Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!

Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.

Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena bebera[a ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.

The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.

Selamat membaca Chapter 8 alias Chapter terakhir dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya di Vice part 2. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.

- KJ-


Ini hari yang penting bagi Jongin. Harusnya ia akan menghabiskan hari ini dengan mempecundangi Joonmyeon, lawannya di Vicerior. Sewajarnya, Vicerior baru akan diadakan beberapa tahun lagi, tapi entah apa yang jadi pertimbangan para Lock hingga mempercepat pengadaan Vicerior. Yang Jongin tahu, jika Vicerior dipercepat, artinya ada sesuatu yang terjadi pada kedua orangtuanya. Dan jika ia tahu siapa yang bertanggungjawab atas keselamatan orangtuanya saat ini, ia bersumpah akan membunuhnya jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.

Jongin pagi ini bangun dengan kaget. Kedua matanya yang baru terbuka, sedang berusaha menyesuaikan dengan sekitarnya, dan ketika ia sadar bahwa Kyungsoo sudah tak ada dalam dekapannya, pemuda itu panik.

Setelah memastikan ia sudah memakai pakaiannya kembali, Jongin memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mulai mencari kekasihnya dan juga teman-temannya karena tak biasanya rumah mereka ini sepi. Teriakan Chanyeol dan Baekhyun biasanya akan jadi alarm alami bagi Jongin, tapi pagi ini telinganya tidak menangkap satupun suara lain di rumah itu.

"Kyungsoo!" panggil Jongin. Ia melongok ke arah dapur dimana biasanya sosok mungil itu menghabiskan sebagian waktunya, tapi nihil.

"Chanyeol! Sehun!" panggil Jongin lagi. Kali ini Jongin melongok ke arah kebun belakang tempat laboratorium kecilnya yang biasa ia gunakan untuk membuat alat-alat baru bersama Sehun dan Chanyeol. Tapi hasilnya juga nihil, dua sahabatnya itu tak ada disana.

Jongin tidak memanggil Baekhyun karena biasanya gadis itu akan mengekori Chanyeol kemana pun dan begitu juga dengan Luhan. Jadi jika duo sahabatnya tidak ada, maka duo gadis bawel itu juga bisa dipastikan tidak ada.

"Apa yang terjadi? Kemana semua orang?" gumam Jongin pelan. "Yixing! Zitao! Minseok! Jongdae!" teriak Jongin lagi. Aneh, ia tidak bisa menemukan siapapun di rumah itu, lalu kemana mereka? Apa Moos menculik mereka?

Kepanikan Jongin sebenarnya cukup beralasan, tapi sebuah kertas coklat di atas meja ruang tamunya nampak jadi jawaban atas kepanikan Jongin.

"Teman-temanmu sudah kembali ke Vicerty. Saat ini hanya akan ada kau dan aku, Jongin. Bersiaplah karena lima belas menit lagi aku akan ada di lapangan untuk menghabisimu.
-Joonmyeon-"

Jongin mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat mulai memucat. "Joonmyeon!"

Detakan jantung Jongin berpacu lebih cepat karena emosinya memuncak. Tak ingin bertindak bodoh dengan menghabiskan tenaganya sekarang, Jongin memilih untuk mandi setelah lebih dulu memakan cemilan buatan Minseok dan Tao yang sudah disimpan di lemari makan.

Setelah memastikan bahwa dirinya siap bertarung, Jongin memutuskan untuk berjalan keluar rumah, melihat apakah lawannya; Joonmyeon, sudah berada disana atau belum. Dan ternyata, ketika Jongin melongokkan kepalanya dari teras untuk melihat ke arah lapangan, sebuah sinar menyilaukan muncul dari langit Glade. Dan dengan itu, Jongin pun memilih segera muncul tepat di dekat sinar itu.

"Bertemu lagi, Jongin." sapa Joonmyeon yang baru saja muncul dengan menampakkan senyumnya.

Jongin membalas senyum Joonmyeon dengan tatapan malas. "Aku bosan melihat wajahmu, Myeon. Kenapa bukan kakakmu saja yang ada disini, huh?"

