Selamat Pagi siang dan Malam, readers. Saya membawakan lanjutan cerita ini. hehehe. Maaf tidak sempat balas Review. Hiatus sebulan pula tu. (Emang ya, bikin readers bosan nunggu kali ya) Sebenarnya selama hiatus itu lagi nungguin serial Boboiboy tamat dan apakah tebakan aku selama ini Kaizo itu abangnya Fang atau tidak, eh ternyata iya hehehe. (Thank you monsta ternyata kita sepemikiran ^^) Tapi terima kasih telah mereview untuk ... ya ehm ... nasib kapten Kaizo, huhuhuuu ... Tapi yang jelas Kapten Kaizo ...
Kaizo:" Tega kau, Author. Buat status aku jadi deceased." -_-
Hah, lupakan abang ganteng diatas. marah2 mulu deh (Kaizo: Oi!)
Note: Rated T+, Gajeness, Typo, Humor gagal, Spoiler, Rated Angst gaje dan kegregetan lainnya.
Mengapa Papa Zola bisa menemukan Ice, Halilintar dan Taufan di ruang tahanan mereka? Bagaimanakah nasib Fang dan Blaze? Dimanakah Gempa, Ochobot dan teman-teman lainnya? Temukan jawabannya disini.
M.A.W.A.R. L.I.A.R
'The Chaotic of Elemental Split'
(Sebuah Kisah Fiksi)
Season 2
.
.
.
(Boboiboy milik Animonsta)
.
.
.
Bagian 18: Jangan Berhenti Berharap
Ice, Halilintar dan Taufan masih menganga melihat 'penampakan penuh Kebenaran' tak jauh dari hadapan mereka.
"Ci- Cikgu Papa Zola? Bila masa Cikgu boleh masuk ke Gedung ni?" tanya Taufan kebingungan. Papa Zola tertawa mendengarnya seraya masuk ke dalam ruangan.
"Hahahaha, itu lah korang tak tahu. Cikgu boleh melakukan apa saja selama Kebenaran menghendaki," katanya dengan gaya heroik lalu menatap ketiga pecahan Boboiboy itu. "Tapi APASAL BAJU KORANG NI ACAK DAN KUSUT, HAAAAHH?! Dah besar macam ni masih tak tahu cara pakai baju ke? Ckckck, kesilapan yang besar."
Ia mengatakan itu begitu melihat baju ketiga bocah di depannya itu acak-acakan dan kusut, seolah-olah mereka adalah gelandangan yang tidak tahu cara memakai baju yang benar.
Halilintar mendengus. "Ish Cikgu ni. Baju kitorang jadi macam ni sebab dibelasah sama Rosaline tu lah."
"Hah?! Dibelasah?" tanya Papa Zola seraya berjalan mendekati mereka. "Dibelasah macam apa yang kamu maksudkan, wahai anak muda?"
"Macam ni, Cikgu." Ice meminta Papa Zola mendekatinya lalu membisikkan sesuatu di telinga Superhero Game itu. Sontak kedua mata Papa Zola terbelalak selebar sekian diameter.
"APA?! DIA BUAT BENDA PELIK MACAM TU DEKAT KORANG?! KETERLALUAN! ITU SALAH LAGI DIPERSALAHKAN!" jeritnya dengan nada tinggi tanda murka, membuat ketiga bocah itu ingin sekali membungkam mulut guru nyentrik mereka itu sesegera mungkin.
"Haeh, sudahlah tu Cikgu. Yang penting Cikgu kena bebaskan kami dari sini sekarang juga," pinta Halilintar.
"Betul Cikgu," tambah Taufan. "Tapi kejap dahulu. Cikgu hanya seorangan ke datang kesini? Sebab kami dengar banyak langkah kaki kat depan tadi."
Papa Zola menggaruk dagunya sendiri. "Hmm, tepat. Tebakan yang tepat, wahai anak muda," katanya dengan nada sok serius. "Cikgu datang kesini tak berseorangan, melainkan DITEMANKAN OLEH RAKAN-RAKAN CILIK KEBENARAANNN!"
"Eih? Rakan-rakan Cilik Kebenaran?" tanya Ice heran. "Siapa diorang tu?"
"Hahahaha, baiklah. Tunjukkanlah diri kalian, Wahai rakan-rakan Cilik Kebenaraaann!" ujar Papa Zola seraya menuding pintu. Tak lama kemudian muncul tiga sosok di sana, membuat ketiga BoBoiBoy itu tercengang-cengang.
"Amar Deep?!"
"Milyra Gamma?!"
"Kevin?!"
Mereka kembali melongo begitu melihat tiga teman kelas mereka menongolkan diri di ambang pintu.
"Hai, BoBoiBoy. Lama tak jumpa tau," tukas Amar Deep dengan aksen khas India miliknya.
"BoBoiBoy! Korang tak pe kah?" tanya Milyra Gamma cemas. "Bunda aku buat benda pelik dekat diri korang ke?"
"Nampaknya kau betul, Mila," gumam Kevin. "Tengok tu. Baju diorang kusut macam lepas kena badai!"
Halilintar mendesah. "Sudah. Tak payah korang bahas benda pelik tu. Baik korang bantu kitorang lepaskan Borgol ni dan- eh?"
Kalimatnya terputus begitu melihat Papa Zola mengeluarkan Rotan Keinsyafannya dan mengambil ancang-ancang.
"Eih? Cikgu nak buat apa ni?" tanya Taufan bingung.
"Iye. Sampai keluarkan Rotan keinsyafan pulak tu," tukas Ice tak kalah herannya.
"Cikgu akan bebaskan kalian, Wahai BoBoiBoy anak didikku," ujar Papa Zola. "Rasakan HIKMAT ROTAN PEMBELA KEBENARAAAANNN!"
TRAAAKK! TRAAAKK! TRAAAAKKK!
"Ambik ni! Ambik ni! HIAAH! HIAAAAAHHHH!" Papa Zola memukul-mukul borgol-borgol yang membelenggu para pecahan BoBoiBoy itu menggunakan Rotan Keinsyafannya namun belum juga terlepas, membuat anak-anak muridnya bengong tidak ketulungan.
"Alamak- Rotan Keinsyafan pun tak mempan?" Taufan meringis pesimis. "Habislah..."
"Ye lah tu. Cuma rotan je. Mana boleh belah borgol-borgol ni?" tukas Ice sweatdrop.
"Oi, Taufan. Kau lupa ke kalau ada dua tombol dekat masing-masing bilik ni?" ujar Halilintar kesal. "Pakai acara pesimis pulak."
"Eh, iya ke?" ujar lawan bicaranya sembari menyeringai bodoh. "Hehehe, sori Halilintar."
"Dua tombol?" gumam Kevin seraya melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan dan mendapati dua tombol dekat pintu berwarna Pink dan Kuning. Spontan ia berseru.
"Cikgu Papa! Tengok dua tombol ni," katanya seraya mendekati tombol-tombol di ruangan Taufan. "Nampaknya kita boleh lepaskan borgol-borgol tu guna tombol ni."
"Hmm, benarkah itu, wahai anak muda?" gumam Papa Zola seraya mengamati dua tombol berwarna pink dan kuning di ruangan Ice. "Kalau macam tu, Cikgu kena tekan salah satu tombol ni untuk bebaskan kalian."
"Ayo, Cikgu! Kita tekan tombol tu!" pinta Amar Deep tidak sabar.
Gamma terhenyak. "Eh, kejap," katanya cepat-cepat. "Kita tak tahu tombol mana yang digunakan untuk lepaskan borgol-borgol tu."
"Iye, Cikgu. Nanti kalau Cikgu salah tekan tombol, bisa-bisa kami kena setrum!" Kata Ice ngeri.
Papa Zola terus mengamati dua tombol itu lamat seraya bergumam. "Nampaknya Kebenaran di dalam kesukaran," katanya bimbang sambil menatap tombol pink dan kuning itu bergiliran. "Mana satu yang boleh ditekan ni?"
"Haduhh... Cikgu susah ambil keputusan lah," keluh Amar Deep. "Cepat, Cikgu. Nanti kita semua kena tangkap kalau kita tetap lamban!"
Semuanya memusatkan perhatian pada sang Guru Kebenaran, harap-harap cemas. Tombol apakah yang akan ditekan Papa Zola? Tombol kuning ataukah Tombol Pink?
"Pikir betul-betul, Cikgu!" kata Halilintar segera. Papa Zola menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Detik berikutnya ia tiba-tiba menjerit riang seraya menuding salah satu tombol itu.
"Yang warna Pink lah. Cantik sikit!"
GUBRAK!
"Aduuuuhhhh, terbalik lah Cikgu Papa ni," tukas Taufan sweatdrop begitu melihat sindrom 'Merah Jambu' milik Papa Zola kambuh lagi.
Papa Zola terkekeh seraya menekan tombol berwarna Pink di sebelah pintu ruangan dimana Ice berada. Secara ajaib borgol-borgol yang membelenggu kedua tangan dan kaki sang pengendali es itu terlepas. Langsung saja Ice merosot turun dari meja eksperimen tempat dia ditahan sebelumnya. Wajahnya masih datar, namun ia tersenyum kecil menandakan perasaan yang gembira luar biasa. Tubuhnya terasa pegal dan ngilu sehingga ia terduduk di lantai. Segera Papa Zola mendekatinya dan memegangi tubuh Ice agar tidak jatuh.
"Haaaa, sekarang kau dah bebas," Katanya senang. "Amacam? Senang? Senang?"
Ice mengangkat wajahnya, menatap Gurunya yang telah menyelamatkannya itu.
"Te-Terima kasih sebab dah selamatkan saya, Cikgu," katanya terharu. Mau tidak mau Papa Zola terenyuh. Anak ini pasti merasakan tekanan trauma yang begitu besar, pikirnya. Dan sebagai gurunya, ia berusaha menenangkan sang pengendali es bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Hahaha, sama-sama wahai anak didikku. Jangan berhenti berharap, Okey?"
"Ehe, baik Cikgu."
Gamma melihat semua itu dengan wajah kagum. "Waahhh, Cikgu Papa memang hebat!" tukasnya senang seraya menekan tombol Pink di ruangan Taufan. Serta-merta borgol-borgol yang menahan tubuh sang pengendali angin di dinding terbuka begitu saja. Tubuh Taufan meluncur dari dinding. Sontak Kevin menangkapnya dibawah dan menurunkannya pelan-pelan hingga kaki Taufan menyentuh lantai.
"Huff, akhirnya badan aku boleh gerak," ucapnya riang. "Pegal sangat tau. Terima kasih, Kevin."
Kevin hanya tertawa.
"Tak payah kau berterima kasih, BoBoiBoy," katanya. "Itulah gunanya kawan, kena saling tolong menolong."
"Hehehe, terbaik lah kau ni," balas Taufan cengengesan.
Sementara itu, Amar Deep menekan tombol Pink di ruangan Halilintar. Dan hasilnya begitu mengejutkan. Rantai-rantai yang melilit dada dan perut sang pengendali petir langsung melonggar dan tergolek di lantai, ditambah borgol-borgol yang menahan tubuh Halilintar di kursi penyiksaan itu terbuka semua, menimbulkan suara-suara yang cukup keras sehingga Amar Deep terpaksa menutup kedua kupingnya guna meredam suara bising itu. Begitu suara-suara itu berhenti, Amar Deep mendapati Halilintar sudah berdiri tegap tak jauh di depannya dengan ekspresi dingin andalannya, membuat anak India berkacamata itu menganga.
"Marveles! Marveles!" tukasnya kagum melihat sosok Halilintar yang menurutnya begitu keren itu. "Mesti kau senang sebab dah lepas dari-"
"Ugh-!"
"He?"
Dilihatnya Halilintar merosot tiba-tiba ke lantai. Amar Deep buru-buru mendekati teman sejak SD-nya itu dan menaruh tangan kanan Halilintar melewati belakang kepalanya, membantu pecahan BoBoiBoy dengan nomor urut satu itu untuk berdiri.
"Terima... kasih," ucap Halilintar pelan, singkat, padat dan jelas. Amar Deep menatapnya dengan khawatir.
"Nampaknya badan kau masih sakit kot," ujarnya cemas. "Kau kena berehat dahulu, BoBoiBoy."
Halilintar menggeleng. "Tak pe. Jangan khawatirkan aku," katanya lalu menatap Amar Deep lamat. "Aku cuma nak tanyakan satu soalan. Macam mana kau dan yang lainnya boleh tiba kat sini?"
Amar Deep tersentak mendengar pertanyaan 'to The Point' itu. Dipandangnya Halilintar dengan senyum cengengesan. Ia pun membuka mulut.
"Sebenarnya-"
'Sebenarnya-'
"Jom kita pergi kat sana sekarang!"
"JOM!"
Gempa menggenggam tangan Gopal. Gopal menggenggam tangan Ying. Ying menggenggam tangan Yaya. Yaya menggenggam tangan Mila. Mila menggenggam tangan robot Ochobot dan Ochobot menggenggam tangan Gempa. Setelah dirasa sudah siap, Ying menarik nafas dan berseru.
"KUASA TELEPORTASI DIMENSI!"
SRIIIIIIIIINNNNGGGGG!
Sebuah cahaya bulat melingkupi lingkaran anak-anak itu, semakin lama semakin menyilaukan. Begitu mereka membuka mata, tiba-tiba...
"HUWAAAAAAAAA!"
BRUUKKK!
Serentak mereka terjatuh ke atas jalan beraspal yang kerasnya bukan main. Untung saja Yaya meringankan berat tubuhnya dan terbang sehingga ia tidak bernasib sial seperti yang lain.
"Korang tak pe kah?" tanyanya khawatir. "Nasib baik kita tak tiba dekat jurang."
"Aduuhh- kepalaku..." Gopal mengelus kepalanya yang mendarat lebih dulu di tanah. Untung saja ia mengubah tubuhnya menjadi karet sehingga ia tidak merasa kesakitan.
