Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena bebera[a ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.
The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.
Selamat membaca Chapter 6 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.
- KJ-
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu. Siang bertukar shift dengan malam dan begitu juga matahari yang mempersilahkan bulan dan bintang untuk menerangi Vice sekarang. Tidak terasa, sudah lebih dari tiga minggu para kandidat berjuang untuk tetap bertahan di Glade. Hari ini adalah hari ke dua puluh empat dan para kandidat yang masih bertahan hingga hari ini tinggal sepuluh orang.
Gagalnya beberapa kandidat untuk bertahan tidak semata-mata karena kegagalan mereka menjalankan tugasnya. Tapi karena juga karena ketidaksiapan mereka dalam bertarung. Terbukti dengan harus perginya dua kandidat secara langsung saat para Moos menyerang Glade tiba-tiba dua hari lalu.
Moos adalah sebutan bagi penduduk Vice yang menempati distrik khusus—Mooth dimana hanya terdapat para Vicens bermasalah disana. Mulai dari pembunuhan, pencurian hingga pemakaian sihir hitam. Seluruh penduduk Vice yang pernah melakukannya akan tinggal di Mooth dan hidup tanpa satu pun keahlian kecuali membunuh dan melukai target. Tidak ada satupun Mooth yang bisa keluar dari distrik tanpa sepengetahuan para Lock yang berwenang. Dan karena ini adalah ajang pencarian Lock yang baru, maka kedatangan Moos tentu adalah bagian dari agenda Lockicious.
Dan yang harus menjadi tumbal dari serangan fajar yang mengagetkan itu adalah trio berisik dari Psycher, Ravi, Hongbin dan Leo.
"Melamun lagi, hm?"
Kyungsoo memergoki Jongin melamun lagi. Ini adalah kesekian kalinya ia memergoki kekasihnya melamun dalam satu minggu terakhir dan perlahan ia mulai khawatir dengan pemuda tampan ini. Apa dia punya masalah berat yang mengganggu pikirannya?
"Maaf, aku hanya teringat trio berisik itu." Jawab Jongin singkat. Ya, Jongin memang tidak bisa benar-benar melupakan trio berisik asal Psycher itu. Karena bagaimanapun, dua hari lalu adalah hari dimana Ravi, Hongbin dan Leo mendapat tugas jaga malam yang mana itu jadi hari terakhir mereka di Glade karena serangan para Moos yang terbilang tiba-tiba.
"Aku yakin orang tua mereka bangga jika tahu Ravi, Hongbin dan Leo pergi karena berusaha menyelamatkan kita." Balas Kyungsoo lembut.
Gadis itu adalah satu dari sekian gadis yang tersisa di Glade yang menjadi saksi hidup bagaimana Moos melakukan serangan tiba-tiba yang menewaskan Ravi, Leo dan juga Hongbin. Walau Jongin, Chanyeol, Sehun dan Jongdae ikut turun tangan menangani Moos, tapi dengan jumlah yang jauh berbeda, mereka tidak bisa banyak berbuat apa-apa.
"Harusnya aku tidak tidur malam itu," lirih Jongin. Kyungsoo tersenyum kecil dan menatap kekasihnya. Ia sangat paham sifat Jongin yang satu ini, selalu saja merasa bersalah atas kehilangan yang mereka alami.
"Kau mulai lagi, Sayang." Ingat Kyungsoo.
Jongin mendongak pada Kyungsoo dan tersenyum kecil. "Maaf, aku hanya merasa bersalah saja."
"Kau adalah manusia tampan yang paling menyebalkan karena terus-terusan merasa bersalah untuk hal yang bahkan bukan merupakan kesalahanmu." Sahut Kyungsoo. "Untung saja aku mencintaimu,"
Jongin terkekeh pelan. "Ya, untungnya kau mencintaiku. Jika tidak, mungkin aku sudah berakhir di dalam panci penggorengan, ya?" candanya.
"Hei!—oh maaf mengganggu acara romantis kalian." Sela Jongdae kikuk saat ia tidak sengaja menyela momen menyenangkan antara Jongin dan Kyungsoo.
