Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena bebera[a ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.
The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.
Selamat membaca Chapter 7 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.
- KJ-
Hari ini adalah hari penentuan. Jongin, Sehun dan Chanyeol pagi-pagi sekali sudah melahap sarapan buatan Kyungsoo dan Minseok. Mereka juga sudah meminta para gadis-gadis untuk tetap tinggal di rumah bersama Jongdae yang akan memastikan bahwa tidak ada Moos yang datang dari arah berbeda. Hari ini adalah hari pertarungan tiga jagoan Trien melawan para Moos. Dan jika beberapa hari lalu ketika mereka harus kehilangan nyawa dua rekan mereka karena mereka tidak bisa seenaknya mengeluarkan kekuatannya, hari ini mereka bisa memastikan tidak akan menyisakan satupun Moos yang hidup akan keluar dari Glade.
"Jongdae, tolong jaga mereka. Cukup telepati aku jika kau merasakan ada hal yang mencurigakan," ucap Jongin sembari mengusap kepala Kyungsoo lembut.
"Aku titip Luhan, Jongdae. Jaga dia sementara untukku," pinta Sehun.
"Tolong jaga Baekki-ku ya, Kotak. Jika sesuatu terjadi padanya, maka kau yang pertama kutonjok," ancam Chanyeol main-main.
Dengan tawa lepas yang masih menguar di ruang tamu, ke-sepuluh kandidat Lockicious itu berusaha meredakan kegugupan mereka menjelang pertarungan ini. Dan sebuah suara menggelegar dari langit membuat kenyamanan mereka sedikit terusik.
"Halo dan selamat pagi para Gladiers! Sedikit penambahan jadwal untuk kalian. Esok akan diadakan Vicerior, bertempat di Glade. Jika ada salah satu dari kalian yang berminat untuk melawat satu-satunya kandidat dari Lock, maka silahkan turun ke lapangan pukul enam pagi! Dan untuk pertarungan besok, wakil dari Lock adalah Tuan Joonmyeon!"
Yixing membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya ketika nama kekasihnya disebut dengan lantang. Ia menatap Jongin nanar sebelum telinganya kembali fokus dengan ucapan dari langit itu.
"Pertarungan hari ini akan dimulai lima menit lagi jika Locka tidak menyerahkan diri. Dan untuk teknis Vicerior, silahkan kalian cermati lewat pesan yang kami kirim di kotak! Selamat membaca dan semoga harimu menyenangkan!"
Baekhyun mendengus kasar mendengar ucapan terakhir dari pemberitahuan itu. "Menyenangkan apanya? Ish, dasar Lock menyebalkan!"
Jongin tidak menarik tatapannya dari Yixing. Seluruh kandidat disini tahu bahwa Jongin pasti akan meneruskan peran ayahnya sebagai Vince. Dan ketika mereka tahu bahwa lawan Jongin besok adalah Joonmyeon, kekasih Yixing, mereka pun ikut bimbang.
"J-jongin..."
"Sebentar, aku akan ambilkan peraturan Vicerior." Putus Jongin sambil menjentikkan jarinya dan muncullah kotak kiriman para Lock dihadapannya.
"Dipersilahkan menggunakan sihir tanpa batas." Sebut Sehun saat matanya membaca gulungan kertas di tangan Jongin itu.
"Dilarang menggunakan senjata tajam apapun." Lanjut Chanyeol.
"Di..." Baekhyun tidak melanjutkan ucapannya saat matanya mencermati kalimat terakhir di kertas itu.
"Apa Baek? Kenapa kau berhenti?"
"Dipersilahan untuk terus bertarung hingga lawan menyerah atau mati. Jika tidak, pertarungan akan dianggap belum selesai." lirih Luhan. Dan Yixing tidak bisa mencegah air matanya turun saat itu juga.
