Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!

Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.

Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena beberapa ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.

The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.

Selamat membaca Chapter 3 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.

- KJ-


Setelah prosesi sarapan yang cukup formal dengan Ketua Distrik dan beberapa triens terpilih, Baekhyun, Luhan dan juga Myungsoo kini sudah kembali ke posko dengan perut yang benar-benar kenyang.

"Oke, aku benci mengatakan ini tapi bisakah kalian tidak bersikap seperti orang gila yang sedang jatuh cinta?" ujar Myungsoo tiba-tiba seraya menyandarkan tubuhnya di kursi paling empuk yang pernah ia duduki ini.

Baekhyun menatap Myungsoo heran dan membalas sahutan pemuda itu. "Siapa yang jatuh cinta, sih, Myungie?"

Myungsoo balas menatap Baekhyun dengan datar. "Kau," tunjuk Myungsoo dengan jarinya. "Dan dia," kali ini jari Myungsoo pindah pada Luhan.

Baekhyun tertawa sejenak sebelum menjawab tuduhan Myungsoo lagi. "Aku tidak sedang jatuh cinta, tahu. Luhan, tuh,"

Dan sebuah lempara apel hampir saja mengenai kepala Baekhyun jika gadis bawel yang cantik itu tidak cepat bereaksi. "Kau dan mulut besarmu, Baek." Balasnya. "Siapa yang kemarin malam berakting bodoh seperti gadis remaja yang menemukan pangeran hatinya? Yang jelas bukan aku dan tidak mungkin Myungsoo," lanjut Luhan seraya kembali memilih buah yang akan ia makan untuk cemilan.

Baekhyun nyengir dengan tidak elitnya lalu duduk di samping Myungsoo. "Luuuu, Chanyeol itu tampan, tahu. Baik, ramah, pintar," celotehnya. "Ya walau kadang terlihat bodoh, sih. Tapi dia tampan!"

Luhan membalikkan badannya dan bertemu pandang dengan Myungsoo. "Lihat? Gadis kecil kita sedang kena virus cinta dan dia melemparkan semuanya padaku. Sudah jelas aku tidak jatuh cinta pada siapa pun,"

Myungsoo tertawa kecil melihat perdebatan dua gadis cantik di hadapannya ini. Sebagai senior mereka secara tidak langsung, Myungsoo sangat paham bagaimana tugas jaga sangat bisa jadi ajang cinta lokasi.

"Kau dan mulut besarmu, Rusa Sombong." Balas Myungsoo datar. "Aku melihatmu mencuri pandang dari pemuda itu diam-diam beberapa kali. Kau kira aku buta?"

Baekhyun menatap Myungsoo heran. "Luhan memandangi seseorang? Siapa, Myung?"

"Pemuda yang duduk di dekat Chanyeolmu itu. Aku juga tak tahu siapa namanya. Tadi kan tidak ada perkenalan dari pihak mereka."

Luhan terlihat salah tingkah setelah Baekhyun tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan tatapan jahil yang menuntut penjelasan secepatnya.

"A-aku tidak memandanginya! Ya, kan kita akan ada disini selama satu minggu ke depan. Jadi tadi aku screening wajah-wajah para triens. Siapa tahu ada yang menyeramkan dan harus kuhindari," jawab Luhan sekenanya.

Baekhyun dan Myungsoo tertawa dengan puas setelah mengerjai Luhan.

"Screening katanya? Screening untuk keperluan pekerjaan atau screening untuk keperluan hati, huh?" tanya Myungsoo lagi. "Lagipula kalian ini kan dokter, harusnya bisa tahu kapan hormon-hormon remaja pertanda jatuh cinta itu mulai muncul di tubuh kalian, kan?"

Baekhyun kena lagi. Baru saja ia berniat membully Luhan dan acara screeningnya, Myungsoo malah memberinya skakmat.

"Permisi,"

Dan perdebatan ketiga dokter muda itu pun berhenti ketika mereka mendengar suara seorang pemuda dari arah pintu masuk posko. Myungsoo pun bangkit dan mendekat pada pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Oh, kau rupanya. Masuklah. Mau bertemu Baekhyun?" tanya Myungsoo to the point.

Pemuda yang belum juga masuk itu hanya tertawa kecil sebelum akhirnya masuk bersama dua orang pemuda lainnya. Chanyeol terlihat sedang membantu salah satu triens yang terlihat baru saja terluka.

"Dia melakukan hal bodoh tadi. Saat kami sedang bereksperimen di Lab, entah kenapa dia tiba-tiba berakrobat setelah sebelumya ia sempat melukai tangannya dengan peralatan Lab secara tidak sengaja." Jelas Chanyeol pada para dokter muda itu.

"Aku tidak berakrobat. Itu kan ujicoba alat!" protes sang pemuda yang terlihat kesakitan dengan memegangi pinggang kanannya itu.

Baekhyun tersenyum simpul melihat kondisi ini lalu mundur perlahan dan menyuruh Luhan untuk menangani pemuda itu.

"Lu, kau tangani dia ya. Aku akan cari buku mantra dulu," sahut Baekhyun seraya menjauh dari kerumunan.

"Aku tidak tahu posko kesehatan ternyata sebagus ini," bisik seorang pemuda lain yang ada di samping Chanyeol.

"Kau harus berterimakasih pada para peak karena kerjasama mereka dengan para psycherslah posko ini bisa selesai dengan cepat dan apik." Balas Chanyeol dengan berbisik juga.

"Bisakah kalian berhenti saling berbisik seperti gadis-gadis yang sedang bergosip? Sahabatmu sedang sakit disini," protes sang pemuda yang sedang berbaring di dipan itu.

"Berhentilah bersikap seperti gadis yang mencari perhatian, Sehun. Atau kau mau kami meninggalkanmu sekalian?" ucap sang pemuda di samping Chanyeol.

Sehun diam seketika dan Chanyeol tertawa dengan puas. "Oh, maaf, aku belum memperkenalkan mereka, ya? Ini Jongin, dan yang sedang sakit manja itu namanya Sehun. Mereka berdua young triens,"

Myungsoo mengangguk paham dan menjabat tangan Jongin sebagai tanda perkenalan. "Aku Myungsoo. Dan dua gadis itu, pasti kau sudah mengenalnya, kan?"

Jongin mengangguk sekali dan mereka berdua tertawa sendiri. "Chanyeol banyak bercerita tadi malam. Dia—AW!"

Dan celotehan Jongin berhenti setelah sebelah kakinya diinjak dengan sengaja oleh Chanyeol. "Jangan perdulikan dia. Dia membual," bantah Chanyeol singkat.

Luhan menahan senyumnya saat melihat Chanyeol serta Jongin berdebat kecil. Ia berusaha tetap fokus untuk melakukan scanning pada tubuh pemuda yang bernama Sehun ini. Sebagai seorang weast, ia memang dilatih untuk melakukan scanning pada tubuh pasien sebelum mereka melakukan treatment.

