Jumpa lagi, dear readers! Ah iya. Untuk bagian ini mungkin sama pendek kayak chapter sebelumnya, hehehe. Baiklah selamat membaca. :)
Apakah Blaze berhasil menyelamatkan Fang dan pecahan-pecahannya yang ditahan di gedung markas pusat? Silahkan Cari jawabannya di bagian ini. ^_^
Note: Rate T+, beberapa scene mengerikan. Tambah sedikit bumbu horor, dll.
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'The Chaotic of Elemental Split'
(Sebuah kisah fiksi)
Season 2
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 16: Istana Boneka
TING!
Bunyi mungil lift itu berdenting. Blaze tiba di lantai Sembilan puluh. Lorong di lantai itu gelap sekali. Hanya ada satu lampu yang masih menerangi di ujungnya. Itupun sinarnya terlihat begitu redup sehingga Blaze memutuskan untuk membuat penerangan sendiri dengan membuat sebuah kobaran api kecil di tangannya.
"Fyuhh- nasib baik aku boleh guna api kat sini. Buat penerangan kot," gumamnya pada dirinya sendiri. Dengan percaya diri ia menelusuri lorong itu. Menurut penjelasan dari wanita yang memberinya Mobil dibawah tadi, jalan tercepat menuju kamar Rosaline -yang dimana Blaze berasumsi kalau Fang ditahan disana- adalah melewati suatu Aula berinisial 'Istana Boneka'. Bagi Blaze, itu adalah sesuatu yang menarik untuk bocah dengan keingintahuan yang besar sepertinya. Dalam bayangannya, ruangan yang bernama 'Istana Boneka' itu adalah sebuah ruangan yang berisi berbagai jenis boneka Teddy bear dengan berbagai ukuran dan warna. Minimal berisi hal-hal yang menarik bagi anak-anak ataupun pemuda yang berjiwa hiperaktif dan bebas. Blaze langsung menyeringai lebar. Dalam hati timbul niatnya untuk melihat-lihat 'Teddy bear' yang menurutnya begitu empuk untuk dipeluk di dalam nanti.
JDUGGHH!
"Aduduhhh- apa benda yang langgar aku ni?"
Blaze melihat apa yang menabraknya- atau lebih tepatnya apa yang ditabraknya- di depan hidungnya. Sebuah pintu raksasa dengan desain bernuansa era Victoria di setiap sudutnya. Untuk sementara waktu sang manipulator api melongo di depan pintu itu. Tahu-tahu mata jingganya terbelalak begitu melihat sebuah tulisan di pelat logam yang berada di atas pintu.
ISTANA BONEKA.
"Wuaaahhh! Mujur sangat lah, Alhamdulillah. Ini dia yang aku cari," desis Blaze cengengesan seraya mendorong pintu yang secara 'kebetulan' tidak dikunci itu. Imajinasinya untuk memeluk boneka-boneka Teddy bear di dalam Istana Boneka akan segera terwujud. Dengan mantap ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang bernama Istana Boneka itu. Namun senyum harapan akan Teddy bear di bibirnya lenyap seketika begitu melihat apa yang ada di dalam ruangan boneka.
Namanya Istana Boneka, pastinya berisi Boneka. Sayangnya boneka Teddy bear yang diimpikan Blaze tidak ada di dalam sana. Pemuda itu hanya melihat puluhan boneka Manekin Manusia berjejer di sekeliling ruangan itu. Ukuran mereka berbeda-beda, mulai dari yang berukuran sebesar genggaman tangan hingga yang berukuran sebesar orang dewasa. Mereka mengenakan berbagai macam model pakaian, mulai dari pakaian tradisional hingga kontemporer. Hanya saja kebanyakan dari mereka memakai pakaian dengan model 'Gothic Lolita'. Sebagian dari Boneka-Boneka itu berada dalam posisi berdiri, dibantu oleh sebuah pasak di bawah kaki mereka agar tetap seimbang dan sebagian lagi didudukkan di atas beberapa kursi mewah berukuran kecil.
"Ini Istana Patung ke Toko butik?" tanya Blaze heran. "Cuma manekin je. Tak de Teddy bear, tak de Pinguin. Membosankan betul."
Dipandangnya Boneka-Boneka itu sembari berjalan melewati mereka. Aneh. Ekspresi wajah mereka terlihat datar dan sayu, seakan mereka dipaksa untuk berada disitu. Entah mengapa Blaze merasa bulu kuduknya mulai berdiri. Wajah mereka terlalu ekspresionis untuk menjadi sebuah boneka, pikirnya. Setiap boneka memiliki papan kecil yang tersemat di baju mereka, berisikan masing-masing sebuah nama. Blaze melewati sebuah boneka yang tingginya sama dengannya, memakai jilbab dan baju berwarna biru. Wajah boneka itu terlihat lebih sayu dari boneka-boneka sebelumnya. Blaze membaca nama yang tertulis di papan kecil yang tersemat di jilbab boneka itu: Siti Zubaidah.
"Eh? Siti?" tukas Blaze tiba-tiba. "Macam kenal je. Tapi dia ni patung, bukan Manusia. Pelik betul muka dia. Macam nampak lagi sedih daripada patung yang lain. Dia macam nak tangisi aku."
Dilewatinya boneka bernama Siti Zubaidah itu. Blaze tetap berjalan melewati boneka-boneka yang lain sampai akhirnya ia tiba di depan sebuah boneka berukuran sedang di ujung ruangan.
Boneka itu adalah boneka gadis kecil berambut perak kehitaman dengan mata biru. Bajunya bermodel Gothic Lolita berwarna hijau tua. Rambutnya dikuncir ke bawah menjadi empat bagian menggunakan empat pita mungil bewarna hijau. Wajah boneka itu tidak sayu seperti boneka-boneka yang dilihat sebelumnya, melainkan lebih mendekati seringai lebar nan gila. Mau tidak mau Blaze merinding melihat boneka yang 'lain daripada yang lain' itu. Dibacanya papan nama yang tersemat di dada sang boneka hijau.
Martha.
"Macam Mila je. Ke dia ni kembaran dia ke?" Blaze memandang boneka yang menyeringai itu dari kepala sampai kaki. Namun dia segera melanjutkan niat awalnya: mencari Fang dan pecahan-pecahannya yang lain di gedung itu. Ditinggalkannya boneka gadis hijau itu dan tiba di sebuah kursi yang mirip singgasana raja di ujung ruangan. Kursi itu letaknya lebih tinggi dari ruangan di sekelilingnya.
Di dalam imajinasinya, kursi itu adalah tempat duduk raja boneka di ruangan itu. Namun kursi itu kosong, tidak ada yang menempatinya.
Blaze menaiki telundakan kecil menuju kursi itu. Rasa penasarannya pada Istana Boneka ini semakin menjadi-jadi. Sekonyong-konyong kakinya menginjak sesuatu, sebuah buku gambar. Blaze segera mengambil buku itu dan melihat judul yang terpampang di halaman depan buku itu: Carrie Careless and Galette des Rois.
Merasa tertarik, Blaze membuka buku itu dan membacanya. Isinya adalah beberapa gambar anak-anak bewarna-warni dengan penjabaran cerita di sisi kiri halaman buku. Blaze duduk di telundakan sembari memangku buku itu dan mulai menyimak cerita di dalamnya.
