Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena beberapa ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.
The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.
Selamat membaca Chapter 2 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.
- KJ-
Pembicaraan tentang Vicerity atau pesta yang diadakan oleh Vice tiap tujuh bulan sekali itu sudah menyebar di tiap distrik. Selain karena pesta itu selalu diselenggarakan dengan mewah dan menyenangkan, juga karena waktu menuju Vicerity adalah dua bulan lagi!
Berbagai persiapan dilakukan para Lock untuk memastikan Vicerity tahun ini berjalan dengan baik seperti biasanya. Dan para young and middle vicens di seluruh distrik juga saling berlomba-lomba untuk menyelesaikan beberapa target atau tugas pemberian guru mereka agar nama mereka tetap ada di papan aman dan bisa jadi salah satu kandidat yang diundang di Vicerity.
Salah satunya adalah para Freast. Setelah kedatangan para weast yang bertugas jaga di distrik mereka kemarin malam, pagi ini para freast kembali disibukkan dengan tugas harian mereka yakni menyiapkan makanan untuk seluruh Vicens. Ada beberapa dari middle freast yang bertugas memanen beberapa buah dan sayur yang sudah matang, ada juga yang bertugas mengambil ikan, berburu sapi, atau ayam dan juga yang paling penting adalah bagian memasak seluruh bahan-bahan yang ada menjadi makanan paling lezat di seluruh Vice.
Seperti halnya di distrik lain, peak hanya bertugas sebagai pengawas dan bukan pelaksana langsung. Yang bertugas sebagai pelaksana adalah para middle yang usianya masih produktif dan otaknya penuh dengan kreativitas tinggi yang bisa membantu masing-masing distrik untuk tetap berkembang perlahan.
Khusus di Freast, peak freast bertugas sebagai pencicip makanan hasil masakan para middle freast sebelum seluruh makanan itu disebar ke seluruh penjuru Vice. Dan minggu ini, adalah giliran Kyungsoo dan Minseok, middle Vice yang bertugas untuk memasak hidangan utama untuk sarapan, makan siang dan makan malam seluruh penduduk Vice. Tiap minggu, seluruh middle freast bertukar tugas sesuai jadwal yang ada. Ada yang bekerja di bagian pencarian bahan-bahan makanan, ada yang bekerja di bagian pembuatan makanan pencuci mulut, juga makanan pembuka. Ada juga yang bekerja sebagai pengatur nilai gizi dan pengatur kesegaran bahan-bahan makanan yang akan dimasak para chef.
Di freat ada peraturan tertulis yang cukup membuat banyak middle freast stress.
"Jika ada satu orang Vicens yang sakit setelah memakan masakan dari freast, maka yang bertugas akan bertemu dengan Ketua Distrik Freast dan Ketua Distrik Weathor untuk dimintai penjelasan dan pertanggungjawaban jika benar ada kesalahan saat proses memasak yang menyebabkan Vicens tersebut jatuh sakit."
Itulah kenapa para middle sangat berhati-hati saat memasak, kadang mereka meminta bantuan peak untuk memastikan masakan mereka bebas dari kemungkinan buruk yang bisa saja membuat salah satu Vicens masuk rumah sakit. Selain karena para Vicens terlahir dengan keadaan tubuh yang cukup sensitif terhadap bakteri atau virus, baik para triens dan weast belum bisa menemukan solusi untuk menaikkan tingkat kekebalan tubuh para Vicens dalam kurun waktu lama. Yang sudah berjalan sampai hari ini adalah ramuan yang membantu Vicens untuk kembali sehat paling cepat tiga hari setelah mereka didiagnosa sebuah penyakit.
"Jadi hari ini kita memasak makanan utama?"
Ini pukul tiga pagi, dan hanya ada waktu dua jam bagi dua koki cantik ini untuk menyelesaikan makanan utama untuk sarapan hari ini bagi para Vicens.
"Begitulah, Minnie. Ini dari para nutritionist di depan, mereka menyarankan memasak nasi goreng daging ayam dengan sayuran dan keju untuk sarapan, potato wedges and spinach untuk makan siang, dan spaghetti tunaise untuk makan malam."
Dua gadis cantik dengan postur yang tidak jauh beda ini sedang sibuk berdiskusi kecil tentang masakan yang akan mereka masak hari ini untuk para Vicens ketika sang Ketua Distrik mendatangi dapur mereka.
"Kyungsoo, Minseok," panggil sang Ketua Distrik ramah.