"Ada saraf di pinggangmu yang terjepit dan ada tulang belakang yang sedikit retak. Mungkin karena gerakan eum... akrobat?" tanya Luhan hati-hati.

Dan diluar dugaannya, pemuda yang sedang ia tangani itu tertawa kecil. "Ya, sebut saja begitu. Apa itu buruk? Maksudku, aku harus bekerja dan menyelesaikan tugas harian. Dan jika aku harus berbaring disini seharian, maka tugasku tidak akan selesai dan artinya aku akan turun peringkat di papan lalu ada kemungkinan aku tidak bisa ikut Vicerity, yang artinya—"

"Well, well. Sudah sakit, banyak bicara lagi. Jangan pikirkan Vicerity dan rencanamu untuk mencari jodoh disana, Albino. Pikirkan saja bagaimana kau akan menahan sakitnya saat dokter menyembuhkanmu." Potong Jongin kesal.

"Kau tidak perlu mengajaknya berbicara banyak, Lu. Dia hanya akan membual tentang rencananya mencari jodoh di Vicerity yang aku jamin tidak akan berhasil itu. Maafkan pasien barumu yang terlalu banyak bicara itu, ya?" lanjut Chanyeol.

Luhan tertawa kecil mendengar protes Jongin dan Chanyeol tentang celotehan Sehun yang entah kenapa seperti membuat organ pentingnya terasa nyeri baru saja. "Sebagai dokter, aku harus mengajak bicara pasienku agar aku bisa tahu reaksinya terhadap sakitnya, Chan, Jong."

"Lu, bagaimana hasil scannya?" tanya Baekhyun yang baru saja datang dengan sebuah buku tebal.

"Woow, what's that?" tanya Chanyeol cepat.

Baekhyun menoleh dan mendapati Chanyeol memandangnya lalu ia merasa perutnya tiba-tiba geli. "A-ah, ini buku ajar untuk weast. Karena aku middle weast awal jadi aku selalu membawa ini kemana pun. Untuk berjaga-jaga jika aku lupa mantra," jawab Baekhyun gugup.

Myungsoo bisa merasakan hawa-hawa merah muda di depannya. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menahan tawanya tiap kali melihat interaksi mereka.

"Luka lecet di lengan bawah, retak di tulang belakang, dan saraf yang terjepit di pinggang." Jawab Luhan seraya tetap berusaha fokus saat ia diharuskan untuk menyentuh dada Sehun demi mengukur detak jantung pemuda itu.

Ia agak sedikit terkejut karena detak jantung pemuda itu normal dan tidak berpacu cepat seperti miliknya saat ini. Dan secara tidak sadar, Luhan baru saja tersenyum getir dengan kenyataan bahwa detak jantung Sehun tetap normal bahkan saat tangan halus gadis itu menyentuh dada bidangnya.

"Detak jantung normal, respirasi normal, suhu normal." Lanjut Luhan. Kali ini ia memegang pinggang kanan Sehun untuk merapalkan beberapa mantra yang ia ingat tapi pemuda itu malah berteriak kesakitan tiba-tiba dan Luhan pun melepas tangannya panik.

"A-ada apa?"

"Panas. Terasa panas luar biasa di pinggang yang kau sentuh. Apa itu reaksi wajar?" tanya Sehun seraya menahan panas yang masih menjalar dari pinggangnya.

Myungsoo menggeleng pelan dan mendekati Luhan sebelum gadis itu nyatanya malah mencoba menyentuh pinggang Sehun lagi, merapalkan mantra lagi dan Sehun berteriak bahkan lebih kencang.

"Biar aku yang melakukannya." Pinta Myungsoo datar dan seketika Luhan bangkit, mundur dan mendekati Baekhyun lalu memegang tangan gadis itu dengan erat.

"Baek, kenapa begini?" bisik Luhan pada Baekhyun.

Gadis cantik yang bawel itu hanya bisa menepuk pundak Luhan lembut dan menenangkannya sementara matanya masih mengawasi Myungsoo yang sedang mengobati Sehun.

"Tidak panas lagi kan?" tanya Myungsoo pada Sehun seraya mengusapkan tangannya di pinggang Sehun.

Sehun menggeleng pelan. "Sudah selesai?"

Myungsoo mengangguk pelan. "Ya, itu sudah selesai. Untuk pinggang dan tulang belakangmu." Jawabnya seraya mengialkan dagunya meminta lengan kanan Sehun yang terluka agar ditunjukkan padanya.

"Ini sudah sejak tiga hari lalu, sih. Tapi karena aku tak tahu bagaimana membersihkannya jadi hanya kututup kain," jelas Sehun.

Myungsoo tersenyum simpul lalu mengusap lengan Sehun dan selesai. "Sudah. Kau bisa kembali bekerja lagi sekarang, Hun."

Sehun tersenyum kecil dan beranjak dari dipannya menuju Jongin juga Chanyeol.

"Aku akan kemari lagi untuk membawakan beberapa ucapan terima kasih. Terima kasih untuk penyembuhannya, Myungsoo, Luhan. Dan salam kenal, Baekhyun." Ucap Sehun sopan seraya menundukkan kepalanya sekali pada para dokter muda itu.

Jongin dan Chanyeol pun mengikuti langkah Sehun dan berpamitan pada mereka bertiga. Dan setelah ketiga triens itu meninggalkan posko, Myungsoo langsung merapikan dipan Sehun dengan sekali gerakan.

"Kau tahu apa kesalahanmu tadi?" tanya Myungsoo tanpa aling-aling pada Luhan.

Luhan terlihat mengigit bibir bawahnya seperti orang ketakutan dan Baekhyun yang paham pun segera membawa Luhan ke pelukannya dan menenangkan gadis itu sebelum ia menangis.

"A-aku..."

Myungsoo mendesah pelan. "Itulah kenapa kau harus mengatur emosimu saat sedang mengobati pasien, Luhan. Kau tahu? Tindakanmu tadi hampir membuat saraf Sehun yang terjepit itu pecah karena saluran panas darimu? Bukankah itu malah akan membuatnya tambah sakit?"

Luhan meringkukkan kepalanya di ceruk leher Baekhyun dan mulai menangis lirih.

"Myungsoo! Jangan memarahi Luhan begitu, mungkin dia sedang gugup tadi."

Satu-satunya pemuda di posko ini itu pun kembali menggeleng. "Dia tidak gugup, Baek. Aku bisa merasakan emosi sakitnya hanya dari cara dia meletakkan tangannya di pinggang Sehun." Balas Myungsoo. "Sebenarnya ada apa denganmu, Luhan? Kau tidak biasanya begini,"

Luhan masih sesenggukan dan Baekhyun masih menenangkan gadis bermata mirip Rusa itu. Myungsoo yang merasa bahwa ini tidak akan berakhir baik jika ia juga ikut emosi pun melangkah keluar posko dan memilih membiarkan dua gadis itu saling menenangkan.

"Myungsoo?" sapa Chanyeol tiba-tiba.

"Oh, hai, Yeol. Ada apa?"

