Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena beberapa ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.
The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.
Selamat membaca Chapter 4 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.
- KJ-
"Hey Yixing, apa kekasihmu datang?"
"Ya! Jongdae, dia bukan kekasihku."
"Tapi kalian kan cukup dekat dua tahun terakhir. Memangnya aku tak tahu betapa dekat kalian? Paket vitamin khusus untuk seorang Yixing yang datang tiap bulan dari you know who." Jongdae mulai menggoda Yixing lagi dengan segala informasi yang ia miliki.
Yixing menatap Jongdae malas dan memukulnya dengan pouch yang ia bawa. "Berhenti menggodaku, Jongdae."
Baru saja Jongdae akan membalas Yixing, sebuah suara asing menginterupsi mereka. Dan begitu Jongdae tahu siapa, ia pun memilih mundur.
"Yixing,"
Suara itu memang terdengar asing untuk Jongdae, tapi tidak untuk Yixing. Ini adalah suara dari pria yang hampir setiap hari mengisi kepalanya. Pria ini adalah alasan dibalik bergabungnya di Weathor. Pria yang mungkin ia cintai, tapi Yixing hanya tidak bisa mengakuinya, dan pria ini pun tak jauh berbeda.
Dengan sebuah kalung yang sangat bisa ditebak, pria tampan dengan senyum menenangkan seperti malaikat ini adalah pemilik hati seorang Yixing sejak tiga tahun terakhir. Yixing tak bisa begitu saja berpaling pada pria lain walaupun intensitasnya bertemu dengan pria ini hampir tidak pernah terjadi. Yixing hanya jatuh cinta, dan ia menikmatinya.
"Aku senang kau datang lagi. Itu artinya kau berjuang dengan baik di distrikmu," ujar sang pria lembut.
Yixing tersenyum malu. "Hanya disinilah kita bisa bertemu, kan?"
Pria ini mengangguk pelan lalu kembali mendekat pada Yixing, menggenggam tangan Yixing tiba-tiba dan menarik Yixing dengan sekali gerakan menuju pelukannya.
"I miss you too much, Xingie. Too much," lirihnya.
Yixing menyamankan kepalanya di pundak sang pria dan tanpa ia sadari bulir air matanya mulai menetes.
"Me too, Joonmyeon. Me too,"
Pria bernama Joonmyeon ini tak bergeming dari posisinya memeluk Yixing hingga gadis itu tenang dan meminta Joonmyeon melepas pelukannya.
"Tahun depan Lockicious akan diadakan. Berjuanglah untuk menang, lalu aku akan datangi kedua orangtuamu untuk melamarmu."
Yixing mendongak dan menatap Joonmyeon penuh tanya. Ini kali pertama mereka bertemu lagi setelah tujuh bulan tidak saling menatap wajah masing-masing dan ini informasi yang Yixing dapat?
"A-apa—"
"Mereka lelah dengan sifat keras kepalaku, dan akhirnya menyetujuiku melamarmu. Tapi mereka memberi syarat bahwa kau, harus menjadi seorang Lock dan hidup bersamaku di Vicerty. Kau... tidak keberatan, kan?"
Yixing kembali memeluk Joonmyeon dan menyembunyikan wajahnya di pundak Joonmyeon. Dia terlalu merindukan laki-laki ini sampai ia tidak bisa bereaksi saat laki-laki ini melamarnya. Tapi membayangkan hidup bersama laki-laki yang ia cintai sejak tiga tahun lalu ini membuat Yixing kembali menangis. Inilah yang ia inginkan, tapi ia tidak bisa meninggalkan weast begitu saja, ia mulai jatuh cinta dengan lingkungan penuh kerapian itu.
"Joonmyeon, a-aku..."
Joonmyeon meletakkan jari telunjuknya di bibir Yixing pelan saat gadis itu melepas pelukannya dan hendak mengatakan sesuatu. "Aku tidak pernah menerima penolakan, kau tahu?"
Yixing memukul lengan Joonmyeon pelan. "Mana mungkin aku menolakmu, Bodoh. Aku mencintaimu,"
"I love you too, Xingie."
