Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!

Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.

Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena bebera[a ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.

The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.

Selamat membaca Chapter 5 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.

- KJ-


Satu tahun terlewati dengan sebuah event pertukaran pelajar bagi mereka yang namanya ada di urutan empat teratas di masing-masing distrik. Kegiatan ini dilangsungkan di masing-masing distrik, mereka yang terpilih akan diajari bagaimana mengatur kekuatan sihir baru yang mereka pelajari di distrik baru mereka. Tiap perwakilan masing-masing distrik akan berpindah dari satu distrik ke distrik lain hingga seluruh distrik di Vice kecuali Vicerty sudah mereka huni dan mereka serap ilmu pengetahuan sihirnya.

Dan kini tiba saatnya seluruh kandidat untuk menempuh ujian sesungguhnya dari event pertukaran pelajar itu. Para Vicens menyebutnya dengan Lockicious, atau pemilihan Lock. Disini, para kandidat akan dihadapkan pada kewajiban untuk hidup bersama selama batas waktu tertentu yang ditentukan para Lock. Mereka akan tinggal bersama di sebuah distrik khusus yakni Glade. Disini, mereka diperbolehkan menggunakan seluruh kemampuan barunya untuk bertahan hidup sampai waktu yang ditentukan Lock. Tapi tak semudah itu perjalanan untuk menjadi seorang Lock. Dari kandidat yang ada, hanya akan dipilih segelintir saja, dan bahkan jika Lock menginginkan persaingan berlangsung lebih ketat, mereka bisa mengubah ketentuannya menjadi hanya satu Lock yang terpilih nantinya.

Para kandidat akan hidup tanpa bantuan apapun dari seluruh penduduk Vice. Mereka akan hidup mandiri dengan mengandalkan kemampuan sihir mereka sendiri baik untuk makan, minum, mengobati sesama kandidat bahkan untuk membangun rumah untuk tempat mereka tinggal. Tapi, Lock akan memberikan sebuah bantuan tiap bulannya. Entah hanya berupa sekotak bahan makanan lezat, atau sekotak penuh obat-obatan. Disini, mereka sebenarnya tidak hidup sendiri, ada mata-mata Lock yang akan datang dan membuat suasana Glade berantakan, menguji kekompakan para kandidat dan kesetiakawanan mereka.

Lock tidak akan semudah itu meloloskan para kandidat untuk menjadi Lock yang baru. Karenanya, mereka akan memberikan beberapa tugas yang cukup menyulitkan untuk tiap individu. Jika mereka gagal memenuhinya dalam kurun waktu yang diberikan Lock, mereka akan menghilang. Menghilang disini artinya, mereka akan dikembalikan ke distrik mereka saat itu juga, tanpa prosesi perpisahan apapun. Tapi jika mereka gagal karena sengaja dalam arti mereka ingin menyerah, maka kandidat tersebut akan dikirim ke Nash dan menghabiskan sisa umurnya disana.

Dengan pilihan cukup sulit yang disediakan oleh Lock, para kandidat memang tidak bisa mundur dan hanya bisa terus berjuang untuk lolos agar bisa segera keluar dari Glade. Menjadi Lock memang impian seluruh warga Vice, tapi tidak dengan Lockicious. Prosesi ini selalu diadakan tertutup dan para Lock juga tidak membiarkan para warganya tahu apa yang sebenarnya terjadi di Glade. Warga hanya diberitahu tentang siapa yang gugur dan siapa yang akhirnya lolos. Sisanya, itu menjadi rahasia antara Lock yang bertugas dan para kandidat.

Dan hari ini, adalah hari pertama bagi para kandidat untuk menginjakkan kakinya di tanah Glade, rumah baru mereka. Lewat sebuah mesin transporter milik Lock, para kandidat dikirim menuju Glade. Seluruh kegiatan di Glade secara resmi akan dipantau oleh para Lock yang bertugas selama 24/7. Suasana yang terasa di Glade nantinya akan benar-benar mirip dengan distrik lainnya, dimana akan tetap ada hujan, akan ada panas, akan ada siang, malam, bulan dan juga bintang. Bahkan Lock juga menjelaskan bahwa kadang kala akan ada beberapa lagu yang Lock putarkan supaya para kandidat merasa tidak terlalu bosan di Glade.

Glade adalah sebuah tanah lapang yang amat luas dengan setengah bagian untuk hutan yang mereka yakini kayunya akan sangat berguna untuk membangun rumah dan menyokong kebutuhan mereka lainnya. Tak hanya itu, di Glade juga ada bukit, gua, dan sebuah danau kecil yang tersembunyi di hutan. Intinya, Glade persis seperti sebuah pulau rahasia tanpa laut yang mengelilinginya.

Sesaat setelah mereka menjejakkan kaki di Glade, hal pertama yang para kandidat itu lakukan adalah mengagumi keindahan Glade yang tergambar dari hijaunya rumput disana dan betapa teduhnya hutan yang ada di dalam Glade ini.

"Baiklah, karena ini adalah hari pertama, maka mari kita bagi tugas." Chanyeol sebagai salah seorang yang dianggap cukup senior disini.

"Aku setuju dengan Chanyeol. Bagaimana jika kita membagi tugas sesuai dengan distrik lama kita saja?" usul Seohyun, salah satu perwakilan dari distrik Trien.

Melihat seluruh teman-teman barunya mengangguk dan tidak ada penolakan, maka Chanyeol mencoba mengambil alih kepemimpinan untuk sementara. "Baiklah, kalau begitu, Psychers dan Trien akan mengurus masalah kayu-kayu agar kita bisa tidur nyaman malam ini di dalam sebuah rumah. Lalu Freast, mungkin kalian bisa mengambil bantuan di kotak abu-abu yang disediakan oleh Lock itu. Mereka bilang, itu sebagai bantuan untuk keperluan makan kita selama satu minggu ke depan selama para Freast menumbuhkan beberapa tumbuhan."