"J-jongin..." lagi-lagi Yixing hanya mampu berucap lirih sambil menatap dalam kedua mata Jongin yang saat ini tidak menatapnya. Ia tahu Jongin lebih pantas mendapatkan gelar Vince, tapi jika syarat pertarungan esok hari adalah menyerah atau mati, ia tidak lagi mampu membayangkan bagaimana jadinya hidupnya jika esok Jongin mencabut nyawa Joonmyeon. Karena gadis cantik berdimple itu tahu pasti bahwa dua lelaki tampan yang akan bertarung memperebutkan gelar paling tinggi di Vice itu tidak akan pernah mau menyerah. Walau begitu, Yixing juga tidak menginginkan Jongin untuk menyerah ataupun sampai harus mati di tangan calon suaminya sendiri. Karena ia juga tidak sanggup membayangkan bagaimana hidup Kyungsoo jika pemuda berkulit tan itu benar-benar pergi untuk selamanya dari kehidupannya. Baru bertengkar kecil saja, Kyungsoo sudah langsung drop dan tidak mau makan selama tiga hari. Bagaimana jika Jongin mati esok hari?
Dan perdebatan pun tidak hanya muncul di benak Yixing, namun juga kembali muncul dalam diri Jongin. Ia tidak bisa menyerah begitu saja ketika ia sudah sedekat ini dengan terwujudnya keinginan Ayah tercintanya. Tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun jika peraturan memintanya membunuh Joonmyeon. Pemuda yang jadi lawannya esok hari itu adalah kekasih Yixing atau lebih tepatnya calon suami Yixing, salah satu teman baiknya di Glade. Dan Jongin tidak bisa melakukan sesuatu yang menyakiti teman baiknya, setidaknya tidak lagi. Sudah cukup bagi Jongin mengorbankan nyawa trio Psychers karena ia terlambat menyadari kedatangan para Moos dan ketidakberdayaannya menghadapi Moos yang kala itu jumlahnya cukup banyak karena ia tidak bisa mengeluarkan kekuatan yang ia miliki. Jika ia mengeluarkan kekuatan yang ia miliki saat itu, bisa jadi seluruh rahasianya terbongkar di waktu yang tidak tepat. Dan yang terburuk, para Pure bisa tahu siapa ia sebenarnya dan mungkin akan menyakiti orang-orang terdekatnya, salah satunya adalah kedua orangtuanya, Kyuhyun dan Sungmin.
"Kita bicarakan ini lagi nanti, ya? Aku rasa Moos sudah hampir sampai," sahut Jongin lembut. Ia bukan tidak mau membahas masalah penting ini, tapi jika ia membahasnya sekarang, maka lagi-lagi ia akan kelimpungan menghadapi Moos. Dan juga, ia masih harus menyimpan tenaganya untuk esok hari. Walau pertarungan hari ini ia perkirakan hanya akan menghabiskan sekitar seperempat kekuatannya karena ada bantuan Chanyeol juga Sehun, tapi ia harus tetap berjaga-jaga jika ada Moos yang cukup kuat yang tidak bisa dihandle oleh Sehun atau Chanyeol. Dan akhirnya, bersamaan dengan berdirinya Jongin, Sehun dan Chanyeol juga bangun dari posisinya dan mengikuti Jongin untuk segera berpindah ke lapangan demi menghadapi pasukan Moos yang bisa saja menghabisi mereka hari ini jika mereka lengah.
"Kalian siap?" tanya Jongin.
"Tak pernah sesiap ini, Jongin." sahut Sehun dan Chanyeol bersamaan dengan tawa semangat mereka.
Jongin tentu mengharapkan kemenangan besar hari ini, karena dengan itu, ia bisa menunjukkan pada para Lock yang bertanggung jawab untuk Lockicious tahun ini bahwa ia dan kedua sahabat Locka-nya tidak akan pernah menyerah untuk mempertahankan klan mereka. Karena sesuai doktrin leluhur mereka, keturunan Locka harus tetap ada hingga akhir kejayaan Vice agar kota itu tetap bisa terlindung dari serangan musuh dan juga tetap tumbuh sebagai kota yang penuh kedamaian dan ketenangan karena Pure saja tidak cukup kuat untuk mempertahankan kejayaan Vice.