"Aku hanya tidak bisa meninggalkan Weathor begitu saja, Myeonnie. Aku mulai nyaman dengan suasana disana. Bagaimana jika aku bosan di Vicerty? Apa aku masih boleh berkunjung kesana? Bertemu teman-temanku?" Yixing mengutarakan ketakutannya dan Joonmyeon menenangkan gadis itu dengan senyuman andalannya.
"Jika kau menjadi Lock, kau punya akses apapun, dear. Aku berjanji padamu, aku akan berjuang di pemilihan Vince selanjutnya dan jika aku berhasil, kau akan lebih mudah bertemu dengan teman-temanmu." Ujar Joonmyeon meyakinkan Yixing.
Gadis cantik berdimple ini mulai bimbang. Namun cintanya pada Joonmyeon, mengalahkan nyamannya pada Weathor. "Aku akan berjuang untuk menjadi Lock, dan kau, jaga hatimu di Vicerty."
Joonmyeon tersenyum kecil lalu mengusap pipi Yixing pelan. "Oh, ada sesuatu di telingamu, Xingie."
Tangan kanan Joonmyeon terlihat menggenggam sesuatu yang ia ambil dari balik telinga Yixing. "Ah, ini dia." Joonmyeon membuka telapak tangannya dan Yixing menutup mulutnya karena terkejut.
"Would you marry me, Yixing?"
Joonmyeon meletakkan lutut kirinya di lantai dan menjaga lutut kanannya membentuk sudut 90 derajat dengan lutut kirinya. Dengan sebuah cincin yang ada di tangan kanannya, ia berlutut menatap wajah wanita yang ia cintai.
"Would you please accept my proposal? Cause I can't think about anyone else but you as my future." Ulang Joonmyeon setengah memaksa pada Yixing yang masih menatapnya dengan terkejut.
Beberapa pasang mata sekarang tertuju padanya, pada mereka. Beberapa tepuk tangan mulai bersahutan dari beberapa arah dan hal ini menambah kegugupan Joonmyeon. Walau ia adalah seorang Lock dan harusnya terbiasa dengan tatapan banyak warganya, tapi Joonmyeon tetaplah Joonmyeon jika ada Yixing disampingnya. Pria manja yang akan melakukan segala hal demi kebahagiaan Yixing meski itu berarti harus memutuskan kepalanya sendiri.
"J-Joonmyeon..."
"I just need an answer. You—"
"I'm absolutely yes, Joonmyeon. Absolutely," sahut Yixing akhirnya seraya menghapus linangan air matanya sendiri. Dan jawaban ini tentu saja mengakhiri ketakutan Joonmyeon akan kemungkinan penolakan Yixing yang jika itu terjadi maka ia akan mengusahakan segala cara lain agar gadis pemalu itu menerimanya.
Joonmyeon yang larut dalam bahagia akhirnya dengan bangga menyematkan cincin di jari manis Yixing, lalu bangun dan mengecup dahi Yixing dengan lembut.
"Thank you, Zhang Yixing. Thank you for being my whole life since we met for the first time. And thank you for accepting me as your future, I can't promise anything but an endless love for you. I love you, Zhang Yixing."
.
.
.
Jongdae memberengut kesal karena ia harus sendirian lagi. Di Weathor hanya ada tujuh weast yang dipanggil untuk datang ke Vicerity, dan karena Jongdae hanya satu-satunya pria yang mewakili middle weast untuk Vicerity tahun ini, dia merasa benar-benar kesepian.
Pemuda yang gemar bernyanyi selama bekerja itu memilih untuk berjalan-jalan mengitari taman Vice yang terletak di depan town hall daripada harus mati kesepian dalam keramaian di dalam Vicerity. Jongdae tidak suka suasana yang terlalu ramai karena itu membuatnya terlalu gugup, karenanya ia memilih keluar dari town hall.