CARRIE CARELESS AND GALETTE DES ROIS*
(Latar adalah sebuah rumah kecil dengan empat orang anak yang tampak mengelilingi sebuah kue tart di atas meja. Salah satu dari keempat anak itu adalah Carrie. Dia dan kedua temannya diajak ke rumah seorang teman yang satu lagi untuk merayakan ulang tahun Carrie)
Teman-teman Carrie: "Selamat Ulang tahun, Carrie!" ^_^
Carrie: "Terima kasih, teman-teman." ^_^
Teman 1: "Untuk Ulang tahunmu yang spesial ini, kami membuatkanmu 'Galette de Rois'." ^_^
Carrie: "Apa itu?"
Teman 1: "Di dalam kue Tart ini terdapat sebuah koin. Dan jika salah satu dari kita mendapatkan potongan kue yang berisi koin itu, maka dia akan menjadi orang yang paling bahagia!" ^_^
Carrie: "Wow, kedengarannya menyenangkan :)!"
Teman 2: "Kalau begitu, ayo kita potong kue ini dan makan!"
Mereka pun membagi kue tart itu menjadi empat bagian dengan sebuah pisau pemotong kue dan memakan bagian masing-masing. Tiba-tiba Carrie tersedak.
Carrie: "Uhh- sepertinya aku baru saja menelan sesuatu yang keras."
Teman 3: "Oh! Itu pasti koin-nya!"
Carrie: "Apa yang harus kulakukan?" :(
Teman 1: "Hahaha, Carrie. Tenang saja. Itu hanya sebuah koin. Baiklah. Aku akan membereskan piring-piring ini terlebih dahulu."
Teman 1 membawa piring bekas kue tart dan pisau pemotong kue ke dapur. Disana ia melihat ibunya yang tampak mondar-mandir dengan wajah kebingungan.
Teman 1: "Ada apa, Ibu?" :/
Ibu Teman 1: "Apakah kau melihat kunci untuk membuka pintu?"
Teman 1: "Oh, jangan khawatir ibu. Kunci itu biasanya ada di atas mej-"
Dia tertegun begitu melihat benda yang berada di atas meja itu bukan kunci, melainkan sebuah koin!
Teman 1: "Itu... Itu Koin-nya! Koin yang seharusnya dimasukkan ke dalam kue tart tadi-"
Ibu Teman 1: "Bagaimana ini? Ayahmu pasti marah." :(
Sang Ibu keluar dari ruangan itu. Teman 1 merasa kebingungan. Dia keliru memasukkan kunci pintu ke dalam kue tart untuk ulang tahun Carrie, bukannya koin. Dibayangkannya wajah marah ayahnya karena kunci pintu itu 'hilang' alias sudah tertelan oleh Carrie.
Teman 1: "Apa yang harus kulakukan?" :(
Karena panik, tanpa sengaja ia menjatuhkan pisau pemotong kue yang dipegangnya dan menimbulkan suara berisik. Dilihatnya pisau itu dan melirik ke ruangan dimana Carrie berada. Spontan sebuah ide gila muncul dibenaknya. Dia harus mendapakan kunci pintu itu, apapun yang terjadi!
Teman 1: (Membawa pisau pemotong kue ke ruangan dimana Carrie berada) "Sepertinya aku sama cerobohnya seperti Carrie." O_o
(Suara tusukan pisau terdengar)
Teman 1: (Keluar dari ruangan Carrie dengan pakaian berlumuran darah seraya mengacung sebuah kunci yang berlumuran darah pula) "Aku menemukan kuncinya! ^_^ Sekarang kita bisa membuka pintunya." :)
Krikk... Krikk... Krikk... Krikk...
Untuk beberapa saat, Blaze melototi cerita yang baru saja dibacanya itu. Kunci dan Koin yang tertukar, Kepanikan yang berujung pada akhir yang mengerikan, berkecambuk dalam pikiran BoBoiBoy pengendali api itu.
Dua menit-
Satu menit-
Tiga puluh detik-
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
Blaze langsung melempar buku itu jauh-jauh. Jantungnya berdebar, bulu kuduknya terasa berdiri lurus ke atas, menegang. Blaze merinding seraya memeluk dirinya sendiri. Ia masih memikirkan cerita yang baru saja dibacanya tadi.
"Psi- Psikopat sangat! Apasal buku pelik macam ni ada dekat bilik ni?" gumamnya merinding. Dia tidak menyangka buku dengan gambar kekanak-kanakan namun bernuansa horor itu ada di ruangan seperti ini. Blaze memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya, berusaha menenangkan diri.
Tanpa ia ketahui, sebuah sosok membuntutinya dari belakang.
"Ah, tak sangka pun dia ada kat sini. Budak tu comel lah. Baik aku dekati dia."
Blaze merasa mendengar sebuah suara di belakangnya. Ia menoleh. Namun yang dilihatnya hanya boneka Martha yang berbaju hijau yang masih berdiri kaku di atas tempatnya semula.
"Mungkin ini cuma perasaan aku sahaja," desisnya sembari melangkah menaiki telundakan.
Blaze kembali memalingkan diri ke kursi raja di hadapannya. Namun tanpa ia sadari, boneka gadis berbaju hijau tak jauh dibelakangnya sudah berpindah ke depan sejauh beberapa sentimeter. Blaze menoleh sekali lagi, dan boneka itu tidak bereaksi apa-apa.
'Hish, jangan buat aku takut la!' batinnya kesal seraya kembali memeriksa kursi raja.
Boneka gadis berbaju hijau di belakangnya masih berada di bawah telundakan.
"Baiklah. Jadi dia ni budak BoBoiBoy yang sering disebut Tuan Puteri ke? Hebat sangat dia ni, berani masuk-masuk kat bilik macam ni."
Blaze mendengar suara itu dan kembali menoleh. Wajahnya berubah horor begitu melihat boneka gadis berbaju hijau bernama Martha itu sudah berada di atas telundakan.
'Bila masa dia dah ada kat bawah tu? Dia kan cuma patung je. Mana boleh berpindah tempat? Ke dia tu animakronik?' batin Blaze ngeri. Namun ia cepat-cepat menyingkirkan pikiran yang tidak-tidak dari kepalanya dan menatap kursi raja di depannya. Sebuah papan kecil tertera di atas kursi itu. Namun sebelum Blaze sempat membaca nama yang ada di dalam papan itu, tiba-tiba lampu ruangan itu mati.
PSST!
Blaze terbelalak. "Apasal lampu ni tetiba mati? Baik aku kena cari Fang dan pecahan-pecahan aku yang lain, bebaskan mereka dan pergi dari sini sepantas mungkin," tekadnya.
Ditepuknya telapak tangannya sehingga memunculkan dua kobaran api di atas keduanya yang berfungsi sebagai penerangan. Anehnya, api itu tiba-tiba padam. Untung saja sinar bulan masuk dari jendela sehingga Blaze masih bisa terbantu untuk keluar dari Istana Boneka itu. Tanpa diketahui boneka Martha sudah berdiri di belakangnya. Blaze merasakan kehadirannya dan menoleh. Langsung saja tangan kaku boneka itu menyergap tubuhnya dari belakang. Sang pengendali api langsung pasang tampang ketakutan 100%.
