Hai minna sekalian. Back to this story. Maaf, mungkin hanya beberapa review yang saya jawab, itupun lewat PM, hehehe. Ada beberapa Headcanon dan teori disini. Dan satu lagi ... saya baru pertama kali buat judul dalam bahasa inggris di bagian ini.
Apa yang terjadi setelah insiden mengerikan yang menimpa Blaze malam itu? Find the answer in This chapter, okey? ;)
Note: Rated T+, Hurt comfort dan humor gagal dan masih banyak lagi. Author masih harus belajar untuk menulis cerita yang bagus ... tapi gak tahu kenapa gaya tulisannya masih kayak gini juga, hehehe (Curcol ya mbak?)
Well, akhir kata, just read this story.
M.A.W.A.R. L.I.A.R
'The Chaotic of Elemental Split'
(Sebuah Kisah Fiksi)
Season 2
.
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
Bagian 17: A Captain's Demise
Sayup-sayup Azan subuh terdengar di Pulau Rintis. Ray bangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke kamar mandi, hendak berwudhu. Tak lama kemudian, ia sudah mengenakan baju koko putih dengan sarung kotak-kotak. Tidak lupa Peci hitam menghiasi kepalanya. Dengan tegap ia melangkah menuju pintu kamar.
Pluk!
"Eh? Suara apa tu?"
Ray menoleh. Sepucuk surat tergeletak di bawah jendela kamarnya yang terbuka. Pria itu segera memungutnya dan membaca isinya.
Yang terhormat, Encik Aba.
Maaf sebab saya tiba-tiba kirim surat ni dekat Encik. Tapi kondisi dah genting sangat. BoBoiBoy dan kawan-kawan dia dah dalam bahaya. Encik kena bantu diorang. Kalau tak, mereka semua akan dihapuskan. Pergilah ke Sektor 456 bersama Adu Du lepas subuh. Semoga Anda Berjaya.
Dengan hormat
Logam Mulia
Ray mengerutkan kening. Sepertinya pengirim surat itu tahu kondisi BoBoiBoy dan teman-temannya saat ini. Tapi Adu Du? Ray bahkan tidak tahu siapa itu. Dan siapa pemilik surat dengan nama Logam mulia? Sepertinya dia memakai nama samaran, pikir Ray. Tapi dia bersyukur ada juga orang yang memberi info seperti ini. Ia lalu memutuskan untuk memberikan surat itu pada Tok Aba nanti.
"Ray? Kau masih kat dalam ke?" suara Tok Aba terdengar di depan pintu kamarnya. Ray buru-buru menyimpan surat itu di laci mejanya dan pergi keluar kamar. Disana tampak Tok Aba yang sudah memakai pakaian serupa.
"Ish kau ni. Nanti kita terlambat Sholat subuh tau," kata Kakek BoBoiBoy kesal.
Ray menyeringai. "Hehehe, Maaf, Tok Aba," katanya. "Baiklah. Jom kita pergi kat Surau."
Setelah Sholat subuh di Masjid dan berjalan pulang, Ray bertanya pada Tok Aba.
"Ehh, Tok Aba. Ray boleh tanyakan satu soalan ke?"
Tok Aba menoleh ke arahnya. "Boleh," katanya sembari tersenyum. "Soalan apa?"
"Uhm, soal Adu Du, Tok. Siapa dia tu?"
"Ohh, dia tu Alien saingan BoBoiBoy. Dulu nak curi koko Atok pula. Kenapa kamu tanya soalan macam tu?"
Ray mendesah panjang.
"Ada sesuatu perkara yang nak aku bincangkan dengan Tok Aba kat rumah nanti."
Tidak bisa dibiarkan.
Gempa tahu itu. Dia bisa merasakan firasat buruk menari-nari di dalam kepalanya. Hilangnya Fang dan Blaze dari lokasi perkemahan mereka sudah cukup membuktikan firasat buruk itu.
Di sisi lain, Gempa merasa dirinya telah gagal. Dia gagal menjadi pemimpin dan pelindung bagi teman-temannya, khususnya bagi Pecahan-pecahannya. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa selama ini dia hanya bisa terpaku melihat pecahan-pecahannya mengalami kekalutan yang luar biasa menakutkan, bahkan dapat menimbulkan trauma bagi mereka yang bisa saja memberikan kefatalan psikologis bagi diri BoBoiBoy sendiri. Gempa mendecih. Pemimpin macam apa dia ini?
Sang pengendali Tanah masih termenung di dalam tendanya, menatap pilu. Dia tidak menyangka Makhluk mengerikan seperti Rosaline serta rekan-rekannya di balik layar melakukan hal ini pada mereka.
Mereka gagal menyelamatkan Ice disaat Tengkotak dan Rosaline menyerang mereka untuk mengambil Ochobot setelah insiden satu tahun yang lalu: Penemuan Sfera Kuasa tertua Klamkabot. Mereka juga gagal fokus saat menyadari Halilintar masuk ke dalam perangkap di Markas musuh. Selanjutnya mereka gagal mencegat Rosaline saat wanita itu mendatangi mereka untuk kedua kalinya dan membawa Taufan pergi. Dan sekarang, mereka gagal mengawasi Blaze dan Fang disaat semua anak sedang tertidur di tenda masing-masing.
"Aku memang tak guna."
Kegetiran yang berkecambuk di kepalanya mulai membuatnya depresi. Dan kini dia mulai berpikir diluar akal sehat: Kalau perlu akan dikorbankannya dirinya sendiri ketika situasi mulai terasa buruk nanti. Gempa tersenyum pahit. Itu cara paling terakhir yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan mereka. Dan jika keadaan sudah mendesak, dia akan melakukannya demi teman-temannya.
Ya, untuk teman-temannya, tidak ada yang tidak mungkin.
Gempa melipat Sajadahnya setelah Sholat subuh, berdo'a untuk kemenangan mereka semua. Tepat setelah ia menyelesaikan do'anya, Ochobot masuk ke dalam tendanya.
"BoBoiBoy, jom kau sarapan dahulu. Kawan-kawan kau dah tunggu kau kat luar, Papa Zola pun ada."
"Oh, tentu Ochobot. Aku akan susul mereka lepas kemas alat Sholat ni dahulu."
"Okey. Aku tunggu kau kat luar ye."
"Um!"
Setelah membereskan isi tendanya, Gempa pergi menuju tempat api unggun semalam. Anak-anak kelas 7 cerdas dan Ochobot sudah berada disana plus Papa Zola dan kru Kapalnya yang tampak sedang memasak makanan untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi, kawan-kawan," sapa Gempa ramah pada mereka semua.
"Selamat pagi juga, BoBoiBoy." Teman-temannya membalas dengan tersenyum.
Gempa duduk di sebelah Gopal, yang sedang bertopang dagu dengan wajah murung.
"Ei? Tumben kau nampak sedih macam ni, Gopal," kata Gempa heran. "Ada masalah ke?"
Gopal mendesah panjang. "Humm- sejak Rosaline datang kat hidup kita, aku jadi tak de semangat untuk lawan musuh," katanya lesu. "Makan tak kenyang, tidur tak nyenyak, Hutang pun tak lunas."
Krikk ... Krikk ... Krikk ... Krikk ...
"Hehehe- lupakan benda terakhir yang aku sebut tadi, BoBoiBoy."
Gempa mendengus. "Eleh, cakap je kau takutkan kuasa dia kan?"
"Dey, mana ada!? Aku takut masa aku tengok dia boleh gunakan kuasa pecahan-pecahan kau selepas buat perkara teruk dekat diorang!" ujar pemuda berdarah India di sebelahnya. "Lepas tu dia mesti nak ambil kuasa kau pulak! Dan kalau tu terjadi, habislah kita! Kau kan yang terkuat di antara pecahan-pecahan kuasa elemental BoBoiBoy tu."
Melihat kekhawatiran Gopal membuat Gempa tersentak. Memang ada kemungkinan Rosaline akan menangkapnya juga. Gempa merinding. Dia tidak siap untuk jadi bulan-bulanan wanita jahat itu. Tapi mengingat tekadnya kini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan dia berharap semoga saja kondisi tidak mendesaknya untuk mengorbankan dirinya nanti.
Setelah sarapan, mereka membagi tugas. Para Siswi mencuci piring sementara para Siswa membereskan tempat api unggun. Papa zola tersenyum lebar melihatnya.
"Nampaknya kebenaran beruntung punya anak didik macam mereka," katanya bangga.
Ying dan Mila hendak mencari kayu bakar. Namun saat mereka melintasi gua Kristal, Mereka tertegun. Tampak beberapa jejak kaki yang mengarah ke dalam gua itu.
"Eh? Bekas Kasut siapa ni?" tanya Mila heran. "Macam bekas Kasut saiz budak-budak."
"Ya loh. Jom kita bagi tahu dekat kawan-kawan," usul Ying.
Kedua gadis itu buru-buru kembali ke perkemahan dan memberitahukan penemuan mereka. Spontan Papa Zola terkejut dibuatnya.
"APA!? Siapa pemilik bekas Kasut tu?!" tanyanya kaget.
"Kami pun tak tahu, Cikgu," kata Ying bingung. "Saiz dia macam saiz Kasut budak-budak ma."
"Kasut budak-budak?" Gopal tahu-tahu masuk ke mode detektifnya. "Kalau macam tu, tunjukkanlah."
Ying dan Mila lalu menunjukkan jejak kaki yang dimaksud. Gopal menelitinya lamat. Tak lama kemudian, ia bertepuk.
"Hmm, kes telah terungkap," katanya dengan nada sok serius." Bekas Kasut ni mestilah milik kepada dua orang daripada kita."
"Hah? Dua orang daripada Kita?" Yaya mengernyit bingung. "Maksud kau ada dua budak dari kelompok kita yang masuk kat gua ni ke?"
"Tepat," balas Gopal seraya mendehem. "Baiklah. Kita kena absen satu-satu untuk cari tahu siapa dua pemilik kepada bekas Kasut-Kasut ni."