Dan bersamaan dengan seringaian ketiga Locka tampan itu, gerbang utama Glade pun terbuka perlahan dan memunculkan segerombolan sosok dengan baju serba hitam tanpa sedikitpun wajah mereka atau kulit mereka terlihat. Dengan topeng yang cukup menyeramkan, sekawanan pembuat onar itu pun akhirnya datang lagi ke Glade. Tapi untuk kali ini, Jongin, Chanyeol dan Sehun tidak akan sedikit pun membiarkan tangan-tangan kotor para Moos menyentuh sahabat-sahabat mereka dan kekasih mereka yang mereka sayangi itu.
Karena Jongin, dalam hati kecilnya sudah benar-benar berjanji untuk menghabisi siapa pun yang menyakiti orang-orang terdekatnya.
Siapa pun.
.
.
.
"AW!"
Teriakan Chanyeol menguar di ruang tamu menyusul tindakan brutal Baekhyun yang menyentuh lukanya dengan penekanan yang tidak tanggung-tanggung. "Baek sakit!"
"Kan sudah ku bilang untuk jangan sampai kau terluka!" seru Baekhyun. Chanyeol memijat pelipisnya pelan kemudian merendahkan nada bicaranya lagi. Berusaha selembut mungkin agar kekasih kesayangannya ini bisa mengerti.
"Dia muncul dari belakang, Baek, aku masih konsentrasi menghabisi Moos di depanku." Jelas Chanyeol.
"Tapi lihat ini? Sepuluh centi? Chanyeol ini panjang sekali!" protes Baekhyun lagi.
Chanyeol tertawa kecil. Ia sebenarnya senang melihat Baekhyun yang seperti ini. Lucu, menggemaskan dan sangat perhatian walau sangat amat cerewet. Tapi karena ia mencintai Baekhyun atas dasar sifatnya yang memang sudah seperti ini, maka Chanyeol tidak pernah sekali pun menyesal mencintai Baekhyun. "Sudah obati saja, Baek. Toh ini pertarungan pertamaku, jadi jika aku tak punya luka, tidak asik." Final Chanyeol.
Baekhyun tersenyum kecil. Gadis itu sebenarnya sangat khawatir dengan Chanyeol. Walau ia adalah seorang Weast dan Chanyeol adalah seorang Locka yang tentu saja punya kemampuan tersendiri untuk menyembuhkan lukanya lebih cepat dari para Pure, tetap saja sebagai seorang gadis dan kekasih Chanyeol, ia tetap khawatir dengan keselamatan pemuda tampan yang suka tertawa itu. Alasannya sederhana saja, bagaimana ia bisa merasa tenang ketika sebagian jiwanya sedang dalam keadaan terluka?
Sehun menertawai Chanyeol yang baru saja diobati oleh Baekhyun karena luka di lengan kanannya cukup dalam dan panjang akibat goresan pedang dari Moos. Luhan sendiri tidak banyak bicara sejak tadi karena gadis itu masih konsentrasi penuh untuk membantu Sehun mempercepat penyembuhannya. Sedangkan Sehun sendiri sebenarnya hanya menderita luka gores di wajah dan kaki. Sisanya? Ia mematahkan lengan kanannya dan beberapa ruas tulang belakangnya karena dibanting Moos dari ketinggian hampir mencapai langit Glade. Dan itulah yang jadi alasan air mata Luhan tidak pernah habis mengaliri kedua pipinya sejak Sehun pertama kali masuk ke rumah dengan dibopong oleh Jongin dan Chanyeol dengan sangat hati-hati.
Kali ini gadis itu berusaha mengontrol emosinya agar kejadian saat ia pertama kali mengobati Sehun itu tidak lagi terulang, dimana ia malah hampir membuat pembuluh darah pemuda tampan itu pecah karena saluran panas dari tangannya. Luhan berusaha tetap tenang dan konsentrasi dibantu oleh Jongdae yang kini sedang merapalkan mantra penyembuhan bagi Sehun yang tentu saja hanya para Weast yang bisa menghafal banyak mantra panjang dan memusingkan itu.
"Harusnya tadi kalian tidak perlu ada disana. Jadi aku bisa melakukan penghabisan masal," celetuk Jongin tiba-tiba yang dihadiahi jitakan manis dari Kyungsoo.
"Apalagi ini penghabisan masal?"