Joonmyeon menyeringai kecil. "Kenapa? Apa kau takut untuk bertarung denganku? Merasa tidak cukup kuat untuk mengalahkan seorang Pure sepertiku, Locka?" sindir Joonmyeon.

"Aku? Takut padamu?" ulang Jongin. "Bahkan dalam mimpi paling indahmu saja, hal itu tidak akan pernah terjadi, Joonmyeon. Aku lebih ingin kakakmu yang ada disini karena menurutku dia lebih punya nyali daripada kau,"

Joonmyeon menatap Jongin tajam dengan tatapan emosinya yang mulai muncul. Jauh dalam dirinya ia benar-benar berambisi menyingkirkan seluruh keturunan Locka di Vice. Karenanya ia terobsesi untuk menjadi seorang Vince karena ketika ia berhasil menjadi orang nomor satu di Vice, maka ambisinya akan dengan mudah ia lakukan. Menghabisi seluruh keturunan Locka dari Vice untuk selamanya.

"Kau tahu, Jongin? Vicerior disiarkan diseluruh distrik dan saat ini, seluruh Vicens bisa menyaksikan pertarungan kita. Dan akan aku pastikan, kedua orangtuamu yang lemah itu juga akan melihat anak kesayangannya mati hari ini, di tangan seorang Pure sepertiku." Ucap Joonmyeon angkuh. "Hari ini aku akan memastikan bahwa kematianmu adalah awal dari habisnya seluruh keturunan Locka di Vice, Jongin."

Tawa kemenangan yang dikeluarkan Joonmyeon membuat darah di tubuh Jongin terasa benar-benar mendidih. Kedua tangannya terasa sangat gatal untuk memukul Joonmyeon tepat di wajah dan menghentikan segala keangkuhan pemuda tampan yang nampak ramah ini. Sungguh, jika bukan karena ia harus punya rasa hormat pada Lock, mungkin sejak setahun atau dua tahun lalu, ia sudah menantang Joonmyeon di arena untuk membungkamnya.

"Selamat pagi Vicens! Selamat menyaksikan pertarungan terbesar yang selalu kita tunggu, apalagi jika bukan Vicerior!" teriakan sang pembawa acara pun mulai terdengar jelas di Glade. Jongin mulai melenturkan sendi-sendi tubuhnya, sedikit pemanasan kecil sebelum pertarungan besarnya dimulai.

"Kau siap untuk mati, Jongin?"

Jongin hanya tertawa kecil. "Kita lihat siapa yang akan tersungkur di akhir pertandingan, Joonmyeon."

"Baiklah, tanpa perlu banyak bicara dan menunggu lagi, mari kita mulai pertarungan akbar untuk memperebutkan kursi kepemimpinan Vince ini! Joonmyeon, Pure Lock dari divisi kesehatan akan menghadapi putra dari Vince kita saat ini, Jongin! Three, two, one... GO!"

Dan bersamaan dengan bel tanda pertarungan dimulai, Joonmyeon mulai melancarkan serangannya pada Jongin. Mulai dari melempar api dari tangannya dengan kekuatan sedang sampai kekuatan penuh. Lalu melemparkan beberapa batu yang ada di sekitar lapangan menuju Jongin yang sialnya mampu ditangkis Jongin tanpa ada yang meleset.

"Kau ini mengajakku bertarung, atau bermain, sih, Joonmyeon?" tanya Jongin seraya menyunggingkan tawa sarkasmenya. "Karena kau sudah menyerang sejak tadi, maka sekarang giliranku." lirih Jongin.

Setelah Joonmyeon sedikit kelelahan karena ia mengeluarkan hampir setengah tenaganya hanya untuk menyerang Jongin yang hasilnya adalah seluruh serangannya ditangkis oleh pemuda jangkung di depannya itu, kini Joonmyeon mulai kewalahan menghadapi serangan beruntun dari Jongin. Mulai dari serangan berupa lemparan bola api, cambukan dari air yang mengenai pinggang Joonmyeon hingga ia harus terlempar beberapa meter dari posisi semula, hingga hentakan kaki Jongin di tanah Glade yang memaksa Joonmyeon untuk dengan mudahnya terlempar dan kemudian melayang di udara.

