Yeah, i'm back. Setelah sekian lama akhirnya bagian ini kelar juga, hahahaha ... ^^ Maaf kelamaan buat karena banyak urusan keluarga, hehehe ... Maafkan saya ya. :)

Sayangnya setelah ini kita terpaksa berpisah readers ... (Hiks .. hiks ...)

Readers: Haaa?! Memangnya Author mau discontinue kah?!

Ehhh ... tidak juga sih. Gimana jelasinnya ya? Mmm ... mungkin readers bisa baca di akhir bagian ini, hehehe ... ;)

Note: Rating T+, Semi psiko-horror, EYD kurang pas, Gaje dll

Siapakah sosok yang mendatangi Fang di lorong itu? Apakah Lahap berhasil menjemputnya di saat yang tepat? Apakah Papa Zola dan para murid yang ikut bersamanya berhasil keluar dari gedung markas pusat itu? Dan bagimanakah nasib Gempa dan kawan-kawannya? Temukan jawabannya disini ^^


M.A.W.A.R. L.I.A.R

'The Chaotic of Elemental Split'

(Sebuah Kisah Fiksi)

Season 2

.

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

Bagian 19: The Chaotic of Elemental Split

Fang masih memandang gadis berpakaian Lolita tak jauh di hadapannya dengan posisi mulut yang nyaris menganga. Kedua mata merah kehitaman di balik kacamatanya menyalang nanar. Dideliknya gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Tak… Tak mungkin! Kau..."

"Fang, boleh tak kau berhenti tatap aku guna muka pelik macam tu?" potong lawan bicaranya. "Atau mungkin kau dah mulai lupa siapa aku ni. Ckckck- silap cantik lah kau ni. Saudari angkat sendiri pon tak ingat."

Sang pengendali bayang hanya mendengus seraya menekan pelan bagian tengah batang bingkai kacamatanya. Dia memutar tubuhnya sampai akhirnya saling sejajar dengan anak perempuan berpakaian mewah itu.

"Siapa cakap aku lupa? Buruk sangka betul!" kata Fang kesal. "Tak boleh ke kau berfikir positif terhadap orang-orang di sekitar kau? Berhenti tanyakan pasal tak guna macam tu dan bagi tahu aku apa yang kau nak daripada aku, Mimi."

Gadis berpakaian Lolita yang ternyata bernama Mimi itu hanya tersenyum. "Huff, lega. Ternyata kau masih ingat aku," katanya dengan nada pelan namun sinis. "Aku mahukan badan Abang Kaizo. Dia dah 'senyap' kot. Dan barang senyap tak payah disia-siakan, kau kena tahu tu."

Fang hanya bisa mengerutkan kening.

"Maksud engkau?"

"Yahh… kau tahu sendiri. Aku tak suka ada barang bagus yang tebiar. Aku kena awetkan barang tu agar boleh tahan lama. Sini, bagi aku Abang Kaizo sekarang, Fang."

"Kau gila! Kapten Kaizo tu bukan barang, tahu tak?! Aku tak kan bagi dia pada siapapun, termasuk kau! Kau nak apakan dia?"

"Oho, tak de. Aku cuma nak jadikan dia patung manekin dekat bilik istana patung aku je."

Mendengar itu, Fang terbelalak. "Ka- Kau nak jadikan dia patung pajangan kau?!" jeritnya kaget. "Tak waras lah! Aku tak kan biarkan kau perbuat pasal tu dekat Abang aku. Jaga kau, Mimi!"

"Kejam," desis Mimi sarkastik. "Kau nak badan dia yang dah tak bernyawa tu terhapus dengan cara terhodoh dekat tanah, Heh? Mengerikan! Wajah dia yang lawa tu mesti akan tersia-siakan. Bagi dia dekat aku sekarang juga!"

"Grr- aku tak kan biarkan kau apa-apakan Abang aku! SEPARA BERUANG BAYANG!"

Lantas Fang menciptakan sebuah bayangan berbentuk beruang raksasa dan bergabung dengannya, membuatnya seakan tengah memakai sebuah armor beruang hitam. Dia mengambil ancang-ancang seraya membuka kedua cakarnya lebar-lebar.

"HEAAAAHHH!"

Diterjangnya Mimi dengan armor beruang bayang itu, berusaha mencakarnya. Mimi menghindari serangan itu dengan gesit. Ditariknya beberapa pisau lempar dari saku gaun Lolita-nya dan melemparkannya pada Fang.

"Oho, nak lawan rupanya. Tak pe. Tapi aku tetap akan paksa kau bagi dia dekat aku, Hihihihahahahaha!"

"Tch, aku tak kan bagi Kapten Kaizo pada siapapun! CAKARAN BAYANG!"

BLAAAASSHHHH!

Mimi membelotkan serangannya dan mendarat di atas lantai dengan anggun. Diraihnya beberapa pisau lempar lagi dari saku bajunya. Namun sebelum ia melanjutkan serangan, ia menggumamkan sesuatu.

"Martha, kau boleh serang dia sekarang."

'Baik, Tuan Puteri.'

Tepat setelah ia mengatakan itu, sebuah tangan keras menerjang ke arah Fang. Fang menghindar dan terbelalak melihat tangan yang melesat ke arahnya itu sudah menghancurkan dinding di belakangnya. Detik berikutnya, tangan itu terbang mundur, kembali pada sebuah sosok boneka bergaun hijau di sebelah Mimi. Sang pengendali bayangan menelan ludah melihatnya.

"A- Apa… Apa benda tu?!" pekiknya kaget sekaligus ngeri.

"Ahaha, yahh- aku lupa bagi tahu kau tentang satu pasal," kekeh Mimi. "Aku boleh kawal boneka-boneka aku guna satu cecair temuan Moeder aku, walaupun aku bagi modifikasi sikit. Nama dia tu cecair Mind Puppet. Fungsinya tuk mengendalikan benda apapun, termasuk Makhluk Hidup. Aku masukkan cecair tu ke dalam badan-badan patung aku. Dengan cara tu diorang boleh aku kawal sesuka hati. Macam suruh lah, apa lah. Oh, ya. Ini salah satu patung yang aku masukkan cecair tu kat badan dia. Nama dia Martha. Hehehe, hebat tak temuan Moeder aku?"

"Tak hebat sangat," sindir Fang dingin. "Kau nak kawal semua makhluk dekat seantero semesta guna cara macam tu? Ciz, kau lagi kejam dari Bora Ra tau! Sekarang biarkan aku dan Abang aku pergi dari sini. Kalau tak-"

GRAAAAKKK!

"Argh!"

Kedua tangan Martha yang keras tahu-tahu sudah ditembakkan ke arah Fang, mengenai kedua pergelangan Fang dan menghempas anak itu ke dinding belakang sekaligus mengunci kedua tangannya disana. Fang terkejut dan berusaha membebaskan diri. Tapi tangan-tangan boneka manekin itu kerasnya bukan main. Pemuda itu menjadi kepayahan dibuatnya. Pandangan matanya berubah menjadi horor begitu melihat Mimi berjalan ke arahnya dengan pelan namun pasti. Dihunuskannya sebuah Pisau di tangan kanannya, menambah kengerian yang berkecambuk di dalam benak Fang.

'Dia nak hapuskan aku ke?!' batinnya. 'GILA!'

Begitu jarak antara mereka hanya sehasta, sekonyong-konyong Mimi membuang tubuhnya kearah Fang. Dirangkulnya leher bocah itu dengan satu tangan sementara tangan satunya lagi yang sedang memegang pisau dihujamkan ke tembok tepat di sebelah kanan Fang. Jantung Fang hampir copot karenanya. Dia bersyukur bahwa Pisau itu tidak sampai menancap ke mukanya.

"Hmm- kalau difikir-fikir, kau pun lumayan, Fang," tukas Mimi dengan nada ceria. Dilepasnya tangannya yang memegang pisau yang tengah menancap di samping kepala sang pengendali bayang dan meraba pipi kanan Fang, membuat pemuda tu merinding. Bagi Fang, tangan Mimi terasa dingin sampai ia nyaris mengira bahwa gadis itu adalah mayat hidup.

"Lumayan apa?!" desisnya kesal. "Kau ingat aku akan bagi badan aku ni buat proyek pelik kau tu? Kau mimpi je lah. Lepaskan aku!"

"Ckckck, dasar budak lelaki. Selalu sahaja keras kepala macam ni."

"Budak perempuan macam kau keras kepala juga tau! Kau ni tak de Cermin ke? Pergilah bercermin dan bagi tahu aku kalau perempuan dekat cermin tu lagi gila dari yang kau bayangkan. Nasib baik peragai BoBoiBoy tak macam kau, Dasar Psikopat!"

Mimi tersentak.

"Bo- BoBoiBoy?!" jeritnya tertahan. "Kau... Kau kenal dia ke?!"

"Ye lah tu. Dia rival dan kawan aku dekat Pulau Rintis. Dan-"

Kalimatnya buntung begitu ia melihat perubahan ekspresi di wajah Mimi, dari yang tadinya ceria menjadi dingin bak es batu. Fang menelan ludah. Sesuatu yang mengerikan tahu-tahu muncul di benaknya begitu gadis berpakaian Lolita di hadapannya ini mulai menggeram marah.

"Fang, kau..." Mimi mendekatkan bibirnya pada telinga kiri Fang, berbisik. "Berani korang ambil dia dari aku?!"

'Eh?'