"Lu semua baik tak? Hehe, sori. Tak sangka teleportasi tadi buat kita semua tiba dekat udara ma." Ying terkikik malu. Untungnya dia segera melesat ke atas tanah setelah teleportasi sehingga ia tidak sempat jatuh.
"Tak pe, Ying. Kami Okey," gumam Mila yang tahu-tahu sudah terbang di udara menggunakan sayap kelelawarnya. Di pelukannya ada Ochobot sehingga robot itu tidak sempat jatuh ke tanah.
"Lha, lantas siapa yang buat suara jatuh keras sangat tadi?" ujar Yaya heran. "Tapi- Eh, Kejap. Mana BoBoiBoy Gempa?"
"Ugghhh- kat bawah sini lah..."
"Heee?"
Semuanya melihat ke sumber suara dan mendapati sang pengendali tanah sudah terkapar dengan tidak elitnya di atas jalan beraspal. Untung saja ia masih dalam keadaan hidup. Melihat itu, Gopal segera tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahahahahhaaa! Mesti sakit sangat! Hahahahahaaaa! HAHAHAHAHAA- Eh?"
Ia tidak melanjutkan tawanya begitu melihat teman-temannya memberi tatapan setajam pisau padanya, membuat nyali Gopal runtuh dalam sekejap.
Yaya mendesis. "Ish, kau ni! Tak baik gelakkan orang lain tau!" tukasnya sebal melihat tingkah Gopal yang memang kurang ajar karena menertawakan kesusahan temannya. "Kalau kau jatuh lalu kena gelak, mestilah kau marah pulak!"
"Ya loh. Tak de empati sangat kau ni, Gopal," ujar Ying kesal, sependapat dengan Yaya. Gopal hanya menyeringai malu lalu membantu Gempa berdiri.
"Hehehe, maaf, BoBoiBoy. Aku tak sengaja gelakkan kau tadi," katanya. Gempa hanya mendengus kecil. Tapi ia tidak marah saat Gopal membantunya bangun hingga berdiri di atas kedua kakinya.
"Tak pe, Gopal," ujarnya tulus. "Yang jelas aku senang kau boleh minta maaf. Nah, kita ada dekat mana ni?"
Ia berkata begitu seraya memandang keadaan sekeliling, membuatnya dan teman-teman Superhero-nya terkejut. Mereka berada di sebuah jalan utama di sebuah kota tua yang cukup luas. Beberapa gedung kecil berdiri di sepanjang trotoar. Tidak ada yang menyangka bahwa kota ini berada di sisi lain dari Pulau Apung. Atau mungkin di sebuah dimensi lain yang memakai Pulau Apung sebagai medium perantara dengan dunia luar. Beberapa Mobil mentereng berlalu lalang di jalan utama. Gempa melayangkan pandangan ke sebuah papan iklan usang di atas sebuah toko kecil yang tutup di pinggir jalan utama itu. Di papan itu terpampang sebuah tulisan dengan huruf miring. Gempa memicingkan mata untuk membaca tulisan itu.
TOKO BUTIK CYBERGOWN.
Alamat: Jln. Middlecomb Utara Sektor 456, Blok A No. 14
"Sektor 456?" gumamnya heran." Nama tempat yang langka. Apasal tempat ni tak pernah kita tengok masa setahun silam?"
"Haiya, kita tak tahu lah kalau ada tempat macam ni dekat Pulau Apung," ujar Ying. "Kita tak sempat tengok sebab nak selamatkan Ochobot masa tu ma."
"Yang jelas kita dah tiba kat sini," ujar Ochobot seraya terbang dari rangkulan Mila. "Jom kita cari Markas Organisasi ONION tu."
Teman-temannya mengangguk. Namun sebelum mereka beranjak dari tempat itu, sebuah suara mencegat mereka.
"Kejaaaaaappppp! Siapa cakap Kebenaran bagi kalian izin untuk pergi sorang-sorang dekat tempat ni, Haaaaahhhhh?!
"Eh?"
Gempa menoleh, diikuti teman-temannya. Detik berikutnya mereka terkejut melihat Papa Zola dan teman-teman kelas 7 Cerdas lainnya berdiri tak jauh di belakang mereka.
"Hah?! Bila masa Cikgu Papa dan kawan-kawan ada kat sini?" tanya Gopal kaget.
"Ehh- masa korang teleportasi kat tempat ni, kami pun terikut pula," kata Melissa malu-malu. "Lagipun kami tak sampai hati biarkan korang pergi sorang-sorang untuk selamatkan pecahan-pecahan kuasa elemental milik BoBoiBoy tu."
"Betul tu. Kalau korang dalam kesukaran, kita mesti boleh tolong," timpal Stanley yang ditambah anggukan oleh Iwan yang berdiri di sebelahnya.
"Bagaimanapun juga, kita ni kawan. Mesti kena saling bantu, Kan? Kan?" gumam Amy.
Papa Zola terkekeh. "Haaaaa- dah dengar cakap kawan-kawan kalian tu? Lagipun Cikgu tak kan biarkan kalian pergi tanpa pengawasan! Faham?"
"Faham, Cikgu," tukas Gempa seraya mengacungkan jempol, menyeringai. "Masalahnya, kami tak tahu dimana Markas ONION tu."
"Hmm, biar aku yang scan wilayah sekitar sini," gumam Ochobot tiba-tiba seraya men-scan setiap titik mata angin. Tiba-tiba alarm peringatan miliknya berbunyi begitu alat pemindainya diarahkan ke tiga buah gedung pencakar langit di arah Selatan kota.
"Dapat!" katanya gembira lalu menuding ke tiga gedung itu. "Kawan-kawan, markas diorang ada kat sana. Jom kita bergegas!"
"Tapi gedung tu jauh sangat lah," keluh Gopal frustasi karena melihat jarak yang begitu jauh antara mereka dan gedung Markas ONION. "Macam mana kita boleh sampai kat sana?"
"Tak de hal, Gopal," kata Ying dengan sumringah. "Saya akan bawa kita semua pergi kat sana dalam sekejap mata! KUASA TELEPORTA-"
DORR!
"AAAHHH!"
Sebuah Peluru ditembakkan ke arah Ying, menyerempet jam kekuatan milik gadis itu sehingga membuatnya tidak bisa mengeluarkan kekuatan Teleportasi pinjaman dari Ochobot. Serangan itu juga membuat tangan Ying lecet dan berdarah. Ying terkejut. Ia meringis seraya memegang tangannya yang lecet akibat terserempet peluru tadi. Dilihatnya seorang pemuda gempal nan kekar berkulit gelap yang berdiri tak jauh di atas gedung di sebelah mereka. Pemuda itu menyeringai.
"Hah, kena kau!" tukasnya dengan nada mengejek. "Tak de yang boleh menyusup dekat wilayah ni."
Semuanya menoleh ke pemuda di atas gedung kecil itu. Papa Zola segera memekik seraya menunjuk-nunjuk pemuda yang menembak jam tangan Ying dengan Sniper miliknya.
"GOPAL! BERANI SEKALI KAU TEMBAK JAM KUASA KAWAN KAU! Turun dari situ dan biarkan Kebenaran me-"
"Dey, Cikgu Papa. Saya ada kat sini lah," tukas Gopal facepalm, membuat semua yang ada disitu terkejut setengah mati.
"HAH?! Sandiwara apakah ini?! Tukas Papa Zola terheran-heran. "Kalau bukan kamu yang ada dekat atas tu, lantas siapa lagi, Haaaaahhhh?!
"Eh? Tapi budak dekat atas tu memang mirip sangat dengan Gopal lah," kata Mila ikut kebingungan.
"Kalau Gopal ada kat sini, lalu siapa budak kat atas tu?" tanya Yaya dengan keheranan luar biasa.
Mendengar perbincangan mereka membuat pemuda di atas gedung itu sweatdrop akut. Ia mendengus kesal. "Gopal? Siapa Gopal?" tanyanya seraya memanggul sniper-nya di atas pundaknya. "Nama tu tak level sangat. Nama saya Arumugam lah, bukan Gopal!"
"HA?! ARUMUGAM?!"
Mereka semua terlonjak kaget mendengar kalimat pemuda itu, terutama Gopal. Disikutnya Gempa yang menganga hebat di sebelahnya.
"Dey, BoBoiBoy. Kau pernah panggil aku pakai nama 'Arumugam' masa kau hilang ingatan tu," katanya. "Tengok. Budak Arumugam tu ternyata memang ada! Kau kenal dia ke?"
Gempa menatap Arumugam lamat. "Macam kenal je," gumamnya. "Tapi aku tak ingat dekat mana aku berjumpa dengan dia."
Arumugam mendengus. "Huh! Tak kenang budi lah kau ni, BoBoiBoy," ujarnya berang seraya membidikkan sniper-nya ke arah sang pengendali tanah. "Kau tak ingat ke? Aku ni kawan lama kau dekat-"
Kalimatnya terputus begitu ia merasa sebuah tangan menarik kerah bajunya ke belakang, menyeretnya mundur. Dia menoleh, mendapati Ah Meng yang ternyata pelakunya. Lantas ditepisnya tangan pemuda Oriental itu dengan wajah masam.
"Ei, apasal kau seret aku ni? Aku nak tembak diorang lah," tukasnya kesal.
Ah Meng mendengus. "Diorang bukan lawan kita ma," katanya jengkel. "Tuan Ketua cuma suruh kita mengawasi, bukan melawan. Tuan Ketua cakap kalau kita jumpa penyusup kat sini, laporkan langsung dekat dia. Titik, tak de koma!"
"Tapi-"
"Dah lah, Aru. Kita kena balik sekarang."
Setelah ia mengatakan itu, sebuah Helikopter tiba-tiba terbang mendekati mereka. Lantas keduanya melompat masuk ke kendaraan udara itu dan hendak melarikan diri. Segera Ying memekik.
"Hish, pengecut sangat!" tukasnya berang. "HENTIAN MASA!"
Krikk... Krikkk... Kriikk... Krikk...
Tidak terjadi apa-apa. Rupanya peluru Arumugam yang mengenai Jam kekuatan Ying membuatnya tidak bisa berfungsi untuk sementara waktu.
"Ayak! Saya tak boleh gunakan kuasa ma!" pekik Ying panik. Ah Meng hanya tertawa kecil melihat kekalutan gadis itu.
"Ahahaha, rasakan! Kamu terlampau comel buat gunakan kuasa macam tu ma."
"Eh?"
Ying merasa wajahnya memerah mendengar kalimat Ah Meng itu. Untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat sindiran gombal seperti itu, ditambah gaya memikat pemuda Oriental yang mirip dengannya itu membuatnya salah tingkah. Ia mematung di tempat seraya menatap Ah Meng yang berada di dalam helikopter dengan mulut terbuka lebar.
"Comel? Dia cakap aku comel? COMEL?!" tukasnya terbata-bata. "KYAAAAAAA! Terima kasih wo! Saya suka! Saya suka! Hihihi."
"Haduhhh, mudah sangat la dia kena rayu murahan macam ni," tukas Gopal seraya menepuk keningnya begitu melihat bling-bling imajiner di sekeliling gadis Cina temannya itu. Ying segera mendelik ke arahnya.
"Wey, tak de salahnye dia puji saya wo."
"Hehehe, sori, Ying. Tapi dia macam budak genit lah."
Melihat Helikopter itu mulai terbang menjauh, Mila segera membentuk tangannya menjadi corong di sekeliling mulutnya. "Tak kan kubiarkan korang lari!" katanya. "Rasakan ni: TERIAKAN GELOMBANG LONGITUDINAL! HIAAAAAAHHHH!"
Sontak teriakan dengan frekuensi tinggi terdengar darinya, membuat Papa Zola dan murid-muridnya terpaksa menutup telinga mereka rapat-rapat agar gendang telinga mereka tidak pecah. Hasilnya, Helikopter tempat Ah Meng dan Arumugam berada terlempar hingga gedung markas pusat.
"AAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!"
"MAYDAY! MAYDAY! KITA KENA MENDARAT DARURAT!"
KABOOOOOOOOMMMMMM!
Helikopter itu mendarat darurat di halaman gedung markas pusat dan meledak. Untung saja Ah Meng, Arumugam dan sang pilot sudah terjun duluan dengan parasut sebelum ledakan terjadi.
"Tuan Ah Meng, Tuan Arumugam, Anda berdua tak pe?" tanya sang Pilot yang segera dibalas anggukan oleh Ah Meng.
"Iye, Kami baik kot," Katanya. "Kamu kena panggil regu penyiram untuk padamkan api ledakan tu. Dan panggil pula regu keamanan buat halau penyusup-penyusup tu agar tak dekati Markas pusat ni."
"Baik, Tuan."
Sang Pilot segera melaksanakan perintah sementara Arumugam dan Ah Meng buru-buru masuk ke dalam gedung tengah markas pusat.
"Cepat!" kata Arumugam." Kita kena bagi tahu Tuan Ketua pasal penyusup tu, Ah Meng!"
"Okey."
Kedua pemuda itu masuk ke dalam lift dan melesat menuju lantai Sembilan puluh dimana Haryan dan koncro-koncronya berada.
Sementara itu, Papa Zola dan murid-muridnya membuka telinga mereka setelah Mila melempar Helikopter ONION itu dengan jeritan pelemparnya. Ochobot memandangnya dengan tatapan agak kesal.
"Mila, kau lempar diorang dekat Markas tu lah. Tengok, diorang dah kabur!"
"Hehehe, sori Ochoboy. Aku panik tadi."
"Sudah, sudah. Yang penting kita dah selamat," kata Gopal. "Aduuhhh, tak sangka ada budak yang mirip sangat dengan aku macam Arumugam tu lah. Jago tembak pula dia tu."
"Hahahaha, nampaknye dia memang... gila tembak..." tukas Papa Zola dengan gaya nyentrik, membuat anak-anak muridnya memandang dengan tambahan suara seekor jangkrik yang tiba-tiba terdengar entah darimana.
"Hehe, gurau je, gurau je."