Gadis menggemaskan bermata bulat itu pn terkekeh pelan dan menoleh pada Jongdae. "Ada apa Jongdae? Apa ada info penting?"
Jongdae mengangguk cepat. "Tidak biasanya Lock mengirimkan kotak pada malam hari tapi hari ini mereka mengirimkan satu. Baru saja," serunya agak panik.
Jongin dan Kyungsoo lantas berpandangan sejenak sebelum akhirnya memilih mengikuti langkah Jongdae menuju lapangan tempat dimana kotak kiriman dari Lock biasa muncul.
"Kali ini apa?" tanya Jongin saat melihat Chanyeol dan Sehun mengerumuni kotak itu bersama gadis-gadis.
Dan sebuah kertas yang berisi pesan pun disodorkan Sehun pada Jongin.
"Ada seorang Locka diantara kalian. Serahkan dia pada pagi hari di hari ke-tiga puluh dan kalian akan keluar dari Glade dengan selamat tanpa luka sedikitpun. Jika kalian menolak, kalian akan melihat ulangan peristiwa dua malam lalu."
Jongin menatap kertas itu dengan nanar tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Lock pasti bercanda. Jika ada seorang Locka diantara kita, bukankah harusnya dia sudah membunuh kita sejak awal?" seru Jongdae. "Ini pasti akal-akalan para Lock."
Sehun menatap Chanyeol dengan tajam lalu beralih pada Jongin. "Bagaimana menurutmu, buddy?"
Jongin masih menatap kertas itu dengan tatapan nanar sampai sentuhan Kyungsoo di pundaknya membawanya kembali ke kenyataan. "A-ah, ya. Aku setuju dengan Jongdae, mungkin ini hanya akal-akalan dari Lock. Mereka mungkin belum puas dengan dua hari lalu,"
Minseok mengangguk pelan. "Daripada harus pusing memikirkan pesan tidak penting dari Lock, kenapa kita tidak makan saja? Aku tadi sudah sempat memanaskan bakpao!" girang Minseok yang kemudian dihadiahi sebuah cubitan sayang dari Jongdae di pipinya.
"Pantas saja kau selalu menggemaskan, Minnie." Sahut Jongdae yang diiringi tawa keras para kandidat lain.
Jongin menatap teman-temannya dengan tatapan kosong. Jauh di dalam pikirannya, pesan tadi membebaninya. Dan mungkin itu yang jadi alasan kenapa Jongin harus menghilang dari keramaian dan memilih menghabiskan malamnya disini, di atas tebing tempat ia menyuarakan seluruh perasaannya pada Kyungsoo.
Jongin harus akui, ini adalah tempat favoritnya selain pelukan Kyungsoo untuk melepas beban di kepalanya. Dari sini, ia bisa dengan leluasa memandang langit, menyalurkan segala keluh kesahnya tanpa perlu bersuara.
"Menghindari sesuatu?"
Jongin menundukkan wajahnya lalu tersenyum kecil saat telinganya disapa suara merdu yang selalu jadi candunya, suara Kyungsoo.
"Tidak juga. Kemarilah, aku ingin bicara." Balas Jongin seraya meminta Kyungsoo mendekat padanya. Seolah akan berpisah sangat jauh, Jongin tiba-tiba memeluk Kyungsoo erat dan lembut. "Apa kau mencintaiku?"
Kyungsoo setengah kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Jongin. Walau ia tanpa ragu akan menjawab iya, tapi pertanyaan tiba-tiba ini mengusik batin Kyungsoo. Ada apa sebenarnya dengan Jongin?
"Sayang, ada apa sebenarnya denganmu, hm? Tidak biasanya wajahmu semuram ini," tanya Kyungsoo lembut seraya mengusap pipi Jongin dengan sayang.