Jika bukan karena tangkapan Jongin, mungkin saat ini dapat dipastikan Joonmyeon sudah mengalami banyak patah tulang seperti Sehun karena jatuh dari langit Glade yang jaraknya cukup jauh dari tanah. Ya, Jongin menangkap Joonmyeon dari posisi berdirinya yang tidak berubah. Tangannya yang ia arahkan ke udara, saat ini seperti sedang mencengkeram sesuatu atau lebih tepatnya seseorang, yakni Joonmyeon.

Merasa terpojok dengan kondisi ini, Joonmyeon lantas memikirkan segala hal untuk tetap bisa menang melawan Jongin. Dan ia pun teringat dengan rencananya sebelum Vicerior dimulai.

"Hei Jongin, e-engh. K-kau y-yakin m-mau menghabisiku?" Joonmyeon baru saja mengirim telepati singkat pada Jongin.

"Kenapa aku harus tidak yakin, Joonmyeon?" balas Jongin dalam telepatinya seraya menguatkan cengkramannya pada Joonmyeon.

"Jika kau memang cerdas, kau tentu akan memilih untuk tidak menghabisiku. Karena jika kau lakukan itu, maka mereka akan kupastikan mati, Jongin." Joonmyeon kembali menjawab telepati Jongin dengan menyalurkan pikiran Jongin menuju sebuah pemandangan yang menyakitkan. Yakni pemandangan kedua orangtuanya yang saat ini sedang dikurung dalam sebuah ruangan, mereka masing-masing terikat di sebuah kursi terpisah dan wajah serta tubuh mereka pun sudah terlihat dipenuhi luka lebam yang artinya mereka sudah lebih dulu dihajar oleh suruhan Joonmyeon.

"J-jika k-kau m-menghabisiku, maka M-moos akan menghabisi kedua orangtuamu." Lanjut Joonmyeon licik.

Dan seperti prediksi Joonmyeon, cengkraman Jongin mulai melemah. Ia memang tetap membuka matanya dan menatap sekitarnya, tapi semuanya dengan tatapan kosong. Ia terlalu kalut untuk memikirkan nasib kedua orangtuanya. Ternyata ketakutannya kemarin benar-benar terjadi hari ini. Keputusannya untuk menghabisi seluruh Moos tanpa sisa membuahkan hasil yang menyakitkan. Orangtuanya disekap Moos.

"Masih belum mau melepaskan cengkramanmu?" teriak Joonmyeon yang tentu saja dapat didengar Jongin. "Bagaimana jika kuperlihatkan sebuah pemandangan lain, Jongin?"

Dan seketika pikiran kalut Jongin dibawa kembali oleh Joonmyeon menuju pemandangan menyakitkan keduanya. Itu Kyungsoo, tubuhnya sudah sangat lemah dan lebam, dan di depan gadis itu ada dua Moos bertubuh tinggi dan kekar yang sudah jelas akan dengan mudah dan cepat menghilangkan nyawa kekasihnya itu kapanpun tuannya ini memberikan sinyal.

"J-jongin..."

Itu suara Kyungsoo! Demi Tuhan Jongin berani bersumpah bahwa itu benar-benar suara kekasihnya. Pikirannya semakin kalut karena suara Kyungsoo begitu lemah dan tidak berdaya.

"J-jongin t-tolong..."

Jongin menutup matanya dan menolehkan wajahnya ke samping. Ia tidak kuat melihat Kyungsoo memohon dengan nada menyakitkan seperti itu. Dan dengan dua pemandangan menguras perasaan itu, Jongin pun akhirnya melepaskan cengkramannya dan membiarkan Joonmyeon jatuh bebas tanpa topangan apapun.

Ada hening tercipta beberapa saat setelah Joonmyeon jatuh bebas dari ketinggian yang cukup rendah. Pria itu tentu saja memanfaatkan waktu yang ada untuk memulihkan keadaannya setidaknya sampai setengah kekuatannya kembali lagi. Sedangkan Jongin, pemuda itu susah payah mencari Sehun dalam telepatinya.

"SEHUN!"