Gempa terhenyak. Dia ingat bahwa Blaze dan Fang menghilang dari tenda mereka semalam. Cepat-cepat ia mencegat Gopal.
"Tahan," katanya segera. "Nampaknya aku tahu siapa pemilik bekas Kasut-kasut ni."
"Hah?!" Gopal terkejut. "Kenapa kau tak cakap awal-awal? Siapa pemilik bekas Kasut ni?"
"Uhhmm- aku takut korang tak kan percaya dekat aku," kata Gempa gugup seraya memainkan jari telunjuknya.
"Tak pe, BoBoiBoy. Bagi tahu je lah," bujuk Yaya dengan wajah meyakinkan. "Mungkin sahaja asumsi yang kamu punya tu betul."
"Okey lah. Aku kan bagi tahu," kata Gempa kemudian. "Aku rasa pemilik bekas kasut-kasut ni ialah Blaze dan Fang."
"HAH!? BOBOIBOY BLAZE DAN FANG!?" Pekik teman-temannya bersamaan.
"Dey, apasal kau cakap diorang pemilik kepada bekas Kasut ni?" tanya Gopal heran. "Belum ada bukti kuat kot."
"Aku serius lah!" ujar Gempa bersikeras. "Semalam aku datang dekat tenda diorang, dan diorang dah tak de kat sana! Aku sempat risau diorang pergi kat Markas ONION tanpa sepengetahuan kita. Dan kemungkinan besar diorang dah kena tangkap Rosaline pula!"
"Ayak! Macam mana ni?" tukas Ying bingung. "Kita mesti akan tambah susah untuk lawan Rosaline kalau BoBoiBoy Blaze dan Fang dah diambil kuasa wo!"
"Kalau macam tu, kita kena bergegas," usul Yaya. "Sebelum kita semua kena tangkap dan jadi mangsa badan Organisasi tu."
"Tapi kombo kita tak cukup kuat," timpal Gopal khawatir. "Kita dah rasa susah lawan Tengkotak setahun silam, apalagi lawan baru macam Rosaline!"
"Betul tu. Dan Bunda mesti akan gunakan kuasa-kuasa yang dah dia ambil untuk lawan kita," ujar Mila pesimis.
"Korang jangan lah macam ni," kata Gempa sedih melihat kekhawatiran mereka. "Kita mesti berjaya! Yakin je. Lagipun Ochobot dah boleh bantu kita, kan? Kan?"
Ochobot menyipitkan mata logamnya. "Hehehe, jangan buat aku tersipu macam ni, BoBoiBoy. Aku tak boleh sering guna wujud alternatif aku. Aku ni bukan Manusia, jadi macam kena di-charge ulang. Kalau aku nak pakai wujud alternatif aku dalam masa lama, aku kena rehat betul-betul."
"Lha, kau kan dah jarang gunakan kuasa alternatif kau."
"Hehehe, betul juga tu."
Gempa mendesah panjang. "Adu Du pon akan bantu kita hari ni," katanya. "Tapi nampaknya kita kena tunggu dia sampai sore. Perjalanan dari sini ke Markas ONION mesti jauh. Dia akan buang masa kat jalan buat susul kitorang."
"Haeh, jangan berharap sangat dekat dia, BoBoiBoy," ujar Mila. "Dia tu masih musuh ketar kau. Mana tahu dia akan membelot selepas kita dah lawan Bunda aku."
"Habis tu, kita kena buat apa?" tanya Gopal frustasi. "Huhuhu- berat betul tugas kita ni."
Ochobot merenung. "Hmmm, kalau macam tu pun tak berjaya, kita kena guna jalan terakhir," katanya dengan nada optimis.
"Eh? Jalan terakhir apa tu, Ochobot?" tanya Gempa heran.
"Oh, aku tahu!" pekik Yaya tiba-tiba. "Kau mesti nak bagi kuasa baru dekat kitorang, kan Ochobot?"
Mendengar itu, Sang robot bola segera mendesah dengan nada depresi seraya bergumam.
"Kita menyerah kalah je lah."
"EEEEERRRGGGGGHHHH-!"
BAK! BUKK! DUAKKK!
"Ehe, tak boleh soal kalah? Hehehehe." Ochobot tertawa dengan nada memalukan. Kepala logamnya terlihat 'benjol' akibat dihajar habis-habisan oleh teman-temannya yang memandang dengan tatapan sebal. "Kalau macam tu, aku kena bagi sebahagian kuasa impuls aku dekat kau, Ying."
"Aik? Kenapa saya pulak?" tanya Ying kaget. "Kuasa manipulasi masa tu kuasa paling lemah dibandingkan yang lain wo."
"Tapi kuasa kau tu macam boleh pindahkan masa," tukas Ochobot segera. "Aku sendiri punya kuasa Teleportasi. Klamkabot yang bagi dekat aku masa kita berkat kalahkan Tengkotak dahulu. Markas ONION tu mesti ada kat dimensi lain pulau Apung ni, sebab Markas diorang tak nampak dari luar. Lagipun kuasa manipulasi masa kau yang paling mendekati kuasa teleportasi aku, dan aku masih boleh berfungsi kalau aku bagi kuasa tu dekat kau untuk masa sementara. Kalau aku berjaya formulasikan kuasa manipulasi masa kau dengan kuasa teleportasi aku, aku rasa kita akan boleh teleportasi dalam sekejap mata, plus menjimat masa buat aku tahan portal teleportasi aku. Sedia, Ying. Aku akan bagi kuasa tu dekat jam kuasa kau sekarang."
"Uhh ... Okey ..."
Ying berdiri tegap di depan Ochobot. Sebuah sinar menyilaukan keluar dari tubuh Sfera kuasa itu hingga Gempa dan teman-temannya terpaksa memicingkan mata. Begitu sinar itu lenyap, mereka membuka mata dan melihat Ochobot dan Ying di depan mereka.
"Nah, Amacam? Terasa sakit tak?" tanya Ochobot.
Ying menggeleng. "Tak de ma," katanya. "Hanya sahaja tangan saya terasa keram sikit, Hihi ... tapi macam mana saya nak gunakan kuasa teleport pinjaman kamu ni?"
"Macam ni," kata Ochobot mengajari. "Kawan-kawan kau berdiri dan buat bentuk macam lingkaran, lalu kau berdiri kat tengah lingkaran tu. Gunanya agar kuasa kita boleh terkena kita semua. Lepas tu, kau aktifkan kuasa dekat jam tangan kau dan sebutkan nama tempat yang nak kau tuju. Nanti akan ada bola cahaya transparan yang lingkupi korang dan Eureka! Korang dah tiba dekat tempat tujuan."
"Wuahh- terbaiklah kau ni, Ochobot!" Kata Gempa senang lalu menatap teman-temannya. "Kalau macam tu, Jom kita pergi kesana sekarang!"
"JOM!"
Kriiiiiieeeeetttt.
Terdengar suara pintu terbuka. Fang membuka matanya. Samar-samar dilihatnya sepasang kaki yang berjalan ke arahnya. Begitu matanya sudah fokus, dia terbelalak begitu melihat Ah Ming yang berada tak jauh di depannya. Langsung saja gadis itu menaruh telunjuknya di depan bibir.
"Shhh- Tenang, Pangxi. Aku tak kan sakiti kau," bisiknya. Dilepasnya lakban yang membungkam mulut Fang. Segera Fang menghembuskan nafas kuat-kuat. Akhirnya dia bisa berbicara juga.
"Te- Terima kasih," ujarnya lega. "Dan- Eh, kejap. Ka- Kau!? Aku jumpa kau dekat Gua Kristal semalam. Siapa kau ni? Kawan ke lawan?"
Ah Ming mendesah. "Tak payah kau tanya soalan tu dekat aku," balasnya. "Aku datangi kau macam ni sebab aku rasa kesian dekat kau. Rosaline tak pernah cakap dekat Tuan Ketua kalau dia nak tahan kau pula. Tamak betul! Nasib baik aku jumpa kau dekat sini, jadi aku boleh tahu kalau maklumat Rosaline punya budak back-up memang bukan khabar angin."
"Dah bincang panjang lebar pon. Kau belum bagi tahu nama kau lah," dengus Fang kesal.
"Ah, sori," kata Ah Ming sembari tertawa kecil. "Nama aku Ming, Ah Ming."
"Ah Ming, ye? apasal kau boleh ada dekat gedung ni?"
"Hmm, sebenarnya ini rahsia, tapi nampaknya kau tak boleh dibohongi. Aku ialah salah sorang daripada ahli pasukan ONION, atau lagi tepatnya ahli pasukan kepada komplotan Elite ONION: Supreme Diamond. Tapi orang-orang awam lagi kenal aku dengan sebutan 'Anggrek Putih.' Ha, amacam? Bagus tak?"
Mendengar itu, Fang tersentak kaget. "Ka- Kau? Ahli pasukan ONION dan member kepada Supreme Diamond!?" tanyanya tidak percaya. "Tak sangka budak macam kau dah jadi penjenayah macam diorang. Apa yang kau nak dari aku, Heh?"
"Cih, dibantu pun tak sudi." Ah Ming mendesis kesal. "Kan aku dah kata, aku tak nak sakiti kau! Walaupun aku bahagian daripada Supreme Diamond, tapi aku tak pernah setuju dengan kelakuan teruk Rosaline tu. Hodoh betul! Ah, ya. Aku jumpa Laptop kau dekat Lautan semalam. Nampaknya kau suka sangat dengan Donut Lobak merah. Aku tengok dekat latar desktop tu."
"Hmp, Mestilah. Donut Lobak merah tu makanan terenak sejagad raya tau!" tukas Fang segera.
Ah Ming tertawa. "Ahaha, Donut Lobak merah memang sedap," katanya menyeringai. "Tapi menurut aku, Donut Lobak putih mesti lagi sedap! Itu makanan favorit aku."
"Apa!? Donut Lobak merah lagi sedap!"
"Mustahil. Donut Lobak Putih tu lagi sedap tau!"
"Hish kau ni! Donut Lobak merah lah!"