Langkah kaki Jongdae agak terasa berat karena ia sesungguhnya punya harapan tinggi bahwa ia akan menemukan tambatan hatinya disini. Salah satu gadis Freat memang ada yang sempat membuatnya tertarik. Tapi karena Jongdae terlalu malu untuk menegur, ia kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan gadis itu saat para weast yang bertugas jaga sedang diperkenalkan ketua distrik Freat pada para middle freast.
Jongdae dalam sunyinya malam di Vice memilih menatap langit yang menampakkan bulan sabit yang cukup indah. Sambil tak berhenti melangkah tanpa tujuan, Jongdae masih menatap langit. Tapi sebuah suara, mengalihkan fokusnya tiba-tiba.
"Stop!"
Dan Jongdae reflek tiba-tiba berhenti lalu menoleh ke depan yang ternyata adalah sebuah kolam. Ia lalu menoleh ke samping dan menemukan seorang gadis sedang berjalan ke arahnya dengan cukup anggun.
"Kalau berjalan, jangan melihat ke langit. Jika tidak ada aku, kau mungkin bisa menabrak dinding kolam. Atau lebih buruknya, kau bisa masuk ke dalam kolam."
Jongdae tertawa kecil sebelum akhirnya cahaya lampu taman membantunya mengenali wajah sang gadis. "Ah, aku pernah melihatmu sebelumnya. Apakah kau freast?" tebak Jongdae asal.
Tak disangkanya, gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Darimana kau tahu aku seorang freast?"
"Aku Jongdae, middle weast yang sempat dapat jadwal jaga di Freat." Sahut Jongdae memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh sang gadis.
"Minseok, middle freast." jawab gadis itu cepat. "Ah, kau dokter yang waktu itu, ya?" ingat Minseok.
Jongdae mengangguk lalu tersenyum lagi. Tiba-tiba ia merasa terlalu bahagia, mungkin memang sudah seharusnya ia keluar dari town hall untuk bisa menemukan tambatan hatinya.
"Kau kenapa tidak berdansa di dalam?" tanya Jongdae membuka percakapan.
Minseok menggeleng pelan. "Dua alasan kenapa aku tidak stay di dalam. Satu, aku tidak suka keramaian. Dua, aku tidak punya pasangan untuk berdansa." Jawabnya malu-malu.
Jongdae tertawa kecil. "I have the exactly same reasons with you, young lady. Keramaian membuat kepalaku sering pusing,"
"Ya, lagipula aku tidak terlalu tertarik untuk mencari jodoh di dalam sana. Aku masih ingin sendiri dan menikmati hidup dengan teman-temanku di dalam distrik,"
Jawaban Minseok membuat semangat Jongdae sedikit loyo. Pasalnya ia sungguh-sungguh ingin mengenal Minseok lebih dekat, tapi jika gadis ini sudah membentengi dirinya begitu, Jongdae bisa apa?
"Kalau kau punya teman di luar distrik, bagaimana?" tanya Jongdae hati-hati.
"Maksudmu?"
Jongdae sempat salah tingkah saat Minseok bertanya balik. Pertanyaan tadi sebenarnya hanya reflek dari keputusan Minseok tadi.
"A-ah, mungkin kau punya teman di luar distrikmu? Lalu bagaimana kau akan tetap keep in touch with them? Apa kau sering keluar distrik untuk berjalan-jalan?"
Jongdae mengajak Minseok untuk duduk di bangku taman yang tersedia tepat di bawah lampu taman dan tepat di samping kolam yang hampir Jongdae tabrak jika Minseok tidak berteriak.
Minseok mengendikkan bahunya. "Aku jarang keluar distrik, Jongdae. Karena beberapa tugas di distrik mengharuskanku stay seharian disana." Balasnya. "Teman di luar distrik, ya? Ah, ya, beberapa bulan lalu aku bersama sahabatku ditugaskan ke Trien untuk mengantar makan pagi, dan aku berkenalan dengan dua young triens yang cukup tampan,"
Jongdae melepas tawanya, mengalihkan nyeri yang baru saja terasa di dadanya. "Triens memang penuh pemuda-pemuda berbakat dan tampan sepertinya. Weathor selalu kalah," ujarnya setengah bercanda.