Chanyeol menggeleng dan menawari Myungsoo untuk sekedar berjalan-jalan mengitari Trien. "Aku melihat seperti ada sesuatu yang terjadi tadi. Apa benar Sehun baik-baik saja?"

Myungsoo tidak menghentikan langkahnya dan malah tersenyum kecil saat mendengar kata-kata Chanyeol. "Sehun sudah baik-baik saja. Ingatkan saja untuk jangan banyak beraktivitas berat, selama satu minggu ini. Supaya proses penyembuhannya berjalan lancar."

Chanyeol mengangguk pelan. "Dia sudah kusuruh istirahat di kamar bersama Jongin dan membiarkan mereka melakukan tugas harian di kamar." Sahutnya. "Dan, eum, boleh aku bertanya tentang—"

"Baekhyun?" potong Myungsoo cepat dan Chanyeol terlihat menggaruk kepala belakangnya setelah itu.

"You know me well, Myung." Balasnya. "Apa dia... eum, kau tahu, ya apa dia punya teman dekat seorang lelaki yang ya mungkin akan jadi kekasihnya?"

Myungsoo harus menahan tawanya saat mendengar Chanyeol bertanya tentang teman dekat Baekhyun. "Kau tahu, dia cukup cantik dan bawel. Kebanyakan weast tidak terlalu suka orang yang cerewet, tapi Baekhyun disayang banyak orang karena dia sangat playful. Dan aku tidak bisa memastikan apakah ada yang menyukainya selain kau,"

Dan Chanyeol langsung menghentikan langkahnya dan menatap Myungsoo. "A-aku tidak bilang aku menyukai Baekhyun,"

"Your fuckin' act telling me the truth, dude." Balas Myungsoo datar. "Aku seorang dokter, jadi aku tahu sedikit tentang hormon-hormon remaja yang sedang muncul di tubuhmu sekarang."

Chanyeol tertawa lepas mendengar pernyataan Myungsoo. Tentu saja pemuda ini tahu, dia kan dokter. "Maaf. Tapi, aku benar-benar penasaran dengan Baekhyun sejak Vicerity tahun lalu. Dan hari ini malah bisa menemuinya dengan mudah. Kau tahu persis bagaimana senangnya aku, kan?"

"Cinta saat pandangan pertama yang bersambut satu tahun kemudian. Jika aku menulis sebuah buku, mungkin itu akan jadi kisah menarik, Chan." Balas Myungsoo. "Dekati saja dia dengan caramu sendiri. Dia juga menyukaimu, kok. Tenang saja, cintamu bersambut dengan baik."

Dan Chanyeol tidak bisa menghentikan dirinya dari senyum dan tawa yang muncul tiba-tiba sejak ia mendapat informasi sempurna dari Myungsoo.

.


"Bagaimana pinggangmu? Apa... eum, sudah membaik?"

"Ya, sudah cukup baik. Myungsoo membawakan beberapa ramuan kemarin. Padahal aku berharap kau yang akan mengantar, kan kau yang menanganiku pertama kali."

Hari ini Luhan menemukan dirinya sendiri ada di samping Sehun sedang berjalan-jalan menikmati lingkungan Trien yang cukup asri dan teduh. Setelah insiden di posko kesehatan beberapa hari lalu, hari ini tiba-tiba Sehun mendatangi posko sendirian dan mengajaknya berjalan-jalan sebentar yang tentu saja tidak mampu ia tolak.

"Maaf ya, aku membuatmu merasa tidak nyaman tempo hari." Ucap Luhan sedih.

Sehun menatap Luhan diam-diam lalu kembali menatap pohon-pohon di sampingnya. "Yang terpenting adalah aku sudah sembuh. Dan aku juga tidak mempermasalahkan itu,"

"Tapi aku merasa bersalah kau tahu,"

"Kalau begitu, aku akan memaafkanmu, tapi dengan syarat." Tawar Sehun pada Luhan.

Gadis cantik itu lantas menghentikan langkahnya dan menatap pemuda Albino yang berjarak beberapa langkah di depannya. "Jangan mengajukan syarat yang aneh-aneh, Hun. Aku tidak akan melakukan apapun syaratmu jika itu aneh-aneh,"

Sehun menahan tawanya tapi kemudian ia memilih untuk melepaskannya. "Kau fikir aku mesum seperti Jongin? Tidak, cukup dia saja. Jangan sangkut pautkan aku dengan topik mesum, aku ini pemuda baik-baik dan polos."

Luhan memutar bola matanya malas mendengar celotehan Sehun. "Jadi apa syarat agar kau memaafkanku?"

Sehun menarik senyum di sudut bibirnya dan memilih mengajak Luhan untuk duduk sebelum ia mengatakan apa syaratnya.

"Aku ingin kau berpura-pura melakukan sesuatu denganku,"

Luhan memicingkan matanya dan hendak memprotes saat Sehun menempatkan telunjuknya di bibir Luhan dan ia merasa kaku.

"Jangan memotong perkataanku. Dengarkan saja sampai selesai," titah Sehun. "Aku ingin kau berpura-pura melakukan sesuatu denganku. Yang jelas ini bukan hal-hal mesum seperti yang kau fikirkan, Lu. Putuskan tali-tali yang menghubungkan hal-hal mesum dengan namaku. Itu tidak cocok,"

Luhan tertawa kecil. "Baiklah Tuan sok Polos. Apa yang harus aku lakukan? Dan berapa kali aku harus melakukan syaratmu itu agar aku mendapat maafmu?"

Sehun tersenyum lagi. Luhan bersumpah bahwa jika Sehun tersenyum sekali lagi maka ia akan mencium bibir pemuda itu hanya untuk menghentikannya tersenyum karena tubuh Luhan saat ini sudah naik suhunya setiap Sehun tersenyum dengan tampannya.

"Berpura-puralah jadi kekasihku, sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura."

Dan Luhan benar-benar menepati sumpahnya untuk mencium bibir Sehun sesaat setelah ia sempat mematung sejenak mencerna permintaan Sehun yang agak konyol, dimana akhirnya Sehunlah yang memulai prosesi penyatuan bibir keduanya.

Lembut tanpa paksaan. Sehun membiarkan bibirnya bertemu dengan bibir Luhan yang sejak beberapa hari lalu membuat badannya panas dingin hanya dengan memikirkannya. Dan setelah ia membuat sebuah alat baru bersama Jongin, ia pun akhirnya dengan yakin mendekati Luhan hari ini walau ia tidak menyangka niat mendadaknya untuk mencium Luhan akan bersambut baik dimana gadis ini tidak menolak saat Sehun mengecup bibirnya pertama kali lalu membiarkan saat Sehun mulai melumat lembut bibir bawah Luhan dan membalas ketika tingkat ciuman itu mulai naik.

Tangan Sehun menyapa pipi Luhan dan mengusapnya lembut, menandakan bahwa ia menikmati ini dan tidak ingin Luhan menyelesaikan ini begitu saja tanpa akhiran berarti. Seolah terhipnotis, Luhan pun mengalungkan tangannya ke belakang leher Sehun dan membiarkan pemuda itu berdiri tanpa melepaskan ciuman mereka dan malah semakin mengeratkannya.