Tanpa menunggu lama, para wakil dari Freast yakni Kyungsoo, Minseok, Jungkook dan Jin mulai bergegas berlari menuju kotak abu-abu yang ada di tengah-tengah tanah lapang ini. Sedangkan sisanya masih kembali sibuk mendengarkan perintah Chanyeol.

"Weast, kalian bisa membantu Freast dulu untuk saat ini, baru nanti setelah kayu terkumpul dan cukup untuk membuat tempat tidur yang nyaman dan aman bagi kita, kalian bisa memulai tugas jaga. Untuk selanjutnya demi kelancaran kemampuan sihir baru kita masing-masing, akan diadakan pertukaran tugas. Bagaimana?"

"Call!" sahut seluruh kandidat bersamaan. Chanyeol tertawa singkat lalu berbaur dengan kelompoknya yang sudah menghilang terlebih dulu menuju hutan.

Para kandidat ini tidak hanya diajarkan cara bertahan hidup tapi juga mempertahankan diri jika ada serangan datang. Walau Vice adalah kota yang cukup aman, tapi Lock tidak ambil resiko sedikit pun dengan membiarkan warga Vice buta akan metode atau cara mempertahankan diri dari serangan. Bahkan ketika para kandidat masuk ke Glade, mereka diperbolehkan membawa benda-benda tidak berbahaya yang dinilai akan membantu mereka selama ada di Glade. Benda-benda tajam hanya diperbolehkan dibawa oleh yang berkepentingan, yakni Weathor, Psycher dan Freat. Sedangkan untuk para wakil dari Trien, diperbolehkan untuk membawa beberapa hasil penemuan mereka yang mereka anggap bisa membantu kehidupan baru mereka di Glade.

Seperti apa yang sedang Jongin lakukan saat ini, ia sedang menggunakan salah satu penemuannya untuk membantunya menumbangkan pohon dengan cepat. Sebuah sarung tangan berkekuatan laser pemotong yang cukup menakjubkan, ia bawa dari Laboratoriumnya. Yang cukup pintar dari Jongin adalah, ia membawa sebuah alat yang berbentuk seperti dua buah tabung logam dengan panjang 30cm yang berdempet satu sama lain yang apabila ditarik maka akan muncul sinar tak tampak berbentuk persegi dan akan membuat benda apapun yang dilemparkan melewati kotak sinar itu menjadi berlipat. Ia menamakan dua alatnya ini dengan nama Gloce dan Flashing.

"This whole things is explaining everything, Jongin." seru Sehun dengan nada kagum. "I think you are not human. You are just too genious to be a human,"

Jongin tertawa dan kembali fokus dengan kegiatannya menggandakan beberapa alat yang ia bawa, jadi para psychers itu tidak perlu susah payah mendorong pohon hingga mereka tumbang dengan kekuatan ala psycher yang mereka miliki.

"Setidaknya, aku mencoba untuk menjadi berguna disini." Balas Jongin singkat ketika kegiatannya sudah selesai. "Kalian pakailah ini, maka acara memotong pohon ini akan terasa seperti memotong mentimun di atas telenan." Tambahnya.

Dan ternyata benar, para psychers itu sekarang malah terlalu asik bergoyang sana-sini seraya tetap memotongi beberapa pohon disamping mereka. Satu-satunya alasan kenapa para psychers itu memotong pohon sambil bergoyang-goyang adalah karena di Glade saat ini sedang mengalun sebuah lagu yang cukup asik untuk bergoyang.

"Gee gee gee gee baby baby baby!" teriak Zitao seraya masih menggoyangkan pinggulnya asal. "Oh ya Tuhan, aku suka sekali lagu ini!"

Diikuti oleh Ravi, Leo serta Hongbin yang tak kalah heboh dalam urusan menggoyangkan badan mereka sendiri. "Kadang jika Lock sedang gila begini, aku jadi semangat untuk bisa lolos!" seru Ravi yang disambut tawa lepas dari teman-temannya yang lain.

Sementara empat wakil Psycher itu memotongi pohon-pohon dengan bergoyang-goyang tidak jelas, tiga pemuda tampan perwakilan Trien itu sedang santai-santai menari diiringi musik yang baru saja dimainkan oleh Lock untuk Glade seraya memindahkan kayu-kayu yang masih berupa gelondongan besar itu menuju tempat yang lebih luas lalu satu persatu mereka membawanya menuju tanah yang sudah disepakati sebagai lahan untuk berdirinya rumah baru para kandidat ini.

"Ya ampun, kenapa lagu kesukaanku diputar?!"

Dari jauh Jongin mendengar teriakan Baekhyun. Sejauh yang ia tahu, gadis yang sudah satu tahun ini menjalin hubungan dengan Chanyeol adalah penyuka lagu-lagu ini. Jongin tidak tahu siapa mereka tapi menurut Jongin lagu-lagunya cukup asik.

"I'm Genie for your world!" teriak Baekhyun seraya ikut menggoyangkan badannya sambil tetap membantu freast memasak makan siang. Jongin yang melihatnya lewat mata tajamnya hanya bisa tertawa lepas sebelum ia kembali menuju hutan dan menemukan teman-temannya sudah selesai membabat pohon di hutan hingga setengahnya.

"Aku rasa kita perlu menumbuhkannya kembali. Belum ada satu jam kita disini dan kita sudah menghabisi setengah hutan?" sahut Jongin yang diiyakan oleh teman-temannya.

"Kau benar, Jong. Biar para freast saja yang melakukannya, mereka kan sudah sangat ahli dalam hal ini." Balas Hongbin.

"Ayo kita bawa kayu-kayu ini ke tempatnya. Baru disana kita bisa mulai bekerja," Chanyeol mengakhiri pekerjaan ringan enam pemuda tampan dan dua gadis cantik disana.

"Jongin!" panggil Seohyun. "Aku membawa jaring pesananmu!"