Jongin meringis sejenak lalu kembali melanjutkan penjelasannya. "Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menghabisi mereka dengan sekali gerakan. Tapi, ya resikonya aku kehabisan tenaga dan orang-orang disekitarku akan terluka parah jika mereka bukan musuhku."
"Jika mereka musuhmu?" tanya Jongdae penasaran.
"Menghilang. Seperti kertas yang terbakar lalu jadi abu dan kau tiup abunya hingga habis." Lanjut Jongin.
Seluruh Gladiers akhirnya memang tahu jika Jongin memiliki kekuatan yang lebih dari mereka berkat cerita singkat Kyungsoo. Dan untungnya, para Gladiers tidak mempermasalahkan status Jongin sebagai seorang Locka selama tidak mengancam keselamatan Kyungsoo dan diri mereka sendiri. Karenanya, mereka sekarang tidak lagi canggung bertanya pada Jongin tentang kekuatannya. Dan yang perlu Jongin syukuri lagi adalah bahwa Kyungsoo ternyata benar-benar bisa menerima statusnya sebagai seorang Locka yang dalam ramalan Vice akan bisa mengancam kelangsungan hidup Pure.
Seperti Jongdae yang merinding seketika setelah mendengar penjelasan Jongin. Sebagai seorang Vicens yang terlahir sebagai seorang Pure, Jongdae memang tidak punya banyak kelebihan seperti Jongin; yang mana hanya lelaki itu yang para Gladiers ketahui memiliki kemampuan lebih sebagai Locka. Dan selebihnya, Jongdae nampaknya memang tidak berbakat dalam hal pertarungan. "Untung aku tidak ikut bertarung,"
"Kau memang tidak ditakdirkan untuk jadi pemberani seperti mereka, Jongdae." sahut Minseok yang baru saja kembali dari dapur bersama Zitao dengan membawa beberapa minuman dingin dan makanan lezat untuk para pejuang tampan itu. "Aku dan Zitao membuatkan kalian minuman dingin dan makanan kecil, sudah kucampur dengan beberapa ramuan pengembali tenaga dari para Weast, jadi semoga itu bisa mengembalikan kekuatan kalian, khususnya kau, Jongin."
Jongin tertawa mendengar jawaban Jongdae dan juga balasan Minseok. Duo pemilik suara merdu ini memang sangat klop walaupun tidak seperti Sehun dan Luhan yang lebih sering didominasi oleh sang pria dalam hubungan mereka, tapi Jongdae dan Minseok tetap terlihat serasi dengan cara mereka sendiri. Jongin melanjutkan ringisan kecilnya ketika Kyungsoo mulai mengobati lukanya lagi, ia juga mengangguk pelan sambil mengucapkan terima kasih pada Minseok atas minuman buatannya. Tapi kemudian ia teringat sesuatu yang penting. "Mana Yixing?"
Dan tundukkan kepala dari Zitao pun menjadi tanda tanya besar bagi Jongin. "Dia mengurung diri di kamar?" tebak Jongin yang diangguki oleh Zitao dan Minseok bersamaan.
"Aku akan mencoba bicara dengannya. Kalian istirahatlah, jangan begadang. Aku butuh kalian besok pagi," ucap Jongin sambil mengukirkan senyumnya di wajahnya sebelum ia melangkah menuju kamar Yixing.
"Xingie," panggil Jongin pelan. "Aku boleh masuk?"
Jongin melangkah dengan sedikit pincang saat mendekati kamar Yixing. Pemuda itu terluka sedikit parah di bagian kaki kanannya, untungnya, kekuatan penyembuh yang ia miliki cukup mumpuni, sehingga dengan rapalan mantra dari Jongdae dan kemampuannya sendiri, perlahan lukanya mulai menutup walau ia masih sedikit pincang setelahnya.
Pintu yang baru saja terbuka menjadi jawaban bagi Jongin. "Hey," sapanya. "Kau baik, kan?"
Jongin mencoba menatap kedua manik menenangkan milik Yixing. Gadis ini adalah sosok paling rapuh untuk dua hari ini, dan Jongin adalah salah satu penyebabnya.
Yixing menggeleng pelan lalu tiba-tiba ia memeluk Jongin erat. "Apapun yang terjadi besok, tolong jangan sakiti Joonmyeon, Jongin."