Minseok tertawa lagi. Jongdae baru bertemu Minseok dua kali, tapi gadis ini sudah mencuri dunia lamanya yang membosankan dan menggantinya dengan dunia penuh tawa menyenangkan bersamanya. Sempat setengah putus asa dengan kata-kata Minseok tadi, Jongdae akhirnya memberanikan diri untuk mencoba.
"Minseok, jika aku menjadi temanmu, apa itu artinya aku boleh mengajakmu keluar distrik sesekali?"
Dalam dada Jongdae sekarang, jantungnya sudah berpacu lebih dari 100 detak permenit, dan jika Minseok menolaknya, maka ia perkirakan detakannya akan langsung menjadi nol.
"Tentu saja. Aku senang punya teman baru. Dan jika kau mengajakku keluar, kau harus mentraktirku!"
Jongdae menahan bahagianya, ia menahan teriakan bahagianya yang hampir saja lepas tanpa kontrol. Ia harus terlihat baik di depan Minseok. "Tentu, ya, pasti aku akan mentraktirmu. Kau mau apa?"
Dan Jongdae akhirnya melepas tawanya bersama Minseok karena gadis itu menyebutkan keinginannya dengan mimik muka menggemaskan seperti anak kecil yang memohon dibelikan lolipop. Anak kecil yang membuat Jongdae akhirnya merasakan hatinya terisi penuh sekarang. Anak kecil yang membuat Jongdae tahu arti berharganya sebuah senyuman.
"Bakpao?"
.
.
.
"Bocah sialan. Sudah meninggalkanku sendirian, sekarang susah sekali dihubungi. Kemana sih, dia?"
"Menyebalkan! Tahu begini aku memilih tidur saja di distrik!"
"Ha—Ah!"
Pekikan seorang lelaki dan perempuan terdengar samar-samar di sudut hall. Bagi para vicens yang sedang asik berdansa, tentu ini tidak akan jadi perhatian besar. Tapi bagi dua remaja yang baru saja bertabrakan dengan tidak sengaja itu, ini adalah sebuah pertanda baru.
"Kau?! Sedang apa kau disini?" teriak sang gadis dengan lantang dan membuat sang pemuda harus menutup telinganya sejenak.
"Bisakah kau mengecilkan volume teriakanmu? Aku masih ingin bisa mendengar dengan baik, Nona Zitao."
Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah para vicens lain dan memilih mengabaikan rasa sakit yang mendera bahu kanannya.
"Siapa kau berani mengaturku?"
Pemuda bersurai hitam itu nampaknya mulai sedikit kesal dengan keangkuhan gadis bernama Zitao ini. Alih-alih menjawab pertanyaan gadis itu, sang pemuda malah memojokkan sang gadis diantara tubuhnya dan tembok hall.
"Kau tahu aku seorang Lock, kan? Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, kau tahu? Apalagi hanya untuk membuatmu diam." Ujar sang pemuda dengan nada datar dan tajam.
Zitao, walau dia penggemar martial arts tetap saja dia ini seorang gadis yang punya tingkat ketakutan cukup lumayan. Dan dibentak serta diperlakukan begini tiba-tiba oleh seseorang yang baru saja dia kenal, membuat dadanya berdetak lebih cepat dan membuat keringat dinginnya keluar.
Tapi seolah menyadari apa yang baru saja ia lakukan, sang pemuda lalu menjauh dari Zitao perlahan dan menyandarkan punggungnya di salah satu tiang gedung.
"Maaf aku membuatmu ketakutan. Tadi aku sedang emosi,"
Zitao sebenarnya ingin memarahi pemuda itu karena memperlakukannya seenaknya. Tapi ia merasakan aura kesungguhan dari sang pemuda dan membatalkan niatnya untuk marah-marah.
"Harusnya kalau kau emosi, jangan melampiaskannya pada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Itu tidak adil,"
Pemuda itu mendongak dan menatap Zitao sekilas lalu tertawa kecil. "You do the same things, lately. Should I tell you the same thing you have just said?"