Jongin menggenggam lembut tangan Kyungsoo yang ada di pipinya lalu tersenyum simpul. "Aku hanya perlu memastikan bahwa kau mencintaiku, Sayang. Itu saja,"
"Tidak. Aku tahu kau pasti memendam sesuatu, Jongin. Apa itu? Kau bisa mengatakannya padaku, Jongin. Jangan memendamnya sendirian," sahut Kyungsoo dengan nada khawatirnya.
"Apa kau mencintaiku, Kyungsoo?" ulang Jongin lagi, kali ini ia menatap kedua mata Kyungsoo dalam menyalurkan segala resah yang ia rasakan selama ini.
"Dengan seluruh jiwa dan ragaku, aku mencintaimu, Jongin. Sekarang katakan sebenarnya ada apa?" desak Kyungsoo lagi.
Jongin mengecup kening Kyungsoo cukup lama dalam hening hingga akhirnya pemuda itu kembali bersuara. "Will you love me, even with my dark side, Kyungsoo?" ucapnya lirih seraya menjauh beberapa langkah dari Kyungsoo lalu membelakanginya.
"Jongin, apa yang—"
Dan betapa terkejutnya Kyungsoo ketika pemuda tampan di depannya ini membuka kaos yang sedang ia pakai dan menampakkan sebuah tanda lahir yang jelas ia tahu apa artinya.
"K-kau..."
"Akulah Locka yang mereka cari, Kyungsoo. Akulah penyebab mereka terus melakukan hal-hal gila di Glade sampai Ravi, Leo dan juga Hongbin harus pergi selama-lamanya. Akulah penyebab kandidat lain tersingkir. Akulah yang mereka inginkan," lirih Jongin pedih. Ia akhirnya melakukan ini, sesuatu yang sejak lama ingin ia beritahukan pada Kyungsoo tapi masih ia tunda karena ia mengkhawatirkan keselamatan seluruh teman-temannya dan juga kedua orangtuanya.
Kyungsoo masih diam. Ia tidak bisa berkata apapun saat ini. Ia terlalu terkejut untuk sekedar membalas kata-kata Jongin.
"Kau boleh menarik kembali ucapanmu bahwa kau mencintaiku, Kyung. Aku tahu kau adalah seorang Pure dan aku tahu peraturan Vice tak akan mengijinkan Locka untuk menikahi Pure." Sahut Jongin lagi. Suaranya terlihat bergetar ketika ia mengatakan semuanya. Jongin bohong jika ia tidak tersakiti ketika ia mempersilahkan Kyungsoo untuk menjauhinya. Tapi peraturan Vice, membuatnya tidak berdaya.
Jongin memutuskan memakai kembali kaosnya dan membalikkan badannya menghadap Kyungsoo. Bersiap menerima aksi apapun yang akan diberikan gadisnya pada tubuhnya. Seperti...
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" dan sebuah tamparan keras hadir di pipi Jongin diiringi suara bergetar milik Kyungsoo.
Jongin tersenyum memegangi pipinya, ia lalu menatap wajah Kyungsoo dengan lembut dan mengusap air mata gadis itu. "Karena aku terlalu takut jika aku terlalu mencintaimu. Aku menunda semua pernyataan perasaanku karena aku adalah seorang Locka, aku terlebih dulu memikirkan segala resiko yang akan aku hadapi jika kau menerimaku sebagai kekasihmu. Dan setelah kau menerimaku, sekarang aku terlalu takut kehilanganmu."
Kyungsoo melunakkan tatapannya pada Jongin. "Bodoh,"
Jongin terkekeh mendengar makian Kyungsoo. "Tapi aku tidak main-main dengan tawaranku, Kyung. Kau bisa menarik kembali ucapanmu. Kau lihat apa yang terjadi pada Ravi, Leo juga Hongbin? Aku tidak mau kau terluka karena aku, Kyungie." Lanjut Jongin.
Kyungsoo masih menatap mata Jongin tanpa satu suara pun keluar dari bibir bentuk hati miliknya.
"Kyung, aku hanya ingin kau dalam keadaan aman. Kau bisa—"
Kata-kata Jongin terinterupsi karena bibirnya saat ini dikunci rapat-rapat oleh bibir lembut milik Kyungsoo. Gadis bermata bulat itu memilih mendiamkan Jongin dengan cara menciumnya dalam-dalam sampai Jongin benar-benar bisa diam dan berhenti mengoceh.