"A-ah, Tuan Changmin. Maaf kami tidak tahu anda masuk," jawab Minseok.
Changmin tersenyum kecil dan menggerakkan tangannya isyarat bahwa itu tidak jadi masalah besar baginya pada Minseok. "Tak masalah, Minseok. Bagaimana? Apakah kalian siap memulai tugas pertama kalian di bagian ini? Sebagai dua anak baru dari sektor young yang masuk ke middle dengan cukup cepat, kalian tentu gugup, kan?"
Kyungsoo mengangguk malu dan begitu juga Minseok. Dua gadis ini adalah pemenang dari perlombaan memasak ala Freast satu bulan lalu yang menjadikan mereka young freast yang beruntung karena bisa masuk ke middle lebih cepat dari teman-teman mereka lainnya.
"Kami gugup, Tuan. Tapi kami akan melakukan yang terbaik yang kami bisa," sahut Kyungsoo lembut.
Changmin mengangguk. "Tentu. Aku percaya kalian akan melewati satu minggu ini dengan baik. Bukan tanpa alasan aku meminta Jin untuk mengangkat kalian sebagai middle freast, kan?"
Kyungsoo dan Minseok tersipu malu atas pujian Changmin.
"Kalau begitu kembalilah bekerja. Setelah masakan siap, kalian akan mengantarkannya ke Trien, kan?"
Kyungsoo mengangguk. "Benar Tuan. Sesuai jadwal yang ada, setelah memasak, kami punya waktu satu jam untuk mengantarkan makanan ini menuju Trien."
"Jadi giliran Trien yang jadi distrik beruntung karena makanan pertama mereka pagi ini diantar langsung oleh chef handal dari Freat?" puji Changmin sambil tak lupa tersenyum pada dua gadis ini. "Kukira mereka adalah distrik yang paling beruntung karena mereka akan jadi orang pertama yang merasakan masakan pertama dari calon chef terbaik sepanjang sejarah Freat." Tambahnya.
Kyungsoo dan Minseok tertawa kecil. Mereka tidak tahu Ketua Distrik mereka ini hobi sekali memuji bawahannya.
"Selamat bekerja, dan pastikan masakan kalian tidak mengecewakan Freat." Tutup Changmin sebelum pria itu memutuskan keluar dari dapur dan mempersilahkan duo chef ini bereksperimen dengan seluruh bahan-bahan yang sudah disediakan di pantry.
"Time to work, Minnie!"
.
.
Setelah menghabiskan waktu dua jam penuh untuk memasak seluruh makanan utama pagi ini bagi seluruh Vicens lalu mendapat persetujuan dari peak untuk menyebarkan makanan ini ke seluruh penjuru Vice, Kyungsoo dan Minseok pun bergegas berangkat menuju Trien sebelum waktu pengantaran mereka habis.
"Tidak bisakah kita terbang saja, Kyungie?"
"Lalu membuat seluruh kerja keras kita amburadul? Tidak Minnie, terima kasih."
Minseok tertawa kecil lalu mengangguk saat seorang petugas gerbang Freast mempersilahkan mereka berdua duduk di kereta pengantaran yang khusus disediakan untuk media pengantaran makanan. Dengan kuda yang terlatih untuk berlari cukup kencang, lebih kencang dari kuda biasa, kereta pengantaran ini dipastikan tidak terlambat menuju tujuan mereka dengan logistik yang juga tetap terjaga tanpa takut akan amburadul berkat sihir istimewa para peak.
"Sudah sampai, Nona." Ujar sang petugas.
"Terima kasih, Soomin. Kau akan menunggu kami, kan?" tanya Minseok.
Soomin tertawa kecil mendengar pertanyaan Minseok. "Tentu Nona, tugas kami memastikan logistik sampai dengan cepat tanpa berantakan dan memastikan chef kembali ke freat dengan selamat,"
Kyungsoo menepuk lengan Minseok dan menggelengkan kepalanya. "Kau ini. Mana mungkin Soomin akan meninggalkan kita begitu saja di distrik yang jaraknya sepuluh kilometer dari Freat?"
"Kita antar sekarang, chef?" tanya seorang petugas yang lain, Jaejong.
Kyungsoo menoleh dan mengangguk cepat. "Ya, kita antar paket ini sampai ke ruang makan."