"PA- PATUNG NI HIDUP!? JANGA- NNNMMMPPPHHH!"
Tangan kanan boneka Martha itu membekap mulutnya, mencegah teriakan Blaze terdengar hingga keluar ruangan. Blaze merasa keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Detik berikutnya ia terseret mundur. Martha menariknya ke sebuah sudut yang gelap, membuat Blaze melotot horor. Ia berusaha membebaskan diri dari cengkeraman boneka itu. Namun tangan Martha yang meringkusnya seakan terbuat dari bahan sekeras batu akik. Didengarnya suara seorang gadis dibelakangnya. Blaze melirik ke belakang, dan mata jingganya semakin terbuka lebar begitu melihat wajah Martha yang menyeringai di samping kepalanya.
"Jadilah raja kami."
'AAAAAAAAAAAHHHHHHH!'
Didorong ketakutan yang luar biasa, Blaze mengobarkan api besar di sekeliling tubuhnya. Segera saja sergapan Martha lepas darinya. Boneka itu jatuh ke lantai dengan posisi horizontal yang kaku. Blaze menelan ludah. Ini pertama kalinya ia melihat boneka yang bisa bergerak hidup. Bocah itu melangkah mundur begitu melihat boneka Martha kembali berdiri dengan posisi lurus dengan wajah seringai mengerikan miliknya.
"A- Apa yang kau nak dari aku?" tanya Blaze ngeri begitu boneka di depannya mulai bergeser ke arahnya.
Martha mengeluarkan suara cekikikan. "Haaahh- aku nak kau jadi bahagian daripada kitorang je. Tuan Puteri mahukan kau buat jadi Mahakarya dia, dan tentunya- jadi macam aku pulak, Hahahahaha!"
"He- Hentikan! Kau patung pelik! Ambik ni: BEBOLA API!"
Blaze menendang beberapa bola api ke arah Martha, mengenai boneka itu hingga jatuh tersungkur. Dia mengingat game M*d Father yang pernah diceritakan Gopal padanya, membuatnya berpikir bahwa situasinya sama seperti yang dialaminya sekarang ini.
Blaze segera berlari menuju pintu ruangan Istana Boneka. Dia harus segera keluar dari situ dan mencari teman-temannya yang sudah tertangkap. Ditariknya gagang pintu kecil yang katanya menuju ke Labolatorium itu. Pintu itu lumayan berat. Tangan kecil Blaze kepayahan untuk membukanya. Tahu-tahu sebuah suara terdengar dari belakang.
"Aku akan bagi kau dekat Tuan Puteri, Hihihi ..."
Sang pengendali api mendelik. Tiba-tiba ia merasa sesuatu menarik-narik kakinya. Blaze menoleh ke bawah dan terbelalak horor begitu melihat Martha mencengkeram kaki kanannya dengan tangan kerasnya. Wajah boneka itu menengadah ke arahnya, menyeringai gila. Ditariknya kaki kanan Blaze sekuat tenaga sehingga tangan Blaze terlepas dari gagang pintu keluar.
"HUWAAAAAAAAAAAAAAA!"
Fang mendengar suara teriakan Blaze di Istana Boneka. Ia meringis. Rosaline yang berada tak jauh di hadapannya langsung tertegun dan menganalisis siapa pemilik teriakan itu. Detik berikutnya ia terkekeh.
"Ah, akhirnya dia dah masuk kat gedung ni," desisnya seraya tersenyum ganjil. Fang hanya mendengus, mengingat mulutnya dibungkam oleh lakban. Rosaline melirik ke arahnya dan menjambak rambut landak pemuda itu.
"Jangan risau, Tuan PANGlima perang. Aku akan segera belasah kawan kau tu," ujarnya dengan nada suara sinis, membuat Fang merasa ngeri untuk kesekian kalinya.
'Wanita pelik! Dah lah jahat, tamak pulak tu,' batinnya kesal. 'Salah sebut nama pun. Masih tak puas selepas belasah pecahan-pecahan BoBoiBoy dan diri aku. Sampai bila dia akan terus buat benda macam ni?'
Dilihatnya Rosaline yang keluar dari ruangan gelap itu dan menutup pintunya dari luar, meninggalkan Fang seorang diri. Fang mendesah perlahan. Seluruh tubuhnya terasa lemas bercampur ngilu tulang yang luar biasa. Untungnya kekuatan serapan tenaga milik Rosaline tidak sampai membuatnya jatuh pingsan. Udara dingin ruangan itu membuat tubuhnya menggigil hingga nyaris mendekati titik beku. Kedua tangannya yang terentang ke samping karena tarikan sepasang borgol rantai di kanan-kiri terasa pegal sekali. Namun Fang tidak terlalu memikirkan itu. Yang berkelebat dalam benaknya sekarang adalah kondisi teman-temannya dan Kakaknya.
Ah, Fang hampir saja lupa. Dia ingat Kapten Kaizo pergi ke gedung ini beberapa jam yang lalu. Kira-kira dimanakah dia sekarang? Apakah Kaptennya itu sudah pulang atau masih berada di gedung ini? Fang hanya bisa berdoa dalam hati agar Abangnya itu baik-baik saja.
Di sebuah kamar di lantai enam puluh, Kaizo berbaring dengan mata terbuka lebar. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Dia sudah mencoba menghubungi Letnannya yang terpercaya: Lahap namun gagal. Kamar tempatnya dikurung ini benar-benar kebal terhadap sinyal apapun. Teknologi yang hebat, saudara-saudara.
Diliriknya Jam weker di atas meja di samping ranjangnya yang menunjukkan pukul dua belas malam. Kaizo kembali meringkuk di dalam selimut, berusaha tidur. Namun firasat buruk mengenai nasib Fang masih menyerang pikirannya. Entah mengapa ia bisa merasakan adiknya itu diserang oleh seseorang yang gila. Kaizo menelan ludah. Tatapan sinis Rosaline kini muncul di benaknya, membuatnya merinding. Dan selanjutnya, ia membayangkan wanita itu menguras energi adiknya. Kaizo segera mengidik kecil dan buru-buru menghilangkan pikiran-pikiran mengerikan itu dari benaknya.
"Puan Rosa suka cuba belasah budak kecik? Seram betul," tukasnya merinding. "Tapi kemungkinan itu ada betulnya jugak. Dah lah. Aku kena berehat sekarang. Kalau tak, Vader mesti akan hapuskan aku sebab bangun kesiangan esok."
Kaizo mendesah panjang dan menutup mata. Ditenangkan dirinya serileks mungkin. Sepertinya tindakan yang dilakukannya itu tepat, karena tak lama kemudian, pria itu telah terlelap.
"BoBoiBoy? Bangun, BoBoiBoy!"
Blaze membuka matanya. Ia tersentak begitu melihat wajah seorang gadis cilik berpakaian Lolita di atasnya. Gadis itu terkejut dan menjauhkan wajahnya dari Blaze. Blaze sendiri mengangkat kepalanya, berusaha bangun. Dipegangnya kepalanya yang terasa pusing.
"Uhh ... Dimana aku?"
"Oh, kau ada dekat Laboratorium aku. Salah satu patung manekin animakronik kata Istana Boneka tu: Si Martha hampir serang kau tadi. Nasib baik aku selamatkan kau."