Ini yang Jongin takutkan. Dia tidak bisa banyak berbuat jika sudah ada yang meminta tolong padanya kecuali mengabulkannya. Dan untuk yang satu ini, Jongin benar-benar bingung dibuatnya.
"Xing, aku akan berusaha semampuku untuk seminimal mungkin menyakiti Joonmyeon. Tapi kau tahu kan, aku tidak akan mungkin menyerahkan posisi Vince untuk Joonmyeon?"
Yixing mengangguk pelan. Ia paham bahwa Jongin, pemuda yang baru ia kenal baik selama satu bulan ini adalah benar-benar sosok yang pantas menggantikan Kyuhyun. Selain benar-benar mewarisi sifat bijak dari ayahnya, Jongin juga memang lebih mumpuni dari Joonmyeon, Yixing akui itu.
"Jangan buat dia cedera terlalu banyak, dan pastikan kan kau juga baik-baik saja, oke?" pinta Yixing final sambil menjauhkan tubuhnya dari dekapan Jongin dan mengusap air matanya sendiri.
"Aku berjanji padamu. Sekarang, istirahatlah. Besok hari berat juga, bukan?"
Jongin memeluk Yixing dengan lembut, mengusak surai kecoklatan milik gadis cantik itu dengan pelan. Yixing sudah ia anggap seperti kakak perempuannya sendiri, jadi ia benar-benar bertekad untuk tidak menyakiti gadis ini sedikit pun. Jongin masih memeluk Yixing erat, berusaha menyalurkan segala kekuatan penenangnya pada Yixing agar gadis itu bisa tenang lalu tidur dengan cepat dan nyenyak malam ini. "Malam Yixing," pamit Jongin setelah memastikan gadis itu sudah dalam posisi siap tidur.
"Bagaimana dia?" tanya Kyungsoo yang tiba-tiba muncul di samping Jongin.
"Hei," Jongin menyunggingkan senyum tipisnya dan mengusak pucuk kepala gadisnya yang tiba-tiba sudah berdiri tegak di sampingnya ini. "Yixing baik-baik saja. Ayo tidur denganku lagi. Aku membutuhkan ciuman penyemangat darimu, jadi jangan jauh-jauh dariku, ya?" goda Jongin pada Kyungsoo.
"Ya! Pervert!" pekik Kyungsoo tertahan. "Siapa yang mau menemanimu tidur malam ini memangnya?" lanjut gadis mungil itu.
"Tentu saja kau, Kyungie. Mana mungkin aku memilih Jongdae untuk jadi teman tidurku. Dia tidak enak dipeluk," jawab Jongin seraya memeluk Kyungsoo erat.
Dan Jongdae yang sedang bercengkrama dengan Minseok di ruang tamu pun menghadiahi Jongin dengan timpukan kayu yang tiba-tiba saja ada di atas kepala Jongin. "Jaga bicaramu, Hitam."
Jongin mengusap kepala belakangnya yang sedikit sakit akibat pukulan Jongdae tanpa melepas pelukan Kyungsoo. Pelukan mesra Kyungsoo di tubuh Jongin seperti tidak bisa lepas begitu saja sampai Sehun yang tiba-tiba muncul entah darimana itu harus menyempil diantara keduanya untuk bisa memeluk Kyungsoo.
"Susah sekali hanya untuk mendapatkan pelukan dari kakakku sendiri," protes Sehun yang diiringi cubitan gemas dari Kyungsoo.
"Masih saja manja, hm?"
"Sudahlah, jauh-jauh dulu sana. Pastikan dulu tulang belakangmu sudah sembuh, aku ingin bersama Kyungsoo. Besok hari besar, Hun!"
Sehun mengangguk setuju dengan mimik wajah yang cukup mengundang kesal Jongin. "Jadilah pemenang dan jangan sampai cedera serius, oke?" pinta Sehun sambil merangkul erat sang calon kakak ipar dari samping. "YA! Jangan terlalu erat, Jongin. Kau mau membuat tulang punggungku patah lagi, ya?" pekik Sehun yang dibalas cengiran bodoh Jongin.
"Jaga Kyungsoo untukku, ya?"