"I love you, Lu."

.


Waktu bagian Vice terasa begitu cepat berlalu. Setelah young vicens mulai akrab dengan dunia baru mereka di distrik masing-masing, saatnya pesta penyambutan diadakan untuk mereka yang termasuk berprestasi selama tujuh bulan ini. Diadakan di town hall kebanggaan Vice, Vicerity selalu disertai dengan musik-musik menyenangkan yang membangun suasana khas anak muda. Dan ini termasuk salah satu daya tarik Vicerity, mulai dari musik-musik romantis khas anak muda, lalu hampir seluruh middle dan young vicens akan berkumpul menjadi satu disini yang artinya akhirnya para remaja pencari cinta yang menganggap hatinya tidak ditakdirkan untuk seseorang yang berada satu distrik dengan mereka pun akan melakukan pencarian pasangan hidup disini.

Seperti halnya yang sempat dilakukan Chanyeol di Vicerity tahun lalu ketika dia menemukan seorang gadis mungil menggemaskan yang merebut perhatiannya namun gagal ia ketahui namanya karena pesta itu diselesaikan lebih cepat dari jadwal. Dan untuk Vicerity tahun ini, pemuda yang suka sekali tertawa itu merasa lebih lengkap karena ia sudah tak perlu lagi mencari gadis mungil menggemaskan yang nyatanya hampir sedikit lagi akan menjadi kekasihnya itu. Satu langkah lagi, maka Chanyeol akan menjadikan gadis mungil itu kekasihnya.

Chanyeol menganggap dirinya tak seberani Sehun yang hanya butuh beberapa hari dari perkenalannya dengan Luhan lalu dengan nekatnya pemuda albino itu menjadikan Luhan kekasihnya yang gilanya lagi, ternyata Luhan menerima Sehun tanpa penolakan. Bahkan first kiss Sehun sudah diberikannya pada Luhan. Benar-benar, Chanyeol tidak habis pikir pada dirinya sendiri. Haruskah ia seberani Sehun? Atau pelan-pelan saja dan menunggu Baekhyun memberi respon yang lebih positif?

Selama ini sejak Baekhyun sudah tak berjaga lagi di Trien, Chanyeol diam-diam memberikan sebuah alat temuan Sehun dan Jongin, yakni telewatch. Alat ini terbukti membantu Chanyeol tetap bisa berkomunikasi dengan Baekhyun walau mereka tidak bertemu. Hanya lewat sebuah salam dari pikiran mereka, maka dua sejoli yang masih malu-malu ini akan masuk dalam dunia baru yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan tak jarang, Sehun dan Jongin menemukan senior mereka ini sedang duduk di pojok ruangan dan tertawa sendiri. Dan itu yang membuat mereka kadang ngeri melihat Chanyeol.

Masing-masing penduduk distrik memang tidak dilarang untuk keluar dari distrik mereka untuk sekedar berjalan-jalan menuju taman Vice, atau berbelanja di pasar Vice. Tapi mereka tidak bisa masuk ke distrik lain tanpa ada keperluan penting. Dan kadang itu yang membatasi Chanyeol dan Baekhyun bertemu. Gadis mungil itu dilarang keluar sendirian oleh ketua young weast, Jaeseop. Pemuda yang kadang punya senyum mirip kucing itu mengatakan bahwa ia tidak mau Baekhyun keluar sendirian kecuali ada yang menemaninya dan itu harus seorang pemuda. Dan Baekhyun beberapa kali menolak karena ia tidak ingin merepotkan teman-temannya hanya untuk urusan kencannya dengan Chanyeol.

Tapi hari ini, seluruh batasan bagi keduanya akan hilang setidaknya selama satu hari penuh karena sejak pagi hari, seluruh young dan middle vicens yang terpilih jadi tamu di Vicerity akan dibebastugaskan dari kewajiban mereka di distrik masing-masing. Sejak pagi, mereka bebas keluar masuk distrik menuju central town walau tetap tidak diijinkan untuk masuk menuju distrik lain. Dan menjelang malam hari, town hall yang memang sudah ditutup sejak satu hari sebelumnya, akan mulai dibuka dan para tamu undangan akan dipersilahkan masuk dan menikmati sajian baik makanan, minuman dan musik ala remaja yang sudah dipersiapkan oleh Lock.

Dengan gaun-gaun menakjubkan, para gadis-gadis cantik yang jarang sekali berdandan ketika bekerja di distrik masing-masing, sekarang terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Gaun-gaun yang mereka pakai, biasanya adalah hasil karya dari para Lock yang mendedikasikan keahliannya untuk membuat gaun-gaun cantik khusus Vicerity yang selalu berbeda tema tiap taun. Para gadis-gadis tidak akan dituntut untuk membayar demi sebuah gaun, semua disediakan untuk mereka secara cuma-cuma.

Sedangkan untuk para pria-pria tampan penghuni Vice, para Lock juga menyediakan setelan jas yang menjanjikan. Tidak jarang walau hanya dengan sebuah kemeja polos dan jas sederhana, para pria akan tetap terlihat menawan dengan beberapa sentuhan sihir rahasia dari para desainer. Tidak seperti gaun-gaun para wanita yang kadang diselimuti aksesoris glamor, jas para pria cenderung elegan dengan aksen-aksen sederhana.

"Aku tak sabar bertemu kakakmu, Hun."

Jongin menyuarakan suara hatinya yang sudah ia pendam sejak ia pertama dan terakhir bertemu Kyungsoo saat gadis itu mengantar makanan ke distriknya.

"Untung aku baik hati. Jika tidak, aku tidak akan rela kakakku kau jadikan kekasih. Mana mau aku punya kakak ipar sepertimu," protes Sehun seraya merapikan dasi kupu-kupunya.

Dan satu jitakan pelan menyapa kepala Sehun. "Percuma aku membantumu menyelesaikan seluruh pekerjaan jika begitu," balas Jongin tak kalah kesal.

Chanyeol tertawa. Lagi. Entah ini sudah berapa kali ia tertawa sendiri apalagi saat Jongin dan Sehun sedang bersamanya.

"Kau semakin menakutkan, Chan." Lirih Jongin.

Chanyeol tertawa lirih. "Ini tentang Baekhyun. Dia baru saja memberiku pesan tentang bagaimana dia dan Luhan juga teman-teman wanitanya yang lain sibuk berdandan."

Sehun mengangguk paham. "Padahal Luhan sudah kuberitahu untuk tidak usah berdandan. Begitu saja kan dia sudah cantik, apalagi kalau dia berdandan? Bisa mati cepat aku,"

Jongin tertawa spontan mendengar rayuan gagal milik Sehun. Ia memilih kembali menjitak pelan kepala Sehun setelahnya. "Rayuanmu buruk sekali, man."