Blaze tersenyum lebar. "Waaahhh- Terima kasih sebab dah selamatkan aku!" Katanya senang. "Kalau tak, mesti patung tu dah belasah aku."
"Hahaha, sama-sama," balas si gadis seraya memberikan sebuah gelas berisi air mineral. "Kau nampak penat tau. Nah, ini aku bagi minum. Kau mesti rasa haus."
"Ehehe- tak pe lah. Susah-susah je kau bagi aku minum ni, Yaya."
"Hah!? Yaya!?" pekik si gadis. "Apahal kau panggil aku guna nama tu?"
"Ehh? Salah ye?" kata Blaze dengan senyum memalukan. "Sebab muka kau mirip sangat dengan kawan aku yang bernama Yaya. Hanya sahaja dia pakai tudung, bukan macam kau yang rambutnya nampak."
Gadis itu memasang tatapan dingin. "BoBoiBoy, kau-" geramnya. Tangannya yang menggenggam gelas berisi air mineral menguat hingga memecahkan gelas tersebut, membuat Blaze membeku di tempat. "KETERLALUAN! DASAR PIKUN! Tak sangka pecahan BoBoiBoy macam kau sama sahaja, tak ingat aku pulak! Apa salah aku hingga kau boleh lupakan aku, Hah!?"
"Uh, sori. Aku benar-benar tak ingat lah," idik Blaze dengan wajah gugup. Tiba-tiba ia teringat dengan kalimat Gempa saat pecahannya itu baru saja bermimpi buruk bertemu dengan seorang gadis yang hendak membunuhnya. Menyadari gadis yang dimaksud itu kini berada di hadapannya, Blaze mengidik seraya melompat dari pembaringannya di Lab itu, melangkah mundur sementara gadis di depannya masih berdiri kaku sembari mengeluarkan sebuah Pisau dari balik bajunya. Ternyata gadis itu benar-benar ada dan bukan cuma produk mimpi dari Gempa. Gadis itu lalu mengangkat wajahnya yang sudah dihiasi seringai gila.
"Ah, jadi kau memang tak ingat ye?" tanyanya dengan nada halus sembari menghunus Pisau. "Tak pe. Kalau kau memang dah lupakan aku, tak masalah. Hihihi, Aku tak peduli. Mari sini, BoBoiBoy. Kau mesti senang buat menjadi sesuatu yang 'abadi'."
"A- Abadi? Apa maksud kau ni?" Blaze semakin melangkah mundur sampai akhirnya punggungnya telah menyentuh tembok dingin di belakangnya. "Aku tak faham lah. Manusia tak de yang abadi. Semua Makhluk hidup mesti akan mati."
Gadis itu tersenyum seraya mendesah kecil. "Oho, kau tak faham pun. Maksud Abadi tu ... aku nak jadikan kau patung kat Istana patung aku, Hehehehehe ... Tebiat kau yang pikun tu dah buat aku bencikan kau. Dah lah. Habis masa kalau kita bincang pasal ni. HAHAHAHAHAHA! MARI SINI KAU, BOBOIBOY!"
Diterjangnya Blaze sembari mengarahkan Pisau di tangannya ke arah sang pengendali api. Blaze segera membelot ke samping dengan wajah panik. Dia berlari menuju sebuah pintu kecil di ujung Lab dan menarik gagangnya. Pintu itu terbuka. Namun Blaze merasa jantungnya nyaris copot begitu melihat Martha dan beberapa boneka di kanan-kirinya telah menghadangnya di depan pintu itu.
"Mana kau nak lari, Heh? Jadilah macam kitorang."
Blaze terbelalak. "Kau lagi!?" pekiknya kaget seraya mundur selangkah. "Minggirlah! Aku tak nak jadi Patung!"
Gadis pembawa Pisau yang berdiri tak jauh di belakangnya tersenyum. "Ahh- kau baik betul lah, Martha. Dah bantu aku hadang dia, Hihihi-" ujarnya cekikikan. "Bawa dia dekat aku... dan aku akan jadikan dia 'raja' korang, Ehehehehe."
"Oh, dengan senang hati, Tuan Puteri."
Martha mulai bergeser mendekati Blaze dengan tangan terulur. Blaze memekik sekali lagi seraya mengeluarkan kobaran api dari kedua tangannya. Dilemparnya beberapa kobaran api itu ke arah Martha dan beberapa boneka di sampingnya.
"Ambik ni: MEGA INFERNO SHOTS!"
Kobaran-kobaran api raksasa itu mengenai Martha dan koncro-koncronya. Terdengar suara-suara jeritan aneh dari Boneka-boneka itu, membuat Blaze berpikir suara mereka sudah diprogram seperti itu, mengingat mereka adalah boneka manekin yang diprogram layaknya robot animakronik. Mereka langsung bergeser mundur dengan tubuh terbakar. Gadis Lolita pembawa Pisau menjerit melihat itu dan buru-buru menyiram mereka dengan air. Hasilnya api yang hendak membakar boneka-boneka itu padam. Gadis itu menghembuskan nafas lega dan menoleh ke tempat dimana Blaze berada sebelumnya. Anak itu sudah tidak ada disana.
"Hmm, jadi kau nak main ye?" desisnya berang. Dihunuskannya kembali Pisaunya dan melirik ke pintu Lab yang sudah terbuka. Rupanya Blaze kabur lewat pintu itu ketika si gadis berbaju Lolita memadamkan api yang hendak membakar boneka-bonekanya. Ia segera keluar dari Lab pintu itu dan menemukan Blaze di Istana Boneka. Anak itu sudah tiba di depan sebuah pintu menuju lorong dimana kamar Rosaline berada. Langsung saja si gadis berlari dengan pisau terhunus ke arah sang pengendali api.
"Jangan harap kau boleh lepas dari kejaran aku!" tukasnya dengan nada gembira. Blaze yang sudah membuka pintu keluar itu langsung menjerit melihatnya dan buru-buru lari keluar dari Istana Boneka menuju lorong lantai sembilan puluh diluar. Anak itu berlari secepat mungkin, berusaha menghilangkan jejak dari gadis psikopat yang mengejarnya. Dilihatnya sebuah tikungan dan berbelok, bersembunyi di balik tembok dengan jantung berdenyut cepat.
"Gila! Apasal aku boleh berjumpa dengan budak psikopat macam dia!?" bisiknya keras dengan air muka tegang. Ditempelkannya punggungnya ke dinding. Detik berikutnya terdengar suara langkah kaki disusul suara sang gadis yang bernada ceria tak jauh di ujung serambi.
"BoBoiBoy, tak payah kau lari dari aku. Aku tak kan seksa kau. Aku cuma nak kau jadi bahagian daripada koleksi patung aku, Hihihi ... Pengecut sangat! Sampai bila kau nak sembunyi dari aku, Heh? Datanglah padaku, HAHAHAHAHAHAAAA!"
Suara tawa itu diikuti oleh suara tebasan Pisau. Blaze memutuskan untuk menghadapi gadis itu. Ia melompat dari tempat persembunyiannya dan menembakkan bola-bola api. Si gadis menghindari serangan itu dengan gemulai dan kembali mengejar Blaze.