Yaya mendesah. "Rakan dia yang bernama Ah Meng pun dah bantu dia lari," katanya. XAyu sangat dia tu, sampai buat Ying 'melayang-layang' pulak." Ia menunjuk Ying yang masih menerawang, memikirkan Ah Meng yang memanggilnya dengan panggilan 'comel' beberapa menit yang lalu. Segera Ying terkikik malu.
"Haiyo, dia hensem sangat wo," Katanya sambil menempelkan kedua tangannya ke pipi. "Buat saya tersanjung sangat. Saya suka! Saya suka!"
Gopal melihatnya dengan wajah facepalm. "Dey, sudahlah tu. Walaupun dia hensem, tapi jahat macam penjenayah! Tapi macam mana kita tiba kat Markas tu? Jam kuasa Ying kena diperbaiki, dan mesti makan masa lama."
"Hmm, nampaknya kita dah tak de pilihan lain. Kita kena menumpang dekat sesuatu buat hantarkan kita ke Markas ONION tu," kata Gempa lalu meninju tanah di bawahnya. "GOLEM TANAH!"
BUUMM!
Serta-merta Giga sang Golem tanah muncul di hadapan mereka. Gempa melompat ke atas punggung Giga dan melirik teman-temannya dan Papa Zola dibawah.
"Naiklah. Giga akan hantar kita semua pergi kesana."
"Wuaaaaahhhh! Marveles! Naik Golem la kita ni," kata Amar Deep kagum lalu naik ke tangan sang Golem Tanah.
"Hmm, Kebenaran akan menumpang secara terhormat," ujar Papa Zola saat naik ke pundak Giga. "Ayo anak didikku! Kita pergi menuju sumber Kejahataaaannn!"
Gempa melihat semua teman-teman kelasnya sudah naik ke atas tubuh Giga. "Baiklah. Korang dah sedia? Pegangan kuat-kuat! JOM PERGI KE MARKAS ONION!"
Langsung saja Giga berlari menuju gedung markas pusat, membuat jalan yang dipijakinya bergetar hebat. Segera saja wajah Gopal menghijau karena mual akibat guncangan-guncangan yang hampir mirip gempa bumi itu. Namun mual-nya menghilang seketika karena terkejut melihat sekelompok Alien Gargolyne terbang di atas mereka sembari membawa senapan mesin.
"Itu diorang!" tukas salah satu dari mereka. "TEMBAK!"
TRAAAA- TAATATATA- TRAAAA- TAATATATA-
"AAAAAAAAAAAHHHHHH!" Anak-anak Kelas 7 Cerdas menjerit melihat ribuan peluru-peluru itu. Papa Zola memekik dengan suara khas 'perempuannya', membuat anak-anak muridnya sweatdrop berjama'ah. Segera Gopal berteriak.
"TUKARAN BADAN BERLIAN!"
SRIIIINNNGGG!
Seluruh tubuh Gopal langsung menjadi berlian sehingga peluru-peluru itu terpental darinya. Anak india itu berteriak sekali lagi seraya menembakkan kekuatannya ke ribuan peluru yang dimuntahkan ke arah mereka.
"TUKARAN GULA-GULA KAPAS!"
SRIIIINNNGGG!
Peluru-peluru itu langsung menjadi permen kapas yang tidak membahayakan Gopal dan teman-temannya. Ia mendesis bangga begitu melihat para Gargolyne itu terbang terbirit-birit karena ngeri melihat kekuatan anak berdarah India tersebut.
"Ha- rasakan!" katanya senang lalu menatap Papa Zola yang masih menjerit-jerit. "Nah, Cikgu Papa. Monster-Monster tu dah pergi."
"Eih?" Papa Zola menghentikan jeritan memalukannya. Dilihatnya para Gargoyle suruhan ONION yang kabur. Langsung saja pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha! Mesti diorang takut akan Kebenaran, Hahahahahaaa!"
Krikk... Krikk... Krikk...
"Eehhehehe .."
Krikk... krikk... Krikk...
"Sudah! Sampai bila korang nak tengok Kebenaran macam ni Haaahhh?!" tukas Papa Zola merengut. Gempa hanya tersenyum dibuatnya.
"Hehehe, terbaik," katanya lalu kembali mengontrol Giga berlari membawa mereka menuju Gedung Markas Pusat. Tak lama kemudian, mereka telah tiba di gerbang utama. Tampak sebuah Mobil Mentereng yang kelihatannya diparkir asal-asalan disana. Mobil itulah yang dipakai Blaze dan Fang untuk pergi ke Markas ONION semalam. Gempa merapatkan Giga ke bawah gerbang raksasa itu.
"Nah, kita dah sampai," kata sang pengendali tanah seraya meluncur dari punggung Giga diikuti teman-temannya dan Papa Zola. "Cepat! Kita kena selamatkan pecahan-pecahan aku dan Fang! Lepas tu kita bantu Adu Du untuk hentikan Organisasi tu."
"Jom!" balas teman-temannya. Tiba-tiba Papa Zola mencegat mereka.
"Ckckck, tidak secepat itu, wahai anak muda," katanya. "Cikgu tak kan biarkan BoBoiBoy Gempa dan kawan-kawan superhero dia masuk ke Gedung tu."
"Eh? Kenapa kami tak boleh masuk Cikgu?" tanya Yaya bingung. "Kawan-kawan kami ada kat dalam gedung tu lah. Kami kena selamatkan diorang tau."
Sekonyong-konyong Papa Zola muncul di depannya sembari menunjuk wajahnya sendiri dan bergumam.
"Awak nampak muka saya ni?"
"Ehh... Ha'ah."
"Ada ke muka saya ni macam budak Sekolah menengah ke, punya badan kecik ke, punya kuasa super ke apa?"
"Ehh, tak lah Cikgu."
"Kalau macam tu... JANGAN PERNAH MASUK KAT GEDUNG TU!" pekik Gurunya dengan nada tinggi. "Kuasa-kuasa korang tu mesti diincar oleh Ketua ONION! Kalau kalian kena tangkap, siapa yang nak tanggung jawab, Haaaahhh?! HAAAAHHH?!"
Gempa tersentak. Dia tahu Papa Zola mengkhawatirkan keselamatannya dan teman-temannya, senyentrik apapun gurunya itu. Tapi bagaimanapun juga, Gempa adalah pemimpin dari pecahan-pecahannya. Dan tanggung jawab pemimpin adalah membantu rekan-rekannya. Segera ia mengangkat tangannya dan bergumam. "Tapi Cikgu, ini dah genting sangat la. Kami kena-"
"Sudah! Tak de alasan lagi! Biar Cikgu yang bawa pecahan-pecahan kamu keluar dari sana," kata Papa Zola berapi-api lalu memandang anak-anak muridnya yang laki-laki. "Nah, siapa yang bersedia menjadi relawan Kebenaran?"
"Saya, Cikgu!" kata Kevin tiba-tiba. "Kami memang tak de kuasa superhero, jadi mesti ONION takkan tertarik dekat kami pula."
"Saya juga, Cikgu!" Amar Deep mengangkat tangannya tanda ikut serta. "Saya akan bantu Cikgu untuk cari Fang dan pecahan-pecahan BoBoiBoy kat dalam gedung tu."
"Hahaha, baiklah. Ayo rakan-rakan cilik kebenaran! Kita masuk kat dalam gedung tu dan selamatkan anak-anak didik Cikgu!" tukas Papa Zola dengan semangat membara. Sekonyong-konyong Ochobot berseru.
"Kejap, Cikgu Papa," katanya. "Aku tak bermaksud menentang Cikgu, tapi Cikgu Papa tak boleh masuk kat sana seorangan dengan budak-budak ni. Gedung tu ade tiga. Tak mungkin Cikgu nak periksa satu-satu dalam masa singkat. Kita kena berpencar."
"Ha?! Berpencar?!" Papa zola mengernyit bingung. "Apa maksud kau ni, wahai robot kuasa? Kalau kita berpencar, berbahaya! Sebab hanya Cikgu seorang yang lelaki dewasa kat sini."
"Lha, saya pon lelaki dewasa, Cikgu. Umur saya dah Sembilan belas tahun, atau mungkin lagi tua dari itu. Saya boleh temankan budak-budak ni buat cari Fang dan pecahan-pecahan BoBoiBoy yang dah kena tangkap."
Kalimat Ochobot itu segera membuat Papa Zola mengerutkan alis tanda bingung luar biasa. "Ha? Apakah?! Kebenaran tak faham dengan apa yang kau cakapkan ni, wahai Robot kuning."
Bukan hanya dia, tapi murid-murid kelas 7 cerdas selain BoBoiBoy and the Gank bahkan tidak mengerti dengan maksud kalimat itu. Ochobot? Lelaki dewasa? Umur Sembilan belas tahun atau mungkin lebih tua lagi? Robot ini pasti sudah gila!
"Ei, Ochobot. Kau belum bagi tahu Cikgu Papa pasal jati diri sebenar kau la," kata Yaya tiba-tiba, membuat Papa Zola dan murid-murid kelas 7 cerdas lainnya tersentak kaget.
"Ha? Jati diri sebenar?" tanya Melody heran. "Apa maksud kau ni, Yaya?"
"Hehehe, nampaknya aku tak boleh sembunyikan pasal tu dari korang semua," kata Ochobot sebelum akhirnya tubuhnya mengeluarkan sinar, mengubahnya menjadi sosok Ultra Humanoid-nya. Serentak Papa Zola terkaget-kaget melihatnya.
"Haaaahhh?! Apakah semua iniiii?! Bila masa kau boleh bertukar jadi wujud Manusia ni, Haaaaaahhhhh?!"
Ochoboy mendengus. "Saya bukan Manusia lah, Cikgu. Saya ni Cyborg," jelasnya. "Lagi tepatnya Cyborg ras Ultra Humanoid dari Planet Ata Ta satu yang merangkap sebagai Sfera Kuasa. Maaf sebab dah sembunyikan pasal ni dari korang semua dan- eih?"
Ia tertegun begitu melihat para siswi kelas 7 Cerdas menjerit-jerit kegirangan begitu melihat sosok pemuda Cyborg itu.
"WUAAAAAAAAHHHH! HENSEMNYAAAAA!"
"I- Ini ke wujud alternatif kau, Ochobot?! Kyaaaaaaaaaa! Suka sangat lah!"
"Ochobot, jadilah Tunanganku!"
Mendengar itu, Mila segera cemburu. Ditatapnya para Siswi itu dengan tatapan membunuh, membuat mereka semua terdiam seketika.
"Ei, apa hal korang pandang-pandang dia macam tu?!" tukasnya berang. "Dia ni bekas Tunangan aku la! DASAR TUKANG REBUT!"
"APA?! BEKAS TUNANGAN?!" jerit Papa Zola sekali lagi. "Bila masa kau dan Ochobot ni bertunang, Haaahhh?! Masih kecik dah buat perkara orang dewasa macam tu!"
Mila terkekeh. "Ehehe, maaf Cikgu. Nanti selepas ni aku kan bagi tahu semua maklumat tu," katanya cengar-cengir. "Tapi sebelumnya aku kena pecah tiga dahulu tuk bantu korang semua. KUASA PECAH TIGA!"
BLAAAARRRR!
Segera tiga sosok Mila muncul di depan mereka: Milyra X, Milyra Infra dan Milyra Gamma. Papa Zola terkekeh lalu menatap semuanya.
"Baiklah! Cikgu akan bagi kalian semua satu tugas penting," ujarnya penuh semangat. "Ha, Ha. Mari mendekat. Cikgu punya rancangan yang telah dirancangkan dengan sebenar-benar rancangan, Hahahahaha."
"CIKGUUUUU!" Anak-anak muridnya berdesis serempak karena tidak sabar. "Buang masa la Cikgu Papa ni."
"Hehehe, maaf. Maaf. Baiklaaaahhh! Cikgu serius akan bagi tahu apa rancangan Cikgu."
Lantas mereka semua mendekati Papa Zola, berdiskusi mengenai rencana mereka dan akhirnya disepakati: Mereka akan berpencar menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah Papa Zola, Kevin, Amar Deep dan Milyra Gamma. Mereka akan menyusup ke gedung markas pusat dari sebelah kiri gedung. Kelompok kedua adalah Ochoboy, Iwan, Stanley dan Milyra X. Mereka akan menyusup ke sebelah kanan gedung markas pusat. Dan kelompok terakhir adalah Gempa, Milyra Infra, Gopal, Ying, Yaya, Amy dan Melody serta Melissa. Mereka akan berjaga-jaga di depan gedung markas pusat. Lagipula para Siswi biasa seperti Amy, Melody dan Melissa tidak berani untuk masuk ke dalam gedung itu, ditambah Jam tangan Ying yang masih rusak pasca terkena tembakan Arumugam sehingga gadis itu tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk saat ini. Yaya juga harus merawat luka lecet di tangan Ying akibat serempetan peluru tembakan dari Arumugam. Dan tentunya Gopal dan Gempa pun tidak sampai hati meninggalkan teman-teman perempuan mereka di halaman gedung Markas ONION.
Dalam hal ini, Papa Zola sengaja menyuruh Gempa untuk tinggal bersama teman-temannya diluar. Alasannya adalah: Hanya dialah satu-satunya pecahan BoBoiBoy yang masih bersama mereka. Dan jika ia dan teman-teman superhero-nya tertangkap, maka harapan mereka untuk menghancurkan ONION akan kandas di tangah jalan. Gempa memaklumi perasaan gurunya itu. Ia pun berharap Papa Zola dan teman-teman kelasnya akan keluar membawa pecahan-pecahannya dalam keadaan selamat. Ochoboy mendekati sang pengendali tanah dengan wajah yang menunjukkan simpatik.
"Maaf, BoBoiBoy. Tapi aku tak nak kau tertimpa masalah lagi," kata Ochoboy lesu. Gempa menatap temannya itu lamat.
"Tapi Ochobot, macam mana kalau kau kena tangkap nanti?" tanyanya khawatir. "Kau kan yang diincar Organisasi ONION. Aku tak nak repotkan kau macam ni lah."