"Jangan pernah memintaku untuk menjauhimu, Bodoh."
Jongin terkekeh lagi tapi kemudian ia menatap Kyungsoo dalam. Ia mengecup kening Kyungsoo lagi dalam-dalam dan menatap kedua matanya dengan lembut. "Tapi aku tidak bisa membiarkanmu hidup tidak aman denganku. Maaf Kyungsoo, tapi ini demi kebaikan untukmu."
Dan Jongin dengan tiba-tiba menghilang dari hadapan Kyungsoo menyisakan kelembutan di keningnya dan bibirnya. Dengan sekejap mata sosok yang amat Kyungsoo cintai itu pergi. Tanpa membiarkan Kyungsoo menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang, Jongin menghilang. Dan Kyungsoo akhirnya memilih kembali ke rumah dengan perasaan setengah hancur karena Jongin membiarkannya hidup dengan setengah nyawa sekarang.
Kyungsoo nyatanya benar-benar mendapati dirinya dalam keadaan separuh sejak Jongin menghilang tiba-tiba dan tidak pernah muncul kembali walau hanya untuk makan dan berbincang ringan. Kyungsoo kehilangan semangatnya untuk melakukan apapun, bahkan sekarang, ia harus tetap berbaring saat makan, dan harus dipapah untuk berjalan kemana pun. Terlihat betapa Jongin berpengaruh besar pada Kyungsoo. Dan hal ini membuat Sehun merasa seratus persen muak pada Jongin.
Ini sudah hari ketiga sejak Jongin menghilang, dan besok adalah hari akhir dimana di kertas pesan dari Lock, seorang Locka harus diserahkan jika mereka tidak ingin Moos menghancurkan Glade lagi.
"Aku akan mencarinya. Jangan larang aku lagi karena aku akan tetap mencarinya kali ini walau kalian melarangku. Tanganku sudah gatal untuk memukul wajahnya sampai ke tanah," geram Sehun seraya meninggalkan rumah dengan tatapan sedih dari Luhan dan Baekhyun juga Kyungsoo. Zitao, Minseok, Yixing dan Jongdae saat ini sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Aku ikut denganmu, Hun." Sahut Chanyeol seraya menghilang bersamaan dengan Sehun menuju tempat Jongin bersembunyi sekarang. Yang mana tak perlu waktu lama bagi mereka untuk menemukan sosok kekasih Kyungsoo itu.
"Kabur dari sesuatu, bung?"
Sapaan mengejutkan dari Sehun membuat targetnya sedikit kaget. "Bagaimana kalian bisa menemukanku disini?"
Chanyeol mendekati Jongin yang sedang menggelantungkan kakinya di salah satu cabang pohon paling tinggi di hutan. "Anggap saja kami punya ikatan batin denganmu."
Sehun mengangguk pelan dan ikut mendekati Jongin. "Aku perlu memberitahumu sesuatu," ucapnya. Dan setelah Jongin menoleh padanya, pipi kiri Jongin pun tak luput dari bogem mentah dengan kekuatan penuh dari Sehun yang menyebabkan tubuhnya terbanting sejauh 20 meter ke tanah.
Belum jadi Jongin memprotes pukulan pertama Sehun, kini pemuda albino itu kembali memukul Jongin dengan kekuatan lebih rendah di pipi kanannya.
"Itu untuk kelakuan pengecutmu yang menghilang tiba-tiba dari hadapan kakakku dan membuatnya harus terbaring di kasur selama tiga hari ini," ucap Sehun geram sambil tetap mengepalkan kedua tangannya. "Dan ini untuk membohongi kami tentang siapa kau sebenarnya," lanjut Sehun seraya memukul perut Jongin dengan seperempat kekuatannya.