Zitao mengingat-ingat hal yang baru terjadi dan ia ikut tertawa bersama sang pemuda. "Baiklah, baik. Aku juga bersalah. Aku hanya kesal karena yang diundang kesini dari Psycher hanya Ravi, Leo dan aku. Dimana artinya mereka akan meninggalkanku di keramaian yang asing ini demi mencari kesenangan mereka sendiri. Kan menyebalkan!" keluh Zitao seraya menghentakkan kakinya sendiri dengan keras ke lantai dan membuat sang pemuda tertawa lebih keras.
"Aku benar-benar tidak percaya kau adalah seorang Psychers, Zitao. Harusnya ada divisi khusus orang-orang dengan tingkah laku yang sedikit aneh, jadi kau bisa ada disana."
Zitao menatap pemuda itu tajam. "Ya! Enak saja mengataiku aneh. Memangnya kau pikir tingkah lakumu tidak aneh? Aku kira Lock itu baik, ramah, cerdas, dan tampan. Tapi ternyata ada juga yang sepertimu. Empty can,"
Pemuda itu menggelengkan kepalanya lalu menatap Zitao lagi. "Kau hanya belum tahu siapa aku, Nona Zitao. Jika kau sudah mengenalku dengan baik, aku bertaruh kau pasti akan langsung jatuh cinta padaku."
Zitao memutar bola matanya malas. "Bahkan dalam mimpimu saja, hal itu tidak akan pernah terjadi, Tuan Yifan. Bagaimana mungkin aku," tunjuk Zitao pada dirinya sendiri. "jatuh cinta dengan pria menyebalkan sepertimu yang sama sekali tidak masuk kriteria pria idamanku," tutup Zitao setelah menudingkan jari lentiknya pada Yifan.
Yifan tersenyum menyeringai kecil. "Shall we make it a challenge, then?" tanya Yifan.
Zitao menatap Yifan tidak mengerti. "What kind of challenge, Mister Yifan?"
"Satu tahun dari sekarang, jika ada waktu dimana kau pernah mengingatku, memikirkanku walau sejenak, sekilas, atau sekelebat saja selama minimal tiga kali, kau harus datang ke Vicerty dan mengakui bahwa kau jatuh cinta padaku."
Zitao menatap Yifan tidak percaya. "Unbelieveable,"
Yifan menggeleng pelan. "Cinta memang kadang membuat sesuatu yang mustahil jadi mungkin, Nona Zitao." Sahutnya lagi. "So, are you brave enough to take this challenge or you just ignore this and said that you will be easy to fall in love with me?" tantang Yifan. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu dua bulan lalu, Yifan menyukai ekspresi Zitao ketika kaget, merasa diremehkan dan kesal. Somehow, those expression make his heart beating like there is a thousand drum there. And unfortunately, Yifan likes it, very much.
Zitao memberengut. Dia sebenarnya sangat malas menerima tantangan dari pemuda angkuh nan menyebalkan itu. Bukan, bukan karena dia memang mengakui bahwa dia akan jatuh cinta dengan cepat pada Yifan karena ketampanannya atau apapun seperti yang Yifan bilang sebelumnya. Tapi karena sejak pertemuan awal mereka, Zitao memang sudah tidak menyukai tabiat Yifan yang angkuh. Tapi jika ia menolak, maka ia akan di cap sebagai gadis pengecut. Dan Zitao tidak suka disebut sebagai pengecut apalagi pecundang.
"I will take this unbelieveable challenge. Jangan pernah berpikir atau berharap aku akan berakhir dengan pengakuanku bahwa aku kalah, ya!"
"Alright, alright. Tapi ingat Zitao. Aku adalah seorang Lock, dan aku bisa membaca pikiran siapapun yang aku mau, dan dimana pun dia berada. Jadi, jika kau mencoba berbohong atas isi pikiranmu tentangku, aku akan mengetahuinya, dan jika itu terjadi maka aku yang akan mendatangimu dan meminta penjelasanmu di depan teman-temanmu." Putus Yifan tanpa sedikitpun meminta pertimbangan Zitao.