Ochoboy menggeleng. "Tak. Justru aku yang buat kau repot, BoBoiBoy," katanya dengan nada bersalah. "Ini semua salah aku. Aku yang dimahukan Rosaline, tapi malah kau dan kawan-kawan kau yang kena imbasnya. Maafkan aku, BoBoiBoy."
PUK!
Gempa menepuk pundak Ochoboy. "Tak pe, Ochobot. Ini bukan sepenuhnya salah kau," gumamnya. "Aku kawan kau. Aku tak nak kau kena bahaya pula. Semoga korang berjaya selamatkan Fang dan pecahan-pecahan aku dan berjaya buat hindari Rosaline tu."
Ochoboy tertawa. "Hahaha, tenang je. Aku boleh guna kuasa alternatif aku dalam wujud ni, jadi boleh lawan musuh pula. Dan satu lagi, BoBoiBoy. Jangan berhenti berharap, apapun yang terjadi."
"Um!" angguk Gempa lalu menarik tangannya dari pundak sang pemuda Cyborg sebelum akhirnya ia berpaling pada Papa Zola dan anak-anak muridnya yang ditunjuk untuk membantunya mencari Fang dan pecahan-pecahan BoBoiBoy di gedung markas pusat.
'Jangan berhenti berharap, eh?'
Gempa tersenyum. "Mari kita berharap semuanya akan baik-baik sahaja," katanya penuh optimisme.
"Haaa- sebab tu lah kami datang kat sini," kata Amar Deep dengan senyum lebar. Halilintar melongo sejenak lalu kembali tersenyum kecut.
"Hmm, ye lah tu. Baiklah kalau macam tu," katanya sembari menoleh ke arah Papa Zola. "Terima kasih banyak sebab dah selamatkan kami semua, Cikgu."
"Betul," angguk Taufan. "Kalau tak, kami mesti dah dihambakan sama Rosaline dan ONION. Cikgu Papa dan kawan-kawan memang terbaik!"
"Hahaha, sama-sama. Sebab itulah tugas Kebenaran." Papa Zola terkekeh pelan lalu berseru. "Baiklah! Ayo kita keluar dari sini segera!"
"Ehh... Kejap, Cikgu." Ice tiba-tiba mengangkat tangannya tanda mencegat. "Kita kena bebaskan Blaze dahulu. Dia dah kena tangkap pula. Mesti dia masih ada kat dalam bilik rehat Rosaline tu."
"Ah, betul juga," kata Taufan begitu mengingat Blaze yang dikurung di kamar Rosaline. "Ayo, Cikgu. Kita selamatkan dia!"
"Tak de hal. Kebenaran tak kan melupakan anak-anak didiknya," ujar Papa Zola sembari mengiring mereka semua keluar ruangan itu. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan pintu Kamar Rosaline. Milyra Gamma meraih gagang pintu, mencoba membukanya. Namun pintu itu tidak bergeming, tanda ia terkunci.
"Alamak! Pintu ni terkunci lah," Katanya bingung. "Macam mana ni?"
"Lha, kau kan boleh lubangi pintu tu guna kuasa kau," ujar Taufan segera. Dia ingat kekuatan gelombang Gamma yang memiliki kemampuan menembus benda dengan daya tak terhingga. Spontan Gamma menyeringai dibuatnya.
"Hehehe, maaf. Aku lupa sangat pasal tu. Terima kasih, Taufan."
Ia lalu mengarahkan kedua tangannya ke pintu itu dan berseru kuat-kuat.
"TEMBAKAN PELUBANG!"
ZIIIIIIIINNNGGGG!
Sebuah sinar keluar dari tangan Milyra Gamma dan menembus pintu di depannya, menciptakan sebuah lubang besar disana. Segera teman-temannya bersorak riang.
"Wuaaahhhh! Cool lah!" kata Kevin kagum. "Macam Bor je, boleh lubangi benda."
Mereka pun masuk ke dalam kamar Rosaline lewat lubang itu. Alangkah terkejutnya mereka saat mereka disambut dengan tubuh Blaze yang sudah tersungkur di lantai kamar, membuat mereka terkejut.
"BLAZE!" Taufan buru-buru mendekati sang pengendali api dan membalikkan tubuh kecil anak itu. "Bangun, Blaze! Kau dah selamat! Tengok, Cikgu Papa dan kawan-kawan kita dah jemput kita tau," katanya cemas. Sayangnya Blaze tidak bereaksi. Ia tidak sadarkan diri. Bajunya terlihat acak-acakan ditambah sebuah sobekan memanjang di kaos hitamnya. Ice dan Halilintar ikut mendekati pecahan mereka itu dan menelan ludah karena melihat kondisi Blaze yang mengenaskan.
"Dia dah kena belasah teruk," gumam Ice muram. Dia tahu itu karena mendengar jeritan-jeritan pilu Blaze semalam. Ditempelkannya telinganya ke dada kiri Blaze. Ia menghembuskan nafas lega begitu mendengar suara detak jantung disana walaupun terdengar lemah.
"Alhamdulillah, dia masih hidup," katanya datar. Halilintar membungkuk di sebelah Taufan dan melihat wajah Blaze yang pingsan dengan wajah tersiksa. Dia tidak berkomentar apa-apa. Namun dari raut wajahnya yang seperti benang kusut membuat teman-temannya tahu apa yang sedang terlintas di kepalanya saat itu.
Berani-beraninya Rosaline menangkap Blaze, menghancurkan harga dirinya dan membuatnya pingsan hingga pagi menyingsing. Untung saja anak itu masih hidup. Kalau tidak, Halilintar pasti sudah menangis di rumah sakit selama tujuh hari tujuh malam.
Sang Pengendali petir tiba-tiba berdiri dari sebelah Taufan dan melangkah menuju pintu. Melihat itu, Kevin segera menghalanginya.
"Kejap, BoBoiBoy," ujarnya heran. "Apasal kau tiba-tiba nak keluar bilik macam ni?"
Halilintar mendengus. "Tepi."
Ia berkata dengan nada dingin, berusaha menepis Kevin. Namun temannya itu tetap bersikukuh untuk tidak membiarkan Halilintar lewat begitu saja.
"Aku tak kan biarkan kau lewat sebelum kau bagi tahu kenapa kau nak pergi sekarang," ujar Kevin. Sekonyong-konyong Halilintar mencengkeram kerah Kevin dan mengguncang-guncangnya sembari menggeram histeris.
"Kau ni buta ke? Kau tak tengok keadaan Blaze? Kau tak tengok apa yang wanita durjana tu buat dekat kami, Hah?! DIA BUAT KAMI MACAM BARANG YANG BOLEH DIAPAKAN SESUKA HATI, TAHU TAK?!"
"Be- Bertenang, BoBoiBoy Halilintar. Aku pun tahu pasal tu. Kami semua tahu pasal korang yang dibelasah Rosaline. Tapi kau tak boleh serang dia seorangan. Kau-"
"DIAM! Kau nak kita semua hancur sebab Rosaline dan ONION, Hah?! Aku akan belasah diorang guna tangan aku! Tak payah kau halangi aku, Kevin. KETEPI AKU KATA!"
"Tak nak! Kami tak kan biarkan kau lawan diorang sambil lalu!"
"Hish, kau kan menyesal sebab dah halangi aku! PEDANG HALILINTAR!"
Sebilah pedang merah berkekuatan sekian ratus volt telah digenggam oleh pecahan BoBoiBoy yang pertama itu. Dihunuskannya pedang itu pada Kevin yang masih belum beranjak dari ambang pintu. Melihat kondisi yang semakin carut-marut, Taufan segera berlari ke depan Kevin dan menghalangi Halilintar.
"Jangan! Dia benar, Halilintar. Kau tak boleh emosi macam ni," katanya berusaha menenangkan pecahannya yang sudah disulut api dendam itu. "Aku tahu kau marah, tapi itu tak kan pernah selesaikan masalah. Kau pun tak boleh serang kawan kau. Aku pun marah dengan Rosaline sebab dah belasah harga diri kita, tapi kau kena kawal diri kau. Blaze pun belum siuman. Kau cuma akan perburuk keadaan dia kalau kau dikalahkan ONION dalam sekejap mata."
Gamma mengangguk. "Betul tu. Jangan ambil keputusan ceroboh macam ni pula. Nasib baik BoBoiBoy Blaze masih hidup. Dia cuma belum sedarkan diri. Kita hanya kena tunggu dia siuman, jadi tenangkan diri kau dahulu."
Halilintar mematung. Nafasnya terasa berat sekali akibat amarah yang memuncak. Dalam hati dia ingin sekali mengalahkan Rosaline dengan tangannya sendiri. Namun karena teman-temannya tidak setuju, maka dia tidak punya pilihan lain selain menahan diri.
"Hmp, terserah korang sahaja," ujarnya muram seraya menghilangkan Pedang Halilintar miliknya dan kembali memandang teman-temannya. Taufan terkekeh seraya menepuk bahu Kevin dan kembali berjalan menuju Ice yang menaruh Blaze di rangkulannya. Papa Zola menatap mereka dengan simpatik. Tahu-tahu ia menarik bahu loyo Blaze dan mengguncang anak itu sekeras mungkin, membuat Ice kaget setengah mati.
"Ci- Cikgu?! Jangan guncang dia macam tu! Dia masih pengsan lah!" desisnya panik begitu melihat Papa Zola menggoyang-goyangkan badan lemah Blaze dengan ganasnya seakan bocah itu adalah boneka. Namun Papa Zola tidak ambil pusing dan masih mengguncang Blaze sambil berteriak keras-keras.
"Bangunlah, wahai anak muda! Kebenaran tak sudi melihat budak lembek macam kau ni! Sebab Cikgu akan selalu mendukungmu! JANGAN BERHENTI BERHARAP! JANGAN LEPASKAN HARAPAN KAU TUK BERJAYA, WAHAI ANAK MUDA!"
"Uhh-"
Blaze mengerang kecil. Dibukanya matanya yang terasa begitu berat. Samar-samar terlihat wajah Papa Zola yang sangar di depannya seraya bergumam.
"Ci... Cikgu... Cikgu Papa Zola?"
"Eh?!" Papa Zola dan anak-anak muridnya terlonjak melihat Blaze yang mulai siuman. Serentak Papa Zola menepuk pipi Blaze lumayan keras hingga anak itu sadar sepenuhnya.
"Blaze dah sedar!" pekik Taufan riang. Ice tersenyum tenang sementara Halilintar melongo hebat melihat keajaiban di depannya itu. Blaze menggeliat dan turun perlahan dari rangkulan Papa Zola. Namun dia nyaris jatuh karena rasa sakit yang menggerogoti tubuh kecilnya. Papa Zola panik dan buru-buru menahan tubuh anak itu.
"Kamu belum pulih benar, wahai anak didikku," katanya cemas. Blaze mengerang sedikit. Namun ia merasa senang karena melihat teman-teman dan gurunya ada disini untuk menolongnya.
"Te- Terima kasih sebab... dah temukan aku kat... sini," katanya terharu. "Korang memang terbai- Ugh!"
Rasa sakit membuat tubuhnya kembali merosot ke lantai. Teman-temannya segera khawatir dibuatnya. Ice menatap Blaze lamat.
"Nampaknya badan kau masih sakit lepas dibelasah sama Rosaline," katanya datar. "Tapi kita kena pergi dari sini sebelum Rosaline tahu kita dah bebas."
"Uhh... tapi... badan aku... masih... sakit sangat..." rengek Blaze. "Macam mana-"
Suara keras Papa Zola membuatnya terdiam.
Semuanya terkejut begitu melihat sang guru 'Kebenaran' menyenandungkan kalimat-kalimat penuh semangat untuk sang pengendali api yang nyaris putus asa itu.
'BANGKIT ANAK MUDA, JANGAN HENTI BERHARAP, PERIH BUKAN HALANGAN'
'SEMANGAT BESAR, TERUS MEMBARA'
'BANGKIT ANAK MUDA, TEMPUHILAH RINTANGAN'
'JANGAN HENTI BERHARAP, TUMBUHKAN HARAPAN SEMULA'
'BANGKIT ANAK MUDA, JANGAN HENTI BERHARAP, PERIH BUKAN HALANGAN'
'SEMANGAT BESAR, TERUS MEMBARA'
Mendengar itu, Blaze terisak dan tiba-tiba sudah memeluk Papa Zola seerat mungkin.
"Hiks, Te... Terima kasih sebab dah... hiks... tumbuhkan semangat saya... hiks, dan... tak berputus asa sebab kondisi saya..." gumamnya seraya menguatkan pelukannya pada badan gempal sang guru.
Terharu melihat semangat Blaze yang mulai menyala, Papa Zola segera membalas pelukan Blaze dengan air mata yang juga meleleh dari kedua kelopak matanya. "Kebenaran tak pernah berputus asa, Huhuhuu-" isaknya dengan pelukan yang begitu dramatis.
Ice mendesah melihat itu. "Macam aku je masa dahulu," katanya senang. Dia ingat saat Papa Zola melatihnya mati-matian untuk menguruskan badan sebelum bertarung melawan BoBoiBot dulu. Tiba-tiba lamunannya terganggu begitu ia mendengar Papa Zola berteriak dan melepas pelukannya dari Blaze dengan sedikit kasar.
"Sudah! Hentikan sandiwara syahdu kamu niii!" katanya agak marah. "Sekarang waktunya kita semua keluar dari tempat durjana ini!"
Blaze terkekeh. "Hehehe, baik Cikgu."
Taufan segera mengeluarkan Hoverboard-nya dan menarik Blaze naik ke atasnya karena tubuh Blaze yang masih lemah dan kesakitan hingga harus dipapah terlebih dahulu. Amar Deep melihat keadaan lorong diluar kamar, memastikan tidak ada seorangpun disana.
"Aman, Cikgu," katanya sembari memberi kode pada Papa Zola. "Kita kena keluar dari gedung ni segera, sebelum musuh tahu kita ada kat sini."