Dia beberapa kali berteriak memanggil nama calon adik iparnya itu tapi tak ada sahutan.

"JONGIN! Maaf aku baru saja membereskan beberapa Moos sialan yang menjaga kami sejak tadi. Ada apa? Bagaimana pertarunganmu?"

Jongin mendesah lega karena akhirnya panggilannya dijawab Sehun. Mata tajam Jongin tak lepas mengawasi pergerakan Joonmyeon, sedangkan pikirannya masih berusaha fokus pada telepatinya dengan Sehun.

"Selamatkan kedua orangtuaku, Hun, ku mohon. Aku tak tahu mereka ada dimana, yang jelas mereka ada di sebuah ruangan gelap. Mungkin itu gudang, mereka disekap oleh Moos suruhan Joonmyeon."

Jongin hampir meloloskan air matanya begitu saja ketika menyampaikan ingatannya tentang keadaan kedua orangtuanya pada Sehun.

"Dan selamatkan Kyungsoo, Hun, ada dua Moos yang menyanderanya saat ini. Tolong pastikan mereka selamat, dan aku akan menyelesaikan pertarunganku dengan bajingan tengik ini."

Sehun yang entah ada dimana kini berusaha mencerna telepati Jongin dengan seksama. Ia geram karena Joonmyeon ternyata cukup licik juga. "Aku akan minta Chanyeol untuk mencari kedua orangtuamu, Jongin, tenanglah. Dan aku akan mencari keberadaan kakakku, untuk sementara ini turuti saja kemauan Joonmyeon. Setidaknya sampai aku dan Chanyeol memastikan keadaan Kyungsoo dan kedua orangtuamu baik-baik saja."

Jongin mengangguk pelan walau ia tahu Sehun tak akan melihatnya. "Kau bisa melihat pertarunganku di layar, aku akan selalu menunggu kabar dari kalian."

"Bagaimana Jongin? Masih berusaha menang dariku?" tawar Joonmyeon yang baru saja selesai dari proses pengembalian setengah kekuatannya seraya melepas tawanya. "Kau tidak akan bisa menang melawan Pure, Jongin! TIDAK AKAN PERNAH!" teriak Joonmyeon sembari kembali melancarkan serangan kekuatan penuh pada Jongin. Dan tepat seperti apa yang Joonmyeon inginkan, lawannya itu kini sama sekali tidak menangkis serangan yang ia berikan. Akibatnya, tubuh Jongin pun dengan mudah terlempar kesana-kemari dan akhirnya punggungnya mulai sakit karena menghantam dinding Glade.

Selama kurang lebih lima belas menit, Jongin berusaha menahan emosinya untuk menyerang balik Joonmyeon. Ia membiarkan pemuda dengan status Pure Lock itu merasa memenangkan pertandingan setidaknya hingga dua sahabatnya memberinya kabar baik. Saat ini, tubuh Jongin sudah tidak ada bedanya dengan tubuh Kyungsoo dan kedua orangtua Jongin. Lemah, lunglai dan lebam di beberapa bagian. Sedangkan Joonmyeon? Dia mulai pulih kekuatannya karena sejak tadi tidak ada serangan dari Jongin untuknya.

Joonmyeon memang sangat berambisi menghabisi keturunan Locka dari Vice. Karena berdasarkan buku cerita dan ramalan para tetua Pure, Locka adalah Vicens terkuat yang tidak mungkin bisa dikalahkan kecuali dengan mengambil titik lemahnya yakni orang-orang yang mereka cintai. Locka adalah para Vicens yang telah menjadi seorang Lock dan memiliki darah drakula di tubuhnya yang membuatnya bisa menjadi lebih kuat dan bisa melakukan sihir yang tak bisa dikuasai oleh Lock keturunan Pure.