Untuk beberapa saat Fang mematung setelah mendengar bisikan tajam itu. Dari nadanya yang dingin, pemuda itu bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sedang marah besar.

"Kau… Kau dan budak-budak payah dekat Pulau Rintis tu..." kali ini Mimi memandang Fang dengan tatapan benci. "Korang dah ambil dia… Korang dah ambil BoBoiBoy… KORANG DAH AMBIL BOBOIBOY DARI AKU, TAHU TAK?!"

JRAAASSHHH!

"AAAAGGHHH!"

Fang memekik ketika Mimi tahu-tahu sudah menikam bahu kanannya dengan pisau. Darah segar memercik ke dinding di belakang Fang. Ia meringis hebat. Giginya menggeretuk menahan rasa sakit yang luar biasa dari bahunya itu. Dipandangnya Mimi dengan tatapan nanar.

"Mi- Mimi… kau…" desis Fang dengan wajah tersiksa. "Setan apa… yang dah rasuki kau, Hah?! Sampai… tikam bahu aku… macam ni pulak!"

Namun Mimi seakan tuli. Ia masih menggeram murka di depan Fang. Ditatapnya sang pengendali bayang sejenak sebelum akhirnya ia melayangkan pisaunya kembali.

"UAAAAARRRGGHHH!"

Untuk kedua kalinya belati tajam itu menghujam ke dalam bahu kanan Fang, membuat luka yang cukup lebar disana. Dan bagaikan kesetanan, Mimi mulai memutar-mutar pisaunya di bahu kanan pemuda itu sehingga menambah penderitaannya.

"Korang dah ambil dia dari aku… KORANG DAH AMBIL DIA DARI AKU!" jerit gadis itu kalap. "Bila korang nak bagi dia dekat aku walau sekejap, Hah?! Sejak BoBoiBoy pindah ke Sekolah rendah Pulau Rintis dan mulai berkawan dengan korang yang ingusan ni, lambat laun dia mulai lupakan kawan-kawan lama dia… termasuk aku… Sebab korang… SEBAB KORANG DIA PERGI TINGGALKAN KAMI!"

"Arggghh… Mimi... cu... cukup… Kau dah… melampau!"

"Cukup, eh? Kau kata ini cukup?! Ini belum la cukup untuk balaskan dendam aku pada korang! Nama-nama korang tu: Ying… Yaya… Gopal… Fang… nama-nama tu dah basuh Otak dia! Aku tak kan biarkan korang rampas dia dari aku!"

Fang meringis kalut. Pandangannya mulai berkunang-kunang akibat darahnya yang terbuang banyak lewat bekas tikaman pisau Mimi di bahu kanannya. Gadis di depannya ini semakin menggila. Tapi Fang masih bernasib mujur. Seandainya bahu kirinya yang ditikam, maka darah segar dari pembuluh arterinya akan memancar, dan itu akan segera membunuhnya dalam sekejap karena tubuhnya yang kehabisan darah, atau mungkin saja Mimi memang sengaja menikam bahu kanan Fang terlebih dahulu agar pemuda itu mati perlahan-lahan. Dan itu sudah pasti akan terasa amat menyakitkan. Dan bagi Mimi, melihat dan mendengar jeritan orang yang mati pelan-pelan adalah sesuatu hal yang menurutnya cukup menyenangkan.

"Mimi… be- berhenti…" Fang berusaha menyadarkan gadis itu agar tidak terus mengorek bahu kanannya. Ia sadar suaranya mulai melemah. Namun Fang tidak peduli. Dengan sisa tenaganya ia masih berusaha membujuk Mimi. Dari sikap lawannya ini, Fang mengira-ngira bahwa semua ini ada hubungannya dengan BoBoiBoy. Tapi hubungan apa itu? Yang jelas, sang pemuda berkacamata itu bisa menangkap siatuasinya yang sedang berada dalam bahaya sekarang.

"Kau nak aku berhenti, eh?" kali ini wajah Mimi dihiasi senyum getir yang lebih mendekati seringai psikopat. "Aku akan berhenti kalau BoBoiBoy balik dekat kami. Tapi nampaknya itu tak kan terwujud sekarang. Jadi apa kata kalau kau dan kawan-kawan kau jadi koleksi manekin aku dahulu sebelum dia, hmm? Atau mungkin dia dahulu, korang kemudian, ehehe..."

"Aku tak kan … biarkan kau … jumpa dia…" balas Fang sengit. "Dan aku tak kan biarkan kau… jadikan aku dan Kapten Kaizo bahagian dari koleksi patung… pelik kau!"

"Sori, Fang. Kau dah terlambat, hihihi… jadilah bahagian dari koleksi aku, Hehehehahaha!"

Tepat setelah mengatakan itu, Mimi membidikkan belatinya ke dada kiri Fang dimana jantung anak itu berada. Dengan pasrah Fang memejamkan matanya. Sekonyong-konyong sebuah teriakan menggelegar membuatnya terkejut.

"TEMBAKAN PLASMA!"

KABOOOOOOOMMMMMM!

Sebuah tembakan plasma berwarna hijau ditujukan ke arah Mimi. Gadis itu terkejut dan mencabut pisaunya dari bahu Fang. Dengan anggun ia menghindari tembakan itu dan menatap ke asal tembakan. Tampak Sesosok makhluk besar berwarna ungu tak jauh darinya yang menembakkan Plasma itu tadi. Fang membuka matanya dan melongo melihat makhluk itu.

"Leftenan… Lahap?"

"Pang!" Lahap mendekati Fang dan mencabut tangan-tangan manekin yang menahan pemuda itu di dinding. "Ingatkan kau dah habis."

Dia mengatakan itu karena melihat bahu kanan Fang yang terluka parah akibat ditikam pisau berkali-kali. Ajaibnya, anak itu masih hidup sehingga Lahap merasa lega. Setidaknya ia masih sempat menyelamatkan Adik Kaptennya itu. Mimi memandang mereka dengan tatapan datar.

"Umm, Tamu tak diundang ke?" tukasnya seraya menatap Lahap lamat. "Pengganggu betul lah kau ni."

"Errrhhh- kau tak kan boleh lawan aku!" balas Lahap seraya membuka mulutnya lebar-lebar. "TEMBAKAN PLASMA BERTUBI-TUBI! BUAAAAAAAHHHHH!"

PYAAARRRR!- PYAAAARRR!- PYAAAAAAAARRRRRR!

Timbullah ledakan kecil akibat serangan dahsyat dari Alien berkulit ungu itu. Namun pasca ledakan itu terjadi, Mimi sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi. Rupanya gadis itu sudah keburu kabur sebelum ledakan itu berakhir.

"Hish, dia dah kabur?!" ujar Lahap berang. "Penakut kau! Aku akan kejar kau sampai-"

Tarikan tangan kiri Fang membuatnya terdiam.

"Leftenan… tak payah… urus dia sekarang…" cegat Fang. "Macam mana… dengan Kapten?"

"Aku dah bawa badan dia masuk ke dalam Kapal Angkasa," kata Lahap seraya mendelik ke pesawat angkasa Kaizo yang terbang sejajar lantai enam puluh gedung markas pusat ONION. "Dan kondisi kau pun dah parah. Cepat! Darah kau dah berkurang sangat tau! Satu lagi. ONION dah tahu kita tak minat buat join mereka. Mesti mereka akan kejar kita!"

"Eh, betul juga…" gumam Fang pelan. "Jom kita bergerak... sekarang..."

"FANG!"

Fang dan Lahap menoleh ke sumber suara dan terkejut. Terlihat sebuah gerombolan berlari ke arah mereka. Gerombolan itu adalah Papa Zola, Ochoboy, Milyra X dan Milyra Gamma, empat pecahan BoBoiBoy dan siswa-siswa kelas 7 cerdas: Kevin, Amar deep, Iwan dan Stanley. Mau tidak mau Fang dan Lahap terkejut setengah mati melihat penampakan mereka yang terburu-buru itu.

"Kawan-kawan? Cikgu Papa?" tanya Fang kaget. "Bila masa kalian masuk ke dalam gedung ni?"

"Sebenarnya kami tengah berlari dari kejahatan," tukas Papa Zola dengan logat khas 'Kebenaran' miliknya. "Dan merupakan suatu kemujuran bila Kebenaran telah retaskan sistem keamanan gedung ni, Hahahahahaaa!"

"Eh? Bila masa Cikgu Papa-"

"Jangan tanya dia," potong Ice datar. "Kau akan bosan dengar cita-cita Cikgu Papa tu."

"Betul tu," ungkap Taufan. Tiba-tiba ia terkejut melihat luka lebar di bahu kanan Fang. "Eh? Bila masa kau luka parah macam ni?"

Lahap mendesah. "Dia dilukai lawan dia tadi," katanya.

"Hah? Lawan siapa?" pekik Blaze kaget.

"Sudah. Nanti sahaja kita bahas pasal tu," dengus Halilintar. "Sekarang masanya kita pergi dari sini."

Dia berkata begitu seraya melirik ke jendela pecah di lantai enam puluh itu akibat ditabrak Rosaline hingga pecah berkeping-keping. Melihat kelakuan pecahannya yang seakan hendak mengatakan "Aku akan menjatuhkan diriku dari jendela itu menuju ke halaman bawah" seperti itu mulai membuat Taufan merinding.

"Ha- Halilintar… kau tak berminat untuk terjun lewat tingkap tu, kan?"

"Akan kulakukan."