"Hiihhh-! Donut Lobak Putih lah!"
"Donut Lobak merah lah!"
"Donut Lobak Putih lah!"
"Lobak merah!"
"Lobak putih!"
"MERAH!"
"PUTIH!"
Oke. Pertarungan ini semakin memanas, saudara-saudara. Kenapa tidak digabung saja, ya? Biar jadi BENDERA INDONESIA atau BENDERA POLANDIA. Warna bendera kedua negara itu kan Merah-Putih.
Sudahlah. Lupakan gurauan aneh diatas. Mari kita kembali ke laptop.
Sementara Fang dan Ah Ming masih berdebat mengenai makanan favorit siapa yang terenak, sekonyong-konyong terdengar suara deheman di ambang pintu. Ah Ming dan Fang menoleh. Tampak dua pemuda yang berdiri disana. Salah satu dari mereka berkulit sedikit gelap khas India namun berpakaian layaknya artis cilik terpandang. Satunya lagi berwajah oriental dengan baju perlente ditambah kacamata bulat berwarna kuning gelap di atas kepalanya.
Bagi Fang, mereka berdua mirip dengan Gopal dan Ying. Hanya saja untuk Ying, ini sepeti versi laki-laki.
"Dey, Ah Ming. Apasal kau duduk kat dalam bilik gelap tu?" tanya si lelaki India. "Dan siapa yang kau ajak bincang tu?"
Ah Ming meringis. "Bukan pasal kau, Arumugam," tukasnya kesal, membuat Fang terkejut.
Nama pemuda bertampang India di ambang pintu itu Arumugam? ARUMUGAM!? Fang pernah beberapa kali mendengar BoBoiBoy salah memanggil Gopal dengan nama itu. Dan kini dia melihat orang yang bernama 'Arumugam' itu tepat tak jauh darinya. Secara fisik Arumugam tampak mirip dengan Gopal. Namun menurut Fang, Arumugam terlihat seperti Gopal versi angkuh, dingin dan kelewat percaya diri.
"Huh, jangan cakap kalau budak tu ialah bawahan daripada Kapten Kaizo," kata Arumugam seraya memanggul senapannya. Kali ini Fang kembali terkejut.
"Hah!? Kapten Kaizo!?" tanyanya kaget." Dia Kapten sekaligus Abang aku. Mana dia!?"
Arumugam mengangkat bahu. "Jangan tanya aku lah," gerutunya. "Tuan Ketua suruh aku berehat semasa Kapten Kaizo bincang pergi berbincang dengan dia dan Rosaline. Lepas tu, aku tak tahu kemana Kapten Kaizo pergi."
"Sudah, sudah! Jangan ajak dia bincang pasal sulit dahulu," kata Ah Ming cepat-cepat lalu menoleh ke pemuda berwajah oriental di samping Arumugam. "Oh, ya. Ah Meng, Apa pula kau ikut Arumugam pergi kat sini?"
Fang terperangah. "Ah Meng!? Nama dia AH MENG!?" tukasnya kaget sembari melototi pemuda oriental yang mirip Ying itu. Hari ini dia mendapatkan begitu banyak kejutan, Terutama mengenai Ah Meng karena BoBoiBoy sering salah memanggil Fang dan Ying dengan nama itu. Tak disangka pemilik nama itu ada disini.
Ah Meng menunduk. Wajahnya membayang dan tubuhnya bergetar. Detik berikutnya ia mengangkat wajahnya dengan marah.
"Kak Ming- " tukasnya dingin. "Kak Ming Jahat! JAHAT!"
Melihat adiknya marah, Ah Ming jadi salah tingkah. "A- Ah Meng, ini bukan macam yang kau nampak lah," Katanya gugup. "Akak tak bermaksud-"
Sayangnya dia tidak bisa melanjutkan kalimat itu begitu Ah Meng sudah berlari keluar, meninggalkan Arumugam yang melongo di ambang pintu.
"Nah, tengok tu. Ah Meng dah sakit hati sebab kau," gerutu Arumugam. Ah Ming menganga sejenak. Diliriknya Fang yang masih dirantai di sebelahnya.
"Sori. Aku ada pasal sejenak," katanya segera. "Lain masa kita bincang lagi, Pangxi. Jujur, aku rasa minat buat berkawan dengan kau, dan-"
"Dey, cepat lah!" Arumugam tiba-tiba menginterupsi mereka." Kau nak Ah Meng lompat dari atap gedung sebab sakit hati dekat kau ke?"
"Ye lah, Ye lah. Aku akan susul dia sekarang," balas Ah Ming lalu menatap Fang dengan pandangan mesra sebelum akhirnya dia dan Arumugam pergi keluar pintu dan menutupnya.
"Hmp, dasar penjenayah pelik," gumam Fang kesal. "Tapi menarik juga. Nama-nama mereka tu macam pernah BoBoiBoy sebut-sebut. Kejap. Apa jangan-jangan BoBoiBoy punya hubungan dengan mereka? Ish, apasal aku tak tanyakan soalan ni dekat diorang tadi?"
Dia mendesah, bertekad memberitahukan semua ini pada teman-temannya kalau dia sudah bebas nanti.
Sementara itu, Ah Ming dan Arumugam menemukan Ah Meng di balkon dalam. Pemuda itu terlihat frustasi dan hendak melompat ke lantai satu. Namun tubuhnya tertahan oleh Ah Ming yang tahu-tahu sudah mencengkeram bahunya dari belakang.
"Jangan, Ah Meng! Jangan lompat," Kata Ah Ming seraya terisak. "Kau adik aku satu-satunya. Jangan berani kau buat benda teruk!"
Ah Meng mendesis. "Kak Ming tak sedar ke dah buat Meng sakit hati?" tukasnya berang. "Apasal kak Ming duduk kat bilik tu? Sama budak asing pulak! Kak Ming dah tak sayang dekat Meng lagi ke wo?"
"Aku masih sayangkan kau lah, Meng! Tapi kau kena dengar cakap Akak dahulu. Dia tu Fang, salah sorang kawan BoBoiBoy dari Pulau Rintis dan bawahan kepada Kapten Kaizo," jelas Ah Ming seraya menguatkan pelukannya. "Aku cuma kesian sebab dia ditahan kat sana. Ternyata Rosaline yang simpan dia sembunyi-sembunyi. Gila!"
Ah Ming mulai histeris. Melihat kakaknya yang sudah dalam kondisi seperti itu, Ah Meng menjadi kasihan juga. Dilepasnya tangan Ah Ming dari bahunya dan membalik badan. Dirangkulnya tubuh Kakaknya yang hampir sama tinggi dengannya itu.
"Takpe, Kak Ming. Meng faham ma. Jangan menangis," katanya sembari mengeratkan rangkulannya pada Ah Ming. Melihat itu, Arumugam mendesah panjang.
"Haeh, korang mulai syok sendiri lagi," katanya merasa diabaikan. Mendengar itu, Ah Meng dan Ah Ming menoleh ke arahnya sembari tersenyum kecil.
"Hehehe- sori, Aru," kata Ah Meng yang sudah merasa lebih tenang lalu menatap Ah Ming. "Okey, Kak Ming. Saya dan Arumugam ada pasal sekarang ma."
Ah Ming melepas pelukannya. "Ei? Pasal apa?" tanyanya heran.
"Aku dan Ah Meng disuruh patrol dekat Sektor 456 lah. Hari ni hari Ahad. Mumpung sekolah cuti kot," kata Arumugam. "Jom, Ah Meng. Nanti Tuan Ketua marah pula sebab kita buang masa kat sini."
Ah Meng mengangguk lalu menyusul Arumugam seraya melambaikan tangan ke arah Ah Ming.
"Dah, Kak Ming. Saya pergi dahulu," ujarnya sebelum dia dan Arumugam masuk ke dalam lift dan turun ke lantai satu. Ah Ming tersenyum kecil seraya berkacak pinggang. Sekonyong-konyong ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Lantas dibukanya pesan itu.
To: Anggrek Putih
Subject: Rapat Negosiasi ahli pasukan Supreme Diamond
Datang segera kat Aula utama, sekarang. Kau yang tertua diantara budak-budak tu, Ah Ming. Jadi aku nak kau ikut andil dalam rapat ni. Anak aku tak boleh ikut sebab badan dia penat sangat selepas kemaskan bilik Istana Patung dia semalam. Ah Meng dan Arumugam pun aku suruh patrol dekat sektor 456. Bora Ra, Rosaline dan Syrena dah tunggu kau dekat aula utama. Aku akan susul korang nanti sebab nak jemput Kaizo dekat bilik rehat dia terlebih dahulu.
From: Ketua ONION ke-99, Haryan P. Darwish
Ah Ming menutup ponsel itu seraya mendesah panjang. "Aku lagi," tukasnya malas seraya naik lift ke lantai 90 dimana Aula utama berada.
Kaizo baru saja selesai berpakaian. Dengan baju khas pilotnya, helm angkasa dan tentunya sarung tangan cybernetic dan pedang lasernya, ia memandang penampilannya di depan cermin dengan ekspresi datar. Tepat saat ia selesai merapikan rambutnya, pintu kamar tempat ia berada dibuka dari luar. Pria berjas coklat tua dan berkacamata bening tampak berdiri di depan pintu itu, tersenyum lebar.
"Selamat pagi, Kaizo. Sedia untuk sambung negosiasi?" tanyanya dengan nada senang.
Kaizo mendengus. "Terserah kau sahaja, Vader."
"Ahaha, masih pagi pon kau dah cuba bersikap dingin," tawa lawan bicaranya." Jom lah. Calon rakan-rakan kau tak suka dibuat menunggu."
"Calon rakan?" tanya Kaizo heran. "Apa maksud Vader ni?"
Pria berjas coklat di sebelahnya hanya tertawa.
"Kau akan saksikan sendiri lepas tiba dekat Aula utama nanti."