Jongin pun mengakhiri percakapannya dengan Sehun yang membalas permintaan Jongin dengan anggukan mantap dan memilih membawa Kyungsoo ke kamarnya untuk menemaninya tidur.
"Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu," sahut Jongin saat merasakan wajah merah Kyungsoo ketika ia melepas pakaiannya barusan. "Aku tidak pernah tidur dengan memakai baju, jadi kuharap kau bisa terbiasa, Sayang." Goda Jongin yang akhirnya berhasil membuat wajah Kyungsoo benar-benar memerah.
"Jongin!"
Tawa lepas Jongin menguar di kamarnya dengan bebas. Ia ingin membebaskan bebannya, setidaknya, besok adalah hari terakhir perjuangan beratnya. Jika ia sudah memenangkan pertarungan besok, maka urusan setelahnya akan ia pikirkan di lain hari. Yang terpenting adalah, ia masih bersama Kyungsoo dan itu sudah sangat melegakan batinnya.
"Do not ever giving up on me, Kyungsoo."
Senyuman kecil Kyungsoo mengiringi jari-jari lentik Kyungsoo yang mulai menelusuri wajah Jongin dengan perlahan. "I will not giving up on you, Jongin."
"Promise me you will stay by my side,"
Kyungsoo mengangguk. "Kan sudah kubilang, aku tidak akan menjauh darimu. Kau tidak ingat apa yang terjadi padaku ketika kita berjauhan?" ingat Kyungsoo pada peristiwa beberapa hari lalu dimana ia harus berbaring di kasur hanya karena kesehatannya yang menurun drastis sejak menghilangnya Jongin.
Pemuda dengan senyum menawan itu pun terkekeh pelan. "Jika besok aku melakukan hal yang bisa membunuh Joonmyeon, tolong hentikan aku, ya?"
"Eh?" Kyungsoo menatap Jongin heran. "Bukankah kau sudah berjanji pada Yixing tadi?"
Jongin mengangguk pelan. "Memang. Tapi ketika naluri Locka mulai menguasaiku, aku tidak bisa mengingat apapun dan menimbang apapun. Makanya jika besok kau melihatku melakukan hal yang dapat membahayakan nyawanya, tolong hentikan aku." Pinta Jongin lagi.
Kyungsoo menyamankan kepalanya di dada Jongin sambil tidak berhenti memainkan jarinya di dada bidang Jongin. "Siap, Jendral."
Gerakan jari-jari Kyungsoo di dada Jongin nampaknya mulai meruntuhkan pertahanan Jongin perlahan-lahan. Terbukti dari keputusan Jongin untuk menyatukan bibirnya dan bibir Kyungsoo lebih dalam dan lebih intens dari biasanya. Tetap lembut dan tanpa pemaksaan tentu saja, karena Jongin tidak suka menyakiti seorang gadis.
Ciuman yang mulai naik tingkat itu pun akhirnya memperbolehkan lidah Jongin untuk mengajak lidah Kyungsoo untuk bertarung yang tentu saja sudah pasti akan dimenangkan oleh Jongin. Dan tentu tanpa menyia-nyiakan waktu, tangan kanan Jongin mulai bergerilya turun dari pundak Kyungsoo menuju pinggangnya dan menuju bagian paling sensitif milik Kyungsoo di bagian bawah. Dengan bawahan Kyungsoo yang berupa rok, mempermudah Jongin untuk mengeksplor paha mulus Kyungsoo tanpa halangan berarti.
Sentuhan demi sentuhan lembut yang Jongin berikan di paha bagian dalam milik Kyungsoo menimbulkan sensasi menakjubkan bagi Kyungsoo. Rasa geli yang menjadi candu, karenanya ia tak terlalu melarang tangan-tangan sialan milik Jongin untuk melanjutkan kegiatannya bergerilya menuju titik sensitif para gadis. Dan dengan satu gerakan, Jongin membebaskan area sensitif itu dari penghalang apapun dan mempersilahkan jari telunjuknya untuk perlahan masuk dan bertamu disana.