Jongin menoleh pada Seohyun lalu mengusak surai gadis cantik itu dengan cepat. "Kau memang bisa diandalkan, Seohyun. Sekarang, kau tanyalah pada psychers, desain seperti apakah yang mereka tawarkan. Dan sisanya, kau sudah tahu caranya, kan?" ujar Jongin ramah tanpa lupa tersenyum dan kembali mengusak surai Seohyun tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang memerah karena melihat kelakuannya tadi.

Jongin memilih menidurkan dirinya agak jauh dari teman-temannya, ia bermaksud beristirahat sebelum sebuah suara memaksanya membuka matanya yang setengah berat untuk dibuka itu.

"Hei,"

"Oh, hai, Luhan. Ada apa?" tanya Jongin tanpa berniat bangun dari posisinya sekarang.

"Aku mau menanyakan beberapa hal, Jong. Ini tentang Kyungsoo dan kau,"

Jongin yang tadinya menutup mata, sekarang perlahan membukanya kembali dan menatap wajah Luhan dari bawah. "Ada apa memangnya?"

Luhan tertawa kecil. "Kalian itu sebenarnya pacaran tidak, sih?"

Jongin tertegun mendegar pertanyaan Luhan. Ia juga sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa karena sampai detik ini, tidak satupun diantara ia dan Kyungsoo yang mengutarakan perasaan masing-masing selain kata suka, nyaman dan sayang.

"Entahlah, Lu. Aku kadang meragukan perasaanku sendiri. Jujur saja, aku memang menyukainya. Sangat, malah. Tapi untuk lebih jauh, entahlah, Lu. Aku belum yakin,"

"Dengar, Jongin. Selama satu minggu kita dikarantina kemarin, aku sangat bersyukur bisa dekat dengan Kyungsoo dan mengetahui segalanya bahkan tentang perasaannya padamu."

Jongin mulai tertarik dengan topik pembicaraan Luhan. "Lalu?

Luhan mengendikkan bahunya. "Ya, yang perlu kau tahu adalah dia juga menyukaimu, dia merasa nyaman selama kau ada di sampingnya, dan yang terpenting adalah dia peduli padamu, Jongin. Dia menyayangimu!"

Jongin menutup matanya lagi. Ia sedang mencoba mengingat bagaimana kemajuan hubungannya selama satu tahun belakangan dengan Kyungsoo. Memang tidak ada kemajuan berarti selain ia dan Kyungsoo makin sering mengobrol berdua tanpa menggunakan telewatch jika mereka tidak sedang berjauhan. Mereka juga tidak canggung untuk melakukan kontak fisik seperti mengusak rambut, menepuk pipi, tidur di pundak, mencubit pipi satu sama lain.

"Seorang teman saja tidak akan gugup dan cemburu ketika temannya sedang menggoda lawan jenisnya, Jongin." Luhan berceloteh lagi hingga Jongin ingat bagaimana pertama kalinya ia memergoki Kyungsoo sedang ngambek luar biasa padanya hanya karena Jongin baru saja merangkul Baekhyun. Jongin kini paham bahwa perasaan Kyungsoo mulai berubah padanya. Itu artinya, usaha Jongin membuahkan hasil. Ia berhasil membuat Kyungsoo menyukainya.

"Dia masih cemburu pada Baekhyun?"

Luhan memutar bola matanya malas. "Bloody hell, Jongin. Gadis bermata bulat kesayanganmu itu akan terus cemburu tanpa alasan dan akan terus diam dan mengurung dirinya selama kalian tidak punya status apapun. Kau harus memastikan perasaanmu, dan juga hubungan kalian. Kau tahu persis seorang wanita tidak suka diminta menunggu."

Jongin terkekeh mendengar Luhan yang mulai gemas padanya. "Somehow, aku beruntung memilikimu sebagai sahabat dan calon adik ipar."

Luhan kembali menatap Jongin datar. "Jong, ayolah. Aku sedang serius."

"Kau pikir aku bercanda, tadi?" tanya Jongin seraya memperbaiki posisi tidurnya. "Aku serius, Lu."

"Terserah kau saja, lah." Luhan menuntaskan pembicaraannya dan Jongin menahan gadis itu pergi dengan memegang pergelangannya pelan.

"Aku akan memastikan semuanya malam ini. Dan aku pastikan besok pagi, kau akan melihat Kyungsoo yang lebih bahagia dari hari-hari belakangan."

Luhan tidak menoleh. "Aku harap kau tidak akan merusak Kyungsoo malam ini, Tuan Pervert."

Dan Jongin serta merta bangun dari posisi tidurnya dan meneriaki Luhan yang berlari menuju Sehun.

"YA! Dasar Rusa sialan!"


Malam ini, seusai rumah baru para peserta Lockicious itu jadi dengan indah dan apiknya, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan dengan api unggun dan musik romantis yang entah kenapa hari ini seolah Lock sungguh mengerti bagaimana suasana di Glade sesungguhnya. Dengan beberapa bahan makanan yang kemudian dimasak, dibakar di api unggun secara bersama-sama dan kadang bergantian, beberapa cerita romantis, horor dan konyol yang saling salurkan oleh mereka, malam ini terlihat sangat sempurna. Tapi tidak bagi Jongin, ia yang sejak sore itu mulai menyingkir dari keramaian, saat ini malah sedang duduk dengan santainya di atap rumah, berusaha mencari sosok yang ia tunggu kedatangannya sejak tadi. Dan begitu ia menemukannya, ia langsung muncul di sampingnya.

"Kyung, ikut aku, ya?" pinta Jongin lembut.

Baekhyun dan Luhan yang saat itu sedang berada disamping Kyungsoo seketika hampir berteriak kaget karena kedatangan Jongin yang tiba-tiba. Tapi setelah mereka tahu bahwa itu Jongin, mereka pun membantu Jongin meyakinkan Kyungsoo agar gadis mungil menggemaskan itu mau ikut bersama pemuda tampan sahabat kekasih mereka itu.