Jongin yang baru saja bangkit harus kembali tersungkur setelah pukulan Sehun memaksa tubuhnya bergeser ke belakang dan menatap batang pohon besar yang menghasilkan rasa sakit luar biasa di punggung, perut dan pipinya.
"Masih ada yang ingin memukulku?" tanya Jongin seraya memegangi perutnya yang sedikit sakit.
"Sebenarnya aku ingin saja memukulmu, tapi karena aku tidak punya alasan sekuat Sehun, ya tidak jadi." Sahut Chanyeol. "Lagipula, sesama Locka kan dilarang saling menyakiti seharusnya,"
Jongin mengelus pipinya pelan sebelum ia tiba-tiba mendongak dan menatap Chanyeol dengan tatapan kaget dan penuh tanya.
"Kau a-apa?!" pekiknya.
"Oops, sorry. Am I mention that I am a Locka too?" tanya Chanyeol pada Jongin yang disambut tawa kecil Sehun.
"Kami sama sepertimu Jongin. Kami juga seorang Locka." Tambah Sehun seraya membuka kaosnya dan menunjukkan pada Jongin gambar sayap hitam di punggungnya, sama seperti milik Jongin dan Chanyeol.
Jongin mengusap wajahnya kasar lalu melepaskan tawanya. "Tapi tunggu. Bagaimana mungkin kau adalah Locka? Bukankah ayah dan ibumu seorang Pure?" tanya Jongin pada Sehun tanpa mengalihkan jari telunjuknya dari wajah Sehun.
"Aku anak angkat mereka. Cukup menjelaskan semuanya?"
Jongin menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Unbelieveable." Sahut Jongin cepat. "Dan yang lainnya, apa mereka tahu tentangku?"
Chanyeol menepuk kepala Jongin pelan. "Memang sulit dipercaya, Jong. Tapi kami memang Locka. Baekhyun dan Luhan juga Locka." Balas Chanyeol. "Dan aku rasa hanya kami berlima yang tahu tentangmu, Jongin."
"Kekasih kalian Locka?" tanya Jongin tidak percaya. Ia terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. " Apa Kyungsoo tahu kalian Locka?"
"Tidak, dia hanya tahu kau adalah Locka. Dia tidak tahu bahwa kami, Baekhyun dan Luhan juga Locka." Jawab Sehun singkat. "Sekarang bagaimana kau dengan kakakku? Masih menghindarinya?"
Jongin menggeleng pelan. "Entahlah, Hun. Aku berani bersumpah atas nama ayahku bahwa aku sangat mencintai Kyungsoo. Tapi aku tidak mau dia celaka karena hubungan ini, kau tahu sendiri bahwa ramalan mengatakan jika seorang Locka dan Pure saling jatuh cinta, salah satu diantara mereka akan ada yang mati." Jelas Jongin lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Hubungan kalian memang sedikit sulit. Tapi, Jong, Kyungsoo sudah bersikeras bahwa dia tetap mencintaimu apapun yang terjadi. Dan dari kedua matanya, aku yakin Kyungsoo tidak jauh beda denganmu." Chanyeol menambahi pernyataan Sehun.
"Sekarang aku ingin tahu, apa kau masih punya hati melihat kakakku terbaring lemah di kasur seperti mayat hidup? Jika ya, putuskan hubungan kalian sekarang juga dan akan kuhabisi kau di depan Kyungsoo." Ucap Sehun dingin.
Jongin menatap Sehun dengan senyum kecilnya. "Jangan marah begitu, adik ipar. Aku akan menemuinya setelah ini. Aku janji,"
Chanyeol tertawa melihat kelakuan sialan Jongin yang memperlakukan Sehun layaknya anak kecil. "Lalu bagaimana rencanamu? Besok kita harus muncul atau Moos akan menghabisi kita semua."
Jongin menyeringai kecil pada Chanyeol dan Sehun. "Show them what we have,"
.
.