"APA?!" kata Papa Zola ngeri. "Jangan lah Kebenaran disuruh terjun bebas macam tu! Kau nak Cikgu ni mati mengenaskan, Haaahhh?!"

"Ish Cikgu ni. Lift dekat Gedung ni tak boleh dipakai lagi. Kita kena terjun kat bawah tu agar tak buang banyak masa."

Lahap mendesah panjang. "Korang tak payah nak terjun bebas buat keluar dari Gedung ni," katanya seraya membantu Fang berdiri. "Aku akan bawa korang dengan Kapal Angkasa Kapten Kaizo buat keluar dari sini. Lagipun luka Pang harus segera diubati. Darahnya keluar banyak sangat."

Ochoboy mengangguk. "Uhm! Dan kau pun boleh bawa kami ke halaman depan kat bawah tu. BoBoiBoy Gempa,Yaya, Ying, Gopal dan murid-murid perempuan darjah 7 cerdas dah menunggu kat sana. Boleh tak?"

"Hmm- ye lah, ye lah."

"Yeah! Terima kasih banyak, Lahap!" ujar Milyra Gamma gembira. Tahu-tahu ia ambruk, membuat semuanya yang ada disitu terkejut.

"Mila!" Ochoboy mendekati gadis itu dengan khawatir. "Kau tak pe?"

Namun tepat setelah ia bertanya begitu, Milyra X juga ikut ambruk. Keduanya mengerang antara sadar dan tidak sadar.

"A- Apa jadi ni?!" tanya Taufan panik. "Mereka berdua jadi pusing lagi. Korang tak pe kah?"

"Ugh… nampaknya… Infra… dalam masalah… teruk…" ujar Milyra X lemah sebelum akhirnya tubuhnya menghilang, pertanda bahwa ia kembali satu dengan Milyra Infra dibawah yang tanpa mereka ketahui telah pingsan akibat bertarung melawan Rosaline di halaman depan. Milyra Gamma melakukan hal yang sama. Setelah kedua pecahan gadis succubus itu lenyap dari hadapan mereka, Ochoboy merasakan sebuah firasat buruk.

"Diorang berdua dah cantum semula dekat Milyra Infra. Dan Milyra Infra saat ini tengah berada bersama BoBoiBoy Gempa, Yaya, Ying, Gopal dan murid-murid perempuan kat halaman depan gedung," gumamnya curiga. "Mesti ada sesuatu yang tak selesa kat bawah tu. Tapi apa?"

"Yang jelas kita kena menumpang dahulu dekat Kapal Angkasa Kaizo," ungkap Stanley. "Biar kita boleh rehat kejap sekaligus Lahap hantar kitorang menuju kawan-kawan lain yang tengah menunggu dekat bawah gedung ni."

"Okey!"

Mereka semua pun masuk ke Pesawat Angkasa milik Kapten Kaizo yang saat itu tengah melayang menepi ke jendela pecah di lantai 89 itu. Setelah semuanya masuk, Lahap menerbangkan pesawat itu menjauh dari gedung markas ONION. Papa Zola dan murid-muridnya menghembuskan nafas lega karena sadar mereka telah lolos dari kepungan musuh.

"Akhirnya kita dah berhasil keluar dari gedung Markas ONION," tukas Amar Deep lega.

"Betul. Aku tak boleh bayangkan kalau para penjenayah tu sampai berjaya tangkap kita," kata Kevin.

"Um!" Iwan mengangguk tanda setuju.

"Masalahnya hanya satu," gumam Stanley. "Aku rasa gedung tu sepi sangat, walaupun alarm tanda penyusup dah berbunyi. Pelik tak?"

"O- O- Ooo... Tunggu kejap. Apakah kalian lupa bahwa Kebenaran telah membuat mereka ketakutan, Haaaahhh?!" Papa Zola tiba-tiba menginterupsi, membuat anak-anak muridnya menjatuhkan diri mereka masing-masing ke lantai.

"Pulah," desis Halilintar ling-lung.

"Tak kelakar lah Cikgu," kata Taufan sweatdrop. Sekonyong-konyong ia melongokkan kepala ke kanan-kiri.

"Eih? Mana Blaze, Ice, Ochoboy dan Fang?"

"Hmm, diorang tengah pergi ke bilik pemulihan. Blaze kena berehat sebab badan dia masih sakit lepas dibelasah Rosaline semalam, jadi Ice pon nak temankan dia. Fang pula kena diobati sebab luka dekat bahu dia makin parah je. Ochobot pun nak jenguk diorang."

Taufan melongo. Dia dan Halilintar pun diserang Rosaline setelah ditangkap wanita itu. Untung saja kondisi badan mereka kini jauh lebih baik. Tapi sebab Fang terkena luka separah itu, ia masih belum mengerti.

"Halilintar, kau nampak luka Fang semasa kita jumpa dia tadi, tak?"

"Ehh... nampak? Ada soalan teruk kah"

"Tak de, hehehe... aku cuma hairan je. Dari luka dia yang lebar tu, Dia macam lepas kena tusuk pisau. Kau tak rasa pelik ke?"

"Sebenarnya aku pon rasa pelik. Mesti ada seseorang yang buat benda tu ddkat Fang. Ada yang kau curigai?"

Taufan mengangkat bahu. "Entah. Tapi aku cuma rasakan satu perkara yang janggal. Nampaknya kita kena tanyakan pasal ni dekat Fang selepas dia pulih balik nanti."

Sementara Halilintar, Taufan, Papa Zola dan siswa-siswa lelaki kelas 7 cerdas bercengkerama di serambi kanan pesawat angkasa Kapten Kaizo, Lahap mengurus luka di bahu Fang. Ochoboy mengunjungi mereka. Tampak Fang yang duduk di atas sebuah kursi pasien dan baru saja diobati. Bajunya dilepas, menampakkan balutan-balutan perban yang melilit bahu kanannya. Untungnya Lahap bekerja cepat. Kalau tak, maka Fang pasti sudah mati karena kehabisan darah.

"Fang, macam mana keadaan kau?" tanya Ochoboy sembari mendekati Fang. Fang menghela nafas panjang. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Ochobot," katanya kemudian. "Aku nak tanyakan satu soalan. Selain Rosaline, kau punya hubungan dengan member lain dekat ONION tak? Macam kawan ke, kerabat ke."

"Eh?" Ochoboy mengerutkan kening." Setahu aku tak. Aku dah kenal Rosaline lama, lagi tepatnya selepas aku dinobatkan jadi Sfera kuasa Generasi kesembilan. Aku tidak kenal lagi ahli Supreme Diamond selain dia. Sebab selama ini cuma dia je yang menonjol kat Organisasi tu. Lepas tu, aku tak tahu apapun lagi. Lagipun selama ni ONION tak pernah umbar-umbar jati diri mereka di muka umum, jadi mestinya identiti diorang susah untuk dibongkar."

Fang mengangguk-angguk. "Okey. Aku faham," ucapnya datar. "Ah, ya. Satu lagi. BoBoiBoy pernah bagi tahu kau pasal Mimi ke?"

"Ha? Mimi?" tanya Ochoboy heran. "BoBoiBoy tak pernah cakap sepasal pun soal dia. Aku pun tak tahu siapa dia tu. Kau kenal dia ke?"

"Dia saudari angkat aku masa Abang aku ditugaskan dalam suatu misi kat Bumi dahulu," jelas Fang. "Masa tu aku masih tadika lagi, dan Abang aku dah berumur tiga belas tahun. Sebab Ayah dan Mak aku tak diketahui keberadaannya, aku pun join dengan misi-misi Abang Kaizo. Salah satu atasan dia mewajibkan dia tuk mengambil keluarga angkat dekat Bumi masa tu. Gunanya untuk mengawasi Kaizo. Dan selepas seleksi yang ketat, akhirnya Ayah Mimi yang terpilih untuk mengangkat aku dan Abang sebagai anak-anak dia sampai misi kami selesai."

"Wuaahhh- hebat lah!" puji Ochoboy kagum. "Tapi apa hubungan semua ini dengan BoBoiBoy?"

Lawan bicaranya merendahkan suaranya sembari celingukan, berharap tidak ada pecahan BoBoiBoy yang menguping disitu. Setelah dirasa aman, ia berbisik. "Aku jumpa Mimi sebelum Lahap dan korang jumpa aku. Peliknya, masa aku cakap BoBoiBoy ialah kawan aku, Mimi langsung marah besar. Sebab tu lah dia serang dan tusuk bahu aku pakai pisau. Maka dari tu, aku tanya kau soalan ni. Tapi nampaknya BoBoiBoy tak pernah bagi tahu relasi dia dengan Mimi. Kenapa dia sembunyikan pasal tu dari kitorang?"

Ochoboy menggaruk pipinya. "Aku rasa dia memang tak sembunyikan pasal tu," ujarnya. "Sebab kalau iya, mesti kita dah curiga sejak dahulu. Aku rasa dia lupa je."

"Lupa?"

"Iye lah. Kau tak ingat ke kalau BoBoiBoy tu pelupa? Berkemah dan luangkan masa dengan aku sebelum askar Tengkotak culik aku dua tahun silam pun dia sempat lupa, apalagi pasal dengan orang lain!"

"Eh, betul juga tu. Maaf, Ochobot. Jadi macam mana ni? Aku bagi tahu pasal ni dekat BoBoiBoy sekarang ke esok sahaja?"