Dan disinilah Jongin dan Kyungsoo sekarang. Di atas bukit yang sejak siang menjelang sore tadi sudah ia jelajahi secara singkat sembari menatap keindahan langit yang sedang bertabur bintang bersama dengan cahaya bulan yang hampir membulat sempurna itu.

Jongin meminta Kyungsoo duduk disampingnya dan mendiamkannya untuk beberapa detik. Dengan latar belakang yang begitu indah dan alunan lagu yang cukup lembut, Jongin memulai rencananya.

"Lyin' here with you so close to me. It's hard to fight these feelings when it feels so hard to breathe. Caught up in this moment. Caught up in your smile,"

Kyungsoo tersenyum kecil melihat Jongin yang sedang berusaha ikut menyanyikan lagu yang mengalun lembut ini. "Kau mau membicarakan apa?"

Jongin memberi isyarat pada Kyungsoo untuk menunggunya menyelesaikan beberapa lirik lagi.

"I've never opened up to anyone. So hard to hold back when I'm holding you in my arms. We don't need to rush this, let's just take it slow."

Kyungsoo sangat menyukai ketika pemuda tampan disampingnya ini melakukan hal-hal aneh yang kadang terlihat lucu dimatanya. Termasuk ketika pemuda ini membiarkan Kyungsoo dalam keheningan saat Jongin malah memilih bernyanyi dengan suaranya yang cukup lumayan itu.

"Apa kau menyimak lirik tadi?"

Kyungsoo mengangguk pelan. "Iya, lalu?"

"Kau tahu, mungkin aku memang terlihat seperti seorang lelaki yang tidak punya ketegasan dengan hanya diam dan tidak mengatakan apapun tentang perkembangan perasaanku padamu selama ini. Dan mungkin dari hal itu, kau akan menyimpulkan aku tidak sungguh-sungguh denganmu, hanya main-main dan lainnya." Ujar Jongin seraya menatap langit. "Tapi ketahuilah, Kyung. Aku tidak pernah membiarkan seorang gadis pun masuk bahkan untuk sekedar mengetuk pintu hatiku pun tidak kubiarkan, kecuali kau."

Kyungsoo tersipu. Bisa Jongin lihat itu di kedua pipi gembul Kyungsoo yang mulai merona.

"Kau tahu aku adalah keturunan seorang Lock. Dan aku cukup sulit untuk bisa meyakinkan diriku sendiri tentang perasaanku. Terbukti dengan beberapa gadis yang menjauh setelah mereka menerima sikap dinginku. Tapi itu tidak berlaku untukmu, bahkan tanpa kau ketuk, pintu hatiku sudah terbuka sendiri untuk mempersilahkanmu masuk."

Kyungsoo tertawa. Sangat cantik hingga Jongin ingin membawa gadis itu ke pelukannya dan menciumnya tanpa ampun. Tapi lalu Jongin ingat bahwa mereka tidak punya hubungan apapun.

"Jangan menggombal, Jongin. Kau tahu itu tidak akan mempan,"

Jongin tertawa kecil lalu menggenggam sebelah tangan Kyungsoo. "Mungkin perkembangan hubungan kita memang terbilang cukup lama dibanding Sehun dan Luhan juga Chanyeol dan Baekhyun. Tapi yakinlah, itu tidak berarti aku tidak serius padamu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar pilihan terbaikku di segala situasi."

Kyungsoo masih diam mendengarkan segala penjelasan Jongin yang selama beberapa bulan belakangan memang sudah ia tunggu-tunggu.

"Dan aku memang sudah berencana untuk menjelaskan semuanya padamu ketika kita berdua ada disini. Kenapa? Karena disinilah ujian sesungguhnya untuk hubungan kita kelak akan muncul. Dan aku ingin memastikan bahwa pilihanku yang jatuh padamu tidak salah." Lanjut Jongin tanpa mengalihkan tatapan lembutnya pada kedua mata bulat milik Kyungsoo.

Lalu tanpa Kyungsoo duga, Jongin mengubah posisinya menjadi terlentang dan menghadap langit. "Kemarilah, jadikan dadaku sebagai sandaran kepalamu. Aku ingin menunjukkan sesuatu,"

Seketika, jantung Kyungsoo berdetak lebih cepat. Ini memang bukan pertama kalinya ia berada tanpa jarak dengan Jongin. Tapi entah kenapa, ini terasa berbeda. Dan tanpa penolakan berarti, Kyungsoo mulai memposisikan dirinya dengan nyaman di pelukan Jongin.

"Sekarang tutup matamu,"

Kyungsoo menggeleng pelan. "Tidak mau. Kau tahu sendiri aku takut gelap,"

Jongin tertawa kecil. "Tidak lama, Kyung, aku janji." Pinta Jongin seraya mengarahkan tangan kirinya di kedua mata bulat Kyungsoo dan mulai meliuk-liukkan tangan kanannya di udara menunjuk langit yang sedang penuh bintang itu.

"Nah, selesai. Tidak lama, kan? Sekarang kau bisa buka matamu,"

Jongin menjauhkan tangan kirinya dari kedua mata Kyungsoo dan mempersilahkan gadis itu terkejut dengan karya ajaibnya di langit sana.

Berjuta-juta bintang yang tadi tersebar tak beraturan, kini dalam sekejap berada dalam formasi-formasi tertentu mengikuti gerakan tangan Jongin. Entah sihir apa yang sudah pemuda jenius itu lakukan yang jelas bagi Kyungsoo, ini benar-benar mengejutkan.

"I do love you from the first time we met,"

Itu adalah formasi pertama yang Jongin tunjukkan tepat ketika Kyungsoo pertama kali membuka matanya.

"My reason to stay calm with our relationship until now is because I want you to know that I'm not that kind of guy who easily fall in love with girls,"

Jongin menggeserkan tangannya ke kiri untuk mengganti formasi bintang-bintang menakjubkan itu dalam sekejab.