"Eunghh~"
Desahan yang keluar tiba-tiba dari bibir Kyungsoo yang tadinya masih Jongin kunci dengan sebuah ciuman ringan membuat detakan jantung Jongin meningkat tajam. Dengan perlahan tapi pasti, ia mulai menggerakkan jarinya di dalam Kyungsoo yang tentu saja membuat gadis bermata bulat itu tidak berhenti melenguh. Penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, Jongin mengeluarkan jari telunjuknya sejenak dari Kyungsoo dan mempersiapkan tiga jarinya untuk kembali memasuki Kyungsoo.
"Jika ini terasa sakit, aku bisa berhenti." Lirih Jongin. Tapi bukannya mengijinkan, Kyungsoo menahan tangan Jongin tepat ketika mereka akan masuk.
Dengan tatapan sayu menggoda dan rona merah di kedua pipinya, Kyungsoo melakukan kesalahan fatal karena menatap Jongin dan memohon padanya. "I don't want this. I want yours,"
Dan seketika Jongin pun mengunci lagi bibir Kyungsoo dan mengarahkan tangannya sendiri untuk melepas celananya dan juga seluruh pakaian Kyungsoo lalu membiarkan miliknya menggelantung bebas sebelum akhirnya dengan satu gerakan ia berhasil memasuki Kyungsoo.
"AHH!"
Teriakan kesakitan dari Kyungsoo baru saja terdengar, dan Jongin sejenak merasa bersalah. "Ma-maafkan aku. A-apa aku perlu berhenti?" tanyanya panik. Bukan apa-apa, tapi ini adalah kali pertamanya menyentuh seorang gadis hingga sejauh ini. Jadi jika boleh dibilang, Jongin dan Kyungsoo masih sama-sama pemula dalam hal ini.
Kyungsoo menggeleng lemah. Bagaimana dia bisa mengijinkan Jongin untuk berhenti ketika sensasi yang ia dapatkan dari hantaman Jongin ini benar-benar nikmat? Sakit tapi nikmat, Kyungsoo terlalu bingung untuk menjabarkan bagaimana perasaannya sekarang.
"Move please. Slowly," pinta Kyungsoo tetap dengan wajah sayunya. Jongin bersumpah demi nama seluruh leluhurnya, wajah kekasihnya ini benar-benar terlalu menggoda!
Dan seperti anak kecil yang benar-benar penurut, Jongin pun mengiyakan permintaan Kyungsoo. Dengan perlahan ia menggerakkan miliknya yang sudah berada di dalam Kyungsoo, sesekali tertahan karena ia tidak percaya dengan pijatan yang dilakukan Kyungsoo pada miliknya di dalam sana.
"A-ah Kyung. K-kau—" Jongin selalu tak berhasil mengutarakan isi kepalanya. Ia terlalu menikmati seluruh sensasi yang diberikan Kyungsoo pada miliknya di dalam sana sehingga mengabaikan seluruh kata-kata yang ingin ia keluarkan. Walau ia baru pertama kali melakukan semua hal intim ini, tapi entah kenapa ia merasa begitu nyaman dan tenang.
Lelah bergerak dengan pelan, Jongin mulai menambah temponya dan ketika hantaman Jongin sampai di suatu titik, Kyungsoo tersengal. "A-ahh, d-disana Jongin!"
Mengerti maksud ucapan Kyungsoo, Jongin pun kemudian kembali menambah temponya dan menghantam titik yang dimaksud oleh Kyungsoo berkali-kali yang mengakibatkan lenguhan Kyungsoo semakin tidak terkendali. Dan Jongin menyukainya. Ia sangat menyukai bagaimana Kyungsoo meracau tentang betapa nikmatnya hantaman Jongin dibawah sana dan bagaimana tempo Jongin berlalu dengan nikmat. Jongin juga menikmati bagaimana Kyungsoo memperlakukan adiknya dengan baik di dalam sana. Bagi Jongin, tidak ada yang lebih nikmat selain membiarkan adiknya mengunjungi Kyungsoo seperti ini. Mungkin jika suatu hari mereka melakukan ini lagi, Jongin harus benar-benar minta ilmu pada ayahnya agar kelak anaknya jika seorang lelaki bisa jadi setampan dirinya.
"J-jongin, h-hampir sampai!"