Pertarungan antara Locka dan Pure Lock berawal sejak beberapa puluh tahun lalu ketika awal dibangunnya Vice. Saat itu di Vice hanya ada satu klan yakni Pure, tapi tanpa undangan, tiba-tiba suatu hari datanglah sekelompok pria dengan mata merah menyala ke Vice. Mereka sebenarnya hanya meminta persediaan darah di divisi kesehatan, tapi para Pure Lock disana tidak mengijinkannya. Beberapa Pure Lock memilih bertarung dengan para drakula, sisanya memilih bersembunyi. Termasuk Sooyoung, seorang gadis cantik keturunan Pure yang diungsikan kedua orangtuanya di sebuah gudang penyimpanan makanan. Disanalah ia ditemukan oleh seorang drakula yang sedang berjalan-jalan mengitari Vice untuk mencari mangsa.

Sooyoung yang ketakutan saat melihat pria dengan mata merah itu pun berusaha berteriak, tapi ia tidak melakukannya karena kedua matanya baru saja seolah terhipnotis dengan ketampanan sang pria drakula itu. Siwon, begitu sang pria menyebutkan namanya. Ia menenangkan Sooyoung dan berjanji bahwa ia tidak akan menyakiti gadis itu. Dan benar, sampai pertarungan para drakula lain dengan klan Pure berakhir, Siwon memilih tetap ada di gudang bersama Sooyoung untuk menjaga gadis itu jika tiba-tiba ada kawanannya yang hendak menyerang Sooyoung.

Selesai bertempur dengan para Pure, beberapa drakula yang bertarung itu pun memilih untuk menghisap darah lawannya yang sudah dipastikan meninggal itu daripada harus susah payah untuk mencari darah di divisi kesehatan. Merasa kekuatannya sudah penuh kembali, drakula-drakula itu pun memilih kembali melanjutkan perjalanannya tanpa sedikitpun merasa janggal bahwa ada seorang dari mereka yang masih tertinggal.

Singkat cerita dari para tetua, Siwon jatuh cinta pada Sooyoung dan memutuskan menikah. Mereka mempunyai tiga orang anak yang menjadi Vince selama tiga masa kepemimpinan berturut-turut. Diantara anak-anak mereka, ada yang berdarah Locka murni— sebutan untuk Vicens dengan keturunan drakula, ada juga yang berdarah Pure dan ada juga yang punya kekuatan keduanya atau lebih dikenal sebagai Locke.

Warga Vice yang mengetahui bahwa Siwon adalah satu dari drakula yang sempat memporak-porandakan kota mereka sempat marah besar dengan pernikahan itu dan mengancam akan membunuh keturunan Siwon. Tapi Siwon menjanjikan hal mustahil pada para Vicens yakni kemajuan Vice yang sangat pesat dibanding sekarang sebagai penebusan kesalahan yang dilakukan oleh kawanannya beberapa tahun sebelumnya. Tetua Vice sempat ada yang menolak namun beberapa diantara setuju karena mereka menganggap peran Siwon nyatanya memang penting untuk Vice. Selain mereka jadi bisa menguasai sihir-sihir yang sebelumnya tidak bisa mereka kuasai yakni teleportasi, dan telepati, Siwon juga memberikan efek positif terhadap kemajuan Vice.

Akhirnya, Siwon diangkat menjadi Vince pertama yang berdarah bukan Pure. Lalu menyusul di tampuk kepemimpinan selanjutnya adalah Kangin, putra pertamanya yang berdarah Locka Murni. Lalu adik kedua Kangin, Taeyang dengan darah Purenya dan terakhir adalah Yunho dengan Locke. Sejak ketiga putra Siwon memimpin, pertumbuhan pesat terjadi di Vice, tapi tetap saja ada beberapa pihak yang memandang Locka sebagai klan yang harus tetap diberantas demi kelangsungan klan Pure yang semakin lama semakin kehilangan posisi di pemerintahan. Salah satunya adalah Jaejoong, satu dari sekian banyak leluhur Joonmyeon yang masih menaruh dendam pribadi pada para klan drakula karena anaknya jadi korban keegoisan klan drakula yang haus darah. Karenanya, ia pun menanamkan pada keturunannya kebencian mendalam pada keturunan Locka dan meminta siapapun dari keturunannya untuk menghabisi para Locka jika mereka menemuinya.