Sehun mengendikkan bahunya. "Setidaknya rayuanku yang kau bilang buruk ini sudah berhasil menaklukkan Luhan. Nah kalian?"

Dan Sehun tidak bisa menghindar dari serangan jitakan dan pukulan di lengannya juga perutnya yang datang dari Jongin serta Chanyeol.

"Aku akan meminta Baekhyun untuk menjadi kekasihku malam ini." Putus Chanyeol semangat.

"Aku... mungkin akan berbincang dulu saja dengan Kyungsoo." Lirih Jongin lemah.

Chanyeol tertawa lagi. Tapi kali ini bukan karena Baekhyun, tapi karena melihat mimik menyedihkan Jongin yang terlihat lucu baginya. "Kau kasihan sekali, Jong. Apa perlu kudoakan agar Kyungsoo langsung bilang dia menyukaimu malam ini?"

Jongin menatap Chanyeol dengan wajah datar. "Diam kau. Tidak, aku ingin berusaha sendiri. Aku ingin meyakinkan Kyungsoo bahwa aku adalah aku,"

Sehun dan Chanyeol tertawa lagi bersamaan. "Memangnya kalau kau bukan kau, lalu siapa kau? Tuan Minho? Atau Tuan Kyuhyun?" tanya Chanyeol seraya melanjutkan tawanya.

Jongin menatap mereka malas dan memilih menyingkir untuk mengambil minuman. Sebenarnya Jongin masih cukup gugup untuk malam ini. Walau ia sudah menunggu hari ini sejak dua bulan lalu, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak siap. Ia tidak siap bertemu Kyungsoo, ia tidak tahu harus apa ketika gadis itu ada di hadapannya, bahkan ia juga tidak tahu harus apa jika gadis itu tersenyum padanya. Jongin merasa terlalu cepat jatuh dalam pesona tersembunyi milik Kyungsoo. Tapi ia juga tidak bisa menolak untuk tidak jatuh. Karena gadis itu dengan luar biasanya membuat ia jatuh cinta saat ia bahkan belum bisa menentukan akan jadi apa ia di masa depan.

"Ah, apa yang harus kulakukan, ya?"

Jongin bergumam sendiri. Ia berjalan menuju meja penuh minuman dengan tatapan bingung dan ketika ia akan mengambil minumannya, ia tiba-tiba merasa sesak nafas tiba-tiba. Dan ketika ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk sekedar melihat apa penyebab nafasnya terasa sesak tiba-tiba, ia menemukan gadisnya berada tidak jauh darinya. Hanya lima langkah, dan Jongin tidak bisa apa-apa. Degupan jantungnya yang mendadak naik ritme dengan cepat membuatnya makin tidak karuan.

Jongin memastikan itu adalah Kyungsoo setelah gadis itu tersenyum dan Jongin merasa waktu di sekitarnya berhenti. Karena tidak ada satu pun gadis di Vice yang mampu membuatnya merasa seperti itu kecuali Kyungsoo. Dan gadis itu malam ini, terlihat sangat sempurna dengan kesederhanaannya. Well, walau gaun itu tidak terlalu terlihat sederhana, tapi bagi Jongin itu sudah paling minimalis dari gaun-gaun gadis lain yang sejak tadi bersliweran di depannya. Dan Jongin menemukan dirinya benar-benar jatuh dalam pesona Kyungsoo, ia tidak bermimpi dan ia tidak berkhayal. Ia hanya jatuh cinta, tapi Jongin merasa seperti orang gila.

"Jongin?"

Bahkan sebuah sapaan bisa membuat konsentrasinya buyar. Pemuda itu tiba-tiba hilang dari tempatnya dan membuat bingung sosok yang baru saja menyapanya. Tapi sejenak kemudian, Jongin muncul kembali di tempat yang sama dengan Sehun disampingnya.

"Oh, halo Kyungie!" panggil Sehun semangat. Pemuda itu pun langsung memeluk erat sang kakak. "Aku tak tahu bahwa aku punya kakak seorang bidadari. Kau cantik sekali, Kyung."

Kyungsoo menundukkan wajahnya menghindari tatapan Jongin yang ia tahu sedari tadi tidak pernah lepas darinya. "Aku biasa saja, Hunnie. Masih kalah dengan gadis-gadis yang lain." Ucapnya merendah.

"Baby Hun~"

Dan Sehun langsung membalikkan badannya begitu panggilan kesayangan itu menyapanya. "Uhh~ Kau merindukanku?"

Luhan yang terlihat tak kalah cantik dari Kyungsoo dengan gaun biru muda itu pun mengangguk malu-malu.

"Kenapa aku dikelilingi wanita-wanita cantik begini, sih? Jadi gugup, kan." Ujar Sehun. "Kau tidak mau mengatakan apapun, buddy?"

Sehun menatap Jongin tanpa melepas pelukannya pada Luhan. "Jika kau tak berminat berkata apapun, akan kukenalkan kakakku pada teman baik Luhan. Kau tahu, dia cukup tampan dan—"

"Kyung, bisa kita bicara di tempat lain? Aku merasakan ada hawa setan disini," sahut Jongin tiba-tiba yang mendapat anggukan malu-malu dari Kyungsoo dan membuat Sehun langsung berbalik berniat melempar pemuda itu dengan sepatunya.

"Dasar hitam sialan." Gerutunya.

"Biarkan saja, Sayang. Mungkin Jongin ingin menghabiskan waktunya dengan gadis itu. Siapa sih, dia?" tanya Luhan penasaran.

Sehun menatap Luhan kaget. "Oh, kau belum tahu ya? Gadis tadi adalah kakakku. Dia freast, middle. Dan Jongin jatuh cinta padanya."

Luhan tertawa dengan cantik hingga membuat Sehun tidak tahan untuk langsung mencium pipi halus Luhan. "Ya! Pervert sekali, sih?" protes Luhan. "Lagipula, Jongin kan anak yang baik, cerdas pula. Kukira jika kakakmu bersama Jongin, mereka akan cocok."

"Tentu saja cocok. Kakakku yang mencintai memasak, dan Jongin yang cinta dengan ilmu pengetahuan. Mungkin jika mereka menikah, maka anak-anak mereka akan lahir dengan kecintaan luar biasa pada ilmu pengetahuan memasak,"

.

.

.

"Maaf ya, tadi aku sempat menghilang tiba-tiba saat kau memanggilku."

Entah kenapa, tapi Kyungsoo jelas merasakan hatinya tiba-tiba menghangat saat Jongin meminta maaf padanya.

Gadis itu memilih tertawa kecil sebelum membalas permintaan maaf Jongin. "Apa itu kebiasaanmu jika gugup?"

Jongin menoleh tiba-tiba dan mendapati Kyungsoo tengah tertawa hingga kedua mata indahnya menghilang sejenak. Dan saat itu juga Jongin merasakan hawa surga sangat dekat.

"T-tidak sih, t-tapi yah kalau kau bilang begitu, aku tidak menyangkal." Jawab Jongin jujur.