Para pengguna sihir level dua memang dimudahkan dalam hal membawa barang-barang berat. Itu mengapa mereka tidak perlu susah payah membawa gerobak untuk mengantar logistik sampai ke ruang makan. Mereka cukup menggunakan sihir mereka dan menjaga fokus mereka agar bawaan mereka tidak jatuh begitu saja. Walau begitu, ada beban maksimal yang bisa diangkat oleh seorang middle, yakni hanya 100 kilogram. Itu kenapa, para petugas gerbanglah yang akan membawa logistik sementara dua middle cantik itu berjalan di depannya menuntun langkah Jaejong menuju ruang makan, karena para petugas tak punya batas maksimal untuk membawa barang.
"Ini dia tempatnya." Sahut Kyungsoo.
"Selamat pagi, ada yang bisa aku bantu?" sapaan lembut seorang pemuda menyapa telinga Kyungsoo dan Minseok pagi ini.
"A-ah, kami chef dari Freat, kami mengantar makanan untuk triens pagi ini." Jawab Kyungsoo yang kaget karena tiba-tiba saja pemuda itu sudah ada di sampingnya padahal tadi tidak ada siapapun disana.
Pemuda itu tersenyum simpul. "Maaf jika mengagetkanmu, chef. Mungkin aku perlu melatih kekuatan teleportasiku lagi." Ujar sang pemuda sopan. "Kalau begitu, kau bisa letakkan di meja itu, Tuan." Pintanya.
"Kau ketua disini?" tanya Minseok tiba-tiba pada pemuda itu.
Dan pemuda itu tertawa kecil sebagai jawabannya. "Bukan Nona. Aku hanya young triens yang kebetulan bertugas sebagai petugas penyambut para freast hari ini. Ah, maaf aku lupa menyebutkan namaku. Aku Jongin, young triens."
Minseok tersenyum lucu lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Aku Minseok, middle freast. Dan ini—"
"Kyungsoo. Benar?" tebak Jongin.
Dan gadis cantik dengan surai sepunggung itu pun terlihat kaget dengan tebakan Jongin. "Bagaimana kau bisa tahu namaku?"
Jongin tersenyum kecil. "Sehun memberitahuku."
Kyungsoo mengernyitkan dahinya. Ia berpikir bagaimana bisa triens saling memberitahu tanpa berbicara? Bukankah telepati adalah keahlian level dua?
"Dia ada disini sejak tadi disampingku. Tapi dia menyembunyikan dirinya," ujar Jongin lagi seolah melihat tanda-tanda bingung dari wajah cantik Kyungsoo.
"Hai Kyungie!"
Dan tiba-tiba Sehun muncul disamping Kyungsoo yang membuat gadis itu sempat melompat karena kaget. "Hunnie! Kau mengagetkanku!" protesnya.
Dan kumpulan remaja itu pun tertawa bersamaan melihat reaksi Kyungsoo. "Aku kan sudah jarang mengerjaimu. Jadi tidak masalah, kan?" godanya. "Aku rindu padamu," tambahnya seraya memeluk Kyungsoo erat.
"Aku juga, Bodoh. Kau pikir aku tidak kesepian di Freat? Biasanya tiap pagi aku harus membangunkan adikku yang susah bangun, tapi sekarang aku harus memasak." Ucapnya sedih.
"Bukankah memasak adalah satu hal yang kau sukai?" celetuk Jongin. "Oh, maaf. Sehun yang memberitahuku. Okay, aku akan diam." Tutup Jongin setelah melihat tatapan tajam dari Sehun.
Dan giliran Kyungsoo yang tertawa dengan manisnya dan membuat Jongin sempat tiba-tiba menghilang tanpa pamit.
"Lho, dia kemana?" tanya Minseok yang kaget dengan kepergian Jongin yang tiba-tiba.
Sehun tertawa puas melihat sahabatnya tiba-tiba pergi. "Dia sakit perut."
Kyungsoo mengernyitkan dahinya lagi. "Kalian kan level satu, memangnya belajar telepati?" gadis ini nampak benar-benar penasaran dengan kemampuan duo young triens ini.
Sehun menggeleng pelan. "Kami memakai jam ini. Ini adalah alat ciptaan kami berdua, alat ini membantu kami untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain yang juga memakai alat ini tanpa perlu berkata apapun. Mirip telepati, sih."
"Nona, sudah waktunya kita kembali ke Freat." Ujar Jaejong mengingatkan.
"Oh, Ya Tuhan. Aku hampir lupa itu. Terima kasih sudah mengingatkan kami, Jae." Balas Kyungsoo.