Papa Zola terkekeh. "Baiklah, wahai anak muda," katanya lalu menoleh ke anak-anak muridnya yang lain. "Masanya kita keluar dari tempat ni menuju cahaya Kebenaran!"
"Baik, Cikgu!"
Mereka pun segera pergi menuju lift lantai Sembilan puluh itu. Namun sebelum Papa Zola sempat menekan tombol lift untuk membuka pintunya, tiba-tiba terdengar suara Sirene yang mirip suara alarm darurat. Sontak terdengar sebuah suara tanda peringatan yang menggema di seluruh gedung Markas ONION itu.
'KECEMASAN, ADA PENYUSUP!- KECEMASAN, ADA PENYUSUP!- KECEMASAN, ADA PENYUSUP!-'
"Alamak! Kita dah ketahuan," desis Amar Deep panik. "Macam mana ni, Cikgu?"
"Nampaknya kita tak punya pilihan lain," ujar Papa Zola dengan logat 'Kebenaran'-nya lalu menekan tombol lift hingga pintunya terbuka. "Ayo, Anak Didikku! IKUT KEBENARAAAANNN!"
Segera mereka masuk ke dalam Lift itu. Namun begitu giliran Ice, sebuah tendangan diarahkan ke wajahnya. Wajah datar sang pengendali es langsung musnah seketika dan menghindari tendangan itu. Ia menoleh ke sosok yang hendak menendangnya tadi di ujung lobi itu. Bukan hanya dia, tapi teman-temannya serta Papa Zola juga ikut terkejut melihat sosok itu.
"Apa?! Siapa kau yang berani menghalangi Kebenaran, Hah?!" ujar Papa Zola kaget setengah mati.
"Kau-" gumam Ice seraya menatap sosok itu lamat. "Siapa kau ni?"
Dilihatnya sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seorang gadis yang mungkin lebih tua setahun dari BoBoiBoy, dengan wajah Oriental yang dihiasi kacamata berwarna merah marun. Rambut panjangnya yang berwarna ungu dikuncir dua. Pakaiannya bernuansa a la Kungfu. Ia menaikkan kacamatanya sedikit sembari mendelik ke arah Ice. Sesuatu terlintas di pikiran Ice begitu melihat gadis itu.
"Kau macam Fang je," katanya datar. "Apasal kau mirip sangat dengan dia?"
"Jangan-jangan dia tu memang Fang," Kata Taufan tiba-tiba. "Jom, Fang! Kita kena pergi dari sini!"
"Ish kau ni! Dia tu perempuan lah!" dengus Halilintar. "Kau tak tengok muka dia yang ayu sangat tu ke?"
"Mungkin Fang menyamar jadi perempuan kot," tambah Blaze polos, namun ia segera menyeringai ketika melihat tatapan mengerikan dari pecahan-pecahannya.
"Hehehe, gurau je, gurau je."
Gadis itu mendengus. "Huh! Kau ni BoBoiBoy. Asyik salah sebut," katanya kesal. "Aku bukan Fang lah. Aku ni Ah Ming, Kakak kelas kau masa kau bersekolah dekat bandar dahulu. Masa tak tahu?"
"Hah?! AH MING?!"
Ice menggaruk dagunya. "Aku tak ingat pun," gumamnya. "Tapi nampaknya kau bukan budak baik. Kau mesti salah sorang daripada ahli pasukan ONION. Kan? Kan? Kan?"
Ah Ming mendesah. "Nampaknya aku memang tak boleh sembunyikan apapun dari korang semua," katanya seraya memasang kuda-kuda. "Aku dan semua ahli pasukan Organisasi ONION dah tahu kalau korang memang ada kat sini. Bersedialah untuk kalah. TENDANGAN ANGIN BARAT!"
"Hmp, tak payah kau serang kitorang. MERIAM PEMBEKU!"
Ice menciptakan Meriam es di tangan kirinya dan menarik tuas raksasa di belakangnya, menembakkan bongkahan-bongkahan es ke arah Ah Ming. Gadis itu menghindar dan tetap menerjang ke arah BoBoiBoy pengendali es itu. Namun sebelum kakinya menyentuh wajah Ice, Sebuah pedang merah menyala menangkis tendangannya. Segera Ah Ming merasa kakinya seperti disetrum. Ia melompat mundur dan mendapati Halilintar yang menghunus pedang Halilintar-nya di depannya, melindungi Ice.
"Tak kan kubiarkan kau kalahkan kami," kata Halilintar dingin. "Rasakan ni: TUSUKAN PEDANG HALILINTAR!"
"Ohh, nak main ye?" ledek Ah Ming. "Kau memang tak kenang budi, BoBoiBoy. Aku akan habiskan kau! TUSUKAN JARI-JEMARI TAICHI!"
Keduanya saling menangkis. Halilintar berusaha mendorong Ah Ming. Namun gadis itu lumayan kuat dan gesit sepertinya. Ia tertawa meremehkan.
"Ahh, aku hampir lupa." Katanya. "Kau kenal budak bernama Fang ke? "
Blaze terkejut. "Fang?! Kau berjumpa dengan dia?!" tanyanya kaget. "Mana dia?"
"Hmm, yah... dia ada pasal dengan Rosaline dan Kapten Kaizo sekejap," balas Ah Ming cuek. "Kenapa kau nak masuk campur masalah tu?"
"Eh? Kejap... KAPTEN KAIZO?!" ujar Taufan terkejut. "Bukannya dia tu Atasan dan Abang kepada Fang ke? Apasal kau sebut nama dia pulak? Kau ada urusan dengan diorang kah?"
Ah Ming menggeleng. "Tak. Aku tak de urusan dengan diorang," katanya cuek. "Aku pun kesian sebab dia kena belasah sama Rosaline. Aku memang penjenayah, tapi aku tak suka Pedofil macam Rosaline tu. Tapi bagaimanapun juga, korang tetaplah musuh aku. Dan kiranya korang kena aku hapuskan. Korang akan habis! TERJANGAN NAGA PU-"
"TEMBAKAN PHOTOCYBER!"
"HAH?!"
DUAAAAAAAARRRRR!
Sekonyong-konyong sebuah tembakan dahsyat mengenai Ah Ming dan menghempaskannya ke dinding belakang hingga ia tidak sadarkan diri. Langsung saja lawannya menoleh ke penyelamat mereka di lorong sebelah. Tampak Ochoboy, Stanley. Milyra X dan Iwan disana.
"OCHOBOT!" pekik Blaze riang. "Kau selamatkan kami rupanya!"
"Korang tak pe kah?" tanya Ochoboy khawatir. "Nasib baik kami tiba kat sini. Kalau tak, korang akan tertangkap semula."
"Hmm, Kebenaran kena bernafas lega sebab kamu, wahai Robot muda," Puji Papa Zola. "Tapi apasal korang ni lamban betul, Haaaaaahhhh?! Korang lepas dari mana?!"
Milyra X menggaruk belakang kepalanya dengan malu-malu. "Ehm, lepas dari Lab Sfera Kuasa di dimensi asal kita, Cikgu," katanya gugup. "Kami jumpa beberapa benda menarik dekat sana dan-"
"Sudah, sudah. Kita kena pergi dari sini dahulu," kata Kevin. "Lepas tu, kau boleh jelaskan apa maklumat yang kau dapatkan tu."
"Okey!"
Mereka semua masuk ke dalam Lift dan menekan tombol turun ke lantai 1. Namun anehnya, lift itu hanya membawa mereka ke lantai 89. Sepertinya Organisasi sudah tahu keberadaan mereka dan mengaktifkan semua sistem keamanan agar mereka tidak bisa lolos begitu saja.
"Macam mana ni? Lift ini cuma sampai lantai 89 je," kata Taufan panik. "Mesti diorang dah tahu keberadaan kita."
"HA?! IYA KE, KEBENARAN?!" Pekik Papa Zola panik. "Lakukan sesuatu, wahai anak-anak muridku!"
"Hmm, kita kena lewat tangga darurat," usul Ochoboy. "Kejap. Aku kan scan daerah ni tuk dapatkan letak tangga tu."
Mata biru lautnya memindai daerah sekitar. Tak lama kemudian, ia berseru.
"Nah, dapat! Tangga darurat tu ade kat sebelah ruang tahanan lantai 89 ni. Cepat! Lewat sana!"
Ia menunjuk pintu di ujung lorong menuju tangga darurat di lantai 89 itu. Namun sebelum ia dan teman-temannya tiba disana, pintu itu tahu-tahu tertutup rapat.
"Aduuhhh, jalan keluar kita dah tertutup ni," desis Stanley bingung. "Macam mana kita nak keluar?"
Ochoboy mendesah. "Jangan risau. Aku akan cuba hack sistem keamanan dekat Gedung ni," ujarnya seraya mendekati sebuah layar kecil di sebelah pintu itu dan berusaha meretas sistem keamanannya, namun nihil.
"Hadoi yaaayy, saya bukan termasuk dalam sistem la," katanya frustasi. Halilintar berusaha menebaskan pedang Halilintar ke pintu itu. Sayangnya teknologi musuh mereka sudah terlampau jauh sehingga pintu itu tidak bergeming.
"Hish, apasal ni pintu tak nak hancur jugak?" desisnya sebal. Tiba-tiba ia terkejut begitu melihat Papa Zola mendekati sistem keamanan di sebelah pintu itu dan mengutak-atiknya. Sekonyong-konyong pintu itu terbuka, membuat mereka kaget.
"Hahahahaa, Sekarang Pintu Kebenaran telah terbuka untuk kalian semua, wahai anak muda."
"Wuaaahhhh, terbaik lah Cikgu Papa ni!" tukas anak-anak muridnya kagum. Ochoboy melongo sejenak dan mendekati Papa Zola seraya bergumam.
"Tapi macam mana Cikgu Papa-"
Kalimatnya terputus begitu Papa Zola tahu-tahu menepuk bahunya dengan gaya nyentrik dan segera berkata dengan nada penuh wibawa.
"Sebenarnya... menjadi Hacker ialah Cita-cita Papa dari tadika lagi."
Guru: "Baiklah, Murid-murid. Sila bagi tahu Cikgu, Apa cita-cita kamu."
Siswa 1: "Saya nak jadi Peguwam!"
Siswa 2: "Saya nak jadi Dokter, Cikgu!"
Zola kecil: "Saye nak jadi HACKER YANG BUDIMAAAAANNNN! Saya akan retaskan jaringan Kebenaraaaannnn!"
"Lalu saya akan MENANGKAP PELAKU CYBERCRIME KEJAHATAANN! Sampai terpenuhi semua isi Penjara, Hahahahahahaaa!"
Krikk... Krikk... Krikkk... Krikkk...
"Hmm, dah ganti lagi," dengus Milyra X. Papa Zola terkekeh dibuatnya.
"Hehehe, Maaf, maaf. Tapi kalau cikgu tak jadi Hacker, macam mana pintu ni boleh terbuka, Haaaahhh?! HAAAAHHH?!"
"Oh, iye. Betul juga tu," kata Amar Deep. "Kalau Cikgu Papa tak retaskan sistem keamanan tadi, kita mesti tak kan bisa kabur dari sini, Kan? Kan?"
"Terima kasih, Cikgu Papa," kata Ice senang. "Cikgu dah bantu kami retaskan sistem keamanan kat gedung ni."
"Hahaha, terima kasih, terima kasih." Kata Papa Zola. "Lalu apa lagi yang kalian tunggu?! Jangan buang masa dekat sini, wahai anak muda!"
"Baik, Cikgu!"
Di halaman gedung, Gempa, Gopal, Yaya, Ying, Amy, Melody dan Melissa menunggu dengan harap-harap cemas sementara Milyra Infra memeriksa bagian belakang gedung markas pusat. Pasalnya sudah lewat dua jam setelah Papa Zola, Milyra, Ochoboy dan anak-anak murid laki-laki yang diajaknya untuk menyusup ke gedung markas Organisasi yang tingginya Naudzubillah sampai Sembilan puluh tingkat itu. Yaya sudah selesai mengobati luka Ying. Ying memandang temannya itu dengan tatapan penuh terima kasih.
"Terima kasih, Yaya. Tangan aku dah lagi baik, hihi."
Yaya tersenyum. "Sama-sama," katanya tulus. "Tapi kau tak boleh gerakkan tangan kau dahulu. Nanti luka tu tambah sakit tau, dan darahnya mesti akan keluar lagi."
"Aiyo, berarti saya tak boleh lawan musuh dahulu ma," kata Ying sedih.
Melissa menepuk pundaknya. "Tak pe, Ying. Kitorang kan kawan kau. Kitorang boleh temankan kau kat sini sementara yang lainnya bantu cari pecahan-pecahan BoBoiBoy dan Fang tu."
Gempa menatap balutan perban di tangan Ying. "Jangan risau, Ying. Luka ni mesti sembuh dalam masa yang singkat," katanya yakin.
"Ha? Iya kah? Berapa lama?"
"Umm, kiranya dua sampai tiga jam."
"Aik?! Dua sampai tiga jam?!" pekik Ying kaget. "Lama sangat wo!"
"Ish kau ni. Nasib baik luka kau boleh sembuh. Tak payah risaukan masa lama," tukas Gopal kesal, membuat Ying tersipu.
"Hehehe, sori maa."
"Ehh, kawan-kawan. Apasal Cikgu Papa dan yang lainnya lama sangat ni?" Melody tiba-tiba membuka percakapan. "Jangan-jangan diorang dah kena tangkap pulak tu."
"Ha'ah lah. Kita mesti tolong diorang," kata Gempa lalu melangkah menuju pintu utama. Tahu-tahu Gopal menarik tangannya dengan wajah khawatir.
"Jangan, BoBoiBoy! Nanti kau kena tangkap macam mana?" tanyanya cemas. "Kalau kau pun dah kena tangkap, habislah kita!"
"Betul tu. Nanti Rosaline apa-apakan kau pula," timpal Yaya. "Jangan lah, BoBoiBoy. Kalau Rosaline dah berjaya dapatkan kuasa kau, dia akan hapuskan kita semua!"