Kyungsoo tertawa lagi. "Memangnya kalau menghilang begitu, gugupmu akan hilang?"

Jongin menggeleng. "Tidak juga. Aku hanya tidak mungkin memperlihatkan wajah bodohku saat gugup padamu, kan? Itu memalukan,"

Kyungsoo lagi-lagi tertawa. Entah berapa kali malam ini dia tertawa hanya karena kelakuan sederhana Jongin. "Kudengar kau adalah murid tercerdas di Trien?"

Jongin menghela nafasnya dan tertawa hampa. "Masalah itu, ya? Aku tidak berpikir demikian, sih. Tapi jika cerdas diukur dari peringkat di papan, maka aku tidak bisa menyangkal."

Kyungsoo tersenyum simple. Dua kali bertemu pemuda ini, dan Kyungsoo sudah punya banyak catatan tentangnya. Jika ia tidak sedang dalam gaun yang susah dipakai ini, maka ia akan langsung mengambil buku catatannya untuk menulis beberapa tambahan data tentang Jongin. Setidaknya yang Kyungsoo tangkap dari pembicaraan mereka malam ini, Jongin tidak suka kemewahan. Dan itu salah satu dari sekian poin yang Kyungsoo masukkan ke dalam kriteria pria idamannya jauh-jauh hari sebelum ia bertemu Jongin.

"Kau sendiri? Bagaimana kau menilai dirimu di Freast?"

Kyungsoo menoleh dan mendapati siluet Jongin yang terbentuk secara tidak sengaja karena tinggi pemuda itu yang secara tidak langsung menutupi arah cahaya dari tengah-tengah town hall.

"Aku suka memasak, terutama hidangan utama dan hidangan pencuci mulut. Di papan, peringkatku juga tidak jelek, kok." Jawab Kyungsoo polos.

"Memangnya kau peringkat berapa?"

"Sama sepertimu?"

Dan Jongin menemukan lagi sisi istimewa dari Kyungsoo.

"Kau sangat berbeda dari Sehun, ya? Dia begitu malas dan menyebalkan. Sedangkan kau begitu rajin dan mengagumkan," puji Jongin tulus pada Kyungsoo.

"Jangan memujiku berlebihan, Jongin. Aku tidak serajin dan semengagumkan itu, kok." Jawab Kyungsoo merendah.

Jongin tertawa sejenak. "Kau tahu? Aku sempat gugup memikirkan hal apa yang harus kulakukan saat kau muncul di hadapanku. Tapi sekarang, aku bahkan tetap bisa berbicara meski aku tak tahu apa yang harus kubicarakan."

"Kau ini suka sekali gugup, ya?"

Jongin tertawa lagi. "Orang cerdas tak selamanya tenang dalam menghadapi sesuatu, kan? Apalagi sesuatu yang tidak biasa begini. Bagaimana mau tenang?" lirihnya pada akhir kalimat.

Kyungsoo mengangguk-angguk. "Iya, iya, peringkat satu di Trien. Sombongnya mulai keluar, hm?"

"Kau juga peringkat satu di Freast. Dan, ya, aku tidak sombong, Kyung. Sesekali mengikuti fakta kan tidak masalah?" balasnya. "Kau lapar tidak? Aku lapar sekali. Bagaimana kalau kita ambil makanan, dan kita makan? Aku tahu tempat bagus untuk makan sekaligus ngobrol," lanjut Jongin.

Kyungsoo memilih mengangguk dan mengikuti kemauan Jongin yang ternyata kelaparan. Ia sebenarnya sudah makan sebelum ia berangkat menuju town hall, tapi tidak ada salahnya menemani seseorang yang sempat membuatmu berhenti bernafas untuk mencari penghidupannya, kan?

"Ayo ke atas. Mendekatlah, aku akan mengajakmu berteleportasi." Ujar Jongin seraya mengulurkan tangannya berharap Kyungsoo menyambutnya. Dan ketika gadis itu dengan malu-malu menyambut ulurannya, ia dengan cepat menarik Kyungsoo mendekat, merangkulnya dan secepat kilat memindahkan tubuh mereka berdua menuju tempat tujuannya.

"Kau suka?" tanya Jongin lagi seraya menyantap makanannya sambil bersandar di tembok balkon di menara town hall.

Kyungsoo masih takjub dengan pemandangan yang ia lihat malam ini. Ia tidak menyangka Vice benar-benar terlihat sangat indah dari atas sini. Ia bisa melihat seluruh distrik di Vice. Menara distriknya, menara distrik Jongin, lalu menara Psycher, dan terakhir menara Weathor. Semua terlihat begitu apik dari sini.

"Aku sering kesini saat aku suntuk dan tidak punya ide untuk penemuanku. Dan tempat ini selalu memberikanku banyak ide baru, salah satunya ini." Sahut Jongin seraya mengeluarkan sebuah jam dari tangannya.

"Apa ini?"

"Aku rasa Sehun sudah sempat menyinggungnya saat kita pertama kali bertemu. Tapi tak masalah, aku akan menjelaskannya lebih detail." Balasnya. "Ini adalah telewatch. Alat yang membantuku berkomunikasi dengan Sehun, tanpa aku harus berbicara padanya. Seperti kemampuan telepatimu, tapi aku hanya bisa melakukannya pada orang yang juga memakai alat ini." Lanjut Jongin antusias.

Kyungsoo mengangguk paham lalu mengambil jam itu dari tangan Jongin. "Tapi hanya berlaku dalam satu distrik?"

Jongin menggeleng dan mengambil kembali jam tangan itu lalu memasangkannya di pergelangan tangan Kyungsso. "Alat ini bisa digunakan selama kau ada di Vice. Tak hanya di satu distrik. Dan aku ingin kau memakainya mulai sekarang,"

Kyungsoo menatap Jongin penuh tanya. "Tapi kan aku bisa telepati?"

Jongin tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya menuju pemandangan kota Vice. "Tapi kau tidak bisa berkomunikasi denganku lagi jika kau tidak memakainya."

Kyungsoo tersenyum diam-diam dan mengangguk paham. "Kalau begitu aku akan memakainya tiap hari. Apa dengan begitu kita bisa mengobrol tanpa batas?"

"Tanpa batas." Ulang Jongin. "Aku suka kata itu. Tapi, ya, kita bisa mengobrol tanpa batas. Bahkan jika kau tidur dengan masih memakai ini, aku bisa membangunkanmu hanya dengan memanggilmu," tambahnya.

"Aku jadi ingin menciptakan alat-alat canggih sepertimu, Jongin. Walau freast terbantu dengan kemampuan kami untuk bisa memindahkan sesuatu tanpa menyentuhnya, tapi kadang jika sedang memasak dan ada bahan yang lupa belum disiapkan, aku harus mencarinya lagi di rak dan itu kadang menghabiskan waktu yang lumayan. Karena di dapur, banyak sekali bahan-bahan yang mirip." Terang Kyungsoo panjang lebar.