"Kami pergi dulu, Sehun. Dan ucapkan juga terima kasih pada Jongin, ya?" pamit Minseok.
Sehun mengangguk sopan. "Tentu Minseok. Aku akan menyampaikannya. Kau hati-hati ya, Kyung. Kita bertemu di Vicerity dua bulan lagi, okay?"
Kyungsoo mengangguk lucu dan memeluk Sehun sekali lagi dengan erat sebelum akhirnya ia dan Minseok harus benar-benar pulang menuju Freat.
"Kau menyukainya, kan?" ucap Sehun pada entah siapa.
"Kenapa kau tak bilang bahwa ada Aprodhite yang nyata, Sehun? Dan kenapa kau tak bilang bahwa kakakmu itu—"
"Menakjubkan? Cantik? Manis? Well, aku tak berniat punya kakak ipar sepertimu jadi—"
Dan sebuah jitakan menyakitkan menyapa kepala Sehun bersamaan dengan munculnya Jongin tepat disampingnya.
"Tidak. Tidak hanya itu. Kyungsoo itu... istimewa,"
.
.
.
Berbeda dengan ketiga distrik lain yang mayoritas dihuni oleh gadis-gadis, Psycher adalah satu-satunya distrik dengan jumlah penduduk wanita paling sedikit, yakni hanya tiga puluh orang dari keseluruhan penduduk Psycher sebanyak 200 orang. Dari jumlah yang minimalis itulah kenapa, hampir seluruh gadis-gadis itu bekerja di belakang meja dengan tumpukan kertas-kertas penuh coretan desain bangunan yang merupakan draft pembangunan seluruh distrik.
Tapi tidak dengan gadis pecinta martial arts ini. Sejak pertama kali masuk sebagai young psychers lima bulan lalu, ia menolak permintaan ketua young psychers, Ravi untuk mengikuti jejak teman-teman dan seniornya yang bekerja di gedung sebagai seorang arsitek. Ia dengan yakin memilih sebagai pekerja lapangan yang jelas-jelas lebih beresiko tinggi dan sedikit tidak cocok untuk gadis-gadis. Tapi gadis ini bersikeras hanya mau bekerja di divisi builder.
"Selamat pagi, Ravi!" sapa sang gadis dengan surai hitam yang dikuncir kuda itu. "Jadi apa yang akan kita bangun hari ini?"
Ravi, pemuda dengan senyum menawannya itu memang menjabat sebagai ketua young psychers dan belakangan, ia merasa cukup lelah menjabat karena kelakuan gadis kecilnya yang sedikit susah diatur ini.
"Oh, pagi Zitao. Kau sudah sarapan?" tanya Ravi dengan basa-basinya. "Aku belum mengambil draft untuk hari ini. Aku baru mau ke loket, dan kau datang."
Zitao meringis kecil saat Ravi menjitak kepalanya pelan. "Aku sudah sarapan, kok. Nasi goreng buatan chef yang ini benar-benar lezat! Sangat berbeda dengan masakan-masakan sebelumnya yang kadang kurang berbumbu."
Ravi tertawa kecil mendengar jawaban Zitao. "Dasar tukang makan," sahutnya tanpa menoleh menatap Zitao.
"Tapi aku tidak bohong, Raaaav~. Memangnya kau belum mencicipinya, ya?" tanya Zitao lagi penasaran.
"Pagi Nyonya Ken, bisa aku ambil draft untuk young psychers hari ini?" Ravi mengabaikan pertanyaan Zitao sejenak demi draft mereka.
"Kau terlambat lima menit, Rav. Biasanya kau tidak pernah terlambat," tegur Ken, peak psychers yang bertugas menjaga loket draft dan blueprint tiap harinya.
Ravi tersenyum asal. "Maaf, Nyonya Ken. Tadi aku memang bangun terlambat karena semalam gedung bagian timur baru selesai pukul dua pagi," balasnya. "Terima kasih draftnya, Nyonya Ken. Semoga harimu menyenangkan!"
Zitao melambai pada wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu lalu kembali membuntuti Ravi. "Jadi gedung bagian mana yang kita bangun sekarang, Rav?"
Ravi berhenti dan mengecek draft hari ini dengan lebih teliti. "Kita akan ke Vicerty."
"Oh, gedung i— APA? VICERTY?"