Sakit. Tubuhnya terasa begitu sakit. Hanya itu yang dirasakannya sekarang ini. Blaze meringis. Kesadarannya masih ada walaupun sedikit sekali. Luka-luka goresan di sepanjang lengan dan lehernya akibat cakaran Rosaline tampak mengering. Dia kehilangan banyak darah akibat cakaran wanita jahat itu. Untung saja Rosaline meninggalkanya satu jam yang lalu akibat sebuah panggilan mendadak dari seseorang yang disebutnya 'Ketua'. Kemujuran yang benar-benar mujur bagi BoBoiBoy elemental api itu. Blaze mendesah lega. Namun ketakutan masih menghantui benaknya.
Rantai yang memborgol kedua tangannya ke tiang masih terpasang. Ia mencoba mengutak-atiknya dengan sebuah Peniti kecil yang kebetulan berada di meja samping tiang tempatnya diborgol, walaupun awalnya dia lumayan kesulitan untuk menggapai Peniti itu dengan giginya. Setengah jam kemudian, Borgol itu lepas. Blaze mencoba membuka Borgol di tangannya yang lain dan akhirnya dia berhasil membukanya. Anak itu tertawa kecil. Kenapa tidak sedari tadi dia menyadari hal ini?
Sekarang dia sudah bebas. Blaze mencoba mendorong tubuhnya dari tiang, namun rasa sakit dan lemas di tubuhnya hanya sanggup membuatnya bergerak pelan-pelan. Diraihnya topinya di lemari Rosaline dan memakainya. Kaos dalamannya yang bewarna hitam tampak robek, menampakkan bahu kirinya sehingga membuat penampilannya terlihat semakin berantakan. Namun Blaze tidak peduli. Yang dipikirkannya sekarang adalah bagaimana cara agar dia bisa menyelamatkan pecahan-pecahannya dan Fang di gedung markas ONION itu.
"Kawan-kawan... korang... tunggu aku ye ..."
BRUK!
Tubuh bocah itu sukses menghempas lantai sebelum ia sempat menggapai pintu keluar. Blaze mengerang kecil. Dengan tubuh gemetar dia mulai mencoba untuk berdiri. Sayangnya kondisi badannya tidak banyak mendukung sehingga ia terhuyung dan kembali ambruk untuk kedua kalinya.
"Erggh ... macam mana aku nak ... tolong diorang? Lemas betul," desisnya. Dia mencoba merangkak menuju pintu dan berhasil meraih gagangnya. Diputarnya gagang itu dan-
CEKLEK! CEKLAK!
Oh, Anda kurang beruntung, Blaze. Pintunya dikunci dari luar.
"Terkunci?!" pekik Blaze pelan namun panik. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Tunggu dulu. Mungkin dia bisa menggunakan peniti yang dipakainya untuk melepaskan borgol tangannya saat diborgol ke tiang tadi. Dengan gemetar Blaze berusaha meraih peniti di saku jaketnya dan meraih pintu. Namun karena sudah kelewat lemas karena nyaris kehabisan darah dan tenaga, kakinya gemetar hebat dan ia terhuyung.
"Ugh!"
Untuk ketiga kalinya dia kembali jatuh terjerembab ke lantai. Penitinya terjatuh ke celah bawah pintu. Blaze terisak. Dia merasa dirinya tidak berguna untuk kawan-kawannya. Awal kemunculannya bahkan menjadi beban untuk mereka. Dan sekarang dia benar-benar tidak bisa menjaga mereka dan khususnya menjaga dirinya sendiri.
Karena rasa sakit dan lemas yang semakin menjadi-jadi, kesadaran Blaze kembali menghilang. Anak itu hanya meringis pilu seraya menatap rabun ke celah bawah pintu tak jauh di hadapannya.
"Kawan-kawan ... maafkan aku ..."
Kaizo dan sang Ketua ONION: Haryan telah tiba di Aula utama. Haryan berjalan menuju kursinya sementara Kaizo masih mematung di ambang pintu. Pria itu memandang sekeliling. Ada beberapa sosok di ruangan itu selain mereka berdua. Perlahan ia melangkah masuk dan berhenti di tengah ruangan itu. Kedua mata merahnya memandang sekeliling ruangan. Ada beberapa figur disana selain dirinya dan Haryan.
Di samping kiri ruangan berdiri Ah Ming. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke dinding seraya melipat kedua tangannya di depan dada, mendesah. Terlihat jelas dari wajah orientalnya bahwa ia merasa sangat bosan. Di samping kanan ruangan berdiri Bora Ra yang ditemani Gaga naz di sebelahnya. Kedua Alien bertubuh kekar itu terlihat sama seperti Ah Ming, menunggu dalam kebosanan tiada tara.
Tunggu dulu. Bukannya Bora Ra seharusnya sudah musnah dua tahun yang lalu? Dan kenapa Gaga Naz dan anggota Tengkotak bisa lepas dari tahanan? Ada yang tidak beres disini.
Di samping kanan meja berdiri Rosaline dengan sesosok Wanita yang belum pernah dilihat Kaizo. Wanita itu memakai gaun berwarna abu-abu kebiruan seperti air payau. Rambut coklatnya yang ikal menjulur hingga bawah pinggang. Kedua telinganya meruncing keatas, membuat Kaizo menyimpulkan bahwa dia bukan manusia. Atau lebih tepatnya-
'Alien berwujud Siren, Eh?'
Kaizo tahu Makhluk Mitologi itu. Dia pernah mendengarnya. Siren adalah semacam makhluk bertubuh separuh wanita dan separuh Burung. Kadang-kadang mereka juga mengambil wujud putri Duyung. Nyanyian mereka sangat merdu dan biasanya membuat para Pelaut yang melewati mereka terlena sehingga menabrak karang dan menenggelamkan Pelaut-Pelaut tersebut.
Melihat wajah datar Kaizo, Sang Alien Siren hanya tertawa kecil.
"Ah. Jadi ini dia lelaki yang kau cakap tu, Nyonya Rosaline. Memang nampak lumayan kot," ucapnya sembari tersipu. Mendengar itu, Kaizo langsung mendelik kearahnya dengan tatapan sebal.
"Apa lumayan-lumayan?! Dasar Perempuan pelik! Hiihh- Buat aku mual je."
"Oh, ya ampun. Dia boleh marah juga rupanya, ehehe ..." kata Siren itu sembari menutup mulutnya dengan satu tangan, menahan tawa. Rosaline yang berada di sampingnya langsung menyenggol lengannya.
"Kau ni, jangan ganggu mangsa aku!" bisiknya mengancam.
"Eh? Tapi dia nampak comel kalau marah macam tu. Bagi dia dekat aku lah. Sikit pun tak pe."
"Huh! Jangan harap aku nak bagi dia kat kau, Syrena. Aku yang pertama tengok dia!"
"Alaaahh... Nyonya kan dah punya 'Pelayan sebenar'. Dah la tambah empat budak kecik pulak tu. Sementara aku ... Aku tak dapat apapun! Bagi lah, bagi lah-"
Kaizo terpaksa menutup kedua kupingnya rapat-rapat agar ocehan bodoh kedua wanita itu tidak merasuki pikirannya dan memualkan perutnya. Tiba-tiba Gaga Naz meninju dinding di sebelahnya dengan cakar logam raksasanya, membuat mereka langsung terdiam.
"BISA KE KORANG DIAM SEJENAK?! Bising sangat!" desis Alien itu murka. "Rebutkan lelaki dekat hadapan korang pulak tu. Tengok! Dia dah nampak mual."
"Haeh- tebiat Perempuan tak betul kot," desah Bora Ra lalu menoleh ke sang Ketua. "Haryan, kau boleh sambung negosiasi. Daripada kita tengok Rosaline dan Syrena berdebat macam ni, baik kau mulakan sahaja diskusi ni."
Haryan menghela nafas. "Baiklah, Puan-Puan. Senyapkan suara korang dahulu," katanya pada Rosaline dan Syrena lalu menatap Kaizo. "Jadi macam mana keputusan kau? Nak join dekat kitorang ke tak?"
Pria muda yang berdiri di depannya langsung mengatakan apa yang ada dipikirannya. "Tidak."
Haryan mengelus dagunya yang berjanggut. "Hmm, keras juga kau ni," tukasnya tenang. "Ah, macam mana kalau aku bagi kau senjata terampuh? Mesti kau nak."
"Tidak."
"Kalau macam tu, aku akan bagi duit sebanyak jumlah bintang dekat angkasa."
"Tidak."
Haryan terus membujuk Kaizo dengan tawaran apapun. Semua yang berada disitu hanya melihat mereka dengan ekspresi facepalm.
"Apa pula ni? Dia tak nak terima Negosiasi," tukas Ah Ming heran. "Cakap 'tidak' terus je."
"Entah. Padapun Haryan dah tawarkan benda-benda bagus dekat dia," timpal Gaga Naz.
Rosaline mendengus. "Kaizo, kau keras kepala," gumamnya gemas.
Satu jam berlalu, dan Kaizo masih terus saja menolak tawaran Haryan untuk bergabung, membuat pria paruh baya itu geregetan.
BUUKK!
Haryan memukul tangannya ke meja karena sudah habis kesabaran. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Kaizo menolak tawarannya yang menggiurkan ini. Kalau saja Pemberontak Legenda Angkasa itu menerima tawarannya, maka semuanya akan impas dengan sendirinya.
"Grrr- baiklah kalau kau masih sahaja bersikeras. Aku akan jadikan kau pemimpin ONION selepas aku. Amacam? Posisi tu ialah posisi tertinggi dekat Organisasi ni. Mesti kau tak kan boleh mengelak."
"Tidak."
"Kenapa kau terus menolak nego aku ni, Hah!?"
"Aku cuma tak tertarik begabung dengan badan pelik macam korang."
"KURANG AJAR! Aku dah penat-penat nego guna cara halus dekat kau, tapi masih gagal pulak! Kau ni tak faham ke apa yang aku cakap semalam dekat diri kau!?"