Jongin tersenyum kecil. "Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sebuah alat. Bagaimana jika dua hari lagi? Aku akan mengirimkannya padamu lewat penjaga gerbang. Ah, tidak. Beri aku tiga hari dan alatmu siap kau pakai,"

Kyungsoo tertawa kecil. "Benarkah kau akan membuatkannya untukku?"

Jongin mengangguk yakin. "Tentu saja. Kenapa tidak?"

"Tapi bukankah menitipkan barang di penjaga itu tidak boleh, ya?"

Jongin tertawa lagi. "Tidak jika kau adalah putra seorang Vince."

Dan Kyungsoo menoleh tiba-tiba seraya berteriak tertahan. "Jadi kau putra Tuan Kyuhyun? Oh Tuhanku..."

Jongin menjawab pertanyaan Kyungsoo dengan tawa yang tak berkesudahan sampai gadis itu menepuk lengannya karena kesal.

"Kenapa kau tak bilang dari awal? Aku kan pengagum berat dari Lady Vince!" gerutu Kyungsoo.

"Karena kau tidak tanya?" canda Jongin. "Ibuku? Apa yang kau kagumi darinya?" tanya Jongin penasaran.

"Lady Vince adalah wanita yang hebat menurutku. Menurut berita selain cantik, ramah, baik, dan cerdas, ia juga pandai memasak karena dulu ia dari Freast." jelas Kyungsoo. "Dia adalah alasan kenapa aku ada di distrik penuh makanan itu,"

Jongin mengangguk paham. "Jadi kau ingin menjadi seperti ibuku?"

Kyungsoo mengangguk yakin. "Cita-citaku sih begitu,"

"Kalau begitu kau harus menikah denganku,"

Dan Kyungsoo menemukan dirinya dalam kondisi terkejut, dengan ritme detak jantung yang berantakan dan wajah yang memanas.

"A-apa m-maksudmu?"

"Kau berniat jadi seperti ibuku, kan?" tanya Jongin yang diangguki lemah oleh Kyungsoo. "Well, ibuku adalah seorang Lady Vince yang dalam kata lain adalah istri seorang vince. Dan aku," tunjuk Jongin pada hidungnya. "diminta oleh ayahku yang super bawel itu untuk menggantikannya kelak sebagai seorang Vince. Dan kesimpulan yang aku buat adalah—"

"Kau/Aku harus menikahimu untuk jadi seperti ibuku/ibumu," ucap Jongin dan Kyungsoo bersamaan.

Dan kedua sejoli itupun saling bertukar pandang dan menertawakan kejadian barusan.

"Well, itu baru kesimpulan sesaatku berdasarkan cita-citamu dan perintah ayahku yang sempat aku tolak itu. Tapi jika kau memang ingin jadi seorang Lady Vince, maka akan kutarik kembali penolakanku dari ayahku." Sahut Jongin lagi.

Kyungsoo masih terdiam. Ia tidak bisa menyahut apa-apa karena otaknya yang biasanya cepat tanggap kini sedang sangat lambat berfikir. Begitu banyak kode-kode menjurus dari Jongin malam ini dan itu membuat otaknya cukup amburadul.

"Kyung?" panggil Jongin. "Jangan memikirkannya terlalu serius, toh itu masih bertahun-tahun ke depan, kan? Lagipula, kau belum tentu menyukaiku atau bahkan mencintaiku." Tambah Jongin lagi.

"Memangnya kau menyukaiku?" tanya Kyungsoo tiba-tiba.

Keheningan yang tadi sempat hadir kini pecah karena pertanyaan to the point dari Kyungsoo yang malah membuat Jongin sedikit kewalahan juga. Tapi dengan cepat ia kembali berusaha menguasai perasaannya.

"Tentu saja aku menyukaimu. Siapa yang tidak menyukai gadis manis menggemaskan dan cerdas sepertimu? Kukira jika ada, maka dia pasti punya gadis lain yang lebih menyita perhatiannya. Dan aku akan mensyukurinya karena artinya, kau hanya punya satu pengagum sejati dan itu aku," jujur Jongin tanpa menolehkan wajahnya ke Kyungsoo sedikit pun.

Jongin tidak bodoh untuk mengucapkan seluruh kode keras tadi. Tapi itu adalah efek samping dari gugupnya yang ia berusaha kendalikan tapi gagal. Daripada ia harus menghilang lagi dan menggagalkan momen menyenangkan ini, maka ia membiarkan dirinya sendiri larut dalam setiap kata-kata berkode yang ia keluarkan meski di dalam hatinya, ia mati-matian gugup.

"If that so, then make me likes you too, Jongin."

Dan Jongin tidak pernah mendapati dirinya sebahagia ini dalam hidupnya.

.

.

.

Sepeninggal Sehun dan Jongin yang menjemput kekasih masing-masing, Chanyeol yang kesepian memilih berjalan-jalan mengitari ruangan utama town hall ini berharap gadisnya akan muncul.

Dan tak lama, doa Chanyeol terkabul. Dari kejauhan ia dapat memastikan bahwa seseorang yang sedang berjalan bersama beberapa gadis-gadis lain itu adalah Baekhyun. Dan Chanyeol pun menghela nafas panjang sebelum memutuskan untuk menghampiri Baekhyun dan teman-temannya.

"Baek," panggil Chanyeol lembut.

"Oh astaga. Kau mengagetkanku," protes salah seorang gadis di samping Baekhyun. "Kau yang bernama Chanyeol?" tanyanya.

Chanyeol mengangguk yakin dan memberikan senyum tampannya. "Selamat malam semuanya, aku Chanyeol, middle triens."

"Pantas Baek berubah, ya?"

"Iya. Lihat saja, dia sungguh tampan."

"Ya, ya, berhenti berbisik tidak jelas!" gerutu Baekhyun.

"Baek, bisa kita bicara berdua?"

Dan sedetik kemudian suara bully-an dari teman-teman Baekhyun pun bersahutan seiring anggukan Baekhyun.

"Teman-temanmu cukup berisik juga, ya?"

Baekhyun tertawa kecil. "Mereka memang tidak pernah diam jika sedang bersama-sama. Selalu saja ada gosip baru yang mereka bicarakan,"

Chanyeol mengangguk. "Apa salah satunya tentangku juga?"

"A-apa? Ish, percaya diri sekali kau ini?"

Chanyeol tertawa sejenak sebelum menjawab sahutan Baekhyun. "Karena tadi aku belum memperkenalkan diri, dan salah seorang gadis yang di sampingmu sudah tahu namaku."

Baekhyun berusaha mengingat-ingat dan... "Ah, Yoona! Dia memang suka menggosip, sih." Ingat Baekhyun.

"Berarti benar kan kau membicarakanku saat bersama mereka?"

Baekhyun menunduk malu dan Chanyeol dengan puas tertawa. "Tak masalah, aku senang, kok. Artinya kau memperhatikanku, jadi kau membicarakanku."

Baekhyun memberengut. "Dalam mimpimu saja, Yeol."

"Ya memang dalam mimpiku. Apa kau tahu? Dalam mimpiku semalam, aku bermimpi tentangmu, tahu."