Ravi menutup kedua telinganya dengan cepat setelah Zitao berteriak dengan tidak elit disampingnya. "Kau mau merusak telingaku, ya?!" protesnya.
"Maaf, reflek. Tapi, Rav, yang benar saja. Kita akan ke Vicerty? Kau yakin? Young psychers?" tanya Zitao lagi memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi baik.
"Zi, bukan aku yang memutuskan gedung bagian mana yang akan kita bangun, kan? Aku hanya menuruti draft dan inilah draft kita hari ini. Young psychers akan ke Vicerty dan membangun sebuah gedung baru yang nantinya akan digunakan untuk gudang." Jelas Ravi.
Dan seketika Zitao melemas. "Aku tidak siap masuk kesana,"
Ravi menatap Zitao bingung. "Seorang gadis pecinta martial arts yang ngotot minta jadi builder sekarang berkata bahwa dia tidak siap masuk Vicerty? Unbelieveable," ujar Ravi sarkas.
Dan Zitao dengan cepat memukul lengan pemuda tampan itu. "Sialan kau, Rav." Jawabnya. "Aku takut, okay? Vicerty terlihat begitu menyeramkan."
Ravi tertawa mendengar alasan Zitao. "Berarti kau sama sekali belum pernah masuk kesana, ya? Kau akan menyukainya setelah kau melihat tatanan Vicerty, Zi. Tempat itu adalah tempat tinggal impian para psychers." Terang Ravi.
"A-a, aku tidak percaya kata-katamu, Rav. Kau sering mengerjaiku,"
Ravi tidak menanggapi sahutan Zitao kecuali dengan tawa kerasnya. Ia lebih memilih memanggil para young psychers yang lain untuk mengajak mereka berpetualang di Vicerty, yang menurut beberapa cerita peak adalah tempat tinggal impian para psychers karena arsitektur Vicerty yang cukup rumit tapi indah.
Vice sudah ada sejak ratusan tahun lalu dimana pembagian distrik, luas daerah per distrik dan bahkan fasilitas-fasilitas yang ada di tiap distrik sudah diatur sedemikian rupa hingga menghasilkan karya yang cukup apik. Sebagai salah seorang Psycher yang masih cukup muda, Ravi betul-betul mengagumi tiap lekuk ornamen yang ada di distriknya dan juga di Vicerty.
"Kita sampai," ucap Ravi kalem. "Kami ditugaskan membangun gudang. Ini draft dari peak pagi ini." Jelas Ravi pada sang penjaga gerbang Vicerty yang terlihat cukup menyeramkan sampai Zitao harus memegang ujung baju bagian belakang milik Ravi hingga pemuda itu merasa gemas pada gadis kecilnya ini.
"Dasar penakut. Apa esensinya kau menarik bajuku?" tanya Ravi datar. "Leo, tolong pimpin yang lain ke lokasi, aku harus bertemu kepala divisi pembangunan."
Zitao menatap Ravi dengan sebal lalu berubah menjadi penasaran saat pemuda itu malah berpisah dengan kelompoknya. "Leo, orang itu mau pergi kemana?"
Leo menoleh dan menemukan orang itu yang dimaksud oleh Zitao. "Ravi mau bertemu kepala divisi pembangunan, mungkin menanyakan detail kegunaan gudang baru ini. Entahlah, kita bekerja saja."
Zitao masih berdiri di tempatnya dan menatap Ravi sampai pemuda itu menghilang, masuk ke salah satu bangunan yang Zitao tidak tahu. Merasa ini bukan termasuk dalam urusannya, gadis cantik ini akhirnya memutuskan untuk menuju lokasi gudang baru sesuai pesan telepati dari Leo yang baru saja ia terima. Namun baru saja ia berbalik, sebuah dada tegap menghalangi langkahnya dengan cukup tiba-tiba dan sukses membuat Zitao hampir terjatuh karena kaget harus menabrak dada tegap itu tiba-tiba. Tapi untungnya ia tidak jatuh berkat sihir yang digunakan sang pemilik dada tegap itu.
"Kau psychers?"
Pertanyaan pertama yang diucapkan sang penabrak pada Zitao itu membuat Zitao sedikit kesal. "Iya, kenapa?"
Dan pemuda bertubuh tinggi itu tersenyum kecil menatap Zitao. "Haruskah aku minta maaf supaya kau tidak kesal padaku?"
Zitao menjengit kaget. Dia tidak bilang bahwa dia kesal pada pemuda ini, kenapa dia bisa tahu bahwa Zitao sedang kesal padanya?