"Tenang, BoBoiBoy. Aku tak kan sakiti kau, selepas kau aku jadikan patung tentunya. Aku janji, Hihihi."
"GAH! Apasal kau boleh hindar serangan aku!?" Blaze menatap horor begitu melihat gadis itu tidak terkena serangannya sama sekali. Gadis itu tertawa nista dan menerjang Blaze. BoBoiBoy pengendali api itu merasa tidak punya pilihan lain dan segera ambil langkah seribu. Si gadis langsung mengejarnya dengan wajah sumringah.
"Kau akan menyesal sebab dah lari daripada aku, BoBoiBoy. Mari sini kau! HIHIHIIHAHAHAHAHAHAAAA!"
Ice terbangun dari tidurnya. Sepanjang siang dia sudah banyak beristirahat. Diliriknya Halilintar dan Taufan di dua ruangan di samping ruangannya. Kedua pecahannya itu sudah tertidur lelap. Ice melihat jam dinding di atas pintu masuk. Sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sang pengendali es mendesah panjang. Sampai kapan dia dan kedua pecahannya yang ikut tertangkap itu harus mendekam disini? Kedua tangan dan kakinya terasa keram akibat diborgol terus-menerus di meja eksperimen itu. Lantas ia melakukan senam jari dan menggeliat sedikit agar peredaran darahnya mengalir lancar.
Sebuah jeritan membuatnya menghentikan aktifitas itu sejenak.
"GYAAAAAAAAAAAA!"
Ice terkejut mendengar itu. Suara teriakan itu mirip dengan suaranya. Ah, akhirnya ada seorang pecahannya yang datang untuk menyelamatkannya. Tapi kenapa harus pakai jeritan segala? Namun Ice tidak peduli. Dia hanya berharap nasib mujur berpihak pada mereka kini. Jeritan itu juga membangunkan Taufan dan Halilintar. Mereka menoleh ke arah Ice.
"Ei, kau dengar tak suara tu?" tanya Taufan heran." Macam kita punya suara lah."
"Hmm- mungkin sahaja itu memang suara salah sorang pecahan kita," gumam Halilintar.
"Nampaknya kau benar," balas Ice dengan nada yang tidak kalah datar. "Aku dah agak-"
BRAAKK!
Kalimatnya terputus begitu pintu ruangan tempat ia ditahan itu dibanting ke dalam. Ice, Halilintar dan Taufan melongo. Mereka semakin melongo begitu melihat siapa yang ada di depan pintu itu.
"BLAZE!?"
Blaze langsung menutup pintu itu cepat-cepat. Wajahnya terlihat tegang. Kedua matanya masih tertutup keras dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Nafasnya terengah-engah. Ketiga pecahannya tidak ingin menganggu pecahan mereka yang ketakutan ini. Mereka membiarkan Blaze menenangkan diri terlebih dahulu. Begitu kedua iris jingganya membuka dan melihat Ice yang terborgol di meja eksperimen di ruangan itu, Blaze menjerit bahagia bukan kepalang.
"ALI! Kau ada kat sini! Huhuhuhuuu-" isaknya seraya menerjang ke arah sang manipulator es dan merangkulnya erat-erat. Ice masih pasang wajah datar. Namun senyum kecil di bibirnya menyatakan bahwa ia merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Dah lah. Kau ni merepek je," tukasnya. "Dan apahal kau panggil aku dengan nama Ali? Aku Ice lah."
"Eh?" Blaze melepas pelukannya dan menyeringai, menghapus air matanya. "Sori. Ingatan aku mulai pelik sebab kita dah berpecah lama."
"Hmm- ye lah tu," dengus Halilintar tiba-tiba. "Kau sorang pun dah lupakan kitorang pulak."
Mendengar suara pecahan BoBoiBoy pengendali petir itu membuat Blaze menoleh ke arah Halilintar dan Taufan yang berada di dua ruangan sebelah. Langsung saja ia memekik kegirangan.
"WUAH! Taufik dan Halim pun ada kat sini? Mujur sangat!"
"APA?! HALIM?!" Halilintar memekik kaget. "Aku ni Halilintar lah, bukan Halim!"
"Hahaha- tak payah kau marah macam tu, Halilintar," balas Taufan cengengesan. "Aku punya nama pon dia salah sebut: Taufik."
"Sudah. Yang lagi penting, Bilal dah ada kat sini," balas Ice datar. Blaze langsung melongo dibuatnya.
"Bilal?" tanyanya heran. "Nama aku Blaze lah, bukan Bilal."
"Cih, dia sorang pun pelupa." Halilintar bersungut-sungut lalu menatap BoBoiBoy pengendali api di ruangan Ice. "Macam mana kau boleh masuk kat gedung ni?"
Mendengar pertanyaan itu, Blaze menceritakan perjalanannya, mulai dari menemukan Sektor 456 bersama Fang, hingga ia dikejar oleh gadis pemilik Istana Boneka di gedung itu. Spontan ketiga pecahannya terkejut olehnya.
"Hah!? Fang dah kena tangkap?" tanya Taufan kaget. "Kita kena selamatkan dia selepas keluar dari sini! Blaze, kau kena bebaskan kitorang sekarang juga!"
"Tapi macam mana caranya? Borgol-Borgol korang ni keras betul," tukas Blaze kebigungan. Taufan melihat sekeliling ruangan. Tiba-tiba mata birunya tertuju pada dua buah tombol berwarna pink dan kuning di ujung ruangan mereka masing-masing.
"Aha, aku tahu!" tukasnya senang. "Blaze, kau tekan salah satu dari dua tombol dekat ujung bilik tu. Mungkin sahaja salah satu dari dua tombol tu boleh lepaskan borgol-borgol ni."
"Oh, okey!" balas Blaze senang. Ia hendak membalik badan, namun tidak jadi begitu dilihatnya wajah Ice, Halilintar dan Taufan yang menunjukkan ekspresi terkejut luar biasa.
"Ei, apasal korang pasang muka kaget ni?" tanya Blaze heran. Ice menelan ludah. Wajahnya mengidik.
"Di- Dia dah masuk kat dalam bilik ni ..."
"Hah? Dia siapa?"
"Blaze, jaga-jaga!" teriak Halilintar memperingatkan. Blaze menoleh. Dilihatnya Rosaline yang hendak menyergapnya dari belakang. Ia menjerit dan cepat-cepat menghindari tangan wanita itu. Blaze melompat ke depan Ice dan menyiapkan kuda-kuda.
"Selamat datang," sapa Rosaline dengan senyuman nista. "Aku terkesan sangat sebab kau boleh tiba disini tanpa sepengetahuan aku, Fufufufu ..."
Taufan tersentak. "Jangan dengar cakap dia, Blaze!" katanya cemas. "Cepat lari! Kau tak boleh kena tangkap macam kitorang!"
"Tak! Aku akan selamatkan korang!" ujar Blaze memberanikan diri lalu menoleh ke arah Rosaline. "Lepaskan 'adik-beradik' aku! Rasakan ni: BEBOLA API!"
"Hmph! Merimaskan betul. PERISAI AIS!"