"Ya loh. Kamu tega buat kitorang dihapuskan ke?" tukas Ying memprotes. "Kamu pun akan digunakan Organisasi ONION buat hancurkan Alam Semesta! Sudah berapa kali kitorang cakap macam tu dekat kau, tapi tak nak juga!"
"Fikirkan nasib kau pula, BoBoiBoy," kata Amy khawatir. "Rosaline nak jadikan kau barang simpanan dia tau. Kau masih kecik."
Kalimat Amy mau tidak mau membuat Gempa merinding juga. Dalam hati dia memang ketakutan kalau-kalau Rosaline akan melakukan hal buruk padanya. Namun dia tidak bisa tinggal diam melihat keadaan di sekitarnya yang jauh dari 'Baik-baik saja'. Lagipula dia adalah Gempa, BoBoiBoy Gempa. Dialah pemimpin yang seharusnya bertindak jika rekan-rekannya tertimpa masalah. Ditepisnya kekhawatirannya dan melirik ke arah Gopal yang masih menggenggam tangannya dengan tatapan memohon.
"Maaf, kawan-kawan. Tapi aku tak nak tengok korang susah sebab aku," katanya tegas sembari menepis tangan Gopal. Gopal hanya menganga melihat itu dan masih berusaha membujuk Gempa agar tidak masuk ke dalam gedung markas pusat itu. Namun sebelum sang pengendali tanah melangkah lebih jauh, tiba-tiba...
PRAAAAANNNGGG!
"Ehh?"
Gempa mendongak. Kedua mata kuningnya membelalak begitu melihat kaca jendela di lantai 89 Markas ONION pecah berkeping-keping. Pecahan kaca itu mendarat tak jauh dari hadapannya. Ying masih duduk di belakang bersama Amy, Melody dan Melissa sementara Yaya mendekati Gempa dan Gopal yang terkejut melihat kaca jendela gedung yang pecah itu.
"Eh? Apasal kaca gedung dekat lantai 89 tu pecah?" tanya gadis berkhimar itu. Namun kedua matanya terbelalak begitu ia melihat sosok yang terbang setelah kaca gedung di lantai enam puluh itu pecah. Spontan Gopal yang berdiri di sampingnya memekik.
"I- Itu," gumamnya ketakutan. "ROSALINE!"
"Ha? Iya ke?" ujar Gempa kaget. Dilihatnya Rosaline yang melirik ke bawah, melihat mereka dan tahu-tahu sudah mendarat di depan mereka. Segera Yaya mengambil kuda-kuda, begitu pula dengan Gempa. Ying pasang siaga di depan siswi-siswi kelas 7 Cerdas. Gopal sudah bersembunyi di belakang Gempa sembari memasang wajah penakut tulen andalannya. Wanita Succubus di depan mereka itu tertawa keras-keras melihat mereka.
"Hahahaha, jadi korang pun dah tiba kat sini," katanya dengan senyum setan. "Nak jadi bahagian daripada ONION ke? Fufufufu, bagus, bagus. Sila daftarkan diri."
"Ish, siapa cakap kami nak jadi ahli pasukan ONION?" tukas Ying kesal. "Lu ingat ni macam main tangkap gabung ke?"
"Main tangkap gabung?" tanya Rosaline sembari menyentuh dagunya sendiri dengan satu jari. "Menarik. Korang ternyata ajak aku main rupanya, budak-budak lemah! Dah lah. Habis masa aku bincang kat korang. Sekarang bagi aku benda berharga tu dan aku akan biarkan korang pergi."
"Eh? Benda berharga?" tanya Yaya bingung. "Benda berharga apa yang kau maksudkan ni?"
"Entah. Ingatkan kitorang ni macam Juragan ke? Kaya konon," dengus Gopal. "Hutang pun belum habis bayar, aku disuruh serahkan benda berharga pulak!"
Krikk... Krikk...
"Hehehe ..."
Krikk... Krikk...
"Hehehe..."
Rosaline terkekeh. "Ohhh, kaya eh? Haish, Budak-budak ni... Susah betul buat diajak berkiasan. Baiklah. Benda berharga tu dia lah. Siapa lagi?"
Dia mengatakan itu sembari menuding Gempa, membuat semuanya terkejut.
"Serahkan dia padaku, dan aku tak kan ganggu korang lagi."
"Apa? Serahkan BoBoiBoy Gempa?!" tukas Ying kaget. "Mana boleh?!"
"Iye. Ingatkan senang-senang je kitorang nak bagi," kata Yaya berang. "Kau ni penggila budak kecik ke? Itu jenayah Pedofilia tau!"
"Betul tu. Tante-tante girang rupanya. Cabai busuk pulak tu," tambah Gopal. Namun nyalinya ciut begitu Rosaline mendelik ke arahnya dengan tatapan sangar.
"APA?! KAU KATA AKU MACAM CABAI BUSUK?!"
"GYAAAAAAAAA!" Gopal memekik sekali lagi. "Habislah kita, BoBoiBoy. Habislah..."
"Huh, kau pulak, Gopal. Tak payah carut dia kot," kata Gempa kesal lalu menoleh ke arah Rosaline. "Apasal kau nak kan aku pulak? Pecahan-pecahan aku dah kau belasah tapi belum puas juga?! Ish, ish, ish, Tamak sangat! Lepaskan diorang dan jangan pernah kau ganggu kami lagi."
"Hahahahahahaaaa! Biarlah! Tamak ke, jenayah pedofilia ke, aku tak peduli! Aku akan jadikan kau milik aku, Gempa. Bersedialah! CENGKAMAN-"
"Tak kan kubiarkan kau sentuh dia!" tukas Yaya segera. "TAMBATAN GRAVITI!"
Segera Rosaline merasa kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Ia melihat sebuah lingkaran raksasa berwarna pink dibawah kakinya yang diciptakan Yaya sebagai pusat Gravitasi. Kedua tangannya ikut tertempel disana, membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun. Yaya melirik ke arah Gopal.
"Tukarkan dia, Gopal!"
"Tak de hal! TUKARAN CABAI KERING!"
"Ciz, budak mentah! LINDUNGAN TAUFAN!"
Serta-merta sebuah perisai angin muncul di sekeliling Gopal, menangkis serangan anak itu. Gempa memanggil Giga dan melompat ke udara sembari mengarahkan tinjunya pada Rosaline.
"Giliran aku pula. TUMBUKAN GIGA MAKSIMAL!"
Rosaline mendengus. "Kau tak kan boleh tumbuk aku. HIAAAAAAHHHH!"
Ia berusaha melepas pengaruh Gravitasi Yaya darinya dan berhasil mengangkat satu tangannya ke udara.
"Ambik ni: TEMBAKAN TENAGA!"
BUUUUUMMMM!
"AAAAAAAAAAHHHHHHHH!"
Giga langsung hancur berantakan begitu Rosaline menembakkan serangannya ke arah sang Golem tanah. Malangnya, batu-batu besar serpihan sang Golem berpencar kemana-mana, termasuk ke arah Ying, Amy, Melody dan Melissa. Ying berusaha menghentikan batu-batu gunung itu menggunakan kekuatan manipulasi waktunya. Sialnya jam tangannya rusak sehingga batu-batu itu tetap menerjang ke arah mereka.
"ELAK SEMUA!" pekiknya.
Melissa menjerit. "TAK SEMPAT!"
DUAAAAAKKK!
"KYAAAAAAAAAAAAAA!"
Ying dan siswi-siswi kelas 7 cerdas langsung ditubruk batu-batu besar itu dan membuat mereka terluka disana-sini, pingsan. Yaya menjerit histeris melihat kondisi teman-temannya itu.
"Kawan-kawan! TIDAAAAAAAKKKKK!"
Ia berlari menuju mereka dengan tatapan kalut. Tanpa ia ketahui kekuatan Gravitasi-nya melemah sehingga Rosaline bebas seutuhnya dan menerjang gadis itu. Gopal menjerit tanda peringatan.
"YAYA! AWAAAAASSSSS!"
"HAH?!"
Rosaline tertawa nista. "HAHAHAHAHAAAA! Sudah terlambat! Kau akan rasakan akibat dari menganggu aku! SAMBARAN HALILINTAR!"
BLAAAAAAARRRRR!
"AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!"
Setruman nista itu langsung menyambar tubuh kecil sang ketua kelas 7 Cerdas dan membuatnya langsung tidak sadarkan diri. Gempa terkejut melihat itu dan berteriak.
"YAYAAAAAAAA!"
Dilihatnya Yaya yang sudah terkapar mengenaskan di tengah halaman gedung markas Organisasi itu. Gopal menangis meraung-raung dan memeluk Gempa kuat-kuat.
"Huhuhuuu, kan aku dah kata kita akan habis dekat sini, Huhuhuuuu..." isaknya pilu. "Habislah kita... Habislah..."
"Kau jangan menangis macam ni lah," tukas Gempa cemas. "Cepat! Kita mesti boleh kalahkan Rosaline tu dan pulihkan keadaan ni! Jangan berhenti berharap! Kau kena berusaha, Gopal! Jangan biarkan perempuan pelik tu kalahkan kita!"
"Uhh... Ba- Baiklah," kata Gopal seraya berusaha mengumpulkan keberanian pada dirinya lalu berteriak. "TUKARAN BADAN TRANSPARAN!"
SRINGGG!
Tubuh Gopal langsung menghilang. Rosaline melihat itu dengan pandangan tidak percaya.
"Hah?! Bila masa kau boleh bertukar teruk macam tu?"
Gempa tertawa kecil. "Itu lah kuasa sebenar Gopal. Dia boleh tukarkan molekul objek ke molekul objek yang lain. Bukan Cuma benda je boleh dia tukar, tapi badan dia seorang pun boleh tukar. Kan, Gopal? Eh?"
Dia kebingungan ketika meraba tempat Gopal berdiri sebelumnya namun tidak merasakan fisik Gopal disana. Gempa berbisik.
"Ei, Gopal. Mana kau?"
"Haeh, aku ada kat belakang Rosaline la," balas Gopal tanpa menyadari volume suaranya begitu besar hingga Rosaline bisa mendengarnya. Segera Gempa pasang tampang facepalm.
"Hehehe, sori BoBoiBoy. Aku-"
"Oho, mulut lohong lah kau ni," balas Rosaline mengejek lalu melayangkan kakinya ke belakang. Lantas ia menendang Gopal yang memang sudah berada dibelakangnya dan baru saja mau menyerang.
BUAAAAKKK!
"GAAAAAAHHHH!"
Tubuh transparannya langsung terlihat kembali dan melayang menghempas lantai keramik halaman gedung Markas pusat ONION. Sebagai akibatnya, kepalanya membentur lantai terlebih dahulu dan membuatnya langsung tidak sadarkan diri.
"GOPAAAAALLLL!" jerit Gempa. Dideliknya Rosaline dengan pandangan murka.
"Berani kau cederakan kawan-kawan aku?!"
"Hahahahahahahaaa, kau masih je fikirkan kawan-kawan kau yang macam sampah tu. Hebat, anak muda."
"Sa- Sampah kau kata?! KAU BENAR-BENAR DAH MELAMPAU!"
"Heh, biarlah! Kau pun tak de daya buat selamatkan mereka. Nampaknye cuma kau sorang je yang boleh bertahan. Serahkan diri kau sekarang, dan aku tak kan sakiti kawan-kawan kau lagi."
Gempa mengeram. "Serahkan diri aku?" tanyanya. "Hmph, Mari lah! Ambil aku kalau kau mampu. TANAH TINGGI!"
Milyra Infra sedang memeriksa bagian belakang gedung markas pusat Organisasi. Disana terdapat beberapa gedung parkir untuk mobil. Mobil-mobil yang diparkir disana tampak baru-baru, walaupun ada juga yang sudah penyok-penyok. Selain gedung parkir untuk kendaraan bermotor, terdapat pula gedung parkir untuk pesawat luar angkasa yang nampaknya diperuntukkan untuk para Alien anggota Organisasi.
"Hmm, menarik juga. Aku kena siasat tempat ni lagi jauh sebelum balik ke kawan-kawan aku," katanya pelan. Namun begitu ia membalik badan, sebuah sosok berukuran kecil menyapanya.
"Apa yang kau buat kat sini?"
"Ah?"
Infra memicingkan mata melihat sosok itu. Lantas ia terkejut melihat bahwa sosok itu adalah Cici ko, salah satu anggota Tengkotak yang berstatus sebagai tukang bersih-bersih di pesawat angkasa mereka. Sang gadis Succubus melongo melihatnya.
"Kejap. Kau Cici ko ke? Salah sorang ahli pasukan daripada Askar Tengkotak tu?"
Cici ko terkekeh. "Betul. Aku Cici Ko," katanya seraya menggengam kain pel. "Atau lagi tepatnya: Koko Ci."
"Hah?! Koko Ci?!"
"Shh-! Jangan keras-keras! Nanti diorang tahu!"
"Lha, kau kan jahat. Apasal mesti disembunyikan pulak?"
"Hish, kau ni," dengus Cici ko yang diketahui bernama asli Koko ci. "Itu identiti sebenar aku."
Infra terkejut. "Hah?! Maksud kau... kau ni Mata-mata ke?"
"Tepat," balas Koko Ci. "Sebenarnya aku ialah salah satu ketua Alien Kubulus baik kat alam semesta ni. Aku menyusup ke Tengkotak tu memata-matai lalu mengadili mereka. Aku dah tangkap semua anggota Tengkotak tu setahun silam. Bora Ra pun sebenarnya dah wafat selepas dibelasah BoBoiBoy setahun silam. Tapi nampaknye ONION boleh hidupkan dia balik, entah pakai cara apa diorang tu. Organisasi pun serang Penjara tempat anggota lain berada dan bebaskan Yoyo Oo, Gaga Naz dan Kiki Ta yang sebelumnya dah saya tangkap. Untung sahaja Organisasi me-refresh fikiran diorang sehingga memori tentang identiti sebenar aku tak diingat lagi."