"You are the light, and you are the night. You are the colour of my blood. How could I live without you, then?"

Kyungsoo benar-benar merasakan matanya memanas sekarang. Ia tidak kuat membaca seluruh pesan terlampau romantis yang Jongin buat. Tapi nyatanya, pemuda itu masih punya kalimat-kalimat lain untuk Kyungsoo.

"You are the cure, and you are the pain. You are the only thing I wanna touch. How could you mean so much to me, Kyungsoo?"

Jongin menahan tawanya saat ia merasakan dadanya mulai sedikit basah. Ia memang menginginkan ini, artinya, usahanya berhasil. Dan demi menutup rencananya, Jongin kembali menggerakkan tangannya ke kiri dan membuat formasi bintang-bintang itu berubah lagi.

"You are the fear, but I don't care. Because I have never been so high. How dare you make me falling in love everytime you laugh, Kyungsoo?"

Jongin menjauhkan tangannya dari udara dan formasi bintang-bintang itu pun dengan cepat kembali berubah seperti semula.

"Hey, kau menangis?" tanya Jongin tanpa mengubah posisinya. Dengan sebuah batu yang ia jadikan sandaran kepala, Jongin mencoba melihat keadaan wajah Kyungsoo saat ini. Tapi bukan jawaban yang ia terima, melainkan cubitan menyakitkan di pinggang kirinya.

"AAAAA! Kyung, itu sakit sekali, kau tahu!" protes Jongin seraya mendudukkan dirinya dan juga Kyungsoo. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat wajah Kyungsoo yang sudah basah dengan air mata.

"Jahat sekali sih membuatku menangis sampai begini,"

Jongin menggaruk kepala belakangnya. "Maaf ya, niatnya kan untuk menjelaskan padamu bahwa aku... eum, bahwa aku mencintaimu, Kyung." Tutur Jongin lembut dan berusaha menghilangkan gugupnya.

Kyungsoo yang masih menunduk pun mendongak tiba-tiba. "K-kau, a-apa, Jongin?"

"Aku mencintaimu, Kyung. I do really love you. Too much,"

Kyungsoo sebenarnya sudah membaca tulisan yang dibentuk-bentuk dengan bintang tadi dengan baik. Tapi ia tidak menyangka Jongin akan menyatakannya dengan mulutnya sendiri. Gadis itu pun terlihat cukup bahagia sampai ia kembali menunduk karena tidak kuat jika harus menatap kedua obsidian Jongin lebih lama. Kedua organ penting itu sungguh sangat mudah membuat Kyungsoo luluh.

"Love me like you do, Kyungsoo. And please do not ever give up on me, even just for once."

Suara lembut Jongin benar-benar membuat Kyungsoo tidak mampu menguasai perasaannya sendiri. Gadis itu kini berusaha setengah mati untuk menatap balik kedua mata Jongin dengan lembut, berusaha menyalurkan segala perasaan terdalamnya untuk Jongin.

"I do love you too, Jongin. I do love you too,"

Dan dengan jawaban Kyungsoo yang tanpa ragu mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama ini pada Jongin, pemuda tampan berkulit agak gelap itu pun mulai mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo yang mulai menutup matanya seolah mengerti apa yang akan Jongin lakukan selanjutnya.

Mendapat penerimaan yang baik dari Kyungsoo, Jongin pun yakin bahwa gadis ini adalah tulang rusuknya yang hilang. Dengan semakin mendekatnya wajah Jongin pada wajah Kyungsoo, tangan kanan Jongin ternyata mendahului dengan terlebih dahulu mengusap pipi kiri Kyungsoo lembut. Dan akhirnya penyatuan kedua bibir itu pun terjadi.

Lembut tanpa tekanan. Jongin benar-benar berniat hanya mengecup Kyungsoo tapi lagi-lagi ia gagal mempertahankan niat awalnya. Berkat tangannya yang sejak tadi tidak berhenti mengusap pipi Kyungsoo lembut, kecupan Jongin kini berubah menjadi sebuah ciuman yang sarat akan penyatuan perasaan keduanya yang dipendam sejak beberapa bulan belakangan. Dengan lembut dan tenang, ia perlahan melumat bibir bawah Kyungsoo bergantian dengan bibir bagian atasnya. Dan Kyungsoo pun terlihat melakukan hal yang sama pada bibir Jongin dengan tempo yang lebih lambat. Mungkin ia ingin menikmati bibir Jongin lebih lama agar lebih terasa nikmatnya?

.

.

.


"Hei man,"

Jongin membalikkan badannya dan menemukan Sehun sedang tersenyum penuh arti padanya. "Ada apa?"

Sehun meringis. "Apa yang sebenarnya kau lakukan tadi malam pada kakakku, huh?"

Jongin melepas tawanya dan kembali melanjutkan kegiatannya menimba air dari danau. "Bukan urusanmu, adik ipar."

Sehun yang antisipatif pun reflek memukul kepala Jongin dengan topinya. "Aku melihat tulisan-tulisan cheesy di atas langit tadi malam. Dan kau tahu? Semua gadis yang membacanya berakhir menangis tersedu-sedu."

Jongin menoleh lagi. "Benarkah? Memangnya kata-kata tadi malam jelek ya?"

Sehun mengendikkan bahunya. "Luhan bilang itu kalimat paling romantis yang pernah ia tahu. Dan ia sedih kenapa aku jarang memberi kata-kata romantis seperti itu padanya. Kau ini hobi sekali menyusahkanku, Jongin."

Jongin tertawa begitu puas mendengar jawaban Sehun. "Kau harus belajar banyak padaku, adik ipar. Walau mungkin banyak yang bilang wajahmu itu lebih lumayan daripada wajahku, tapi kau masih nol untuk urusan percintaan, Hun. Akuilah,"

Sehun hampir saja memukul calon kakak iparnya itu dengan topinya lagi jika teriakan Ravi tidak menginterupsinya. "YA! Malah bertengkar sendiri. Cepat ke lapangan, ada kumpulan botol kaca berisi tugas-tugas baru untuk kita."