Sekonyong-konyong sebuah dinding es muncul di depan Rosaline dan menangkis serangan Blaze. Blaze tersentak. Selama wanita itu memiliki kekuatan es yang merupakan kebalikan dari kekuatannya: Api, maka serangan-serangannya tidak ada gunanya. Apa yang harus dia lakukan?
"Lari, Blaze! Lari! Sebelum dia sempat tangkap kau!" pekik Halilintar segera. "Kau kena balik ke kawan-kawan kita buat cari bantuan! Bahaya lawan Rosaline kalau cuma sorang-sorang!"
"Tapi macam mana dengan korang?" tanya Blaze khawatir. "Aku tak nak tinggalkan korang dan Fang kat sini."
Ice menggeleng. "Tak payah kau cemaskan kitorang," jawabnya serius. "Yang jelas kau kena cari bantuan segera. Pergi, Cepat!"
"Ba- Baiklah."
Dengan berat hati Blaze berlari meninggalkan ruangan dimana ketiga pecahannya itu berada. Namun tak jauh dari ruangan itu tampak Rosaline yang mengejar Blaze dengan kecepatan kilatnya. Dihadangnya Blaze di lorong itu. Blaze buru-buru mengerem kedua kakinya dan berusaha mengelak.
"Ketepi! Biarkan aku lewat!" tukasnya marah. Rosaline tidak bergeming dari tempatnya dan mengarahkan tangannya ke depan.
"Baik kau tidur dahulu," katanya sinis. "TAMPARAN ANGIN RIBUT!"
WUUUUUUUUUUSSSSSSS!
"AAAAAAAAHHHHHH!"
Angin kencang itu melempar Blaze dan menghempaskan tubuh kecilnya ke dinding beton di belakangnya. Sang pengendali api langsung jatuh tersungkur di atas lantai yang keras dan dingin. Ia berusaha bangkit, namun tubuhnya tidak kuat lagi dan ambruk untuk kedua kalinya. Pandangannya mulai merabun. Samar-samar dilihatnya Rosaline yang berjalan ke arahnya sembari tersenyum sinis.
"Selamat tidur, Blaze."
'Ugh...'
Kesadarannya mulai menipis. Blaze mendengar ketiga pecahannya menjerit-jerit sebelum akhirnya keadaan sekelilingnya berubah menjadi gelap gulita.
Jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Adu Du masih sibuk dengan pembuatan senjata miliknya. Dia sudah berusaha membuat benda itu selama dua hari, namun entah mengapa belum selesai juga. Kedua matanya yang berkantung itu masih saja fokus mengelas senjatanya.
Dia sudah sepakat untuk menyusul BoBoiBoy besok, namun kerjaan belum juga rampung.
Melihat atasannya belum juga tidur, Probe mendekati Adu Du sembari memeluk guling kesayangannya.
"Ehh, Encik Bos tak tido ke? Dah pukul dua dini hari tau," katanya cemas.
Adu Du mendesah. "Senjata ni belum siap lah. Apasal dah dua hari lewat masih tak rampung pulak?"
"Haeh, Encik Bos ni. Tak bosan kerja ke?"
BLETAK!
"Adududuuhh- sakit, Encik Bos, huhuhuhu ..." Probe sukses terbalik untuk kesekian kalinya setelah menerima lemparan dari gelas besi Alien hijau berkepala kotak itu.
"Kau ni ganggu kerja aku!" dengus Adu Du kesal lalu kembali melanjutkan kerjaannya yang belum selesai.
"Lah, tengok tu. Encik Bos tak nak order Senjata kat Bago Go. Hasilnya jadi lamban macam ni. Tak patut, tak patut."
"Ei, dah berapa kali aku kata, dia mesti nak kuras habis harta aku, Tahu tak!? Sana, jangan ganggu aku! Tak siap kerjaan aku ni."
"Lha, terus Kad kredit Plutonium dari Mama Bos tak nak gunakan ke?"
"Eh? Kad Kredit Plutonium?" Adu Du melongo sejenak. Dia ingat hadiah berharga dari Ibunya itu. Kartu dengan saldo tanpa batas yang hanya terdapat tiga buah di seluruh penjuru galaksi. Hanya Makhluk-Makhluk tertentu saja yang memiliki Kartu seperti itu, salah satunya Ibu Bu yang merupakan pemilik butik terkaya segalaksi. Lantas Adu Du menghentikan perakitan senjatanya yang belum juga rampung dan melesat menuju laci meja pribadinya. Kartu Plutonium pemberian Ibu Bu ada di dalamnya. Adu Du mengambilnya dan menyodorkannya pada Probe.
"Nah, aku mahu kau beli senjata pemusnah dari Bago Go malam ni," tukasnya. "Buang masa betul aku rakit Senjata tu! Mana esok aku kena susul BoBoiBoy kat Sektor 456 dimensi beta Pulau Apung buat lawan ONION. Dah lah. Aku kena rehat sekarang. Order senjata yang ampuh, dan kalau boleh jangan mahal sangat!"
"Wohhooooo! Terima kasih, Encik Bos!" jerit Probe sembari mencak-mencak kegirangan. "Aku akan beli senjata paling ampuh, paling kejam dan paling bergaya!"
"Haaahh- yelah yelah. Cepat order sana! Esok pagi aku kena tengok barang tu."
"Baik, Encik Bos!"
Adu Du segera meninggalkan Probe dan masuk ke kamar tidurnya yang mirip gua kecil. Namun sebelum ia terlelap, muncul Hologram Ibu Bu di layar monitornya.
"Eh, Mama!?" Adu Du terkejut. "Apahal Mama hubungi aku pagi buta ni?"
"Bobocu, Mama cuma nak bagi tahu kamu perihal satu pasal," kata Ibu Bu dengan nada khawatir.
"Apa pasal tu, Mama?"
"Aduh, anak Mama ni. Mama nak kamu selamat sampai tujuan untuk hari esok lah."
GUBRAK!
"Mama, Dudu bukan budak kecik lagi la! Kan Dudu dah kata, Dudu nak berdikari," dengus Adu Du kesal karena sikap ibunya yang menurutnya terlalu memanjakannya.
"Tapi Bobocu akan lawan Rosaline esok," balas ibunya. "Bobocu dah tahu kan macam mana tebiat dia?"
"Ye lah, Mama. Dudu dah tahu tebiat dia kot," Ujar Adu Du. "Monster macam dia tak boleh lagi jahat daripada penghuni Planet Ata ta Tiga."
"Memang lah. Tapi dia tak sendiri. Koncro dia banyak sangat. Kuat pula."
"Dudu tahu, Mama. Tapi Dudu tak nak menyerah macam tu je. BoBoiBoy akan bantu Dudu nanti. Mama tenang sahaje."
"Baiklah, baiklah. Tapi ingat, Bobocu kena jadi musuh dia balik selepas Bobocu uruskan Organisasi ONION."
"Mesti lah Dudu kena jahat balik selepas tu. Dah lah, Mama. Dudu nak rehat dahulu. Takut lamban bangun esok."
"Okey. Rehat betul-betul, Bobocu. Selamat tidur."
Hologram itu mati. Adu Du mendesah lalu berlayar ke pulau Kapuk setelah itu, berharap dia bisa mengalahkan salah satu musuh bebuyutan Galaksi itu esok harinya.