"Aku akan mengantarmu menuju lokasi." Putus pemuda itu cepat. Dan tak lama kemudian, Zitao merasakan sesak nafas luar biasa karena pemuda itu tiba-tiba menariknya, memeluknya dan mereka berpindah tempat.
"Zitao?"
Dan panggilan Leo membuat konsentrasi Zitao kembali. Dengan gugup ia menjauh dari sang pemuda dan berlari kecil menuju Leo untuk bergabung bersama yang lain, bekerja.
"Ah, Tuan Yifan. Saya kira saya harus memberi tahu Ravi jika anda ada disini," sahut Leo sopan.
"Ravi? Dia menungguku di ruangan?"
"Benar Tuan. Tapi dia sudah saya beritahu bahwa Tuan ada disini," balas Leo lagi. "Tentang gudang ini, apa ada detail yang perlu jadi fokus para middle?"
Yifan menatap Zitao sejenak sebelum menjawab pertanyaan Leo. "Tidak. Vince tidak meminta banyak ornamen di gudang ini. Cukup simbol Vice saja seperti biasa."
Leo mengangguk paham dan pamit pada Yifan untuk melanjutkan kerja mereka. Yifan menatap Zitao diam-diam dari posisinya saat ini. Ia diam-diam mengagumi bagaimana gadis itu terlihat tetap ceria meskipun pekerjaannya ini beresiko cukup tinggi.
"Tuan Yi," panggil Ravi.
Yifan menoleh cepat dan turun dari posisi sebelumnya yakni duduk di atas atap bangunan di sebelah lokasi gudang baru itu. "Ada apa? Masalah detail gudang?"
Ravi meringis pelan lalu mengangguk. "Bagaimana?"
"Tidak perlu detailing. Cukup simbol Vice saja." Jawab Yifan singkat. "Anak buahmu itu, tumben sekali ada gadis disana?"
Ravi tertawa kecil. "Ya, gadis itu ngotot ingin jadi builder dan tidak mau bekerja di balik meja seperti yang lain, Tuan. Awalnya saya tidak mempercayai kemampuannya, tapi setelah saya melihatnya berjuang, belajar mantra dan sihir level dua dengan semangat tinggi, saya yakin dia punya bakat yang lebih dibanding yang lain." Terang Ravi sambil sesekali menatap Yifan yang tersenyum simpul tiap melihat Zitao. Lalu ia punya ide cemerlang, tapi...
"Jangan coba-coba lakukan idemu atau kau ku kirim ke Nash, Ravi." Ingat Yifan tanpa menoleh sedikitpun pada Ravi. Dan pemuda itu hanya meringis tanpa dosa lalu segera berlari menuju teman-temannya yang sedang bekerja membangun sebuah gudang baru untuk para Lock.
Yifan menahan tawanya dan membiarkan kumpulan psychers itu bekerja dan ia akan mengawasi mereka dari atap seperti yang sempat ia lakukan tadi. Dengan begitu, ia tidak akan kesulitan untuk menatap tiap gerak-gerik gadis yang sudah membuatnya tertarik itu. Walau Yifan sendiri tidak percaya bahwa baru saja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi ia harus mengakui bahwa perutnya terasa geli saat ia memeluk gadis itu tadi. Cara termudah mendeteksi apakah ia jatuh cinta pada seorang gadis atau tidak adalah dengan melakukan interaksi fisik. Dan setelah ia memeluk gadis itu dengan tiba-tiba saat mereka berteleportasi, Yifan tahu bahwa ia memang baru saja jatuh cinta pada gadis yang bahkan ia tidak tahu siapa namanya.
.
.
.
tbc
*This story is inspired by these films: Vice, Divergent, The Maze Runner, Push, Dracula Untold, little bit HP and of course Big Hero 6 little little
dan mungkin ada yang lain tapi saya lupa judunya ^_^" maaf ya,*
Halo.
Maaf ya Jongsoo sedang sangat lowong dan lebih semangat menyelesaikan ini ketimbang menyelesaikan tugas akhir. Jadi maaf kalo update-nya terus2an hehehe.
Semoga yang baca tanpa review atau belum review, berkenan buat review, ya ;). Terima kasih juga buat yang sudah menunggu kelanjutannya dan reviewnya juga terima kasih :D.
Jongsoo tetap tunggu review kalian,
Salam,
KJ-27