"Ohh, macam tu," kata Infra sambil mengangguk-angguk. "Oh, ya. Salam kenal. Aku salah satu pecahan kuasa gelombang daripada Mila, dengan nama sebenar Milyra."
Koko ci tersentak. "Ha? Kau Milyra?! Mantan Puteri Mahkota dekat Planet Tim tam Dua?"
"Iye lah. Habis tu, siapa lagi?"
Tiba-tiba Koko ci melompat ke atas dan mengguncang-guncang bahu Infra sembari menukas tidak percaya.
"Tak mungkin! Kau dah hilang selama berminggu-minggu tau! Kenapa kau tinggalkan Planet kau?"
"Entah. Aku pun tak ingat macam mana aku boleh lupa sebab aku pergi dari Planet aku."
"Hilang ingatan, ye?" Ujar Koko Ci seraya kembali mendarat ke tanah. "Nampaknya aku tahu macam mana kau boleh pulihkan ingatan kau."
"Eh? Cara ape tu?"
Koko Ci mendesah panjang lalu menuding lantai lima puluh gedung markas pusat.
"Kau nampak tingkat lima puluh tu?"
"Ehh... Ha'ah?"
"Ada sebuah bilik besar bernama Bilik Omega 6 dekat lantai lima puluh tu. Dalam bilik tu terdapat segala jenis ubat penawar. Aku jumpa bilik tu masa siar-siar kat gedung ni. Mungkin kau boleh cari ubat penawar lupa ingatan tu."
"Oi, kau ingat aku diracuni ke? Pakai ubat penawar konon."
"Hehehehe, tapi mungkin je ubat tu boleh pulihkan ingatan kau."
Infra mengerutkan kening. "Betul juga," katanya lalu menatap Koko Ci. "Terima kasih sebab dah bagi tahu aku pasal obat penawar hilang ingatan tu. Terbaik lah kau ni!"
"Sama-sama," jawab Koko Ci lembut. "Dan-"
BRAAAAAAKKK!
"UWAAAAAAAAAAAA!"
Sebuah teriakan membuat mereka terdiam.
"Eh? Teriakan apa tu?" tanya Koko Ci heran.
Milyra Infra menoleh. "Arahnya dari halaman depan gedung. Eh, kejap. Depan gedung?!"
"Ei? Memangnya kenapa?" Koko Ci mengerutkan alis tanda bingung.
Infra terlihat ketakutan. "Kawan-kawan aku ada dekat sana lah! Aku kena bergegas! Dari jeritan tu nampaknya diorang tengah dalam bahaya!"
Ia terbang menuju halaman depan namun terhenti begitu melihat Koko Ci tidak mengikutinya.
"Ei, apasal kau diam ni? Tak nak bantu aku ke?" tanyanya heran.
Koko Ci menggeleng. "Maaf, Milyra. Tapi aku boleh ketahuan membelot kalau aku ikut dengan kau."
"Hehehe, betul juga tu. Baiklah. Sampai jumpa lagi, Tuan Koko Ci."
"Ya. Jaga diri korang elok-elok kat sana."
"Um!"
Infra terbang ke halaman depan gedung markas pusat dan terkejut melihat Yaya, Ying, Gopal dan siswi-siswi kelas 7 Cerdas terkapar tidak sadarkan diri dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Ia lebih kaget lagi begitu melihat Gempa dan Rosaline yang saling berhadap-hadapan. Rosaline terlihat terengah-engah. Begitu juga dengan Gempa. Sayangnya penampakan sang pengendali tanah terlihat lebih memprihatinkan. Beberapa bagian bajunya sobek. Begitu juga sabetan luka-luka di kulitnya yang terlihat, menandakan ia baru saja melawan Rosaline habis-habisan. Sontak Infra berteriak.
"GEMPA! BUNDA!"
Detik berikutnya Rosaline menoleh. Gempa pun demikian. Namun nafasnya yang masih pendek membuatnya terlihat begitu lelah dari sebelumnya.
"Ahhh, akhirnya kau muncul juga, anak tak guna," sindir Rosaline. "Baik kau berambus dari sini. Aku tak de pasal dengan kau."
"Hmp. Pasal kawan aku mestilah pasal aku jugak!" dengus Infra. "Bunda kena hentikan semua ni dan jadi baik semula!"
Ia berkata begitu seraya mendekati Gempa. Gempa menatapnya selama beberapa detik lalu berucap.
"I- Infra, apasal kau bantu aku macam ni?"
Infra merengut. "Ish, kau ni! Aku kawan kau lah. Aku kena bantu kau."
"Ta- Tapi itu berarti kau nak lawan Bunda kau sendiri. Tak baik tau."
"Dengar, BoBoiBoy. Itu tekad aku. Selama Bunda aku masih jahat, aku tak boleh diam. Aku kena hentikan dia, apapun yang terjadi."
Gempa menggeleng. "Tidak. Aku tak nak tengok perang saudara macam ni," katanya serius. "Daripada kau lawan Mak kau, baik kau bawa kawan-kawan kita ke tempat yang lagi aman. Biar aku yang tahan Rosaline sementara kau buat evakuasi tu."
"Hah?!" Infra terkejut. "Tapi kau nampak penat sangat. Aku kena bantu kau!"
"Infra, aku serius. Kau kena bawa diorang ke tempat aman, sekarang juga!"
"Tapi macam mana dengan ka-"
"SEKARANG, INFRA! Aku tak nak buang masa cuma sebab kau-"
"Hei, bila korang selesai bincang tu?" kata Rosaline kesal. "Berambus dari hadapanku! TEMBAKAN PENYERAP ENERGI!"
"Cih- TANAH PELINDUNG!"
BRUAAAAKKK!
"Sekarang, Infra!"
"Ba- Baik," kata Milyra Infra sangsi lalu melesat menuju Gopal, Yaya, ying dan siswi-siswi kelas 7 cerdas yang masih pingsan untuk menyelamatkan mereka. Rosaline melihat itu dan segera menembakkan sesuatu dari tangannya.
"PECUTAN TAUFAN!"
"Apa?!"
CTAAAASSSS!
"KYAAAAAAAAAAAAA!"
Sebuah cambuk angin melempar Infra yang tidak sempat menggapai teman-temannya, melempar gadis itu hingga menghempas dinding beton di belakangnya hingga hancur berantakan. Dua detik kemudian, tubuhnya menghempas lantai dan tidak bergerak lagi.
"INFRAAAAAAAA!"
Gempa menjerit kalut. Dalam hati ia menyesali dirinya sendiri karena merasa tidak bisa melindungi teman-temannya. Dipandangnya Rosaline dengan tatapan miris.
"Kau dah cederakan anak kau... Kau dah cederakan kawan-kawan aku... dan kau dah belasah harga diri pecahan-pecahan aku..." desisnya getir. "TAK BOLEH DIMAAFKAN!"
Tenaganya belum pulih sepenuhnya. Namun Gempa memaksakan diri. Dia tidak tahan melihat orang-orang terdekatnya diteror seperti ini. Dengan membabi buta ia menerjang ke arah wanita Succubus itu.
"GOLEM-GOLEM TANAH! SERANG!"
Serta-merta tiga buah Golem tanah muncul dari bawah dan melompat ke arah Rosaline, hendak meninjunya. Dengan anggun wanita itu mengelak dari serangan-serangan mereka, membuat Gempa geregetan juga.
"Ciz, tak kena pula?!" tukasnya kesal. "OMBAK TANAH!"
"Huh! Kau mimpi je lah," kata Rosaline lalu menggunakan larian kilat Halilintar untuk menghindari ombak tanah Gempa. Gempa melihat keadaan sekeliling. Rosaline tidak ada di hadapannya.
"Eh? Mana dia pergi?"
"Kau tanya aku pergi ke? Ohoho, perhatian sangat la kau ni. TOLAKAN PENYERAP ENERGI!"
"HAH?"
Gempa menoleh. Sekonyong-konyong dilihatnya Rosaline yang ternyata berada di belakangnya, menembakkan serangannya hingga membuat Gempa terpental ke tengah halaman depan.
"Ugh, kau... jangan berani kau sentuh kawan-kawan aku..." desisnya getir seraya berusaha bangkit. Namun dia ambruk akibat serangan Rosaline yang mengisap hampir semua energinya tadi.
Rosaline tersenyum setan. Ia mendarat di depan Gempa dan menurunkan kepalanya ke anak itu. "Aha, baiklah. Aku tak kan serang kawan-kawan kau," katanya sembari terkekeh, menaikkan dagu sang pengendali tanah dengan jari telunjuknya." Tapi aku ingin kau buat sesuatu sebagai gantinya."
Gempa meringis. "Apa yang... kau... nak, Hah? Cakap."
"Hmm, Aku nak kau jadi salah sorang pelayan aku lah. Apa lagi?"
'Eh?'
Pelayan?! Wanita ini pasti sudah gila!
"Huh, bila masa... aku nak... jadi pelayan... kau?!" desis Gempa berang. "Kau... mimpi je... lah..."
"Oh, tak nak ye? Baiklah kalau macam tu. Aku akan paksa kau buat benda tu," desah Rosaline sembari menarik tubuh lumpuh Gempa ke arahnya, merangkulnya dengan pandangan sinis. Digenggamnya dagu Gempa kuat-kuat dan menengadahkannya hingga wajah mereka saling berhadap-hadapan.
"Kalau pemimpin dah tunduk, bawahan mesti pula tunduk. Jadilah milik aku, Gempa sayang, MWAHAHAHAHAHAHAHAAA!"
Kedua iris kuning lemon itu melotot. Gempa berusaha membebaskan dagunya, namun nihil. Sekujur tubuhnya mati rasa. Spontan pandangannya mulai menggelap.
"Khh... Ja... Jangan..."
Detik berikutnya, matanya hanya bisa melihat warna hitam dimana-mana. Gempa menggigit bibir.
Pecahan-pecahannya.
Teman-temannya.
Papa Zola
Dia hanya bisa berharap mereka baik-baik saja. Gempa menggumam dalam alam bawah sadarnya dengan kegetiran yang luar biasa.
'Kawan-Kawan... Jangan berhenti... Berharap...'
Dunia itu tidak punya atap dan lantai, namun masih bisa dipijaki. Dindingnya berupa spektrum warni-warni layaknya Aurora yang berkelebat kesana-kemari. Sesosok pemuda tampak berjalan disana. Rambut pendeknya berwarna hitam sebahu. Bajunya yang terdiri dari jaket dan kaos dalam berwarna senada dengan topinya. Matanya yang berwarna coklat bercampur putih terlihat sayu. Ia berjalan melewati beberapa pintu berwarna-warni disana. Yang pertama kali dibukanya adalah pintu berwarna merah kehitam-hitaman.
"Halilintar?" tanyanya seraya melongokkan kepala ke dalam kamar bernuansa hitam legam ditambah petir merah gelap menyambar-nyambar. Namun orang yang dicarinya tidak ada disitu.
Sosok itu menutup pintu berwarna merah hitam itu dan berjalan ke pintu berwarna biru tua bercampur putih di sebelahnya. Dibukanya pintu itu dan melakukan hal yang sama di kamar sebelumnya.
"Taufan?"
Kosong. Satu-satunya kamar yang memiliki angin sepoi-sepoi dengan atribut awan cumulus di dalamnya itu kosong, menandakan pemiliknya belum datang. Sosok itu menutup pintu itu dan berjalan menuju pintu berwarna kuning hitam tak jauh dari pintu kedua dan pertama. Dibukanya pintu itu dan melihat ke dalam kamar bernuansa coklat dan dipenuhi atribut tanah bebatuan plus dinding yang bertuliskan berbagai rencana.
"Gempa?"
Tidak ada jawaban.
Sosok itu hanya geleng-geleng kepala sembari menutup pintu itu dan berjalan menuju pintu berwarna jingga campur merah hitam yang di depannya dipenuhi berbagai macam gembok dan pita berwarna kuning hitam alias 'Garis Polisi'. Disibakkannya pita-pita itu, membuka gembok-gembok disana dan membuka pintu dibaliknya.
"Blaze?"
Hening. Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar yang dipenuhi gunung-gunung vulkanik berukuran mini dan boneka teddy bear itu. Sosok itu menelan ludah. Kenapa mereka belum juga datang? Ditutupnya pintu itu sembari menempelkan garis polisi di depannya kembali.
Kini ia mendekati pintu berwarna biru muda. Ditariknya gagangnya yang terbuat dari es dan masuk ke dalam. Butiran salju langsung menyapanya begitu ia masuk ke dalam kamar yang mirip dengan Igglo itu.
"Ice?"
Sunyi. Hanya desiran salju yang terdengar disitu. Sosok itu menghela nafas sembari keluar dari kulkas raksasa tersebut. Dikibasnya jaketnya yang dipenuhi tumpukan salju sembari berjalan menuju sebuah pintu berwarna hijau dengan beberapa bunga Edelweiss di sekelilingnya.
Sosok itu mengulurkan tangannya. Dibukanya pintu itu dan mendapati kamar yang lebih cocok disebut 'Hutan belantara'di baliknya. Tampak sesosok pemuda cilik berpakaian serba hijau muda dan hijau tua dengan simbol tanduk-tanduk kecil di bajunya tengah duduk di atas sebuah cabang pohon berukuran sedang di kamar itu. Topinya yang berwarna senada dengan bajunya diputar ke sebelah kiri. Ia melamun di atas pohon sembari memegang setangkai bunga mawar merah berduri di tangan kanannya. Dihirupnya wangi mawar itu dengan khidmat. Namun lamunannya buyar begitu melihat pemuda berpakaian serba hitam-putih di ambang pintu. Sontak ia terkejut hingga nyaris terguling dari cabang pohon itu.
"Alamak! Balance, kau buat aku kaget lah," tukasnya. "Nasib baik aku tak jatuh tadi."
Balance tidak menggubrisnya dan hanya menatap cuek. Pemuda cilik di pohon itu bertanya padanya.
"Apasal kau masuk kat sini? Nak main ke?"