Sementara itu di Planet Ata ta Tiga, Ibu Bu melangkah menuju ranjangnya dan tertidur. Sayang sekali ia tidak menyadari sebuah kejadian sedang berlangsung tak jauh di depan rumahnya yang besar itu.
Dua sosok Alien tampak bergumul disana, memperebutkan sebuah berkas.
"Bagi balik berkas tu!"
"Tak kan pernah! Kau ni mencurigakan sangat bawa berkas macam ni dekat Maharaja."
"Grr, Kau nak cari mati rupanya. Hancurlah kau!"
BUUUUMMMM!
Salah satu dari mereka langsung roboh di tempat akibat terkena tembakan laser dari Alien satunya. Dia menyeringai dan mengambil berkas itu dari mayat di depannya.
"Tak kan aku biarkan kau bagi tahu rahsia aku ni dekat Maharaja, Fufufu."
Dia menggenggam berkas itu dan masuk ke sebuah pesawat angkasa model terbaru berwarna merah. Tanda petir merah di mata kirinya terkena sinar lampu lorong pesawat yang remang-remang. Tak lama kemudian, ia tiba di ruang kendali pesawat itu dan duduk di kursi pilot.
Sesosok komputer canggih dengan sepasang antenna dan berwarna merah menyambutnya dengan suaranya yang khas digital.
"Selamat datang kembali, Tuan."
Alien di kursi mendesah seraya duduk dengan menyilang kaki. "Komputer, ada mesej daripada Ketua ONION?"
"Dari Tuan Haryan Pakpak Darwish? Ada satu panggilan, Tuan."
"Tunjukkanlah."
"Baik, Tuan."
BIP!
Muncul hologram di depan mereka, menunjukkan sesosok pria berjas coklat tua dengan kacamata berlensa kotak yang bertengger di hidungnya. Tampak cincin bermodel unik dengan batu giok merah di jari tengah tangan kanannya. Dia melipat kedua tangannya dan menaruhnya di atas mejanya.
"Ah, Ejo Jo. Senang dah berjumpa dengan rakan baru macam kau. Aku tahu Supervisor ONION bakal bawa kau balik ke dimensi ni," katanya seraya tersenyum. Ejo Jo mendengus tanda tidak sabar.
"Apahal kau nak bincang kat aku malam-malam ni? Macam tak de kerjaan betul. Dasar Manusia pelik!"
"Hei, tenang-tenang lah dahulu. Sensitif betul."
Ejo Jo menggeretuk. "Dah cukup basa-basinya!" tukasnya kesal seraya memukul sandaran kursinya, menggeram. "Cakap sahaja apa benda yang nak kau bincangkan dekat aku, Haryan! Buang masa betul!"
Lawan bicaranya hanya tertawa. "Kau ni memang tak tahu terima kasih selepas dibebaskan daripada ruang tahanan asal kau. Tapi aku maklum. Ini mengenai rancangan aku beberapa tahun ke depan," katanya geli. "Aku nak kita kuasai Ata ta Tiga, cepat atau lambat. Aku punya beberapa sebab utama buat benda tu. Simak betul-betul bincang aku, sebab ini akan berguna tuk ke depannya. Kau sedia?"
Kedua mata jingga itu mulai membuka. Blaze mengerang kecil. Dipandangnya tempatnya berada saat ini. Dia berada di sebuah ruangan berukuran sedang. Blaze merasa tengkuk lehernya agak pegal akibat menunduk dalam waktu yang lama. Ia mendelik. Sejak kapan dia berada di ruangan ini? Hal yang terakhir dilihatnya sebelum pingsan adalah Rosaline yang berjalan ke arah tubuhnya yang terhempas ke lantai diiringi jeritan histeris dari tiga pecahannya.
Tunggu dulu! Rosaline? Jangan-jangan wanita itu yang membawanya kemari. Anehnya, kenapa wanita itu membawanya kesini dan tidak menahannya di ruangan dimana pecahan-pecahannya yang lain berada?
"Uhh- apasal dia bawa aku kat bilik ni?"
Blaze mencoba meregangkan badannya. Tepat saat itulah ia merasa ada yang janggal dari dirinya. Topinya sudah tidak ada. Dilihatnya atribut kepalanya itu tergantung di sebuah lemari terbuka yang terletak di pojok kamar. Begitu pula sepatunya yang berada di bawah lemari. Sekarang dia hanya mengenakan baju kaosnya yang berwarna hitam, jaket merah terangnya serta celana hitam yang panjangnya mencapai bawah lutut. Namun satu hal yang lebih janggal dari semua itu: Kedua tangannya tidak bisa digerakkan secara leluasa. Blaze mendelik ke arah kedua tangannya yang terentang ke kanan-kiri dan menatap horror, menyadari kedua pergelangan tangannya diborgol rantai pada sebuah tiang.
"Ap- Apahal ni? Kenapa aku dirantai!?"
Ini tidak baik. Blaze merasa ketakutan mulai menyusup ke dalam sanubarinya. Sebuah firasat buruk mulai menghantui benaknya. Ditelannya ludahnya beberapa kali. Dia pernah melihat keadaan ini lewat benak BoBoiBoy di berita-berita televisi mengenai keadaan rumah sakit jiwa dimana pasien-pasiennya harus ditahan agar tidak menjadi beringas. Tapi Blaze yakin dia ditahan disini bukan karena masalah kejiwaan, melainkan penangkapnya yang memiliki masalah kejiwaan itu.
Byurr!
"He- eh?"
Suara deburan air mengalihkan fokusnya menuju asal suara yaitu kamar mandi yang terletak di sebelah lemari. Tak lama kemudian pintu kamar mandi itu terbuka, menampakkan sosok Rosaline yang terlihat sedang meremas ujung rambut panjang keperakannya yang masih basah. Dia menyeringai lebar.
"Ah, kau dah bangun pon," katanya pada Blaze dengan tatapan aneh. "Aku keramas sebelum tido. Seronok lah."
Blaze melotot. "Apasal kau rantai aku dekat tiang ni?" tanyanya bingung bercampur tegang. "Dan kau dah bawa aku pergi dari pecahan-pecahan aku! Mana pula Fang? Bukan ke kau tahan dia kat sini?"
"Fang? Tahan dia kat sini?" tanya Rosaline heran. "Apa benda kau cakap ni? Dia tak de kat sini. Bilik tahan dia tu ada dekat lantai delapan puluh sembilan, satu lantai lagi bawah. Tenang sahaja, Blaze. Dia dah aku belasah. Dan sekarang aku akan belasah kau juga, fufufufu ..."
"TAK! Aku tak kan biarkan kau belasah aku!" jerit Blaze seraya meronta hebat sekuat tenaga, berusaha melepas borgol yang menahan kedua tangannya. "LEPASKAN AKU!"
"Lepaskan, hmm?" Rosaline menggaruk dagunya sendiri. "Kau tak ingat ke kalau aku nak sedut tenaga dan kuasa api kau? Uhuhu ... mesti lah hebat."
Selesai mengatakan itu, ia berjalan menuju Blaze. Anak itu langsung pasang wajah horor dan memalingkan wajahnya ke samping. Detik berikutnya, jeritan Blaze menggema di dalam kamar.
"AAAAAAAAAAHHHHHH!"