"Esok je lah. Sekarang ni kondisi lagi teruk tau! Lagipun BoBoiBoy belum tentu ingat Mimi dalam situasi macam ni."

"Hmm, baiklah kalau begitu. Lepas balik sekolah nanti, kita bagi tahu dia."

Tahu-tahu Ochoboy teringat sesuatu. "Aha! Fang, aku belum pernah tengok Abang kau lagi," katanya. "Aku nak jumpa dia, boleh tak? Dari tadi aku belum tengok dia pon. Mana dia?"

Pertanyaan polos Sfera kuasa generasi kesembilan itu langsung membuat Fang syok. Digigitnya bibir bawahnya, menahan luapan kesedihan di dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang dan menoleh.

"Kau nak jumpa Kapten Kaizo?"

"Hehehe, ye lah tu. Ada masalah ke?"

"Hmm, baiklah. Tapi jangan terkejut ye kalau kau tengok situasi dia sekarang."

"Ai'? Memangnya kenapa? Bagi tahu lah, bagi tahu."

Fang meringis. Dia tidak ingin mengumbar kesedihannya pada orang lain, terutama teman-temannya sendiri. Namu melihat puppy eyes milik Ochoboy yang semakin menjadi-jadi membuatnya merasa tidak punya pilihan lain. Pelan-pelan ia turun dari kasur rawatnya dan mendelik ke arah Ochoboy.

"Ikut aku."

Ice berbincang santai dengan Blaze di salah satu ruang istirahat. Blaze masih saja mengerang. Sekonyong-konyong ia merangkul Ice erat-erat karena ketakutan.

"Ice... aku takut..." bisiknya lirih. "Aku takut terkena perkara teruk macam tu lagi... aku tak nak! Huhuhuhuuu-"

Tangisnya pecah. Dieratkannya rangkulannya pada pecahannya yang berelemental es itu. Ice terperangah sejenak, lalu balas merangkulnya.

"Tak pe, Blaze. Aku kan ada. Jangan menangis," balasnya sembari memejamkan mata, membiarkan Blaze membanjiri bahunya dengan air mata. Sang pengendali Es memandang Blaze dengan tatapan bersalah. Ya, bersalah. Karena bagaimanapun juga, Blaze yang mendapat serangan paling gila diantara mereka berempat. Tentu saja dia merasa begitu tertekan dengan semua ini. Setelah tangisan bocah itu mereda, Ice pun membuka mulut.

"Blaze."

"Um?"

"Maaf."

"Eih? Apesal kau minta maaf ni?"

Ice mendesah berat. Ditatapnya Blaze yang sudah melepas rangkulannya dan kembali duduk manis di atas ranjang. Melihat kedua mata jingga polos sembab karena baru saja menangis itu membuatnya semakin tidak enak hati.

"Maaf sebab dah buat korang ikut dihasrat sama Rosaline tu. Terutama kau. Dia belasah kau lagi parah dari yang lain. Sebab aku, korang sampai repot datang kat sini dan susah-susah lawan penjenayah-penjenayah tu. Maafkan aku."

Ditariknya ujung topinya hingga semakin menutupi wajahnya yang penuh rasa bersalah. Blaze melongo sejenak melihat tingkah Ice. Sebenarnya dia setuju saja bahwa sebab dari semua ini adalah kecerobohan Ice hingga ia bisa tertangkap dan dibawa ke tempat itu. Tapi Tok Aba selalu menasihati BoBoiBoy untuk tidak mengungkit masalah yang sudah lewat. Blaze terkekeh seraya menepuk bahu Ice pelan.

"Hehe, tak pe lah. Kau dah macam Adik aku sorang kot," hiburnya. "Seharusnya aku yang disalahkan."

Mereka pun terdiam. Hanya suara tarikan nafas yan terdengar. Beberapa menit kemudian, Blaze akhirnya membuka pembicaraan.

"Oh, ya. Ice, Kau pernah dengar satu bilik bernama 'Istana Patung', tak?"

Ice mengangkat wajahnya." Istana Patung?" tanyanya heran. "Apa benda tu?"

"Err, itu nama suatu bilik yang pernah aku masuki masa susup Markas ONION semalam," jelas Blaze riang. "Kebanyakan diisi patung manekin je. Padahal aku nakkan patung Teddy. Sayangnya bilik tu mengerikan sangat! Patung-patung tu boleh hidup!"

"Eh? Hidup? Bila masa Patung boleh hidup? Ini mesti cuma halusinasi kau je."

"Hish, aku serius lah!"

"Hmp, Kau begurau je."

"Apa kau cakap?!"

Keduanya adu mulut sampai akhirnya Ochoboy masuk ke ruangan itu diikuti oleh Fang yang bahu kanannya diperban. Rupanya Lahap baru saja mengobati lukanya. Sekarang Alien ungu itu tengah membereskan peralatan obat-obatan itu.

"Ai'? Apehal korang ni? Begaduh pula," dengus sang Cyborg dengan nada gusar.

"Dia ni, Ochobot. Tak nak percaya dekat cerita aku," rajuk Blaze sembari menuding Ice.

Fang menghela nafas. "Apa yang korang bincangkan sebenarnya?"

"Dia tadi bagi tahu kalau patung-patung Manekin dekat Markas ONION tu boleh hidup. Tak wajar lah," ujar Ice membela diri, membuat Fang terkejut.

'Patung Hidup? Mungkin sahaja patung yang dimaksud tu ialah patung manekin milik Mimi yang serang aku tadi,' batinnya menebak. Entah mengapa ia seperti diingatkan lagi dengan pertarungannya dengan Mimi tadi. Gadis itu bisa mengendalikan boneka-boneka miliknya dengan sebuah temuannya: Ramuan kontrol. Dia hendak memberitahukan ini pada pecahan-pecahan BoBoiBoy itu. Sayang sekali dia tidak bisa melakukan itu sekarang karena ia dan Ochoboy sudah sepakat untuk memberitahu BoBoiBoy esok hari saja.

"BoBoiBoy Ice, maaf. Tapi boleh tak kau ikut aku sekejap ke bilik utama?"

"Ada apa?" tanya Ice heran.

"Aku nak... jumpa Abang aku..."

Fang merasa sebuah batu gunung menyumbat tenggorokannya begitu ia mengatakan hal itu. Tapi karena gengsi, sebisa mungkin ia tidak menangis di depan para pecahan rival-nya.

"Aku nak ikut, boleh?" Blaze bertanya sekali lagi.

Ochoboy menggeleng."Tak boleh," katanya. "Badan kau masih sakit, Blaze. Kau kena berehat."

"Tak nak! Aku nak tengok- Agh!"

Rasa sakit itu muncul lagi. Blaze meringis kecil. Dia tahu badannya belum pulih betul. Namun kemauannya sudah terlanjur tidak bisa dibendung lagi. Ia merengek-rengek agar dibolehkan menemui Kaizo. Melihat itu, Ice segera menawarkan diri.

"Kalau kau nak, aku boleh papah kau pergi ke bilik Kapten Kaizo," tawarnya, membuat mata Blaze berbinar-binar.

"Eh, ye ke? Wuahhh- terbaik la kau ni, Ice."

Ice membantu Blaze berjalan di atas kedua kakinya dan mengekor Ochoboy dan Fang. Lahap ikut setelah membereskan alat-alat di ruang kesehatan. Mereka melewati ruangan dimana Halilintar dan Taufan bersama Papa Zola serta kawan-kawan kelas 7 cerdas berada. Kedua pecahan BoBoiBoy yang pertama dan kedua itu terheran-heran melihat mereka melintas disitu.

"Korang nak pergi kat mana ni?" tanya Halilintar.

"Ke bilik Kapten Kaizo," balas Ice pendek. Mendengar itu, Taufan terkejut.

"Eh, iya tu. Aku belum tengok dia lagi," ucapnya riang. "Kitorang nak ikut!"

"Ye lah, Ye lah. Korang boleh ikut, Cik Adik," balas Lahap menggerutu.

"Hahahaha, Kebenaran pun ingin berjumpa dengannya," kata Papa Zola segera dan langsung didukung anak-anak muridnya. Wajar saja karena mereka belum pernah bertemu dengan Kapten Kaizo secara langsung.

"Ehh, tapi korang jangan kaget ye masa berjumpa dengam dia nanti," kata Lahap gugup.

Papa Zola mendecak. "Ckckck, Kebenaran kena tengok Kapten kau tu, apapun yang terjadi."

Fang diam saja. Dia menyembunyikan kesesakan emosinya akibat kondisi Abangnya saat ini. Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah pintu besar Dengan gemetar ia melangkah masuk diikuti semuanya. Langsung saja mereka disambut oleh sebuah pemandangan aneh disana.

Tak jauh di depan mereka terbaring tubuh dingin Kaizo diatas sebuah ranjang panjang nan tebal. Kedua matanya terpejam. Wajahnya tenang, seakan ia sedang tertidur. Ia masih mengenakan baju pilot tempur angkasanya. Sepertinya Lahap begitu terburu-buru membawa tubuh Kaizo kesini sehingga tidak sempat menggantikan baju Kaizo dengan jubah putih alias 'Baju Kematian'. Mereka terheran-heran. Mengapa Fang membawa mereka untuk menemui Kapten Kaizo yang sedang tertidur?

"Fang, Abang kau masih tido lah. Kami tak enak diri buat ganggu dia tau," kata Taufan sangsi.