"Pecahan-pecahan kau belum balik selama lima hari," kata Balance datar. Mendengar itu, kedua mata hijau daun besar milik pemuda di atas pohon melebar selebar-lebarnya.
"HAH?! LIMA HARI?! Kau gurau ke?"
"Tak. Aku serius. Aku dah tengok kat bilik-bilik diorang tadi, dan diorang tak de dekat sana, Thorn."
"Ehh, Iya ke? Kalau macam tu, jom cuba kita tanyakan dekat Solar. Mungkin sahaja dia tahu kenapa pecahan-pecahan aku belum juga balik. Dia kan budak jenius."
"Hm, betul juga. Jom kita pergi ke bilik dia."
"Eh, kejap dahulu!" Cegat Thorn seraya meluncur ke bawah dengan sebuah sulur durinya dan mendarat di sebelah Balance. "Kau kena pakai ni," ujarnya seraya menyodorkan sebuah kacamata hitam. Balance yang menerimanya hanya memandang tanpa ekspresi.
"Tak payah aku guna benda tu," gumamnya pelan.
Thorn mendesah panjang. "Aih, kau nak mata kau kena radiasi ke? Kalau kau masuk kat dalam bilik Solar guna mata telanjang, bisa-bisa mata kau langsung hangus! Bilik dia tu silau sangat tau."
"Kalau itu pun aku dah tahu dah. Jom kita pergi ke bilik dia."
Keduanya memakai kacamata hitam dan tiba di depan sebuah pintu berwarna jingga campur kuning lemon dengan motif radiasi di sekitarnya. Balance membuka pintu itu. Benar saja. Sekonyong-konyong mereka disambut dengan cahaya super terang disana. Untung saja mereka sudah terlebih dahulu memakai kacamata hitam sehingga kedua mata mereka selamat dari cahaya yang sinarnya hampir merusak retina itu.
Sebuah sosok tahu-tahu muncul di depan mereka dengan gaya seorang superstar. Ia memakai pakaian berwarna putih keabuan dengan beberapa bagian yang berwarna kuning dan jingga. Beberapa logo radiasi menyala tersemat di beberapa bagian bajunya. Topi dinosaurusnya diputar menyerong ke sebelah kiri. Ia memakai kacamata bergaya kontemporer berwarna kuning bening. Thorn dan Balance hanya melongo dibuatnya.
"Oh, Halo! Tumben la korang datang dekat presentasi eksperimen aku ni."
"Lupakan saja, Solar." Balance hanya menatap dingin. "Tak de yang nak tengok presentasi kau."
"Ha'ah. Macam mana nak presentasi kalau tak de audiens?" tanya Thorn polos. Mendengar itu, Solar hanya bisa cengengesan.
"Hehehehe, korang lah yang jadi audiens tu," katanya dengan nada memalukan seraya menarik tangan Balance dan Thorn. "Jom tengok presentasi eksperimen aku! Korang mesti suka."
Tiba-tiba Balance menepisnya. "Maaf, Solar. Tapi kitorang ada pasal serius sekarang, jadi tak boleh tengok presentasi eksperimen kau dahulu."
"Eh?" Solar memegang ujung kacamata kuningnya dengan bingung." Pasal serius apa?"
Thorn memain-mainkan jari telunjuknya. "Ehmm- Pecahan-pecahan kita belum juga balik," katanya kikuk."Balance yang cakap."
Balance mengangguk. "Aku penanggung jawab alam bawah sadar ni. Kalau diorang belum juga balik, maka diri sebenar BoBoiBoy tak kan pernah muncul. Dah lewat lima hari diorang belum balik."
"APA?! DAH LEWAT LIMA HARI?!" Solar memekik. "Patut lah dunia ni sepi sangat. Ternyata diorang belum balik pulak."
"Kau tahu ke sebab diorang pergi lama sangat?" tanya Thorn.
Solar mengangkat bahu. "Jangan tanya aku lah," tukasnya. "Dan- Eih?"
Dia melongo begitu melihat Balance berjalan menjauhi mereka.
"Woi, Balance. Mana kau nak pergi ni?"
Balance tidak menjawab. Lantas Solar dan Thorn mengikutinya hingga mereka tiba di sebuah danau raksasa yang dipenuhi air berwarna biru muda yang menyala. Ketiganya melihat ke dasar danau. Tampak sebuah sosok yang terbaring melayang disana. Kedua matanya tertutup tanda tidak sadarkan diri. Ia mengenakan jaket merah dengan lengan dan celana panjang berwarna coklat. Topi dinosaurus berwarna jingga miliknya terlepas, menampakkan rambut hitam yang melayang-layang diterpa molekul-molekul air danau. Dia... Wujud asli BoBoiBoy.
"Dia sedih ke?" tanya Thorn khawatir. Karena dia tahu, danau yang membentang luas di hadapan mereka ini adalah wujud kesedihan BoBoiBoy yang tertampung. Dan jika BoBoiBoy tenggelam di dalamnya, maka tidak ada yang bisa membantunya untuk naik selama dia belum sadar.
Balance mengambil topi dinosaurus berwarna jingga yang mengambang di permukaan danau sembari memandang tubuh BoBoiBoy yang terbaring di dasar danau itu.
"Dia ditimpa kekalutan yang teramat sangat," ujar Balance tanpa mengubah ekspresi datarnya. "Dia tak kan bangun kalau pecahan-pecahan dia belum cantum semula. Selain itu, aku nak bagi tahu korang perihal beberapa pasal. Ada beberapa perkara pelik yang aku tengok dekat alam bawah sadar dia ni."
Thorn mengerutkan kening. "Apa perkara pelik yang kau maksudkan tu?" tanyanya lugu. "Memori ke?"
"Tepat," angguk Balance. "Selama BoBoiBoy berpecah lima ni, aku boleh rasa sinyal tekanan batin yang hebat, sampai buat dia tenggelam dekat danau ni. Nampaknya diorang tengah berhadapan dengan sesuatu. Dan sesuatu itu terlampau mengerikan buat diri BoBoiBoy."
"Mengerikan?" tanya Solar seraya berkacak pinggang dengan satu tangan. "Sepanjang maklumat yang aku tahu, BoBoiBoy tak takut benda mengerikan. Hantu pun dia mungkin boleh belasah."
Balance menggeleng. "Memang BoBoiBoy tak takut hantu," gumamnya. "Tapi yang dia hadapi sekarang lagi mengerikan daripada hantu. Dia diburu oleh seorang penjenayah pedofilia."
"APA?! PEDOFILIA?!" kedua pecahan elemen baru di depannya terkejut. "Bukanny itu kelainan orang dewasa yang suka hasrat budak kecik ke?"
Lawan bicara mereka mengangguk, membuat mereka terhenyak.
"Seram betul lah! Kita kena bantu diorang sekarang juga!"
"Tahan," cegat Balance. "Korang cuma boleh keluar kalau kondisi dah genting sangat, macam setahun silam masa korang lawan Bora Ra tu. Korang tak ingat ke?"
"Alaaahhh- apasal kitorang tak boleh keluar?" tanya Thorn murung. Tangan aku dah gatal untuk cegat serangan musuh tau."
Solar mendengus. "Balance, Ini kondisi genting lah. Kau nak diorang semua kena belasah ke? Bisa-bisa BoBoiBoy akan trauma seumur hidup kalau kita tak bertindak!"
"Tak. Korang tak boleh keluar dahulu," kata Balance tegas. "Pintu dunia bawah sedar ni hanya akan terbuka kalau kondisi memang dah genting sangat."
"Memangnya pintu tu dah terbuka ke?"
"Belum."
"Alahh... apasal pintu tu belum terbuka?"
"Kan aku dah kata pintu tu hanya boleh terbuka kalau situasi dah bahaya dan makin teruk. Dan-"
Mereka terdiam begitu mendengar sebuah suara yang asalnya dari bawah danau. Ketiga bocah itu melihat tubuh asli BoBoiBoy mengerang gelisah. Ia mengigau.
"Kawan... ka...wan... jangan... berhen... ti... ber... harap..."
Ketiga pemuda di bibir danau itu tertegun. Mereka tahu BoBoiBoy sangat menyayangi teman-temannya. Disaat keadaan kalut seperti itu pun dia masih menyebut-nyebut mereka. Thorn menggigit bibirnya melihat itu, merasa hatinya ditusuk-tusuk oleh durinya sendiri. Solar masih berkacak pinggang, namun jauh di lubuk hatinya ia merasa kasihan juga.
Karena teman sejati akan selalu memikirkan nasib temannya, bukan hanya dirinya sendiri. Bahkan kalau perlu dia akan mengorbankan dirinya untuk temannya itu. Egoisme tidak berlaku disini.
Dahulu BoBoiBoy dan teman-teman dari Pulau Rintis mulai membangun persahabatan itu. Ikatan itu semakin erat sejak mereka selalu bersama-sama melindungi Pulau Rintis dari Marabahaya hingga menjadi kukuh seperti sekarang. Bahkan Fang yang notabene adalah 'Makhluk lain' yang pada awalnya begitu kaku akhirnya dibuat luluh oleh manisnya persahabatan yang diciptakan oleh BoBoiBoy dan teman-temannya itu.
'Harapan, eh?'
Balance melihat itu dengan tatapan datar. Kedua matanya memandang sayu ke tubuh BoBoiBoy di dasar danau seraya bergumam.
"Jangan berhenti berharap, BoboiBoy. Sebab kekuatan utama kau dan kawan-kawan kau ialah itu."
"APA?! KAPTEN KAIZO DAH MENINGGAL?!" jerit Lahap tidak percaya. "Kau gurau ke?!"
Fang menggeleng kuat. "Aku... Aku tidak bergurau, Leftenan. Maafkan aku, Huk... huk..." ia berkata dengan air matanya yang kembali mengalir deras. "Darah Kapten... daya hidup Kapten... disedut Rosaline... tadi. Aku tak... mampu bantu... Kapten... Huhuhuu..."
"Dia Abang kau lah," dengus Lahap dengan mata mulai berkaca-kaca. Bagaimanapun juga dia merasa terpukul juga dengan berita mengejutkan itu. "Baiklah. Aku akan datangi kau dan Kapten sekarang. Korang ada dekat lantai berapa?"
"Delapan puluh... Sembilan..."
"Hrrmmm... tunggu aku sekejap lagi."
"Te- Terima kasih, Leftenan..."
Hologram Lahap pun mati. Fang kembali menghapus air matanya untuk kesekian kalinya. Dipandangnya wajah Kaizo yang terlihat begitu tenang. Fang menempelkan telinganya ke dada kiri sang Kapten, berharap menemukan bunyi detak jantung dari sana, namun harapannya kembali jatuh.
Tidak ada suara detak apapun dari sana. Dan Fang masih belum bisa menerima ini.
Dia marah. Marah sekali. Ingin sekali ia menghajar Rosaline hingga lumat seperti bubur kertas. Tapi dia tahu tindakan itu tidak akan bisa mengembalikan Kakaknya, semarah apapun dirinya saat ini. Fang menatap lamat wajah Kaizo untuk kesekian kalinya seraya mencicit.
"Abang..."
Sudah lama sekali dia tidak memanggil Kaizo dengan sebutan itu.
"Kalau Abang bangun nanti, Pang akan buatkan Abang Sup Lobak Merah favorit Abang."
Fang tahu orang-orang akan menyangkanya gila. Tapi berbicara dengan Kaptennya yang 'tertidur' itu malah membuat emosinya terasa lebih baik. Dibenamkannya wajahnya ke bahu Kaizo, memeluknya.
"Pang sayang Abang..."
Namanya mungkin terdengar aneh. Tapi bagi Kaizo, itu adalah nama terkocak sedunia. Dan mungkin hanya dia dan Lahap saja yang boleh memanggil Fang dengan nama konyol itu.
"Abang Kaizo? Fang? Wuaaahh seronok betul la berjumpa saudara angkat macam korang ni, hehehe. Apa yang korang buat kat sini?"
Eh? Tunggu dulu. Suara itu-
Fang melepas rangkulannya dari Kaizo dan menoleh ke sumber suara. Sekonyong-konyong kedua mata di balik kacamatanya itu membelalak selebar mungkin. Tak jauh darinya, berdiri seorang gadis berpakaian gaun Lolita berwarna pink. Rambut coklat ikalnya dikuncir ke belakang. Si gadis tampak terkejut.
"Oh, kau tekejut, eh? Sori, Fang. Aku hampir lupa kalau kau bukan Ah Ming. Dan Abang Kaizo... dia dah 'senyap' ke? Waahh, bagus lah kalau macam tu. Badan dia tu boleh jadi pajangan baru dekat Istana Patung aku nanti, hihihi."
Fang segera pasang siaga satu. Dipandangnya gadis itu dengan tatapan kaget luar biasa. Ia mencuap dengan nada pelan namun pasti.
"Tak... Tak mungkin! Kau..."
'Kau...'
Bersambung ...
WHAT THE?! Chapter apaan ini? Huhuhuhu (Lupakan kegajean Author) Panjaaaaangggg amaaattt! Solar sama Thorn muncul pula tu, adhuuhhh ..
Solar:" Ish Akak ni. Padahal aku tak nak muncul pula tu."
Thorn:" Betul tu. Gempa dah kalah pun. Habis tu siape? Kitorang lagi selanjutnya ke? Takut la!"
Te-tenang la adek-adek. Kalian lihat nasib kalian di chapter final-final nanti ya, gegehehe ...
Dan lagu bangkit anak muda diatas itu ... hasil versi aku ghehehe. Maaf ya Monsta :')
Terima kasih kepada Dark Calamity Princess atas fanfic 'Boboiboy's Underworld'-nya. ^^ Jadi si Balance muncul deh, hehehe ... Dan umm satu chapter lagi sebelum Season Final. (Ha?! Ada 1 season lagi ke?) Semoga saya bisa lanjutin lagi, hehehe. Silahkan Review jika berminat, ok? ;)
Tetap setia menanti kelanjutannya ya. Love you all, dear readers ^^