Dan tanpa banyak berpikir. Jongin dan Sehun langsung berteleportasi menuju lapangan.

"Kotak ini bilang selamat bersenang-senang. Apa maksudnya, ya?" tanya Seohyun bingung.

Chanyeol yang sejak tadi berkutat dengan bagaimana cara membuka kotak kaca yang tak bisa dipecah maupun tak ada gemboknya itu pun akhirnya menyerah. "Ah, aku menyerah."

Jongin yang baru muncul pun mendekati Chanyeol. "Ada apa?"

"Kotak ini tidak bisa dibuka karena tidak ada gemboknya dan juga tidak bisa dipecahkan." Ujar Chanyeol frustasi.

Jongin tertawa melihat kefrustasian Chanyeol. "Wajahmu jelek sekali saat stress, Chan."

Dan ringisan Chanyeol pun diiringi tawa keras dari anak-anak yang lain.

"Leo, bantu aku membalik kotak ini. Raba seluruh permukaannya dengan teliti, cari bagian yang aneh, entah lebih keras atau lebih lunak. Lebih cembung atau lebih cekung. Pokoknya cari yang berbeda." Pinta Jongin seraya masih meraba permukaan kotak itu.

Dan bersama Leo, setelah mereka membalik kotak itu dan meraba seluruh permukaan kotak itu akhirnya Leo menemukan sesuatu yang aneh pada ujung kubus itu.

"Jongin I've found it!"

Jongin lalu menghampiri Leo dan memeriksa temuan Leo. Sebuah cekungan halus yang tidak akan terlihat berbeda jika tidak diraba ternyata ada di ujung kotak bagian bawah. Jongin lantas menyentuhnya dan dengan sekejap kotak itu terbuka dan menampilkan isinya yakni beberapa botol kaca dengan bertuliskan nama masing-masing dari kandidat.

Ini adalah tugas pertama mereka di Glade.

"Ini tugas pertama kita dari mereka. Let's do this!" Jongin meneriakkan kalimat penyemangat bagi teman-temannya yang bergantian mengambil bagian mereka.

"Tapi Jongin, botol ini tidak bisa dibuka." Keluh Seohyun.

Jongin menoleh dan menatap rekan satu distriknya itu lalu bergumam dalam hati.

"Tidak bisa?"

"Iya, Jong. Aku juga tidak bisa membukanya," kali ini giliran Jongdae yang berbicara. Dan semakin lama, seluruh kandidat mengatakan hal yang sama pada Jongin. Dan dengan itu, Jongin sukses mengalami kebingungan luar biasa. Lalu tiba-tiba dari dalam kotak muncul sebuah layar yang menampilkan semua informasi untuk mereka hari ini dengan suara salah satu Lock.

"Selamat pagi para calon Lock. Hari ini kalian mendapat tugas pertama. Yang perlu kalian tahu, waktu untuk menyelesaikan tugas ini adalah dua jam terhitung dari dibukanya kotak ini sepuluh menit lalu. Tiap minggu akan ada beberapa kotak tugas yang datang dengan ketentuan dan tantangan yang berbeda. Jika kalian dapat menyelesaikannya kurang dari waktu yang ditentukan, maka kalian tetap di Glade. Tapi jika tidak, maka kalian akan dikembalikan ke distrik kalian. Jika kalian menyerah, maka Nash akan menjadi tujuan kalian berikutnya."

Sehun menatap layar itu dengan tidak percaya. Tugas pertama sudah seperti ini, bagaimana tugas selanjutnya?

"Dan ingat, sesama wakil satu distrik dilarang saling membantu. Selamat bekerja dan kita lihat siapa yang akan tinggal setelah 75 menit ke depan!"

Selesai.

Kotak itu selesai menampilkan informasi yang diperlukan para kandidat dan sekarang hancur dengan sendirinya lalu meninggalkan kebingungan tingkat tinggi bagi seluruh kandidat.

"Membukanya saja belum, tapi waktu sudah berjalan! Bagaimana ini?!" teriak Baekhyun panik.

Jongin memejamkan kedua matanya dan mencoba berpikir dengan tenang. Dia sebenarnya bisa dengan mudah membuka seluruh botol kaca yang berisi tugas itu. Tapi jika ia melakukannya secara langsung, sebuah rahasia yang sudah ia simpan bertahun-tahun akan terbongkar begitu saja dan itu bisa membahayakan orangtuanya juga teman-temannya.

"Psychers, coba kalian ambil batu-batu di danau. Mungkin jika kita memecahkan botol ini, tugas sialan ini bisa kita selesaikan tepat waktu." Seru Chanyeol tiba-tiba. Jongin menoleh pada Chanyeol dan secara tidak sadar menampilkan senyum tipisnya.

Dan setelah Psychers kembali dengan beberapa batu yang berasal dari danau, Chanyeol sebagai pengusul ide pun segera mengambil salah satu batu yang cukup berat itu untuk kemudian ia pukulkan ke botol kaca miliknya.

Dan percobaannya berhasil. "Ayo semuanya! Kemarikan botol kalian dan kita buka dengan batu ini!" teriak Chanyeol semangat.

"Tapi, Yeol, kenapa tidak botolnya saja yang kita lempar ke batu? Bukankah itu lebih ringan?" tanya Jongdae.

Lalu Chanyeol meringis. "Iya juga. Kalau begitu, sini punyamu biar aku yang membukanya."

Chanyeol melempar botol milik Jongdae ke batu yang ia pakai tadi, namun yang terjadi adalah botol itu malah memantul kembali pada Jongdae.

"Ya! Kenapa dia memantul?!" seru Chanyeol panik. "Sudah, ayo coba lagi. Kali ini pakai caraku,"

Chanyeol kembali mencoba membuka botol milik Jongdae dengan cara pertamanya dan masih gagal. Botol itu tidak mau pecah. "Bagaimana ini?!"