"Akhirnya Kebenaran boleh berjumpa dengan dia," tukas Papa Zola. "Tapi APASAL KAU BAWA KAMI KAT SINI MASA DIA TERTIDUR HAAAA?!"

Fang menelan ludah. "Ma-Maaf, Cikgu. Maaf, Kawan-kawan... Sebenarnya..."

Suaranya tercekat, menyumbat kerongkongannya. Mulutnya terasa kelu akibat dadanya yan terasa begitu sesak. Ia menaik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Detik berikutnya, ia menggumam tanpa melihat ke arah teman-temannya. Bulir-bulir air matanya mulai menghiasi pipi.

"Sebenarnya... Abang Kaizo... su- sudah meninggal."

"APA?!"

Semuanya terbelalak hebat, kecuali Fang dan Lahap. Mereka pasang tampang tidak percaya begitu mendengar apa yang dikatakan pemuda pengendali bayangan di hadapan mereka.

"LAWAK KARUT APAKAH INI?!" jerit Papa Zola kaget. "Ingatkan kamu bawa Kebenaran kesini untuk melayat, Haaaahhhhh?!"

"Fa- Fang! Kau... Kau gurau ke?!" tukas Halilintar dengan mata yang hampir meloncat keluar dari rongganya karena terkejut. "Abang kau dah meninggal?! Kenapa bisa?!"

"Tch, Rosaline tu... dia dah hapuskan Kapten Kaizo guna kuasa maut dia..." desis Fang murka." Dia ambil darah dan sedut daya hidup Kapten. Dan selepas tu, Kapten... Kapten tinggalkan aku macam ni..."

Diliriknya wajah Kaizo yang tenang itu. Fang mendesah dengan tangan terjulur, menyentuh pipi dingin abangnya. Detik berikutnya, ia memeluk tubuh yang terbaring itu seraya terisak-isak.

"I- Ini salah aku... SEMUANYA SALAH AKU!" tuduhnya pada dirinya. "Kalau sahaja aku dan BoBoiBoy Blaze tak pergi kat gedung ONIOM tu, Tak kan la benda ni akan berlaku! Aku... Aku... ARGH!"

Dia meninju lantai dingin ruangan itu dengan sesunggukan. Lahap ikut menangis. Papa Zola dan murid-muridnya mematung melihatnya. Mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur kedua 'orang' terdekat Kaizo yang sedang dirundung kekalutan akut itu. Ochoboy mendekatinya dan menepuk bahu Fang. Begitu juga dengan keempat pecahan BoBoiBoy yang mengekor di belakangnya.

"Sudahlah tu, Fang. Kami kan ada," kata Ochoboy simpatik. "Maaf sebab dah buat kau terkena musibah macam ni. Kami tahu kau sedih, tapi kau kena bertahan."

"Betul tu," angguk Blaze. "Kau pernah cakap kalau masalah jangan terlalu diambil hati. Seronokkan lah diri kau."

"Lagipun tak baik meratap macam ni pula," tambah Ice. "Tak baik kita terlampau tangisi kerabat yang telah tiada. Kau kena kuat, Fang."

"Betul lagi benar!" kata Papa Zola menyemangati Fang. "Jangan biarkan kekalutan kuasai diri kau! BANGKITLAH DARI KETERPURUKAN INI, WAHAI FANG ANAK DIDIKKU!"

Fang melongo. Teman-temannya memberinya semangat kini. Dia tersenyum simpul. Memang benar apa yang dikatakan mereka. Dia harus kuat menghadapi apapun. Dihapusnya air matanya dan menatap mereka semua.

"Terima kasih," katanya pelan. "Aku tak kan boleh berjaya tanpa bantuan dari korang."

Halilintar menggumam. "Kita ni kawan kau, Fang. Kami tak kan biarkan kau terpuruk sorang-sorang."

Fang balas tersenyum. Semuanya merasa sedikit lega sekarang. Tiba-tiba Ochoboy merasakan sesuatu yang janggal begitu mengingat-ngingat rencana mereka sebelumnya. Dan ia mengingat kembali saat Milyra X dan Milyra Gamma menghilang tanda mereka telah bersatu dengan Milyra Infra dibawah. Tunggu dulu! Untuk apa mereka semua membuang-buang waktu disini sementara BoBoiBoy Gempa dkk tengah menunggu mereka dibawah? Buru-buru ia menekan tombol Hologram dari matanya untuk menghubungi Milyra, namun nihil. Ia lalu menghubungi Gempa, Yaya dan Gopal, tapi tetap saja tidak dijawab.

'Pelik. Sejak Milyra cantum semula kat bawah gedung dan tak boleh dihubungi, aku rasakan ada yang tak selesa,' batinnya khawatir. Ditatapnya keempat pecahan BoBoiBoy dan Fang lalu menyuruh mereka menghubungi teman-teman mereka yang tengah menunggu dibawah. Tapi sama sepertinya, mereka putus sinyal.

"Nampaknya kita kena pergi ke halaman depan sekarang," ucap sang Sfera Kuasa generasi ke-9 gugup. "Aku baru sedar kalau BoBoiBoy Gempa, Gopal, Yaya, Ying dan murid-murid perempuan mesti dah tunggu kita dekat halaman gedung. Masalahnya diorang tak boleh dihubungi. Mesti ada pasal yang terjadi dekat sana."

Halilintar mendesah. "Kalau macam tu, kita kena turun ke bawah sana sekarang juga," timpalnya lalu menatap Lahap. "Leftenan Lahap, kami nak turun buat jemput Gempa dan kawan-kawan lain yang masih menunggu dekat halaman depan markas ONION."

"Hrrm- baiklah. Tapi Fang dan BoBoiBoy Blaze kena menunggu kat sini. Badan diorang belum pulih lagi."

"Alahh... aku nak jumpa kawan-kawan aku dekat bawah tu," ujar Blaze memelas. Lahap membalas sembari mendengus.

"Ye, lah. Kau boleh ikut turun. Tapi ingat, jangan buat benda macam-macam. Nanti perih badan kau akan kambuh lagi."

"Tenang, Leftenan Lahap," tukas Ice seraya memapah dan membantu Blaze menyeimbangkan tubuhnya. "Aku yang akan urus dia. Leftenan tak payah khawatir."

"Macam mana dengan Fang?" tanya Taufan. "Kau nak ikut kami menuju bawah tu ke tunggu kami dekat sini?"

Fang mengangguk. 'Ya, aku akan iku-"

Ucapannya terputus begitu Lahap memberinya tatapan peringatan.

"Fang, kondisi kau sekarang lagi parah dari BoBoiBoy Blaze," katanya serius. "Kau kehilangan banyak darah. Kau kena berehat satu atau dua jam lagi."

"Tapi Leftenan-"

"Tak de tapi-tapi! Aku tak nak tanggung jawab kalau kau pengsan nanti."

"Uhh... baiklah."

Fang menoleh ke semuanya. "Kalau kaliam dah jumpa diorang, segera bawa diorang masuk kat kapal angkasa ni," katanya. "Jangan buang masa lagi. Kita masih belum berjumpa dengan Adu Du pulak. Padapun sekarang dah pukul tiga sore, dan ONION belum lagi tuntas. "

"Kau boleh harapkan kami, Fang!" tukas Taufan dengan senyum riang. Lahap menyuruh mereka semua- kecuali Fang- untuk pergi ke sebuah ruangan guna mengantar mereka ke bawah dengan penghantar sinar UFO milik Pesawat Angkasa Kapten Kaizo itu. Setelah semuanya siap, Alien ungu itu menurunkan mereka di halaman depan gedung markas Organisasi. Serentak mereka menapakkan kaki di bawah sana seraya memandang sekeliling.

"Nah, kita dah turun," ucap Stanley. "Jom kita jemput kawan-kawan kita yang menunggu dekat sini tadi."

"Tapi dimana mereka?" ujar Amar Deep. Tahu-tahu ia dan teman-teman lelakinya plus Papa Zola melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu dengan mata melotot. Di halaman depan itu tampak Milyra, Yaya, Ying, Gopal dan siswi-siswi kelas 7 Cerdas yang sedang terkapar mengenaskan, seakan mereka baru saja diterjang badai dashyat. Papa Zola mengucek matanya beberapa kali pertanda tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya saat itu.

"SILAP MATA APAKAH INI?!" pekiknya, berharap matanya sedang salah lihat. Namun pemandangan di depan mereka ini bukanlah kebohongan belaka.

Taufan mengidik. "Si-Siapa yang buat semua ni?" tanyanya ketakutan. "Sampai buat kawan-kawan kita pengsan teruk."

Ochoboy memandang horor. Pantas saja ia merasakan sebuah firasat buruk sedari tadi, dan ternyata terbukti. Teman-teman mereka telah diserang saat dia, Papa Zola, Lahap dan siswa-siswa kelas 7 Cerdas yang tidak memiliki kekuatan super menyusup ke gedung itu dan menyelamatkan keempat pecahan Boboiboy serta Fang. Dia melihat Amy, Melissa, Melody, Yaya, Ying, Milyra dan Gopal sembari menggigit bibir melihat kondisi mereka yang tampak memprihatinkan dan tidak sadarkan diri. Tapi Tunggu dulu. Sang pecahan BoBoiBoy pengendali tanah: BoBoiBoy Gempa tidak terlihat di antara teman-teman mereka yang terkapar itu. Mana dia?