Zitao kembali memberengut. Dia baru ingat bahwa pemuda tinggi di depannya ini adalah seorang pegawai pemerintahan yang jelas-jelas punya tingkatan sihir lebih tinggi darinya, dan ia lupa bahkan sangat lupa bahwa salah satu diantara keahlian Lock adalah mind-reading. Damn!
Yifan menyeringai tipis pada Zitao dan Zitao melihatnya. Ia merasa pemuda itu baru saja membaca pikirannya. "Dasar kau tidak punya sopan! Kenapa harus membaca pikiranku? Ini otakku, dan kenapa kau harus ikut campur dalam hal apa-apa saja yang kupikirkan?" protes Zitao sambil menuding-nuding Yifan dengan jari lentiknya.
Yifan tertawa lepas. "Kau kira baru saja aku membaca pikiranmu? Tidak, Nona yang suka marah-marah tidak jelas. Aku tidak membaca pikiranmu karena aku tidak membutuhkannya sekarang." Balas Yifan kalem. "Tapi karena kau menerima tantanganku, maka akan kuingat frekuensimu dan akan kupantau apapun yang kau pikirkan satu tahun ke depan mengingat intensitas bertemu kita yang sangat jarang, jadwalku yang padat dan juga karena semakin lama kau tidak menemuiku, hasilnya akan lebih akurat." tutup Yifan.
Skakmat. Zitao merasa salah langkah lagi. Dia sungguh geram dengan sikap Yifan yang merasa dia bisa melakukan apa saja dengan sihir tanpa batasnya itu. Ya walau memang benar sih, seorang Lock bisa melakukan apa saja dengan sihir tanpa batas yang mereka miliki, tapi tetap saja jika itu adalah Yifan dan targetnya adalah Zitao, gadis itu akan selalu mempermasalahkannya.
Merasa tidak bisa lagi membalas perkataan terakhir dari Yifan, Zitao memilih untuk menghentakkan satu kakinya ke lantai hall dan pergi jauh-jauh dari hadapan Yifan demi menetralkan emosinya yang benar-benar tambah berantakan karena ulah pemuda angkuh tapi tampan itu. Dan Yifan, tepat setelah Zitao membalikkan badannya, ia memilih untuk ikut berbalik tapi tetap meneriakkan kalimat pengingat pada Zitao lewat telepatinya.
"Ingat Nona Zitao, aku tunggu kau dan pengakuanmu satu tahun lagi di ruanganku."
.
.
.
Setelah berpisah dengan tidak baik-baik dengan Zitao, Yifan kembali melanjutkan pencariannya untuk mencari adik semata wayangnya yang terlampau menyebalkan karena meninggalkannya hanya untuk melamar seorang gadis. Yifan berusaha menghubungi adiknya lewat telepati, tapi selalu gagal karena adiknya seperti memblokir semua jalan komunikasi menuju dirinya.
"Jika aku melihatmu dalam sepuluh menit ini, maka hal pertama yang akan ku lakukan adalah meninju wajahmu dengan sekali pukulan, Suho." Geram Yifan seraya tetap berusaha mencari sosok adiknya. Dan nampaknya, doa Yifan baru saja terkabul karena dari jarak sekitar lima meter darinya, ia melihat sosok adiknya baru saja menepi dari lantai dansa bersama seorang gadis cantik dengan gaun anggunnya. Tentu saja tanpa basa-basi Yifan berteleportasi menuju sosok yang ia cari dan setelah memastikan ia muncul tepat di belakang adiknya, Yifan memanggil sosok itu pelan.
"Tuan Joonmyeon," panggil Yifan dengan lirih namun tajam.
Sosok yang Yifan panggil perlahan menoleh dengan wajah yang cukup antisipatif setelah lebih dulu menjauhkan gadisnya dari jangkauan tangan Yifan. Dan benar saja, sepersekian detik dari proses penolehan yang sempurna, pipi kiri Joonmyeon pun disapa dengan keras oleh kepalan tangan Yifan.