"Coba kau yang pegang batunya, Jongdae. Mungkin botol hanya bisa dibuka oleh pemiliknya sendiri-sendiri," celetuk Jongin menenangkan teman-temannya yang mulai panik karena waktu yang tersisa hanya satu jam lagi.

Dan berhasil. Jongdae berhasil membuka botol miliknya dan sekarang batu yang beratnya cukup lumayan itu mulai diayunkan oleh masing-masing kandidat untuk membuka botol mereka masing-masing, termasuk Jongin.

Sudah selesai dengan acara membuka botol, para kandidat itu kini dihadapkan pada tugas pertama mereka yang terbilang cukup aneh karena tidak banyak persediaan yang mendukung mereka untuk menyelesaikan tugas ini.

"Jongin, a-aku bingung." Kyungsoo mendekati Jongin lalu memperlihatkan tugasnya pada Jongin. "Tumbuhan yang kami tanam baru akan panen lusa, Jongin. Sedangkan di hutan tidak ada tumbuhan ini. A-aku takut, Jongin. Aku tidak mau kembali ke distrik begitu saja,"

Jongin yang baru saja akan menyelesaikan tugas mudahna kembali dibuat pusing dan kali ini oleh kekasihnya sendiri, Kyungsoo. "Aku akan mencarikan tumbuhannya, kau tunggu disini, ya?" jawab Jongin lembut.

"Tapi tugasmu?" tahan Kyungsoo.

"Aku akan menyelesaikannya sambil mencari tumbuhanmu. Tugasku tidak terlalu sulit," balas Jongin yang lalu menghilang menuju hutan guna mencari tumbuhan untuk kekasihnya.

Bersamaan dengan menghilangnya Jongin menuju hutan, Chanyeol dan Sehun baru saja menyelesaikan tugas mereka. Nampaknya para triens mendapat tugas yang tidak terlalu sulit. Tapi sayangnya, Seohyun masih belum bisa menyelesaikan miliknya.

Dan tak lama setelah Kyungsoo selesai membantu Yixing, Jongin pun kembali dengan membawa tumbuhan untuk Kyungsoo. "Ini. Cepat selesaikan tugasmu, ya? Aku akan membantumu lewat ini." bisik Jongin sambil tersenyum kecil dan menunjuk pelipisnya.

Setelah memberikan tumbuhan yang diperlukan Kyungsoo, Jongin mengedarkan pandangannya dan melihat dua sahabatnya sedang membantu wakil distrik lain yakni para kekasih mereka untuk menyelesaikan tugas mereka. Lalu ada Jongdae yang sedang membantu Minseok dengan tugasnya, Jin yang masih berdebat dengan Hongbin tentang bagaimana cara membantu Jungkook dan para psychers lain yang terlihat sedang bersantai karena tugas mereka sudah selesai. Dan ketika Jongin melihat Seohyun, matanya memicing kaget. Gadis itu belum selesai?

"Seohyun, kau belum selesai?" tanya Jongin ramah. Gadis cantik itu menggeleng lemah lalu menahan tangisnya. Waktu tinggal dua puluh menit dan ia tidak mengerti akan tugasnya sama sekali.

"B-belum. A-aku tidak mengerti ini apa, Jongin." cicit Seohyun.

Jongin mengambil kertas milik Seohyun dan membacanya. Betapa terkejutnya ia ketika tugas untuk Seohyun memang terbilang lebih sulit untuk young triens sepertinya. Seohyun bukan termasuk gadis yang bodoh, tapi juga tidak terlalu cerdas. Kemampuannya masih rata-rata, walau jika dibanding teman-temannya yang lain, Seohyun punya kegigihan luar biasa yang membuatnya bisa masuk ke kandidat Lockicious. Tapi dengan tugas seperti ini, Jongin tidak yakin Seohyun bisa bertahan.

"Aku akan meminta bantuan Tao. Aku tidak bisa membantumu secara langsung," ujar Jongin seraya memanggil Tao.

"Ada apa, Jongin?"

"Tolong bantu Seohyun dengan tugasnya. Aku akan menuntunmu dengan ini," tunjuk Jongin pada pelipis kanannya. Tao mengangguk paham dan mulai mendekati Seohyun untuk membantu gadis itu menyelesaikan tugasnya.

Tapi nampaknya, Jongin salah memprediksi. Walau sudah mempelajari tentang Trien, kemampuan Tao masih jauh dibanding Seohyun dan itu membuatnya kesulitan menerangkan pada Tao untuk membantu Seohyun. Namun untungnya ketika waktu tinggal satu menit, Seohyun berhasil sedikit lagi menyelesaikan tugasnya. Tinggal memilih salah satu kabel yang harus ia pasang, dan tugasnya selesai. Tapi masalahnya, Seohyun tidak yakin.

"Pilih yang berlawanan dari apa yang kukatakan, Seohyun."

"Pilih saja biru, kau suka warna biru, kan?" Jongin menyeletuk tiba-tiba dan Seohyun mengangguk mantap. Gadis itu lantas memilih kabel merah tapi ketika hendak memasang, penunjuk waktu sudah berbunyi dan artinya pekerjaan Seohyun tidak selesai.

Jongin menatap Seohyun dengan nanar. Gadis cantik itu menatap Jongin dengan air mata tertahan dan senyum pedih yang terkembang. "Terima kasih Jongin. Maaf aku gagal,"

"SEOHYUN!"

Teriakan Jongin menggema di Glade seiring menghilangnya Seohyun dari Glade. Hari pertama, tugas pertama dan mereka sudah kehilangan satu orang.

Para kandidat mendekat pada Jongin bersamaan dengan teriakan Jongin.

"Kau sudah berusaha, Jongin." ujar Chanyeol menenangkan. "Keputusanmu untuk membantunya sudah benar. Tao juga hebat,"

Jongin masih menundukkan kepalanya tidak percaya. Seohyun adalah salah satu young triens yang cukup berbakat dengan kegigihannya. Kenapa ia harus pergi di hari pertama mereka bertugas?