Karenanya, sejak kepemimpinan Yunho berakhir, diadakan pembantaian masal terhadap para Vicens yang diketahui punya darah Locka. Ada beberapa dari mereka yang lolos karena mereka adalah Locke, dan merekalah yang menjadi pioneer baru kelangsungan hidup klan Locka di Vice yang tentu saja keberadaannya tidak lagi bisa dideteksi hanya dengan mata telanjang seperti dahulu. Dan sejak Yunho lengser, peraturan ketat pun diberlakukan untuk para Locka yakni seperti larangan untuk berhubungan dengan Pure hingga ancaman untuk dibunuh jika ketahuan melanggar.

Dan itulah segelintir alasan kenapa Joonmyeon sangat berambisi menghabisi Jongin dan seluruh keturunan Locka jika dia menemukannya. Demi mengambil alih porsi kepemimpinan dan demi menyelamatkan kelangsungan klan Pure yang kekuatannya tidak ada apa-apanya dibanding klan Locka.

"Menyerahlah, Jongin. Dengan begitu aku akan dengan leluasa menghabisi kawananmu dan Kyungsoo-mu yang kau cintai itu akan tetap hidup tenang." Ujar Joonmyeon dengan seluruh keangkuhannya yang tersisa.

Jongin tidak merespon apapun perkataan Joonmyeon. Badannya sudah terlalu lemah untuk merespon. Ia menyimpan seluruh kekuatannya yang masih penuh untuk membalikkan keadaan saat kedua sahabatnya—

"JONGIN! Aku sudah menghabisi Moos yang menjaga Kyungsoo. Dia saat ini aman bersamaku dan yang lainnya. Tinggal menunggu Chanyeol,"

Itu teriakan Sehun. Jongin mendesah lega dan tanpa sadar memunculkan senyuman di wajahnya ketika telepati Sehun akhirnya datang. Dengan perlahan, Jongin memulai proses pengumpulan tenaganya sambil tetap berusaha bertahan dan mulai menangkis beberapa serangan Joonmyeon. Tinggal satu kabar lagi, dan keadaan akan sangat berbalik dengan cepat.

"Jongin,"

Dan inilah suara yang ia tunggu sejak tadi. "Hei, giant. Bagaimana kedua orangtuaku?"

"Maaf membuatmu menunggu lama, ya. Moos yang menjaga kedua orangtuamu cukup kuat. Aku sampai harus jatuh bangun beberapa kali sampai—"

"Chan, tunda dulu ceritamu. Yang penting, apa orangtuaku baik-baik saja?"

Chanyeol tertawa kecil sebelum menjawab telepati Jongin lagi. "Maaf, aku terlalu senang tadi. Ya, tentu saja mereka baik-baik saja. Sekarang kami sudah bersama Kyungsoo, Sehun dan yang lain. Menangkan pertandingan ini, Jongin. Demi Locka, demi kedua orangtuamu dan demi Kyungsoo."

Jongin mengangguk mantap. "Ini demi kalian, keluargaku."

Dan bersamaan dengan telepati terakhir Jongin pada Chanyeol, pemuda jangkung dengan tatapan mata memabukkan itu kini mulai bangkit dan mulai melancarkan aksinya lagi.

Jongin tidak menyerang Joonmyeon memang, ia juga tidak menangkis serangan-serangan bodoh dari Joonmyeon. Jongin lebih memilih untuk selalu berpindah-pindah; teleportasi, hingga akhirnya ia berada cukup dekat dengan Joonmyeon untuk memukul wajah tampan pemuda itu dari dekat.

"Hai, Joonmyeon." Sapa Jongin tiba-tiba dari samping Joonmyeon. Joonmyeon yang kaget pun terpaksa harus menahan sakit luar biasa karena pukulan tangan Jongin baru saja menyapa pipi kirinya dan mengharuskannya tersungkur di tanah dengan sudut bibir yang berdarah.

"Apa nyalimu masih ada untuk menghabisiku?" bisik Jongin lagi di telinga Joonmyeon seraya mengangkat tubuh Joonmyeon ke udara tanpa susah payah. "Ini balasan karena kau memakai cara licik untuk bertarung denganku,"

Satu pukulan tangan kiri Jongin mampir di pipi kanan Joonmyeon dan mengharuskan pemuda itu terlempar beberapa meter dari posisinya tadi. Jongin kembali menghilang dan muncul di depan Joonmyeon lalu kembali mencengkeram kerah baju Joonmyeon.