"Aku faham pon apa yang Vader cakap. Tapi sampai bila-bila aku tak kan join dekat korang!" Kali ini Kaizo mulai menggeser tangannya ke gagang pedang lasernya seraya memasang kuda-kuda. "Biarkan aku dan Lahap bekerja dengan sekutu kami. Tak payah join-join dekat korang pula! Urus sahaja komplotan jenayah galaxy ni sendiri."
Haryan menggeram. "Kau ... Berani kau menentang aku?!" tukasnya murka seraya berdiri dari kursinya dan menatap Kaizo nanar. "Kau dah lupa siapa aku. Aku Ayah angkat kau dahulu, dan kau tak nak turuti aku?! BUDAK TAK GUNA!"
"Hmph! Ayah angkat je, bukan Ayah kandung," dengus Kaizo. Dihunuskannya pedang lasernya dan mengacungkannya pada Haryan. "Ini namanya pemaksaan kehendak, tahu tak?!"
Oke, kali ini Kaizo benar-benar merasakan apa yang dimaksud dengan balasan. Memorinya berputar, mengingatkannya pada Fang yang dulu mengalami nasib serupa. Bocah itu lebih memilih teman-temannya dibandingkan dirinya, membuat hati Kaizo terasa begitu sesak pada saat itu. Pasalnya dialah yang mengurus Fang sejak dahulu. Dan parahnya, Fang lebih mendukung anak-anak ingusan pemilik jam kekuatan di Pulau Rintis itu dibandingkan dirinya.
Setelah dipikir-pikir, Kaizo harus menerima hal itu terlebih dahulu. Melihat ikatan Adiknya itu lebih kuat pada BoBoiBoy dan kawan-kawannya, Kaizo terpaksa mundur dan membuat Fang menjadi agen ganda diantara dirinya dan teman-teman Buminya. Dan sekarang, dia hanya berharap Haryan akan melepaskannya dari ONION dan membiarkannya pergi. Bagaimanapun juga dia hanya sendirian. Penghuni ruangan itu tidak ada yang mendukungnya. Lagipula Lahap tidak bisa dihubungi. Kaizo sudah terlanjur memberitahu Alien ungu itu untuk menjemputnya saat sore nanti, dan dia tahu Letnan-nya itu sangat keras terhadap janji. Dan kalau Haryan dan koncro-koncronya menyerangnya, maka bisa dipastikan mereka tidak akan membiarkannya keluar dari gedung itu dalam keadaan hidup.
"Tahan, Ketua." Rosaline tiba-tiba mengangkat tangannya. "Kalau memang Kaizo tak nak join, biar aku yang nego dekat dia," katanya segera, membuat semua penghuni ruangan itu terkejut.
"Hmph, macam mana kau nego dekat dia?" tanya Haryan sebal. Rosaline hanya tersenyum kecil dan memberi kode pada Kaizo untuk mengikutinya keluar ruangan itu. Kaizo mendesah lega. Setidaknya dia bisa lepas dari Haryan untuk saat ini. Lantas ia mengekori Rosaline keluar dari sana, membuat semuanya melongo.
"Biarkan sahaja. Rosaline hanya nak bantu kau, Ketua," kata Syrena pada Haryan. "Lagipun kau terlampau keras dekat Kaizo. Nampaknya itu yang buat pendirian dia lagi kuat dari sebelumnya."
"Hahh, ye lah tu. Kaizo memang nak buat aku hipertensi," gerutu Haryan dengan wajah kusut. "Baiklah. Terserah kau nak guna cara apa buat nego dekat dia, Rosaline."
Ah Ming yang sedari tadi diam tiba-tiba tersentak kaget. Tunggu dulu! Rosaline hendak mengajak Kaizo negosiasi dengan cara seperti apa? Entah mengapa gadis itu merasa begitu khawatir. Dia tahu Rosaline menyekap Fang diluar protokol misi mengajak Kaizo bergabung ke ONION. Tapi ada kemungkinan juga Rosaline hendak menggunakan Fang untuk memancing Kaizo agar bergabung dengan mereka. Dan kemungkinan itu sepertinya mendekati benar.
Ah Ming menelan ludah.
"Tidak, Pangxi."
Langsung saja ia melangkah menuju pintu keluar. Sekonyong-konyong suara Haryan membuatnya terhenti.
"Ah Ming, mana kau nak pergi?"
"Ehh, umm ... nak susul Rosaline dan Kapten Kaizo, Tuan Ketua."
"Kau ni macam ada hal je. Biarkan Rosaline nego kat Kaizo. Mungkin sahaja dia akan berjaya bujuk Kaizo untuk join dengan kita."
"Tapi-"
"Sudah! Kau tak payah cemaskan diorang, Ah Ming. Biarkan Rosaline gunakan cara dia seorang. Aku dah nak mulakan perbincangan rancangan masa hadapan. Kau nak ikut ke tak?"
"Humm- baiklah, Tuan Ketua."
Ah Ming kembali masuk ke dalam Aula utama untuk membicarakan rencana mereka untuk kedepannya. Namun firasat buruknya akan Fang semakin menjadi-jadi. Gadis itu hanya mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, berharap semuanya akan baik-baik saja.
Sementara itu, Kaizo mengekor di belakang Rosaline. Setelah beberapa lama berjalan, Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Rosaline menyadari itu dan ikut berhenti. Dibalikkannya seluruh tubuhnya hingga memandang pria itu lamat.
"Apasal kau berhenti ni?" tanya wanita itu heran. "Aku nak ajak kau Negosiasi lah. Jom ikut aku."
Kaizo mematung, tidak menggubris wanita Alien berwujud Succubus yang berdiri tak jauh darinya itu. Entah mengapa perasaannya mulai tidak enak begitu melihat Rosaline. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela nafas panjang.
"Puan Rosa," gumamnya. "Nampaknya Puan menyembunyikan sesuatu dari aku. Aku penasaran apa sesuatu itu. Boleh Puan sebutkan?"
Rosaline tertawa kecil. Ia menatap pemuda itu lamat.
"Kurang lebih kau benar," ujar Rosaline dengan nada sedikit sinis. "Aku memang menyembunyikan sesuatu dari ka- Ah, bukan, aku menyembunyikan sesuatu dari korang semua. Dan sesuatu itu yang akan aku gunakan tuk bujuk kau masuk dekat Organisasi ni, Kuhuhu ..."
"Cakap sekarang je, Puan Rosa. Puan tak berhak sembunyikan apapun dari aku," kata Kaizo dingin. Wanita itu hanya terkekeh.
"Owh, kau memang degil," gumam Rosaline geli. "Baiklah kalau kau masih je memaksa. Ikut aku. Akan aku tunjukkan sesuatu yang aku maksudkan tu."
"Hmp, memangnya kau simpan benda tu dekat mana?"
"Tenang. Sabar sikit lah. Ikut aku menuju lantai delapan puluh sembilan."
"Hn? Lantai delapan puluh sembilan? Apahal kau nak bawa aku kat sana?"
"Kau tengok sendiri je lah."
(Satu jam Kemudian...)
TING!
Keduanya tiba di lantai delapan puluh sembilan gedung Markas pusat Organisasi ONION dan keluar dari lift menuju lorong panjang di depan mereka. Kaizo mengamati lorong itu teliti. Di sepanjang sisi lorong yang menghadap keluar ditutupi oleh jendela dengan kaca riben. Matahari siang mulai masuk ke dalam gedung melalui jendela-jendela raksasa itu. Di sisi lorong yang lain merupakan tembok beton bercampur logam stainless steel yang menciptakan suasana suram disana. Beberapa lampu neon terpasang sepanjang lorong itu. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu.
"Dekat sini aku simpan benda tu," tukas Rosaline seraya mendorong pintu itu dan masuk ke dalam. Kaizo mengikutinya. Serta merta kedua mata merah kecoklatannya terbelalak begitu melihat 'benda' yang hendak ditunjukkan Rosaline padanya.
"Pang!?"
Dilihatnya bocah yang dirantai itu di tengah ruangan. Fang mengerang kecil. Mendengar suara Kaptennya yang kaget itu, ia mengangkat wajahnya dan ikut terkejut.
"Abang- eh, maksud aku, Kapten!? Apa yang Kapten buat dekat sini?" tanyanya kaget bercampur heran.
"Kau pula. Apa yang kau buat dekat sini?" Kaizo balas bertanya.
"Hmm, macam yang Kapten tengok je. Rosaline tahan aku kat sini. Dia dah buat benda teruk dekat aku pulak. Dia ... Dia cuba belasah dan ambik tenaga dan kuasa bayang aku."
"APA!? KAU DIBELASAH SAMA DIA?! Prebet Pang, kau gurau ke?"
"Ish Kapten ni, macam tak percaya je. Tanya je pasal tu dekat perempuan pelik kat sebelah Kapten tu!"
Tanpa diberi saranpun Kaizo sudah menoleh ke arah Rosaline dengan tampang sedingin es. "Puan Rosa, Apa ... Apa yang kau buat dekat Pang!?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Oho, kau dah dengar cakap dia tadi." Rosaline terkekeh. "Dia betul. Aku cuba ambik tenaga dan sebahagian kuasa bayang dia semalam. Lumayan lah Alien macam dia ni, Fufufu ..."
Kaizo merasa tubuhnya berguncang hebat karena marah. "Perempuan hodoh! Dah lah aku rasa kau macam ada aura pedofil pulak tu!" ujarnya berang seraya mengambil ancang-ancang untuk menyerang. "Apa maksud kau dah buat pasal gila macam tu dekat Pang, Hah!?"
Rosaline tersenyum sinis seraya mendekati Fang dan mencengkeram dagu anak itu, menengadahkannya dengan kasar. "Ah, susah-susah je kau risaukan budak ni, Kaizo," katanya. "Aku sengaja buat pasal ni dengan dua sebab: Aku memang nak cari mangsa baru. Selain tu, aku nak kau join dekat ONION guna cara ni, Ehehehe."
"Puan Rosa, apa maksud kau ni?" tanya Kaizo seraya menghunus pedang lasernya. "Jangan kata kau nak jadikan dia sandera agar aku join dekat komplotan jenayah gila korang."