"Dia sendiri yang memintamu untuk berhenti membantunya di menit-menit akhir karena dia bilang dia bisa menyelesaikannya, kan, Jongin?" kini giliran Sehun berusaha menenangkan Jongin. "Dia punya kegigihan yang luar biasa. Keputusannya untuk menyelesaikan sisa tugasnya setelah kau membantu hampir tiga-perempat tugasnya itu adalah satu hal yang berani. Ia masih ingin mandiri walau ia tahu jika ia salah, maka alat itu tidak akan berfungsi dan ia juga akan pergi."

Ya, Seohyun menghentikan bantuan Jongin di menit-menit akhir dan memilih menyelesaikannya sendiri karena ia ingin otaknya bisa bekerja menyelesaikan tugas pertamanya. Seohyun tahu konsekuensinya jika ia salah langkah, dan ia juga tahu jika ia tidak berhasil menyelesaikan tugasnya tepat waktu, ia akan menghilang dari Glade. Tapi ia tetap ingin menyelesaikan ini sendiri walau Jongin melalui Tao sudah membantunya menyelesaikan tugas ini lebih dari setengah pekerjaan. Seohyun keras kepala dan mandiri, itu yang membuatnya berhasil masuk Lockicious dan itu juga yang membuat namanya harus dicoret lebih dulu dari papan Lockicious.

Kyungsoo mendekati Jongin dan memeluknya. "Sayang," panggilnya lembut. "Kau sudah berusaha dengan baik, kok."

Jongin masih tidak mengindahkan lingkungannya. Ia masih terpaku pada kepergian Seohyun. "Aku bisa menyelamatkannya,"

"Dan membuatmu mendapat hukuman dari Lock karena membantu rekan satu distrik? Aku rasa kau akan membuat Kyungsoo tidak bisa hidup tenang jika kau melakukannya," sahut Luhan seraya menepuk pelan pundak Jongin.

Jongin menoleh pada Kyungsoo dan mengarahkan kepalanya menuju pelukan hangat Kyungsoo. "Aku gagal menyelamatkannya, Kyung."

Kyungsoo menahan air matanya. Dia tahu betapa Jongin ingin seluruh kandidat tetap ada di Glade, tapi itu adalah hal yang jelas tidak mungkin bukan?

"Kau sudah berusaha yang terbaik, Sayang. Seohyun tidak menyerah, bukan? Jadi dia pasti kembali ke distrik." Jawab Kyungsoo lembut seraya mengusak pelan rambut Jongin; menenangkannya.

"Kita pasti akan kehilangan anggota, Jongin. Itu sudah konsekuensi dari Lockicious. Kau sudah sangat membantu Seohyun, setidaknya dia tidak akan dibuang ke Nash." Jongdae ikut berbicara mencoba menguatkan pemuda keturunan Vince itu.

"Setidaknya kita bisa menunda kehilangan itu sampai minggu berikutnya, kan? Seharusnya dia tidak pergi di hari pertama tugas diberikan." Lirih Jongin.

Gemas dengan keras kepala Jongin, Kyungsoo pun memberikan jeweran menyakitkan di telinganya. "Kau itu mau menyalahkan diri sendiri sampai kapan, huh? Dasar hitam menyebalkan. Kenapa sifat keras kepalamu itu tidak hilang-hilang?"

Jongin mengaduh keras diiringi tawa dari kandidat yang lain.

"Kami lebih baik kehilangan anggota paling muda itu di hari pertama daripada kami harus kehilangan sosok pemimpin sepertimu, Jongin." sahut Leo yang diangguki oleh Ravi dan Hongbin.

"Chanyeol mungkin bisa mengarahkan kami, tapi apakah kami bisa percaya dengan pemilik wajah dengan senyum yang kadang menyeramkan itu? No. We rather believe in you than him, Jongin." tambah Jin yang dihadiahi pukulan main-main dari Chanyeol di perutnya.

"Oke, cukup. Selalu saja memuji Jongin dan aku yang jadi korban. Kapan dia jadi korban dan aku yang dipuji?" protes Chanyeol.

Jongin tertawa kecil dari balik dekapan hangat milik kekasihnya. "Kau harus jadi tampan sepertiku, Chan. Kadang jadi tampan itu punya banyak keuntungan."

Baru saja akan melayangkan protesnya pada Jongin, Baekhyun sudah terlebih dulu menyahuti pertengkaran dua sahabat ini. "Lanjutkan pertengkaran kalian dan kalian akan gagal dapat makanan lezat. Ayo Kyungie, aku akan membantumu memasak hari ini!" pekik Baekhyun senang seraya menggandeng Luhan dan Minseok diikuti Tao dan Jungkook juga Yixing dibelakangnya.

Dan seketika, Jongin, Sehun, Jongdae dan Chanyeol serta Jin pun saling berpandangan dan memunculkan satu mimik serta teriakan yang sama.

"NOOOO BAEKHYUN!"

.

.

.

tbc


Salam, kembali lagi dengan Jongsoo disini.

Selamat datang kembali di Vice. Maaf update-annya lama dan ya karena menunggu memang tidak pernah menyenangkan, akhirnya saya upload sajalah chapter 5nya. Untuk Vice ini sudah selesai dibuat ceritanya sampai chapter 9 kalo gak salah. Tinggal upload menunggu tanggapan (review) dari readers sekalian.

Akhir maret dipastikan Vice selesai. Kemungkinan, 75% bersequel tapi sequelnya belum dibuat. Setelahnya, mungkin saya beneran hiatus sampe entah kapan. Mungkin, jadi kalo tiba-tiba nongol disini dengan cepat ya berarti saya kangen nulis.

Terima kasih sudah membaca Vice Chapter 5. Sila menunggu untuk Chapter 6 dalam beberapa hari ke depan. Saya tunggu review kalian, selamat pagi!

Salam,

KJ-27