Setelah beberapa kali berdebat, tertawa tanpa alasan yang logis dan menyusun rencana untuk hari esok dengan Sehun dan Chanyeol, Jongin akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia bersama Sehun dan Chanyeol baru saja tiba di teras rumah dan disambut dengan pekikan tertahan dari para kandidat lain. Tak hanya itu, Jongin juga harus terlebih dulu mendapatkan sambutan selamat datang kembali dari gadis-gadis cantik yang ternyata cukup brutal jika bermasalah itu. Buktinya, lengan Jongin sudah penuh dengan merah-merah bekas cubitan menyakitkan dari lima gadis cantik itu.
"Oke, oke. Sekarang berhentilah membuat tato merah di badanku. Aku harus bertemu Kyungsoo,"
"Kenapa pikiran itu tidak muncul di kepalamu sejak kemarin-kemarin, huh?" tanya Luhan gemas seraya menyentil dahi Jongin sekuat tenaga yang mengharuskan Jongin memekik tertahan, lagi.
Jongin menatap Luhan dengan tatapan mengancam yang main-main. "Aku tidak takut dengan tatapanmu, Jongin. Sudah sana cepat temui Kyungie," lanjut Luhan sambil mendorong Jongin menuju kamar Kyungsoo.
Perlahan tapi pasti, langkah kaki Jongin semakin mantap menuju kamar kekasihnya. Dadanya berdetak berantakan karena ini kali pertamanya mampir ke kamar Kyungsoo sendirian setelah sebelumnya ia ditendang keluar oleh Yixing dan Minseok. Kyungsoo nampaknya memang jadi gadis yang paling dimanja oleh lima gadis lain di rumah ini dan akibatnya adalah Jongin babak belur karena menyakitinya sekali.
Dan sekarang, Jongin sudah duduk tepat disamping kasur Kyungsoo. Ia memandangi wajah kekasihnya tanpa berkata sepatah katapun karena tak ingin membangunkan gadisnya. Tapi wajah Kyungsoo yang tak ia lihat selama beberapa hari ini benar-benar membuatnya rindu setengah hidup, karenanya ia pun memutuskan mengecup kening Kyungsoo lembut berharap itu tak membangunkannya.
"Euh," Kyungsoo mengerjap kaget merasakan gerakan dari Jongin barusan. "J-jongin?" ucap Kyungsoo tak percaya.
Jongin menatap Kyungsoo lembut dan mengusap pipi gadis gembul itu pelan sambil mengangguk. "Iya, Sayang. Ini aku, Jongin."
Dan Kyungsoo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Jongin saat itu juga. Gadis itu dengan eratnya memeluk Jongin dan menumpahkan segala tangisnya di pundak Jongin. Seketika Jongin merasa baru saja jadi pria paling bodoh karena sudah membuat bidadarinya menangis sampai seperti ini.
"Maafkan aku. Aku terlalu bodoh kemarin,"
Kyungsoo hanya mampu menggelengkan kepalanya dan meneruskan tangisnya tanpa melepas pelukannya pada Jongin. Ia terlalu merindukan pemuda ini nampaknya.
"Apa Yixing, Baekhyun, Luhan dan Jongdae tidak berusaha mengobatimu, huh? Kenapa kau terlihat lemah begini?"
"Aku tidak mau makan,"
Jongin tersenyum pedih mendengar jawaban Kyungsoo. "Kalau begitu malam ini kau harus makan banyak. Kau belum makan kan?" tebak Jongin dan anggukan lemah Kyungsoo menjadi jawabannya. "Sekarang lepaskan dulu pelukanmu, lalu aku akan menyuapimu makan." Titah Jongin dan Kyungsoo pun menurutinya malu-malu. Gadis itu masih berusaha menyembunyikan wajah setelah menangisnya dari Jongin.
"Kau memang sebaiknya tak usah menangis. Matamu jadi semakin terlihat besar saja, kau tahu?" canda Jongin sambil mengambil makanan buatan Minseok dan kawan-kawan untuk Kyungsoo yang ada di meja nakas di samping kasur Kyungsoo.
"Kau habiskan ini, lalu istirahatlah. Besok pagi akan jadi hari yang berat, dan aku ingin kau punya kekuatan penuh untuk menyemangatiku." Ucap Jongin seraya menyuapkan sesuap nasi ke mulut Kyungsoo.