"Ahahaa, tepat. Jawaban kau tepat," tawa wanita itu. "Baik kau join dekat ONION sekarang, Kaizo. Kalau tak, aku akan hapuskan budak ni. Ha, Amacam? Penawaran yang bagus, bukan?"
Fang meringis. "Ja- Jangan dengar cakap dia, Kapten!" tukasnya. "Dia nak gunakan cara tu agar Kapten masuk kat ONIO-"
PLAKK!
"UGH!"
Kalimatnya terpotong begitu tangan Rosaline menamparnya. Fang mengerang. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Kaizo yang melihat itu langsung berteriak.
"HENTIKAN! Tega ... Tega betul kau sakiti budak kecik macam dia! Kau dah melampau sangat, tahu tak!? Lepaskan dia!"
"Fuhuhu, Lepaskan? Kau nak aku lepaskan dia?" bibir Rosaline menyunggingkan senyum licik. "Kau mimpi je lah. Baik kau terima negosiasi ni, Kaizo. Kalau tak-"
Dia tidak melanjutkan ucapannya begitu melihat Kaizo sudah menghilang dari tempatnya berdiri. Rosaline mendongak dan mendapati sang Kapten sudah melompat tinggi ke udara dengan helm angkasa yang sudah terpasang kembali di wajahnya. Dikepalnya tinjunya kuat-kuat dan mengarahkannya pada wanita itu.
"TUMBUKAN TENAGA!"
BUUUMMMM!
Ruangan itu bergetar akibat ledakan yang dihasilkan serangan Kaizo itu. Fang membuka matanya yang sempat tertutup dan terkejut. Tampak Rosaline yang dilindungi perisai bulat transparan miliknya sehingga Kapten Kaizo tidak bisa meninjunya secara langsung. Kaizo mendecih begitu serangannya hanya bisa meretakkan perisai itu. Ditambahkannya daya pada sarung tangan cybernetic miliknya agar bisa menghancurkan perisai itu. sayangnya tidak terjadi apa-apa alias nihil. Merasa cara itu tidak ada gunanya, Kaizo melompat mundur dan mempelajari perisai transparan milik Rosaline.
'Macam dinding tenaga aku je,' tukasnya dalam hati. 'Apasal dia boleh punya kuasa macam tu? Di tubuh dia tak nampak teknologi daripada Sfera Kuasa apapun. Apa mungkin itu kuasa alamiah dia ke? Nampaknya Kuasa tu memang dari tubuh dia seorang, bukan macam aku dan Fang yang gunakan kuasa-kuasa dari medium perantara, dan bukan pula macam budak-budak bumi yang gunakan kuasa tu dari jam kuasa mereka. Aku ada hipotesa kalau dia ni macam pernah jadi kelinci percobaan saintifik diluar kode etik. Pelik, tapi menarik. Aku kena hati-hati lawan perempuan ni dan selamatkan Pang segera.'
Dicabutnya pedangnya dan menatap Rosaline dengan pandangan serius. "Tak sangka kau punya kuasa bernas macam tu, Puan Rosa," tukasnya tenang. "Hebat, Tapi aku takkan kalah dari kau! PEDANG TENAGA!"
BLAAASSHH!
Pedang lasernya terlihat semakin menyala, menunjukkan kekuatan dashyat darinya. Rosaline menghela nafas panjang seraya berkacak pinggang, berhadap-hadapan dengan pria Humanoid Alien itu.
"Hmm, jadi kau pon nak guna senjata pulak," tukasnya. "Baiklah. Kita lawan guna senjata. MODE GOTHIC QUIN!"
Langsung saja Rosaline berubah ke mode gelapnya. Ditangannya terhunus sabit panjang raksasa yang pernah dipakainya untuk melawan Boboiboy dan teman-temannya. Fang tersentak. Kekuatan Rosaline akan semakin mengerikan jika ia menggunakan mode 'Awakening'-nya itu. Fang tidak yakin seratus persen bahwa Kaizo akan sanggup melawan Alien berwujud succubus itu. Tapi melihat raut wajah Kaizo yang semakin kusut, Fang tahu Kaptennya itu sudah tidak bisa dicegat lagi.
"Jangan, Kapten ..." desisnya lirih. "Kapten bukan lawan dia."
Kaizo melirik ke arah anak itu dan mendesah. "Tak payah kau risau pasal aku, Pang," katanya lalu menatap Rosaline. "Kau akan tamat dekat sini, Puan Rosa. Ambik ni: TEBASAN PEDANG TENAGA! HEAAAAAHHH!"
TRAAANNNGGG!
Sabit Rosaline dan pedang Kaizo saling menangkis, membuat suara-suara yang memekakkan telinga. Fang mendengus. Kalau saja dia bisa lepas dari rantai yang memborgol kedua tangannya, maka dia bisa membantu Kaizo untuk melawan Rosaline. Dan dia hanya bisa menggunakan kekuatan bayangannya kalau ada cahaya yang masuk ke kamar itu.
Ah, berbicara tentang cahaya, Fang melihat pintu ruangan itu tengah terbuka lebar, membiarkan sinar matahari siang masuk ke dalam ruangan itu. Bocah berwajah oriental itu langsung tersenyum simpul.
Ini kemujuran, Fang. Benar-benar kemujuran.
"KUNCI BAYANG!"
Segera Fang membuat bayangan kunci menggunakan sinar matahari itu. Digunakannya kesempatan saat perhatian Rosaline dialihkan oleh Kaizo untuk membebaskan diri.
CLANG!
Bagus. Satu borgol telah terbuka. Fang membuka borgol yang satunya lagi dan berhasil. Dilepaskannya borgol-borgol itu dari tangannya dan mengambil jaketnya yang tergeletak di pojok ruangan. Setelah memakainya, ia menerjang ke arah Rosaline yang saat itu tengah bertangkisan dengan Kaizo.
"JARI-JEMARI BAYANG!"
BLAAARRRR!
Rosaline terkejut dan menoleh. Perhatiannya terpecah. Kaizo menggunakan kesempatan ini untuk menyerang wanita itu. Namun Rosaline menyadari gelagat Sang Kapten dan melompat ke belakang, berhasil menghindari pedang tenaga yang hampir saja menyabetnya. Rosaline menatap Fang lamat.
"Oh, bila masa kau boleh lepas, Heh?" tanyanya sebal. "Padapun aku tak bagi kunci borgol tu dekat kau pulak."
Fang mendesah panjang. "Hm, kau tak tahu ke kalau kuasa bayang aku boleh digunakan kalau ada sumber cahaya?" katanya lalu menekan tombol di kacamata-nya. "Kitorang akan belasah kau! KUASA PENEMBUS!"
Wajah orientalnya langsung ditutupi semacam topeng cyber yang memberinya kekuatan khusus untuk melewati segala jenis rintangan. Ditatapnya Kaizo yang berada di sebelahnya. Kaizo balas menatapnya.
"Kau kena bagi tahu aku macam mana kau boleh pergi kesini, Pang," ujar Kaptennya itu. "Dan apasal aku tak boleh hubungi kau lewat bilik chat? Laptop kau mati daya ke?"
"Tak. Laptop aku jatuh kat lautan." Fang menggeleng. "Nasib baik ada yang ambik laptop tu. Sayangnya orang tu ialah salah sorang ahli ONION. Dan-"
"Okey, Tuan-Tuan. Sampai bila korang nak bebincang kat situ, Heh?" Rosaline tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka. "Aku akan hajar korang semua! Dan tentunya, jadi milik aku pula! Hahahahahaaa!"
Dia menerjang dengan gerakan kilat ke arah kedua lelaki di depannya itu. Kaizo mengaktifkan dinding tenaganya sehingga sabit Rosaline tertangkis. Fang sudah terlebih dahulu mengaktifkan kekuatan penembusnya sehingga sabit wanita itu hanya melewati tubuhnya yang maya itu.
"Kau akan kalah, Puan Rosa," tukas Kaizo dingin. "Tak de yang boleh tembusi dinding tenaga aku. Bersedialah untuk kalah."
"Tch, kuasa kau ni ternyata hebat sangat," dengus Rosaline. "Tapi kau pun ada kelemahan. Hahaha, dan aku dah tahu apa kelemahan tu."
"Eh? Kelemahan?" Fang terhenyak. "Jangan remehkan Kapten! Dia ni tak de kelemahan, tahu tak?"
Rosaline menyeringai. "Oh, tak de kelemahan? Seharusnya kau tahu semua benda kat dunia ni mesti punya kelemahan. Kau lupa kalau kuasa utama aku ialah serapan energi," tukasnya seraya menempelkan tangannya ke dinding tenaga Kaizo. Kaizo tersentak. Seluruh tubuhnya tiba-tiba melemas. Serta merta dinding tenaganya lenyap dan membuat Kaizo terhuyung. Ia jatuh terduduk seraya menopang tubuhnya dengan sebuah tangannya. Nafasnya terengah-engah.
"Kapten!" Fang buru-buru mendekati pria itu. Kaizo merasa tubuhnya keram. Ditatapnya Rosaline dengan pandangan berang.
"Pu- Puan Rosa ... Macam mana kau boleh lenyapkan dinding tenaga aku?" tanyanya heran sekaligus kesal. Ya, kesal. Selama ini dialah yang dilabeli sebagai Pemberontak Legendaris di seluruh galaksi, yang sudah banyak makan asam-garam. Tidak ada seorangpun yang bisa menembus dinding tenaganya itu, apalagi menghilangkannya.
Tidak seorangpun, Heh? Kaizo hanya bisa mendengus kesal. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat.
Sepertinya dia keliru.
Rosaline tertawa mengejek. "Hahahaha, mesti kau bingung macam mana aku boleh lenyapkan dinding tenaga tu," katanya seraya berkacak pinggang dengan satu tangan. "Nama pun dinding tenaga. Aku tahu kau gunakan tenaga kau untuk buat benda tu. Dan tenaga kau bertukar jadi dinding tenaga tu . Dan macam yang kau tengok, aku boleh sedut dinding tenaga tu. Teori yang hebat, bukan?"