Baru saja Chanyeol ingin memulai menggoda Baekhyun dengan cerita jahilnya, Jaebum sudah muncul di atas panggung utama dan memulai pidato tidak jelasnya yang ditutupnya dengan mempersilahkan beberapa lagu romantis khas anak muda mengalun, memantul di setiap dinding hall dan masuk ke tiap telinga dan merayap, mendekap jantung para pecinta.

"Kau... mau berdansa denganku?" tawar Chanyeol ragu-ragu. Ia benar-benar ingin usahanya berhasil. Ia sudah tidak bisa lagi memikirkan kemungkinan bahwa akan banyak pemuda yang menyukai atau bahkan mencintai Baekhyun, lalu jika dia tidak cepat maka Baekhyun akan dimiliki orang lain dan dia gagal mendapatkan Baekhyun.

Baekhyun dengan malu-malu mengangguk pelan dan mulai mengikuti gerakan dansa lembut nan perlahan dari Chanyeol. Beruntung lagu-lagu romantis ini memang pas dengan suasana romantis yang dibangun Lock di hall ini, jadi Chanyeol tak perlu menyusun suasana sendiri hanya untuk mendapatkan moment yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Baekhyun.

"I just wanna love ya. I just wanna love ya"

Chanyeol ikut menyanyikan lirik lagu yang sedang mengalun dan Baekhyun tiba-tiba mendongak penasaran. "Kau tahu lagu ini?"

Chanyeol menunduk dan menatap Baekhyun. "Ya, lagu ini sering sekali diputar di ruang kerja triens, terutama di Laboratorium. Jadi aku hafal. Kau suka lagu ini?"

Baekhyun mengangguk senang. "Lagu ini sempat membuatku dan gadis-gadis cerewet itu berteriak-teriak sendiri di ruangan karena membayangkan jika sang penyanyi ini muncul lalu dengan suasana romantis dia menyatakan cintanya pada sang pendengar. Romantiiiiis~"

Chanyeol tersenyum simpul. "Kalau aku yang menyanyikannya untukmu bagaimana?"

Baekhyun menatap Chanyeol tidak paham, tapi begitu pemuda itu mulai melanjutkan nyanyiannya, dada Baekhyun menghangat dan jantungnya mulai berdetak berantakan.

"As I drink coffee, I look into your eyes again. I think I'm going to fall asleep oh no no. When I look at you like that, if I ruled the world, it feels like you're next to me again."

Baekhyun memilih menunduk dan tidak menatap Chanyeol lagi untuk sementara. Karena ia merasa jika ia melakukannya, maka jantungnya akan lebih berantakan. Baekhyun tahu persis bahwa Chanyeol menunggunya sejak Vicerity tahun lalu karena pemuda itu dengan gamblangnya menjelaskan semuanya saat mereka sedang saling bertelepati. Entah kenapa sejak saat itu, Baekhyun mulai berfikir bahwa Chanyeol memang menyukainya.

"Tell me that you still haven't let me go. If this is a nightmare then please quickly save me. Look well, look even today I'm still waiting for you,"

Chanyeol masih melanjutkan bernyanyi lirih seraya tetap berdansa dengan Baekhyun. Ia memang tidak bisa banyak berkata-kata dengan rayuan gombal seperti Sehun, karenanya ia memilih lagu sebagai media pembantunya menyalurkan perasaannya pada Baekhyun.

"I just wanna love ya. You already know this oh baby," Chanyeol sengaja melewatkan beberapa lirik lagu agar Baekhyun mendongak dan benar saja, gadis itu mendongak karena merasa Chanyeol terlalu cepat bernyanyi.

"Hey, Baek, wanna date with me?"

Baekhyun merasa tubuhnya terkunci ketika Chanyeol menatap dalam kedua maniknya. Ia tidak paham, tapi ia bisa merasakan saluran perasaan Chanyeol lewat tatapan lembut itu. Dan Baekhyun mendapati dadanya makin menghangat seiring anggukan pelan yang ia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol.

Chanyeol memang tidak bisa banyak bicara tentang cinta, karena ia memilih mewujudkannya dalam bentuk tindakan. Dan inilah yang ia lakukan sekarang. Alih-alih tertawa kegirangan karena jawaban Baekhyun, Chanyeol memilih tersenyum simpul lalu perlahan memperpendek jarak antara wajahnya dengan wajah Baekhyun.

Hanya sekedar kecupan. Itu adalah niat awal Chanyeol karena dia ingin menunjukkan Baekhyun bagaimana perasaannya pada gadis itu dan bahwa ia juga tidak ingin memaksakan apapun pada Baekhyun. Termasuk ciuman ini. Tapi bibir Baekhyun yang mulai terasa lebih manis, seperti menghipnotis Chanyeol untuk naik tingkat. Perlahan tapi pasti, Chanyeol mulai menaikkan tingkatan ciumannya. Ia masih tetap tidak ingin memaksakan apapun pada Baekhyun, jika Baekhyun setelah ini akan mundur dan menamparnya, maka ia juga akan menerimanya dengan lapang dada.

Tapi ketakutan Chanyeol tidak terbukti. Malah, ia mendapati lampu hijau dari Baekhyun untuk melumat bibir bawahnya dan ia melakukannya dengan lembut. Sambil tetap memegang pinggang ramping gadis itu, Chanyeol mulai melumat bibir bawah Baekhyun lembut dan membiarkan gadis itu menikmati tiap sentuhannya. Tekanan yang Baekhyun berikan lewat tengkuk Chanyeol menambah keyakinan Chanyeol bahwa Baekhyun menginginkannya. Dan hal ini cukup membuat dada Chanyeol menghangat, setidaknya cintanya benar-benar tidak bertepuk sebelah hati.

Dan jika bukan karena mereka masih butuh bernafas, maka ciuman lembut nan memabukkan itu mungkin tidak akan terlepas.

"Mungkin aku akan mulai berfikir bagaimana cara membuat alat yang bisa membantu kita berciuman tanpa kesulitan bernafas." Celetuk Chanyeol tiba-tiba yang dihadiahi jitakan pelan di kepala belakangnya.

"I love you, Baek."

"I love you too, Chanyeol."

.

.

.

tbc


Hai.

First of all, chapter ini disponsori oleh Outro dari BTS - Luv in Skuul, At Sunset - Love me like you do, Lady Antebellum - Just a kiss.

Dan terinspirasi oleh beberapa video buatan fans tentang kaisoo dan chanbaek di youtube. And I should say sorry to Kyungsoo, that I am now have already fall for Baekhyun. Salahkan wajahnya yang terlalu menggemaskan itu.

Chapter ini agak panjang karena kalo dipotong di tengah eman-eman. Chapter berikutnya tentang couple-couple yang belum bertemu dan belum jatuh cinta. Guess who? Tunggu saja ya update-an berikutnya, ;).

Oke, nothing left to say. You ask me for a fast update, and I gave you this. So please, can you give me some reviews?

Salam

KJ-27