"Ini untuk seluruh luka yang sudah ajudanmu berikan untuk kedua orangtuaku dan juga Kyungsoo." Jongin tidak segan-segan memukul perut Joonmyeon sekuat tenaga hingga pria itu harus terlempar lagi hingga punggungnya menabrak batang dari salah satu pohon besar di Glade yang kini mulai retak. Dan seolah tidak puas, Jongin kembali menghilang dan kali ini muncul disamping Joonmyeon dan mencengkeram leher Joonmyeon hingga pemuda itu terlihat mulai kehabisan nafas. Kilatan amarah sangat terlihat di kedua mata Jongin yang mulai berubah menjadi merah darah.

"JONGIN!"

Sebuah teriakan di kepala Jongin menginterupsi kegiatan Jongin.

"Jongin, jangan bunuh Joonmyeon, aku mohon. Kau kemarin memintaku untuk menghentikanmu jika kau akan membunuh Joonmyeon, kan? Jongin ingat janjimu pada Yixing, Jongin. Kumohon,"

Itu suara lembut Kyungsoo. Suara merdu yang jadi candu Jongin. Suara merdu yang sangat ia rindukan keberadaannya untuk selalu menenangkannya kapanpun. Dan cengkraman Jongin pun mulai melemah seiring kembali normalnya kedua mata Jongin yang tadi sempat memerah.

"Jika bukan karena permintaan Yixing untuk tidak menghabisimu, sudah kupastikan kau tidak lagi bernafas ketika keluar dari Glade, Joonmyeon." Bisik Jongin final seraya melempar tubuh Joonmyeon dan menjatuhkannya tepat di samping rumah buatannya.

Jongin memilih membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar Glade yang hanya ada satu itu. Tapi insting tajamnya menangkap satu gerakan membahayakan dari Joonmyeon dan membuatnya harus melakukan sesuatu agar pria itu bisa tenang sejenak.

Dan Jongin pun mengarahkan tangan kanannya ke belakang— ke arah Joonmyeon dan entah dengan apa, ia membuat Joonmyeon benar-benar diam. Tanpa sedikitpun mampu bergerak bahkan bernafas.

Tinggal beberapa meter menuju gerbang, sebuah kilatan dari langt Glade mengejutkan Jongin. tapi setelah sadar siapa yang ada dihadapannya saat ini, Jongin menyeringai kecil.

"Well, well, well. Lihat siapa yang datang? Kau mau apa, Yifan? Adikmu sudah kubereskan, kau mau jadi yang selanjutnya?"

Amarah terlihat menguasai sosok jangkung berkulit putih itu. Ia tentu tidak terima dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya, adik kesayangannya baru saja tewas di tangan musuhn bebuyutan klannya sendiri, seorang Locka yang masih hidup tenang yang juga putra Vince, Jongin.

"Kau membunuh adikku!" teriak Yifan geram sambil mulai mengepalkan kedua tangannya.

"Bukankah peraturannya adalah mati, atau menyerah, hm? Sudah pasti adikmu yang keras kepala itu tidak akan menyerah, kan?" Jongin menjawab teriakan Yifan dengan tenang tapi sedikit kaget ketika ada teriakan menyakitkan penuh tangis di kepalanya.

"JONGIN KAU BRENGSEK! KENAPA KAU MEMBUNUH JOONMYEON?!"

Jongin tersenyum kecil dan menambahkan seringai ketika kedua matanya menatap mata tajam Yifan. "Yixing, tenanglah. Aku hanya memberinya efek sleeping death. Dia tidak benar-benar mati. Sebagai dokter, kau harusnya tahu efek itu, kan? Jika tidak begitu, pertandingan ini tidak akan pernah berakhir. Kau tahu itu, kan?" jawab Jongin lembut seolah Yixing adalah seekor semut kecil yang saat ini sedang sekuat tenaga menendang seekor gajah.

"KAU BAJINGAN, JONGIN!"

