi tubuhnya lewat cakarannya. Ia berteriak dalam hati,

'AAAAAAAAAAARRGGGHHHHH!'

Dan dia hanya bisa berdoa dalam hatinya yang panik agar kejadian buruk ini segera berakhir.

Sementara itu, Kaizo tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Digenggamnya selimut bulu angsanya yang saat itu menutupi tubuhnya kuat-kuat. Entah mengapa suasana hati pria itu langsung memburuk saat itu juga. Detik berikutnya dia menggumam lirih.

"Fang..."

Karena Kaizo tahu, dia bisa merasakan sesuatu yang buruk tengah menimpa seseorang yang begitu dekat dengannya Malam itu.


Bersambung ...

HAAAAHHHH ... gimana? Seronok tak? ehehe

Fang: Seronok apanya?! AKU LAGI YANG DISIKSA! TUSUKAN BAYANG! (Ngamuk)

Gyaaaaaaaa! JANGAN FANG! JANGAAAANNNN!

Saya kabur dulu dari studio deh, si Fang lagi kejer2 tuh hehehe (Kabur ke tanah lapang)

Nah, mungkin ada beberapa yang mungkin menginspirasi saya untuk membuat latar cerita ini. Buat Sektor 456 itu ... yah rada2 mirip jalanan kota mati gitu. Dan Markas Organisasi terinspirasi dari gedung DBR dari The House of The Dead series. Tapi ga mirip2 amat soalnya lantai gedung DBR 50 lantai sementara Organisasi adalah 90 lantai (Tinggi amat, euy!) Dan gedung Organisasi tu ada tiga buah dan dipisah dengan jarak tertentu dan dihubungkan dengan jembatan di lantai enam puluh (Panjang amat sih deskripsinya, Mbak!)

Dah la. Capek aku. Silahkan review kalau beminat, Ok? ;)

Tetap setia menanti kelanjutannya ya. Love you All Dear Readers ^/^