"Korang tengok BoBoiBoy Gempa tak?" tanyanya kemudian. Teman-temannya terkejut dan mulai melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman depan itu. Tahu-tahu Kevin berseru.

"Itu dia!"

Mereka melihat ke arah dimana telunjuk Kevin menuding, ke tengah-tengah halaman gedung. Spontan mereka semua terkejut melihat dimana Gempa berada dan menelan ludah.

Tak jauh dari hadapan mereka, tampak dua sosok yang tengah berada di tengah halaman bundar itu, seorang wanita bersayap kelelawar raksasa dengan rambut berwarna perak tua dan bermata merah tengah memeluk seorang pemuda cilik bertopi terbalik dengan pakaian serba hitam dan kuning. Sang pemuda nampak tidak sadarkan diri. Tubuh lunglai-nya didekap kuat-kuat oleh wanita itu. Kedua sarung tangan batunya lepas, menciptakan hamparan batuan magma hitam dibawah tubuhnya yang lemas. Sang wanita terlihat mengenggam kuat-kuat dagu pemuda kecil itu dan tampak sedang sibuk menerjang korbannya yang tidak sadarkan diri. Melihat adegan mengerikan itu, Papa Zola segera pasang siaga tiga dan melompat ke depan siswa-siswa kelas 7 cerdas, menghalangi mereka dari hal yang seharusnya tidak boleh mereka lihat.

"A- Ap... Apakaaaaahhhh?! JANGAN TENGOK, ANAK DIDIKKUUUU!" jeritnya memperingatkan seraya memasang tubuhnya sendiri di depan anak-anak didiknya. Langsung saja mereka menutup mata dengan kedua tangan guna melindungi penglihatan mereka. Lain hal-nya dengan Halilintar, Taufan, Blaze dan Ice. Mereka masih saja melotot. Kalau saja Papa Zola tidak menaruh badan besarnya di hadapan keempat pecahan BoBoiBoy itu sebagai sensor, maka mereka akan melihat kejadian seram yang menimpa BoBoiBoy Gempa dengan mata telanjang.

Tapi itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan kekagetan mereka saat melihat sang pimpinan mulai dinistakan tepat di hadapan mereka. Keempat anak yang berwajah sama namun berpakaian dan beriris mata dengan warna berbeda itu pasang tampang kaget bukan main. Detik berikutnya mereka menjerit sekalut-kalutnya.

"GEEEEMMMPAAAAAAAAAAA!"


Ray mengerutkan kening. Tok Aba langsung mengajaknya ke sebuah tempat yang disebut sebagai 'Markas Kotak' usai membaca surat kaleng yang diterimanya sebelum berangkat ke Masjid subuh tadi. Sesampainya disana, pemuda berusia dua puluhan itu menganga begitu melihat penampakan Markas Kotak yang berada di bawah tanah dengan posisi strategis. Lebih anehnya lagi, pemilik Markas Kotak itu ternyata adalah sebuah Makhluk hijau berkepala kotak dengan sepasang antena yang ditemani sebuah Robot bundar ungu layaknya sebuah tudung saji, sebuah Komputer bersuara wanita dan seekor Kambing yang paham bahasa manusia.

"Ehh, Kenapa Atok bawa Ray ke tempat ni?" tanya Ray bingung. Tok Aba terkekeh lalu menarik nafas siap menjelaskan.

"Di surat tu dikatakan kau kena bantu Adu Du untuk sertai BoBoiBoy dan kawan-kawan dia kat markas Organisasi," ucap beliau sembari cengengesan. "Dia lah pemilik Markas Kotak ini. Dah lah. Kita kena minta bantuan dia sekarang juga."

Sementara itu, Adu Du yang semalam telat tidur masih saja telentang tidak karuan di atas tempat tidurnya. Dengan segala macam cara Probe membangunkannya namun hasilnya nol. Komputer dan Kambing S8000 yang melihatnya sedari tadi hanya bisa melongo. Terkadang atasan mereka ini memang bangun kesiangan. Tapi kali ini kesiangan yang terlalu siang. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua siang.

"Hish, Encik Bos ni. Tak nak bangun pulak!" gerutu Komputer. "Dia begadang lagi ke?"

Kambing mengangguk. 'Mbee, Mbee... Mbeee... Mbeeee..." (Kesian. Mesti dia begadang sebab nak buat Senjata tu)

"Encik Boss... Ooo, Encik Bos!" Probe masih berusaha membangunkan Adu Du, tapi yang terdengar hanyalah igauan belaka.

"Mama, Dudu nak tidur lah..."

"Encik Bos, ini aku lah! Bukan Mama Bos! Heehe... Bangunlah...BANGUNLAH..."

"Hmm, mungkin muka kau mirip macam Ibu Bu kot," komentar Komputer geli, membuat Probe tersentak.

"Hah?! Aku?! Macam Mama Bos?!" tukasnya kaget. "Tak patut, Tak Patut."

Bung- Bung- Bung-!

Terdengar suara ketukan pintu. Spontan Probe dan Komputer menoleh ke arah sana.

"Eh? Siapa yang datang tengah hari ni?" ucap Probe heran. "Ada kiriman ke?"

"Mungkin itu Kiriman Senjata dari Bago Go yang kau pesan semalam tu," tebak Komputer.

"Tak mungkin. Kiriman Senjata tu dah datang subuh tadi. Aku tak nak bagi tahu Encik Bos pasal tu. Biar Suprise! Hehehe."

"Hah, terserah kau je lah, Probe," desis Komputer seraya membuka pintu. Sekonyong-konyong ia terlonjak saat melihat Ray dan Tok Aba muncul di ambang pintu yang mirip brankas Bank itu.

"Ehhh?! Tok Aba?" tanya Probe heran seraya terbang mendekati mereka." Ada urusan ke? Atau mungkin Tok Aba nak bagi Koko percuma dekat kitorang?"

Tok Aba mendengus. "Banyak cantik. Saya nak minta tolong tau! Pasal Koko tu korang belum insaf pula? Kalau korang minta baik-baik, baru Atok bagi."

"Hehehe, Tak patut... Tak patut..."

"Umm, siapa lelaki ni?" ucap Komputer begitu menyadari sosok Ray di sebelah Tok Aba. "Probe, tengok! Dia macam aktor dekat Telenovela Seguni Mawar Merah tu: Azroy!"

"Ei? Ha'ah lah! Horeeeeeeee!" desis Probe gembira dan mencak-mencak di hadapan Ray. "Rambut dan muka Abang mirip sangat tau! Tok Aba, siapa dia ni?"

"Hehe, Perkenalkan. Ini salah satu kenalan Keluarga Atok. Nama dia Rayhan Ernie. Biasa dipanggil Ray," ujar Tok Aba bangga sembari merengkuh bahu Ray yang masih saja pasang wajah bingung. "Ray. Ini Probe, Asisten musuh ketat dari Adu Du. Dan benda kat sebelah di tu ialah komputer Adu Du."

"Uhh, Hai," sapa Ray malu-malu. Namun ia nyaris oleng begitu Probe ikut-ikut merengkuh bahunya.

"Wah, Abang ni kenalan daripada Keluarga Tok Aba?!" pekiknya riang. "Waaahhh, bergayanya! Patik buat saya ingatkan masa-masa dahulu masa tengok Film Seguni Mawar Merah tu."

"Dah lah. Saya dan Tok Aba datang kesini buat berbincang pasal serius, bukan main drama," dengus Ray kesal. "Kami nak bincang dekat Adu Du. Mana dia?"

"Itu dia masalahnya," keluh Komputer. "Bos kami belum bangun sedari tadi Semalam dia asyik begadang buat senjata pemusnah buatan dia sorang, sampai terlampau penat macam tu pula. Kami dah bangunkan dia, tapi dia asyik mengigau je."

"Ohh, iya ke?" Tok Aba terlihat berpikir. "Ah, Atok tahu cara bangunkan dia!"

"Ei? Cara apa tu, Tok?"

Tok Aba hanya tersenyum. Beliau mendekati ranjang Adu Du dan mengeluarkan sekaleng Coklat. Spontan Ray, Kambing, Probe dan Komputer mengangguk-angguk dibuatnya. Rupanya Kakek dari BoBoiBoy itu hendak membangunkan Adu Du dengan pancingan aroma serbuk Cokelat yang begitu lezat. Betul saja. Begitu Tok Aba membuka tutup kaleng coklat dan mendekatkannya ke Adu Du, Adu Du langsung bertingkah layaknya sebuah boneka tali yang dikendalikan.

"Koko... Koko aku..." Adu Du mengingau-ngigau sembari duduk di atas tempat tidur, mengendus-endus kaleng berisi serbuk coklat milik Tok Aba. "BAGI AKU KOKO TU! Ehh? Tok Aba?!"

Adu du melongo. Di hadapannya tampak Tok Aba yang tengah memegang kaleng serbuk Cokelat miliknya sembari pasang muka Faceplam, begitu juga dengan Ray dan ketiga bawahan Adu Du itu. Mereka tidak tahu harus berkomentar apa.

"Ish kau ni, Koko, Koko, Koko... Sampai kau kena dibangunkan pakai Koko," dengus Tok Aba kesal. Adu Du hanya menyeringai.

"Ma- Maaf, Tok Aba. Tapi APASAL ATOK BOBOIBOY DAN KENALAN DIA DATANG KAT SINI HAAA?!"

Dia mendelik ke arah Probe sementara Komputer dan Kambing S8000 sudah terlebih dahulu lari dari situ.