Fang menatapnya dengan marah. "Tak de ampun! Aku akan belasah kau sampai impas!" katanya seraya menekan kembali ujung topengnya guna berubah ke mode kekuatan bayangnya. Namun lengan Kaizo tiba-tiba menghalanginya.
"Ini bukan urusan budak kecik macam kau, Prebet Pang," tukasnya seraya meringis. "Dia lawan aku. Biar aku seorang yang uruskan dia."
"Ta- Tapi Kapten, macam mana kalau-"
"Kau dengar cakap aku!? AKU SEORANG YANG AKAN URUSKAN DIA! Jangan masuk campur!"
Mendengar kalimat dengan nada suara tinggi itu membuat Fang terpaksa mengurungkan niatnya. Ya, bagaimanapun juga dia hanyalah anak kecil, dan Kaizo adalah pemuda dewasa. Lagipula tubuhnya belum pulih benar setelah Rosaline mengambil energinya semalam. Anak itu hanya menatap Kaizo dengan wajah pasrah.
"Baik, Kapten."
Dia melangkah mundur beberapa meter dari pria muda itu. Kaizo mendesah panjang lalu menoleh ke arah Rosaline, menghunus pedang lasernya untuk kesekian kalinya.
"Kaizo, aku fikir kau akan sudi sertai ONION," tukas wanita itu berang. "Tapi dari kelakuan kau sekarang, aku rasa takde pilihan lagi selain menghapuskan diri kau. Haryan tak perlukan budak ingkar macam kamu. Bersedia lah mati di tanganku!"
Lawannya hanya tertawa miris. "Cih, hambar," tukasnya dingin. "Aku tak takut dengan ancaman murahan macam tu. Nak musnahkan aku? Silahkan. Tapi jangan salahkan aku kalau aku musnahkan kau duluan, Puan Rosa."
Taufan menggeliat. Seluruh tubuhnya kesemutan. Begitu darahnya mulai mengalir lancar, dia mulai merasakan kegelian yang luar biasa. Tawanya meledak saat itu juga, membuat Ice dan Halilintar melihatnya dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Apakah dia masih waras?'
"Wey, Taufan. Apasal kau gelak-gelak tu?" tanya Halilintar heran. "Macam budak tak waras je."
"Entah. Blaze dah kena tangkap, dia gelak-gelak pula," tambah Ice. "Tega betul kau, Taufan."
Taufan yang merasakan geli di tubuhnya mereda segera berhenti tertawa. "Hei, badan aku kesemutan lah!" tukasnya. "Wajar kalau aku gelak, sebab aliran darah kat dalam badan aku baru jalan."
"Oh, ingatkan kau senang Blaze dibelasah Rosaline."
"Hah!? Mana ada? Aku takut setengah mati masa dengar jeritan dia semalam tau!"
"Tch, macam mana ni? Aku dah tak tahan duduk kat sini," dengus Halilintar. Diliriknya pangkal bahunya. Tahu-tahu kedua mata delimanya terkejut. Ada sebuah bekas suntikan disana. Lantas dipandangnya kedua pecahannya.
"Hei, aku jumpa sesuatu yang menarik," katanya. Taufan menyeringai mendengar itu.
"Eh? Sesuatu yang Menarik? Apa tu? Apa tu?"
"Err- bekas suntikan."
"Heee?"
Ice mendesah berat. "Kau ni. Tak kelakar sangat," katanya datar.
"Aku tak kelakar lah!" Halilintar merenggut. "Bekas suntikan ni macam baru je. Mesti ada yang suntik aku semasa tidur semalam."
Taufan tersentak. Dilihatnya lengannya yang terborgol melewati kepalanya. Sama seperti Halilintar, ada sebuah bekas suntikan disana.
"Hali, aku pun ada bekas suntikan lah," katanya segera. "Ice, cuba kau tengok badan kau. Ada bekas suntikan ke?"
"Eh?" refleks Ice memandang seluruh tubuhnya. Ditemukannya lubang kecil bekas suntikan di telapak tangannya, membuatnya heran.
"Pelik. Bila masa ada yang suntik kita ni?" tanyanya. "Dia ingat kita ni bayi yang kena imunisasi ke? Atau-"
'Tidurlah, Ice. Karena tak lama lagi, kau akan kerja buat aku.'
'Sampai jumpa, Ice. Atau mungkin boleh disebut ... Pelayan setia aku? ehehe ...'
Hah?! Jangan-jangan ...
"Glup!"
Ice menelan ludah. Dia ingat kalimat-kalimat yang dilontarkan Rosaline padanya beberapa hari yang lalu. Wanita itu ingin menjadikan BoBoiBoy sebagai pelayannya. Ice merinding. Bekas suntikan di tubuh mereka itu semakin membuatnya merasakan suatu firasat buruk.
Jangan-jangan Rosaline memberi mereka suatu zat yang bisa mengendalikan tubuh mereka diluar kehendak mereka sendiri. Ice mencoba menghapus pikiran-pikiran buruk itu dari benaknya.
Tidak.
Itu tidak akan terjadi, kan?
Karena dia tidak akan pernah sudi untuk melayani wanita yang berusaha menghancurkan harga dirinya itu.
"Ei, Ice. Kenapa muka kau macam pucat sangat ni?" pertanyaan Taufan membuyarkan lamunan sang pengendali es. Ice menatap kedua pecahannya dengan wajah murung.
"Maaf. Aku cuma risau kalau-kalau Rosaline masukkan suatu benda pelik dekat badan kita. Dia dah pernah cakap nak jadikan BoBoiBoy salah satu pelayan dia. Dan aku takut dia akam kawal badan kita guna benda tu!"
"APA!? Hish, tak sudi lah!" pekik Halilintar marah. "Sampai bila-bila aku tak kan jadi pelayan dia! Aku akan belasah dia! Dasar perempuan Pedo!"
"Te- Tenang, Hali. Itu cuma hipotesis je. Kan, Ice?" tanya Taufan, berharap Ice hanya bergurau. Ice hanya tersenyum miris. Dalam hati dia berharap semuanya akan baik-baik saja.
TAP- TAP- TAP-
"Hee?"
Terdengar suara beberapa langkah kaki yang menuju ruangan mereka. Ketiga pecahan BoBoiBoy itu langsung mematung. Jangan-jangan Rosaline hendak melakukan hal mengerikan terhadap diri mereka lagi. Langsung saja mereka pasang siaga satu.
"Si- Siapa tu?" tanya Taufan tegang. "Rosaline ke?"
"Kalau memang dia yang datang, aku akan tendang dia jauh-jauh!" ujar Halilintar kesal.
Ice menajamkan pendengarannya. "Aku rasa dia tak sendiri," ujarnya. "Ada lagi tiga orang."
"Eh? Tiga orang?" Halilintar menaikkan alis tanda bingung.
"Iye," angguk Ice. "Suara langkah kaki tu terdengar banyak. Mesti diorang bukan Rosaline dan rakan-rakan jenayah dia. Suara langkah diorang tu ringan, bukan berat macam ni."
Taufan terhenyak. "Lantas kalau bukan Rosaline, lalu siapa?"
Ice mendesah. "Kita tengok je lah," ujarnya pasrah.
Tak lama kemudian, pintu ruangan ketiga pecahan BoBoiBoy itu terbuka, menampakkan sebuah sosok tinggi gempal. Tubuh sosok itu berbeda dari atas ke bawah. Bagian atas terlihat begitu gendut sementara bagian bawah terlihat begitu kurus. Bukan. Dia bukan Gopal. Perut sosok itu lebih buncit dari anak berdarah India itu. Sosok itu langsung berteriak lantang.
"Jangan risau, wahai anak muda. Sebab KEBENARAN TELAH DATANG UNTUK MENYELAMATKAN KALIAN SEMUA! HAHAHAHAHAAA!"
Sosok itu tertawa keras-keras dengan gayanya yang begitu heroik sementara ketiga pecahan BoBoiBoy yang terbelenggu tak jauh di depannya hanya bisa menganga lebar melihat kemunculan sosok yang begitu nyentrik itu. Mereka menggumam keras dengan wajah kaget bukan kepalang.
"CI- CIKGU PAPA ZOLA?!"
BRUUKK!
"ARGH!"
Kaizo menghempas dinding. Ternyata Rosaline tidak main-main. Kaizo merasa energi di tubuhnya terkuras selama melawan wanita itu. Sia-sia dia menggunakan dinding tenaganya untuk perlindungan karena Rosaline telah mengetahui kelemahannya. Sebagian besar energi tubuhnya memang diberikan untuk seluruh alat bertarung miliknya. Dan bagi Rosaline, itu merupakan ladang makanan yang melimpah ruah.
"Cih, kau guna seluruh tenaga kau sebagai senjata. Bodoh sangat," ejek wanita tu. "Serang tu tak kan mempan dekat aku, tahu tak? Bersedialah menemui ajal kau, Hahahaha!"
Dia berjalan menuju Kaizo seraya menghunus sabitnya. Kaizo mengerang dan berusaha bangkit. Namun tubuhnya seakan tidak bisa diajak berkerjasama. Detik berikutnya dia kembali ambruk seperti orang lumpuh. Fang tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan Kaptennya itu sebelum semuanya terlambat.
"KAPTEN KAIZO!" pekiknya seraya menerjang ke arah Rosaline. Dibentuknya kedua telapak tangannya. "HARIMAU BAYANG! SERAAAAAAANNNGGG!"
"GRAAAAAAAAAA!"
Rosaline menoleh. Sebuah harimau yang terbuat dari bayangan melompat ke arahnya, hendak menerkamnya. Langsung saja ditebasnya harimau itu dengan sabitnya. Harimau itu langsung musnah seketika. Ditatapnya Fang dengan wajah kesal.
"Stok tenaga tak payah masuk campur," katanya dingin."
Fang terperanjat. "Apa?!" pekiknya murka. "Aku bukan stok tenaga kau lah! Hodoh betul! PENGIKAT BAYA-"
GRAAAAKKKK!