Lagi-lagi lenguhan tak beraturan Kyungsoo sukses membuat detakan jantung Jongin berantakan. Titik nikmat Kyungsoo yang dihantam oleh Jongin berkali-kali itu nampaknya mulai menimbulkan efek lain. Dan dengan selipan ucapan tentang orgasme gadis itu yang hampir sampai, Jongin pun menaikkan temponya lagi agar mereka bisa sampai bersama. Syukur jika percobaan pertamanya ini langsung berhasil tembus memasuki ovum Kyungsoo dan segera membuat statusnya berubah lagi menjadi calon ayah. Jongin mungkin saja mendapatkan piala atau hadiah yang tidak tanggung-tanggung dari kedua orangtuanya atas usaha pertamanya yang cespleng ini.
"JONGIN!" / "KYUNGSOO!"
Dan teriakan lega dari keduanya menutup sesi pertama mereka malam ini. Dengan senyum sayu dan keringat yang membasahi seluruh tubuh mereka, Jongin dan Kyungsoo memilih untuk benar-benar tidur tanpa merubah posisi bawahan mereka dan hanya membenahi posisi kepala Kyungsoo yang kini bersandar dengan nyaman di dada Jongin. Lelaki dengan dada cukup bidang itu sempat tersenyum kecil membayangkan bahwa akhirnya ia bisa memiliki Kyungsoo hingga sejauh ini. Sekilas dalam kepalanya pun terlintas imajinasi kehidupannya kelak bersama Kyungsoo dan anak-anak mereka yang pasti terlahir dengan wajah yang tampan seperti dirinya dan juga cantik seperti Kyungsoo. Merasa sedikit geli dengan imajinasinya sendiri, Jongin memilih mendekatkan bibirnya menuju kening Kyungsoo. Dan kecupan selamat malam dari Jongin di kening Kyungsoo pun akhirnya menutup malam panas mereka yang pertama ini dan menghantarkan mereka menuju mimpi indah mereka masing-masing.
.
.
.
tbc
Dan bersambung dengan tidak elitnya. Huahahahay, maafkan saya readers yang terhormat. Pengetahuan saya tentang NC sedikit terbatas karena belum ngalamin sendiri *ditimpukin gelas* *ada yang masih dibawah umur woy readers lo, Jongsoo!* Nah itu dia alasan saya cuma kasih sedikit NC, kalo kebanyakan nanti ketagihan, Nak. Belum saatnya, *ketawa setan* *iya emang setan banget lo, Jong*
Okay, gimana dengan chapter ini? Kependekan, ya? Kalo dipanjangin bagian terakhirnya, nanti saya yang pusing, pening, dan lemas di beberapa bagian tubuh, wahai adek-adek dan kakak-kakak. Jadi gapapalah ya ini agak sedikit lebih pendek. Kan chapter depan juga udah END... *SERIUS LO JONGSOO?*
Sayangnya, iya, saya serius. Chapter depan adalah chapter terakhir untuk Vice Part 1 ini. ARTINYA saya memang merencanakan bikin sequel tapi belum sempet nulis karena keterbatasan waktu dan dana untuk menyuplai kreatifitas saya dengan nonton INSURGENT! Jadi para readers yang terhormat, mohon ditunggu ya sequel Vicenya. InsyaAllah gak akan ditelantarkan macam ff-ff saya yang lainnya kok. Semoga... T_T
Dan karena ini sudah menjelang chapter terakhir, yo ayo yang review yo ditambah yoo hahaha. Dan, hey, ada yang ngikutin perkembangan pathcodeexo? I really can't wait for their comeback MV. Dengan teaser2 sialan yang saya harus akui sangat keren pengaturan editingnya dan idenya itu, saya harap sih Sumber Maju Entertainmen itu tidak seenak pantat dengan kemudian bikin MV yang kalah keren sama teaser duabela- sori, maksudnya sepuluh manusia berkekuatan siuper itu.
Okay gak banyak omong lagi deh. Nanti dikira bawel lagi sayanya. Jangan lupa review dan nantikan kemunculan Chapter 8 pada akhir bulan Maret 2015 ini kalo tidak ada halangan berarti.
Sekian! Salam,
KJ-27