"Sudah ku bilang jangan pernah mematikan atau memblokir frekuensimu, Bodoh." Marah Yifan pada Joonmyeon. Tapi sedetik setelah Joonmyeon jatuh terhuyung-huyung, ia segera membantu adiknya itu untuk bangun dan kembali menjitak kepalanya dengan setengah tenaga. Menyadari ia baru saja bersikap tidak sopan di depan kekasih adiknya, Yifan langsung menatap gadis cantik yang sedang bersandar di pilar gedung itu dengan lembut.
"Maaf jika aku membuatmu takut. Hal ini biasa terjadi antara aku dan Joonmyeon. Kuharap kau bisa mulai terbiasa dengan ini." Jelas Yifan ramah. "Ah, aku Yifan, kakak kandung Joonmyeon."
Joonmyeon yang masih merasa kesakitan hanya menatap keduanya dengan cengiran polos. "Nah, kau akhirnya bertemu dengan kakakku, Xing." Sahut Joonmyeon kalem. "Jangan pikirkan pukulan tadi, itu bukan apa-apa. Kami pernah saling memukuli satu sama lain sampai tubuh kami lebam saat kecil. Dan itulah yang mendasariku untuk memilih Weathor ketimbang Psycher yang artinya mengikuti jejaknya."
Yixing menatap dua pemuda tampan ini tidak percaya. Jika sekilas ia melihat kedua saudara kandung ini, maka ia akan benar-benar dibuat pusing dengan perbedaan yang paling mencolok diantara keduanya. Bagaimana bisa dua saudara kandung tapi punya tinggi yang sangat berbeda?
"Xing, aku tahu apa yang kau pikirkan dan tolong jangan pertanyakan itu. Mungkin ada kesalahan cetak di dalam sel-sel tubuhku saat aku dalam masa-masa remaja."
Yifan menoleh pada Joonmyeon lalu pada Yixing dan ia tertawa terbahak-bahak setelahnya. "Pasti kau bertanya-tanya kenapa kami adalah saudara kandung padahal kami punya tinggi yang amat berbeda?" tebak Yifan. "Well, Nona Yixing yang terhormat, sebenarnya itu adalah kesalahannya sendiri karena dia tidak mendengarkan saranku untuk terus berolahraga seperti basket dan berenang yang akan membantunya tumbuh tinggi dengan cepat." Tutup Yifan.
Yixing tertawa tapi ia berusaha menutupi tawanya hingga Joonmyeon gemas sendiri. "Jangan tahan tawamu, Xingie. Aku tahu tidak ada yang akan tahan untuk tidak tertawa jika cerita masa kecil kami sudah dibongkar oleh Si Tiang Jemuran ini."
Yifan menoleh cepat dan bersiap menjitak Joonmyeon lagi sebelum pemuda itu menghilang dan muncul di belakang Yixing.
"Sudahlah, Yifan. Apa kau tak bosan memukuliku terus? Aku saja bosan kau pukuli terus," keluhnya.
"Karena kau juga tak pernah bosan membuatku naik darah, Pendek." Balas Yifan cepat. "Ah, pestanya sudah selesai." Ujarnya saat ia melihat kerumunan di lantai dansa sudah mulai berkurang.
Joonmyeon mengikuti arah pandang Yifan dan kemudian menoleh pada Yixing. "Kurasa ini saatnya kau pulang, Xingie. Sampai bertemu di Lockicious, ya? I love you,"
Joonmyeon mengecup dahi Yixing dengan lembut dan penuh kasih sebelum gadis cantik itu berlari kecil menuju kerumunan teman-temannya yang sudah menunggunya di pintu hall.
Senyum Joonmyeon sempat merekah ketika ia melihat lambaian tangan dari kekasihnya tapi langsung hilang ketika Yifan membisikinya satu hal yang membuatnya kaget setengah hidup.
"Joonmyeon, apa kau merasakannya? Kenapa aku merasa bahwa ada hawa Locka disini?"