"Ehh, Diorang nak bincang sesuatu dekat Encik Bos," jelas Probe. Adu Du menghela nafas dan mengalihkan pandangannya pada Ray dan Tok Aba.

"Apa pasal aku dengan kalian?" tanyanya.

Ray mendekatinya dan segera memegang kedua bahu Adu Du. "Tuan Kepala Kotak- Eh, maksud aku Tuan Adu Du, Aku butuh bantuan kau sekarang!"

"Ei? Sekarang?"

"Iye lah. Aku dengar kau nak pergi ke Markas ONION tu sore ini buat sertai BoBoiBoy dan kawan-kawan dia. Aku dan Tok Aba nak ikut. Boleh tak?"

"APA?! IKUT?!" Adu Du menjerit. "Asal kalian tahu ye, Organisasi ONION tu berbahaya tau! Aku pun kena minta bantuan dekat BoBoiBoy dan kawan-kawan dia buat kalahkan. Nanti kalian cuma akan jadi beban je. Tak. Aku takkan biarkan kalian ikut."

Ray meringis. "Kalau bukan sebab pasal keluarga BoBoiBoy dan keamanan dunia, Tok Aba dan aku tak kan minta bantuan pada kau," desisnya cemas. "Pagi tadi aku dapat Surat Kaleng dari seseorang. Dia cakap dalam Surat tu kalau BoBoiBoy dan rakan-rakan dia dah kewalahan hadapi Rosaline tu. Itu baru Rosaline, belum lagi ahli pasukan ONION yang lain! Ayolah, ini je satu-satunya cara. Kau pun akan kewalahan kalau kau cuma sorang-sorang hadapi diorang tu."

"Siapa cakap Encik Bos sorang-sorang?" Probe tiba-tiba muncul di samping Adu Du. "Kan ada aku yang comel ni."

BLETAK!

"Aduuuhh- Kena baling lagi tu... Haehh-" Probe kembali terbalik untuk kesekian kalinya setelah dilepar Cawan besi milik Adu Du.

"Sudah! Nampaknya kau benar." ucap Adu du sembari menggigit bibir. "Mungkin sahaja kalian boleh bantu aku dekat sana. Baiklah. Kalian boleh ikut. Tapi ingat, jangan buat yang tidak-tidak dekat Kapal Angkasa aku nanti."

"Oi, kau ingatkan Atok ni macam budak kecik suka main-main ke?" tukas Tok Aba tersinggung. "Tenang je. Atok tak kan berhenti sebelum selamatkan Cucu Atok."

"Hehehe- maaf, Tok."

Sekonyong-konyong Komputer kembali masuk ke ruangan itu dengan wajah panik.

"Bos! Ada panggilan dari seorang penting untuk Bos!"

"Eh? Siapa dia?"

"Hmm, Tapi Bos jangan kaget ye."

"Hish, sudahlah! Kau nak aku baling pakai Cawan macam Probe ke, Hah?"

"Ehh- Tak lah, Bos! Baiklah. Ini dia orang yang bagi Bos panggilan tu."

BIIIPP-!

Tak lama kemudian, sebuah figur muncul di layar Komputer. Walaupun figur itu ditutupi bayang-bayang gelap, namun tanda petir merah di mata kirinya telah menyingkirkan keraguan mereka akan sosok di layar Komputer itu.

"Hahaha, lama tak jumpa, wahai hambaku sekalian. Bagaimana khabarmu, wahai Adu Du musuh lamaku?"

Adu du Jawsdrop seketika, diikuti Probe sementara Tok Aba terlihat terkejut sekali. Lain halnya dengan Ray yang baru melihat sosok itu untuk pertama kalinya.

"E- Ejo... EJO JO?!"


"Ugh-"

Gempa mengerjap-erjapkan matanya. Sekelilingnya gelap gulita. Ia seakan terbaring di sebuah ruangan hampa bernuansa hitam legam. Pemuda itu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya. Dia ingat bahwa dia pingsan setelah dikalahkan Rosaline saat wanita Succubus itu menyerang dia dan teman-temannya secara tiba-tiba di halaman depan gedung markas ONION. Ia mendesah panjang. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Dan bagaimanakah nasib teman-temannya saat ini?

"Tak payah kau risaukan mereka, BoBoiBoy."

"?"

Terdengar suara seorang tua yang menggema di sekelilingnya. Gempa beranjak bangun dan menoleh ke sumber suara tersebut. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat sosok itu: Sebuah robot raksasa berbentuk laba-laba berwarna merah dan perak serta memiliki mata bersinar kuning.

"Klam- KLAMKABOT?!"

"Kita berjumpa lagi, Anakku."

"Ta- Tapi bukankah kau sudah-"

"Betul. Aku memang sudah tiada dari dunia fana ini. Tak perlu kau tanyakan dua kali." Klamkabot cepat-cepat menjawab seraya merayap ke arah Gempa. "Aku cuma boleh komunikasi lewat alam bawah sedar je. Dan yang terpenting: Macam mana keadaan kau dan kawan-kawan kau? Dan ah, ya. Macam mana pula dengan Ochobot? Mesti dia rindukan aku."

Gempa mendesah berat. "Kami baik-baik sahaja, Ochobot pula," tukasnya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi lesu. "Tapi sebelum ini."

"Hmm? Sebelum ini?" Klamkabot memperbaiki posisinya agar nyaman lalu kembali berpaling pada anak muda pengendali tanah itu. "Biar kutebak. Pasal Rosaline dan Organisasi ONION ke?"

"He? Macam mana Klamkabot tahu pasal tu?"

Klamkabot terkekeh. "Aku bukanlah Tuhan yang boleh tahu apapun jua," ucapnya. "Tapi selepas peristiwa setahun silam tu, aku macam boleh pantau korang lewat Ochobot, walaupun aku dah tiada. Mungkin Tuhan masih bagi aku sedikit kesempatan. Bagaimanapun juga, kami- Sfera Kuasa- memiliki ikatan batin satu sama lain, jadi ada kemungkinan kami boleh buat benda macam tu. Sayangnya aku tak boleh muncul di dunia nyata. Aku hanya ada disini, di alam bawah sedar ini layaknya arwah orang wafat. Ochobot memang tak rasakan benda tu, tapi aku boleh."

"Jadi maksud engkau... selama Sfera Kuasa masih ada di alam semesta ni, kau masih boleh pantau kitorang walaupun dari alam lain?" tebak Gempa.

"Kurang lebih macam tu," ucap Klamkabot. "Ah, ya. Aku tahukan kondisi korang yang teruk sekarang ini. Kondisi kau lagi teruk. Yah, kau tahu sendiri, Rosaline mulai buat benda pelik dia dekat kau. Apa boleh buat. Kawan-kawan kau pon dah jumpa Rosaline buat pasal durjana tu dekat diri kau."

Gempa terkejut. "Hah?! Jadi sekarang aku tengah diserang Rosaline? Depan kawan-kawan aku pulak?!" jeritnya histeris. "Tak boleh jadi! Aku kena bangun dan selamatkan diri aku segera!"

Klamkabot menggeleng. "Tak semudah itu," katanya. "Kuasa penyerap Energi Rosaline dekat badan kau dah nak capai titik maksima. Badan kau lemah sangat. Tidak ada yang boleh kau perbuat selama kawan-kawan kau tak bertindak."

"Lalu apa yang aku kena buat ni?"

"Berharaplah."

"Hah? Berharap?"

Klamkabot mengangguk sembari memutari Gempa. "Ya, berharap. Hanya itu yang mampu kau buat sekarang," katanya lesu. "Kan aku dah kata badan kau dah hampir kehilangan semua tenaga, dan kawan-kawan kau kena ganggu Rosaline agar sedutan tenaga tu terhenti. Ah, dasar Rosaline. Budak tu tak reti lagi buat kawal kelainan dia tu, sampai kau dan kawan-kawan kau kena imbasnya pula."

"Kejap," potong Gempa. "Klamkabot, dari cakap kau tadi, engkau macam kenal je dengan Rosaline tu," desisnya curiga. "Engkau kenal dia ke?"

Klamkabot mendengus. "Aku tak kesah pun tuk bagi tahu perkara ni dekat kau, BoBoiBoy," tukasnya sembari menatap kedua mata kuning Gempa dengan lamat. "Tapi sebelum kau sedar, ada baiknya aku bagi tahu kau satu pasal."

Gempa mengerutkan kening. "Pasal apa tu, Klamkabot?" tanyanya penasaran. Klamkabot menutup matanya sebentar dan membukanya lagi dengan tatapan yang terkesan lebih serius.

"Aku akan ceritakan sebab kenapa Rosaline boleh idap kelainan Pedofilia tu. Aku kenal budak tu sejak dia mengembara tak tentu arah dari satu Planet ke Planet lain. Dengarkan baik-baik, BoBoiBoy, sebab aku tak kan mengulang ini untuk kedua kalinya."


Di Aula utama Markas ONION, Haryan menghela nafas panjang sembari menatap jendela. Kini ia sendirian. Anggota-anggota Elite ONION yang menghadiri rapat rencana utama mereka terhadap alam semesta tadi baru saja keluar. Dan sekitar Satu jam yang lalu Ah Meng dan Arumugam baru saja melapor bahwa ada penyusup dari luar. Haryan terkekeh miris. Dia hanya memerintahkan untuk menyalakan alarm peringatan di seluruh bagian gedung dan menyuruh seluruh anggota ONION untuk berjaga-jaga, bukan mengejar para penyusup itu. Pantas saja Papa Zola dan anak-anak muridnya dengan begitu entengnya masuk ke dalam gedung untuk menyelamatkan para pecahan BoBoiBoy dan Fang. Pria paruh baya itu hendak menguji seberapa hebatnya mereka untuk bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup dan ternyata berhasil!