Ketiga pecahannya yang berada di ruangan tak jauh dari kamar Rosaline mendengar jeritan itu dan terbelalak. Halilintar mendecih murka, Ice pasang wajah datar plus dingin dan Taufan mengangakan mulutnya selebar mungkin. Sekarang mereka membayangkan hal mengerikan yang tengah menimpa sang pengendali api itu.
"Aku tak sanggup dengar jeritan Blaze tu," gumam Ice cemas." Kita kena tolong dia!"
"Ei, badan kita masih diborgol lah," kata Halilintar kesal. "Kalau kita tak ditahan macam ni, dah sedari tadi kita selamatkan Blaze tau."
"Tapi kita tak boleh diam macam ni!" pekik Taufan khawatir. "Bisa-bisa Rosaline akan sedut tenaga dan kuasa Blaze sampai habis kalau kita tak bertindak!"
Halilintar menoleh ke arahnya. "Taufan, cuba kau gunakan kuasa kau untuk bebaskan diri," bujuknya. Taufan lalu mengangguk, mengikuti saran itu.
"Okey! GERUDI TAUFAN!"
BRRRRRRRZZZZZZZTTTTT!
"AAAAAAAAAHHHHHHH!"
Tampaknya Taufan kurang beruntung.
"Ugh, borgol ni setrum aku lah," tukasnya ngilu. "Giliran kau pula, Halilintar."
"Hmp," dengus sang pengendali petir lalu berusaha melepaskan diri dari kursi penyiksaan dimana ia ditahan. "TETAKAN HALILINTAR!"
BZZZZZTTTTT!
"AAAAAAARRRGGGGHHH!"
Lagi-lagi kemujuran tidak memihak Halilintar.
"Ice ... giliran kau ..." tukasnya putus-putus. "Aku ingat borgol kau dah tak setrum kau lagi."
Ice menggeleng. "Kurang boleh diharap," gumamnya sedih. "Rosaline dah aktifkan elektrik Borgol ni sebelum dia bawa Blaze masuk kat bilik dia tadi."
"Haish- macam mana kita nak tolong Blaze?" tanya Taufan pesimis. "Habislah kita ..."
"Hish kau ni! Jangan pesimis macam tu lah!" kata Halilintar berang." Dan-"
Ia terdiam begitu mendengar teriakan ketakutan milik Blaze dari kamar Rosaline.
"Aku paling benci masa kita tak boleh buat apapun untuk tolong dia ..." ujarnya marah sekaligus sedih.
Di dalam kamar Rosaline, Blaze mengerang hebat. Kedua lengannya terasa sakit. Namun Rosaline belum juga puas dan masih berusaha menguras energi anak itu itu dengan cengkeraman tangannya untuk mengambil paksa tenaga sang manipulator api. Blaze menjerit begitu Rosaline mulai mencakar bahu kirinya perlahan.
"Be- Berhenti ..." desisnya kesakitan. "Berhenti aku ... kata- AKH!"
Suaranya tercekat begitu Rosaline mulai mengambil energinya lewat bahu kiri dimana pembuluh arterinya berada. Blaze mengidik. Badannya berangsur-angsur lemas. Ia berkeringat dingin.
"Jangan ... kumohon, jangan apa-apakan- AAAAAAGGHHHHH!
Menjadi korban kejahatan itu memang tidak menyenangkan. Blaze benar-benar tidak menyukainya, bahkan membencinya. Seumur hidupnya dia baru merasakan stress yang luar biasa seperti itu. Rosaline memandang anak yang tersiksa itu dengan senyum jahat andalannya.
"Oh, ya ampun. Kau ni elok betul, Fufufu ..." tukasnya menyengir.
Blaze meringis. "Wanita jahat! Sakit badan aku-" Tukasnya marah. "Jangan berani kau seksa aku sampai fajar! Kalau tak-"
"Kalau tak, apa?" goda Rosaline sembari mencengkram dagu Blaze, mengangkat kepala anak itu agar melihat wajahnya yang kalut. "Tak payah kau tertekan macam ni, Blaze. Rileks je, biasakan diri kau dengan seksaan, MWAHAHAHAHAHAAAA!"
Dia berkata begitu seraya mengigit lengan bawah kanan Blaze dengan gigi taringnya. Blaze merasa tubuhnya merinding, hendak memberontak. Namun apa daya, tubuhnya yang kecil itu tidak sebanding dengan Rosaline. Di tengah kekalutan itu, sempat-sempatnya ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi.
Tunggu. Apa? PUKUL TIGA PAGI!? Jam itu pasti bercanda!
Ini tidak boleh berlanjut. Blaze merasa tubuhnya tidak sanggup lagi bertahan sampai fajar. Dia tidak bisa membiarkan Rosaline melakukan ini. Tapi apa yang harus dilakukannya agar perempuan kriminal itu berhenti menguras energinya?
"TIDAAAAAAAAAAAKKKKKK!"
Gempa terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Dia mengalami mimpi buruk yang dashyat. Ochobot yang tidur di sebelahnya terbangun dan melihat anak itu dengan heran.
"Eh? Apahal kau ni? Subuh-subuh dah menjerit pula."
Gempa menggeleng. "Sori, Ochobot. Aku lepas mimpi buruk tadi."
"Eih? Mimpi buruk apa?"
"Entah. Tapi aku tengok dekat mimpi tu Blaze dan Fang tengah dibelasah Rosaline!"
"Mimpi je, bukan kenyataan," tukas Ochobot malas. "Dah lah, BoBoiBoy. Sambung balik tidur kau."
Sayangnya Gempa tidak menuruti ajakannya dan malah keluar tenda menuju tenda Blaze dan Fang. Setibanya disana, ia melotot. Kedua anak yang dicarinya itu sudah tidak ada di tenda mereka masing-masing. Sang pengendali tanah buru-buru kembali ke tendanya dan menatap Ochobot panik.
"Ai'? Apasal kau macam panik sangat?" tanya robot kuning itu heran. "Ada yang tak beres ke?"
Gempa terengah-engah. "Ochobot ... Khabar buruk ... " tukasnya dengan tatapan cemas.
"Khabar buruk?" Ochobot menggaruk kepala logamnya. "Apa maksud kau ni?"
"Kau tak kan percaya, Ochobot. Tapi Fang dan Blaze ... Mereka berdua dah takde kat tenda!"
"APA!?"
Bersambung ...
*Disclaimer dari game Ib
Selesai juga bagian ini, hahahahahaaa (Ngakak gaje) :v
Blaze:" Ehh ... kak Author, apesal aku dapat bagian paling serem ya? Tambah boneka2 horror pulak. O_o
Hmm ... mungkin karena kamu imut, jadi dpt bagian plg seremm deh :v (Diam pas lihat Blaze sdh ambil ancang2 dengan bebola apinya)
Blaze:" KAK AUTHOR JAHAAAAAAATTTT! SEPAKAN BEBOLA API!
Mending saya ngacir ajah dulu ya, takut lihatin si Blaze ngamuk, hehehe ...
Ah ya. Doakan author biar bisa punya banyak waktu ngelanjutin ya ... soalnya sekarang banyak urusan #EdisiCurhaters (?)
Jika berminat silahkan review okay? ;)
Tetap setia menanti kelanjutannya ya. Love you All Dear Readers ^/^