Dan bersamaan dengan teriakan Yifan barusan, muncullah beberapa serangan sia-sia dari Yifan. Kenapa sia-sia? Karena emosi yang menyelimuti Yifan, membuatnya tidak fokus mengarahkan serangannya ke Jongin sehingga hampir seluruh serangannya meleset.

"Kukira kau lebih hebat dari ini, Yifan. Ternyata malah lebih payah dari adikmu. What a waste,"

Dan sebaliknya, dengan satu gerakan tangkas, Jongin mengunci pergerakan Yifan dengan cengkraman jarak jauhnya yang sempat ia gunakan pada Joonmyeon tadi. Sedikit mengencangkan cengkramannya lalu dengan mudahnya Jongin melempar tubuh Yifan ke samping seolah Yifan adalah hanya sebuah kaleng minuman yang tak punya daya apa-apa.

Merasa tidak ada perlawanan lagi dari Yifan yang masih tersungkur, Jongin melanjutkan langkahnya mendekati pintu gerbang. Ketika ia berhasil tiba disana, ia mendongak ke arah kamera yang menghubungkannya dengan seluruh penduduk yang menyaksikan Vicerior. Ia tersenyum kecil pada kamera.

"Kyung, a—"

Tapi sebelum Jongin berhasil menyelesaikan kalimatnya, sebuah tusukan pedang baru saja menembus jantung Jongin dari punggungnya menuju dadanya.

"A-ah..."

Jongin membelalakkan kedua matanya menahan sakit yang ia rasakan di dadanya. Perlahan, ia menurunkan pandangannya dan menatap ujung pedang yang keluar dari dada kirinya bersama darah yang juga mulai mengalir dari sana. Lalu ia kembali menatap kamera dan tersenyum getir sambil menahan sakit luar biasa ketika pedang itu ditusukkan lebih dalam seiring genggaman sang pelaku yang makin menguat. "A-AH! M-maafkan a-aku, Kyungsoo."

Dan tubuh Jongin pun akhirnya jatuh tersungkur ke tanah dengan darah yang terus mengalir dari lubang di dadanya. Bersamaan dengan itu, gerbang Glade pun terbuka dan membiarkan seluruh paramedis dari divisi kesehatan untuk bekerja membawa tubuh Joonmyeon dan Jongin secepat mungkin menuju rumah sakit di Vicerty. Dan tak hanya paramedis saja yang terlihat muncul dari gerbang Glade, tapi para Lock dari divisi keamanan kota pun terlihat dengan gagah memasuki Glade dan mendekati sosok yang masih berdiri dengan tegak disamping tubuh Jongin yang sedang dievakuasi paramedis.

"Tuan Yifan, mari ikut kami."

.

.

.

END


Hai, Halo!

Yep! This is the end of the first part of Vice. Sorry to say, but, yeah this is the real end. How's the end? Semprul? Nggak seru? Malesin? Nyebelin karena Jonginnya mati gegara ulah sang Kakak yang membalas dendam atas kematian adiknya itu? Wuahahahay, yang sabar ya readers. Ide di kepala Jongsoo memang begitu. Nggak seru kalo gak ada yang mati, dan kali ini yang Jongsoo matiin adalah sang juara, Jongin.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Yap, silahkan menunggu untuk Vice part 2 yang baru ditulis sedikit doang itu. Seperti yang sudah Jongsoo bilang di Chapter sebelumnya, Vice part 2 akan makan waktu lama untuk pembuatannya. Bisa tengah tahun, bisa akhir tahun tergantung sela waktu yang saya miliki. Karena saya seorang MaBA yang tentu saja waktunya (harusnya) tidak hanya dihabiskan untuk mengkhayalkan kelanjutan cerita karangannya (yang pada kenyataannya adalah memang begitu T_T).

The truth is, I'm workin and still workin' on my final assignment or you maybe familiar with this (semprul) word, Sekerispi. I have abandone mine since last year til now, and my Vice Dean is already askin' about my sekerispi. So, I can't promise you with new FF or the new chapter of my other FF which is not yet done for now. Hope you will understand and sorry for my Hiatus again for next FF and the next part of this FF.

Sekian, dan salam!

KJ-27