"Hebat, Hebat," tukasnya hambar. Jari tengahnya yang dihiasi cincin batu giok kemerahan dengan model unik tampak sibuk mengetuk-etuk meja kerjanya. "Korang memang dah berjaya lepaskan diri, tapi itu hanya kerana aku nak tengok sampai mana kemampuan korang untuk bebaskan diri. Ini baru permulaan, Makhluk-makhluk tak guna. Fufufu, tenang sahaja, sebab selepas Rosaline kalahkan korang dan bawa korang dekat sini, korang lah yang akan lengkapi ONION ni."

Diputarnya kursinya menghadap ke arah pintu. Tangannya merogoh saku jasnya, mencari telepon genggamnya. Dengan lincah ia menekan tombol-tombol angka di telepon genggam itu dan menempelkannya ke telinga, menunggu nada sambung. Sekonyong-konyong pintu tak jauh dihadapannya terbuka, menampakkan sesosok gadis kecil.

"Vader? Boleh saya masuk?"

Haryan tersenyum simpul. "Boleh. Masuklah sini, Mimi," ucapnya lembut sembari menunggu nada sambung di teleponnya. "Ada pasal penting yang hendak kamu bincangkan dengan Vader ke?"

Mimi menggeleng. "Tak penting-penting pun," katanya pelan.
"Mimi cuma nak tanyakan dekat Vader satu soalan. Macam mana dengan proyek utama Vader?"

"Kalau pasal tu, tak payah kau risaukan."

"Eh? Iya ke? Berarti sekejap lagi Mimi bakal punya banyak kawan?! Horeeee!"

"Hmm, boleh jadi."

"Ish, Vader ni. Muka Vader tu tak nampak ekpresi apapun, tahu tak?!"

"Ahahahha, Kamu ni, kalau tak de hal penting yang nak diperbincangkan, jangan kemari. Vader tengah sibuk tau."

"Huh, sibuk konon. Sibuk melamun pasal Alam Semesta kot."

"Haa, dah lah, dah lah. Kau ni asyik sindir Vader je. Ah Ming sekarang lagi tunggu kau dekat Lab Sfera kuasa dekat Dimensi sebelah. Ada yang nak dia bincangkan dekat sana."

"Hehe, sori, Vader. Okey, Mimi pergi jumpa Ah Ming dulu."

Haryan tiba-tiba teringat sesuatu. "Mimi, tunggu kejap," katanya dengan nada kebapakan. "Sebelum kamu pergi, dengar sini baik-baik."

Mimi yang baru saja hendak keluar aula utama tentu heran dengan tingkah Ayahnya yang tiba-tiba berubah. Didekatinya Haryan hingga berada di samping kursi yang diduduki pria itu. Haryan memutar kursinya ke samping agar berhadap-hadapan dengan anaknya. Tangannya terjulur. Detik berikutnya Mimi tahu-tahu sudah berada di dalam dekapan erat Bapaknya.

"Mimi, Vader mohon... jaga diri kamu baik-baik," bisik Haryan tulus, sesuatu yang jarang sekali diperlihatkan dari dirinya. "Vader sudah kehilangan Moeder. Vader tak nak kehilangan kamu juga. Setidaknya ketika dunia ini dah tiada, kita masih boleh bersama. Vader akan selalu cuba temankan Mimi. Ingat itu."

"Va- Vader..." Mimi tertegun mendengar kalimat Haryan. Sebuah firasat buruk tiba-tiba merayapi sanubarinya. Dia terharu sekaligus merinding mendengar kalimat Ayahnya itu. Mimi tahu Ayahnya tidak akan tega meninggalkannya sendirian. Selama ini Haryan selalu mengajaknya pergi bersama, sekalipun Haryan menjadi ketua salah satu badan Kejahatan di Galaksi. Tapi apakah hidup mereka akan terus bahagia seperti itu?

"Mimi sayang Vader." Ia akhirnya balas merangkul Ayahnya seerat mungkin. Aroma Kopi Prancis yang sudah menjadi bau khas Ayahnya menghiasi hidungnya. Mimi paling suka bau itu. Dia tidak ingin kehilangan bau itu sampai kapanpun.

Sepasang Ayah dan Anak itu berangkulan satu sama lain hingga dua menit. Haryan lalu melepas rangkulannya dan menepuk kepala anaknya sambil tersenyum hangat.

"Nah, pergilah dekat Ah Ming. Dia mesti dah lama tunggu kamu," katanya sambil terkekeh. Diciumnya kening Mimi dengan lembut. "Vader sayang kamu, Mimi."

Mimi tertawa kecil. "Okey, Vader. Semoga Vader sukses!" katanya ceria sambil berlari ke arah pintu aula utama. Ia pun melambaikan tangan pada ayahnya layaknya anak kecil dan menghilang di balik pintu. Haryan menyunggingkan senyum tulus melihat tingkah putrinya itu. Setidaknya Mimi masih menjadi harta paling berharga miliknya di tengah-tengah kehidupan dunia yang hina ini.

Ia pun kembali fokus ke telepon genggamnya. Tak lama kemudian, terdengar suara di seberang telepon.

"Halo? Dengan salah satu anggota Kedutaan, ada yang boleh saya-"

"Hmm, tak perlu lah Awak cakap kalimat yang sama dekat saya. Awak masih tak ingat aku ke?" Haryan langsung memotong tanda kesal. Tapi guna menjaga wibawanya, ia masih menggunakan kalimat baku. Sontak suara pria di seberang telepon terkejut setengah mati.

"KAU LAGI?! Apasal kau telefon aku selepas anak buah kau hampir bunuh aku dan biniku dekat London hari tu, Hah?!" bentak suara lelaki di telepon. "Mana anak aku?! Mana BoBoiBoy?! Lepaskan dia!"

"Hmp, kau masih fikir je pasal anak kau yang punya kuasa Superhero tu," dengus Haryan. "Dia dah lepaskan diri, tahu tak? Tapi benda itu sengaja aku biarkan. Ini baru permulaan, Wahai Kawan lamaku. Kau tak kan boleh hentikan aku."

"Cih, kau ni masih sahaja nak cari masalah dengan dunia ini," gerutu lawan bicaranya. "Apa lagi yang nak kau bincangkan, Heh? Jawab sebelum aku tutup paksa telefon ni!"

"O- o- oo, jangan lah garang macam ni, nanti cepat tua tau."

Krikk... Krikk... Krikk...

"Oi, kita ni memang dah tua lah."

"Hahaha, awak ni memang sedari dulu tak pandai kena lawak saya ye," tukas Haryan geli. "Dah lah. Mungkin kali ini kau boleh terlepas, Mantan rakanku. Tapi ingat, aku bukanlah tipe orang yang suka membiarkan makanan basi. Awak akan mati, ah bukan. Korang semua akan mati, Seluruh Penghuni Semesta ni akan Mati. Camkan Kata-kataku ni. Selama 'Mawar Liar' dan rakan-rakan aku masih ada, aku tak kan bisa dikalahkan, kuhuhu... Sebab tak lama lagi akan ada-"

Lelaki di seberang telepon mendengus. "Ei, cepatlah cakap tu. Kau ni selalu sahaja hujat Makhluk hidup macam ni!"

"Okey, Okey. Kalau Awak memang tak nak dengar ceramah aku, baiklah. Aku tak kan bincang panjang lebar lagi," tukas Haryan kesal. "Maaf, kawan. Mungkin ini yang terakhir. Aku akan bagi tahu apa yang sebentar lagi akan teruja buat satu tahun hadapan."

"Apa tu?"

Haryan terkekeh pelan. Ia tersenyum sesinis-sinisnya.

"Tak lama lagi 'Sapu Katharsis' akan segera digunakan, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAA!"


.

.

M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'The Chaotic of Elemental Split'

Season 2

END

.

.

.

Hiaaaaa ... akhirnya tamat sudah musim kedua ini. ^_^ Setelah sekian lama hiatus akhirnya kelar juga, wahaha ... Maaf sebab dah bikin readers bosan nunggu. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, kita terpaksa berpisah disini, huhuhuuu ...

Readers: Oi! Ini fanfic memang mau discontinue, dong!

Bukan, bukan Discontinue ... Tapi yahh ... ada kelanjutannya kok di musim finale di fic lainnya hehehehe ... Namanya adalahhhhh ...

(Suara drum ditabuh)

'M.A.W.A.R. L.I.A.R.'

Dawn Of The Real Sin

Season Finale

Musim terakhir dari ML, yeahhh! yeahhhh!^^

Gopal: Hmmm, Sok sendiri lagi ... -"

Sok sendiriiii?! Hahahaha, Author ... Tak pernah sok sendiri ... (Ikutin Papa Zola :v) *KenaRotanKeinsyafan* T^T

Hehehe, mungkin itu saja dari Author. Silahkan tunggu Musim terakhir yaaa ... ;) Dan maafkan jika selama ini Author banyak kesilapan, baik di lamanya hiatus, bahasa yang gaje dll.

Ok. See you on Season finale ya ^^ Silahkan review jika berminat. ;)