Dua pasangan penuh cinta ini begitu menikmati momen berdua mereka hingga tidak menyadari bahwa banyak pasang mata yang mengintip kegiatan mereka sejak tadi. Saling suap-menyuapi makanan, tertawa karena lelucon bodoh, saling memberi pelukan ringan. Hal-hal kecil yang berdampak cukup besar bagi mereka yang lain.
"Aku tidak menyangka aku bisa sekangen ini pada Joonmyeon hanya gara-gara mereka!" keluh Yixing seraya menyenderkan kepalanya pada pundak Zitao.
"Masih enak kau punya seseorang yang kau cintai, Xingie. Nah aku?" tukas Zitao lemah.
Jongdae menyela perdebatan dua gadis cantik itu. "Bukankah ada Tuan Yifan yang pernah kau datangi sebelum kita masuk kemari, Zitao?"
Dan celetukan Jongdae sukses membuat rona merah di kedua pipi Zitao muncul dan juga beberapa tatapan penuh tanya dari gadis-gadis cantik lainnya.
"Oh, Ya Tuhanku! Kau naksir Tuan Yifan?!" pekik Baekhyun girang.
"Tuan Yifan yang tinggi menjulang itu, Zitao?" ulang Luhan.
"Tuan Yifan yang punya tatapan dingin bahkan lebih dingin dari es itu?" ini Minseok memastikan lagi.
Zitao mengusap wajahnya malu-malu lalu mengangguki seluruh pertanyaan teman-temannya. "Iya dia. Aku kalah taruhan, jadi aku menemuinya."
"Memangnya kau taruhan apa?" tanya Yixing penasaran tanpa mengalihkan kepalanya dari pundak Zitao.
"Jika dalam setahun sejak aku bertemu dengannya aku pernah memikirkannya secara tidak sengaja minimal tiga kali, maka aku harus mendatanginya di Vicerty dan mengakui bahwa aku mencintainya." Jelas Zitao malu-malu.
"Lalu?" desak Luhan dan Baekhyun bersamaan.
"Yah," Tao mengendikkan bahunya. "Aku kalah karena aku memikirkannya hampir setiap hari dan itu menyebalkan!" pekik Zitao kesal yang membuat seluruh kandidat yang ada di ruang tamu itu kini tertawa terbahak-bahak. Lain halnya dengan Sehun yang masih setia berdiri di depan pintu kamar Kyungsoo dengan senyum simpul yang terukir di bibirnya tatkala ia melihat sendiri senyum manis kakaknya muncul dalam tidur nyamannya di pelukan Jongin.
.
.
.
tbc
Heyho readers. As I have said three days ago, the next chapter will be comin' and here it is!
Semoga tidak mengaburkan imajinasi kalian, ya? And with proud, I will announce that the last chapter of Vice is gonna be upload bebarengan sama EXODUS full album yang keluar online akhir bulan ini. Ngah, I'm so excited waiting for this album. Dan semoga OT12 cepet balikan, kangen je sama dua chinaman itu.
Oke daripada banyak omong, as always I will wait for your review and replied it when I had time. Sedikit kode, mungkin awal bulan depan akan ada cerita baru yang muncul di email kalian dari akun ff saya. Ceritanya tentang apa? Kaisoo dan kehidupannya di Seoul yang untuk sementara ini alur ceritanya terinspirasi dari lagu Your Number milik senior EXO, SHInee dan lagu lawas dari jaman saya SD, Can't Lose You punya F4.
I can't guarantee this story will be great as I know my self can't create an amazing story like the other authors. But I promise you this story is purely mine dan kalo nanti di tengah-tengah atau belakang-belakangnya ada angst yang sialan, tolong jangan salahin saya ya? Salahin Promisenya EXO yang sesedih itu sampe bikin saya gakbisa moveon dari lagunya dua hari ini.
Segitu dulu basa basi yg basi dari saya. Jangan lupa review!
Salam
KJ-27