"UAAAARRRGGGGHHH!"
Yang dilihat Fang sekarang adalah beberapa utas tali bayangan berwarna merah melilit tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak. Pemuda itu tersentak kaget. Rosaline telah menggunakan kekuatan bayangan yang telah diambil sebagian darinya. Fang mendecih kesal. Dia lupa kalau wanita itu bisa menggunakan kekuatan dari orang yang dia serap energinya, terutama jika si korban memiliki kekuatan super.
"Bagus. Tetap duduk situ," ujar Rosaline dengan nada puas. Dilihatnya Rosaline yang berjalan mendekati Kaizo seraya menghunus sabitnya. Kaizo mengerang. Tubuhnya terasa lumpuh semua. Baju pilot luar angkasanya tampak acak-acakan. Helmnya terlepas dari kepalanya. Rosaline berhenti di depannya dan tahu-tahu membuang sabitnya ke lantai. Dia duduk di depan pria yang sudah tidak berdaya itu seraya tertawa.
"Ahahaha- jadi macam ni Pemimpin pasukan pemberontak terlegenda dekat alam semesta?" kata Rosaline menyindir. "Payah. Kau payah, Kaizo. Tak de guna Haryan nak rekrut kau. Kau pengkhianat, dan pengkhianat kena dihapuskan."
"Ka- Kapten ..." Fang berusaha membebaskan dirinya dari tali-tali bayang Rosaline. Namun nihil. Kondisi tubuhnya juga belum pulih sepenuhnya. Sia-sia ia memberontak. Dilihatnya Kaizo ambruk dan terhempas ke dinding tak jauh di belakangnya.
"Dihapuskan, eh?" Kaizo tertawa hambar. "Aku tak takut mati. Tapi apasal kau buang senjata kau pula? Nak musnahkan aku pelan-pelan ke? Kejam."
Wanita di depannya hanya tertawa sinis. "Owh, tentu. Aku nak kau musnah sekarang," katanya dengan seringai serigala sembari mendekati Kaizo. "Tapi sebelum itu, aku kena bagi tahu kau satu pasal."
"Ugh ... Buang masa ... sangat ..." dengus Kaizo lemah. Tubuhnya sudah hampir terasa lumpuh total. "Apa ... pasal yang ... kau maksudkan?"
"Ah, pasal tu? Hmm, baiklah. Aku tak tahan semasa tengok kau selama ni," goda wanita itu seraya menyentuh pundak Kaizo. "Mangsa kena disantap sebelum jadi dingin, betul tak? Tenang, Kaizo sayang. Walaupun sakit, Ini tak kan terlampau lama. Selamat tidur buat selamanya, fufufu ..."
Kaizo meringis. "Dah la ... kau ni ... bertingkah macam pedofil ... Psikopat pulak ..." tukasnya berang. "Kau ni ... ugh ... memang tak bermora-"
Dia tidak sempat melanjutkan kalimatnya begitu Rosaline mengigit batang lehernya, tepat di dekat pembuluh darah arterinya. Kaizo terbelalak, begitu pula Fang. Untung saja Rosaline membelakangi anak itu. Tapi tetap saja Fang merasa amarahnya meledak-ledak. Dia semakin murka begitu melihat darah mulai mengalir turun ke bahu Kapten Kaizo. Sepertinya wanita itu menghisap darahnya dengan cara bejat seperti itu. Fang tidak tahan lagi dan berteriak kuat-kuat.
"KAPTEEEEEENNNNN! TIDAAAAAAAAKKKKK!"
Dikuasai amarah yang bergejolak membuat tali-tali bayangan milik Rosaline lepas dari tubuhnya. Fang menerjang ke arah wanita itu sembari membentuk sesuatu dengan kedua tangannya.
"Keluarlah, POLAR BEAR BAYANG! CAKARAN POLAR BEAR BAYANG!"
"GRAAAUUURRR!"
BRUAAAAAKKKK! PRAAAANNGG!
Beruang kutub bayang milik Fang mencakar Rosaline dari belakang. Saking kuatnya cakaran itu, Rosaline terlempar keluar ruangan hingga menabrak kaca jendela dan memecahkannya berkeping-keping. Rosaline sendiri masih terlempar keluar. Namun ia segera mengeluarkan kedua sayap Kelelawar raksasanya dan menyeimbangkan tubuhnya di udara. Ditatapnya Fang dengan tatapan ganas.
"Penganggu!" tukas Rosaline sembari menjilati darah Kaizo yang masih tersisa di sekitar bibirnya. "Aku akan-"
Dia tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat ke bawah gedung. Sebuah senyum sinis menghiasi bibirnya.
"Ah, diorang dah tiba rupanya."
Dipalingkannya pandangan ke arah Fang yang masih saja menggeretuk marah.
"Ka- Kau apakan Kapten Kaizo!?" pekik anak itu. Rosaline hanya tersenyum kecut dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Haeh, kau tengok je lah Kapten kau tu. Dia dah habis," katanya sinis. "Ah, ya. Aku punya pasal buat sekejap dekat bawah tu. Jumpa lagi."
"Hiishh, tak tahu diri! ELANG BAYAN-"
Sayangnya Rosaline sudah melesat ke bawah sebelum Fang sempat mengeluarkan Elang bayangnya. Pemuda itu menggeram. Diliriknya tubuh Kaizo yang masih bersandar di dinding. Lantas didekatinya pria itu dan mencengkeram bahunya.
"Kapten! Kapten okey ke?" tanya Fang cemas. "Apa yang-"
"Tak payah ... kau risau ... kan aku, Prebet Pang ..." suara putus-putus Kaizo memotong kalimat Fang. "Puan Ro ... sa dah ambil ... da ... rah dan ... te... naga aku... Dia betul. Aku dah ha ... bis ..."
Fang tersentak. "APA!? Tidak! Rosaline dusta Kapten akan habis kat sini. Kapten mesti akan baik-baik sahaja! Mari aku papah."
Namun Kaizo menggeleng lemah. Dia menghembuskan nafasnya begitu berat. Pandangannya mulai kabur. Digenggamnya tangan Fang sebisanya.
"Maaf, Kapten ... tak boleh ... beli ... kan kau ... Donut Lo ... bak ... Merah lagi ..."
"Hah?! Jangan cakap macam tu, Kapten! Kita mesti boleh kalahkan ONION dan Kapten boleh traktir aku Donut Lobak merah lepas tu. Aku boleh Traktir Kapten Sup Lobak Merah kesukaan Kapten pula!"
Kaizo terkekeh. "Sup Lobak ... merah? Haha ... aku ... masih bo ...leh beli kat ... Urrgghh ..."
Tidak. Ini tidak baik. Fang akan memarahi orang yang menaruh bawang di dekatnya saat itu. Sayangnya bawang itu memang tidak ada, walaupun kini mereka berada di sebuah gedung milik sebuah badan yang inisialnya mendekati nama bawang. Dan Fang tahu ini bukan saatnya untuk melucu.
"Kapten! Kapten dengar aku? Kita mesti lalui ini! Kapten tak boleh tinggalkan aku! Kapten kena kuatkan diri, Huhuhuu-"
Tanpa dikomando Fang sudah memeluk Kaizo seerat mungkin. Kaizo tersenyum kecil. Diremasnya rambut ungu landak milik bocah itu sembari berbisik.
"Dengar, Pang ... dunia ni tak selamanya sama. Mereka ... diganti ... kan oleh penerus ... Dan kaulah penerus ... aku, Pang. Sekarang ... biarkan Abang rehat dahulu ... selamat tidur ... adik tersayang ..."
PLUK!
Tangan Kaizo terkulai. Fang terperanjat dengan mata terbelalak. Perlahan ia merasakan panas tubuh Kaizo menguap dari tubuhnya, mendingin. Dilihatnya wajah Kaizo yang 'tertidur' dengan tenang walaupun ada bekas darah yang mengalir keluar lehernya. Fang menepuk-nepuk pipi pria itu beberapa kali.
"Kapten? KAPTEN!? BANGUN, KAPTEN! "
Oh, siapa yang menaruh bawang disini? Fang tidak habis pikir, bisa-bisanya ada bawang pembuat tangisan yang tidak terlihat olehnya itu.
Tidak mungkin.
Ini tidak mungkin, kan?
Sayang sekali bendungan air matanya sudah terlanjur jebol.
"Tidak ... Tidak, Tidak! Tiidaaaakkk! TIDAAAAKKKKKK!"
Spontan Fang memeluk tubuh dingin Kaizo kuat-kuat, menangis sejadi-jadinya. Air matanya meleleh melewati bingkai kacamatanya. Dia benar-benar tidak bisa menerima kalau pria itu sudah 'tertidur' dan tidak akan pernah bangun lagi. Memang menyedihkan, tapi nasi sudah menjadi bubur.
Titt- Tiit- Tiiiittt-
'Eh?'
Suara itu datang dari jam tangan Kaizo. Fang menarik wajahnya dari pundak Kaizo dan menekan tombol di jam tangan itu. Serta merta muncul hologram wajah Lahap darinya.
"Kapten, aku- Eh? Pang? Apasal kau yang jawab panggilan aku ni?" tanyanya kesal. Namun wajahnya berubah menjadi heran begitu melihat kedua mata Fang yang bengkak karena menangis.
"Ma- Maaf, Leftenan Lahap. Ka- Kapten Kaizo ... di- dia ..."
"Ei, perjelas cakap kau tu lah. Mana Kapten? Aku nak bincang kat dia."
"Tapi ... Tapi Kapten ... tak ... tak boleh dihubungi ..."
Lahap mendengus. "Apa maksud kau ni, Hah!? Cakap betul-betul! Apa yang dah berlaku dekat Kapten Kaizo?"
"Kapten Kaizo, di- dia ..."
Fang menelan ludah. Suaranya tercekat.
"Dia sudah ... meninggal ..."
Bersambung ...
Maaf. Ini chapter memang memusingkan kepala, hehehe ... Mind to Review?
Tetap setia menanti kelanjutannya ya. Love you all, dear readers ^^