Joonmyeon memejamkan matanya dan mencoba berkonsentrasi dengan hawa yang berkeliaran disekitarnya berharap bahwa apa yang dikatakan Yifan adalah hal bodoh semata. Tapi ketika ia menangkap aura yang berbeda, Joonmyeon langsung membuka matanya lagi dan mencari dari mana aura itu berasal. Kerumunan di dalam gedung masih lumayan, jadi ia tidak bisa menentukan dari mana aura berbeda itu berasal.
"Auranya kuat sekali walau sempat terasa samar. Apa kita perlu memberitahu ayah tentang ini?" panik Joonmyeon.
Yifan menggeleng pelan seraya tetap mengedarkan pandangannya di seluruh sudut gedung ini. "Ayah tidak perlu tahu. Ia sudah cukup punya banyak beban dan dalam usianya saat ini, ia harus banyak istirahat. Aku takut berita ini hanya akan membuatnya panik dan..." Yifan tak berani melanjutkan kata-katanya sendiri. Membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada ayahmu sendiri, bagaimana mungkin seorang anak bisa sanggup melakukannya?
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Lockicious. Pasti pemilik aura ini akan ada di pertandingan itu, dan kita adalah salah satu dari Lock yang punya akses untuk turut campur dalam pertandingan itu walau hanya dalam beberapa hal. Kita bisa memanfaatkannya untuk mencari tahu siapa sosok itu, dan kemudian menantangnya duel di Vicerior. Dan seperti kesepakatan kita sebelumnya, kau yang akan maju sebagai pengganti Kyuhyun, manusia setengah setan itu."
Yifan menatap Joonmyeon dengan yakin dan dengan perasaan yang cukup campur aduk, mereka akhirnya memilih meninggalkan town hall setelah aura berbeda yang tadi mereka rasakan perlahan menghilang dari teritori mereka.
"I will find you, and get your head down to the ground, Locka. Beware,"
.
.
.
tbc
Halo dan hai lagi. Bertemu lagi dengan update-an super cepat dari saya yang sedang tidak tahu mau apa selain nulis lanjutan chapter dari FF ini dari hari ke hari.
But, unfortunately, after this chapter maybe will take a while for the next because after this introducing chapter, there will be the problems chapters. And I really looking forwards for a lot of reviewers before I am uploading the problems chapters (which is not writen yet now). So please, put down your reviews down there and make me got my spirit again to finish this story ;).
Dan setelah melihat beberapa review yang hadir, mungkin ada yang bilang ini berbelit-belit, pairingnya gak fokus kaisoo dan sebagainya. Well, sorry to say to you, my greatest readers out there, kadang cerita tentang fantasy supernatural yang langsung masuk inti itu sedikit gak ada tantangannya, menurut saya pribadi. Dan saya, meminta maaf atas seluruh FF yang sudah saya buat yang ceritanya berbelit-belit dan membosankan, :). Kadang, saya pribadi ingin membuat tantangan untuk diri saya sendiri, mengetes sejauh mana imajinasi saya dalam sebuah cerita yang sangat jauh dari kebiasaan saya. Dan sejauh ini, saya cukup bersyukur untuk review dari kalian karena ini meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa menyelesaikan ini dengan baik, demi kepuasan batin sebagai seorang penulis yang akhirnya bisa melampaui tantangannya sendiri, dan demi pembaca yang mungkin bosan dengan cerita menye-menye tidak jelas karangan saya. =))
The official main pairing for this story are Jongin-Kyungsoo of course, Sehun-Luhan, and Chanyeol-Baekhyun. The others, who will came out one by one will be the adding pairing. Seperti halnya sebuah drama yang akan selalu membutuhkan peran figuran demi mensukseskan cerita tersebut. Is this information clear enough, readers? :).
Oh, once again. I am not changing my ultimate bias. Errr, who said I change my bias, back then? I only said I have fell for the cuteness of Byun Baek. But my ultimate bias will still be the same, the one and only Do Kyungsoo. =))
And, I think its enough, cause maybe I have talked too much, eh? Sorry :""). Thank you for reading my gaje story, and I hope you will kindly post you review down there! :D.
See ya on the next chapter, Readers. And thank you for your wish about my final assignment, I really appreciate it.
Cherio!
KJ-27
